Previous
"Aku tahu ini salah."
Sehun mengakui kesalahannya. Namun yang dia lakukan berbanding terbalik dengan ucapannya. Karena disaat bibirnya mengatakan salah maka tubuhnya bertindak berlawanan,
Perlahan Sehun membungkukan badannya.
Semakin membungkuk
Hingga tanpa sadar bibirnya mengecup sayang kening Luhan.
"Tidurlah Lu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A' Friends Betrayal
Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo
Support cast :bermunculan sesuai kebutuhan
Genre : Drama
Rate : M / NC!/
.
.
.
.
.
Paris, 22.30 PM
.
.
"Jadi bagaimana? Menyenangkan memiliki kekasih seorang public figur?"
Jika waktu di Paris hampir menuju tengah malam, maka dua pria yang mulai merasa cocok sebagai "teman" mengobrol itu terlihat tak peduli, tak ada rasa lelah, dan sepertinya dua pemuda itu terlihat sangat nyaman dan sama sekali tak memiliki kesulitan berarti untuk menyesuaikan diri dengan waktu berbeda antara Seoul-Paris.
Tak ada istilah jet lag untuk keduanya,
Yang ada hanya rasa penasaran tentang kehidupan masing-masing hingga tak sadar menimbulkan daya tarik sendiri untuk keduanya.
"Begitulah."
Yang ditanya menyesap pelan kopi hitam miliknya, sedikit melirik Baekhyun lalu tersenyum pahit sepahit kopi hitamnya "Mengingat sahabatmu juga menjalin hubungan dengan publik figur, aku rasa kau tahu jawabannya."
Kali ini Baekhyun yang tersenyum pahit. Sedikit menatap wajah sahabat kekasihnya sebelum bergumam sangat pelan "Rumit."
"Kau benar, Rumit."
Tak ada lagi yang bersuara setelah itu, keduanya hanya diam menikmati udara di kota Paris sampai diam-diam mata kecil Baekhyun melirik ke sosok tampan berlesung pipi disampingnya.
Sedikit mempelajari wajah Chanyeol sampai hatinya mencelos sakit melihat bagaimana Chanyeol juga memiliki luka yang sama dengan Luhan di wajahnya.
Wajar rasanya jika Baekhyun sangat peduli saat Luhan terluka.
Tapi apakah wajar jika dia juga memiliki rasa peduli pada Chanyeol? Pada pria yang baru saja dikenalnya selama beberapa jam?
Ini gila…
Tapi Baekhyun bisa merasakan rasa pedulinya untuk Chanyeol bahkan lebih besar dari rasa pedulinya untuk Luhan. Rasa peduli yang berubah menjadi cemas saat melihat dua mata itu hanya menatap kosong ke gelapnya malam di depan mereka.
Membuat Baekhyun secara refleks ingin menenangkan Chanyeol namun terlambat karena nyatanya si pria berbadan besar di sampingnya tengah menggeser kursi dan mengulurkan tangannya di depan wajah Baekhyun.
"Ada apa?" tanya Baekhyun mengerjap lucu. Merasa tak mengerti untuk apa uluran tangan Chanyeol sebelum pria berbadan besar di depannya tersenyum sangat bodoh "Aku ingin menculikmu."
"huh?"
"Bercanda, aku akan mengantarmu ke hotel."
"Apa kau sudah lelah?"
Chanyeol menggeleng dengan cepat "Kau yang lelah" katanya tersenyum sangat tampan hingga dua lesung pipinya terlihat sangat menyenangkan di mata Baekhyun.
"Aku kira kita akan mengobrol seharian."
"Kita masih memiliki tiga minggu bersama di Paris, jadi lakukan esok setelah kau beristirahat."
Baekhyun menimbang-nimbang perkataan Chanyeol, merasa enggan untuk kembali ke hotel namun tak memiliki alasan untuk meminta mereka bersama lebih lama "Baiklah."
Dan pada akhirnya Baekhyun menerima uluran tangan Chanyeol.
Sedikit kaku, tapi rasanya hangat.
Dan berbeda dari genggaman tangan Sehun, maka milik Chanyeol bisa membuat jantungnya berdebar, dan Baekhyun menyukainya.
"Apa kau merasa terganggu?"
"Terganggu?"
Chanyeol menunjukkan tangannya yang menggenggam tangan Baekhyun, sedikit merasa tak enak hati karena melampiaskan rasa rindunya pada Baekhyun yang terlihat sangat berbeda dari yang dipikirnya sejak pertemuan pertama mereka. "Aku menggenggam tanganmu. Apa kau merasa terganggu?"
Biasanya dia tidak suka jika Sehun membuat tangannya terlihat kecil saat digenggam, tapi melihat bagaimana tangannya hilang digenggaman Chanyeol, dia tersenyum.
Tekstur kasar dan hangat tangan Chanyeol juga berbeda dengan milik Sehun yang halus dan terkadang sangat dingin, membuat Baekhyun diam-diam tersenyum lalu membalas genggaman erat tangan Chanyeol "Aku tidak merasa terganggu."
"Baguslah."
"Tapi jangan salah paham, aku hanya membiarkanmu kali ini karena kau sedang patah hati."
Chanyeol terkekeh mendengar betapa menggemaskannya Baekhyun.
Ingin sekali rasanya dia membalas celotehan Baekhyun namun ia urungkan mengingat ucapan Sehun yang mengatakan "kekasihku agak sensitif dengan selera humornya. Jangan membuatnya kesal karena leluconmu. Oke?"
"Lagipula aku rasa tangan Kyungsoo tak senyaman tanganku kan?"
"Oh Sehun kekasihmu benar-benar menakjubkan."
"Aku ini pandai membaca karakter seseorang. Rasanya aku ingin berpindah profesi menjadi tukang ramal."
Chanyeol hanya diam sementara Baekhyun terus berbicara, sesekali ucapannya sudah tidak masuk akal namun Chanyeol membiarkannya.
Kenapa sangat menggemaskan?
Begitulah pikiran gila Chanyeol saat ini, membiarkan kekasihnya sahabat terus meracau sampai tak sadar mereka sudah berada di depan kamar Baekhyun saat ini "Ini kamarmu?"
"hmmh…Dimana kamarmu?"
"Masih lima belas lantai dari milikmu."
"Kenapa jauh sekali?"
"entahlah. Mungkin aku tidak masuk daftar designer."
Klik…!
Pintu hotel Baekhyun terbuka, membuatnya bergegas masuk disusul Chanyeol yang entah mengapa masih terlihat sedih.
"Sampai besok Baekhyunna."
"Kau memanggilku apa?"
"ah-…Maksudku Baekhyun-ssi." Katanya mengoreksi namun ditolak keras oleh si pemilik nama "Aku ingin mendengar yang awal."
"huh?"
"Namaku. Bagaimana kau memanggil namaku?"
"Baek? Baekhyunna?"
"Aku suka. Panggil seperti itu saja."
"Benar tak masalah?"
Baekhyun menunjukkan sederetan giginya lalu tertawa sangat senang "Tentu saja."
"Baiklah…"
Kemudian Chanyeol memegang pintu Baekhyun, berniat menutupnya sebelum berpamitan pada Baekhyun "Kalau begitu selamat tidur-….Baekhyunna."
"Kau juga Yeolie…mmhh..Bolehkan aku memanggil nama kecilmu?"
Rasanya sangat menyenangkan saat Baekhyun memanggil nama kecilnya. Chanyeol bahkan tak bisa memungkiri degupan jantungnya saat mendengar suara Baekhyun sebelum mengangguk mengijinkan "Tentu saja. Kalau begitu aku pamit."
Dan saat pintu hotel itu akan tertutup, maka rasa tak rela berpisah dirasakan keduanya.
Hati Baekhyun seolah marah pada dirinya karena membiarkan Chanyeol pergi, membuatnya secara refleks kembali membuka pintu sebelum melakukan hal -sangat gila- pada teman kekasihnya.
"YEOL!"
Yang dipanggil menghentikan langkah kakinya.
Begitu resah karena suara Baekhyun terdengar sangat berharap, sampai tubuhnya berbalik dan menemukan Baekhyun sangat menggemaskan sedang menggigit bibirnya dengan tangan yang disembunyikan di belakang tubuh.
"Ada apa Baek?"
Chanyeol menahan mati-matian entah letupan apa yang sedang dirasakan birahinya. Berusaha untuk tetap berfikiran normal dan meyakinkan dirinya bahwa disana, tepat di depan kedua matanya, pria cantik yang membuat malamnya begitu indah hanya dalam beberapa jam adalah kekasih sahabatnya.
Dia terus memiliki pikiran itu agar tak melakukan hal gila bersama teman barunya, kekasih sahabatnya
Sampai…..
"Kau bisa bermalam di tempatku jika mau."
Sampai akhirnya Baekhyun meruntuhkan semua pertahanan teman di antara mereka.
Status teman yang seolah tak mungkin untuk dua orang pria yang bersama di negara asing.
Chanyeol mencari manik mata kecil milik Baekhyun, memastikan bahwa dia tak salah mendengar sampai senyum Baekhyun menjelaskan segalanya.
"Jika kau tak keberatan kau bisa-…."
Nghmphhh…
Habis sudah kesabaran Chanyeol untuk bertahan sebagai pria normal, sudah lama dia tak merasakan letupan gairah seperti malam ini.
Dan saat dia berlari menghampiri Baekhyun-…Maka tak kuasa lagi dia memendam semua rasa putus asa, rasa rindunya pada sentuhan hangat seseorang, dia juga melupakan bagaimana nanti dia akan memandang wajah Sehun atau apa yang akan terjadi pada mereka setelah ini.
Chanyeol putus asa dan Baekhyun ada untuknya.
"nghmphhh…"
BLAM!
Chanyeol menendang kasar pintu hotel Baekhyun.
Memojokkan si pemilik kamar ke dinding dan menciumi begitu nafsu pria yang diam-diam ia perhatikan sejak malam itu, malam dimana Sehun mengatakan Baekhyun adalah-…kekasihnya.
Tak sabar Chanyeol melucuti kemeja casual Baekhyun, mengusap
"nggh—aakh!"
Dan berbeda dengan Sehun yang selalu bermain lembut, maka Baekhyun menemukan gairahnya yang lain bersama Chanyeol –kasar dan begitu menuntut- sesuatu yang diam-diam Baekhyun inginkan saat bersama dengan Sehun di tempat tidur.
Namun sayang, Sehun adalah seseorang yang begitu lembut di tempat tidur, membuat Baekhyun terkadang membayangkan bisa bercinta secara kasar namun nikmat hingga mimpinya terjawab malam ini.
"yeolie!—nghpmmh!"
Dia membiarkan pria asing menyentuhnya, menjamahnya dan paling buruk Baekhyun membiarkan pria asing ini menyatukan diri dengan tubuhnya.
Merasakan perih saat kejantanan Chanyeol memaksa masuk ke lubangnya hingga akhirnya terdengar derit lirih dari tempat tidurnya saat ini.
"akh—akh—nghmphh!"
Baekhyun dan Chanyeol seolah tak mempedulikan apa yang akan terjadi setelah perbuatan hina ini mereka lakukan, membiarkan tubuh mereka bergerak seirama menjemput nikmat duniawi.
Terlalu nikmat hingga tanpa sadar mereka melebur bersama dosa saat tubuh mereka menyatu.
"Baek—nghhmph!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seoul. 04.00 am
.
.
.
.
"rrhhh…"
Hal pertama yang dia rasakan saat menggerakan tubuh adalah sakit.
"rhhh…"
Lalu ringisan itu semakin terdengar tatkala tangan kiri yang dipasang infus di paksa dia gerakan.
"jangan….jangan…JANGAN!"
Lalu setelah semua kesadaran coba dia dapatkan, maka hanya mimpi buruk yang lebih dulu menyapa. Membuat keringat di wajahnya semakin banyak dengan rasa mual hebat saat kedua matanya membuka.
"nghh…"
Luhan –nama pria cantik itu— terlihat mengerjapkan mata.
Membiasakan diri dengan redupnya cahaya sampai dahinya mengernyit menyadari bahwa dia berada di ruangan yang sangat asing untuknya.
"apa yang terjadi?"
Sesaat tangannya yang bebas memegang kepalanya yang begitu sakit, mencoba untuk mengingat apa yang terjadi sampai wajah pria terakhir yang ia lihat terlintas di ingatannya.
"direktur…!"
Cklek…!
Bersamaan dengan kembalinya kesadaran Luhan, maka secara kebetulan, Sehun –pria yang disapa direktur- masuk kedalam ruang kamarnya.
Membawa nampan yang berisikan makanan dan obat untuk Luhan seraya tersenyum menyapa pegawainya. "Kau bangun?"
Luhan berusaha untuk menyapa Sehun.
Namun sial-…Seluruh tubuhnya mati rasa hingga sulit digerakkan.
Membuat Sehun hanya tersenyum dengan meletakkan nampan di sisi tempat tidur miliknya "Kau belum diperbolehkan bergerak Lu, tidurlah."
"Tapi dimana saya? Apa yang terjadi?"
"Kau pingsan. Dan mengingat tak ada keluarga yang bisa kuhubungi maka aku memutuskan untuk membawamu ke apartemenku."
Luhan mulai terbiasa dengan rasa sakitnya, matanya juga diam-diam melirik apartement mewah milik Sehun lalu tersenyum lirih menyadari kesalahannya "Maaf aku merepotkanmu direktur. Aku akan segera pergi."
"Aku akan mengantarmu pulang besok pagi. Jadi kau bisa tidur disini malam ini."
Luhan merespon dengan mata terpejam, tersenyum berterimakasih sebelum suara Sehun kembali terdengar "Makanlah sedikit. Kau pasti lapar."
"Aku tidak lapar direktur. Terimakasih-…."
Kriuk….
Dan saat perutnya menghianati bibirnya, maka hanya kerutan kening yang terlihat di wajah Sehun saat menahan tawa, Luhan bahkan bisa melihat derp face atasannya, membiarkan rasa malu dia rasakan lalu tak lama mendesah frustasi.
"Kau lapar Luhan."
"y-ya. Aku lapar direktur."
Sementara Sehun mengambil bubur dari nampan, maka Luhan berusaha bersandar di tepi tempat tidur, merasa sangat kesulitan karena sangat lemas namun menggerutu mengingat perutnya sangat kelaparan "Tidak perlu bangun."
"Aku bisa."
Dan lagi, keras kepalanya hanya membuahkan rasa malu yang lain. Karena nyatanya dia sama sekali tak bisa menggerakan tubuh, jangankan untuk mengangkat sendok, mennopan dirinya sendiri saja dia tak mampu.
Membuat Sehun kembali terkekeh dan begitu takjub melihat seseorang yang begitu keras kepala itu memang ada dunia ini "Bilang aaaa…"
"Tidak perlu direktur. Sungguh."
Padahal dia sangat tergoda untuk memakan bubur yang disuapkan Sehun, namun karena alasan status karyawan-direktur, Luhan kemudian memiliki rasa canggung yang sangat besar, membuat lagi-lagi Sehun terkekeh lalu dengan paksa menyodorkan sendoknya ke bibir mungil si pria cantik.
"Kumohon Luhan, aku juga lelah. Makanlah agar kita bisa sama-sama beristirahat."
"Tapi direktur-…."
"Aku Sehun bukan direktur, jadi jangan cemas. Jika kau terus keras kepala aku tak segan memotong gaji-…."
Mmmh…
Satu gerakan cepat Luhan menyambar bubur di suapan Sehun, melahapnya rakus hingga sendokan kedua Sehun siapkan saat ini.
Setidaknya dia memiliki dua alasan mengapa menyambar lahap bubur yang disuapkan Sehun,
Pertama karena Sehun menyinggung soal memotong gaji,
Kedua karena dia memang lapar.
Dan terimakasih pada Sehun karena terlalu baik dan terlalu sabar menghadapi sifat keras kepala miliknya, karena jika itu Kai atau Baekhyun sekalipun, maka sudah dipastikan dia harus makan dengan usahanya sendiri.
"Buka mulutmu."
Luhan tanpa ragu membuka mulutnya lagi.
Terlalu buru-buru hingga menyisakan sisa di bibirnya.
"Kenapa semua pria cantik cenderung ceroboh?"
"huh?"
Dan saat Sehun menyentuh sudut bibirnya-…Tubuh Luhan secara refleks tegang karena takut. Sehun bahka sedikit tercengang mengingat ucapan Doojoon tentang sentuhan di tubuh Luhan benar adanya.
Luhan akan memberikan respon berlebihan saat tubuhnya disentuh secara mendadak, membuatnya berpura-pura tidak menyadari ketakutan Luhan sebelum kembali tersenyum pada Luhan.
"Baekhyun juga selalu menyisakan makanan di sudut bibirnya."
Sehun terus mengusap perlahan sudut bibir Luhan, sengaja membuat Luhan terbiasa sampai akhirnya tubuh si mungil berangsur normal tak lagi takut pada sentuhannya "Sudah lebih baik?"
Sebenarnya Luhan bingung dengan pertanyaan sudah lebih baik dari Sehun, namun saat Sehun tersenyum padanya maka secara refleks pula Luhan mengangguk sebagai jawaban.
"Sudah jauh lebih baik direktur."
"Kalau begitu kau harus segera tidur."
Luhan mengangguk sebagai jawaban "Aku akan melakukannya direktur."
"Kalau begitu selamat malam." Katanya membantu Luhan berbaring lalu menarik selimut tebalnya sampai ke dagu. Membuat Luhan merasa sangat nyaman sampai sesuatu mengganggu dirinya.
"Anda akan tidur dimana direktur?"
"Aku bisa tidur dimanapun."
"Tapi aku rasa apartement ini hanya memiliki satu tempat tidur."
"Aku akan tidur di sofa kalau begitu."
Buru-buru Luhan berusaha bangun sebelum tangan besar Sehun menahan dan memaksanya kembali berbaring. Luhan juga bisa menangkap raut memperingatkan dari Sehun yang sepertinya kesal pada dirinya. "Tidurlah."
"Tapi bagaimana dengan anda?"
"Aku biasa tidur di sofa nyaman milikku. Jadi berhenti bertanya, oke?"
Merasa tak memiliki jawaban lain-…Luhan diam.
Dia pun mengangguk mengerti dibalas senyum lega oleh Sehun
"Aku akan segera keluar."
"hmm…" katanya menjawab seraya membiarkan Sehun pergi. Memperhatikan bagaimana si pemilik punggung kokoh itu begitu peduli padanya hingga diam-diam tersenyum sampai sesuatu baru Luhan sadari.
"Direktur!"
Sehun sudah memegang pintu kamarnya, berniat untuk pergi sebelum suara Luhan kembali terdengar "Direktur!"
"Ada apa?"
"Apa kau sudah menghubungi Baekhyun?"
Benar! Baekiku…
Sehun menggerutu kecil dihatinya, dia bahkan mengutuk dirinya sendiri karena melupakan Baekhyun yang kini berada di negara asing untuk kali pertama. Terlalu mencemaskan Luhan hingga dia lupa bahwa Baekhyun –kekasihnya- mungkin sedang menunggu panggilan darinya.
"Aku akan segera menghubunginya."
"Tolong jangan beritahu Baekhyun apa yang terjadi padaku."
Sehun diam menimbang permintaan Luhan, menebak apakah diam adalah hal terbaik atau justru membuat Luhan semakin dalam posisi sulit. "Bagaimana jika dia sudah tahu?"
"Hanya katakan padanya aku baik-baik saja, kumohon."
"Baiklah. Sekarang cepat pergi tidur."
"Terimakasih direktur Oh."
Blam….!
Setidaknya saat Sehun menutup pintu dia tahu Baekhyun tidak akan mengetahui apa yang terjadi padanya. Membuatnya sedikit lega sebelum akhirnya menyerah dengan rasa kantuknya. Perlahan matanya terpejam lalu tak lama kemudian Luhan sudah benar-benar tidur ditempat asing yang terasa begitu nyaman seperti rumah.
.
.
.
.
.
Drrt…drrt…
Hal yang membuat Baekhyun cemas sedari tadi adalah ponselnya.
Dan benar saja saat ponselnya bergetar dengan nama Sehunnie, maka hanya ada kecemasan luar biasa mengingat hal gila yang telah dia lakukan dengan sahabat Sehun, pria yang kini memeluk dan mendekapnya erat.
Dan ratusan kali dia mencoba melepas dekapan Chanyeol, maka beratus kali pula dekapan Chanyeol semakin erat seiring dengan gerakan yang dia buat.
Membuatnya menoleh pria tampan yang berada di belakang punggungnya sebelum
Sret…!
"Hey sayang. Apa aku mengganggumu?"
"Sehun…"
"hmm? Ada apa? Kau terdengar lelah."
"Sungguh tidak."
Berkaitan dengan vitalitasnya disinggung, maka secepat kilat Baekhyun mengelak. Dia pun kembali mendorong tubuh polos Chanyeol yang mendekapnya erat sebelum menyerah karena Chanyeol tak melepaskan pelukannya.
"Baek apa kau senang disana?"
Suara Sehun terdengar sangat lembut, kekasihnya bahkan tak lupa untuk bertanya bagaimana perasaannya saat ini. Membuat Baekhyun sedikit tercengang hingga tanpa sadar matanya berkaca-kaca begitu menyesal dengan penghianatan yang dilakukannya.
"Sayang?"
"Aku senang Sehun. Tapi aku lebih senang jika bersamamu."
Bohong memang, nyatanya Baekhyun tidak terlalu menyesali hal gila yang dilakukannya bersama Chanyeol. Nyatanya Baekhyun rela berakhir di pelukan nyaman sahabat kekasihnya,
Dan saat lagi-lagi hatinya menghianati ucapan-….Maka Baekhyun hanya bisa menangisi betapa malang nasib Sehun karena hal gila yang dia lakukan bersama Chanyeol, sahabatnya.
"Lain kali kita akan kesana bersama."
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"gomawo Sehunna."
Di Seoul-….Tepatnya di depan kamar miliknya, Sehun sedang memperhatikan bagaimana Luhan tertidur dengan nyaman. Dan selagi matanya memperhatikan sosok mungil Luhan maka dia bisa mendengar suara Baekhyun terdengar lirih.
Lelah mungkin.
Itu adalah pikiran Sehun, membuatnya sedikit tersenyum lalu mencoba mengerti jadwal sibuk kekasihnya. "Sayang pergilah tidur."
"….."
"Baek.?"
"Aku merindukanmu Sehunna."
Sehun terdiam sesaat.
Nyatanya saat sang kekasih mengatakan rindu, dia sedang sibuk memperhatikan pria cantik lain yang kini berbaring di tempat tidurnya.
Membuat Sehun merasa sedikit bersalah sebelum meyakinkan diri bahwa dia memiliki alasan untuk membawa Luhan ke tempatnya, Berharap Baekhyun akan mengerti suatu hari nanti seraya tersenyum untuk menjawab
"Aku juga merindukanmu Baek."
Tak ada yang berbicara setelah rasa rindu dilontarkan keduanya, merasa kali ini ucapan rindu mereka terasa hambar tak seperti biasa.
"Kau tahu aku mencintaimu kan?"
Baekhyun diam lalu tak lama menjawab sangat pelan "Aku tahu."
Yang tidak Sehun ketahui-…. malam ini, saat ini-….Baekhyun sedang bersandar nyaman di pelukan pria lain, sahabatnya.
Dan yang tidak Baekhyun ketahui-…. malam ini, saat ini-….Pikiran dan pandangan Sehun sedang dipenuhi pria lain, sahabatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi bagaimana keadaan Luhan?"
"Ini akan sedikit sakit."
Dua suara itu kini memenuhi kamar super luas untuk ukuran sebuah apartemet, membuat satu-satunya pria cantik hanya diam merasa begitu canggung berada di antara orang asing untuknya.
Tidak asing memang, hanya saja mereka tidak cukup dekat untuk mengkhawatirkan satu sama lain seperti saat ini.
"Hyung jawab aku!"
"Oh Sehun bisakah kau diam?" katanya memperingatkan Sehun lalu kembali fokus pada Luhan sebelum
Sret..!
"rrh!"
Saat jarum infus itu dicabut paksa dari kulitnya maka hanya ringisan kecil yang Luhan keluarkan, selebihnya sang dokter hanya membuang bekas jarum lalu menatap Luhan cukup lama "Namamu Luhan?"
"Y-ya."
"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?"
"Tentu saja."
Yoon Doojoon –dokter yang menangani Luhan- terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, secarik kertas yang entah berisi apa lalu menunjukkannya pada Luhan "Malam tadi aku mengambil darahmu sebagai sampel. Dan hasilnya tidak begitu baik. Apa kau mengkonsumsi semacam obat rutin?"
Luhan bergerak resah di tempat tidurnya, memperhatikan raut wajah Sehun yang kini ikut mendengarkan sebelum mengangguk sebagai jawaban "Ya. Aku mengkonsumsi obat rutin."
"Apa itu semacam penenang?"
"hyung apa maksudmu?"
Tangannya yang terlipat di atas dada tiba-tiba resah, Sehun bahkan sekilas mengepalkan tangannya untuk meminta penjelasan pada Doojon "Aku hanya menebak Sehunna."
"Itu bukan penenang. Aku mengkonsumsi aspirin, semacam penghilang rasa sakit di kepala."
Dan saat Luhan memberi pernyataan maka dua pria di depannya mendengarkan dengan seksama, membuatnya kembali merasa canggung namun dia sembunyikan lagi lewat senyumnya "Itu resep dari dokterku."
"Kau diawasi?"
"Ya tentu saja. Baekhyun yang selalu mengawasiku."
"Baekhyun?"
"Kekasihku / sahabatku."
Sehun dan Luhan cukup tercengang saat menyebut siapa Baekhyun bersamaan, membuat Doojon tertawa kecil lalu tak lama menggoda menatap Sehun "ah-…Pantas saja rumit. Iya kan Sehunna?"
"huh?"
Sehun salah tingkah dengan tatapan Doojoon, matanya juga tak sengaja menatap mata Luhan sebelum suara dokter sialan di depannya kembali terdengar "Lupakan." Doojon dengan mudah menghiraukan Sehun lalu kembali menatap Luhan "Baguslah jika ada yang mengawasi, kau memiliki sensitifitas pada ginjal, jadi sebaiknya berhenti minum obat jika tidak perlu."
Luhan mengangguk sebagai jawaban dibalas senyum tampan dari sang dokter "Nah…Kau sudah jauh lebih baik walau harus membutuhkan banyak istirahat."
"Terimakasih dokter Yoon."
"Terimakasih pada adikku."
Luhan tanpa ragu membungkukan tubuhnya dengan senyum terbaik yang ia miliki "Terimakasih direktur."
"Aku akan mengantar hyungku lebih dulu. Jangan bergerak dari tempat tidur sebelum aku kembali, oke?"
"Oke."
"ck! Proktektif sekali. Ingat dia sahabat kekasihmu."
"Astaga Yoon Doojon mulutmu!"
Dengan gemas Sehun menyeret kemeja Doojoon keluar dari kamarnya.
Meninggalkan Luhan yang masih diam sampai tak sengaja bibirnya tersenyum simpul karena ucapan yang baru saja Doojoon katakan.
"kenapa aku tersenyum?"
.
.
.
.
.
Cklek…!
"Kau mau pergi kemana?"
Dan saat Sehun kembali ke kamar, maka pemandangan Luhan merapikan seluruh barangnya adalah hal yang membuatnya kesal, tanpa sadar suaranya menjadi tinggi hingga tubuh Luhan sedikit tersentak karenanya.
Luhan menatap Sehun secara refleks, sedikit menghentikan kegiatannya memasukkan seluruh barang ke dalam tas untuk menyapa atasannya "Direktur."
"Aku tanya kau mau pergi kemana?"
Tangannya kembali terlipat di atas dada, menunggu jawaban dari pria cantik yang wajahnya masih sangat pucat dan membuatnya geram tanpa alasan "Aku akan beristirahat di apartement."
"Baekhyun tidak ada di apartement. Jadi lebih baik kau beristirahat disini."
Luhan menggeleng cepat dengan pernyataan Sehun, menatap sendu si pria tampan dengan bibirnya yang tergigit kencang "Aku akan pulang ke apartementku sendiri direktur."
"Apa maksudmu?"
"Mengingat banyak hal mengerikan terjadi padaku, aku rasa kembali ke apartement Baekhyun bukan pilihan bagus, aku takut mereka juga mengganggu Baeki kita."
Sehun mendengarkan penjelasan Luhan dengan hati gusar.
Entah mengapa rasanya salah membiarkan Luhan seorang diri sementara hidupnya dipenuhi teror yang sangat mengerikan. Namun kembali lagi pada status keduanya yang tidak pantas untuk merasa cemas satu sama lain, maka Sehun mengalah.
Dia hanya menanggap seperlunya ucapan Luhan lalu memastikan satu hal yang paling benar saat ini "Apa kau yakin?"
"Kembali ke apartementku?"
"hmm.. Apa kau yakin?"
"Ya direktur. Aku yakin."
"haah…Bisakah kita pergi kesana malam nanti?"
"Aku harus ke agensi lebih dulu-…"
"Sekali saja!"
Luhan tersentak saat Sehun tiba-tiba berteriak gusar. Membuat matanya memperhatikan kekasih Baekhyun sampai akhirnya Sehun berhasil menguasai dirinya sendiri "Sekali saja jangan membantahku. Dengar?"
"huh?"
"Aku akan mengantarmu ke agensi dan kau akan pulang denganku ke apartement malam nanti. Dengar?"
Entah ini permintaan atau perintah-….Luhan tidak mengerti.
Tapi saat Sehun terdengar begitu peduli padanya-…Dia senang.
Bibir mungilnya juga menarik senyum sangat cantik.
Terlihat ragu sesaat namun dihilangkannya untuk menjawab "Ya direktur aku dengar."
"BAGUS!"
Terlalu senang Sehun berteriak berlebihan, membuat keadaan menjadi canggung dengan mata keduanya saling menatap. "Maksudku sangat bagus. Kau sebaiknya membersihkan badan, aku akan menyiapkan sarapan untukmu."
Luhan mengangguk kaku menjawab Sehun, sedikit tertawa lalu buru-buru mengambil handuk bersih yang telah disiapkan kekasih sahabatnya "Baik direktur, terimakasih."
"Tidak perlu. Aku tunggu di luar."
Sehun menjawab cepat lalu tak lama berlari ke luar kamar seraya memegang kencang dadanya yang berdegup sangat cepat "sial! Kenapa sangat berdebar."
.
.
.
.
.
.
.
.
Selesai membersihkan tubuh, Luhan bergegas keluar dari kamar.
Berniat untuk membantu Sehun menyiapkan sarapan sebelum dahinya mengernyit menyadari bahwa tak ada seorang pun di apartemen mewah milik Sehun saat ini.
"Direktur?"
"….."
Tak ada jawaban.
Dapur di apartement juga terlihat bersih seperti tak digunakan.
Membuat Luhan sedikit mengangkat bahunya sebelum menyadari bahwa sepertinya Sehun sedang pergi keluar. "Sebenarnya dia kemana?"
Sesaat bibirnya bertanya bingung namun ketika matanya menangkap serangkaian foto di rumah Sehun, dia tersenyum.
Perlahan dia menyusuri koridor khsusus foto yang disapkan Sehun, berniat untuk mencari foto Sehun dan Baekhyun sebelum tersenyum mengenali wajah pria tua yang terlihat sangat mirip dengan Sehun "Ketua Oh."
Luhan bergumam mengenali direktur pertamanya sebelum Sehun.
Pria tua yang kerap kali memarahinya dan suka membentaknya adalah atasan terbaik yang pernah Luhan miliki.
Dari beliau Luhan belajar berbagai hal, salah satunya adalah mengasah sense miliknya dalam mencari bakat.
Dari beliau Luhan juga belajar menghargai artis,memperlakukan mereka selayaknya manusia bukan seperti robot pencari uang.
Membuatnya tersenyum rindu dan tanpa sadar membungkuk hormat pada foto kecil yang dimiliki Sehun saat ini "Semoga anda selalu sehat Ketua Oh. Terimakasih untuk segalanya." Katanya bergumam kecil sebelum beralih ke foto yang lain.
Foto yang menunjukkan pemandangan hingga teman-teman Sehun. "Baekiku kau dimana?" katanya menyusuri berbagai macam foto pajangan Sehun namun nihil-….Luhan tidak menemukan satupun foto Sehun dengan Baekhyun.
Dia bahkan mengulang menyusuri berbagai foto yang dipajang Sehun sebelum
Cklek…!
Luhan tersentak kecil saat pintu terbuka. "Direktur?" buru-buru dia menyapa Sehun dibalas tatapan lembut milik atasannya.
"Maaf menunggu. Aku baru selesai membeli sarapan. Duduklah kita makan bersama."
Luhan pun mengekori Sehun ke meja makan, lebih memilih untuk mengisi perut daripada harus menjawab pertanyaan atasannya.
"whoaa…"
"Ada apa?"
"Apa itu pangsit rebus?"
Sehun menuangkan sebungkus pangsit yang membuat bola mata Luhan nyaris keluar lalu tertawa sangat gemas "Ya ini pangsit rebus."
"daebak! Aku dan Baekhyun tidak pernah mendapatkan pangsit rebus di pagi hari."
"Itu karena kalian bangun sekitar jam dua siang."
Luhan menggaruk tengkuknya salah tingkah,
Hal berikut yang dia lakukan adalah memalingkan wajah dengan Sehun yang sibuk mengambilkan makanan untuk Luhan.
"Nah sudah boleh dimakan."
Malu-malu dia melirik pangsit rebus yang begitu menggoda di depannya. Sedikit ragu untuk melahapnya sampai tak sadar tangan Sehun sudah mengarah ke depan mulut dan memintanya untuk membuka mulut "Bilang aaa…"
Glup…!
Terlalu kaget, Luhan menenggak air liurnya.
Antara tergoda karena pangsit rebusnya atau karena Sehun yang selalu membuat jantungnya berdegup sangat kencang.
"Aku bisa sendiri direktur."
"Aku tahu. Tapi satu pangsit ini biar aku yang menyuapi."
Luhan menatap takut aura dingin Sehun, sangat ragu pada awalnya sebelum bibirnya kembali menghianati dirinya sendiri.
"aaa…"
Saat Sehun memaksa, Luhan dengan senang hati membuka mulutnya.
Melahap pangsit pemberian Sehun lalu mengunyahnya dalam hitungan detik "Bagaimana?"
"ngmph…Wow!-…mmhh."
Sementara Luhan sibuk mengunyah pangsit rebus, maka Sehun merasa perutnya penuh melihat bagaimana cara Luhan menghabiskan makanan. Membuatnya tersenyum sangat puas dengan tangan terlipat di depan dadanya "Habiskan."
"eoh!"
Layaknya bocah lima tahun yang mendapatkan makanan, maka mata rusa Luhan membulat heboh. Dia bahkan tanpa ragu menerima mangkuk pemberian Sehun dan melahapnya dengan rakus.
"Hey pelan-pelan."
"mmhh…ara-….Araseo direktur."
Sehun hanya membiarkan Luhan memakan lahap pangsit rebusnya.
Entah mengapa rasa penasarannya pada Luhan semakin kuat seiring hari dia mengenal sahabat kekasihnya.
Menurutnya Luhan memiliki dua kepribadian saat dirinya merasa sedih atau dalam kesulitan.
Karena ada satu malam dia akan menangis hebat, ketakutan serta bertingkah menyedihkan.
Lalu satu hari kemudian dia akan bertingkah seolah tak ada yang terjadi, seperti semua baik-baik saja dan sudah melupakan apa yang membuatnya menangis semalam.
Membuat pandangan Sehun benar-benar terkunci pada Luhan dengan seribu pertanyaan di kepalanya apa dia baik-baik saja?, apa dia tidak bisa bersikap lebih normal?. Kenapa dia akan menangis hebat di malam hari lalu melahap rakus makananya di pagi hari? Apa yang salah dengan Luhan? Hatinya atau kepalanya?
Membuat tanpa sadar Sehun merasa sangat cemas dan ingin terus mengetahui kabar pria cantik yang secara pelan namun pasti benar-benar menarik seluruh perhatiannya.
"Direktur!"
"huh?"
Pandangannya yang kosong tiba-tiba di penuhi wajah Luhan.
Sehun bahkan sangat terkejut menyadari jarak mereka yang terlalu dekat, membuatnya secara refleks memalingkan wajah sebelum suara Luhan kembali terdengar "Direktur anda baik-baik saja?"
"Tentu saja! Ha ha ha….Memangnya aku kenapa?"
Canggung memang, tapi nyatanya dengan tawa bodoh itu dia tak perlu repot-repot membuat Luhan bertanya-tanya.
Karena saat dia tertawa barulah Luhan sedikit menjauh dari posisinya hingga jarak mereka kembali normal seperti awal "Anda melamun beberapa detik lalu."
"Benarkah?"
"hmh…"
"Maaf. Aku hanya-….Banyak yang aku pikirkan Luhan, ada apa?"
Luhan mengangguk maklum, membuatnya dengan cepat membereskan piring kotor dengan tatapan Sehun mengikuti "Bukankah kau ingin mengatakan sesuatu?"
"Aku hanya bilang makananku sudah habis dan aku siap pergi ke kantor."
Buru-buru Sehun melihat dua piring pangsit yang dimakan Luhan. Matanya membulat dengan mulut sedikit terbuka karena tak menyangka bibir mungil itu bisa melahap habis dua belas pangsit rebus dalam hitungan detik. Membuatnya benar-benar terperangah sampai tak sadar dirinya tertawa sangat takjub "whoa….Apa kau memelihara pengemis di perutmu?"
"Kau bukan orang pertama yang mengatakan itu. Makanku sangat banyak direktur."
"Tapi tubuhmu tetap mungil."
"haah…."
Setelah selesai membersihkan piring dia kembali menarik kursi di samping Sehun. Mendelik sejenak sang atasan sebelum melipat tangannya di atas dada "Sejujurnya aku lebih suka dibilang tubumu tetap kecil daripada tubuhmu tetap mungil."
"Kenapa?"
"Karena jika kau menggunakan kata mungil, itu terdengar sangat-….girly!"
"ah-….."
Sehun menyadari hal baru lagi tentang Luhan. Dia tidak suka disebut dengan sikap-sikap berbau girly sementara dia terus melakukannya tanpa sadar. Membuat Sehun benar-benar takjub sampai tak sengaja bibirnya bergumam "Tapi kau memang mungil."
"Sudahlah! Percuma bicara dengan seorang TOP!"
"TOP?"
"Ya-….Kalian hanya akan terus meremehkan Bottom seperti kami."
"ah-…."
Lagi….Sehun benar-benar dibuat takjub dengan semua hal pribadi Luhan dan hidupnya. Dia juga cenderung ingin tahu lebih baik namun rasanya tak hari ini "Aku tidak bermaksud berbicara seperti itu."
"Sebaiknya kita sudahi percakapan kita untuk segera sampai di kantor."
Sejujurnya Sehun masih sangat tertarik membicarakan banyak hal pada Luhan selain urusan kantor, namun tampaknya Luhan selalu serius jika itu menyangkut agensi, pekerjaan atau calon artisnya.
"Hey, kenapa kau suka sekali bekerja? Maksudku-….Aku pemilik dari agensi tempatmu bekerja, aku memberikan cuti padamu tapi kau menolak."
"Aku tidak bisa mengambil hari libur semauku direktur. Itu peraturan."
"Tetap saja aku yang menguasai segalanya. Aku bahkan bisa merubah peraturan itu jika kau mau."
"haah…"
Luhan menghela panjang nafasnya, mengeluarkan kertas kecil di dalam tas untuk diserahkan pada Sehun.
"Apa ini?"
"Bacalah direktur."
Sehun pun membuka kertas kecil yang merupakan undangan untuk OSH'ent dan Luhan. Membacanya dengan seksama diiringi senyum di wajahnya.
Sesekali dia juga menoleh bangga pada Luhan, menyadari bahwa sekelas Manager pencari bakat-….Luhan sudah masuk kategori –sangat di perhitungkan- untuk menemukan dan melihat bakat seseorang. Semua itu terbukti dari undangan yang sedang ia baca dan bertuliskan
Dengan hormat kami mengundang anda Manager Xi Luhan –OSH ent-, untuk menghadiri audisi international cakupan Asia Tenggara yang akan diselenggarakan di Kuta, Bali. Kami menantikan kehadiran anda
Sehun melipat kertas undangan Luhan seraya tersenyum menebak wajah Luhan dengan mudah "Kau pasti mendapatkan banyak mangsa disana."
"Tepat sekali! Ini kesempatan kita untuk mendapatkan artis berbakat. Aku akan mencarinya random, tidak hanya dari wajah tapi skill!"
"Hanya kau atau semua Manager pencari bakat?"
"Dari Seoul mengirimkan lima perwakilan. Aku, Seokjin, Xiumin dan dua sisanya dari TOP ent. Kami akan menyiapkan segalanya untuk hari itu."
"Tapi keadaanmu sedang tidak bagus Lu."
Luhan tersenyum pahit karena ucapan Sehun.
Benar keadaannya sedang tidak bagus karena skandalnya dengan Kai terungkap. Tapi demi Tuhan dia tidak menjadikan itu alasan, karena sebaliknya-….Luhan seperti memiliki kesempatan untuk pergi lebih jauh dari tempat yang membuatnya ketakutan.
Dia pun memberanikan diri menatap Sehun seraya mengatakan "Aku tidak akan membiarkan skandal ini menghentikan karirku maupun Kai-…..tidak akan pernah."
Kali ini Sehun seperti disihir oleh kebaikan hati Luhan. Dirinya benar-benar tertegun dengan semua sikap dan hal yang Luhan katakan.
Terkadang dia mengatakan benci tapi sesungguhnya dia sangat peduli.
Terbukti dari caranya menyebut nama Kai –pria yang membuatnya terjebak dalam situasi ini- dengan begitu tenang.
Mata Sehun seolah enggan untuk melepas pantulan sosok cantik di depannya. Terus menatap kagum pada Luhan lalu tak lama dia yang menghela nafas panjang seraya menepuk pundak Luhan.
"Baiklah kau harus pergi kesana. Buktikan jika kau adalah Manager Xi –si visoner untuk dunia hiburan-"
Tanpa sadar Sehun mengucapkan dukungannya pada Luhan.
Dan tanpa sadar pula dukungan Sehun memberikan kekuatan tersendiri untuk Luhan. Membuat Luhan benar-benar terpukau lalu tersenyum untuk mengutarakan ucapan terimakasihnya "Aku benar-benar beruntung memiliki anda sebagai atasanku direktur Oh. Terimakasih banyak."
Sehun mengangkat sejenak bahunya, lalu bersiap pergi ke kantor –atau lebih tepatnya pergi mengantar Luhan- dengan mengenakan jaket seraya mengerling si pegawai cantik. "Kau pantas mendapatkan yang terbaik." Katanya jujur membuat Luhan semakin bersemangat karenanya.
Luhan terus memperhatikan Sehun memakai jas hitam dan jaketnya sebelum teringat akan satu hal yang sedari tadi ingin ia tanyakan "ah ya-….Direktur Oh boleh aku bertanya sesuatu."
"Tentu."
"mmh…Aku tidak melihat satupun foto Baekie dipajang di tempat khusus foto milikmu. Apa kau menyimpannya di suatu tempat? Boleh aku melihatnya? Aku sangat ingin melihat kalian bersama."
"Aku dan Baekhyun tidak terlalu suka mengambil foto, jadi selain di ponsel-….Kami tidak memiliki foto khusus untuk dipajang."
"begitukah?" katanya terdengar kecewa dibalas jawaban singkat dari Sehun "Ya Luhan."
"Lalu bagaimana foto kalian berdua di apartement ini? Pasti kau memilikinya satu direktur. Maksudku-….Dulu aku dan Kai menghabiskan waktu berdua di apartementku. Kami suka memasak, bercerita dan mengambil foto. Apa kau memilikinya dengan Baekhyun disini?"
Rasanya dua pertanyaan terakhir Luhan membuatnya kesal, ditambah senyum Luhan saat menyebut nama Kai-…dia berkali-kali lebih kesal
Ah-….Lebih tepatnya karena nama Kai disebut –itu alasan mengapa Sehun merasa kesal-. Dia tidak memiliki alasan spesifik mengapa dia kesal, hanya saja saat Luhan mengucapkan nama Kai membuat hatinya marah.
Bagaimana bisa seseorang yang telah mencampakanmu, menghianati, melukai dan bahkan membuatmu menangis masih menjadi alasan dirimu tersenyum?
Ini gila….Bahkan terlalu gila untuk dirasakan orang normal sekalipun.
Membuat Sehun sekali lagi melihat wajah Luhan lalu merasa muak karena Luhan masih saja tersenyum.
"Apa kau sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama mantan kekasihmu?"
Luhan tersenyum lalu tanpa ragu mengatakan "Tentu saja. Itu adalah hal yang paling berharga untuk kami. Begitu juga denganmu direktur, pasti tempat tinggal milikmu penuh kenangan bersama Baekhyun."
"Kau salah."
"huh?"
Sehun mengambil cepat kunci mobilnya.
Sedikit mendelik Luhan lalu tak lama berkata "Kau orang pertama yang pernah masuk ke dalam sini, ke apartementku." Katanya puas melihat ekspresi Luhan sebelum mmebuka pintu apartementnya.
"Aku tunggu di basement"
BLAM…!
Dan tepat saat pintu itu tertutup maka jantung Luhan serasa akan lompat keluar. Rasanya begitu aneh saat Sehun menekankan kau orang pertama beberapa detik lalu. Seolah dia adalah seseorang yang istimewa karena berkesempatan datang bahkan menginap di tempat privasi yang bahkan belum dikunjugi kekasih si pemilik tempat tinggal, sahabatnya, Baekhyun.
Luhan benar-benar tercengang –entah senang atau canggung- dia tidak mengerti. Yang dia tahu cara Sehun menyampaikannya terlalu istimewa. Dia masih terlalu gugup untuk menyusul Sehun, membuat Luhan sedikit mengusap kasar wajahnya lalu tak lama tertawa sangat kecil,
"bagaimana mungkin Baekhyun tidak pernah datang ke apartement kekasihnya sendiri?"
.
.
.
.
.
.
.
.
"Tentu saja mungkin. Aku cenderung tertutup untuk kehidupan pribadiku, aku lebih memilih diam daripada menceritakan pada siapapun. Tidak keluargaku bahkan kekasihku sekalipun. Jadi aku rasa itu hal wajar mengingat aku selalu menemui Baekhyun di apartemen miliknya."
Saat ini Sehun harus menjelaskan panjang lebar mengenai apa maksud ucapannya pada Luhan. Awalnya dia hanya ingin diam, tapi saat Luhan bersikap canggung maka dia tak memiliki pilihan lain selain menjadi "cerewet" saat ini.
"Tapi Baekhyun tidak pernah meminta untuk datang ke tempatmu?"
Sehun melirik Luhan sekilas di sampingnya. Sedikit terkekeh lalu memutuskan untuk fokus menyetir "Baekhyun tidak pernah meminta hal semacam itu. Dia lebih suka jika aku yang datang."
"ck! Dasar aneh. Dia bahkan selalu merengek pada kekasih sebelumnya. Tapi kenapa tidak padamu?"
Luhan bertanya setengah menggerutu membuat Sehun benar-benar gemas namun terlihat sangat menahan diri "Apa kau tidak berniat membawa Baekhyun ke tempat tinggalmu?"
"Tentu saja aku akan membawanya."
"Baguslah. Aku merasa tenang jika dia tidak sendirian."
Sehun menangkap nada suara Luhan terdengar aneh saat ini, membuatnya refleks menoleh dan tak sengaja melihat Luhan diam sambil menatap trotoar jalan "Kau mau pergi?"
"Pergi?"
"Ya. Kau mengatakannya seolah kau akan pergi."
"tidak mungkin aku pergi, hidupku disini."
"Kau bicara apa?"
"Tidak direktur. Aku hanya mengatakan tidak mungkin aku pergi."
"Benarkah?"
Kali ini Luhan yang menatap Sehun, meyakinkan kekasih sahabatnya itu seraya berkata "Tentu saja. Baekhyun, ibuku, dan dua adikku disini. Jadi aku tidak memiliki alasan untuk pergi, lagipulakuakansegeramemilikikeponakan."
"Kalimat terakhir aku tidak jelas mendengarnya."
Ckit…!
Mereka sampai di basement agensi, Luhan lebih dulu melepas seatbelt nya lalu membungkuk berterimakasih pada Sehun "Terimakasih sudah mengantarku direktur Oh."
"Hey kau belum memberitahuku kalimat terakhirnya."
"Tidak ada kalimat terakhir karena aku tidak mengatakan apapun."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Sampai nanti direktur."
Luhan lebih dulu keluar dari mobil Sehun, meninggalkan Sehun yang masih yakin jika Luhan mengatakan sesuatu tentang keponakan. "Entahlah, mungkin aku salah dengar." Katanya melepas seatbelt sebelum
"ah-…Aku lupa memberitahu Luhan."
Buru-buru Sehun mengambil cepat ponselnya, menulis pesan teks pada Luhan yang berbunyi
Aku akan mengantarmu pulang malam ini. Jangan pergi sendirian atau Baekhyun akan menangis
Sent!
Sehun berjalan menyusuri basement disambut sapaan dari seluruh pegawainya. "Selamat pagi direktur Oh."
"Pagi. Kembalilah bekerja." Katanya memberitahu diiringi getaran pesan masuk di ponsel
Baekhyun? Apa dia sudah mendengar beritanya direktur?
Buru-buru Sehun membalas pesan Luhan lagi "Belum, tapi aku rasa dia akan segera tahu. Aku hanya ingin memenuhi janji pada kekasihku."
Sent!
Drtt…drrtt.
Tak perlu waktu lama Luhan kembali menjawab pesan dengan balasan yang sedikit membuatnya kesal "Kalau begitu anda bisa pulang lebih dulu direktur. Saya ada rapat dan akan selesai pada malam hari"
"whoa-….Dia benar-benar keras kepala."
Sehun berhenti di langkahnya.
Ini adalah kali pertama dia melihat seseorang menolaknya terus menerus, Demi Tuhan dia hanya ingin mengantar pulang bukan ingin meminta bayaran mahal, tapi kenapa sulit sekali? Membuatnya terus memukul udara sebelum membalas lagi pesan Luhan –sedikit mengancam kali ini-
"Kalau begitu aku akan menunggu. Sampai bertemu nanti malam jika kau ingin tetap datang sebagai juri di Bali. Terimakasih Luhan."
Sent!
Sehun sebenarnya cemas karena pesannya yang terakhir sangat kekanakan, bertanya-tanya apakah Luhan akan merasa tersinggung atau marah padanya.
Drrt..drrt..
Dan saat pesan teks Luhan muncul di layar ponsel, maka Sehun sangat ragu membaca balasan Luhan. Tangannya tetap tetap menggeser slide Ponsel dengan mata terpejam yang perlahan membuka untuk membaca balasan dari pesan Luhan
Ya direktur, saya akan pulang dengan anda. Sampai bertemu nanti malam.
"YEAH!"
Layaknya anak sekolah yang mendapat balasan surat cinta, maka percayalah Sehun berkali-kali terlihat sangat kekanakan saat Luhan mengatakan Ya dan bersedia untuk pulang dengannya.
Beruntung sekitar koridor sedang kosong, karena jika tidak sudah bisa dipastikan Sehun akan menjadi topik hangat mengalahkan skandal Kai-Luhan di agensi miliknya.
"ck! Oh Sehun. Jaga wibawamu." Katanya memperingatkan diri sendiri, segera berjalan menuju lift sebelum ponselnya kembali bergetar.
Drrt…drrt…
Sehun kembali merogoh ponselnya, bertanya-tanya siapa yang menghubunginya sampai nama Baekhyun tertera di layar ponsel miliknya. "Aku baru mau menghubungimu sayang." Katanya tersenyum semakin senang sebelum
Sret…!
"SEHUN!"
"astaga sayang. Ada apa? Kenapa berteriak?"
"AKU MELIHAT BERITA DAN –anghmphhh- APA-….APA LUHAN BAIK-BAIK SAJA?"
"Luhan?"
Sebenarnya Sehun bertanya-tanya mengapa Baekhyun terdengar merintih. Namun saat hanya Luhan yang diteriakan sang kekasih maka hanya senyum pula yang Sehun tunjukkan saat ini "Luhanmu baik-baik saja sayang."
"Apa kau yakin?"
"Tentu. Dia bersamaku di kantor. Kau jangan khawatir."
"Syukurlah –mmhh- syukurlah jika Luhan baik."
"Lalu kau tidak bertanya kabarku?"
"ah-…Tentu saja sayang. Bagaimana kabarmu?"
"ck! Palsu sekali. Aku baik lalu bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja?"
"Aku? –ah-….- aku baik sayang. Aku akan menghubungimu lagi. Sampai nanti sayang."
Pip!
"Baek!-….ish! Dia benar-benar menyukai Paris sepertinya."
.
.
.
.
.
.
Tak ada pikiran apapun yang mengganggu Sehun.
Karena saat dia bersumpah mendengar suara kekasihnya merintih dan mendesah, maka dia hanya mengabaikan tebakannya.
Sehun percaya Baekhyun sedang bekerja dan bersenang-senang di Paris
Tidak ada sebersit pun pikiran bahwa Baekhyun sedang menghianatinya saat ini.
Ya-…Tidak ada sedikit pun-…..Walau nyatanya saat ini, detik ini juga kekasihnya sedang berkhianat di Paris, bersama sahabatnya.
"Sudah kubilang temanmu Baik-baik saja. Kau yang tidak percaya padaku Baek-…nghh! Shit! Kita sudah melakukannya sepanjang malam dan kau masih sangat sempit!"
Buru-buru Baekhyun menarik tengkuk Chanyeol. Memaksa pria yang sudah menggagahinya hampir delapan jam ini untuk berciuman panas sementara di bawah sana pahanya mengangkang lebar memberikan akses tak terhingga untuk penis besar yang terus menumbuk lubang sempitnya.
"nghmph—aakh!….Jangan banyak bicara. Cepat selesaikan. Aku ingin merasakan spermamu lagi Yeol."
"As your wish bee.."
Mengikuti cara Luhan memanggilnya, Baekhyun semakin bergairah. Dia pun mendorong tubuh besar Chanyeol dan memaksa posisi on top pada raksasa tampan yang terus membuatnya bergairah "Let me…" katanya terdengar sangat seksi dengan tubuh dinaik-turunkan menjemput penis tegang pria asing yang diam-diam begitu ia dambakan kehadirannya.
"akhh—deeper yeol! / shit! Too tight bee—ANGGHHHHH!
.
.
.
.
.
.
Jeju….10.00 AM
.
.
.
BLAM…!
"Ikut aku."
Malam tadi mereka menghabiskan waktu bersama. Saling memeluk saat tidur melepas semua masalah yang begitu menghimpit mereka.
Namun berbeda dengan hari-hari sebelumnya, maka pria tampan berkulit tan itu terus memegang ponselnya sepanjang hari. Dia juga cenderung diam dan tak berbicara membuat Kyungsoo –pria idaman Jongin- terus berupaya untuk menghibur pria yang merupakan ayah dari calon bayinya.
"Aku tahu ini berlebihan. Tapi kita perlu hiburan."
Tangan mungilnya terus menggenggam tangan Kai, dia pun tak berniat melepaskan sampai Kai menarik si mungil yang terlihat semakin bulat ke dala dekapannya "Tiap kali memeluk pororoku aku merasa tenang."
"Kai…."
Desir ombak dan pasir yang mengotori kaki mereka seolah menjadi bukti bahwa Kai memang benar-benar tulus mencintainya. Terlalu tulus sampai rasanya Kyungsoo tak ingin lepas dari pelukan pria yang menjadi selingan di hidupnya.
"Terimakasih sudah mengajakku berlibur. Tapi malam ini kita harus kembali."
Huh?
"Aku mencintaimu sayang, tapi meninggalkan Luhan yang sedang kesulitan adalah kesalahan. Aku-….."
"Kau masih mencintainya kan?"
Kai tersenyum pahit.
Ada waktu dimana dia benar-benar mencintai Luhan
Dan ada waktu dia benar-benar mencintai Kyungsoo.
Ada waktu dia ingin bersama dengan Luhan, dan ada waktu dia benar-benar hanya ingin tinggal berdua dengan Kyungsoo.
Egois memang-…
Tapi salahkan hatinya karena terus bimbang. Dia mencintai Kyungsoo itu benar-…Tapi mencintai Kyungsoo dengan menyakiti Luhan? Itu dosa besar mengingat Luhan adalah satu-satunya pria yang selalu bersabar padanya, menolongnya disaat sulit, mendekapnya disaat dia gagal, dan membantunya berdiri saat dia terjatuh-….hanya Luhan.
"Kenangan lima tahun tidak akan hilang begitu saja Soo."
"Lalu apa kau akan kembali padanya?"
"Aku hanya akan menjaganya. Sebisa mungkin aku akan menjaganya."
Kyungsoo menangis-….Malam tadi dia jelas menjerit meminta Kai untuk kembali pada Luhan, tapi saat mendengar Kai akan menjaga Luhan dengan kedua telinganya sendiri, dia berat untuk merelakan.
"Soo…Tidak bisakah kau berdamai dengan Luhan?"
Kyungsoo menggeleng tanpa ragu, sungguh dari semua hal dia bisa melakukannya-…Tapi berdamai dengan Luhan? Dia rasa itu adalah hal paling sulit dalam hidupnya. "Tidak bisa. Aku tidak akan bisa menyukainya."
"Kau bisa menyukai kakakmu secara perlahan, tidak perlu terburu-buru jika kau-…."
"JANGAN PAKSA AKU!"
Kai meringis pilu mendengarnya, beginilah Kyungsoo yang sesungguhnya, Kyungsoo yang sangat membeci Luhan. Kyungsoo yang tidak akan pernah bisa berdamai dengan Luhan dan Kyungsoo yang terlihat sangat menyedihkan jika itu berkaitan dengan Luhan.
Membuat Kai buru-buru mendekap Kyungsoo, berniat untuk menenangkan pria mungil yang hingga saat ini masih menjadi kekasih orang lain "Mianhae…Aku tidak akan menyinggung lagi tentang Luhan. Aku hanya akan menjaganya dengan caraku."
"Lalu bagaimana denganku?"
"Aku juga akan menjagamu sayang. Aku akan tetap menunggu hingga kau menjadi milikku Soo. Tenanglah."
Ingin rasanya Kyungsoo mengatakan tentang bayi mereka pada Kai, tapi dia takut jika pada akhirnya Kai tak bersabar dan mengatakan semuanya pada Chanyeol.
Karena sungguh-….Jika Kai masih sangat mencintai Luhan, maka Kyungsoo juga masih sangat mencintai Chanyeol. Dan jika Kai sudah rela kehilangan Luhan, maka tidak dengannya yang masih ingin bersama Chanyeol dengan bayi Kai berada di dalam perutnya.
Kai menangkup wajah mungil Kyungsoo, mencium lembut bibir yang terasa dingin itu hingga lenguhan terdengar memenuhi gairah mereka.
Kyungsoo membalas cepat lumatan bibir Kai, terlalu cepat hingga rasanya dia tak ingin Kai melepas ciumannya. Keduanya masih berpagutan mesra sampai Kyungsoo kalah dan mendorong dada Kai lebih dulu –mencari nafas dengan sedikit menggigit malu bibirnya-
"Kenapa diam? Kau malu?"
Kai mengangkat dagu Kyungsoo. Menatapnya intens sampai tak lama tersenyum menggoda mengerling pujaan hatinya yang lain "Aku merindukanmu."
"Merindukanku atau tubuhku?"
Kyungsoo bergerak salah tingkah, ragu-ragu menatap tatapan intens Kai seraya menggigit kencang bibirnya "Keduanya."
"oh shit! Aku tidak janji akan bermain lembut Soo."
Kai menariknya tak sabar dan Kyungsoo tahu tiap kali Kai menariknya cepat maka dia hanya akan bermain kasar di tempat tidur. Membayangkannya saja sudah membuat Kyungsoo mendamba ingin disentuh, tapi saat perutnya tak sengaja merasakan tendangan, maka buah hati mereka seolah protes dengan niat kedua orang tuanya untuk bermain kasar dan mengganggu dirinya di dalam sana.
Membuat Kyungsoo sedikit melirik perutnya lalu tertawa kecil sebelum menahan tangan kekasihnya yang lain "Kai."
"Ada apa?"
Kyungsoo ragu mengatakannya, tapi saat menyadari perutnya tak lagi bersahabat maka dia terpaksa mengatakan "Aku ingin kau bermain lembut kali ini."
"yang benar saja! Kau tidak pernah suka jika aku bermain lembut Soo."
"Aku serius."
Kai memperhatikan wajah Kyungsoo. Menatap rasa cemas di dalam sana namun enggan bertanya. Entah bermain lembut atau kasar sekalipun dia tidak peduli-…Yang dia pedulikan hanya melepas gairah cinta mereka lagi kali ini.-….Gairah yang untuk kali pertama akan mereka rasakan tanpa kebohongan.
"Baiklah. Aku akan melakukannya dengan lembut."
.
.
.
.
.
.
.
Malam hari, Seoul
.
.
"Ya-…Aku rasa cukup sampai hari ini. Untuk dua tim yang akan berangkat ke Bali, aku harap kalian memberikan hasil maksimal kali ini."
"Kau tidak perlu khawatir ketua Jang selagi kita memiliki Manager Xi, aku rasa semua beres. Benar kan Lu?"
Yang menjawab adalah sahabatnya –Minseok tentu saja- sengaja membuat suasana panas karena dua hal malam ini.
Pertama karena pria tua yang merupakan ketua tim mereka bertaruh Luhan tidak akan datang mengingat skandalnya dengan Kai terkuak.
Kedua dia begitu senang melihat wajah idiot putranya yang nyaris menggantikan posisi Luhan terlihat kesal. Membuat Minseok tanpa sadar terus membuat panas keadaan dibalas kekehan kecil dan sama sekali tak peduli dari sahabatnya. "Hey bantu aku menjawab."
"Tidak perlu. Kita pergi."
Luhan lebih dulu meninggalkan ruang rapat, disusul Minseok yang mencibir kesal lalu tak lama menyenggol pelan pundak Luhan "Hey cutie. Kau baik-baik saja kan?"
"Apa aku terlihat menyedihkan di matamu?"
"Tidak juga sih, hanya saja-…."
"Kalau begitu jangan tanya lagi. Aku lelah."
"Ayolah Lu jangan marah padaku. Kau tinggal dimana? Mau menetap di tempatku?"
Luhan hanya membiarkan Minseok merangkul pundaknya. Keduanya beriringan jalan menuju lift sebelum seseorang meamanggil Luhan
"MANAGER XI!"
"Berisik!"
Minseok yang menjawab, membuat pegawai trainee mereka tiba-tiba diam, takut jika Minseok membentaknya.
"Ada apa?"
"Maaf tidak sopan Manager Xi. Tapi saya diperintahkan untuk memberikan daftar artis kita yang akan ikut menjadi bintang tamu event audisi di Asia tenggara."
"Bintang tamu? Apa kita dibayar?"
"Pihak sponsor yang membayar kita. Ini nama-nama artis yang akan ikut dengan anda ke Bali."
Jujur saja Luhan memiliki firasat buruk tentang siapa artis yang akan ikut dengannya. Membuatnya sangat ragu untuk membuka sebelum
Sret….
Minseok yang mengambilnya lebih dulu, dan entah untuk alasan apa dia juga terlihat tak sabar sebelum memekik sangat gila saat ini
"JONGDAE! KEKASIHKU IKUT DENGAN KITA LU!"
Jika Minseok memekik sangat bahagia, maka Luhan setidaknya bisa bernafas dengan lega "Syukurlah itu Chen. Setidaknya bukan Kai." Katanya sangat bersyukur karena nama Kai tidak terdaftar disana, membuatnya benar-benar tenang sampai suara Minseok terdengar lirih merespon ucapannya.
"Lu…"
"Ada apa?"
"Jongdae tidak sendiri, di undangan ini tertulis dua nama."
"Siapa saja?" katanya cemas diikuti suara Minseok yang menjawab "Kim Jongdae dan Kim Jongin."
"Kenapa harus Jongin? Kenapa-…."
"Luhan?"
"APA?"
Minseok menyenggol cepat lengan Luhan, sedikit memperingatkan si rusa bahwa yang baru saja memanggil namanya adalah…..
"Direktur Oh."
Luhan menggeliat resah saat Minseok menyapa Sehun, membuatnya benar-benar salah tingkah sebelum ikut menoleh dan menyapa direkturnya "Maafkan saya direktur Oh. Saya tidak bermaksud-….."
"Ikut aku."
Lebih dulu Sehun memasuki lift, menekan tombol agar pintu lift tidak tertutup sementara matanya terus menatap Luhan "Cepat masuk."
Luhan ragu sebenarnya, tapi saat mata Sehun terus melihatnya dan tangan Minseok terus mendorongnya masuk ke dalam lift maka dia tidak memiliki pilihan lain selain ikut dengan Sehun.
Memastikan Luhan sudah berdiri di sampingnya, Sehun melepas tombol tahan. Membiarkan pintu lift tertutup dengan kecanggungan di antara mereka.
"Direktur saya minta maaf karena-…."
"Aku akan mencari tahu sendiri kenapa kau terlihat gusar. Jadi tenanglah dan tidak perlu menjelaskan apapun."
Luhan melirik pria disampingnya, sedikit mengagumi ketampanan Sehun yang tidak berkurang sedikit pun meski sudah berada seharian di kantor miliknya. "Apa kau akan langsung pulang?"
"Pulang?"
"Ke apartement mu? Apa kau akan langsung kesana?"
"y-ya tentu saja direktur. Saya akan ke mobil lebih dulu di basement."
"Kau pulang denganku."
"Aku hanya ingin mengambil dokumen tertinggal di mobil."
Sehun menghela panjang nafasnya. Sedikit lega karena Luhan tak mengingkari janji sampai
Ting!
"Baiklah aku akan mengantarmu ke mobil."
Keduanya berjalan beriringan ke luar dari lift.
Dan sementara Luhan mencari dimana mobilnya berada maka Sehun meletakkan sejenak tasnya ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh supir.
"Disana mobilku."
BLAM…!
Sehun kembali menutup pintu mobilnya. Segera mengikuti Luhan sampai matanya dibuat membulat karena Luhan terjatuh begitu saja.
BRAK!
"LU!"
Buru-buru dia berlari menghampiri Luhan yang terjatuh. Bertanya-tanya mengapa wajahnya berubah menjadi sangat pucat sebelum berjongkok tepat di depan pegawainya "Ada apa?"
"Mereka-…..Mereka melakukannya lagi."
"Mereka siapa? Melakukan apa?"
Luhan menunjuk mobilnya yang berada tak jauh dari mereka. Membuat Sehun mengikuti kemana arah Luhan menunjuk sampai perutnya dibuat mual melihat apa yang terjadi.
"brengsek!"
Mobil Luhan hancur.
Mereka mematahkan spion mobil dengan seluruh kaca mobil yang dihancurkan. Dan tak jauh berbeda dengan tulisan mengerian di loker kerja Luhan maka di kap mobilnya juga terlihat tulisan
DIE! DIE BIT*H!
"aku takut….aku harus pergi."
"LUHAN!"
Buru-buru Luhan berlari meninggalkan basement.
Mengabaikan teriakan Sehun yang memanggilnya dan hanya berlari sejauh mungkin.
"jika terus seperti ini mereka akan membunuhku. Mereka akan-….."
Kakinya sangat lemas, dia bahkan tak bisa berlari cepat membayangkan hal gila apa lagi yang akan terjadi setelah ini. Pertama loker kerjanya, kemudian mobilnya, lalu apa setelah ini?
"LUHAN!"
Luhan tidak mengindahkan teriakan Sehun, dia terus berlari lalu terjatuh, mencoba berlari lagi dan gerakan terakhir dia merasa seseorang menarik kuat lengannya.
Membuat dua mata rusa dan elang itu bertemu dengan tatapan yang berbeda. Jika Luhan sangat ketakutan maka Sehun menatap cemas pada pria cantik di depannya. "Tenanglah."
"mereka akan membunuhku direktur. Kita harus pergi darisini. Kita harus-….astaga aku-…"
"LUHAN!"
"huh?"
Matanya yang ketakutan mencari dimana mata Sehun, bertanya-tanya mengapa Sehun berteriak sampai tak sengaja dia melihat raut cemas di mata Sehun "Tenanglah. Aku menjagamu."
"tidaktidak-….Kau tidak boleh menjagaku. Mereka juga akan menyakitimu. Kau harus pergi direktur. Aku juga akan pergi."
Luhan kembali meracau gila, berusaha untuk melepas tangan Sehun namun nyatanya Sehun terlalu kuat untuk dilawan, "LEPAS DIREKTUR! KAU BISA TERLUKA BERSAMAKU! CEPAT PERGI DAN JANGAN-…..nghmphh…"
Katakanlah Sehun gila-….Tapi sungguh dia kehabisan cara untuk membuat Luhan tenang.
Membuat satu-satunya cara yang terlintas hanya membekap bibir Luhan, Dan ya-…..Sehun sedang membekap bibir Luhan dengan bibirnya saat ini.
Nghmphhh…
Panas….
Luhan merasa tubuhnya panas saat bibir asing milik Sehun bergerak lembut di bibirnya.
Rasa panas itu begitu berbeda dari yang pernah ia rasakan.
Luhan merasa begitu panas hingga dadanya terasa ingin meledak. Membuatnya pikirannya benar-benar kosong dan hanya membiarkan Sehun menguasai bibirnya.
Sehun sendiri tahu ini gila, awalnya dia hanya ingin mengecup. Tapi saat bibir Luhan terasa sangat lembut dan membuatnya ingin mencicipi lebih dalam maka tangannya bergerak berani melingkar di pinggang Luhan untuk menariknya lebih dekat.
"ngnghhh!"
Luhan mulai merasa tak nyaman dengan keintiman mereka berdua. Tangannya juga sudah memukul dada bidang Sehun namun percuma-….Yang Sehun lakukan hanya terus menahan tangannya dengan meniadakan jarak di antara mereka.
Sehun bahkan membawa tangan Luhan yang terus memukul dadanya untuk melingkar di lehernya. Awalnya Luhan menolak, tapi saat Sehun berhasil membuatnya membuka mulut, saat lidah Sehun mengunci gerakan lidah Luhan, maka disaat itu pula tubuh Luhan terasa lemas merasakan sensasi ciuman yang begitu lembut untuk kali pertama.
Sehun masih terus mengunci lidah Luhan. Sesekali lidahnya bermain nakal di langit-langit bibir Luhan, lalu detik berikutnya dia tidak bermain lidah dan hanya mencium semakin dalam, terlalu dalam sampai rasanya tak ada oksigen yang bisa dihirup.
Rrrhh…!
Luhan mengerang nikmat saat bibir Sehun menghisap kuat lidah dan bibirnya. Tangannya tanpa sengaja mencakar leher Sehun, melampiaskan rasa nikmat yang dia rasakan dengan tangan Sehun melingkar sempurna di pinggangnya, menjaga agar dia tidak terjatuh karena pergumulan panas mereka saat ini.
Hisapan terakhir sengaja Sehun lakukan dengan kuat di bibir bawah Luhan-….Setelahnya dia melepas lumatan panasnya untuk menyatukan dahinya dan dahi Luhan bersama.
Sehun masih tidak memberikan jarak pada Luhan, tangannya masih mendekap kuat pinggang Luhan untuk berjaga agar Luhan tidak berlari lagi. Kedua nafas mereka bahkan terdengar bersahutan saling berlomba mengambil oksigen.
Dan saat kesadaran sudah di dapatkan keduanya, maka Sehun berusaha mencari mata rusa cantik di depannya, menatapnya begitu dalam dengan tangan yang mengusap lembut wajah halus milik Luhan.
"Aku bersumpah akan mencari pelaku gila dari semua teror yang kau dapatkan. Aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan pelakunya-….Segala cara Luhan. Dan aku berjanji aku akan menyeret mereka ke hadapanmu. Jadi kumohon tenang dan jangan bersikap seperti ini. Kau mengerti?"
"Entahlah direktur. Aku bingung." Katanya lirih tak tahu harus menjawab apa
Jujur saja pikiran Luhan masih kosong.
Dia hanya tidak menyangka Sehun, kekasih sahabatnya baru saja menciumnya dengan begitu lembut. Pria tampan ini juga mengatakan banyak hal yang membuatnya tenang.
"Aku akan mengatasi ini semua untukmu."
"Kau bisa terluka karena aku. Aku tidak ingin-…."
"AKU TIDAK PEDULI LUHAN! Demi Tuhan aku tidak peduli, ini sudah keterlaluan dan mereka harus di hukum. Jadi percayakan semua ini padaku. Kau dengar?"
"Aku dengar."
"Bagus. Sekarang kita pulang, aku akan membawamu pulang dan membuatmu melupakan hal gila malam ini."
Lagi-…..Luhan seolah terhipnotis oleh semua ucapan Sehun, sesaat dia kesulitan memahami ucapan Sehun, tapi saat mata Sehun menatapnya begitu lembut-…..Maka dia memutuskan untuk mempercayakan semuanya pada Sehun, pada kekasih sahabatnya, pada pria yang tak seharusnya dia jadikan tempat untuk bergantung.
.
.
.
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa napas…Jangan gondok :p
.
Nih giliran Baekhyun yang ketawan belangnya ngata2in si cabe deh -_- jangan ya kecintaan. Ini cerita remahan, nelangsa boleh tapi jangan baper. Nanti juga ada giliran HH yang luar biasa jahanamnya. Semacem tinggal tunggu waktu sampe mereka bener2 gila karena dosa masing2…. Doakan biar mereka sama *gue terutama* dapet hidayah buru2 :""
.
Eh btewe ini harusnya sampe adegan Baekhyun balik ke Seoul, tapi terpaksa gue cut sampe di parkiran soalnya panjang bgt klo harus diterusin, *tremor tangan gue…ga kuat.*
.
Berita bagusnya ini gue apdet lagi hari rabu…dan Chapter buat hari rabu itu GEGER! *menurut gue sih wkwk* karena apa? Karena chap depan HH "cipok colok" kalo kata si miss nganu :p
.
Harusnya chapter ini tapi disabar ya buat hari rabu. Anggep penutupan seblm puasa :v
.
Doain lagi biar gue ga molor apdet hari rabu
.
.
.
Btw pertanyaan paling sering satu minggu ini adalah
Plet apdet kan pas puasa?
Jawabku : Pasti kok, dosa tanggung masing2 tapi wkwkw. Gue buat rate aman selama puasa, paling klo ada yang harus rate di atas aman gue ga jabarin, Cuma sekilas doang.
.
C.U
