.

.

FFn ini murni dari imajinasi saya. Adapun Casts dalam FFn ini adalah milik mereka pribadi dan keluarga mereka.

Chapter ini dipersembahkan untuk readers:

Hunhantime

LisnaOhLu120

Nisaramaidah28

Exorlandia

Cici fu

Rly.

Ruixi 1

Park RinHyun-Uchiha

SelynLH7

Ohsehawnn

Marc1220

Ty Kim

Maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama. Terima kasih atas dukungan kalian semua.

Best Regards, Lily Levia

"Umma…" panggil Haowen yang masih asyik menikmati lollipop warna-warni di pinggir tempat tidur kamar orang tuanya.

"Hmm,.." Luhan menggumam kecil.

"Apa lumah balu kita cebecal lumah kita yang dicini?"

Degh,

Luhan menghentikan gerakan kedua tangannya yang masih sedari tadi membereskan helai-helai pakaian yang sedang ia pilah. Setetes air mata jatuh.

Dengan susah payah, Luhan mencoba mejawab. "Tidak sebesar rumah ini, sayang. Tapi umma pastikan lebih nyaman".

"Jinjja?" pekik Haowen.

Luhan menganggukkan kepalanya keras. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri."Ne…". Sayangnya, Haowen terlalu polos untuk bisa melihat bagaimana rapuhnya Luhan hanya untuk menjawab pertanyaan singkat putra satu-satunya itu.

"Apa Haowen bica belmain sepuasnya?" tanya Haowen lagi seolah belum puas untuk meyakinkan dirinya.

"Tentu, sayang" jawab Luhan sambil melihat kearah putranya yang kini berganti posisi merebahkan badan diatas ranjang.

"Belalti, Haowen juga bica mengganggu umma? Cecuka Haowen?" . terdengar lengkingan tawa Haowen yang menggemaskan.

Dengan tergesa, Luhan menghampiri dan mendekap Haowen. "Apapun itu…asal kau bahagia". Dan tumpahlah semua air mata yang tadi sempat Luhan tahan.

Haowen menjauhkan pelukan wanita yang telah melahirkannya itu. Membawa kedua tangan mungilnya untuk menangkup pipi tirus yang sangat suka untuk ia kecup. Diusapnya air mata Luhan, lalu menyatukan kedua dahi mereka. "Umma, jangan menangic lagi, ne. Haowen beljanji tidak akan nakal. Haowen beljanji celalu menemani, umma".

Luhan mengangguk. Diciuminya kedua tangan Haowen. "Saranghae…nae adeul".

"Hmmm" balas Haowen menampilkan eye smile miliknya.

Beberapa saat kemudian, mereka berdua, Luhan-Haowen telah siap diruang tengah dengan satu handbag ditangan Luhan yang terlihat ringan tak berisi dan memang sengaja Luhan lakukan. Ia benar-benar memantapkan hati untuk meninggalkan semua yang ia miliki dan tidak ingin membawa apapun yang berhubungan dengan Sehun. Sang mantan suami.

Untuk terakhir kali, Luhan memandangi rumah megah itu sekali lagi, dan menatap potret pernikahan dirinya dengan Sehun yang terbingkai besar di ruangan itu. Menerbitkan senyuman hambar Luhan. "Selamat tinggal, Sehun" lirihnya dalam hati.

"Cha, kita siap" ujar Luhan seceria mungkin.

Haowen tak kalah sumringah menyambut senyum serta uluran tanga Luhan. Bersama, mereka melangkah meninggalkan rumah besar Oh.

"Umma…"lirih Haowen seketika memberhentikan langkah Luhan juga.

"Ne?, ada apa, baby?". Luhan melihat jelas kegusaran pada raut wajah Haowen.

"Apa Appa akan baik-baik caja?"

Luhan tersenyum getir. "Ne. Appa akan baik-baik saja".

"Apa Appa akan melindukan kita?"

"Umma tidak tahu, sayang" jawab Luhan sendu.

"Appa tidak kecepian jika kita pelgi?"

Luhan berjongkok untuk menayamakan tinggi badannya dengan sang putra. Mengelus lembut kepalanya. "Appa punya banyak orang. Appa akan baik-baik saja, sayang".

Haowen merunduk dan menatap bergantian wajah sang umma dan boneka kelinci yang sedari tadi ia tenteng. "Umma, boleh Haowen membelikan boneka ini untuk Appa?. Haowen….Haowen takut Appa kecepian, umma".

Lagi, Haowen dan segala kepolosan serta kebaikan hatinya membuat luka di hati Luhan kian mengangga. Bagaimana Haowen masih peduli kepada sang Appa yang bahkan tak mau sedikitpun menoleh padanya.

"Umma…" panggil Haowen menyadarkan lamunan Luhan.

"Bukankah itu boneka kesayangan Haowen?. Jika diberi ke Appa, bagaimana dengan Hoawen? Apa Haowen bisa tidur tanpa Mr. Bunny? Tanya Luhan sambil menyebut nama kesayangan boneka Haowen.

Haowen menatap kembali boneka kelinci berwarna merah jambu yang sedikit lusuh dan terdapat sedikit jahitan di badannya.

"Haowen punya umma. Jadi boneka ini untuk Appa, ne" jawab Haowen diluar dugaan. Ada rasa hangat menjalari hati Luhan mendengar putranya begitu menyayangi dirinya. Luhan mengangguk dan mengizinkan Haowen kembali berlari menuju pintu utama dan meletakkan boneka kelinci itu disana. Tanpa sepengetahuan Luhan, Haowen meletakkan pula selembar kertas dibawah boneka.

"Mistel Bunny, jaga Appa Haowen baik-baik, ne. salanghae" ucap Haowen lalu mengecup pipi boneka. Dan Haowen kembali berlari kearah Luhan yang sedang menunggunya.

"Nyonya, mari saya antar" Ujar salah satu orang yang bekerja di rumah keluarga Oh. Taecyon. Dia sopir yang memang disiapkan untuk mengantar kemana saja sang nyonya pergi.

Luhan menggeleng pelan. "Tidak perlu, Taecyon oppa". Memang Luhan terbiasa memanggil sang supir seperti itu sekalipun Taecyon pernah menolaknya karena ia beranggapan bahwa sebutan Oppa tidak sewajarnmya diberikan sang majikan pada bawahan seperti dirinya. Itu terkesan akrab, menurut Taecyon.

"Tapi…" belum sempat Taecyon membantah penolakan, Luhan lebih dulu menyela.

Sambil tersenyum Luhan mengatakan " Aku bukan lagi Nyonya Oh, oppa. Kau tak perlu mengantar atau apapun itu. Tugasmu selesai. Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik".

Kalimat perpisahan itu selesai dengan cepat dan lugas berbarengan dengan Luhan yang mengajak Haowen untuk segera pergi. "Kajja, Haowen~"

TBC~~~~~~