Warning! Beberapa adegan di chapter ini berisi kekerasan dan kata-kata kasar~

.

.

.

.

REPOST….

Maaf karena kesalahan posting chapter tadi malam~saya tidak lihat-lihat lagi...maaf ya….

.

..

.

"Wo ho…apa yang terjadi dengan sanjangnim kita ini, hyung?" seru si namja berkulit tan-Kim Jongin dengan hebohnya saat memasuki salah satu ruangan paling disegani di gedung Brilliant. Inc. Salah satu perusahan besar di Korea Selatan yang bergerak di bidang pertambangan. Ia langsung menghampiri namja yang tengah serius menatap layar Laptop dari balik kacamata.

Park Chanyeol, namja lain yang jauh lebih tinggi enggan menimpali ucapan Jongin . Dia berjalan santai memasuki ruangan dan langsung mengambil duduk di sofa yang menghadap langsung sang pemilik gedung.

"Jika kau berkata yang tidak penting, kau bisa langsung keluar dengan pintu yang sama saat kau masuk, Kim".

"Ekhm.." Jongin memperbaiki sikapnya dan berjalan menjauh menuju sofa yang diduduki Chanyeol. "Hyung, apa Sehun sedang mengalami PMS?" bisik Jongin pelan.

Chanyeol hanya tersenyum kecil. Ia masih enggan menanggapi celotehan Jongin, itu hanya memperburuk mood Sehun."Kami hanya ingin mengajakmu makan siang".

Sehun melirik Jam yang terpasang apik di pergelangan tangannya. Ia mendesah berat.

"Sesuatu mengganggumu?" tanya Chanyeol saat melihat banyak gurat kelelahan di wajah Sehun.

Belum sempat Sehun menjawab, tiba-tiba pintu ruangan terbanting keras, menampilkan sosok yeoja mungil dengan perut membuncit berjalan penuh emosi dan terlihat mengerikan. Dibelakang sang yeoja, anak lelaki kecil berumur 5 tahun mengikuti.

Plak!

Satu tamparan keras menjadikan suasana diruangan kembali tegang.

Sehun merasakan panas menjalari pipi putih pucatnya yang kini memerah akibat tamparan yang tak bisa dikatakan biasa saja. Terlihat dari darah segar yang spontan keluar dari hidung bangirnya.

"Baek, apa yang kau lakukan?!" pekik Chanyeol kaget dibuatnya.

"Umma…" lirih anak lelaki yang kini mulai menangis karena ikut terkejut dengan suara yang dikeluarkan sang Appa.

"Jongin, tolong bawa Jesper keluar" titah Chanyeol yang langsung dituruti Jongin.

"Berhenti disana, Yeol!" teriak Baekhyun bercampur tangis.

Tak mau memperparah keadaan, Chanyeol menuruti kemauan sang istri yang kini terlihat sangat berantakan dengan air mata dan nafas yang tersengal-sengal. Ia belum memahami apa yang membuat Baekhyun begitu marah kepada Sehun.

Buagh~

Baekhyun melempar sebuah boneka kehadapan Sehun. "Kau pasti tahu boneka siapa itu, huh?" hardik Baekhyun. "Haowen…" lirih Baekhyun sambil tertawa. "Apa yang kau lakukan kepada keponakan dan sahabatku, Sehun?" ledak Baekhyun dan sekali lagi melempar benda yang ternyata selembar kertas yang sudah lecak.

Sehun membuka kertas yang dilemparkan Baekhyun. Tatapanya berubah kosong saat melihat tulisan berantakan khas anak kecil. Appa~, dilengkapi tanda hati yang besar dan potret seorang lelaki dewasa, dan seorang anak kecil yang menggandeng tangan seorang yeoja.

"Kalian bercerai?" tanya Baekhyun masih dengan linangan air mata.

"Bukan aku yang menceraikannya" jawab Sehun nyaris tak terdengar.

Baekhyun tertawa sinis. "Ah~ benar. Pasti Luhan yang menggugatmu. Tapi, pernahkah kau bertanya mengapa Luhan melakukannya?"

Sehun terdiam. Saat ini otaknya tumpul untuk diajak berfikir.

Merasa muak dengan keterdiaman yang Sehun tampakkan, Baekhyun kembali meradang. "Katakan, dimana Luhan sekarang?"

Saat Baekhyun kembali hendak beranjak menampar Sehun, Chanyeol bertindak lebih cepat dan menahan tubuh Baekhyun yang meronta dalam dekapannya.

"Baekhyun, tenanglah. Ingat kau sedang mengandung" bisik Chanyeol mencoba menenangkan.

"Minggir, Chanyeol!. Biar sepupumu ini juga merasakan kesakitan yang Luhan rasakan" Teriak Baekhyun.

"Sayang, ku mohon tenanglah, ne" Chanyeol kembali berbisik dan kali ini berhasil menghentikan amukan Baekhyun.

Baru beberapa detik berlalu, satu-satunya pintu di ruangan itu kembali terbuka keras. Kali ini menampilkan seorang yeoja yang sama mungilnya dengan Baekhyun tengah berjalan penuh amarah. Sedang dibelakangnya terlihat Jongin kewalahan menghadapi sang yeoja.

"Kyungie~ ku mohon jangan seperti ini, ne. Ingat, ada baby kita disini" ucap Jongin sembari mengelus pelan perut yeoja bernama Kyungie yang tak lain adalah sang istri.

Plak~

Tak disangka elusan Jongin dihempas kasar oleh Kyungsoo, nama asli istri Jongin.

"Diam, kau Jongin!" teriak Kyungsoo. "Biar ku beri tahu sedikit bagaimana Luhan tersakiti".

Plak!

Kali ini bukan tangan Jongin yang menjadi korban kekasaran Kyungsoo, melainkan pipi Sehun yang ditampar untuk kedua kalinya ditempat yang sama seperti yang Baekhyun lakukan sebelumnya. Jongin menatap horror kelakuan istrinya. Sedangkan Chanyeol menghembuskan nafas perlahan. Kepalanya berkedut keras tak habis pikir dengan kelakuan dan kekautan yang dimiliki yeoja-yeoja mungil diruangan itu.

"Kau, benar-benar BAJINGAN, Sehun!" Kyungsoo kembali berteriak. "Jika Luhan tak bisa untuk sekedar mengungkapkan kekecewaan hatinya, biar aku yang mewakilinya".

Plak!

Dan lagi, untuk kedua kali Kyungsoo menampar pipi Sehun. Kali ini pipi sebelah kiri. "Kupastikan kau menyesal karena telah menyakiti Luhan".

"Kau~" geram Sehun.

Menayadari emosi Sehun yang terpancing, buru-buru Jongin membawa Kyungsoo menyingkir.

"Sehun~ jangan" desis Jongin mencoba memperingatkan.

Di keadaan yang serba genting, terdengar Baekhyun mengerang.

"ARGHHH~"

"Baek…baek…apa yangn terjadi?" pekik Chanyeol histeris melihat sang istri kesakitan sambil memeganggi perutnya.

"Baeki~" lirih Kyungsoo sambil berjalan mendekati tubuh Baekhyun yang kini merosot dilantai.

"Sakit sekali, Yeol~" rintih Baekhyun.

"Bertahanlah, sayang" sahut Chanyeol sambil mencoba membopong tubuh Baekhyun. "Jongin, kita ke rumah sakit" .

Jongin mengangguk. Ia melirik sekilas kearah Sehun. "Kita selesaikan urusan ini nanti" ucapnya sebelum melesat keluar ruangan.

"Appa~" teriak Jesper yang berdiri didekat meja sekretaris Sehun. Jongin tadi sempat menitipkan Jesper ke Sekertaris Sehun saat melihat Kyungsoo dating.

"Kyung~ tolong bawa Jesper" ucap Chanyeol yang diangguki cepat oleh Kyungsoo.

"Imo~kenapa umma?" tanya Jesper yang berjalan sambil dituntun oleh Kyungsoo. mustahil Kyungsoo untuk menggendong Jesper ditengah kehamilan dirinya yang menginjak usia 5 bulan.

"Umma Jesper baik-baik saja sayang~" jawab Kyungsoo mencoba menghilangkan kekhawatiran anak lelaki Baekhyun. "Kita berdoa untuk umma Jesper, ne" .

"Eumm" angguk Jesper .

Selang beberapa jam kemudian di salah satu ruang inap Seoul International Hospital.

"Imo~nae yeodongsaeng neomu yeoppo~" puji Jesper dengan suaranya yang lucu. Ia menatap penuh kekaguman pada buntalan warna pink yang tengah digendong Kyungsoo.

"Ne…adikmu sangat cantik, Jesper" balas Kyungsoo. Ia tertawa lembut melihat bagaimana Jesper mencium kembali pipi merah adik perempuannya yang baru dilahirkan beberapa jam lalu.

"umma, ayo telepon Haowen. Aku ingin menunjukkan adik baruku" seru Jesper antusias.

Baekhyun melirik Chanyeol yang duduk disebelahnya. Diremasnya tangan Baekhyun dengan penuh perasaan. Senyum yang tadi berkembang berubah masam seketika saat disinggung masalah Haowen oleh Jesper, anaknya sendiri.

"Kita akan menelponnya nanti, ne. Jesper lihat, adik bayi menguap? Dia sangat mengantuk" ucap Kyungsoo mencoba mencairkan suasana.

"Yeol. Ku harap kau bisa menemukan Luhan dan Haowen secepat mungkin" lirih Baekhyun sambil mencoba membendung air mata.

Diusapnya bahu Baekhyun . "Aku akan berusaha menemukan mereka" janji Chanyeol.

Satu minggu kemudian.

"Bagaimana, Jongin?" tanya Chanyeol segera setelah Jongin masuk kedalam ruangan kerja miliknya. Chanyeol dan Jongin berada dalam satu perusahaan, dimana Chanyeol sebagai CEO dan Jongin sebagai wakilnya.

Nampak Jongin dengan penampilan frustasi. "Aku belum bisa menemukan Luhan dan Haowen, hyung".

"Apa kau tidak menggunakan keterampilan IT-mu untuk melacak keberadaan mereka?" hardik Chanyeol sambil mendekat dan memberi minuman berkaleng pada Jongin yang baru saja ia ambil dari lemari pendingin. "Percuma saja kau digelari master dari universitasmu dulu".

"Ck..lidah tajammu menyamai Kyungsoo" timpal Jongin sebelum menenggak minuman yang diberikan Chanyeol.

"Bagaimana dengan orang-orang yang kau pekerjakan untuk melacak keberadaan Luhan di China?".

Jongin menggeleng lemah. "Belum ada titik terang".

Kali ini giliran Chanyeol yang menghela nafas dalam. "Aku tidak tahu harus menjawab apa jika Baekhyun bertanya lagi tentang Luhan. Aku ingin dia fokus dengan pemulihan paska persalinan. Aku khawatir ia dilanda stress".

Jongin mengangguk. "Akupun sama. Aku mengkhawatirkan keadaan Kyungsoo. Kau sendiri tahu, hyung jika Luhan sangat berarti untuk istri kita. Aku tak habis pikir apa yang sebenarnya terjadi terhadap Luhan dan Sehun. Bertanya kepada sepupu itu mu pun tidak menghasilkan apa-apa".

"Kita tahu jika selama ini Sehun tidak berlaku baik kepada Luhan maupun Haowen. Pernikahan mereka bukan sesuatu yang diinginkan. Semua terjadi karena kebodohan Sehun",

"Apa orang tua Sehun perihal perceraian ini?"

Chanyeol menggedikkan bahu. "Entahlah. Tapi aku rasa mereka belum tahu".

"Aku tidak bisa membayangkan reaksi kedua orang tuanya. Mereka begitu menyayangi Luhan".

Selang beberapa detik, ponsel milik Jongin bordering menampilkan id istrinya, Kyungsoo.

"Jongin…" suara Kyungsoo yang lirih bergetar membuat Fikiran Jongin kacau seketika.

"Yeobo…ada apa?" tanya jongin dan selanjutnya terdengar isakan dari Kyungsoo.

Raut wajah tegang Jongin ikut merambati Chanyeol yang duduk tidak nyaman. Setelah mematikan sambungan telepon singkat, Jongin segera berdiri dan memakai kembali jas nya.

"Kita ke rumah sakit, hyung. Jaejoong imo dilarikan kesana".

Setibanya dirumah sakit.

Jongin dan Chanyeol melihat Kyungsoo tengah duduk bersama seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Oh Yunho, ayah Sehun.

Jongin segera menghampiri Kyungsoo yang duduk di tempat tunggu ruang IGD. Didekapnya tubuh mungil sang istri. "Jongin~"isak Kyungsoo.

"Tenanglah, sayang. Semua akan baik-baik saja".

"Sebaiknya kau bawa Kyungsoo pulang. Dia pasti kelelahan. Samchon sudah memintanya untuk tetap tinggal dengan Baekhyun, tapi ia memaksa untuk ikut" ujar Yunho kepada Jongin.

"Baiklah, kami pulang. Kabari kami tentang perkembangan keadaan Jaejoong imo" balas Jongin sebelum undur diri.

"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi samchon?" tanya Chanyeol kepada Yunho.

Pria paruh baya yang masih tampan diumurnya yang sudah menyentuh angka lebih dari setengah abad itu menahan sedikit geram dari setiap kata yang ia ucapkan. "Imo mu terkena serangan jantung. Ia tidak sengaja mendengar percakapan Kyungsoo dan Baekhyun tentang perceraian Sehun saat ia berkunjung untuk memberikan kejutan atas kelahiran Baekhyun".

Chanyeol menelan ludahnya kasar mendengar jawaban Yunho.

"Apa itu benar, Chanyeol?, Sehun dan Luhan telah bercerai?" tanya Yunho.

Chanyeol mengangguk. "Kami pun baru mengetahui setelah 3 hari sidang perceraian mereka".

"Lalu dimana Luhan dan Haowen?. Aku tidak bisa menghubungi mereka".

"Aku dan Jongin belum bisa menemukan mereka berdua".

"Apa maksudmu?" tanya Yunho."Luhan dan Haowen tidak ada di rumah?"

Chanyeol kembali mengangguk tak berani menjawab dengan suara. Pamannya begitu tampak mengerikan.

Dan disaat yang tak tepat, Sehun muncul dengan wajah yang makin memucat terlebih saat bersitatap dengan wajah ayahnya.

TBC…..

Review dan masukan dari kalian sangat membantu untuk tetap semangat publish chapter selanjutnya. Jangan malas review ya guys…. See you next chapter~