When Would It Be
CHAPTER 3
Warning! YAOI, Best-fucking-Friend, Typo(s) gak masuk akal.
Pair! Mark x Jaemin
Slight! Jeno x Jaemin
NCT adalah punya Sment, saya cuma pinjem nama dan gejolak cinta yang mereka rasakan satu sama lain (?)
.
Happy Reading
.
Tanpa terasa satu tahun berlalu dengan cepat. Apartemen mereka yang semula polos kini berubah menjadi sedikit lebih berwarna berkat selera Jaemin pada warna-warna tersier dan karena kehadirannya sendiri.
Ada terlalu banyak waktu untuk mereka menghabiskan waktu berdua seusai aktivitas harian yang melelahkan. Terkadang mereka akan duduk di balkon untuk sama-sama melakukan video call ke orang tua mereka di Korea. Di lain hari, mereka memilih untuk makan malam di restoran China untuk mengurangi kerinduan pada kampung halaman. Dan di hari yang istimewa dimana hari itu jatuh di bulan Agustus, mereka akan pergi ke restoran mahal untuk merayakan ulang tahun mereka yang harinya berdekatan.
September tahun ini seharusnya menjadi jadwal keduanya untuk pulang ke Korea. Keluarga di seberang sana bahkan telah menanyakan rencana kepulangan mereka sejak bulan Juli. Namun, tiba-tiba rencana itu harus ditunda karena Mark mendapat tawaran pekerjaan untuk film baru.
Jaemin bisa saja meninggalkannya di Kanada, tetapi orang tuanya bilang untuk tinggal. Dia juga sebenarnya tidak berniat untuk meninggalkan Mark. Walau itu artinya dia tidak bisa menepati janjinya pada Jeno untuk bertemu.
"Aku bekerja full time di perpustakaan Vancouver." Ucap Jaemin saat mereka keluar untuk makan malam hari itu.
"Kenapa? Memang kiriman orang tuamu kurang?"
"Tidak. Untuk mengisi waktu saja. Kau 'kan kerja dari pagi sampai malam, masa aku uring-uringan sendiri di apartemen? Gajinya luar biasa! Aku sampai kaget saat melamar pekerjaan di sana."
"Benarkah?" Mark menghentikan langkahnya. Ia menatap etalase sebuah bridal yang ada di sampingnya. "Kalau begitu belikan aku itu setelah kau gajian."
Melihat jari Mark menunjuk sebuah jas pernikahan hitam di balik kaca toko pakaian bermerk itu, Jaemin langsung memukul bahunya. "Kau mau mati ya? Beli saja sendiri sana!" lalu ia berlalu dengan langkah besar-besar.
"Yah! Kan kau sendiri yang bilang gajimu besar." Mark segera berlari mendekati sahabatnya.
"Memangnya kalau aku bilang besar, kau berpikir sebesar apa? Dasar gila."
"Kau mengataiku gila? Memang kau sudah boleh mendiagnosis orang? Hei, psikiater itu harus hati-hati menggunakan kata-kata seperti itu."
"Jadi, sekarang kau mau menandingi dosenku? Ah, Molla!"
"Jaeminnie jangan maraaah~"
"Pergi sana!"
"Nana-yaaa..."
"Haish! Kau membuatku gila!"
"Hei Jaemin, psikiater tidak boleh gila!"
.
Di dua minggu terakhir liburannya, Jaemin masih sibuk dengan pekerjaannya di perpustakaan pusat Vancouver. Salah satu perpustakaan terkenal dunia itu cukup menyita waktu liburnya. Kesempatan untuk bersantai dari kesibukan kuliah yang menekan terbang begitu saja tanpa ia sadari. Malah, ia lebih sering membaca buku di perpustakaan itu saat pekerjaannya menata buku selesai. Dia jadi sebal sendiri.
Hari ini dia pulang dengan berjalan kaki. Memang jarak antara perpustakaan dengan apartemennya tidak terlalu jauh. Namun, biasanya ada Mark yang datang menjemput. Namja itu sedang ada pesta perpisahan dengan kru lainnya karena film mereka telah selesai di produksi. Karena itu dia tak bisa menjemputnya.
Ia nyaris masuk ke dalam gedung apartemen jika matanya tak menemukan eksistensi kotak kardus aneh di bawah pohon maple. Biasanya dia bukan orang yang terlalu peduli pada sekitar. Tapi kotak itu seakan menarik perhatiannya, karena dia bergerak. Jaemin melangkahkan kaki mendekati benda itu. Penasaran dengan isinya.
Jaemin mengerutkan alisnya saat melihat sesuatu di balik kardus coklat.
"Ah..."
.
"Jaemin-ah, aku pulang."
Mark pulang sedikit lebih malam. Rekan-rekannya terus menahannya untuk tidak pulang dan menikmati pesta perpisahan mereka lebih lama. Padahal dia sudah sangat tidak sabar bertemu dengan Jaemin, entah kenapa.
"Aku disini."
Suara tanpa wujud itu membuat Mark heran. Ia meletakkan makanan yang sengaja ia beli untuk Jaemin di dapur. Lalu, menyusuri apartemennya hingga menemukan Jaemin di sudut ruang tengah.
"Sedang apa disitu?" Heran. Tentu saja. Untuk apa dia berjongkok di pojokan seperti mau menangis?
"Sini-sini." Jaemin akhirnya menoleh ke belakang. "Cepat sini."
"Kenapa sih?" tanpa curiga, Mark berjalan mendekati Jaemin. Sampai keberadaan sebuah benda asing membuatnya bingung. Seharusnya keranjang buah itu tidak disana, dan tidak berisi banyak kain seperti itu.
"WHA! JAEMIN! SINGKIRKAN BENDA ITU DARIKU!"
"Mark, jangan teriak-teriak! Aduh, dia masih bayi kenapa kau sudah ketakutan!?"
Mark beringkut di sofa. Ia menatap ngeri benda di tangan Jaemin.
"Pokoknya singkirkan! Kau kan tahu aku takut anjing. Dulu kita pernah dikejar yang sejenis itu!"
Melihat Mark yang ketakutan, Jaemin malah semakin bersemangat mengenalkan anggota keluarga baru mereka –menurutnya-. Dia berjalan mendekati sahabatnya sambil menggendong anak anjing yang diam itu. "Tapi yang ini masih kecil. Dia tidak menggonggong."
"Kalau dia besar, dia akan menggonggong! Kembalikan dia ke tempatnya." Mark turun dari sofa. Menghindari Jaemin yang tak menyerah.
"Yah... lihat apa yang kau lakukan. Dia menangis karena kau menolaknya. Lihat!"
"Darimana kau tahu dia menangis! Ah, bisa gila aku."
Tanpa sadar mereka sudah ada di balkon. Tak ada tempat buat Mark untuk kabur. Ia terperangkap.
"Mark, dengarkan aku dulu. Sekarang kau duduk di situ dan aku janji akan tetap disini." Bujuk Jaemin. Dia berdiri di pintu sementara Mark sudah di pojok beranda. "Mark..."
"Arraseo!" Mark akhirnya menuruti perintah Jaemin untuk duduk di kursi balkon. Ia masih memperhatikan anak anjing jenis retriver –dia tahu karena benar-benar takut pada jenis itu- di pelukan Jaemin.
"Dia di buang di bawah pohon maple di sana. Saat aku menemukannya, dia berdua dengan saudaranya. Tapi, saudaranya mati. Mungkin karena kedingian."
"Memangnya aku peduli?"
"Kenapa kau jahat sekali! Dia dibuang dan baru saja kehilangan saudaranya. Coba kau bayangkan kau kehilangan saudaramu."
"Aku tidak punya saudara."
"Kalau begitu bayangkan kau kehilangan aku!"
Mark diam. Sebenarnya dia ingin berteriak dan mengatakan anjing dan Jaemin itu hal yang berbeda. Tapi, tatapan mata Jaemin mengintimidasinya. Lagi pula, entah sejak kapan laki-laki itu telah berhasil membuatnya nyaris bertekuk lutut dengan segala ucapannya. Mungkin bawaan karena sebentar lagi ia akan jadi psikiater.
"Itu..."
"Kita pelihara ya. Aku janji dia tidak akan menyakitimu. Dan juga aku janji akan bantu menyembuhkan phobiamu pada anjing. Sungguh!"
"B-baiklah..."
"Ye! Lihat bayi kecil. Kau dapat rumah. Sekarang kita panggil siapa kau ya?"
"Jeno."
"Heh! Kurang ajar!"
.
Hari libur yang panjang untuk keduanya. Jaemin menyeret Mark ke perkotaan untuk mencari barang-barang yang diperlukan si anak anjing. Mereka bertiga di dalam mobil dengan diam. Sesekali Mark melirik anjing di pangkuan Jaemin yang terlihat terlalu anteng untuk anjing seusianya. Setau Mark, mereka paling aktif menggigit dan mencakat barang saat masih kecil. Atau mungkin dia masih terlalu kecil untuk itu.
'Kenapa aku jadi peduli padanya?'
"Kenapa ya dia diam terus? Atau mungkin dia sakit ya? Atau trauma karena saudaranya mati ya? Atau jangan-jangan majikannya dulu menyiksanya? Aduh, kalau dia depresi bagaimana?"
"Kelihatannya kau lebih peduli pada kejiwaan anjing itu ketimbang temanmu yang ketakutan ini ya? Tidak berperikemanusiaan."
"Memang sih..."
Mark menggeram. Tapi mau bagaimana lagi, masa iya dia menunjukkan kecemburuannya pada anjing? Dia melirik lagi, anjing itu menatapnya dari mata coklatnya yang seperti chocochip. Beberapa saat sampai si manis berbulu meletakkan kepalanya lagi di pangkuan Jaemin.
"Jeno," Mark penasaran dengan kabar Jeno setelah sekian lama. Yang ia tahu, laki-laki itu sempat marah karena Jaemin tidak jadi pulang. Tapi sudah sangat lama waktu itu berlalu. Kalau sampai sekarang dia masih marah, keterlaluan sekali.
"Kaing!"
Bersamaan kedua orang itu menatap si anak anjing yang mencoba berdiri diatas pangkuan Jaemin.
"Jeno..."
"Kaing!"
Jaemin langsung menabok lengan Mark setelah satu gonggongan gagal keluar dari mulut anjing itu. Persetan dengan dia yang sedang menyetir.
"Yah! Karena kau terus menyebutnya Jeno, dia jadi berpikir namanya Jeno!"
"Hehehe... itu bagus. Jeno Jeno..."
"Kaing!"
.
Mereka pergi ke Stanley Park setelah memeriksakan dan membeli semua yang si 'Jeno' butuhkan –Jaemin inginkan-. Mereka duduk di sebuah bangku sembari melihat laut dan menikmati makan siang mereka yang berupa burger. Singkirkan dulu kenyataan bahwa fast food adalah makanan yang buruk serta Jaemin selaku dokter harusnya menyingkirkan jauh-jauh menu itu dari daftar makanannya.
"Si Jeno kelihatannya senang tuh." Mark menunjuk anak anjing yang 'ngglongsor' di rerumputan. Anjing putih bertelinga cokelat itu mengguling kesana kemari. Mengabaikan udara dingin musim gugur.
"Duh! Berhenti panggil dia Jeno, nanti kebiasaan."
"Tapi dia suka, kelihatannya."
"Apa pedulinya kau pada anjing itu? Kau bahkan hampir membuangnya lagi. Yang berhak memberi nama itu AKU." Jaemin mengatakannya dengan penuh menekanan. Ia mengambil sedikit daging burgernya lalu memberikannya pada si anjing. "Karena dia sudah familiar dengan nama Jeno, mau bagaimana lagi. Panggil Nono saja lah."
"Seulpeohaji ma No No No honjaga anya No no no."
Plak!
"Au!" Mark memegang bahunya yang kena tamparan Jaemin. Keras sekali sampai rasanya berdenyut-denyut.
"Rasakan. Suruh siapa melucu."
Mark hanya meringis. Ia tak berniat mencari gara-gara lagi dengan sahabatnya. Burger di tangannya habis dalam waktu singkat. Tak ada yang bisa dilakukannya, ia melirik ke Jaemin yang masih betah menyuapi 'anak' barunya.
"Jaem."
"Hm?"
"Sudah setahun kau disini. Liburanmu tinggal seminggu lagi dan aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Kau mau liburan?"
Jaemin menatap Mark dengan mata membola. Dia terlihat bersemangat setelah mendengar kalimat itu.
"Sungguh? Kau mengajakku liburan? Kya! Mark kau memang yang terbaik!" Tanpa aba-aba dia langsung memeluk sahabatnya.
"Aku tahu kau ingin sekali jalan-jalan. Tapi, kita ke tempat yang sepi ya. Rasanya sudah bosan dengan Vancouver."
"Kemana pun aku mau. Tapi, sekarang Quebec sedang terkenal di Korea. Kau tahu kan kenapa? Kau menonton dramanya tiap minggu. Kita... kesana yuk."
"Katanya kemana pun kau mau. Dasar. Tidak ah! Kalau kesana harus pakai pesawat. Repot tuh bawa Jeno."
Keduanya menatap anak anjing yang tak peduli pada majikannya dan lebih tertarik pada belalang. Dia melompat kesana kemari untuk menangkap serangga coklat itu.
"Memang mau bawa Nono?"
Pertanyaan Jaemin memunculkan persimpangan di dahi Mark. Rasanya dia ingin mengingatkan sahabatnya kalau dia adalah orang yang membawa benda kecil berbulu itu masuk ke dalam daftar keluarga mereka. Tidak mungkin kan dia ditinggal di apartemen sendiri.
"Lusa kita berangkat. Kau kan tinggal ikut saja."
"Aye Sir!"
.
Malam harinya saat mereka sedang tidur, ponsel Jaemin berbunyi. Mark adalah yang pertama bangun karena suara berisik itu. Nono juga mulai menggonggong kecil karena terganggu dengan suara itu.
"Maaf," Ucap Jaemin sambil segera mengambil ponselnya di atas meja makan. "Jeno."
"Kaing!"
"Astaga, bukan kamu!"
Jaemin mendekati tempat tidur Jeno, mari kita sembut dia Nono saja. Anjing itu menyambut tangan Jaemin yang hendak mengelusnya.
"Halo."
[Nana-ya. Maaf menghubungimu malam-malam.]
"Iya tidak apa-apa. Biasanya juga begini."
Saat si anak anjing tidur kembali, Jaemin segera pergi ke balkon. Dia tidak ingin mengganggu tidur Mark.
[Besok, tolong jemput aku di bandara jam 9.]
Jaemin mengucek matanya. Dia tak benar-benar mendengar perkataan Jeno.
"Apa?"
[Jemput aku di YVR jam 9 pagi.]
"HAH!?"
.
"Makanya, kau jemput dia ya. Hari ini hari terakhirku kerja. Jadi, tidak mungkin aku tidak masuk. Ya... Ya..."
Mark menggeram sebal dengan mulut penuh roti isi. Dia mengabaikan Jaemin yang duduk di seberangnya dengan berpaling ke arah lain. Tapi malah dia melihat Nono yang usianya tiga minggu itu berguling tak jelas di karpet. Dia meringis.
"Kenapa juga aku harus menjemput Jeno-mu itu."
"Dia kan temanmu juga. Kenapa sih hubungan kalian jadi dingin sejak aku dan dia pacaran. Heran deh."
Yang diajak bicara mulai menggerutu dalam hati. Jaemin itu kalau dirasa-rasa lagi semakin tidak peka.
"Iya nanti kujemput." Akhirnya Mark mengalah.
Mana bisa dia menolak permintaan Jaemin? Sudah berkali-kali dia heran pada diri sendiri. Sekarang dia malah tidak bisa memerintah sahabatnya dan malah balik diperintah. Cinta memang mengubah segala hal sampai terjungkir balik. Benar-benar berbahaya.
"Terima kasih." Jaemin mengambil mantelnya di wardrobe lalu mendekati Mark lagi.
Cup!
Sebuah kecupan dihadiahkannya pada pipi kanan Mark. Membuat namja itu membeku.
"It's the last time before my boyfriend come. You know we can't do that in front of Jeno, right?"
Mark masih mematung bahkan setelah Jaemin mengucapkan salam. Sampai akhirnya bunyi pintu membuat dia kembali ke dunia nyata.
"Gyaaa! Aku dicium!" Dia berteriak girang seperti seorang gadis. "Yah! Jeno, kau lihat tadi? Jaemin menciumku. Wek! Kau kalah."
"Kaing! Kaing!" Anjing itu mendekati Mark karena tertarik dengan sikap girangnya. Tapi, Mark melihatnya sebagai sebuah ancaman.
"Pergi sana pergi! Aduh jangan kesini!"
.
"Mana Jaemin?"
Mereka berdua sudah di parkiran setelah sang pendatang mengurus semuanya di kantor imigrasi.
"Kerja di perpustakaan kota. Kau mau kesana?"
"Tentu."
Keduanya masuk ke dalam mobil yang setelah itu langsung disambut oleh hawa canggung.
Seperti yang Jaemin bilang. Hubungan mereka menjadi tidak enak sejak sembilan tahun lalu. Saat itu Mark masih berpacaran dengan Donghyuck, seharusnya mereka bisa bisa tetap berteman karena dia pikir Jeno pasti tidak menyadari perasaannya pada Jaemin saat itu. Namun, ternyata dia salah. Suatu hari dia dilabrak. Benar-benar di pojokkan.
"Jauhi Jaemin." Jeno memojokkannya di dinding belakang sekolah. Keseriusan terpancar dari tatapan mata dan raut wajahnya. Pertama kalinya Mark melihat Jeno seperti itu.
"Dia tinggal di sebelah rumahku. Bagaimana bisa aku menjauh darinya?" Mark mendorong Jeno menjauh. Rasanya kesal mendengar peringatan itu.
"Kau bisa menjauhinya dengan cara yang lain. Jangan jemput dia, jangan bicara dengannya."
"Siapa kau? Yah, aku sahabatnya kalau kau perlu kuingatkan lagi. "
"Aku kekasihnya. Semoga kau tidak melupakannya juga."
Mereka saling balas menatap tajam. Tak ada yang ingin kalah.
"Jaemin milikku sekarang. Walau kau menyukainya, itu percuma. Dia hanya melihatku."
Jeno meneguk salivanya berat. Ia tahu yang diucapkannya hanya kebohongan. Tapi, Mark tidak bisa dia biarkan berdekatan dengan Jaemin terus menerus. Dia tidak ingin Jaemin-nya sakit hati lagi dan dia juga tidak rela melepaskan kekasihnya itu.
Dilain pihak, Mark terkejut. Bagaimana bisa Jeno mengetahui hal itu? Dia tidak pernah memberitahu siapapun tentang perasaannya yang sebenarnya terhadap Jaemin.
"Kuharap kau mengerti. Kau sendiri yang membuatnya menderita, jangan salahkan aku jika aku tidak ingin kau mendekatinya."
Sejak saat itu mereka tak pernah seakrab dulu. Tidak ada orang yang tahu. Jaemin pun awalnya heran dengan hubungan mereka yang retak. Setiap kali dia bertanya keduanya berkilah dengan banyak alasan.
"Apa pekerjaanmu sekarang?" tanya Mark untuk mencairkan suasana. Dia pikir kejadian bertahun-tahun lalu itu harus dia lupakan karena mereka sudah dewasa. Masalah seperti itu harusnya bisa dihadapi dengan kepala dingin.
"Manajer pemasaran di SM Entertaiment. Bekerja di industri itu cukup menjanjikan."
"Kupikir juga begitu. Dunia hiburan tidak akan pernah mati selama manusia masih ada."
"Kau sendiri?"
"Aku dikontrak theater UBC, tapi pekerjaanku lebih sering diluar. Menjadi asisten sutradara, kadang juga penulis skenario dadakan. Pokoknya semua kukerjakan."
Jeno tertawa mendengar jawaban itu. Rasanya dia tidak bisa membayangkan kehidupan Mark sekarang yang penuh dengan perintah. Ia tidak percaya teman lamanya itu masih bisa bertahan setelah empat tahun lulus dari jenjang sarjana perfilm-annya.
"Jangan tertawa. Gaji pekerja serabutan di sini besar tahu. Dan aku juga main saham, jadi jangan remehkan aku."
"Aku tidak menetawakan pekerjaanmu tapi hidupmu. Sekarang dunia sudah terbalik. Kau pasti menderita diperintah sana-sini."
"Tentu saja! Jaemin juga sama sekali tidak membantu. Dia malah ikut-ikutan suka ngomel."
"Kau baru merasakannya setahun. Aku menderita selama lima tahun karena omelannya. Nikmati saja lah."
Setengah jam kemudian mereka sampai di perpustakaan Vancouver. Gedung indah itu sempat membuat Jeno terpana.
"Ada yang harus kuurus. Masuk saja ke dalam lalu tanya cari section science. Dia ada di sana."
"Oke. Tolong barang-barangku ya. Terima kasih."
"Hem, sampai jumpa di rumah."
Mobil Mark melaju meninggalkan Jeno.
"Akhirnya."
.
Jaemin disibukkan dengan menata buku lagi hari ini. Semakin banyak orang tak bertanggung jawab meletakkan buku sembarangan tempat. Padahal mereka tahu seberapa tebal dan berat buku-buku tua itu. Mereka sama sekali tidak punya hati sampai harus membuat petugas sepertinya kelelahan setiap hari.
Buku bersampul hijau dengan ketebalan lebih dari sepuluh senti menjadi yang terakhir hari ini. Letak rak buku itu ada di pojokan. Nyaris tak tersentuh. Ia kagum pada orang yang tadinya membaca buku tentang anatomi itu.
"Selesai."
Rasanya sedih juga mengingat ini adalah hari terakhirnya kerja. Dia tiba-tiba menjadi suka aroma buku karena menghabiskan seluruh liburannya disana. Aneh memang. Menenggelamkan diri diantara jajaran buku sains tua yang nyaris berdebu membuatnya tenang untuk beberapa alasan.
Sebuah genggaman erat di pergelangan tangannya membuat Jaemin tersentak. Tanpa disadarinya dia sudah dipenjarakan diantara rak buku. Sentuhan tiba-tiba di bibirnya menjadi keterkejutan berikutnya. Bibir yang lembut itu melumat miliknya cepat, terkesan terburu-buru.
Jaemin tersenyum diantara ciuman itu. Tangannya bergerak mendekap tubuh laki-laki yang menciumnya. Dia membawa sang kekasih lebih dekat, serta menenangkannya dengan sapuan halus di punggung. Ciuman Jeno melembut diakhir.
"Hei,"
Jaemin menatap wajah Jeno saat ciuman mereka usai. Tapi kontak mata mereka tak berlangsung lama karena Jeno telah lebih dulu memeluk perutnya erat dan menenggelamkan wajah di perpotongan lehernya.
Jeno menghirup aroma tubuh Jaemin sedalam yang selalu ingin dia lakukan.
"I miss you so bad, Na Jaemin." Bisiknya.
Dia tidak biasa memeluk Jaemin seerat ini dan menciumnya sedalam tadi. Semua itu akan aneh jika mereka melakukannya dulu saat di Korea. Hubungan mereka tidak sedalam itu untuk melakukan hal yang sewajarnya dilakukan sepasang kekasih. Mereka palsu jika aku harus ingatkan lagi. Sekarang, dia punya alibi rasa rindu, cukup realistis. Jeno tahu bagaimana memanfaatkannya dengan baik.
Jaemin sedikit heran. Tapi tentu saja dia tidak menolak.
"I miss you too."
.
Mark tengah memasak makan malam saat kedua orang itu pulang. Dia bertanya-tanya kenapa keduanya baru pulang sekarang, namun memilih untuk diam.
"Kalian mandi saja dulu." Ucap Mark sambil mengaduk sup kacang merah yang hampir masak.
"Setuju. Nana, ayo mandi bersama."
"Heh, jangan macam-macam di rumahku ya. Kau, mandi duluan sana."
Sebelum hal yang tak diinginkan terjadi, Mark sudah lebih dulu mengacungkan spatula ke arah Jeno.
Jaemin hanya tertawa saat melihat Jeno tak bisa membantah. Dia masuk ke kamar mandi setelah mengambil bajunya dari koper.
"Smells good. Need help?" Jaemin mendekati Mark. Dia melihat sup dalam panci yang meletup-letup.
"Kau beri makan Nono saja. Dia ada di tempat tidur kita. Entah bagaimana dia bisa sampai ke sana."
"Oke,"
Setengah jam kemudian mereka sama-sama duduk di meja pendek depan televisi. Makan malam itu terpaksa mereka lakukan di sana karena meja makan tak cukup luas untuk mereka bertiga.
"Kalian berdua makan makanan rumah setiap hari?" Tanya Jeno tak percaya.
Jaemin dan Mark mengangguk. "Lebih murah begini. Tapi, kalau sedang malas memasak ya kami makan di luar."
"Tapi masakanku dan Mark tidak terlalu buruk kan?"
"Tidak. Ini enak."
Ketiganya menikmati makan malam dengan tenang setelah itu. Hanya bunyi sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar di sana. Disaat itu, Nono berjalan terhuyung mendekati Jaemin yang kebetulan duduk di sebelah Jeno. Namja manis itu segera menangkap anak anjingnya.
"Aigoo... Apa kau kebanyakan tidur?" Anjing itu malah mengeluarkan suara yang Mark yakini Jaemin artikan sebagai 'tangisan'.
"Anjing yang lucu. Tapi, kukira Mark tidak suka anjing."
Jaemin tanpa diberi kode langsung menyerahkan Nono pada Jeno. Laki-laki itu suka binatang.
"Jaemin menemukannya kedinginan di halaman apartemen. Dia mengancamku, mana bisa aku menolak."
"Tapi, aku tidak melakukan kesalahan kan Jeno? Anjing kan juga makhluk hidup ya? Harus disayangi."
Pasangan kekasih itu kini saling mendekatkan diri dan membiarkan si anjing kecil di tangan yang lebih tua. Mereka menggoda Nono seakan-akan menggoda bayi.
Pemandangan yang tepat di depannya itu seakan mengejek Mark. Dia duduk di sisi yang lain. Sendiri. Dengan sup di mangkuk yang kurang dari setengah.
Brak!
Sendok dan garpu yang tadinya ada di tangan Mark kini sudah tergeletak di atas meja. Jeno dan Jaemin memandangnya heran. Terlihat kekesalan memenuhi hati Mark dari raut wajahnya. Jaemin tertawa dalam hati.
"Aku selesai." Dia bangkit dari duduk dengan membawa piring dan mangkuknya ke dapur. Sudah menjadi kebiasaan untuknya –dan Jaemin- untuk mencuci alat makan sendiri-sendiri.
"Siapa namanya?"
Mark ingin sekali melempari mereka dengan spons basah. Bisa-bisanya dia diabaikan hanya karena seekor anjing.
"Nono/Jeno." Ucap Mark dan Jaemin bersamaan.
"Hah?"
Jaemin menghela napasnya. Sebelum dia menjelaskan lebih panjang pada Jeno, dia melempar deathglare ke Mark. "Namanya Jeno. Tapi, kami memanggilnya Nono karena agak aneh saja memanggilnya... sama denganmu."
"Waeyo?" Jeno tak marah. Dia malah tertawa.
"Dia terbiasa mendengar namamu jadi dia berpikir itu adalah namanya. TAPI! Sebenarnya yang pertama panggil anjing ini Jeno itu dia!" Jaemin menunjuk Mark yang kini duduk di sofa. Sang pelaku sih santai-santai saja ditunjuk seperti itu.
"Kalian sering membicarakanku?"
"Tentu. Kau kan pacarnya Jaemin. Siapa lagi yang bakal bocah ini bicarakan kalau bukan kau?"
"Tapi saat di Korea Jaemin terus membicarakanmu."
Suasana tiba-tiba menjadi tenang. Lebih tepatnya canggung. Seperti ada hati merah muda yang beterbangan di udara dari dua orang di ruangan itu. Beberapa detik kemudian mereka berdua tertawa.
"Oh Tuhan..."
.
Mark Pov.
Sekelilingku gelap. Entah sejak kapan aku membuka mata. Mungkin saat siku Jeno menghantam rusukku. Ada rasa nyeri di dada kananku karenanya. Ini semua karena kami memaksa tidur di satu ranjang. Padahal untukku dan Jaemin saja kadang kami saling tendang, dan saling panjat, astaga!
Aku bangun. Kulihat Jeno yang kini mengistirahatkan tangan kirinya di perut Jaemin yang memunggunginya. Sekilas Jeno terlihat sedang memeluk sahabatku.
"Hah..."
Cemburu sih boleh saja. Tapi, masa iya aku akan menyalahkan Jeno yang bahkan tidak sadar melakukannya. Diluar dia sengaja atau tidak, Jeno memang punya hak untuk itu. Jaemin kan kekasihnya.
Memikirkan hal itu malah membuat kepalaku panas. Aku mengambil langkah keluar dengan membawa ponsel dan headset. Mungkin mendengarkan lagu di balkon akan membantu meredamkan kecemburuanku.
Kanada yang terkenal dengan pohon maplenya itu memang luar biasa saat musim gugur. Pohon-pohon berubah kuning dan coklat. Daunnya berguguran mengotori jalan, tetapi disitulah letak keindahannya. Saat mereka terlepas dari ranting karena sapuan angin, setiap orang yang berjalan di bawahnya akan merasa menjadi pemeran utama drama sesaat.
Tujuh tahun aku menetap di kota kelahiranku. Enam tahun pertama kulewati dengan sulit tanpa teman. Kesepian yang hebat sering membuatku frustasi sampai menatap pisau dapur dengan intensitas tinggi. Berkali-kali keputusan untuk menyerah datang. Namun entah apa yang membuatku tetap di sini. Bisa kubayangkan jika saat itu aku benar-benar pulang ke Korea, tidak akan ada hariku yang penuh dengan Jaemin seorang.
Angin berhembus. Hawa dingin menusuk tulang. Aku mengambil sebungkus rokok dan sebatang korek di bawah pot. Sengaja aku letakkan di sana agar tidak ketahuan Jaemin. Dia akan menceramahiku panjang lebar tentang bahaya benda sembilan senti itu.
Aku bukan pecandu. Hanya terkadang saat aku butuh ketenangan lebih aku menghisap rokok. Benda itu tak berisi ganja seperti yang biasa rekan-rekanku pakai. Hanya tembakau manis biasa. Aku tidak suka kecanduan benda seperti itu.
Sebulan lalu aku membelinya. Dari 12 batang, masih ada sembilan di dalam kotak itu. Intensitas frustasiku menurun lagi. Jaemin adalah penyebabnya.
Laki-laki cantik itu sepertinya menggunakan segala pesona untuk menarikku dalam jebakannya. Jebaan yang menyenangkan.
Aku tersenyum saat membayangkan masa lalu kami yang polos. Kembali aku merasa waktu berlalu dengan cepatnya. Tiba-tiba aku merindukan tangisannya yang berumur delapan tahun karena aku tidak mau berjalan di sampingnya. Lalu wajah kecewanya saat aku meninggalkan dia setelah Pico –kelincinya- mati. Juga kebenciannya padaku di masa SMA itu, saat aku dengan bodoh dalam puncak menyakitinya.
"Ketahuan kau."
"Hpm..." Aku tersenyum. Tanpa mencari sumbernya pun aku tahu Jaemin tengah berdiri di pintu, memergokiku menghisap rokok. "Maaf."
Jaemin berjalan mendekatiku. Saat itu pula aku menjatuhkan rokokku dan menginjak benda itu sampai baranya hilang.
"Ada masalah?" Dia berdiri di sampingku. Bersandar pada pagar pembatas.
"Hanya tidak biasa saja ada orang baru." Kulirik kebelakang. Tirai yang menutupitempat tidur sedikit tersikap. Memperlihatkan Jeno yang masih tidur.
"Maaf,"
"It's not your fault Jaem. He just miss you i think. Thats why he is here now."
Dia diam. Entah apa yang ada di dalam pikirannya sekarang.
"Apa yang membangunkanmu?" tanyaku.
"Panggilan alam." Jawabnya singkat. Kulihat dia memainkan tangan di tralis besi. Kupikir dia gelisah. "Untuk beberapa alasan aku merasa bersalah setiap kali melihat kalian berdua seperti sekarang. Saat SMA juga begitu. Setelah sekian tahun baru kurasakan lagi."
"Keu berbuat salah?"
"I guess."
Sejak kapan dia menjadi suka main tebak-tebakan begini?
"Apa yang ada disini hum?"
Kuketukkan tanganku ke kepalanya. Dia marah. Jaemin mengambil tanganku lalu membawanya kembali kebawah tapi tak kunjung dilepasnya.
"Just hold my hand like this everytime, everywhere. I like the sensation. Warm."
"Hold you boyfriend's."
Sedetik kemudian dia menatapku dengan mata yang sendu. Aku yakin begitulah orang-orang menggambarkannya. Arti dari sendu itu sendiri membuatku khawatir. Aku mengambil tangannya yang lain. "Sudah kugenggam semua. Puas?"
Jaemin tersenyum geli namun tak bertahan lama. Dia tersenyum simpul setelahnya sambil mengangguk.
"Kau juga harus hangat." Tangannya bergerak ke atas, menyentuh kedua pipiku tanpa melepas tanganku.
"Thanks."
Pernahkah kau berpikir telah membuang sia-sia 20 tahunmu hanya untuk berteman denganku? Kita berteman sampai di titik yang orang bahkan tak percaya. Aku pun tak percaya. Kau masih menatapku dengan kekaguman yang sama seperti dulu. Sementara itu, jika ada yang harus dikagumi diantara kita, itu kamu.
Terima kasih Jaemin. Sudah ada di sini untukku, bertahan denganku, dan menyayangiku. Meski aku mencintaimu dan kau tidak begitu.
"Hei, kau mendengarkan apa?"
Dia mengambil satu headset yang sengaja tak kupakai. Sebuah lagu sedang terputar di sana secara acak. Urban Zakapa – My Love.
Jaemin terdiam. Ia menatapku sekilas sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke pemandangan kota Vancouver di musim gugur.
Kami menikmati lagunya, atau paling tidak aku.
"Lagunya mengingatkanku pada orang yang kucintai."
Dan, aku bersumpah. Jaemin memandangku dari sudut matanya.
.
TBC
.
Aku membuat kesalahan. Aku buat MARK TAKUT ANJING DI SINI PADAHAL DI FF SEBELUMNYA DIA PELIHARA ANJING. KAN BEGO BANGET. Sabar tjoeg... Maka... di FF sebelumnya aku bakal ubah dikit. Gak usah baca ulang lah... kalian cukup tahu aja *Pdtingkatdewa.
Maaf untuk kalimat bahasa inggris yang berantakan. Aku baru belajar Bing...
Yosh! Jeno muncul. Karena cinta sudut itu emang greget ya...
Akhirnya terungkap kalau sebenarnya Jaemin tuh ya ngerasa jahat sama mereka berdua. Tapi ya mau gimana lagi. Wong Mark-nya gak tahu Jaemin suka dia, sementara dia sama Jeno kan Cuma hubungan palsu (Hubungan palsu tapi 8 tahun. Biar greget). Jadi gak salah dong dia punya perasaan gitu. Wkwk
Semoga kalian puas dengan chapter ini. Besok mungkin aku akan ceritain gimana mereka bertiga –berempat sama si nono- jalan-jalan. Berhubung gue suka FF yang ngetrip ngetrip gitu.
Hope You Like It ^^
