Previous

"Alasan mengapa kau tidur disampingku adalah karena aku menyukaimu. Bukan karena kau selingkuhan atau pria penggoda. Aku menyukaimu Luhan."

Untuk pria yang baru saja patah hati sepertinya, tentulah bahagia saat ada yang mengatakan dia menyukaimu. Tapi kemudian hatinya sedih mengingat mau bagaimanapun pria yang baru saja mengatakan suka padanya masih terikat dengan pria lain, sahabatnya

Dia terlalu bingung sampai tak sengaja bertanya "Lalu bagaimana dengan Baekhyun?"

"Kau tahu aku tidak memiliki jawaban untuk pertanyaanmu."

Luhan gelisah, Sehun diam.

Jika sudah begini, apa mencintai adalah hal yang salah?

Entahlah…

Hati mereka seperti tak ada di tempatnya,

Pikiran mereka menangis, terjebak dengan dosa yang mereka buat sendiri.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

A' Friends Betrayal

Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo

Genre : Drama

Rate : M / NC!/

.

.

.

.

.

"rrngghh…"

Yang paling tidak disukai Luhan setelah bercinta adalah seluruh tubuhnya akan merasakan nyeri di sekitar pinggang.

Hal kedua yang dia benci adalah saat pinggulnya tidak bisa duduk dengan benar. Terkadang dia bahkan harus meringis sakit saat memaksa untuk duduk.

Seperti saat ini misalnya, dia merasa sangat lengket dan kotor. Terlebih lagi di bagian selangkangan. Dan saat dia menyentuh daerah private miliknya, maka hanya akan terdapat sisa cairan putih mengering milik pria yang malam tadi berteriak menyukainya, pria yang merupakan atasannya di agensi dan pria yang hingga saat ini masih menyandang status sebagai kekasih sahabatnya-...

"Oh Sehun."

Menyebut namanya saja sudah membuat Luhan berdebar, dia bahkan merasa perutnya dipenuhi kupu-kupu merasakan sensasi menyenangkan di perutnya. Terlalu senang hingga tanpa sadar terdengar suara pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok kelewat tampan yang kini hanya menggunakan bathrobe sebagai pelindung tubuh kekarnya.

"Kau sudah bangun?"

"Y-ya direktur."

Mengingat hal gila yang dia lakukan malam tadi bersama Sehun-...Luhan gugup. Terlihat sekali dari caranya menjawab dan menolak untuk menatap mata Sehun. Dia juga secara refleks menarik selimut hingga tubuh polosnya kini tertutup selimut kotor karena ulah mereka malam tadi.

"Kau bicara formal lagi padaku?"

"huh?"

"Panggil aku Sehun atau aku bersumpah akan menarik selimut itu dan kembali menjamah serta membuatmu mendesahkan nama-..."

"Sehun!"

Secepat kilat Luhan memanggil nama atasannya. Berharap tak ada lagi pergumulan panas di pagi hari mengingat satu jam lagi dia harus berada di Venue tempat audisi diselenggarakan

"Panggil lebih halus." Titahnya disambut dengusan tak percaya dari Luhan "Haruskah?"

"Selimut yang kau gunakan sangat mudah ditarik. Aku bisa melakukannya dalam satu tarikan kencang asal kau tahu. Jadi jangan-.."

"SEHUN! mmh... maksudku Sehunna."

"Astaga pintar sekali membuatku berdebar." Katanya mengusak gemas rambut Luhan. Detik berikutnya Sehun meletakkan nampan berisi sandwich di meja. Dia kemudian duduk disamping Luhan lalu mengusap lembut wajah yang malam tadi memenuhi gairahnya.

"Sehun aku harus bersiap ke Venue."

"Aku tahu."

"Jadi biarkan aku membersihkan tubuh terlebih dulu."

"Nanti."

Sehun lebih dulu mendorong tubuh mungil Luhan kembali berbaring. Membuat pundak serta paha dalamnya kembali terekspos diikuti geraman tertahan dari Sehun.

"Maaf Sehun."

"Jangan!"

Dan ketika Luhan berniat menarik kembali selimutnya maka tangan besar Sehun seketika menahannya.

Membuat gerak resah terlihat dari Luhan sementara mata lapar Sehun mulai menjelajahi lagi seluruh tubuhnya.

"Kau tahu Luhan?"

"Y-ya direktur?" Katanya menjawab gugup dengan wajah Sehun yang semakin mendekat ke wajahnya. Terlalu dekat hingga Luhan bersumpah bisa merasakan deru nafas panas bersahutan dengan miliknya.

"Awalnya aku mengira kau hanya terlihat mempesona di waktu-waktu tertentu."

Sementara bibirnya mengecupi pundak Luhan yang terekspos, maka tangan Sehun kini mulai menyusuri lekuk tubuh Luhan yang malam tadi menggeliat dan menjemput nikmat bersamanya, memastikan bahwa matanya tak salah menebak karena pastilah tubuh Luhan semulus dengan apa yang terpantul di kedua matanya.

"sehun-mmpph.."

Ini dia!

Tatkala tangannya bermain di paha dalam Luhan dia kembali bisa mendengar desahan yang tiba-tiba dirindukannya sejak usainya percintaan mereka malam tadi. Tubuh Sehun dibuat merespon karena lolosnya desahan singkat yang dikeluarkan Luhan, membuatnya tak sabar untuk mendengar semakin jelas namun berusaha fokus agar Luhan tidak dibuat takut karena ulahnya.

"Kau cantik."

Deg!

Satu pujian nista itu berhasil membuat tubuh Luhan mendamba disentuhseketika. Dia bahkan tak lagi menganggu tangan Sehun yang bermain di bagian private nya. Yang dia lakukan justru menempatkan tangannya di pundak Sehun dan melampiaskan letupan gairah kecilnya dengan meremat kencang pundak kokoh milik pria yang malam tadi mengungkapkan perasaan padanya.

"Bahkan ketika dua mata cantik ini tertutup." Katanya mengecup mata Luhan bergantian sebelum beralih menggigit gemas hidung bangir Luhan "Kau semakin terlihat mempesona untukku."

Dan perlahan bibirnya mulai turun untuk menangkap bibir Luhan. Menempelkannya sekilas lalu mengajak Luhan untuk bermain panas seperti malam tadi.

"aakh-…"

Luhan mendesah ingin, sementara Sehun menyeringai dalam lumatan panas mereka. Dia membawa tubuh Luhan semakin berbaring pasrah dibawahnya. Terlalu pasrah hingga tak sadar kedua paha Luhan membuka lebar untuk Sehun.

Tak ada lagi selimut yang digunakan untuk menutupi tubuh polosnya, yang ada hanya tangan Sehun bergerilya di setiap inci tubuh Luhan yang polos –panas dan kasar-. Membuat si pemilik tubuh menggeliat tanda sangat mendamba untuk dibuat nikmat lebih dan lebih lagi.

"Sehun?—tidak—hmphh."

Sehun mengunci lagi bibir Luhan dengan bibirnya. Tangan Luhan dia bawa untuk melingkar di lehernya sementara tangannya terus menyusuri kebawah tubuh Luhan, terlalu kebawah dengan jari telunjuk yang bermain di pusar Luhan.

Detik berikutnya dia mengalihkan perhatian Luhan dengan hisapan kuat di lidah sementara jari telunjuknya turun semakin ke bawah dan tak lama

"AKH—Sakit Sehun—aahngghh.."

"Ssst rileks Lu. Fokus dengan ciumanku."

Mata Luhan membulat refleks saat jari telunjuk Sehun menerobos paksa masuk ke dalam lubangnya. Rasanya begitu perih mengingat malam tadi Sehun baru selesai menikmatinya sekitar pukul tiga pagi. Lalu pagi ini dia harus bersiap diberi pemanasan namun tak mengungkiri ingin segera dimasuki lagi oleh Sehun.

"rileks sayang."

Bukan ciuman Sehun yang membuatnya tenang. Tapi saat kalimat sayang dia ucapkan begitu lembut-….Luhan merasa begitu dilindungi. Rasanya sudah lama tak ada yang memanggilnya sayang begitu tulus, dan saat Sehun mengatakannya rasanya Luhan rela melewati hal sekeji apapun asal ada Sehun di hidupnya.

Ini gila-….Luhan bahkan sudah berharap Sehun berada terus di hidupnya. Lalu bagaimana setelah ini? Bagaimana dia tega merebut Sehun dari Baekhyun? Entahlah-…Dia tidak mau memikirkannya saat ini, dia mungkin akan menyesalinya nanti, tapi malam ini? Dia bersumpah hanya akan terus bersama dengan Sehun setidaknya hanya disini dan untuk lima hari mereka di Bali.

"Bagus. Seperti itu, tenang dan hanya fokus pada ciumanku."

Luhan mengangguk. Dia mencoba mengabaikan rasa perih di lubangnya dan hanya fokus pada bibir Sehun yang kini mengeksplor seluruh bibirnya. Sesekali dia membelit kedua lidah mereka, lalu mengajaknya kembali berciuman panas dengan sedikit hisapan kecil sementara jari telunjuknya terus mengoyak paksa lubang Luhan dibawah sana.

"nghh—sehun.."

"Ya sayang! Mendesahlah. Kau akan merasa lebih baik."

Dan ketika Sehun mulai fokus dengan leher dan tengkuk Luhan maka Luhan dibuat seolah tak rela saat tak ada lagi ciuman panas dari Sehun. Dia pun menangkup wajah Sehun lalu memaksa kekasih sahabatnya ini untuk kembali mencium bibirnya –tidak- Luhan secara tidak langsung memaksa Sehun untuk melumat panas bibirnya.

"Apa?"

Sehun sengaja bertanya menggoda Luhan dibalas raut gelisah yang lebih mungil, dan seolah tak ingin digoda, Luhan pun menunjukkan maksudnya dengan menarik kasar tengkuk Sehun dan mempertemukan kembali dua bibir mereka.

"ah kau ingin dicium ya-…hmpphm."

Ucapan Sehun tak lagi terdengar saat Luhan dengan rakus melumat bibirnya. Dia senang karena pada akhirnya Luhan sangat agresif, membuat dirinya lebih mudah untuk semakin menjamah tubuh Luhan sebanyak apapun yang dia mau.

"Aku akan menambah jariku lagi."

"Terserah apa yang kau inginkan. Hanya cium aku Oh Se-…AKH—aaangghmph.."

Kini tak hanya satu jari. Sehun memasukkan jari telunjuk dan dan jari tengahnya bersamaan. Dia bisa saja menambah satu jari lagi merasa sedikit ruang tersisa di lubang Luhan. Tapi sungguh-….dia tak sampai hati membuat Luhan semakin kesakitan dan hanya mencukupkan dengan dua jari.

"Tenang Lu. Rasakan aku sedang melumat bibirmu saat ini."

Tubuh tegang Luhan kembali rileks, pagi ini sungguh sangat membuatnya kewalahan. Karena selain harus melayani kekasih sahabatnya dia juga harus mati-matian menahan nafsunya sendiri.

Sehun nyaris memberikannya. Ya-…Jika dia tidak resah mungkin dia akan menjemput klimaksnya hanya dengan dua jari kasar Sehun yang kini menumbuk jauh kedalam lubangnya. Tapi terimakasih untuk rasa resahnya karena dia tak perlu takluk semudah itu dengan dua jari Sehun sementara si pemilik jari terus menyeringai dalam ciuman mereka.

"Sudah akan klimaks?"

Luhan menggeleng penuh percaya diri. Dilingkarkannya kedua paha di pinggang Sehun sementara dua jari Sehun lebih leluasa menumbuk saat ini, "Belum?"

"Belum."

Luhan menarik lagi tengkuk Sehun, memaksa dua bibir mereka kembali bergumul panas sementara si pejantan merasa terlecehkan dengan jawaban "Belum" yang begitu percaya diri dari si mungil di bawahnya.

"Baiklah. Aku tidak akan berbaik hati lagi." Katanya bersungguh-sungguh sebelum

"SEHUN—aarrghhmmhhh!"

"Got You babe!"

Sehun benar dengan kalimat tidak akan berbaik hati lagi pada Luhan. Dia pun sengaja menghujam kencang dengan jari tengahnya lalu bergantian dengan jari telunjuk yang tak kalah dalam dan kencang menyodok langsung dibawah sana.

"ah-...Sehun—sehunn.."

"Wae? Sudah akan klimaks?" katanya berbisik menggoda sementara kedua jarinya sudah terjepit oleh dinding rektum Luhan yang semakin sempit disela tusukan dua jarinya. "Jawab aku atau aku akan berhenti membuatmu nikmat Lu."

"ah-…"

Nafas Luhan putus-putus, rasanya terlalu nikmat dibawah sana hingga dia lupa merespon Sehun. Dan saat dua jari Sehun mulai pada tempo lambatnya maka Luhan dengan cepat mengetatkan lubangnya seraya berkata

"ya-..YA! AKU AKAN KLIMAKS SEHUN"

"Lalu?"

Sehun menjilat dua nipple Luhan saat ini, memutar gemas lidahnya mencicipi dua tonjolan kecil Luhan sebelum terdengar suara memohon dari Luhan yang terdengar sangat gelisah.

"Sehunna kumohon."

Rasanya lucu mengingat dia tidak pernah mengabulkan permintaan mangsanya di atas tempat tidur. Tapi saat Luhan hanya memohon –tidak sepenuh hati- maka disinilah Sehun, sekali lagi takluk pada apapun yang dikatakan dan diinginkan Luhan darinya.

"Baiklah."

Dalam hitungan detik lidah Sehun kembali membelit lidah Luhan, keduanya bahkan terlihat menikmati pergumulan panas mereka hingga benang saliva disela ciuman panas mereka. Dan mengabaikan fakta bahwa sesuatu milik Sehun sudah sangat tegang, maka jarinya hanya terus melakukan tugas untuk menusuk semakin dalam, sangat dalam, terlalu dalam sampai terdengar

"Sehuuun—sehun—aaah~"

Desahan panjang dari Luhan yang mengartikan bahwa si pria mungil benar telah mencapai klimaksnya saat ini. Terbukti dari dadanya yang sedikit mengangkat saat menjemput klimaks bersamaan dengan cairan putih yang membasahi tangan serta perut Sehun.

Kedua nafas Sehun dan Luhan bersahutan tanda sangat lelah. Namun fakta lain yang harus Luhan sadari adalah kejantanan Sehun yang terlihat tegang dan belum disentuh sama sekali bukanlah pertanda baik.

Dia kemudian kembali melingkarkan tangannya di leher Sehun. Sedikit menyentuh kejantanan yang hanya tertutup bathrobe seraya berbisik setengah menggoda dan terdengar sangat pasrah.

"Masukkan milikmu dan selesaikan ini dengan cepat." Katanya seduktif melepas tali bathrobe Sehun diiringi seringaian puas dari si pria jantan yang tak sabar menunjukkan seberapa tangguhnya dia bahkan di pagi hari untuk memuaskan mangsa kecilnya.

"Bagaimana jika aku ingin bermain lama?"

"Sehun kau tahu aku-…."

Ddrtt…drrtt…

Posisi kejantanan Sehun sudah setengah menerobos lubang Luhan saat ini,

Namun sial-…Ponsel Luhan bergetar sangat kencang hingga membuat perhatian keduanya teralihkan untuk sesaat. Sehun menggeram marah sementara Luhan berusaha menggapai ponselnya.

Dan saat matanya sudah melihat siapa yang menghubunginya maka wajahnya berubah menjadi pucat saat ini "Baekhyun. Sehun-…Ini Baekhyun!"

"Abaikan."

Sehun mengajaknya bergumul panas lagi. Namun berbeda dengan beberapa menit lalu, kali ini Luhan menolak, jelas sangat terasa karena tangan kecilnya terus memukul dada seolah meminta untuk dihentikan beberapa saat.

"ADA APA?"

"Sebentar saja. Kumohon."

"sial!"

Sehun bangun dari posisinya menindih Luhan. Dia juga kembali memakai paksa bathrobe nya tanda sangat marah.

Luhan tahu Sehun marah, sangat tahu. Pria tampan yang kini duduk disamping tempat tidur itu terlihat enggan menatapnya. Membuat Luhan sedikit menyesal dan beranjak untuk memeluk dari belakang si pria kekar yang hatinya baru dilukai oleh sahabatnya sendiri "Aku tahu kau masih marah. Tapi dia masih kekasihmu Sehunna."

"Persetan!"

Tangan kanan Luhan terus melingkar di pinggang lebar Sehun. Menjaga si pria tampan agar tetap disampingnya dan tak lagi pergi dalam keadaan marah "Maaf tapi dia tetap sahabatku. Baekhyunku."

Sehun diam merasakan derus nafas Luhan di punggungnya. Awalnya dia marah, namun melihat tangan Luhan melingkar di pinggangnya maka hanya satu helaan nafas yang terdengar sampai dia memegang tangan Luhan yang terlihat seolah menjaganya.

"Angkatlah."

"gomawo Sehunna." Katanya senang sebelum

Sret…!

"Baek?"

Luhan sengaja mengaktifkan loudspeaker nya. Berharap marah Sehun sedikit berkurang saat mendengar suara yang jelas masih merupakan kekasihnya.

"LUHAN!."

Rasanya dia ingin menjawab panggilan itu.

Itu Baekhyun, kekasihnya.

Itu Baekhyun, yang selalu berujar manja padanya.

Jujur dia rindu,

Tapi saat adegan sialan itu terus berputar di benaknya, maka Sehun lebih memilih untuk mendekap si mungil yang kini juga memeluknya di belakang.

"Ada apa Baek? Kenapa berteriak?"

"Lu…Lu…Jawab aku."

"Hey ada apa? Tenang sedikit."

Terdengar suara Baekhyun mengatur nafasnya, detik berikutnya suara cemas Baekhyun digantikan isakan layaknya bocah yang kehilangan mainan yang sangat dia sukai.

"hkss…"

"Astaga! Kenapa sekarang menangis?"

"Aku—hks—aku tidak bisa menemukan Sehun. Aku tidak bisa menghubunginya Lu, entah kenapa aku merasa dia menghindariku. Apa kau—hks—apa kau tahu dia dimana? AKU TAKUT LU! Hkss…"

Buru-buru Sehun menoleh untuk memperingatkan Luhan, memintanya agar tidak memberitahu Baekhyun namun sial!-….Luhan kembali mengabaikan apa yang diinginkannya.

"Aku tahu dia dimana Baek. Berhenti menangis."

"Benarkah?"

Sehun murka saat ini, dilepasnya kencang pelukan Luhan lalu dia menjauh dari jangkauan si mungil yang terlihat panik. Dia bahkan memohon pada kekasih sahabatnya sementara bibirnya terus mengatakan hal yang tidak ingin Sehun dengar saat ini.

"Ya Baek. Dia ada di Denpasar bersamaku, bersama tim kami."

"astaga syukurlah. Aku akan segera menyusul kalian kesana."

Tanpa berlama-lama Baekhyun terdengar sangat bahagia, dia pun mengakhiri panggilan ponsel mereka hingga terdengar

Pip!

"APA SEBENARNYA YANG KAU INGINKAN?"

Luhan tersentak dengan teriakan Sehun yang penuh amarah. Membuatnya sangat takut dan berniat untuk menjelaskan namun rasanya percuma karena Sehun masih sangat marah "Sehun dengarkan aku!"

"SESAMPAINYA DIA DISINI AKU AKAN SEGERA MENGAKHIRI HUBUNGAN KAMI! KAU DENGAR?"

"tidak…"

BLAM!

"Sehun…"

Buru-buru Luhan mengambil kemeja Sehun yang tergeletak di lantai, memakainya asal lalu kemudian berlari menyusul pria tampan yang hatinya dipenuhi marah saat ini.

"SEHUN!"

Luhan menarik lengan Sehun, memaksa dua mata mereka bertemu untuk berbicara dengan kepala dingin "Aku mohon bicara denganku."

Rasanya mustahil menenangkan kemarahan Oh Sehun saat ini, karena saat Luhan memohon agar Sehun bicara maka hanya bungkam yang dia dapatkan. "Aku mohon."

"Kau tahu jawabanku, aku akan tetap mengakhiri hubunganku dengan Baekhyun!"

Tak ada keraguan sama sekali di mata Sehun saat mengatakan akan mengakhiri hubungannya dengan Baekhyun. Semua sama, terlalu sama dengan yang Luhan lakukan malam itu, malam dimana Luhan memiliki keyakinan untuk mengakhiri hubungannya dengan Kai.

Dia bisa saja membiarkan Sehun mengambil keputusan untuk hubungannya dan Baekhyun. Tapi setelah itu apa?

Mereka hanya akan seperti dirinya dan Kai saat ini, terjerat pada kebencian tak berkesudahan.

Dan mengingat Baekhyun yang selalu menyalahkan diri, maka mustahil jika sahabatnya tidak akan berbuat gila. Dia pun terus menggenggam lengan Sehun dan menatapnya sangat memohon saat ini "Aku mohon tenanglah."

"Tenang kau bilang? Kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat kekasihmu bercinta dengan sahabatmu sendiri! KAU TIDAK TAHU LUHAN BETAPA MARAHNYA DIRIKU LUHAN!"

"y-YA-…YA AKU TIDAK TAHU! Tapi kumohon tenanglah. Sehun aku mohon-…"

Sret…!

Sehun menghempas tangan Luhan, kepalanya sudah tak bisa lagi berfikir jernih. Dia pun berniat pergi meninggalkan Luhan sampai terdengar

"HUBUNGAN KITA BERAKHIR JIKA KAU MENGAKHIRI HUBUNGANMU DENGAN BAEKHYUN!"

Tap!

Langkah Sehun seketika terhenti mendengar teriakan gila dari Luhan, ya-…terlalu gila sampai rasanya dia ingin membungkam bibir Luhan dengan bibirnya.

Rasanya dia begitu muak saat Luhan mengancamnya, tapi kemudian hatinya berdenyut sakit dan sangat tidak rela membayangkan hubungan mereka akan berakhir, membuat Sehun –dengan sangat terpaksa- menoleh begitu marah untuk mendapati Luhan yang kini menangis di depannya.

"Apa maksudmu?"

Buru-buru Luhan menghapus air matanya, dia mendekati Sehun dan memaksa tangan Sehun melingkar di pinggangnya.

Sensasinya aneh mengingat tubuh polos Luhan menekan kejantanannya yang masih memberikan respon.

"Dengarkan aku Sehunna."

Namun saat tangan mungil Luhan menangkup wajahnya, maka sekali lagi-….Segala kemarahan Sehun menguap bersamaan dengan tatapan lembut Luhan untuknya.

"Jika kau mengakhiri hubunganmu dengan Baekhyun, aku-….Aku tidak memiliki alasan lagi untuk bertemu denganmu di luar jam kerja. Aku tidak mau itu terjadi, jadi kumohon—hks—kumohon berpura-puralah tidak tahu untuk sementara, untukku."

Sehun tidak menolak saat Luhan mengarahkan satu tangannya untuk melingkar di pinggang mungilnya. Dia juga kemudian menjaga Luhan untuk bersandar di tubuhnya, memastikan tangannya mendekap pinggang mungil Luhan dan menjaganya tanpa ragu

Tapi jujur Sehun bingung mencerna segala ucapan Luhan. Yang dia tangkap hanya kalimat Luhan yang memohon untuk berpura-pura tidak tahu, tapi untuk apa? untuk apa dia berpura-pura tidak tahu sementara dia melihat malam keji itu dengan kedua matanya.

Dia sungguh bingung. Sampai Luhan berkata

"Ini bukan untuk Baekhyun. Sungguh-….Katakan aku jahat! Tapi jika kalian berpisah aku tidak bisa lagi bergantung padamu, aku masih ingin tinggal bersamamu, bertemu dengan Vivi dan tidur memelukmu setiap malam. Jadi bisakah-…."

Luhan mengambil nafasnya cukup dalam sebelum kembali memohon pada Sehun "Bisakah kau berpura-pura tidak tahu tentang apa yang dilakukan Baekhyun? Aku mohon. Ini untuk kita, untukku."

Sekarang Sehun mengerti alasannya.

Rasanya gila saat Luhan tanpa sadar mendeklarasikan dirinya rela menjadi selingkuhan asal hubungannya dan Baekhyun tetap bertahan.

Bisa saja Sehun tetap mengakhiri hubungan mereka lalu berlari pada Luhan. Tapi melihat bagaimana Luhan menangis memohon agar dirinya berpura-pura tidak tahu maka rasanya mustahil mengakhiri hubungannya dengan Baekhyun saat ini.

Dia pun perlahan mengecup lagi bibir Luhan, memintanya untuk tenang sebelum akhirnya bersuara setelah beberapa menit hanya suara Luhan yang terdengar

"Lalu bagaimana denganku? Tiap kali melihat wajah sahabatmu aku akan marah dan merasa sakit. Lalu bagaimana bisa aku bertahan? Katakan padaku?"

Buru-buru Luhan berjinjit untuk mencium Sehun, melumatnya lembut dengan tangan yang mengusap perlahan dada Sehun –memintanya untuk tenang- dan berjanji jika dia yang akan bertanggung jawab atas seluruh rasa sakit Sehun.

"Kau juga bisa bergantung padaku. Dengarkan aku sayang-…."

Memang gila memanggil sayang pada Sehun, tapi dia abaikan. Yang Luhan lakukan hanya menangkup wajah Sehun lalu mengecup lagi bibirnya untuk memberikan satu tawaran menggoda untuk Sehun.

"Selagi kau berpura-pura tidak tahu, aku yang akan bertanggung jawab untuk rasa sakitmu. Aku-….Aku memberikan semua hati dan tubuhku padamu, hanya padamu. Jadi kau harus baik-baik saja hmm?"

"Tapi kenapa?"

Luhan sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan Sehun kali ini, namun saat tangan hangat Sehun yang kini menangkup wajah kecilnya maka hanya senyum kecil –namun terlihat sangat bahagia- yang ditujukan Luhan. Dia kemudian memberanikan diri berjinjit untuk menciup kening Sehun –cukup lama- sebelum mengakui bahwa dia

"Aku juga menyukaimu."

"huh?"

"Aku resah untuk mengakui ini, tapi dari awal kita bertemu aku menyadari tatapan lembut yang selalu kau berikan padaku, diam-diam kau juga selalu memperhatikan aku. Aku sangat menyadarinya, tapi aku menyangkal. Aku terus mengatakan kau peduli padaku karena aku sahabat Baekhyun. Tapi malam tadi-….Malam saat kau mengatakan menyukaiku. Kau membuatku semakin serakah pada dirimu. Aku bukan hanya menyukaimu, aku ingin kau menjadi milikku selama-…"

mmhhpmmmhh~

"Sehunna—aah…"

Dengan satu tangannya Sehun mengangkat tubuh mungil Luhan, memaksanya untuk kembali berciuman sementara dirinya mencari spot agar tubuh mereka segera menyatu.

Brak…!

Dengan cepat dia membuang seluruh peralatan di meja makan kamar hotelnya, meletakkan Luhan secara perlahan disana sementara tangannya membuang kemeja miliknya yang digunakan Luhan "nghh…"

Luhan menggeliat resah saat tangan panas Sehun kembali menyulut tubuhnya. Dia juga bisa merasakan seluruh tubuhnya dikecup basah oleh bibir panas Sehun secara perlahan. Terlalu perlahan sampai akhirnya dua mata mereka kembali bertemu.

Tak ada yang berbicara untuk sesaat, keduanya menikmati indahnya pengakuan atas perasaan terpendam selama ini. Sampai Luhan lebih dulu berbicara "Sehun aku rasa aku benar-benar menyukai-…"

"sst…Jangan katakan lagi Luhan, nanti hatiku bisa meledak karena terlalu bahagia." Katanya membawa tangan Luhan ke dadanya dan benar saja-….Luhan bisa merasakan degup jantung Sehun tidak beraturan, sangat kencang dan sama persis seperti milkknya. "Kau berdebar."

"Kau yang membuatnya berdebar gila."

"Aku juga berdebar."

"Aku tahu."

Keduanya terlihat sangat bahagia sampai tangan panas Sehun mengusap wajah untuk memberi pengakuan lainnya pada Luhan.

"Aku rasa aku jatuh cinta lagi."

"Jangan membuatku lemas direktur Oh."

"wae? Aku hanya mengatakan aku rasa aku jatuh cinta pada sosok mungil yang hati dan rupanya sama cantik. Aku benar-benar mengagumimu Luhan."

"gomawo direkturku. Kau juga pria paling lembut dan sabar yang pernah aku temui. Dan lagi-…Kau sangat tampan direktur Oh."

Luhan tertawa malu dengan ucapannya sendiri. Matanya sendiri masih betah berlama-lama mengagumi sosok tampan Sehun sebelum

"Sehun!"

Dia memekik terkejut saat kedua pahanya dipaksa mengangkang lebar dibawah Sehun. Detik berikutnya terdengar suara zipper celana Sehun dibuka menandakan bahwa kejadian panas malam tadi akan segera terulang.

"Aku akan membuatmu mendesah lagi sayang."

"Tapi aku harus pergi."

"Kau masih memiliki lima belas menit tersisa jadi diam dan hanya biarkan aku membuat kita nikmat—ah!"

Sehun merasa gila saat mencoba menerobos lubang sempit Luhan, rasanya terlalu sempit hingga dia berfikir untuk mengeluarkannya sejenak. Mencari cara agar lubang itu segera membuka untuknya sampai terlihat seringaian di wajah tampannya sebelum

SLEB!

"SEHUN—AKH—ngggaaah—aaah~"

"Sebentar lagi akan nyaman. Terus menggeliat mencari posisimu sayang."

Luhan melakukannya dia menggeliat ke kanan dan ke kiri sampai akhirnya dia menerima keberadaan penis Sehun di lubangnya. Dia pun sedikit bergerak resah lalu menarik tengkuk Sehun menandakan dia sudah siap untuk "ditusuk" secara brutal, kasar dan tentu saja menggairahkan.

"Bergerak."

Sehun tersenyum senang, dia kemudian melingkarkan satu-persatu dua kaki Luhan untuk melingkar di pinggangnya. Sedikit melumat bibir Luhan sebelum menyeringai membalas perintah Luhan

"as your wish baby."

"akh—haaah—Sehunmmmph."

Dan setelahnya Sehun hanya terus menyatukan dalam tubuh mereka. Dia menghujam ke bagian terdalam tubuh Luhan, sangat dalam, terlalu dalam hingga suara khas menyatunya dua tubuh manusia serta desahan Luhan yang begitu hebat terdengar sempurna untuk Sehun.

"Lu—hhmmmh."

Dia mengatakan Luhan memiliki lima belas menit waktu tersisa, namun rasanya mustahil mengingat seorang Oh Sehun sedang dalam kondisi prima dan begitu jantan akan berbaik hati membiarkan si mungil pergi begitu saja.

"deepsehun—aahharder—deephhmmphh—sehun—aah."

Dua pria yang baru menyatakan perasaan satu sama lain itu seolah tak peduli dengan apapun, yang mereka lakukan hanya menyatukan tubuh sebanyak yang mereka mau hingga rasanya lima belas menit adalah waktu yang terlalu singkat untuk mengakhiri pergumulan panas mereka saat ini-….lihat saja.

"ngghhmmmphh—sehun."

Ah-…sepertinya tidak mungkin lima belas menit

.

.

.

.

.

.

.

.

"ASTAGA XI LUHAN! KAU TERLAMBAT!"

Dan benar saja tebakan Luhan, lima belas menit bukanlah waktu untuk mengakhiri pergumulan panasnya dengan sang direktur.

"DARIMANA SAJA KAU?'

Yang memarahinya tentu saja Xiumin –sahabatnya- lihat dua matanya yang sudah akan keluar karena marah, membuat nyali Luhan menciut mengingat Xiumin sudah bertolak pinggang –tanda tak mau dibantah-

"Aku sakit perut Xiu."

Kenyatannya dia baru selesai bercinta dengan Sehun selama satu jam. Dan omong kosong dengan sakit perut yang dijadikannya alasan karena bercinta di bathtube super mewah yang disediakan hotel untuk kamar VVIP yang Sehun sewa.

"ALASAN! SANGAT MEMALUKAN KITA TERLAMBAT SATU JAM! APA KAU TAHU KALAU-…"

"Manager Kim."

Yang merasa dipanggil segera berhenti berteriak. Dia pun menoleh untuk mencari tahu siapa yang memanggilnya sebelum membungkuk secara refleks mengetahui sang direktur yang kini memanggil namanya.

"Direktur Oh." Katanya menyapa lalu diabaikan Sehun yang kini beralih pada Luhan. Keduanya bertatapan dengan tatapan yang berbeda, dimana yang satu memperingatkan untuk tidak bersikap sesukanya dan satu tidak peduli-….terlihat dari caranya merangkul pinggang Luhan hingga terdengar pekikan tertahan dari Xiumin

"astaga!"

"Biarkan Manager Xi masuk. Dia sudah terlambat." Katanya menatap cinta wajah Luhan dibalas cibiran karena tangan Sehun terus merangkul pinggangnya "y-ya tentu saja direktur." Katanya menatap mata Luhan penuh arti seolah meminta penjelasan setelah semua ini selesai "Silahkan kau masuk manageri Xi. Manager Kim sudah menunggu di dalam dan kita kehilangan lima peserta yang mungkin akan kau sesali karena tidak melihat bakat mereka." Katanya setengah mengancam Luhan dibalas kekehan oleh si pria mungil.

"Kau tenang saja, masih banyak mangsaku."

Luhan segera melepas paksa tangan Sehun yang mendekapnya, tidak membungkuk sopan tidak pula berpamitan pada Sehun, yang dia lakukan hanya berlari kedalam Venue sementara Sehun mencibir

"Tidak sopan."

Xiumin merinding mendengar kalimat Sehun, membuatnya buru-buru membungkuk seraya mewakili Luhan untuk meminta maaf pada direktur mereka."Maafkan Luhan direktur. Terkadang dia suka berbuat gila jika sedang terlalu senang atau terlalu gugup. Maafkan temanku yang-…"

"Aku tahu. Cepat kita masuk, aku juga ingin melihat bagaimana si mungil menaklukan mangsanya."

"huh?"

"Temani aku manager Kim. Aku ingin tahu lebih banyak tentang sahabatmu."

Jangankan Luhan, Xiumin saja bisa merasakan bahwa setiap kali nama Luhan disebut dari bibir Sehun, maka akan terlihat kupu-kupu bertebaran di sekeliling mereka. Membuat tiba-tiba tubuhnya merinding takut menyadari sesuatu jelas terjadi di antara mereka "Luhan cepat ceritakan lebih banyak padaku." Katanya bergumam pelan dibalas suara Sehun yang kini berteriak

"MANAGER KIM!"

"y-Ya direktur. Aku datang."

"apa mereka memiliki hubungan?"

Jika saat ini Minseok sedang mengikuti Sehun, maka tak jauh dari tempat mereka seorang Kim Jongin –mantan kekasih Luhan- melihat seluruh interaksi dari Sehun dan Luhan yang sangat tidak biasa. Membuatnya bertanya-tanya namun tak memiliki hak apapun untuk mencari tahu.

Tangannya terkepal erat –tanda sangat kesal- detik berikutnya dia ikut masuk ke dalam venue seraya mengumpat "brengsek!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Osh ent?

Saat ditanya Luhan mengangkat wajahnya. Dia kemudian membuat tanda silang dengan kedua telunjuknya menyatakan dia tidak menerima kontestan asal Thailand untuk masuk ke dalam tim nya.

"Kau yakin? Aku sedang mengalah padamu."

Dia mengabaikan bisikan sahabatnya, hanya mendelik sebal pada Jin lalu dengan cepat mengatakan "Jika kau mau kau bisa mengambilnya."

"ooh tidak. Kau saja." Katanya terkekeh dibalas suara dari MC yang mengatakan

"Kiet-17 tahun-TOP's ent accepted!"

Terdengar suara riuh saat Choi Seunghyun –pencari bakat sekaligus pemilik TOP ent'- mengumumkan bahwa dia menerima Kiet –peserta audisi- yang Luhan tolak menjadi bagian timnya. Membuat beberapa cemas karena tak bisa memiliki si pemuda berbakat sementara Luhan tersenyum seraya mengangkat dua ibu jarinya pada Seunghyun "Pilihan bagus."

"Astaga kau bilang pilihan bagus tapi tidak memilih? Tau begitu aku yang mengambil bocah itu!"

"Berisik!"

"ish!"

"Manager Kim?"

"Ya direktur Oh."

Jika di bangku juri Jin dan Luhan terus bertengkar, maka di tribun penonton sang direktur terlihat bingung pada keputusan Luhan yang sudah mengabaikan enam peserta audisi yang secara kasat mata menurutnya sangat berbakat

"Kenapa Luhan sama sekali tidak mengambil peserta audisi ke tim kita?"

"Bukan tidak mengambil direktur Oh. Luhan belum menemukan sense dari lima orang yang tampil di hadapannya."

"huh?"

Xiumin tersenyum di samping Sehun, memperhatikan sosok sahabatnya dari jauh sebelum menoleh seraya menjawab kebingungan Sehun dengan keyakinan miliknya pada Luhan –sebagai sahabat dan sebagai sesama manager pencari bakat- "Tunggu dan lihatlah direktur. Kau akan terkejut dengan cara Luhan melihat sisi seseorang calon bintang."

Sehun mengankat dua bahunya, berusaha mencerna ucapan Xiumin namun sulit, dia pun kembali memperhatikan Luhan dan berniat untuk menegur Seokjin agar tidak terlalu sering melakukan kontak terlalu intim dengan Luhan, dia tidak suka dan rasanya kesal melihat pria cerewet itu terus saja merangkul pundak Luhan, Luhannya.

Next, Moon Taeil-18 years old-Seoul

"whoa…Dia dari Seoul."

Jin berbisik heboh sementara Luhan mulai bersiap di tempatnya. Dan sebagai juri yang memiliki kesempatan bertanya maka disinilah Luhan berkesempatan untuk bertanya pada remaja asal Seoul yang sudah jauh-jauh datang ke Bali "Hey."

"annyeonghaseyo."

Saat Taeil membungkuk menyapa seluruh juri, semua terkesan. Luhan pun dibuat tersenyum lalu bertanya "Apa yang akan kau tunjukkan pada kami?"

"dance."

"Tunjukkan pada kami."

Tak perlu waktu lama terdengar suara musik mengiringi stadium. Pemuda bernama Taeil itu pun seolah tak ragu menunjukkan kemampuannya.

Di intro pertama dia mulai menggerakan tubuhnya, terlihat sempurna dan membuat para juri kagum terkagum.

Ya-…Mungkin jika dia bisa sedikit lebih fokus dia akan masuk ke salah satu agensi pencari bakat yang berkumpul di ajang pencari bakat terbesar di Asia tenggara. Namun sayang-…saat memasuki klimaks, Taeil kehilangan arah. Dia pun bergerak tidak beraturan sampai akhirnya

Cut!

Janson ackles –pencari bakat Irlandia- menghentikan gerakan Taeil. Beberapa juri mengangguk setuju dan langsung memberi No pada Taeil. Anak lelaki delapan belas tahun itu terlihat sangat terpukul, dia kemudian bergegas meninggalkan panggung sebelum suara Luhan menginterupsi

"Aku belum memberikan suara."

Sang MC wanita tampak memberikan tanda pada Taeil. Dia seolah mengatakan bahwa Luhan belum selesai hingga remaja yang hatinya sedang menikmati kehancuran terpaksa kembali menoleh. Dia kemudian menatap Luhan sedikit ragu sebelum sang juri tersenyum seolah menguatkannya saat ini.

"Kau tidak buruk. Sungguh."

"Luhanjangangila."

Luhan mengabaikan cibiran Jin, dia hanya fokus pada remaja di depannya yang terlihat sangat terpukul dan mengatakan hal pantang yang tak seharusnya dikatakan calon idol

"Tapi aku gagal."

"Aku tahu."

"…"

"Tapi kau tahu Kim Jongin?"

Si pemilik nama dan sang direktur sama-sama menegang saat Luhan menyebutkan nama Kim Jongin. Untuk Jongin rasanya begitu menyenangkan mendengar Luhan menyebut namanya sementara Sehun menggeram terlalu marah sangat tak menyukai Luhan menyebut nama mantan kekasihnya.

Direktur cemburu?

Xiumin bahkan bisa melihat gelagat Sehun jelas sedang cemburu, membuatnya semakin penasaran namun lebih tertarik pada sahabatnya saat ini.

"Kau akan melihat the real Manager Xi sesaat lagi Direktur Oh."

"Apa maksudmu?"

Xiumin tersenyum penuh keyakinan. Menatap direkturnya sangat yakin sebelum menunjuk ke arah Luhan "Lihat sebentar lagi."

"Aku tanya, apa kau mengenal Kim Jongin?"

"y-ya tentu saja."

"Kalau begitu jangan mencoba menjadi dirinya. Aku tahu sedari awal kau berdiri di atas panggung, caramu berpakaian, dan caramu menari. Semua persis dengan yang dilakukan Maknae EXO tersebut. Apa kau penggemarnya?"

Tanpa ragu Taeil mengatakan "Aku sangat mengidolakannya. Tapi aku membuatnya kecewa." Katanya lirih dan tak sengaja melihat Kai –idolanya- yang sedang melihat ke arahnya. Dia merasa sempat puus asa sebelum lagi-lagi Luhan mengatakan

"Tidak juga. Kau tidak akan mengecewakan Kai. Aku tahu bagaimana Kai mengikuti audisi beberapa waktu lalu, dan sama sepertimu-….Dia gagal dalam bernyanyi tapi lolos saat dance memukaunya dia tunjukkan."

"Lalu?"

"Lalu aku ingin kau melakukan hal sebaliknya. Aku ingin kau bernyanyi."

"huh?"

"Didengar dari pita suaramu yang cenderung serak, aku yakin kau berbakat dalam menyanyi."

"Tidak…Aku tidak bisa."

"Kalau begitu kau mengecewakan idolamu, kau mengecewakan Kai."

Taeil berfikir sejenak sebelum menatap Luhan cukup lama, dia kemudian mencari dimana Kai duduk dan mendapatkan anggukan seolah diberi semangat oleh idolanya "Aku akan menyanyi."

"bagus! Nyanyikan lagu apapun yang kau inginkan."

Taeil mengangkat mikrofonnya, bersiap untuk menyanyi sebelum lagi-lagi suara jahil Jin terdengar di telinga Luhan "Kau akan menyesal Lu, buang-buang waktu."

"Lihat saja."

Please don't see

Just a boy caught up in dreams and fantasies

Awalnya suara Taeil terlihat ragu, dia berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum kembali melanjutkan lirik dari lagu kesukaannya.

Please see me

Reaching out for someone I can't see

"astaga…"

Luhan menyeringai saat Jin terpukau dengan suara Taeil. Membuatnya ikut tertawa bahagia sementara remaja seusia adiknya terus melanjutkan lagu yang terdengar begitu ia sukai

Take my hand, let's see where we wake up tomorrow

Best laid plans sometimes are just a one night stand

I'll be damned-….

"Cukup! Kau masuk ke tim ku."

"huh?"

"Selamat bergabung di OSH ent-.."

"Benarkah?"

"yap!"

"Astaga terimakasih Manager Xi. Terimakasih."

Bersamaan dengan membungkuknya tubuh Taeil –tanda berterimakasih pada Luhan- maka akan terdengar umpatan sangat menyesal karena membiarkan Taeil lolos ke tangan Luhan.

"oh shit / argh!"

"aaaah…Luhan kenapa kau hebat sekali."

Beberapa juri terlihat menyesal. –Jin adalah salah satunya- membuat dia begitu gemas dengan kemampuan Luhan hingga tanpa sadar merengek seraya memeluk Luhan erat. Membuat dua pria yang melihatnya senang namun tak bisa menyembunyikan rasa iri mereka karena Jin adalah satu-satunya pria yang selalu bisa memeluk Luhan di depan umum.

"berani sekali kau manager Kim."

Itu suara Kai yang menggeram disusul beberapa kursi dari tempatnya maka seorang Oh Sehun sedang mengutuk manager muda –si tukang ambil kesempatan- versi Oh Sehun "jelas aku harus melakukan sesuatu pada kalian."

Dia memang bangga pada Luhan, tapi rasa cemburunya mengalahkan rasa bangganya. Membuat si direktur muda itu lekas berdiri dan berniat menunggu manager pencari bakatnya di luar Venue.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Besok jangan sampai terlambat lagi."

"Aku tahu sayangku. Sudah cukup jangan marahi aku lagi."

Malam ini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Itu artinya audisi hari pertama telah selesai dilakukan. Dari sekian banyak peserta audisi, Luhan hanya memasukkan enam nama peserta ke dalam timnya. Berbeda dengan pria tinggi yang sedang memeluknya sambil berjalan, dia mengambil sekitar lima belas peserta ke dalam timnya.

"Iya jangan marahi Luluku lagi Minnie-ya. Kami ingin pergi tidur, benar kan Lu?"

"hmmh."

Luhan hanya membiarkan Jin bergelayutan memeluknya. Dagunya bahkan sudah bersandar nyaman di pundak kanan tanda bahwa percuma meminta si anak bayi melepaskan pelukannya. "Semalam kau tidur dimana? Aku tidak melihatmu kembali ke kamar kita."

"Jangan mengatakan kamar kita dengan nada menjijikan seperti itu."

"Nada menjijikan bagaimana?"

"Lupakan. Semalam aku tidur di-…."

Luhan tiba-tiba berhenti berjalan, membuat Jin meringis karena dagunya membentur kencang pundak Luhan sebelum melihat alasan mengapa Luhan tiba-tiba berhenti berjalan adalah karena

"Direktur Oh?"

"Ya ini aku. Kenapa kau memeluk Luhan seperti itu?"

"ah-…."

Buru-buru Jin melepas pelukannya pada Luhan, membungkuk hormat pada Sehun namun diabaikan si pria tampan yang kini hanya fokus pada Luhan dan

Sret…!

"Ikut aku."

"Sehun!"

Dua temannya yang lain terpaksa harus melipat tangan di dada.

Mereka sangat penasaran dengan interaksi tak wajar Sehun dan Luhan. Membuat Xiumin mendecak curiga sementara Jin merengek tak rela karena Luhan mungkin akan memiliki kekasih lagi dan itu bukan dirinya.

"oh tidaaaak…LUHAAAAAAN…"

"ish! Berhenti merengek. Banyak yang melihatmu!"

"Luhanku diambil orang lagi Xiu. Huwaaaaaaa…"

"ck! Ini sangat mencurigakan. Terlalu mencurigakan."

"IYA INI MENCURIGAKAN…HUWAAA LUHAAAAN!"

"Aku bahkan mendengar Luhan memanggil nama direktur Oh begitu saja."

"AKU JUGA DENGAR XIU…HUWAAAA… AKU PATAH HATI!"

"ish lepas! Kau benar-benar memalukan Jin. Cepat kembali ke kamar dan bicara nanti dengan Luhan!"

"Kau mau kemana?"

Xiumin terdiam sejenak sebelum menggoda Jin yang terlihat seperti pria gila saat ini –menyeringai lalu mengerling- dan tak lama mengatakan

"Aku akan bermesraan dengan Jongdae. Di kamar kami."

"ohtidak….HUWAAA JANGAN TINGGALKAN AKU MINNIE-YAA…HUWAAA!"

"sial!"

Dan jika Jin sedang merengek gila di depan lobi hotel maka Kai kembali harus melihat janggal lagi antara Sehun dan Luhan. Bagaimana cara Sehun menarik tangan mungil mantan kekasihnya, cara Sehun membawa Luhan yang terlihat mendengarkannya. Semua sama-…Sama ketika dirinya menjadi kekasih Luhan.

Dan karena hal itu pula Kai merasa begitu marah menyadari bahwa benar telah terjadi sesuatu antara Sehun dan Luhan.

.

.

.

Sementara itu….

.

.

.

BLAM!

Sehun menarik paksa Luhan ke dalam toilet khusus yang disediakan untuk VVIP. Terus membawanya masuk hingga

Klik…!

Dia mengunci salah satu bilik toilet lalu mulai menyambar rakus bibir Luhan.

"mhhmmpphh…Sehun."

Sehun tidak mempedulikannya. Jujur dia tidak pernah merasakan cemburu saat Baekhyun atau kekasih terdahulunya berinteraksi secara berlebihan dengan teman mereka, tapi Luhan?

Luhan sepertinya mengambil perbedaan lagi dari hal yang biasa Sehun rasakan. Sang direktur sangat tidak menyukai interaksi Luhan dengan pria sejenisnya yang lapar akan tubuh Luhan, entah karena Luhan menyebut nama Kai atau Jin yang bisa sesuka hati memeluk Luhan di tempat umum.

Dia kesal-…jelas

Dia marah-….sangat

Tapi yang membuatnya bingung adalah semua hanya terjadi pada Luhan, hal itu bahkan membuatnya sedikit kesal mengingat pria di yang bibirnya sedang dia lumat ini bahkan tak memiliki status apapun untuknya.

Tidak teman, tidak pula kekasih.

Hanya pegawai yang tak seharusnya dia perlakukan secara khusus seperti ini.

"nnngghmphh—sehunjangaan…"

Luhan terus memukul dada Sehun, mencari celah agar bibirnya tak lagi dilumat sampai akhirnya berhasil mendorong tubuh Sehun sedikit menjauh darinya.

"haah-….ada-…ADA APA DENGANMU?"

"Aku benci dibuat cemburu."

"huh? TUNGGU!"

Luhan berteriak saat Sehun kembali meraih tengkuknya. Bertanya-tanya apa yang ingin Sehun katakan dan bertanya pada pria kekar di depannya "Apa maksudmu? Cemburu?"

"YA AKU CEMBURU! KAU MENYEBUT NAMA MANTAN KEKASIHMU! KAU MEMBIARKAN SI BERUANG DARAT ITU MEMELUKMU DI DEPAN UMUM!"

"Beruang darat?"

"JIN—KIM SEOKJIN!"

"ah-…."

Luhan tertawa lucu melihat bagaimana wajah Sehun memerah karena cemburu.

Cemburu dia bilang?

Membuat Luhan benar-benar terkekeh lalu tak lama mengalah menyadari wajah Sehun sepertinya memang marah karena dia terlalu banyak berinteraksi dengan banyak orang –banyak pria lebih tepatnya-.

Dia kemudian berjalan mendekati Sehun, mengusap dada bidangnya yang terlihat di balik kemeja putihnya lalu sengaja membuka kancing kemeja itu satu persatu "Lalu kau mau apa? Memperkosaku lagi?"

"Menghukummu lebih tepat."

"Lakukan kalau begitu."

"huh?"

"Hukum aku dan jangan marah lagi."

"astaga…"

"Kenapa?"

"Kenapa ada mahluk semenggemaskan dirimu?"

"Aku tidak menggemaskan."

"Kau iya!"

Dan saat ucapan mereka mulai terasa panas, maka adalah hal benar jika tangan Sehun melucuti pakaian dan sedikit menurunkan celana Luhan. Tangan panasnya mulai membelai secara sensual bagian private Luhan, membuatnya siap untuk dimasuki lalu membawa Luhan untuk berdiri membelakanginya.

Dia memaksa Luhan untuk bertumpu pada bilik toilet sebelum berbisik seduktif "Menungging untukku."

Luhan melakukannya tanpa ragu. Dia berpegangan pada bilik toilet lalu menungging untuk membuat Sehun senang. Hal berikut yang dia rasakan ada benda tumpul yang terasa begitu keras mulai terasa di permukaan kulitnya.

"Sehun."

"Apa?"

Luhan menoleh sekilas, dia kemudian menarik lengan Sehun untuk mencari bibirnya. Meminta Sehun untuk menciumnya selagi bagian bawah mereka menyatu. "Cium aku."

Sehun kemudian mendekatkan bibirnya pada Luhan, melumatnya sangat lembut berbeda dengan bagian bawahnya yang bermain kasar. Karena selagi dia mencium Luhan maka disaat yang sama dia melesak masuk ke dalam lubang Luhan dan

"Akh—mmphh.."

Luhan menggigit kencang bibir Sehun, mereka juga bisa merasakan rasa anyir dari bibir Sehun karena ulahnya. Membuatnya sedikit merasa bersalah namun tak bisa mengungkiri jika dia sama sekali tak suka posisi berdiri seperti ini.

"Maaf."

"Tidak apa. nanti juga hilang."

Luhan mengangguk menngerti. Dia pun kembali pada posisinya menatap bilik toilet, membiarkan Sehun mengeluar-masukkan penisnya sementara tangannya dia bawa untuk mengocok sendiri penisnya.

"ah-…aah.."

"Biar aku."

Sehun mengambil alih tangan Luhan. Gerakannya stabil mengeluar-masukkan penisnya di dalam lubang Luhan, membuat Luhan semakin mendesah hebat namun dia tahan dengan membekap kencang mulutnya.

"Mendesah saja. Tidak akan ada yang masuk."

"Tapi sayang-…"

"Lakukan karena aku tidak bermain lembut." Katanya memberitahu Luhan dan

SLEB!

"AKH—sehundeep—aah."

Sehun semakin bersemangat mendengar desahan Luhan, gerakan di dalam lubang Luhan dan kocokan di penis si mungil sama brutalnya. Membuat Luhan melingkarkan tangannya di leher Sehun lalu menengadah seraya mendesah nikmat "aah—aaah." Dia sesekali mencium bibir Sehun, lalu disaat yang sama dia kembali menengadah dengan mata terpejam menikmati setiap tusukan dan kocokan Sehun pada bagian selatan tubuhnya.

"ahh—sehunakuakandatang—ngghmpp—aah."

"Kau bisa klimaks sayang."

Mendapat persetujuan Sehun, Luhan pasrah. Dia membiarkan seluruh tubuhnya berkedut hingga akhirnya.

"Sehun—aaaaahnikmat—nghaaah"

Sehun berhenti sejenak di tusukannya. Jujur dia juga tidak tahan saat dinding rektum Luhan menjepit penisnya, tapi dia cukup berbaik hati untuk membantu Luhan klimaks dan mengusap habis cairan yang membasahi tangannya saat ini "Aku rasa cukup." Katanya mencium pipi Luhan sebelum kembali memposisikan Luhan doggy style untuk mencapai klimaksnya sendiri saat ini.

"aah—sehunsehun—ahhbabee-ngghhaahdeep—"

Tiga tusukan terakhir rasanya Sehun tak bisa lagi menahan diri, dia pun semakin menghujam dalam dan kasar lubang Luhan hingga akhirnya.

"Lu—akusampai—aaah."

Geramannya terdengar sangat seksi di telinga Luhan, dan saat cairan sperma Sehun kembali memenuhi lubangnya, maka hanya ada senyum yang Luhan tunjukkan pada Sehun "Kau hebat sayang." Katanya memuji Sehun dan mencari bibirnya untuk dikecup.

Detik berikutnya Luhan berjalan sedikit menjauh untuk melepas dua tubuh mereka yang menyatu. Mengambil beberapa lembar tisue untuk menghapus sisa sperma Sehun di selangkanannya sebelum membantu Sehun membersihkan diri.

"Sudah tidak marah kan?"

Tangan mungilnya dengan lihai mengancingkan kemeja ketat yang dipakai pria perkasanya. Luhan bahkan sesekali menciumi dada Sehun sebelum benar-benar membantunya berpakaian.

"Jangan biarkan temanmu menyentuh secara berlebihan lagi."

"Jin memang seperti itu."

"Tapi aku tak suka!"

Klik…!

Setelah memastikan dua tubuh mereka berpakaian secara normal, Luhan membuka pintu bilik toilet. Berjalan untuk mencari wastafel dengan Sehun yang terus memeluknya di belakang. "Aku juga ingin memelukmu seperti ini."

Luhan menarik tangan Sehun untuk dibersihkan sekilas, lalu dia mematikan kran air dan menatap Sehun dari cermin "Kau sedang melakukannya."

"Aku ingin melakukannya di depan umum."

Luhan mengambil tangan Sehun yang melingkar dipinggangnya. Sedikit mengecupnya sayang lalu menyesal harus mengatakan "Kau tahu kita tidak bisa melakukannya."

"Aku tidak kuat berpura-pura lagi, jadi jangan paksa aku. Diam dan biarkan aku memelukmu di keramaian ini. Jelas?" katanya menarik paksa tangan Luhan sebelum Luhan mencegahnya –kembali memohon pada pria yang sudah begitu baik padanya-

"Sehun aku mohon."

"Tidak lagi memohon Lu. Aku muak! Kenapa aku tidak bisa mengakhiri hubunganku dengan Baekyun? Kenapa sulit memulai hubungan denganmu? Apa salah?"

"tidatidak-…tentu saja tidak salah, tapi pertimbangkan posisiku Sehun. Aku sahabat Baekhyun dan aku menyukai kekasih sahabatku sendiri? Aku mohon pertimbangkan hal itu. Aku tidak bisa jika Baekhyun membenciku, jebal Oh Sehun."

Tangannya sudah menyatu untuk memohon, air matanya juga sudah mulai berjatuhan tanda bahwa dia sangat takut. Sehun melihatnya, melihat bagaiamana Luhan begitu menyayangi Baekhyun, kekasihnya.

Tapi bagaimana dengan dirinya. Dia juga sangat menderita jika harus terus bersembunyi seperti ini, dia ingin menggenggam tangan Luhan di keramaian, menagatakan pada semua orang kalau pria mungil di depannya hanya untuknya, miliknya. Kenapa sulit?

"Dia melakukan hal sama dengan yang kita lakukan. Dia juga bermain dengan SAHABATKU!"

"AKU TAHU!-…hanya-..Aku mohon jangan samakan kita dengan mereka. Aku menyayangimu tapi aku juga menyayangi Baekhyun. Dia segalanya untukku aku mohon mengertilah posisiku. Bersabarlah sedikit lagi hmm…Aku mohon. Aku mohon."

Luhan mendekap tubuh kekar di depannya, mendekapnya erat berharap Sehun mau berbaik hati untuk bersabar. Dan saat dekapan Sehun tak kunjung dia rasakan maka hanya isakan pilu yang semakin terdengar.

"Nanti kau akan sakit jika melihatku dengan Baekhyun. Aku tidak bisa melihatnya."

"tidak apa. Aku akan baik-baik saja."

"Bohong."

"Ya aku bohong, aku akan menangis jika kau lebih memperhatikan Baekhyun, tapi aku akan mati jika Baekhyun dan kau berakhir hanya karena diriku."

"Ini keputusanku."

"Aku tahu Sehun, tapi kumohon bersabarlah. Peluk aku dan katakan Ya."

"…"

"Sehun kumohon hkss.."

Tangan Luhan semakin mendekap erat Sehun, berbeda dengan Sehun yang masih diam di tempatnya. Dia masih berfikir apa yang harus dilakukan, sampai akhirnya tangisan Luhan mengacaukan pikiran dan membuatnya berakhir –sekali lagi- mengalah pada pria cantik yang entah sejak kapan memiliki kendali atas dirinya.

"Baiklah."

"huh?"

Sehun membalas dekapan Luhan, memeluknya erat sebagai jawaban dibalas tangisan lega dari Luhan "Aku akan bersabar."

"gomawo Sehunna. Terimakasih Sehun."

Sesaat keduanya berpelukan erat, detik berikutnya Sehun mengangkat dagu Luhan, menciumnya agak kasar sebagai pelampiasan rasa kesal dan sesak yang menghimpit.

Luhan tentu saja menerima perlakuan Sehun, sekasar apapun sentuhan Sehun dia akan menerimanya. Ya dia akan selalu menerimanya, hanya satu yang tidak bisa dia terima. Kemarahan Sehun dan kebencian Baekhyun seolah menjadi hal yang paling ditakutinya saat ini.

"Luhaan sayangku."

Pria berkulit tan itu sekali lagi menangkap hubungan tak wajar yang dimiliki Sehun dan mantan kekasihnya. Awalnya hanya rasa curiga, namun saat dua matanya melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh Sehun dan Luhan maka hanya rasa marah dan menyesal yang dia rasakan.

Marah karena membiarkan Luhan terlihat seperti jalang yang memohon untuk dicintai tapi tidak untuk diakui

Dan menyesal karena dia tidak bisa melakukan apapun untuk Luhan, seseorang yang hingga saat ini masih memenuhi hatinya.

Ini salahnya Luhan menjadi menyedihkan dan terlihat seperti pengemis cinta.

Ini salahnya membuat Luhan seperti tak memiliki hati untuk mencintai kekasih sahabatnya sendiri.

Ini salahnya dan Kai menyadari hal itu,

Membuat hatinya begitu sesak diikuti air mata tak tega melihat Luhan dan seluruh kisah cintanya sangat menyedihkan "mianhae sayangku."

Kai segera menghapus air matanya, berniat untuk mengutuk dirinya sepanjang malam dan hanya membiarkan Sehun serta Luhan jatuh semakin dalam pada dosa manis yang mereka buat, seperti dirinya.

.

.

.

.

.

.

"Aku lelah."

Yang mengeluh terlihat benar-benar sangat kelelahan, karena selain dirinya harus bekerja sebagai juri, dia juga harus menangis dan melayani pria tampan yang sedang menggenggamnya hampir seharian ini. Membuat tenaganya benar-benar terkuras habis dan sangat tergoda untuk berbaring tidur di tempat tidur yang nyaman.

"Kau akan tidur setelah melayaniku dua ronde."

"ish! Tak hanya seperti selingkuhan, aku terlihat seperti pria penghibur saat ini!"

"Jangan menggerutu."

Sehun –pria yang sesukanya minta dilayani Luhan- terlihat sangat puas menggoda Luhan, dia bahkan terkekeh lalu menciumi pucuk tangan si pria cantik sebagai tanda permintaan maaf "Aku bercanda. Kau boleh tidur dengan nyaman di pelukanku."

"Aku akan tidur bersama Jin."

"Kau ini-..!"

Tangannya secara refleks menggenggam kencang tangan Luhan terlalu kencang. Membuat yang lebih cantik sedikit meringis karena sakit dan tak lama terkekeh "he he he. Bercanda. Aku hanya akan mengambil barangku di kamar Jin."

"Mengambil apa?"

"earphone."

"Tidak perlu diambil. Pakai milikku saja."

"Tapi-…"

"Kita langsung tidur setelah ini."

"Sehun.."

"Jangan bantah aku dan hanya-…."

"SEHUN / LUHAN !"

Dan saat suara familiar itu terdengar, maka baik Sehun maupun Luhan memberikan reaksi berbeda. Jujur Sehun merasa masih begitu kecewa pada si pemilik suara,

Sementara Luhan?

Dia secara refleks melepas genggaman tangan Sehun untuk menoleh dan mendapati bahwa benar pemilik suara yang memanggil dirinya adalah..

"Baek?"

Grep…!

"HEY! Akhirnya aku menemukan kalian. Jin bilang kalian pergi bersama."

"ah-….Ya kami baru selesai makan malam."

Luhan membalas takut-takut pelukan Baekhyun, berbeda dengan Sehun yang masih enggan menoleh dan hanya membuat Baekhyun bertanya bingung "Sayang? Kau tidak memelukku?"

Tangan Sehun terkepal ketika Baekhyun memanggilnya sayang. Rasanya begitu mual hingga dia tak sudi untuk menoleh. Namun saat suara Luhan memanngilnya

"direktur?"

Maka hanya ada putaran janji yang terikat di antara mereka.

Sehun masih enggan, tapi membayangkan Luhan menangis-…dia kalah.

Dia pun akhirnya membalikan tubuh untuk melihat pria cantik yang sebenarnya dia rindukan, tapi melihat ada pria lain yang menemaninya maka hanya seringaian halus yang dikeluarkan Sehun.

"Kalian datang bersama?" katanya sarkas saat melihat Chanyeol juga mendekat ke arah mereka. Membuat Luhan sengaja berdiri di tengah-tengah agar Sehun tak memiliki satupun kesempatan memukul Chanyeol

"Direktur Park." Katanya menyapa Chanyeol dibalas senyum ramah oleh sang direktur "Hay Manager Xi."

"Ya kami datang bersama sayang. Dia juga memiliki kepentingan disini."

"Dan kepentingan apa yang dimaksud?"

Nada suara Sehun jelas penuh kemarahan, dia pun nyaris mendekati dan memukul wajah sahabatnya jika tidak melihat mata Luhan yang mulai mengendalikan dirinya.

"Sama sepertimu-…Aku juga harus memperhatikan bagaimana cara Managerku mencari trainee untuk debut, lagipula aku juga datang untuk melihat kekasihku, Kyungsoo ada disini."

"Kyungsoo?"

Luhan yang bertanya membuat perhatian Chanyeol sedikit teralihkan untuk menjawab pertanyaan si manager cantik yang tampaknya memiliki hubungan dengan Kyungsoonya "Ya dia disini, dia mengatakan membawa satu peserta audisi untuk ditampilkan di hari terakhir."

"siapa?"

Luhan bergumam resah, bertanya-tanya siapa yang dimaksud Chanyeol sampai suara Baekhyun kembali terdengar "Sayang aku lelah."

Suasana sempat tegang beberapa detik. Membuat Sehun –satu-satunya pria dengan kemarahan- menyeringai kecil seolah menandakan bahwa dia yang paling berkuasa saat ini "Kau lelah? Baiklah kau akan tidur denganku." Katanya sengaja menarik kasar lengan Baekhyun lalu mendekapnya erat seolah menunjukkan pada Chanyeol bahwa pria yang pernah ia tiduri adalah kekasihnya, masih kekasihnya.

"rrrh…"

Baekhyun sedikit meringis saat Sehun menariknya kencang. Membuat Chanyeol tanpa sadar maju selangah diikuti Luhan yang menyamai gerakannya "Direktur Park, apa anda tahu dimana Kyungsoo? Biar aku membawamu kesana."

"Tidak tahu, aku belum bisa menghubunginya. Tapi manager Lee bilang dia berada di belakang hotel dengan kolam renang sebagai pemandangan malam."

"Aku tahu tempat itu, aku bisa membawamu pada Kyungsoo, kekasihmu."

Penekanan kekasih disini membuat Chanyeol sedikit melihat Luhan, dia juga bisa melihat mata Luhan seolah memperingatkan padanya –entah karena apa- membuat sesuatu dalam dirinya tergoda untuk menarik Baekhyun sementara kenyataan Kyungsoo juga ada disini membuatnya urung melakukan hal gila.

"Baiklah. Kita ke tempat Kyungsoo."

Buru-buru Luhan tersenyum lega. Dia pun segera berbalik melihat Baekhyun yang kini berada di dekapan kekasihnya lalu tak lama matanya dan mata sendu Sehun bertatapan saling menjerit tak rela berpisah.

"Saya permisi dulu direktur."

Mata Sehun terpejam erat saat Luhan yang lebih dulu mengakhiri kebersamaan mereka. Rasanya dia ingin menahan tubuh mungil itu agar tak menjauh, "Aku lelah Sehunna."

Tapi saat suara Baekhyun terus terdengar merengek lelah maka tak ada yang bisa dilakukannya selain memenuhi janjinya pada Luhan, janji agar mereka tetap bisa bersama adalah berpura-pura tidak mengetahui penghianatan yang dilakukan Baekhyun padanya.

"Baiklah. Aku akan membawamu tidur." Katanya hampa menyadari bahwa tak bisa lagi melihat sosok Luhan untuk malam ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Ini tempat yang dimaksud Manager Lee. Kita pasti menemukan Kyungsoo disini."

Sungguh-…Pikiran Luhan kosong saat ini, hatinya juga cenderung sakit karena tak bisa bersama Sehun. Jika boleh menangis dia akan melakukannya saat ini, tapi mengingat dengan siapa dia kini bersama maka hanya senyum penuh kepalsuan itu yang dia tunjukkan.

"Disana kekasihku."

Luhan ikut menoleh dan melihat kemana arah Chanyeol menunjuk.

Bibirnya juga secara refleks tersenyum menyadari bahwa adik tirinya terlihat sangat baik, detik berikutnya dia fokus pada perut Kyungsoo. Memperhatikan dengan seksama dan luar biasa bahagia menyadari perut itu kian membesar tanpa perlu Kyungsoo tutupi secara berlebihan.

"syukurlah kau menjaganya Soo."

"Kau mengatakan apa?"

Perhatian Luhan kembali pada Chanyeol, dia pun tersenyum kecil sebelum membungkuk untuk pergi ke kamar "Bukan apa-apa direktur Park. Kalau begitu saya permisi pergi."

Luhan kemudian berjalan meninggalkan Chanyeol. Berniat untuk memejamkan mata walau harus tersenyum pahit menyadari bahwa bukan Sehun yang akan mendekapnya tapi Jin yang akan menemani malamnya.

Membuat tanpa sadar dia berjalan tertunduk sampai

BRAK…!

"Maaf."

Buru-buru dia meminta maaf pada pria yang bahunya tak sengaja dia tabrak. Membuatnya terus meminta maaf namun mengernyit tak mendapat balasan.

"HYUNG!"

Dan seketika mata Luhan membulat kembali mengenali suara familiar untuknya.

Suara yang berasal dari pria yang baru saja dia tabrak.

Pria yang tak membalas ucapan maafnya adalah remaja yang sama yang merupakan adiknya yang lain….

"Jaehyun?"

Dia kemudian mengikuti kemana pria itu berlari. Dan semakin Luhan memperhatikan maka benar pria yang baru saja berteriak HYUNG adalah Jaehyun.

Tapi siapa HYUNG yang Jaehyun maksud?

Sekelibat rasa penasaran itu membuat Luhan ingi mencari tahu, dia terus memperhatikan kemana Jaehyun pergi sampai

"Jaehyunna kau sudah datang?"

Sampai Kyungsoo lah hyung yang dimaksud oleh Jaehyun.

Luhan tersenyum sangat miris, terlalu miris hingga rasanya dia ingin menjerit marah.

Entah apa yang dilakukan Jaehyun di tempat yang sangat jauh dari Seoul, awalnya dia tidak memiliki jawaban. Tapi saat perkataan Chanyeol tentang Kyungsoo yang membawa satu peserta audisi maka sudah bisa dipastikan Jaehyun adalah remaja yang dimaksud Chanyeol

"apa lagi kali ini?"

Luhan menghapus cepat air matanya, berjalan mendekat ke arah Jaehyun dan Kyungsoo yang kini sedang tertawa bersama.

Kadang dia berfikir hidupnya sangat unik.

Karena ada hari dimana dia akan sangat bahagia sampai kemudian datang hari dimana dia akan sangat menderita, membuatnya terkadang lelah menjalani hidup lalu akan ada seseorang atau sesuatu hal yang menariknya dan memaksa dirinya untuk bertahan hidup, jaehyun salah satu alasan hal dia bertahan.

"Jadi bagaimana? Kau sudah mempersiapkan segalanya?"

"mmh! Tentu saja hyung, terimakasih karena sudah membantuku sampai disini."

"aigoo…Tidak masalah adik kecil."

Luhan iri melihat bagaimana Jaehyun merespon Kyungsoo, sangat iri. Karena harusnya dia yang mengusak rambut si remaja yang terus beranjak menjadi dewasa-…bukan Kyungsoo.

Membuatnya tak sadar begitu marah hingga

Sret…!

Luhan menarik kencang lengan Jaehyun, membuat si remaja berlesung pipi sedikit bertanya siapa yang menariknya sampai tatapan tak suka dia berikan pada pria yang memiliki darah ibu yang sama dengan dirinya "Apa yang kau lakukan? Kenapa menarik tanganku?"

"Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan disini?" katanya menggeram marah nyaris menggertak Jaehyun. Dia kemudian berniat membawa Jaehyun pergi sebelum Kyungsoo berdiri di tengah-tengah mereka.

"Minggir."

"Jaehyun bersamaku, jadi sebaiknya kau lepaskan tangan sialanmu!"

"Aku bilang minggir."

Sret,,,!

Jaehyun yang bertindak, dia menghempas kasar tangan Luhan untuk menggenggam tangan Kyungsoo "Sebaiknya kau yang pergi. Aku tidak mengerti kenapa kau terus melarangku mengikuti audisi. Mengapa kau terus-…..KAU BUKAN SIAPA-SIAPA UNTUKKU!"

"Jae…"

"JANGAN MEMANGGILKU SEOLAH KAU PEDULI!" katanya kembali berteriak memaki Luhan. Membuat Luhan sedikit tercengang menyadari apa yang terjadi saat ini.

Jaehyun jelas menunjukkan kepada siapa dia berpihak, dan saat tangan itu menggenggam erat tangan Kyungsoo maka satu hal yang Luhan tahu bahwa selama ini dia memang sendiri, sedari awal hanya ada dirinya dan penderitaan yang menemani. Dia tidak memiliki keluarga, tidak memiliki adik, tidak pula memiliki seseorang yang menganggapnya berarti.

Membuatnya tanpa sadar terus melangkah mundur mendekati kolam renang yang sangat dia benci. Air yang selalu menjadi trauma saat dia sekolah hingga dia beranjak dewasa. Semuanya terasa benar jika saat itu Baekhyun tidak datang menolong, harusnya dia sudah mati ketika air memenuhi paru-parunya hingga dia tidak bisa bernafas.

Salahkan Baekhyun untuk itu.

Karena sahabatnya dia bertahan. Dan karena itu pula dia harus melanjutkan hidup yang jelas terus mencekiknya perlahan.

Luhan gila

Pikirannya kosong

Mentalnya terganggu

Semua bahkan bisa melihat itu hanya dari tatapan matanya yang selalu terlihat putus asa, selalu terlihat sendu dan selalu terlihat sedih

"Luhan apa yang kau lakukan?"

Kyungsoo melihat tingkah gila Luhan yang mendekati air.

Bohong jika dia tidak tahu Luhan sangat takut dengan air, dia juga tahu jika Luhan tidak bisa berenang. Membuatnya secara refleks mendekati Luhan namun dibalas racauan gila dari saudara tirinya

"Aku tidak mau hidup lagi. Aku lelah, lagipula Kyungsoo sudah menjagamu. Kau akan baik-baik saja Jae." Katanya berpesan gila membuat dua saudara tiri di depannya tercengang karena terlalu takut Luhan melakukan hal yang benar-benar diluar akal sehat.

"harusnya aku sudah mati."

Racauan terakhir Luhan terdengar sangat mengerikan. Dia kemudian terus mundur mendekati kolam renang dan tak lama

BYUR!

"LUHAN / LUHAN!"

Kedua bersaudara itu melihat bagaimana Luhan menggeliat dalam air, dia tidak berusaha untuk kembali, yang dilakukan Luhan hanya terus menenggelamkan diri sampai

BYUR!

Terdengar satu lagi lompatan di kolam renang, entah siapa yang melompat kedalam sana, yang jelas orang itu sedang menarik Luhan dan membawanya keluar dari hal gila yang coba Luhan lakukan.

"chanyeol?"

Dan saat pria tinggi itu berhasil membawa Luhan ke pelukannya, maka rasanya perih melihat bahwa kekasihnya menyelamatkan pria yang paling ingin dia sakiti.

Chanyeol bahkan tidak memerlukan bantuan siapapun untuk membawa Luhan ke dasar kolam, membuat beberapa pengunjung berkerumunan melihat sementara Kyungsoo dan Jaehyun hanya diam membeku –seolah tak percaya- dengan hal gila yang baru Luhan lakukan.

"hey bangun!"

Kyungsoo menyeruak kerumunan untuk melihat Chanyeol dan Luhan, namun detik kemudian air matanya menetes saat melihat Chanyeol begitu khawatir dan terlihat memberikan nafas buatan untuk Luhan.

"Bangun!"

Beberapa kali dia terus memompa dada Luhan sesekali memberi nafas buatan pada Luhan. Dia terus memberikan udara di bibir Luhan sampai hatinya marah karena Luhan tak kunjung memberikan respon.

"LUHAN!"

Uhuk!

Bersamaan dengan teriakan Chanyeol maka nafas Luhan seolah dikembalikan secara paksa, pria cantik itu terus terbatuk mengutuk siapapun yang kembali menyelamatkannya.

"APA KAU SUDAH GILA? KAU TIDAK BISA BERENANG DAN SENGAJA TENGGELAM?"

Dan saat teriakan Chanyeol sepenuhnya mengembalikan kesadarannya yang hilang maka Luhan hanya tersenyum lirih mengutuk pertolongan yang diberikan kekasih adik tirinya "Harusnya kau membiarkan aku mati." Lirihnya pilu sebelum

Sret…!

"direktur Park?"

"yeol!"

Luhan sedikit terkejut saat Chanyeol menggendong bridal tubuhnya. Membuat sejenak ketakutan dia rasakan, namun dibalas tatapan sengit oleh Chanyeol "Kau ingin mati? Baiklah mati ditanganku." Katanya marah lalu berjalan membawa Luhan dalam dekapannya.

Dia terus berjalan sampai tak sengaja berpapasan dengan Kyungsoo, kekasihnya.

Langkahnya sejenak berhenti tapi saat mengingat kata dan perilaku kasar yang diucapkan Kyungsoo untuk Luhan-…dia marah.

"Aku akan membawa Luhan bersamaku." Katanya terdengar marah sebelum

Brak!

Chanyeol sengaja menabrak pundak Kyungsoo, membuat pria yang memiliki mata besar indah itu kembali menitikkan air mata –entah sedih atau marah- dia tidak mengerti. Yang jelas hatinya sakit melihat Chanyeol –kekasihnya- lebih memilih bersama pria yang sangat ia benci daripada bersama dirinya.

"hks…"

"hyung!"

"Lepas."

Kyungsoo tidak ingin seseorang menyetuhnya. Yang dia inginkan hanya pergi sejauh mungkin dan melupakan bahwa malam ini, Luhan secara tidak langsung telah membalas sakit hatinya melalui Chanyeol, kekasihnya.

Membuat pria cantik itu tersenyum kecil dengan air mata yang terus jatuh tak mau berhenti "aku ingin kau menderita. Tapi kenapa rasa sakitnya selalu berbalik padaku? KENAPA LUHAN!?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Cklek!

"Sayang kau sudah selesai mandi?"

"Ya."

Dilihat dari bagaimana keadaan kamar saat ini, jelas mereka baru selesai melakukan hal panas. Terlihat dari tubuh polos Baekhyun yang hanya tertutup selimut sementara kekasihnya baru selesai membersihkan tubuh.

Tak ada yang berbeda dengan hubungan mereka, Sehun juga menepati janjinya pada Luhan. Dia bahkan bercinta dengan Baekhyun sementara hingga saat ini Luhan sama sekali belum membalas pesannya.

"kemana dia?"

"Kau menghubungi siapa?"

Sehun mengabaikan pertanyaan Baekhyun, yang terus dia lakukan hanya menghubungi Luhan namun nihil-…tak ada jawaban sama sekali.

Membuat Baekhyun diam-diam memperhatikan tingkah Sehun lalu tersenyum pahit menyadari bahwa sepertinya hanya raga Sehun yang berada bersamanya, tidak dengan hati dan pikirannya yang entah sedang tertuju pada siapa.

"Sehun…"

"…."

Rasanya hambar berada berdua dengan Sehun saat ini, prianya terasa begitu asing. Membuat hati Baekhyun tertawa getir menyadari bahwa apapun yang dia coba katakan malam ini, Sehun hanya akan menjawabnya bisu.

"Jin-…benar Jin!"

Sementara Baekhyun sedang memperhatikannya maka Sehun terlihat sangat tak sabar kemudian mencari kontak manager Chanyeol. Sedikit terburu-buru mencarinya sebelum dia menekan tanda call dan menunggu nada sambung.

"Cepat angkat." Katanya sengaja berjalan sedikit menjauh dari Baekhyun, tak ingin kekasihnya mendengar sampai suara Jin terdengar menyapanya.

"direktur ada hal gawat terjadi!"

"huh? Ada apa? Berikan ponselmu pada Luhan, Sekarang!"

"Luhan-…."

"Luhan? Ada apa dengan Luhan?"

Perasaan Sehun mendadak begitu buruk, dia bahkan berencana untuk tidak mendengarkan celotehan pria yang suka bergelayut manja pada Luhan sebelum suara teriakan Jin lebih dulu terdengar

"LUHAN MENCOBA BUNUH DIRI!"

"MWO? APA YANG KAU KATAKAN?"

"Entahlah direktur. Aku hanya—entahlah apa yang terjadi. Aku sangat cemas, aku tidak-…."

"DIMANA DIA SEKARANG?"

"Sayang kenapa berteriak?"

Sehun memungungi Baekhyun, hatinya marah mendengar perbuatan gila Luhan. Membuatnya sangat murka sebelum kembali berteriak di ponselnya

"DIMANA DIA SEKARANG?"

"Direktur Park membawa Luhan bersamanya."

"sial!"

"Sehun ada apa?"

Buru-buru Sehun memakai pakaiannya. Mengabaikan segala pertanyaan Baekhyun untuk bergegas pergi dan

BLAM…!

"SEHUN!"

Baekhyun berteriak marah karena terus diabaikan, membuatnya sangat kesal dan mulai membanting seluruh barang Sehun

"aargg—brengsek! ADA APA DENGANMU SEHUN? KENAPA KAU TERUS MENGABAIKAN AKU. APA SALAHKU?" Katanya terus membuang barang Sehun sampai

Sret…!

Sebuah dompet terjatuh di sela selimut. Baekhyun diam sesaat, rasanya begitu familiar dengan dompet berwarna silver dengan tulisan LH7 tertera disana.

Terlalu familiar hingga secara refleks Baekhyun memungutnya. Dia seolah mengelak namun ingin memastikan satu hal. Memastikan bahwa itu bukan dompet yang dia berikan sebagai kado ulang tahun Luhan, sahabatnya.

Dia terus memastikan dan meyakinkan diri bahwa itu bukanlah dompet yang sama yang dia berikan untuk

"Luhan?"

.

.

.

.


.

tobecontinued

.


.

.

.

.

hamdalah kelar *tet tot tet tot!

.

.

.

.

btw njir! pada ngumpul semua di Bali wkwkwk...gue samperin juga lama2 nih!

gue yang ngsitau yang ini selingkuh sama yg ono, lu dibegoin eh dibegoin lagi wkwkwkw *GUEGILAAA

.

.

mohon agar kiranya Tabir surya (?) segera terkuak..wkwkw

.

Siapa duluan yang ketawan? Luhan? Masa? Baek dulu kali ah LOL..

Semuanya aja ketawan biar udahan cenat cenut kita ya :"""

.

Btw, Itu ceye ngapain deh? ._.

*bukan kai bukan sehun tapi ceye yang nyebur* :v

.

Dan sekali lagi yang risih adegan ah—mm-ah nya. Boleh di skip ya

Gue udah minta sungkem kalo gue ga bisa ngilangin adegan yang sangat diperlukan di selingkuhan ini :p jadi yang mesyumers kaya yang nulis silakan dibaca, yang bilang "astagfirullah" terus boleh di skip :D

*pokonya jangan ada ceramah diantara kita yaaa sodara2 :v

.

Dan terakhir…..

Okey gue mengucapkan, selamat tikung menikung bagi yang menjalankan

.

Seeyousoon:*