Wasurenaide 3
.
"Itu bukan kemauanku, my love."
...
"Aku sendiripun tidak mau disandingkan dengannya."
...
"Kumohon mengertilah, aku hanya untukmu."
...
"Aku sama sekali tidak tertarik dengannya, aku ini bukan gay."
...
Kata-kata itu terus saja terlontar dari bibir seorang putra mahkota, Jung Yunho.
Semua kata-katanya bisa didengar dengan jelas oleh para pelayan di dalam istana, terlebih dihadapan calon tunangannya, Kim Jaejoong.
Ingin sekali dia meminta kepda Tuhan untuk menulikan telinganya sementara, menulikan telinganya dari kata-kata menyakitkan yang bisa membuat hatinya semakin sakit.
Ingin sekali dia membawa tubuhnya pergi dari ruangan yang terkesan minimalis tersebut dengan tatanan piring, mangkuk, sendok, sumpit, garpu,serbet, dan gelas yang tersusun rapi dan semuanya berwarna putih.
Dia terdiam.
Nafsu makannya kembali hilang.
Kang Ahjumma yang berada di sampingnya pun ikut terdiam. Dia tau namja cantik itu tidak ingin disentuh siapapun sekarang ini.
Jaejoong hanya mengaduk-ngaduk makanannya hingga tidak berbentuk.
Yunho kemudian kembali dan melahap makanannya.
"Kamu tahu, sekarang BoA benar-benar marah padaku karena pertunangan bodoh ini. HH seandainya ini tidak terjadi, hubunganku dengan dia pasti baik-baik saja," ucap Yunho sambil mengambil bibimbap dengan sedikit kasar.
Gerakan tangan Jaejoong mengaduk-ngaduk makanannya pun berhenti.
Kemudian dengan tergesa Jaejoong meminum air dan beranjak dari tempat duduknya, membuat Yunho berteriak kepadanya.
"Kamu mau kemana!? Aku belum selesai berbicara!" Ucapan Yunho sukses membuat Jaejoong berhenti dan menoleh kepadanya.
Dia menuliskan sesuatu pada notenya dan menunjukan tulisan yang cukup bersar sehingga Yunho bisa membacanya dari jarak jauh.
'Aku tidak nafsu makan.'
"Kim Jaejoong!" teriak Yunho membuat sang permaisuri yang sedang kebetulan melintas kemudian masuk ke dalam kediaman putra mahkota.
"Ada apa ini putra mahkota? Aku tidak mengajarkanmu untuk berteriak-teriak," ucap permaisuri yang berumur sekitar 45 tahun itu masuk bersama dengan para dayang, membuat Jaejoong membungkukkan tubuhnya, begitu juga Yunho yang menghentikan makannya dan berdiri menghormat ke permaisuri.
"Jung Yunho, inikah calon tunanganmu?" tanya permaisuri sambil menatap Jaejoong dari atas sampai bawah, membuat Jaejoong sedikit risih.
"Iya, permaisuri," ucap Yunho sambil menatap Jaejoong yang menunduk.
"Baiklah, aku ingin berkenalan dengannya. Kau, ikut aku," ucap permaisuri dengan kuasanya menyuruh Jaejoong mengikutinya.
Jaejoong menggigit bibir bawahnya, kemudian mengikuti wanita dengan kedudukan yang lebih tinggi darinya itu.
Jaejoong terus berjalan dalam diam sampai ke kediaman permaisuri yang memakai baju tradisional Korea dengan warna merah itu.
Permaisuri memasuki kediamannya yang lumayan jauh dari kediaman putra mahkota.
Pintu dengan gaya tradisional langsung terbuka lebar saat Permaisuri area kediamannya.
Terlihat pepohonan bonsai menghiasi sisi kanan halaman sementara tanaman anggrek banyak bergelantung indah di sebelah kiri halaman, dengan pot-pot berukuran kecil.
Di depan kediaman ada beberapa kolam kecil dengan banyak pajangan seperti air mancur ikan, air mancur bambu, dan jangan lupakan pajangan dengan bentuk katak yang ada di tengah kolam.
Jaejoong menatap penuh kagum kediaman permaisuri yang ada di depan matanya.
Matanya menangkap semua bayangan benda yang terpantul ke matanya, membuatnya berkata 'wow' dalam hatinya.
Permaisuri kemudian masuk ke dalam ruangan tamu sebagai ruangan pertama dari kediaman tersebut.
Jaejoong masuk dengan langkah perlahan dengan di belakangnya ada sekitar 5 dayang yang mengikuti.
Kemudian permaisuri duduk di salah satu sofa berwarna kuning gading di sebelah kanan ruangan, sementara Jaejoong duduk di depan sangpermaisuri setelah dituntun oleh seorang dayang untuk duduk.
Dayang berkemeja biru dan blazer berwarna abu-abu dengan pita yang bertengger manis di belakangnya kemudian menyajikan teh hijau untuk kedua orang dengan beda gender tersebut.
"Jadi, apakah kamu Kim Jaejoong, tunangan dari putra mahkota, anakku?" tanya permaisuri mengawali pembicaraan dan kemudian menyesap teh hijau miliknya.
Jaejoongmenganggukkan kepalanya.
"Aku dengar kamu bisu?"tanya permaisuri bermata coklat itu.
Jaejoong kembali menganggukkan kepalanya pelan.
Sang ratu menyunggingkan senyumannya.
"Sejujurnya aku menolak perjodohan itu," ucap permaisuri sambil kembali menyesap teh hijaunya.
Mendengar pernyataan itu Jaejoong semakin tertunduk.
"Dan taukah kamu kalau Yunho juga tidak ingin dijodohkan denganmu?" pertanyaan itu kembali membuat Jaejoong mengangguk kembali.
"Kamu tahu kan kalau Yunho tidak suka padamu dan akhirnya memilih BoA?" kembali, Jaejoong menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Hatinya sakit.
Semua keadaan yang ada di depannya adalah kenyataan yang pahit.
Dia harus menelannya mentah-mentah.
Dia harus tetap membuka telinganya mendengar kata-kata menyakitkan.
"Kalau begitu, pergilah dari kehidupan Yunho."
Bagai disambar petir di siang hari, Jaejoong begitu kaget.
Tak disangka dia langsung disuruh menjauh dari Yunho.
Bibirnya bergetar, dia terlalu kaget untuk semua ini.
"Kalau raja dan ratu tidak mengijinkan, mintalah kepada Ibu Suri. Kalau Ibu Suri tidak mengijinkan juga, berlututlah terus di ruang hukuman sampai mereka mengijinkan. Kenapa? Aku tau kamu menyukai Yunho, tetapi kamu juga ingin melihatnya bahagia bukan? Kalau memang ingin melihatnya bahagia, jauhi dia," ucap permaisuri yang diketahui bernama Jung Ahra atau Go Ahra.
"Aku yang membesarkan Yunho, walaupun bukan aku yang melahirkannya karena yang melahirkannya adalah Jung Taehee, sang ratu. Aku mengangkat Yunho menjadi anakku setelah suamiku meninggal sesaat kami baru saja melangsungkan pernikahan di kerajaan ini. Jung Siwon, suamiku adalah kembaran dari raja. Seharusnya keluargakulah yang menjadi raja, bukan Jung Ilwoo. Aku mengangkat Yunho sebagai anakku waktu dia berumur 5 tahun. Kamu boleh dekat dengan raja dan ratu, tetapi tidak dengan anakku. Oleh karena itu, pergilah dari kehidupan anakku, anakku tidak pantas denganmu."
Tubuh Jaejoong melemas.
Benar-benar sakit hatinya.
Dia sudah tidak ingin merasakan sakit lagi.
Jalan satu-satunya hanyalah mundur dari pertunangan ini.
Tapi..
Dia sadar dia mulai menyukai Yunho.
Ingin berada di sampingnya.
Ingin selalu menguatkannya.
Ingin selalu memberi Yunho senyuman terindahnya.
Tidak, dia harus menolak permintaan permaisuri.
Dia harus bisa mempertahankan Yunho.
Dia mengangkat wajahnya menghadap sang permaisuri, menggelengkan kepalanya lalu mengambil note dan menuliskan sesuatu di sana.
'Maaf permaisuri, hamba tidak bisa.'
Setelah membaca tulisan itu, permaisuri menjadi geram.
"Tidak tahu diri, bukankah Yunho tidak menyukaimu!?"
'Tapi aku berhak menyukainya.'
"Kau..!" respon dari Jaejoong membuat permaisuri tidak suka.
Jaejoong kemudian menunduk, menghormat, dan pergi dari hadapan permaisuri yang masih mengatur emosinya.
'Ini akan susah,' batin permaisuri sambil kembali ke kamarnya.
Jaejoong berjalan dan tanpa sadar menoleh ke sebuah kediaman yang belum pernah disinggahinya.
Sebuah bangunan tradisional menjulang tinggi, terlihat begitu megah, paviliun Ibu Suri.
Dia memberanikan dirinya memasuki kediaman dengan pintu kayu bergaya tradisional itu.
Dia melangkahkan kakinya perlahan.
Seorang dayang Ibu Suri memberitahu Ibu Suri kalau ada Jaejoong.
Ibu Suri sedang membaca buku saat itu kemudian mempersilahkan Jaejoong masuk.
Wanita yang sudah berumur sekitar 60 tahun itu senang dengan kedatangan Jaejoong.
Sudah sebulan ini dia menantikan Jaejoong untuk datang kepadanya tetapi Jaejoong selalu sibuk dengan urusan kuliah, menyibukan diri tepatnya.
Jangan heran Ibu Suri begitu menantikan Jaejoong karena Ibu Suri lah yang meminta kepada raja dan ratu mengenai perjodohan Jaejoong dan Yunho setelah mengetaui apa yang terjadi pada Jaejoong dan Yunho beberapa tahun yang lalu.
Jaejoong menghormat dan kemudian duduk di depanIbuSuri.
IbuSuri tersenyum pada Jaejoong dan Jaejoong juga tersenyum padanya.
Sepertinya senyuman Jaejoong juga bias menyihir Ibu Suri, buktinya dia memuji Jaejoong saat ini.
"Aigoo, benarkah ini Kim Jaejoong? Tunangan dari putra mahkota? Benarkah kamu namja? Kamu cantik sekali," ucapan Ibu Suri membuat Jaejoong mempoutkan bibirnya reflex karena Ibu Suri berkata kalau Jaejoong cantik.
Ibu Suri terkekeh melihat tingkah lucu Jaejoong, Jaejoong yang sadar karena mempoutkan bibirnya kemudian mengulum bibirnya danmenggigit bibir bawahnya.
'Manisnya. Aku tidak salah pilih,' ucap Ibu Suri dalam hati ketika melihat Jaejoong yang polos.
'Aigoo bagaimana bias aku mempoutkan bibir di depan IbuSuri,' batin Jaejoong meruntuki tingkahnya.
Mereka sempat terdiam beberapa detik sampai akhirnya Ibu Suri kemudian memulai pembicaraan mereka kembali.
"Boleh aku memanggilmu dengan sebutan Joongie?" Tanya Ibu Suri, membuat Jaejoong menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Joongie, bagaimana kabarmu? Apakah kamu baik?" Tanya Ibu Suri.
Jaejoong mengeluarkan notenya dan mulai menuliskan sesuatu di sana.
Ibu Suri yang dari semula sudah mengetahui kalau Jaejoong bisu, dengan sabar menunggu jawaban dari Jaejoong.
'Hamba baik-baik saja, terima kasih sudah menanyakan kabar hamba. Bagaimana dengan Yang Mulia Ibu Suri?'
"Aku baik-baik saja. Apakah kamu sudah makan? Bagaimana kalau kita makan bersama? Hari sudah mulai siang."
'Baik Yang Mulia.' Jaejoong tersenyum sambil bangkit berdiri, mengikuti sang Ibu Suri yang berjalan ke arah depan ,sepertinya mereka akan makan di ruangan tengah taman.
.
.
"Joongie." Panggilan Ibu Suri membuat Jaejoong menoleh.
"Apakah kamu menyukai Yunho?"
Wajah Jaejoong bersemu merah. Bohong kalau dia bilang kalau dia tidak jatuh cinta pada putra mahkota.
Baru sekarang ini Jaejoong jatuh cinta dengan putra mahkota? Tentu tidak.
Mereka baru bertemu belakangan ini?
Jawabannya juga tidak.
Mereka sudah bertemu sebelum adanya pertunangan ini.
Ya. Beberapa tahun yang lalu.
Jaejoong mengingat betul pertemuan dengan Yunho.
Sangat mengingatnya.
Bagaimana dengan Yunho?
Tampaknya namja itu tidak mengingatnya sama sekali.
Atau memilih untuk melupakannya?
Jawaban itu hanya Yunho yang tahu.
Kembali ke Jaejoong.
Muka Jaejoong yang masih memerah itu semakin membuat Ibu Suri semakin gemas.
"Makan yang banyak Joongie," ucap Ibu Suri sambil memberikan berpotong-potong bulgogi ke mangkuk Jaejoong sampai Jaejoong menghentikan gerakan Ibu Suri yang terus memberikan potongan bulgogi tersebut.
Jaejoong memakannya dengan lahap, terang saja, dia tidak makan dengan benar belakangan ini, terlebih tadi dia tidak makan.
"Pelan-pelan Joongie," ucap Ibu Suri yang sukses membuat Jaejoong memakan makanannya perlahan.
"Kamu lapar hm?" tanya Ibu Suri dan kembali pipi Jaejoong memerah karenanya.
"Makan yang banyak." Ibu Suri tersenyum dan mengusap pelan kepala Jaejoong, membuat Jaejoong mengerjabkan matanya lucu.
'Andai suaramu tidak hilang, Joongie,' batin Ibu Suri yang merasa kasihan dengan Jaejoong.
Jaejoong terus memakan makanannya sampai habis lalu berbincang dengan Ibu Suri sampai malam hari.
.
Malam harinya, saat Jaejoong kembali ke kediamannya, dia langsung disambut dengan tatapan bengis dari Yunho.
"Pergi kamu dari istana ini," ucap Yunho datar namun sangat menusuk.
"Kamu membuat aku hampir putus dengan BoA," sambung Yunho.
Jaejoong menatap Yunho sendu, apakah perasaannya tidak akan pernah terbalas?
Dia memilih jalan ke arah ke kamarnya dibandingkan mendengarkan cacian dan makian Yunho kepadanya, hatinya terlalu sakit untuk itu semua.
Perasaannya yang sudah membaik setelah bertemu dengan Ibu Suri tadi, sekarang kembali sakit, bahkan lebih sakit.
"Jangan pergi! Aku belum selesai bicara, bisu!" ucapan Yunho sukses membuat Jaejoong berhenti berjalan.
'Sakit Tuhan... bisakah kamu tulikan telingaku juga? Apakah aku tidak ada pilihan lain selain selalu dimaki olehnya? Apakah benar aku harus keluar dari istana? Apakah ini takdirku?'
Ingin rasanya menjerit mendengar semua ucapan Yunho, tetapi perasaan cintanya yangsudah dipendamnya selama 5 tahun ini sangat kuat.
Dia rela jika Yunho berpacaran dengan BoA, dia rela jika Yunho tidak mencainya, dia hanya ingin selalu berada di samping Yunho, menjaga Yunho, membuat Yunho senang.
Dia percaya suatuhari Yunho akan menerimanya, makanya dia terus bertahan di istana.
Walaupun makian dan hinaanyang didapatkan dari Yunho, dia selalu mencoba bertahan, untuk membuktikan cintanya dan memenuhi janjinya kepada Yunho.
Jaejoong yang terdiam sejenak kemudian mneghampiri Yunho yang masih mengatur napasnya karena tadi dia marah kepada Jaejoong.
Yunho melayangkan tamparannya ke pipi Jaejoong.
Jaejoong menutup matanya lekat. Pipinya mati rasa terkena tamparan Yunho.
Yunho yang masih emosi, kemudian pergi meninggalkan Jaejoong yang masih terdiam dan menunduk.
Setetes tetesan bening meluncur dari mata Jaejoong perlahan, kemudian menuruni pipi tirusnya dan jatuh dari dagunya. Tetesan lain juga ikut jatuh dari kedua mata doenya.
'Ini tidak sesakit hatiku, Yunnie,' ucap Jaejoong dalam hati.
Dia langsung pergi ke kamarnya, melupakan kejadian yang terjadi dan memohon kepada Tuhan untuk membawanya ke alam mimpi lebih lama.
.
Pukul 1 malam Jaejoong merasakan ada seseorang yang masuk ke kamarnya.
Dia mencium bau alkohol yang menyengat.
"BoA...," ucap namja itu yang terdengar seperti bergumam.
Jaejoong berlari menuju saklar, menyalakan lampu kamar, agar lebih terlihat siapa namja yang berani menyusup ke dalam kamarnya.
Jung Yunho.
Namja itu terlihat sangat berantakan.
Tercium bau alkohol yang menyengat dari tubuhnya.
Rambutnya terlihat tidak beraturan.
Suaranya serak.
Jaejoong dibuat cukup takut oleh Yunho yang seperti itu.
Dia terus mundur ketika Yunho berjalan ke arahnya.
Jaejoong menggelengkan kepalanya saat Yunho mulai membuka kemeja warna putih yang melekat di tubuhnya.
'Tidak, jangan Yunnie, jangan,' ucap Jaejoong dalam hati, ingin sekali dia berteriak minta tolong.
Dia langsung berlari ke pintu kamarnya, berharap bisa mmebuka pintu itu lalu kabur dari sana.
Sayang, pintu tidak bisa terbuka, sepertinya sudah sengaja terkunci.
Jaejoong mencari kunci, namun saat dia menemukan kunci yang tergeletak di meja nakas, dia melihat Yunho sudah membuka celananya dan berjalan ke arahnya.
Jaejoong makin takut.
Wangi khas alkohol masih sangat tercium dari tubuh Yunho sampai Jaejoong merasa mau muntah.
Jaejoong yang ingin melarikan diri lewat jendela ternyata keburu tertangkap Yunho dan Yunho melempar Jaejoong ke ranjangnya.
Jaejoong makin ketakutan ketika Yunho naik ke ranjang dan langsung mencengkram kedua pergelangan tangan Jaejoong.
Yunho langsung mencium kasar bibir Jaejoong, melumatnya penuh nafsu, dan menggigit bibir bawah Jaejoong dengan kencang sampai berdarah.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Jaejoong meronta dan kemudian menendang Yunho, dia berusaha keluar.
Dia berusaha menggeluarkan suaranya tetapi tidak bisa keluar. Dia butuh bantuan, sangat butuh.
Yunho yang sempat merasa kesakitan akibat tendangan Jaejoong, kemudian langsung meraih Jaejoong yang masih mencoba melarikan diri dan meronta saat Yunho mengcengkram bahunya.
"BoA, kamu hanya milikku!" ucapan Yunho sukses membuat Jaejoong semakin takut.
Yunho menciumi leher Jaejoong, membuat Jaejoong ingin menjerit, dia takut sekali saat ini.
'Yun-Yunnie.. aku takut hiks,' ucap Jaejoong dalam hati.
"Diamlah BoA! Biarkan aku menikmatimu!" Yunho mendorong Jaejoong sampai dahinya mengenai ujung meja nakas yang berada di sebelah tempat tidurnya.
Yunho kemudian meninju Jaejoong tepat di pipi sebelah kiri. Kemudian dia juga melayangkan tamparan di pipi sebelahkanan.
'Hiks sakit Umma, Appa,' tangis Jaejoong dalam diam.
Airmatanya terus mengalir deras, seiring dengan tubuhnya melemah karena apa yang Yunho lakukan padnaya.
Yunho mulai melucuti satu per satu pakaian Jaejoong dan memulai aksinya.
Hanyalah desahan Yunho dan rancauan kata-kata kotor yang terdengar. Tidak ada yang bisa mendengar suara tangisan Jaejoong, satupun tidak ada. Tangisan dalam hati.
'Aku kotor.. hiks.. aku hina...,' ucap Jaejoong dalam hati sambil menutup matanya rapat-rapat.
'Umma, Appa, tolong aku.. Suie.. bawa hyung pergi dari sini...'
Saat itu juga, hilanglah kesadaran Jaejoong diiringi dengan cairan merah pekat keluar dari selangkangannya.
Jung Yunho telah merengut kesucian Kim Jaejoong malam itu.
.
"Umma, perasaanku tidak enak," ucap Junsu sambil memeluk Ummanya yang sedang menonton tv di sofa ruang keluarga.
"Tidurlah sayang.. itu hanya perasaanmu saja," ucap Mrs. Kim sambil membelai lembut rambut Junsu.
"Temani aku Umma," ucapan Junsu langsung membuat Mr. Kim cembetut.
"Ummamu sedang bersama Appa," ucap Mr. Kim.
"Aigoo kalian berdua. Sini Suie, tidur di pangkuan Umma," ucap Mrs. Kim sambil menepuk pahanya pelan.
Junsu langsung saja duduk di sebelah Mrs. Kim dan membaringkan kepalanya di pangkuan ibundanya.
"Aku kangen hyung," ucap Junsu tiba-tiba.
"Kami juga nak," ucap Mrs. Kim sambil membelai surai hitam putra keduanya itu.
"Besok kita ke istana, bagaimana? Besok raja dan ratu sudah pulang dari luar negri. Sekalian kita memberi salam kepada mereka?" ucap Mr. Kim.
"Tentu aku mau!" ucap Junsu sambil mendudukan dirinya, membuat kedua orang tuanya terkekeh.
.
.
Esok paginya, kedua insan nampak terburu-buru setelah keduanya memasuki kediamannya.
Mereka langsung menghambur ke arah calon menantunya setelah mendapatkan laporan dari kepala pelayan kalau kondisi menantunya itu begitu mengkhawatirkan.
Dengan napas terengah dan tanpa melepas baju mantel yang begitu berat, mereka terus berlari ke arah kamar menantunya itu.
Bayangan pertama yang mereka lihat adalah menantu mereka yang duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong ke arah luar. Hanya sehelai selimut terus digenggamnya dengan erat menutupi tubuhnya yang penuh dengan tanda warna keunguan.
Mata doenya benar-benar kosong.
Bibir yang selalu tersenyum itu nampak terluka.
Pelipis dan pipi sebelah kiri berwarna biru lebam.
Pipi sebelah kanannya berwarna merah.
Tampak begitu rapuh, tampak tidak bernyawa, seperti boneka manequin dengan pandangan kosongnya.
Siapa yang tidak tega melihatnya seperti itu. Semua pelayan tidak tega karenanya, bahkan ada beberapa pelayan wanita yang terisak.
Para kepala pelayan tidak bisa berbuat apapun, karena yang melakukan itu semua kepada pangeran mereka adalah calon tunangan darinya sendiri, sang putra mahkota.
Yunho sepertinya masih belum sadar atas perbuatannya.
Mr. Jung yang geram melihat kejadian itu langsung menyuruh pengawal untuk membangunkan Yunho dnegan membuatnya berdiri dna juga memakaikan selimut untuk menutupi tubuh Yunho.
Mrs. Jung terduduk di depan Jaejoong yang terus melihat ke luar kamar, dia memeluk calon menantunya itu dan mulai terisak. Jaejoong hanya menggerakan sedikit matanya ke arah Mrs. Jung dan kemudian membalas pelukannya perlahan, ikut meneteskan air matanya.
'Umma, Joongie sakit Umma..,' ingin sekali Jaejoong mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya namun tidak bisa.
Yunho yang mulai terbangun mendapati tubuhnya hanya berbalut selimut dan kaget melihat ayahnya begitu marah kepadanya.
Plak
"Argh, sakit Aboji!" teriak Yunho, tidak terima dipukul oleh Abojinya.
"Kamu lihat perbuatanmu, anak tidak tahu malu!" ucap Mr. Jung sambil menunjuk Jaejoong dan melihat tubuh mereka berdua berbalut selimut.
"Aku.. Apa yang aku lakukan semalam dengannya...? Aku pergi ke ruanganku, lalu mabuk.. kemudian...," ucap Yunho hampir seperti bergumam dan kemudian kaget saat dia mengingat kejadian semalam.
Semalam dia mabuk karena mendapat foto BoA sedang bercumbu dengan pria lain dan saat ditelpon, BoA tidak mengangkat telponnya.
Karena dia kesal, dia minum sebanyak-banyaknya dan yang dia ingat setelah itu, dia berada di ranjang Jaejoong, menjamah setiap inci tubuh Jaejoong dengan penuh nafsu.
Bercak darah yang ada di atas bedcover berwarna putih itu menjadi bukti bahwa Yunho sudah melakukan hal tidak senonoh kepada Jaejoong dan hukuman yang dijalaninya tidaklah mudah...
"Bawa dia ke kamarnya. Kurung dia di sana. Aku akan bicara dengannya nanti," ucap Mr. Jung dan kemudian 4 pelayan membawa Yunho beranjak ke kamarnya.
"Dan satu lagi. Ini keputusanku. Kalian akan menikah langsung setelah bertunangan, pada hari itu juga."
Mata Yunho terbelalak sementara Jaejoong sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi, tubuhnya melemas di dalam pelukan Mrs. Jung.
Kembali. Dia pingsan.
"Maafkan Umma, Joongie.. maafkan Umma," gumam Mrs. Jung sambil terus memeluk Jaejoong dan belum sadar kalau Jaejoong pingsan.
"Joongie? Joongie? Joongie! Ilwoo ah, Joongie pingsan kembali!" teriakan sang ratu langsung membuat sang raja panik.
"Astaga! Pelayan, hubungi dokter kerajaan. Kita bawa Joongie ke kamar tamu sementara," ucap Mr. Jung sambil menggendong Jaejoong dan berjalan ke arah kamar tamu yang letaknya masih satu gedung.
'Joongie, maafkan Appa,' ucap Mr. Jung dalam hati.
Saat bersamaan, keluarga Kim datang ke kamar Jaejoong, mereka melihat Mrs. Jung hendak menyusul Mr. Jung yang berlari ke arah kamar tamu.
Perasaan tidak enak langsung muncul dari dalam diri mereka.
Bercak darah mendominasi warna bed cover Jaejoong menjadi sebuah pertanda buruk.
Dan saat itu pula, mereka mendapatkan kenyataan yang pahit dan tidak bisa mereka terima sepenuhnya.
Yunho telah memperkosa Jaejoong..
.
.
TBC
Huaa readers maaf lama updatenya hehehe ^^ karena kesibukan di dunia nyata dan sempat sakit jadinya update kedua ff jadi tertunda. Survivor akan secepatnya update, sekarang sedang dalam proses pembuatan heehehe maaf telah menunggu lama ^^"
Maaf apabila ada typo dimana-mana dan juga ff ini saya naikkan ratingnya menjadi M karena banyak adegan kekerasan bukan untuk anak-anak.
Saya juga mohon maaf di sini karakter Yunho sangat antagonis, tapi percaya nanti akan happy ending untuk YunJae.
Banyak yang menebak ending ff ini dan saya senang itu karena saya bisa buat readers penasaran *eh *slapped* XD
Untuk YooSuMin, sayang sekali mereka di sini porsinya sedikit karena saya fokus ke YunJae, tapi akan saya usahakan mereka akan tampil lebih banyak.
Oh iya, saya dengar ffn akan ditutup, jadi saya sudah siapkan social media lain untuk update ff saya. Kalian bisa add fb saya: Jejehan Jeje dan twitter saya: jejehanjeje.
Saya memang baru membuat fb dan twitter saya hehehe saya ingin tetap keep in touch dengan para readers ^^
Untuk ff akan dipost di fb dan akan saya buat grup di fb khusus untuk para readers. Ditunggu add dari kalian ^^
Terima kasih kepada readers yang menyempatkan diri membaca ff ini, mem-follow, mem-fav, dan review setiap chapter dari ff ini ^^ Jeongmal Gomawo ^^ Semua review kalian adalah bahan bakar untuk saya ^^
Saya akan menjawab pertanyaan dari readers sekalian ^^:
Q&A
Q: Kapan YunJae moment akan muncul?
A: Sebentar lagi XD ditunggu ya ^^
Q: Penyiksaan Jaejoong sampai chapter berapa? Apakah dia akan menjalani operasi? Kapan Yunho akan jatuh cinta kepada Jaejoong? Apakah akan ada pihak lain selain BoA? Apakah ChunMin juga mencintai Jaejoong?
A: hmmm... biarlah chapter per chapter yang akan menjawab semuanya *kyaa *slapped* XD Jadi pasikan baca terus ya XD
Q: Apakah Jaejoong bisu karena Yunho?
A: hmmm iya gak ya *eh XD
Q: Apa hubungan keluarga Kim dengan keluarga Jung sebenarnya?
A: tenang, nanti terjawab XD
Q: Kenapa Jaejoong begitu terbuka dengan orang yang baru dikenal?
A: Saya ingin menjadikan Jaejoong menjadi karakter yang terbuka di sini, ingin menunjukan sisi polosnya karena akan berkaitan dengan peristiwa di chapter mendatang
Q: Apakah ada hubungan Yunho dengan Jaejoong di masa lalu? Yunho ilang ingatan ya?
A: Di chapter ini terjawab bahwa memang ada hubungan, tetapi detailnya ada di chapter selanjutnya ^^ Hmmm... biarlah chapter yang menjawab XD
Q: FF ini berapa chapter?
A: Wah saya sendiri tidak tahu karena saya menulis dengan cara let it flow (?) XD Target saya sebenarnya kurang dari 10 hehehe
Special thanks to:
YunHolic, teukiangle, Vic89, gothiclolita89, jingle bubble, , lunabie, meirah. 1111, ifa.p . arunda, Jung Jaehyun, gyujiji, Cho Sungkyu, Youleebitha, exindira, YeyeWooKIM97, someanlover, lipminnie, Dhea Kim, ShinJiWoo920202, UMeWookie, Dipa Woon, rinayunjaerina, rinayunjaerina, misschokyulate2, hanasukie, YuyaLoveSungmin, mynamedhiendha, akiramia44, leejaeshin073, rinrinatya12, LEETEUKSEMOX, ichigo song, Hana - Kara, dhian930715ELF, jaejae, Guest1, Guest2, Guest3, JungKimCaca, meybi, dienha, zulnaen, , Clein cassie, Dee chan - tik, sycarp, CherRyeowook
