Previous
Katakanlah Sehun yang tidak memiliki hubungan dengan Kai dan Kyungsoo saja bisa bergumam marah.
Lalu bagaimana dengan Chanyeol? Bagaimana dengan Luhan?
Kedua pria yang merupakan kekasih dari dua orang di atas panggung itu terlihat sangat kecewa. Tak menyangka di depan kedua mata mereka-…Kai dan Kyungsoo seolah membenarkan hubungan gila yang mereka miliki.
"brengsek!"
Dan jika Chanyeol mengumpat marah dengan hati yang berdenyut sakit maka Luhan hanya tertunduk dalam diam.
Sesekali matanya melihat ke segala arah. Menikmati penghianatan yang berulang kali di berikan Kai padanya.
Dia berusaha keras untuk tidak merasa sakit
"whoa daebak!..Jadi benar Kai dan Kyungsoo memiliki hubungan?"
"Aigoo mereka terlihat sangat cocok."
Namun saat suara penggemar keduanya mendukung hubungan mereka. Maka air mata Luhan tak bisa lagi dia tahan.
Dia pun segera menghapus air matanya sebelum berujar sangat lirih memanggil nama kekasihnya "Aku lelah Kai."
Entah apa rasanya menjadi Luhan dan Chanyeol
Itu yang berada di pikiran Sehun
Dan untuk alasan tertentu-….Sehun benci melihat Luhan menangis.
Dia terlihat sangat lemah saat menangis.
Membuatnya secararefleksmengikuti kemana sahabat kekasihnya pergi sebelum pria berperawakan mungil itu berbuat gila atau buruknya membiarkan seseorang melakukan hal gila padanya.
"Luhan!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A' Friends Betrayal
Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo
Support cast :bermunculan sesuai kebutuhan
Genre : Drama
Rate : M / NC!/
.
.
.
Sudah dua puluh menit berlalu sejak Luhan meninggalkan Venue. Dan selama dua puluh menit itu pula Sehun terus mengikuti kemana sahabat kekasihnya itu pergi.
Entah apa yang dia lakukan saat ini
Dia juga tidak tahu.
Bahkan Baekhyun tidak memintanya untuk menghibur Luhan
Tapi apa yang dilakukannya saat ini?
Dia takut jika dia membiarkan Luhan pergi seorang diri, dia akan melakukan hal gila yang bisa membuat Baekhyunnya menangis.
Alasan memang…
Karena kenyataan yang sebenarnya-…Sehun secara naluriah mengikuti Luhan kemanapun dia pergi.
Dia baru saja menjadi saksi bahwa seseorang dikhianati di depan kedua matanya malam ini.
Harusnya dia menemani Chanyeol-…Sahabatnya.
Bukan diam-diam mengikuti Luhan yang selama dua puluh menit ini hanya berdiri di atap gedung agensi mereka.
"Sampai kapan kau akan berdiri di sana? Apa kau tidak kedinginan?"
Jujur saja itu yang ada di benak Sehun saat ini, jarak mereka bisa dibilang cukup jauh.
Jika sedari tadi Luhan melihat kebawah dengan ketinggian empat puluh lima lantai. Maka Sehun masih berada di dalam gedung. Memperhatikan pegawainya dari jarak yang cukup jauh dan memastikan bahwa Luhan tidak melakukan hal gila apapun setelah apa yang Kai lakukan di depan matanya.
Drrt…drtt…
Disaat matanya terkunci pada sosok punggung Luhan yang terlihat rapuh, ponselnya berbunyi.
Membuat si pemilik bergegas merogoh sakunya dan tersenyum saat nama My Baby Baek menghubunginya. Dia bahkan bisa menebak apa yang akan ditanyakan sang kekasih dan cukup siap untuk menjawab pertanyaan panjang dari Baekhyunnya
Sret…
"Sayang.."
"SEHUN!"
Sehun secara refleks menjauhkan ponselnya saat Baekhyun berteriak. Membiarkan kekasihnya sejenak cemas dan bertanyak banyak hal tentang Luhan tentu saja.
"Apa berita itu benar? Dimana Luhan? Sayang katakan dimana Luhan? Aku-…."
"Dia baik-baik saja Baek."
"huh?"
"Aku mengikutinya dan sampai saat ini sahabatmu baik sayang."
"haah…Syukurlah Lu."
Terdengar helaan nafas berat dari Baekhyun, disusul sedikit isakan sampai akhirnya suara sang kekasih kembali terdengar pilu untuk Sehun "Aku akan segera kesana. Aku harus memastikan Luhan hkss-….DIa harus baik-baik saja Sehunna."
"Baek tenanglah sayang. Luhan baik dan kau tak perlu menangis."
"Bagaimana mungkin dia baik-baik saja? Hksss….Kai keterlaluan sayang."
Sehun tersenyum pahit mendengar ucapan kekasihnya merasa sedikit bersalah karena artisnya menyakiti pria sebaik Luhan sampai tak sadar tangannya kembali terkepal mengingat dua hari berturut-turut-…Lead dancer EXO itu dengan keji mengoyak dan mencabik hati Luhan.
Dan seolah tak puas sampai disitu-….Kai bahkan seolah sengaja menunjukkan pada dunia tentang hubungan khusus yang dimilikinya dengan Kyungsoo
Membuat matanya terus menatap punggung rapuh Luhan sampai suara Baekhyun kembali terdengar "Aku akan segera menemui Luhan dan selagi menungguku bisakah kau menjaganya sayang?"
"….."
"Sehun?"
"huh?"
"Bisakah kau menjaga Luhan untukku?"
Walau Baekhyun tak meminta, rasanya Sehun memang akan mengikuti kemanapun Luhan malam ini. Dan mengingat semua penghianatan yang di terima Luhan selama dua hari berturut-turut ini, maka hanya ada dua kemungkinan mengapa Sehun memutuskan untuk mengikuti Luhan.
Pertama karena pria cantik yang hatinya sedang terkoyak saat ini adalah sahabat kekasihnya
Atau
Kedua karena Sehun ingin.
Tanpa sadar dia memang selalu menganggap Luhan menarik.
Entah dari caranya bertahan saat disakiti atau bagaimana dia menolak untuk menyalahkan siapapun yang membuatnya terluka. Dia cenderung lari dari masalah dan melupakan hal yang tak mungkin dilupakan begitu saja.
Membuat direktur muda itu merasa tertarik namun tak memungkuri bahwa dia memiliki rasa cemas untuk Luhan.
"Sehun."
Dan sekali lagi saat suara Baekhyun terdengar, maka Sehun kembali pada kesadarannya. Dia tersenyum sebelum merespon ucapan sang kekasih "Aku akan mengirim paman Kim untuk menjemputmu."
"huh?"
"Aku tidak ingin kau mengemudi dalam keadaan marah. Dan sampai kau datang-…Aku akan menjaga sahabatmu Baek."
"hks…Janji?"
Sehun terus menatap sosok Luhan yang terus diam di tempatnya. Sedikit tersenyum sebelum mengangguk dan menyanggupi apa yang diinginkan Baekhyun.
"Janji."
Dan setelah itu terdengar suara ponsel Baekhyun dimatikan, dia pun bergegas menghubungi paman Kim untuk menjemput Baekhyun sebelum matanya membulat melihat Luhan berlari ke arahnya.
Dia pun sedikit bersembunyi sebelum ikut berlari dan mengikuti kemana Luhan pergi selanjutnya.
Ting….!
Tujuan Luhan adalah basement -….Dan saat mereka sampai di basement , Sehun melihat Luhan bergegas masuk ke dalam mobilnya. Sedikit terburu-buru sampai
BRRM…!
"sial! Kenapa cepat sekali." Katanya bergumam marah sebelum
BRRMM….!
Sehun berusaha menyamakan kecepatan Luhan, mengikuti kemanapun dia pergi sampai mobil yang ditumpangi Luhan berhenti di kantor agensi mereka
Tapi untuk apa?
BLAM….!
Buru-buru Sehun ikut berlari masuk kedalam gedung kantornya. Terus mengikuti Luhan sampai menyadari bahwa tujuan Luhan saat ini adalah-…ruang private EXO di OSH'ent.
"Luhan."
Sehun bisa melihat leader EXO M –Wu Yifan- yang menyapa Luhan kali pertama. Wajahnya terlihat sama pucat dengan Luhan yang terlampau diam dan lebih memilih untuk melewati pria yang memiliki postur tubuh tertinggi di EXO.
"Lu."
Tap!
Kali ini Sehun ingin berhenti melangkah saat Kris –nama kecil Yifan- menarik lengan Luhan dan memeluknya erat. Dia bahkan berhasil membuat Luhan sadar dari semua kemarahannya hingga pria yang terlihat mungil jika disandingkan dengan Kris itu merespon.
"Aku mohon tenanglah."
"Lepas."
Walau responnya dingin-….Setidaknya Luhan menjawab. Dan saat Kris mendekapnya semakin erat maka disaat yang sama pula Sehun memalingkan wajahnya.
Entah mengapa rasanya sangat tidak menyenangkan melihat leader EXO-M itu berusaha mengontrol Luhan dengan memeluknya. Sehun juga bisa merasakan nafasnya berhembus cepat tanda dia sedang menahan amarah.
Gila memang….
Karena tanpa alasan yang jelas Sehun tidak menyukai semua yang berkaitan dengan EXO terus mengusik Luhan.
Entah Kai atau Kris sekalipun, dia tidak menyukainya.
Dia tahu ini gila, tapi saat matanya dan mata Kris bertemu maka secara refleks pula Kris melepas pelukannya pada Luhan "Direktur Oh?"
Sehun membalasnya dengan seringaian, membuat Luhan ikut menoleh dan sedikit bertanya mendapati Sehun di belakangnya. Keduanya sempat bertatapan sebelum Luhan lebih dulu memutus kontak mata mereka untuk kembali bertanya pada Kris.
"Dimana Kai?"
"huh?"
"Ada dimana bajingan itu?"
"Lu…"
"HANYA JAWAB AKU KRIS!"
Sehun kini tanpa ragu berjalan mendekati Luhan berniat untuk membawanya pergi sebelum Luhan dengan kasar menghempas tangan kekasih dari sahabatnya "Kenapa semua orang terus ikut campur urusanku?" katanya sarkas menatap Sehun sebelum mendorong tubuh besar Kris untuk bertemu dengan kekasihnya.
BRAK….!
Jika diluar sana keadaan sangat tegang, maka tak berbeda jauh dari keadaan di ruang tunggu EXO.
Semua wajah anggota terlihat pucat karena kekacauan yang baru saja dibuat oleh maknae mereka.
Luhan bahkan bisa melihat sahabatnya sedang menemani Jongdae. Lalu kemudian matanya melihat Tao, Suho serta Lay yang memandangnya putus asa.
Mata Luhan terus mencari sampai akhirnya dia menemukan sosok tampan yang merupakan kekasihnya.
Kai disana-….Sedang menundukkan kepalanya di sudut pojok ruangan. Entah apa yang sedang dipikirkan kekasihnya.
Tapi Luhan berani bertaruh jika saat ini-….Malam ini seluruh isi kepala Kai hanya berisi tentang-…..Kyungsoo.
"Lu."
"Diam di tempatmu."
Buru-buru Luhan menggertak Xiumin yang ingin mendekatinya. Memberi tatapan dingin pada sang sahabat sebelum dengan gusar mendekati prianya-…kekasih yang terus menghianatinya.
"Direktur Oh?"
Seluruh anggota menyapa Sehun, namun saat Sehun memberi gerakan tidak perlu berdiri Suho dan yang lain hanya berada di tempat mereka masing-masing.
Sehun sendiri kembali fokus pada Luhan yang terlihat menghampiri Kai. Memperhatikan apa yang dilakukannya sebelum suara dingin Luhan terdengar di ruang yang cukup besar untuk sebuah ruang istirahat.
"Berdiri."
Yang diperintahkan tersadar dari lamunannya. Dia pun perlahan mendongak sebelum melihat mata rusa sang kekasih terlihat menatap dingin padanya. Kai hanya tersenyum membalas Luhan namun nyatanya semua yang dilakukan olehnya adalah kesalahan malam ini.
"Hey sayang."
"Berdiri."
"Kita bicara besok saja. Aku lelah."
"Lelah? AKU LEBIH LELAH KIM JONGIN!"
Deg!
Selama lima tahun mereka bersama-…Ini adalah kali pertama Luhan berteriak padanya. Jantung Kai dibuat berdenyut sakit karena suara teriakan Luhan dipenuhi rasa luka. Dia pun tertunduk cukup lama sebelum akhirnya berdiri dan bertatapan langsung dengan mata yang kini sudah menangis dalam kemarahan.
"Aku bisa menjelaskannya Lu. Aku-…"
PLAK!
Saat tamparan keras itu diterima Kai maka sedetik kemudian ketegangan semakin terasa di tiap hembusan nafas setiap orang yang berada di ruang tunggu EXO.
Semua terkejut karena apa yang baru saja dilakukan Luhan pada Kai.
Tak pernah seperti ini sebelumnya
Luhan yang biasa hanya akan diam dengan semua kekacauan yang dibuat Kai, Skandal Kai dengan siapapun dia hanya akan diam.
Bukan seperti ini-…Ini bukan Luhan.
Atau mungkin ini yang dinamakan kesabaran seseorang telah habis untuk diam dan tak melakukan apapun saat disakiti?
"Tega sekali kau padaku."
Setiap ucapan yang dilontarkan Luhan terasa sakit di hatinya.
Tatapan yang diberikan sang kekasih juga mewakili seluruh amarah yang disimpannya selama ini.
Luhan terus mengeluarkan air mata namun menolak untuk terisak. Dan saat tangan mungilnya menampar Luhan maka Kai telah membuat kesalahan dengan menyakiti hati malaikat milik kekasihnya.
"APA KAU BENAR-BENAR MENCINTAI KYUNGSOO?"
"Lu…."
"AKU TAHU APA YANG KAU LAKUKAN DI BELAKANGKU SELAMA INI! AKU TAHU KAU TERUS MENGHIANATIKU TAPI AKU SELALU DIAM! LALU BEGINI CARAMU MEMBALASKU? TEGA SEKALI KAU KIM JONGIN!"
Tamparan kedua baru saja Luhan berikan pada Kai dengan kata-katanya.
Kai sendiri tak menyangka kekasihnya sudah terluka separah ini karena penghianatan yang dia berikan. Entah iblis macam apa dirinya yang tega menyakiti hati malaikat kekasihnya.
Membuat hanya ketakutan yang tertinggal-…takut jika pada akhirnya Luhan meminta lepas dari genggamannya.
"Lu apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti."
Luhan tertunduk cukup lama. Dia tak tahan lagi dengan perasaan sesak yang terus ia sembunyikan enam bulan terakhir ini.
Dia tidak bisa lagi berdamai dengan penghianatan yang diberikan Kai.
Membuatnya terus mencoba untuk melupakan namun berakhir karena dia terlalu sakit untuk menahannya seorang diri.
Jika beberapa saat lalu tangannya menampar telak wajah Kai, maka saat ini tangan mungilnya mencari dimana dada bidang sang kekasih yang biasa ia gunakan untuk bersandar. Merabanya sekilas sebelum tangannya mencengkram kuat hingga terdengar ringisan dari pria yang tak lama lagi akan menjadi orang asing untuknya.
"AkutahukaubermaindibelakangkuKai."
Luhan setengah meracau dan mengatakannya dengan cepat. Tangannya terus mencakar dada bidang Kai hingga rasanya dia tergoda untuk mencabut paksa hati yang begitu tega menghianatinya.
Dia pun terus mencengkram tangan Kai sampai akhirnya menyerah dan meyandarkan kepalanya yang sakit di dada kekasihnya.
"Lu-…"
"Terakhir kali-….Biarkan aku bersandar untuk terakhir kalinya di pelukanmu Kai."
"huh?"
"Diamlah. Kepalaku sakit."
Luhan tidak bersandar, dia hanya menempelkan keningnya ke dada Kai. Kedua tangannya juga sudah berhenti mencakar dada Kai. Dia hanya ingin mencari ketenangan di pelukan kekasihnya –untuk terakhir kali-
"Jantungmu berdebar cepat sekali Kai. Aku bisa merasakannya-….Jangan memelukku!"
Kai tahu ini pertanda buruk. Tiap kali Luhan memintanya untuk diam-…Artinya dia marah.
Dan saat tubuh mungil kekasihnya menolak untuk dipeluk maka sudah bisa dipastikan hal buruk memang akan segera terjadi pada hubungan mereka.
"Tapi mungkin ini debaran karena merasa bersalah bukan karena kau mencintaiku lagi."
"Aku mohon jangan bicara seperti itu hmm."
"Kini debaran jantungmu terasa tiap kali kau melihat Kyungsoo. Aku benar kan?"
"Luhan aku benar-benar bisa menjelaskannya."
Kai menempelkan dagunya di kepala Luhan, berharap Luhan memaafkan namun nyatanya si pria cantik terus meracau kalimat perpisahan padanya.
"haaah-….."
Luhan kemudian menghentikan omong kosongnya. Dia tak lagi menempelkan keningnya ke dada Kai dan berusaha tegar dengan kepurusannya malam ini.
"Aku lelah Kai."
"Sayang aku mohon jangan katakana apapun lagi. Aku akan mengantarmu-…"
"Aku bertahan karena takut kau disakiti, tapi nyatanya kau bahagia dengan dia. Aku bisa melihat dimatamu sayang-….Kau mencintai Kyungsoo."
Air mata Kai sudah turun membasahi wajahnya. Hatinya begitu sakit dengan penyesalan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Dia tak pernah melihat Luhan serapuh ini sebelumnya. Luhannya adalah sosok yang selalu tersenyum tak peduli apapun yang terjadi.
Dan Kai mengutuk semua senyum itu jika nyatanya dirinya telah melakukan kesalahan dengan merenggut senyum cantik itu dari wajah kekasihnya.
"Aku mencintaimu sayang."
Berkali-kali dia ingin mendekap Luhan maka berkali-kali pula dia menerima penolakan.
Luhan mundur selangkah lebih jauh dari posisinya saat ini.
Dia juga menghapus cepat air matanya sebelum melihat satu-persatu anggota yang mungkin akan menjadi saksi akan keputusannya malam ini.
Sedetik kemudian matanya kembali menatap Kai untuk terakhir kalinya.
Dia juga tersenyum menatap Kai untuk kali terakhir sebelum dengan berat hati mengatakan "Malam ini-…Aku dan kekasihku resmi berpisah. Kalian dengar?" katanya memberitahu seluruh anggota dan kekasih sahabatnya yang juga mendengar keputusannya malam ini.
Dia memejamkan matanya sesaat untuk menenangkan diri, mengambil nafas sebanyak mungkin sampai mata rusanya kembali mengagumi wajah tampan seorang Kim Jongin untuk kali terakhir.
"Dan kau sayang –tidak…maksudku- Kim Jongin-ssi. Terimakasih untuk lima tahun yang telah kau berikan padaku. Aku-…."
Luhan kembali tertunduk untuk menangis sejenak. Hatinya sakit tak terima harus berpisah dengan cara seperti ini, namun nyatanya semakin dia diam maka semakin banyak pula rasa sakit yang harus dia pikul seorang diri. Membuatnya kembali mengambil nafasnya untuk memeperjelas statusnya dengan Kai saat ini.
"Aku bukan lagi kekasihmu. Selamat-…"
"Jangan katakana lagi Luhan. Aku mohon jangan seperti ini sayang."
Semakin Kai mendekat semakin pula Luhan menjauh. Dia pun terus pada keputusannya untuk berpisah dan menatap Kai dengan yakin sekali lagi.
"Selamat tinggal Kai."
"LUHAN!"
Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Kai-…Luhan kembali berlari. Meninggalkan Kai yang kini meraung hebat dan menangis begitu menyesal dengan perbuatannya.
Kai mungkin bisa mengejar Luhan jika tubuh tinggi Kris tak menghalangi. "MINGGIR HYUNG!"
"Kau tetap disini! Jangan buat kekacauan semakin banyak KIM!"
"brengsek! AKU BILANG MINGGIR!"
"KAI!"
Jongdae dan Suho menahan si Maknae agar tidak membuat kekacauan lagi. Keduanya menarik lengan Kai menjauh dari Kris meski harus merasakan pukulan Kai yang terasa menyakitkan di tubuh mereka.
"LEPAS HYUNG! AKU HARUS MENGEJAR LUHAN!"
"TENANGLAH KAI!"
Suho dan Jongdae memaksa Kai masuk ke dalam ruang khusus yang biasa digunakan member EXO untuk merenungkan kesalahan mereka. Mereka biasanya menyebut ruang kecil itu sebagai ruang hukuman.
Dan kali keduanya sepakat untuk membawa Kai kedalam sana sebelum
Klik….!
"arghhh-…..ARGGHHHHHH!"
Dan saat mereka mengunci Kai di ruang hukuman. Maka yang terdengar hanya suara jeritan Kai yang menangis pilu. Dia tidak terima dengan keputusan Luhan beberapa menit lalu. Dia tidak akan pernah mau berpisah dengan kekasihnya.
Membuat seluruh mood grupband terkenal itu menjadi buruk hanya karena masalah percintaan pelik yang dialami anggota termuda mereka.
"Biar aku bicara dengan Luhan."
Dan saat Kris memutuskan untuk mengejar Luhan maka giliran Sehun yang mencegah leader EXO-M itu untuk pergi dari ruangan tempat timnya berada. Diam-diam dia menatap sengit pada pria berdarah China itu, menatapnya tak sukda dan dengan tegas menyuarkan perintahnya sebagai "penguasa"
"Tetap disini dan tangani anggotamu yang menyedihkan."
Dan sebagai pemilik serta pemimpin di agensi milik sang ayah-…Maka jujur Sehun sedikit merasa kecewa pada EXO. Seluruh tindakan mereka sebagai grup papan atas sangatlah memalukan. Dia tidak menyangka bahwa grup sekelas EXO tak memiliki rasa profesionalitas dia atas panggung. Dan saat matanya melihat Suho dan Kris yang menyandang status Leader EXO. Maka hanya tatapan memperingatkan yang diberikan sebagai pemilik dari masa depan enam orang paling popular di Korea saat ini.
"Renungkan kesalahan kalian dan beritahu aku cara kalian memperbaikinya." Katanya terdengar sagat kecewa sebelum berlari mengejar Luhan yang sudah lebih dulu meninggalkan ruangan.
.
.
.
.
.
.
.
.
"sial! Cepat sekali dia pergi!"
Sehun bahkan tak lagi melihat mobil Luhan terparkir di lobi agensi. Dia berusaha menghubungi security yang berjaga sebelum
BLAM!
"SEHUN!"
Sehun kembali melihat siapa yang memanggilnya. Sedikit terdiam sebelum berjalan cepat menghampiri pria cantiknya yang terus menangis sepanjang perjalanan menuju ke tempat sahabatnya berada "Sayang."
"Sehun dimana Luhan?" katanya terus menangis bertanya tentang Luhan dan mengabaikan keadaanya yang begitu berantakan.
Sehun sendiri terus mendekap erat kekasihnya sesekali menciumi sayang tengkuk Baekhyun yang berkeringat "Baek tenanglah."
"Aku harus bertemu Luhan. Dimana dia sayang."
Baekhyun menangis sejadinya di pelukan Sehun. Hatinya bergemuruh cemas tak sabar ingin memeluk rusanya. Dia tidak tahan-…Sungguh tidak tahan membayangkan seperti apa Luhan saat ini.
Karena tiap kali Kai menyakiti Luhan-…Luhannya hanya diam dan bersikap terlalu tenang. Baekhyun benci melihatnya, dan satu-satunya cara agar Luhan merespon adalah memaksanya untuk menangis.
"Entahlah Baek. Aku kehilangan dia."
Kemudian Baekhyun melepas pelukannya pada Sehun. Air matanya benar-benar sudah membuat matanya sangat merah hingga hati Sehun pedih melihatnya "hkss-…Apa dia baru saja pergi dari sini?"
"Ya sayang. Luhan baru saja menemui Kai."
"Kalau begitu itu dia-…"
"huh?"
"Aku melihatnya di persimpangan jalan. Samar memang-…Tapi aku yakin itu Luluku. Dia mengemudi sangat cepat."
"Kau melihatnya?"
"hmm…Aku melihatnya Sehunna. Dia menuju Seoul Hospital."
"oh tidak-…PAMAN KITA PERGI KE RUMAH SAKIT!"
Buru-buru Sehun menggengam tangan Baekhyun masuk ke dalam mobil. Dia juga mengabaikan pertanyaan Baekhyun kenapa dia sampai terkejut saat tahu Luhan menuju rumah sakit.
"Sayang ada apa?"
BLAM…!
Sehun hanya diam sesaat dengan menarik Baekhyun ke pelukannya. Jujur saja pikirannya kosong saat ini, karena jika benar dugaaannya. Maka alasan Luhan menuju Seoul Hospital karena dia tahu bahwa Kyungsoo di rawat disana.
Dia tidak ingin Luhan berbuat gila mengingat banyak wartawan dan sahabatnya juga disana. Dia hanya tidak ingin Luhan melakukan hal yang bisa membuatnya terluka malam ini.
"Sehun kenapa kau diam?"
Sehun hanya merespon dengan senyum. Dia kemudian mengecup sayang kening Baekhyun untuk menenangkan kekasihnya "Semua baik-baik saja sayang. Tenanglah."
.
.
.
.
.
.
.
BLAM….!
Dan tepat seperti dugaan Sehun, maka alasan kedatangan Luhan ke Seoul Hospital adalah Kyungsoo.
Dia tidak tahan lagi dengan hal mengerikan yang dilakukan Kyungsoo padanya dan Kai. Mmebuatnya muak dan berniat memberi pelajaran pada pria yang tak lain merupakan saudara tirinya.
Luhan berjalan menyusup diantara wartawan. Dia kemudian menuju meja informasi untuk mengetahui dimana Kyungsoo berada.
"Do Kyungsoo."
"Maaf kami tidak bisa memberitahu dimana pasien di rawat."
Buru-buru Luhan mengeluarkan id card nya untuk menunjukkan bahwa dia bagian dari perusahaan yang menangani Kyungsoo "Aku Managernya." Katanya meyakinkan hingga membuat penjaga wanita itu percaya dan memberitahu dimana Kyungsoo berada.
"VIP ruang 1288 lantai enam."
"Oke."
Dia pun bergegas naik kedalam lift sebelum
TING!
Luhan mengabsen seluruh ruang VIP di lantai enam. Hitungannya sudah berada di 1286 lalu kemudian 1287 sampai
TAP!
Kakinya berhenti tepat di ruangan 1288.
Tangannya juga sudah bersiap membuka knop pintu sebelum tak sengaja Luhan mencuri dengar percakapan Kyungsoo dengan managernya –Lee Kwangsoo-
"Apa Kai gila? Kenapa dia menghampiriku ke atas panggung?"
"Kau tahu dia mencintaimu Soo."
"HYUNG!-..SUDAH AKU BILANG JANGAN KATAKAN CINTA JIKA ITU BERKAITAN DENGAN KAI! AKU MEMBENCINYA DAN HANYA MENCINTAI CHANYEOL!"
"Kau membencinya? Kau yakin?"
Sepuluh menit yang lalu sang aktor baru saja sadarkan diri. Dia mengira orang pertama yang akan dilihatnya adalah sang kekasih –Chanyeol- namun lagi-lagi dia harus menelan rasa kecewa karena wajah Manager hyungnya selalu menjadi yang pertama ia lihat setiap kali dia membuka mata.
Namun berbeda dengan biasanya-…tatapan Kwangsoo dan caranya bertanya seakan menyindir dirinya, membuat Kyungsoo sedikit terusik dan berniat untuk mengalihkan topik yang berkaitan dengan Kai saat ini.
"Sudahlah. Dimana Chanyeol?"
"Ada yang harus ditangani olehnya. Sebentar lagi dia akan datang."
"Baiklah. Aku akan menunggu kekasihku." Katanya riang sebelum
Huekk…!
Tiba-tiba dia kembali mual, Buru-buru Kyungsoo mengambil tissue dan mengelap sudut bibirnya yang terkena cairan bibirnya. "rrhh…Hyung sebenarnya ada apa denganku?"
Kwangsoo hanya membantu Kyungsoo membersihkan sudut bibirnya sebelum menjawab sarkas pertanyaan sang actor "Kau tahu apa yang terjadi padamu Soo."
"huh?"
"Sakit kepala, mual dan terkadang bersikap sangat keterlaluan. Semua itu mempengaruhi hormonmu. Sekali lagi aku katakan kau tahu apa yang terjadi pada dirimu!"
Kyungsoo diam sejenak mencerna ucapan Kwangsoo. Dia kemudian kembali merasakan mual hingga tak sadar matanya membulat cemas dan tertawa menentang pikiran gila manager hyungnya "Tidak-…Tidak mungkin. Aku sudah membunuhnya."
"Dengan meminum racun yang kau pesan? Tega sekali Kau! DIA BAYI YANG TAK BERDOSA!"
"DIAAAM!"
Buru-buru Kyungsoo melepas selang infusnya. Dia kemudian meraih tasnya untuk mencari sebotol racun yang ia pesan dua bulan lalu namun nihil-….Dia tidak menemukan apapun. Tangannya sudah berketringat dingin tak menemukan racun yang bisa membunuh calon bayinya-…darah daging Kai
"ARRGGHHH! DIMANA KAU MELETAKANNYA HYUNG!"
"Meletakkan apa?"
Kwangsoo berusaha menahan amarahnya pada sang actor.
Nyatanya dia tak kalah terkejut mengetahui bahwa satu bulan yang lalu Kyungsoo dinyatakan hamil oleh dokter. Usia kandungannya sudah masuk minggu keenam dan itu artinya-…Janin yang berada di Rahim Kyungsoo adalah milik Kai.
Dia sangat murka saat itu, dia bahkan bertengkar hebat dengan Kyungsoo yang menggunakan segala cara untuk menggugurkan kandungannya.
Kwangsoo marah-…namun setidaknya dia masih memiliki akal sehat untuk tidak menyakiti bayi yang tak berdosa. Dan tepat satu bulan yang lalu sebelum kepulangan Chanyeol dari Jepang. Dia mengetahui rencana keji Kyungsoo untuk membunuh calon bayinya.
Kyungsoo bahkan membayar mahal untuk rasa sakitnya, dia rela merasakan sakitnya hanya untuk membunuh benih dosanya dengan Kai.
Namun sial bagi Kyungsoo karena Kwangsoo mengetahui rencana busuknya, dia pun segera menukar racun yang dipesan sang actor dengan tonik penguat kandungan. Keduanya memberikan efek yang sama. Bedanya jika milik Kyungsoo bertujuan untuk membunuh maka tonic yang diberikan Kwangsoo bertujuan untuk menyelamatkan hidup si bayi.
"AKU HARUS SEGERA MEMBUNUH BAYI SIALAN INI HYUNG!"
"Pikirmu aku akan membiarkan kau membunuh calon bayimu? Calon bayi Kai yang ada di rahimmu? KAU HAMIL DAN ANAK ITU ADALAH ANAK KAI!"
"ARGGHHHH-…..MATI KAU SIALAN! MATI KAU DAN JANGAN TUMBUH DI PERUTKU!"
Tepat satu bulan yang lalu disaat dia menggoda Kai menjadi malapetaka untuk dirinya sendiri. Kyungsoo sakit parah kala itu dan dokter mengatakan bahwa dia positif hamil.
Dokter juga mengatakan bahwa dia adalah pria yang memiliki keberuntungan untuk bisa mengandung seorang anak.
Keberuntungan dia bilang? Sialnya ini adalah malapetaka untuk Kyungsoo
Dia hanya berniat untuk menghancurkan Luhan bukan mengandung darah daging dari pria yang dicintai kakak tirinya.
Dan disaat dia pikir telah berhasil membunuh calon darah daging Kai-…Maka ucapan Kwangsoo seolah menghancurkan dunianya.
Jika bayi ini tidak segera dibunuh dia akan semakin kuat di dalam perutnya. Oleh karena itu Kyungsoo benci. Dia pun sengaja memukul kencang perutnya agar terjadi kontraksi dan bayi itu tidak pernah ada.
Kyungsoo terus memukul kencang bayinya sampai
Sret….!
Tangan Kwangsoo memegangnya dan menatap marah pada sang actor. Dia menghentikan rencana gila Kyungsoo untuk membunuh calon bayi tak berdosa yang harus menanggung dosa dari kedua orang tuanya yang berselingkuh.
"Kau menginginkan ini?" katanya menunjukkan racun yang diinginkan Kyungsoo. Membuat Kyungsoo kalap dan berniat untuk mengambil racun tersebut namun dihalau Kwangsoo yang kini menghempas tangannya dan menatap marah pada Kyungsoo. "BERIKAN PADAKU HYUNG!"
"Jika kau membunuh bayimu dengan sengaja, aku-….Aku bersumpah akan membongkar betapa kejinya dirimu pada dunia. Aku juga tidak segan membuat karirmu hancur jika kau menyakiti calon bayimu. Kau dengar?"
"HYUUNG!"
"Chanyeol belum mengetahuinya. Kau tenang saja, tapi saranku segera akhiri hubungan yang kau miliki dengan Presdir Park. TINGGALKAN DIA DAN BERITAHU KAI JIKA KAU MENGANDUNG CALONG DARAH DAGINGNYA!"
"AKU TIDAK AKAN MELAKUKANNYA-…DEMI TUHAN AKU AKAN MEMBUNUH BAYI INI!"
"LAKUKAN DAN KAU AKAN MENYESAL MEMBUNUH BAYIMU DO KYUNGSOO!"
Kwangsoo sudah tak tahan berada satu ruangan dengan pria keji seperti artisnya. Dia pun segera meninggalkan Kyungsoo seorang diri sebelum
BLAM…!
"AAARGGGGHH-…KEMBALI HYUNG! BIARKAN AKU MEMBUNUH BAYI SIALAN INI! AAAAAARGGGH…."
Jika didalam sana Kyungsoo menjerit penuh kemarahan, maka keadaan tak berbeda dialami dari Luhan yang tengah menangis pilu di depan pintu.
Dia mendengar semuanya-…..Terlalu jelas hingga rasanya dia ingin pergi untuk mati menggantikan bayi yang ingin dibunuh Kyungsoo.
Entah apa dosanya hingga Kyungsoo tega melakukan ini pada dirinya, pada Kai bahkan dirinya sendiri.
Dadanya terlalu sakit menerima kenyataan bahwa didalam sana-…Adik tirinya dan calon keponakan yang merupakan anak dari pria yang dicintainya tengah menangis hebat.
Ingin rasanya Luhan menampar Kyungsoo karena tumbuh menjadi pria yang keji.
Membunuh Kyungsoo karena begitu jahat bukan hanya pada dirinya tapi juga pada calon darah dagingnya dan Kai.
Namun Luhan sadar semua itu hanya keinginan sesaat karena nyatanya dia juga tak berdaya di tempatnya saat ini "haaah-….."
Berkali-kali Luhan membekap mulutnya agar tak bersuara.
Namun berkali-kali pula dia gagal menyembunyikan rasa sakitnya dikhianati.
Dia kemudian memukul kencang dadanya dengan menggumamkan nama Kai yang begitu hina hingga membuat adik tirinya mengandung calon keponakannya "Seberapa sering kalian menghianatiku? Dan bagaimana aku-….Bagaimana kelak aku menatap calon anak kalian nantinya. Bajingankaukimjongin-…aaargghhhhhhhh!"
Luhan berteriak menggigit kuat lengannya. Rasanya dia ingin membunuh siapa saja yang terlibat atas semua malapetaka ini. Seluruh tubuhnya tak bisa digerakkan hingga hanya suara isakan bersahutan yang terdengar.
Ketika Kyungsoo berteriak maka Luhan ikut berteriak marah.
"INI SEMUA KARENA KAU LUHAN! KENAPA KAU TERUS MEMBUAT HANCUR HIDUPKU-…AKU AKAN MEMBUNUHMU LUHAAAAAAN!-….AAAARGGGHHHH"
Dan saat Kyungsoo menjerit menyalahkan Luhan, maka Luhan hanya bisa tersenyum –sangat berharap-
Berharap bahwa suatu saat nanti Kyungsoo benar-benar akan membunuhnya dan membuatnya terbebas dari cekikan maut yang membuatnya kesakitan dan terasa sangat-….sesak.
.
.
.
.
.
.
.
Why do I feel so lost and empty?
.
.
.
.
.
TING!
Saat pintu lift terbuka, maka beberapa pengunjung bisa melihat Luhan berjongkok di dalam sana. Kepalanya tertunduk tak mau mengangkat wajah sampai petugas security menepuk bahunya.
"Tuan. Anda baik-baik saja?"
Luhan menggelengkan kepalanya dengan wajah yang tersembunyi di antara lutut.
Dan saat petugas itu sekali lagi menepuk bahunya maka wajah Luhan terangkat dan terlihat sangat menyedihkan "Bisakah kau membunuhku?"
"huh?"
Petugas security itu luar bisa terkejut dengan permintaan Luhan. Dia pun berniat memanggil perawat sebelum Luhan lebih dulu tersenyum dan berdiri untuk menatapnya "Sudahlah. Aku akan membunuh diriku sendiri." Katanya meracau tak jelas dan keluar dari dalam lift dan tertatih menuju –entah kemana-
"Kai akan segera menjadi seorang ayah ya? Lalu aku harus bagaimana? Whoa-…Mereka jahat sekali padaku."
Luhan terus meracau tak jelas.
Sesekali dia tertawa lalu detik berikutnya dia menangis. Sesaat dia menatap bingung pada kerumunan orang yang berjalan di depannya lalu tak lama dia melangkah mundur karena takut semua orang yang ia temui akan menyakitinya.
"Eomma.. Baekie…Kalian dimana?"
Untuk beberapa saat Luhan membiarkan orang-orang menabraknya tak mempedulikan apapun sampai samar terdengar suara yang begitu familiar untuknya.
"Ya Direktur Park. Kyungsoo sudah sadarkan diri."
"Syukurlah. Aku akan segera ke atas. Kau boleh pulang Manager Lee."
Sekilas Luhan melihat Chanyeol yang sedang berbincang dengan Kwangsoo. Dia terdiam di tempatnya untuk memandang satu lagi calon hati yang akan terkoyak karena hal keji yang dilakukan Kai dan Kyungsoo.
Dia bahkan mengangkat tangannya ke udara, membuat gerakan mengusap punggung tegang Chanyeol dan berharap bahwa rasa sakit Chanyeol tak akan sebesar miliknya saat ini
"Kau harus kuat direktur Park. Jangan terlalu hancur sepertiku, hmm?"
Dan saat Luhan meracau tak jelas maka disaat yang sama pula Chanyeol berbalik ke arahnya.
Kedua mata mereka bertemu dan saling menatap.
Pancaran luka jelas ditunjukkan dari sorot mata Luhan maupun Chanyeol.
Sesaat mereka seperti berbagi rasa sakit yang sama. Namun detik kemudian tangan Chanyeol terkepal sebelum melampiaskan semua rasa marahnya pada kekasih bajingan yang berani memeluk Kyungsoonya di depan banyak mata yang melihat.
"brengsek! Apa yang kau lakukan disini HAH?"
Luhan hanya menikmati rasa sesak saat Chanyeol mencengkram kuat kemeja putihnya. Dia bahkan membiarkan rasa sesak itu semakin membunuhnya sebelum dengan lirih mengatakan
"Mianhae…"
Chanyeol menatap bingung pada karena permintaan maaf Luhan. Rasanya dia akan mengatakan sesuatu jika suara seseorang tidak terdengar memanggil Luhan dan
"LUHAN!"
Pria asing berparas cantik mendorong kasar tubuhnya dan beberapa detik kemudian dia merasa seseorang mencengkram kuat lengannya. Chanyeol pun menoleh sebelum mendapati sahabatnya mencengkram kuat lengannya saat ini.
"Sehun?"
"Dia kekasihku."
Perhatian Chanyeol kini teralihkan pada dua pria cantik yang memiliki ekspresi berbeda. Jika pria yang Sehun sebut kekasihnya itu menangis pilu memeluk Luhan. Maka Luhan hanya diam seperti seseorang yang kehilangan jiwanya.
Dia pun cukup terenyuh karena tanpa sadar menyakiti Luhan yang juga terlihat sama kacau dengan dirinya. Sedikit merasa bersalah dan menikmati bagaimana dua orang sahabat itu saling menenangkan dengan cara mereka.
"Hey Lu…Sayangku. Kenapa kau hanya diam? Mana yang sakit beritahu aku!"
Baekhyun menangkup wajah mungil rusanya. Merasa begitu sakit karena Luhan tak merespon dan berakhir menangis memeluk sahabatnya "Lu aku mohon jangan seperti ini. Kau membuatku takut sayang."
Baekhyun terus berusaha membuat Luhan berbicara walau nyatanya Luhan terlampau diam.
Luhan yang biasanya akan merengek mengatakan siapa yang menyakitinya, dimana rasa sakit yang dia rasakan dan itu membuat Baekhyun tenang.
Karena tiap kali Luhan memberitahu rasa sakitnya, itu artinya Luhan masih bisa menangani siapapun yang menyakiti hati atau tubuhnya. Berbeda dengan Luhan yang terlampau diam. Karena jika Luhan sudah terlalu diam seperti ini. Maka kemungkinan terburuk dia sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya dan tidak tahu bagaimana cara melampiaskannya.
"LUHAN LIHAT AKU!"
"huh?"
Barulah saat Baekhyun berteriak, Luhan merespon. Dia kemudian mencari mata favoritnya sebelum tersadar bahwa didepannya saat ini, pria yang sedang menangis karena dirinya adalah Baekhyun-..Baekhyunnya.
"Baekie?"
"hmmh-…Ini aku Baekie-…Baekhyunmu."
Mata Luhan kembali kosong untuk beberapa saat sebelum terduduk lemas di lantai. Kakinya sudah tak cukup kuat untuk berdiri mengingat dalam waktu kurang dari tiga jam dia menerima banyak rasa sakit malam ini.
"Lu…Kau tidak apa? Dimana yang sakit?"
"Yang sakit?"
Luhan mengulang ucapan Baekhyun seperti seseorang yang kehilangan arah. Dia memejamkan mata untuk menemukan rasa sakitnya sebelum membawa tangan Baekhyun ke dadanya "Rasanya ini akan meledak. Hatiku."
Baekhyun menggigit kuat-kuat bibirnya. Tak lama dia kembali terisak dan mengutuk apapun yang telah dilakukan Kyungsoo dan Kai adalah kejahatan pada kondisi mental seseorang, Luhannya..
Dia pun dengan cepat mengusap dada Luhan seolah mengusir rasa sakit agar Luhan merasa lebih baik "Aku akan mengusir rasa sakitnya. Kita pulang hmm."
Luhan kembali menatap kosong mata Baekhyun.
Dia sadar sangat membenci melihat Baekhyun menangis karena dirinya. Namun tak ada yang bisa dilakukan Luhan saat ini selain menjadikan Baekhyun pelampiasan akan semua rasa sakit yang dialaminya.
"Biar aku bantu kau berdiri sayang."
Saat Sehun ingin membantu Luhan berdiri-…Baekhyun mengerling kekasihnya. Memberi isyarat tak perlu membantu Luhan karena Luhan paling benci dikasihani.
Dia pun segera membawa Luhan pergi dari rumah sakit untuk menjaganya di rumah mereka.
"Baek?"
"Ya Lu?"
"Kepalaku juga sakit."
"Baiklah besok kita akan bertemu dengan si tampan Heejin. Bagaimana?"
Luhan hanya merespon lemah dan mengangguk senang di dada Baekhyun saat ini.
Luhan lelah menangis dan Baekhyun mengerti.
Dia pun tersenyum dengan tangan yang melingkar di pinggang sahabatnya "mhh..Aku mau bertemu dengan dokter Park." Timpalnya asal dan membiarkan Baekhyun mengambil alih tubuhnya yang lemas dengan pikirannya yang kosong.
Meninggalkan dua pria yang kini berperang dengan pikirannya masing-masing.
Untuk Sehun hatinya begitu tak tega melihat Luhan akan sejauh ini merasa kehilangan. Caranya menjawab Baekhyun, caranya maracau tak jelas seolah menunjukkan bahwa dia tak lagi hidup karena terlalu banyak disakiti.
"Luhan baru saja mengakhiri hubungannya dengan Kai."
"huh?"
"Dia sudah meninggalkan Kai."
Untuk Chanyeol dia bersumpah dan berani bertaruh jika Luhan ingin mengatakan sesuatu tepat sebelum kekasih sahabatnya datang. Dan apapun yang coba dikatakan Luhan Chanyeol yakin ini berhubungan dengan Kai dan Kyungsoo. Membuat hanya senyum pahit yang dia tunjukkan menyadari bahwa cepat atau lambat-…..dia juga harus kehilangan Kyungsoo.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sleep tight Lu.
.
.
.
.
"Ini minumlah sayangku."
Luhan masih tak merespon dengan benar apa yang diucapkan atau dilakukan Baekhyun untuknya. Dia hanya terus menatap kosong pada banyak hal sebelum lagi-lagi Baekhyun menangkup wajahnya dan memaksa Luhan untuk menatapnya "Lu lihat aku! Aku disini. Baekiemu sayang."
Luhan bingung untuk merespon
Matanya terus berkedip dengan cepat sebelum kembali dibuat mengenali sahabatnya lagi.
"Baek?"
"Lu kenapa kau selalu seperti ini jika sedih? Apa kau berniat melupakan aku? Aku mohon jangan kembali pada kebiasaan mengerikanmu sayang."
Baekhyun kembali tertunduk. Menangis tersedu karena Luhan cenderung selalu kehilangan arah disaat dia bingung dan sedih. Luhan juga seperti tak memiliki gairah hidup jika sesuatu direnggut darinya. Dia terus bertingkah seolah tak mengenali apapun dan Baekhyun membencinya.
Dia terus dibuat cemas sampai tangan Luhan yang kini berbalik menangkup wajahnya.
"Kenapa menangis Bee?"
Luhan menghapus sayang air mata Baekhyun dan mencium kening sahabatnya sekilas. Dia kemudian memeluk erat Baekhyun dan berjanji untuk tidak bertingkah gila lagi setelah ini. "Aku hanya bingung. Terlalu bingung sampai aku tidak bisa membedakan apakah ini mimpi atau ini benar-benar terjadi padaku."
Baekhyun mengangguk mengerti dan melepas pelukan Luhan. Dia pun memaksa Luhan untuk segera meminum obatnya sebelum bermimpi indah tentang banyak hal "Kalau begitu segera minum obatmu sayang. Kau akan merasa lebih baik setelah ini."
Buru-buru Luhan mengambil obat rutin miliknya. Meminumnya dengan cepat sebelum berbaring di kamar Baekhyun "Apa kau akan tidur denganku?"
"Nanti setelah Sehun pulang aku akan segera tidur disampingmu."
Baekhyun menaikkan selimut Luhan sebelum mencium sayang kening sahabatnya "Mimpi indah hmm.. Lupakan hal jahat yang menyakitimu hari ini. Kau dengar?"
Luhan mengangguk mengerti.
Jujur saja matanya sudah lelah terbuka. Dia ingin memejamkan matanya saat ini –ah- selamanya juga tidak masalah. Yang jelas dia hanya ingin menutup mata dan melupakan hal mengerikan yang baru terjadi padanya.
"Aku akan mimpi indah."
"Bagus."
"Selamat malam Lu."
"Selamat malam Bee."
Baekhyun tersenyum beberapa saat melihat Luhan mulai memejamkan matanya. Dia juga beberapa kali mengusap kening Luhan sebelum berjalan meninggalkan Luhan di kamarnya. "Aku akan menjagamu Lu." Katanya bergumam kecil dan berniat menutup pintu kamar sebelum
"hksss….hksss….eomma…hksss."
Senyum pahit ditunjukkan Baekhyun saat ini.
Karena seberapa keras dia memaksa Luhan untuk menangis di depannya-…Maka sekeras itu pula Luhan menolak.
Luhannya selalu seperti ini, selalu menyimpan semua sakitnya seorang diri.
Membuatnya terus dan selalu menghkawatirkan Luhan sebelum lengannya ditarik dan kini sudah berada di dekapan hangat kekasihnya "Jangan menangis lagi hmm."
"Entahlah."
"Kau tidak membuatnya merasa lebih baik dengan menangis."
"huh?"
Sehun kemudian melepas pelukannya dan menghapus air mata kekasihnya yang sudah membuat wajahnya begitu mengerikan selama beberapa jam. Mencubit gemas pipinya sebelum menatap intens sang kekasih "Jika kau ingin menjadi tempat bersandar seseorang-…Maka kau harus lebih kuat dari orang itu."
"Maksudmu?"
"Maksudku orang tertutup seperti Luhan cenderung tidak suka dikasihani. Dia hanya akan menunjukkan betapa lemah dan sakit dirinya hanya pada orang-orang yang bersikap dingin padanya. Itu semacam pertahanan diri agar kau tidak dikasihani sayang."
"Begitukah?"
"hmhh-…Luhan dan semua orang seperti dirinya memiliki sifat seperti itu, dia lebih memilih untuk disakiti daripada dikasihani. Jadi cobalah menjadi kuat mulai malam ini-….Setidaknya untuk Luhanmu."
"Tapi dia terlihat sangat menyedihkan."
"Dan hancur." Timpal Sehun menatap pintu kamar Baekhyun beberapa saat. Secara tidak langsung Luhan berhasil membagi rasa sakitnya pada Baekhyun, padanya.
Membuat Sehun hanya diam menikmati rasa sakit yang coba Luhan bagikan sebelum mencium sayang kening kekasihnya "Tidurlah Baek. Aku akan segera pulang." Katanya tersenyum dan kembali membuka kamar Baekhyun.
"Aku akan menemuimu besok. Selamat malam sayang."
Baekhyun tersenyum kecil dan mengangguk mengerti "Selamat malam Sehunna."
.
.
.
.
.
.
Sorry I ruined your life, hyung!
.
.
.
.
.
.
"Pulanglah sayang. Aku tahu kau kecewa padaku."
Yang diminta pulang hanya merespon sesaat. Sedari tadi hal yang dilakukannya hanya mengusap tangan kekasihnya tanpa mengatakan apapun. Membuat Kyungoo merasa sangat takut dan berharap Chanyeol tak mengetahui apapun tentang Kai, tentang bayi mereka.
"Aku akan segera pulang."
Kyungsoo terdiam sejenak sebelum diam-diam mengambil tangan Chanyeol dan meletakkan di wajahnya secara kasar "Pukul aku jika itu membuatmu lebih baik. PUKUL AKU DAN JANGAN HANYA DIAM YEOL!"
Sedetik rasanya Chanyeol tergoda untuk memukul wajah Kyungsoo, dia pun sempat mengepalkan erat tangannya sebelum berdiri dan
"nghmphh…"
Hal yang dilakukannya memang kasar, tapi dia tidak memukul Kyungsoo melainkan mencium kasar bibir kekasihnya.
Berharap Kyungsoo bisa merasakan betapa sakit dan kecewa dirinya mengenai seluruh kabar berita yang terus mengatakan bahwa dia dan Kai memang memiliki hubungan khusus.
Chanyeol bahkan sengaja menggigit kasar bibir Kyungsoo. Membuat rasa anyir seketika dirasakan keduanya sampai tangan Kyungsoo mendorong tubuh kekasihnya menjauh karena terlalu sakit untuk berciuman saat ini.
"yeol-….haaah."
Dia terengah dan Chanyeol memalingkan wajahnya.
Kyungsoo bahkan bisa melihat prianya mengeluarkan air mata sebelum menghapusnya kasar.
Detik kemudian Chanyeol kembali menatapnya –sangat terluka- kali ini "Aku pergi."
"Yeolie…"
"…."
"Chanyeol aku belum-…."
BLAM….!
Pintu ruangannya dibanting kasar oleh Chanyeol. Membuat sedetik kemudian Kyungsoo kembali meraung marah dan melempar semua benda di sekitarnya.
"AAARGGGH-….ARGHHH-…AKU BENAR-BENAR MEMBENCIMU LUHAAAN!"
Selalu Luhan tempat kemarahan Kyungsoo.
Selalu Luhan semua alasan Kyungsoo disakiti, ditinggalkan dan diabaikan.
Dan selalu Luhan yang ingin Kyungsoo sakiti.
Membuatnya tanpa ragu mengambil ponselnya sebelum mencari beberapa foto yang selama ini ia simpan sebagai senjata terakhirnya menyerang Luhan.
"Aku tidak tahu akan secepat ini menghancurkanmu Lu!" katanya marah dan mencari kontak seseorang.
Dia pun kemudian menghubungi Lee Youngmin. Pria yang dikenal keji dan tak segan menghancurkan karir seseorang dengan berita yang disebarkannya.
Kyungsoo pun tanpa ragu menekan nomornya sebelum
"Do Kyungsoo?"
"Aku memiliki sesuatu yang bagus untukmu. Cek alamat surelmu." Katanya memberitahu sang "penghancur" karir baik artis maupun seseorang yang bekerja di dalam management sebelum
Pip
Kyungsoo mematikan ponselnya. Menatap beberapa foto terlampau mesra milik Kai dan Luhan enam bulan yang lalu tepat sebelum dia datang menghancurkan hubungan keduanya.
"Jika aku hancur, kau juga harus hancur hyung-….kita hancur bersama."
Kyungsoo menghapus cepat air matanya. Hatinya sesaat ragu namun saat melihat Luhan tersenyum sangat bahagia di foto yang dia miliki-…Kyungsoo tidak peduli. Dia juga enggan menyesali apa yang akan terjadi setelah hal gila ini dia lakukan. "Mianhae hyung." Katanya tersenyum keji dan
Sent!
Setelah mengirim kekacauan yang akan menghancurkan hidup Luhan, Kai atau mungkin dirinya sendiri-….Kyungsoo berbaring.
Memejamkan matanya dengan rasa sesak yang tak kuat ia pikul. Sesekali tangannya mengusap sayang calon anaknya yang kini tumbuh di dalam perutnya. Lalu detik kemudian dia akan memukul terus perutnya berharap bayi itu segera mati.
Terus berulang sampai dia merasa lelah.
Ponselnya terus berbunyi dengan nama Lee Youngmin tertera disana.
Sedetik kemudian dia tersenyum dengan air mata membasahi wajahnya. Tersenyum keji dan tanpa ragu bergumam "Aku tak sabar melihat kehancuranmu hyung, kehancuran kita!"
.
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
Sekali lagi gue mohon dengan sangaaaat jangan katain Kyungsoo-Kai dan KSOO Cuma gara cerita remahan kaya gini issshhhh!
.
plis plis…kalo mau maki seperlunya dan jangan salah lapak di tempat orang. Ntar gue yang kena tegor weh…kwkwkw…kan ga lucu gue ditegor gara2 cerita bginian doang :""
.
.
Tunggu sampe Kyungsoo dapet hidayah baru dunia persilatan aman…wkwkwk
.
Hunhan kita be ready untuk gue tempel2in di chap depan. CB juga yesss…
.
Sseeyousoon!
