DAILY LIFE WITH MY BOYFRIEND

Cast : Kai, Sehun and others

Liburan di minggu ini sudah selesai... nunggu satu minggu lagi baru bisa liburan lagi. ^_^

Untuk yang nagih-nagih ff, sabar dulu ya... ff Bukan istri pengganti baru mau di ketik, yang nagih Kiss Me di akun BearBunny, aku ga janji akan update, feel aku masih belum dapat karena juga baru liat-liat sekilas. Harap maklum, yang namanya udah kerja n baru kelar liburan pastinya aku akan lebih fokus ma kerjaan dulu dari pada ngetik ff, dsb.

Sekali lagi maaf buat yang bilang aku terlalu lama untuk update. Aku juga manusia biasa loh, yang kadang bisa dilanda bad mood. Aku nulis tergantung mood, kalo moodku ga bagus bahkan meski di sindir2 ya tetap aja aku ga bisa ngetik. Beda kalo mood aku bagus, disindir n dibilang ffku jelek pun ya aku bakal terus ngetik.

No Edit

KAIHUN LOVEA

.

.

.

.

.

"Jadi, Oh Sehun maukah kau berkencan denganku?"

Mulut sehun terbuka lebar tanpa disadari dirinya, Kai mengajaknya kencan? Secara langsung? Sehun menggaruk tengkuknya, tak yakin harus berbuat apa karena ini memang pertama kali dalam hidupnya ada seseorang yang mengajaknya kencan, yah walau itu hanya untuk keperluan acara saja sih. Akhirnya setelah ia terdiam cukup lama dan mungkin saja sutradara sudah greget melihatnya, Sehun mengangguk juga. Setelahnya Sehun hampir pingsan melihat Kai yang tersenyum lebar, terlihat begitu tampan.

"Ayo duduk, ku rasa kau akan pingsan kalau kelamaan berdiri di sini," Kai tersenyum geli melihat Sehun yang terlihat bisa pingsan kapan saja itu.

Sehun tersenyum malu, wajahnya merona saat Kai menuntunnya untuk duduk di kursi, dan itu semua tak luput dari perhatian Kai yang merasa lama-lama ia tak tahan lagi untuk tidak mencium namja manis ini.

"Gomawo..." bisik Sehun lirih.

Kai hanya mengangkat bahunya, "Kau mau makan dulu atau kita langsung jalan-jalan?"

"Jalan-jalan," Sahut Sehun spontan. Ia rasa sekarang ia tak akan bisa makan saat berdua dengan Kai. Tangannya saja sekarang terasa begitu gemetar, apalagi saat harus makan di bawah tatapan Kai, bisa-bisa ia melakukan tindakan yang bodoh nantinya.

"Kalau begitu ayo..." Kai meletakkan selembar uang di atas meja untuk membayar minuman milik Sehun dan mengulurkan tangannya ke hadapan Sehun.

Meski awalnya ragu, namun akhirnya Sehun menyambut uluran tangan Jongin dan keduanya berjalan keluar dari kafe dengan jemari yang saling bertautan.

"Kau mau jalan-jalan kemana?"

"Tidak tau," jawab Sehun polos.

Dahi Kai berkerut, "Kau tak pernah kencan sebelumnya?"

Sehun menggelengkan kepalanya. "Ini pertama kalinya untukku."

"Mwo... dan kau mau berkencan denganku yang umurnya jauh berbeda darimu."

"Hyung juga kenapa mau berkencan dengan namja yang jauh lebih muda?"

"Jawab dulu pertanyaanku, Oh Sehun..." entah kenapa Kai rasanya senang sekali saat tahu ia menjadi yang pertama untuk Sehun.

"Itu... sebenarnya aku juga tidak tau."

"Huh..."

"Awalnya di sekolah, Baekkie selalu mengejekku dia mengatakan kalau hidupku terlalu membosankan dan aku harus punya pacar. Karena kesal akhirnya aku membuka sebuah situs tentang boyfriend seperti itu dan tak sengaja menemukan iklan acara ini."

"Lalu kenapa kau memilih namja yang lebih tua untuk kencanmu?"

"Mungkin karena aku sering melihat Baekkie bertengkar dengan kekasihnya. Aku jadi berpikir kalau namja yang lebih tua pasti lebih pengertian. Lagi pula... kurasa aku,,, menyukai sebuah... tantangan."

Kai tersenyum tipis mendengar jawaban Sehun yang polos. Ia tahu kalau namja ini bicara yang sebenarnya. Ia sudah menyelidiki seluruh latar belakang Sehun selama beberapa hari ini.

"Kalau hyung, apa?"

"Ku rasa sama sepertimu, aku menyukai sebuah tantangan."

"Ish, hyung tidak kreatif sama sekali." Sehun cemberut dan mulai menghentakkan kakinya.

"Ahh..."

"Hyung kenapa?" tanya Sehun bingung.

"Kalau kau bertingkah seperti ini terus, bisa-bisa aku disangka pedofil atau yang lebih parah lagi jalan bersama anakku." Jongin pura-pura mengeluh.

"Andwae... Hunnie janji akan bersikap lebih sopan." Sehun cepat-cepat merubah wajah cemberutnya menjadi datar lagi dan memperbaiki cara berjalannya.

Jongin tertawa, ia melepas tautan tangan mereka dan lebih memilih untuk menggandeng Sehun. "Jangan terlalu di anggap serius Sehuna, aku hanya bercanda..."

Jongin tak menyadari saat ia tertawa Sehun tengah terpesona melihatnya, namja manis itu bahkan tak sempat untuk mengedipkan matanya, hingga ucapan Sehun menyadarkan Jongin kalau namja manis itu masih terus-terusan menatapnya.

"Hyung tampan..."

Jongin menghentikan tawanya dan mengelus lembut pipi Sehun yang berisi, "Kau juga cantik." Dan satu ciuman di kening Sehun mengakhiri ucapan Jongin. "Ku rasa aku tak salah memilihmu, Sehuna..."

.

.

.

.

.

.

"Aku tak percaya iniiiiiii..."

Pagi Sehun dihari pertamanya sekolah setelah acara reality show nya ditayangkan, yang harusnya tenang kini harus ternodai dengan suara cempreng nan berisik milik sahabatnya.

"sehunie... aku tak percaya ini..." Baekhun mengguncang-guncang tubuh Sehun dengan heboh.

"Hentikan Baekkie, kau membuatku pusing," keluh Sehun, ia mencoba keluar dari cengkeraman erat tangan Baekhyun di pundaknya.

"Pantas saja kau tidak menolaknya, Ya Tuhan dia tampan sekali..." Baekhyun tampak seperti tengah membayangkan wajah tampan kekasih virtual Sehun sekarang.

"Ish, bicaranya jangan keras-keras Baekkie, aku kan malu."

"Buat apa malu, kau harusnya bangga Sehuna, kau bisa tampil di televisi dan bertemu pria tampan. YA TUHAN, AKHIRNYA TEMANKU TIDAK JOMBLO LAGIIIIIII..."

Sehun secara otomatis menutup wajahnya yang merona saat Baekhyun berteriak dengan lantang hingga terdengar oleh para siswa yang banyak berkeliaran di koridor.

"Woah, benarkah itu..."

"Akhirnya... ada juga yang mau dengan namja kurus sepertimu Sehuna..."

"Selamat ya..."

"Ah, siapakah pria yang tidak beruntung itu, Sehunie kan datar seperti ini, pasti kekasihnya akan tersiksa saat dia kencan nanti."

Wajah Sehun sudah semakin keruh saja mendengar komentar teman-temannya, cepat-cepat ia melepaskan tangan Baekhyun yang masih bertengger dipundaknya dan menarik sahabatnya itu untuk menjauh dari teman-temannya yang lain. "Ish, Baekkie... ini semua salahmu, kalau kau tidak berteriak, yang lain tidak akan mendengar dan menghinaku." Omel Sehun, wajahnya cemberut.

Baekhyun menggaruk area tengkuknya yang tidak gatal. "Iya, maaf... habisnya aku iri denganmu yang bisa mendapatkan pasangan setampan itu."

"Tapi tidak seperti itu juga kali, aku kan malu."

"Maaf..."

"Minta maaf saja pada tembok sana." Sehun dengan kesal melangkah meninggalkan Baekhyun yang masih berdiri di tempatnya, merasa bersalah mungkin.

"Sehuna, aku benar-benar minta maaf... aku tidak sengaja, sungguh..."

"Tidak mau..." Sehun berlari menjauh, berusaha menghindar dari Baekhyun yang mengejarnya. Jadilah seharian itu Sehun selalu berusaha menghindar dari Baekhyun yang terus-terusan berusaha minta maaf. Sehun kesal pada sahabatnya itu, karena mulut embernya, seluruh isi sekolah jadi tahu kalau dirinya sudah punya pasangan dan parahnya Baekhyun juga sempat keceplosan mengatakan kalau dirinya membintangi sebuah reality show dengan kekasihnya saat namja yang sedikit lebih pendek darinya itu berteriak meminta maaf pada Sehun di kantin.

Jadilah Sehun merasa seperti orang yang tidak memiliki muka lagi saat berjalan di koridor, setiap orang yang ia lewati pasti berbisik dan saling tunjuk ke arahnya. Sehun marah tapi ia tak bisa melampiaskannya karena ia tahu kalau inilah resiko yang harus ia hadapi saat dirinya ketahuan ikut acara seperti itu.

Mood Sehun memburuk dan namja manis itu belajar dengan ogah-ogahan, dan ketika bel tanda waktunya pelajaran hari itu sudah berakhir namja manis itu langsung melesat keluar dari ruangan kelas karena takut kalau Baekhyun akan mengejarnya lagi, ia bahkan tidak mempedulikan gurunya yang bahkan belum keluar dari ruang kelas. Sehun tak peduli, yang penting ia bisa segera bebas dari tatapan dan bisik-bisik menyebalkan dari teman-teman sekolahnya.

"Haaahhh... haaahhh..."

Sehun berdiri di depan terminal bus dengan napas tersengal setelah terus berlari dari sekolahnya. "Huff, syukurlah, cabe pedas itu tidak mengejarku."

Sehun merogoh saku jaketnya saat merasakan handphonenya bergetar, ia mengamati nama pengirim pesan itu. "Eoh, ini kan sutradara acara reality show itu, apa ada syuting lagi hari ini?" Sehun bergumam seraya membaca isi pesan itu.

'Jam 17.30 di apartemen xxx. Tema : kiss.'

"Uhukk..."

Sehun terbatuk-batuk saat membaca pesan itu, apa temanya tadi, kiss? Dirinya bahkan belum pernah ciuman, bagaimana bisa ia menjalani syuting dengan tema itu. Sehun panik, ia berjalan mondar mandir di tepi jalan, tak peduli dengan pandangan orang-orang yang memandangnya aneh. "Aduh, apa yang harus aku lakukan? Bisa-bisa Jung ahjushi akan memandangku aneh karena aku tak bisa kissing."

Sehun memijit keningnya yang berkeringat. "Ayo berpikir Oh Sehun, kau kan pintar, pasti ada solusi untuk masalah ini," ia terus bergumam sembari terus melangkah mondar mandir, hingga di satu menit kemudian langkahnya terhenti, sebuah ide terlintas dibenaknya. "Ah, kenapa tidak terpikir olehku, lebih baik aku kirim pesan padanya sekarang."

Sehun mengetik isi pesannya dengan cepat, sebelum bergegas naik ke atas bus yang kebetulan berhenti di terminal. "Baiklah, kau pasti bisa, Oh Sehun. fighting." Sehun mengepalkan tangannya, berusaha menguatkan dirinya sendiri.

.

.

.

.

.

.

.

Jongin tersenyum lebar saat ia membaca pesan dari sutradara acara yang ia ikuti. "Menarik," ucapnya sembari membayangkan bibir tipis kemerahan milik Sehun. kira-kira semanis apa saat ia menciumnya ya?

"Apa ikut acara itu bisa membuat seseorang menjadi gila?" Tiffany, sekretaris Jongin yang baru masuk ke dalam ruangan tampak mengernyitkan alisnya melihat kelakuan Jongin.

"Kau tau, tema syuting hari ini apa?"

"Mana aku tahu, aku kan tidak melihatnya." Jawab Tiffany.

"Kiss..."

"Hah, andwae..."

"Yak, bukan kau, maksudku tema syuting hari ini."

"Oh, pantas saja kau merasa senang." Tiffany meletakkan berkas yang ia bawa ke atas meja Jongin. "Jangan lupa untuk menandatangani laporan ini dan..."

Jongin mengangkat tangannya, ada pesan yang masuk ke handphonenya dan ia segera membacanya. Sesaat kemudian ia terlonjak dari kursinya dan menatap Tiffany dengan panik.

"Ada apa?" Tiffany juga ikut merasa khawatir, takut kalau terjadi sesuatu.

"Sehun..."

"Kenapa dengan bocah itu, apa dia sakit dan tak bisa syuting?"

"Dia mengirim pesan kalau dia akan datang ke kantor ini."

"Oh, kalau begitu kau bisa ke bawah dan usir keluar salah satu karyawanmu dan menunggunya di sana." Sahut Tiffany.

"Itu dia masalahnya, dia sudah ada di lobby, dan dia bilang kalau resepsionis di sana mengatakan kalau aku ada di sini."

"Si bodoh itu, padahal aku sudah berpesan padanya untuk tidak mengatakan siapa dirimu kalau ada bocah yang datang dan menanyakanmu."

"Tak ada waktu untuk mengomel. Kita harus cepat sebelum Sehun sampai di sini." Jongin bergegas berdiri dari tempat duduknya, ia menarik tangan Tiffany untuk duduk dikursi kerjanya dan ia sendiri bergegas masuk ke dalam ruangan pribadi yang ada di sana, melempar jasnya ke atas ranjang dan keluar lagi setelah mengacak acak sedikit penampilannya.

"Kenapa kau memintaku duduk disini sih Jongin?"

"Berpura-puralah jadi direktur utama." Ucap Jongin seraya menyingkirkan segala hal yang mungkin akan membuat Sehun merasa curiga dengan statusnya diruangan ini.

"Mwo?"

"Aku tak mau dia curiga dan mengetahui identitasku yang sebenarnya."

"Aish, kau ini selalu merepotkanku." Gerutu Tiffany.

"Ayolah sepupu, ini demi kebaikanku juga."

"Kebaikan apanya..." Tiffany mencibir. "Bukankah ini sebuah kebohongan dan..."

"Dia datang." Jongin segera duduk di kursi tepat berseberangan meja dengan Tiffany. "Saatnya berakting."

Keduanya diam dan menunggu sampai terdengar sebuah ketukan di pintu. Jongin dan Tiffany saling pandang, sebelum kemudian Tiffany berdehem dan kemudian menyerukan kata masuk.

Tak lama kemudian pintu di buka dengan pelan, dan seraut wajah manis yang hampir membuat Tiffany terpekik karena gemas, mucul di balik pintu. Tanpa sadar kaki Tiffany menendang kaki Jongin di bawah meja hingga namja tampan itu mengaduh pelan. "Kenapa tidak bilang kalau aslinya semanis ini?" Tiffany berbisik pelan.

Jongin hanya tersenyum tipis, mencoba bersikap senormal mungkin saat Sehun melangkah masuk.

"Hyung..."

Jongin menoleh pada Sehun dan tersenyum. "Hai..."

Tatapan Sehun beralih pada Tiffany dan kemudian ia membungkuk untuk memberi hormat dengan canggung. "Maaf kalau aku mengganggu." Sehun tentu tahu, ia sangat tidak sopan langsung masuk begitu saja keruangan milik atasan kekasih virtualnya.

"Tak usah canggung begitu, kau adik Jongin ya?" Tiffany memulai akting pura-puranya.

Sehun tersenyum canggung, "Bukan aku..." Sehun melirik Jongin sejenak. "Kekasih Kai hyung..." lanjutnya dengan pipi yang merona.

Andai saja Tiffany sedang tidak berakting menjadi seorang direktur, detik itu juga dia pasti sudah menghampiri Sehun dan mencium pipinya. Ya Tuhan, ia pasti tidak akan pernah membiarkan Jongin melepas anak semenggemaskan ini.

"Wow, Kim Kai, kau tahu ini kantor kan, ini bukan tempat yang tepat untuk berkencan dan juga..." Tiffany melirik ke atas meja dan kemudian ia melotot saat melihat ada nama Jongin yang tertera di berkas itu, cepat-cepat ia mengambilnya dan melindunginya dari tatapan heran Sehun, bisa gawat kalau Sehun sempat melihat kertas itu dan membaca tulisan kalau direktur utamanya adalah Kim Jongin yang jelas-jelas nama seorang pria. "Laporanmu bahkan belum beres dan kau mau berkencan?"

"Maaf, sa..."

Tiffany mengibaskan tangannya, "Kuberi kalian waktu lima belas menit untuk bicara dan setelah itu Kim Kai, kembalilah bekerja." Tiffany beranjak dari duduknya dan berjalan menuju keluar ruangan.

"Maaf, tapi ini ruangan anda kan, kenapa anda pergi?" tanya Sehun bingung.

Tiffany hampir saja menepuk keningnya, kenapa ia lupa ya? "Eh itu, aku sengaja keluar supaya kalian bisa bicara berdua, soalnya kalau karyawan lain melihat, nama Jo... ah maksudku Kai akan buruk."

Sehun mengangguk-angguk tanda mengerti. "Terima kasih atas waktunya." Namja manis itu kembali membungkukkan badan saat Tiffany keluar dari ruangan itu.

Sehun baru menegakkan lagi badannya saat Jongin berdiri di hadapannya. "Jadi... apa yang membuatmu datang ke kantor ini Sehunie?"

"Ah, itu..." Sehun menggaruk tengkuknya, ia nampak bingung harus menjelaskan dari mana.

"Kita duduk di sini saja dulu, mumpung boss keluar," Jongin merasa geli sendiri saat ia mengatakan itu. dengan tangannya yang bebas, Jongin menggandeng Sehun untuk duduk berdampingan dengannya di sofa yang ada di ruangan tersebut.

"Sekarang jelaskan pada hyung..."

"Ini soal tema syuting kita hari ini, hyung... aku..." Sehun tampak ragu untuk melanjutkan.

"Kenapa? Kau tidak suka dengan temanya?" Jongin merasa kecewa ketika tahu Sehun menolak untuk melakukan ciuman dengannya.

"Bukan begitu hyung... bukannya aku tidak suka... tapi..." Sehun menggigit bibirnya. "Duh, Hunnie malu mengatakannya..."

"Sehunie kenapa... bilang pada hyung..." Jongin meraih kedua tangan Sehun dan menggenggamnya. "Jangan takut, hyung tidak menggigit kok, jadi katakan saja."

"Sebenarnya... Hunnie... tidak pernah melakukan itu."

"Huh, melakukan apa?" Jongin mengernyitkan alisnya, sesaat kemudian ia seperti menyadari sesuatu. "Kau tak pernah ciuman sebelumnya?"

Sehun mengangguk perlahan, pipinya semakin merona, ia merasa malu. Di sisi lain, perasaan Jongin membuncah oleh kebahagiaan, Sehun tidak pernah berciuman dan ia akan menjadi orang pertama yang mencium Sehun dan Jongin berdoa semoga seterusnya hanya ia yang bisa menyentuh namja manis ini.

"Itu tak masalah Sehunie..."

"Tapi, Jung ahjushi pasti menginginkan yang terbaik untuk syuting kita dan Hunnie pasti akan mengacaukan syuting dengan kecanggungan Hunnie."

"Lalu, apa yang kau inginkan? Kau ingin syuting dibatalkan?"

Sehun cepat-cepat menggeleng.

"Kalau begitu kau ingin temanya di ganti?"

Lagi-lagi Sehun menggeleng.

"Lalu apa solusi yang kau inginkan."

"Hunnie ingin belajar," ucap Sehun dengan suara tegas.

"Belajar?" Jongin bingung, Sehun ingin belajar? Tapi belajar apa?

"Ne, agar tidak canggung lagi, makanya Hunnie ingin belajar."

"Maksudmu...?" Jongin tampak ragu untuk mengatakannya, takut kalau apa yang ia pikirkan berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Sehun.

"Nde, hyung, ayo kita latihan ciuman."

"Mwo, kau bilang apa?" Jongin merasa kalau ia salah dengar sekarang.

"Ayo kita ciuman, hyung!"

.

.

.

.

.

.

TBC

Banyak typo, karena aku terlalu malas untuk edit lagi #plakk

Kalau ingin ini dilanjutkan tolong review ya. Terima kasih

KAIHUN LOVEA