WARNING: AU, Ooc, bahasa yang kacau, typo(s), sedikit ada fluff (mungkin). cerita gak nyambung? Awal dan akhir yang kecepetan? Harap maklum yah? Masih newbie di sini. RnR please..
dan ini nih, balasan atas review nya dari si author gj ^^
yassir2374: hehehe.. 360 derajat sih, yassir san bisa jadi krupuk! well iya sih namanya partitur, saya saat itu rada rada nge blank.. untuk si pairing dari mereka sih ada dong tentunya, frienship juga masih. yassir kun tenang ajah.
SANG GAGAK HITAM: aww, gagak san suka temanya yah? arigatou yah #bungkuk bungkuk.
iya nih, bravo! kemungkinan pair NaruHina ada di sini.
Guest: aku gak tahu nama kamu, gak login yah? pairnya.. nanti pasti ada kok. tapi untuk yang ini, saya tidak membuat fic yang ber-pair tinggi dulu seperti NaruSasu. pairnya BoysxGirls soalnya.. ^^
dan untuk kalian, jangan bosan ngereview dong yah. soalnya review SANGAT di butuh kan oleh author untuk meneliti kesalahan yang dibuatnya. so jangan pelit pelit yah?
.
.
.
Naruto milik si bang Masashi Kishimoto siapa lagi coba?
Cerita nya milik Nanda Salsabila, siapa lagi?
.
.
.
The 9th Symphony
Chapter kedua: The New and The Past
.
.
.
"Tidak apa nona, oh ya. Perkenalkan, namaku Hyuuga Hinata" ucap nya sambil menodongkan tanganya ke arah pemilik safir emerald itu.
"Haruno Sakura, senang berkenalan denganmu!" Ucap Sakura menjabat erat tangan Hinata. Mereka berdua pun terkikik kemudian saat mengingat kejadian yang barusan ia alami. Pelangi di sela mata mereka berbinar cerah, mereka pun saling bertukar pandang kepada lawan bicaranya. Hinata kini berdiri tegak di depan iris emerald itu. Terlihat gadis itu membawa gaun biru cerah selutut dengan rambut kebiru biruan, tak luput juga tas viola di punggungnya.
"Violist eh?" Tiba tiba Sakura berceletuk dengan spontan saat melihat tas yang menggantung di punggung Hinata. Ia kemudian tersenyum sejenak.
"Iya, kau sendiri trumpeter yah?" Tanyanya yang hanya bisa di balas anggukan pasti dari kepala Sakura. Tiba tiba suara langkah kaki menggema di ujung koridor dan merusak ke indahan cahaya yang terpancar di sela jendela kaca yang berada di dinding dindingnya. Terlihat gadis muda berlarian ke arah mereka berdua. Rambut coklat pendeknya tersapu angin semu yang terarak dari arah jendela yang terbuka lebar itu. Gadis berperawakan tidak terlalu tinggi dengan tubuh proposional itu manis terbalut baju lengan panjang lengkap dengan celana jeans berwarna biru donker.
"M-Matsuri chan.. ada apa?" Orang yang di tanyai dengan nafas ngos-ngosan pun mengacungkan jari telunjuknya pertanda meminta waktu sebentar. Sakura menatap sosok yang berdiri dengan nafas tak beraturan itu dengan sedikit kebingungan.
"Hah, hah, hah..oh iya, Hinata chan.. hah ruang penjurian sebelah mana yah?"
"Di sana, habis kemana saja? Kok ngos ngosan?" Matsuri hanya cengengesan dengan aksen nya yang innocent.
"Habis ada jambret, jadi aku lari deh.." Sakura memperhatihkan benda silver yang ada di tangan Matsuri.
"Fluetist?" Celetuk Sakura hingga membuat Matsuri kaget bukan kepalang.
"Eh, loh. Hinata, aku gak di kenalin sih?" Ucap Matsuri sambil melirik kesal ke arah Hinata yang terkikik pelan karena kelakuannya. Ia pun melihat gadis di depannya yang berambut merah muda pendek dengan jaket hitam dan juga baju dan rok minimalis di depannya.
"Hmm baiklah. Matsuri, ini Haruno Sakura san, dan Sakura, ini Matsuri san" mereka pun berjabat tangan dengan gembira.
Samar samar terdengar panggilan di speaker nama nama yang telah tercantum, namun satupun tak ada nama mereka yang terngiang. Membuat hati Sakura berkecamuk. Apakah nama mereka tertulis dalam daftar nya?
"Sasuke, Gaara, Naruto.. mereka perintis berdirinya 'Ovvotos philharmonic orcestra' ini yah?" Entah kepada siapa Matsuri berujar, dia pun melihat poster besar di dinding yang terpatri dengan jelas gambar gambar ke tiga pendiri Orkestra itu. Gambar yang cukup sangar jika di bandingkan dengan gambar gambar dari tokoh tokoh yang biasanya bermunculan di pinggir jalan. Yang ini terlihat lebih bergaya anak muda.
Entah kenapa mata beriris zamrud itu tak bisa lepas dengan sesosok lelaki berambut raven yang berdiri di tengah antara seseorang berambut kuning nya dan merah menyalanya.
'Sasuke.. Uchiha.. apa yang kau sembunyikan? Matamu terlihat kau tengah berberat hati?'
Entah kenapa saat saat genting seperti ini, Sakura masih saja memandangi wajah masternya violin di Konoha itu. Seperti ingin merabanya, entah apa nanti yang akan ia lihat jika bertemu dengannya, gyyahh.. Memalukan!
"Eh, ngomong ngomong.. tau gak sih. Sasuke itu loh, yang ada di tengah, katanya minta bantuan mahluk halus loh. Karena bisa mendirikan grup orkestra simfoni sebesar itu, dalam kurun 1 setengah tahun lagi!" Suara yang memecah keheningan yang ada di sana. Tak ayal 2 pasang mata langsung memandang penasaran pada Matsuri yang menunjuk nunjuk foto Sasuke yang ada di poster itu.
"Apa maksudmu? Matsuri?" Sakura memansang Matsuri yang berkata dengan entengnya. Matsuri pun hanya mengangkat bahu setinggi tingginya.
"Gak tau, tapi yah.. Sasuke itu bisa menguasai biola dalam 2 bulan saja loh. Dalam usia ke-17 saja sudah bisa mendirikanya. Tapi aku gak tau kebenarannya yah? Aku hanya dengar bisikan dari orang orang"
'Aku tak pernah tahu kehidupanmu, Sasuke. Tapi entahlah, aku rasa kita mempunyai hubungan yang..'
"Aku gak percaya, umm. Soalnya, Sasuke san kan hebat orangnya. Mendirikan grup orkestra dalam 1 setengah tahun saja bukan masalah di bandingkan dengan belajar violin dalam 2 bulan. Violin kan sukar" Sakura berketus.
"Iya, sama aku juga. Tidak mungkin mereka percaya sama takhayul seperti itu. " timpal Hinata menyanggah pernyataan Matsuri. Sakura menatap kosong jendela yang menganga lebar itu. Entah kenapa mendung menjadi jadi namun diluar sana tidak hujan. Padahal jika hujan mungkin Sakura juga akan main hujan hujanan. Sejak kecil ia tak mampu menghilangkan rasa kesukaannya terhadap hujan, dan saat sudah besar pun, dia masih tak bisa menolak kelakuan kekanakan nya itu.
"Ngh, aku juga tidak percaya sih sebenarnya.. tapi.."
"Nomer 347, Haruno Sakura"
"Eh, Sakura bagianmu! " Matsuri berteriak kearah Sakura yang sedang melamun ke arah pepohonan pinus yang rindang di luar sana.
"Eh? B-benarkah?" Sakura pun bertanya singkat dan di balas anggukan dari dua orang itu.
.
.::~•~::.
.
Sakura memasuki ruangan luas itu dengan pelan. Lantai lantai yang terbuat dari kayu mewarnai kehampaan ruangan itu. Beberapa alat musik berdiri tegak di pojok sana, hmm apa itu? Harpa? Langit langit di cat senada dengan tembok berwarna putih dengan lampu kaca megah mempercantiknya. Ruangan ini sangat terlihat formal, batinnya. Terlihat ketiga sosok mahluk pendiri grup orkestra itu duduk jengah di tengah tengahnya. Wajah mereka, seperti di poster. Dengan sentuhan baju berkerah tinggi mereka nampak seperti..
"Hey, kemarilah. Kami hanya ingin melihat kemahiranmu. Kami nggak akan ngapa ngapain kamu kok" ucap sesosok berambut kuning dengan melambaikan tangan kepada Sakura yang terlihat terdiam di pintu masuk. Dengan sempoyongan Sakura pun masuk.
'Aku..pernah melihatnya'
Sasuke melihat ke arah gadis di depannya. Tak cukup buruk, batinnya. Gadis dengan jaket hitam yang ia kenakan, dan juga rambut merah mudanya.
"Nama?"
"Eh? H-Haruno Sakura" Sakura sedikit kaget saat Sasuke berbicara.
'Siapa kau?!'
"Kelahiran?"
"K Konoha!" Sasuke menatap gadis itu dingin sebelum kembali bicara, hingga suara detak jantung Sakura seakan terpacu. Tak sadar, Sakura menelan ludahnya. Peluh nya juga turun.
"Umur?"
"aku rasa 18 tahun"
"Aku rasa hm? Jika kau memalsukan identitasmu kau tak akan dapat masuk di sini nona" pemuda yang duduk dengan menengadah berambut merah itu hanya terkikik mendengar jawaban Sakura yang terdengar sedikit frustasi itu. Dan Sakura tak mampu menghapus rona malu di wajahnya.
'Padahal, jelas jelas profilku lengkap berada di depannya. Kenapa dia harus tanya pada ku. Dasar bodoh'
Ejek Sakura di hatinya. Kini ia terlihat bodoh dan kikuk di hadapan pemuda pemuda itu. Tak tahu apa yang akan ia lakukan. Sakura benar benar lupa atas alasan kenapa ia kemari.
"Nah, nona Haruno tunjukkan kemampuanmu dattebayoo" Naruto cengengesan ke arah Sakura. Hati berdetak. Itulah yang di rasakan Sakura saat merasakan keganjilan di antara organ dalam nya itu. Kenapa tiba tiba seperti orang yang terkena heart attack? Saat hanya memandang Sasuke sekilas? Dan mengapa Sasuke memandang tajam dirinya? Beberapa pertanyaan yang mungkin tak akan terjawab.
Sekarang ia mencoba melantunkan senandung melodinya. Meniup ujung trumpet tipe C, yang banyak di mainkan oleh para trumpeter karena nada nya cerah. Mengambil udara sebanyak banyaknya, dan.. irama mulai dilantunkan. Melodi telah menggema. Dengan sedikit alunan jazz yang di bawakan oleh Sakura. Mereka terperangah. Tiupan dengan nada mellow mewarnai ruangan dingin itu. Walau hanya dengan tiga tombol saja, Sakura dapat memainkan nadanya dengan apik. dia dapat memainkan dan mengolah embounchure nya hingga warna warni nada yang ia buat terlihat berbeda. Sakura menutup mata nya. Membiarkan jemarinya menekan lembut ke tiga tombol itu. Hamparan tanah tak bertuan dengan lampion kecil berwarna merah berada ditengahnya dan menggantung di sebuah pohon pinus. ribuan bahkan jutaan bintang yang bertaburan di langit senja. Apa yang di bayangkan oleh Sakura adalah kebebasan. Dengan alunan trumpetnya, ia menyihir setiap indra pendengaran yang mematung mendengarkan timbre yang ia buat.
'Aku yakin, aku benar benar pernah melihatnya. Siapa kau? ..'
'Sakura..'
'Sasuke..'
"Uhuk uhuk.." tiba tiba saja Sasuke tersedak. Benar benar sukses membuat Sakura menghentikan alunan melody nya.
"Kau tak apa teme?" Naruto mengelus pelan pundak Sasuke yang hanya bisa meringis kesakitan sambil memegang lehernya. Manik nya melotot tajam ke arah Sakura yang sedang terlihat kebingungan itu.
'Suara apa itu tadi? Kenapa sepertinya dia memanggilku?'
.
.::~•~::.
.
Gaara mendudukkan dirinya di kursi goyang di belakang rumahnya. Sambil memandang ke langit oranye itu, ia menarik nafas dalam dalam. Semburat kemerahan di langit senja belum hilang, burung burung masih berkoak dan bertengger di tiang tiang listrik. Matahari belum sepenuhnya menutup diri di bebukitan tinggi di ujung barat sana. Angin masih menerbangkan rasa damai, nyaman. Lalu Gaara teringat sesuatu yang sangat mengganggu fikirannya. Ah.. tumpukan kertas yang bermasalah rupanya. Dengan profil wajah wajah asing yang bertengger manis di ujung nya. Tak ada yang dapat ia lakukan kecuali membolak baliknya sembari mengingat ingat apa yang orang di kertas itu bawakan. Dengan kaku, ibu jarinya menolak membuka halaman selanjutnya. Masih membatu dengan profil yang sedang ia pandangi, sepertinya ia telah menentukan pilihan hatinya.
"Sudah menemukan kah? Gaara?" Dengan sedikit terjingkat, Gaara membalik tubuhnya. Oh, dia toh..
"Kau.. Sai. Hn, kami rasa, kami telah menemukannya" dengan senyum di wajah pucat nya, dia mendekat ke arah Gaara yang masih duduk manis di kursi goyang kesukaanya.
Gaara memberikan tiga kertas ke Sai. Sai membacanya, tak lama kemudian alisnya berkedut.
"Perempuan semua? Hm?" Sai melempar pandangan jahilnya pada Gaara. Gaara pun terkekeh saat itu juga.
"Mau bagaimana lagi? Mereka yang memumpuni" Gaara tersenyum tipis pada Sai yang senyum senyum aneh ke arahnya.
"Atau.. mereka yang telah memumpuni untuk menjadi tambatan hati kalian?" Ucap Sai dengan nada sedikit menggoda. Gaara pun tiba tiba merona mendengar celetukan Sai.
"Heh? Jangan membahas yang aneh aneh Sai. Habis ini mungkin kau yang akan kebingungan mengatur anggota baru seperti mereka. Mereka juga wanita. Yah kau tahu kan wanita itu bagaimana? " ucap Gaara ringan. Sai pun hanya membuang pandangan kosongnya ke arah langit sore. Dengan senyum yang menghias di sela pipinya.
"Hn.. yah sebagai dirigen, aku akan giat untuk melatih dan mengatur mereka.." sore itu benar benar cerah. Tak ada lagi mendung yang kemarin lusa mengoar di langit kelabu di sepanjang kota Konoha.
"Oh iya, Sasuke san kemana? Akhir akhir ini aku tak pernah melihatnya?" Tanya Sai dengan penuh penasaran.
"Dia sedang mandi.. mungkin, karena kamar mandi di kamar nya habis di perbaiki. Pipa pipa itu bocor kembali" tutur Gaara.
"Dan Naruto ?" Tanya kembali Sai
"Mencari ramen. Akhir akhir ini ia jarang makan di rumah" Sai mengangguk pertanda mengerti pada Gaara. Sai pun tiba tiba beranjak dan meninggal kan Gaara sendirian di taman belakang rumah milik mereka itu. Gaara pun hanya bisa melihat punggung Sai dari belakang. Yang datang tak diundang, dan pulang tak di antar.. eh? Mirip dengan jelangkung.
.
.::~•~::.
.
Seseorang lelaki berjubah hitam berjalan tergesa ke sebuah rumah tua di ujung jalan sana. Seluruh tubuhnya terbalut kain berjahit itu tanpa meninggalkan ruang terbuka di kulitnya. Sekarang rumah tua itu berada di hadapannya. Gerbang berkarat berwarna hitam itu berdecitan saat lelaki muda itu membukanya. Dan kelelawar pun berterbangan karena suara yang mengganggu itu. Tak ada rumput liar, bahkan tanah itu terlihat sedikit gersang, padahal sehabis hujan. Ia berjinjit meniti anak tangga yang berada di depannya. Lalu merogoh sesuatu di saku nya. Hmm ternyata kunci rupanya. Lalu dengan perlahan ia memasukkan kunci di lubang nya. Alhasil pintu berhasil di buka.
Udara pengap bercampur hawa dingin menyapu rambutnya, menyusuri kerongkongannya. Ia pun berjalan entah kemana, menyusuri tiap ruang di rumah itu. Memang rumah itu sangat luas, buktinya koridor ini sangat panjang. Sehingga untuk pergi ke ruangan itu terasa sangat lama.
Koridor dengan lukisan wajah wajah manusia yang berjaya pada tahunnya. Madara Uchiha salah satunya, dengan bingkai paling besar. Yang juga di kenal sebagai presiden kenamaan di kota Konoha, di kenal sebagai presiden paling kejam di masanya. Tibalah ia di ujung sana, terlihat sebuah pintu kayu dengan obor menyala nyala di sampingnya. Membuka nya dengan perlahan..
"Maafkan aku, tuan. Aku sedikit terlambat" ucapnya sambil menunduk pada sesosok mahluk yang pucat berada di depannya. Tepatnya duduk manis di sebuah kursi berbahan rotan yang berada di depannya. Mahluk pucat itu hanya menatap dingin lelaki muda yang sekarang sedang membuka jubahnya itu. Mahluk pucat itu tersenyum bengis padanya. Pada lelaki yang mempunyai kulit yang sama sama pucat sepertinya, dan di susul tertawa oleh mahluk itu.
"Hahahaha! Kau selalu begitu... jangan terlalu formal... Sai" ucapnya sambil tertawa terbahak bahak pada lelaki yang bernama.. eh? Tunggu dulu? Siapa?
"Kabari aku sebuah kabar, Sai. Apakah Sasuke telah menemukannya?" Tanya mahluk berambut panjang berwarna hitam lurus di depannya. Pemuda yang belakangan ini bernama 'Sai' itu hanya terdiam, lalu kemudian angkat bicara.
"Tidak.. belum tuanku. Tapi beberapa hari ini mereka mengadakan sebuah pencarian
anggota baru. Yang anggota lamanya telah hilang dan mati." Sai berujar tegas.
"Kau adalah pengikutku yang paling berguna Sai. Kurun 2 tahun ini kau ku suruh memata-matai Sasuke. Dan kau bekerja padaku dengan sangat baik. Jika kau sudah melakukan tugas ini hingga selesai, adik dan kakak mu akan aku bebaskan" Sai memincingkan mata pada mahluk itu. Menatapnya tajam, dan dingin.
Sai menatap perih pojok langit langit di ruangan gelap itu, teringat akan kakaknya yang berambut biru itu. Dan juga teringat adiknya. Seseorang yang selalu menyemangatinya dulu. Sebelum iblis itu merenggutnya dari kedua tangannya. Dan menyuruhnya memata matai Sasuke yang telah terikat perjanjian dengan iblis kejam itu. Tiba tiba Sai tersenyum. Lalu berbisik pada dirinya sendiri. Sangat pelan.
"Kau tetap saja seorang iblis kejam.."
.
TBC..
.
.::~•~::.
.
Chapter dua selesai! Di bulan Ramadhan ini. Hah lega nya. Tapi tetep punya utang chap selanjutnya. Aku ucapin xie xie, thank, arigatou yah pada semua yang telah men support author dengan membaca dan me review nya. Oh iya.. RnR pleaase yah? Kritik dan saran saya terima, bahkan flame pun saya terima. Jika author punya salah mohon maafin yah? Masa di bulan Ramadhan gak mau di maafin sih?.
