Langit malam gelap, hitam seperti surai milik Kim hyorin adik ku. Adik perempuan ku yang gila, yang membuat seorang kakak laki lakinya menabur rasa untuknya.
Namun bukan sepenuhnya kesalahan kami salah kan pada eomma dan appa kami yang memisahkan antara hyorin, tae hyung dan aku. Sehingga kami baru mengenal satu sama lain saat kita dewasa, dan si bodoh hyorin tidak percaya bahwa kakak laki lakinya adalah aku, namja tampan ini adalah kakak nya.
Bahkan ia tak percaya bahwa Kim taehyung ini adalah kembaran nya.
Lemon tea dingin embun nya menetes meluncur dari ujung gelas membasahi meja kayu, ia teguk sedikit minuman asam itu.
"jadi hyung, apakah tidak sebaiknya kita mencari appa saja"
Aku menghela nafas berat, adik ku yang satu ini sama sinting nya.
"tae tae, appa sudah mati. Jangan harapkan mayat itu hidup kembali"
Taehyung merengut, ia meneguk lagi minuman asam yang tak pernah kusuka. Rapat nya resleting jaket yang ia gunakan membuat ku ikut sulit bernafas, kenapa harus seketat itu, toh malam ini tidak sedingin biasanya.
"kembaran mu itu gila, ia pikir aku mengurusnya karna aku juga mencintai nya"
"kalau hyorin gila, lalu kau sebut diri mu apa? kau pikir aku tidak pernah melihat mu curi curi mencium bibirnya saat ia tidur?"
Aku menelan ludah, itu sebuah kesalahan. Aku juga sudah hampir gila saat itu.
"kita harus mencari appa" sahutnya,
Penglihatan ku terfokus pada layar, aku sibuk membalas pesan pesan bawel dari hyorin.
"hyung, aku tahu kau juga menyukai hyorin" tebak nya.
Bibir ini membisu. hati mengambil komando untuk tubuh dan lisan ini tetap diam. Pura pura tidak tahu lebih baik, seperti ini tanpa kejelasan lebih baik.
Jika memang permintaan taehyung di dengar oleh tuhan maka kemungkinan yang terjadi hanya dua, menikahi hyorin atau malah membenci hyorin.
Aku jatuh pada hyorin, jika ia memang adik ku maka aku harus membenci nya agar rasa itu tersapu bersih. Namun jika ia bukan adik ku, maka esok setelah Fajar tiba hyorin sudah menjadi kasih ku selamanya.
Kesalahan keluarga yang membuat ku gundah, antara menyalahkan hyorin yang terbiasa menyukai ku sehingga aku pun hanyut dengan nya atau menyalahkan eomma dan appa yang tak kunjung jelas asal usulnya.
Lima tahun silam, seperti kucing dalam kardus. Kami bertiga buta akan apa itu eomma dan apa itu appa. menghidupi diri seadanya bahkan menjadi gelandangan di stasiun kota demi sepeser yen.
Nasib baik bisa buka toko roti sendiri, setelah tahu kita di tinggalkan aku pergi ke seoul selama satu tahun untuk bekerja dan menabung lalu kembali ke gweochang, mendirikan toko roti sendiri.
Aku hidup di gweochang dengan ketenangan alam nya. Kemudian hancur dan terusik saat langkah seorang gadis bermarga kim itu datang kembali diantara seribu pengunjung di sore itu, dua tahun silam. Si gila kim hyorin itu datang dan membuka pintu hatiku.
Tak pernah sedikit pun niat untuk membuka rahasia keluarga ini, ku pikir ego ku mengambil alih lebih jauh. Ia terlanjur bekerja sama dengan cinta agar memilih tidak peduli. Aku bahagia saat bersama hyorin yang gila itu, walau aku mengelak untuk menjalin asmara dengan nya karena takut dosa.
"hyung, buat ini menjadi jelas. Jangan buat keluarga ini dikutuk oleh tuhan sebab tak mengindahkan orang tua dan mencintai saudara kandung nya" tegasnya,
Mata ku menembak tajam wajah taehyung.
"aku pesan tiket ke busan, untuk kita. Aku, kau dan hyorin." sepeser koin ia banting diatas meja, menutup perdebatan malam ini. Taehyung berjalan kearah halte sedang mulut ku tak bisa menutup rapat masih kebingungan.
handphone dari saku sudah menempel pada telinga kiri ku,
"kim hyorin, mau tak mau harus mau. Saudara kembar gila mu memaksa kita untuk kembali ke busan"
Suara jeritan dan kursi terbanting hebat nyaring terdengar, rasa frustasi yang hyorin alami sangat kuat bahkan menyebrang antar telpon.
Dari pada sakit telinga, lebih baik ku matikan. Telunjuk ku menggeser ikon telpon untuk di matikan sedang tangan kanan melambai pada pelayan.
"ini pembayaran dan tips nya, maaf mengganggu ketenangan cafe"
