Hai reader san! Keluar lagi nih fic milik Nanda. Setelah melalui jalur meditasi yang berat *helleh, hiraukan!* dan juga karena tiba tiba terkena penyakit sindrom moody nih, yang membuat Nanda gak mood mau nulisnya. Dan syukurlah jadi walaupun lemott. Pokoknya fic ini pasti berisi hal hal yang bersifat OOC, abal, bergelimang Typos di mana mana! Ingin marah? Salahkan Author gila yang nulis hampir tengah malam seperti ini. Namun ngepost nya malah siang siang. Gaje kan? Masih berminat membaca tuan, nyonya? Saya sudah berceloteh ria *hirau kan saja dia* dan juga berisi peringatan peringatan yang lainnya, yang sering di temui.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Alur jalan cerita © Nanda Salsabila

.

9th Symphony

Chapter ketiga: The Another Creature

.

.

.

Anggaplah ini dua minggu setelah ajang pencarian anggota di grup Ovvotos philharmonic orcestra.

Gerbang raksasa berdiri kokohnya di depan sana. Gerbang yang melingkar menutup keindahan rumah megah didalamnya. Hujan di luar sana membuat suasana semakin mendingin. Hanya ada beberapa gadis cantik yang duduk di dalam sebuah limosin putih dan sedang menunggu untuk sampai ke arah destinasinya. Yang satu tidur, yang satu lainnya membaca buku novel dari penulis terkenal Agatha Christie, yah siapa sih yang tak kenal dengan penulis terkenal seperti Agatha Christie. Psst, sekarang bukan saatnya membahas Agatha, namun keadaan di dalam Limosin putih tersebut. Dan yang satu lainya hanya menghadap ke arah jendela di sampingnya. Rinai hujan basahi kota Konohagakure pada hari itu, membuat kaca kaca mengembun di buatnya. Yah, tapi itu bukanlah masalah bagi gadis bersafir emerald itu. Ia masih bisa melihat walau buram.

Menunggu sampai ke tempat 'Eksekusi' mereka, mereka tak ambil pusing tentang ocehan beberapa orang yang sengaja memarahi mereka karena meledek beberapa pendiri orkestra itu. Walaupun mereka tahu mereka akan di kucilkan karena akan dilatih beberapa bulan dan tinggal di rumah megah dengan gerbang berukuran jumbo yang sedang di buka agar limosin itu sampai di dalamnya. Seperti hal nya anggota lainnya, mereka menyebut ini sebagai 'memeras'.

Oke, mereka memang akan tinggal sementara di rumah yang kini terlihat berdiri kokohnya di depan mereka. Mereka hanya dapat melihat rumah itu dari jendela yang kini sedikit mengembun itu. Dengan satu sentakan, pemberhentian limosin itu benar benar tak dapat di bilang memuaskan. Berhenti mendadak bisa saja membuat jidat orang yang lengah terantuk kedepan. Sang supir keluar limo itu sambil membawa payung besar miliknya. Berjalan menuju belakang dan membukakan pintu tempat keluarnya tiga gadis yang kebetulan memakai warna baju yang sama itu, hijau!

Sakura perlahan menuju keluar saat sang supir membukakan pintunya. Kaki jenjang nya melangkah menuju kerumah megah itu dan diikuti oleh Hinata lalu Matsuri. Tak ada penyambutan yang berarti, mungkin hanya beberapa pelayan yang menunduk dan menyambut sedikit mereka. Bahkan pemilik rumah itu pun nampaknya sedang tak ada di rumah.

"Tak ada mereka, lalu kenapa mereka menyuruh kita untuk datang ke sini. Menyusahkan!" Ketus Matsuri entah pada siapa sembari mengelus pundaknya yang sedikit basah terkena air hujan.

Pintu besar itu terbuka lebar, ketiga dara cantik itu pun hanya bisa menganga saat Sasuke membuka daun pintu itu dengan wajah datar kesukaanya. Perlahan lahan terlihat dua orang lagi di sampingnya yang satu dengan senyum lebarnya, yang satu dengan tatapan tajamnya pun terlihat tatkala pintu itu telah terbuka sempurna.

"Ahh, ayo masuk nona nona! Jangan sungkan sungkan yah!" Ucap si rambut kuning sambil mempersilahkan mereka masuk. Ternyata banyak sekali pelayan yang berada di rumah itu. Seluruhnya berbaris rapi searah dengan tiap lengkungan dari rumah itu.

"Aku tak percaya, rumah yang hanya berisi tiga orang saja.. pelayannya sebegini banyak." Cerocos pelan Sakura.

Mereka mulai berjalan kedalam rumah mewah itu. Tiap desain ruangannya berbeda beda, ada yang bergaya Roma, Turki, Spanish, dan sebagainya. Benar benar rumah yang unik dan sangat luas. Jendela kaca yang besar membuat cahaya nya menari nari di ambang ruang-ruang luas itu. Termasuk cukup bersih, walau kadang terdapat bungkus ramen instan di meja.

"Pelayan, antar mereka ke kamar nya!" Perintah semena mena Sasuke pada pelayan di sampingnya, dan di balas anggukan oleh pelayan itu.

Ketiga lelaki itu pun pergi berlalu bersama angin. Hinata mendengus pelan karena mereka seenaknya datang pergi kemana saja.

Pelayan itu pun menunjukkan kamar yang akan mereka tinggali. Namun Sakura terlihat memincingkan mata pada lantai kedua yang terlihat oleh kedua matanya. Tak ayal, ia pun kini berjalan menuju lantai dua dan tak menghiraukan ajakan pelayan itu.

'Ada apa di sana? Kenapa sepertinya sangat gelap? Apa jangan jangan..'

Sakura meneruskan langkah nya. Menyusuri tiap lekuk ruang tanpa hiruk pikuk yang berarti. Matanya masih terpaku di satu titik ruangan di sana. Pintu ruangan itu terbuka, namun sepertinya tak ada mahluk hidup yang berada di dalamnya. Sakura merasakan hawa dingin menyusup tatkala ia sudah sedikit dekat dengan ruangan itu.

'Hawa ini.. sangat gelap. Aku.. tak pernah merasakan hawa segelap ini sebelumnya'

Ia menyusuri tangga berlikuk miring itu. Entah apa yang di rasakan Sakura hingga ia menggigit bibir bawahnya kuat kuat. Tak memikirkan bahwa jika ia bertahan lebih lama pada posisi itu bibirnya bahkan akan berdarah.

Sakura berhenti pada tangga terakhir. Kakinya terasa tercekat. Melihat aura gelap yang mengoar di ruangan itu membuatnya bergidik sejenak. Ia memandang kepergian Hinata dan Matsuri yang tanpa mereka sadari kini ia telah berada di lantai kedua.

Ruangan itu penuh. Kebanyakan berisi alat alat musik berat. Banyak terdapat alat musik gesek, woodwind, brass, petik dan sebagainya. Ia tahu, sebenarnya ini terlalu mainstreams tapi apalah daya, telah terlanjur ia menaiki tangga.

Ia melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan 'latihan' itu. Sepertinya itu seperti ruangan latihan bagi mereka.

'Krieek'

Pintu itu berdecitan saat ia membukanya. Bukanya tidak sopan dan lancang tanpa seizin pemiliknya masuk keruangan itu. Hanya saja, ia benar benar harus memuaskan rasa keingin tahuannya yang tak pernah surut itu.

Sakura melangkahkan kaki jenjangnya ragu, namun tetap ia paksakan.

Well, ruangan itu tak seseram yang di bayangkan. Banyak lampu dan jendela kaca yang besar. Yah ruangan itu sangatlah luas, sejauh mata memandang hanya terlihat tumpukan alat alat orkestra itu. Ada yang kecil dan ada juga yang berukuran jumbo.

Ekor mata Sakura sedikit memincing dengan sebuah piano hitam yang berada di paling ujung di ruangan itu.

Tak tahu apa yang merasukinya, ia seperti tersedot ke sana. Seperti magnet yang saling tarik menarik, trumpeter muda berbakat itu terlangkah menuju delapan puluh delapan tuts piano yang sedang diam tak bergerak di sana, menunggu di tekan.

'Piano itu menarikku, aku tapi tak tahu mengapa ini sangat menarik'

Ia duduk di kursi kecil di depannya yang berwarna senada dengan piano itu sendiri.

"Flawless.." desahnya sambil mengelus tiap senti dari piano apik itu. Matanya masih terpaku dengan keindahan piano itu. Padahal bisa di bilang piano itu biasa saja, hanya sebuah piano hitam biasa yang di mainkan seperti pada umumnya. Tapi aneh sekali bukan? Piano itu sepertinya memanggil manggil Sakura untuk mendentingkan nada mayor dan minor nya.

Sakura memberanikan diri untuk memencet tuts putih itu, dan.. piano pun mulai berdendang.

Awalnya hanya nada nada standart, namun lama ke lamaan nada itu membingkai indah. Nada yang ia mainkan seperti di partitur di depannya. Tak ayal ia benar benar menikmati permainannya. Dengan menutup kedua kelopak matanya. Membiarkan jemari mungilnya berdansa liar di tuts putih dan hitam itu.

Tunggu, bagaimana ia bisa memainkan piano?

Padahal ia seorang trumpeter?

ternyata Sakura ini lahir dari keluarga pemusik juga. Kakek dan ibunya adalah seorang pemain piano, maka jangan tanyakan lagi, ia juga bisa bermain piano. Walaupun permainan piano nya tak se sempurna kakek dan ibunya. Dan dia lebih mementingkan permainan trumpet yang di ajarkan ayahnya. Sempat ia pergi hanya untuk belajar seni trumpet bersama ayahnya di Kirigakure saat ia baru berumur delapan tahun. Memang Kirigakure terkenal kota bermusik Dan sejak itulah ia belajar dengan cepat dan mulai mahir memainkannya.

Permainannya sudah mulai mencapai klimaks nya. Satu nada di ambang minor melengking hebat dan menggema di ruangan luas itu. Dengan satu sentakan terakhir nada itu pun terhenti. Sakura pun membuka manik emerald nya. Tak menyangka permainannya masih lumayan padahal sudah tiga bulan ia tak menyentuh piano ibunya. Paling paling ia hanya dapat mendengar dentuman nada piano yang di mainkan adiknya yang sepertinya akan sangat mahir di bidang yang di geluti ibunya itu.

"Hihihihi..."

Manik Sakura membulat panik saat ia mendengar suara kikikan anak kecil. Sepertinya ada seseorang yang memperhatikan permainannya dari awal sampai akhir. Matanya masih bergerak gerak mencari suara nyaring di seluruh ruangan itu. Ia pun berniat beranjak dari tempat duduknya, namun kemudian ia sendiri tercekat karena ia tak bisa bangun dari kursi mungil berwarna hitam itu. Tiba tiba ada udara yang berhembus di lehernya. Pikirannya sekarang melayang, gigi giginya bergemelatuk kan. Peluhnya menetes deras seiring dengan pernafasannya yang tak stabil. Aura gelap menyingsing di ruangan itu.

Tak ada matahari di musim hujan ini. Menambah aura suram di ruang itu.

"S-s-s-si-siapa k-k-kau?" Tubuh Sakura bergetar hebat saat udara yang di hembuskan di lehernya itu semakin lama semakin dingin.

Degg

Sakura merasakan sesuatu berbenturan dengan gigi giginya di dalam mulut nya. Tangannya mencoba meraih benda itu, dengan gemetar ia buka perlahan mulutnya. Dan ia merasakan ada benda keras di sela sela lidah dan giginya. Ia pun mengambilnya.

Singg

"Dia mendekat.."

Tangannya perlahan membuka benda yang di ambilnya dari dalam mulutnya itu.

Tiba tiba..

Iris zamrud matanya membulat panik tatkala ia melihat benda itu. Nafas anak kecil itu masih berhembus. Sepertinya ia masih berdiri di belakang Sakura.

"Dia mendekat.." suara anak kecil di belakang Sakura itu tetap terucap pelan. Ia membuka lagi tangannya. Sakura tak percaya..

Dua gigi gerahamnya yang berlumuran darah itu benar nyata. Yang ia rasakan di mulutnya adalah gigi gerahamnya yang copot sambil mengeluarkan darah yang banyak.

NGINGG

Ia menutup lagi telapak tangannya dengan goyah. Matanya sayu. Perlahan ia menoleh ke arah belakang nya dengan bergetar hebat. Sakura meneguk ludah pahit yang ia rasakan dalam dalam. Jantungnya seakan mau jatuh. Jantungnya berdetak lebih kencang daripada biasanya tatkala melihat kaki anak itu tak menapak di lantai, melainkan seperti melayang di atas tanah. Hawa dingin masih tetap berkelakar di ruangan itu. Dingin, dan sangat gelap seperti yang di rasakan Sakura.

Ia tak bisa mengintrol laju pernafasannya. Matanya berkedip lebih sering dari biasanya. Jantungnya berdetak seperti terkena serangan jantung, bahkan lebih.

Tangan Sakura terasa dingin. Keringat bercucuran dari punggung di balik bajunya.

Kaki itu berwarna biru dengan otot otot yang telah menghitam. Sakura memberanikan melihat sosok itu. Kuku gadis kecil itu berwarna ungu.

"Dia mendekat.."

suara yang di lantunkan gadis itu benar benar seperti sebuah bisikan. Alis Sakura berkedut tatkala melihat baju bersimbah darah milik gadis itu. Gaun putih dengan genangan darah segar melingkupi anak kecil itu. Satu jari telunjuknya putus dan telunjuk yang lainnya hampir putus. Darah hitam bercucuran di lantai itu. Sekarang bahkan Sakura kehabisan nafas nya. Mulut Sakura menganga lebar dan segera ia tutup dengan kedua telapak tangannya.

Melihat pemandangan ganjil di depannya membuatnya tak bisa berkata sepatah kata apapun. Ia ingin menjerit namun tak bersuara, ingin teriak namun tak terdengar. Hanya peluh yang sedari tadi menetes deras dengan detakan jantung nya yang kencang menjadi nada gelap yang ia rasakan.

Dingin di kulitnya, itu yang ia rasakan sedari tadi saat melihat rupa anak kecil itu tadi.

Mulut gadis itu sobek dari telinga kanan sampai telinga kiri dengan menyucurkan darah hitam pekatnya. Mulutnya menganga lebar memperlihatkan darah dari dalam terongkongannya menuju sekujur tubuhnya. Gadis kecil itu melotot tajam pada Sakura. Ia tak memiliki bola mata, hanya sepasang mata membiru dan kantung di bawahnya. Rambut gadis itu berwarna coklat dan berantakan, tak karuan. Telinga kanan gadis itu nyaris putus, dan masih menggantung dan bertumpu di kulit daun telinganya.

CKLEEK

"engh..ssh.." desis Sakura saat ia merasa tangan kananya sakit. Dengan cepat, ia mengibas ibaskannya pelan. Ia mengangkat jari telunjuknya ke arah bibirnya dan meniupnya dengan tak teratur karena ia benar benar hampir kehilangan nafasnya.

"Haaaaahh.." desah anak kecil itu sambil membuka lebar lebar mulut robeknya. Dan darah mulai bersimbah lagi. Dia memandang di satu titik di ruangan itu. Tiba tiba raut wajahnya berubah menjadi sedikit ketakutan. Gadis kecil itu mencengkram gaun 'hitam' nya kuat.

"Ap.." dengan cepat Sakura menutup mulutnya lagi . Ia sepertinnya ingin kehilangan kesadaran. Jantungnya hampir berhenti melihat pemandangan itu terpapar di depannya, sepertinya sudah tak kuat menahan segalannya. Dengan miris ia mencabut kuku di jari telunjuknya yang sudah hampir putus dengan sendirinya itu itu.

"Aaah, aggh.." ronta Sakura saat melihat sendiri kukunya ia cabut. Dengan perasaan ngeri, ia melihat sendiri bagaimana kulit jari nya terkelupas bersamaan dengan daging segar miliknya seakan tercabik. Tersayat dengan sendirinya.

"Aaargh! Hiks.."

Darah segar mengalir di tangannya yang membuat gadis kecil itu mulai cekikikan lagi dengan lantangnya.

Sakura pun memberanikan diri menatap wajah gadis itu. Gadis itu kini terlihat sedikit Ketakutan. Ia melirik pojok pojok ruangan itu dengan sedikit ketakutan. Seperti ada yang telah menakut nakutinya. Mata gadis kecil itu memincing tak tentu arah destinasinya.

"NGAAAHH.."

Ia pun menunjuk dengan ke empat jari nya yang masih utuh ke arah pojok di samping Sakura. Sesekali gadis itu meringis ketakutan dengan apa yang ia tunjuk sendiri.

Gadis itu pun melayang sambil berteriak dan menjerit dengan sangat kencang.

"DIA MENDEKAT!" Sakura terlonjat kaget dan gadis itu melayang dengan cepat dengan darah bercucuran di lantai putih ruangan itu. Lalu gadis itu pun hilang, seperti meledak.

Dengan kekuatan seadanya, Sakura melangkahkan goyah kakinya menuju ambang pintu keluar. Ia menyeret paksa kaki kirinya yang sudah mati rasa dengan gemetar. Peluhnya membanjiri wajah oval putih miliknya. Bajunya seakan bersimbah keringat dingin, itulah yang di rasakan Sakura saat ini.

Perlahan namun pasti ia hampir sampai di pintu itu. Ia pun mencoba membuka grendel pintu itu, namun tak bisa. Ia lemas, tak bertenaga bahkan untuk membuka daun pintu sekalipun. Akhirnya ia pun hanya mengetuk pelan pintu itu sambil sesekali berucap kata 'tolong' dari bibir mungilnya.

.

.

.

.

A/N:

Huuaah, kelar juga chap ini. Chap yang menguras banyak sekali pikiran dengan adegan horror ini. Btw.. menulis genre horror itu.. susahnya minta ampun yah XD. Yang pintar bikin genre ini angkat tangan dong? Ajari Nanda bikin nya XD. Sempat berfikir lho, genrenya saya ganti Horror! Tapi ga jadi deh, orang sudah Supernatural *cengengesan pada layar monitor*.

Ngemeng ngemeng, Sedikit cerita yah minna. Saya itu kan buka Ffn, niatnya itu baca baca bacaan yang bergenre Horror buat referensi, kan Nanda baru pertama nulis ini. Seingat Nanda, saat itu jam sebelas malam deh. Dan beneran deh, Saya sedikit parno karena bacaan itu serem banget. Yah gitu, Nanda ngerasa di samping kasur Nanda itu kayak ada orang berdiri gitu. Tapi yang kayak gini sudah sering banget Nanda rasa'in di kamar Nanda, tapi entah memang ada atau tidak Nanda juga tidak tahu. Sempet keingat juga sih, cerita bapak Nanda. Yah kan gitu, Bapak itu punya sixth sense gitu. Bisa bicara dan berinteraksi sama mahluq astral. Pernah bilang sama Nanda juga bahwa di rumah Nanda itu ada perjaga nya di depan kamar mandi. Orangnya itu besar dan tinggi gitu. Pernah juga, katanya bapak di datangi kayak sejenis hantu yang hanya setengah badan gitu. Dan berjalan dari arah dapur ke ruang Keluarga dengan 'ngesot' dan usus nya itu katanya amburadul gitu. Huhh, Hati hati minna, di belakang kalian XD.. *ada yang udah ngerasa bulu kuduknya berdiri?*

Oke readers san, bye. Ketemu lagi fi chap depan okay?

Dont forget to leave a review ^^…