Wasurenaide 9

[Discalimer: keseluruhan cerita milik saya dan seluruh tokoh milik Tuhan]

Sebulan lamanya sejak kejadian Yunho dan Ahra. Yunho sudah memaafkan Ahra dan Ahra juga sudah memaafkan Yunho. Mereka berdua sudah normal kembali, layaknya keluarga.

Namun.. sang pangeran masih bersedih..

Jaejoong sedang bersandar di pohon besar yang berada di bukit belakang istana.

Angin semilir membelai rambut almondnnya dan dengan halus mengusap kulitnya yang seputih susu.

Tangan kanan namja cantik itu mengusap pelan perutnya, berharap ada kehidupan di sana.

"Sudah 2 bulan lamanya kami menantikanmu dan berusaha agar kamu ada.. kapan kamu akan datang, anakku?" ucap namja cantik itu.

Ya, dia ingin sekali ada janin di dalam perutnya, buah hatinya dan Yunho.

Dia menatap ke arah istana, tempat dimana suaminya saat ini sedang memeriksa dokumen, membantu sang raja.

Hhh

Dia menghela napasnya pelan tapi bisa didengar oleh empat pengawal dan Kang Ahjumma yang menemani namja itu berjalan-jalan. Menurut dokter, jalan-jalan dapat merilekskan pikirannya.

"Pangeran, ada apa?" tanya Kang Ahjumma karena melihat ekspresi Jaejoong yang murung.

"Aku menyerah, Kang Ahjumma," ucap Jaejoong lirih. Dia ingin punya keturunan, itu saja.

"Kenapa menyerah, pangeran?" Kang Ahjumma duduk di sebelah Jaejoong. Mereka hanya beralaskan rumput hijau yang empuk dengan hiasan bunga rumput berwarna putih pada mahkotanya dan warna kuning pada benang sari dan putiknya.

"Aku ingin memiliki anak, namun setelah dua bulan ini menantikannya, kami belum juga dikaruniai anak..," ucap Jaejoong lirih kembali.

Dia teringat dengan janinnya yang gugur. Akhirnya setetes bening itu jatuh dari kedua matanya.

"Andai...andaikan anakku tidak gugur.."

Jaejoong mulai menangis kembali.

Kang Ahjumma hanya dapat mengusap lembut pundak Jaejoong dan memeluk namja cantik itu.

Kalau namja cantik itu sudah menangis seperti ini, hanya sang suami yang dapat menenangkannya.

Jaejoong menangis sesunggukkan. Kang Ahjumma hanya terus mengusap rambut dan pundak namja cantik itu.

Angin lembut yang menerpa tubuhnya membuatnya mengantuk karena kecapaian menangis. Namja itu cepat merasa kecapaian belakangan ini, mungkin karena kondisi mental dan fisik yang tidak baik dan juga cuaca yang sedang berganti musim.

Namja cantik berstatus istri putra mahkota itu kemudian tertidur di dalam pelukkan Kang Ahjumma. Kang Ahjumma tidak dapat banyak bergerak, takut-takut sang pangeran terbangun karena gerakannya.

Hari ini angin bertiup nyaman, daun-daun tampak menguning dan gugur, tanda musim gugur sudah datang.

Kang Ahjumma hanya berdiam diri sambil melihat ke arah dedaunan yang gugur.

"Pangeran, aku harap anda akan mendapatkan keturunan secepatnya.. Hamba tidak ingin anda merasa sedih.."

.

Kang Ahjumma memapah Jaejoong yang tertidur pulas. Sepertinya sang pangeran tidak mau diganggu, terbukti dengan apa yang dilakukan Kang Ahjumma tadi. Dia berusaha untuk membangunkan Jaejoong agar mereka masuk istana. Jaejoong bisa sakit kalau terlalu berlama-lama di luar.

Kang Ahjumma membaringkan namja berkulit putih susu itu di tempat tidur king size milik Jaejoong dan Yunho dan menyelimuti tubuh Jaejoong sampai ke bahunya.

Dengan lembut Kang Ahjumma membelai surai Jaejoong. Jaejoong sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Namja berparas cantik itu hanya memerlukan pikiran yang rileks dan tenang sekarang. Kalau tidak, hal itu dapat berdampak buruk pada kesehatannya.

Kang Ahjumma mendesah pelan.

Hatinya sakit melihat sang pangeran sepeti itu. Kapan Jaejoong akan keluar dari semua penderitaan ini? Kapan Jaejoong akan merasakan kebahagiaan?

Dengan langkah pelan agar tidak terdengar sang pangeran, Kang Ahjumma melangkah keluar dari kamar Jaejoong.

Ternyata saat sedang menutup pintu, seseorang yang dia hormati berdiri di sampingnya.

"Ah, putra mahkota," ucap Kang Ahjumma kaget dengan refleks tersentak dan kemudian menunduk, menghormat Yunho.

"Apakah Jaejoong menangis lagi?' tanya Yunho dengan penuh rasa cemas. Cemas kalau kesehatan istrinya itu menurun kembali.

"Ne, putra mahkota," jawab Kang Ahjumma lirih.

Hhhh

Yunho mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.

"Saya takut ini akan berlanjut terus, Yang Mulia," lanjut Kang Ahjumma sambil menunduk. Jujur, dia juga tidak ingin Yunho merasa frustasi.

"Aku tau.. sampai anak kami ada di perutnya, dia pasti akan seperti itu.. Jaejoong terlalu lemah untuk menanggung semua ini...," ucap Yunho sambil menyenderkan punggung tegapnya di tembok putih gading yang ada dibelakangnya.

"Aku tidak lemah," suara itu datang dari belakang pintu kamar Yunho dan Jaejoong, diiringi dengan terbukanya pintu kamar berdua. Jaejoong keluar dari kamarnya dengan mata yang sembab.

"Apa aku selemah itu Yun? Apakah kamu menganggapku seperti itu? Apakah kamu pikir aku tidak bisa mengandung, huh?' pertanyaan berentet dari Jaejoong menjadikan Yunho melayangkan protes.

"Aku tidak bilang kamu seperti itu."

"Tapi kata-katamu seperti mengatakan bahwa aku lemah. Ya, aku memang lemah! Aku tidak bisa mengandung lagi! Aku tidak akan pernah punya anak lagi, tidak akan!"

"Aku tidak bilang seperti itu, Jung Jaejoong."

"Tapi itu kenyataannya Yun! Sebagaimanapun aku berusaha, tetap saja tidak ada janin dalam rahimku.. Mungkin aku sudah tidak bisa mengandung lagi.."

Ucapan lirih yang diucapkan oleh Jaejoong membuat darah Yunho mendidih.

"Jangan pernah mengatakan hal itu lagi," ucap Yunho dengan sedikit gemertak di giginya.

Jaejoong terdiam, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Pangeran, mari kembali tidur," ucap Kang Ahjumma tiba-tiba agar kemarahan Yunho jangan sampai membuat Jaejoong kembali sedih.

Yunho masih mengepalkan tangannya saat itu.

Jaejoong masih menundukkan kepalanya dan menurut saat Kang Ahjumma membawanya masuk kembali ke kamarnya.

DUGH

Itulah yang Jaejoong dan Kang Ahjumma dengar.

Suara kepalan tangan Yunho yang beradu dengan tembok kamar mereka.

Hiks..

Air mata itu kembali jatuh.

Jaejoong terisak saat dia mendengar suara hantaman tembok dengan kepalan tangan.

Tak lama dia berlari keluar dan mendapati suaminya sudah berjalan menjauhi kamar mereka.

Jaejoong berlari mengejar suaminya itu dan memeluk dirinya dari belakang.

Yunho tersentak saat lengan mungil milik istrinya melingkar sempurna di pinggangnya.

"Mianhae.. mianhae..," ucap Jaejoong dengan memeluk Yunho dengan erat.

"..." Diam. Itulah balasan Yunho.

"Mianhae..," Jaejoong kembali mengucapkan kata itu lagi, berharap Yunho akan membalas ucapannya.

Yunho masih berdiri pada posisinya.

Ya, Jaejoong merasakannya.

Suaminya juga menginginkan anak tumbuh di dalam rahimnya, buah cinta Yunho dan dia.

Jaejoong merasakan tangan kekar Yunho hendak melepaskan pelukannya sehingga dia refleks mengeratkan pelukannya, tidak ingin Yunho pergi darinya.

"Jae... sesak..," ucap Yunho pelan.

Jaejoong refleks melepaskan pelukannya dan berkata maaf kepada suaminya itu.

"Gwaenchana.. mianhae aku terlalu emosi tadi..," ucap Yunho sambil mengecup puncak kepala istrinya.

Jaejoong menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk Yunho.

Ah, sepertinya sekarang ini sumber kekuatan Jaejoong adalah Yunho. Dia tidak ingin melepas suaminya lagi.

.

Tek tek tek

Suara detik demi detik jarum jam berdetak.

Malam ini, sang pangeran masih terjaga, sementara sang suami sudah menjemput mimpinya.

Dengan perlahan dia mengelus perutnya yang masih rata, lebih tepatnya mengelusnya lagi.

"Aku mohon... aku mohon Tuhan.. aku ingin ada janin di dalam rahimku.. aku mohon.."

Ucapan sang pangeran membuat sang putra mahkota mengeluh perlahan.

Karena takut Yunho akan bangun, Jaejoong mengelus pelan surai suaminya.

"Suamiku.. maafkan aku kalau aku selalu membuatmu kecewa.. maafkan aku..," Jaejoong kemudian mengecup lembut pinggir dahi Yunho, memberikan kelembutan pada suaminya itu.

Kemudian Jaejoong berdiri, menatap bulan yang sudah ada di atas langit.

Lama dia menatap bulan itu, memikirkan apa yang akan terjadi nanti pada kerajaan, kepada dirinya, kepada suaminya..

"Anakku, baik-baik di sana.. maafkan eomma yang bahkan belum memberi nama sebelum kamu lahir.. belum bisa merawatmu di dalam rahimku, dan yang belum bisa memberi kasih sayangku padamu.. maafkan eomma.. eomma menyayangimu sayang.. tenanglah di sana, baik-baiklah di sana.. kamu akan selalu ada di hati eomma, anak pertamaku.."

Tes

Tes

Kembali, air mata bening itu kembali jatuh dari kedua doe eyes Jaejoong.

Jaejoong mengusap air mata yang ada di pipinya dengan kasar dan kemudian menatap kembali ke arah bulan yang terang benderang disana.

"dan doakan eomma dapat memberikanmu adik baru, ne..? Eomma menyayangimu..."

Jaejoong tersenyum tipis dan kemudian kembali mengusap air mata yang masih menggenang di matanya.

Kemudian dia membaringkan tubuhnya di sebelah tubuh Yunho dan kemudian memeluk tubuh suaminya dengan erat.

"Selamat tidur, sayang.. aku mencintaimu.."

.

Di penghujung bulan Desember..

Musim dingin sudah menutupi seluruh Seoul dari awal bulan Desember.

Namun, dua insan sedang menikmati musim dingin ini bersama dari balkon kediaman mereka.

Putih.

Semuanya tertutup salju.

Cukup dingin berada di luar, namun tidak menghentikan mereka untuk menikmati musim dingin yang indah.

"Cantik...," ucap sang namja cantik yang hampir seperti bergumam.

"Hmm, cantik, secantik dirimu," ucap Yunho sambil mengelus lembut tangan Jaejoong, "apakah masih sakit?"

Jaejoong menggeleng dan tersenyum manis. Suaminya itu baru saja selesai merasukinya. Membuat dirinya harus merasa pegal-pegal setelah bergemul dengan suaminya dari tadi pagi sampai sore hari.

"Benarkah? Siap untuk ronde selanjutnya?"

"Kamu mau dibuang ke arah kolam yang sudah membeku di sana, Yun?" tanya Jaejoong sinis dan malah membuat Yunho tertawa terbahak-bahak. Dia sangat suka menggoda istrinya.

Yunho mencubit hidung Jaejoong dan membuat sang empunya mempoutkan sempurna bibir cherry miliknya.

"Lucunya istriku," ucap Yunho sambil mengecup pout Jaejoong.

"Yunnie..," protes Jaejoong sambil menggeplak lengan kekar Yunho.

"Wae mm?"

"Dilihat para pengawal..."

Sontak Yunho menghadap ke bawah dan mata musangnya menangkap beberapa pengawal menghadap ke arah Jaejoong dan dirinya. Para pengawalnya tersenyum kikuk saat Yunho melihat ke arah mereka.

"Ya! Apa yang kalian hmmph hmmp"

Jaejoong langsung membekap mulut Yunho.

"Berisik." Dengan satu kata itu saja Yunho sudah bisa diam.

Pawang beruang sepertinya sudah bangun.

Jaejoong langsung menyeret masuk dan sang beruangpun menurut.

.

Bulan Januari.

Setelah menghabiskan natal bersama, kini mereka tiba di bulan Januari, lebih tepatnya di akhir bulan Januari.

Saat ini Jaejoong duduk di bawah pohon tempat biasa dia menghabiskan waktunya.

Salju dingin tidak membuat dia mengurungkan niatnya untuk mendatangi tempat itu.

Dengan beralaskan salju, dia duduk di bawah pohon itu. Sendirian.

Para pengawal dan Kang Ahjumma yang selalu bersamanya kini sedang berada di dalam istana, mereka tidak tau kalau dia ada di sana.

Jaejoong memerlukan waktunya sendiri.

Salju tidak turun kali ini.. hanyalah tumpukan saju yang terlihat.

Dengan perlahan Jaejoong mengelus perutnya kembali, berharap ada makhluk kecil di sana yang akan menendang perutnya.

"Tidak ada ya...? masih belum ada..?" bisik Jaejoong lirih, "tidak apa.. eomma akan menunggumu.."

Tes

Kembali jatuh.

Air mata itu sekali lagi menetes.

"Hiks.." isak Jaejoong perlahan.

Tanpa dia tau dari jauh suaminya memandang dirinya dari bawah bukit.

"Jaejoongie.." bisik Yunho lirih. Hatinya sakit ketika selalu menemukan sang istri menangis setiap malam, ketika dia sendirian, dan ketika Jaejoong berada di bawah pohon itu.

"Mianhae, Jaejoongie.."

.

Esoknya, Yunho berada di tempat kerjanya.

Dia sedang membantu Mr. Jung memeriksa dokumen keluhan masyarakat, namun sang raja sedang berada di luar negeri untuk bertemu dengan petinggi negeri lainnya.

Kriet

Seorang yeoja cantik bernama Tiffany masuk ke dalam ruangan Yunho. Terang saja dia bisa masuk karena dia adalah bawahan Yunho.

"Ehem, putra mahkota, ini berkas yang putra mahkota minta," ucap Tiffany sambil menyerahkan berkas kriminalitas Seoul yang dihimpun dari seluruh kantor polisi Seoul.

"Baik, terima kasih. Tolong taruh di meja saja. Kamu boleh keluar sekarang," ucap Yunho tanpa melihat ke arah Tiffany. Berkas keluhan itu begitu banyak dan harus segera dia tanda tangani agar bisa diproses.

"Eumm putra mahkota.. maaf kalau hamba lancang, apakah pangeran belum memiliki anak?"

Yunho menghentikan kegiatannya dan menatap Tiffany.

"Belum, ada apa?"

"A-ani.. maaf hamba lancang, tapi.. kalau memang pangeran tidak bisa memiliki anak, mengapa putra mahkota tidak mencari selir dari sekarang?"

Tek

Yunho meletakan pulpennya kasar ke atas meja, membuat bunyi benturan yang cukup keras.

Tiffany memundurkan langkahnya, refleks saat mendengar hal itu.

"Jangan memerintahku," ucap Yunho dengan datar tapi dengan penuh penekanan dan tatapan tidak suka. Hal itu cukup sensitif baginya, "Jaejoongku bukan barang yang bisa dinomor duakan."

Tiffany hampir mundur tapi kemudian dia memberanikan dirinya mendekati Yunho tanpa melepas tatapan dari mata musang itu.

Dengan perlahan dia berjalan ke belakang tempat duduk Yunho dan kemudian membelai pundak Yunho dan menurunkan tangannya sampai ke dada Yunho.

"Kalau anda membutuhkan selir, hamba siap, putra mahkota," bisik Tiffany.

"Lepas!" geram Yunho saat Tiffany bertindak tidak sopan kepadanya.

Tanpa mereka berdua tau, Jaejoong berdiri di depan pintu ruang kerja Yunho dan melihat Tiffany sedang berbisik ke telinga Yunho dengan tangan yang mengelus pundak Yunho.

Brak

Makanan yang berada di dalam kotak makan dan susah-susah Jaejoong buatkan untuk Yunho jatuh begitu saja.

Yunho dan Tiffany tersentak saat memdengar suara itu dan kemudian melihat Jaejoong mematung di depan pintu.

"Yun.. Yunnie.." bisik Jaejoong lirih.

"Jae.." ucap Yunho yang masih kaget.

Jaejoong langsung meneteskan air matanya dan kemudian berlari dari ruangan Yunho.

"Jae!" teriak Yunho.

Tiffany masih membatu di tempatnya. Kalau sudah begini, dia bisa dikeluarkan.

Dan benar saja..

"Tiffany Hwang! Kau kupecat dengan tidak hormat! Pengawal! Bawa yeoja ini keluar dari gedung dan jangan biarkan dia selangkahpun masuk!" ucap Yunho dengan nada tinggi.

Yunho langsung berlari keluar untuk mengejar Jaejoongnya sementara Jaejoong sudah masuk ke dalam mobil dan meninggalkan gedung tempat Yunho bekerja.

"BooJae!" Yunho seperti orang kesetanan saat melihat Jaejoongnya dengan penuh air mata masuk ke dalam mobil. Dia berteriak tanpa sadar dia masih di dalam lingkungan pemerintahan.

"Ada apa putra mahkota?" tanya empat pengawal yang ada di depan pintu, membuat Yunho tersadar kalau dia sudah ditonton banyak orang.

"Ani.. tidak ada apa-apa," ucap Yunho sambil mengacak rambutnya kasar.

Tak lama datanglah penasihat kerajaan dari dalam gedung.

"Ada apa Yang Mulia? Hamba melihat pangeran menangis dan anda berlarian sehingga hamba ke sini," ucap Gong Ahjussi.

"Ne, aku mengejar istriku. Siapkan mobilku. Aku ingin pulang sekarang. Kunci ruanganku dan jangan biarkan Tiffany Hwang masuk ke dalam lingkungan pemerintahan seujung kakipun. Kalau dia berani masuk ke sini, kalian yang akan menanggung akibatnya. Mengerti?" ucap Yunho yang membuat semua orang di sana menunduk patuh.

.

Jaejoong masuk ke dalam kediamannya dengan berlinangan air mata, membuat Kang Ahjussi harus menutupi wajah Jaejoong dengan jas yang dipakainya dna memapahnya dengan perlahan.

Hati Kang Ahjussi seperti disayat saat mendengar pangerannya menangis terisak di dalam mobil dan saat ditanya ada apa, Jaejoong hanya menggelengkan kepalanya.

Kedatangan Jaejoong langsung disambut oleh Ibu Suri yang kebetulan berencana kediamannya.

Betapa terkejutnya dia melihat Jaejoong yang sudah belinangan air mata.

"Aigoo ada apa Joongie sayang?" tanya Ibu Suri dengan raut khawatir yang terlihat di wajahnya.

Jaejoong menggelengkan kepalanya. Dia tidak seakan tidak bisa berucap apapun sekarang ini. Pikirnnya masih mengarah kepada Yunho.

Dia terus saja menangis dan membungkuk dalam kepada Ibu Suri.

Ibu Suri yang tidak tega melihat Jaejoong seperti itu langsung menyuruhnya berdiri dan memapahnya menuju ke dalam kamarnya.

Tak lama Yunho datang sambil berlari-lari ke dalam kediaman mereka, berteriak sepanjang koridor dan dalam kediamannya.

"JAE!"

Jaejoong yang mendengar suara Yunho tersentak kaget dan kemudian berjalan cepat menuju ke dalam kamarnya, bersama dengan Ibu Suri.

Namun sebelum mencapai kamarnya, dia langsung ditarik oleh Yunho dan Yunho langsung memeluknya.

Greb

Yunho memeluk Jaejoong erat.

Namun Jaejoong meronta dalam pelukan Yunho.

"Maafkan aku Jae, maafkan aku," ucap Yunho berulang kali mengucapkannya walaupun Jaejoong terus meronta.

"Lepas...," ucap Jaejoong pelan.

Yunho masih memeluknya dnegan erat.

"Lepas!" habis sudah kesabaran Jaejoong. Dia berteriak di depan Yunho dan membuat semua orang di sana terdiam dalam seribu bahasa.

"Aku memang tidak bisa mengandung lagi Yun.. tidak bisa... lebih baik kamu mencari selir seorang yeoja yang pasti bisa mengandung anakmu... carilah selir.. atau dialah yang akan menggantikanku sebagai ratu kelak."

Semua ucapan Jaejoong membuat semua yang di sana tersentak kaget, tidak kerkecuali sang Ibu Suri.

"Joongie! Apa yang kamu katakan barusan huh!?" tanya sang Ibu Suri tidak terima dengan apa yang Jaejoong katakan dengan nada yang cukup tinggi, membuat Jaejoong langsung menundukkan kepalanya.

"A-ani Ibu Suri, bukan maksudku—"

"Cukup. Aku memilihmu sebagai pendamping Yunho karena aku percaya kamulah yang terbaik untuknya, bukan yang pertama atau yang kedua. Jangan bebani pikiranmu karena kamu harus mengandung anak dari Yunho sekarang. Kamu masih muda Jaejoong ah, kalian masih punya banyak waktu berdua. Jangan putus asa dulu. Aku percaya kalian akan memiliki seorang anak kelak, bahkan bisa lebih dari itu. Jadi, aku tidak ingin ada kata-kata selir di sini, tidak boleh ada selir," ucap sang Ibu Suri.

Semuanya menunduk dalam.

Jaejoong yang merasa sangat bersalah langsung berlutut di depan Ibu Suri, mengucapkan maaf berulang kali atas apa yang dia lakukan diikuti dengan Yunho.

"Aigoo sudah sudah kalian berdua," ucap Ibu Suri sambil menyuruh YunJae untuk berdiri.

Jaejoong dan Yunho masih menundukkan kepalanya.

Jaejoong merasakan kepalanya berdenyut, refleks dia mengelus kepalanya. Dia ingin tidur, dia merasa tidak enak badan belakangan ini.

"Wae, Jae?" tanya Yunho dengan nada penuh kekhawatiran. Sontak semua orang menoleh ke arah Jaejoong.

Jaejoong hanya menggelengkan kepalanya. Mungkin dia hanya masuk angin.

Semuanya panik saat tubuh Jaejoong terhuyung. Kondisi namja ini melemah karena kondisi mentalnya yang lemah.

Dengan sigap Yunho langsung memapah Jaejoong namun Jaejoong dengan refleks menapik tangan Yunho.

Jaejoong sendiripun kaget dengan apa yang dia lakukan. Dia bertemu mata dengan Yunho sebentar dan kemudian menunduk kembali, seakan tidak ngin bertemu dengan suaminya.

"Joongie, ke kamarmulah, istirahatlah, jangan memikirkan apapun," ucap Ibu Suri yang tidak tega melihat wajah pucat Jaejoong.

Jaejoong mengangguk dan kemudian pergi ke kamarnya.

Yunho ingin menyusul Jaejoong namun langkahnya terhenti saat Ibu Suri menariknya, menggelengkan kepalanya, seperti mengatakan jangan melakukan apapun. Dia ingin membiarkan Jaejoong sendiri.

Yunho menganggukkan kepalanya.

Berat hatinya meninggalkan Jaejoong dalam masa seperti ini, namun, sepertinya Jaejoong ingin sendirian.

.

Jaejoong masuk ke dalam kamarnya dan langsung menyelimuti seluruh tubuhnya. Dia bahkan tidak bisa memikirkan apapun. Kepalanya cukup sakit. Sampai akhirnya dia tertidur karena tidak sadarkan diri.

.

Jaejoong terbangun saat 1 jam setelah tertidur.

Sakit kepalanya makin menjadi, tetapi dia tahan. Dengan perlahan dia turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke ruang keluarga.

Dari celah pintu yang terbuka, dia bisa melihat Yunho sedang meneguk wine. Wajah sang suami sepertinya sangat depresi.

Sesekali dia mendengar Yunho mendesah berat.

Diam.

Dia memilih untuk diam.

Kalau Yunho sudah seperti itu, dia hanya bisa terdiam melihatnya. Datang kepadanyapun akan bisa memperburuk suasana.

Tanpa mau melakukan apapun, Jaejoong menutup pintu kamarnya perlahan.

Membiarkan tubuhnya berjalan ke ranjang dan merebahkan dirinya di sana, membiarkan kali ini mimpi yang menjemputnya.

.

Jaejoong terbangun saat matahari sudah tinggi.

Dia meraba sisi ranjang di sampingnya.

Kosong.

Tidak ada siapapun.

Jaejoong mendesah.

Yunho tidak ad di kamarnya.

'Ah, mungkin sudah berangkat kerja,' pikirnya dalam hati.

Dengan perlahan dia duduk di sisi ranjang, mengusap wajahnya sebentar, lalu berjalan keluar kamar.

Saat dia membuka kamar, dia menemukan seisi rumah seperti hanya dirinya sendirian.

Dia mencari ke seluruh ruangan.

Dapur, kamar tamu, ruang keluarga, kamar mandi, ruang membaca, ruang kerja, ruang makan, semuanya.

Tidak ada Yunho.

Jaejoong memegang perutnya.

Dia ingin ke kamar mandi. Akhir-akhir ini dia sering sekali ke toilet untuk buang air kecil.

Setelah dari kamar mandi, dia memanggil Kang Ahjumma.

"Ne, pangeran?" tanya Kang Ahjumma ketika mendatangi Jaejoong.

"Dimana putra mahkota?" tanyanya penasaran.

"Pangeran tidak tau kalau putra mahkota pergi keluar Jepang pagi ini? Raja memintanya ke sana karena Kaisar Jepang ingin bertemu dengannya. Cukup mendadak. Kemarin malam baru saja di telepon oleh raja," jelas Kang Ahjumma setelah melihat wajah Jaejoong yang cukup terkejut.

"Tidak.. dia tidak memberitahukannya padaku," jawab Jaejoong lirih.

"Mungkin putra mahkota tidak ingin mengganggu pangeran yang tertidur lelap," ucap Kang Ahjumma.

Jaejoong mengangguk. Dengan cepat dia kembali ke kamarnya, mengambil ponsel miliknya dan langsung menghubungi Yunho.

Namun yang dia dapatkan adalah suara mesin penjawab voice message, tanda ponsel Yunho tidak aktif.

"Mungkin putra mahkota sedang naik pesawat, pangeran," ucap Kang Ahjumma yang menemani Jaejoong karena tampaknya sang pangeran sakit. Wajahnya cukup pucat untuk dikatakan sehat.

Jaejoong mengangguk. Dia berencana menghubungi Yunho nanti.

.

Siang, sore, dan malam Jaejoong mencoba menghubungi Yunho namun nihil, ponsel Yunho tidak aktif.

Hari ini, tanggal 1 Februari. 3 hari lagi ulang tahunnya dan 5 hari lagi adalah ulang tahun Yunho.

Jaejoong mendesah. Dia berharap Yunho kembali sebelum ulang tahunnya. Dia ingin merayakannya bersama.

.

Malam ini adalah malam pergantian ulang tahunnya.

Jaejoong duduk sendirian di kamarnya.

Hari ini tanggal 3 Februari. Namun, tidak ada tanda-tanda Yunho bisa dihubungi.

Jaejoong terdiam.

Uh.. kepalanya pusing lagi.

Jaejoong langsung berlari ke kamar mandi.

Muntah.

Namja itu memuntahkan semua isi perutnya.

Kepalanya berdenyut sakit.

'Apakah aku hamil?' tanyanya dalam hati.

Jaejoong langsung mengambil test pack dan memeriksanya.

Namun hasilnya, negatif..

.

Tanggal 4 Februari. Hari ulang tahun Jaejoong.

Seluruh kerajaan merayakan ulang tahun Jaejoong.

Orang tua Jaejoong dan Junsu pun datang ke istana.

Changmin dan Yunho juga datang ke istana untuk merayakan ulang tahun Jaejoong.

Namun raja dan Yunho tidak ada di istana, mereka harus di Jepang untuk tugas kenegaraan.

Sepi.

Ulang tahunnya tahun ini terasa sepi.

Uh..

Kepalanya kembali sakit dan mual menyerangnya.

Dia langsung berlari ke arah kamar mandi man memuntahkannya lagi di sana.

Karena keadaan ramai, tidak ada yang memperhatikannya. Mereka semua sibuk menikmati keindahan tarian tradisional Korea yang ada di istana sementara Yoochun dan Changmin siap-siap tampil untuk membawakan lagu spesial untuk Jaejoong.

Jaejoong memijit kepalanya. Cukup pusing. Dia tidak kuat kalau terlalu lama berdiri.

Dengan perlahan dia duduk di dekat balkon istana utama, tempat ulang tahunnya dirayakan, melihat semuanya sedang bergembira di hari ulang tahunnya.

Dia gembira, hanya saja akan lebih lengkap kalau raja dan Yunho bersamanya.

Dia tau seluruh keluarganya berusaha menghiburnya. Kado banyak berdatangan untuknya. Baik dari dalam Korea, juga dari luar Korea.

Nmaun, hadiah terindah baginya tidak ada.

Senyuman Yunho. Hanya senyuman Yunho yang dia harapkan saat ini.

Daia harap Yunho ada di sini bersamanya.

Hhh

Desahan berat itu keluar lagi.

Jaejoong menatap nanar ke halaman istana.

'Yun.. aku harap kamu di sini..'

.

Malam harinya Jaejoong duduk diam di kamarnya.

Sendiri lagi.

Dia melihat terus ke handphonenya.

Berpuluh-puluh pesan dia kirimkan kepada Yunho.

Namun naas, ponsel Yunho tetap tidak aktif.

Dia menyerah.

Dia mengusap wajahnya kasar.

Wajah itu terlihat sembab, tanda dia menangis lagi.

Jaejoong memilih untuk tidur. Kesehatannya menurun drastis belakangan ini.

.

Tanggal 5 Februari.

Jaejoong terbangun saat perutnya merasakan sangat sakit, seperti ada yang melilit perutnya.

"Sakit...," lirihnya sambil memegang perutnya.

"Uhh," dia meremas sedikit perutnya.

Kang Ahjumma yang kebetulan datang untuk membangunkan Jaejoong, cukup terkejut dengan apa yang terjadi. Dia melihat Jaejoong merintih kesakitan.

"Pangeran? Pangeran tidak apa-apa?" tanya Kang Ahjumma panik.

Keringat dingin menetes dari dahi Jaejoong. Bibir Jaejoong sangat pucat, terlihat dengan warnanya yang berubah.

Melihat Jaejoong menggeliat kesakitan seperti itu, Kang Ahjumma memastikan kalau itu sakit sekali.

Kang Ahjumma langsung memangggil dokter kerajaan tanpa melepas pandangannya dari Jaejoong.

Setelah memanggil dokter kerajaan dari alat komunikasinya, Kang Ahjumma langsung memeriksa suhu tubuh Jaejoong.

"Panas..," gumam Kang Ahjumma yang kemudian mengambil handuk, baskom, air, termometer, dan teh hangat. Seluruh pelayan dikerahkan untuk menangani Jaejoong selagi menunggu dokter.

Kang Ahjumma langsung mengompres dahi Jaejoong agar menurunkan panasnya dan berusaha menenangkan Jaejoong yang terus menggeliat kesakitan.

"Pangeran, tahan sebentar, dokter akan datang..," ucap Kang Ahjumma khawatir.

"Uh.. Yun..," rancau Jaejoong karena panasnya yang semakin tinggi.

"Aigoo pangeran, bertahanlah," Kang Ahjumma semakin panik karena Jaejoong semakin menggeliat dengan gerakan yang kasar.

Untungnya berselang 1 menit, 3 dokter kerajaan langsung menyambangi kediaman Jaejoong dan memeriksa Jaejoong.

Ketiga dokter memeriksa Jaejoong dengan serius dan merundingkan satu hal, membuat Kang Ahjumma penasaran.

"Dokter, apa yang terjadi pada pangeran?" tanya Kang Ahjumma.

"Eumm, kami yakin 99% mengenai kesehatan pangeran..," ucap salah seorang dokter.

"Apa itu?"

"Ah, untuk lebih meyakinkan, kami harus melakukan tes lab."

"Baiklah dokter, kesehatan pangeran aku serahkan pada kalian," ucap Kang Ahjumma sambil membungkukan badannya.

Ketiga dokter itu mengangguk dan meminta data untuk pengetesan kesehatan Jaejoong di lab, termasuk urin Jaejoong.

.

Jaejoong sudah lebih baik kali ini.

Dia memaksakan diri untuk keluar dari kamarnya walaupun Kang Ahjumma melarangnya dan menikmati sore hari di musim dingin.

Dia menghirup teh lavender untuk menenangkan pikirannya.

"Selamat datang.. selamat datang sayang..," dia bergumam kecil sambil tersenyum menatap langit yang menampakan bintang.

"Andaikan kamu di sini Yun..," ucap Jaejoong sambil mengeratkan mantel berbulunya.

.

Pukul 11.49 waktu Seoul, Yunho kembali ke Korea dan sampai di kediamannya.

Dia berjalan ke arah kamarnya dengan tergesa dan menemukan istrinya tertidur pulas saat dia membuka pintu kamarnya perlahan.

Wajah itu.

Wajah yang Yunho rindukan selama di Jepang.

Dia sempat ada konflik dengan Jaejoong dan belum di selesaikan.

Dia merasa bersalah dan ingin menjelaskan semuanya, namun dia harus pergi ke Jepang hari itu juga.

Yunho mengelus pipi Jaejoong.

Panas.

Demam Jaejoong cukup tinggi.

Yunho mengganti kompres Jaejoong dengan yang baru.

Merasakan keningnya menjadi sejuk, Jaejoong terbangun.

"Eumh..," lenguhan Jaejoong membuat Yunho mengelus pipi Jaejoong.

"Kang Ahjumma..?" tanya Jaejoong dengan mata yang terbuka sedikit.

"Ani, ini aku.."

"Euh..?"

'Suara pria?'batin Jaejoong.

"Tidurlah.."

"Euh..?" Jaejoong membuka matanya lebih lebar. Mana mungkin Kang Ahjumma berubah menjadi pria.

Yang dia dapati, wajah yang aling dia rindukan selama ini berada di depan matanya.

Sontak dia duduk di ranjang, kaget dengan siapa yang datang.

"Yun!?" ucapnya setengah berteriak.

"Sstt Jae, jangan berisik. Iya, ini aku, Yunhomu. Maaf aku pergi mendadak. Selain itu, aku minta maaf karena meninggalkanmu yang bahkan belum sempat menjelaskan apa yang terjadi waktu itu.. dan juga aku membiarkanmu melewatkan—"

Ucapan Yunho terpotong saat Jaejoong mencium bibirnya sekilas.

"Ssstt.. jangan bicara apapun...aku percaya padamu..maafkan aku waktu itu langsung menuduhmu tanpa mendengar penjelasanmu. Tidak apa kamu tidak berada saat ulang tahunku. Dengan kamu kembali padaku saja itu sudah cukup," ucap Jaejoong sambil menangkup pipi Yunho. Yunho bisa merasakan tangan Jaejoong yang dingin.

"Kamu makan teratur kan? Tidak tidur malam-malam kan?" tanya Jaejoong namun mendapatkan cubitan di hidung dari Yunho.

"Hei, justru aku yang bertanya seperti itu. Kamu sakit begini," ucap Yunho yang mencium pipi Jaejoong.

"Hehehehe, aku sudah sehat sekarang. Eumm.. selain itu.."

"Selain itu apa?" tanya Yunho penasaran.

"Selain itu..."

Teng teng

Tepat jam 12 malam di hari ulang tahun Yunho.

"Ini sudah hari ulang tahunmu Yun. Selamat ulang tahun," ucap Jaejoong dengan senyum manisnya.

"Terima kasih sayang," ucap Yunho sambil memeluk pinggang Yunho, mengecup, dan melumat bibir manis Jaejoong.

Jaejoong memeluk Yunho dan juga melumat bibir Yunho.

Ciuman penuh rasa rindu dan sayang yang meluap dari keduanya. Terlebih Jaejoong.

"Yun, aku ada hadiah untukmu," usai mereka berciuman.

"Hm? Apa itu?" tanya Yunho sambil mengelus pipi Jaejoong dengan kedua ibu jarinya.

"Eum.. ini," Jaejoong memberikan amplop berwarna coklat, hasil lab rumah sakit.

"Apa ini?" tanya Yunho pensaran.

"Buka saja," ucap Jaejoong sambil tersenyum.

Dengan cepat Yunho membukanya.

Saat Yunho membukanya, dia terkejut dengan apa yang didapatkannya.

Selama ini yang dia tunggu.

Ani, dia dan Jaejoong tunggu.

Yunho langsung menatap Jaejoong.

"Ini benar kan Boo?" Jaejoong menganggukkan kepalanya dan menitikkan air mata.

Yunho memeluk Jaejoong dengan erat dan Jaejoong membalasnya.

Yunho mulai menitikkan air matanya. Melafalkan terima kasih berkali-kali kepada Jaejoong dan Jaejoong terus mengelus kepala Yunho dan menggumamkan 'cheonmayo' ke telinga suaminya itu.

Hadiah yang sangat mereka idam-idamkan.

Sangat mereka nantikan walaupun hanya seuntaian kalimat dari berbagai kalimat yang ada di dalam isi amplop tersebut.

'Jung Jaejoong : positive Male Pregnant – 2 months'

.

.

TBC

.

Haiahahhaa readers maaf updatenya lama heehhee

Karena satu dan lain hal jadinya seperti ini hehee.

Btw, bagaimana di chapter ini? Menyentuhkah? Semoga iya heehhe

Aah akhirnya chapter depan tamat sudah heheheehe YunJae punya adik-adik bayiii. Adik-adik? Ya, rencananya mereka kembar hehehe ^^

Ada yang mau usul nama adik bayinya? Kembar cewe dan cowo. Berikan kepada saya nama dan alasan kenapa harus memakai nama itu. Kalau ada artinya untuk reader, mohon dicantumkan untuk jadi bahan pertimbangan saya hehee ^^

Kalau tanpa halangan, semoga updatenya lebih cepat ya hehehee

Maaf kalau di chapter ini banyak typonya hehehe Maaf kalau chapter sebelumnya juga banyak typo, saya sangat minta maaf karena hal itu menganggu saat membaca ff saya.

Terima kasih kepada semuanya yang mendukung dan membaca ff ini. Saya sangat merasa terhormat karya saya dibaca oleh kalian *bow* ^^

Baiklah, mari kita ke Q&A ^^

Q&A:

Q: Chapter depan sudah end?

A: Wah, nambah 1 chapter lagi deh XD

Q: Anaknya YunJae cewe atau cowo?

A: Kembar cewe dan cowo, maunya XD

Q: Perhatikan penempatan kata 'gugur'

A: Saya menempatkan kata 'gugur' di cerita ini karena saya pikir kalau menggunakan kata'luruh', tidak semua orang tau kata itu. Selain itu kata 'gugur' adalah kata dasar dari 'keguguran' jadi saya menempatkan banyak kata 'gugur' di sini ^^

Q: Feel chapter 8 kurang dapet.

A: Terus terang, saya ingin menonjolkan yadongannya *loh ahahhaha XD

Q: Muncul konflik lagi gak?

A: Jangan, udah mau tamat XD

Q: Untuk selanjutnya ff fantasi ya? Jaejoong putra duyung dan Yunho putra pemburu duyung

A: iya betul. Tema hurt/comfort dan fantasi ^^

Q: Happy ending ya?

A: Pasti ^^

Q: Ahra serius tuh minta maafnya?

A: Serius kok XD

Special thanks:

rinayunjaerina, Vic89, cindyshim07, LEETEUKSEMOX, Dennis Park, Karina, Park Seuri, .1272, kyuboss, Dhea Kim, Ai Rin Lee, Shim JaeCho, Clein cassie, teukiangle, nidayjshero, MPREG Lovers, exindira, wulandari. apple, Huang Zi Lien, yoon HyunWoon, iche. cassiopeiajaejoong, Ami Yuzu, Dewi15, MaxMin, leejisung4, bambidola, ichigo song, ShinJiWoo920202, misschokyulate2, akiramia44 , mei. azzahra1, HunHanCherry1220, xing mae30, CuteEvil300799, dhian930715ELF, quinniee, Boo Bear Love Chwang , lipminnie, zyln , GuestYunJae, Hyejinpark, Byunchannie26, tarrraaaaa , Guest 1, minha, Guest 2, Guest 3, meyy-chaan, Yeppodevil, meybi, YumiChangmin, hanasukie, Kim WonKyu, YunJae24, sycarp, dims, Ristinok137, leeChunnie.

Thank you all ^^ *bow*