When Would It Be
CHAPTER 4
Warning! YAOI, Best-fucking-Friend, Typo(s) gak masuk akal.
Pair! Mark x Jaemin
Slight! Jeno x Jaemin
NCT adalah punya Sment, saya cuma pinjem nama dan gejolak cinta yang mereka rasakan satu sama lain (?)
.
Happy Reading
.
Hari itu pukul delapan pagi, mereka keluar dari gedung apartemen dengan barang bawaan di tas punggung masing-masing. Pagi itu tidak seperti yang mereka bayangkan akan cerah, sebaliknya awan kelabu menggantung di langit dengan rapat. Sebentar lagi mungkin hujan akan turun.
Mark memandu mereka mendekati sebuah RV yang terparkir di depan gedung. Jaemin menganga dibuatnya. Dia tidak menyangka akan menikmati liburan semacam ini. Namja manis itu segera berlari mendekati sahabatnya. Meninggalkan Jeno dengan Nono yang kekasihnya gendong.
"Kau dapat mobil ini dari mana?" tanya Jaemin tanpa mengalihkan pandangan dari mobil putih di depannya.
"Temanku. Dia punya rental mobil yang sering disewakan untuk syuting."
"Ini keren!"
Jaemin memburu masuk kedalam mobil besar itu. Matanya berbinar-binar penuh semangat.
"Kau memanfaatkan pekerjaanmu dengan baik." Ucap Jeno sembari menatap mobil itu intens.
"Begitulah. Hei, duduklah di depan denganku. Biar Jaemin dan Jeno yang ini di belakang."
Jeno versi manusia menurut saja. Dia menyerahkan Nono pada Jaemin yang asik menggeledah satu persatu kabinet diatas dapur kecil dalam mobil. Begitu pula tasnya dan Mark, ia serahkan pada yang paling muda.
"Kita berangkat!" seru Mark setelah menghidupkan mesin mobil.
Jaemin yang duduk di belakang berseru riang. Bersama Nono keduanya kembali menelusuri bagian dalam RV itu.
"Kita akan kemana?" tanya Jeno. Meski dia buta Kanada, namun Jeno merasa harus memastikan tujuan mereka. Bukan dia tidak percaya pada Mark, tentu laki-laki itu lebih tahu dari pada dirinya.
"Kota Whistler. Kita bergerak ke utara." Ucap Mark tanpa mengalihkan fokus dari jalanan.
"Kuharap itu tempat yang bagus." Jeno melongok ke belakang dimana Jaemin sudah duduk tenang dengan Nono di pangkuannya. Pandangan mata keduanya bertemu. Mereka tersenyum untuk satu sama lain setelah itu. "Kuharap Jaemin akan menyukainya."
"Kuharap juga begitu. Dia punya masalah fobia sosial jadi Whisler di bulan Oktober menurutku cocok untuknya."
"Dia kenapa?"
Pertanyaan itu membuat Mark mengernyitkan dahinya. Dia melirik Jeno yang seakan tak paham dengan apa yang baru saja dia katakan. Melihat hal itu, Mark menyadari kesalahannya. Seharusnya dia tidak membuka masalah itu padanya. Bisa saja Jaemin memang tidak pernah bercerita tentang masalahnya di Kanada pada sang kekasih. Mark merasa baru saja melewati batas yang ada.
Tapi sepertinya tidak ada jalan untuk menarik perkataannya kembali. Kaca spion depan memantulkan bayangan Jaemin yang sibuk bermain dengan anak anjingnya.
"Kita bicarakan lain kali."
Perjalanan itu menghabiskan waktu satu jam sampai akhirnya Mark menghentikan mobilnya di sebuah tempat. Ada dua alasan kenapa mereka berhenti di tempat itu. Pertama anjing kecil mereka membutuhkan toilet setelah pagi tadi sarapan terlalu banyak, kedua Mark berpikir ada baiknya mereka mengunjungi tempat itu. Paling tidak untuk pemanasan sebelum perjalanan yang sesungguhnya dimulai.
Mereka bertiga pergi dari sekitaran tempat parkir setelah Nono menyelesaikan panggilan alam. Jaemin bertanya tempat apa itu pada Mark. Namun yang lebih tua hanya tersenyum penuh arti dan menyuruh keduanya untuk berjalan lebih cepat.
Suara air yang membentur tanah terdengar semakin jelas seiring langkah kaki mereka. Beberapa orang terlihat berjalan ke arah sebaliknya dengan wajah yang cerah dengan senyuman.
"Shannon Falls. Itu namanya." Ucap Mark saat sebuah air terjun terlihat di depan mata.
"Bagus... Mungkin karena setiap hari lihat laut, air terjun ini jadi terlihat lebih menarik." Celetuk Jaemin. Dia melihat air terjun itu sambil mengawasi anak anjingnya yang dia biarkan berjalan di tanah.
"Aku hampir setiap bulan kemari." Mark berkata lagi. Saat itu mereka sampai di titik dimana mereka hanya bisa melihat air terjun dan batu-batu menjulang.
"Kau kemari sesering itu tanpa mengajakku!? Hei curang!"
"Kadang aku butuh sendiri Jaemin. Aku tidak mau malah diomeli panjang lebar olehmu. Ohoh! Jaga Nono-mu itu!"
Jaemin mempertahankan wajah cemberutnya selagi mengejar Nono yang mendekati sekerumunan orang yang juga sedang menikmati air terjun.
"Sepertinya dia marah." Celetuk Jeno lalu mengejar Jaemin.
Mark akhirnya tertinggal di belakang. Seperti yang diperkirakannya, pasti nasibnya liburan kali ini akan menyedihkan.
Mereka bertiga meniti bebatuan di sekitar pusat air terjun. Percikan air mengenai tubuh mereka di saat yang sama.
Jaemin kini menggendong Nono berjalan berdampingan dengan Jeno. Mereka bercakap seperti biasa sambil sesekali tertawa. Saat harus menapak di batu yang sulit digapai, Jeno tanggap membantu kekasihnya.
Sementara itu Mark berusaha melindungi dirinya dari sakit hati. Dia duduk di sebuah batu, jauh dari keberadaan sepasang kekasih yang kini sedang membayar kerinduan mereka. Matanya menelusur ke pemandangan di bawah bukit. Langit yang cerah dengan awan putih yang bergerak cepat menciptakan bayangan besar yang bergerak di hamparan rumput menguning.
Punggungnya setasa basah. Angin bertiup kencang membawa percikan air terjun mengenainya. Lama-lama Mark merasa terganggu juga. Dia menoleh untuk memastikan apakah kedua temannya merasakan hal yang sama. Dia berniat mengajak mereka melanjutkan perjalanan jika mereka juga merasa terganggu dengan hal itu. Namun, pemandangan yang ditangkap retinanya bukan sesuatu yang Mark ingin lihat.
Jeno mencium Jaemin.
Mark tidak ingin mendeskripsikan bagaimana ciuman itu berlangsung. Panas kah, polos kah, kecupan kah. Dia tidak peduli. Segera ia mengalihkan pandangannya lagi ke depan. Berpura-pura tidak melihat apapun meski dadanya terasa sakit dan kemarahan nyaris tersulut.
"MARK!" Sebuah teriakan akhirnyalah yang membuat Mark menoleh lagi.
Jaemin mengayunkan tangannya. Memberikannya kode untuk mendekat.
"Ada apa?" tanya Mark yang mendekati mereka tanpa perlu disuruh dua kali.
"Ayo berfoto bersama." Ucap Jeno. Dia mengeluarkan kamera sakunya.
"Aku yang fotokan sini." Tawar Mark. Dia berpikir mereka pasti memanggilnya agar dia bisa mengambil foto mereka berdua.
"Apa maksudmu? Kita foto bertiga. Selfie." Sanggah Jaemin.
Mark terkejut. Tapi dia tetap mempertahankan raut wajahnya demi harga diri. "Iya, maksudnya aku yang pegang kameranya. Sini."
"Satu, dua... Tiga."
Ckrek!
.
Ratusan pohon dengan daun menguning berjajar rapi di sisi jalan menuju Whistler. Jaemin memandang keluar jendela dengan takjub melihat keindahan itu. Selama ini dia hanya berkutat di Vancouver karena kesibukan studinya. Begitupun Mark yang tak sempat mengajaknya melihat lebih jauh keindahan Kanada. Sekarang, semua terbayarkan. Dia mengira-ira apa yang menunggunya di Whistler.
Jaemin berjalan mendekati kursi kemudi. Dua orang yang duduk berdampingan di sana sejak tadi tak mengeluarkan suara sedikitpun hingga Jaemin merasa ikut canggung. "Hei, kenapa diam saja?"
"Aku tidak yakin harus jawab apa. Dari tadi Mark yang tidak mengajakku bicara." Ucap Jeno.
"Apa? Aku sedang menyetir sekarang, dan kau berpikir aku juga yang harus cari topik pembicaraan?"
"Aku juga berpikir karena kau sedang menyetir, jadi tidak mau diganggu."
Jaemin melirik kedua laki-laki yang kini sibuk dengan kegiatan masing-masing. Namja itu cemberut melihat ketidakasikan pertama yang dia rasakan di liburan ini. Padahal, seharusnya karena mereka pergi ramai-ramai, suasananya akan semakin menyenangkan. Tapi, ternyata Jeno dan Mark bahkan tidak bisa menyelesaikan masalah 'kecanggungan' mereka yang berlarut-larut.
"Banyak hal bisa kita lakukan di Whistler, benar kan Mark?" tanya Jaemin pada akhirnya setelah beberapa saat mencoba mencari topik pembicaraan. Mark melirik sahabatnya lewat kaca spion depan. Dahinya berkerut beberapa lipatan saat mendengar pertanyaan dipaksakan itu.
"Lebih banyak lagi kalau kita datang di musim dingin. Di musim gugur, kota itu hanya seperti kota pada umumnya. Tapi, itu lebih baik dari pada kau tidak pernah pergi keluar Vancouver."
"Aku setuju. Vancouver lama-lama membosankan juga. Lagi pula, karena Jeno disini, kita tidak boleh membuang waktunya sia-sia di apartemen."
"Oh, kekasihku pengertian sekali."
Seakan ingin memamerkan hubungannya, Jeno mengusap pipi Jaemin dengan manisnya meski kesulitan bergerak. Dia tersenyum lebar sampai eyesmilenya muncul dengan cantik. Jaemin juga secara spontan merespon perilaku Jeno dengan kikikan senang.
Dari ujung matanya, Mark melihat kemesraan pasangan kekasih itu. Tidak ingin mengelak, hatinya terasa nyeri. Tergambar nyata dari bagaimana dia tersenyum kecut sampai menghenghembuskan napas muak yang berhasil melunturkan tawa Jaemin.
Namja manis itu menatap dalam sahabatnya tanpa berniat membuka mulutnya untuk sekedar bertanya. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat merasakan kebencian Mark terhadap situasi ini. Dia bingung lagi. Harus bagaimana sekarang, menghadapi Mark yang bersikap seperti seorang kekasih yang terbakar cemburu.
Jaemin mengalihkan pandangannya dari Mark yang menyetir tanpa fokus, melihat kanan dan kiri. Saat dia melihat kedepan jalan, seekor tupai kecil menyebrang jalan membawa biji kenari.
"AWAS!"
Refleks, Mark menginjak rem sembarangan. Mereka sampai terdorong kedepan dan jika bukan sabuk mengaman yang menahan, sudah pasti Jeno dan Mark terbentur ke depan. Tangan Jeno menahan Jaemin agar tidak tersungkur ke depan, dan berhasil.
"Mark, kau kenapa sih?" seru Jeno disela 'teriakan-teriakan' Nono di belakang.
"Maaf. Sungguh maafkan aku. Jaemin kau tidak apa-apa?"
"Aduh. Sampai kaget aku. Kau kalau menyetir hati-hati dong." Bukannya menjawab, Jaemin malah mulai mengomel. Melupakan suasana tidak mengenakkan sebelumnya. "Sudah, ayo jalan lagi. Sudah hampir sampai tuh sepertinya."
.
Mereka menghabiskan siang dan sore mengelilingi kota Whister. Banyak patio berjajar rapi di sepanjang jalan kota kecil itu. Monumen olimpic berbentuk lima lingkaran berdiri tepat di tengah kota dengan angkuh. Jaemin tak mampu menahan diri untuk tidak mengambil gambar lebih banyak. Kali ini bukan fotonya, tapi lebih pada pemandangan kota yang asri itu.
Di belakang, dua laki-laki berjalan beriringan dengan anjing kecil di gendongan Jeno. Anjing itu sesekali mencoba merangkak naik ke pundak kekasih tuannya, namun tak berhasil. Tingkah itu membuat Jeno tertawa gemas sekaligus geli.
"Dia kecil sekali ya. Coba kalau lebih besar, pasti asik diajak jalan-jalan." Komentar Jeno.
"Saat kecil dulu aku juga berpikir kalau Jaemin lebih besar sedikit, pasti dia akan lebih asik diajak main." Perkataan Mark membuat Jeno mengerutkan dahinya. Dia tak mengerti kemana arah pembicaraan laki-laki itu. "Sekarang sudah sedewasa ini tapi tetap saja, kelihatan kecil dan rapuh. Jadi pikir-pikir kalau mau ajak main."
"What are you talking about?"
"Jaemin."
"Aku sedang membicarakan Nono."
"Oh, maaf."
Menyadari kebodohannya, Mark mempercepat langkahnya meninggalkan Jeno. Dia mengejar Jaemin yang tiba-tiba kecil dari pandangan.
Semua dilihatnya dalam pikiran yang buram. Sosok Mark yang mengejar Jaemin, dan Jaemin yang
.
.
menyambut Mark dengan uluran tangannya.
Tubuh Jeno memanas. Dia mengalihkan pandangannya dari objek yang sukses membuatnya cemburu. Cemburu luar biasa. Dia merasa teramcam. Dia merasa seluruh hartanya, yang beberapa saat lalu masih dalam pelukan, siap pergi. Direbut seseorang yang pernah membuangnya jauh.
Ini adalah ketakutan terbesar Jeno yang pada akhirnya dia taklukan saat memutuskan untuk pergi kesini, menemui kekasih yang dia cintai. Ia pergi jauh kesini untuk melihat senyum Jaemin, membahagiakannya seperti dulu, dan yang paling penting memastikan Jaemin tak jatuh lagi dalam pesona seorang Mark Lee.
Namun, apa ini?
Ternyata Mark sendiri masih menyimpan cintanya, perasaan yang dulu terlambat datang.
"Jeno!" Seruan Jaemin membuyarkan lamunannya. "Cepatlah!"
Kini Jeno yang berjalan cepat mendekati mereka. Secercah harapan, dia ingin Jaemin menyambutnya juga. Tapi dia tidak mendapatkannya.
Sebagai gantinya, gerakan Mark mengambil jarak dari Jaemin untuk memberikannya tempat membuat hatinya bergetar.
Jeno bersumpah tidak pernah melihat Mark setulus ini. Apalagi menyangkut masalah hati. Dia adalah pribadi yang rela melakukan apapun, menyakiti siapapun untuk mendapatkan pujaan hatinya. Namun sekarang, dengan sangat dewasa ia seakan mengalah, seakan tahu bukan disanalah tempatnya.
Benar. Lakukan itu. Jauhi kekasihku.
.
Malam itu, mereka memutuskan untuk menginap di sebuah hotel di pinggir kota. Menjelang thanks giving seluruh hotel telah padat pengunjung. Bahkan mendapatkan tempat itu saja, mereka sudah sangat bersyukur.
Penginapan itu terletak di dekat gunung. Rimbunan pohon berdaun kuning dan oranye yang terpapar sinar matahari sore saat mereka datang, cukup membuat ketiganya jatuh cinta. Bahkan Nono menggonggong dengan riang. Untungnya penginapan itu juga tidak punya aturan khusus untuk hewan peliharaan.
"Kuncimu." Jeno menyerahkan kunci pada Mark yang sibuk dengan ponselnya.
"Milikku?" Mark bingung. Tentu saja. "Kita tidak satu ruangan?"
Jeno tertawa mengejek. Dia memukul bahu Mark lalu membisikkan sesuatu.
"Kau bercanda? Ini malam kami."
Ini malam kami.
.
Mark memberanikan diri memangku Nono untuk menyisir rambut-rambut kusut anak anjing itu. Dia duduk di dekat pintu balkon, membiarkan Nono tenang melihat lampu-lampu kota.
Keadaan kamarnya tenang. Tentu karena dia adalah satu-satunya orang di sana dan Nono memilih untuk mengunci mulutnya untuk fokus melihat ratusan kelip lampu.
Kalimat Jeno saat check-in tadi masih terngiang di kepalanya.
Apa maksudnya?
Apa yang akan mereka lakukan berdua?
Apa yang biasanya sepasang kekasih lakukan saat berdua?
Di sebuah kamar?
Saat liburan...
Mark bangkit dari duduknya. Dia menggendong Nono yang ternyata tertidur menuju tampat tidur king size di kamar itu. Dengan perlahan, dia menidurkan anak anjingnya di sisi kasur.
Helaan napas mengalir dari mulut Mark saat menyadari betapa kosong kamar itu dia tempati sendiri. Ingatannya terbawa ke saat dimana dia masih sendiri kala itu. Selama lima tahun dia kehilangan sosok-sosok paling dekat dengannya, mengundang depresi karena kesepian. Selama itu pula dia gagal membangun hubungan yang sama dekatnya dengan orang-orang di Korea.
Kalau Jaemin akhirnya pergi lagi, aku akan bagaimana?
I can't live without him. I need him. I... just in love with him. My bestfriend.
Mark tersenyum kala Nono terbangun lalu berjalan beberapa senti ke tengah kasur lalu tertidur lagi. Saat itu Mark menyadari betapa kosong ranjangnya tanpa Jaemin.
"Padahal kita tidak harus saling panjat lagi kalau tidur berdua disini."
Tapi apa mau dikata, Jaemin pasti sedang menikmati malamnya bersama Jeno di kamar ujung koridor itu. Sudah pasti Jeno memilih kamar tersebut bukan tanpa alasan. Dan Jaemin sebagai kekasihnya sudah seharusnya tidak menolak penawaran Jeno.
Mark meraih syal biru donker miliknya lalu melangkah keluar kamar. Sendirian di tempat itu bukanlah pilihan bagus. Dia juga dengan nekat meninggalkan Nono demi menenangkan dirinya yang bergejolak. Marah. Kecewa. Sedih. Putus asa. Patah hati.
Kota masih ramai meski sudah nyaris tengah malam. Malah sepertinya semakin ramai. Melihat betapa ramainya patio-patio dikunjungi membuat Mark tergoda. Dia masuk ke salah satu restoran yang menyediakan anggur itu. Duduk di salah satu meja bulat yang sebenarnya diperuntukkan untuk empat orang. Setiap orang yang melihatnya pasti merasa kasihan. Laki-laki itu terlihat kesepian.
Ponselnya berdering berkali-kali diatas meja. Mark melihat nama Jaemin di layar ponselnya itu, tetapi tak berniat untuk mengangkatnya. Biarlah untuk kali ini dia sendiri. Lagi pula kenapa sahabatnya menelpon sekarang? Disaat seharusnya dia bersenang-senang dengan kekasihnya.
"Shit!"
Gebrakan tangannya di meja mengundang atensi nyaris dari seluruh pengunjung patio.
Mark meninggalkan uangnya di meja lalu segera berjalan kembali ke penginapan.
Dia tak sepenuhnya sadar. Mark paham tubuhnya yang sedang dalam kendali alkohol, meski sedikit.
Hal pertama yang dilihatnya saat memasuki lorong dimana kamarnya berada adalah seseorang yang bersandar di pintu kamarnya. Orang itu memainkan ponselnya dengan wajah tak berminat. Mungkin, benda persegi panjang itu hanya alat pembunuh kebosanan tapi tak benar-benar berguna.
"Sedang apa disini?" tanya Mark sembari berjalan ke kamarnya.
Jaemin terhenyak. Dia mengalihkan pandangan dari ponselnya untuk melihat Mark berjalan mendekatinya dengan langkah terhuyung.
"Minum?" tanya Jaemin balik. Jawaban untuk pertanyaan Mark sebelumnya? Masa bodoh. Memang harus ada alasan untuk dia menemui Mark sekarang? Mereka kan memang sudah sering berduaan malam-malam seperti ini. "Kau minum?"
Merasa pertanyaan ambigunya tak kunjung dijawab, Jaemin mengulang pertanyaannya menjadi lebih jelas.
Mark menjawab dengan gumaman kecil sembari membuka pintu kamarnya. Dia melirik sekilas ke arah sahabatnya. "Masuk." Ucap Mark yang lebih mirip pada perintah.
Jaemin masuk kedalam kamar Mark tanpa menunggu perintah lain lagi. Di tempat tidur, anjing kecilnya tengah berbaring walau matanya terbuka, menatap sang majikan tanpa minat untuk menggonggong atau mendekat. Jaemin di sisi lain juga tak kecewa. Dia kemari bukan untuk bertemu anjingnya, melainkan Mark.
Debaman pintu terdengar menggema di kamar itu. Berani bertaruh, Jaemin juga berpikir suaranya menyebar ke seluruh lorong.
"Mau apa kesini?" tanya sang pemilik kamar. Jaemin berbalik untuk menatap sahabatnya yang kini duduk di sofa, melepaskan syalnya serta sepatunya.
"Mau apa kesini? Huh, memang tidak boleh aku pergi kemari? Seperti orang lain saja."
"Kau memang seperti orang lain."
Saat Jaemin duduk ke samping Mark, buru-buru Mark berdiri. Hal itu mengundang tanda tanya di kepala Jaemin. Kenapa tiba-tiba Mark berubah defensif?
"Maksudmu?"
"Kau orang lain bagiku saat berdekatan dengan Jeno."
Mark memberanikan diri melihat Jaemin dengan intens. Dari ujung rambut hingga ujung kaki semuanya terlihat berbeda ketimbang sebelum mereka berpisah tadi sore. Rambut sahabatnya jadi lebih acak-acakan, mungkin karena baru saja mandi. Kancing teratas piyamanya juga tak terkancing rapih, mungkin dia memang sedang malas mengancingkannya. Tapi, bekas luka kebiruan yang tersebar di lehernya itu, apakah itu juga sengaja dia buat? Tentu tidak bukan?
Menyadari arah pandangan Mark, Jaemin segera menutupi lehernya. "Baru kemarin kau seakan tidak masalah dengan kehadirannya."
Mark tidak membalas. Dia hanya diam di tempatnya dengan mata tetap tajam menatap tangan Jaemin yang menutupi lehernya itu.
"Ya! Apa salah aku berdekatan dengan kekasihku sendiri? Tidak 'kan? Yang salah itu..."
Jaemin menggigit bibir bawahnya. Gugup.
"Yang salah itu kau yang melihat leher penuh kissmarkku dengan penuh kecemburuan!"
Mark tersentak. Dia tidak menyangka Jaemin akan menyuarakan kata hatinya yang biasa dia sembunyikan. Tapi terlepas dari keterkejutan akan kejujurannya itu, Mark lebih terkesiap akan kemampuan Jaemin membaca emosinya.
Seketika, Mark merasa tak berdaya. Apa yang bisa ia lakukan hanyalah marah dan menumpuk kemarahan itu tanpa bisa melakukan apa-apa untuk memperjuangkan perasaannya. Betapa pengecutnya dia.
"Harusnya kau bisa menebak apa yang akan Jeno lakukan padaku. Harusnya kalau kau tidak suka dia menyentuhku, KAU MENGHENTIKANNYA!"
Jaemin melemparkan bantal sofa tepat ke wajah Mark.
Sesaat kemudian mereka terjebak dalam suasana sunyi. Mark tak bergeming menatap lantai di bawah kakinya. Dia merasa bersalah. Entah karena memang dia melakukan kesalahan atau karena Jaemin dengan licik memutar balikkan perasaan cemburu serta melemparkan kesalahan padanya. Tapi yang pasti dia juga tidak mau menyalahkan Jaemin. Situasi ini membingungkannya untuk bertindak.
"Percuma aku bicara dengan orang mabuk."
Mark kembali ke kesadarannya saat Jaemin berjalan melewatinya, hendak pergi meninggalkan ruangan. Sekali lagi, kesepian akan mengisi penuh kamarnya. Mark ketakutan dan tidak rela membiarkan sunyi mengisi malamnya. Tanpa sadar, dia sudah menahan pintu di depan Jaemin. Lalu detik berikutnya, dia berhasil memepet sahabatnya ke pintu.
"Sudah terlambat untuk menghentikannya. Ada opsi lain?" bisik Mark di telinga Jaemin. Dia tak berhenti sampai disitu. Hidungnya menjelajah kebawah, menyusuri leher mulus penuh bercak ungu yang lalu dia berhenti di satu tempat polos. Mark mengecupnya sembari tangannya menyusup untuk memeluk tubuh Jaemin dari belakang.
Jaemin merasakan dingin di kakinya. Dalam level hampir mati rasa. Sapuan napas hangat Mark di tengkuknya membuatnya membeku. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan desahan halus yang sudah pasti akan muncul jika Mark melanjutkan ini semua.
"Ahhh!"
"Aku bertanya, apa ada opsi lain Nana?"
Akhirnya desahan itu keluar juga saat Mark mengulum kulitnya tanpa izin. Jaemin merinding merasakan sensasi yang menjalar dari tengkuknya ke seluruh tubuh. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan apa yang Jeno lakukan sebelum ini.
"Stop!" Jaemin mendorong Mark menjauh. Dia tidak bisa menerima semua ini, semua sensasi menyenangkan ini. "Kau mabuk."
"Hanya dalam keadaan mabuk aku bisa menyentuhmu, Na. I have a reason..."
"You don't need reason to touch me! No one forbid you! Tapi aku tidak mau disentuh oleh orang yang tidak sadar tengah menyentuhku."
"Selama ini aku berusaha menghargaimu!"
"Menghargaiku? Yang aku tahu selama ini kau ketakutan! Pengecut."
"Aku menghargaimu karena kau sahabatku, karena kau sudah punya kekasih!"
"TAPI KENYATAANNYA KAU TIDAK SUKA AKU PUNYA KEKASIH!"
Nono 'menangis'. Teriakan majikannya membuat dia ketakutan. Namun sayang, sekarang tidak ada yang peduli padanya.
"Kau membuatku bingung, Mark."
Perasaan Jaemin campur aduk. Seharusnya, dia pergi lebih cepat dari kamar itu saat merasakan penolakan yang Mark berikan. Sekarang saat semuanya menimbulkan masalah, Jaemin tidak bisa mengontrol emosi dan kekecewaannya.
"Kau membuatku lebih bingung lagi." Mark menarik pergelangan tangan Jaemin untuk membuat mereka menjauh dari pintu. Bagaimana pun juga Mark masih tak rela jika dia ditinggal sendirian.
Mereka kini duduk di tepi tampat tidur. Nono terseok-seok mendekati Jaemin lalu mendesak minta masuk dalam pelukan. Keduanya terdiam sesaat sambil melihat tingkah anggota baru keluarga mereka. Bayi anjing itu seakan ingin membuat teriakan-teriakan penuh emosi beberapa saat lalu tak terulang lagi dengan bersikap lucu.
"Aku cukup sadar, Jaem. Yang barusan itu... aku minta maaf. Seharusnya pertengkaran ini tak perlu terjadi."
Jaemin tak menjawab. Dia menyibukkan diri dengan mengelus anak anjingnya.
"Tetaplah disini. Paling tidak untuk menemani Nono karena aku tidak sanggup mengurusnya sendirian."
Niat awal untuk pergi akhirnya luluh. Jaemin melirik Mark yang masih setia menatapnya penuh harap. Tatapan yang sejak dulu tak pernah bisa dia tolak.
Jaemin tanpa basa-basi membaringkan dirinya di sisi kasur sambil memeluk Nono. "Matikan lampunya."
Senyum Mark langsung mengembang. Cepat-cepat ia mematikan lampu utama juga lampu di meja nakas. Lalu dia ikut menyamankan diri di sisi kasur lainnya.
"Selamat malam, Jaemin."
"Malam, Mark."
.
Jeno meremat kancing biru muda dalam genggaman. Kejadian beberapa jam yang lalu masih tak bisa berhenti berputar di kepalanya. Hal itu membuatnya tidak bisa tidur bahkan untuk bernapas saja terasa berat.
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Keputusasaan itu akhirnya muncul ke permukaan beberapa saat yang lalu. Dimana Jeno merasa tidak sanggup lagi menahan perasaannya untuk diri sendiri. Dia ingin mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya pada Jaemin, tetapi dia melakukan tindakan gegabah.
Ketakutan Jaemin, kebingungannya, kemarahannya. Tadi terlihat sangat jelas. Bagaimana caranya melepas paksa piama kekasihnya itu hingga kancingnya berhamburan, membuat Jeno ngeri. Dia tidak tahu ada binatang buas dalam dirinya.
"JENO!"
Teriakan kebingungan Jaemin berputar di kepalanya.
"Hentikan! Kita tidak bisa melakukannya."
Ya. Seharusnya Jeno berpikir lebih jauh untuk bertindak seperti ini.
"Kita sedang bersandiwara Jeno. Tidakkah kau ingat itu?"
Jeno tidak menyangka. Tidak menyangka hubungan ini akan sampai pada tahap yang begitu jauh. Dimana dia merasa terbelit dan tak mampu untuk melihat lagi kenyataan. Awalnya dia hanya tertarik, lalu suka, lalu jatuh cinta dan sekarang dia merasa kecanduan. Jaemin adalah segalanya. Pemeran utama dalam panggung kehidupannya. Namun, Jaemin pula antagonis dalam cerita ini. Betapa jahat dirinya, tak menyadari perasaan Jeno dan malah terus memupuk perasaan pada sahabat masa kecilnya.
Rasa perih yang muncul dari bekas cakaran Jaemin di punggungnya membuat Jeno meringis. Sebegitu besar penolakan yang dia terima.
Apa yang kurang dariku?
Apa aku tidak pantas mendapatkanmu?
Apa aku harus melepasmu?.
.
.
TBC
.
A/N wow lama sekali yaaaah... aku yakin pembaca sudah gak nge-feel sama FF ini, tapi aku masih pingin lanjut. Gimana dong? (bodo amaaat~~)
Tapi kan.. aku hampir selesai UAS nih, libur puanjaaang tanpa kerjaan. (I miss my marching band. But, i'm quit. #goblok) Pinginnya sih lanjut FF-FF sama bikin FF lain.
Ngomong2 ini Ffnya terlalu dewasa ya buat Markmin dan Nomin. Aku baru sadar lagi #GoblokPart2, mana bayanginnya Johnten mulu, kan makin parah 'kedewasaannya'. Aduuuh maaf yaaa. Tapi suatu saat mereka bakal gede kok, so... ya... sudahlah ya. Lah, banyak bacot aku :(
Hope You Like It ^^
