.

Saruhiko datang tepat ketika tuannya tengah mengikuti jamuan anggur emas di istana kuarsa. Aura dari tuannya itu yang kemudian mengepung. Menekan. Bulu-bulu di sayapnya sampai meremang. Dan ketika ia menukik rendah, bermaksud mendarat di pundak sang penyihir, Reishi terlanjur melambaikan tangan, menyebabkan Saruhiko jatuh tersungkur sempurna di atas lantai kuarsa dengan posisi wajah mencium lantai.

"Jadi…? Apa yang kau dapatkan dari istana manusia?"

"—tch…. Setidaknya kau bisa biarkan aku untuk menapakkan kaki terlebih dahulu, baru kau mengubahku menjadi manusia, dasar penyihir sinting."

"Oya? Aku tidak memintamu ke sini untuk menyumpahiku, Saruhiko. Jadi, katakan padaku. Sedang ada keramaian apa di sana?"

Pandangan Saruhiko yang kemudian menyapu sekeliling, beradu dengan empat pasang mata lain yang menatap penuh rasa ingin tahu ke arahnya—ingin tahu dalam artian lain dan bukan atas informasi yang akan ia berikan, tentu saja. Menarik napas, Saruhiko mulai menceritakan apa yang dilihatnya dari balik tembok kokoh kerajaan.

"Tch. Para manusia itu sedang ramai mengadakan pesta penyambutan. Dari yang kudengar, permaisuri dari Raja Mikoto baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki. Satu kerajaan akan berpesta selama tujuh hari, puncaknya pada hari ketujuh, untuk menyambut kelahiran si pangeran kerajaan."

Suasana yang kemudian menegang. Empat pasang mata yang saling berpandangan. Namun Saruhiko bersumpah melihat kilat penuh kekejian berenang melintasi manik ungu milik tuannya.

"Reishi… apa yang akan kau lakukan…?"

Salah satu peri di tempat itu—yang Saruhiko kenali kemudian sebagai peri flora si penguasa hutan—bertanya tanpa menyembunyikan gurat ketegangan di pundaknya.

Saruhiko mendengar kekeh geli dari tuannya.

"Jangan berpura-pura mengiba di hadapanku, Izumo. Aku tahu, kalian berempat sebenarnya mendapatkan undangan pesta dan perjamuan dari istana, dikirimkan khusus dibubuhi cap yang hanya dimiliki Mikoto, untuk menjaga nama dan hubungan baik antar kerajaan manusia dan Moors. Jika kalian ingin pergi, maka pergilah. Aku yakin kalian bisa menjaga diri kalian masing-masing."

"Aku tidak pergi," ujar si peri mungil bersurai seputih salju, sang peri kuarsa. "Reishi… aku tidak ingin menyakiti Reishi. Reishi akan semakin terluka jika aku pergi. Aku di sini aja. Biarkan Izumo, Tatara, dan Seri saja yang pergi. Bagaimana?"

Ketiga peri petinggi lainnya lagi-lagi saling melempar pandang. Kentara bimbang dan ragu. Namun tuannya itu hanya mendengus kecil dan menepuk puncak kepala si peri kuarsa, sebelum mengibaskan jubah dan melangkah pergi meninggalkan istana kuarsa. Memaksa Saruhiko menderap langkah kakinya, mengejar sang penyihir.

"Kau… sungguh-sungguh tidak akan pergi, Tuan?"

Kekeh tawa. Sadis. Meski kali ini, Saruhiko bisa merasakan perih menyelinap dari nada bicara Reishi.

"Tidak akan pergi? Jangan bercanda, Saruhiko. Justru aku sudah mempersiapkan sebuah hadiah yang manis untuk sang pangeran kecil."


...


.

Project K (c) GoRA & GoHands

ONCE UPON A KING AND HIS FAERY

Chapter 2: Warmth of the Past and the Curse

.

"... Ada takdir yang menunggumu. Ada… kutukan yang mengikatmu. Sesuatu yang bahkan tidak bisa dicegah oleh penyihir sepertiku, yang kau bilang penyihir terhebat sekalipun."

.

.

.

"Kami ucapkan selamat atas kelahiran pangeran kecil Anda, Pangeran Misaki, Yang Mulia."

Mikoto mengangguk. Senyum samar menyapa ketiga tamunya yang datang dari kerajaan yang jauh. Kerajaan Moors. Kerajaan penuh kecantikan sihir seperti di dalam mimpi. Sebuah kerajaan penuh peri dan makhluk-makhluk ajaib berumur panjang lainnya yang pernah Mikoto kenal sebelumnya. Dan kerajaan yang menyita ingatannya pada sebuah tragedi, dosa terbesar di masa lalunya hanya demi mengukuhkan posisinya sebagai seorang raja, demi menentramkan hati rakyatnya, dan demi mimpi-mimpi bodoh di masa kecilnya.

"Peri kuarsa, tidak bisa datang?"

"Mohon maaf, Yang Mulia," ujar Tatara, membungkuk penuh hormat dengan senyum hangat mengembang di wajah, "Peri kuarsa punya kesibukan yang tidak bisa ditinggalkannya. Ia hanya menitipkan salam selamat, semoga kerajaan Yang Mulia selalu diberikan kemakmuran dan kedamaian."

Kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan? Tidak perlu mengucapkan kalimat bersayap seperti itu pun Mikoto sudah tahu persis alasan sang peri mungil menolak hadir di pestanya. Mikoto menyeret langkahnya, kembali duduk di singgasananya sembari mempersilakan ketiga peri tersebut untuk mendekat ke keranda pangeran kecilnya.

"Silakan kalian bertiga untuk memulai pemberkatan kalian."

Yang pertama kali maju adalah Izumo sang peri flora. Melambaikan kedua lengan, suara Izumo menggema hingga ke sudut-sudut kastilnya, "Pangeran Misaki, kau akan diberkahi dengan keberanian untuk memimpin kerajaanmu kelak. Keberanian untuk memilih dan mengambil jalan yang terbaik. Juga kekuatan fisik dan kekuatan hati untuk memikul segala beban di pundakmu."

Gemuruh tepuk tangan. Mikoto tersenyum, mengintip ke balik keranda di mana sang pangeran kecil mengacungkan tinjunya dan tertawa menggemaskan ke arah Izumo. Mikoto kemudian mempersilakan peri kedua, Tatara sang peri fauna, untuk memberikan hadiah pada pangeran kesayangannya.

"Pangeran Misaki, kau akan kuberikan kelapangan hati dan kebebasan jiwa, hingga kau kelak akan dicintai oleh rakyatmu… ah, bahkan dicintai oleh setiap makhluk hidup di seluruh muka bumi ini, hingga harimu akan selalu bahagia dan kau tidak akan pernah bermuram durja di sepanjang hidupmu."

Sang pangeran kecil berguling dalam selimutnya, bergerak-gerak lincah, kedua tangan terjulur seolah ingin menggapai sang peri fauna. Senyum di wajah Mikoto semakin melebar. Lalu peri cuaca yang terakhir, Seri, bergerak maju dalam langkah anggunnya, tampak menjentikkan telunjuk yang kemudian ditangkap oleh jemari mungil sang pangeran.

"Ah, kau benar-benar menggemaskan, pangeran kecil. Baiklah, hadiah dariku… kuberikan kau kebijaksanaan dalam menentukan setiap keputusanmu. Kebijaksanaan yang akan menuntunmu untuk menjadi pemimpin yang terbaik, atau bahkan yang lebih baik dari para pendahulumu kelak."

Sorak-sorai membahana menutup pemberkatan dari ketiga peri petinggi kerajaan Moors. Mikoto ikut bertepuk tangan, kemudian berdiri dari singgasananya. "Baiklah. Terima kasih banyak untuk ketiga tamu jauhku. Sekarang, tiba saatnya untuk—"

Satu tiupan angin puting beliung, menguruh masuk menghempas dari jendela kaca yang sontak pecah berkeping-keping. Pintu aula yang menjeblak terbuka, menampakkan sosok hitam bertanduk dengan aura biru membakar di sekeliling. Tamu-tamu perjamuan berteriak panik, merapat ke dinding. Sementara prajurit berlapis baju zirah milik Raja Mikoto yang dengan sigap menghadang… hanya untuk dihempas, terpelanting ke sudut ruangan dalam satu sapuan tangan oleh sang penyihir berjubah hitam.

Mikoto menggeram. Segala bentuk senyum dan luapan rasa kebahagiaan menguap. Dan ketika ia menyadari sepasang ungu yang dirindunya itu menatapnya tajam, Mikoto tahu apa yang akan dihadapinya. Mikoto tahu apa yang akan menimpanya dan pangeran kecilnya.

"… Reishi…."

"Wah, wah, wah… satu jamuan pesta yang sangat meriah, Raja Mikoto. Aku ingin tahu, kenapa tidak ada selembar pun surat undangan sampai ke pegunungan tempat tinggalku."

Senyum di bibir sang penyihir semakin melebar, membentuk seringai mematikan. Dan kilat di balik ungu itu sama persis seperti yang Mikoto temui satu tahun lalu ketika sang penyihir menjatuhkan dirinya dari atas kudanya. Kilat tersakiti. Perih karena dikhianati. Mikoto yang teringat akan dosanya. Dan jika kini sang penyihir datang untuk membalaskan dendamnya, Mikoto sudah siap.

Asalkan Reishi tidak menyentuh pangeran kecilnya seujung kuku pun, Mikoto rela menukarkan apa saja. Termasuk nyawanya sekalipun.

"Reishi, apa tujuanmu datang ke sini…?"

"Hee? Menurutmu, untuk apa lagi selain memberikan hadiah kelahiran dan pemberkatan bagi pangeran tercintamu ini, Raja Mikoto?"

"Reishi, jika kau berani menyentuhnya sedikit pun—"

Detik berikutnya, Mikoto terkunci di atas singgasananya. Seekor serigala hitam setinggi dua meter menerjangnya, meletakkan kaki depan di atas leher hingga dadanya. Mikoto terbatuk, napasnya tercekat. Si serigala yang memamerkan gigi taring ke arahnya. Sementara sang penyihir bergerak ke arah keranda pangeran kecilnya.

"Jangan—Reishi…. Anak itu—satu-satunya yang kumiliki…."

Satu lempar tatapan bengis dari sang penyihir ke arah Mikoto. Namun untuk berganti menjadi seringai sadis yang seolah membekukan urat nadinya.

"Oh? Berarti kau salah memilih permaisuri, Mikoto. Aku sudah tahu, cerita tragedi penuh ironi. Permaisurimu mati ketika melahirkan putramu, bukan begitu? Kalian ras manusia, ras angkuh penuh harapan palsu dan mimpi-mimpi bodoh sementara tubuh kalian nyatanya tidak sekuat itu untuk menyokong apa yang kalian inginkan. Menyedihkan, sungguh. Dan aku benar-benar tulus menyampaikan rasa duka cita yang mendalam untukmu, Mikoto. Sekarang, boleh aku ikut memberikan hadiah untuk pangeran kecilmu yang tampan ini?"

Terdengar gaung teriakan menggema dari sang peri flora. "Reishi…! Jangan gila! Menurutmu apa yang akan kau lakukan?! Kau pikir dengan semua ini kau bisa—hmmpphh!"

Sebentuk sulur hitam merambat, mengikat ketiga peri petinggi dengan erat. Mikoto bahkan tidak mempercayai aksi nekat si penyihir tadi. Menyerang sesama peri… makhluk di hadapannya ini sudah bukan lagi peri pelindung Moors yang Mikoto kenal selama ini.

"Astaga, Izumo…. Aku baru sekarang turun gunung setelah satu tahun aku bertapa, mencari ketenangan di puncaknya, dan sekarang kau ingin mengganggu kesenanganku? Diamlah sebentar, aku juga tidak akan berlama-lama di sini."

Mikoto terdiam, mengamati. Namun tubuhnya mengejang ketika Reishi menyeret langkahnya, berdiri tepat di pinggir keranda pangeran kecilnya. Dan sepasang lengan pucat itu terjulur, menarik Misaki dalam dekapan sang penyihir kegelapan. Mikoto merasakan jalaran ribuan emosi di benaknya. Takut. Marah. Geram. Tubuhnya gemetar, meski ia tak kuasa untuk sekedar membebaskan diri dari cengkeram serigala yang menguncinya erat.

"Pangeran yang manis, Mikoto," bisik Reishi, tersenyum mencemooh. "Terlalu manis untuk menjadi seorang putra kerajaan." Penyihir itu kemudian menimang bayi dalam gendongannya, mengayunnya ke kanan-kiri, sementara sang pangeran kecil terdiam, bola mata hazel membulat maksimal, menatap wajah Reishi. Sang penyihir kemudian membebaskan sebelah tangannya, mengayunkannya tepat di atas tubuh si bayi mungil, dan bola aura biru dari tangan sang penyihir yang kemudian berubah bentuk, menjadi sebentuk belati, melayang beberapa sentimeter dari tubuh Misaki.

Dan detik berikutnya yang melanda Mikoto dalam kengerian adalah ketika belati itu jatuh pada tubuh pangeran kecilnya, namun melebur kembali menjadi gumpalan aura biru yang menyelimuti Misaki. Diikuti tiupan angin kencang dan gemuruh petir menyambar dari langit. Suara Reishi yang terdengar menggema hingga ke langit-langit kastil tuanya.

"Delapan belas tahun… dan Pangeran Misaki akan hidup bahagia, sesuai dengan pemberkatan dari ketiga peri petinggi kerajaanku. Sementara pada hari ulang tahunnya yang kesembilan belas, tepat ketika matahari terbenam, ia akan menemukan sebuah belati, menyusur gagang hingga mata pisaunya, dan kemudian racun kutukanku pada mata pisau itu akan membunuhnya. Dan tidak akan ada satupun kekuatan di muka bumi ini yang mampu mencabut kutukanku!"

"REISHI…!"

Disertai gemuruh di langit yang mereda, sesosok peri mungil muncul dari pintu aula. Surai putihnya yang tergerai lembut tertiup angin. Melihat sosok itu dan Mikoto sontak merasa tubuhnya diguyur kehangatan dan pengampunan atas dosa-dosanya.

"Anna…."

"Turunkan Pangeran Misaki dari gendonganmu, Reishi."

Jeda beberapa detik untuk sang penyihir dan peri kuarsa bertukar pandang, hingga akhirnya Reishi menurut dan mengembalikan Misaki—yang kini menggelinjang dan menangis keras—ke dalam kerandanya. Sang peri kuarsa yang melangkah cepat, jubah merah berenda putihnya melambai tertiup angin. Satu gerakan kepala, dan Reishi melangkah mundur, mencabut sulur-sulur yang menjerat tubuh ketiga peri petinggi, bahkan hingga menarik serigalanya dari tubuh Mikoto.

Peri kecil itu kemudian menghampirinya, membantunya berdiri. "Mikoto, kau tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja, Anna. Terima kasih. Yang paling penting, Misaki…."

"Aku tahu, Mikoto. Yang bisa kulakukan hanyalah mengurangi beban kutukan itu, tapi aku tidak bisa mencabutnya. Kau dengar sendiri sumpah Reishi… bahkan kupikir Reishi tidak akan sanggup mematahkan kutukannya sendiri."

Anna kemudian merentangkan tangannya, disertai butiran-butiran putih dan merah bercampur seperti kristal, jatuh menghujani keranda sang pangeran kecil. "Pangeran Misaki," ucap Anna lirih, meski nadanya terdengar penuh rasa sayang, "kau tidak akan mati. Kutukanmu tidak akan membunuhmu, namun hanya akan membuatmu tertidur. Dan yang akan membangunkanmu nanti adalah sebuah ciuman dari cinta sejatimu. Apa dan bagaimana, aku tahu kau akan menemukannya sebelum hari itu tiba."

"Anna, kau tahu hal seperti itu tidak ada di muka bumi—"

"—jangan bicara lagi, Reishi. Ayo kita pulang. Kau sudah banyak mengacau di sini. Dan Mikoto… aku akan datang lagi lain waktu, untuk membicarakan apa yang sebaiknya kau lakukan terhadap Pangeran Misaki."

Dalam satu sapuan awan gelap dan tiupan kristal putih, keempat peri dan sang penyihir kegelapan menghilang. Meninggalkan Mikoto dalam kekalutannya. Pestanya yang berantakan. Kebohongannya pada rakyat, bahwa Reishi sang penyihir terkuat dari Moors nyatanya masih hidup dan telah menancapkan kutukannya pada satu-satunya pewaris kerajaan. Juga mengguratkan rasa bersalahnya pada Misaki. Bahwa dendam yang terkasihnya, terlanjur menyeret sang pangeran kecil ke dalam pusara kegelapan masa lalunya.


...


"Membawa pergi Pangeran Misaki dari kastil?"

"Dan membesarkannya di hutan…?! Astaga, Anna… kau sudah sama tidak warasnya seperti Reishi?!"

Anna melempar pandang tajam pada Izumo dan Seri. "Kita tidak punya cara lain. Istana terlalu berbahaya, terlebih lagi manusia sangatlah bergantung pada benda tajam seperti belati dan sejenisnya."

"Bagaimana jika kita besarkan saja Pangeran Misaki di Moors? Selama kita di Moors, kita tidak pernah memakai benda tajam itu sekalipun, bukan?"

Ide nyeleneh dari Tatara. Seri nyaris menyerukan protes merepet khasnya sementara Izumo nyaris membantingkan kepala Tatara ke atas meja makan kayu jati milik sang raja. Meski begitu, Anna dan sang raja tampak menyetujuinya.

"Kupikir itu pilihan paling bijaksana jika kita menginginkan cara terbaik untuk menjauhkan Pangeran Misaki dari kutukan tentang belati," tanggap Anna, yang kemudian berpaling pada sang raja. "Mikoto? Kau setuju?"

"… asalkan kalian yakin tidak membiarkan Reishi menyentuh Misaki, sehelai rambut pun, maka aku akan rela menyerahkan Misaki ke tangan kalian, sampai satu hari setelah hari ulang tahunnya yang kesembilan belas."

"Kami tidak bisa menjanjikan hal itu, Mikoto," sanggah Anna. "Kau pun tetap harus membayar apa yang sudah kau lakukan pada kami… pada Moors… pada Reishi. Semenjak hari itu satu tahun yang lalu, Reishi benar-benar…."

"Aku tahu, Anna. Aku tahu. Karena itu, tolong…?"

"Baiklah. Kesepakatan kita tercapai kalau begitu, Yang Mulia Raja Mikoto."


...


Reishi sudah tidak mengerti lagi jalan pikir para peri petinggi di kerajaannya. Membawa masuk sang pangeran dari kerajaan manusia ke Moors dan membesarkan seorang anak manusia di tanah kerajaannya? Apa-apaan?! Reishi tidak terima. Terakhir kali ia meminta izin para ketiga peri petinggi untuk membawa masuk seorang anak manusia bernama Mikoto, namun dirinya kemudian harus mendengar ceramah selama satu bulan penuh dari Izumo dan Seri tentang bahaya yang mampu ditimbulkan entitas bernama manusia. Dan kini, ironisnya, para peri itu malah merajuk meminta izinnya untuk membiarkan anak manusia—terlebih lagi yang sudah dikutuknya—untuk tinggal dalam radius ratusan meter jauhnya dari dirinya?

.

"Aku melakukan ini untuk membantumu menyembuhkan luka hatimu, Reishi. Kau harus melakukannya. Aku tahu, kau bisa menerima kehadiran Misaki di sisimu."

.

Kata-kata Anna yang terus terngiang, menggema menggelikan di gendang telinganya.

Belum lagi… apa ini? Gelak tawa yang menggema bahkan hingga ke puncak gunung batu tertingginya? Atau jangan bilang semua ini hanya akal-akalan Seri yang sebenarnya menggunakan sihir angin untuk mendramatisir suasana di bawah sana, di istana kuarsa?

"Kalau kau tidak tahan, turun saja. Kau harus tahu seberapa lucu dan menggemaskannya sang pangeran manusia ini, Tuan."

Reishi mencibir, sementara Saruhiko menyeringai culas. Besar keinginan Reishi untuk mengubah Saruhiko menjadi cacing tanah saat itu juga. (Dan Saruhiko pun sudah terbiasa dengan segala bentuk ancaman tuannya tersayang ini. "Apa? Kau mengancam? Ayo, ubah aku sesukamu, jadi ulat bulu pun aku terima, dan kupastikan kau menyesal setelah bulu-buluku menancap di kulit pucatmu itu dan membuatmu berguling kegatalan semalam suntuk. Kau memang gila, Tuanku sang penyihir sialan.")

Namun akhirnya Reishi menyerah pada uluran rasa manis di benaknya. Baluran kehangatan semu yang sebenarnya begitu dirindunya. Perasaan yang telah lama terlupa. Rasa yang kerap kali membuat matanya tidak mampu berpaling dari surai chesnut dan manik hazel besar yang tengah tertawa riang. Emosi yang nyaris membuat sudut bibirnya tertarik naik (tidak jarang membuat Saruhiko menahan tawa mencemooh dan detik berikutnya pemuda itu akan berubah menjadi serangga apapun dengan strata paling rendah di kelasnya).

Reishi tidak menyadarinya. Reishi hanya mampu melihat dari kejauhan. Dan Reishi terjerat nostalgia masa lalunya. Reishi terbelenggu, dari segala rasa yang telah begitu lama ia dustakan, kini menggeliat memanjakannya.

Rasa cinta dan kasih sayang.


...


Sang pangeran kecil berumur satu setengah tahun, berjalan menyusuri hutan tidak jauh dari tepi danau. Tidak ada Paman Izumo, Paman Tatara, maupun Bibi Seri yang mengawasi—karena ketiganya sedang pergi ke istana Raja Mikoto untuk melaporkan perkembangan sang pangeran kecil selama berada di negeri Moors. Saruhiko ogah-ogahan menuruti perintah tuannya, membantu Anna untuk menanam ulang bunga semanggi-empat-kelopak di pekarangan istana kuarsa yang baru saja dihancurkan—katanya tidak sengaja—oleh para kurcaci tanah.

Dan sang pangeran kecil yang ditinggalkan, hanya berdua saja, bersama Reishi sang penyihir.

"… apa dosaku sampai harus aku yang mengasuh gumpalan daging ini…."

Meski mulutnya tidak berhenti memberengut, nyatanya Reishi tidak sanggup mengalihkan pandang dari wajah polos Misaki, tertawa riang dikelilingi kupu-kupu kuning dan hijau, sementara satu kupu-kupu berwarna biru hinggap di antara chesnut sang pangeran mungil.

Cantik sekali, pikir Reishi. Tidak sadar, bibirnya kemudian mengulas sebuah senyum. Sama manisnya. Sama indahnya. Caranya tersenyum yang mungkin sudah begitu lama Reishi lupakan.

Misaki kemudian berjalan tertatih—sesekali terjatuh hanya untuk tertawa dan bangkit lagi, berjalan lagi, betapa Reishi terkesima oleh kegigihan anak manusia yang tidak pernah menangis sekalipun ini—mendekati anak sungai. Reishi sontak berdiri.

"Misaki, kau tidak boleh ke sana—"

Terlambat. Sang pangeran kecil menceburkan dirinya ke dalam sungai, bermaksud menangkap kodok tua yang berbalik melompat cepat menghindari terkaman Misaki. Beruntung, karena dasar kerikil bebatuan sungai yang dalam jentikan jari telah Reishi ubah menjadi lumpur halus, hingga Misaki hanya berakhir berbalur lumpur tanpa perlu tangan atau kakinya tergores kerikil dari dasar sungai dangkal tersebut.

Namun ketika Misaki masih berjongkok dan tidak bergerak dari posisinya, Reishi tidak tahan untuk tidak bergerak mendekati sang pangeran kecil tersebut.

"Misaki…? Kau tidak apa-apa…?"

Dan ketika Misaki berbalik, dengan tepi wajah penuh cipratan lumpur, manik hazel itu melebar, membulat begitu besar. Sementara kedua pasang kaki mungil itu lantas berdiri, berlari, berkecipak dengan air sungai, lalu menerjang memeluk kaki Reishi.

"He—hei… Misaki—"

"A—bu… baaa….!"

Reishi mendesah. Ada rona merah mengambang di tulang pipinya.

"Sama-sama, Misaki. Lain kali, jangan asal melompat ke sungai seperti itu. Kau tidak tahu apa yang ada di dalamnya, atau seberapa dalam sungai tersebut."

"Hauuu… haa—eeiii…!"

Tangan kecil Misaki yang terentang, terangkat, menarik-narik jubahnya. Reishi tidak mengerti, sampai akhirnya sang pangeran kecil nekat memanjati jubah hitamnya. Mendecak keras, Reishi menyerah, akhirnya mengangkat Misaki dan menggendongnya.

"Kau tahu, Pangeran Kecil? Kau ini sangat menyebalkan dan merepotkan."

Misaki tertawa. Dan sepasang tangan itu yang kembali menggapai-gapai. Kali ini, membelai lembut salah satu tanduk melengkung milik Reishi.

"Iya, aku tahu. Kau tidak punya tanduk, eh? Kau… suka tanduk milikku?"

Sang pangeran kecil tersenyum lebar sembari meracaukan kata-kata yang tidak Reishi mengerti apa artinya.

"Umurmu sudah satu setengah tahun, dan kau belum bisa berbicara benar, eh? Coba kulihat… bisakah kau menyebut kata… Reishi?"

Suara tawa Misaki terhenti. Mata besar sang pangeran kecil hanya menatap ke dalam manik ungu miliknya. Reishi lalu mendengus. Tiba-tiba merasa bodoh. Merasa ingin menampar dirinya sendiri.

"Kau belum bisa bicara, tentu saja—"

"—Lei… shiiii…?"

Manik ungu Reishi yang kemudian terbelalak. Seketika guyuran rasa hangat membasuh sekujur tubuhnya. Matanya yang terasa panas. Reishi tidak tahu mengapa. Sementara Misaki kembali tertawa, lengan mungil melingkar di lehernya, dan berkali-kali mengulang dua patah kata itu. Suara manis yang menggema di daun telinga Reishi.

Sementara selama satu minggu setelahnya, Reishi sama sekali tidak turun dari gunung batunya. Menghabiskan satu minggunya untuk merutuk karena dicoleki Anna dan ditertawakan Izumo serta Tatara. Sedangkan Saruhiko berusaha mati-matian mengajarkan Misaki untuk menyebutkan namanya dengan benar.

Hingga setelah usaha berbulan-bulan, sang pangeran kecil mampu melafalkan nama dimulai dari Saruhiko, dilanjut Anna, Bibi Seri, Paman Tatara, dan yang terakhir Paman Izumo. Walau sayangnya, Misaki melupakan nama Reishi, bahkan tidak ingat bahwa kata 'Reishi', nyatanya, adalah kata pertama yang bisa diucap sang pangeran kecil dengan lugas.


...


"Ada apa, Misaki?"

Misaki enam tahun menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Saruhiko. Meski arah pandangan sang pangeran kecil belum bergerak sedikit pun dari sebuah bayangan gelap yang tersembunyi di balik pepohonan.

"Misaki? Apa yang kau lihat?"

"Bayangan hitam."

"Oh? Di mana?"

Telunjuk mungil Misaki menunjuk ke satu arah. Saruhiko hanya tersenyum tipis dan menepuk-nepuk kepala Misaki.

"Misaki, kau takut bayangan hitam itu?"

"Tidak."

"Hmm, baguslah. Ayo kita main lagi!"

Kali ini Saruhiko membawanya ke sebuah padang bunga dandelion berbukit tidak jauh dari tepi air terjun, tepat di seberang pegunungan batu tempat tinggal Reishi. Saruhiko tidak peduli dengan jalan terjal berbatu yang harus dilaluinya setiap kali membawa Misaki pergi bermain dari istana kuarsa. Memangnya tidak bosan, sehari-hari hanya bermain dengan peri bunga dan peri air? Atau dengan kurcaci tanah dan ikan-ikan bertanduk dan bersirip warna-warni sebagai penghuni danau?

"Saruhiko? Apa yang harus kita lakukan di sini?"

"Naik ke punggungku, Misaki. Akan kutunjukkan caranya."

Misaki menurut. Bocah kecil itu memanjat menaiki punggung Saruhiko. Sepasang tangan kecil kemudian melingkar erat di lehernya. Saruhiko nyaris tercekik, meski ia hanya tertawa sembari menduduki sebatang kayu pipih.

"Pegangan erat, dan jangan lupa berteriak kencang!"

Detik berikutnya, Saruhiko meluncur dari puncak bukit, berselancar dengan papan kayu di pantatnya, naik turun menuruni padang dandelion. Tawanya yang menggaung, bersatu dengan tawa polos dan teriakan Misaki. Dan serpihan kelopak dandelion di sekeliling mereka yang terhempas, terbang ke langit seiring laju Saruhiko menuruni bukit itu.

"Lagi! Lagi!"

Berkali-kali. Berulang kali. Berselancar menuruni bukit dan memanjat naik. Hingga Saruhiko kehabisan napas, telentang kelelahan, sementara Misaki berguling-guling di atas rerumputan dandelion yang masih tersisa.

"Misaki… jangan berguling terlalu jauh, di sana ada jurang—"

Saruhiko terlambat. Bocah manusia berumur enam tahun itu tanpa mempedulikan sekelilingnya, terus berguling mengejar kelopak dandelion yang tertiup angin, hingga ke tepi tebing—

"MISAKIIIII…!"

—dan sulur-sulur akar rambat tanaman menangkap sang pangeran kecil. Seolah memeluk tubuh mungil itu erat, membawanya kembali ke padang dandelion, ke sisi Saruhiko yang dadanya naik-turun, panik bukan main.

"Mi—sa—kiiiii~! Sudah kubilang, jangan berguling ke sana atau kau akan jatuh…! Astaga… kenapa kau senang sekali membuatku jantungan, eh?!"

Mata hazel itu membulat, lalu Misaki tertawa lagi, sembari memeluk Saruhiko.

Saruhiko dapat merasakan wajahnya terbakar hingga telinga.

"O—oi, Misaki—"

"—Saruhiko jangan khawatir. Aku punya peri penjaga. Ia akan selalu menjagaku. Aku tahu itu."

"Peri penjaga? Di mana…? Maksudmu…."

"Itu. Di sana. Bayangan hitam itu."

Saruhiko kemudian mengikuti arah telunjuk kecil Misaki menuju. Sebuah pohon beringin tunggal di antara padang dandelion. Dan Saruhiko bersumpah melihat bayangan gelap dan sepasang tanduk melengkung yang sangat ia kenali, menyeret jubah dan berusaha serapat mungkin menyembunyikan diri dari sudut pandangannya dan Misaki.


...


"Paman Izumo… kenapa kalian semua tidak pernah bertambah tua?"

Satu celetukan polos Misaki di umur kedua belas tahunnya. Izumo nyaris tersedak roti gandumnya sementara Seri nyaris menyemburkan jus anggur emas dari mulutnya. Sementara Tatara tertawa kering dan Anna mengelap sudut bibirnya dari sisa makanan dengan anggun.

"Eh…? Aku… salah bertanya, ya?"

"Tidak juga, Misaki. Atau mungkin, dari awal seharusnya kami menjelaskannya padamu," jawab Tatara, dengan satu tangan hinggap di pundak Misaki. "Katakan padaku, Misaki, hal apa lagi yang membuatku bertanya-tanya tentang tempat ini? Apa lagi keganjilan yang kau temui, atau hal-hal lain yang kami miliki tapi tidak kau miliki?"

"Hmm, yah… yang pertama, kalian semua seperti yang tidak pernah bertambah tua, sementara tinggiku saja bertambah setiap bulannya. Lalu, kalian punya sayap sementara aku tidak. Sebetulnya aku tidak merasa terganggu dengan kenyataan bahwa hanya aku dan Saruhiko yang memiliki ciri fisik yang berbeda dengan kalian. Tapi yah, aku hanya ingin tahu, itu saja…."

"Itu semua, karena kau adalah manusia, Misaki."

"Manusia? Ras apa itu? Sama seperti kalian, para peri?"

"Tidak, tidak," jawab Tatara lagi, mengibaskan tangan di depan wajah, dengan sabar menjawab pertanyaan Misaki. "Kami peri, bisa hidup ratusan tahun lamanya. Karena itu pertumbuhan kami begitu lambat. Kami menghabiskan lebih dari sembilan puluh tahun dalam bentuk remaja kami, lalu kami akan tumbuh drastis hanya dalam satu-dua tahun, hingga selepas seratus tahun kami akan stagnan berada dalam bentuk dewasa kami, dan butuh ratusan tahun lagi untuk kami menua dan mati. Sementara Misaki adalah manusia, paling lama Misaki hanya punya waktu seratus tahun untuk hidup. Jadi tidak heran kalau Misaki akan tumbuh lebih cepat dibanding kami para peri."

"Hmm, begitu? Lalu, apakah Saruhiko juga sama denganku?"

"Kalau Saruhiko, kau harus tanyakan sendiri pada tuannya," balas Izumo, yang langsung ditatap sengit oleh Seri dari ujung meja makan. Misaki yang terlanjur mengaitkan kedua alisnya, mau tidak mau memaksa Izumo melanjutkan, "Saruhiko itu asalnya seekor monyet, ditolong oleh sang penyihir terkuat di kerajaan ini, dan dengan kekuatan sang penyihir itulah Saruhiko bisa berubah bentuk menjadi apapun, sesuai keinginan sang penyihir."

"Ada penyihir di kerajaan ini?" tanya Misaki, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.

Kali ini giliran Seri yang menjawab. "Ada. Ia tinggal di pegunungan batu di puncak air terjun. Kau belum pernah ke sana? Belum pernah bertemu dengannya?"

"Belum. Saruhiko pernah memberitahuku, ia tinggal bersama satu-satunya penyihir di negeri Moors. Tapi Saruhiko tidak pernah sekalipun membiarkanku mendekati tempat itu. Padahal aku sangat ingin berkenalan dengan sang penyihir."

Satu senyum hangat, diberikan sang peri kuarsa pada Misaki. "Jangan khawatir. Suatu saat, Misaki akan bertemu dengannya. Misaki tahu? Sebetulnya penyihir itu selalu mengawasi Misaki. Ia selalu berada dekat Misaki, lebih dekat daripada yang Misaki ketahui."


...


"Saru… kau ini, manusia?"

Saruhiko berguling pada punggungnya, balik menatap Misaki yang telentang menatap langit malam berbintang di atas kepala mereka. Saruhiko menghela napas sebelum memberikan jawaban pada bocah itu.

"Tergantung tuanku si penyihir Moors, Misaki. Jika ia menghendakiku sebagai manusia, maka aku akan menjadi manusia. Jika ia membutuhkan sayapku sebagai seekor gagak, maka aku akan berubah menjadi gagak untuk terbang sesuai perintahnya. Jika ia…," sejenak Saruhiko menelan ludah, "membutuhkan cakar dan taringku untuk menawan mangsanya, maka ia… ia akan mengubahku menjadi serigala dan melakukan segala hal seperti apa yang diinginkannya."

"Kau… sayang pada tuanmu, Saru?"

Pada pertanyaan kali ini, Saruhiko rasanya ingin tergelak hebat.

"Ahhahahaa…! Aku tidak punya selera untuk menyayangi atau memberikan afeksi berlebihan pada penyihir sinting macam dirinya, Misaki. Meski begitu… ya, aku menghormatinya. Ia adalah tuan paling menyebalkan, punya pikiran paling sinting, namun pribadinya sangat penuh penyangkalan. Dan yang paling penting… ia adalah suatu entitas paling kesepian dari seluruh makhluk hidup yang pernah kutemui di muka bumi ini."

"Kesepian? Kenapa?"

"Aku belum bekerja untuknya ketika hal itu terjadi, tapi…," Saruhiko kemudian ikut tengadah, mengamati satu bintang jatuh yang meluncur di langit, "setahuku ia dikhianati oleh orang yang paling dicintainya. Ia kehilangan hal miliknya yang berharga, direnggut paksa oleh orang itu. Namun ketika ia menolongku belasan tahun lalu, yang kurasakan darinya hanyalah duka dan perih dari lukanya yang tidak kunjung menutup. Seberapapun ia mencoba memperlihatkan amarahnya, ia kini tidak lagi membenci dan mendengki, sebetulnya. Mungkin kalau kau tanya kenapa aku loyal padanya, seperti itulah jawabanku."

"Heee… kau benar-benar pelayannya yang baik, Saru…."

Saruhiko merasakan pipinya terbakar lagi. Ah, betapa sering sekali Misaki membuat wajahnya terasa panas seperti ini. Saruhiko lalu berbalik, memunggungi Misaki. "Tch. Terserah kau."

"Saru….?"

Saruhiko hanya menggumam pelan, membalas panggilan Misaki.

"Kapan kau akan mati?"

Satu decak lidah. Mendadak Saruhiko gatal ingin menyumpal mulut si bocah dengan segentong beri hijau. "Misaki… kenapa pertanyaanmu menyebalkan seperti itu?"

"Karena aku tidak bisa berumur panjang seperti Paman Izumo, Paman Tatara, Bibi Seri, atau Anna sekalipun. Mereka bilang aku manusia, dan manusia paling lama hanya hidup seratus tahun, berbeda dengan para peri yang bisa hidup beratus-ratus tahun lamanya."

Saruhiko menggumam lagi. Oh, jadi karena hal inilah Misaki bertanya sesuatu yang bodoh tentang kematian?

"Kau sendiri, sudah hidup berapa tahun?"

"Aku? Tch. Sepuluh tahun sebagai seekor monyet. Sisanya aku tidak tahu akan berapa lama lagi."

"Kau sudah tua rupanya, Saru."

"Tch. Kau sendiri, bocah ingusan."

Jeda beberapa saat. Saruhiko memasang telinganya. Meski matanya melihat ke arah lain, namun sisa inderanya berusaha membayangkan apa yang sedang Misaki lakukan. Dan yang kemudian mengejutkannya adalah suara gemerisik tubuh Misaki di punggungnya, derak napas yang mendekat, menghembus di punggungnya, diikuti tangan bocah itu yang mendarat di pinggangnya.

Saruhiko diam. Tidak bergerak. Berusaha melemaskan tubuhnya yang terasa kaku selama beberapa detik.

"… hey, Saru…."

Saruhiko tercekat oleh embusan napas Misaki yang terasa begitu lembut menggelitik di punggungnya. "… ya?"

"Kalau aku mati terlebih dahulu, kau mau memaafkan aku, 'kan? Karena aku manusia, dan aku pasti akan meninggalkanmu terlebih dahulu."

Ingatan Saruhiko lantas terlempar pada malam dua belas tahun lalu. Pada sebuah tawa bengis dari tuannya. Pada pendaran aura biru berbentuk belati yang dikirimkan tuannya pada sang pangeran kecil. Pada tubuh kekar yang merangsek di bawah tangannya, setengah memohon minta dibebaskan. Sudah dua belas tahun berlalu semenjak hari itu, sementara Misaki tidak pernah tahu apa-apa tentang hitam yang menunggunya. Tentang tali nasib yang menjeratnya. Dipermainkan oleh dendam masa lalu dari kedua entitas yang tidak ada hubungannya dengan sang pangeran muda.

Saruhiko meringis. Ada perih menyambar benaknya. Ia kemudian membalikkan tubuh, tanpa sempat membiarkan Misaki bereaksi sedikitpun, Saruhiko balas mendekap bocah itu. Tubuhnya gemetaran tanpa Saruhiko sanggup menahannya.

"Saru…?"

Tidak. Saruhiko tidak ingin semuanya berlalu begitu cepat. Karena waktunya tinggal tujuh tahun lagi. Kurang dari tujuh tahun, dan Misaki akan hilang dari pandangannya. Misaki akan pergi. Misaki akan terenggut dari sisinya.

"Misaki…."

Misaki. Misaki. Misaki. Misaki.

Misaki….


...


Misaki tujuh belas tahun, dan untuk pertama kalinya, akhirnya, Misaki berhasil mengejar bayangan hitam yang selalu mengikutinya itu.

Kesan pertama Misaki dengan sang penyihir terkuat di Moors tidaklah bisa diungkapkan dengan kata-kata, seklise apapun. Rasanya begitu menyesakkan, namun penuh kehangatan. Misaki seolah dibalut luapan nostalgia yang tidak ia ingat dan tidak ia mengerti artinya. Yang Misaki tahu hanyalah dirinya yang hanyut oleh sepasang ungu berkilat yang menatapnya teduh namun penuh waspada. Sepasang tanduk melengkung, mencuat di antara surai biru tua sang penyihir. Lalu jubah hitam panjang dengan kerah setinggi leher jenjang sang penyihir, dan tongkat yang kerap memuntahkan asap berwarna biru menyala.

Misaki nyaris tidak bisa mengontrol pekik girangnya.

"Akhirnya aku menemukanmu…!"

"… kau tahu siapa aku?"

Misaki mengangguk riang. "Kau penyihir paling kuat di Moors. Tapi aku… aku tahu aku mengenalmu lebih dari itu. Kau yang selama ini selalu menjagaku. Bayanganmu selalu mengikutiku ke mana pun aku melangkah, menjagaku dari bahaya. Aku tahu bahwa kau yang menyelamatkanku di tepi tebing padang dandelion ketika aku bermain bersama Saruhiko belasan tahun lalu. Lalu ketika aku masih kecil sekali… rasanya aku ingat aku pernah bermain di sungai dan selalu, dasar sungai berubah menjadi lumpur lunak. Kau selalu melindungiku, tidak pernah membiarkanku terluka sedikit pun. Terima kasih… terima kasih banyak…!"

Sang penyihir hanya mengangguk pelan. Manik ungu itu masih begitu waspada menatap ke arah Misaki. Namun Misaki sama sekali tidak takut. Alih-alih, begitu besar keinginan Misaki untuk mendekat. Untuk meraih. Untuk menggapai. Seolah jemarinya rindu untuk menggapai jubah hitam berkilau dan sepasang tanduk kokoh mencuat itu.

"Sekarang, boleh aku tahu namamu?"

Penyihir itu menatap Misaki lekat-lekat. Ada genangan yang tiba-tiba berenang di mata ungu itu, yang hilang tenggelam bersamaan dengan satu kedipan mata. Sudut bibir sang penyihir tertarik. Canggung.

"Namaku… Reishi."

"Rei… shi…? Rasanya aku pernah dengar—"

"Kau tidak lagi ingat kata pertama yang berhasil kau ucapkan ketika kau masih bayi, hei anak manusia?"

"… oh…? Oh… OOOOHH…!"

Sekelumit ingatan yang muncul, menyeruak di dalam kepala Misaki. Tentang sosok sang penyihir yang dulu begitu tinggi besar baginya. Tentang tangan kecilnya yang penasaran, menggapai menarik-narik jubah hitam tersebut, hingga jemarinya yang menyentuh tanduk melengkung bersisik lembut itu. Tentang lidahnya yang berulang kali menyebutkan dua suku kata itu, tertawa riang sembari menggelayutkan tubuh mungil pada leher jenjang sang penyihir.

"Reishi…! Aku ingat, namamu Reishi…! Kalau begitu, mulai sekarang, jangan pernah lagi kau berjalan di belakangku, dan berjalanlah dengan tegap di sampingku, Reishi…!"

"Heh. Anak manusia. Kau yakin bisa memerintahku?" Nada mencemooh, namun Misaki tidak merasa terancam sedikitpun.

"Bisa saja. Karena aku sudah besar dan bisa melindungi diriku sendiri. Jadi kau juga harus keluar dan berjalan di sampingku layaknya seorang teman bagiku, Reishi!"


...


"Reishi, kenapa di negeri ini hanya ada satu penyihir?"

Berjalan menyusuri hutan, sang penyihir melempar pandang pada Misaki sekilas lalu balik bertanya, "… kau tidak pernah mempertanyakan kenapa kau adalah satu-satunya manusia di negeri ini."

"Karena kau bisa mengubah Saruhiko menjadi manusia sepertiku, tapi kau tidak bisa menjadikannya penyihir sepertimu. Jadi, penyihir itu ras apa, Reishi?"

Penyihir itu mengambil jeda singkat. "… awalnya aku ini peri, Misaki. Ketika peri kehilangan sayapnya dan jatuh ke bumi, maka peri itu akan menjadi penyihir."

"Kau… peri? Wow…! Hebat sekali!" Misaki berseru girang, suaranya menggema menembus pepohonan rindang di atas kepalanya. Sementara sang penyihir hanya tersenyum tipis dan melanjutkan langkahnya. Misaki meneruskan, "Aku tidak menyangka—tunggu dulu, kalau kau peri, berarti dulunya kau punya sayap, 'kan? Ceritakan padaku, seperti apa sayapmu? Apakah seberisik sayap Paman Izumo? Atau secantik sayap milik Anna dan Bibi Seri?"

"… sayapku besar, Misaki. Seperti sayap burung elang. Sayap yang kuat, yang kokoh, yang siap membawaku terbang ke mana pun aku mau. Sayap yang begitu besar dan kerap kali terseret di belakang punggungku setiap kali aku melangkah."

"Hmm…. Lalu, kenapa kau kehilangan sayapmu?"

Sang penyihir menghentikan langkahnya tiba-tiba—nyaris membuat Misaki menabrak punggung tinggi itu. Manik ungu Reishi yang kemudian menatap jauh ke depan, menggenangkan sebuah raut wajah yang tidak dimengerti Misaki. Misaki hanya bisa memandang sorot itu lekat-lekat.

"Ada—ada seseorang, mengambilnya dariku…."

Oh. Misaki tahu, sepertinya ia baru saja melontarkan topik pertanyaan yang salah. Sementara nuraninya yang kemudian bertempur dengan rasa ingin tahunya. Seakan membaca isi pikirannya yang berkecamuk, sang penyihir tersenyum ke arahnya.

"Kau boleh bertanya hal apapun yang ada di kepalamu, Misaki. Dan aku akan memberitahumu apakah aku mau menjawab pertanyaan itu atau tidak."

Kikuk, Misaki menggaruk belakang kepalanya—seperti yang seringkali Paman Izumo lakukan ketika tertangkap mata sedang mencuri anggur emas yang baru saja dipetik Bibi Seri. Misaki mendeham, dan memutuskan bertanya lagi, "Apakah rasanya sakit…?"

Pertanyaan bodoh macam apa itu? Bukannya sudah jelas?

"… ya. Teramat sangat…."

Jawaban pendek dari sang penyihir yang seolah menguapkan segala rasa ingin tahu di benak Misaki. Menyisakan Misaki dengan sebentuk rasa iba. Ya, pasti sangat menyakitkan bagi Reishi. Dan Misaki tidak ingin bertanya lebih jauh tentang siapa yang melakukan hal ini pada penyihir paling kuat seantero Moors. Misaki teringat kata-kata Saruhiko dahulu, bahwa Reishi sudah tidak lagi mendendam dan membenci. Hanya berduka dan bersedih dalam diam. Misaki tidak ingin menggali kuburan dendam itu.

Satu gerakan refleks. Tidak pernah direncanakannya. Misaki merentangkan tangan, memeluk tubuh tinggi ramping itu. Sementara sang penyihir terkejut, meski tidak pula berusaha melepaskan diri. Dan Misaki membenamkan wajah pada punggung Reishi, hingga Misaki merasakan denyut bergerak di punggung itu, menggesek kasar, tersembunyi di balik jubah hitam sang penyihir.

"Kuharap kau bisa mendapatkan sayapmu kembali, Reishi. Pasti senang rasanya bila kau bisa terbang tinggi lagi di langit. Ah, aku bahkan bisa membayangkanmu, terbang gagah dengan sepasang sayap besar di punggungmu. Kau akan menjadi peri terhebat, Reishi. Dan kau akan selalu menjadi peri yang terhebat di negeri ini."

"Misaki…."

"Aku ingin sekali melihatmu terbang tinggi, Reishi."

"… terima kasih, Misaki. Terima kasih…."

Untuk pertama kalinya, Misaki melihat sinar matahari, mengintip malu-malu, lalu masuk menerobos dedaunan rimbun hutan yang selama ini berdiri gagah dalam gelap, mengelilingi Moors.


...


Reishi mulai merasakan gelisah dalam tidurnya. Sang pangeran muda telah beranjak dewasa, delapan belas tahun usianya untuk tidak lagi Reishi tak acuhkan. Berkali-kali Reishi menyelinap ke kamar anak manusia itu, hanya untuk berusaha sekuat mungkin, semaksimal mungkin, untuk mencabut kutukannya delapan belas tahun yang lalu dari tubuh sang pangeran muda.

Walau kenyataannya pahit. Reishi tidak sanggup melakukan apapun. Dan Reishi menyesal dengan apa yang diperbuatnya. Dengan kebutaan mata dan logikanya, ego hingga hati kecilnya.

.

"Aku melakukan ini untuk membantumu menyembuhkan luka hatimu, Reishi. Kau harus melakukannya. Aku tahu, kau bisa menerima kehadiran Misaki di sisimu."

.

Reishi menakupkan kedua telapak tangan di atas wajahnya. Apa yang Anna katakan delapan belas tahun yang lalu telah menjadi kenyataan. Dendamnya pada Mikoto yang berangsur-angsur menguap, menghilang tergantikan oleh tawa dan celoteh polos Misaki. Apapun yang diperbuat Mikoto padanya di masa lalu tetap tidak membuat Reishi sanggup untuk membenci sang pangeran muda. Mikoto dan Misaki adalah dua manusia yang berbeda. Lalu untuk apa dulu Reishi memutuskan untuk menorehkan mata dendamnya pada Misaki?

"Tuan, waktu kita tinggal dua minggu lagi."

"Aku tahu, Saruhiko! Aku tahu… aku tahu…."

"Apa yang bisa kulakukan untukmu kalau begitu, Tuan?"

"Sebuah jawaban, Saruhiko. Kau mencintai Misaki?"

Si pelayan setianya itu hanya membuang wajah, dengan rona merah terlihat membakar hingga ke pangkal leher. Reishi mendengus. Sudah tahu jawabannya.

"Aku tidak percaya hal picisan seperti itu, Tuan."

"Tapi kau selalu ada di sampingnya, Saruhiko. Kau akan selalu menjaganya, sejak dulu, saat ini… hingga nanti. Bukankah itu yang dinamakan cinta sejati?"

"… jangan bercanda, Tuan. Dan kau sendiri, apa yang Tuan rencanakan…?"

Reishi tidak menjawab. Alih-alih memberikan sebuah lengkung senyum di bibir, yang Reishi tahu sudah lama tidak pernah ia berikan pada siapapun. Senyum tulusnya. Senyum hangatnya. Senyum sarat kelegaannya.

"Tolong jaga pangeran kecil itu, Saruhiko. Berjanjilah padaku, selamanya, agar aku bisa terbebas dari rasa bersalahku ini."


...


Misaki tahu dunianya berputar, berubah di sekelilingnya. Suasana menegang menjelang hari ulang tahunnya yang kesembilan belas. Raut wajah ketar-ketir Izumo dan temperamen Seri yang naik-turun, diikuti senyum sedih Tatara dan yang paling menyesakkan adalah raut wajah sendu Anna setiap kali mereka semua memandang ke arah Misaki. Namun tidak ada yang lebih mengherankan ketimbang tingkah laku Saruhiko, yang tidak berhenti mengekor ke manapun Misaki pergi, seperti anak anjing yang menjaga tuannya, atau persis seperti sepasang biota laut yang pernah Misaki lihat di musim kopulasi, tidak ingin saling meninggalkan satu sama lain.

Lama-kelamaan Misaki jengah. Misaki tidak lagi bisa bersabar dengan keadaan serba murung di sekitarnya. "Sudahlah…! Aku 'kan masih punya jatah hidup delapan puluh tahun lagi…! Kalian jangan menatapku seperti itu, seolah aku akan mati dalam hitungan beberapa hari lagi."

Namun efek dari kata-katanya itu sangatlah mengejutkan. Izumo yang lantas meninju dinding kuarsa terdekat, hanya untuk ditenangkan Seri yang berlinang air mata. Tatara yang ikut menenangkan amarah Izumo, sementara Anna tiba-tiba saja memeluk Misaki erat sembari menangis terisak di dada Misaki. Saruhiko hanya menatapnya kosong, tanpa ekspresi. Dan ketika Misaki memutuskan pergi meninggalkan istana kuarsa untuk mencari suasana baru, Reishi nyatanya sudah menunggunya di pekarangan istana.

"Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu, Misaki."

"Oh? Ada apa ini? Jangan bilang tentang hal depresi dan menyedihkan lainnya bahwa aku mungkin akan mati dalam waktu dekat—"

"—tapi memang begitulah kenyataannya, Misaki. Ada takdir yang menunggumu. Ada… kutukan yang mengikatmu. Sesuatu yang bahkan tidak bisa dicegah oleh penyihir sepertiku, yang kau bilang penyihir terhebat sekalipun."

Ditemani semilir angin dingin, Misaki kemudian mendengar sebuah kisah. Kisah tentang seorang pangeran kecil dari kerajaan manusia, dibawa pergi dari dunia asalnya hanya demi menghindarkan sang pangeran dari kutukan yang mengejarnya. Dan kutukan ini diberikan dari seorang peri yang jatuh ke bumi. Seorang peri yang jatuh cinta, yang kemudian terluka, yang kehilangan sayapnya, akibat dikhianati dan dipermainkan perasaan manis memerih oleh seorang manusia yang teramat dicintainya. Manusia yang merupakan ayah dari sang pangeran kecil tersebut.

Jantung Misaki berdetak kencang. Sepasang hazel-nya yang melebar, sarat ketidakpercayaan.

"Kau bohong… Reishi. Kau bohong… cerita itu… tidak mungkin…."

"Terserah padamu untuk percaya pada ceritaku atau tidak, Yang Mulia Pangeran Misaki. Jika kau menghendaki, kau boleh pergi dari kerajaanku. Kau boleh membenciku. Kau boleh mengutukku dalam tidur panjangmu nanti. Aku pun sudah menyerah untuk memaafkan diriku sendiri, karena terlanjur melibatkanmu dalam lingkaran dendam milikku sendiri."

Misaki lantar berpaling pada satu-satunya pemuda manusia di sampingnya. Tangannya yang kemudian mencengkram erat sisi lengan Saruhiko. Dan Misaki tidak mempedulikan Saruhiko yang meringis pelan akibat kuku-kukunya yang menancap ke balik jubahnya. "Saru… Saruhiko… katakan itu semua tidak benar. Katakan bahwa kalian hanya mengarang cerita ini. Katakan bahwa aku… bahwa aku tidak akan mati dalam waktu dua hari lagi. Benar begitu 'kan, Saru…?"

"… Misaki. Nyaris sembilan belas tahun yang lalu, aku yang menahan ayahmu di singgasananya, agar ia tidak mengganggu apa yang ingin tuanku lakukan terhadapmu."

"Kau bohong, Saru. Kau bohong…! DAN SELAMA DELAPAN BELAS TAHUN INI AKU MENYAYANGIMU DAN BAGIMU ITU SEMUA HANYALAH KEBOHONGAN, SARUHIKO…?! Kau… hanya merasa kasihan padaku…?!"

"Misaki…! Misaki, aku tidak pernah sedikit pun merasa—"

Melepaskan cengkramannya dan tanpa merasa perlu menunggu Saruhiko menyelesaikan kalimatnya, Misaki berlari. Dikejar suara-suara yang berteriak memanggilnya. Pepohonan yang kemudian merambat menghalangi langkahnya. Burung-burung dan keluarga tupai serta kelinci yang menempel erat di tubuhnya. Namun Misaki tetap berlari, menghindari, mengibas, menghempas. Ia terus memacu langkahnya hingga ke kedalaman hutan. Misaki tidak peduli. Jika Reishi saja tidak sanggup menghapuskan kutukannya, maka biarlah ia kembali ke tempat seharusnya berada. Bahkan sejak awal tidak perlu dirinya menghabiskan delapan belas tahun hidupnya di antara makhluk-makhluk gaib penuh keajaiban yang tidak pernah gagal membuatnya tertawa bahagia. Misaki tidak butuh semua kebohongan itu.

Karena tidak ada satupun yang dapat menyelamatkannya. Tidak Reishi. Tidak pula Saruhiko. Tidak juga dengan dirinya sendiri.

Dan ketika Misaki sadar dirinya telah melewati hutan berduri dan telah menjejakkan kakinya untuk kali pertama di dunia manusia, aura biru tiba-tiba mengepungnya. Dan wangi yang memabukkan menyelimutinya, seolah meninabobokannya, memaksa Misaki terpejam dan terbuai hingga ke alam mimpinya.


...


"Misaki hilang…!"

Keempat peri petinggi Moors saling lempar pandang penuh kekalutan dengan informasi yang baru saja dibawa Saruhiko.

"Tidak mungkin…! Cari lagi…! Ia tidak mungkin berhasil meloloskan diri dari hutan rimbaku…!"

"Akan kukumpulkan para margasatwa! Siapa tahu ada di antara mereka yang melihat ke mana perginya Misaki."

"Aku akan melakukan pemantauan dari udara. Kirim informasi padaku melalui anak anginku jika kalian menemukannya, Izumo, Tatara."

Sang penyihir hanya menatap semu ke dalam telapak tangannya.

"Reishi…?"

"Misaki… kutukanku… Misaki pasti sudah dibawa pergi oleh kutukanku, Anna."

"… maksudnya…?"

Sang penyihir menelan ludah. Suaranya berubah. Parau.

"Misaki sudah pergi dari Moors, Anna. Kutukanku saat ini pasti tengah membawanya kembali ke kerajaan manusia."

"Dan Mikoto pasti akan menunggumu di istananya untuk membalaskan dendam terhadap kutukan yang kau tanam di tubuh pangeran kecilnya, Tuanku. Sekarang, apa yang akan kau lakukan?"

"Kau pikir, apa lagi yang bisa kulakukan dan opsi apa lagi yang kumiliki saat ini, Saruhiko?

.


...


.

.

.

Author's note: *tarik napas* *buang pelan-pelan* mulai galau? Mulai nyesek? *author digampar pembaca* Kalau gitu, mari bertemu di chapter selanjutnya, chapter terakhir dari fanfiksi kali ini~! XDDDD