Purpose song belongs to Justin Bieber
SnK belongs to Hajime Isayama
This ff belongs to me
Maap kalo aga2 ga sesuai ama ekspektasi kalean..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mikasa sangat kebingungan akan apa yang terjadi dengannya. Tapi ia memutuskan untuk melupakannya. Dan membiarkan Levi memanggil namanya. Toh, itu bukan masalah yang besar.
Beberapa minggu berlalu, Mikasa menjalankan harinya dengan Levi yang selalu memperhatikannya.
Sekarang sudah saatnya untuk bisa berjalan dengan kakinya lagi.
"Berdirilah, Mikasa" Ucap Levi tegas. Mikasa pun berusaha berdiri dengan bertumpu pada tembok batu disampingnya. Dan ia bisa berdiri tegak tanpa tumpuan hanya dengan sekali mencoba. Cukup kuat memang.
"Sekarang berjalanlah" Perintah Levi lagi. Ia pun menapakkan satu kakinya kedepan. Namun ia tidak sekuat saat berdiri tadi. Ia nyaris terjatuh. Namun Levi menangkapnya dengan sigap.
Posisi lengan kiri Levi melingkari pinggang Mikasa. Sedangkan tangan kanannya menggenggam lengan Mikasa.
Sedangkan kedua tangan Mikasa sendiri bergantung di pundak Levi.
Levi hanya diam. Menikmati momen ketika ia bisa lebih dekat dengan Mikasa. Mikasa juga tidak tahu harus berbuat apa. Percuma saja ia bergerak melepas Levi. Toh, ia akan terjatuh juga jika ia melepas Levi.
Levi yang tahu bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk mencari kesempatan pun melapas Mikasa perlahan. Meyakinkan diri bahwa Mikasa bisa berdiri dengan baik.
"Kau bisa sendiri?" Tanya Levi
"Aku tidak yakin..."
"Baiklah, akan aku bantu"
Levi pun membantu Mikasa dalam proses pemulihan terakhir Mikasa.
Sampai Mikasa bahkan sudah bisa memakai 3D Manuver Gear lagi.
Tapi Levi mengalami sedikit kesedihan karena ia tidak bisa mengunjungi Mikasa setiap hari.
Dan malam itu, tanggal 29 Maret. Malam sebelum ulangtahun Eren.Semua tahu itu. Sejak malam sebelumnya juga Levi sudah memikirkan berbagai cara untuk membuat Mikasa 'termanipulasi' dan hanya terfokus kepada Levi. Hanya pada Levi seorang. Tapi sayangnya, ia masih memiliki perasaan. Ia tahu rasanya kehilangan. Ia sangat tahu. Karena itu ia memilih untuk diam dan mendorong Mikasa agar terus maju. Bisa dibilang, cinta dalam diam.
Kala itu, hujan turun cukup deras. Cukup besar untuk membuat orang-orang kedinginan. Dan Levi tahu bahwa selimut yang ada di kamar Mikasa sedang dicuci. Maka, Levi membawa selimut simpanan yang ada di lemari pakaiannya ke kamar Mikasa.
Dan lagi-lagi Levi mendapatkan Mikasa menangis.
"Mikasa" Yang dipanggilpun menoleh ke arah sang pemanggil.
Sambil menghapus air matanya, Mikasa menjawab Levi.
"Ada apa, Heichou" Jawabnya dengan suara parau.
"Mengapa kau menangis lagi, Mikasa? Sudah kubilang, lupakan Eren. Masih ada orang yang jauh lebih mencintaimu daripada Eren kau tahu?!"
"Siapa, Heichou"
Levi terpaku. Dengan bodohnya ia kelepasan lagi. Ia biasanya bisa mengontrol diri dengan baik. Tapi mengapa sekarang ia sering kelepasan. Mungkin faktor U. Atau karena kegugupannya? I tidak tahu.
"Aku. Jadi tolong, aku lebih bisa menyayangimu, melindungimu, atau apapun itu. Tapi, sebenarnya aku tahu kau tidak menyukaiku. Sifat kasarku terhadap Eren membuatmu tak nyaman bukan? Ya, aku tahu itu. Aku pergi dulu, aku tidak ingin mengganggumu lagi. Maafkan aku. Aku tidak perlu jawabanmu. Aku sudah dapat membaca dari raut wajahmu juga kau tidak percaya kan? Kau tidak perlu percaya. Anggap saja aku tidak ada, selamat malam"
Mikasa pun ditinggalkannya terpaku begitu saja. Mikasa bingung, senang atau sedih. Kecewa atau bahagia. Ia masih mencerna kata-kata atasannya barusan. Ia yang sudah mengerti apa yang dikatakan Levi pun berlari keluar ruangan. Mengejar Heichou-nya yang hendak pergi kembali ke ruangannya. Tentu saja ia bisa memukan Levi karena jelas-jelas Levi berjalan, Mikasa berlari. Namun, Mikasa menemukan Levi di ruang bawah tanah. Entah sedang apa disana.
"Heich—"
"Apa"
"Aku—"
"Mikasa, aku sedang ingin sendiri"
"Heichou, aku..aku tidak sekejam yang kau pikirkan. Jika kau mau, ak—"
"Mikasa..." Setelah ia menggumamkan nama gadis itu, ia berdiri di anak tangga yang membuatnya lebih tinggi beberapa senti dari perempuan itu lalu mendekap perempuan itu perlahan. Untuk saat itu, Mikasa benar-benar merasa lumpuh seutuhnya. Tidak ada satupun keinginan dari hatinya untuk melepas pelukan sang atasan. Ia merasa hangat. Pelukannya lebih hangat ketimbang pelukan Eren yang notabene tidak pernah memeluknya.
"Dunia ini kejam.. kau harus melaluinya.. dan aku akan membantumu melaluinya. Aku akan melindungimu" Ucap Levi memecah keheningan yang ada.
"Terima kasih, Heichou. Aku akan berusaha" Jawab Mikasa.
Levi selaku orang yang lebih dewasa melepas pelukan mereka dan menepis jarak antara mereka.
"Mikasa, aku akan memberimu tujuan hidup..."
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku taruh hatiku dalam genggamanmu,
Belajar dari apa yang kau berikan padaku,
Aku tidak peduli apapun, dimanapun,
Kau tidak sulit diraih..
Dan kau memberiku hal terindah
Yang aku pernah tahu.
.
.
.
.
.
.
.
Yeah,
.
.
.
You given me purpose..
.
.
.
.
end.
