Wasurenaide 2
Bunga-bunga sebagian menampakkan kuncupnya, sebagian sudah membuka mahkotanya, dan sisanya masih menunggu waktu untuk menunjukkan dirinya.
Musim semi.
Awal musim setelah musim dingin yang menyelimuti Seoul, menjadi awal untuk tahun ajaran baru, termasuk para mahasiswa dan mahasiswi yang memulai tahun ajaran baru di universitas mereka.
Termasuk sang putra mahkota, dan calon tunangannya, Jung Yunho dan Kim Jaejoong. Mereka tampak pergi berdua menggunakan limosin khusus kerajaan.
Yunho mengenakan polo shirt berwarna putih hari ini. Dipadukan dengan jeans berwarna biru tua dan topi warna coklat muda, membuat siapa saja kagum padanya. Tak heran banyak yeoja yang ingin menjadi sandingannya.
Sementara Jaejoong mengekor di belakang Yunho sambil menundukan kepalanya. Dia cukup manis hari ini. Dengan kemeja berwarna baby blue dan bolero berwarna abu-abu serta celana jeans hitam dengan sepatu berwarna coklat tua. Dia memakai tas selempang berwarna coklat tua yang bertengger di bahu kirinya.
Jaejoong terus menunduk sampai hidung mancungnya menabrak punggung tegap Yunho, membuat namja cantik itu menggosok hidungnya dalam keadaan menunduk.
Yunho berbalik dan sedikit berteriak kepada namja cantik itu "Ya! Jangan menabrakku!" ucapnya kemudian langsung pergi meninggalkan Jaejoong yang kaget karena omongan Yunho.
Dia lebih terkejut lagi ketika melihat Yunho menghampiri seorang wanita cantik dengan rambut panjang, hidung mancung, bibir yang merah, mata dengan manik hitam yang anggun, kulitnya yang putih dibalut dress warna merah yang menawan.
'Cantik,' ucap Jaejoong dalam hati.
Yeoja itu tersenyum mendapati Yunho mendatanginya. Yunho kemudian duduk di sebelah yeoja itu.
Sakit.
Ini terlalu sakit.
Calon tunangannya lebih memilih bersama dengan orang lain.
Memamerkan gigi putih yang terjejer rapi dan jangan lupakan senyum manis yang dilontarkan untuk yeoja itu.
Senyuman itu.
Apakah pernah untuk Jaejoong? Pernahkan Jaejoong mendapatkannya?
Jawabannya, tidak.
Seringaian yang terukir di bibir hati itu seperti mengejek.
Senyuman kecut menandakan tidak suka saat bersama dengan Jaejoong.
Jaejoong hanya menatap sendu calon tunangannya.
Dia terdiam di koridor depan ruang dosen.
Mencengkram dada kirinya.
Tak lama dia melepas cengkramannya.
Menatap Yunho yang tersenyum manis dari bibir dengan tahi lalat di atasnya itu.
Tak lama, dia ikut tersenyum.
Tersenyum karena melihat senyuman dari tunangannya yang sangat menawan.
Dengan senyuman, dia kembali berjalan menuju kelasnya setelah kemarin sudah diberitahu dimana kelasnya, meninggalkan Yunho bersama yeoja cantik itu, BoA namanya.
'Asalkan kamu bahagia Yun.. Asal senyuman itu tidak pernah hilang dari bibirmu, aku rela melakukan apapun untuk terus menjaga senyumanmu,' ucapnya dalam hati ketika dia menoleh ke belakang dan masih melihat Yunho masih berbincang dengan hangat dengan BoA.
.
Jaejoong menaruh tasnya di meja dekat dosen, di paling depan. Hari ini mata kuliah musik dasar, dia harus bisa belajar dengan baik.
Hanya dirinya yang ada di kelas saat ini.
Waktu sudah menunjukan pukul 07.30, 30 menit lagi kelas akan dimulai.
Ini tahun ketiga Jaejoong masuk ke dalma universitas, tetapi hari pertamanya menginjakan kaki dan belajar di DongBang University setelah sebelumnya di ShinKi University. Dia dipindahkan agar bisa terus bersama dengan Yunho.
Jaejoong memasang earphonenya, menyalakan lagu dengan nuansa klasik yang bisa membuatnya tenang. Earphone berwarna putih itu melekat di telinganya.
Dia menumpukkan tanggannya di atas meja berwarna putih.
Dia menaruh kepalanya di atas kedua tangannya.
Menutup mata doe indah itu perlahan, menghayati setiap bait alunan lagu.
Biola, viola, cello, piano, terompet, flute, saxophone, semuanya menjadi satu di alunan lagu berjudul 'Bolero' itu.
Sudah jadi rutinitasnya mendengar lagu tersebut setiap harinya. Baik dalam bentuk musik klasik, maupun dalam bentuk vocal.
Lagu itu seerti motivasi baginya untuk selalu berjuang menghadapi hari walaupun berat.
.
Dua orang namja berjalan berbarengan menuju kelas mereka.
Namja pertama memakai kacamata berbingkai kotak warna hitam, rambutnya ditata ke atas. Dia memakai kaus berwarna putih dengan kemeja kotak-kotak merah. Tingginya sekitar 190 cm. Tas backpack berbahan kanvas pada kedua bahunya terlihat menggembung, tanda banyak sekali barang bawaannya. Kakinya yang panjang terbalut jeans warna biru cerah. Nama namja itu Shim Changmin.
Di sebelah kirinya, Park Yoochun, tampak dengan topi berwarna merah, berbaju polo shirt warna biru cerah, bercelana jeans hitam, dengan tas punggung berwarna biru, dan jangan lupakan jidatnya yang sedikit lebar.
Mereka berjalan berbarengan menuju kelas mereka yang terletak di ujung lorong lantai satu.
Mereka membuka pintu kelas sambil bersenda gurau, membicarakan pertandingan basket kemarin.
Mereka duduk di bagian sebelah kanan, dekat dengan jendela yang menghadap ke arah gerbang masuk universitas, agak jauh dari meja dosen.
Mereka terus mengobrol sampai-sampai mereka tidak menyadari ada seorang namja cantik yang sedang tidur. Ya, Jaejoong tertidur dengan earphone masih menempel di telinganya.
Waktu saat itu menunjukan pukul 07.50.
Changmin yang akhirnya menyadari kalau namja cantik itu masih tertidur padahal dosen sudah mau datang akhirnya berniat membangunkan Jaejoong.
Changmin mengguncang tubuh Jaejoong pelan-pelan sambil terus menyuruh Jaejoong untuk bangun.
Jaejoong terbangun dan membuka matanya kemudian mendongak ke arah Changmin.
Deg
Mata doe Jaejoong sekarang menjadi perhatian Changmin. Tak hanya mata, Changmin meneliti satu per satu wajah Jaejoong.
Kulit putih susu Jaejoong begitu menawan, kissable lips yang begitu menggoda, hidung mancung yang membuat dia terlihat semakin cantik.
Changmin masih terus mengamati namja cantik itu sampai akhirnya namja cantik itu mengibaskan tangannya di depan Changmin dan membuat Changmin sedikit tersentak.
"Eh? Maaf aku jadi melamun," ucapnya sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
Jaejoong tersenyum manis.
Deg.
Dua kali Jaejoong membuat Changmin terpana.
Yoochun yang melihat dari jauh penasaran dengan apa yang terjadi oleh teman yang dua tahun lebih muda umurnya itu.
Dia menghampiri meja tempat Changmin berdiri lalu menoleh ke arah Jaejoong.
Lagi, Jaejoong membuat terpana orang lain dengan senyumannya.
Lengkungan itu terhias dengan menawan di bibir cherry Jaejoong.
Yoochun yang juga ikut terpana kemudian disikut pelan oleh Changmin, tanda kalau jangan menatap Jaejoong seperti itu lama-lama.
Yoochun juga melakukan hal yang sama dengan Changmin, menggaruh lehernya yang gatal, tanda dia malu.
Kedua orangitu memperkenalkan diri mereka kepada Jaejoong.
"Annyeong, aku Shim Changmin, panggil aku Changmin. Aku pasti lebih muda 2 tahun darimu. Senang berkenalan denganmu hyung," ucap Changmin sambil tersenyum dan membungkukkan badannya.
Jaejoong berdiri, ikut membungkukkan badan.
"Annyeong, aku Park Yoochun, panggil saja Yoochun. Siapa namamu?" tanya Yoochun yang dijawab senyuman oleh Jaejoong.
Changmin dan Yoochun merasa aneh karena Jaejoong tidak membalas perkataan mereka.
Jaejoong mengeluarkan gadgetnya, yaitu sebuah note tab dan mulai menulis di sana.
'Annyeong, namaku Kim Jaejoong, mohon panggil aku Jaejoong. Senang berkenalan dengan kalian, Changmin-ssi, Yoochun-ssi. Aku lahir tahun 1986, mungkin aku hyungmu, Changmin-ssi hehehe. Semoga kita bisa berteman dengan baik.'
"Apakah tenggorokanmu sedang sakit?" tanya Yoochun.
Jaejoong menggeleng, kemudian dia menulis lagi.
'Maafkan aku, aku bisu.'
Kedua namja yang lebih manly itu kaget melihat tulisan Jaejoong.
"Bagaimana bisa hyung?" tanya Changmin.
Jaejoong terdiam sebentar, masih dengan senyuman manisnya, tetai senyuman itu perlahan memudar.
Tak lama dia menulis lagi.
'Sebuah kecelakaan telah merenggut suaraku saat aku berumur 17 tahun.'
Jaejoong tersenyum sekali lagi sementara Yoochun dan Changmin merasa iba. Mereka menatap sendu Jaejoong.
"Apa hyung sudah mencoba pengobatan?"
'Sudah. Tetapi sangat berbahaya, karena ini kerusakan pada otak. Walaupun di kemoterapi, tetap harus dilakukan operasi.'
"Operasi apa?" tanya Yoochun penasaran.
'Ada sedikit gumpalan darah di otakku yang sepertinya menyumbat aliran saraf di otak sehingga tidak bisa memberi perintah kepada salah satu inderaku. Dan ternyata itu aliran saraf untuk pita suaraku.'
"Hyung pasti bisa melakukan operasi itu," ucap Changmin memberi semangat.
'Tidak, aku tidak ingin mengambil resiko.'
Kedua namja itu terdiam. Sepertinya operasi itu sangat berbahaya.
'Aku baik-baik saja. Kalian tenang saja.' Jaejoong menunjukan tulisan itu sambil tersenyum, ingin membuat kedua orang itu berhenti khawatir padanya.
Yoochun dan Changmin kemudian ikut tersenyum. Lalu mereka mengambil tas yang ada di meja mereka dan memindahkannya ke depan, serta duduk di sebelah kanan dan kiri Jaejoong, membuat Jaejoong menggerjapkan matanya lucu, bingung dengan tingkah kedua teman barunya yang tiba-tiba duduk di depan bersamanya.
Yoochun dan Changmin yang melihat tingkah lucu Jaejoong hanya terkekeh. Teman barunya itu begitu menggemaskan.
Tak lama terlihat Yunho masuk bersama BoA.
"Ah, Yunho, bagaimana kabarmu? Kalian masih lengket ya," ucap Yoochun sambil menggembangkan sneyum jahilnya, berniat menggoda sahabat yang sudah dikenalnya dari SMP itu.
Yunho menggembangkan smirknya saat melihat Jaejoong menatap ke arahnya.
"Tentu saja, kami kan serasi," ucap Yunho sambil merangkul BoA yang duduk di sebelahnya sementara BoA juga ikut membalas pelukan Yunho.
Jaejoong membalikkan badannya, menghadap ke depan.
Hatinya tidak kuat melihat calon tunangannya berdua dengan orang lain.
"Ah iya, Yunho, kenalkan anak baru ini, namanya Jaejoong," ucap Yoochun yang mengajak Jaejoong berdiri dan menuju ke arah Yunho.
"Tidak perlu. Aku sudah tau dia. Kami berkenalan karena kedua orang tua kami," ucap Yunho masih dalam posisi merangkul BoA.
Jaejoong melihat ke arah mereka berdua dan kemudian tersenyum walaupun hatinya perih. Yunho sama sekali tidak memperkenalkan dirinya sebagai calon tunangannya.
"Ah iya Jaejoong, kenalkan, ini BoA, pacarku," ucapan Yunho langsung menohok hati Jaejoong.
Dia memaksakan senyumannya dan kemudian langsung menghadap depan, menahan air mata yang keluar dari kedua mata doenya sementara Yunho menampakan seringaiannya, dia benar-benar sudah membuat Jaejoong merasa sedih.
Jaejoong meremat kertas yang ada di depannya, meluapkan rasa sakit yang ada di dadanya.
Changmin dan Yoochun tidak menyadari kalau Jaejoong merasa sangat sakit.
Dia merasa hubungannya dengan Yunho tidak akan semulus dalam bayangannya.
Yunho yang tidak menerimanya, ditambah dengan adanya pacar Yunho.
Apa yang bisa dia lakukan. Yunho adalah putra mahkota yang dapat berbuat apapun, sedangkan dia hanyalah manusia biasa, terlebih dia juga bisu.
Jaejoong terus menundukkan kepalanya sampai dengan dosen datang dan memiulai pelajaran.
Dia memperhatikan dosen dengan tekun dan penuh konsentrasi. Dengan cara inilah dia dapat melupakan rasa sakitnya.
.
Setelah habis jam kuliah, Jaejoong dan Yunho lalu pulang bersama ke istana walaupun dengan menggunakan mobil yang berbeda.
Sepanjang perjalanan Jaejoong hanya menghadap keluar jendela. Kang Ahjussi yang biasanya mengajaknya berbicara memilih diam melihat keadaan pangeran yang sedikit lesu.
Kang Ahjussi tidak mempermasalahkan Jaejoong yang bisu karena dia dapat merasakan kehangatan dalam hati Jaejoong dan membuat setiap orang yang bersamanya akan merasa nyaman.
"Sudah sampai pangeran," ucap Kang Ahjussi yang dijawab dengan mengerucutnya bibir cherry Jaejoong.
Jaejoong sudah meminta Kang Ahjussi untuk tidak memanggilnya dengan sebutan pangeran, menurutnya lebih baik dipanggil Jaejoong atau Jae atau Joongie.
Kang Ahjussi yang melihat Jaejoong merajuk hanya terkekeh dan kemudian membuka pintu penumpang.
"Maaf Jaejoongie," ucap Kang Ahjussi masih sambil terkekeh.
Jaejoong tersenyum dan kemudian turun dari mobil.
Kedatangannay sudah disambut oleh para pelayan.
Jaejoong tersenyum, membuat seluruh pelayan juga ikut tersenyum.
"Ah, senyuman pangeran selalu membuat kami merasa nyaman," ucap kepala pelayan yang bernama Choi Ahjussi.
Jaejoong kembali mengerucutkan bibirnya. Dia juga menyuruh semua pelayan untuk memanggil dengan namanya tetapi mereka masih saja menyebutnya dengan pangeran.
"Ini sudah menjadi peraturan di istana, pangeran," ujar kepala pelayan yang masih melihat mengerucutnya bibir Jaejoong.
Jaejoong masih mengerucutkan bibirnya sampai dia bertemu dengan Kang Ahjumma, pelayan pribadi Jaejoong. Dia langsung memeluk yeoja berumur setengah abad yang sudah bersamanya selama satu bulan di istana.
"Aigoo pangeran kenapa eoh?" ucap Kang Ahjumma melihat Jaejoong begitu erat memeluknya.
Jaejoong refleks memeluk Kang Ahjumma setelah dia mengingat apa yang terjadi di kampusnya hari ini.
Yunho yang sudah sampai duluan ke istana menatap Jaejoong yang dikelilingi banyak orang yang menyayanginya.
Yunho berdecih dan kemudian menghampiri Jaejoong yang kaget melihat kedatangan Yunho.
"Ikut aku," ucap Yunho yang langsung menyeret Jaejoong ke kamarnya.
Jaejoong sedikit gemetar, Yunho menariknya dengan kasar sampai tangannya merah.
"Berhenti mengangguku," ucap Yunho dengan penekanan di awal, membuat Jaejoong kaget.
"Dan jangan katakan kalau kamu adalah tunanganku di depan BoA dan teman-temanku," ucapan Yunho membuat Jaejoong menundukkan kepalanya, dia takut melihat wajah Yunho yang marah sekarang.
Jaejoong mengangguk perlahan. Hatinya sakit saat Yunho mengatakan itu. Dia sama sekali tidak ada di dalam hati Yunho.
Matanya memanas, dia sudah tidak kuat.
Sebulan ini Yunho selalu saja menyindirnya di dalam istana, tapi dia tidak pernah menghiraukannya dan yakin kalau Yunho akan melunak dan baik padanya.
Tetapi, ntah semua hal yang menguatkannya dapat dijebol begitu saja dengan semua perkataan Yunho.
Jaejoong meremat kembali dada kirinya.
Isakan tanpa suara dan air mata menghiasi wajahnya saat ini.
Yunho yang tidak menyadari itu langsung pergi.
Kalaupun dia tahu Jaejoong menangis, dia tidak akan menenangkan namja cantik itu.
Tidak akan memeluk namja cantik itu.
Tidak akan mencium kening kepala namja cantik itu dengan lembut.
Tidak akan.
Jaejoong bertanya dalam hatinya, apakah sampai mereka menikahpun Jaejoong akan diperlakukan seperti ini.
Ingin dia berteriak untuk menolak perjodohan ini.
Tapi, raja dan ratu begitu baik padanya, begitu perhatian padanya, baik di dalam maupun di luar istana.
Hatinya bimbang.
Dia ingin sekali belari dari semua masalah.
Bukan keinginannya dia tidak bisa mengeluarkan suara indahnya.
Bukan keinginannya dia ditunangkan dnegan Yunho.
Kalau dia boleh melilih, lebih baik dia pergi ke ujung dunia, menatap di sana tanpa seorangpun yang tahu.
Airmata itu terus keluar, sampai dia terduduk di depan kamarnya.
Jangan dikira semua pelayannya tidak tahu. Mereka melihat pangeran mereka yang sering tersenyum seperti itu, hati mereka merasa teriris.
Mereka pura-pura tidak tahu mengenai permasalahan Jaejoong dan Yunho, sehingga mereka memilih untuk diam dan bersikap biasa saja.
Mereka hanya ingin selalu bersama pangeran cantik itu baik senang maupun sedih.
Namun apa daya, kalau Jaejoong tahu, namja cantik itu hanya akan tersenyum dan mengatakan dirinya tidak apa-apa sedangkan di dalam hatinya dia ingin sekali berteriak untuk menyudahi semuanya.
Semua pelayan hanya menundukan wajahnya saat melihat pangeran pemilik hati lembut itu begitu sedih.
"Pangeran, tersenyumlah," ucap Kang Ahjumma dengan sedikit terisak.
"Joongie, uljima," ucap Kang Ahjussi.
"Pangeran, tersenyumlah, anda lebih cantik ketika tersenyum," ucap Choi Ahjussi lirih.
Semua pelayan bergumam memberikan kata-kata penyemangat yang tidak bisa didengar oleh Jaejoong, berharap Jaejoong mendengarnya dan berhenti menangis.
.
Waktu makan malam sudah tiba.
Jaejoong tampak tidak bersemangat makan.
Raja dan ratu sedang pergi untuk urusan negara sedangkan permaisuri, istri dari raja sebelumnya yang sudah meninggal, memilih makan di ruangannya, serta ibu suri juga makan di ruangannya.
Hanya Jaejoong dan Yunho yang makan bersama di ruang makan.
Mereka makan dalam diam, Yunho tidak berbicara apapun sedangkan Jaejoong terus menundukan kepalanya.
Jaejoong memakan makanannya perlahan.
Bukan karena sup asparagus, kimchi, bulgogi, teoppogi, dan bibimbap Kang Ahjumma tidak enak, tapi nafsu makannya hilang.
Matanya masih mmebengkak, dia tidak ingin Yunho mengetahui hal itu.
Sebisa mungkin dia menelan makanannya, mungkin tubuhnya kecapaian karena menangis terus.
Dia mengambil note yang hanya dipakai untuk para penghuni istana dan mengirimkan pesan kepada Kang Ahjumma yang ada di ruang belajar, merapikan buku untuk Jaejoong besok.
'Kang Ahjumma, maaf makananmu tidak habis aku makan. Bukan karena tidak enak, aku tidak nafsu makan, aku ingin tidur saja.'
Pesan singkat itu mmebuat Kang Ahjumma berjalan tergesa ke arah Jaejoong.
'Nafsu makan berkurang, itu mungkin salah satu tanda bahwa pangeran akan sakit,'batin Kang Ahjumma.
Saat tiba di ruang makan, Kang Ahjumma melihat Jaejoong yang sudah berdiri, sementara Yunho bersikap tidak acuh.
Kang Ahjumma membopong Jaejoong yang terlihat lelah, kemudian memapah pangerannya itu ke kamar tidurnya.
Kang Ahjumma membaringkan Jaejoong di ranjang dan juga memeriksa suhu badan Jaejoong.
Normal.
Mungkin karena kecapaian jadi Jaejoong ingin tidur saja.
Jaejoong memejamkan matanya dan kemudian telelap.
Kang Ahjumma mengelus lembut rambut Jaejoong dan berbisik, "Selamat tidur pangeran."
Tanpa disadari Yunho sudah berdiri di ambang pintu dan kemudian berlalu.
'Kenapa aku selalu memikirkannya.. wajahku seperti aku kenal, tapi siapa dan kapan,' batin Yunho.
Dia mengacak rambutnya kasar setelah sampai ke kamar.
"Aku benar-benar dibuat pusing olehnya," ucap Yunho yang kemudian merebahkan diriya di ranjang ssampai pagi menjemput.
.
Paginya, mereka bangun seperti biasa, namun betapa terkejutnya mereka melihat kabar pertunangan Jaejoong dan Yunho akan dilakukan minggu depan.
Jaejoong kaget melihat berita di tv yang langsung menyiarkan wajahnya dan Yunho.
'Siapa yang melakukannya?' tanya Jaejoong dalam bentuk tulisan kepada Kang Ahjumma.
"Maaf pangeran, raja dan ratu yang menyuruh saya mempublikasikannya," ucap Choi Ahjussi.
'Tapi Yunho tidak ingin hubunganku dengan dia ketahuan orang lain.'
"Maaf pangeran, itu perintah raja dan ratu."
Jaejoong terdiam, apa yang akan terjadi nantinya. Kemarin saja Yunho sudah seperti itu, sebelum berita itu dipublikasikan, bagaimana setelah dipublikasikan?
Jaejoong menggigit bibir bawahnya.
Perasaan tidak enak menyelusup di dadanya.
'Tuhan, aku mohon kuatkan diriku.'
.
TBC.
Hai reader hehehe maaf updatenya lama dan tidak saya edit, jadi maaf apabila ada kalimat rancu atau typo bertebaran hehehe.
Maafkan saya kalau ada kesalahan mengenai unsur medis di dalam cerita ini. Saya sudah mencari di berbagai sumber dan dalam ff ini adalah kesimpulan dari sumber-sumber yang saya baca.
Saya sangat kaget melihat begitu banyak yang review, follow, dan fav ff ini. Terima kasih readers ^^
Bagaimana pada chapter ini? Chapter-chapter awal hanyalah pengantar dari konflik yang terjadi nanti.
Soal sedih, saya akan membuatnya cukup sedih di chapter pertengahan hehehe maaf ya readers.
Mohon terus membaca ff ini. Terima kasih atas dukungan kalian ^^
Saya tidak bisa membalas review kalian satu per satu, jadi akan saya wakilkan dalam beberapa pertanyaan yang paling banyak ditanyakan.
Mohon reviewnya readers ^^
.
Q & A
Q: Jaejoong bisu karena apa?
A: Di sini terjawab Jaejoong bisu karena kecelakaan yang mengakibatkan luka pada otaknya.
Q: Apakah ada rahasia antara keluarga Kim khususnya Jaejoong dengan keluarga Jung?
A: Ada, tunggu nanti ya, akan terbongkar hehe
Q: Apakah Jaejoong bisu ada hubungannya dengan Yunho? Apakah karena menolong Yunho?
A: hmmmmmmm.. kenapa para reader sangat cerdas hehehehe XD ok, sedikit bocoran, iya ^^
Q: Apa arti Wasurenaide?
A: Don't forget me ^^
Q: Jaejoong dekat dengan keluarga Jung tetapi kenapa Yunho seperti tidak mengenal Jaejoong?
A: Akan terjawab di chapter selanjutnya ^^
Special thanks to:
teukiangle, DahsyatNyaff , yourparadise, ifa. , , Taeripark, YunHolic, xena hwang, Dhea Kim, sycarp, kimfida62, Jung Jaehyun, meirah.1111, Vic89, MaxMin, hanasukie, exindira, Clein cassie, ShinJiWoo920202, YeyeWooKIM97, dhian930715ELF, misschokyulate2, , ryuni shakila, lipminnie, YuyaLoveSungmin, YunjaeDDiction, Guest, jaejae, kkimnensi, cristiyunisca, meybi, yuu, dienha, icha, Dipa Woon.
