When Would It Be

CHAPTER 2

Warning! YAOI, Best-fucking-Friend, Typo(s) gak masuk akal.

Pair! Mark x Jaemin

Slight! Jeno x Jaemin

NCT adalah punya Sment, saya cuma pinjem nama dan gejolak cinta yang mereka rasakan satu sama lain (?)

.

Happy Reading

Jaemin Pov

Udara lembab menyelimuti Vancouver. Tiga hari, hujan mengguyur kota. Kini hingga langit mulai menampakkan sedikit warna oranye di cakrawala barat, hujan rintik tipis masih setia menemani. Sedikitnya orang merasa mulai lega karena penderitaan mereka di pertengahan musim semi akhirnya usai. Tidak ada badai yang mereka takutkan, tidak ada pohon tumbang menimpa rumah dan menelan nyawa.

Nyatanya, bagiku, hujan tiga hari berturut-turut itu merupakan pengalaman yang menyenangkan. Rasanya lega melihat rintik hujan turun diantara gedung-gedung tinggi dan membuat ratusan pejalan kaki berhamburan dari jalan. Kelas pun tak terasa sesunyi dulu berkat suara rintik air yang jatuh mengenai atap dan pohon. Terkadang suasana kelas seakan mencekikku dengan caranya mengeluarkan aura super serius dan persaingan yang ketat. Disaat seperti ini aku bisa bernapas lega.

Kuliah akan berakhir dalam waktu lima menit. Aku segera menghubungi Mark yang berjanji akan menjemputku sore ini. Sebenarnya ia biasa menjemputku kuliah, tapi beberapa hari terakhir Mark jadi sibuk dengan pekerjaannya di rumah produksi film sebagai asisten sutradara. Aku pun mulai terbiasa pulang menggunakan bus karena hal itu. Entah kenapa tiba-tiba bilang akan menjemputku pagi ini.

"Hei, kami mau belanja keperluan musim semi. In?"

Seorang teman berkewarganegaraan Irlandia mendekatiku tepat setelah pelajaran usai. Dia adalah salah satu teman sekelas yang paling supel, paling ramah, paling cantik, dan hebatnya paling pintar. Namanya Irene, ngomong-ngomong. Kesempurnaannya itu cukup menyilaukan mata setiap orang yang mengenalnya. Termasuk aku. Dia gadis yang baik. Tapi, karena terlalu baik aku jadi tidak terlalu nyaman jalan bersamanya.

Di belakangnya, teman sekelasku yang berkarib dengan Irene menungguku menjawab. Seakan tak sabar dengan setiap kata yang bakal aku ucapkan.

"Sorry, aku sudah punya janji lain."

"Dengan laki-laki lulusan film dan theater itu? Kalian pacaran?"

"Ah, tidak juga. Aku sudah punya pacar di Korea." Kujawab pertanyaan salah satu teman Irene sembari mengemas barangku.

"Lalu kenapa dia terlihat sangat baik padamu? Dia mengantar jemputmu hampir... tiga bulan lamanya."

"Entahlah aku juga tidak mengerti."

Aku tidak terlalu bisa bersosialisasi dengan orang asing. Rasanya mereka tidak bisa dipercaya untuk diajak berbagi cerita. Sebisa mungkin aku selalu menghindari kontak dengan teman-teman sekelasku. Sekarang mereka mungkin menganggapku terkena sosial fobia. Kenyataannya aku juga merasakan hal yang sama.

"Aku duluan ya. Selamat bersenang-senang."

Mereka membiarkanku pergi dengan tenang. Orang-orang di negara ini tidak suka membicarakan orang lain. Hal yang aku syukuri karena aku tidak perlu khawatir tentang bagaimana orang-orang menilaiku berdasarkan sudut pandang orang lain.

Ada sebuah jalan yang harus kulalui dengan berjalan kaki sampai ke gerbang dimana Mark mungkin tengah menunggu. Tetes-tetes air hujan yang terjebak di dedaunan perlahan turun menetesi tubuhku, berkolaborasi dengan hujan yang belum sepenuhnya reda. Biasanya pohon di samping jalan akan berubah kuning dan oranye di musim gugur, mereka disebut pohon maple. Lambang dari negara besar ini.

"Ada hal baik terjadi?" tanya Mark saat aku masuk ke dalam mobilnya.

"Tidak juga. Seperti biasa sih."

"Biar kutebak. Kau menolak ajakan teman-temanmu untuk hang out lagi. Benar?"

Pasti Mark akan mengomeliku lagi untuk masalah yang satu ini. Telingaku sudah sakit mendengarkan ceramahnya yang itu-itu saja selama empat bulan hidupku di Vancouver.

"Mark, kupikir kita sudah sering membicarakan hal ini. Aku sosial fobia sejak di Kanada dan sampai sekarang belum tahu bagaimana cara mengatasinya. Ceramahmu tidak membantu."

"Kau harus bantu dirimu sendiri kalau begitu. Bagamana bisa calon psikiater malah kena gangguan jiwa?"

"Diamlah. Semua orang bisa gila tanpa memandang pekerjaan. Cepat nyalakan mobilnya. Aku ingin segera tidur."

Kurasa Mark tidak berniat untuk membalas ucapanku lagi. Dia menghidupkan mesin mobilnya lalu menjalankan benda itu keluar dari area UBC.

Sepanjang perjalanan, kulihat mahasiswa lain berjalan di trotoar bersama dengan teman-teman mereka. Tawa dan canda yang sepertinya saling mereka lempar satu sama lain menggelitik perutku. Bagaimana bisa mereka sedekat itu padahal jati diri mereka saling berbeda? Berbeda warna kulit, kewarganegaraan, bahasa ibu, dan budaya. Kenapa aku tidak bisa seperti mereka?

Aku melirik Mark yang fokus menyetir di sampingku. Setelah kupikir lagi, hanya dia yang jadi temanku di Kanada. Apa aku tidak terlalu merepotkannya ya? Mark kan juga punya kehidupan lain di luar sana. Dia sudah punya pekerjaan, lingkaran pertemanannya juga pasti semakin besar. Seandainya aku benar-benar memutuskan untuk kuliah di sini lima tahun lalu, tidak terbayang seberapa merepotkannya diriku untuk Mark saat itu.

"Ada sesuatu di wajahku?"

Tiba-tiba Mark bersuara. Aku terkejut karena kedapatan memandangi wajahnya seperti ini.

"Iya," Jawabku tanpa banyak berpikir.

"Heh? Apa? Dimana?" tangannya dengan bingung wajahnya sendiri.

"Tampan."

Mark langsung menatapku ngeri tanpa menunggu detik selanjutnya datang.

"Baiklah-baiklah. Kau memang jelek. Jeno-ku yang paling tampan. Eh iya, kita makan apa malam ini?"

"Entahlah. Aku juga bingung. Kau ingin makan apa?"

"Sup rumput laut."

"Kau tidak sedang ulang tahun, Jaem."

"Aku cuma ingin makan saja kok. Ngomong-ngomong, Jeno yang sebentar lagi ulang tahun."

"Terserah kau saja lah."

.

Malam ini kami berhenti menggunakan pemanas ruangan. Hujan benar-benar berhenti dan udara hangat menggantikan kedinginan menusuk tulang. Mark tidur dengan lelap tanpa memelukku kali ini. Dia menggelung di ujung ranjang sambil memunggungiku.

Pukul dua malam. Dibelahan bumi lainnya, sekarang sekitar pukul tujuh. Aku beranjak dari tempat tidur dengan gerakan seminim mungkin. Mark lumayan sensitif pada hal-hal di sekitarnya. Namun, aku berharap kali ini dia tidak terjaga.

Telepon tersambung pada dering pertamanya. Suara terdengar dari ujung sana.

"Hai," ucapku.

[Nana, tidak tidur?]

"Aku terbangun. Kau sedang apa?"

[Reuni dengan grup band. Kami konser lagi di Hongdae.]

"Jinjja? Yah, aku ingin ikut. Sudah lama sekali.]

[Iya lah. Kau kan sibuk dengan gelar doktermu. Bagaimana disana? Masih lancar 'kan?]

"Ya. Semua baik-baik saja. Pekerjaanmu lancar?"

[Hm... begitulah. Tapi, aku tidak semangat kerja. Kau tidak disini sih.]

Aku tertawa. Bagaimana bisa aku menyebabkan semangat kerja anak itu menurun? Aku bukan siapa-siapa.

"Apa hubungannya denganku?"

[Tidak ada yang bisa menghamburkan uangku. Hahaha... Sudah, tidur sana. Kau tidak perlu menelponku terus seperti ini tahu! Seperti bukan Jaemin saja.]

Seperti bukan aku? Lalu aku yang dulu itu seperti apa?

Ucapan Jeno membuatku bingung. Apa aku sudah mulai berubah? Memang salah menelpon kekasih sendiri seminggu sekali? Memang sih, dulu aku tidak melakukannya. Tapi kan karena dulu kami sering bertemu.

"Aku rindu padamu... Jangan halangi aku."

Senyuman tidak bisa kubendung. Meski Jeno tidak melihatnya, aku ingin tersenyum secerah mungkin.

Namun, Jeno tidak mengucapkan apapun di seberang sana. Yang terdengar hanyalah suara berisik keramaian di sekelilingnya.

"Halo. Jeno."

[Aku, aku juga merindukanmu.]

"Senang mendengarnya. Kalau begitu sudah dulu ya. Aku akan tidur."

[Hm... mimpikan aku.]

"Cih. Apa untungnya memimpikanmu? Aku akan mimpikan Mark."

[Jahat sekali. Dia kan sudah di sampingmu, karena itu beri aku ruang juga dong. Di hatimu. Ya? Ya?]

"Bicaramu ngelantur. Sudah ya. Jaljja."

Kumatikan sambungan telepon tersebut secara sepihak. Kalau tidak seperti itu, aku yakin dia akan bicara yang macam-macam. Bicara yang macam-macam itu adalah kelanjutan dari gombalan picisannya. Sesuatu yang tiba-tiba menjadi sebuah kebiasaan tak tertinggal setiap percakapan malam kami sejak aku di Kanada. Rasanya aku benar-benar, punya kekasih.

Udara yang semakin dingin membuatku beranjak dari beranda. Mata yang berat telah menunggu untuk dimanjakan.

Saat hampir mencapai ranjang dengan mata setengah terpejam, Mark tiba-tiba bangkit. Aku tersentak karenanya. Nyaris menjerit.

"Kau bangun?" tanyaku padanya. Ia tak terlihat baik dengan wajah kumal dan rambut berantakannya.

"Haus." Mark lalu berjalan menuju pantry.

Aku memutuskan untuk membiarkannya dan merebahkan diri di kasur. Berniat kembali menyelami alam mimpi. Walau sebenarnya butuh sekitar 2 jam untuk benar-benar sampai di tingkat REM itu. Ah! Kenapa ilmu itu datang di saat yang tidak tepat!?

"Kalian saling telepon lagi?"

Mark kembali dari dapur. Ia berbaring di sampingku.

"Iya,"

"Bagaimana kabarnya? Pekerjaannya?"

Pillow talk –tanpa sex sebelumnya- adalah hal yang sering kami lakukan. Berhubung kami berdua memang berbagi ranjang yang sama, hal itu tidak bisa terhindari. Aku senang-senang saja dengan kebiasaan itu.

"Dua-duanya baik. Tapi, dia bilang tidak semangat kerja karena tidak ada aku yang menghabiskan uangnya. Hehehe... dia lucu."

Mark mengubah posisi tubuhnya miring menghadapku. Aku pun melakukan hal yang sama karena kukira dia memang menginginkan bertatap wajah sembari bicara.

"Itu artinya dia tidak sabar menunggumu pulang. Hubungan kalian mengagumkan sekali."

"Terima kasih. Tapi, sebenarnya tidak juga kok."

Kau saja yang tidak tahu. Dan aku harap kau tidak akan pernah tahu.

"Kau punya rencana untuk menikah dengannya?"

Aku terdiam dengan mata tak teralih dari kedua manik jernih Mark. Di antara kegelapan aku menemukannya memandangku dengan berat. Aku terbebani karenanya. Jawaban dari pertanyaan itu pun tidak pernah kupikirkan sebelumnya.

"Tidak." Dan keyakinan itu muncul begitu saja sepersekian detik setelah mulutku bekerja lebih cepat dari apapun. "Aku tidak berniat menikahi siapapun."

"Kenapa?"

Mark terlihat tidak setuju dengan pemikiranku. Wajahnya mengeras.

"Karena tidak ada orang yang tepat. Sekalinya aku suka pada seseorang, dia tidak membalas perasaanku. Sejak saat itu aku tidak pernah berpikir untuk mencintai orang lain lagi."

"Mwo? Apa itu Jeno? Dia tidak menyukaimu?"

"Bukan begitu Mark. Pokoknya kau tidak akan mengerti."

"Makanya, cerita padaku agar aku mengerti."

Kau tidak akan mengerti karena aku pun tidak yakin pada perasaanku waktu itu. Yang kutahu hanyalah bagaimana kehadiranmu membuat darahku berdesir hingga meninggalkan panas yang menyenangkan. Bibirku seakan tak mampu untuk berhenti tersenyum setiap kali kau ada di dekatku, meski itu adalah saat dimana kau memuja orang lain. Aku merasakan semuanya dengan pikiran yang kosong. Apakah artimu untukku, apakah arti dari perasaanku, aku tidak tahu.

Saat ini dimana semua sudah sangat jelas, aku takut kau tidak merasakan hal yang sama. Seperti sebelum-sebelumnya. Kau tidak pernah memandangku seperti kau memuja Donghyuck. Kau tidak pernah melihatku sebagai seseorang yang bisa kau cintai, kupikir.

"Aku tidak mau. Tidur sana."

Aku membalikkan tubuhku untuk memunggunginya. Biarlah dia pusing sendiri memikirkannya. Lagi pula aku yakin dia tidak akan memikirkan masalahku ini karena memang dia tidak pernah benar-benar peduli.

"Beberapa menit yang lalu kau bicara panjang lebar pada Jeno. Aku paham karena dia kekasihmu. Dan sekarang, aku memintamu untuk berbagi padaku tapi kau tidak bicara sedikitpun. Kupikir kita bersahabat. Lalu apa gunanya status itu jika kau sendiri tidak percaya padaku."

Ranjang kami bergoyang. Mark beranjak dari tempatnya.

Dengan cepat aku meraih tangannya agar dia tak pergi kemanapun. Selalu begini setiap kami bertengkar. Dia selalu kabur entah kemana. Memikirkannya saja sudah membuat frustasi.

"Jangan pergi. Aku takut sendirian."

"Telpon saja pacarmu lagi. Aku yakin dia mau menemanimu."

"Aku tidak butuh Jeno. Aku membutuhkanmu." Akhirnya dia menatapku. Jantungku rasanya hampir meleleh melihat tatapannya. "Please stay."

Mark kembali duduk di pinggir tempat tidur. Keterdiamannya menunjukkan bahwa dia tak sepenuhnya di sini. Ia marah.

"Karena kau sahabatku, aku harap kau mengerti kalau tidak semua hal bisa kita saling bagi. Kau tahu 'kan batasnnya? Aku bukan Jaemin yang bisa kau atur seperti saat kita kecil dan kukira kau sudah cukup dewasa untuk tidak memperlakukanku demikian."

Ia mengalihkan pandangan ke ruang tengah yang gelap. Tidak ada sesuatu yang bisa dilihat disana.

"Maaf karena membuatmu marah. Tapi, aku tidak mau membicarakan orang itu. Terlalu sakit."

Kalau melihatmu adalah sebuah kebahagiaan, maka mengingat kau tak pernah melihatku adalah penderitaan.

Aku melepaskan tangannya. Tak ada gunanya juga aku menahannya disini, toh dia tidak akan pergi.

"Aku yang salah sudah memaksamu. Tidak akan aku lakukan lagi."

"Senang mendengarnya."

Entah bagaimana mulanya, kami berbaring di tempat tidur dengan lengan Mark membelengguku dalam pelukan hangatnya.

Terlalu lama aku terjaga malam ini. Kehangatan yang Mark berikan seakan mempermulus jalanku kembali pada ketidaksadaran yang kuinginkan, tidur.

Aku cemburu, Nana-ya.

.

Mark Pov.

Film kali ini pun tak terlalu laku di pasaran. Aku tidak membantu banyak dalam proses produksi, tapi tentu ada dampak yang berimbas padaku. Contohnya saja sang sutradara yang lagi-lagi marah padaku. Padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun.

Ada banyak sutradara yang kubantu setahun ini, dan perempuan di hadapanku adalah yang terparah. Dia seperti rubah betina jalang. Ada kalanya ia sangat menggoda dengan bibir berpoleskan lipstick merah menyala. Seluruh staf seakan dipaksanya untuk bertekuk lutut. Beberapa kali aku jatuh juga. Sekali dua kali aku menyeretnya ke apartemen untuk melakukan sesuatu yang Tuhan pasti tahu. Kupikir setelah malam-malam itu kami lewati bersama, ia akan memperlakukanku selaku asistennya dengan lebih baik. Tapi, ternyata yang tetap begitu-begitu saja. Dia benar-benar bermuka dua.

Tinggal beberapa hari sampai film pendek yang kami produksi keluar dari tanggal promosi. Saat itu aku harus mencari pekerjaan baru yang kuharap lebih baik. Paling tidak aku ingin bekerja untuk seorang sutradara pria senior. Bukan perempuan muda yang hanya bisa bersolek dan menggoda. Aku tidak butuh mereka lagi.

Saat pikiran menyenangkan itu tepat ada di depanku untuk jadi kenyataan, sebuah cobaan hidup datang tanpa diundang.

"Mark."

Malam itu aku tengah menikmati drama terbaru yang sedang booming di Korea. Aku berniat menghabiskan seri itu malam itu juga. Namun, tiba-tiba Jaemin yang sedang membukakan pintu untuk seorang tamu memanggilku. Tepat setelah itu, terdengar bunyi gaduh memasuki apartemenku. Tamu malam ini bukan seseorang.

"Mark Lee!"

Tapi kru yang bekerja denganku di proyek film pendek terakhirku. Dan tentu sutradara itu ada di sana.

Malam tenangku hilang sudah. Jaemin yang beberapa saat lalu sempat syok dengan kedatangan belasan orang yang seakan siap menghancurkan rumah kami, kini tampak maklum. Dia membantuku menyiapkan makanan ringan di dapur. Meski seharusnya itu tidak perlu karena rekan-rekanku selalu punya cemilannya sendiri. Sebotol wiski dan segelintir cannabis. Tapi mungkin ada baiknya juga mereka sedikit normal dengan makan kacang ketimbang ganja.

"Rumahmu agak sedikit lebih rapi."

"Ah, iya. Temanku banyak membantu."

Sebenci apapun aku pada mereka, aku tidak bisa mengungkapkannya. Bagaimanapun juga aku adalah junior yang seakan baru kemarin sore lulus kuliah. Ketimbang yang lainnya, aku adalah yang paling kecil dan harus menghormati mereka. Dengan begitu, jalanku ke tujuanku akan lebih mudah.

"Aku tidak pernah melihatnya." Tifany, sutradara yang kubenci, tiba-tiba membalikkan tubuhnya untuk melihat Jaemin di dapur. Jaemin pun langsung mengalihkan pandangan hingga kedua orang itu saling pandang. Senyuman kikuk muncul di wajah teman kecilku. Sepertinya ia merasa terintimidasi. "Jelek."

Satu kata itu langsung disoraki oleh rekanku yang lain. Meski tanpa subjek, semua orang tahu siapa yang sudah dikatai wanita itu.

Tanpa sadar aku menggeram. Tahu-tahu seorang kameramen yang duduk di sampingku menyenggol bahuku lalu berkata, "Kenapa kau marah?" hingga aku menyadari apa yang kulakukan.

Jaemin meletakkan nampan berisi makanan kering di atas meja. Lalu dia duduk di sampingku yang duduk di lantai. Seakan-akan dia tak peduli untuk canggung dan membaur dengan kami.

"Siapa namamu?" tanya kameramen yang duduk di sisi lain dari kami.

"Na Jaemin."

"Kau bersekolah atau kerja disini?"

"Aku kuliah di UBC, psikiatri. Aku dan Mark berteman sejak kecil, makanya aku menumpang di sini."

Lalu semua orang membeo seakan mengejek kami. Wajah geli mereka tak tertahan.

"Teman sejak kecil? Berarti orang pertamanya si kecil ini dong?" Tifany berkata sembari menunjukkan rokoknya ke arahku.

Jantungku berdegub cepat mendengar pertanyaan itu. Jaemin memandangku dengan mata yang bingung, "Orang pertama apa?" bisiknya lalu tersenyum kikuk ke rekan-rekanku.

"Orang pertama yang ditidurinya."

Duh! Bagaimana bisa wanita ini...

Aku menatap Jaemin yang seperti baru saja disihir jadi batu. "Kenapa kau tidak pergi ke minimarket dan beli beberapa kacang lagi, Jaemin?"

Ia langsung mengangguk dengan suruhanku. Mungkin ia menganggap perintahku kali ini adalah penyelamat ketimbang dia dipermalukan oleh rekan-rekanku ini.

Jaemin pergi tak sampai semenit setelahnya. Rekanku bersorak kecewa seakan kehilangan mangsanya.

"Jadi dia yang membuatmu berhenti membawa wanita keluar masuk apartemenmu?"

"Tolong, jangan bicarakan itu. Orang Asia tabu membicarakannya."

"Tapi kau melakukannya."

Iya. Dan sudah hampir empat bulan aku tidak melakukannya lagi. Mengapa mereka tidak bisa berhenti membicarakannya? Aku tidak suka cara mereka meremehkanku hanya karena aku orang asia yang mengikuti cara mereka membentuk 'lingkaran pertemanan'. Mereka membawa orang asing one night stand dengan sembarang tanpa perlu takut gunjingan, sementara aku disini di perlakukan berbeda.

"Walau jelek, tapi dia bukan awal yang buruk Mark. Kau beruntung."

"Sorry Tifany, what are you talking about?"

"Your friend. Your first fucking friend."

"He's not like that! Hanya karena aku melakukan one night stand dengan sembarang orang, bukan berarti aku akan melakukannya dengan temanku itu."

Amarahku tak tertahan. Rasanya ingin sekali aku mencuri satu rokok ganja mereka dan menghisapnya untuk menghilangkan beban di bahuku ini. Tapi benda haram itu adalah satu-satunya yang membuatku berbeda dari mereka yang liar. Sedikitpun tak pernah kusentuh.

"Kalau kalian sudah selesai, silahkan pergi."

.

Author Pov.

Mark tengah membereskan kekacauan di apartemennya saat sang penghuni lainnya datang. Ia menatap sekeliling dengan heran.

"Kemana teman-temanmu?" tanya Jaemin saat tak menemukan seorang asing pun di rumahnya. Padahal dia yakin tak pergi lebih dari setengah jam.

"Pestanya selesai. Aku mengusir mereka."

"What!?" Jaemin meletakkan kantung berisi cemilan di lantai begitu saja. Dia mendekati Mark lalu menangkup bahu lemas sahabatnya. "Mereka kan teman-temanmu. Kenapa kau mengusir mereka? Bagaimana kalau impianmu jadi sutradara terganggu gara-gara itu? Kenapa kau bodoh sekali?"

"MEREKA MERENDAHKANMU!"

Bentakan pahit itu keluar dari bibir Mark yang putus asa. Ia terduduk di sofanya setelah itu. Tangannya menutupi matanya guna menutupi air mata yang entah kenapa mengalir.

Benci. Ketidakmampuannya untuk melindungi seseorang yang dia sayangi, Mark membencinya.

"Aku baik-baik saja."

"Kau tidak mengerti."

Jaemin menyingkirkan tangan Mark. Berharap pria itu akan menatapnya. Namun, alih-alih menatap, ia hanya mendapati sahabatnya menutup mata. "Aku tidak keberatan kok dianggap seperti itu oleh mereka. Memang apa salahnya kalau memang seandainya, aku jadi yang pertama untukmu?"

"Jaemin, aku tidak pernah melihatmu dengan cara serendah itu. Kau bukan orang yang bisa- agh! Aku merasa sangat buruk setelah kau tahu semua aib-ku ini."

"Mark tidak buruk. Aku malah senang. Setidaknya kau tidak kesepian dan sendirian di sini. Kau selalu punya seseorang yang menghangatkan ranjangmu, kau punya seseorang yang memeluk dan menciumimu."

Jaemin menangkup wajah Mark. Mempertemukan tatapan mata mereka.

Cinta itu ada.

Perasaan itu nyata.

Saling berbalas.

Namun, tak saling memiliki.

"Dan kau menghentikan semuanya sekarang, saat aku sudah disini. Maaf membuatmu menunggu lama."

"Aku tidak menunggumu untuk memperlakukanmu seperti itu."

"Tapi aku mau. Aku akan gantikan mereka."

Mark kehilangan kata-kata. Usapan jemari Jaemin di pipinya membuatnya terbuai.

Ia mencintai seseorang di hadapannya ini. Sepenuh hatinya. Ia ingin memperlakukan sang pujaan hati seperti segenggam pasir. Dengan kelembutan yang tak pernah seorangpun terka pernah ada dalam diri Mark.

"May i..." ia memohon dengan matanya. Siapapun tolong ia dari ketidakmampuan. Mark meraih punggung Jaemin hingga laki-laki itu terperosok ke atas tubuhnya. Tangannya bergerak membelai wajah Jaemin. Sangat cantik. Bodoh semua orang yang mengatai kasihnya itu jelek. Mereka buta.

Jaemin seakan mengerti arti dari tatapan Mark, menyerukkan wajahnya mendekat. Ia seorang yang menawarkan segalanya. Tidak ada kata kembali. Perlahan, matanya tertutup.

Sudah berkali-kali Mark tegaskan pada dirinya sendiri. Ia hanya ingin menjaga Jaemin, mencintainya tanpa menciderainya.

Mark bergerak lebih cepat ketimbang Jaemin. Ia mencium kening sahabatnya. Ciuman pertama mereka.

"Aku sangat ingin menciummu. Tapi bukan begitu caraku ingin memperlakukanmu."

Jaemin membeku di atas tubuh Mark. Darahnya berdesir cepat. Detak jantung Mark terdengar jelas. Berantakan.

"Seperti apa? Kau ingin perlakukan aku seperti apa?"

Mark menatap jauh kedalam manik mata Jaemin. Haruskah... ia mengaku? Di saat sabahatnya ini milik orang lain?

"Seperti sahabatku."

.

'Seperti kekasihku.'

.

TBC

.

A.N Njir menye banget! *kata kotor keluaar sudah.

Persiapkan hati untuk tidak muntah dengan segala fanfic menye ini. Sesungguhnya aku merindukan bikin FF angst gagal seperti dulu saat aku di fandom sebelah *abaikan.

Ada banyak komen yang tetep pingin ini Jaeno. Ya iya lah! Sapa juga pingin pasangan yang udah 8 tahun ini pisah!? Author #plak. Aku tekankan lagi ya teman-teman, aku suka Jaeno lhooo jangan sampai kalian bikin FF ini berakhir jadi Jaeno karena aku baper ok? Wkwkwk... Dan untuk yan suka Markmin, oke sih ini FF markmin... tapi ending siapa yang tahu? Authornya minta dilempar menyan. Labil.

Aku hanya berharap Kalian menikmati FF ini tanpa ada rasa khawatir tentang ending. Nikmatin aja alurnya ya... ending itu bonus. Oke?

Terima kasih semua yang baca FF ini dan FF sebelumnya. Aku sangat senang karena FF Markmin yang aku buat lumayan banyak yang suka. Aku jadi ingin balik bikin Johnten *Gaknyambungbego

Hope You Like It ^^