Previous

"Bagus. Sekarang kita pulang, aku akan membawamu pulang dan membuatmu melupakan hal gila malam ini."

Lagi-…..Luhan seolah terhipnotis oleh semua ucapan Sehun, sesaat dia kesulitan memahami ucapan Sehun, tapi saat mata Sehun menatapnya begitu lembut-…..Maka dia memutuskan untuk mempercayakan semuanya pada Sehun, pada kekasih sahabatnya, pada pria yang tak seharusnya dia jadikan tempat untuk bergantung.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

A' Friends Betrayal

Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo

Genre : Drama

Rate : M / NC!/

.

.

.

.

.

Ting!

Tak ada yang berbicara saat pintu lift terbuka, keduanya masih berperang dengan pikiran dan kecemasan masing-masing. Dan saat pintu lift terbuka, itu seperti menjadi akhir kebersamaan mereka yang tak bisa dibilang sebentar.

Terhitung sudah dua puluh empat jam mereka bersama.

Sehun juga terus menjaga dan memperhatikannya. Membuat Sehun maupun Luhan -Luhan terutama- merasa begitu gusar karena nyatanya setelah malam ini dia akan merasa cemas dan ketakutan karena Sehun tak lagi bersamanya.

"Jadi ini apartement mu?"

Mereka berjalan beriringan menyusuri lorong, mencari satu unit apartement bernomor 520 yang kini berada di depan mereka.

"Ya direktur."

Klik!

Luhan menjawab pertanyaaan Sehun seraya membuka pintu apartement, berniat untuk membuka pintu namun terhenti karena tangan Sehun memegang kuat lengannya.

"Direktur?"

Luhan menoleh untuk mencari tahu, namun yang ia dapatkan hanya wajah cemas sang atasan yang terlihat sangat takut membiarkannya masuk ke dalam.

"Apa kau yakin ingin tinggal sendiri disini? Maksudku-...Beberapa menit lalu mereka kembali menerormu."

Dan tepat seperti dugaan Luhan, Sehun mengkhwatirkannya. Membuat entah mengapa dia merasa sedih karena banyak hal terjadi tapi hanya Sehun yang benar-benar peduli.

"Aku akan baik-baik saja disini."

"Tapi Lu-..."

"Terimakasih untuk perhatian anda direktur. Tapi aku benar-benar baik. Selamat malam."

Sial!

Sehun merutuk kencang didalam hati.

Mengutuk segala jenis status dan hubungan mereka yang membuatnya sulit mengatur Luhan.

Dan saat Luhan membuka pintu maka hanya rasa sedih terlihat di wajah keduanya.

Menyadari bahwa ini akhir kebersamaan mereka hingga Luhan yang lebih dulu bersuara "Aku ingin membiarkan anda masuk, tapi aku lelah."

"Tidak perlu Lu. Tidurlah malam ini, kita bertemu besok."

"Mmhh.. Terimakasih direktur."

Sehun hanya terus memandang manik kecil Luhan, merasa tak rela berpisah hingga perlahan Luhan menutup pintu, membuat Sehun berhadapan dengan pintu apartement.

"Haaah...Tidak bisakah kau membuka pintunya dan hanya bergantung padaku?"

Sehun meracau gila saat wajah Luhan tak lagi terlihat, tergoda untuk mendobrak pintu dan hanya memaksa Luhan tinggal bersamanya-…tapi itu gila.

"Sebaiknya aku pergi, aku bisa gila mengharapkan pintu ini terbuka." Katanya bergumam pelan dengan mata sendu.

Entah mengapa ini adalah kali pertama dia begitu berat meninggalkan seseorang. Dia tidak pernah merasakannya pada siapapun, tidak pada keluarganya tidak pula pada Baekhyun.

Sehun bahkan masih menetap satu kota dengan Luhan, bukan berbeda negara seperti dia meninggalkan Baekhyun ke Jepang.

Namun entah mengapa rasanya lebih sulit meninggalkan Luhan seorang diri daripada meninggalkan orang terdekatnya bahkan Baekhyun sekalipun.

Hubungi aku jika terjadi sesuatu.

Dan setelah mengirim pesan teks pada Luhan, dia beranjak pergi.

Berniat untuk kembali ke tempatnya sendiri sebelum

ARGGGHHH!

Kakinya secara refleks berhenti melangkah.

Merasa mendengar jeritan dan sialnya!—itu berasal dari kamar Luhan.

Luhan?

Oh tidak!

Buru-buru dia memutar kembali tubuhnya, berlari menuju apartemen Luhan sebelum

BRAK!

"LUHAN!"

Yang dipanggil namanya terlihat histeris sementara kedua mata Sehun membulat sempurna melihat apa yang terjadi tepat di depan kedua matanya.

Dia juga secara refleks memundurkan langkah kakinya ketika melihat betapa keji seseorang menghancurkan apartement Luhan.

Yang Sehun liat semua barang dihancurkan, semua benda milik Luhan seolah tak dibiarkan utuh. Banyak tulisan caci maki dan sumpah serapah tertulis di dinding atau di semua tempat yang bisa memantulkan tulisan.

DIE LUHAN!

Itu adalah cacian yang sama yang dilontarkan pada Luhan selama tiga hari berturut-turut, tangan Sehun secara refleks mengepal menebak bahwa perbuatan gila ini tidak dilakukan seorang diri. Tebakannya ada dua sampai tiga orang sialan yang tega melakukan ini pada Luhan.

"Apa salah aku mencintai Kai? Maksudku-...Aku menjaga Kai dengan baik selama ini, aku tidak pernah menyakitinya sekalipun dia menyakitiku, menghianatiku. Lalu apa ini balasan atas semua perasaanku? Aku hanya ingin hidup tenang, mengejar mimpiku dan-...hksss. Aku ingin-...hkss-...KENAPA MEREKA TERUS MENGGANGGUKU!"

Luhan....

Buru-buru Sehun berjongkok di depan Luhan. Mendekapnya erat dan bersyukur Luhan tak menolak.

Pikirannya kosong dengan hati yang menggeram marah. Mengutuk segala kekejian yang bisa dilakukan pada satu orang seperti Luhan.

"Demi Tuhan aku juga menjaga Kai dengan baik selama ini. Aku tidak-..."

"sst…tenanglah Luhan. Kumohon tenanglah."

"Akutidakpernahmenyakitinyadirektur!"

Luhan setengah menggigit lengan Sehun. Menangis tersedu di dekapan terlarang milik kekasih sahabatnya yang terasa sangat nyaman.

"Aku takut."

"Aku tahu."

"Aku lelah..."

"Aku tahu. Aku akan membawamu pergi beristirahat."

"Aku tidak memiliki tujuan lagi."

Entah mengapa hati Sehun merasa begitu sedih mendengar nada putus asa pria mungil di dekapannya.

Dia pun sengaja memeluk Luhan semakin erat sementara tangannya terus mengusap lembut punggung Luhan yang terasa sangat tegang.

"Aku akan menjadi tujuanmu. Hanya tenang dan kumohon percaya padaku hmm..."

"Hmm.."

Luhan bahkan bisa merasakan kehangatan di suara dan pelukan Sehun. Membuatnya terlalu tenang hingga tanpa sadar dia berharap Sehun tidak akan pernah melepas pelukannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Cklek!

"Masuklah..."

Entah kemana lagi Sehun membawanya kali ini, yang jelas tempat tujuan mereka kali ini memakan waktu empat puluh menit untuk sampi ke tempat kerja mereka atau apartement mereka sekalipun.

Entahlah...

Sebenarnya Luhan tidak terlalu memperhatikan, dia masih dalam keadaan setengah sadar dan hanya mengikuti kemanapun Sehun membawanya.

"Lu masuklah..."

Barulah saat nada lembut itu terdengar-... Dia merespon. Matanya melihat ke sekeliling tempat asing itu lalu lagi-lagi merasa nyaman bahkan saat malam menutupi indahnya tempat ini.

Entah dimana mereka saat ini, tapi sejauh Luhan memandang dia hanya melihat halaman luas dilengkapi dengan berbagai macam tanaman cantik di sepanjang sisi trotoar jalan.

Luhan juga bisa mendengar gemericik air yang berasal dari kolam ikan. Suaranya begitu menenangkan hingga tanpa sadar tubuhnya mendamba saat tangan hangat Sehun menggenggam jemarinya yang dingin.

"Kau sudah kedinginan Lu."

Dan tak lama rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya, Luhan berani bersumpah bahwa tangan Sehun membuatnya benar-benar hangat. Dia juga merasa sangat tenang melihat punggung tegap Sehun membawanya masuk ke tempat yang lima kali lebih besar dan mewah dari apartement Sehun sebelumnya.

"Ini rumahku."

"huh?"

Guk...Guk!

"Dan ini cinta sejatiku."

Belum sempat Luhan mencerna ucapan Sehun, dia dibuat terpukau oleh interaksi Sehun dengan anjing kecil menggemaskan yang kini sedang dipeluknya.

Guk...Guk...!

"Vivi beri salam pada Luhan." Katanya menunjuk Luhan membuat si anjing putih berlari senang dan tak sabar menjilati kaki Luhan.

Guk...Guk...!

"Hey Vivi... Namamu Vivi?"

Luhan berjongkok menyambut si anjing kecil. Mengusap gemas kepalanya lalu tak lama berkata "Aku Luhan."

Guk!

Vivi pun melompat ke pelukan Luhan, membuat Luhan sedikit terjatuh namun tertawa karena rasanya begitu menyenangkan memiliki hewan menggemaskan seperti Vivi

Sebenarnya Luhan memang pecinta hewan, dia cenderung menyukai hewan berbulu yang menggemaskan. Namun karena satu dan banyak hal-...Terutama alergi ibunya pada bulu hewan, maka Luhan mengalah dan membiarkan dua kucingnya pergi dari rumah.

"Vivi menyukaimu."

Luhan tersenyum canggung menatap Sehun, karena jujur tiap kali dia melihat Sehun maka ciuman panas mereka beberapa saat lalu sungguh mengganggunya.

Bukan ciuman itu yang mengganggu.

Harusnya Luhan berterimaksih pada Sehun karena menciumnya dan membuatnya tenang.

Tapi saat wajah Baekhyun terlintas di benaknya, maka hanya ada perasaan bersalah menggerogoti dirinya "Aku juga menyukai Vivi direktur."

"Sehun saja."

"huh?"

"Ini bukan di kantor. Jadi panggil aku Sehun."

"Kau tahu itu tidak sopan."

"Tapi aku memaksa. Cobalah Lu."

Luhan kembali fokus pada Vivi, menimbang apakah harus memanggil nama Sehun atau tetap memanggil direktur. Membuatnya sejenak ragu namun akhirnya mengalah dengan mengatakan

"Baiklah Sehun."

"Katakan sekali lagi..."

Luhan menghela panjang nafasnya lalu mengatakan "Sehun"

"Bagus!"

Sehun mengusap lembut kepala Luhan, mengambil alih Vivi lalu membiarkan Luhan memiliki ruang sendiri sejenak.

"Aku akan segera kembali."

Luhan pun membiarkan Sehun membawa Vivi pergi. Diam-diam berpegangan kuat pada sisi lemari karena begitu lelah dan ketakutan.

"Apa aku akan baik-baik saja disini?" Katanya penuh harap sampai sosok tampan Sehun kembali terlihat -kali ini dia hanya menggunakan kaos hitam ketat yang menampilkan betapa jantan pria seperti dirinya-

"Maaf membuatmu menunggu. Aku antar kau ke kamar."

Sehun membawakan tas Luhan, membuat Luhan secara refleks terkejut dan bertanya ragu pada Sehun "Apa benar aku bisa tinggal disini? Maksudku-... Bagaimana jika Baekhyun tahu aku tinggal bersama kekasihnya."

"Kepalamu terlalu banyak memikirkan Baekhyun, Lu. Kau tahu sekalipun dia ada disini aku rasa dia tidak keberatan jika aku menolongmu."

"Tapi ini berbeda-...Maksudku Baekhyun selalu sensitif padaku jika menyangkut kekasihnya. Dia selalu berfikir aku yang lebih dulu menggoda kekasihnya. Aku hanya takut dia-..."

"Apa karena aku mencium dirimu? Apa kau ingin membahasnya?"

Deg!

Topik yang sedari tadi dia hindari akhirnya dikatakan secara gamblang oleh Sehun. Membuat kakinya secara refleks mundur karena takut sementara Sehun terlihat sendu menatapnya.

"Aku melakukannya karena keinginanku. Kau tidak menggodaku Luhan, itu berbeda."

"Direktur."

"SEHUN!"

Luhan terkesiap saat Sehun berteriak. Matanya mencoba mencari mellihat mata elang itu namun berakhir menunduk takut setelahnya

"Tolong panggil aku Sehun!"

Luhan hanya terus menunduk, sama sekali tak merespon apapun yang Sehun katakan saat ini, matanya bahkan sudah dipenuhi air.

Lalu detik berikutnya bahu kecil itu terisak pelan tanda bahwa dia tak nyaman dengan situasi ini.

Sehun melihat bagaimana Luhan mudah sekali menangis dan ketakutan. Dia juga bisa melihat jika Luhan benar-benar ketakutan.

"Sial!"

Membuat lagi-lagi suara geraman itu terdengar sampai langkah kaki Sehun berjalan mendekati Luhan.

"Apa aku boleh memelukmu?"

"Hks..."

"Luhan.."

Luhan menggigit kencang bibirnya. Aroma sitrus yang menguar dari tubuh kekar Sehun, ditambah dengan nada bicara Sehun yang dingin sungguh membuatnya takut. Dia pun hanya diam lalu detik berikutnya Sehun kembali memanggil namanya.

"Luhan boleh aku memelukmu?"

Sehun berdiri semakin dekat dengan Luhan, tidak membiarkan jarak diantara mereka dan hanya membuat Luhan semakin diam karena terlalu gugup.

"Luhan boleh aku memelukmu. Aku mohon."

Dan saat suara serak itu terdengar memohon, maka hati Luhan luluh. Sedikit membalas tatapan penuh harap milik Sehun sebelum mengangguk membiarkan Sehun memeluknya.

"Kau boleh melakukannya direktur."

Tanpa menunggu lebih lama, Sehun mendekat pada Luhan. Perlahan melingkarkan tangannya pada si mungil sebelum benar-benar membuat Luhan berada di pelukannya.

Dia juga mengabaikan tubuh tegang Luhan karena sentuhan, yang dia lakukan hanya terus mengusap punggung Luhan sampai perlahan tubuhnya menjadi rileks dan nafasnya mulai teratur.

"Bisakah kau percaya padaku? Aku akan menjagamu sama seperti Baekhyun menjagamu. Hanya saja aku akan melakukannya dengan caraku."

"hks..."

Sehun tahu semua ini berat untuk dilalui seseorang. Luhan memang terbiasa melihat banyak wartawan atau antifans sekalipun.

Tapi merasakan dibenci dan ingin dilukai oleh fans psycho mantan kekasihnya adalah hal baru untuk Luhan.

Dia sangat ketakutan sampai rasanya ingin mati. Tapi disaat yang sama Sehun selalu menjadikan dirinya tempat berlindung yang aman untuk Luhan.

Membuatnya perlahan terus menerima uluran tangan Sehun hingga tanpa sadar bergantung pada kekasih sahabatnya.

"Bagaimana dengan Baekhyun?"

"Aku akan mengurus semuanya termasuk Baekhyun. Yang perlu kau lakukan hanya beristirahat dan fokus. Dengar?"

Luhan mengangguk pasrah di pelukan Sehun.

Malam ini dia butuh sandaran untuk berbagi dan Sehun ada untuk memeluknya.

Lalu kemudian pria itu menawarkan semua perlindungan untuk diberikan padanya, wajar jika Luhan bergantung. Karena nyatanya memang hanya Sehun tempatnya berlindung saat ini.

"Jawab aku Lu."

"Aku mendengarmu Sehun."

Sehun tersenyum puas dengan jawaban Luhan. Di dekapnya erat tubuh Luhan lalu tak lama dia memberanikan diri mencium pucuk kepala sahabat kekasihnya.

"Bagus."

"Mulai malam ini kau akan tinggal denganku."

Lagi-…Luhan mengangguk. Tanpa sadar hatinya mendambakan hidup bersama Sehun, membayangkan seseorang akan menjaganya begitu membuat Luhan tenang, dia pun tersenyum.

Ikut membawa tangannya melingkar di pinggang Sehun sebelum menghirup dalam-dalam aroma citrus menyegarkan yang menguar dari tubuh kekar pria yang diam-diam selalu menjaga dirinya.

.

.

.

.

.

.

.

Three weeks later-…..Incheon airport, 09.00 PM

.

.

Terhitung sudah dua minggu Luhan tinggal bersama Sehun di rumahnya.

Dan selama dua minggu itu pula dia semakin dekat dengan kekasih sahabatnya.

Dekat dalam artian sering membicarakan banyak hal dengan Sehun, tentang pekerjaan, tentang kehidupan pribadi mereka dan paling sering dibicarakan adalah Baekhyun.

Ya-…pria cantik itu akhirnya selesai menyelesaikan pertunjukkan busananya di Paris, dan hari ini kembali ke Seoul.

Membuat dua orang terdekatnya –kekasih serta sahabatnya- dengan senang hati datang ke Incheon untuk menjemput kesayangan mereka.

"Sehun-…Maksudku direktur."

Yang dipanggil tersenyum kecil, dia menangkap kecemasan di wajah pria yang sudah dua minggu tinggal bersamanya. Menyadari bahwa Luhan terlalu gugup hingga tanpa sadar tangannya bergerak mengusap lembut kepala Luhan.

"Bersikaplah seperti biasa."

"Bagaimana bisa? Aku paling tidak bisa berbohong pada Baekhyun."

"Apa yang membuatmu gugup?"

"Jika dia bertanya dimana aku tinggal?"

"Katakan kau tinggal denganku."

"Ish! Apa kau gila? Atau apa kau tidak bisa berfikir?-…"

"Luhan…"

"Bagaimana mungkin aku mengatakan jika-…"

"Luhan…"

"Jika kita tinggal bersama? Baekhyun bisa-…"

"Luhan…"

"APA?"

Sehun melipat kedua tangannya di atas dada. Menilai perilaku Luhan yang sudah sangat kurang ajar sampai tak sengaja terkekeh menyadari Luhan sudah terlihat gugup di depannya

"Kau tidak sopan. Aku direkturmu bukan Sehun."

Buru-buru Luhan menggigit kuat bibirnya, segera membungkuk meminta maaf seraya berkata "Maafkan saya direktur. Sungguh saya tidak bermaksud untuk-…"

"Lupakan. Baekhyun tiba."

"MWO?"

"LUHAAAN/ HUNNIE SAYANG!"

Dan benar saja-….Suara sembilan oktaf milik Baekhyun memenuhi bandara saat ini, membuat Luhan semakin salah tingkah sementara Sehun hanya terkekeh melihat ekspresi Luhan.

"HEY BABY!"

Sehun lebih dulu menghampiri Baekhyun, membuat si mungil tanpa ragu melompat ke pelukannya untuk melepas rindunya pada sang kekasih. Sehun dan Baekhyun tanpa ragu berpagutan mesra di depan umum, mengabaikan tatapan dari semua orang yang melihat dan hanya saling melepas rindu yang menggebu.

Luhan melihat bagaimana sepasang kekasih itu melepas rindu, menatapnya penuh senyum walau ada rasa tertohok –sangat kecil- yang dia rasakan. Dan saat ciuman mereka semakin mesra maka Luhan memalingkan wajahnya –entah mengapa hatinya terasa dicubit sakit- melihat bagaimana Sehun begitu memuja Baekhyun.

Dia pun segera mencari kegiatan lain atau alasan untuk menjawab pertanyaan Baekhyun sebelum dia mendengar suara lain tepat di sampingnya.

"Kau iri ya?"

"huh?"

"Melihat mereka. Kau merasa iri kan?"

Buru-buru Luhan menoleh ke samping, mencari tahu dengan siapa dia berbicara sampai secara refleks tubuhnya membungkuk untuk menyapa direktur kedua di JYC'ent. "Direktur Park."

Yang disapa tersenyum khas dengan lesung di pipinya.

Dia juga bisa menangkap ketakutan di suara Luhan, membuatnya merasa bersalah mengingat pertemua terakhir mereka, Chanyeol nyaris mencekiknya kuat.

"Aku minta maaf."

"Minta maaf?"

"Aku terlalu keji di pertemuan terakhir kita. Aku minta maaf padamu."

Buru-buru Luhan menggeleng untuk meyakinkan direktur di sampingnya "Tidak perlu direktur. Sungguh-….Aku baik-baik saja."

Chanyeol memaklumi segala sikap canggung Luhan padanya. Dia pun menerima permintaan Luhan untuk tidak meminta maaf untuk bertanya tentang dirinya "Lalu bagaimana denganmu?"

"Aku?"

"Apa kau kembali lagi pada kekasihmu? Pada Kai?"

Setelah dua minggu, ini adalah kali pertama nama Kai kembali Luhan dengar, hatinya selalu memberikan respon berbeda saat membicarakan Kai.

Terkadang dia sangat marah, lalu tak lama merasa sangat rindu, lalu kemudian dia tidak ingin membicarakan Kai sampai seseorang memaksanya untuk membicarakan pria yang terus menghubunginya namun terus pula dia abaikan.

"Tidak tentu saja. Bagaimana denganmu? Apa kau sudah mengakhiri hubungan dengan Kyungsoo?"

Chanyeol sedikit tersinggung dengan pertanyaan Luhan, nyatanya benar dia dan Baekhyun berbuat gila di belakang Sehun. Tapi demi Tuhan tak ada yang mengetahui hal ini kecuali dirinya dan Baekhyun.

Lalu kenapa pria disampingnya seolah menyembunyikan sesuatu? Nada suaranya juga terdengar marah dan setengah menuntut seolah mengharuskan dirinya mengakhiri hubungan dengan Kyungsoo.

"Dan kenapa aku harus mengakhiri hubunganku dengan Kyungsoo?"

Luhan tersenyum pahit mendengar pertanyaan Chanyeol, berharap jika kebenaran sudah terungkap dia tidak akan terlalu merasa sakit atau putus asa seperti dirinya. "Karena cepat atau lambat kau memang harus melepaskan Kyungsoo. Kau akan kesakitan jika mempertahankannya lebih lama."

Chanyeol melihat luka di tatapan dan mendengar nada suara Luhan terdengar putus asa, dia bahkan bisa melihat kedua tangan Luhan terkepal erat hingga sesuatu mengusik jauh ke dalam hatinya.

"Apa maksud-…"

"LU!"

Belum selesai Chanyeol berbicara, maka Baekhyun merusak segalanya. Pria yang selama tingga minggu menemaninya di Paris itu sekilas menatapnya sebelum benar-benar pada Luhan, sahabatnya.

"Hey sayangku. Kau baik-baik saja kan?"

Wajah Luhan basah karena ciuman berlebihan yang diberikan Baekhyun di seluruh wajahnya, ingin rasanya dia mengelak namun hanya akan berakhir dengan rengekan Baekhyun karena tak ingin ditolak.

Membuat Luhan mersepon sahabatnya dengan cepat sebelum berganti menangkup wajah Baekhyun dan mulai menciumi wajah Baekienya "Aku baik sayangku. Bagaimana denganmu? Kau terlihat semakin gemuk hanya dalam tiga minggu."

Dan saat dua pria cantik itu saling melepas rindu, maka dua pria tampan lainnya hanya diam memperhatikan.

Untuk Sehun dia selalu senang melihat Luhan dan Baekhyun berinteraksi. Karena hanya dengan melihat kekonyolan Baekhyun-Luhan dia bisa sangat terhibur. Terlebih tak hanya tawa Baekhyun yang ingin ia lihat malam ini, karena diam-diam dia juga berharap bisa terus melihat Luhan tertawa walau sebentar.

Dan untuk Chanyeol, ekspresi Luhan masih menghantui dirinya, dia yakin Luhan tahu sesuatu tapi hanya diam. Membuat matanya fokus pada Luhan sampai tak sengaja melihat Baekhyun diam-diam tersenyum padanya.

"Kau baik-baik saja yeol?"

"huh?"

"Kau terlihat senang tapi menyedihkan. Aku mengkhawatirkanmu, bro!"

Nyatanya Chanyeol tak pantas menerima kepedulian Sehun untuknya, rasanya terlalu besar mengingat hal keji yang dilakukannya dengan sang kekasih.

Selama tiga minggu di Paris dengan Baekhyun-….Dia terus menjadikan kekasih Sehun sebagai pelampiasan hasratnya. Tak benar-benar membiarkan Baekhyun memakai pakaian lengkap disana karena nyatanya pula mereka bisa berjam-jam atau bahkan seharian saling bergumul mesra di tempat tidur.

Hati Chanyeol sakit mendengar kepedulian Sehun, dan karena alasan itu pula dia tidak berani menatap Sehun dan hanya menjawab seperlunya "Aku baik. Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku Sehunna."

"Aku sahabatmu, kau bisa menceritakan semuanya padaku."

BAGAIMANA BISA AKU BERCERITA PADAMU JIKA SELAMA TIGA MINGGU AKU MENJAMAH KEKASIHMU!

Ingin rasanya Chanyeol berteriak memaki dirinya sendiri di depan Sehun, namun menyadari hanya Yunho dan Sehun yang dimilikinya sebagai teman sejati, maka dia lebih memilih diam dan membiarkan dosanya dengan Baekhyun menjadi dosa terindah untuk mereka.

"Aku akan menceritakan semuanya padamu kelak."

"Sehunna ayo kita pergi. Aku sudah rindu apartementku."

Suara Baekhyun lagi-lagi membuat percakapan dua orang terhenti, membuat Sehun tertawa gemas sebelum menghampiri sang kekasih dan mengambil alih troley Baekhyun, dia juga berjalan lebih dulu menuju parkiran meninggalkan tiga orang lain dibelakang.

"Lu ayo kita pergi."

"Ayo Baek kita-…"

Saat jaket Baekhyun sedikit terbuka maka mata Luhan terfokus pada tanda ungu di sekitar leher sahabatnya. Awalnya dia mengira itu bekas luka, tapi saat Baekhyun menutupnya dengan cepat maka Luhan tahu bahwa tanda ungu itu bukanlah bekas luka melainkan-…..hickey?

"Tidak mungkin itu hickey…tidaktidak…Tidak mungkin. Tapi itu jelas tanda hisapan seseorang. Tapi siapa yang melakukannya?"

Luhan bukan orang bodoh yang tidak bisa membedakan mana tanda bekas luka atau tanda khas yang diberikan seseorang usai percintaan. Membuat kepalanya berdenyut sakit menebak apa yang Baekhyun lakukan selama ini di Paris sampai

"Aku akan menghubungimu lagi Baek."

"mmh…Aku menunggu Yeol. Sampai nanti."

"Baek mungkinkah kau-….tidak mungkin."

Pertanyaan Luhan seolah terjawab dengan reaksi intim Baekhyun dan Chanyeol saat ini, hatinya bahkan tiba-tiba memukul sakit mencium tanda-tanda penghianatan yang aka dilakukan sahabatnya pada pria yang dengan baik hati menampung hidupnya selama tiga minggu ini.

Membuat Luhan mematung di tempatnya sementara Baekhyun dan Chanyeol terus bersikap intim di depan kedua matanya. "Aku akan merindukanmu."

Luhan bersumpah mendengar Chanyeol berbisik rindu, Baekhyun juga meresponnya dengan senyum malu hingga rasanya kepala Luhan berputar sakit tak tega pada Sehun jika semua ini adalah nyata, jika benar hubungan Baekhyun dan Chanyeol lebih dari sekedar bisnis, maka Sehunlah yang akan paling terluka.

Hatinya menjerit kuat ingin memaki sahabatnya, tapi saat mata innocent Baekhyun memanggilnya maka luap sudah kemarahan Luhan pada sahabat yang begitu ia cintai.

"Ayo pulang. Aku lelah."

Luhan tertunduk sejenak, menghapus cepat air matanya seraya berdoa

Tuhan jangan biarkan siapapun merusak hubungan Baekhyun dan Sehun. Tidak Direktur Park, tidak pula diriku. Aku mohon jangan membuat mereka menangis Tuhan. Aku sangat memohon.

"Luhan aku lelah. Ayo cepat…!"

Luhan memukul kencang dadanya, sedikit menenangkan diri sebelum tersenyum melihat sahabatnya "Ayo kita pergi Bee."

.

.

.

.

.

.

"MWO! JADI LUHAN TIDAK AKAN TINGGAL DENGANKU?"

Dua pria lain hanya bisa menutup telinga saat Baekhyun berteriak, karena tepat seperti dugaan mereka bahwa Baekhyun akan berteriak. Maka berteriaklah dia.

Sehun –satu-satunya pria jantan- dia apartement saat ini mencoba menenangkan kekasihnya, berjalan memutari sofa untuk duduk tepat disamping kekasihnya "Kemari sayangku."

Dia pun mengecupi pucuk kepala Baekhyun, membawanya ke dekapan sementara kekasihnya masih jelas terlihat tak terima "Kenapa Luhan tidak boleh tinggal denganku?"

"Bukan tidak boleh Baek, hanya sementara sampai aku-…."

"Aku tidak bicara denganmu Nyonya!"

"Siapa yang kau panggil nyonya?"

"KAU TENTU SAJA!"

"Byun Baek kau benar-benar-…."

Dan saat Luhan mulai terpancing kalimat mengejek sahabatnya, maka Sehun benar-benar kewalahan menghadapi dua pria cantik yang kini mulai bertengkar. "Sudah jangan bertengkar lagi hmm…"

Sementara pipinya ditarik kencang oleh Sehun maka Luhan terlihat mencibir dan itu artinya dia kalah berdebat dengan si rusa. Dia pun berusaha memukul lengan Sehun sampai Sehun mengalah dan mulai melepas tarikan di pipinya "Tapi aku ingin tinggal dengan DIA!" katanya menunjuk Luhan tanpa ragu dibalas kekehan oleh Sehun dan cibiran menggoda dari Luhan.

"LUUUUU…"

Dan saat Baekhyun merengek, Sehun tertawa lalu mendekapnya erat. Menciumi berulang wajah sang kekasih lalu dengan lembut berkata "Hanya sementara sampai aku memastikan Luhan tidak diteror lagi."

"Memangnya teror seperti apa yang kau maksud?"

Buru-buru Luhan mencari mata Sehun, meminta atasannya untuk tidak memberitahu hal gila yang telah dia alami pada Baekhyun. Dan seolah mengerti Sehun pun mengangguk, dia kembali mencium pucuk kepala Baekhyun seraya berkata "Banyak yang mengirimi pesan konyol pada Luhanmu."

"Seperti apa?"

"Seperti apa ya misalnya-…"

"Seperti –hey Luhan! aku tahu kau sempurna! tapi bisakah kau menjauhi Kai? Apa jadinya jika dua orang sempurna bersama? bagaimana dengan nasib kami yang buruk rupa?- seperti itulah pesan yang selalu masuk kedalam ponselku."

"ck! Aku serius."

"Aku juga serius." Timpal Luhan tak mau kalah dibalas cibiran oleh Baekhyun "Daripada teror itu terdengar seperti pujian untukmu. Jadi apa kau sedang mengarang cerita padaku?"

"huh?"

"Dengar ya Xi Luhan, Bukan satu atau dua tahun aku mengenalmu. Aku sudah mengenalmu hampir seumur hidupku. Jadi jangan coba berbohong padaku!"

"Aku tidak kok."

"Kau jelas berbohong. Matamu yang mengatakannya padaku."

"Baek aku-…."

"Setidaknya aku tahu jenis teror apa yang diterima Luhanmu, dan aku bisa memastikan bahwa dia baik-baik saja. Bagaimana? Kau tenang?"

Baekhyun mendongak mencari mata kekasihnya. Melihat bagaimana Sehun mencoba meyakinkan dirinya adalah hal yang membuat dia tenang. Baekhyun bahkan tak bisa menolak tatapan mata Sehun hingga akhirnya dia mengalah lalu mencoba mengerti jika dua pria di belakang dan di depannya hanya tidak ingin membuat dirinya cemas.

"Kau tahu dimana Luhan akan menetap?"

"Selama ini aku mengetahuinya."

Sebenarnya Luhan sedikit cemas saat membicarakan dimana dirinya tinggal, tapi mendengar bagaimana Sehun menjawab pertanyaan Baekhyun membuat Luhan lega. Dia juga mengagumi ketenangan yang dimiliki Sehun saat menjawab pertanyaan strike kekasihnya.

Setidaknya dia tidak perlu menjawab pertanyaan sulit dari Baekhyun, yang perlu dia lakukan hanya bersikap seperti biasa, selebihnya dia membiarkan Sehun –sekali lagi- menangani masalahnya.

"haah…Baiklah jika kau tahu. Setidaknya aku bisa memastikan bahwa rusa jelek ini tidak akan lari dariku." Katanya menarik tengkuk Sehun lalu mempertemukan bibir mereka.

Sehun pun menyambut ciuman kekasihnya, bertanya-tanya mengapa Baekhyun menjadi lebih agresif mengingat Baekienya tidak pernah seperti ini selama mereka mengenal.

Sehun bahkan nyaris membalas lumatan Baekhyun jika matanya tak sengaja melihat Luhan memalingkan wajah saat ini, membuat entah mengapa hatinya merasa bersalah sampai akhirnya dia menjauhkan wajahnya dari Baekhyun "Wae?"

Baekhyun setengah berbisik dengan nada seraknya, bertanya-tanya mengapa Sehun tak membalas ciumannya sampai sang kekasih memberi isyarat dengan mata bahwa disamping mereka ada Luhan.

"ah-….Mian."

Sehun mencium gemas bibir Baekhyun sekali lagi, segera melepas pelukan Baekhyun dengan Luhan yang bersiap pergi "Kalau begitu aku akan pergi. Kalian bisa bermesraan setelah aku pergi."

"Biar aku mengantarmu."

Baekhyun menoleh ke dapur mencari keberadaan sang kekasih, melihat Sehun mengatakan akan mengantar Luhan membuat dahinya mengernyit. Tapi saat mata mereka bertemu maka yang bisa dilakukan Sehun hanya menjawab seadanya sementara tubuh Luhan sudah tegang di tempatnya.

"Aku akan datang lagi setelah mengantar Luhan."

Baekhyun memperhatikan tingkah Sehun yang seperti tak ingin dibantah, lalu tak lama matanya memandang Luhan sampai kembali menoleh lagi pada Sehun "Sejak kapan kalian berdua menjadi dekat?" katanya mendengus curiga dibalas kekehan oleh Sehun

"Sejak Baekiku menjadi dekat dengan Yeolie."

Skak!

Semua tertawa dengan lelucon Sehun, tapi Baekhyun tidak. Dan daripada tertawa wajah sahabatnya berubah menjadi pucat-….Luhan menyadarinya. Dia bahkan bisa melihat Baekhyun bergerak salah tingkah dengan ucapan kekasihnya.

Membuat mata Luhan terus melihat Baekhyun sampai akhirnya Baekhyun menjawab ucapan kekasihnya –terdengar gugup kali ini-

"Kau benar sayang. Kau harus mengantar Luhan lalu kembali lagi kesini."

Luhan menyanggah dengan mengatakan "Direktur anda tidak perlu melakukannya. Aku bisa melakukannya sendiri."

Sehun menuang lagi air dalam gelasnya, menenggaknya dengan cepat lalu melihat wajah Baekhyun dan Luhan bergantian "Aku rasa Baekhyun sudah setuju. Iya kan sayang?"

"y-Ya sayang. Tentu saja."

Dia memang tersenyum-….Tapi Luhan menyadari bagaimana wajah pucat Baekhyun mendominasi, tangannya juga terkepal sangat erat –itu kebiasaan Baekhyun jika sedang berbohong-. Ingin rasanya Luhan bicara berdua dengan Baekhyun namun harus dia tahan mengingat Sehun juga berada disini dengan mereka.

"Ayo Lu kita pulang. Ini sudah malam."

Sehun kembali mendekati Baekhyun, mencium sayang kening kekasihnya lalu mengerling Luhan sekilas "Aku menunggu di depan lift."

Kali ini Luhan mengangguk, membiarkan Sehun pergi lalu mengambil kesempatan untuk bicara dengan Baekhyun "Hey sayangku." Katanya berjongkok dengan tangan menangkup wajah Baekhyun. Memaksa Baekhyun yang terlihat cemas untuk melihatnya dan hanya fokus padanya.

"Kau baik-baik saja?"

"huh?"

"Wajahmu pucat Bee."

"Aku-….Aku baik sayang. Aku hanya lelah."

Sekali lagi Baekhyun menolak menatap Luhan-….Dia hanya terus melihat ke banyak arah sampai membuat Luhan tak memiliki pilihan lain "Yakin hanya lelah?"

"mmhh…Aku akan pergi tidur setelah kau pergi."

Luhan kemudian beranjak memeluk Baekhyun, mendekapnya sangat erat seraya berkata "Nanti, apapun yang terjadi aku hanya ingin bahagia Baek."

"Kenapa kau bicara seperti itu?"

Luhan mencium sayang kening Baekhyun seraya mengangkat dua bahunya "Aku hanya ingin kau tahu, bahagiamu adalah hal yang sangat ingin aku lihat. Jadi berbahagialah sebanyak yang kau mau."

"Walau caraku salah?"

"Asal kau bahagia aku tidak akan memperhitungkan benar atau salah caramu."

Buru-buru Baekhyun menarik lengan Luhan, dia juga memeluk sahabatnya erat. Terlalu erat hingga sepertinya Luhan tak bisa bernafas. "Baek?"

"Nanti, apapun yang terjadi biarkan aku menjagamu. Aku akan melakukannya sendiri hingga Sehun tak perlu melakukannya. Aku sangat menyayangimu Lu."

Baekhyun terisak di pelukan Luhan, sangat bergantung pada sahabatnya hingga rasanya dia akan mati jika Luhan pergi meninggalkannya. "Kau dengar kan? Aku menyayangimu."

Seperti yang Baekhyun katakan-….Mereka tidak mengenal satu atau dua tahun. Mereka sudah saling mengenal hampir seumur hidup mereka. Jadi bohong, jika Luhan tidak tahu Baekhyun sedang menyembunyikan sesuatu. Membuatnya cukup mengerti untuk tidak mengusik ketenangan Baekhyun dan membiarkan Baekhyun memiliki waktunya sendiri

"Aku lebih menyayangimu, Baek."

Luhan membalas pelukan Baekhyun cukup lama, membiarkan kegelisahan Baekhyun sedikit menghilang sampai Baekhyun melepas pelukannya "Aku tahu kau lebih menyayangiku. Jadi jangan tinggalkan aku. Paham?"

Luhan mengerling Baekhyun lalu membalas "Paham."

Keduanya tertawa konyol cukup lama. Membiarkan Sehun menunggu diluar sana sampai akhirnya Baekhyun mendorong tubuh sahabatnya pergi "Sekarang cepat pergi. Aku akan menemuimu besok pagi."

"ah ya….Aku lupa memberitahumu. Lusa aku ke Bali."

"Berapa lama?"

"Hanya lima hari."

Baekhyun masih memeluk Luhan dari belakang. Membiarkan Luhan berjalan menuju pintu sambil bergelendot manja di punggung sahabatnya "Baiklah hanya lima hari aku bisa tahan." Katanya sedikit mendorong Luhan keluar lalu bersiap menutup pintu.

"Kau ingin aku bawakan apa?"

"mmh…Apapun yang bisa dimakan."

"Oke."

"Sampai bertemu besok Lu."

Sekali lagi Luhan mengusak kepala Baekhyun lalu berjalan pergi meninggalkan apartement mereka berdua "Sampai bertemu besok Baek." Katanya berjalan lurus menuju lift. Berniat untuk segera pulangsampai terlihat si pria tampan yang masih setia menunggu bersandar di dinding dengan kedua tangan terlipat di dadanya.

"Perasaanku saja atau kalian benar-benar lama di dalam sana?"

Luhan tersenyum kecil, membungkukan tubuhnya untuk menyapa Sehun lalu berdiri di depan atasannya "Aku merindukan Baekiku direktur."

Ting!

Bersamaan dengan jawaban Luhan, pintu lift terbuka. Membuat keduanya bersiap masuk sampai

Sret…!

Sesukanya-….Sehun mengambil tangan Luhan, menggenggamnya erat seraya memasuki lift bersama

"Direktur!"

Sehun sama sekali tidak mempedulikan peringatan Luhan, yang dia lakukan hanya terus menggenggam tangan Luhan lalu menekan tombol B membiarkan lift membawa mereka ke Basement.

"Direktur apa yang anda lakukan?"

Dan saat Luhan berusaha melepas genggaman tangan Sehun, maka yang dilakukan Sehun hanya melirik si pria cantik yang sudah tinggal bersama dengannya selama tiga minggu "Jam kerjamu sudah habis. Panggil aku Sehun."

.

.

.

.

.

BLAM…!

"Ini gila-…Ini benar-benar gila!"

"Berhenti menggerutu dan pasang seatbelt Lu."

Yang memerintah terlihat begitu tenang, berbeda dengan yang diberi perintah. Membuat Sehun –si pemberi perintah- terkekeh lucu melihat bagaimana wajah Luhan sangat pucat karena sepanjang perjalanan ke basement dia terus menggenggam tangan mungilnya.

"Berhenti menggerutu? Apa kau sudah gila?"

"Luhan…."

"Bagaimana jika Baekhyun melihat?"

"Luhan…"

"Bagaimana jika Baekhyun mengira ada sesuatu di antara-…."

"Luhan!"

"APA?"

Kebiasaan Luhan adalah tidak suka dipotong saat dirinya panik, karena jika sudah panik dia cenderung kasar dan berteriak memaki semua yang memanggil namanya. "ck! Kau mulai lagi."

Dan saat Sehun memijat keningnya maka sudah dipastikan bahwa dia melakukan kesalahan besar karena membentak atasannya. "Direktur, maafkan aku. Aku hanya-…"

"Sehun, Sehun, Sehun. Panggil aku Sehun. oke?"

"Aku sudah memanggilmu Sehun selama tiga minggu tapi saat di depan Baekhyun aku harus berlatih memanggil direktur! Pikirmu aku tidak kesulitan, HAH?"

"Apa kau sedang berteriak padaku?"

"TENTU SAJA-.."

Buru-buru Luhan membekap bibirnya, menyadari kesalahan keduanya malam ini seraya menggaruk asal tengkuknya "maksudku. Aku tidak berteriak direktur-…Sehun maksudku."

"Pasang seatbelt atau perlu aku yang melakukannya?"

"Tidak perlu aku bisa sendiri."

Sehun menangkap gerakan Luhan memakai seatbelt sungguh sangat menggemaskan. Dia bahkan terlihat masih menggerutu sampai terdengar kalimat "Aku seperti selingkuhanmu jika seperti ini."

"Tenang saja kau bukan selingkuhanku."

"Tetap saja aku menyembunyikan fakta bahwa aku tinggal bersama kekasih sahabatku. Ish! Tiap aku memikirkannya kepalaku terasa ingin pecah."

Sehun sengaja bergerak cepat mendekati Luhan, membuat jarak mereka hanya sekitar tiga sentimeter dengan nafas keduanya terdengar bersahutan "Se-…Sehun apa yang kau lakukan?"

Dan saat Luhan menjauhkan tubuhnya maka Sehun dengan sengaja semakin menghimpit Luhan. Jarak keduanya semakin dekat, membuat Luhan memejamkan erat matanya takut kalau-kalau Sehun akan menciumnya, lagi.

Sementara Luhan memejamkan erat matanya maka Sehun terkekeh menebak apa yang ada di pikiran Luhan, dia memang nyaris membuat bibir mereka bertemu jika wajah Luhan tak sangat tersiksa seperti sekarang

"Jangan terlalu banyak berfikir. Kau bukan selingkuhanku dan aku tidak akan menciummu. Jadi cepat buka matamu."

Buru-buru Luhan membuka matanya, merasa sangat sesak di dada karena apa yang nyaris Sehun lakukan padanya. Dia pun kemudian membenarkan caranya duduk lalu melirik sekilas pria tampan yang sedang tertawa di sampingnya "ish! Aku bisa gila terlalu sering bersamamu."

"Baiklah setuju! Aku akan membuatmu gila kalau begitu." Timpal Sehun membalas sebelum terdengar getaran di ponsel Luhan.

Luhan pun segera menggeser slide pesan yang dia terima dengan mata membulat tanda dia melupakan sesuatu. "Direktur." Sehun menatapnya tak suka lalu Luhan membenarkan cara memanggil Sehun "Sehunna."

Yang dipanggil diam-diam tersenyum, lalu berusaha menjawab panggilan Luhan dengan keren –itu menurutnya- "Ada apa?"

"Aku harus kembali ke tempat Baekhyun sebentar."

"Untuk apa?"

"Aku lupa ayah Baekhyun menitipkan hadiah untuk Baekhyun padaku. Aku harus memberikannya."

"Ayah Baekhyun?"

Luhan tergesa melepas seatbelt nya. Dan setelah memastikan hadiah yang dititipkan ada berada di tasnya, dia segera membuka pintu mobil "Ya ayah Baekhyun."

"Maksdumu calon ayah mertuaku."

"Terserah kau ingin memanggilnya apa." Katanya menggumam kesal lalu tak lama

BLAM…!

"LUHAN AKU IKUT!"

.

.

.

.

.

.

.

Ting..tong…

Ting..tong..

"Siapa yang datang tengah malam seperti ini?"

Baekhyun hanya menggunakan bathrobe saat ini, dan dilihat dari rambutnya yang basah maka sudah bisa dipastikan dia baru selesai membersihkan badan.

Ting…tong…

Dengan handuk kecil di tangannya dia mengeringkan rambut, awalnya dia enggan untuk membukakan pintu, tapi saat bel terus berbunyi maka rasanya dia bersemangat menebak jika Sehun yang sedang menekan bel nya.

Terlalu cepat memang, tapi siapa tahu Sehun membatalkan tujuannya mengantar Luhan dan hanya kembali untuk bermain "panas" dengannya "Kau tahu aku sedang bergairah ya?" katanya riang menuju pintu apartement dan

Klik…!

Langkah kakinya secara refleks mundur melihat siapa yang datang.

Mata kecil miliknya juga terlihat membesar menyadari bukan Sehun yang datang menekan bel, bukan Sehun yang tahu jika dia sedang bergairah, bukan Sehun tapi…..

"Chanyeol?"

Yang dipanggil namanya terlihat menatap lapar tubuh seksi Baekhyun. Dia kemudian memaksa untuk masuk sementara Baekhyun terus berjalan mundur "Apa-…Apa yang kau lakukan disini Yeol?"

"Aku merindukanmu."

Tiga minggu dia tinggal bersama Chanyeol, dan selama tiga minggu itu pula suara berat Chanyeol selalu berhasil menaikkan gairahnya. Bohong jika dia tidak bergairah sama seperti tiga minggu lalu, bohong jika dia tidak merindukan Chanyeol. Rasanya dia bahkan ingin mengulang malam panas mereka,Tapi itu di Paris.

Berbeda dengan saat ini, Baekhyun memang bergairah melihat bagaiamana tampilan casual Chanyeol dengan dua kemeja terlepas di di depan matanya saat ini, tapi ini gila? Ini terlalu gila? Dia tidak berani mengambil resiko mengingat Sehun bisa datang kapan saja.

"Apa kau gila? Sehun bisa datang kapan saja."

"Aku melihatnya di basement. Dia sudah pergi Baek."

"TETAP SAJA DIA BISA-…nghhmmphh…"

Baekhyun selalu seperti ini selama di Paris, selalu menolak di awal tapi luluh di akhir. Chanyeol bahkan sudah terlalu menghafal bagian tubuh mana yang bisa membuat Baekhyun pasrah dan hanya melenguh di bawahnya.

"mmmphh…yeol…"

Seperti saat ini, saat Chanyeol melepas ciuman panasnya, dia beralih ke leher dan pundak Baekhyun

Hasilnya?

Baekhyun mendesah luar biasa tersiksa saat ciuman dan tangannya melumpuhkan kesadaran Baekhyun. Chanyeol bahkan tanpa ragu melepas tali bathrobe Baekhyun dan mulai mengecupi dada seksi yang menemani malamnya selama tiga minggu.

"yeol—akh…!"

Dan untuk Baekhyun, rasanya dia ingin menampar Chanyeol saat ini, mengutuk segala keberanian Chanyeol untuk datang ke apartemen miliknya dan mengajaknya memadu kasih.

Dia bisa saja benar-benar mendorong Chanyeol menjauh, lalu setelah itu apa? Dia hanya akan menyesal karena membiarkan sentuhan nikmat ini tak lagi dirasakan tubuhnya.

Brak…!

Dan karena alasasan itu pula, Baekhyun diam.

Saat Chanyeol menidurkannya di sofa, Baekhyun pasrah.

Dan saat tubuh besar itu kembali mengukung tubuh mungilnya, Baekhyun mendesah.

Tak perlu waktu lama pula saat keduanya saling melepas kaitan di tubuh mereka.

Chanyeol kemudian membuka lebar paha Baekhyun. Sedikit menindih tubuh mungil itu untuk mempersiapkan hal yang lebih nikmat untuk keduanya malam ini.

"Aku akan melakukannya."

Peluh di wajah Baekhyun sungguh menambah indah pemandangan Chanyeol, keduanya masih saling bertatapan penuh nafsu sampai akhirnya Baekhyun mengangguk tanda menyetujui penghianatan ini berjalan semakin jauh "Lakukan."

Perlahan Chanyeol mengangguk. Memposisikan tubuh mereka semakin intim sampai terdengar erangan nista dari pria mungil dibawahnya

"AKH—CHAN-…NGHH!—deep yeol-…RGHH!"

"tidak…"

Dan saat desahan nikmat itu sedang terdengar bersahutan di dalam apartement, maka sepasang mata yang melihatnya nyaris tak sadarkan diri saat ini.

Itu Luhan yang melihat bagaimana Baekhyunnya memadu kasih dengan pria lain di apartement miliknya.

Itu Luhan yang kini menangis merasa sesak entah karena alasan apa.

Dia tahu rasanya dikhianati

Dia tahu rasanya melihat kekasihmu bercinta dengan orang lain.

Hingga saat ini lukanya tak kunjung sembuh, dia masih merasakan marah pada Kai,pada Kyungsoo. Tapi kemudian dia sadar, akan ada hati yang jauh lebih terluka jika dia melihat apa yang sedang dilakukan oleh kekasih dan sahabatnya.

"Kenapa kau tidak masuk?"

DEG!

Mata Luhan membulat hebat mendengar suara Sehun menyapa.

Buru-buru dia membalikan tubuh, merentangkan kedua tangannya untuk mencegah Sehun melihat semakin ke dalam.

"Ada apa?"

Suara Luhan tercekat, dia sama sekali tak bisa bersuara.

Yang bisa dia lakukan hanya menggeleng keras dengan air mata yang terus membasahi seluruh wajahnya.

"Kenapa kau menangis? Ada apa? Dimana Baekhyun."

"akumohonjanganhksss."

"Kau bicara apa?"

Sehun semakin panik melihat tingkah Luhan.

Dia takut Baekhyunnya diganggu oleh fans Kai yang terus menganggu Luhan, membuat tubuhnya secara refleks ingin bergerak masuk namun dihalangi tubuh mungil sahabat kekasihnya saat ini.

"ja-..jangankumohonhksss."

"Luhan ada apa?"

"jebal…"

Suara Luhan benar-benar penuh ketakutan. Dia kini menyatukan dua tangannya seolah memohon –dengan sangat- agar Sehun tak masuk kedalam.

"sial! Kau membuatku marah."

Brak!

Satu gerakan cepat, Sehun sengaja menabrak tubuh Luhan dengan bahunya. Berniat untuk masuk kedalam sampai

"rrgh—baek—aakh!"

"deep yeol—faster!—agh"

Brak…!

Dia belum sampai di dalam apartement.

Demi Tuhan dia masih berada di luar apartement dengan pintu yang dibiarkan terbuka kecil.

Pintu apartement itu memang terbuka kecil, tapi dia bisa melihat dengan jelas dua siluete yang tengah bergerak beraturan untuk menjemput rasa nikmat.

"tidak."

Dan sialnya Sehun mengenal dua siluete yang sedang memadu kasih di depan kedua matanya. Seketika kaki Sehun melemas melihat apa yang sedang dilakukan oleh dua pria terdekat dalam hidupnya.

Itu Baekhyun –kekasihnya- sedang memadu kasih dengan Chanyeol –sahabatnya-. Apa yang sedang mereka lakukan? Apa mereka gila? Tidak-….Mereka cukup waras untuk melakukan hal gila saat ini.

"brengsek!"

Sehun tak tahan dengan pemandangan keji di depannya.

Pemandangan keji yang dalam hitungan detik mencabik hingga ke tulang rusuknya.

Sehun kesulitan bernafas saat ini.

Tangannya terkepal sangat erat seolah ingin membunuh pria yang kini namanya sedang diteriakan penuh nikmat oleh kekasihnya.

"aku-…Aku akan membunuhmu yeol. Aku akan-…."

Dia kembali berdiri, berniat untuk berjalan mendekati dua insan keji yang sedang memadu kasih sampai

Grep…!

Tangan mungil seseorang mendekapnya erat di belakang saat ini.

Membuat dadanya yang sedari tadi ingin pecah seolah dibuat tenang untuk beberapa saat.

Sehun kembali sadar untuk beberapa detik sampai tangisan Luhan dipunggungnya seolah menyadarkan dia bahwa penghianatan ini benar adanya-….bahwa perselingkuhan itu nyata.

Dan pahitnya ini bukan dilakukan oleh orang asing, bukan dilakukan oleh musuhmu. Semua ini dilakukan oleh orang terdekatmu, oleh sahabatmu, oleh kekasihmu.

Membuat gemuruh murka kembali mengusai hati dan pikirannya sementara tangan Luhan terus mengusap lembut dadanya yang sakit. "Lepas."

Luhan menggeleng kencang. Dia berusaha untuk membawa Sehun pergi tak peduli bagaiamana caranya. "Aku mohon jangan. Kita pergi Sehun, aku mohon."

"Aku bilang-…."

Brak…!

Luhan berlutut memeluk kencang kaki Sehun, setengah menggigit kaki Sehun agar kesadaran Sehun dikembalikan, agar amarah Sehun bisa dia tekan, agar kejadian mengerikan malam ini tak menyakiti siapapun.

"Akumohonsehun…akumohonkitapergi!"

Sehun tersadar karena satu hal, bukan karena Luhan berlutut memohon padanya, bukan pula karena Luhan menggigit kuat kakinya.

Dia melihat bagaimana Luhan menangis pilu.

Bahkan dibanding dirinya dia berani bersumpah kalau Luhan terlihat jauh lebih terluka.

Membuat segelitik rasa amarahnya menggoda untuk tetap membunuh namun kemudian tangisan Luhan menghilangkan semua keinginan kuatnya untuk memukul bajingan yang kini menggagahi Baekhyun, kekasihnya.

"AkumohonhkssakumohonSehun!"

Ingin rasanya Sehun mengatakan baiklah pada Luhan.

Namun mengingat alasan Luhan menangis adalah karena takut Baekhyun disakiti-..Sehun marah.

Dia pun hanya menikmati tangisan Luhan sebelum menghempas kasar tubuh Luhan hingga dia terpental cukup jauh. "Sehun.."

Kedua mata mereka bertemu. Sehun murka dan Luhan ketakutan.

Sehun bisa saja mendobrak pintu yang menghalangi antara dia dan Baekhyun, namun saat mata Luhan memintanya dengan pilu maka hanya geraman menyiksa yang Sehun rasakan.

Dia tergoda dan ingin sekali menyakiti dua orang yang menghianatinya.

Tapi pria asing ini menghancurkan segalanya.

Pria mungil yang sedang menangis memohon padanya seolah mematikan sisi jahatnya dalam hitungan detik, mungkin ini yang Luhan rasakan saat dikhianati Kai, tapi apa bisa disamakan?

Sehun bertanya-tanya, dan saat jawaban tak kunjung dia dapatkan maka tangan terkepalnya seolah menjawab semua kemarahannya. "Jangan temui aku." Dia melampiaskannya pada Luhan.

Menghapus cepat air matanya lalu pergi meninggalkan tempat yang membuatnya tahu bagaimana rasanya pedih saat dikhianati.

"sehun…."

.

.

.

.

.

.

"SEHUN!"

Luhan tentu tak mengindahkan kalimat jangan temui aku yang Sehun lontarkan.

Karena nyatanya dia terus mencari kemanapun Sehun pergi, berusaha menghubungi Sehun walau tak mendapat respon.

Sampai semua pencariannya menemukan hasil saat ini.

Tersenyum kita matanya mendapati sosok tampan itu tengah termenung berdiri di balkon apartement miliknya.

Entah apa yang Sehun lakukan disana, yang jelas Luhan merasa begitu lega karena tampaknya Sehun sudah jauh lebih baik.

"syukurlah."

Dan jika Sehun terlihat tenang dengan melihat pemandangan malam, maka Luhan tak berniat mengganggunya.

Yang dia lakukan hanya berdiri tepat di belakan Sehun dengan tangan mengusap punggung tegap itu dari kejauhan.

Berharap apapun yang Sehun rasakan tidak membekas terlalu lama di hatinya, "mianhae." Luhan masih setia berdiri di belakang Sehun, hanya sedikit berbisik tak membuat banyak suara sampai suara berat Sehunlah yang lebih dulu terdengar.

"Aku sudah bilang jangan temui aku."

Luhan bergerak salah tingkah. Pria di depannya seolah asing dan tak seperti Sehun yang dia kenal selama tingga minggu ini. Suaranya berat dan penuh kemarahan, membuat Luhan hampir menyerah jika tidak mengingat semua ini terjadi karena penghianatan Baekhyun padanya.

"mianhae."

"Aku tidak bisa menahan diri jika terus melihatmu."

Tak mengerti-….Luhan diam.

Dia hanya terus setia menatap punggung Sehun.

"Tak perlu melihatku kalau begitu, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja." Balasnya singkat namun penuh kepedulian untuk Sehun.

"Aku tidak suka dikasihani."

"Aku tidak mengasihanimu Sehunna."

Punggung dingin itu masih menyapa penglihatan Luhan, dia juga masih setia mengusap si pemilik punggung dari jauh. Terlalu setia sampai detik berikutnya matanya sudah bertatapan dengan mata tajam yang terlihat penuh luka dan kemarahan.

"Sehun."

Terkejut, Luhan sedikit mundur dari langkahnya. Berharap Sehun membalas namun nyatanya dia hanya diam seolah menyalahkan dirinya "Siapa kau?"

"huh?"

"SIAPA KAU? KENAPA KAU BISA MENGENDALIKAN AKU?"

"Sehun apa yang kau katakan?"

"AKU MENGERIKAN SAAT MARAH-….SEMUA MENGETAHUI HAL ITU! SEMUA TERMASUK SAHABATMU! AKU BAHKAN BISA MEMBUNUH MEREKA BERDUA MALAM INI JIKA BUKAN KARENA KAU!"

"Sehun tenanglah."

"KENAPA KAU BISA MEMBUATKU MENAHAN DIRI? APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU LUHAN!"

Luhan ketakutan, perlahan dia semakin mundur dengan Sehun yang semakin mendekat, dia sama sekali tak mengerti apa yang diucapkan Sehun. Dia terlalu takut dan terus melangkah mundur, sampai akhirnya langkahnya terkunci karena tak ada lagi ruang untuk bergerak.

"Aku perlu mencari tahu siapa dirimu."

"Apa maksudmu?"

Sehun mengunci pergerakan Luhan di antara dinding, matanya dipenuhi kemarahan namun terbersit rasa ingin tahu yang besar mengenai siapa Luhan untuknya.

Dia pun menyeringai layaknya iblis yang mendapatkan mangsa. Menyusuri wajah pucat Luhan dengan jemarinya seraya berbisik penuh kekejian di dalamnya "Aku menginginkanmu."

Detik berikutnya Sehun menarik paksa tengkuk Luhan,

Mempertemukan bibir keduanya dengan kasar hingga rintihan sakit terdengar dari bibir Luhan.

"nghh—sehun-…SEHUN LEPAS!"

Luhan berhasil mendorong tubuh Sehun menjauh.

Segera berlari menuju pintu sebelum

Sret…!

Sehun kembali menarik lengannya.

Bibir mereka bertemu lagi secara kasar, membuat Luhan meronta sangat ketakutan namun diabaikan Sehun yang sedang dipenuhi iblis di pikirannya.

"sehun—akkh!"

Katakanlah dia seorang pejantan yang tahu dimana titik kelemahan mangsanya. Karena saat bibirnya menyusuri leher sensitif Luhan dengan tangan meremas penisnya yang mulai memberikan reaksi-…Luhan melenguh.

Sehun terus mengecupi kasar leher Luhan, memberikan banyak tanda disana sampai membuat Luhan terus meringis karena rasa sakit.

"Sehunakumo…nghmmphh.."

Dia kembali mencium kasar bibir Luhan, kali ini terlalu kasar hingga darah keluar dari bibir Luhan yang sengaja digigitnya kencang.

Rasa anyir langsung menjadi dominant di ciuman mereka, membuat tubuh Luhan semakin meronta sakit namun diabaikan Sehun yang kini merobek kasar kemeja yang Luhan gunakan lalu membuangnya begitu saja ke lantai.

"ngghphmhh—SEHUN!"

Semakin Luhan berteriak maka semakin marah pula Sehun, dengan satu tangan dia mengangkat tubuh Luhan sebelum

BRAK…!

Luhan sudah berada di tempat tidur miliknya, menangis terisak dan terlihat kacau karena ulahnya. Kedua mata mereka bertemu, Sehun juga menatapnya lembut dibalas tatapan ketakutan Luhan di matanya.

"Aku mohon hentikan, sakit."

Hati nurani Sehun kembali untuk sesaat, berniat untuk menghentikan hal gila yang dilakukannya pada Luhan namun gagal karena tubuhnya menginginkan hal berbeda.

"Ini akibat karena kau membantahku, aku bilang jangat temui aku dan kau tetap datang."

"AkuakanpergiSehun….akuakanpergi..tidak kumohon jangan."

Tangan kekar Sehun sibuk melucuti celana Luhan, dan semakin Luhan mencegah maka semakin kasar pula gerakan Sehun. Membuat Luhan tak lagi ingin melawan dan hanya membiarkan apa yang diinginkan Sehun dari tubuhnya.

"ck! Kau sudah merespon sentuhanku!"

Tanpa segan Sehun memasukkan penis tegang Luhan ke dalam mulutnya, mengisapnya kuat-kuat hingga

"akh—sehun!"

Luhan mendesah kuat saat Sehun mengulum kasar penisnya, dia juga menjambak rambut Sehun sebagai pelampiasan.

Sesekali membekap mulutnya agar tak mendesah dan tak membiarkan gairah Sehun semakin tersulut karena desahannya. "mmmph—ngghh.."

"Kau menyukainya Lu."

Saat Luhan mati-matian menggigit bibirnya maka secara kasar pula Sehun merangkak untuk menggantikan gigitan bibir Luhan dengan bibirnya.

Luhan terlalu lelah untuk melawan, dia pun hanya membuka lebar mulutnya dan membiarkan Sehun menyatukan lidah mereka saat ini.

Hati Luhan miris mengingat tiga minggu yang lalu Sehun menciumnya begitu lembut, membuat seluruh tubuhnya mati lemas karena mendamba dan karena ketulusan dalam ciuman tiga minggu yang lalu.

Berbeda dengan malam ini, semuanya terasa kasar walau tetap membuat Luhan nikmat,

Bedanya tak ada lagi rasa peduli, yang ada hanya pelampiasan rasa murka Sehun pada Baekhyun.

Luhan bisa mati lemas karena Sehun terlalu dalam mengeksplor bibirnya dan saat Sehun berbaik hati menyudahi ciuman panas mereka maka buru-buru Luhan mengambil nafas sebelum matanya melihat sesuatu yang membuatnya sangat ketakutan

"tidak—akh…"

Sehun sengaja menggesekan perutnya dengan penis Luhan, berusaha membuat Luhan lemas sementara dirinya membuang seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya.

Sret….!

Dan saat bunyi zipper celana Sehun diturunkan, maka Luhan sudah tahu hal berikutnya yang akan dilakukan Sehun adalah.

SLEB…

"AAAAKH—SAKIT! KELUARKAN SEHUN! KELUAR-….ngghmphh."

Lubang Luhan terlalu sempit sementara penisnya terlalu besar untuk masuk dalam satu kali hentakan.

Karena hal itu pula Sehun tersulut mendengar teriakan Luhan, dia pun kembali melumat kasar bibir Luhan sementara pinggulnya terus mendorong ke dalam hingga

SLEB..!

"NNGHHMMPHH!"

Luhan menjerit pilu saat sesuatu yang besar itu menerobos paksa ke dalam lubangnya.

Rasanya terlalu besar dan tak mungkin untuk masuk lebih dalam.

Tapi saat Sehun terus mendorong pinggulnya maka rasanya Luhan bisa mendengar suara robekan yang berasal tepat di bagian bawahnya "SEHUN—mphh—SEHUNSAKIT!"

Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan, tangannya juga mencakar habis punggung Sehun sebagai pelampiasan rasa sakit.

Tapi kemudian Sehun menangkup wajahnya dan menatap dua matanya-….Luhan tenang.

Sesaat tatapan Sehun terlihat seperti Sehun yang selama ini menjaganya. Terlihat lembut dan terasa hangat. Luhan juga bisa melihat penyesalan yang enggan diucapkan pria yang kini sedang menggagahinya.

Membuat antara marah dan tak tega juga dia rasakan sebelum suara berat Sehun membuatnya kembali bereaksi "Hanya fokus padaku."

"Kau gila!"

"YA AKU GILA KARENAMU-…!"

Murka dengan ucapan Luhan, Sehun kembali emosi.

Tapi dia masih tak sampai hati membuat Luhan kesakitan.

Terbukti dari cara dia mencium lembut bibir Luhan dengan tangan yang mengocok penis Luhan dengan ritme cepat, membuat rintihan kesakitan itu kini digantikan desahan nikmat dari bibir menggoda Luhan.

"sehun—mmpph…"

Demi Tuhan dia sudah lama tidak bercinta, dan saat Sehun melakukannya dengan kasar tapi tetap menyerang titik pusatnya-…Luhan menyerah.

Dia menyerah untuk meleburkan diri bersama dengan emosi Sehun. Tubuh mereka menyatu tapi tidak dengan hati mereka, dan saat Sehun terus menggerakan pinggulnya semakin dalam maka rasanya semakin perih sampai akhirnya terdengar lenguhan nista yang tak semestinya terjadi.

"aakh—../ Sehunmmph—"

Beberapa detik Luhan mencapai klimaknya lebih dulu dibanding Sehun.

Lalu detik kemudian Luhan bisa merasakan betapa panas sperma Sehun membasahi lubang dan bagian dalam tubuhnya. Terlalu panas hingga rasanya Luhan jijik menerima kenyataan bahwa malam ini, saat ini juga, Sehun baru saja memperkosanya, melecehkan dirinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Nggh….Kepalaku sakit!"

Saat sinar matahari menyinari paksa wajahnya-…dia menghindar.

Sehun juga sengaja menarik kasar selimutnya sampai mencium bau khas sperma menguar dari selimut yang digunakannya.

Dia kemudian membuka mata, mempelajari dimana dirinya saat ini sampai bergumam bingung menyadari bahwa dia tidak berada di rumah melainkan di apartement.

"Apa yang terjadi?" ujarnya kembali memejamkan mata. Berusaha menghilangkan rasa sakit di kepalanya dan mencoba mengingat apa yang terjadi sampai

LUHAN!

Dia mengingatnya sekarang, terlalu mengingat semuanya sampai perutnya terasa sangat mual.

Alasan mengapa dia berada di apartement adalah karena Baekhyun dan Chanyeol bermain gila di belakangnya.

Dan sialnya….!

Alasan mengapa dia tidur tanpa busana adalah karena malam tadi, dirinya baru saja memperkosa Luhan, melecehkan pria cantik yang begitu polos dan ketakutan.

Membuat kepalanya benar-benar sakit hingga

Huweek…!

Dia begitu mual mengingat hal gila yang telah dilakukan pada Luhan.

Bajingan macam apa dirinya. Tega sekali dia melakukan hal keji pada Luhan?

Buru-buru dia mengambil ponselnya, segera menekan tombol Luhan namun-…nihil. Luhan mematikan ponselnya.

Hal kedua yang Sehun lakukan adalah menghubungi paman Kim sebelum

"Presdir?"

"Paman apa Luhan sudah di kantor? Berikan panggilan ini untuknya."

"Luhan?"

"Luhan. Cepat panggilkan dia untukku."

"Tapi Presdir."

Sehun mendengar nada resah dari sekertarisnya, jantungnya bahkan berdebar sangat cepat sampai sekertarisnya kembali berbicara "Luhan dan timnya sudah berangkat ke Denpasar hari ini."

"Apa kau bilang?"

"Ya direktur. Mereka memajukan jadwal penerbangan ke Denpasar lebih awal."

"sial!"

Kepala Sehun benar-benar sakit saat ini.

Nyatanya Luhan benar marah, terbukti dari keberangkatan yang dia majukan.

Tentu saja dia marah-….itu sangatlah wajar.

Bagaimana bisa kau menghadapi pria yang baru saja memperkosamu?

Sehun benar-benar resah saat ini.

Seluruh kepalanya berisi Luhan.

Dan daripada Baekhyun-…dia lebih memilih untuk melihat Luhan, meminta maaf pada pria yang tanpa sadar dia jadikan pelampiasan rasa amarahnya.

Sehun masih terus berfikir sampai akhirnya membuat keputusan gila saat ini "Carikan tiket ke Bali untukku."

"Bali? Anda? Tidak mungkin Presdir. Anda memiliki schedule-…"

"BATALKAN DAN HANYA CARIKAN TIKET KE BALI UNTUKKU!"

.

.

.

.

.

.

.

Denpasar, 08.00 PM

.

Seokjin, Luhan dan Minseok adalah tiga nama Manager yang mengganti jadwal penerbangan ke Bali lebih cepat.

Bersama rombongan mereka langsung bergegas menuju hotel yang disediakan untuk tempat audisi esok malam.

Tak ada yang berbicara saat ini, ketiganya begitu lelah karena perjalanan mereka yang begitu jauh dan mendadak.

"ah-…Menyegarkan sekali udara disini."

Dan berbeda dengan wajah Luhan yang terus tersenyum maka Minseok dan Jin memasang wajah bosan saat ini.

"Nah ayo semangat bekerja."

"Aku lelah dan ingin tidur!" Jin yang menjawab, Luhan mengabaikannya dan hanya fokus pada Minseok yang sedang mengambil kunci kamar yang sudah disiapkan oleh panitia.

Wajah lelah jelas terlihat pada tiga pria berusia sama yang bekerja untuk dua agensi berbeda. Mereka memang berteman, tapi jika satu merubah rencana keberangkatan secara tiba-tiba maka bohong jika dua yang lain tidak merasa kesal.

"Ini kunci kamar kalian. Aku akan tidur bersama Chen."

Yang terlihat lebih mungil menyerahkan satu kunci pada sahabatnya, dimana yang satu terlihat senang menerima kunci hotel sementara yang satu terlihat mencibir.

"Jangan bertengkar. Kita akan sibuk besok."

"Jika bukan karena bocah ini, aku masih bisa makan sepuasnya di kamarku!"

"Siapa yang kau panggil bocah?"

"Pria cantik yang tiba-tiba datang ke tempatku dan berteriak JIN KITA BERANGKAT SEKARANG! Ck! Kau yang patah hati kenapa harus aku juga yang merasakan?"

Luhan tertawa memamerkan sederetan giginya. Bergegas merangkul pundak teman satu kamarnya untuk lima hari seraya berbisik "Itulah gunanya teman. Ya kan sayangku?"

Wajah Jin berubah horor, Luhan yang biasa tidak akan pernah sudi memanggilnya sayang. Dan saat Luhan si gila mulai bertingkah SANGAT GILA maka yang bisa dilakukannya hanya

"Y-YAK! JANGAN PERKOSA AKU DI KAMAR NANTI!"

Huwek!

"Ey! Jangan jual mahal padaku. Jin-na... Mau main dengan hyung kan?"

Luhan semakin gila menggoda Jin. Terlalu gila sampai

Sret!

"Aku lebih dulu ke kamar! Jangan ikuti aku sampai otakmu kembali waras!"

Jin mengambil cepat kunci kamarnya dengan Luhan. Segera bergegas menuju tempatnya beristirahat sementara Minseok masih setia memandang iba pada sahabatnya.

"Aku tidak tahu dampak single akan seperti ini."

"Apa?"

"Kau gila Lu -bukan- kau kurang belaian!"

"Ish!"

Puk puk!

Minseok menepuk pelan pundak sahabatnya, bergegas untuk mengambil koper miliknya lalu perlahan meninggalkan Luhan "Sampai bertemu besok pagi sayangku."

"HAH!" Luhan membalas cibiran Xiumin lalu kembali bertanya -sedikit panik- kali ini "Apa Jongdae sudah tiba?"

Yang ditanya mengangkat bahunya lalu menjawab pertanyaan si cantik "Harusnya sudah. Mereka mengambil jadwal penerbangan yang sama namun berbeda maskapai dengan kita."

"Mereka?"

"Kau tahu siapa mereka yang aku maksud." Timpal Xiumin lalu tak lama melambai dan hilang dalam kerumunan hotel di Kuta yang begitu ramai.

"Haaah-...Saat aku menghindari yang satu, aku bertemu dengan yang lain. Selalu seperti itu, lalu aku harus kemana?"

Masih teringat jelas kejadian mengerikan malam tadi yang harus dilaluinya bersama Sehun. Malam dimana Sehun untuk kali pertama berlaku kasar padanya.

Kekasih Baekhyun itu bahkan tanpa segan melecehkan dirinya. Membuat luka perih tak hanya dia rasakan di hati tapi di bibir, leher, pundak dan bagian privatenya. Semua masih terasa sakit karena pelecehan yang dia terima.

Tapi yang Luhan tidak mengerti adalah dia tidak marah dengan apa yang Sehun lakukan, sama sekali tidak marah. Dia hanya sedikit kecewa dan itu tidak seberapa.

"setidaknya kau melampiaskan marahmu padaku Sehun, bukan pada Baekhyun." Katanya bergumam pelan lalu perlahan menuju pantai yang terletak di belakang hotel. Berniat untuk menikmati udara malam dan melupakan apa yang ingin dilupakannya.

"Aku harus kemana setelah audisi ini berakhir?"

PLUK!

Luhan menendang kencang batu kerikil di depannya, memperhatikan sejauh mana dia bisa menendang sampai suara yang tak asing terdengar di telinganya.

"Tendanganmu masih sangat jauh ya?"

Buru-buru Luhan menoleh, mencari tahu siapa yang memanggilnya sampai nafasnya tercekat di kerongkongan melihat Kai -sang mantan kekasih- tengah berdiri di sampingnya, tersenyum seolah tak ada hal gila yang terjadi di antara mereka.

"Hay Lu."

Dan kali ini dia juga menoleh. Mencari dua manik mata rusa cantik milik Luhan lalu tersenyum simpul khas seorang Kim Kai, "Senang bisa melihatmu lagi."

Sementara Kai terus meracau gila, maka Luhan hanya diam tak berniat mengeluarkan suara apapun. Dia terlalu marah untuk berbicara dan terlalu lelah untuk bertengkar. Terus membiarkan sang mantan kekasih meracau apapun yang ingin dia katakan sampai Luhan tak bisa mentolerir satu kalimat yang diucapkan Kai saat ini.

"Aku merindukanmu Luhan."

Kriet...!

Rasanya Luhan mendengar patahan di hatinya. Terlalu sakit mendengar kalimat rindu dari pria yang sudah tak lagi mencintaimu.

Ketenangannya seolah dibawa pergi bersamaan dengan surutnya ombak di pantai, dia masih terlalu diam untuk merespon, namun saat tubuh Kai mendekatinya maka tak segan dia mengambil keputusan untuk segera meninggalkan "artis dunia" yang sama sekali tak mengenakan apapun untuk menutupi wajahnya.

"Aku pergi."

"Luhan aku mohon."

Buru-buru Kai menahan lengan Luhan, berniat melakukan segala cara agar Luhan bersedia untuk….

"Bicaralah denganku."

.

.

.

.

.

.

.

Dan disinilah mereka, di kafe yang terletak di pinggiran hotel.

Mereka sengaja memilih tempat diluar agar bisa menikmati semilir angin dan suara ombak, berniat untuk menjadikan perpisahan mereka benar kali ini, tanpa ada rasa penyesalan yang akan keduanya rasakan.

"Bagaimana kabarmu?"

Kai yang memulai percakapan lebih dulu, membuat Luhan masih tak merespon dan hanya fokus melihat ombak di pantai "Aku tahu kau mengalami hal sulit karena aku. Maaf tidak ada di sampingmu saat kau membutuhkan."

Luhan hanya terus memalingkan wajah melihat ombak di pantai, dia mendengar seluruh ucapan Kai namun rasanya sakit membalas ucapan maaf Kai mengingat dia benar-benar kesulitan beberapa waktu lalu.

"Lu."

Rasanya ini adalah kali pertama Luhan mengabaikan dirinya.

Tak ada lagi bayangan dirinya di mata Luhan, semuanya terasa hampa dan kosong.

Setelah lima tahun, ini semua adalah balasan yang harus dia rasakan karena penghianatan keji yang dilakukannya.

Kai bisa menerima kemarahan Luhan, tapi sungguh-…..Diamnya seorang Luhan adalah hal yang paling mengerikan yang selalu dia rasakan sebagai seorang teman, kekasih atau mantan kekasih sekalipun.

Membuat bibir tebal bertekstur seksi itu tersenyum lirih dengan hati memukul sakit menerima semua kemarahan Luhan dengan diamnya.

"Lu, bicaralah-…."

"Bagaimana Kyungsoo?"

"huh?"

"Aku bertanya tentang bagaimana Kyungsoo, adikku?"

DEG!

Lengkap sudah kejahatan Kai pada Luhan,

Karena selain dia berhianat, Luhan juga mengetahui bahwa selama ini Kai menyembunyikan kenyataan mengenai siapa Kyungsoo untuknya, untuk mereka.

"Lu."

"Aku dengar kau tahu Kyungsoo adikku? Benarkah?"

Kai tertunduk, bibirnya kelu tak bisa mengatakan apapun. Yang dia lakukan hanya diam lalu taklama terdengar isakan dari si maknae EXO.

"Mianhae."

Kai kembali mengangkat wajahnya, mencari dua mata Luhan sampai akhirnya mereka bertemu pandang. Sudut matanya jelas basah, berbeda dengan Luhan yang begitu tenang namun hancur di setiap tatapan sendunya.

"Untuk apa? Ah-…Karena tahu Kyungsoo sedang membalasku tapi kau hanya diam dan menikmati waktu bersamanya?"

Luhan membalasnya terlalu sempurna, terlalu detail, hingga rasanya sulit untuk mengelak sementara kenyataan sudah tak bisa lagi di pungkiri.

Luhan sudah kembali berdiri dari kursinya, tak tahan tinggal lebih lama lagi bersama Kai mengingat semua luka dan rasa cintanya masih sangat besar untuk pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah dari keponakannya.

"Aku pergi Kai."

"Lu kumohon."

Lagi-….Kai menggenggam lebih dulu tangan Luhan, memaksa mantan kekasihnya untuk tetap duduk sementara tatapannya gelisah seperti ingin memastikan sesuatu. "Aku akan membiarkanmu pergi setelah kau menjawab pertanyaanku. Kumohon."

Rasanya rindu menatap wajah Kai dari jarak sedekat ini,

Rasanya rindu mendengar suara Kai yang selalu menjadi candu untuknya.

Rasanya rindu. Tapi kemudian Luhan ditampar pada kenyataan bahwa pria tampan di hanya masa lalunya yang begitu manis untuk dikenang tapi terlalu pahit untuk diingat.

Sekali lagi dan kembali pada kebiasaan lama-….Luhan mengalah. Membiarkan Kai mengatakan apa yang ingin dikatakannya untuk mengakhiri semua kecanggungan diantara mereka "Baiklah." Balasnya lembut –tersenyum sangat kecil- menahan keinginan gilanya untuk semakin dekat dengan mantan kekasihnya.

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

Luhan tidak menolak saat tangan Kai menggeamnya, karena sebaliknya-…Luhan juga membalas genggaman tangan Kai. Berniat memastikan sesuatu sampai rasanya

Hambar…

Luhan tak merasakan debaran lagi saat tangannya dan Kai bertautan.

Membuat lagi-lagi hanya senyum lirih yang dia tunjukkan menebak bahwa Kai juga merasakan hal sama saat tangan mereka menyatu seperti saat ini.

"Katakan apa yang ingin kau tanyakan?"

Kai ragu membalas pertanyaan Luhan, yang dia lakukan hanya terus menggenggam tangan mungil yang biasa dia jaga sebelum tertawa pahit menyadari mulai hari ini, dia tak akan bisa menggenggam tangan mungil Luhan, mantan kekasihnya.

"Aku sangat rindu menggenggam tanganmu. Sungguh."

"….."

Kai muak dengan diamnya Luhan, dia pun menggenggam jemari Luhan semakin kuat seraya bertanya tanpa ragu "Aku tahu ini gila. Tapi apakah tidak ada sedikit saja perasaan tersisa untukku?"

Tak tahu malu, dia bertanya seperti itu. Luhan mungkin akan bergumam "jijik" jika tidak mengingat siapa Kai untuk hidupnya.

Dan membalas pertanyaan tanpa ragu yang Kai lontarkan, maka Luhan juga menjawabnya tanpa ragu –dan sedikit menyakitkan di hati-

"Aku atau Kyungsoo?"

"huh?"

"Jika kau bisa menjawabnya tanpa ragu, aku bisa memberikan jawaban yang lebih banyak untukmu Kai. Jadi jawab aku-…Diriku atau Kyungsoo?"

"….."

Luhan merasa keringat di genggamannya berasal dari tangan Kai-…dia gugup, pikir Luhan. Membuat yang terlihat lebih cantik tertawa pahit lalu melepas paksa genggaman Kai di tangannya.

"Kau tidak menginginkan aku Kai, kau hanya takut jika aku menemukan pengganti dirimu. Benar?"

"Luhan aku bingung. Beri aku waktu."

"Bingung? Jika kau menanyakan tempat di hatiku, maka harusnya kau tidak pernah ragu untuk menjawab. Harusnya kau langsung menjawab TENTU SAJA AKU MEMILIHMU LUHAN! Apa sulit berbohong? Kau terus berbohong padaku mengenai Kyungsoo, lalu tidak bisakah kau berbohong untukku? Sekali saja?"

"Luhan…."

"CUKUP!"

Nafas Luhan tersengal hebat, beberapa mata juga melihat mereka sekilas. Beruntung posisi Kai memunggungi pelanggan lain, hingga hanya wajah menyedihkan Luhan yang terlihat. Namun dia abaikan. "Baiklah kita akhiri ini dengan cepat. Apa yang ingin kau tanyakan padaku?"

"Sedikit saja, apa kau masih memiliki perasaan untukku?"

Rasanya Luhan tergoda untuk menampar pria di depannya. Kenapa Kai tidak memiliki harga diri? Kenapa dia terus menanyakan pertanyaan yang dia sudah tahu jawabannya, membuat Luhan ingin berteriak jika tak melihat air mata sialan itu jatuh dari mata mantan kekasihnya.

"Aku hanya ingin mendengar hal itu, Luhan."

Luhan tertawa kecil, mengusap kasar wajahnya sebelum menggenggam tangan Kai, Memaksa pria yang berhianat di hubungan mereka untuk menatap wajahnya selagi dia menjawab "Bohong jika aku bilang tidak mencintaimu lagi."

"Lu…"

"Bohong jika aku tidak memiliki perasaan lagi untukmu Kai." Katanya frustasi lalu kembali berbicara "Sampai detik ini pun aku masih mencintaimu. Tapi kau tahu Kai? Aku rasa ini salah jika dilanjutkan lebih jauh-….Kau tahu itu."

Sementara Luhan menyakiti dirinya dan Kai dengan ucapan yang dia lontarkan-…Maka Kai hanya terisak sebagai respon.

Lemah memang, tapi mendengar Luhan begitu tegar sementara dirinya masih sangat bergantung, dia hancur.

Dan saat dia mengira Luhan tidak peduli, maka disinilah Luhan, menangkup wajahnya dan menatap sama terluka walau tanpa air mata yang mengiringi rasa pedihnya "Hey dengarkan aku."

Luhan terlalu baik untuk seseorang yang hatinya belum lama ini di hancurkan, terlalu baik untuk status mantan kekasih karena terus menenangkan sementara yang harusnya dia lakukan adalah membalas.

"Lihat aku Kai."

Dan setelah Kai menatapnya, Luhan tersenyum pedih seraya mengatakan "Dulu adalah bagianku untuk menjagamu, tapi kini tidak lagi. Dulu adalah bagianku untuk membuatmu tertawa, tapi kini tidak lagi. Awalnya sulit, sungguh-…. Tapi aku bisa apa saat kau memilih cintamu yang lain, Kai?"

Luhan menghapus air mata Kai lalu tersenyum begitu tulus untuk mengatakan kalimat yang menyakiti hatinya sendiri "Jadi hapus air matamu dan biarkan Kyungsoo mengenalmu lebih dalam, melebihi aku."

Luhan diam sejenak menikmati kata-kata yang berbalik menyerang hatinya sendiri. Air matanya ikut menetes lalu tak lama dia melanjutkan kalimat terakhir yang harus dia ucapkan "Kau juga harus mencoba lebih giat untuk mencintai Kyungsoo, adikku. Hmm?"

Air mata mereka menetes bersamaan, mereka tidak tahu rasanya perpisahan nyaris tak bisa membuat mereka bernafas, mereka tidak tahu rasanya masih mencintai namun dipaksa berpisah akan merobek dalam hati mereka. Membuat baik Kai maupun Luhan tersenyum dalam tangis lalu mengakhiri semua percakapan mereka.

"Aku memilikimu tapi seperti tidak. Jadi demi kau dan demi diriku-….hks—" Luhan tertunduk cukup lama lalu mengangkat wajahnya –tersenyum pedih- lalu perlahan mencium sayang kening Kai, turun ke hidung sampai akhirnya Luhan mengecup singkat bibir yang selalu mengucapkan kalimat pujian untuknya untuk kali terakhir. Mengecupnya sebagai salam perpisahan lalu lagi-….Luhan tersenyum kecil untuk memberitahu Kai bahwa mereka sudah benar-benar berakhir.

"Kita sudahi sampai disini." Katanya menatap Kai lalu berlari meninggalkan pria yang sudah benar-benar menjadi masa lalu di hidupnya mulai malam ini, dia terus berlari menyusuri pantai yang panjang untuk kembali ke hotel dan memejamkan matanya yang lelah menangis

"hks….kausudahmelakukanhalyangbenarLU!"

Untuk kedua kalinya Luhan merasa hatinya dipatahkan tak bersisa, rasanya sakit, sungguh. Namun di antara rasa sakit itu dia merasa begitu lega karena mengakhiri semuanya.

Entah bagaimana hubungannya dengan Kai nantinya-….dia tidak peduli. Yang dipedulikannya hanya tidak merasa sakit lagi jika nanti harus bertemu dengan Kai.

"Haaah…."

Luhan berhenti berlari. Dia lelah –fisik dan hatinya-. Setidaknya jarak dirinya dan Kai sudah sangat jauh, membuatnya bisa bernafas lega sebelum seseorang menarik lengannya dan

Grep…!

"apa lagi ini?"

Kali ini dia bertanya-tanya siapa pria berbadan besar yang kini sedang mendekapnya erat. Nafas pria yang mendekapnya tersengal, Luhan juga bisa mendengar degupan jantung tak beraturan seolah takut kehilangan sesuatu.

Kai?

Tidak-….Tidak mungkin, Kai tidak mungkin berani melakukannya di depan umum

Lalu siapa?"

"Syukurlah aku menemukanmu lebih cepat."

Matanya membulat hebat, Itu Sehun-….Ya! jelas itu Sehun. Luhan mengenali suaranya, terlalu mengenal hingga membuat tubuhnya secara refleks menegang dan

BRAK…!

Luhan mendorong kasar pria yang mendekapnya. Membuat dua mata itu menatap dengan cara berbeda. Jika Luhan menatapnya penuh kemarahan dan rasa takut, maka Sehun –pria yang mendekapnya beberapa detik lalu- terlihat sangat menyesal.

"apa yang-…APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?"

Buru-buru Sehun berdiri, berniat menjelaskannya pada Luhan namun sepertinya Luhan tak berbaik hati untuk mendengarkan penjelasannya.

"LUHAN!"

Sehun kembali mengejar Luhan, namun sepertinya dia tidak bisa meremehkan kecepatan berlari yang Luhan miliki, si pria cantik terus berlari cepat namun setidaknya dia bisa mengimbangi dan kembali menarik lengan Luhan untuk didekapnya.

"LEPAS!"

"Lu tenanglah. Banyak orang melihat."

"AKU BILANG LEPAS!"

"baiklah…baiklah…"

Sehun mengangkat dua tangannya, berjalan mundur menjauhi Luhan, dia pun menatap sendu pada Luhan namun dibalas tatapan marah yang pertama kali dia lihat setelah tiga bulan mengenal si pria cantik. "Aku minta maaf."

"brengsek!"

"Aku brengsek."

"BAJINGAN!"

"Aku bajingan."

"Luhan dengar, Maafkan aku karena-…"

"DIAM!"

Luhan luar biasa kacau saat ini.

Belum lama tadi dia harus berurusan dengan mantan kekasihnya.

Dan saat ini, dia harus kembali berurusan dengan pria yang kemarin malam memperkosanya.

"Pergi saja! Kau dengar? Sebaiknya kau pergi-…"

BRAK!

Mata Luhan membulat hebat melihat apa yang dilakukan Sehun, pria tampan itu berlutut mengabaikan semua tatapan pengunjung seperti mereka, membuat Luhan semakin geram tak mengerti apa yang diinginkan Sehun saat ini.

"Apa yang kau lakukan?"

"Aku akan terus berlutut sampai kau tenang, sampai kau mau bicara denganku."

"Berdiri."

"Tidak sampai kau mengulurkan tangan untuk membantuku."

Tes…!

Luhan merasakan tetesan hujan yang turun, membuatnya panik namun enggan menuruti apa yang diinginkan Sehun "Ini hujan, cepat berdiri."

"Ulurkan tanganmu kalau begitu."

"Berdiri."

"Tidak."

"TERSERAH!"

Kemudian dia berlari ke dalam hotel, diikuti beberapa pengunjung lain yang mencari tempat berteduh, dan jika semua pengunjung hotel sudah berada di area hotel-…Maka disana, dengan bodohnya Sehun masih berlutut dengan kepala tertunduk melindungi wajahnya dari hujan.

"Mom, Paman itu kenapa tidak berteduh?"

"Entahlah nak. Ayo kita kekamar."

Luhan tidak mempedulikan apapun, dia tidak peduli semua orang bertanya dan membicarakan Sehun yang masih berlutut di bawah derasnya hujan. Yang dia inginkan hanya kembali ke kamar. Dia juga sudah menekan tombol lift menuju kamar sampai si anak lelaki yang berada satu lift dengannya mengatakan

"Tapi hujan semakin deras."

"sial!"

Buru-buru Luhan menekan tombol lift agar tidak tertutup, berlari menuju lobi untuk meminta

"Berikan aku payung."

"Pardon?"

Bahasa-….Mereka berbeda bahasa, membuat Luhan sedikit kesulitan sebelum

"UMBRELLA!"

"oh yes sir!"

Setelah mendapat payung, Luhan kembali berlari ke belakang hotel. Membuka payungnya sebelum mendekati idiot bodoh yang kini sudah basah kuyup.

Dia pun harus rela mengotori kakinya dengan pasir sebelum berdiri tepat di depan Sehun "Dimana kunci kamarmu?"

Sehun mendongak, matanya tak lagi sakit terkena air hujan karena Luhan kembali.

Tak hanya itu, Luhan bahkan kembali dengan payung di tangannya. Membuat air hujan jahat itu tak mengenai matanya dan dia tersenyum sangat bahagia "Kau kembali?"

"Mana kunci kamarmu?"

Buru-buru Sehun merogoh jas hitamnya, mencari kunci berbentuk card, lalu memberikannyapada Luhan "Ini."

Luhan pun menerimanya dengan kasar, mengutuk tubuh Sehun yang menggigil kedinginan sebelum meminta pria tampan yang sudah kedinginan itu untuk

"Berdiri."

Dengan gemetar Sehun mengulurkan tangannya, tetap bersikeras akan berdiri jika Luhan membantunya "Bantu aku."

Enggan-…Sungguh Luhan sangat enggan membantu Sehun berdiri. Tapi saat melihat tangan Sehun yang terulur menggigil kedinginan maka dia tak sampai hati membiarkan Sehun menggigil lebih lama.

Diulurkan tangannya yang tidak memegang payung untuk membantu Sehun berdiri

"Aku bantu."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Klik…!

"INI GILA!-…INI SANGAT GILA!"

Sementara Sehun masih menggigil kedinginan, maka Luhan berteriak nonstop selama perjalanan mereka menuju kamar VIP Sehun. Membuat Sehun tak membalas apapun karena memang tubuhnya basah kuyup dan dia sangat gemetar karena dingin.

"apa-..Apa kau bisa memarahiku nanti?"

"KENAPA AKU HARUS-…astaga! Cepat bersihkan tubuhmu. Kau bisa mati kedinginan."

"Aku bisa mati jika kau terus berteriak Lu."

Buru-buru Luhan mendekati Sehun, membuang jas hitamnya yang sangat basah lalu disusul kemeja hitamnya sampai Sehun setengah naked barulah dia sadar telah melakukan hal gila yang bisa memancing gairah seseorang.

"Kenapa berhenti?"

Abs Sehun seolah mengingatkan apa yang terjadi pada mereka kemarin malam. Membuat antara marah dan malu dia rasakan bersama lalu berakhir dengan menggigit kuat bibirnya "Cepat bersihkan tubuhmu. Kau kedinginan."

Dan saat Luhan memalingkan wajah, barulah Sehun tahu alasan mengapa Luhan tak ingin menatapnya. Dia pun tersenyum getir lalu berjalan mendekati Luhan "Jangan pergi sampai aku selesai membersihkan tubuh."

"Dan kenapa aku harus menunggumu?"

"Karena aku bisa menghapus namamu dari daftar juri disini. Sungguh-…Aku bisa melakukannya." Katanya mengancam sebelum

BLAM…!

Sehun membanting pintu kamar mandi, bergegas membersihkan tubuh dengan Luhan yang mati-matian menghapus keringat bahkan di cuaca sedingin malam ini.

Ddrtt…drrtt…

Buru-buru Luhan merogoh ponselnya untuk mendapati nama Seokjin tertera di layar ponsel. Membuat Luhan segera menggeser slide sebelum suara sahabatnya terdengar kesal

"Kau dimana? Aku sudah mengantuk."

"Kau tidurlah dulu. Aku harus mengurus sesuatu."

"Baiklah. Jangan terlalu larut, hubungi aku jika sudah di depan kamar."

"Oke."

Pip!

"Siapa?"

Luhan mematikan ponselnya diiringi suara Sehun yang entah sejak kapan sudah berdiri menatapnya di depan kamar mandi. "Astaga! Kenapa kau keluar lagi? Cepat mandi!"

"Aku sudah selesai. Siapa yang menghubungimu?"

Menggunakan hanya bathrobe nya saja Sehun terlihat santai, dia melenggang menuju lemari pendingin untuk mengambil segelas air lalu menenggaknya dengan cepat.

"Jin."

"Jin? Manager Kim?"

"Ya dia yang menghubungiku."

"ck! Perasaanku saja atau kalian berdua memang terlalu dekat?"

Luhan tidak mengindahkan Sehun, yang dia lakukan hanya membereskan barang untuk bergegas pergi kekamarnya "Jika anda sudah selesai saya permisi direktur."

"ck! Formal lagi!"

Sehun menggerutu kesal, langkah berikutnya dia sudah sampai di depan pintu untuk menghalangi Luhan yang hendak pergi "Direktur apa yang anda lakukan?"

"Mencegahmu pergi."

"Aku harus kembali ke kamarku."

"Suka atau tidak ini kamarmu."

"MWO?"

"Kau akan menetap disini selama lima hari, bersamaku."

"OH SEHUN!"

"begitu lebih baik."

Jika Sehun tertawa puas, maka warna muka Luhan berubah pucat. Keduanya bertatapan cukup lama sampai akhirnya Luhan berjongkok dan

Hkss…

"L-Lu?"

"Kenapa kau –hks- jahat sekali –hks-….Aku hanya ingin tidur. Aku takut—hks."

Menyadari kalimat takut disini ditujukan untuknya-….Sehun tertawa lirih.

Dia pun ikut berjongkok berhadapan dengan Luhan lalu menangkup wajah mungil si pria cantik "Hey. Kau takut pada siapa? Padaku?"

Luhan mengangguk polos, lalu detik berikutnya Sehun memberanikan diri menggendong Luhan seperti koala untuk membawanya ke tempat tidur.

Pada dasarnya Luhan memang lelah, jadi saat berada di gendongan Sehun sangat nyaman dia pasrah. toh nyatanya dia memang tidak marah pada Sehun, dia hanya takut Sehun melakukannya dengan kasar dan membuatnya sulit berjalan seperti malam ini.

"Lihat aku."

Posisinya Luhan duduk di tepi ranjang dengan Sehun berjongkok di bawahnya, tangan Sehun bermain di jemari Luhan sementara mata Luhan sudah setengah terpejam tanda dia sangat mengantuk.

"Lu."

"huh?"

Dia bingung mencari dimana suara yang memanggil, barulah saat tangan hangat Sehun menangkup wajahnya, Luhan tersadar. Matanya kembali membulat tanda ketakutan, tapi tak lama diam dan menikmati wajah tampan Sehun yang tersaji gratis di depan kedua matanya.

"Kau mengantuk."

"Tidak juga."

"Lalu kau ingin membicarakannya?"

"Apa?"

Sehun menghela dalam nafasnya sebelum mengatakan "Hal gila yang aku lakukan padamu kemarin malam."

"Tidak! Aku tidak ingin membicarakannya."

"Aku minta maaf."

"Aku bilang aku tidak ingin membicarakannya! Aku-…."

"Aku minta maaf karena-…"

"CUKUP!"

Tak ada yang berbicara setelahnya, Sehun hanya diam sementara Luhan diam-diam terisak. Dia juga berusaha melepas tangannya dari genggaman Sehun namun tentu saja tak dilepas oleh tangan besar Sehun "Aku biasa diperlakukan kasar. Jadi tidak perlu meminta maaf."

"Luhan bukan seperti itu maksudku. Aku-…"

"Aku tahu kau melampiaskan kemarahanmu padaku. Aku bisa mengerti."

"Diam-…"

"Kau hanya ingin membalas apa yang Baekhyun lakukan dengan-…."

"AKU MENYUKAIMU!"

"…"

Mata Luhan lagi-lagi menatap bingung dengan ucapan Sehun. Rasanya dia mendengar Sehun mengatakan aku menyukaimu. Namun detik berikutnya dia menggelengkan kepala seolah menyangkal bahwa dia mendengar Sehun mengatakan aku menyukaimu beberapa detik lalu.

"Kau dengar? Aku rasa aku menyukaimu."

Jadi benar dia mengatakannya?

Luhan kini berperang di pikirannya sendiri. Ucapan pertama dia mengelak, namun saat Sehun mengatakannya lagi maka rasanya salah jika dia kembali menyangkal.

Buru-buru dia menatap mata Sehun untuk menemukan jawaban disana, itu tatapan tulus seseorang jika menyukai orang lain. Membuat Luhan semakin salah tingkah dan tanpa sengaja mengatakan

"Kau gila."

"Kau benar! Aku gila-….Aku gila karena kau bisa mengendalikan pria sepertiku. Aku tidak suka dikendalikan, tapi kau? Kau berhasil mengendalikan aku di waktu terburuk yang aku miliki. Kau Luhan!"

"Sehun aku mohon sadarkan dirimu, ini salah dan-…."

"AKU CUKUP SADAR UNTUK MENGATAKAN AKU MENYUKAIMU! DAN YA-….AKU MENYUKAIMU LUHAN!"

"tidak…kau tidak mungkin menyukaiku."

Luhan lemas mendapat pengakuan dari pria yang seharusnya menjadi teman baiknya kelak, dari pria yang seharusnya akan hidup bersama Baekhyun sampai tua.

"Dan kau tahu Lu."

Sehun mengangkat dagu Luhan, memaksa Luhan untuk menatapnya lalu mengatakan hal gila yang lagi-lagi membuat tubuh Luhan mati lemas karena sebuah pengakuan.

"Kemarin malam saat aku memperlakukanmu dengan kasar, bukan Baekhyun alasanku. Kau tahu apa?"

Luhan menggeleng dibalas jawaban yang sempurna untuk Sehun mendapatkan sedikit hati Luhan "Aku sudah tidak bisa melihatmu sebagai pegawai atau sebagai teman kekasihku lagi-….Aku terlalu frustasi karena hanya bisa melihatmu sebagai pria istimewa, pria yang diam-diam aku sukai."

Deg…!

Bukankah ini semacam pengakuan cinta?

Bukankah Sehun secara tak langsung mengatakan cinta padanya?

Ini gila-….Tapi lebih gilanya lagi, Luhan menyukainya.

Dia pun membiarkan Sehun menguasainya, sedikit terbuai sampai lagi-lagi Sehun berbisik terlalu sensual di telinganya "Jadi maafkan aku karena bersikap kasar, aku janji akan melakukannya lembut malam ini."

"huh?"

Detik berikutnya Sehun sudah menyatukan lagi bibirnya dan bibir Luhan-….lembut kali ini.

Membuat gairah membakar Luhan dengan cepat-…berbeda dengan malam tadi

Saat Sehun meminta Luhan membuka mulut, Luhan memberikannya. Membuat lidah bertemu lidah, dan tanpa segan Sehun lebih dulu membelit kedua lidah mereka sampai menggelitik langit bibir Luhan.

"akh—aah…"

Tak menyiakan desahan Luhan, dia kemudian bergerak cepat membuka shirt casual Luhan. Membuangya sembarang untuk fokus pada dua tonjolan kecil yang malam tadi dia perlakukan secara kasar.

"Sehun!"

"Ada apa?"

Sehun terlalu bernafsu untuk menjawab tenang, dia pun memandang mata polos Luhan yang terlihat menggemaskan. Sedikit menciumi perut Luhan lalu bertanya meminta izin "Bolehkah aku menghisap chocochip ini bergantian?"

"chocochip?"

Demi Tuhan saat dia menggunakan istilah, Luhan berkali-kali lebih menggemaskan, membuatnya ingin langsung menerkam jika tak ingat hal gila yang dilakukannya kemarin malam pada Luhan.

"Ini."

"akh—.."

Dengan jari telunjuknya, Sehun mengusap kasar nipple Luhan sesekali menekan dan menarik gemas hingga tubuh Luhan tak kuat lagi menopang tubuhnya sendiri "Bolehkah?"

"Cepat lakukan!"

Tak sabar Luhan mendorong tengkuk Sehun, memaksa Sehun untuk memanjakan dua nipple nya sementara dia menjambak nikmat si pemilik rambut hitam legam yang terus menjeratnya dalam dosa manis.

"nghmmphh…."

Saat lidah Sehun menjulur menjilat nipple kanan, maka tangannya yang bebas digunakan untuk menarik dan memlintir nipple kiri. Membuat tubuh Luhan mengejang nikmat dan tak sadar berbaring pasrah di tempat tidur.

Sehun pun mengikuti kemana posisi Luhan, karena saat Luhan memutuskan untuk berbaring maka dia tidak membuang kesempatan untuk menciumi tubuh Luhan semakin ke bawah.

Lidahnya kini menari bebas di pusar Luhan, membuat gerakan melingkar sementara si pemilik tubuh menggelinjang nikmat di bawahnya. "sehun!—sehunmmph-"

"Ada apa baby?"

Luhan menarik pundak Sehun, memaksa mata mereka bertemu hingga posisi Sehun berada di atas tubuh Luhan yang sedang mengangkang pasrah saat ini. Nafas mereka memburu jelas dipenuhi nafsu, tapi sepertinya Luhan kalah dengan permainan panas mereka karena meminta

"Langsung saja –mmph- langsung masuki aku."

Sengaja-….Tangan Sehun menelusup masuk ke celana Luhan, mengusap setengah mengocok penis Luhan hingga Sehun bisa merasakan precum di tangannya.

"ah—ah…langsung saja. Kumohon."

Luhan mengejang nikmat karena ulah tangan panas Sehun. Dia bahkan memohon untuk berhenti digoda dan hanya dibuat nikmat, membuat Sehun tersenyum senang dan tanpa kesulitan membuka seluruh celana Luhan.

Setelah tubuh Luhan polos, kiini giliran dia yang melepas kaitan bathrobe. Membuangnya asal ke lantai lalu mengukung tubuh polos Luhan di atas tubuh jantan miliknya.

"Kau yakin?"

"Ya-..! –mnnhhh-..Ya!"

"Dengan atau tanpa pengaman?"

Nyatanya Luhan menyukai sensasi saat sperma Sehun memenuhinya kemarin malam, membuatnya dengan tegas menggeleng lalu menarik tengkuk Sehun untuk dikecupnya panas sejenak.

Kali ini Luhan membelit lidah Sehun, dan sementara Luhan fokus pada bibirnya maka Sehun membuka lebar-lebar paha Luhan untuk segera menyatukan tubuh mereka dalam gairah sesaat lagi.

"Aku tidak mau pakai pengaman."

"Yakin?"

"Ya –ARGHH-!"

Satu jari sudah membuat Luhan memekik, rasanya sangat menyakitkan –sementara- lalu Sehun mengalihkan rasa sakit dengan ciuman sebelum jari tengahnya ikut bergabung dengan jari telunjuk untuk mengoyak lubang sempit milik pria cantiknya.

"akh—akh—THERE!"

Luhan menggelengkan cepat kepalanya, mencakar habis punggung Sehun lalu tak lama "aah ahh…"

Nafasnya tersengal saat dua jari Sehun ditarik keluar, sesaat dia bisa bernafas lega. Namun detik berikutnya Sehun kembali memulai permainan inti mereka tanpa jeda.

"Tanpa pengaman akan terasa sangat sakit."

"Hanya lakukan seperti kemarin malam, buat aku menjerit nikmat."

Sehun mengecup lagi bibir Luhan, tak lama mendekatkan penisnya ke lubang masuk yang sudah dia siapkan sebelum

SLEB…!

"NGGGH—ngghmpph!"

Itu baru bagian kepala penis Sehun, tapi Luhan sudah menjerit hebat.

Antara rintihan sakit dan ciuman panas Sehun mendominasi, diapun mencakar kuat lengan dengan paha yang semakin mengangkang lebar sebelum

SLEB!

Hampir seluruhnya masuk namun belum, membuat Luhan benar-benar ingin mengakhirinya sampai pinggul Sehun sekali lagi bergerak dan

SLEB!

Penuh…

Besar..

Kasar..

Tiga kalimat itu menggambarkan bagaimana penis Sehun di dalam lubangnya saat ini, tekstur dinding penis yang penuh urat membuat gesekan semakin nikmat di dinding rektum Luhan.

Sehun tersenyum puas lalu tak lama menggerakan brutal pingulnya, sesekali dia menghentak dengan tempo pelan lalu bersamaan dengan tusukan penisnya dia bergerak brutal dan semakin dalam.

Membuat Luhan tak henti-hentinya mendesah diirinigi suara deritan tempat tidur dan bunyi khas dua orang yang sedang bercinta.

"Sehun—nghmphh…"

Sehun membantu posisi Luhan on top. Memegangi pinggang si mungil yang kini bergerak liar ke atas ke bawah menjemput penisnya "oh shit! Nikmat Sehun—nikmaathh…"

Karena posisi ini baru untuknya, Luhan merasakan sangat bergairah. Terlalu bergairah hingga tak sadar dia

"Sehun—aahhh…"

Dia mencapai klimaks dengan posisi duduk memeluk leher Sehun. Cairannya juga sudah membasahi perut Sehun yang diabaikan olehnya.

Sehun lebih memilih membaringkan Luhan ke posisi samping lalu mengangkat lebar pahanya sebelum

SLEB!

Posisi seperti ini menguntungkan untuk Luhan, karena selain belakang, bagian depan juga bisa dibuat nikmat. Karena saat Sehun menusuknya di belakang maka tangannya yang lain digunakan untuk mengecok cepat penisnya yang baru mendapatkan klimask.

"sempithhLu—nikmat.."

Luhan tersenyum mendengarnya. Dia pun menoleh ke arah Sehun, sebelum mendorong tengkuk Sehun untuk beradu panas ciuman dengannya.

Pada dasanrnya Sehun sudah akan mendapatkan klimaks, dan saat Luhan sengaja mengetatkan rektumnya maka bisa dipastikan bahwa dalam beberapa detik dia akan mencapai klimaks dan memberitahunya.

"Aku datang—aku akan-aaakh…"

Buru-buru Sehun membawa posisi Luhan kembali terlentang. Memasukkan cepat penisnya lalu menggenjotnya brutal sampai dia mengerang karena Luhan sengaja menjepit penisnya dengan mengetatkan dinding rektumnya hingga

"Luhan—aaaaah…hmphh…."

Saat Sehun mencapai klimaks, Luhan sengaja melingkarkan kakinya di pinggang Sehun, memastikan seluruh sperma Sehun membanjiri lubangnya hingga tak tersisa.

Nafas keduanya tersengal bersamaan. Saling menyeka peluh yang membanjiri tubuh masing-masing.

Sehun sendiri bersyukur karena tak melihat lagi tangisan Luhan seperti kemarin malam, membuatnya tersenyum sangat bahagia lalu mengecup bertubi bibir Luhan "Maafkan aku menyakitimu kemarin malam."

"Kau membalasnya malam ini, tidak perlu minta maaf."

"Jadi aku dimaafkan?"

Luhan menimbangnya sesaat sebelum mengangguk dan membalas "Kau dimaafkan." Katanya menyusuri wajah tampan Sehun yang terlihat berkali-kali sangat seksi setelah bercinta.

"Gomawo Lu."

Sehun mencium kening Luhan, membenarkan posisi tidur mereka lalu menarik Luhan ke pelukannya "Kita bicara besok pagi. Kau sudah lelah dan harus bekerja."

Luhan merasa Sehun menghindari pertanyaannya. Karena saat Luhan ingin bertanya tentang Baekhyun maka secepat kilat dia memejamkan mata.

Tidak tidur-…Hanya memejamkan mata agar tidak ada pertanyaan yang belum bisa ia temukan jawabannya.

"Kau tahu Sehunna?"

"Aku sedang tidak ingin bicara,"

"Tapi aku ingin!"

Sehun kembali membuka matanya, memperhatikan keinginan Luhan lalu mengalah untuk bertanya "Apa yang ingin kau bicarakan?"

Yang ditanya mendengus kesal, sedikit memukul dada Sehun sebelum menggerutu "Kita sudah bercinta dua kali."

"Lalu?'

"Lalu aku benar-benar merasa seperti selingkuhanmu sekarang."

"Kau bukan selingkuhanku. Aku sudah mengatakannya berkali-kali."

"Lalu apa sebutan untuk orang sepertiku?"

"entahlah."

Sehun tak peduli, yang dia lakukan hanya kembali memejamkan mata.

Menyadari hal itu membuat Luhan merasa lebih buruk dari seorang selingkuhan, dia seperti pria penggoda.

Berniat untuk melepas pelukan Sehun, sebelum tangan kekar Sehun semakin erat melingkar di pinggangnya "Lepas."

"Tidur sudah malam."

"Aku tidak mau tidur dengan-…."

"Aku menyukaimu."

"berhenti mengatakan-…."

"Alasan mengapa kau tidur disampingku adalah karena aku menyukaimu. Bukan karena kau selingkuhan atau pria penggoda. Aku menyukaimu Luhan."

Untuk pria yang baru saja patah hati sepertinya, tentulah bahagia saat ada yang mengatakan dia menyukaimu. Tapi kemudian hatinya sedih mengingat mau bagaimanapun pria yang baru saja mengatakan suka padanya masih terikat dengan pria lain, sahabatnya

Dia terlalu bingung sampai tak sengaja bertanya "Lalu bagaimana dengan Baekhyun?"

"Kau tahu aku tidak memiliki jawaban untuk pertanyaanmu."

Luhan gelisah, Sehun diam.

Jika sudah begini, apa mencintai adalah hal yang salah?

Entahlah…

Hati mereka seperti tak ada di tempatnya,

Pikiran mereka menangis, terjebak dengan dosa yang mereka buat sendiri.

.

.

.


.

tobecontinued

.


.

.

Ini rabunya gue ngaret njir…. :v maapin gue….gue juga usaha bgt ngerampungin sebelum jam 12 tapi apadaya baru kelar words 5k kemarin, dan sisa 8k nya dikebut dua jam abis kena macet pulak -,- ini gue juga udah blank space… sama2 GEGANA kita2 ya..seri kkk!

.

Udah yang penting mereka bertiga 1-1-1

.

Tapi menurut gue dari selingkuhan2 ini yang kepincut beneran emang sehun ke luhan deh.. *udahtakdirsih! Mau dielak juga rugi lu del ;v

.

Siapa yang start duluan ? Chap depan lagi dijawabnya

.

Seeyou!