Previous
"Mianhae hyung." Katanya tersenyum keji dan
Sent!
Setelah mengirim kekacauan yang akan menghancurkan hidup Luhan, Kai atau mungkin dirinya sendiri-….Kyungsoo berbaring.
Memejamkan matanya dengan rasa sesak yang tak kuat ia pikul. Sesekali tangannya mengusap sayang calon anaknya yang kini tumbuh di dalam perutnya. Lalu detik kemudian dia akan memukul terus perutnya berharap bayi itu segera mati.
Terus berulang sampai dia merasa lelah.
Ponselnya terus berbunyi dengan nama Lee Youngmin tertera disana.
Sedetik kemudian dia tersenyum dengan air mata membasahi wajahnya. Tersenyum keji dan tanpa ragu bergumam "Aku tak sabar melihat kehancuranmu hyung, kehancuran kita!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A' Friends Betrayal
Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo
Support cast :bermunculan sesuai kebutuhan
Genre : Drama
Rate : M / NC!/
.
.
.
Tik…Tok…
Tik…Tok…
"rhhh…"
Seorang pria cantik menggumam marah tatkala bunyi detak jam mengganggu tidurnya.
Jam besar yang dia letakkan di dinding kamarnya itu terus berdetak dengan kencang seolah mengejek dirinya karena masih terlelap sementara cahaya matahari sudah begitu terik bersinar "ish!"
Umpatan terakhir membuat si pemilik kamar geram, dia pun menarik selimutnya sampai menutupi wajah dan mencoba untuk kembali tertidur.
Tik…Tok
"Berisik! Aku ingin tidur lebih lama!"
Ah-….Jangan salahkan designer muda itu juga dia ingin tidur lebih lama.
Nyatanya hal yang terjadi pada sang sahabat cukup menyita pikiran dan waktunya, membuatnya benar-benar harus terjaga untuk mengawasi si rusa mungil jika tidak ingin sahabatnya melakukan hal gila selagi dia tidur.
Baekhyun –nama sang designer- baru bisa tertidur saat waktu menunjukkan pukul empat pagi. Berniat untuk melanjutkan tidurnya lebih lama sebelum bergumam sangat kecil di dalam selimutnya
"Lu…Kau sudah bangun?"
"…"
Matanya kembali terpejam untuk beberapa saat.
Tangannya keluar dari dalam selimut untuk mencari sosok yang dia khawatirkan sejak malam tadi.
"Lu…"
Dan saat tangan mulusnya meraba di samping tempat tidur-….Maka hanya ada selimut yang menemani tidurnya. Membuat pria cantik itu sedikit cemas namun tak bisa menahan rasa kantuknya.
"Lu kau dimana-…jangan temui Kai hari ini" katanya nyaris kembali terpejam sebelum
"astaga! LUHAAN!"
Baekhyun membuka cepat selimutnya.
Membiasakan silaunya cahaya dengan mata yang terus mencari sosok Luhan yang sudah meninggalkan kamar "oh tidak…" ujarnya panik mengenakan sandal rumah dan bergegas keluar dari kamar
Cklek…!
"Lu! Kau dimana?'
"….."
"LUHAN!"
"…."
Buru-buru Baekhyun mengambil ponselnya, menekan speed dial nomor dua sebelum
Drrtt…drrrtt..
"tidak tidak tidak…" katanya panik menghampiri meja makan dan menemukan ponsel Luhan sedang bergetar di atasnya "ish! Kemana kau pergi?"
Rasanya dia ingin menangis menyadari Luhan tak ada di apartemen mereka, dia juga nyaris membanting ponsel sahabatnya karena takut Luhan melakukan hal gila diluar sana. Pikirannya sudah memikirkan banyak hal tentang kemungkinan hal gila yang akan dilakukan Luhan sebelum
Klik….!
Suara apartemen terbuka, Baekhyun pun kembali berlari dan begitu bahagia menemukan siapa yang terlihat jauh lebih baik saat ini.
Itu Luhannya…
Yang terlihat jauh lebih baik dari malam tadi.
Itu Luhannya..
Yang sedang menatapnya dengan tatapan dingin andalan miliknya.
Dan detik kemudian dia tertawa kecil khas milik-….Luhannya.
"Kenapa hanya diam?"
"huh?"
Luhan hanya mengangkat bahunya asal dengan koper besar yang berada di belakangnya "Aku tidak akan melakukan hal gila Baek…Jangan khawatir."
Nada suara Luhan sudah menjelaskan segalanya.
Dia baik-baik saja
Dia tidak lagi menangis
Dan dia-….Dia Luhannya.
Membuat Baekhyun tersenyum riang sebelum menatap horor koper yang kini didorong Luhan menuju meja makan.
Awalnya dia tersenyum sangat senang namun Luhan sangatlah jahat karena di detik yang sama dia menggantinya dengan kemarahan luar biasa mengingat ada koper besar yang didorongnya saat ini.
"Baek cepat duduk. Aku membeli pancake kesukaanmu."
"….."
Luhan meletakkan koper yang dibawa di samping kursi.
Segera membuka cake yang ia beli di kantin apartement tanpa melihat bagaimana reaksi Baekhyun saat ini.
"Aku membeli rasa Mocca. Kau pasti suka." Katanya terus berceloteh dibalas sungutan kecil dari sahabatnya "Tega sekali kau! Apa kau berniat pergi? Apa kau-…..y-YAK!"
Barulah saat Baekhyun berteriak Luhan menoleh.
Mencari tahu apa yang membuat sahabatnya berteriak hingga hanya raut bingung yang ditujukkan Luhan "Kenapa menangis?"
"whoa-…"
Lagi-lagi Baekhyun dibuat takjub dengan ketenangan Luhan.
Dia bahkan memukul kencang dadanya sebanyak tiga kali sebelum menatap marah pada si rusa
"KAU!" katanya berteriak memaki Luhan dibalas tatapan bingung dari sang sahabat "APA KAU AKAN PERGI? MENINGGALKAN AKU?"
"Pergi? Kemana? Dan kenapa aku harus-…."
"ALASAN!"
"Baek…"
Menyadari suara Luhan sedang memperingatkan padanya-….Baekhyun berhenti berteriak.
Si pria yang terlihat lebih manis itu pun mencoba menenangkan diri dan menghapus kasar air mata di wajahnya.
Hatinya masih luar biasa kesal ditambah dengan keahlian Luhan mengusik rasa takut dalam dirinya "Kenapa kau terus pergi Lu?"
"Aku?"
Baekhyun kembali menghapus air matanya sebelum menatap gusar pada Luhan "Ya! KAU!"
Luhan sama sekali tidak mengerti kemana arah pertanyaan Baekhyun. Dahinya mengerut karena terlalu bingung sampai dia menangkap mata Baekhyun selalu melihat ke belakangnya. Dia pun ikut menoleh sebelum
"ah-…ternyata itu."
Katanya menyadari apa yang membuat Baekhyunnya gusar.
Sebuah koper besar yang berada di belakangnya adalah alasan mengapa designer muda itu mulai merajuk tak henti.
Membuat Luhan menatap Baekienya gemas namun dibalas tatapan sengit dari pria yang lebih mungil darinya. "Apa karena koper besar ini?"
Baekhyun memalingkan wajahnya-…Enggan menjawab sebagai bentuk rasa protesnya.
Luhan pun dibuat terkekeh karena menyadari mode annoyed seorang ByunBaek yang selalu menolak menjelaskan namun gemar menuntut "Baek?"
"….."
"Sampai kapan kau akan diam? Sampai aku pergi?"
"y-YAK!"
"Kenapa berteriak lagi?"
"AKU TAHU KAU MARAH PADA KAI! TAPI APA HARUS MENINGGALKAN AKU? KENAPA KAU EGOIS SEKALI LU! AKU TERLIHAT TAK BERGUNA DI MATAMU SIALAN!"
Hening-…..
Tak ada lagi yang bicara.
Baekhyun berhenti berteriak sementara Luhan kembali pada kebiasaan lama.
Dia cenderung diam saat disalahkan, tidak berniat menjelaskan apapun sampai yang menuduhnya tenang.
"hks….pergisanapergikemanapunkaumauakutidakpeduli-…hks!"
Dia juga cenderung membiarkan seseorang terisak karenanya.
Karena percuma meminta seseorang untuk tenang sementara hatinya sedang gusar atau marah.
Dan itu adalah cara seorang Xi Luhan menggunakan ketenangannya untuk berbagai hal.
Terkadang dia benci dengan sikap tenang yang dimilikinya
Kenapa?
Karena itu mengingatkannya pada sang ayah.
Ayahnya kerap kali mengatakan bahwa dia memiliki sifat yang sama dengan adiknya-….Kyungsoo. Membuat beberapa kali senyum pahit dia lontarkan mengingat Kyungsoo menggunakan ketenangannya dengan cara yang sangat berbeda dengan dirinya.
Luhan-….Dia jarang terbawa emosi jika dipikirnya tidak perlu.
Sementara Kyungsoo dia cenderung sensitif jika sesuatu mengusiknya atau orang yang dicintainya.
Membuat ketenangan dua bersaudara itu berada dalam definisi berbeda namun tetap tak bisa diungkiri bahwa dua bersaudara itu memiliki ketenangan yang luar biasa dalam melakukan sesuatu dan menyikapi banyak hal-….Luhan terutama.
"Lu…."
Barulah saat Baekhyun bersikap tenang-….Luhan merespon.
Mata rusanya menatap manik kecil mata favoritnya sebelum berpura-pura kesal menakuti rubah kecilnya "Sudah selesai menangis?"
Baekhyun hanya tertunduk sebagai jawaban. Rasanya begitu kesal saat Luhan tak merespon
Dia bahkan bersyukur Luhan bukan kekasihnya-….Karena jika Luhan adalah Sehun maka bisa bisa dipastikan hubungan mereka hanya akan berlangsung selama TIGA PULUH MENIT!
"Baek…"
"iya sudah! PUAS?"
"Haaah…"
"Terus saja menghela nafasmu. Licik!"
"Kapan aku boleh bicara?"
"Kau memiliki waktu sebanyak mungkin untuk bicara."
"Tapi jika kau terus menangis itu mengganggu fokusku."
"Alasan!"
"Kau tahu itu bukan!"
"LALU APA? KENAPA KAU MEMBAWA KOPER?"
"Karena koper itu milikmu bukan milikku."
"huh?"
Matanya mengerjap lucu tak mengerti.
Dia benar-benar tak mengerti dengan kalimat koper itu milikmu bukan milikku. Membuat Baekhyun mengerjapkan matanya lucu, berkali-kali, berulang-ulang, sampai
"OMO! APA KAU AKAN MENGUSIRKU?"
"yang benar saja!"
Kali ini Luhan yang bergumam kesal. Mendengus kecil seraya melipat tangannya di dada "ckckck…Bagaimana bisa aku mengusirmu? Ini apartemenmu Baek."
"ah benar! Ini milikku."
Merasa jengah dengan pertengkaran tak penting mereka-…..Luhan menyerah.
Dia lebih tertarik pada aroma pancake favoritnya
Memutuskan untuk mengabaikan kegusaran Baekhyun sampai.
"XI LUHAN JAWAB AKU!"
Luhan menoleh malas ke belakang, terus memotong pancakenya membuat mata Baekhyun sedikit tak fokus karena tergiur.
"Kau mau?"
"Tidak-….Aku akan mogok makan."
"Yasudah, padahal hari ini hari terakhir kita bisa makan pancake bibi."
"Kenapa begitu?"
"Karena bibi bilang dia tidak akan membuka toko selama satu bulan-…Cucu pertamanya baru lahir."
"MWO?"
"Jadi mau? Atau boleh kuhabiskan."
Baekhyun menggigit kasar bibirnya
Antara sangat tergoda atau tetap pada pendiriannya.
Jika dia makan-…Luhan tidak akan menjelaskan.
Tapi jika dia tidak makan-….Luhan akan menghabiskan pancake favorit mereka.
"bagaimana ini?"
Luhan bahkan tertawa saat mendengar suara cemas di belakangnya. Membuatnya dengan sengaja melahap pancake melted chocolate dengan menggoda hingga si rubah kecil di belakangnya terdengar sangat gusar.
"luakumau-…tidaktidak-..tidakboleh-…ish!-….HABISKAN SAJA! AKU TIDAK TERGODA?"
"Aku akan menjelaskannya jika kau makan. Tapi jika-….."
Sret….!
Dalam hitungan detik Baekhyun sudah menarik kursi di samping Luhan.
Tersenyum memperlihatkan gigi putihnya hingga hanya kekehan terdengar dari si pria cantik.
"Lapar?"
"eoh….Aku mau."
Luhan memotong cake milik Baekhyun. Sedikit melipat cake agar muat di mulut cerewet Baekhyun sebelum menyuapi bayi besarnya "Bilang aaa…"
"aaaaa.."
Sesaat Baekhyun langsung membuka mulut, namun melihat tatapan Luhan masih sedikit kosong membuatnya enggan membuka mulut "Kau akan menjelaskannya padaku?"
"Tentu saja Baek…Cepat makan tanganku pegal."
Dengan riang Baekhyun mengangguk. Dia pun segera membuka mulutnya dan "aahmpphh…."
"Enak?"
"he he he….Sa-..nghmphh-…sangat enak!"
Dalam hitungan detik pula cake itu sudah terkoyak di bibir mungil Baekhyun. Membuat Luhan tersenyum kecil dan mencubit gemas pipi Baekienya "Hanya sarapan kenapa susah sekali hmm…Bagaimana bisa aku membiarkanmu di Paris selama tiga minggu."
"huh?"
"Minum dulu."
Kali ini Luhan memberikan segelas cokelat hangat pada Baekhyun. Membantunya untuk minum sebelum mengusap sisa cokelat tertinggal di sudut bibir sahabatnya "Kau harus menghubungiku setiap hari, tidak boleh terlambat. Mengerti?"
"Apa yang kau bicarakan?"
"Tunggu disini." Katanya mengambil sesuatu di dalam kamar mereka dan tak lama kembali menarik kursi di samping Baekhyun "Ini buku dosa BBH"
"huh?"
Buku dosa BBH adalah note kecil yang berisi serangkaian kegagalan Baekhyun di karirnya. Entah gagal men-design atau mendapat keluhan dari pecinta fashion tertera semua disana.
Luhan juga memiliki buku dosa, namanya buku dosa LH7.
Dan tak berbeda dengan buku dosa Baekhyun maka milik Luhan juga berisi serangkaian kegagalannya menjadi seorang pencari bakat, entah karena prestasi sang artis atau skandal yang dibuat artisnya menjadi sebuah cerita di note kecilnya-…mungkin nama Kai akan tertera setelah ini.
Entahlah….
Tapi tidak seperti Baekhyun. Luhan cenderung mengabaikan buku dosa miliknya. Dia lebih memilih menebus dosa daripada harus terpaku mengakui dosa.
Karena gagal adalah hal yang sangat dia benci
Berbeda dengan Baekhyun yang selalu memperbaiki diri secara rutin, berulang hingga semua kesabaran dan kegigihannya membuahkan hasil-…hasil yang nyaris dia buang begitu saja.
"Buku dosa? Tapi aku tidak pergi kemanapun."
Biasanya buku dosa itu mereka bawa saat bepergian jauh atau menghadiri suatu acara tertentu. Bukan diisi di sembarang tempat yang bisa dilihat oleh siapapun dan karena hal itu pula Baekhyun menyuarakan protesnya dan dibalas tawa oleh Luhan.
"Lu aku serius!"
Luhan mengabaikan Baekhyun lagi-…Diambilnya beberapa perlengkapan lain yang ditujukan untuk sahabatnya.
"Ini Vitamin milikmu."
Luhan mengeluarkan vitamin Baekhyun disusul dengan beberapa pakaian favoritnya lalu tak lama dia mengeluarkan contoh design terbaru pakaiannya hingga membuat sang designer kesal "Sebenarnya aku mau kemana?"
Luhan masih tak merespon hingga akhirnya dia sampai di tahap terakhir untuk mengantar Baekhyun menuju suksesnya.
"Hidupmu akan berubah setelah ini." Katanya yakin sebelum mengeluarkan kertas kecil yang Baekhyun tebak adalah tiket "Ini tiket dan passportmu."
"Lu sebenarnya apa yang kau-…"
"Dan ini undangan untuk designer berbakat dari Paris Fashion Week."
"Lu…"
Luhan mengangkat sekilas bahunya sebelum memberikan undangan yang Baekhyun harapkan selama lima tahun hidupnya sebagai designer. Sedikit menatap tajam Baekhyun lalu tak lama menghabiskan pancake favoritnya "Kusut memang tapi kau tidak merusak barcode nya. Jadi aku rasa ini masih bisa digunakan dan-….."
Mata kecil Baekhyun membulat saat undangan yang malam tadi ia buang kembali dipungut oleh Luhan.
Rencananya untuk memberi kejutan bahkan kini berbalik karena dia yang merasa terkejut.
Sungguh-….Baekhyun akan mengatakan tentang undangan fashion week ini pada Sehun dan Luhan malam tadi. Tapi saat Luhannya mengalami hal gila malam tadi, maka sungguh acara perhelatan fashion dunia itu tak lagi menjadi gairah untuknya.
Pukul satu dinihari Baekhyun meremat undangan kecil itu, membuangnya ke tempat sampah sebelum Luhan memungutnya kembali dan menyerahkan undangan untuk menghadiri acara yang sangat diinginkan Baekhyun hampir lima tahun lamanya.
"Dan aku sangat bangga pada Baekiku. Kau benar-benar hebat dan berbakat." Katanya memeluk Baekhyun sekilas dibalas tatapan kosong dari sahabatnya.
"Tapi aku yakin sudah membuangnya."
"Kau memang melakukannya."
Dengan nada setengah menyindir dan setengah memberitahu, Luhan menimpali ucapan Baekhyun. Membuat sang designer terkekeh namun tak bisa mengatakan apapun lagi saat ini.
"Lalu darimana kau tahu?"
"Berterimakasihlah –lagi- pada kekasihmu."
"Sehun? Kenapa Sehun?"
"Aku tak sengaja membaca pesan kalian, aku juga tahu kalian bertengkar karena masalah ini. Jadi berhentilah keras kepala. Kau akan tetap berangkat dan aku akan baik-baik saja."
"Bagaimana bisa kau baik-baik saja?"
Ting tong….
Bersamaan dengan pertanyaan Baekhyun maka bel apartemen mereka berbunyi. Membuat Luhan secara refleks memakai jaketnya seraya mengerling bangga pada Baekhyun.
"Karena nyatanya aku baik-baik saja. Seperti kataku malam tadi-….Aku hanya bingung. Dan pagi ini aku hanya harus melewati hariku seperti biasa."
"Kau mau kemana Lu?"
"Bekerja tentu saja."
"Tapi Lu…"
Luhan mengambil kunci mobilnya lalu berjalan mendekati Baekhyun.
Menatap sayang pada sahabatnya sebelum
Grep…!
Tak ada yang berbicara selama beberapa detik, Luhan hanya terus memeluk Baekhyun sampai detik berikutnya tubuh mereka terlepas.
Tangan mungilnya dibawa untuk mengusap surai cantik milik Baekhyun.
Tersenyum bangga lalu detik berikutnya Luhan benar-benar bicara untuk meyakinkan Baekhyunnya. "Aku sudah jauh lebih baik. Sungguh."
"Apa benar?"
"Kau percaya padaku kan?"
Baekhyun menatap Luhan cukup lama, mempelajari raut sahabatnya sebelum mengangguk menyetujui "Aku percaya padamu."
"Bagus! Kalau begitu bersenang-senanglah di Paris. Maaf aku tidak bisa mengantarmu ke Bandara-….Presdir Oh yang akan mengantarmu."
"Sehun?"
Ting tong…
Luhan tersenyum penuh arti sebelum matanya mengerling pintu masuk.
Sedikit menggoda Baekhyun lalu tak lama menjawab yakin pertanyaan sahabatnya.
"Sehun." Timpalnya ulang dan bergegas mendekati pintu masuk diikuti Baekhyun di belakangnya.
Cklek…!
Saat pintu itu terbuka mereka tak sengaja bertatapan.
Dimana si pemilik mata elang menatapnya seolah memastikan
Sementara si mata rusa meyakinkan.
Membiarkan pertanyaan dan pernyataan di masing-masing benak termakan sunyi sampai Luhan yang lebih dulu memutus kontak di antara mereka.
Kakinya bahkan sedikit mundur untuk membungkuk dan menyapa atasan sekaligus kekasih sahabatnya.
Menarik kuat nafas karena tatapan mengasihani dari Sehun sampai bibirnya dipaksakan tersenyum seolah ingin menunjukkan bahwa aku baik-baik saja-….walau nyatanya tidak baik sama sekali.
"Direktur." Katanya menyapa disambut senyum kecil dari sang atasan.
"Hay Lu."
Luhan membalas senyum yang entah sejak kapan terlihat mempesona untuknya. Menikmati pikiran gilanya sesaat sebelum terkekeh dan memberi ruang agar Sehun bisa masuk kedalam apartement "Baekhyun sudah menunggumu."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku?"
"Apa sudah lebih baik?"
Tepat seperti dugaannya bahwa sedari tadi Sehun menatapnya iba.
Tatapannya juga terlihat berbeda –lebih lembut dan terlihat peduli- membuat Luhan memalingkan wajahnya sesaat dan kembali menatap Sehun di waktu yang sama.
"Aku baik direktur. Mohon tidak mengkhawatirkan diriku."
Sungguh-….Luhan membenci siapapun yang mengasihaninya, terutama orang terdekat dalam hidupnya.
Dan kenyataan bahwa Sehun adalah kekasih Baekhyun, itu hanya menambah daftar orang terdekat di hidupnya mengingat Sehun akan menjadi pria yang sering dia temui selama dia masih menyandang status kekasih Baekhyun.
Dia bahkan masih bertatapan dengan Sehun sampai kekasih sahabatnya itu tersenyum lembut menyadari kesalahannya bertanya.
Kenyataannya dia memang sedikit banyak memikirkan Luhan malam tadi –sekali lagi dia tidak tahu mengapa- namun wajah Luhan yang terlihat kosong dan tertekan memenuhi mimpinya tadi malam.
Lalu kemudian dia sadar bahwa Luhan bukan tipe yang bisa dikasihani.
Dia mencari alasan kedua kenapa bertanya mengkhawatirkan Luhan, tidak ingin terlihat mengasihani tidak pula ingin terlihat keji.
Luhan pegawainya dan sebagai atasan dia hanya ingin anak buahnya terlihat bahagia dan bersemangat agar bisa memberikan hal terbaik untuk perusahaan.
Alasan memang…
Tapi melihat Luhan sudah bersikap dingin dan persis dengan Luhan di hari pertama mereka bertemu –Sehun tenang- dia pun tersenyum kecil lalu memegang sekilas pundak Luhan
"Jangan salah paham Lu. Bukan kau yang aku khawatirkan tapi Baekhyun. Dia tidak tidur sampai dinihari tadi. Kami juga bertengkar karena undangan itu. Jadi aku menghkawatirkan Baekhyun bukan dirimu."
Sedikit banyak alasan Sehun terdengar masuk akal untuk Luhan, dia pun segera mengangguk dan terlihat salah tingkah karena ucapannya sendiri "ah begitukah?"
"Begitulah."
Walau harus sedikit berbohong tapi Sehun benar mengkhawatirkan Baekhyunnya. Dan saat melihat Luhan tak lagi tersinggung maka sudah bisa dikatakan ucapannya bisa dipercaya,
"Kalau begitu anda tidak perlu khawatir direktur Oh. Baekhyun akan tetap berangkat siang ini."
"Benarkah?"
Tersenyum senang adalah hal yang dia lakukan hingga terdengar suara Baekhyun menyapa di belakangnya "Sayang."
Yang memanggil sayang bergegas memeluk kekasihnya sangat erat. Mengecupi seluruh wajah Sehun dan –sialnya- semua itu dilakukan di depan pria cantik lain yang hatinya masih patah mengingat bahwa tak akan ada lagi kekasih yang bisa ia kecupi seperti Baekhyun mengecupi kekasihnya.
Iri memang….
Karena dari semua kekasih Baekhyun, hanya Sehun yang sama sekali tak meliriknya. Biasanya seluruh kekasih Baekhyun akan menggodanya di hari pertama, berbeda dengan Sehun yang seluruh tatapannya hanya tertuju pada Baekhyun.
Sama hal nya dengan tatapan Kai yang selalu tertuju padanya-….dulu.
Sesaat hati Luhan mencengkram sakit merasa rindu, namun disaat yang sama pula dia tersenyum sangat tenang menyadari bahwa hatinya tak akan lagi merasa sakit karena cinta.
Akan butuh waktu untuk sembuh, tapi setidaknya lubang di hatinya tidak akan semakin besar bersamaan dengan penghianatan yang dilakukan Kai.
"mmh….Kalau begitu aku pergi dulu. Kalian masuklah ke dalam."
"Lu kau harus baik-baik saja saat aku pergi."
"Kau yang harus baik-baik saja saat jauh dari rumah."
"Aku sudah biasa travelling dunia sebelumnya. Jadi tidak masalah untukku."
"Ah ya-…Tahun lalu di Jeju, ada yang menangis hanya karena rindu ramen buatanku. Kalau tidak salah namanya Byun Bae-…"
"ASTAGA LU!"
Sehun bahkan dibuat tertawa gemas dan selalu menyukai interaksi Luhan yang menggoda Baekhyun, karena saat semaua kartu Baekhyun dia bacakan maka hanya ada rona merah yang terlihat hingga dekapannya adalah tempat paling nyaman untuk Baekhyun bersembunyi.
"Hubungi aku."
"ara.." katanya bersembunyi di dada Sehun karena terlalu malu saat ini.
"Jangan berkeliaran dengan v-neck."
"Harusnya itu ucapanku Lu." Timpal Sehun mengoreksi membuat Luhan terkekeh "Kau benar direktur. Beritahu kekasihmu untuk tidak berpenampilan terbuka."
"Aku akan memberitahunya."
Luhan masih melihat betapa nyaman Baekhyun bersandar di pelukan Sehun.
Dia juga melihat tangan kekar Sehun yang melingkar sempurna di pinggang Baekhyun.
Membuatnya lagi-lagi merasa kosong dan hampa namun ia tunjukkan dengan senyum terbaik yang ia miliki. Dia juga beberapa kali memukul pelan kepalanya agar tidak berbuat gila di depan sepasang kekasih saat ini.
"Aku pergi dulu Baek."
"hmmh…"
"Saya permisi direktur."
"Kau tidak perlu bekerja jika kau mau."
"aniya-…Banyak yang harus aku persiapkan. Saya permisi."
"Baiklah sampai bertemu di kantor."
"Sampai nanti direktur."
Sekilas Sehun juga melihat mata Luhan, dia terus tertunduk namun suaranya dibuat tegar dan disaat bersamaan pula dia melangkah pergi meninggalkan mereka yang masih betah melepas rindu.
"Sehunna."
"….."
"Sehun!"
"huh?"
"Kau sedang melihat apa?"
"Tidak melihat apa-apa. Ada apa sayang?"
Baekhyun melihat kemana Sehun melihat namun saat hanya lorong panjang apartemen yang terlihat maka dia hanya tersenyum sambil merangkul lengannya ke dalam apartement.
"Aku benar-benar boleh pergi?"
"Ya tentu saja Baek. Alasan mengapa kau ingin menjadi designer adalah perhelatan akbar di Paris. Jadi tentu kau boleh datang kesana."
"Kau yakin? Aku akan berada sendiri disana. Bagaimana jika pria disana juga menyukai pria fashionable sepertiku."
Tertawa adalah hal yang dilakukan Sehun dengan tangan yang mencubit gemas pipi kekasihnya "Kau tidak akan sendiri kesana."
"huh?"
"Setahuku ada sepuluh orang yang mendapat undangan khusus ke Paris, dan beruntung aku mengenal dua dari sepuluh orang itu."
"Dua?"
"eoh…Kau dan Chanyeol akan berangkat ke acara yang sama."
"Chanyeol? Pria bertelinga alien yang malam tadi mencekik Luhan? Yang berteriak pada Luhanku?"
Nada kesalnya jelas terdengar, Sehun bahkan mengakui jika malam tadi Chanyeol sedikit berlebihan pada Luhan. Dia pun menggaruk tengkuknya tak enak hati sebelum berusaha membuat Chanyeol lebih baik di mata kekasihnya.
"Jangan lupakan dia juga sedang patah hati malam tadi."
"TETAP SAJA DIA NYARIS MEMBUNUH LUHANKU!"
"Baek…."
Baekhyun gusar mendengar dengan siapa dia akan pergi, menatap tak percaya pada kekasihnya sebelum menunjuk telak wajah Sehun "Kenapa bukan kau yang pergi? Kenapa harus pria menyebalkan itu?"
"Karena perusahaanku tidak mendapat undangan khusus itu sayang. Jika perusahaanku dapat sudah jelas aku akan ikut bersamamu."
"Lalu kenapa harus dia?"
"Harusnya Yunho hyung yang berangkat, tapi di malam yang sama aku meminta perubahan rencana. Hati Chanyeol sedang tidak baik berada di Seoul, dia sedang patah hati dan butuh tempat baru untuk merasa lebih baik."
"Lalu?"
"Lalu aku mohon sayang. Aku mohon jaga temanku."
Sepertinya posisi Sehun dan Baekhyun sama saat ini-…Mereka adalah sahabat dari dua orang yang hatinya dilukai kekasih masing-masing.
Mereka juga sama-sama menyayangi sahabat mereka dengan cara masing-masing.
Jika Baekhyun sangat menunjukannya maka Sehun cenderung diam namun bertindak.
Dan saat Sehun meminta untuk menjaga Chanyeol selama mereka di Paris, maka tak perlu waktu lama untuk Baekhyun meminta hal yang sama.
Buru-buru dia menarik kursi di samping Sehun, menggenggam erat jemari kekasihnya sebelum tanpa ragu meminta…..
"Sama seperti kau akan menjaga Luhan?"
"huh?"
"Aku bersedia menjaga temanmu jika kau bersedia menjaga Luhan selama aku pergi. Bagaimana?"
Lagi-…..
Rasanya Baekhyun tidak perlu memohon padanya untuk menjaga Luhan-…karena dia memang akan melakukannya.
Dengan atau tanpa permintaan kekasihnya, Sehun memang memutuskan untuk mengawasi Luhan.
Tak ada alasan…
Karena dia hanya ingin melakukannya.
Untuk Baekhyun-…mungkin.
Atau untuk dirinya sendiri-…entahlah.
"Sehun. Janji padaku."
Dia pun membalas genggaman tangan Baekhyun, sedikit tersenyum dan tanpa ragu mengatakan.
"Ya aku janji."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tring….tring….
Dari luar gedung sekolah Luhan bahkan bisa mendengar bunyi bel berbunyi di dalam mobilnya.
Sedikit menatap rindu pada sekolah yang dulunya juga pernah menjadi tempatnya mencari ilmu dan tersenyum saat melihat seluruh siswa berhamburan dari dalam gedung.
Matanya fokus mencari satu sosok.
Memastikan remaja tampan itu tidak mengingkari janji yang telah mereka sepakati sebelumnya
Baiklah aku tidak akan menemui ibu jika kau menjaganya dengan baik
Tentu!
Dan kau harus melanjutkan sekolahmu agar aku tahu ibu hidup dengan putranya yang sukses
Baiklah Luhan.
Seperti itulah janji yang mereka sepakati tiga tahun lalu.
Janji dimana dia tanpa sadar menjual ibunya pada Jaehyun –adik tirinya yang lain-
Karena jika Luhan mengingat pertemuan pertama mereka tiga tahun lalu, mereka cukup akrab. Jaehyun memang tak menyukainya tapi dia tidak menyimpan kebencian seperti saat ini.
Mereka juga memiliki hubungan yang cukup baik pada awalnya.
Jaehyun memanggilnya hyung
Dan Luhan-…Untuk kali pertama dia sangat bahagia karena diakui sebagai seorang kakak.
Semuanya berjalan cukup baik sampai hari itu tiba.
Hari dimana sekelompok penagih hutang datang kerumahnya.
Hari dimana bajingan-bajingan itu melukai ibu mereka.
Dan sialnya Jaehyun sedang menetap malam itu, Jaehyun juga dibuat geram karena nyatanya Luhan berbohong tentang siapa ayahnya.
Ayah yang dia katakan sangat mencintainya dan Kyungsoo berubah menjadi ayah yang gemar berjudi, mabuk,main wanita.
Bajingan keji itu juga tega melakukan segala cara untuk melampiaskannya pada sang ibu.
Membuat remaja lima belas tahun saat itu bersumpah untuk menjauhkan ibunya dari pria brengsek itu maupun dari putra sulungnya-…Luhan.
Jaehyun tak ragu meminta bantuan ayah kandungnya untuk membawa ibunya pergi dari jangkauan Luhan-…dan setelahnya Luhan benar-benar kehilangan kontak dengan Jaehyun.
Sampai setahun yang lalu dia tak sengaja bertemu dengan sang ibu.
Mengira hidup ibunya bersama Jaehyun lebih baik-…namun salah.
Selama dua tahun terakhir Jaehyun dibuang ayahnya karena bersikeras ingin tinggal bersama sang ibu, merasakan kasih sayang ibunya dan bersumpah tidak akan kehilangan ibunya lagi. Tidak akan terpisah lagi dari ibunya seperti dulu.
Remaja kecil itu bahkan menghidupi dirinya sendiri dan sang ibu dengan caranya. Dia melakukan segala cara seperti bekerja di club, driver atau balap liar sekalipun hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Pada hari itu….
Saat itu juga…
Hati Luhan rasanya tercabik menyadari bahwa dia sangat tega membiarkan keluarganya terlantar.
Dia juga bersumpah akan membuat hidup Jaehyun lebih baik bagaiamana pun caranya-…termasuk membuat perjanjian dan mulai mengawasi dalam diam adik bungsunya.
Luhan masih setia duduk di depan kemudinya dengan mata yang memperhatikan gedung.
Berharap melihat Jaehyun sampai bibirnya menarik senyum melihat siapa remaja yang kini sedang tertawa bersama teman-temannya.
"Kau menepati janjimu adik kecil."
Mata Luhan terkunci pada sosok berlesung pipi yang berdiri tak jauh darinya.
Menatap lekat-lekat anak lelaki yang memiliki senyum ibunya juga hati lembut seperti sang ibu.
"Aku rindu di panggil hyung."
Karena sebenci apapun Jaehyun pada Luhan-….Dia tahu Jaehyun adalah pemuda yang mencintai ibunya, mencintai kekasihnya juga mencintai temannya.
"Terimakasih sudah membuatku lebih baik."
Terkadang alasan mengapa setiap kali Luhan kacau dan datang melihat Jaehyun adalah karena remaja delapan belas tahun itu memiliki senyum lembut seperti milik ibunya.
Mencari ketenangan dari jauh dan Jaehyun selalu berhasil melakukannya untuk Luhan.
Dia juga tak berniat mengganggu kebahagiaan Jaehyun dan hanya menatapnya dari jauh.
"Baiklah….Aku akan menemuimu lain kali."
Luhan memakai cepat seatbelt nya. Berniat untuk segera pergi sebelum tak sengaja melihat mobil lain yang terparkir tepat di depannya.
Luhan merasa familiar dengan mobil itu membuatnya matanya sedikit memicing sebelum menyadari bahwa pria yang berada tepat di depannya adalah pria yang memiliki profesi sama dengannya
"Jin?"
BLAM….!
Dan bersamaan dengan gumaman Luhan, maka si pemilik nama Kim Seokjin –pencari bakat yang bernaung di JYC'ent- keluar dari mobilnya.
Pemuda berperawakan tampan itu juga terlihat fokus pada satu orang tanpa menoleh sedikit pun.
Luhan cemas melihat ke arah siapa Jin berjalan.
Dia juga terkejut menyadari bahwa mata Jin sama sekali tak berkedip saat memandang-…
"Jaehyun? Ayolah!"
Luhan memastikan sekali lagi, dan saat matanya mengikuti kemana mata Jin menatap "Mangsa" maka sosok sang adik dipastikan menjadi targetnya.
"tidak tidak….Jangan Jaehyun." Katanya gusar melepas seatbeltnya. Memastikan Jin tidak sampai di depan Jaehyun sebelum
BLAM…!
Beruntung Jaehyun sudah berjalan dengan teman-temannya.
Posisinya juga tidak melihat dia dan Jin sedang berlomba ke arahnya.
Dan saat Jin benar-benar akan mendekati Jaehyun maka disaat yang sama Luhan berhasil mendului Jin untuk berdiri merentangkan tangan tepat di depan temannya. "Mundur."
"astaga!"
Jujur saja pria tampan itu terkejut melihat siapa yang kini berdiri di depannya. Membuat matanya membulat dan secara refleks memanggil keras nama temannya yang malam tadi terlihat sangat kosong.
"Luhan?"
"sstt…."
"huh?"
"Ikut aku."
"Tapi…"
"SEKARANG!"
Luhan kembali berlari ke dalam mobilnya sebelum
BLAM…!
"haah…. sayang sekali."
Merasa tak memiliki pilihan lain maka pria bernama Kim Seokjin itu harus rela melepas mangsanya kali ini.
"kau juga! Kenapa kau ada disini." Katanya menggerutu pada Luhan namun tetap ikut berjalan ke mobilnya dan
BLAM!
Dipikir-pikir Luhan tidak pernah menatap marah padanya, jadi saat dia kedua mata rusa itu terlihat mengerikan maka artinya ada sesuatu yang jelas mengganggunya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"MWO? ADIKMU?"
Saat ini Luhan dibuat geram karena dua hal.
Pertama karena pria incaran Jin memanglah Jaehyun
Dan kedua karena pria di depannya terus berteriak. Membuat Luhan sangat kesal dan merebut paksa profile Jaehyun dari tangan Jin.
"Jika aku melihatmu mendekatinya lagi, akan kupatahkan tanganmu. Oke?"
"omo!"
Dan saat Luhan merobek hancur profile mangsa terbesarnya maka hanya hati sakit dipenuhi kesedihan mengingat sudah dua bulan ini dia mengikuti kemanapun Jaehyun pergi.
"sayang sekali…."
"Cari target lain."
"Tapi dia benar-benar berbakat Lu. Dia mengirimkan demo lagunya dan itu sangatlah memukau."
"Jaehyun melakukannya?"
"Ya. Dia melakukannya! Lagipula kenapa aku baru tahu kau memiliki seorang adik?"
"Kau akan sangat terkejut jika tahu aku memiliki DUA orang adik."
Luhan sedikit kesal mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. Menunjukkan pada Seokjin berapa adik yang dia miliki walau nyatanya harus dia sembunyikan karena mereka tak suka disebut saudara.
"Dua?"
"Dua." Timpalnya pahit disambut mata berbinar oleh Jin
"Jika Jaehyun tidak boleh lalu bisakah aku mendekati adikmu yang lain?"
"ish!"
"araseo batal! Padahal Jaehyun sangat berbakat. "
"Adikku yang lain sudah debut dan kau akan terkejut jika tahu siapa adikku yang lain."
"Sudah debut? Kau mau bilang adikmu yang lain adalah seorang publik figur?"
"Aktor dan penyanyi lebih tepatnya."
"yang benar saja!"
"ck! Terserahmu saja! Aku ke toilet sebentar. Pesan makanan sesukamu."
"haah-…Kau yang bayar kan?"
"Seingatku aku yang selalu membayar."
"he he he…"
Setelah menyuarakan tawa bodohnya, Jin sibuk melihat menu. Memilih makanan termahal di restaurant ini sebelum berita siang ini mengganggu pendengarannya.
Dispach kembali menemukan fakta bahwa maknae EXO bukan berkencan dengan Soojun maupun Kyungsoo. Karena fakta lain yang cukup kuat meyakini bahwa pelantun Monster itusecara resmi memiliki hubungan khusus dengan Xi Luhan –seorang pencari bakat di agensinya-. Benarkah?
"What the…."
Seokjin tampak fokus dengan berita sialan yang tengah disiarkan saat ini.
Matanya membulat menyadari bahwa berita omong kosong itu juga memiliki bukti bahwa Kai dan Luhan memanglah berkencan.
Ya mereka sudah berhubungan selama lima tahun.
Suara itu disamarkan, wajahnya juga tidak terlihat, tapi Jin yakin bahwa si narasumber adalah salah satu pegawai di OSH ent yang tidak menyukai Luhan.
Tapi Luhan mengencani Kai hanya karena Kai memiliki banyak uang. Karena yang aku dengar Luhan dan keluarganya memiliki banyak hutang. Dia tidak benar-benar mencintai Kai.
"brengsek! Bajingan itu yang tidak mencintai Luhan."
Dan beberapa foto ini memang menunjukkan bahwa anggota termuda EXO itu menjalin hubungan khusus dengan manager pencari bakat di OSH ent'
Lalu benarkah skandal Kai EXO dan aktor Do Kyungsoo hanya untuk menutupi hubungan Kai dan Manager pencari bakat di OSH ent?
Lalu dimana Kai EXO saat ini?
Dimana Manager yang kerap kali terlihat menghadiri acara EXO bersembunyi?
Kami masih menunggu konfirmasi dari Oh Sehun sebagai pemilik dan pemimpin dari agensi ternama miliknya.
"Luhan!"
Buru-buru Jin berlari ke toilet, membuka kasar pintu toilet sebelum menemukan Luhan sedang mencuci muka dan kini menatapnya dari cermin "Ada apa? Kau juga ingin ke toilet?"
"Syukurlah."
"Jin?"
Pencari bakat itu hanya menatap cemas sahabatnya. Segera menghampiri Luhan sebelum
Sret…!
"Kita pergi!"
"huh?"
Jin terus menarik tangan Luhan menjauh dari restaurant, berharap Luhan tidak mendengar apapun namun sial-….Luhan kini menahan tangannya untuk melihat berita yang sedang disiarkan saat ini.
Dari keterangan sumber yang kami dapatkan, Manager Xi atau yang biasa disapa Luhan mengancam Kai untuk terus berhubungan dengannya atau dia akan membocorkan rahasia yang dimiliki mereka berdua selama menjalin hubungan.
"Aku mengancam Kai? Bagaiamana mungkin?"
"Lu jangan dengarkan berita konyol itu."
"Jin…Perasaanku saja atau seluruh pengunjung restaurant sedang menatap ke arahku."
Dan benar saja seluruh pengunjung restaurant menyamakan Luhan dengan foto mesra yang sedag disiarkan saat ini.
Beberapa berbisik jijik sementara yang lain menatap marah padanya, membuat Jin kembai harus bertindak jika tak ingin terjadi keributan saat ini.
"Kita pergi."
Pikirannya yang kosong kembali dirasakan Luhan saat ini. Membiarkan Jin membawanya pergi seentara pikirannya bertanya banyak hal
Siapa yang melakukan hal ini?
.
.
.
.
.
.
.
.
Ting tong!
Ting tong!
Dan jika Luhan masih bertanya siapa yang melakukan hal keji ini padanya-….Maka si pelaku terlihat tak jauh berbeda dengan Luhan saat ini –cemas dan bertanya-
Cemas memikirkan hal gila yang ia lakukan malam tadi.
Dan bertanya bagaimana Luhan saat ini.
Harusnya dia senang jika berita itu mulai di publikasi,
Harusnya dia senang mengetahui kehancuran Luhan hanya tinggal menunggu jam.
Tapi jauh di lubuk hatinya dia tahu ini salah-…Dia tahu ini keterlaluan-…Dan dia tahu ini sangatlah keji.
Karena sebanyak apapun dia menyakiti Luhan, kakaknya.
Luhan hanya akan diam tanpa menyalahkan atau berusaha membalas.
Membuat aktor ternama sekelas Do Kyungsoo mulai termakan rasa cemasnya sendiri.
Dia bahkan tak bisa tenang setelah dokter mengijinkannya pulang dan beristirahat dirumah, karena jujur daripada berisitriahat kepalanya terasa ingin meledak mengingat banyak hal yang terus dan terus mengganggu dirinya, membunuhnya perlahan.
Ting tong…
Ting tong…
Pria bermata besar itu terus mengabaikan bunyi bel yang berbunyi, dia juga sengaja menutup telinganya agar tak mendengar suara bel di apartementnya.
Dia enggan bertemu siapapun.
Enggan untuk berbicara dengan siapapun karena takut disalahkan.
Dia terus bersembunyi di balik selimut, mencari ketenangan di dalam sana dengan tangan yang memegang kuat bayinya. "Baiklah jangan tegang, aku akan menjagamu. Kau dengar?"
Berbeda dengan Kyungsoo kemarin malam yang membenci calon bayinya, maka Kyungsoo malam ini terlihat sangat menjaga calon bayinya.
Dia juga terus mengusap perutnya agar tidak tegang dan tanpa sadar menggumamkan kata lembut agar si bayi tak membuatnya sakit karena tendangan atau mual yang berlebihan.
Ting tong…
"ayolah!"
Merasa kepalanya akan pecah mendengar suara bel. Dia pun memutuskan untuk bangun. Bersumpah akan mengutuk seluruh staff yang mengganggu istirahatnya sampai
Cklek…!
Untuk sesaat jantungnya berhenti berdegup.
Kakinya juga melangkah mundur melihat siapa yang datang ke apartement nya.
Biasanya dia akan menggoda pria itu setiap kali dia datang.
Mengajaknya bercinta dan melebur dalam dosa untuk menyakiti kekasih masing-masing.
Berbeda dengan malam ini….
Entah mengapa Kyungsoo takut melihat pria yang hatinya sudah ia permainkan selama enam bulan.
Entah mengapa Kyungsoo takut menyadari bahwa pria di depannya terlihat sangat hancur.
Ayah dari calon bayinya itu bahkan menangis terisak saat memandangnya.
Membuat sesuatu menghimpit kuat dada Kyungsoo hingga hanya rasa cemas yang menghinggapi.
"Kai?"
Yag disapa tersenyum sangat lirih. Wajahnya sudah sangat pucat kontras dengan warna kulitnya.
Pria berkulit tan itu juga terus berpeganan di dinding pintu seolah akan roboh kapan saja jika tak bersangga pada sesuatu.
Sesaat keduanya bertatapan lama, sampai akhirnya Kai menyerah dengan rasa sakitnya karena terlalu bahagia melihat Kyungsoo.
"Aku senang kau baik-baik saja Soo."
"Kai apa kau gila? Kenapa kau disini?"
"Aku ingin menemuimu tapi mereka melarangku."
"Mereka benar melarang kita bertemu. Kita harusnya tak pernah bertemu lagi! Lagipula kenapa kau disini? Harusnya kau bersama Luhan!"
"Luhan? Ah-….Benar! harusnya aku menemui Luhan."
"Kalau begitu sebaiknya kau pergi!"
"Hubunganku dan Luhan sudah berakhir."
"huh?"
Gerakan tangan Kyungsoo menutup pintu terhenti, mencerna baik-baik ucapan Kai sampai rasanya dia bisa ikut merasakan betapa hancur perasaan pria di depannya "Apa maksudmu?"
Lagi-….
Kai tersenyum sangat lirih, menatap ke dalam mata Kyungsoo dan diam-diam melangkah masuk kedalam apartement yang biasa mereka gunakan untuk menghianati Luhan.
"Luhan mengakhiri hubungan kami malam tadi. Apa kau senang?"
Mata besar itu semakin membulat tatkala Kai menyuarakan suara tuduhannya.
Dia juga terdengar menyindir Kyungsoo, mencoba untuk mengelak namun sepertinya Kai terus mengatakan semua yang dia ketahui namun dia bungkam selama ini
"Pikirmu aku tidak tahu apa yang kau rencanakan selama ini? Pikirmu aku pria yang bisa dibodohi sementara kau menyakit kekasihku, kakakmu?"
Kaki Kyungsoo lemas sejadinya, tak pernah dia menyangka bahwa Kai mengetahui hubungannya dan Luhan. Dan saat semua kebenaran ini dia suarakan-…itu artinya selama ini Kai tahu rencana kejinya untuk Luhan.
Tapi bagaimana bisa dia diam?
Bagaimana mungkin Kai tidak melakukan apapun?
Jika selama ini dia tahu-..Itu artinya Kai sengaja diam untuk masuk ke perangkapnya.
Kenapa?
"Kai apa yang kau-…."
"AKU TAHU KAU MENDEKATIKU HANYA UNTUK MENYAKITI LUHAN, KAKAKMU!"
Kyungsoo dibuat diam karena teriakan Kai.
Pikirannya begitu kosong dengan hati yang berdenyut sakit.
Dan saat Kai menatapnya hancur dan kecewa maka Kyungsoo mencari pegangan untuk menopang tubuhnya yang lemas dan kepalanya yang luar biasa sakit karena terlalu mual mengetahui kebenaran ini.
"Lalu kenapa kau hanya diam?"
"Aku mencintaimu Kyungsoo."
DEG!
Kata cinta itu terdengar sangat tulus dan lelah.
Terlalu lelah hingga rasanya Kyungsoo bisa merasakan kekosongan hati Kai saat ini.
"Aku terlalu mencintaimu hingga tega membiarkanmu menyakiti Luhan, kekasihku."
"Aku terlalu menggilaimu hingga tak mempedulikan betapa besar rasa sakit yang kau berikan pada Luhan."
"AKU-…..AKU ADALAH MONSTER SESUNGGUHNYA DI KISAH CINTA KITA BERTIGA! AKU!"
"tidak…"
Kini Kyungsoo terjatuh lemas di lantai,
Pikiran dan hatinya mendadak tertuju pada Luhan.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Luhan jika mendengar apa yang dikatakan Kai saat ini.
Karena untuk Kyungsoo-…Hanya dirinya yang boleh menyakiti Luhan, yang menghancurkan Luhan, yang membuat kakaknya muak dengan hidup-…..Bukan seperti ini tujuan hidupnya.
Harusnya Kai tetap mencintai Luhan dengan tulus.
Harusnya Kai yang menjaga Luhan saat dia menyakitinya.
Bukan ikut menghancurkan Luhan seperti ini.
Membuat air mata Kyungsoo terus membasahi wajahnya sementara tak jauh darinya Kai terlihat sangat menyedihkan.
"Kai…hey Kai…"
Buru-buru Kyungsoo mendekati Kai, menangkup wajah Kai dan memaksa calon ayah dari bayinya itu untuk melihat ke dalam matanya.
"Dengarkan aku."
"huh?"
"Aku-….Aku baru saja melakukan hal mengerikan pada Luhan. Aku membuatnya dalam kesulitan. Jadi kau harus-…Kau harus segera kembali kesana dan memeluknya. Jangan biarkan dia sendiri karena dia tidak akan bertahan."
"Luhan sudah mengakhiri segalanya Soo."
"KALAU BEGITU KEJAR DAN DAPATKAN HATINYA LAGI!"
Wajah Kai tertunduk dalam saat ini, hatinya begitu keji menyadari bahwa dia tak memiliki rasa tersisa untuk Luhan, untuk pria yang sudah menemani hidupnya selama lima tahun.
Keji memang-…
Tapi saat Luhan mengakhiri hubungan mereka malam tadi, rasanya itu sebuah kebahagiaan tak ternilai untuk Kai.
Pikirnya dia tak perlu menyakiti Luhan, namun nyatanya-….Kehilangan Luhan memang sangat menyakitkan. Tapi dia yakin bisa bertahan selama Kyungsoo berada di sampingnya.
"Aku mencintaimu Soo."
"KIM JONGIN!"
"Aku tidak mau menyakiti Luhan lagi. Jadi bisakah kau berlari ke pelukanku? Aku ingin sekali menjagamu Soo. Aku-…."
"brengsek! KAU MENGHANCURKAN HATI LUHAN JIKA SEPERTI INI!"
"BUKANKAH INI TUJUAH HIDUPMU? MENGHANCURKAN LUHAN? KAKAKMU?"
Kyungsoo mencengkram setengah mencekik leher Jongin, mata besarnya menatap murka pada pria yang ternyata melebihi monster seperti dirinya. Kedua mata Kyungsoo menatap Kai penuh amarah dan rasa rindu yang coba diabaikannya.
Dia pun semakin mencekik Kai sebelum berteriak frustasi pada pria yang diam-diam sudah memiliki tempat di hatinya.
"Benar aku menginginkan kehancuran Luhan, tapi bukan seperti ini. Aku ingin menghancurkannya dengan kau disampingnya!"
"Luhan sudah mengakhiri segalanya. Aku sudah kehilangan dia. Apa aku juga harus kehilanganmu? LEBIH BAIK KAU BUNUH AKU! CEPAT BUNUH AKU DO KYUNGSOO!"
Kai memaksa Kyungsoo untuk mencekik lehernya.
Dan sesaat-….Sesaat Kyungsoo benar-benar tergoda mencekik pria bajingan di depannya. Mencekiknya kuat hingga warna muka wajah Kai berubah menjadi pucat.
"Aku juga memiliki kekasih, tapi setidaknya kekasihku tidak sekeji dirimu. Kau benar-benar keterlaluan pada Luhan!"
Matanya menatap benci pada Kai.
Benci karena dia terlalu tega menyakiti Luhan.
Jika itu Chanyeol, pastilah Chanyeol tak sampai hati melakukan hal itu padanya.
Lalu kenapa Kai begitu tega pada Luhan?
Membuat Kyungsoo merasa tak terima melihat Luhan disakiti dan hanya berusaha membalas Kai saat ini.
Mencekiknya semakin kuat sampai bibir Kai terlihat tersenyum, mata sendunya bahkan terus menatapnya lembut seolah mengatakan cinta.
Detik berikutnya Kyungsoo merasakan sesuatu menendang kuat di perutnya.
Itu bayinya yang terlihat marah
Marah karena dia mencekik calon ayahnya.
Kyungsoo bahkan nyaris mengabaikan tendangan di perutnya jika mata Kai tak terlalu lembut menatapnya. Dia pun menggeram marah sebelum
Sret…!
Uhuk!
"haaah-…"
Kai mengambil banyak nafasnya sementara Kyungsoo menghapus air mata.
Buru-buru dia mendekati Kai sebelum mendekapnya erat. Menciumi pucuk kepala Kai yang terlihat sangat lelah dan begitu terluka.
"mianhae…."
"Aku mencintaimu Soo. Sangat mencintaimu."
"Kai cukup. Kumohon."
"Jangan tinggalkan aku."
Kyungsoo memejamkan erat matanya, tak ingin memberi harapan lagi namun dia tahu itu hanya akan membuat Kai semakin terluka. Dia pun mendekap Kai semakin erat sebelum tanpa sadar mengatakan hal yang tak seharusnya dia katakan.
"Aku tidak akan meninggalkanmu Kai."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau yakin tidak ingin kembali ke rumah? Aku bisa mengantarmu."
Luhan hanya diam saat Jin bertanya padanya. Pikirannya bercabang untuk banyak hal yang sama sekali tak ia ketahui jawabannya.
Bagaimana Kai?
Bagaimana Kyungsoo?
Bagaimana dirinya?
Tiga pertanyaan itu terus berputar sepanjang perjalanan.
Karena jika Kyungsoo yang menyebarkan foto-foto pribadi miliknya dan Kai, maka hanya tinggal menunggu waktu sampai para wartawan itu mencari lebih jauh dan menemukan fakta bahwa Kyungsoo terlibat di dalamnya.
"Lu…"
Barulah saat Jin memegang pundaknya, Luhan merespon.
Mengerjap sedikit bingung dan tak sadar jika mereka sudah sampai di depan agensi tempat Luhan bekerja.
"Kau baik-baik saja?"
Buru-buru Luhan melepas seatbelt nya. Segera membuka pintu mobil sebelum berterimakasih pada Jin "Aku baik-baik saja."
"Yakin tidak ingin aku antar pulang?"
"Aku harus memastikan seberapa jauh keadaan kacau didalam sana."
"Memastikan Kai maksudmu." Katanya sarkas disambut kekehan kecil oleh Luhan "Ya dia salah satunya."
"haah-…Baiklah kalau begitu, mobilmu akan sampai lima belas menit lagi. Mereka akan meletakkan kuncinya di loker kerjamu."
"gomawo Jin." Katanya bergegas keluar dari mobil sebelum tangan Jin kembali memegang lengannya.
"Ada apa?"
"Perasaanku buruk mengenai skandal kali ini. Berhati-hatilah Lu."
Luhan menepuk pelan tangan Jin seraya tersenyum dan mengatakan "Aku akan baik-baik saja."
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan tepat seperti dugaan Jin, maka telihat seluruh wartawan berkumpul di lobi utama agensinya.
Luhan bahkan ragu untuk masuk melewati lobi utama atau harus memutar dari basement.
Membuat jantungnya berdegup sangat kencang sampai
Sret…!
Seseorang menarik lengannya dan terlihat wajah stoic milik kekasih Baekhyun. Atasannya.
"Direktur." Katanya berusaha menyapa sebelum tangan Sehun membawanya pergi dari lobi utama "Direktur?"
Ting!
Sehun membawa Luhan menggunakan elevator pribadinya. Membuat suasana seketika menjadi canggung sementara Luhan terus menatap tak mengerti apa yang dilakukan bosnya.
Ting!
"Ikut aku."
Dan tak lama setelah pintu lift terbuka, Sehun kembali menarik lengan Luhan. Membawanya ke dalam ruangan sebelum menatap gusar pada sahabat kekasihnya.
"Direktur?"
"Bagaimana bisa berita tentang percintaan kalian sampai bocor keluar?"
Mengerti kemana arah pembicaraan Sehun-…Luhan menunduk.
Karena jujur saja dia tidak tahu kenapa berita tentangnya sampai pada publik. Dan daripada mencari pembelaan diri, dia lebih memilih diam menikmati kemarahan yang akan Sehun sampaikan padanya sesaat lagi.
"Manager Xi! Aku bertanya padamu."
"sayatidaktahu."
"Bicara yang jelas!"
Matanya terpejam untuk beberapa saat, dan menyadari bahwa ini adalah kali pertama Sehun berteriak padanya cukup membuat Luhan sedih.
Dia pun kemudian menarik dalam nafasnya sebelum dengan takut mencari mata Sehun yang terlihat sangat gusar "Saya akan bertanggung jawab direktur."
"Bertanggung jawab? Bagaimana caramu bertanggung jawab?"
"Jika sampai berita ini membuat perusahaan anda mengalami kerugian, saya akan menyerahkan surat permohonan pengunduran diri secepatnya."
"Bukan seperti itu-…."
"Saya permisi direktur."
"hey Lu-…..Luhan!-…astaga!"
Dan saat Luhan menutup pintu, maka hanya ada keheningan di ruangan besar miliknya. Membuat kepala Sehun semakin terasa sakit mengingat ini adalah skandal serius yang bukan hanya merugikan perusahannya tapi juga bisa menyakiti Luhan.
"Keras kepala! Arrhhhh!"
Niatnya baik untuk menolong Luhan, tapi saat Luhan menaggapinya dengan cara berbeda maka Sehun dibuat frustasi karenanya.
Dia ingin menolong Luhan, tapi di detik berikutnya dia mengetahui satu hal baru tentang Luhan, tentang sahabat kekasihnya. Tentang bagaimana pria berparas cantik itu cenderung suka mengabaikan masalah dan hanya membuat dirinya kesakitan di waktu yang sama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Berada di Paris bukan berarti kau berlibur, karena disaat Baekhyun berfikir bisa menikmati malam pertamanya di Paris dengan bersantai di hotel-…Maka dia salah besar.
Nyatanya satu jam setelah mereka tiba di kota romantis penuh cinta itu, pihak dari fashion week meminta seluruh tamu undangan menghadiri persiapan pameran yang akan diselenggarakan minggu depan.
Dan disinilah Baekhyun, berada di kursinya dengan mata yang terlihat sangat lelah.
Dia juga bisa melihat pria yang kemarin malam nyaris menyakiti Luhan berada tak jauh darinya.
Sesekali tersenyum simpul hingga lesung di pipinya terlihat.
Sesekali dibuat takjub karena peragaan busana.
Lalu detik berikutnya dia hanya diam dan terlihat sendu.
Perubahan wajah seorang Park Chanyeol itu sudah disadari Baekhyun hampir satu jam lamanya.
Membuat matanya diam-diam terus melihat Chanyeol sampai pria bertubuh atletis terlihat meninggalkan kursinya.
"ck! Tidak sopan." Katanya mencibir Chanyeol sebelum fokus pada peragaan busana.
Dan entah mengapa Baekhyun juga merasa bosan dengan cepat.
Membuatnya juga beranjak dari kursinya sampai tak sengaja matanya melihat punggung Chanyeol yang terlihat sangat dingin untuknya.
"haah-…."
Awalnya Baekhyun hanya ingin mengabaikan sahabat kekasihnya, namun saat dia mengingat janjinya pada Sehun maka tak ada alasan lain untuknya menolak kehadiran Chanyeol.
Baekhyun pun tersenyum simpul sesaat, berjalan mendekati Chanyeol yang sedang mengepul asap rokonya dan ikut bersandar di balkon yang memberikan pandangan menara eiffel tak jauh dari tempat mereka berada.
"whoaa cantik sekali."
Chanyeol melirik sekilas pria cantik disampingnya. Sedikit tersenyum mendapati kekasih Sehun yang tetap terlihat menawan walau hanya menggunakan pakaian casual nya untuk malam ini.
Fuh~
Sementara Chanyeol terus mengepul asap rokonya maka Baekhyun terus mengagumkan keindahan kota Paris sampai
Uhuk…!
Chanyeol tersedak kepulan asapnya sendiri. Membuat Baekhyun mencibir kesal sebelum
Sret…!
"Hey!"
"Aku benci asap rokok."
"Lalu jangan berada di dekatku."
"Aku juga tidak ingin! Tapi aku sudah janji pada Sehun."
"ck!"
"Terserahmu saja! Kau boleh menggerutu sesukamu."
Baekhyun mematikan kasar rokok yang dihisap Chanyeol. Membuangnya cepat ke bawah sungai sebelum kembali diam menikmati udara malam di Paris.
"Lebih baik tanpa asap rokok."
Chanyeol hanya diam sebagai respon.
Terlalu diam sampai membuat Baekhyun melirik pria tampan di sampingnya.
"Kau baik-baik saja?"
Chanyeol menatapnya-…..
Terlalu cepat sampai rasanya Baekhyun merasa tersengat listrik karena senyum Chanyeol yang begitu tampan.
Baekhyun buru-buru menatap ke depan. Sedikit gugup dan mencoba menenangkan diri sampai Chanyeol menjawab
"Aku baik-baik saja."
Baekhyun masih menormalkan detak jantungnya, berharap degup sialan ini segera hilang sampai kalimat yang Chanyeol lontarkan berbanding terbalik dengan nada suaranya yang lirih saat ini.
"Kau berbohong."
"huh?"
"Kau tidak baik-baik saja."
Lesung pipi itu kembali terlihat, kali ini lebih dalam menandakan Chanyeol sedang tersenyum lebar.
Namun berbeda dengan senyumnya yang lebar, maka tangan Chanyeol terus mencengkram erat jembatan tempat mereka bersandar. "Entahlah."
Baekhyun menyadarinya lagi-….ini suara dan sikap seseorang yang sedang patah hati, yang hatinya dikecewakan karena cinta, yang terluka karena mencintai, yang ingin melepas namun terlalu takut untuk mencoba.
Membuat Baekhyun sedikit bisa merasakan kegusaran Chanyeol namun enggan ia tunjukkan.
Dia juga pernah patah hati.
Pernah kecewa karena cinta
Pernah terluka dan
Pernah takut melepaskan
Tapi setidaknya semua fase itu berhasil dilewatinya. Nyatanya puladia bertahan dan menemukan cintanya yang lain.
Membuat Baekhyun berharap bahwa orang-orang seperti Chanyeol, seperti Luhan atau seperti semua orang yang hatinya sedang terluka bisa menemukan cara untuk menutup lubang di hati mereka.
Dia pun tersenyum sangat tulus sebelum kembali menatap Chanyeol, mengulurkan tangannya pada Chanyeol seraya berkata
"Aku rasa kita belum berkenalan secara resmi. Hay kenalkan namaku Baekhyun-…Byun Baekhyun."
Beruntungnya Sehun bisa memiliki kekasih se-ekspresif ini, yang selalu memiliki banyak cara menghibur dan selalu tahu harus melakukan apa untuk membuat suasana canggung menjadi nyaman.
Dia juga iri karena sepertinya Baekhyun sangat mencintai Sehun, terbukti dari kesediannya menjadi teman walau malam tadi dia nyaris menyakiti sahabatnya.
Membuat Chanyeol menatap manik kecil mata Baekhyun cukup lama.
Memandangnya kagum sambil mengangkat tangan dan membalas jabatan tangan Baekhyun. Dia pun tersenyum khas dengan lesung di pipinya seraya memperkenalkan dirinya.
"Park Chanyeol."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"LUHAN LARIII!"
Apapun yang terjadi hari ini, pastilah ini hari sialnya.
Karena kurang dari dua belas jam skandalnya dan Kai terbuka untuk publik, maka Luhan sudah menjadi korban bully dari seluruh penggemar fanatik mantan kekasihnya.
"LUHAN CEPAT!"
Yang berteriak tentu saja Minseok, sahabatnya.
Dan teriakan itu sudah berlangsung selama dua puluh menit.
Ya dua puluh menit….
Atau bahkan lebih.
Entahlah…
Karena saat mereka sedang menikmati ramen di kedai favorit mereka maka serangkaian kejadian mengerikan terjadi disana.
Pertama di dalam ramen Luhan terdapat kecoa mati yang sengaja dimasukkan kesana.
Kedua saat Luhan termenung maka seorang remaja menjambak kasar rambutnya dan menjedotkan kepalanya ke meja.
Ketiga seseorang menyiram soju ke wajahnya.
Keempat sepanjang dia berlari maka akan ada satu atau dua orang yang menghalaunya dan
BUGH!
Menghajar wajah dan perutnya.
"LUHAN!"
Membuat Minseok menjerit histeris sementara tiga pria berbadan besar itu terus memukuli Luhan.
Kejadiannya berulang selama dua puluh menit.
Wajah Luhan sudah memar,
pakaiannya sobek,
Lututnya berdarah
Dan hatinya merasa sangat kelelahan.
Dia juga hanya diam saat caci maki hina ditujukan padanya.
"JALANG MURAHAN! BERANI SEKALI KAU MENGGODA KAI!"
"JAUHI DIA ATAU AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUHMU!"
"LEPASKAN LUHAN!"
Sekeras apapun Minseok berteriak maka percuma.
Karena tiga pria berbadan besar yang disewa tiga remaja di bawah umur itu terlihat sangat lapar memukuli Luhan.
Luhan sendiri terus melindungi kepalanya, sesekali dia melihat Minseok dan memberitahu sahabatnya untuk diam dan tak melakukan apapun.
"Lu…astaga-…astaga."
Minseok sudah menangis sejadinya, dia kehabisan cara membuat bajingan itu memukuli Luhan sampai otaknya berfkir cerdas dengan berpura-pura melihat polisi yang sedang bertugas.
"POLISI! TOLONG TEMANKU!"
Sontak tiga remaja itu bergedik takut, tak mengerti harus melakukan apa sampai salah satu diantaranya berlari terlebih dulu.
"Ayo pergi."
"BERHENTI! KITA LANJUTKAN BESOK!"
"TOLONG TEMANKU! DISINI!"
Dan saat tiga troll itu berhenti memukuli Luhan, maka Minseok tak menyia-nyiakan kesempatannya untuk mendekati Luhan.
Begitu sakit melihat memar di wajah sahabatnya sementara Luhan hanya tertawa seperti idiot gila di rumah sakit "Rasanya sudah lama sekali tidak angkat beban." Katanya meracau gila dibalas teriakan kesal dari Minseok.
"APA KAU GILA?"
.
.
.
.
.
.
.
.
"sshh….Jangan menekannya lagi Minnie-ya. Aku bisa gila karena sakit."
Mereka sedang berjalan kembali menuju agensi untuk keperluan masing-masing.
Jika Minseok kembali karena janjinya pada Jongdae, maka Luhan kembali untuk mengambil mobilnya.
Keduanya juga baru selesai membeli antiseptik di apotik terdekat, membersihkan memar di wajahnya dan mengabaikan bagian lututnya yang tergores sangat dalam.
"Mereka bisa membunuhmu!"
Yang lebih tua menggerutu marah, dia juga sengaja berkali-kali menekan antispetik ke wajah Luhan sampai terdengar suara ringisan dari si pria cantik.
"ssh….! Aku bilang jangan-…."
"Direktur."
"huh?"
Saat Minseok membungkuk menyapa seseorang maka celotehan Luhan terhenti.
Dia mengikuti kemana arah Minseok menyapa sampai tak sengaja matanya bertemu dengan mata kekasih sahabatnya, Oh Sehun.
Sehun menatap dingin pada Luhan. Melihatnya dari atas sampai ke bawah dan mempelajari sebanyak apa luka dan memar di tubuh Luhan. Dia bahkan sempat menggeram kesal sampai terdengar suara Luhan yang juga menyapa
"Selamat malam direktur-….."
Diikuti dua penjaganya-…Sehun mengabaikan sapaan Luhan.
Dia bahkan sengaja menabrak kencang bahu Luhan hingga posisi Luhan sedikit mundur karena tubrukan di bahunya cukup keras "sssh…"
"Lu!"
"Aku baik Xiu." Katanya tertawa menyadari bahwa saat ini tak hanya fans fanatik Kai yang menyerangnya namun kekasih sahabatnya juga melakukan hal yang sama.
"ck! Tunggu sampai aku beritahu Baekhyun."
"Lu…"
"Aku pulang dulu. Kau pergilah temui Jongdae."
"Apa kau akan baik-baik saja?"
"Tentu."
Setelahnya Luhan berjalan berlawanan arah dengan Xiumin.
Jika sahabatnya berjalan lurus ke depan, maka dia mengambil arah ke loker kerjanya. Sedikit bergegas menyusuri lorong sepi itu sampai tiba di loker dengan angka 7 yang merupakan lokernya.
Klik…!
Tepat saat Luhan memutar kunci lokernya maka terlihat sesuatu terjatuh dari dalam.
Membuatnya secara refleks melihat ke bawah sebelum
"ARGHHHH….!"
Dia berteriak melihat seekor anak kucing terkapar di bawah sana, leher kucing itu digores keji menggunakan pisau. Membuat kaki Luhan begitu lemas sampai tak sengaja matanya melihat tulisan mengerikan di dalam loker
Die
Die
Die
YOU'LL DIE BITCH!
"tidak…"
Luhan melangkah mundur sesaat. Memperhatikan loker kerjanya yang bersimbah darah sebelum
Huwek…!
Dia tak tahan dengan rasa mualnya.
Kepalanya juga mendadak sakit,
Membuat penglihatannya kabur untuk sesaat sebelum lagi-lagi
Huwek…!
Kepala Luhan berputar hebat, dia bahkan terhuyung nyaris terjatuh jika seseorang tak menangkap tubuh lemasnya.
"Luhan-…"
"syukurlah."
Hal terakhir yang dia ingat sebelum pandangannya kabur adalah wajah dari pria yang belum lama menatap dingin padanya.
Sedikit berterimakasih karena dia tak sendiri di ruang mengerikan ini sampai pandangannya benar-benar gelap dengan tubuhnya yang begitu lemas.
"Terimakasih direktur."
Dan hal terakhir yang dia ucapkan adalah rasa terimakasih pada kekasih sahabatnya.
Berharap saat dia bangun nanti, Sehun sudah membawanya pergi dari lorong mengerikan ini.
"sial!"
Buru-buru Sehun menggendong bridal Luhan.
Bergegas membawa Luhan pergi sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi.
"Direktur Oh."
"BUKA PINTU MOBIL!"
Dua penjaganya pun segera membuka mobil sementara Sehun meletakkan Luhan di samping bangku kemudi. Memasangkan seatbelt pada Luhan sebelum
BLAM…!
"Hubungi dokter Yoon dan minta dia untuk segera datang ke apartementku."
"Baik direktur."
BLAM…!
Bersamaan dengan jawaban anak buahnya maka Sehun segera menyalakan mobilnya dan
BRRM….!
Tak tahu harus membawa Luhan kemana, maka Sehun memutuskan untuk membawa Luhan ke apartementnya-….tempat yang sampai saat ini belum pernah dikunjungi Baekhyun sebelumya.
.
.
.
.
.
.
"Kau yakin dia baik-baik saja hyung?"
Saat dokter bernama Yoon Doo Joon itu datang ke apartment Sehun, maka disaat itu pula seribu pertanyaan Sehun lontarkan berulang kali.
Dan kalimat
Kau yakin dia baik-baik saja?
Sepertinya sudah di dengar puluhan kali oleh dokter muda yang enggan terikat pada rumah sakit mana pun.
Pria yang memiliki usia enam tahun lebih tua dari Sehun itu pun tersenyum, menepuk pundak lebar temannya dan mengerling Sehun sedikit menggoda.
"Siapa dia? Kenapa kau sangat peduli padanya?"
"ish! Jawab aku dan jangan tanya hal lain."
Doojoon pun merapikan alat infus serta peralatan lainnya. Memasukkan kedalam kotak perlengkapannya sebelum mengangguk menenangkan Sehun "Dia sudah baik-baik saja."
"Apa kau yakin?"
"Oh Sehuuun…"
Sehun mengerti nada suara memperingatkan untuknya. Membuat direktur muda itu terkekeh dan bergegas mengantar sang dokter keluar dari kamarnya "araseo aku percaya padamu." Katanya menutup pintu kamar miliknya untuk berbincang sejenak dengan Doojon."
"Lalu bagaimana dengan lukanya yang lain?"
"huh?"
"Kau tahu maksudku hyung."
"ah-…Aku sudah memberikan penghilang rasa sakit, dia bisa tidur nyaman malam ini."
"syukurlah."
Doojoon mengenal Sehun bukan dalam waktu satu atau dua tahun-…Dia mengenal Sehun sudah bertahun-tahun. Dia juga jarang melihat Sehun mengkhawtirkan sesuatu atau bersyukur karena mendengar hal yang membuatnya lega.
Bukan jarang-…Doojoon nyaris tak pernah melihatnya.
Dan saat pria mungil yang berbaring di dalam kamarnya membuat Sehun seperti ini, maka sudah dipastikan bahwa Sehun sangat peduli pada pria berparas cantik di dalam sana.
"Kau menyukainya?"
"yang benar saja!"
"Matamu yang mengatakan."
"hyung! Dia teman kekasihku."
"ah….Rumit sekali."
"ish! Cepat pulang! Aku menyesal menghubungimu."
Doojoon tertawa melihat Sehun bersikap salah tingkah.
Dia juga bisa melihat wajah Sehun terlihat merona.
Membuatnya tak perlu mencari jawaban lebih jauh dan memutuskan untuk segera pergi meninggalkan Sehun bersama pasiennya. "Baiklah aku pergi. Pastikan dia meminum obat saat bangun nanti."
"Baiklah."
Sehun mengantar Doojoon sampai ke depan pintu, membukakan pintu untuk hyungnya dan tersenyum untuk mengantar kepergian Doojoon "Sampai nanti hyung."
"Hubungi aku jika terjadi sesuatu."
"Oke."
"Ah ya-….Aku perlu mengatakan sesuatu Sehunna."
"Apa?"
"Aku rasa daripada sakit di tubuhnya, temanmu memiliki luka yang lebih parah pada mentalnya."
"huh?"
"Dia cenderung tegang saat aku memeriksa denyut nadi atau memegang bagian tubuhnya yang lain, seperti menolak disentuh karena takut merasa sakit."
"Apa itu berbahaya?"
"Tidak sama sekali, hanya saja itu akan mempengaruhi sikapnya pada kebanyakan orang. Dia akan mendapat lebih banyak hujatan jika bersikap seperti itu."
Sehun tersenyum miris sebelum mengusak kasar wajahnya "Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Buat dia merasa nyaman dan temani dia disaat dia takut."
"Jika itu tidak berhasil?"
Doojoon memakai sepatunya sesaat. Merapikan pakaiannya dan dengan berat hati menjawab pertanyaan Sehun "Kau harus membawanya ke psikiater."
"….."
"Aku pergi Sehunna."
"hmmh…Hati-hati hyung."
Sehun tersadar dari lamunannya. Sedikit melambai pada Doojon sebelum menutup pintu apartementnya.
"haah-….Apa yang harus aku katakan pada Baekhyun." Katanya lirih sebelum
Cklek..!
Sehun kembali masuk ke dalam kamarnya, memeriksa cairan infus di tubuh Luhan sampai tak sengaja matanya mengagumi sosok sempurna seorang Xi Luhan.
Feromon yang dimiliki Luhan bahkan menguar kuat disaat matanya terpejam. Membuat lagi-lagi Sehun harus mengakui betapa mempesonanya Luhan sampai terdengar suara Luhan meracau dalam tidurnya
"rrh..jangan-….…jangan…"
"ssttt…."
Secara refleks pula Sehun segera mengambil tempat di samping Luhan.
Sesaat ragu untuk mengusap kening Luhan karena takut mengganggu tidurnya.
"rrhh…jangan..jangaaan"
"Sstt Lu tenanglah."
Ketika tangannya menyentuh kening Luhan-….Sehun bisa merasakan tubuh Luhan menegang untuk sesaat. Membenarkan ucapan Doojoon bahwa Luhan sedikit sensitif pada sesuatu yang menyentuh tubuhnya.
Namun perlahan Sehun terus mengusap kening tersebut.
Terus mengusapnya lembut sampai nafas Luhan kembali teratur.
Dia bahkan enggan melepas usapan tersebut jika nyatanya bisa membuat Luhan tenang.
Membuat matanya semakin terkunci pada sosok Luhan yang sangat terlihat hancur di dalam.
"Hey kau tidak separah itu kan Lu? Kau tidak terlalu hancur kan?"
Sehun terus mengusap lembut kening Luhan.
Terus mengusapnya sampai rasanya dia terhipnotis dengan wajah Luhan, pesonanya, kesempurnaan Luhan.
"Aku tahu ini salah."
Sehun mengakui kesalahannya. Namun yang dia lakukan berbanding terbalik dengan ucapannya. Karena disaat bibirnya mengatakan salah maka tubuhnya bertindak berlawanan,
Perlahan Sehun membungkukan badannya.
Semakin membungkuk
Hingga tanpa sadar bibirnya mengecup sayang kening Luhan.
"Tidurlah Lu."
.
.
.
.
.
.
tobecontinued.
.
.
.
.
*karena sesungguhnya semua karakter disini akan terlihat jahat dengan cara mereka masing2. Ga KS , ga CB bahkan HH sendiri.
.
So sekali lagi jangan baveran, jangan maki2 OTP…;jangan kebawa "kata orang"
.
.
Seeyuu…
:*
