Nastar = AI © Utsukushi Hana-chan

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Rate © T

Warning © Au, OOC, Gaje, typo bertebaran, No eyd dll.

.

.

.

.

"Ah... Berada di negara yang mayoritas seorang muslim ternyata menyenangkan. Tapi susah karena harus menahar lapar-tteboyou." Lelaki belonde tersebut mengacak-acak rambutnya frustasi karena rasa lapar yang menghantuinya saat jam istirahat siang seperti ini, apa lagi tadi pagi ia tak sempat sarapan di rumah.

Tapi mau bagaimana lagi ia telat bangun dan juga kalau pun ia ingin pergi ke cafe-cafe dekat kantor untuk makan siang tidak mungkinkan karena semanjak beberapa minggu lalu seluruh umat muslim melaksanakan ibadah puasa.

Ingat ibadah puasa jadi si rambut nanas ini hanya bisa makan di rumah saja. Kalaupun membawa bekal ke kantor itupun tetap membuatnya masih lapar.

Kalian pasti bertanya-tanya di mana ia saat ini, iyakan? Sekarang pemuda asli Jepang ini berada di negara Indonesia tepatnya di Jakarta. Salahkan ayahnya Namikaze Minato menyuruhnya mengurus perusahaan mereka yang berada di Indonesia padahal ia tak ingin pergi jauh-jauh dari Jepang karena Jepang tanah kelahirannya.

"Lebih baik aku pergi jalan-jalan. Masa bodoh si tukang tidur itu marah."

Jas yang membalut di badannya ia lepas saat sampai di dalam mobilnya.

Menggunakan mobil saat jam-jam seperti ini rasanya salah karena kota Jakarta memiliki riwajat kelam dengan kemacetan.

Saat manik sapphirenya tak sengaja melihat sebuah plang yang menurutnya unik ia segera menghentikan laju mobilnya.

"Toko kue, menjual kue khas Jepang dan Indonesia." Gumam Naruto pelan saat membaca deretan kalimat pendek yang tertera di plang toko tersebut.

"Sepertinya menarik." Ucap Naruto setelah selesai memarkirkan mobilnya di parkirang toko tersebut.

"Itteirasai." Naruto yang beru memasuki toko kue tersebut tertegung mendengar suara merdu dari penjaga toko tersebut membuat langkahnya terhenti.

Naruto yang sadar segera berjalan kembali menuju deretan kue-kue kering yang jarang di jumpainya di Jepang tersebut.

Saat ia memilih-milih yang berada di dekat kasir tersebut ponselnya tiba-tiba berbunyi membuatnya mendecih pelan.

"Moshi-moshi Otou-san." Ucapnya. Membuat sang kasir memandangnya tak percaya, apakah benar orang tersebut adalah orang Jepang tapi rambut dan manik birunya tidak seperti keturunan Jepang.

"Un, iya-iya. Sudah dulu Jaa." Saat ia mematikan ponselnya dan tak sengaja melirik ke arah kasir tersebut Naruto tampak heran.

"Ah gomen, kau orang Jepang?" Tanya kasir tersebut membuat Naruto yang tadinya bingung segera di jawab anggukan Naruto.

"Iya, kau sendiri?" Ah Naruto no baka jelaslah ia orang Jepang sang kasirkan mengerti bahasa yang kau pakai dan lihat saja mata kasir tersebut matanya berbeda dengan orang Indonesia.

"Iya." Jawab gadis tersebut sambil menunduk menyembunyikan rona merah yang berada di pipinya karena baru tersadar bahwa lelaki di depannya ini sangat tampan.

"Naruto, Namikaze Naruto. Kau?"

"Hinata, Hyuuga Hinata. Senang berkenalan dengan Naruto-san."

Saat melihat senyuman itu entah kenapa jantung Naruto berdetak dua kali lebih cepat, mungkin ini yang di namakan cinta pertama, eh?

"Ah pantas aku tidak merasa heran melihat manik lavendermu ternyata kau orang Jepang." Ucap Naruto.

Dentingan lonceng menandakan ada pelanggan yang datang dan benar saja seorang ibu-ibu datang membawa dua anak kecil datang.

"Itteirasai." Sambut Hinata masih dengan senyum manisnya.

"Ah menurut Hinata-san kue apa yang enak?" Tanya Naruto.

"Menurutku sih semuanya enak. Tapi yang akhir-akhir ini orang membeli sih kue nastar."

"Kue Nastar?" Naruto tampak menyerngitkan alsinya membuat Hinata terkikik geli melihatnya.

"Kue kering yang sering di beli saat menjelang Lebaran," jelas Hinata membuat Naruto mengangguk tanda mengerti.

"Baiklah, aku beli dua ya." Ucap Naruto yang di jawab anggukan Hinata. Hinata kemudian membungkus dua kue nastar dan menyerahkannya ke Naruto.

"Ini Naruto-san, hanya 100.000 ribu."

Naruto meletakan uang pas, sebelum benar-benar keluar dari toko tersebut Naruto sempat mencuri pandang ke arah Hinata yang sedang melayani pembeli kemudian tersenyum kecil.

Hinata terlihat sangat cantik, wajahnya putih bersi, iris lavendernya yang menenangkan. Entah kenapa setiap kali melihatnya Naruto menjadi salah tingkah dan ingin menatapnya lebih lama.

"Nanti aku akan kembali ke sini." Gumam Naruto kemudian menutup pintu toko dan memasuki mobilnya.

.

.

.

Hari pun menjelang malam Naruto yang sedang mengetik sesuatu di leptopnya tampak menghentikan pekerjaannya saat matanya tak sengaja melihat kue nastar yang belum ia makan.

Naruto mulai membuka tutup kue nastar tersebut, tangan besarnya mengambil satu kue dan melihat-lihatnya.

"Tampaknya enak." Gumamnya, kemudian memasukinya ke dalam mulutnya. Mengunyahnya pelan dan menelannya.

Mata Naruto yang semula terpejam menikmati satu kue nastar tersebut segera terbuka dengan pandangan yang berbinar.

"Ternyata enak juga."

Naruto dengan cepat memakan kue-kue nastar tersebut. Remah-remah kue terlihat di sudut bibirnya yang membuatnya terlihat seperti anak kecil yang baru menemukan makannan yang lezat.

"Humm, beshok akhu harush kembalih ke tokho Hinataha-san." Naruto terlihat ke susahan berbicara karena kue yang masih banyak di dalam mulutnya.

.

.

.

Malam berganti dengan pagi, pagi berganti dengan siang. Naruto yang sedang berada di jalan raya tampak frustasi karena macet di akibatkan kecelakaan di depan sana.

"Ck, kapan selesainya sih." Runtuk Naruto.

30 menit berlalu akhirnya Naruto terbebas kemacetan dan akhirnya ia sampai di depan toko kue Hinata.

"Itteirasai, Naruto-san." Sapa Hinata saat Naruto memasuki dalam toko.

"Ne, Hinata-san aku mau beli kue yang kemarin." Ucap Naruto sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya.

"Baik." Hinata segera membungkuskan kue tersebut. Saat akan menyerahkan kue tersebut tangannya tak sengaja bersentuhan dengan tangan besar Naruto.

"Gomen." Ucap kikuk Naruto.

"Ne, Hinata-sanapakah aku boleh meminta nomer ponselmu?" Tanya Naruto dengan rona merah di kedua pipinya yang terlihat samar-samar.

"Eh, untuk apa Naruto-san?" Tanya Hinata membuat Naruto membeku.

Naruto dengan cepat memutar otaknya mencari alasan yang pas untuk mendekati Hinata tapi ia tak menemukan satupun ide, dan akhirnya iapun berkata jujur.

"Un, ya untuk apa ya? Aku juga tidak tahu, tapi saat melihatmu aku mulai tertarik." Jujur Naruto membuat Hinata merona merah mendengarnya.

Bayangkan seorang pengusaha kaya tertarik padanya gadis yang pas-pasan yang hanya bekerja sebagai penjaga kue di negara orang. Kalau di negara sendiri sih kita tidak tau sebenarnya siapa itu Hinata Hyuuga.

"Ba...baiklah Naruto-san." Hinata segera mencatatkan Naruto nomer ponselnya di secarih kertas dan setelah selesai mencatatnya Hinata memberikannya kepada Naruto.

"Arigatou Hinata-chan."

Deg

'Apakah aku tak salah dengan ia memanggilku dengan embel-embel Chan.' Batin Hinata.

"Un sama-sama."

Mereka terdua terdiam membuat seseorang yang menganteri di belakang Naruto tampak menatap bosan karena geram tak mengerti bahasa yang di gunakan sang kasir dan pembeli dan geram karena si lelaki nanas itu tak beranjak dari depannya padahal bungkusan yang di beli sudah di tangannya, akhirnya sang ibu-ibu tersebut berucap, "hey anak muda mau sampai kapan berdiri di depanku, aku lelah menunggu."

Naruto yang mendengar suara dari belakangnya dengan kikuk Naruto melihat kebelakang.

Naruto meneguk ludahnya saat melihat tampang sebal dari ibu-ibu di belakangnya.

"Ma...Maaf." Naruto sedikit-dikit mengerti bahasa indonesia walau ia sulit mengucapkannya. Dan dengan kikuk Naruto segera pergi dengan hati yang berseri-seri karena akhirnya mendapatkan nomer ponsel Hinata.

"Ck, tu orang ngomong apa sih, bikin pusing." Runtuk ibu-ibu tersebut membuat Hinata yang mendengarnya terkikik geli.

.

.

Naruto dengan gencar mendekati Hinata, sekarang hubungan mereka semakin dekat. Dari Naruto yang tahu tempat tinggal Hinata, sering mengajak Hinata makan malam berdua dan sebagainya.

Malam Lebaran-pun telah tiba hari ini Naruto mengajak Hinata untuk menonton acaran yang biasanya ada saat malam Lebaran yang tidak pernah mereka temui di Jepang.

Sekarang mereka berdua duduk di depan mobil Naruto sambil menikmati kembang api yang terus meledak di langit kota Jakarta membuat suasana di antara mereka terkesan romantis.

"Ne, Hinata-chan kau suka?" Tanya Naruto.

Hening sejenak kemudian Hinata mengangguk membuat seulas senyum terukir di bibir Naruto.

"Kenapa kau bisa berada di Indonesia?" Tanya Naruto tiba-tiba. Hinata memandang sebentar Naruto kemudian senyum manis terukir di bibir Hinata membuat Naruto terpana melihatnya.

"Karena menurutku Indonesia itu Indah, Indonesia negara yang sangat ramah, dan ah aku sulit menjelaskannya pokoknya aku sangat suka dengan Indonesia tak kalah aku sukanya dengan negara ku sendiri." Jelas Hinata membuat Naruto mengangguk.

"Tapi bukankan Indonesia itu panas? Sering terjadi banjir, macet di mana-mana?" Tanya Naruto lagi.

"Ya aku tau, tapi karena aku sudah terbiasa dengan macet karena aku baru 2 tahun di sini jadi ya aku menikmati itu hihihi. Jarangkan kita mengalaminya di Jepang, apa lagi Desember ini aku tidak bisa berada di Indonesia lagi. Tapi semoga saja kelak tidak terjadi banjir dan macet lagi." Ucap Hinata yang di akhiri suara yang lirih.

"Benarkah? Pasti aku akan merindukanmu." Ucap sepontan Naruto membuat Hinata memandang Naruto tak percaya.

"Benarkah?" Tanya Hinata.

"Ya, karena aku mencintaimu Hinata." Ucap Naruto dan detik itu Hinata langsung membeku.

"Eh?"

"Daisuki." Ucap kembali membuat Hinata terdiam.

Naruto memegang kedua bahu Hinata membuat Hinata mau tak mau melihat ke dalam samudra biru lelaki tersebut.

"Kau tak suka padaku?" Tanya Naruto takut-takut membuat seketika Hinata langsung menggeleng.

"Lantas?"

"Un iya, a...aku ju...juga mencintaimu Naruto-kun." Jawab Hinata dengan pelan. Naruto yang refleks langsung memeluk Hinata mengucapkan beribu terimakasih karena Hinata mencintainya juga.

"Ne, kalau kau pulang dari Indonesia aku akan ikut, kemudian mengenalkanmu pada orang tuaku kemudian melamarmu."

"Eh melamar?"

"Ya, ah kau tidak mau ya menikah denganku?" Canda Naruto membuat Hinata langsung menggeleng keras.

"Haha baguslah, jadi sebelum kita pulang aku ingin mengajakmu berlibur Hinata-chan?" Tanya Naruto.

"Berlibur ke mana Naruto-kun?"

"Kita pergi ke Bali dan Lombok. Katanya di sana tempatnya indah, ah kalau boleh juga pas kita foto prewedding kita pergi saja ke Bali dan Lombok saja pasti semua yang melihatnya iri, karena tidak bisa datang ke sana." Ucap Naruto dengan semangat.

Hinata yang mendengarnya tampak merona merah, mendengar kata foto prewedding! saja Hinata ingin pingsan karena saking senangnya.

Ck dasar Naruto baru saja jadian sudah membicarakan foto prewedding semoga kau tak kenapa-kenapa Hinata selagi kau bersama rubah mesum itu.

.

.

.

END

.

AN: Ohayou, Konnichiwa, Konbanwa minna-san. Bagaimana fic Kushi-chan makin gaje dan aneh kan ." Hahaha.

selamat hari raya idul fitri mohon maaf lahir dan batin :D

Akhir kata berkenankan kalian Me-Review?