Shingeki no Kyojin

Belongs to Hajime Isayama

Warning:

Typo(s),AU,OOC,Semi-canon,dan lain-lain

Rate:T

Don't Like,Dont Read

RnR please

P U R P O S E

Chapter 2 : Until

.

.

.

.

.

.

"Mikasa!kau baik-baik saja?!" Tanya laki-laku bersurai coklat susu kepada Mikasa yang terbaring di kamarnya.

"Heh, kau lihat sendiri kan? Kakinya patah. Apa coba yang kau katakan 'baik-baik saja' ? Bodoh" Celetuk Levi kepada Jean—Laki-laki itu.

Jean pun tidak mampu berkata apa-apa lagi.

"Tunggu, Mikasa ada disini. Tapi Eren dan Ar—"

"Keluar.."

"T-tapi Heichou.."

"KUBILANG KELUAR!!!"

Jean pun keluar atas perintah korporalnya.

"Kau terlalu kasar padanya" Ucap Mikasa kepada Levi.

'Tumben sekali dia seperti ini. Biasanya ia ketus. Apalagi pada si kuda itu' Ucap inner Levi.

"Hei, kau berubah ya" Ucap Levi lagi.

"Maksudmu?"

"Kau tidak seperti seorang Ackerman"

"Maksudmu?"

"Sudahlah. Lupakan saja. Sebenarnya apa yang terjadi kepada Eren dan Armin?"

FLASHBACK MODE ON

Recon Corps sedang bertugas di depan dinding. Eren menjadi titan, sedangkan Mikasa dan Armin melindungi Eren. Anggota regu lain kembali ke markas. Tapi Armin dan Mikasa bersikeras untuk bersama Eren dan membantunya. Akhirnya anggota lain meninggalkan mereka dan berkata akan datang kembali setelah mengisi gas.

Mereka nyaris berhasil.

"Mikasa, sebentar lagi Eren akan berubah menjadi wujyd manusia lagi, kau bunuh yang di daerah sana, aku bersama Eren" Ucap Armin.

"Baiklah Armin.." Mikasa pun pergi meninggalkan Eren dan Armin.

Eren berhasil menjadi wujud manusianya. Tapi tiba-tiba, seekor titan menggengam Armin dan Eren dan melahap setengah badan 2 manusia itu bersamaan. Entah apa yang ada dipikiran dua orang itu dan membuat mereka tidak sigap.

Sekembalinya Mikasa, ia menemukan teman-temannya tergeleletak tanpa nyawa dengan tubuh yang tidak lengkap. Ia ingin mencari pertolongan tapi gasnya habis. Ia juga sangat lelah. Sulit sekali untuk berdiri karena kakinya terasa sangat sakit. Dan hatinya jauh lebih sakit

FLASHBACK MODE OFF

"Heichou, tadi kau benar-benar tidak keberatan menggendongku menuju markas kan??"

"Tidak"

"Oh..sampai kapan kau ingin disini heichou?"

"Sampai kau pulih dari luka tubuhmu.."

Levi pun berlajan menuju pintu dan berkata lagi sambil menoleh ke arah Mikasa, "Dan juga sampai luka hatimu sembuh.."

Saat ia membuka pintu ia melanjutkan kata-katanya, "Aku tidur dulu, selamat malam.." Lalu Levi pun pergi.

Pagi harinya, Levi mengantar senampan roti ke kamar Mikasa.

"Kau tidak perlu repot-repot seperti itu, heichou"

"Aku tidak merasa kau repotkan. Nanti malam jenazah korban akan dibakar. Kau mau ikut?"

"Ya"

"Sasha, Connie, Jean dan Historia ingin menjengukmu. Aku keluar dulu" Ucap Levi dan dibalas anggukan oleh Mikasa.

"Mikasa! Apa benar Eren dan Armin meninggal? Aku mendengarnya dari Hanji-san" Ucap Historia agak panik.

"Ya..itu benar" Jawab Mikasa

"Aku turut berduka cita ya.." Tukas Connie.

"Kau sendiri bagaimana?" Tanya Jean.

"Hanya luka sedikit, aku tidak apa-apa" Jawab Mikasa sambil sedikit tersenyum.

"Kau sudah makan?" Tanya Sasha.

"Heichou membawakanku tiga roti, kau makan saja sisanya. Masih ada dua, aku tidak begitu lapar" Jawab Mikasa.

"Terima ka—"

"Sasha!" Jean menahan tangan Sasha yang hampir mengambil roti tersebut. Disertakan dengan deathglare kuda yang ia miliki.

"Kenapa Jean? Kan Mika—"

"Aku setuju dengan Jean. Aku rasa Mikasa memang butuh banyak energi. Sebaiknya kau jangan mengambilnya" Lanjut Historia.

"Mikasa makanlah. Kau butuh nutrisi. Jangan sampai kau mati konyol hanya karena kau kehilangan dua temanmu itu" Ucap Jean.

"Akan kumakan nanti. Oh ya, Jean, Sasha..aku merasa ada yang berbeda diantara kalian" Jawab Mikasa.

Wajah keduanya—Jean dan Sasha—sedikit memerah.

"Mikasa belum tahu ya? Jean kan sekarang berpacaran dengan Sasha" Jawab Connie.

"Oh, selamat kalau begitu" Ucap Mikasa.

Malam harinya

Mikasa menaiki kursi roda kayu yang didorong oleh Levi. Mereka menuju halaman untuk pembakaran.

Mikasa tidak menangis. Ia menahannya, sampai ia menemukan kalung Eren..

"Eren..." Ucap Mikasa

"Mikasa" Tegur Levi

"Eren!!" Ucap Mikasa lagi

"Mikasa!!" Tegur Levi lagi

Semua mata terarah ke mereka berdua. Ke Mikasa di kursi rodanya yang terfokus kepada air mata dan kalung Eren dan ke Levi yang terfokus untuk membuat Mikasa jangan menangis.

Levi yang tidak ingin membuat keributan membawa Mikasa kembali ke kamarnya.

Levi sedikut membanting pintu kamar Mikasa lalu berkata, "Apa-apaan kau seperti itu didepan umum bodoh!"

Mikasa tak berkutik. Ia tetap menatap kalung kesayangan Eren dan syal merah pemberian Eren yang ia lepas dan ia genggam.

"Bisakah kau fokus kepadaku dan jangan fokus hanya kepada Eren?!!"

Mikasa menoleh ke arah Levi. Sekitar satu menit ruangan itu penuh keheningan.

"Maaf.." Bisik Mikasa.

"Mikasa..kau.. begitu mencintai Eren ya?" Ucap Levi dengan nada datar seperti biasanya. Namun dapat dirasakan oleh Mikasa, terdapat nada kecewa didalam perkataan tersebut.

"Aku—"

o0o

To Be Continued

Haha..hehe..hoho..hihi..huhu

jujur, gw rasa ini fanfic unfaedah banget.

serius...

btw ini tingkat keOOC annya gede bgt

reviewnya yaa

dan makasih buat levieren225 yang setia support saya hampir setiap story saya :)