Tolong dibaca ya, reader ._.
Banyak yang bilang kalau aku harus nambahin Romance, karena sejauh ini aku gak pernah bikin romance._. kalaupun ada paling dikit banget dan cuma romance biasa yang bersifat pasaran...
Lalu, aku bikin genrenya Cuma Fantasy/Drama, dan aku gak nulis Romance T.T iya 'kan?
Honestly, Romance is my 'Weakness'...
Bikin romance itu susah banget bagiku, sering memaksakan diri supaya bisa membuatnya demi reader. Walaupun aku juga cukup sering membaca genre Romance, cuma kalo soal baca ff aku lebih suka yang asal ada 'Fantasy'nya. Romance itu gak harus bagiku, itu Cuma genre tambahan yang dipikirkan belakangan...
Tapi lama-kelamaan aku juga berpikir matang, kalau fanfic berchapter emang bagusnya ada romance, dan Fany juga sudah menghargai kalian yang minta romance
Atau anggap aja romance ini tambahan dari aku karena tanggal 21 nanti aku udah ultah yang ke... Rahasia hihi :3
Maaf ya kalau romance nya kelihatan kurang memuaskan [mungkin], ini udah sebisaku loh Eitsss, tapi romance nya di chapt selanjutnya hehe XD
Happy reading~! ^^
"Belum pernah aku menemui orang se-misterius itu sebelumnya. Apalagi dia adalah seorang Guru."
"Ada apa kau tadi dengannya?" Tanya Joonmyun tiba-tiba setelah melihat sekilas keluar. Jungkook menggeleng pelan berusaha berakting jujur dihadapan ayah angkatnya. Walaupun hanya kebohongan belaka, tapi Joonmyun tetap mempercayai anak angkat lelakinya ini. Joonmyun juga mengerti kalau anak angkatnya memang tak ingin memberitahu.
...
Sekitar tiga puluh menit berjalan kaki di tengah terik matahari tanpa rasa lelah tanpa keringat, Yixing pun sampai di kediamannya yang terletak sangat jauh dari permukiman banyak orang lainnya. Ia tak ingin ada yang tahu barang-barang pentingnya dan mengetahui apa yang sedang ia amati, itulah alasan mengapa Yixing memilih untuk tinggal di atas Perbukitan.
-Yixing POV
Mungkin itu memang hanya urusan Jungkook dan Joonmyun, tapi... Mereka hanya manusia biasa yang tak tahu apa-apa. Aku tahu kalau mungkin yang kulakukan ini hanya ikut campur dalam urusan mereka, atau mungkin aku akan membuatnya makin kacau? tapi bagaimana jika Jungkook terus-terusan hanya akan diam? Tentu saja semua akan menjadi sangat sulit jika hal ini terus dibiarkan seperti halnya sangat enteng untuk diselesaikan. Salah, ini sama sekali tidak mudah diselesaikan, aku bahkan sudah bisa menebak kalau permasalahan ini kedepannya akan melibatkan lebih banyak orang.
Lelaki yang ku ketahui bernama 'Jimin' itu membuatku benar-benar penasaran. Ya memang Paranormal bisa mengetahui banyak hal, tapi mereka takkan tahu jika tak mencari tahu terlebih dahulu, layaknya manusia biasa.
Aku meletakkan tas ke sembarang arah lalu bergegas ke rak buku yang terletak di ruang tempat biasa aku melakukan pengamatan, disitu terlihat bertumpuk buku-buku tebal yang terletak cukup berantakan tentang penelitianku juga ilmu lainnya, entah darimana aku mendapatkan buku tebal sebanyak ini, aku lupa.
Terlalu banyak pilihan yang tidak bisa diambil salah satu saja, tapi aku tetap masih bisa menemukannya diantara banyak buku teori lainnya. Buku yang sudah sedikit berdebu karena sudah lama tidak kubuka lagi, tentang sihir manusia menjadi hewan yang tak pernah ada.
Tak perlu lagi melihat daftar isi, aku langsung saja mencari karena aku sudah hafal letak apa yang ingin kutemukan, buku usang ini sudah terlalu sering kubaca. Karena memecahkan masalah seperti ini, bukanlah yang pertama kalinya kulakukan.
Dapat.
Disini terpampang dengan jelas disertai font indah khas zaman dulu nama seekor hewan yang tak kalah indah juga, Pegasus.
Semua berunsur lama? Ya, lama atau zaman dahulu, terserah kalian ingin menyebutnya apa. Sudah dari dulu aku memiliki buku ini, dan sudah dari dulu juga aku memecahkan masalah seperti ini. Jika kalian mendengar kata 'Lama' atau 'Dulu', jangan pernah bertanya umurku berapa. Aku berada di dunia ini hanya untuk menyelesaikan masalah dan membantu mereka yang membutuhkan pertolongan khusus, dan yang kali ini adalah masalah yang tersulit dan sangat sulit untuk diselesaikan.
.
.
.
Hm, Baiklah. Kini aku mengerti tentang hewan yang telah berubah menjadi manusia yang kutemui dengan mata kepalaku sendiri di dalam rumah mewah tadi.
Diantara goresan tinta hitam buku ini bertuliskan bahwa, awalnya ia memanglah manusia biasa. Ya, manusia biasa seperti yang sering kau lihat diluar sana atau mungkin berada di sekitarmu. Terlahir memiliki hati dan tidak punya kutukan yang bersarang di tubuhnya. Hidup normal seperti pada umumnya. Namun sesuatu yang bersifat sangat tidak wajar telah membuatnya menjadi seperti ini. Kesalahan kecil yang seharusnya dimaafkan semudah membalikkan tangan, dibalas dengan balasan yang cukup berat untuk diterima.
Hm... Mungkin bisa dibilang hal itu sangat sangat sepele yang bisa dimaafkan dengan sangat mudah. Tapi aku bingung, mengapa kesalahan itu jadi harus mengutuk atau menyihirnya menjadi Pegasus? Bukankah itu hukuman yang sangat berat? Tidak adakah hukuman lain yang tidak seberat itu? Ya mungkin memang beberapa orang mengatakan kalau Pegasus itu 'Indah', termasuk Jungkook. Tapi mereka pasti akan terkejut jika makhluk ini berasal dari manusia. Seperti halnya mitologi Yunani. Pegasus memang berasal dari manusia. Tapi yang kali ini benar-benar cukup rumit dan tidak bisa dipikir dengan cepat. Entahlah, aku tidak tahu siapa yang memberi hukuman berat seperti itu, sangat misterius asal usulnya. Ketika aku memecahkan masalah sebelum masalah ini pun, aku juga tidak tahu bagaimana bisa hal ini terjadi. Tugasku hanya menyelesaikan sampai akhir, bukan mengetahuinya dari awal.
Pegasus adalah Kuda bersayap. Jika Kuda+Sayap dijadikan satu, jadilah Pegasus. Jikalau sayapnya patah dan menghasilkan rasa sakit yang tiada henti. Maka, luka yang dibiarkan terus menerus sehingga membusuk, makhluk tersebut takkan bisa lagi bertahan hidup. Ia pasti akan tahu kapan hidupnya berakhir. Semua adalah kata buku yang aku tidak tahu siapa pembuatnya, aku benar-benar lupa, namanya juga tidak terlihat jelas atau lebih tepatnya memudar.
Masuk akal. Lukanya memang luka serius, kalau ku pikir-pikir luka itu masih lama akan membusuk. Mungkin semua orang juga berpikiran sama sepertiku, siapa sangka kalau masih lama pasti akan terasa cepat? Hal ini pasti akan terjadi, dan juga pasti mengundang kesedihan.
Kesedihan? Siapa yang bersedih kalau ia hanya Pegasus yang terkutuk?
Kalau ku pikir-pikir lebih jauh lagi, Jimin memang memiliki sosok yang sangat indah. Tidak mungkin jika tidak ada yang menyukainya, dari raut wajahnya bisa dibaca kalau ia memiliki sifat yang polos. Hey... Bukankah banyak manusia yang menyukai karakter seperti itu? Sepertinya mungkin orang yang dekat dengannya pasti akan menaruh perasaan padanya, dan berharap agar menjadi pasangan hidupnya kelak. Tapi mustahil hal itu terjadi di situasi buruk ini, dan orang itu harus bersedih jika harus melepas Pegasus itu.
Aku bisa melihat Jimin dalam wujud lain dengan mata kepalaku sendiri, dia berwujud pegasus. Ah tidak, mungkin lebih tepatnya kuda biasa yang sedang terluka di bagian punggung. Sayapnya menghilang, entah letaknya dimana atau mungkin ada yang sengaja menyembunyikannya.
Siapapun seseorang yang memegang sayap itu, kuharapkan ia membuang atau melenyapkannya secepat mungkin.
Kedengaran kejam? Semua pasti berpikir begitu. Memang kedengaran sangat tidak berperasaan, aku tahu yang kukatakan barusan memang sangat menyakiti siapa saja yang menyayanginya. Seperti hukum alam, semua butuh proses, dan juga ujian berat. Ia takkan pernah menyesali semua kecuali dirinya mengizinkan penyesalan tersebut. Aku yakin Jungkook bisa melakukannya sendiri.
Aku tahu, Seyakin apapun, manusia adalah makhluk sosoal, dan Jungkook adalah manusia biasa. Tak mungkin jika ujian berat ini dilakukan seorang diri, aku harus membantunya.
Lalu... bagaimana caranya? Aku tidak ingin ia mengetahui keberadaanku. Walaupun ini sangat kedengaran ikut campur, siapa lagi yang harus menolongnya kalau bukan aku?
Demi kebaikannya dan masalah ini bisa selesai tanpa ditunda-tunda lagi, Untuk itu... Aku harus rela melakukannya.
...
"Banyak sekali tugas murid kelas akhir yang belum masuk data nilai, tidak sedikit juga yang nilainya kurang memuaskan. Inilah susahnya menjadi seorang guru kelas akhir, harus memiliki tenaga ekstra untuk mengajar agar mereka bisa lulus dengan baik. Juga kesabaran besar untuk mereka yang kurang pintar dan harus kembali dimantapkan, mereka semua benar-benar membuatku gila dan tidak bisa tidur." Gumam Joonmyun seraya menghela nafas panjang dihadapan monitor computer untuk mendata nilai murid-murid kelas dua belas yang diajarnya. Awalnya Joonmyun adalah guru kelas awal, itulah mengapa ia bisa dekat dengan Jungkook. Karena kecerdasan dan kebaikan yang dimilikinya, Joonmyun dipilih oleh Kepsek Wu untuk mengajar kelas akhir agar mereka lebih merasa fokus dan nyaman.
Sebenarnya sekarang sudah jam 1 dini hari, namun kegiatan yang tengah dilakukannya kini membuatnya tak bisa meninggalkan monitor karena penilaian yang dibutuhkan untuk besok. Kelelahan, hal yang sudah pasti mendatangi atas izin dari kegiatan panjangnya. Malam ini Jungkook juga sudah tidur, sedangkan Jimin? Ah mungkin kita tahu jawabannya. Itu berarti hanya Joonmyun yang sedang berada diluar kamar.
Ketik demi ketikan sepuluh jari di atas keyboard dilakukannya atas kewajiban sebagai guru terpilih. mungkin jika bukan karena alasan tersebut, Joonmyun sudah meninggalkannya dan memilih untuk bersantai di depan televisi daripada monitor yang membuatnya harus menggunakan kacamata plus, juga dikarenakan faktor umur yang telah mencapai 40 tahun. Meski begitu, seluruh murid di Sekolah berpendapat kalau wajah awet muda milik guru terkaya di sekolah yang diajarnya terlihat seperti pemuda berusia 22 tahun. Guru yang senior pun juga mengatakan kalau wajah Joonmyun tak ada perubahan semenjak 18 tahun yang lalu.
-Joonmyun POV
Aku tahu kalau tugas melelahkan ini belum selesai sepenuhnya. Tapi tidak salah bukan kalau aku mengistirahatkan diri dengan berpindah dari monitor sialan ini? Tentu tidak, kelelahan adalah hukum alam yang pasti akan terjadi jika terus-terusan memaksa diri untuk bekerja non stop.
Dengan agak lambat karena terlalu lama duduk, aku bangkit untuk meninggalkan monitor yang masih dalam keadaan menyala, lalu berjalan menuju sofa empuk agar merasa lebih baik. Ku rentangkan tangan kananku untuk meraih remote TV yang terletak di ujung sofa. Pertama-tama aku menekan tombol 'on' agar televisi menunjukkan cahaya bergambarnya, kemudian menekan tombol lain untuk mencari channel televisi yang lebih tidak membosankan dan kuharap bisa mengurangi beban berat karena ratusan murid-murid kelas akhir.
Acara tidak ada yang menghibur, pikirku.
Wajarlah, ini sudah dini hari. Sejak kapan siaran dini hari ada yang menghibur?
Terpaksa aku mencari channel seadanya saja.
Dari sekian banyak channel, salah satu diantara mereka ada yang berhasil menyita perhatianku.
Channel tentang sebuah berita, hebat sekali jika malam begini masih saja sempat-sempatnya mencari berita, dan berita ini disiarkan secara LIVE. Awalnya tujuanku untuk mencari hiburan, tapi entah kenapa ibu jariku menghentikan pergantian channel hanya sampai disini. Memang tidak membuahkan hasil apapun jika orang kelelahan sepertiku menontonnya, apalagi dengan sangat seksama begini.
Sesuatu yang mengejutkanku juga muncul di layar. Tercengang? Tentu saja. Hanya karena sebuah tulisan, ya tulisan, hanya tulisan. Tapi kalian tidak tahu bukan tulisan apa yang kubaca di layar televisi sehingga mengejutkanku? Tidak hanya tulisan, penjelasan dari reporter pun juga mengundang kejut dari pikiranku. Karena aku mengenal orang ini.
'Seorang lelaki ditemukan tewas tak bernyawa'
-Joonmyun POV end
...
Esoknya.
"Taehyung, apakah hari ini ada tugas yang harus kita kumpulkan?" tanya Jungkook yang baru masuk kelas, langsung memulai pembicaraan pada sang sahabat sambil meletakkan tas punggungnya di laci meja.
Taehyung hanya menoleh sekilas memastikan kalau pertanyaan barusan berasal dari Jungkook, lalu kembali ke game PSP-nya. "Tidak."
Tap Tap Tap..
Terdengar jelas suara hentakan kaki memasuki gendang telinga Jungkook, membuat pandangannya secara otomatis tertuju pada sumber suara yang berasal dari sesosok tak asing di luar kelas. Matanya sedikit menyipit untuk memastikan lelaki tersebut benar-benar dikenalnya atau tidak. Ketika merasa sudah yakin, Jungkook langsung dengan cepat melangkahkan kakinya keluar. Nihil, setelah mengeceknya, orang yang dilihatnya tadi ternyata tidak ada, bahkan suara hentakkan tadi juga menghilang seketika. Percuma jika Jungkook harus menoleh ke kiri dan ke kanan, Jungkook tetap tidak menemukan orang yang dimaksudnya.
"Kenapa aku tadi merasa seperti melihat diriku sendiri?"
"Jeon Jeongguk. Masuk ke Kelas mu cepat. Jangan clingak-clinguk, tidak ada siapa-siapa selain aku disini."
Suara yang berasal dari orang lain yang tak lain adalah Jongin si Ketua OSIS, telah mengejutkan Jungkook yang dari tadi melirik ke kanan-kiri walaupun tak menemukan siapapun selain Jongin tentunya. "Ah. Iya, Jongin hyung. Maafkan aku. Tadi aku melihat ada yang lewat." Tidak direspon, kakak kelas yang pernah menolongnya dulu langsung meninggalkannya.
Ketika melihat Jongin pergi dan memunggunginya, Jungkook kembali memanggilnya dengan maksud ingin menanyakan sesuatu. "Jongin hyung!"
Merasa terpanggil, pemilik nama tersebut menolehkan kepalanya ke belakangnya sambil hanya memberi respon menggerakkan sedikit kepalanya keatas, mengisyaratkan "Ada apa?"
"Eum... Kau melihat Guru Zhang?"
Jongin hanya menaikkan alisnya sebelah sebagai sebuah respon, seperti ia tak pernah mendengar nama orang yang hanya disebutkan marganya. Melihat respon seakan tidak mengerti yang ditunjukkan sang kakak kelas membuat Jungkook bertanya-tanya dalam hati, dia itu guru, kenapa Jongin jadi malah memberi respon seakan tidak kenal dengan Yixing? Padahal dia ketua OSIS. Mungkin Jungkook harus menyebutkan namanya dengan lengkap supaya Jongin lebih mengerti.
"Zhang Yixing."
Suara yang barusan terlontar dari mulut Jungkook memang terdengar tidak asing oleh Jongin. Sekali lagi, Jongin tidak menjawab menggunakan suaranya, ia tetap menampakkan ekspresi yang tidak ada ubahnya sama sekali. Mungkin Jongin tahu kalau Jungkook membutuhkan jawaban berupa suara, sampai akhirnya ia menjawab sesuai yang ia ketahui. "Bukankah kemarin malam ia ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa?"
DEG!
"Bagaimana bisa?!"
Jongin hanya menaikkan bahunya sekilas. "Aku tidak tahu. Seingatku saja, urat nadinya terputus dan ditemukan sebuah pisau. Entah dia bunuh diri atau dibunuh, tak ada yang mengetahuinya dengan pasti. Namun sebagian besar berpendapat ia bunuh diri."
Jungkook terdiam sekilas memikirkan, butuh waktu untuk mencerna setiap kata. Beberapa hari ini Yixing terlihat biasa saja, raut wajahnya tidak menunjukkan sebuah permasalahan. Lalu ada apa sebenarnya yang terjadi jika ia sedang tidak bermasalah? "B... Baiklah..." sahut Jungkook terbata-bata seraya Jongin meninggalkannya yang masih terlihat mematung akibat terkejut mendengar kabar tak disangka tersebut. Sesekali Jongin menghadap ke belakang sambil tetap berjalan, ia bingung kenapa Jungkook mendapatkan reaksi yang tidak terbilang biasa.
...
"Kemarin rasa sakit ini memang hilang, kenapa muncul lagi? Bahkan darahnya masih tetap terlihat begini." Lirih Jimin di depan cermin kamar yang ditempatinya. Bisa ia lihat dengan jelas di hadapan benda tersebut dirinya sendiri yang bukan berwujud manusia, tapi Pegasus putih yang tidak bersayap, hanya ada luka merah yang berasal dari tubuhnya. Semua karena sayap di punggungnya patah entah dimana sayap itu sekarang, menghasilkan luka yang tak sembuh-sembuh juga semakin sakit.
'Kami pulang...'
Suara itu bisa didengar Jimin dari luar, ia kenal suara ini, suara Jungkook. Sepertinya Joonmyun juga ikut bersamanya karena terdengar hentakkan kaki yang tidak hanya sendiri. Terdengar suara kalau langkah keduanya kini berhenti sampai di ruang tamu, mungkin mereka sedang duduk, pikir Jimin.
"Guru Kim."
"Hm?"
Kata-kata pendek yang terlontar dari mulut Jungkook untuk Joonmyun mengundang perhatian Jimin untuk mendengarkannya lebih banyak lagi. Seketika Jimin langsung mengendap-endap, mungkin ia akan mendengarnya diam-diam, tanpa sepengetahuan. Jimin lalu memberi jarak kecil antara telinga kirinya dan pintu agar bisa mendengar lebih jelas percakapan keduanya.
"Bagaimana tentang kerugian perpustakaan yang rusak itu?"
"Seratus juta won."
"Kenapa banyak sekali? Itu kan ha..."
"Hanya buku biasa kau pikir? Buku disitu berharga, kami sudah menjaganya sejak tiga belas tahun yang lalu, sejak aku awal mengajar di SMA itu."
"..."
"Kenapa kau menanyakannya? Apa kau tau lebih banyak tentang itu?"
"Eh tidak kenapa-napa, Guru. Ngomong-ngomong Apakah benar guru Zhang sudah meninggal?"
Joonmyun menghela nafas cukup panjang sebelum menjawab. Ia tahu kalau Jungkook menanyakannya karena ingin mengalihkan pembicaraan. "Kemarin aku melihatnya di televisi ketika masih sibuk dengan nilai murid-murid kelas akhir."
"Lalu? Apa yang terjadi padanya, Guru?"
'Apa? Dia sudah meninggal? Berarti tak ada kesempatan bagiku untuk bertanya pada paranormal itu?' batin Jimin ketika mendengar jawaban Joonmyun.
"Yixing ditemukan dalam keadaan urat nadi tangan kanannya terputus, ditemukan juga pisau tajam di tangan kirinya. Bisa kita simpulkan kalau ia bunuh diri."
'Lalu bagaimana nasibku kedepan ini? Sungguh aku membutuhkan sayap itu. Kuyakin pasti ia akan tahu cara mengatasinya.'
"Baru saja satu hari dia mengajar di Sekolah kita, kenapa dia malah bunuh diri begitu saja? Apakah kau mengetahui masalahnya? Atau guru lain ada yang tahu?" kini Jungkook penuh pertanyaan, dan mungkin sang guru yang adalah lawan bicaranya tidak bisa menjawab keseluruhan.
"Tidak ada yang tahu apa-apa diantara kami." Jawab Joonmyun sekaligus.
Entah apa yang Jungkook pikirkan, kini wajahnya menunjukkan kekhawatiran dan tidak lagi menyambung pembicaraannya pada Joonmyun. ia memilih untuk beranjak ke kamar sekarang juga dan meninggalkan sang guru yang menatapnya heran. Seperti ada yang sedang Jungkook sembunyikan darinya ketika Yixing ke rumahnya kemarin, pikir Joonmyun.
"Bulan depan kau harus ujian kenaikan kelas, Jungkook. Jangan lupa belajar. Sebentar lagi kau kelas dua belas." Sahut Joonmyun setengah teriak pada Jungkook yang masih berjalan ke arah kamarnya.
"Hm." Jawab Jungkook seadanya tanpa berhenti berjalan.
Setelah mengetahui kalau keduanya telah mengakhiri pembicaraan, Jimin kembali berbaring ke atas ranjang empuknya dengan ekspresi wajah yang sama seperti Jungkook, kecewa.
Cklek.
"Oh ternyata sedang tidur ya." Gumam Jungkook pelan sambil menyunggingkan senyum tipis di bibirnya ketika membuka pintu ingin melihat keadaan Jimin. Namun sebenarnya Jimin sedang tidak tidur, dengan sekejap ketika mendengar bunyi kenop pintu, Jimin langsung menutup mata berpura-pura tidur. Jungkook menutup pintunya lalu kembali ke tujuan awal, kamar pribadi.
"Ku pikir, aku menyukainya. Tapi, sepertinya setengah perasaan ku masih diperuntukkan pada Pegasus. Aku akan menemuinya lagi saat bulan purnama menunjukkan keindahannya di atas langit malam."
.
.
.
Dua minggu telah berlalu semenjak tinggalnya Jimin di rumah mewah ini.
Semua dijalankan biasa saja. Jimin hanya terus tinggal di rumah, Jungkook selalu merawat dan membersihkan lukanya dengan rajin, Jungkook juga yang selalu memberinya makan, entah kenapa Jungkook sedang tidak ingin jika Jimin keluar rumah. Lalu bagaimana dengan Joonmyun? ia merasa seperti hanya hidup berdua dengan Jungkook karena orang baru ini dianggapnya hanya manusia biasa yang numpang tinggal, bahkan mereka tak pernah face to face sekalipun.
Siang, dan hari ini adalah hari Minggu. Untuk saat ini hanya ada Joonmyun dan Jimin di rumah. Sedangkan Jungkook, seperti biasa setiap Minggu selalu berkunjung ke rumah Taehyung.
Hari ini Joonmyun tidak ada kegiatan apapun. Berbeda dari sebelumnya, biasanya siapapun akan meneleponnya karena suatu urusan yang bersangkutan dengan anak kelas akhir. Joonmyun tidak pernah santai. Betapa bersyukurnya karena hari ini ia bisa bersantai dengan tenang.
-Joonmyun POV
Suasana yang sangat kudambakan sejak dulu. Saat yang santai dan bisa menikmati indahnya masa-masa menjelang tua ini. Aku merasakan hawa dingin yang berasal dari AC, suhunya pun cukup rendah, ditemani oleh televisi yang akan kunyalakan. Tidak biasanya ini terjadi, biasanya Yi Fan akan meneleponku dan menyuruh untuk mengurus banyak hal yang berurusan di Sekolah lain, karena aku adalah tangan kanannya.
Aku mendudukkan diriku di atas sofa empuk yang berada di depan televisi dengan nyamannya. Dudukku masih seperti biasa. Kaki yang diletakkan dibawah dan menyandar dengan rileks. Mungkin ini terlihat berbeda dari anak jaman sekarang, mereka suka sekali meletakkan kaki di atas sofa dan duduk layaknya seorang boss, hahaha.
Remote?
Tidak ada.
Aku pun menggerakkan tanganku ke sembarang arah yang ku yakin disitulah remote berada.
Nihil,
Tidak, yang kudapatkan bukanlah sebuah benda yang bisa menyalakan atau mengganti channel layar besar ini.
Entah kenapa, kini tanganku meraba sebuah benda mati dan terbuat dari kain tebal.
Sapu tangan.
Tanpa ku kendalikan, dengan otomatisnya tanganku mengambil benda ini dan menunjukkannya pada mataku. Mungkin kebanyakan orang berpikir sapu tangan itu buat membersihkan, tapi tidak dengan yang kudapatkan ini.
Benda berukuran segi empat ini sudah kotor duluan.
Namun siapa sangka kalau noda ini bukan noda biasa?
Darah merah, dan terlihat masih cukup baru.
Siapa yang berdarah?
Bukan darahku, aku tidak terluka. Dan bisa kutebak ini milik siapa.
Dan kenapa tiba-tiba firasatku mengatakan kalau benda tersebutlah yang selama ini Jungkook sembunyikan di belakangku?
Tidak. Aku selalu melihatnya dalam keadaan sehat dan wajah yang semakin tampan seiring lamanya tinggal bersamaku, ia juga terlahir tanpa penyakit sedikitpun, itu katanya. Memang dari penglihatanku, ia anak yang terlahir cukup sempurna. Dan aku bingung kenapa ibunya meninggalkan begitu saja. padahal Jungkook adalah anak yang patut dibanggakan.
Lalu?
Ah iya, tiba-tiba saja aku lupa kalau aku tidak tinggal berdua dengan Jungkook saja. Masih ada satu orang lagi yang tinggal di rumah ini.
Jimin.
Tunggu dulu, aku bukanlah Paranormal yang bisa mengetahui tanpa harus banyak usaha, bukan, aku hanya manusia biasa yang kadang salah. Lalu kenapa aku berpikir begitu?
Berpikir apa aku barusan?
Mungkin aku memang harus menyanyakan langsung pada siapa yang sekarang sedang berada di pikiranku. Oh ayolah Kim Joonmyun... Kau adalah guru yang terkenal di sekolah, kenapa harus segan hanya untuk bertanya dengan orang baru itu?
Tidak jadi bersantai. Ya sudahlah, mungkin aku memang tidak pernah ditakdirkan untuk bersantai sekalipun hari itu adalah hari Minggu atau tanggal merah lainnya. Aku fisik dan pikiranku selalu bergerak.
Aku bangkit dari sofa empuk itu, lalu mencoba untuk ke kamar yang ditiduri oleh Jimin.
Pintu tertutup, dan pasti tidak terkunci. Karena semua kunci pintu di rumah ini, akulah yang menyimpannya.
Entah kenapa sedikit ada rasa aura dingin ketika baru melihat pintunya saja, bukan karena AC bersuhu rendah. Tapi hawa dingin yang ini berhasil menghipnotis pikiranku untuk membuka pintu secepatnya.
Cklek
Terbuka. Aku mengarahkan kepalaku ke arah manapun untuk melihat-lihat, sudah lama aku tak ke kamar ini karena telah ditempati. Dan ternyata Jimin berada di atas ranjang sedang duduk, ia menatapku sedikit terkejut tanpa memindahkan gerak bola mata bulatnya.
"..."
"Hm... Jimin?"
"..."
"Ayo keluar kamar." Ajakku.
Singkat cerita. Iya seperti meng-iya-kan ajakanku dengan gerakan kepalanya walaupun tak ada suara sedikitpun. Oh yes, ini pertama kalinya aku mengajaknya berbicara meskipun tak sampai sepuluh kata. Seperti orang bisu saja yang tak mau menjawab setidaknya tiga huruf. Lelaki ini hanya numpang tinggal, dan bukan aku yang mengurusnya.
"Ini?" tanyaku sambil memperlihatkan sapu tangan itu. Dan ia hanya membalas dengan tatapan. Ck, padahal aku menginginkan suara, apakah ia benar bisu? Tapi selama ini Jungkook tak pernah bilang kalau anak yang lebih tua darinya ini bisu.
"Apa ini milikmu? Jawablah aku menggunakan suaramu." Tanyaku sambil meminta. Well, lebih baik langsung bilang saja daripada aku berkompromi di dalam hati dan merasa tidak puas jika hanya ada pertanyaan tanpa jawaban.
"Ya."
Baiklah. Suaranya sudah ku dengar. Tidak berat dan juga terdengar bagus jika bernyanyi, menurutku. Walau hanya dua huruf tapi ini luar biasa. Oh ayolah... Kau kenapa berlebihan sekali pada anak ini? Baru saja aku mengajaknya berbicara, padahal.
Lalu? Aku harus bilang apa lagi? Tidak mungkin jika menyuruhnya keluar kamar hanya untuk menanyakan ini. Tanya yang lain saja, yang mungkin bisa membuatnya terbiasa dengan bagian rumah ini selain... Kamar.
"Kau datang dari mana?"
"Hutan."
"Bagaimana bisa kau tinggal di hutan?"
"Ayah, ia jahat padaku."
"Ayahmu?"
"Ya, dia mengorbankanku bersama ibu."
Pertanyaan yang ku lontarkan barusan hanya pertanyaaan 'ngasal', tapi kenapa tiba-tiba ku jadi ingin menyambung terus?
"Sudah berapa lama? Apa yang terjadi?"
"Sepuluh tahun. Banyak pengorbanan yang akhirnya menyisakan aku, Ibu memilih aku melanjutkan hidup sampai aku bertemu ayah... Maka itu Ibu memberikan hidupnya padaku agar bisa tetap dilanjutkan..."
"Siapa nama ayahmu?"
"Aku tidak tahu."
"Siapa nama Ibumu?"
"Ingatanku dihilangkan seluruhnya. Aku hanya mempunyai nama sekarang. Hanya itu yang kuingat"
"..."
"Bagaimana denganmu? Dimana istrimu? Dan Jungkook?"
Nah, sekarang dia yang bertanya padaku. Ah ini lebih baik, karena pikiranku takkan pernah berhenti untuk bergerak. "Istriku hilang entah kemana. Jungkook... ya dia memang anakku."
Ya sudahlah, berbohong sedikit boleh mungkin. Kalau aku mengatakan Jungkook adalah anak angkat, pasti dia akan menanyakan lebih banyak lagi. Entah dia tau marga kami sama atau berbeda, marga kami berbeda, menandakan kalau dia bukanlah anakku.
"Oh... Begitu. Harus ku panggil apa dirimu?"
Aku menoleh padanya. Hm... sepertinya dia ingin lebih dekat denganku sampai menanyakan aku harus dipanggil apa. Tapi aku bingung. Kalau dia memanggil 'Guru', dia bukanlah muridku. kalau dia memanggil 'Ahjussi' terdengar aneh. jika dia memanggil 'Appa', ah sepertinya ia bukan anakku. Lalu? Ya sudah, kelamaan berpikir bisa membuat wajah 22 tahunku bertambah umur.
Apa daya aku kehabisan akal. "Ahjussi."
Anak itu tersenyum simpul padaku. "Baiklah, ahjussi."
'Baiklah, ayah.'
Apa yang barusan terngiang di otakku?!
"Apa margamu" tanyaku lagi, entah kenapa ingin terus menanyainya.
"T... Tidak tahu. Sepertinya Park."
Oh baiklah yang tadi mungkin hanya ilusi sebuah pikiran.
-Joonmyun POV end
...
"Aku pulang." Suara yang sangat dikenali oleh pemilik rumah terlontar setelah ia mendengar suara pintu yang terbuka, dan kembali tertutup setelahnya.
Sudah malam, mungkin Jungkook terlalu asyik di hari libur sekali seminggu ini bersama Taehyung. Ditambah lagi Seokjin yang mengajarkan mereka ketika belajar kelompok. Jungkook juga berpikir kalau diajar oleh senior lebih muda dimengerti daripada diajar guru.
"Guru Kim?" panggilnya setelah membuka pintu lalu menutupnya. Keadaan terlihat gelap seluruhnya, biasanya Joonmyun tetap menyalakan lampu di bagian ruang tamu.
Sret.
"Apa ini?"
Jungkook merasa kakinya menginjak sesuatu yang menghasilkan suara, bukan suara hentakan kaki saat menginjak lantai kramik. Tetapi sebuah benda, kertas.
'Aku akan pergi ke Daegu karena sebuah urusan penting menyangkut anak kelas akhir. Jaga rumah baik-baik, semua kunci ku letakkan di meja belajarmu. Aku akan kembali 14 hari lagi jika tak ada urusan lain, maaf jika itu terbilang lama. Tapi aku janji akan kembali, dan... Belajarlah yang rajin.
-Kim Joonmyun'
- Jungkook POV
Ayahku telah meninggal dunia, Ibuku sudah lama pergi untuk kerja keluar negeri, Suga hyung sibuk kuliah, dan sekarang? Guru Kim ada urusan. Mungkin aku memang ditakdirkan untuk sendirian tanpa kasih sayang dari siapapun. Kalaupun ada, semua pasti akan meninggalkanku. Siapa orang selanjutnya yang akan meninggalkanku?
Ingin sekali rasanya cepat tua seperti Guru Kim agar aku bisa menjaga diri tanpa butuh siapapun teman lagi. Bagaimana dengan di saat muda ini? Orang tua pada umumnya takkan membiarkan anaknya sendirian, berbeda dengan orang tua kandung maupun orang tua angkat. Keduanya sama saja.
Tapi Ku harap...
Pikiranku tentang keberangkatan guru Kim seketika buyar hanya karena melihat sebuah angka yang tertera diantara tulisan tinta hitam khas orang tua. Surat itu langsung ku lempar ke sembarang arah. Di tengah kegelapan ini, aku berusaha mencari jendela terdekat lalu membukanya pelan.
Aku mendongakkan kepalaku keatas mengarah langit. Lihatlah, bintang-bintang sudah berkumpul dan sekarang hanya menanti bulan Purnama yang akan menyinari langit gelap ini. Akhirnya 14 hari sudah lewat, hari yang kutunggu-tunggu.
Ah iya, aku juga harus membawa Jimin kesini. Pasti dia tau kalau Pegasus sebentar lagi akan menunjukkan dirinya.
Dengan langkah cepat karena sangat tidak sabar, aku melangkah ke kamarnya. Tanpa izin sama sekali, pintu kubuka seperti orang sedang terlambat masuk kelas, dan mendapati orang yang kucari sedang menatap... Cermin, dengan serius.
"Jimin?" panggilku, ia hanya menoleh sebagai respon, ya tapi itu respon yang cukup. Merasa tidak sabar, aku lalu menarik tangannya tanpa memperhatikan cermin yang sedari tadi ditatapnya. Lebih baik ia keluar sesekali daripada hanya berpapasan dengan cermin biasa itu. Setelah sampai di halaman belakang, aku pun mengajaknya duduk di kursi panjang bawah pohon.
"Jimin, tidak lama lagi bulan Purnama akan menunjukkan keindahannya. Apakah Pegasus akan ke sini?" tanyaku dengan excited-nya, entah kenapa aku sangat semangat malam ini.
"..."
Tak menjawab, ia hanya menunduk dengan memperhatikan lututnya yang ditekuk karena sedang duduk. Hey, orang bertanya pasti menginginkan jawaban, tidakkah ia berpikir? Paling tidak ia mengangguk atau menggeleng.
"Jimin. Bisakah kau menjawabku?" sekarang aku bertanya dengan nada sedikit kesal, kesabaranku sangat tipis untuk saat ini. Jangan sampai kesenanganku lenyap karenanya.
"Aku bukan tidak mau, hanya tidak bisa."
Finally, akhirnya ia bersuara juga, kukira pita suaranya sudah putus. Terdengar sangat lemah.
"Aku tidak membentakmu, tujuanku baik membawamu kesini."
Aku melihatnya berdiri di tempat, lalu menatapku dengan polosnya, dan berjalan pelan mulai meninggalkanku. "Jungkookie... Aku ingin ke dalam saja."
Apa dia bilang? Jungkookie? Aigoo, manis sekali! Apa lelaki ini berhasil menyihir pikiranku di bawah langit hitam ini? Oh sudahlah, itu hanya panggilan. Ingat, hanya panggilan. Tidak lebih dari itu.
Akupun menahan tangannya. Tidak, kau jangan pergi dari sini, Jimin. Aku tak ingin melihat Pegasus itu seorang diri. Walaupun Pegasus itu muncul tak pasti, tapi aku tetap meyakininya.
Dengan pelan Jimin menatap pergelangan tangannya yang masih ku genggam dengan pandangan polosnya. Astaga, apa yang barusan aku aku lakukan? Sepertinya sedang di alam bawah sadar. Akupun melepaskan tangannya lalu mulai mengatur nafas yang sempat tertahan. Yak, kenapa aku jadi aneh begini?
"Baiklah, aku akan tetap disini." Seperti pasrah, ia kembali duduk di sebelahku dalam keadaan ekspresi kosong sambil menatap langit.
Sekarang sudah jam 9 malam. Oh yeah, bulan Purnama akan muncul. Aku sungguh tidak bisa sabar untuk kali ini.
-Jungkook POV end
Aku benar-benar tidak bisa memendamnya. Paranormal itu juga sudah meninggal. Dan mungkin ini saat yang paling tepat untuk tidak lagi menyembunyikannya dari Jungkook.
"Enif, baham, homam, markab..."
terdengar jelas suara Jimin di keheningan malam ini.
Bukan sebuah bahasa yang digunakan orang sehari-hari, dan mungkin google translate akan error jika mengartikannya. Jimin mengucapkannya sambil menatap ke langit gelap yang diterangi oleh bintang. Hal itu mengundang perhatian Jungkook, tapi Jungkook memilih diam untuk mendengar apa yang selanjutnya dikatakan Jimin.
Suara tersebut terlontar seiring tangannya bergerak mengikuti titik bintang. Sepertinya Jimin sedang berbicara dengan bintang, pikir Jungkook.
"Algenib, Alpheratz, Scheat, dan dua pasang kaki."
Dua pasang kaki, mengakhiri obrolannya pada bintang yang sama sekali tak Jungkook mengerti.
"Apa yang barusan kau katakan, Jimin?" dengan tanpa berpikir dua kali, Jungkook bertanya.
Pemilik nama itu menoleh ke Jungkook sambil menyunggingkan senyuman. "Konstelasi Pegasus."
Glek.
Jungkook menelan salivanya sampai terdengar. Bukan karena jawaban Jimin, bahkan Jungkook mengabaikan jawabannya, tapi karena bibirnya yang pertama kali menyunggingkan senyum indahnya, membuat Jungkook enggan untuk mengedipkan matanya sekalipun. Malam ini memang tidak banyak penerangan, tapi mungkin senyum makhluk itu adalah penerangan tanpa listrik yang membuat otak Jungkook berpelangi.
Masih sibuk Jungkook memandangi Jimin yang kembali mendongak ke langit memperhatikan bintang-bintang. Makhluk yang duduk di sebelahnya ini indah, sangat indah, dan mungkin sekarang Jungkook berpikir kalau Jimin itu setara dengan Pegasus keindahannya.
Kepala Jungkook tak bergerak sedikitpun. Walaupun Jimin masih sibuk memperhatikan konstleasi bintang, tatapan itu tetap menyadarkannya kalau ia sedang dipandangi tanpa perubahan ekspresi sedikitpun. Jungkook terlihat bodoh saat ini, pikirnya.
"Jungkook? Aku kenapa? Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Pikiran Jungkook kini terkosongkan karenanya. Hanya ada satu nama, satu manusia, dan satu perasaan di otaknya kini, hanya 'Jimin'. Ekspresi polos yang ditunjukkannya seraya bertanya dengan nada yang tak kalah polos, membuat Jungkook mungkin menunda nafasnya sekarang dan membiarkan paru-parunya tak bekerja sementara. Oh mungkin ini terdengar berlebihan, tapi inilah yang telah menghipnotis pikirannya. Karena senyuman, ya hanya karena senyuman.
Mata mereka kini saling bertatapan satu sama lain, namun masih belum dekat.
Mungkin Jungkook kini bagaikan robot rusak yang berjalan dengan sendirinya tanpa remote control. Ia lalu memperdekat jarak duduknya dengan Jimin, tidak lupa pula mendekatkan wajahnya.
Dekat...
.
Dekat...
.
Semakin dekat...
.
Terus mendekat...
.
Ia pun tak sadar kalau ternyata bulan Purnama sudah muncul.
.
"Awh!"
Suara yang mengganggu. Tidak, itu bukan salah Jimin, tapi Jimin lah yang membuat Jungkook batal melakukannya.
Jungkook lalu menggelengkan kepalanya cepat berusaha mengembalikan kesadarannya yang sedari tadi entah pergi kemana, dan langsung menjauhkan jaraknya seperti semula. "Apa yang terjadi padamu?"
Jimin lalu menunduk, dan sepertinya Jungkook tak melihat wajahnya yang menunjukkan ekspresi 'kesakitan'.
"Jimin? Bulan Purnama sudah muncul. Kenapa kau begini? Ayolah, aku membutuhkan Pegasus itu. Bukan hanya konstelasi bintang saja."
'S... Sakit... Baiklah, ini saatnya.' Batin Jimin. Ia lalu berlari meninggalkan Jungkook yang masih penuh dengan pertanyaan masuk ke kamarnya dan menyalakan lampu.
Kesenangan Jungkook seketika berganti menjadi kekesalan. Jungkook kesal karena Jimin pergi begitu saja di saat yang sedang ditunggunya telah tiba, tak ada pilihan lain selain mengikutinya segera.
Tap Tap Tap...
Pintu kamar Jimin terbuka. Jungkook tak perlu menggunakan tangannya untuk membuka knop pintunya, kini Jungkook hanya perlu berjalan terus sampai menemukannya.
Tak perlu mencari dan menggerakkan kepala ke kiri-kanan. Jimin telah ditemukannya dalam keadaan sedang menatap cermin dengan wajah yang serius –seperti tadi. Bertambahlah lagi satu pertanyaan di otak Jungkook, tak ada jawaban dan ia sangat membutuhkannya.
...
"Maaf aku berbohong padamu, Jungkook. Aku takut dan berfirasat jika aku jujur, ini akan berakibat buruk." Gumam lelaki paruh baya yang merupakan ayah angkat Jungkook sambil tetap menyetir mobil, sedang di perjalanan menuju suatu tempat.
Gelap, mungkin karena besok hari Senin sudah tidak banyak lagi warga yang berlalu-lalang di jalan luas ini, kalaupun ada mungkin mereka ingin pulang ke kediaman masing-masing. Sedangkan Joonmyun sedang sibuk memikirkan sesuatu yang membuat hatinya telah menggerakkan anggota tubuhnya dengan otomatis, tanpa perintahpun dari otaknya. Bahkan otak menyuruhnya untuk bersantai, namun hati telah melawannya.
"Aku harus menginap di Hotel, dan mencari Dokter khusus."
Joonmyun tidak berpenyakit walaupun umurnya sudah empat puluh tahun keatas. Ia terlahir dengan harta yang tak habis, dan pasti bisa menjaga kesehatan dengan segala yang dimiliknya. Untuk apa mencari dokter? Apalagi jika dokter khusus. Joonmyun juga seorang guru, dan ia betah dengan pekerjaannya selama tiga belas tahun.
Tidak tahu siapa lawan bicaranya, tapi ia terus berbicara pada hatinya sendiri dengan suara yang tak terbalas dengan sesuatu yang sama. "Ku harap ia bisa melayaniku dengan baik, aku akan memberi bayaran sebanyak apapun jika ia memenuhinya. Aku berjanji."
"Mungkin ini memang konyol, tapi aku sangat merindukannya." Sahutnya sambil memegang suatu benda dengan tangan kirinya yang terbuat dari kain tebal sambil tersenyum menatapinya.
...
"Jimin?" Kini Jungkook mendapati Jimin sedang menangis di hadapan benda memantulkan bayangan itu. Bahkan lantai kramiknya sudah cukup terbanjiri oleh air matanya.
Tidak ada jawaban. Hanya suara isak tangis yang bisa Jungkook dengan di keheningan malam ini. Malam yang membahagiakan untuk Jungkook, tapi kebahagiaannya berkurang drastis seiring air mata Jimin yang tak hentinya mengalir.
Dengan langkah tanpa suara hentakan, Jungkook berjalan mendekatinya segera. Tapi entah kenapa di setiap langkahnya, firasat yang mengkhawatirkan merasuki batinnya dengan cepat.
Kini posisi Jungkook berada tepat di belakang Jimin. Di hadapannya ada sebuah cermin.
Cermin biasa, bukan cermin yang mempunyai kekuatan.
Tapi mungkin Jungkook sedang berpikir kalau matanya sedang bermasalah.
Minus? Tidak, ia bahkan masih bisa membaca tulisan yang berjarak sepuluh meter.
Plus? Hell yeah, ia belum berkepala dua.
Katarak? Katarak adalah ketika di matanya ada selaput yang menghalangi penglihatannya. Lalu? Sekarang penglihatannya sangat sempurna.
Apa yang sedang Jungkook lihat?
Manusia, tapi hanya seorang diri. Yaitu dirinya.
Dan... Apakah di cermin itu hanya bayangan ilusi belaka?
Bukan, Kuda putih itu memang sangat nyata dan tak bisa lagi membohongi mata sampai ke saraf-saraf normalnya dan darah yang terus mengalir di setiap tubuh.
Kuda itu... Sama persis seperti yang Jungkook lihat ketika bulan Purnama beberapa minggu yang lalu, saat pertama kali melihat makhluk indah ini.
"Jimin. Kau..."
"Ya. Akulah Pegasus selama ini.
Akulah yang merusak Perpustakaan Sekolahmu.
Akulah yang selama ini selalu kau sebut, tanpa kau sadari." Jawabnya tanpa memnghentikan air mata yang terus-terusan membasahi.
Sekarang Jungkook yakin kalau penglihatannya sedang tidak rusak sama sekali. Dan yang sedang terjadi kini bukanlah sebuah penyakit fisik. Tapi penyakit pikirannya yang sangat tidak bisa mengendalikan isi otaknya lagi. benar-benar sangat berantakan dan butuh waktu sangat lama agar bisa berpikir masuk akal tentang yang ia lihat di cermin kini.
Malam ini adalah malam bulan Purnama yang benar-benar hampir membuat kakinya tak bisa menahan tubuh lagi. Shock, cukup untuk mendeskripsikan inti pikirannya kini, walaupun masih banyak inti kata lain yang memenuhi hati dan pikirannya yang sedari tadi memang sudah banyak pertanyaan.
Dan sekarang rahasia yang sudah Jimin jaga selama belasan tahun akhirnya terungkap karena kehendaknya sendiri.
Joonmyun tidak ada di rumah.
Yixing tewas bunuh diri.
Ibu Jungkook tidak disini.
Ayahnya telah meninggal dunia.
Tidak satupun teman yang rumahnya dekat dengan rumah milik Joonmyun ini.
Sebagian besar pertanyaan Jungkook telah terjawab pada saat yang sangat tepat. Saat dimana tak ada manusia lain sebagai saksinya.
"Sekarang aku mengerti, Jimin. Aku..."
.
To Be Contuned~
Maaf updatenya lamaaa.. aku kelas akhir ini...
Chapt selanjutnya pas Jungkook ultah ya, kalo bisa sih tapi XD
Oh iya, di chapt 8 dan seterusnya Taehyung dan Seokjin makin banyak peran loh~ hihi :3
Btw, hari ini 21 Agustus, aku ultah loh XD /gada yang nanya/
Reviewsnya ditunggu ._.)/
