Wasurenaide 6

Flash back

Saat itu sedang musim semi di Jepang.

Bunga sakura berguguran dengan Indahnya, memenuhi setiap jengkal kota Tokyo dan membuat suasana menjadi romantis.

Saat itu, namja berparas cantik duduk di bawah pohon sakura bersama dengan teman-temannya, menikmati kecantikkan bunga sakura yang masih setia tumbuh dari batangnya dan juga helai demi helai sakura yang gugur dan terbawa angin.

Sangat indah.

Dia dan teman-temannya yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas kelas dua menikmati masa libur mereka dengan minum teh hijau bersama di bawah hamparan bunga sakura.

"Jaejoong, saat kuliah nanti, kamu akan melanjutkan kemana?" tanya seorang gadis, teman namja berparas cantik itu. Gadis dengan rambut sebahu yang bernama Maya Sakamoto.

"Hmm, aku ingin melanjutkannya di Korea saja," ucap namja cantik berbibir cherry itu yang diketahui bernama Kim Jaejoong.

"Kembali ke rumahmu?" seorang namja yang diketahui bernama Ryosuke Takashi memastikannya kembali.

"Huum, tentu," ucap Jaejoong sambil tersenyum, namun hal itu membuat teman-temannya sedih.

"Kalian kenapa?" tanya Jaejoong ketika melihat wajah keruh teman-temannya.

"Tidak apa-apa, kami hanya sedih kalau karena kita hanya akan bertemu dua tahun lagi," ucap Hoshi Fujiwara.

"Kita kan tetap bisa berkomunikasi dengan mengirimkan email atau chat," ucap Jaejoong menenangkan teman-temannya.

"Tapi tanpa kamu, pasti akan sepi," ucap Kumi Kisaragi sambil menekuk wajahnya.

"Hahaha, sudah-sudah jangan dibahas, nanti kalian semakin sedih," ucap Jaejoong sambil menuangkan teh hijau ke dalam gelasnya dan mengacungkannya ke depan teman-temannya.

Teman-temannya yang lain juga ikut menuangkan teh hijau ke dalam masing-masing gelas mereka dan ikut mengacungkan gelas mereka.

"Bersulang!" sorak mereka untuk menyambut musim semi yang indah itu.

Ya, Jaejoong saat itu memilikki suara yang merdu dan lembut, membuat siapapun yang mendengarnya bisa merasakan nyaman.

Jaejoong dan teman-temannya masih menikmati bunga sakura yang berguguran sampai akhirnya senja datang.

.

Jaejoong dan teman-temannya sudah pulang ke rumahnya masing-masing.

Jaejoong berjalan sendirian menuju ke rumahnya.

Dia berhenti sebentar ke mini market dekat rumahnya untuk membeli beberapa cemilan untuk dimakan bersama dengan keluarganya.

Dia sudah di dalam minimarket saat ini dan hendak membayar ke kasir. Makanan ringan seperti kripik, kue kering, dan bermacam-macam kacang sudah dibelinya.

Saat dia mengantri, matanya menangkap seseorang yang memakai baju tebal di musim semi seperti ini.

Memang musim semi ini masih sedikit dingin, tetapi bukan dengan memakai baju musim dingin seperti itu bisa membuat tubuh hangat, tapi bisa membuat tubuh kepanasan.

Jaejoong tidak ambil pusing mengenai orang tersebut, dia memilih membayar semua cemilannya dan cepat pulang karena acara kumpul dnegankeluarganya sudah hampir dimulai.

Setelah 3 menit berada di kasir, Jaejoong keluar dan menemukan orang dengan berbaju tebal tersebut seperti kebingungan mencari alamat.

Jaejoong semula yang ingin menghampiri orang tersebut namun diurungkan niatnya karena orang tersebut sudah berdiri di depan rumah dengan pintu gerbang yang terbuat dari kayu mahoni. Jaejoong malah mempercepat langkahnya.

Ya, orang itu atau lebih tepatnya namja itu berdiri di depan kediaman Jaejoong dan kemudian masuk ke dalam setelah orang tersebut dibukakan pintu oleh penghuni rumah Jaejoong, Umma Jaejoong.

Jaejoong semakin mempercepat langkahnya, penasaran dengan namja yang masuk ke dalam rumahnya karena dia baru menemukan namja seperti itu di Jepang.

Jaejoong membuka pintu gerbangnya dan berlari menuju teras.

Jarak pintu gerbang dengan pintu rumahnya hanya 7 meter, tidak terlalu jauh.

Jaejoong mengucapkan salam saat sampai di daun pintu.

"Aku pulang," ucap Jaejoong sambil melepas sepatunya yang berbahan jeans warna biru tua dan beralaskan karet berwarna putih.

"Ah kamu sudah pulang!" ucap Mrs. Kim, Umma Jaejoong ketika mendengar suara anaknya sudah pulang.

"Ne Umma," ucap Jaejoong sambil memeluk tubuh Mrs. Kim dengan sayang.

"Anak Umma bau," ucap Mrs. Kim dibuat-buat karena Jaejoong belum mandi.

Jaejoong mencium badannya dan ternyata memang sedikit bau.

"Mungkin karena keringetan saat mengejar seseorang yang masuk ke rumah tadi. Itu siapa Umma?" tanya Jaejoong.

"Ah, kamu akan tau nanti. Sekarang lebih baik kamu mandi dulu," ucap Mrs. Kim sambil mencubit hidung mancung Jaejoong dan berhasil membuat anaknya itu mempoutkan bibir cherrynya.

"Ne arraseo Umma~" ucap Jaejoong yang langsung menghambur ke kamarnya yang terletak di lantai dua.

Saat berjalan ke arah tangga, dia tidak menemukan tamu atau namja yang masuk ke rumahnya tadi. Dia mendengar suara yang familiar untuknya, tetangga yang tinggal di sebelah rumahnya. Mr. Jung dan Mrs. Jung sudah datang ternyata.

'Mungkin mereka di taman belakang,' batin Jaejoong karena tidak menemukan kedua insan yang sudah berumur hampir setengah abad itu di ruang tamunya.

.

Setelah mandi, Jaejoong membuka belanjaannya yang sebelumnya dia taruh di dapur dan menaruh itu semua di atas nampan.

Jaejoong menuju ke taman belakang rumahnya, hendak menemui keluarga dan tamu yang ada di rumahnya.

Mereka berencana mengadakan barbeque malam itu. Masih dalam suasana yang sama, bunga sakura yang berguguran.

Di rumah Jaejoong ada pohon sakura yang cukup besar. Pohon itu sudah ada sebelum Jaejoong pindah ke rumah itu 4 tahun yang lalu.

Jaejoong mencium aroma daging bakar yang sangat lezat. Tidak bisa ditoleransi lagi, dia sudah kelaparan. Dia berjanji akan makan banyak malam itu.

Jaejoong melangkahkan kakinya cepat-cepat ke halaman belakang.

Saat kepalanya fokus kepada wangi daging sapi yang menyatu dengan bumbu barbeque, matanya menangkap sosok namja yang dia kejar tadi.

Fokus Jaejoong sekarang kepada namja tersebut.

Yang benar saja, namja itu tetap mengenakan pakaian hangat musim dinginnya padahal mereka sedang berada di dekat bara api.

'Apa dia tidak kepanasan?' batin Jaejoong.

Jaejoong saja sudah merasa gerah saat melihat namja itu memakai baju tebalnya.

Dia menaruh cemilan yang dia bawa di meja kayu bercat putih dan kemudian menghampiri Mr. Jung dan Mrs. Jung bergantian.

Mr. Jung sedang memanggang daging sapi yang sudah dilumuri saus barbeque sedangkan Mrs. Jug sedang bersama Mrs. Kim menata piring untuk mereka makan di meja panjang berbahan kayu jati.

"Aigoo anak Umma sudah pulang," ucap Mrs. Jung saat memeluk Jaejoong.

"Maaf aku telat karena keasikkan mengobrol," ucap Jaejoong dan mendaatkan jawaban 'tidak apa-apa' dari Mrs. Jung.

Mr. Jung juga ikut memeluk Jaejoong dengan erat, tampaknya mereka berdua menantikan bernar kedatangan Jaejoong.

Mr. dan Mrs. Jung meminta Jaejoong untuk memanggilnya dengan sebutan Umma dan Appa karena mereka sudah dekat.

Sebagai sesama orang Korea yang tinggal di Jepang, tentu mereka dekat dan juga rumah mereka juga bersebelahan.

Jaejoong tidak keberatan apabila memanggil Mr. dan Mrs. Jung dengan sebutan Umma dan Appa, walaupun pada awalnya agak aneh karena harus memanggil kedua orang tua Jaejoong dengan sebutan yang sama. Jaejoong juga harus memanggil kedua Umma dan kedua Appanya dengan nama, kalau tidak kedua Umma atau kedua Appa akan menengok berbarengan apabila mereka sedang bersama.

Kembali ke Jaejoong, sesudah mengucapkan salam kepada kedua orang tua angkatnya, dia tidak menemukan ayahnya dan adiknya yang berwajah imut di sana.

"Appa Kim dan Junsu kemana?" tanya Jaejoong kepada Mrs. Kim.

"Appamu dan Junsu sedang membeli daging ikan di supermarket. Sebentar lagi juga kembali," ucap Mrs. Kim sambil menyiangi bawang yang akan digunakan sebagai bumbu.

Jaejoong menganggukkan kepalanya dan dia ingat bahwa ada satu orang lagi di rumahnya.

Jaejoong melihat ke arah namja yang sendari tadi hanya berdiam diri saja.

'Dia sedang ngambek?' tanya Jaejoong dalam hati karena dia tidak berinteraksi dengan siapa-siapa di sana.

Mr. Jung, Mrs. Jung, dan Mrs. Kim hanya senyam senyum melihat Jaejoong yang mendekati namja dengan baju tebal tersebut, mereka sengaja tidak memperkenalkan namja itu kepadanya. Biar saja Jaejoong yang menghampiri namja itu. Mereka tau watak Jaejoong yang cepat penasaran dan ingin tau banyak hal.

"Hei, siapa kamu?" tanya Jaejoong sambil duduk di sebelah namja tersebut.

Beanie warna abu-abu, scarft warna merah, mantel tebal berwarna hitam, celana jeans tebal warna biru tua, dan sepatu berwarna coklat tua.

"Kamu tidak kepanasan?" tanya Jaejoong lagi setelah melihat penampilan namja itu.

Namja itu hanya menggelengkan kepalanya.

"Benar? Kamu tidak gerah?" tanya Jaejoong lagi.

Kembali namja itu hanya menggeleng tanpa mengeluarkan suaranya.

"Aish jinjja. Lepas semuanya," ucap Jaejoong yang membuat orang tuanya terkikik.

Jaejoong mempoutkan bibirnya karena namja yang diajaknya berbicara tidak merespon perkataannya, hanya diam saja.

"Baiklah kalau kamu tidak mau melepasnya, biar aku yang melepasnya," ucap Jaejoong sambil menarik scarf yang melingkar di leher sampai menutupi hidung namja tersebut, namun dicegah oleh namja itu.

"Uhuk uhuk," sepertinya Jaejoong menarik scarf namja itu terlalu kencang.

"Ah maaf, maaf," Jaejoong kaget ketika namja itu terbatuk dan dia langsung melepaskan scarf namja itu, "kamu tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa,"ucap namja itu sambil melepas beanie, scarf, dan mantel tebal miliknya.

Betapa tercengangnya Jaejoong melihat seseorang yang biasanya dia hanya lihat di foto handphone Mrs. Jung, sekarang berada di depannya.

"Hallo," sapa namja itu.

Ya, inilah awal pertemuan Kim Jaejoong dan Jung Yunho.

.

Yunho yang sudah melepas pakaian tebalnya, memperlihatkan tubuhnya yang bisa dibilang bagus karena otot-otot mulai terbentuk. Keringatnya sampai membasahi bajunya dan membuat dirinya kegerahan.

"Omonim, itu sangat menyiksa," ucap Yunho sambil menaruh pakaian tebalnya di kursi goyang milik keluarga Jaejoong.

"Hahahaha, tapi lihatlah hasilnya, Joongie sangat terkejut," ucap Mrs. Jung puas melihat wajah terkejut Jaejoong.

"Kenapa dia bisa di sini?" tanya Jaejoong yang melihat namja berwajah manly dan berkulit tan itu dari atas sampai bawah.

'Tampan. Lebih tampan dari yang di foto,' ucap Jaejoong dalam hati.

Mrs. Jung sering memperlihatkan kepada Jaejoong foto-foto Yunho dan Jaejoong selalu tertarik apabila Yunho mengirimkan fotonya kepada Mrs. Jung.

"Annyeong, aku Jaejoong," ucap Jaejoong sambil mengulurkan tangannya kepada Yunho dan disambut oleh Yunho.

"Annyeong, aku Yunho," ucap Yunho sambil tersenyum, "akhirnya aku bisa melihatmu juga."

"Eh? I-iya, kita selalu berkomunikasi lewat sms," ucap Jaejoong malu.

"Hahaha benar. Apakah kedatanganku membuatmu terkejut?"

"I-iya, aku cukup terkejut. Tidak menyangka kalau aku akan bertemu denganmu di sini," ucap Jaejoong terbata karena dia gugup saat berhadapan dengan Yunho.

Yunnho terkekeh, Jaejoong sangat lucu.

Mereka menghabiskan waktu malam itu sambil bersenda gurau.

Semuanya terasa begitu hangat.

Junsu dan Mr. Kim yang menyusulpun juga ikut berbagi kehangatan dengan mereka.

"Jadi Yunho akan di sini sampai seminggu ke depan?" tanya Mr. Kim ketika mereka sedang makan barbeque di halaman belakang.

"Iya betul, setelah itu dia akan kembali lagi ke Korea," ucap Mrs. Jung sambil membelai rambut Yunho.

Yunho mengembangkan senyumnya.

Senyum itu.

Senyum itu membuat Jaejoong terpana kepada Yunho.

"Kasihan Yunho harus memakai baju setebal itu hahaha," tawa Mr. Kim saat dia datang, tubuh Yunho begitu berkeringat.

"Omonim memang begitu Ahjussi, tega kepada anaknya," ucap Yunho yang lalu mempoutkan bibirnya.

"Aigoo Yunho anak Aboji sangat imut hahahaha," ucap Mr. Jung, membuat Mrs. Jung bergidik ngeri.

"Kamu memang anak Abojimu, Yunho," ucap Mrs. Jung yang bingung dengan kelakukan ayah dan anak itu.

Keluarga Kim terkekeh, memang keluarga Jung begitu unik.

"Kenapa Yunho hyung tidak tinggal di sini saja?" pertanyaan Junsu membuat keluarga Jung sedikit tersentak.

"Hmm, Yunho harus menyelesaikan studinya di Korea," ucap Mrs. Jung.

Ada yang disembunyikan. Itulah yang Jaejoong rasakan. Namun, dia tidak ingin merasakan hal itu terlalu lama dan lebih baik melupakannya.

Mereka terus mengobrol sampai larut malam. Karena masih libur, Jaejoong memutuskan untuk tidur larut.

.

Pagi itu adalah pagi yang cerah.

Pagi yang cerah bagi Junsu untuk berlatih sepak bola. Biasanya dia akan berlatih sendiri. Namun hari ini berbeda, Yunho ikut menemani Junsu berlatih.

"Hyung, siap!?" teriak Junsu dari depan kotak penalti.

"Tentu!" teriak Yunho yang ada di depan gawang.

Duak

Junsu menendang bola itu dan sayangnya mengenai ujung tiang mistar gawang.

"Coba lagi!" ucap Yunho yang sudah mengambil posisi bersiap menangkap tendangan Junsu.

Junsu menganggukkan kepalanya dan kemudian menendang bola itu.

Duak

Kali ini mengarah tepat ke depan Yunho dan Yunho dapat menangkapnya.

"Lagi!"

Junsu terus mencoba menendang ke arah gawang agar dapat bisa membobol gawang Yunho.

Jaejoong hanya mengamati mereka dari pinggir lapangan bola yang ada di dekat lingkungan tempat tinggalnya.

Sesekali dia mengipas-ngipaskan kipasnya ke arah lehernya.

Terang saja dia kepanasan, kedua namja yang berada di lapangan itu sudah berada di lapangan walaupun angka menunjukan pukul 2 siang. Tentu masih panas.

'Tampan'

Jaejoong memotret Yunho dan menyimpannya di ponselnya.

Dia bersyukur bisa bertemu Yunho.

Tapi dia merasa aneh.

Yunho anak dari Mr, dan Mrs. Jung, tapi kenapa tidak tinggal bersama dengan mereka? Yunho bisa saja kan pindah sekolah ke Jepang dan mereka bisa sekolah di sekolah yang sama. Akan sangat menyenangkan.

Jaejoong ingin bertanya soal itu kepada Yunho namun dia merasa tidak enak. Bagaimanapun juga itu adalah sesuatu yang pribadi dan Jaejoong pikir lebih baik Yunho yang akan mengatakannya nanti.

Jaejoong yang bengong tidak sadar kalau Junsu dan Yunho sudah berada di sampingnya.

"Hyung, melamunkan apa?" tanya Junsu setelah menepuk pundak Jaejoong dan membuat Jaejoong tersentak kaget.

Yunho yang berada di samping Jaejoong juga melihat Jaejoong dengan intens.

Sungguh Jaejoong kaget dan malu setengah mati karena ketahuan bengong. Bukan karena tampangnya yang terlihat aneh saat bengong, tapi saat dia salah tingkah karena harus berbohong kepada Junsu dan Yunho.

"Bukan apa-apa, aku hanya memikirkan kapan kita akan memelihara kucing," ucap Jaejoong. Dia berbohong kali ini.

"Kamu mau kucing?" tanya Yunho dan dijawab anggukan oleh Jaejoong.

"Baiklah, kita pergi ke pet shop sekarang. Ayo," ucap Yunho yang sudah bangkit berdiri.

"Tidak mau. Aku tidak ada uang untuk membeli kucing," ucap Jaejoong.

"Aku punya. Ayo cepat," ucap Yunho yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan lapangan menuju ke arah rumah mereka.

"Benarkah kamu akan membelikanku kucing?" tanya Jaejoong sekali lagi dan tidak percaya kalau Yunho akan membelikannya kucing.

"Tentu," jawab Yunho lantang ketika dia sudah memasuki halaman rumahnya, dia ingin mengganti bajunya terlebih dahulu.

"Tapi kan..," Jaejoong merasa tidak enak.

"Asik hyung, kita akan punya kucing," ucap Junsu senang.

"Iya hehehe."

"Apalagi dari Yunho hyung ya, hyung," goda Junsu saat mereka masuk ke dalam rumah untuk mengganti baju mereka.

"Aish Kim Junsu," ucap Jaejoong malu. Semburat merah muncul di pipi susu miliknya.

"Hahahaha hyung malu!" ledek Junsu dan meninggalkan Jaejoong yang masih di lantai pertama.

Jaejoong mempoutkan bibirnya," Awas kamu nanti Junsu."

.

Mereka sudah berada di petshop yang hanya berjarak 5 blok dari rumah mereka.

Jaejoong mulai memilih-milih kucing yang ada di dalam petshop itu.

Kucing Persia, kucing Angora, kucing Tiffany, Munckhin, dan masih banyak lagi.

"Hmm aku bingung," ucap Jaejoong sambil masih memilih kucing.

"Hmm bagaimana kalau kucing ini?" Yunho menunjuk kucing British Shorthair berwarna abu-abu yang masih kecil.

"Hmm, boleh, dia sangat lucu," ucap Jaejoong yang memegang kucing itu dan mengelus kepala kucing itu.

"Baiklah," Yunho tersenyum dan langsung membayar di kasir.

.

Jaejoong merasa senang, dia dibelikan kucing oleh Yunho.

"Kira-kira siapa nama kucing ini hyung?" tanya Junsu.

Jaejoong dan Yunho berpikir sejenak.

Mereka memang belum memikirkan nama kucing itu.

"Hmm... bagaimana kalau Bastian? Dia kan kucing jantan," ucap Yunho dan membuat Jaejoong kaget.

"Huh? Dia jantan?" Jaejoong memastikan kembali.

"Iya, dia jantan."

"Yah, baru saja aku ingin meminta Umma membuatkan baju kucing untuknya," ucap Jaejoong kecewa.

"Tidak apa-apa hyung, tetap buatkan saja. Dia pasti cocok memakainya," ucap Junsu menghibur Junsu. Berhasil. Jaejoong kembali tersenyum.

"Benar juga. Jadi namanya siapa?" kembali ke awal, mereka harus mencari nama untuk kucing abu-abu itu.

"Namanya Jiji. Bagaimana?" usul Yunhho.

"Aku suka nama itu," ucap Junsu, "itu membuatnya terdengar imut."

Jaejooong terdiam sejenak dan kemudian menganggukkan kepalanya.

"Jadi namamu Jiji, hei kucing manis," ucap Jaejoong kepada kucing yang berada di dalam kotak kandang warna biru.

.

Yunho mengantar Jaejoong sampai ke rumahnya, tetapi Jaejoong malah menyuruh Yunho untuk masuk ke rumahnya terlebih dahulu.

Jaejoong memberikan segelas teh jasmine untuk Yunho dan juga menyajikan setoples kue kering.

Yunho meminum teh jasmine itu di halaman belakang rumah Jaejoong sambil menikmati guguran bunga sakura.

"Bunganya indah," ucap Yunho mengawali pembicaraannya dnegan Jaejoong setelah 5 menit mereka berdiam.

"Iya, sangat indah," ucap Jaejoong yang sedang memangku kucing kecil bernama Jiji itu dan mengelusnya lembut.

"Aku ingin melihatnya lagi denganmu tahun depan. Apakah bisa?" tanya Yunho.

"Tentu saja bisa. Pasti bunga sakura itu akan mekar kembali tahun depan dan kamu bisa ke sini tahun depan," ucap Jaejoong polos.

Yunho terkekeh dan kemudian mengelus rambut Jaejoong lembut.

Yunho menangkap mata doe Jaejoong.

Jaejoong seperti terperangkap dalam mata musang Yunho. Mata itu menyiratkan kesungguhan Yunho.

"Aku ingin melihatnya berdua denganmu Jaejoong. Hanya denganmu dengan cincin yang tersemat di jari manis tangan kananmu," ucap Yunho tanpa melepas pandangannya dari mata Jaejoong.

Jaejoong kaget saat Yunho mengatakan hal itu dan lebih kaget lagi saat Yunho mengeluarkan cincin platina bermahkota batu ruby yang sangat cantik.

Yunho langsung menyematkan cincin itu ke jari manis tangan kanan Yunho.

Jaejoong yang masih kaget hanya terdiam, mengamati Yunho yang mencium lembut tangannya.

"Apakah kamu tau kalau aku juga sering meminta fotomu ke Omonimku? Apakah kamu tau kalau aku selalu senang saat menerima balasan pesan darimu? Dan apakah kamu tau kalau selama ini aku menyukaimu?"

Muka Jaejoong berubah menjadi merah.

"Jadi, apakah kamu akan membalas perasaanku padamu? Apakah kamu juga menyukaiku?" tanya Yunho.

Jaejoong terdiam.

Suka.

Dia menyukai namja di depannya.

Tapi mereka baru sekali bertemu.

"Tapi kita baru sekali ini bertemu. Aku tidak tau watak aslimu dan kamu juga tidak tau watak asliku," lirih Jaejoong. Dia bukan khawatir kalau watak Yunho tidak sesuai dengan bayangannya tetapi dia takut kalau Yunho tidak menyukai dirinya.

"Karena itu, cincin ini mejadi janji kalau kita akan tetap saling berhubungan walaupun kita terpisah jauh dan juga akan saling terbuka satu sama lain. Apa kamu mau?" tanya Yunho sekali lagi.

Bohong kalau Jaejoong tidak ingin mengenal Yunho lebih jauh dan selalu bisa berhubungan dengan Yunho.

Jaejoong menganggukkan kepalanya dan Yunho langsung memeluknya.

Yunho senang Jaejoong mau dekat dengannya. Usahanya datang ke Jepang tidak sia-sia untuk menemui Jaejoong.

Jaejoong juga tidak kalah senang karena dia bisa bertemu Yunho dan bisa lebih dekat dengan Yunho.

Mereka masih berpelukkan tanpa mengetahui Mr. Kim, Mrs. Kim, Mr. Jung, dan Mrs. Jung tersenyum ke arah mereka.

Mr. Kim berbisik, " Misi kita sukses."

Semuanya menganggukkan kepalanya.

Ya, kedua keluarga itu memang ingin menjodohkan Yunho dengan Jaejoong dan mengadakan pertunangan secepatnya, namun mereka urungkan karena perkataan dari Yunho barusan. Biarlah mereka menentukan jalan mereka sendiri.

.

Esoknya adalah pertandingan sepak bola Junsu.

Seperti biasa Jaejoong ingin menonton pertandingan adik tersayangnya itu dan melihat tawa Junsu saat Junsu menang.

Jaejoong sedang bersiap sekarang ini. Dia ingin menonton pertandingan Junsu bersama dengan Yunho.

Jaejoong menunggu Yunho di depan rumahnya.

Tak lama terlihatlah Yunho dengan topi warna biru tua, kaus polo putih, celana pendek abu-abu, dan sepatu warna coklat.

Terlihat tampan.

Jaejoong sendiri memakai kaus putih, jaket warna abu-abu, celana berwarna hitam, dan sepatu berbahan jeans.

Mereka berdua terlihat serasi.

Tak lupa masing-masing cincin tersemat di jari manis tangan kanan mereka.

Sepanjang jalan orang-orang memperhatikan mereka karena mereka begitu menarik perhatian. Jaejoong yang tampan dan cantik lalu Yunho yang tampan dan terlihat manly.

Yunho menggenggam tangan Jaejoong dan kemudian berjalan cepat ke arah halte karena bus karena bus akan datang.

Namun, saat mereka hendak menyebrang, sekitar 5 orang berpakaian jas hitam dan berkacamata hitam mendekati mereka berdua.

"Putra mahkota, anda harus pulang," ucap salah satu dari mereka.

Tubuh Yunho menegang. Dia kaget ketika melihat orang-orang itu.

Jaejoong sendiri sedikit takut karena mereka terlihat menyeramkan.

Tapi Jaejoong bingung, tidak ada putra mahkota di sini. Mengapa mereka mencari putra di sini?

"Mari putra mahkota," ucap namja itu lagi dan Yunho memundur satu langkah.

'Yunho... putra mahkota..?' tanya Jaejoong dalam hati.

"Putra mahkota," ucap orang itu lagi namun Yunho keburu lari sambil menyeret Jaejoong bersamanya.

Yunho dan Jaejoong berlari tidak tau arah. Mereka terus berlari sampai akhirnya berada di jalan penuh kendaraan.

Mereka berdua beristirahat di salah satu toko dan berniat melanjutkan pelarian mereka.

Jaejoong hanya terdiam. Dia membiarkan Yunho mengatakan sendiri kebenarannya nanti. Dia percaya Yunho akan mengatakan itu kepadanya.

Saat mereka menyebrang jalan untuk menghindari para orang berjas hitam tersebut, mereka tidak menyadarikalau ada sekumpulan orang berjas hitam lainnya di sebrang jalan.

"Aku tidak mau pulang," ucap Yunho saat berhadapan dengan tiga orang dengan pakaian yang sama. Bisa dikatakan mereka adalah pengawal istana.

"Tapi putra mahkota, anda harus pulang," ucap salah satu pengawal.

"Tidak!" Yunho menolak.

Dia sudah izin terlebih dahulu kepada permaisuri atau Omonim angkatnya yang bernama Jung Ahra dan Aboji angkatnya bernama Jung Minwoo agar dia menemui orng tua kandungnya yang berada di Jepang.

"Tapi raja dan permaisuri sangat mengkhawatirkan anda," ucap pengawal lainnya.

"Tsk! Mereka tidak pernah mengkhawatirkanku!" teriak Yunho dan langsung berlari tanpa arah.

Mereka lari ke jalanan, hendak menyebrang kembali.

Namun..

Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi tidak terelakkan oleh mereka.

Duak

Begitu cepat..

Tubuh Yunho dan Jaejoong terpental cukup jauh.

Mereka terjelembab ke aspal bersama dan berdekatan.

Para pengawal yang semula hanya mengejar Yunho dan Jaejoong untuk memintanya pulang, kali ini mereka tergesa menuju ke arah mereka berdua yang sudah berlumuran darah.

Kedua sejoli itu tergeletak di atas aspal yang kasar, membiarkan darah mengalir dari kepala mereka berdua.

Tidak terdengar lagi suara sayup-sayup orang berteriak memanggil nama mereka.

Yang mereka dengar hanyalah deru napas satu sama lain dan yang mereka lihat hanyalah wajah sendu dari pasangan mereka.

Cincin yang berada di tangan kanan Yunho terlepas dari jemarinya dan jatuh di samping Jaejoong. Jaejoong berhasil meraih cincin itu dengan tenaganya, dan bermaksud memberikannya kembali kepada Yunho, namun sayangnya dia tidak cukup tenaga.

"Yunnie...," tangan Jaejoong perlahan menggenggam tangan Yunho kanan Yunho.

"Jaejoongie..," Yunho membalas genggaman tangan kiri Jaejoong.

Keduanya tersenyum lemah dan meneteskan air mata.

"Ul-jima," ucap Jaejoong terbata.

Yunho tidak membalas, mata Yunho sudah menutup.

"Ai-shi-te-ru," ucap Jaejoong terakhir sebelum dia juga menyusul Yunho.

.

3 jam setelah peristiwa itu, namja imut belari di koridor rumah sakit, tergesa-gesa, tidak peduli keringat mengucur dari pelipisnya.

Kim Junsu yang sehabis memenangkan pertandingan sepak bola dibuat kaget setelah menerima kabar dari pelatihnya kalau kedua hyungnya kecelakaan dan sedang ada di rumah sakit.

Namun saat dia sampai di depan UGD, yang dia lihat adalah 10 orang berpakaian jas hitam yang sedang dimarahi oleh ahjussinya, dimarahi oleh Mr. Jung.

"Apakah kalian mau bertanggung jawab kalau ada apa-apa dengan anakku dan anak temanku hah!? Memang dia diangkat anak oleh raja dan permaisuri, namun apakah kalian tidak bisa meminta izin dariku terlebih dahulu!?" suara Mr. Jung saat itu begitu tegas dan penuh dengan kemarahan.

'Raja? Permaisuri?' Junsu bertanya-tanya dalam hatinya, sebenarnya ada apa ini.

"Ilwoo ah, tenanglah," ucap Mr. Kim menenangkan tetangganya itu.

"Mana bisa aku tenang! Anak kita berada di dalam sana sedang berjuang melawan kematian!" ucap Mr. Jung.

"Suamiku, sudahlah..," isak Mrs. Jung, "aku sudah berbicara dengan raja dan permaisuri agar Yunho berada bersama kami selama satu minggu. Ada apa sampai kalian ingin Yunho pulang ikut dengan kalian?"

"Sebenarnya... raja sudah sakit parah, Yang Mulia Putri. Hamba mohon, perbolehkan putra mahkota pulang bersama kami," ucap seorang pengawal dengan menundukkan badannya, meminta Yunho ikut bersama mereka. Pengawal yang lain juga ikut menundukkan kepala mereka.

"Raja sakit apa?" tanya Mr. Jung kaget. Kakak kandung, lebih tepatnya kakak kembarnya itu memang mempunyai riwayat penyakit yang banyak, termasuk jantung.

"Penyakit jantung raja kumat, pangeran. Kami tidak bisa berbuat apapun selain memenuhi permintaan raja dan permaisuri untuk membawa putra mahkota pulang."

Ucapan pengawal itu sukses membuat air mata dari Mr. Jung, yang ternyata merupakan pangeran dari kerajaan Seoul mengalir menuruni mata musangnya.

Keluarga Kim yang berada di sana hanya terdiam.

Mereka sudah menyangka bahwa tetangga mereka selama 3 tahun ini adalah keluarga kerajaan. Kedua insan itu memang tetap bekerja di Jepang, namun sekali bekerja mendapatkan jabatan yang tinggi. Selain itu mereka tidak memberitau dimana kampung halaman mereka secara jelas. Tidak pernah memberitau silsilah keluarga mereka. Tidak ada foto keluarga mereka terpajang di rumah mereka yang besar. Dan satu lagi, tidak pernah ingin anak kandung mereka ikut mereka ke Jepang.

"Bawalah Yunho pulang ke istana," ucap Mrs. Kim sambil menyeka air mata yang mengalir dari mata doe miliknya, mata yang sama dengan Jaejoong kepada para pengawa di sana.

Kedua insan bermarga Jung itu menolehkan kepala mereka ke arah Mrs. Kim.

"Maafkan kami karena kami sudah menutupi ini dari kalian," ucap Mrs. Jung yang kemudian terisak.

Mrs. Kim yang melihat tetangga yang sudah seperti sahabatnya sendiri seperti itu menjadi tidak tega dan langsung memeluknya.

"Tidak apa-apa. Masing-masing dari kita memilikki rahasia kan? Hal itu wajar," Mrs. Kim mengelus lembut punggung Mrs. Jung.

"Yang diminta pulang adalah putra mahkota. Kami akan membawanya pulang hari ini juga dengan dokter, suster, dan peralatan medis yang lengkap menggunakan pesawat kerajaan," ucap salah seorang pengawal.

Semua yang ada di sana hanya bisa terdiam.

"Bawalah dia pulang," ucap Mr. Jung.

Junsu yang masih tidak mengerti hanya bisa berdiri di depan pintu UGD, bingung dengan apa yang dia harus lakukan. Dia masih terlalu belia untuk mengetahui semuanya.

.

Selang 2 jam kemudian, dokter yang memeriksa keadaan Yunho mengatakan mereka mendapat instruksi untuk ke Korea, mengantar Yunho ke sana.

Kondisi Yunho sudah dipastikan stabil dan bisa pulang ke Korea.

Mau tak mau Mr. dan Mrs. Jung harus melepas anak kandung mereka pulang ke Korea, tanpa bisa mendampingi anaknya itu di istana.

Keluarga Jung dan keluarga Kim hanya bisa menunggui Jaejoong sekarang ini.

Mereka masih di depan pintu UGD sampai akhirnya berselang 1 jam setelah Yunho berangkat ke Korea, seorang dokter keluar.

"Keluarga Kim Jaejoong?"

Semua orang yang di sana menengokkan kepalanya dan menanyakan banyak hal kepada dokter.

"Bagaimana keadaannya?"

"Dia bisa bertahan kan?"

"Kapan dia siuman?"

Sang dokter menenangkan keluarga pasiennya itu dan menarik napas.

"Ada sedikit gumpalan darah di kepalanya. Hal ini bisa saja membahayakan dirinya atu membuat inderanya tidak bekerja. Namun apabila gumpalan darah inipun dioperasi, akan snagat berbahaya baginya karena ini adalah organ yang penting," ucap dokter itu.

Mereka terdiam.

"Biarlah nanti Jaejoong yang memutuskan," ucap Mr. Kim dan mendapat anggukan dari Mrs. Kim.

"Baiklah. Pasien akan sadar secepatnya. Kepalanya sudah dijahit. Dia akan sadar hari ini atau besok," ucap dokter dan kemudian yang ada di sana membungkukkan badannya.

.

Di Seoul, Yunho yang sudah sadar keesokan harinya membuat gempar seluruh istana.

Ya, Jung Yunho tidak ingat siapa dirinya.

Dia amnesia. Itulah yang dokter simpulkan.

Seluruh istana menjadi merasa sedih. Sang raja dan permaisuri memerintahkan jangan sampai hal ini tersebar ke luar kerajaan.

"Kamu Omonimku?" tanya Yunho saat melihat permaisuri atau Ahra.

"Ne," jawab Ahra.

"Aku siapa?"

"Kamu Jung Yunho. Putraku, sang putra mahkota."

"Kamu benar ibuku?kita tidak mirip," ucap Yunho sambil melihat cermin dan wajah Ahra.

Ahra hanya mengembangkan senyum kecutnya.

"Itulah kenyataannya, Jung Yunho."

Semenjak itu Yunho menjadi lebih diam karena dia masih berpikir siapa dirinya dan tidak menemukan jawaban yang pasti untuk itu. Dia yakin ada hal tersembunyi dari keberadaanya.

Dia mengalami hari yang berat karena depresi yang dideritanya, namun sedikit terobati ketika BoA muncul dihadapannya.

Ahra mengenalkan BoA kepada Yunho sebagai orang yang menyelamatkan Yunho saat Yunho kecelakaan, tanpa Yunho ketahui kebenarannya.

Selain itu, BoA ternyata adalah anak dari sepupu Ahra, seorang mentari pertahanan di kerajaan.

Jelas, ini adalah politik kerajaan yang memanfaatkan orang lain.

Ahra mulai mendoktrin otak Yunho. Dia mengatakan kalau dia adalah omonim kandungnya sedangkan orang di luar yang mengaku-ngaku sebagai omonim angkatnya. Begitu juga dengan abojinya.

Yunho lupa akan Jaejoong dan lupa akan janjinya, janji untuk melihat bunga sakura bersama Jaejoong tahun depan.

.

Di Jepang, Jaejoong yang sudah sadar, mengetahui kenyataan pahit kalau dia tidak bisa mengeluarkan suaranya.

Dokter mendiagnosa Jaejoong tidak bisa mengeluarkan suaranya karena gumpalan darah yang ada di kepalanya dan dia menyarankan agar Jaejoong dioperasi.

Jaejoong menolak karena itu sangat berbahaya.

Dia memilih kehilangan suaranya daripada kehilangan nyawanya.

Dia sudah berjanji dengan Yunho kalau dia akan melihat bunga sakura bersama dengan Yunho tahun depan.

Namun, kenyataan itu seakan menamparnya.

Dia mendapatkan kabar kalau Yunho kehilangan ingatannya.

Hatinya sakit.

Dia kehilangan suara dan kehilangan Yunho.

Sering kali dia membanting apapun yang ada di depannya untuk meluapkan emosinya.

Namun seiring berjalannya waktu, dia berjanji akan selalu mencintai Yunho, namja yang sudah mengisi hatinya.

Ditatapnya kedua cincin yang menjadi bandulnya sekarang. Cincinnya dan cincin Yunho.

.

Setelah 1 tahun kejadian itu, raja meninggal karena sakit jantungnya.

Dengan tidak adanya raja, maka Ibu Suri memutuskan kalau Mr. Jung yang akan menjadi raja selanjutnya dan mengharuskan pasangan Jung itu kembali ke Korea.

Jaejoong harus melepas keluarga angkatnya itu kembali ke Korea dan hanya bisa berhubungan dengan mereka melalui ponsel.

.

Sikap Yunho kepada Mr. dan Mrs. Jung berubah. Yunho masih menganggap Ahra lah yang menjadi Ibu kandungnya.

Yunho menjadi lebih dingin, dia jarang berkomunikasi, dan menganggap BoA adalah segalanya karena BoA lah yang menyelamatkan nyawanya.

Sedangkan Jaejoong selalu menunggu Yunho di Jepang agar Yunho datang menyaksikan bunga sakura.

Teman-temannya yang ada di Jepang sama sekali tidak mengucilkannya karena Jaejoong sangat baik.

Mereka menyemangati Jaejoong dan Junsu juga selalu di samping kakaknya, selalu memberikan kekuatan pada kakaknya.

Hanya saja Junsu menyayangkan kalau dia tidak bisa mendengarkan suara kakaknya lagi.

.

Jaejoong kembali ke Korea sesuai dengan rencana awalnya yaitu saat dia ingin kuliah di Korea.

Saat di Korea, Mr. Jung sudah menjadi raja dan Mrs. Jung sudah menjadi ratu.

Kedudukan Ahra masih sama yaitu menjadi permaisuri untuk menghoarmati Ahra.

Semuanya berdasarkan keputusan Ibu Suri.

Namun, Ibu Suri juga mempunyai rencana lain. Dia ingin Yunho menikah dengan Jaejoong. Dia menanyakan perihal Jaejoong kepada Mrs. Jung dan akhirnya memutuskan untuk menjodohkan mereka walaupun Yunho menolak.

Yunho hanya memandang BoA seorang, dia tidak ingin Boa jauh darinya.

BoAlah yang memberinya kekuatan saat dia merasa sendiri.

Namun, tanpa dia ketahui, dia merasa dia merindukan seseorang yang dia tidak tau siapa namanya karena dia amnesia.

Perasaan itu hilang, perasaan sukanya kepada Jaejoong, janjinya kepada Jaejoong. Semuanya hilang.

Mr. dan Mrs. Jung tidak ingin memaksa Yunho mengingatnya karena Yunho akan langsung depresi dan itu sangat membahayakan kesehatannya.

Sementara itu Ahra masih menghalangi Jaejoong mendekati Yunho sampai akhirnya dia kalah oleh keputusan Ibu Suri. Namun dia pasti tidak tinggal diam karena dia hanya ingin BoA yang akan menjadi pendamping putra angkatnyakelak.

Sampai akhirnya BoA menghianati Yunho dan insiden BoA menabrak Yunho.

.

Flash back end

.

Tiga hari lamanya setelah insiden penabrakan Jaejoong, Yunho membuka matanya.

Dia ingat semuanya.

Dia ingat saat pertama kali dia bertemu Jaejoong.

Ingat kalau Mr. dan adalah ayah dan ibu kandungnya.

"Yunho?"

"Yunho?"

Suara Mrs. Jung semakin menarik Yunho untuk sadar.

"Omonim...," kata pertama yang Yunho ucapkan.

"Kmau sudah sadar nak?" ucap Mr. Jung yang ikut melihat keadaan Yunho.

"Aboji..."

"Omonim, Aboji..."

"Yunho? Benarkah kamu sudah sadar?" ucap Mr. Kim yang masuk ke dalam kamar rawat Yunho bersama Mrs. Kim.

"Appa... Umma...," Yunho mengenali wajah mertuanya satu per satu.

Yunho yang sudah hampir kembali kesadarannya sepenuhnya tanpa sadar menitikkan air matanya.

Keluarga Jung dan keluarga Kim yang ada di sana kebingungan ketika melihat air mata Yunho.

"Ada apa sayang? Ada yang sakit?" tanya Mrs. Jung.

Yunho menggelengkan kepalanya.

"Lalu kenapa kamu menangis hm?" tanya Mrs. Kim sambil mengelus lembut kepala Yunho.

"Aku ingat semuanya... aku ingat semuanya...," ucap Yunho sambil berusaha duduk dan kemudian dia turun dari ranjangnya.

Dia bersimpuh lutut di kehadapan orang tuanya.

"Apa yang kamu lakukan nak!?" ucap Mrs. Jung yang kaget melihat Yunho bersimpuh di hadapannya dan suaminya.

"Maafkan aku,Omonim, Aboji," Yunho masih bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya dan menangis.

"Aigoo nak, jangan seperti itu. Kamu masih belum pulih," ucap Mr. Jung yang membantu Yunho berdiri.

"Karena aku suara Jaejoong hilang, karena aku Jaejoong menderita. Maafkan aku Aboji, Omonim, Appa, Umma," ucap Yunho yang kembali bersimpuh lutut di hadapan mereka.

Mrs. Kim dan Mrs. Jung menyuruh Yunho dengan menarik namja bermata musang itu untuk berdiri.

Kedua yeoja paruh baya itu langsung memeluk Yunho dan menangis bersama Yunho.

"Umma, dimana Jaejoong?"

"Jaejoong masih belum sadar..," ucap Mrs. Kim sendu.

"Aku ingin bertemu dengan Jaejoong."

"Yunho ah, sebelum itu lebih baik kamu diperiksa dulu oleh dokter," ucap Mr. Kim.

"Tidak, aku ingin melihat Jaejoongie. Aku sudah merasa lebih baik. Aku tidak perlu dokter," ucap Yunho yang sudah berjalan ke arah luar kamar tidurnya.

Yunho mencari-cari Jaejoong. Dia mencarinya ke sebelah kamarnya.

Dia langsung menemukan Jaejoong.

Semua peralatan medis dipasang di tubuh Jaejoong.

EKG, alat bantu pernapasan, sampai infus tertancap di tubuhnya.

"Yunho ah...," panggil Mrs. Kim, "kamu harus tabah..."

"Apa maksud Umma?" tanya Yunho yang bingung dengan maksud Mrs. Kim.

"Yun... Jaejoong keguguran...," ucap Mrs. Jung.

"Ke.. Keguguran? Jaejoong keguguran? Jaejoong sedang mengandung!?" tanya Yunho kepada keempat orang tuanya.

"Benar... usia kandungan Jaejoong baru satu bulan dan sayangnya janin itu gugur..," lirih Mrs. Kim.

Mereka yang mengetahui kabar itu sudah menyesali sejak Jaejoong ada di UGD.

Yunho merasakan kedua kakinya lemas.

Dia jatuh berlutut di hadapan Jaejoong yang tertidur.

"Jaejoongie... Boo... kenapa kamu tidak memberitauku kalau kamu mengandung anak kita? Boo... maafkan aku.. maafkan aku.. Maafkan aku tidak bisa menjagamu dan aegya.. aku sungguh bodoh Boo..," ucap Yunho terus menerus, berharap Jaejoong sadar ketika dia memanggil nama Jaejoong.

Dokter masuk ke ruangan Jaejoong untuk pemeriksaan rutin Jaejoong.

"Dokter, bagaimana keadaan Jaejoong?" tanya Yunho.

"Pendarahan di kepalanya sudah dikeluarkan semuanya. Kami sudah berusaha sebisa kami untuk menyelamatkan nyawa pangeran. Kita tinggal menunggu pangeran membuka matanya," jelas sang dokter.

Yunho terdiam. Dia kembali menghampiri ranjang Jaejoong.

Membelai rambut Jaejoong, mengecup lembut keningnya, membelai pipi Jaejoong.

Semuanya merasa terharu.

Sang putra mahkota yang ingatannya sudah kembali tapi dia kehilangan buah hatinya, sang pangeran yang mendapatkan kembali cinta sang putra mahkota, namun belum sadar dan kehilangan buah hatinya.

Miris.

Begitu miris.

Para kelima insan paruh baya yang ada di sana tidak kuasa menahan tangis mereka.

Tangis mereka tumpah bersamaan dengan janji yang diucapkan oleh sang putra mahkota dan dengan rasa cinta yang begitu besar menyeruak dari dalam dadanya.

"Jaejoongie, ingat dengan janji kita? Aku ingin melihat bunga sakura berguguran denganmu tahun ini. Ayo buka matamu dan kita lihat pohon itu berdua," ucap Yunho sambil kembali mencium kening Jaejoong dengan sayang.

.

Kapankah Jaejoong akan bangun?

Apakah dia menerima Yunho dan menerima kenyataan kalau dia kehilangan anaknya?

.

.

TBC

.

Hello readers ^^

Akhirnya update juga kan? Hehehe

Maaf kalau banyak typo di chapter ini juga. Saya tidak mengeditnya lagi. Adakah yang mau menjadi editor untuk saya? Hehehe XD

Di chapter kemarin banyak yang protes karena banyak typo dan alurnya cepat XD maaf semuanya maaf hehehe dan saya juga minta maaf karena harus membuat Jaejoong sakit sekali lagi hehe ^^"

Terima kasih kepada kalian semua yang sudah baca, fav, follow, review, mengoreksi, berkomentar, dll pokoknya semuanya mengenai ff ini ^^Dari penulisan sampai ke cerita, terima kasih atas koreksinya ^^ *bow*

Dan juga, annyeong readers baru ^^ salam kenal ya ^^

Ah iya, sepertinya banyak yang mengharapkan ff ini akan NC hahahhaha XD akan saya pikirkan *loh XD

Saya snagat berterima kasih atas semangat yang diberikan oleh para readers. Benar-benar menjadi bahan bakar bagi saya ^^

Oh ya, mengenai Survivor, akan diupdate hari Kamis tanggal 1 Mei 2014. Jangan lupa baca juga ya ^^

Bagi yang bingung, silahkan bertanya ^^

Soal fb, mungkin saya belum bisa update di grup, maaf ya saya baru bisa update di ffn saja. Maaf maaf tapi di fb saya pasti ada teaser untuk ff yang akan publish ^^

Ok,kita lanjut ke Q & A

Q&A

Q: Jae gak apa-apa kan? Jae dan janinnya akan selamat kan?

A: Jawabannya di chapter ini XD

Q: Apakah ff ini akan segera selesai?

A: Benar, sekitar 3 chapter lagi akan selesai ^^

Q: Apakah dulu Jaejoong dan Yunho adalah sepasang kekasih?

A: hmmm jawabannya ada di chapter ini XD

Q: kenapa Ahra disebut permaisuri walaupun sudah ada raja dan ratu? Bukankah itu sama saja menjelekkan raja dan ratu?

A: maaf apabila sebutan mereka membuat bingung dan salah penyebutan. Akan saya perbaiki ^^

Special thanks to: gothiclolita89 , lovgravanime14 , Boo Bear Love Chwang , Park Seuri , Dhea Kim , meyy-chaan , elfinexoplanet, yolyol , ChwangKyuh EviLBerry, UMeWookie, rizkyamel63, exindira , rinayunjaerina, Vic89 , yoon HyunWoon , Hana - Kara , Dee chan - tik , Zimalaca-ELF, misschokyulate2 , YunHolic , , nidayjshero , choi im lezitia , chantycassie , teukiangle , Dennis Park, dhian930715ELF , Jung Eunhee, Clein cassie, Kim RyeoSungHyun, hye jin park , Kkamjjongitem , ShinJiWoo920202, Michelle Jung , akiramia44, ichigo song , mynamedhiendha, , Ami Yuzu , dokbealamo , hyejeong342 , xia-phie-CJHLover, qee , jungmarry , 1 , YuyaLoveSungmin , sycarp , HunHanCherry1220, JOON HOO , Yeppodevil, JungKimCaca, tarraaaa, Guest1, jaena , YunJae24, Vivi, an10, aaaaa , min, youngj , meybi, uknowme2304, Guest2, Guest3, Guest4, guest6 , Guest5, guest , Jung Boojae, Cicyjarje, Noona, zyln, Byunchannie26, lipminnie , Guest6, minha, Chanbaek4ever, CuteCat88 ,