Previous

"SEHUN!"

Baekhyun berteriak marah karena terus diabaikan, membuatnya sangat kesal dan mulai membanting seluruh barang Sehun

"aargg—brengsek! ADA APA DENGANMU SEHUN? KENAPA KAU TERUS MENGABAIKAN AKU. APA SALAHKU?" Katanya terus membuang barang Sehun sampai

Sret…!

Sebuah dompet terjatuh di sela selimut. Baekhyun diam sesaat, rasanya begitu familiar dengan dompet berwarna silver dengan tulisan LH7 tertera disana.

Terlalu familiar hingga secara refleks Baekhyun memungutnya. Dia seolah mengelak namun ingin memastikan satu hal. Memastikan bahwa itu bukan dompet yang dia berikan sebagai kado ulang tahun Luhan, sahabatnya.

Dia terus memastikan dan meyakinkan diri bahwa itu bukanlah dompet dompet yang sama yang dia berikan untuk

"Luhan?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

A' Friends Betrayal

Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo

Genre : Drama

Rate : M / NC!/

.

.

.

.

.

"Kau benar-benar gila!"

Buru-buru Chanyeol membawa Luhan ke kamar hotelnya, mendudukan si pria cantik di pinggiran bathtub lalu bergegas mencari pakaian kering di kopernya.

"Apa yang kau lakukan? Kau bahkan tidak melawan saat kekasihku dan entah siapa remaja itu berkata sangat buruk padamu!"

Chanyeol kemudian berjongkok di depan Luhan, membantu Manager OSH'ent itu untuk segera mengganti pakaiannya namun terhenti karena tangan Luhan kini menahan tangannya "Ada apa? Kau kedinginan."

"Aku bisa sendiri."

"huh?"

Dengan kepala yang masih tertunduk, tangannya menggenggam kuat tangan Chanyeol. Menghentikan apa yang coba dilakukan oleh pria di depannya namun enggan untuk menatap.

Sejujurnya dia kesal,

Ya….Dia sangat kesal.

Dia memang gila mencoba untuk bunuh diri di keramaian.

Tapi Demi Tuhan, dia melakukan hal gila itu untuk menarik perhatian dua adiknya. Berharap salah satu dai Kyungsoo maupun Jaehyun akan datang menolongnya, membuktikan pada dunia bahwa setidaknya mereka peduli karena darah yang sama yang mengalir di tubuh mereka.

Bukan seperti ini….

Entah apa yang dilakukan Chanyeol beberapa menit lalu.

Mengapa kekasih adiknya yang juga merupakan kekasih gelap sahabatnya tiba-tiba terjun ke kolam untuk membantunya.

Chanyeol memberikan CPR di depan kedua mata Kyungsoo.

Apa yang akan dilakukan Kyungsoo jika dia mengira aku menggoda Chanyeol?

Begitu pikiran yang terus membuat kepalanya sakit.

Dia bahkan tergoda untuk memukul pria asing di depannya jika tidak mengingat bahwa beberapa menit lalu pula, Kekasih adiknya baru saja menyelamatkan hidup pria menyedihkan seperti dirinya.

"Aku bisa mengganti sendiri pakaianku. Hanya pinjamkan pakaian anda padaku direktur Park. Aku bisa mengurus diriku sendiri."

"Tapi kau terlihat-…."

"Aku baik. Sungguh! Aku mohon jangan membuat semuanya semakin sulit untukku, biar aku mengurus diriku sendiri."

Nadanya marah-…..Chanyeol menyadarinya.

Tapi saat Luhan menutupi kemarahannya dengan kalimat memohonnya, maka ada sedikit kemarahan yang Chanyeol rasakan. Bagaimana bisa seseorang yang dihina dan dipermalukan di khalayak umum tenang seperti ini, Chanyeol bahkan tidak menemukan sedikit kemarahan pun dari raut wajah Luhan. Membuatnya sedikit bertanya namun berakhir menghela nafas, mencoba mengerti apa yang diinginkan Luhan saat ini.

Dia kemudian berdiri seraya memberikan pakaiannya pada Luhan lalu sedikit mengusap kepala Luhan dengan lembut "Aku tunggu diluar."

Luhan mengangguk, dan saat Chanyeol menutup pintu kamar mandi, maka hanya ada isakan tertahan yang terdengar dari bibir Luhan.

Hks…

Dia membekap dalam wajahnya, mengeluarkan seluruh ketakutannya seorang diri sementara diluar sana-…Chanyeol mendengar betapa Luhan ingin menangis namun sekuat tenaga ia tahan "Kau sama sekali tidak baik Luhan."

.

.

.

.

.

Cklek….!

"Kau sudah selesai?"

Yang ditanya sedikit ragu untuk menjawab. Membuatnya hanya diam beberapa saat sampai langkah kaki yang bertanya mendekat.

Luhan –pria yang ditanya- secara refleks mundur saat yang bertanya padanya –Chanyeol- berjalan mendekatinya. Sang direktur bahkan menggenggam tangannya –lagi- untuk membawanya mendekat ke meja makan.

"Apa yang anda lakukan?"

"Makanlah. Aku sudah memesan ini semua untukmu."

Dia benar-benar tidak bisa menebak isi kepala pria berlesung pipi depannya.

Kenapa Chanyeol menolong dirinya?

Atau

Kenapa Chanyeol tiba-tiba peduli pada dirinya?

Membuat sekelebat geram kini Luhan rasakan dan tak bisa dia tahan lagi "Aku harus kembali ke kamarku."

Dan saat Luhan bergegas pergi meninggalkan kamar hotel, maka tangan Chanyeol ada untuk menahannya, membuat lagi-lagi Luhan mendesah frustasi namun diikuti suara yang terdengar memohon padanya.

"Makanlah dulu. Kau bisa pergi setelah menghabiskan makanan yang aku pesan."

"Aku harus-…"

"Aku mohon. Sebentar saja."

Ada apa sebenarnya?

Tatkala tanda tanya memenuhi isi kepalanya, Luhan akhirnya luluh pada permintaan Chanyeol. Dia pun segera melepas cengkraman tangan Chanyeol untuk kemudian duduk di meja makan yang disediakan Chanyeol "Baiklah."

Chanyeol tersenyum tipis, tak lama dia mengikuti Luhan lalu menarik kursi di depan si pria cantik "Pelan-pelan saja."

Luhan berhenti mengunyah, jujur dia merasa risih dengan situasinya bersama Chanyeol saat ini. Hal itu pun membuatnya secara refleks meletakkan sendok dan garpunya untuk bertanya pada direkturnya yang lain.

"Direktur Park."

"Ya?"

"Boleh aku bertanya sesuatu?"

Kali ini Chanyeol yang meletakkan peralatan makannya, dia kemudian melipat tangan di atas dada untuk menatap Luhan yang terlihat ingin sekali bertanya "Tentu saja."

"Kenapa kau menolongku?"

Tanpa mengulur waktu Luhan bertanya tentang hal yang mengganggunya sedari tadi. Bertanya apa alasan Chanyeol tiba-tiba berada disana dan menolongnya. Luhan berharap dia mendapat jawaban tapi saat Chanyeol hanya diam dan menatapnya maka hanya rasa kesal yang mendominasi dirinya saat ini "Direktur Park!"

Sementara Luhan terus mendesak, maka Chanyeol terus menatapnya. Mencari jawaban yang diinginkan Luhan hingga hanya kedua bahu yang terangkat sebagai jawaban "Entahlah-….Aku tidak tahu."

"Apa kau bilang? Kau tidak tahu?"

"Ya. Aku tidak tahu."

"astaga…."

Luhan mengusap kasar wajahnya, mencoba untuk mengerti namun berakhir putus asa menatap Chanyeol

"Demi Tuhan direktur Park. Apa yang-….Apa yang coba kau lakukan sebenarnya? Apa kau sadar disana ada kekasihmu? Kyungsoo melihat kau menolongku dan membawaku pergi. Pikirmu apa yang akan dia lakukan setelah malam ini? Dia hanya akan semakin membenciku!"

"Jika dia membencimu balas rasa bencinya. Jangan hanya diam dan menerima teriakan yang tidak pantas kau dapatkan? Bagaimana bisa seseorang bertahan pada teriakan dan hinaan untuknya? Kau terlalu berlebihan menahan amarahmu!"

Luhan terkesiap.

Dia tercengang karena ucapan Chanyeol –yang sangat menyinggungnya- merasa akan memukul wajah pria di depannya jika tidak kembali diingatkan bahwa pria yang baru saja menolongnya, pria yang baru saja mengatakan omong kosong padanya adalah pria yang sama yang pernah merekomendasikan dirinya sebagai manager pencari bakat terbaik tahun lalu.

Luhan menghormatinya, tapi saat Chanyeol melebihi batas seorang pimpinan pada bawahannya, maka rasanya Luhan tidak bisa memaklumi lebih jauh lagi.

"Anda tidak mengetahui apapun tentangku, tentang siapa mereka, jadi jangan pedulikan aku lain kali. Terimakasih."

Luhan menggeser kursinya, berniat untuk pergi sebelum suara Chanyeol kembali membuka suara –terdengar lirih kali ini-

"Nanti Kyungsoo akan menangis jika terjadi sesuatu yang buruk pada hyungnya."

Tap!

Luhan berhenti melangkah, jantungnya berdebar kencang kali ini. Bertanya-tanya tentang berapa banyak orang yang mengetahui statusnya dengan Kyungsoo, bertanya-tanya apa kebencian diantara mereka justru membuat mereka terlihat seperti saudara.

Dia kemudian menoleh, menatap Chanyeol sedikit ragu untuk bertanya –terdengar sangat berharap-

"hyungnya?"

Chanyeol tersenyum, dia juga berdiri dari kursinya untuk berjalan mendekati Luhan, menatap langsung dua mata rusa yang jelas terlihat takut untuk mencoba menjadi penghibur "hyungnya-….. dirimu."

"Direktur Park bagaimana anda-…."

"Sejujurnya tidak ada rahasia diantara aku dan Kyungsoo. Setidaknya dia menceritakan segalanya padaku, tentang siapa dirinya, siapa dirimu, dan bagaiamana dia membencimu, aku tahu segalanya."

"…."

"Aku tahu dia membencimu tapi yang tidak kutahu bencinya sudah membuatnya sangat jahat pada satu-satunya keluarga yang dia miliki. Perlu kau ketahui Luhan-…..Setiap kali dia merindukan keluarganya dia akan menangis dalam tidur. Memanggil ayahnya, ibunya, juga hyungnya-….kau"

"tidak mungkin."

"Memang sulit dipercaya, tapi sejauh yang aku tahu, sebanyak yang aku mengerti-….Kyungsoo membencimu hanya untuk menarik perhatianmu."

"Dia sangat membenciku."

"Ya aku melihatnya sendiri malam ini, tapi nanti jika kau terluka dia akan menangis, menyalahkan dirinya sendiri persis seperti dua bulan lalu saat penggemar Kai mengganggumu. Dia menangis seorang diri menyesali apa yang telah dia lakukan pada keluarganya, dia menyayangimu Lu, menyayangi kakaknya. "

Kaki Luhan begitu lemas mendengar pernyataan yang sangat membahagiakan untuknya. Dia bahkan harus bertumpu pada kursi meja makan agar tidak jatuh.

Awalnya dia tidak berniat mempercayai apapun yang dikatakan Chanyeol, tapi menyadari siapa Chanyeol untuk Kyungsoo, maka tak ada alasan untuk Chanyeol mengatakan omong kosong padanya "Soo…"

Seketika dia ingin bertemu langsung dengan adiknya. Bertanya langsung pada Kyungsoo apakah benar dia masih menganggap dirinya sebagai hyung, sebagai keluarganya.

Luhan bahkan merasakan perutnya dipenuhi kupu-kupu karena terlalu bahagia. Dia sangat bahagia sampai Chanyeol kembali menarik kursi dan memintanya untuk duduk "Jadi karena alasan itu pula mungkin aku refleks menolongmu. Duduklah Luhan, habiskan makananmu dan kau bisa tidur setelah ini."

Luhan mengangguk, ucapan Chanyeol masih terputar sangat indah di telinganya.

Bagaimana Kyungsoo menganggapnya keluarga

Kyungsoo menyebut namanya dalam tidur

Serta saat dia menangis karena hal buruk yang terjadi padanya.

Luhan terlalu bahagia hingga tanpa sadar menitikkan air matanya. Dia kemudian menatap Chanyeol untuk mengatakan

"Aku berhutang padamu direktur Park, terimakasih untuk segala penjelasanmu."

"Tidak perlu-….Kau tidak berhutang apapun padaku. Aku hanya mengatakan hal yang perlu aku katakan. Lagipula keadaan memburuk saat remaja asing itu datang pada Kyungsoo, aku rasa dia penyebab Kyungsoo tidak bisa menahan diri." Timpalnya asal diiringi senyum kecil dari Luhan.

"dia adikku yang lain."

"huh?"

Luhan tersenyum sangat cantik, membuat Chanyeol memalingkan wajahnya berniat untuk tidak terjebak dalam feromon kuat yang dimiliki pria cantik di depannya "Remaja yang kau katakan asing-….Dia adikku yang lain."

"MWO?"

"mmhh…Bagaimana menurutmu? Apa hidupku sudah sangat tragis? Aku dibenci dua adikku sekaligus."

Luhan berusaha tertawa, namun semakin dia mencoba maka hanya air mata yang mewakili perasaannya yang begitu gundah.

"t-tapi bagaimana bisa?"

Luhan tersenyum lagi, kali ini dia menghapus air mata dan memotong steak lezat yang sengaja Chanyeol pesan untuknya. Tangannya cukup gemetar namun diabaikan karena tak ingin terlihat menyedihkan lagi saat ini.

"Dengan Kyungsoo aku memiliki darah ayah yang sama. Tapi dengan Jaehyun aku memiliki darah ibu yang sama. Jadi intinya-….Aku menderita karena orang tuaku tidak bisa mempertahankan hubungan mereka."

"Luhan…."

"Tapi aku sangat senang mengetahui mereka saling menyayangi. Membuatku sangat iri hingga rasanya ingin mati." Katanya mencoba tertawa namun hanya terlihat menyedihkan di mata Chanyeol.

Dan saat naluri Chanyeol sebagai pria ingin menenangkan pria yang terlihat kelelahan maka suara ketukan pintu terdengar sangat bising hingga rasanya bisa menghancurkan pintu kamar hotelnya saat ini.

DOR…DOR..

"PARK CHANYEOL BUKA!"

Sementara Luhan masih tertunduk di tempatnya, maka Chanyeol tak memiliki pilihan lain selain membuka pintu kamar yang sepertinya akan dihancurkan jika dia tidak membukanya.

"Tunggu sebentar."

Buru-buru Chanyeol menghampiri pintu, bertanya-tanya siapa yang membuat keributan di depan kamarnya sebelum

"CHANYEOL!"

Cklek!

Sepertinya Chanyeol tak perlu bertanya-tanya lagi siapa yang membuat keributan dikamarnya, karena saat dia menebak itu Kyungsoo maka sosok sahabatnya adalah jawaban atas keributan yang terjadi di depan kamarnya.

"Sehun?"

Dua mata penuh kemarah dan penuh tanya itu bertemu.

Untuk Sehun dia sangat tergoda ingin memukul sahabatnya, terlalu ingin karena dua hal.

Pertama bayangan saat dia bercinta dengan Baekhyun masih tersimpan jelas di ingatannya.

Kedua-….Pria yang sudah merebut hati kekasihnya kini melakukan hal gila dengan membawa Luhan ke kamarnya.

Dan entah apa yang telah dia lakukan bersama Luhan-….Dia tidak peduli. Yang dia pedulikan hanya membawa Luhan pergi untuk bicara dengannya setelah ini.

"Minggir!"

"Sehun!"

Sehun tidak mempedulikan teriakan Chanyeol, kakinya terus melangkah ke dalam kamar hotel sampai dia menemukan sosok yang sangat ia peluk malam ini.

Matanya mempelajari keadaan Luhan-….Pria cantik yang belum lama sangat dia puja ini terlihat diam terisak di tempatnya. Entah karena Chanyeol atau alasan gila dirinya yang nekat untuk mengakhiri hidup-….Sehun tidak mengerti.

Yang jelas dia sangat marah dan mengutuk hal gila yang coba dilakukan pria yang belakangan ini selalu memenuhi hati dan pikirannya. Membuat Sehun segera berjalan mendekat untuk membawa Luhan pergi dari kamar Chanyeol "Bangun."

Yang diperintahkan merasa sangat familiar dengan suara pria di sampingnya. Membuatnya secara refleks menoleh untuk mendapati Sehun yang sedang menatapnya dingin saat ini.

"Sehun?"

"Kita pergi."

Tak perlu waktu lama Sehun menggenggam tangan Luhan, berniat membawanya pergi sampai Chanyeol berdiri menghalanginya "Minggir!"

"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membawa Luhan pergi? Dia butuh istirahat."

"AKU BILANG MINGGIR!"

"sehun…"

Luhan mencengkram kuat jemari Sehun, berusaha mengingatkan Sehun untuk tidak melakukan hal gila yang bisa membuat keduanya saling memukul malam ini "jangan…"

"Kau tidak berhak membawanya pergi!"

"Benarkah? Lalu pikirmu kau berhak membawanya bermalam di tempat sialan ini?"

"Sehun kau—….!"

Sehun sengaja menabrak kuat lengan Chanyeol, membawa paksa Luhan pergi hingga hanya rintihan sakit yang Luhan rasakan di jemari tangannya "Sehun lepas…."

"Nanti setelah kita dikamar aku akan melepas tanganmu."

"mwo? Kamar? Apa kau gila? Baekhyun berada disini!"

"Aku tidak peduli!"

"Sehun!"

Dia tidak menghiraukan bagaimana Luhan terdengar cemas saat ini, yang dia lakukan hanya membawa Luhan pergi tanpa peduli dengan tatapan bertanya yang kini ditunjukkan Chanyeol untuk mereka berdua "hubungan macam apa yang kalian miliki?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Ini kunci kamar anda tuan. Silakan beristirahat dan menikmati layanan di hotel kami."

Sehun mengambil cepat kunci kamarnya yang baru, bergegas untuk segera membawa Luhan beristirahat sebelum suara yang sangat menjengkelkan terdengar memanggil si pria cantik.

"LUHAN!"

Baik Luhan maupun Sehun menoleh ke asal suara, bertanya-tanya siapa yang memanggil Luhan hingga sosok Jin –manager pencari bakat JYC'ent- terlihat luar biasa cemas menghampiri sahabatnya.

"jin-a…"

Tanpa berlama-lama Jin langsung menghambur memeluk Luhan. Membuat langkah Luhan sedikit mundur sementara tubuh besar Jin semakin erat memeluknya "Jin-a….sesak."

"Oh astaga Luhan! Aku baru ingin menjemputmu di kamar direktur Park. Bagaimana keadaanmu. Astaga-….Kenapa kau tega sekali padaku."

Sekali lagi Jin memeluk Luhan sangat erat, membuat pria tampan lainnya hanya bisa menggeram tertahan menyadari bahwa dari semua pria yang mencoba mendekati Luhan, hanya manager sialan di depannya yang bisa memeluk Luhan sesuka hati di depan umum.

Menyadari hal itu membuat Sehun sedikit "panas" –sebenarnya dia sangat panas- dia bahkan tanpa ragu sengaja menabrak punggung Jin. Membuat pria yang merupakan teman dekat Luhan itu sedikit meringis diikuti pekikan tertahan dari Luhan yang lengannya ditarik kencang oleh Sehun

"ouch…"

"Sehun!"

"Manager Kim sebaiknya kau kembali ke kamar. Malam ini Luhan bersamaku."

"huh?"

Jin masih mengusap lengannya yang ditabrak kencang oleh Sehun, sedikit tidak mengerti ucapan Sehun tentang kembali ke kamar dan Luhan bersamaku hingga hanya tanggapan bingung darinya yang terdengar.

"Kita pergi."

"Sehun!"

Dan saat temannya meronta di pegangan Sehun, maka naluri Jin sebagai seorang sahabat mengatakan untuk tidak membiarkan Luhan pergi kali ini.

Buru-buru dia pun berlari mengejar Sehun, memblock jalan direkturnya yang lain untuk menegaskan bahwa Luhan akan bersamanya malam ini "Apa yang kau lakukan?"

"Aku rasa anda tidak bisa membawa Luhan direktur."

"Dan kenapa aku tidak bisa membawa Luhan?"

Jin berpikir keras, dia ingin jawaban yang tepat agar Sehun segera melepas Luhan, tapi saat Sehun menatapnya terlampau dingin maka disaat yang sama dia sedikit gentar dan ingin membiarkan Luhan bersama Sehun saja. yang paling penting Luhan baik-baik saja. Sesaat itu yang ada di pikiran Jin. Membuatnya mati kata tak bisa menjawab apa yang ditanyakan Sehun.

"mmhh…Itu karena-…."

"Lupakan! Cepat kembali beristirahat. Kau harus bekerja besok pagi."

"tapi direktur-…Lu!"

Sehun kembali membawa Luhan pergi, kali ini melewati manager yang secara tak langsung sudah ia tandai sebagai saingannya.

Dan saat Jin tidak melakukan apapun untuk menghalanginya lagi, maka hanya ada seringai tipis yang dikeluarkan Sehun. Dia merasa senang karena berhasil menjauhkan Luhan dari teman dekatnya. Berniat untuk menemani Luhan sampai langkah mereka terhenti karena –sialnya- kali ini Luhan sendiri yang membuat keadaan sulit untuk mereka.

"Ada apa?"

"baekhyun…"

"Apa yang kau katakan?"

Luhan mengangkat wajahnya, mencari dimana mata Sehun untuk bertanya "Jika aku tidur denganmu malam ini, bagaimana dengan Baekhyun?"

"Luhan…"

"Apa jadinya jika dia tahu kekasihnya tidur bersama sahabatnya."

"Aku hanya menemanimu malam ini."

"Tetap saja-….Dia akan menaruh rasa curiga pada kita. Setelah kedua adikku, aku tidak ingin menambah jumlah orang yang membenciku. Terlebih itu Baekhyun, membayangkan dia menjauhiku saja sudah membuat kepalaku sakit. Jadi mengertilah."

"Apa yang harus kumengerti?"

"Kita-….."

Luhan kembali tertunduk, dia sudah sulit memulai hari ini tapi lebih sulit lagi mengakhiri hari ini. Membuat kepalanya terus berdenyut sakit diiringi rasa bersalah pada semua orang terdekatnya.

Jika Sehun kekasihnya, benar-benar kekasihnya. Mungkin dia akan senang hati menghabiskan waktu dengannya. Dia akan memeluk Sehun sepanjang malam tanpa takut memikirkan bahwa esok Baekhyun akan membencinya.

Tapi bagaimana kenyatannya?

Kenyataannya mereka hanya dua orang asing yang menjadi dekat karena memiliki banyak kesamaan, mereka adalah dua orang asing yang diam-diam ingin menjadi lebih dekat tapi dengan cara yang salah.

Jika waktunya tepat mungkin Luhan akan membiarkan Sehun mengambilnya, persis seperti dua malam sebelum kedatangan Baekhyun.

Tapi ini berbeda-…Baekhyun berada di kamar Sehun saat ini, sedang menunggu kekasihnya untuk melepas rindu. Dan jika Sehun tidak kembali itu hanya akan membuat Baekhyun mencari tahu dan berakhir benci padanya.

"Luhan, apa yang harus aku mengerti?"

Sesaat Luhan hanya menggigit kencang bibirnya, membiarkan kegundahan dia rasakan sebelum melampiaskannya pada Sehun

"Kita hanya orang asing direktur Oh. Jadi abaikan aku selama kita berada disini, jangan menegurku apalagi menggenggam tanganku. Kau dengar?"

"Tapi kenapa?"

"Aku muak! Kau, Kyungsoo, Kai, Baekhyun, adikku dan semua orang yang membuat kepalaku sakit! Aku muak melihat kalian!"

Ucapannya cukup keji untuk seseorang yang sedang terluka,

Dia juga dengan kasar melepaskan genggaman tangan Sehun untuk beralih pada sahabatnya.

"Jin, bawa aku ke kamar. Kepalaku sakit."

Buru-buru Jin datang menghampiri Luhan, membantunya untuk berjalan sebelum benar-benar meninggalkan Sehun seorang diri "Kau baik-baik saja Lu?"

Sesaat telinga Sehun mencuri dengar ucapan Luhan dan Jin. Berharap Luhan mengatakan ya aku baik-baik saja,hingga rasa sakit ditolak malam ini tidak begitu terasa. Setidaknya jika Luhan baik-baik saja dia tidak perlu cemas dan menyesal karena tidak bisa menjaganya. Namun sayang, Luhan mengatakan

"Aku tidak baik-baik saja. Tubuh dan hatiku-….Semuanya sakit."

Membuat mata Sehun terpejam erat seraya mengepalkan kuat tangannya.

Dia ingin sekali bersama Luhan, tapi Luhan terus membuatnya sulit, jadi ketika Luhan memohon untuk diabaikan, maka disinilah Sehun –yang sedang terluka karena penolakan- mengabulkan dengan cepat apa yang menjadi keinginan Luhan beberapa saat lalu.

"Baiklah Luhan, kau sendiri yang meminta untuk diabaikan, baiklah kau mendapatkannya."

Sehun tersenyum pahit, hatinya sakit karena tak bisa menjaga Luhan disaat pria itu sedang kesakitan. Rasa sakitnya bertambah menjadi dua kali tatkala Luhan memberikan penolakan padanya.

Membuat direktur muda itu sedikit terluka dan berakhir emosi untuk membalas permintaan Luhan dengan mengatakan

"ya-…. Kita hanya orang asing."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan pagi-….09.00 a.m

.

.

"Audisi hari ini akan dimulai setelah jam makan siang, jadi setelah sarapan kita bisa kembali ke kamar agar kau bisa tidur lagi. Kau dengar?"

Yang memberi perintah layaknya seorang ibu untuk si pria cantik –cerewet dan begitu detail- begituklah kira-kira sosok Seokjin –sahabatnya- untuk Luhan. Dua pria yang sama-sama memiliki paras menawan itu pun terlihat sedang berada di dalam lift.

"Luhan kau dengar aku kan?"

"mmh…."

"Jawab aku."

"ne-…araseo eomma.."

"aigooo…Luhanku imut sekali."

Pemandangan kontras jelas terlihat di dalam lift, dimana yang satu terus berbicara sementara yang satu terus diam hingga akhirnya

Ting!

Pintu lift terbuka.

Buru-buru Jin menggandeng tangan Luhan untuk membawa ke spot terbaik sarapan yang dengan pemandangan pantai di pagi hari yang disajikan hotel untuk mereka. "whoa daebak! Harusnya kita kesini untuk bulan madu Lu, bukan untuk bekerja."

"Jin-a…"

"huh? Wae?"

"umhh….Bicara tentang bekerja. Boleh aku meminta satu hal padamu?"

Saat nada suara Luhan terdengar lirih, kecewa namun memohon, maka yang dilakukan Jin –seperti biasa- hanya mendengarkan, jika itu bukan permintaan gila maka dia akan melakukan hal yang Luhan inginkan. Tapi jika Luhan meminta hal gila-….Maka –TIDAK- adalah jawaban yang juga sudah disiapkan oleh si pria cerewet di depan Luhan.

"Tentu saja. Katakan apa yang kau inginkan?"

"mmhh…Nanti jika adikku benar-benar mengikuti audisi, maukah kau menerima dirinya di agensimu."

"Adikmu? Siapa? Ah-….Jaehyun?"

"Ya Jung Jaehyun."

"Kau benar-benar menyerahkannya padaku."

"Jika aku yang mendampinginya, dia hanya akan gagal karena terlalu benci padaku. Jadi bisakah kau menjaganya?"

"Jika bocah sialan itu masih terdaftar sebagai peserta audisi, maka aku dengan senang hati mengambilnya tanpa kau meminta. Aku juga berencana untuk mendatanginya secara personal agar kau tidak sedih dan tidak perlu melihatnya di panggung audisi, tapi dia sudah tidak ada, jadi kau tidak perlu cemas."

"Jinapa yang kau katakan? Kemana adikku? Kenapa dia tidak ada? Kenapa-…"

"ssst….tenang sedikit sayangku."

Jin bahkan harus mendekap Luhan agar si pria cantik merasa lebih baik. Dia mengusap punggung Luhan bersusah payah membuat kecemasan Luhan hilang hingga berakhir dengan helaan nafas panjang untuk menjelaskan lebih detail pada Luhan.

"Sudah lebih baik? Jika belum aku tidak akan bercerita."

"Sudah-…Aku sudah lebih baik Jin."

"Kenapa siang dan malam kau akan menangis? Apa hobi barumu menangis?" katanya mengusap air mata Luhan dibalas isakan kuat dari sahabatnya "Jin—hkss—jangan membuatku panik."

"araseo mian-….Tapi aku harus memberitahumu bahwa peserta audisi dengan nomor urut 520 atas nama Jung Jaehyun resmi mengundurkan diri."

"Mengundurkan diri? Apa kau yakin?"

"Aku cukup yakin karena aku sangat peduli padamu. Aku tidak ingin kau bertemu dengan bocah itu lagi dan menjauhkan kalian untuk sementara. Awalnya aku ingin sekali memukul wajah tampan adikmu, tapi saat panitia mengatakan dia mengundurkan diri, maka aku cukup berbaik hati untuk melepaskannya kali ini."

"…."

"Bagaimana? Aku keren kan?"

"tsk!"

"Jika kau sudah mengumpat itu artinya kau sudah sehat. Jadi ayo sarapan dan mari bekerja siang nanti."

"Tapi kau yakin adikku mengundurkan diri?"

"Sangat yakin Xi Luhan. Cepat nanti pemandangannya tidak bagus lagi."

Jin terus membawa Luhan ke kafe yang berada persis di pinggir lautan. Tak sabar untuk menghabiskan makanan lezatnya sampai lagi-lagi tangan Luhan menahan tangannya "Jin-a…"

"Apalagi Lu?"

"Aku tidak mau makan disini!"

"Ada apa? Pemandangan disini sangat bagus."

"ani-….Pemandangan disini sangat buruk. Terlalu buruk hingga aku mual."

Definisi mual disini adalah karena dia melihat Sehun tak jauh dari tempatnya saat ini. Dia melihat Sehun sedang tertawa setelah malam tadi mereka memutuskan untuk kembali menjadi orang asing.

Harusnya dia senang karena Sehun dan Baekhyun terlihat sudah memperbaiki hubungan mereka.

Mereka tertawa

Saling menyuapi makanan

Hingga tanpa sadar tangannya mencengkram terlalu kuat lengan sahabatnya.

"Harus sejauh mana aku menyalahkan Tuhan karena terus mencintaimu."

"huh?"

Jin mulai menanggapi hal gila yang Luhan katakan seorang diri, merasa sangat bingung kenapa Luhan terus mencengkram tangannya dengan racauan gila yang terus dia ucapkan

"Bukan mengeluh, hanya saat ini sulit melihatmu tertawa selain denganku. Kau selalu disana bersama sahabatku, tertawa bahagia melupakan aku. Haah-…..Jika sudah seperti ini aku harus kemana?"

"Kau mulai meracau lagi, Lu."

"…."

"Ayo kita makan. Disana ada tempat yang kosong."

"Jin…"

"Apa lagi?"

"Jangan menikah. Kau boleh menikah saat aku menikah. Aku tidak mau ditinggal sendiri. Dengar?"

"ish! Kenapa tiba-tiba melarangku menikah. Ayo makan aku lapar."

"jinaaaaa…"

"Lu aku serius sangat lapar. Jangan membuatku kesal!"

"Aku juga serius tidak ingin makan disini! Lagi pula tempat ini hanya ditujukan untuk pasangan, bukan single seperti kita."

"Apa maksudmu?"

"Lihat mereka!"

Luhan menunjuk kesal ke dalam kafe. Membuat Jin segera menoleh untuk mendapatkan pemandangan takjub dari kafe yang mereka datangi. Dia bisa melihat di sisi sebelah kiri Sehun dan Baekyun sedang berbincang bahagia dengan tatapan penuh cinta mengiringi.

"ah….."

Lalu Jin beralih ke sisi sebelan kanan untuk menadapati Chanyeol dan Kyungsoo. Sebenarnya dia tidak terlalu peduli dengan apa dan bagaimana konsep restaurant ini dibangun, yang dia pedulikan hanya makan, makan dan makan.

"Mereka memang sepasang kekasih Lu, lalu apa yang salah?"

Tapi saat tangan Luhan terus merangkul lengannya maka bisa dipastikan pula bahwa impiannya untuk makan sepuasnya pagi ini hanya akan menjadi wacana indah diiringi perutnya yang begitu kosong karena kelaparan.

"Tapi kita bisa mengambil sisi tengah Lu."

"Tidak mau! Ayo cepat pergi dari sini. Bahkan Chen dan Xiumin juga berada disini"

"Tapi aku lapar."

"Kita cari kafe lain Jin. Ayo pegi—Jin ayo kita pergi! Sekarang-…."

Dan saat dia merajuk, maka disaat yang sama tak sengaja matanya bertemu pandang dengan dmata Sehun. Kedua pria itu cukup lama saling memandang penuh luka dan rasa kecewa –Sehun terutama- dia terlihat tak bisa melupakan hal gila yang Luhan katakan hingga berakhir memalingkan wajah lebih dulu, tidak berniat menyapa Luhan tidak pula ingin membawa Luhan ke sampingnya. Yang dia lakukan hanya tertawa bersama Baekhyun sementara diam-diam matanya terus memperhatikan Luhan.

Menyadari Sehun melakukan apa yang diinginkannya membuat hati Luhan bergemuruh senang, dia tidak menampik bahwa jauh di dalam hatinya dia menangis, dia hanya ingin hidup tanpa rasa cemas dan Sehun memberikannya.

"gomawo Sehun-….direktur Oh." Ujarnya bergumam bahagia diiringi suara Jin yang kembali bertanya "Jadi ingin pergi."

"huh?"

"Kau ingin makan disini atau di tempat lain?"

"ah-….aku lupa. Ditempat lain tentu saja."

"Kalau begitu tunggu disini, aku akan memesan tempat di restaurant lantai atas untuk dua orang."

"mmhh…Aku menunggu." Timpalnya membiarkan Jin pergi sebelum

"SEOKJIN!"

"Apa?"

"Pesan meja untuk tiga orang."

"Tiga?"

"Tiga."

"Tapi untuk siapa?"

Luhan menoleh sahabatnya untuk menjawab "Kau mengenalnya, tunggu saja disana. Aku menyusul."

"araseo…"

Setelah kepergian Jin, maka bisa dipastikan pandangan Luhan terkunci pada satu orang saat ini. Menatap satu-satunya sosok yang tanpa pasangan di tempat penuh cinta seperti restaurant sialan ini.

Awalnya dia tidak ingin mempedulikan sosok yang pernah mengisi hatinya selama lima tahun. Tapi saat cup ramen berada di meja sarapannya bahkan di pagi hari ini seperti ini, maka rasanya Luhan tidak bisa membiarkan sang mantan kekasih berada seorang diri disana, di tempat yang bisa membuatnya mati karena cemburu.

"bagaimana bisa kau mengambil tiga kursi dari Kyungsoo dan Chanyeol? Apa kau bosan hidup?"

Setelah menggeram, langkah kaki Luhan mulai memasuki area restaurant, beberapa pengunjung bahkan ditabraknya karena terlalu kesal.

Hal itu cukup menyita perhatian pengunjung lainnya.

Kyungsoo bahkan melihat kakaknya yang malam tadi berbuat hal gila, kini tengah berjalan lurus entah ke arah siapa. Dan saat matanya mengikuti kemana arah Luhan berjalan maka mata bulatnya semakin membesar menyadari bahwa Luhan menghampiri Kai yang terlihat menyedihkan saat ini.

"apa yang kau lakukan?"

"Sehunna ada apa?"

"….."

Baekhyun melihat tangan kekasihnya terkepal erat.

Penasaran, dia pun mengikuti kemana arah mata Sehun melihat.

Awalnya dia kesulitan karena terlalu banyak kerumunan orang, tapi saat matanya menangkap sosok Luhan yang berjalan lurus ke arah berlawanan, maka rasanya janggal menerima kenyataan bahwa alasan Sehun mengepalkan erat tangannya karena Luhan mendekati Kai, mantan kekasihnya.

"Apa yang terjadi? Kenapa Luhan?"

Ingin rasanya dia bertanya, dia bahkan sudah nyaris mengeluarkan suara jika tak sengaja menatap mata Chanyeol yang kini menatapnya.

Baekhyun bingung kenapa Chanyeol juga terlihat terluka, dia kemudian memperhatikan Kyungsoo dan ya-…..Sama seperti Sehun, mata Kyungsoo juga terkunci pada Kai-Luhan. Hal itu membuat tawa miris ditunjukkan Baekhyun dengan tatapan Sehun yang sepenuhnya untuk Luhan.

"Tuan ini kopi hitam anda. Selamat menikmati."

"Ya terimakasih."

Dan saat tangannya mengangkat secangkir kopi hitam,untuk di sesap maka disaat yang sama pula tangan seseorang mengambil paksa cangkir kopi hitamnya hingga tumpah mengenai meja dan sebagian kecil pakaiannya.

"y-YAK! Apa yang-…Luhan?"

"Berdiri! Ikut denganku."

"huh?"

"Buang ramen dan kopi hitam milikmu. Apa kau ingin dirawat lagi? Terakhir kau dirawat karena Soju, apa kau ingin mengulangnya dengan ramen dan kopi hitam bahkan saat waktu masih menunjukkan pukul sembilan pagi?"

"ah-…."

Untuk sesaat rasanya Kai bisa melihat kekasihnya kembali.

Luhan yang sangat cerewet dengan apa yang dia makan

Luhan yang sangat peduli dengan kesehatannya.

Hingga rasanya tatapan itu memang tatapan Luhan –kekasihnya- membuat sesuatu dalam diri Kai diam-diam berbunga sampai akhirnya Luhan mematahkan sendiri bunga-bunga yang sedang Kai rasakan saat ini.

"Jangan salah paham. Aku bukan peduli padamu, aku hanya merasa iba melihatmu sangat menyedihkan disini."

"huh?"

"Yang perlu kau ingat, aku bukans kekasihmu lagi."

Rasanya benar-benar patah, Kai bahkan mendengar suara patahan dari hatinya. Membuat senyum idiot yang baru dia tunjukkan berubah menjadi sendu dengan senyum lirih khas miliknya.

"Genggam tanganku. Aku akan menyelamatkan wajahmu kali ini."

"Tidak perlu, kau bisa pergi. Aku hanya akan menghabiskan-…"

"Berisik!"

Dengan paksa Luhan mengambil tangan Kai, menggenggamnya erat lalu membawa Kai pergi dari kerumunan menyedihkan untuknya.

Mungkin bagi Kai, Kyungsoo hanya seseorang yang dia cintai. Yang cintanya harus dia tahan mengingat kekasih Kyungsoo yang sesungguhnya berada disana, tapi cerita akan berbeda jika Kai tahu bahwa pria yang dicintainya kini sedang mengandung anaknya, mungkin bukan hanya Kai yang menderita tapi juga Kyungsoo dan Chanyeol.

Membuat Luhan sedikit berbaik hati menjadi penengah di antara cinta segitiga adiknya, direktur dan sang mantan kekasih agar ketiganya bisa kembali pada kenyataan disaat mereka siap nanti.

"Luhan…."

Bukan hanya panggilan Kai yang Luhan abaikan.

Tapi pria yang tingginya hanya sebahu sang mantan kekasih juga mengabaikan tatapan dua orang yang sama terpukul dengan keberanian Luhan menunjukkan siapa dia untuk Kai.

Ya-….

Tanpa Luhan tahu, dua orang itu kini mengepalkan erat tangannya.

Dimana yang satu terlihat tak terima Kai dibawa pergi begitu saja –Kyungsoo-

Dan yang satu terlihat sangat marah melihat pria yang malam tadi baru menjadikan status mereka sebagai orang asing kini menggenggam tangan mantan kekasihnya di depan umum –Oh Sehun-

"Sial / brengsek!"

Keduanya ingin sekali memisahkan pujaan hati mereka masing-masing, tapi saat dua kekasih mereka yang sesungguhnya berada tepat di samping mereka, maka hanya diam dengan amarah yang mengantar kepergian Luhan bersama mantan kekasihnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

An hour later, 10.00 a.m

.

.

"Lain kali katakan jika kau ingin mengajak Kai makan dengan kita, aku mati gaya disandingkan dengan artis papan atas sepertinya."

"eyy sudahlah. Untukku kau lebih tampan."

"Benarkah?"

Dua orang manager pencari bakat itu kini sedang berjalan kembali ke kamar mereka. Dan tepat seperti dugaan Luhan, maka dirinya harus menghabiskan lima belas menit non stop protes dari sahabatnya.

Mereka juga menghabiskan sarapan dalam keadaan sangat canggung, membuat Luhan buru-buru menyelesaikan makannya untuk membawa Jin pergi darisana.

"Iya benar! Kau yang paling tampan."

"Melebihi Kai?"

"Melebihi Kai."

"Melebihi Jongdae?"

"Melebihi Jongdae."

"Melebihi Christian Ronaldo?"

"Melebihi-….MWO? kenapa kau harus lebih tampan dari CR7 ku?"

"ha ha ha….Luluku sayang kenapa lucu sekali jika sudah menyangkut si Portugal?"

Jin kemudian merangkul pundak Luhan.

Keduanya tertawa sepanjang koridor dengan Luhan yang merangkul pinggang Jin.

Mungkin yang tidak tahu siapa mereka akan mengatakan mereka sepasang kekasih.

Ah-….

Jangankan yang tidak mengenal mereka.

Bagi satu pria yang sudah mengenal dua Manager itu dalam waktu enam bulan, rasanya hubungan mereka terlalu berlebihan untuk "sahabat" membuat lagi-lagi hatinya terbakar kobaran api sementara pria cantiknya kini dirangkul mesra oleh satu-satunya pria yang kini ia tandai sebagai saingannya.

"Kita mandi bersama ya? Sudah lama aku tidak menggosok punggungmu. Aku rindu mengusap tubuh seksimu Lu."

"ish—jaga mulutmu. Orang lain bisa salah paham karena tingkah gilamu."

"Biarkan saja! Aku tidak peduli pada mereka. Yang aku pedulikan hanya-…"

Tap!

Langkah Jin tiba-tiba terhenti, rasanya dia seperti melihat pirates saat mendapat tatapan mematikan dari pria tampan di depannya.

Dia juga segera melepas rangkulan di pundak Luhan, membuat si pria cantik yang sedang bersandar nyaman tiba-tiba merasa terusik dan kesal karena tempat bersandarnya dilepas begitu saja

"Kenapa dilepas?"

"Selamat pagi direktur Oh."

"direktur Oh?"

"Apa aku mengganggu kalian?"

Dan saat suara berat itu terasa menusuk hingga ke jantung Luhan, maka dia buru-buru menoleh untuk melihat pria yang malam tadi dia buat kecewa. Pria yang beberapa menit lalu bersedia menatapnya sebagai orang asing namun itu menyakiti hatinya.

Dan saat pria itu kini mengunci matanya maka langkah Luhan mematung hanya untuk sekedar menyapanya sebagai seorang direktur

"Sehun?"

"Lu….Dia direktur-…"

"Manager Kim."

"Ya direktur Oh."

"Bisakah aku berbicara dengan Manager Xi di kamar kalian?"

"huh?"

Sehun tidak lagi mentolerir segala penolakan kali ini. Ditatapnya tajam sosok tampan yang selalu bisa memeluk Luhan di depan umum untuk memberikan ultimatumnya sebagai seorang atasan "Apa kau keberatan?"

"Tentu saja tidak direktur. Tapi kenapa harus di kamar kami?"

Sehun menyeringai, kembali ditatapnya Luhan sebelum berbicara sangat tidak memiliki sopan santun mengingat dirinya adalah seorang direktur.

"Aku hanya ingin memastikan bahwa di dalam sana, di kamar kalian-….Aku tidak melihat, mencium dan menemukan bekas intim dari dua orang pria yang tinggal dalam satu kamar."

"Mwo? / yang benar saja!"

Jika Jin menunjukkan ekspresi bodohnya, maka Luhan mengerti kemana arah maksud Sehun. Terlalu mengerti hingga rasanya dia ingin menampar pria yang sudah beberapa kali menggagahinya karena berani menuduh dia dan Jin memiliki hubungan gila di dalam kamar mereka.

"Seingatku jadwal kalian menjadi juri pukul dua belas siang. Itu artinya aku memiliki dua jam tersisa untuk bicara dengan temanmu. Bisakah?"

"y-ya-…Ya tentu saja bisa direktur Oh. Aku akan mengambil barangku lalu pergi meninggalkan kalian."

Buru-buru Jin mengambil kunci kamarnya dan Luhan, segera membuka pintu lalu bergegas masuk mengambil barang miliknya. Tak perlu lama dia pun kembali keluar kamar untuk berpamitan pada Sehun dan Luhan.

"Saya permisi direktur Oh."

"Ya."

Dia pun berjalan ke arah Luhan, bergegas pergi untuk berbisik pada si pria cantik "Jangan bermain gila dengannya di kamar kita, aku akan sangat marah jika kau membuat kotor tempat tidurku."

"ish!"

Jin terkekeh, dia pun segera pergi hingga tersisa keheningan di antara dua pria yang diam-diam bermain gila di belakang semua orang.

"Kenapa harus di kamarku dan Jin?"

Luhan yang memulai pembicaraan, membuat hati Sehun luar biasa marah saat mendengar kalimat kamarku dan Jin. Semua itu terdengar bahwa kamar di depannya adalah kamar sepasang kekasih dengan gairah yang sedang menggebu untuk bercinta setiap waktu.

"Aku sudah bilang ingin memastikan bahwa tidak menemukan dan mencium bekas malam panasmu dengan Manager Kim."

"brengsek!"

"Kau tahu aku tipe yang sangat pencemburu. Aku tidak suka milikku disentuh orang lain."

"Dan sayangnya aku bukan milikmu. Aku bukan-…."

"TUNGGU!"

"huh?"

"Tunggu sebentar lagi sampai-….Sampai kau menjadi milikku, hanya milikku."

"Sehun..."

Yang membuat hati Luhan sakit bukan karena keegoisan Sehun dengan segala ucapan gilanya.

Jika boleh jujur dia justru senang saat Sehun mengatakan segala hal yang ingin dia ketahui secara frontal. Dia bahkan sudah bersiap untuk bertengkar hebat sampai Sehun terlihat menitikan air mata.

Pria tampan milik Baekhyun –dan mungkin miliknya- jelas sedang menangis –entah karena apa- membuat hati Luhan tiba-tiba berdenyut sakit tak tega dengan rasa sakit yang dirasakan Sehun saat ini.

"Sehun kau baik-baik saja?"

"Masuklah-…Aku mohon."

Tanpa membuang waktu, Luhan mengikuti Sehun masuk ke dalam kamarnya, bergegas mengunci pintu untuk mendapati Sehun yang sedang duduk di sofa dengan tangan yang terus mengusap kasar wajahnya.

"arrhh—sial—sial!"

"Sehunna…Sehun! Hey-…Hey Sehun."

Buru-buru Luhan berjongkok di depan Sehun, mengambil alih dua tangan yang terus mengusap kasar wajahnya untuk dilingkarkan di sekitar lehernya "Ada apa? Kenapa tiba-tiba datang lalu menangis seperti ini?"

"Lu aku—hkss…"

Luhan menangkup cepat wajah Sehun, memaksa Sehun untuk menatapnya dan hanya memberikan tiga centimeter sebagai jarak antara mereka saat ini "Hey..hey Lihat aku. Katakan apa yang menggganggumu?"

"Kepalaku sakit."

Pada dasarnya Luhan memang seseorang yang memiliki kesabaran tingkat tinggi, jadi saat Sehun terus bertingkah layaknya anak kecil yang terus meracau tanpa memberikan penjelasan maka dia secara refleks hanya menggunakan kelembutan menghadapi seluruh orang terdekatnya yang selalu bersikap manja seperti Sehun saat ini.

"Kau sakit?" katanya lembut dibalas anggukan kepala dari Sehun. Si pria tampan kini mengambil kesempatan untuk menangkup wajah Luhan lalu menunduk untuk mengecup bibir yang sangat ia rindukan.

Luhan sontak terkejut.

Demi Tuhan, beberapa detik yang lalu dia masih berjongkok di depan Sehun, masih menangkup wajahnya.

Tapi saat ini, posisi berubah tanpa Luhan sadari.

Karena selang beberapa detik kemudian, Sehun sudah mengangkat tubuhnya, Luhan bahkan sudah berada di pangkuan Sehun dalam kedipan mata sementara bibirnya masih dilumat lembut oleh Sehun.

Terlalu lembut hingga rasanya mengundang gairah untuk mereka berdua, keduanya sama-sama merasakan sensasi dua hari yang lalu. Sensasi dimana mereka bercinta dan menyatu tanpa kenal waktu, sensasi dimana kenikmatan itu mereka rasakan bersama.

Dan saat mereka dipaksa untuk melupakan sensasi itu, maka kedua tubuh mereka menolak keras dengan memberikan respon saling menginginkan lebih, lebih dan lebih.

"aah—sehunmmph."

Saat Luhan membuka mulutnya untuk mencari nafas, maka disaat yang sama Sehun meraup kasar bibir Luhan, dililitnya kedua lidah mereka hingga terdengar bunyi khas yang bisa membangkitkan gairah siapapun yang mendengar keintiman mereka.

Sehun kini merebahkan tubuh Luhan di sofa, menindihnya perlahan agar kedua tubuh mereka semakin merasakan keintiman yang dirindukan. Bibirnya terus mengecup lembut namun menuntut sementara tangan Luhan mulai bermain di area dada Sehun, menyentuhnya, menekan serta merasakan betapa kekar dada pria jantan di atasnya yang begitu terlihat sempurna dengan apapun yang dia lakukan.

"Lu—aku-….Aku ingin."

Harusnya Luhan tetap pada pendiriannya untuk menjaga jarak dengan Sehun selama Baekhyun berada disini, tapi saat mata Sehun mengerjap lucu, saat bibirnya terbuka mencari nafas, saat matanya melihat lapar pada wajah dan tubuhnya, saat si pria besar mulai menekan daerah intim mereka.

Maka omong kosong dengan menjaga jarak atau menjadi orang asing. Yang dia inginkan hanya kembali menyatu dengan Sehun sebelum akal sehatnya kembali mengganggu.

Dia kemudian tersenyum, tangan nakalnya juga satu persatu melepas kancing kemeja Sehun, memberikan izin untuk hal gila yang akan mereka lakukan dengan mengatakan

"Lakukan sayang, setelah selesai kita akan bicara."

Sehun tersenyum, diraupnya rakus bibir Luhan dengan kedua tangan yang bekerja aktif.

Tanpa melepas tautan bibir mereka, Sehun berhasil membuang kaos V-neck yang digunakan Luhan, dengan bantuan kakinya dia tanpa kesulitan juga bisa menurunkan celana jersey pendek yang dikenakan Luhan.

Membuat sensasi panas benar-benar dirasakan sampai kedua tubuh mereka benar-benar polos tanpa satu pakaian yang melekat di tubuh mereka saat ini.

"Kau benar-benar indah Lu, Kau sangat-…."

Merasa tak sabar, Luhan membuka lebar kedua pahanya. Segera memberikan akses agar Sehun bisa memasuki dirinya dengan tangan yang menarik kencang tengkuk Sehun.

"Jangan terus bicara, hanya masukkan dan segera selesaikan percintaan kita."

Sehun menyeringai kecil, dia mengangguk, dikecupnya lama bibir Luhan dengan tangan yang memposisikan kejantanan miliknya.

Detik berikutnya dia mendorong masuk penisnya masuk ke dalam lubang Luhan.

Membuat tubuh Luhan melengkung sebagai refleks, dan merintih kecil untuk membiasakan diri karena merasa terlalu penuh dibawah sana "ah—deep…"

"Sebentar lagi sayang….Aku akan memasukkan seluruhnya sebentar lagi—ah…"

"AKH—rrhhhhh—sakithhhSehun."

Saat Luhan terus meracau sakit, maka instingnya sebagai pejantan bekerja, Sehun mulai menggerakan pinggulnya.

Menariknya perlahan lalu menghentaknya kuat.

Wajar jika dia merasakan jemari kuku Luhan menancap dalam di bahunya.

Karena saat ini otot dinding rektumnya sedang berkontraksi, Luhan berusaha rileks tapi saat Sehun terus menghantamnya kuat, maka hanya ringisan kecil yang terdengar sangat membangkitkan gairah Sehun malam ini.

"Sehun—aahnikmathh—nghmphh."

Dan saat kata nikmat meluncur tanpa ragu dari bibir si mungil, maka senyum evil terlihat di wajah si pejantan. Dia merasa puas bisa membuat si mungil merasakan nikmatnya. Dan karena itu pula maka tak ada alasan bagi Sehun untuk segera mengakhiri percintaan panas mereka.

"Ah-….Lu—Sehun—aaah.."

Ini nikmat-…Terlalu nikmat hingga keduanya lupa diri dan terus menjemput kenikmatan dengan mendesahkan nama mereka masing-masing.

.

.

.

.

.

.

.

.

Nomor yang anda hubungi sedang sibuk. Cobalah-….

Pip!

"Sebenarnya kemana Sehun? Kenapa dia tidak mengangkat panggilanku."

Jika kekasihnya sedang bermain panas dengan sahabatnya, maka seorang Byun Baekhyun hanya bisa menunggu resah di lobi hotel. Pikirannya dipenuhi kekesalan mengingat banyak hal yang sepertinya dia lewatkan tentang sang kekasih.

Sikap Sehun terutama, dia menjadi sangat dingin dan seolah tak peduli. Membuat Baekhyun terkadang merasa takut untuk sekedar menatap mata kekasihnya.

Entahlah….

Baekhyun merasa Sehun tak lagi seperti Sehunnya semenjak kepulangannya dari Paris.

Terkadang dia hanya bisa bertanya kenapa?

Tapi menyadari hal gila yang hingga saat ini masih dilakukannya bersama Chanyeol –sahabat Sehun- maka ada sedikit ketakutan bahwa Sehun sudah mengetahui tentang penghianatan yang dilakukannya bersama Chanyeol. Membuat Baekhyun tiba-tiba merasa takut dan mulai bertingkah sangat ketakutan

"tidak tidak….Sehun belum tahu tentang hal itu. Sehun—ARGH!"

Baekhyun memukul kencang meja di lobi hotel, segera berlari cepat mencari Sehun sebelum

Grep…!

Seseorang menarik lengannya, mendekapnya erat hingga rasanya dia sesak. Jujur Baekhyun tidak merasa asing dengan lengan yang kini sedang memeluknya.

Aromanya

Tubuh kekarnya

Deru nafasnya

Baekhyun sangat hafal dengan siapa sosok yang kini sedang memeluknya erat, terlalu hafal melebihi dia menghafal aroma dan deru nafas Sehun, kekasihnya sendiri.

"Kenapa berlari sangat cepat? Kau bisa jatuh Bee."

Dan tiap kali pria berlesung pipi itu memanggil nama kecilnya, maka sensasi gila yang membakar gairahnya selalu Baekhyun rasakan, ketakutannya bahkan dibuat hilang hanya dengan suara Chanyeol yang terdengar sangat peduli padanya.

"Yeol…."

"hmmh?"

"Apa kau bisa menemaniku hari ini?"

Chanyeol tersenyum, dia pun melepas pelukan pada Baekhyun untuk menatap mata pria cantik milik Sehun –miliknya juga mungkin- mengusap lembut wajah tanpa cela di depannya untuk dikecup lembut bibirnya "Tentu saja. Kamarku kosong hari ini."

"ish! Aku tidak bilang dikamar."

"Tapi tujuanmu kamar."

"Terserahmu saja. Aku hanya ingin bersamamu hari ini." Katanya menyusuri dada bidang Chanyeol untuk mengusap gemas bibir yang baru saja mengecupnya.

Rasanya seperti candu saat bibir Chanyeol bergerak lembut melumat bibirnya. Dan saat si pria tampan menyediakan waktu untuknya, maka hanya kecupan yang bisa Baekhyun berikan sebagai ucapan terimakasih.

"gomawo Yeolieku."

Dan tanpa ragu, Baekhyun menarik tengkuk Chanyeol. Meminta agar kedua bibir mereka dipertemukan hingga terdengar suara lumatan khas seseorang yang sedang diburu nafsu.

Keduanya bahkan mengabaikan dimana mereka sedang melepas gairah saat ini, yang mereka pedulikan hanya saling memenuhi hasrat tanpa tahu bahwa ada sepasang mata yang kini terjatuh di lantai melihat betapa kejinya sang kekasih yang kini bercumbu dengan pria lain

"haaah-…..sesak—aku—Chanyeolapayangkaulakukan—ARGH!"

Pria itu –Do Kyungsoo- seperti sedang menerima balasan karena penghianatan yang dilakukannya bersama Kai. Tamparan itu begitu menusuk hingga ke tulang rusuknya, tidak menyangka bahwa semua hal jahat yang dilakukan seseorang memang akan menerima balasan pada akhirnya.

"Yeol, kita pergi."

Dan saat mereka menyudahi ciuman panas mereka, maka buru-buru Kyungsoo bersembunyi di tempatnya, memperhatikan bagaimana Chanyeol merangkul mesra pinggang sahabat dari kakak tirinya.

Kyungsoo murka tapi bayi sialan di perutnya terus berkontraksi tiap dia merasakan sakit.

Ingin rasanya dia mencekik Baekhyun –penggoda sialan yang merayu kekasihnya- tapi sayang tenaganya direnggut usai melihat hal gila di depannya.

Kyungsoo membekap erat mulutnya, bersumpah akan membalas Baekhyun dan menangis begitu murka dengan penghianatan yang baru saja ia terima.

"argh—hatiku—rrghhh—BYUNBAEKHYUN!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Cepat kita pergi, aku harus ke Venue sekarang."

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.05 p.m -….Itu artinya Luhan sudah terlambat untuk hadir di Venue tepat waktu.

Salahkan Sehun –lagi- kali ini. Karena setelah semua sudut tempat mereka buat kotor dan lengket maka si tampan seolah belum puas dan terus meminta lebih darinya.

"Nanti saja Lu, lima menit lagi."

Jika Luhan sedang mengancingkan kemeja putihnya, maka Sehun, pria yang terus memeluknya erat dari belakang terus melepas kancing yang Luhan pasang. "Sehun…"

"Lima menit lagi."

"Aku sudah memberikan lima menit untukmu sebanyak enam kali. Jadi cepat lepas dan biarkan aku pergi."

Sehun mengabaikan peringatan Luhan, yang dia lakukan hanya terus melepas kancing yang dipasang Luhan sementara tangannya yang lain menurunkan kemeja Luhan hingga pundak seksinya terekspos dan dia bisa mengecup bebas pundak milik si pria cantik.

"Aku masih ingin."

"ish! Tahan dirimu! Aku harus ke Venue, kita bisa kehilangan banyak talent jika terus di kamar."

"Direkturmu mengijinkan untuk tidak datang hari ini, jadi sebagai gantinya lima menit lagi."

Lima menit lagi yang dimaksud Sehun adalah bergerak seirama saat tubuh mereka menyatu.

Saling mendesahkan nama masing-masing saat tiap hentakan memenuhi bagian private mereka, hingga akhirnya nikmat menjemput dan membuat tubuh mereka kotor dan lengket karena cairang kental mereka.

"Lima menit lagi." katanya terus mengecup pundak Luhan hingga yang dikecupi menggeliat memberikan respon.

Bisa saja Luhan tetap pergi dan berjalan meninggalkan Sehun di kamarnya. Tapi saat bisikan lembut Sehun, caranya menyentuh dan memanjakan tubuhnya serta keinginan kuatnya agar mereka tetap bersama maka rasanya mustahil Luhan menolak.

Dia menghentikan tangan Sehun yang terus melucuti kemejanya. Sedikit tersenyum untuk berbalik dan melingkarkan tangannya di leher kekasih sahabatnya.

Anggap Luhan gila, tapi dia benar-benar nyaman berada di pelukan Sehun. Membuatnya lebih memilih menghabiskan waktu bersama Sehun daripada harus pergi keluar dan menjadi orang asing untuk pria yang disukainya.

"Jadi bagaimana? Apa aku mendapatkan lima menit tambahan?"

Luhan tertawa kecil, dikecupnya bibir Sehun untuk mengatakan "Kau mendapatkan satu hari penuh bersamaku."

Senyum puas kini ditujukan Sehun, dia semakin menarik pinggang Luhan mendekat hingga tak ada lagi jarak di antara mereka "Lihat siapa yang kini menggoda dan menculikku?"

"Aku tidak." Timpal Luhan sedikit tertawa dan menggigit gemas bibir bawah Sehun "Kau yang menggodaku lebih dulu." Tambahnya dan tak lama dua bibir mereka saling melumat.

Sehun tak membuang kesempatan untuk mengeksplor lebih dalam bibir Luhan, menyesap kuat bibir bawah Luhan, membelit lidahnya dan lidah Luhan hingga akhirnya dia benar-benar membuat Luhan kembali terbuai permainannya.

"rrrh—Sehunna."

Dan saat dua tangan besar Sehun meremat bokongnya, maka saat itu pula Luhan merespon dengan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Sehun. Sedikit memberi jarak hingga wajah atasannya terlihat kesal karena diganggu.

"Wae?"

"Beri aku waktu, ini masih sangat sakit."

"Jika aku memasukannya lagi kau akan baik-baik saja."

"ish! Kau yang baik-baik saja bukan aku." Katanya menggerutu disusul suara kekehan dari Sehun. "Baiklah kita istirahat lima menit."

"Lima menit? Harunya lima jam."

"Aku lebih memilih memperkosamu daripada mengabaikan tubuh indahmu selama lima jam. Kau tahu? Kau sangat nikmat Lu, rasanya tubuhku akan meledak jika tidak segera memasukimu. Aku benar-benar-…."

"OH SEHUN BERHENTI BERBICARA MESUM!"

"huh?"

"Jika kau tidak berhenti meracau, aku tidak akan memberikan tubuhku padamu-….TIDAK AKAN!"

"eyy…tidak lucu."

"Kalau begitu diam!"

"araseo….Aku diam."

Sehun membuat gerakan mengunci bibirnya, lalu detik berikutnya dia kembali merangkak kedalam selimut untuk menutupi tubuh polosnya.

"Lu cepat berbaring di sampingku."

"Astaga kita belum istirahat!"

"Tenang saja aku hanya ingin memelukmu. Cepat naik." Katanya menepuk sisi kosong disebelahnya agar Luhan segera merangkak naik ke tempat tidur.

"Aku tidak percaya padamu."

Sret…!

"omo!"

Sehun menyingkap selimut yang menutupi kejantanannya.

Membuat Luhan memekik terkejut sementara si pria jantan dengan bangga mengatakan "Selama adikku belum bangun, kau aman. Jadi cepat berbaring disampingku agar aku tidak berpikiran kotor."

"kau benar-benar mesum Oh Sehun."

"Cepat…"

"Tutupi dengan selimut!"

"ah-…Aku lupa. Aku terlalu bangga dengan adik kecilku."

"ck!"

"Cepat atau nanti dia bangun."

"araseo…"

Luhan mengalah, nyatanya dia memang lelah, dan saat Sehun berjanji untuk tidak menerkamnya maka tempat kosong disamping Sehun seolah memanggil untuk segera ditiduri.

"Awas kalau kau bohong."

"Tidak akan-….Lu lepas pakaianmu. Aku sudah polos tak memakai apapun jadi agar mudah sebaiknya kau juga polos."

"Mudah apanya? Mudah menyentuhku."

"nah…"

"Benar-benar mesum."

Sedari tadi Luhan terus mencibir Sehun, mengatainya dengan beberapa umpatan, namun berakhir melakukan apa yang Sehun inginkan.

Jika Sehun mengatakan dia harus berbaring, Luhan melakukannya

Jika Sehun mengatakan untuk tinggal, Luhan melakukannya

Dan saat Sehun bilang untuk melucuti pakaiannya sendiri-…..Maka disinilah Luhan sedang melepas kemeja dan boxer nya hingga dia sama polosnya dengan Sehun saat ini.

"Sini berbaring, daddy ingin memelukmu."

"Jin bisa membunuhku jika kita membuat tempat tidur menjadi kotor dan lengket."

"Kau tidak perlu cemas, mulai malam ini sampai tiga hari kedepan dia akan tidur di kamar VIP."

"Bagaimana bisa?"

"Tentu saja bisa! Aku sudah membuka kamar VIP untuknya, dan saat tahu dia berteriak mengatakan AKU MEMUJA DIREKTUR OH! Bagaimana? Aku keren kan?"

"bocah itu benar-benar penghianat!"

"Jika dia tidak mau aku juga akan tidur disini bersama kalian."

"ish!"

Buru-buru Sehun menarik lengan Luhan, mendekapnya erat hingga tubuh polos mereka saling bergesekan memberikan sensasi. Tak ada yang berbicara saat deru nafas mereka bersahutan, mereka hanya menikmati siang hari dengan berpelukan sampai Sehun kembali menggodanya.

"Kau sangat seksi saat mengumpat."

"Terserahmu saja."

Lengan Sehun semakin melingkar di pinggang Luhan, mengecup sayang keningnya lalu mengatakan hal yang seharusnya dia katakan sejak kemarin malam.

"Tapi kau sangat kejam saat melukai dirimu sendiri."

Luhan diam, dia mengerti kemana arah pembicaraan Sehun.

Diam-diam dia mendongak untuk melihat Sehun hingga hanya tatapan kosong dan raut cemas yang terlihat di wajah pucat pujaan hatinya "Sehunna."

"Aku benar-benar marah saat mengetahui kau berusaha mengakhiri hidupmu. Kenapa kau tega sekali? Apa pikiranmu sangat pendek? Rasanya aku ingin menghabisi semua orang yang membuatmu putus asa. Aku benar-benar khawatir Lu."

Luhan tersenyum kecil. Dia kemudian mengecup dada Sehun untuk berbaring nyaman dengan penyesalan yang sama besar "Mianhae….Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku hanya terkejut mendapati kenyataan bahwa hanya aku satu-satunya orang yang tidak memiliki siapapun di keluargaku, aku merindukan ayahku, ibuku, adikku, tapi mereka tidak-…."

"Kau memiliki Baekhyun, memiliki perkerjaan yang kau sukai, kau bahkan memiliki aku. Jadi bisakah kau tidak bertingkah gila lagi? Jika sulit kau bisa membaginya denganku. Aku janji akan mengambil semua kesulitanmu. Kau dengar?"

"…"

"Lu…?"

Luhan mengangguk, ingin rasanya dia membalas tapi suaranya tercekat. Saat Sehun mengecup bibirnya barulah dia bisa merasakan bahwa Sehun benar-benar peduli pada dirinya "Aku dengar." Lirihnya dengan tangan yang bermain di dada Sehun.

Tak ada lagi yang berbicara, keduanya menikmati panas terik yang mencuri masuk dari jendela kamar hotel, walau samar mereka juga bisa mendengar deru suara ombak yang begitu menyenangkan.

Membuat Luhan nyaris tertidur jika Sehun tidak melakukan hal gila dengan berteriak

"AH YA! AKU HAMPIR LUPA!"

"Sehun!"

Sehun mengabaikan peringatan Luhan, yang dia lakukan hanya terus berteriak sampai rasanya telinga Luhan akan rusak karena suara pekikan pria gila disampingnya "KENAPA PAGI TADI KAU MENGGENGGAM TANGAN KAI? APA KAU KEMBALI PADA MANTAN KEKASIHMU? DEMI TUHAN XI LUHAN JANGAN PERNAH BERPIKIR UNTUK KEMBALI PADANYA ATAU-…..nghhmmphh."

Merasa gila, Luhan buru-buru merangkak di pelukan Sehun, mencari dimana pusat suara teriakan itu berada untuk melumatnya kasar.

Sehun dibuat terkejut pada awalnya, dia sama sekali tidak menyangka Luhan akan bertindak sangat seksi –menghentikan teriakan dengan ciuman- untuk membuatnya tenang.

Sehun juga bisa merasakan saat bokong menggemaskan Luhan duduk di atas perutnya. Membuat sesuatu dibawah sana merespon hingga dua tangan yang mengambil kesempatan untuk meremat bokong seksi yang sedang menggesek perutnya.

"mmphh—Lu—Luhan—nnghmpu."

Luhan masih sibuk mencium Sehun, mengabaikan dua jari nakal Sehun yang sudah masuk dan keluar di lubangnya hanya untuk membuat si tampan berhenti teriak.

"aah—rrh.."

Barulah saat jari tengah Sehun menemukan titik nikmatnya, Luhan menyerah.

Dia menempelkan dahinya di dahi Sehun untuk mengatakan "Aku tidak akan pernah kembali pada Kai. Jadi berhenti berteriak dan hanya percaya padaku."

"Tapi aku benci melihatmu menggenggam tangannya."

Sehun merajuk, tapi tidak dengan jari tengah dan telunjuknya. Karena disaat dia sedang merengek maka dua jari itu kini sudah bisa mempermainkan akal sehat Luhan yang sama sekali tak fokus saat ini. Dia membuka lebar dua belahan bokong Luhan sebelum

Sleb…!

"AKH—aku-….Aku tidak akan melakukannya lagi."

"Janji?" katanya mengeluarkan jari telunjuk untuk menumbuk dengan jari tenganya lagi saat ini.

"akh—mmphh—Janji."

Barulah saat Luhan berjanji, Sehun merubah posisi mereka.

Luhan bahkan dibuat takjub karena adik kecilnya sudah terlihat seperti monster mengerikan yang berdiri menantang seolah tak ingin dibantah.

Membuatnya harus menghela nafas tanda bahwa dia pasrah dengan hal gila memabukkan yang akan Sehun lakukan –lagi- padanya.

"Aku ingin langsung."

"Lakukan, aku siap,"

Buru-buru Sehun membuka lebar paha Luhan. Matanya bahkan berbinar melihat lubang kecil Luhan seolah mengundang padanya.

Dia kemudian mengarahkan si adik kecil untuk mencari mangsanya di dalam sana dan

Sleb…

"Arrhh—Sehun."

"Baru dua jam yang lalu tapi dinding rektummu sudah menjepit kuat Lu—aakh.."

"Ya. Dan kau akan semakin gila karena aku melakukan ini."

"AKH—LUHAN!—aaaah-."

Luhan sengaja melingkarkan dua kakinya di pinggang Sehun.

Dan setelah memastikan adik kebanggan Sehun sudah bersarang sepenuhnya di lubangnya maka Luhan dengan sengaja mengetatkan lubangnya, membuat gerak keluar-masuk Sehun begitu sulit namun sangat nikmat karena jepitan kecil yang diberikan dinding rektum Luhan.

"Hey sayang."

Sementara Sehun sibuk menggerakan pinggul, maka tak ada salahnya bertanya tentang hal gila yang sangat membuatnya bersemangat "aah—mmphh—Ada apa?"

"Apa kau bisa hamil?"

"Apa maksudmu?"

"Maksudku?—ah—maksudku….Jika kau bisa hamil, maka aku dengan senang hati akan memberikan seorang bayi untuk kita berdua—AAAAAKHHLU…"

"sehun!—rrh—aaaaah…"

Dan bersamaan dengan racauan gila Sehun, maka dua pria dewasa itu –sekali lagi- menjeput nikmat bersama.

Rasanya Luhan tak pernah bosan menerima cairan sperma Sehun tiap kali mereka bercinta –rasanya penuh dan hangat- begitulah hal gila yang membuat Luhan ketagihan. Terlebih saat cairan si pria jantan terlalu banyak hingga menetes ke paha dalamnya-…Luhan sangat menyukainya

Dan saat berat tubuh Sehun terjatuh di atasnya, maka dua kaki Luhan yang melingkar sempurna di pinggang Sehun seolah mengatakan bahwa dia telah berhasil memuaskan seorang pejantan yang sangat luar biasa di tempat tidur.

"aaah—haaah—Lu."

"mmhh…Ada apa?"

Sehun setengah mengangkat tubuhnya. Mencium lama bibir Luhan untuk kembali menanyakan hal gila saat dirinya berada di puncak nafsu "Jadi bagaimana? Apa kau bisa hamil?"

Luhan benar-benar akan berteriak gila karena pertanyaan Sehun, membayangkan dia bisa memiliki darah daging Sehun adalah hal yang sangat menyenangkan untuknya. Dia kemudian membalas kecupan bibir Sehun.

Tidak memberikan jawaban dengan harapan, tidak pula mematahkan harapan.

Yang dia lakukan hanya tersenyum sangat cantik seraya berkata

"entahlah, mungkin bisa."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dan ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, maka hanya terdengar suara isakan dari seorang pria yang kini berbadan dua.

Entah sudah berapa lama dia berjongkok di kamar hotel bernomor 8812 milik pujaan hatinya yang lain.

Dia sudah berada disana hampir lima jam, menunggu kedatangan ayah dari calon bayinya untuk sedikit mencari ketenangan "hkss…."

Bagaimana bisa seorang penyanyi solo dan aktor terkenal seperti dirinya menangis di depan kamar pria yang tak seharusnya dia ganggu lagi.

Dan mengingat dia tidak menggunakan apapun untuk menyembunyikan dirinya, maka dia akan terlibat masalah jika sampai ada media atau penggemar yang mengenalinya sebagai seorang Do Kyungsoo.

"hkss….Kai."

Beruntung nama yang terus dipanggil Kyungsoo akhirnya mendekat, karena diluar dugaan acaranya sebagai guest star di audisi ini begitu padat.

Dia tidak bisa menemui atau berbicara pada siapapun kecuali dengan Jongdae atau managernya. Membuatnya sedikit merindukan kebebasan schedule agar bisa bertemu dengan Kyungsoo atau Luhan sekalipun sampai satu dari dua sosok yang begitu ia rindukan terlihat sedang menangis tepat di depan kamarnya.

"hks…"

"Kyungsoo?"

Yang dipangil mengangkat wajahnya.

Dia juga tidak mempedulikan bagaimana hancur wajahnya saat ini, yang dia pedulikan hanya bertemu dengan Kai dan ayah dari calon bayinya kini berada di depannya. Sedang menatapnya lembut namun penuh kecemasan tersirat.

"Kai—hks—Kai—KAITOLONGAKU!"

Buru-buru Kai berlari menghampiri Kyungsoo, memastikan tak ada yang salah dengan pria yang dicintainya hingga hanya hati remuk redam merasa sakit menyadari bahwa sesuatu sedang melukai Kyungsoonya saat ini.

"Soo ada apa? Siapa yang membuatm menangis Soo? Siapa yang-….."

'KAAAAIIIII!"

Kyungsoo melompat ke pelukan Kai, dipeluknya erat satu-satunya pria yang peduli padanya hingga rasanya enggan untuk dia lepaskan.

Dan saat tangan hangat Kai mengusap punggungnya maka jeritan Kyungsoo terhenti, yang dia lakukan hanya memeluk erat Kai sesekali terisak sampai suara Kai kembali terdengar.

"Sayangku ada apa?"

Kai melepas pelukannya, memaksa Kyungsoo untuk menatapnya dengan tangan yang mengusap lembut air mata pujaan hatinya yang lain. "Ada apa?"

"Kai—hkss.."

"Kau membuatku bingung."

"Aku ingin –hks- aku ingin bersamamu malam ini. Boleh-…hks-…bolehkah?"

Kai menangkup wajah menggemaskan Kyungsoo, mengecup lembut bibirnya hingga tanpa sadar membuat Kyungsoo mabuk dan begitu tenang karena ciuman Kai.

Disaat Kai ingin melepas ciuman mereka, maka Kyungsoo menekan tengkuk Kai agar tetap pada posisi mereka saat ini, dia butuh ketenangan dan Kai bisa memberikannya dengan ciuman hangat di bibirnya.

Jadi saat dia merasa jauh lebih baik, barulah Kyungsoo melepas tautan bibir mereka dengan Kai yang terus mengecup lembut bibirnya "Kau akan bersamaku malam ini Soo, sayangku."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan pagi, 10.00 a.m

.

.

.

"Whoa daebak! Jadi semalaman kau bersama dengan direktur O—hhmmpphh…"

"Jaga mulutmu! Kenapa tidak bisa pelan sedikit."

Yang terlihat lebih cantik sedang membekap mulut sahabatnya yang sangat tidak bisa dipercaya. Dan ketika si mulut besar terus berteriak gila, maka Luhan tak segan membekap mulut besar sahabatnya.

"araseo—akuthidakakanteriaklagi—lepas—ish!"

Luhan melepas bekapan tangannya di bibir sahabatnya. Membuat Jin sedikit mencibir lalu mengungkapkan lagi rasa kagumnya "whoa…Aku benar-benar tidak meragukanmu Xi Luhan."

"Memangnya aku melakukan apa?"

Luhan sibuk memakan seluruh sarapan yang disediakan untuknya.

Jujur saja kemarin siang hingga malam dia hanya sibuk bergumul dengan Sehun. Keduanya baru merasakan lelah pukul satu pagi untuk kemudian merasa lapar di pagi hari. Dan tepat pukul lima pagi tadi, Luhan memaksa Sehun untuk kembali ke kamarnya, berjaga-jaga jika Baekhyun bertanya kemana dia pergi tanpa harus melibatkan dirinya yang juga tanpa kabar.

"Kau dengan kecantikan di wajahmu-….Aku memberi dua ibu jari untukmu." Katanya mengangkat dua ibu jarinya disambut kekehan oleh si pemenang penghargaan.

"Apa kalian melakukannya sepanjang malam?"

Uhuk. . !

"y-YAK KIM SEOKJIN!"

"Aku hanya bertanya, kenapa berteriak seperti itu? Ini minum dulu."

Buru-buru Jin memberikan segelas air untuk Luhan, memperhatikan si pria cantik dengan seskama sampai senyum menggoda terlihat di wajah tampannya.

"Hey Lu-….Aku rasa wajahmu bisa dijadikan bisnis?"

"Apa maksudmu?"

"Kau dan segala feromon serta Visualmu yang diatas rata-rata. Aku rasa aku bisa menjadi saudagar kaya jika menjualmu. Aku bisa-…"

PLETAK!

"Arghh! SAKIT!"

"Berhenti bicara omong kosong kalau begitu. Cepat habiskan makananmu dan antar aku ke klinik."

"wae? Kau hamil?"

"ish!"

Sementara Jin melindungi kepalanya, maka Luhan sudah mengangkat tangannya lagi. Berniat untuk memukul otak kosong mantan rivalnya untuk tertawa karena wajah Jin saat ketakutan adalah juara.

"Dasar badut."

"MWO?"

"Jika tidak mau dikatakan badut berhenti bermulut besar!"

"Kenapa kau terus mengatakan aku mulut besar? Memangnya apa yang aku lakukan? Kau tiba-tiba minta diantar ke klinik setelah sepanjang hari bercinta, pikirmu aku percaya kau tidak hamil."

"astaga Kim Seokjin mulutmu benar-benar mengerikan!-….OBATKU HABIS DAN AKU SAKIT KEPALA!"

"ah-….Begitukah?"

"Aku benar-benar ingin mencekikmu kau tahu?"

Jin sedikit membusungkan tubuhnya ke depan Luhan, menarik hidung si pria cantik untuk memberitahu bahwa

"Aku adalah pilihan terakhir saat kau tak ada yang akan menikahimu, jadi bersikaplah lebih baik untuk calon suami cadangan terakhir di hidupmu."

"ck! Aku tidak akan pernah berfikir untuk menikah denganmu idiot!"

"Wae? Aku tampan, kaya dan yang paling penting seksi. Jadi apa yang kurang?"

"Tidak ada-…Pangeran Jin sempurna-….Sangat sempurna hingga rasanya aku ingin membekapnya saat dia tidur dan meracuni seluruh makanannya jika kami menikah nanti."

"whoa…Batal! Aku batal menjadi daftar calon suami cadanganmu! Aku lebih memilih menjadi single seumur hidupku."

Luhan tertawa sementara Jin mencibir, dia pun kembali mengunyah sebelum dengan asal mengatakan "Aku selalu memiliki masalah dengan pria bermarga Kim, jadi lupakan. Kau tidak masuk daftar."

"Dengar ya princess Lu yang paling cantik mengalahkan Elsa-…Aku KIM SEOKJIN juga bersumpah tidak akan pernah menikahi pria paling keras kepala, arogan dan suka memukul seperti XI LUHAN. Dengar?"

"Dengar!"

"Perbincangan selesai."

"Selesai!"

Dan saat dua sahabat itu tertawa konyol, maka wajah Luhan sedikit dibuat tegang melihat siapa yang datang menghampirinya. Dia kemudian meminta Jin untuk bersikap biasa sementara Baekhyun sedang berlari ke arahnya.

"Jinaa.."

"hmmh?"

"Aku harus apa? Baekhyun datang padaku? Bagaimana jika dia ingin bertanya tentang Sehun. Bagaimana jika dia-…."

"ssst…Kau yang membuat keadaan tegang. Tenang dan bersikap seperti biasa, oke?"

"LUHAAAAN…"

Buru-buru Jin bangun dari kursinya. Sedikit menepuk Luhan untuk menyambut kedatangan Baekhyun yang sedang berlari ke arah mereka "Hey ByunBaek yang sangat menggemaskan-…"

"ish! Tetap menjengkelkan seperti biasa." Katanya membalas cibiran untuk mendekap Luhan dari belakang.

"aigooo cantikku. Kau baik-baik saja kan?"

"huh? Aku?"

Baekhyun mengecup gemas pipi Luhan untuk mengambil alih kursi sahabat Luhan yang lain "Kau cari meja yang lain aku ingin kencan dengan Luluku."

"araseo…araseo…Silahkan menikmati waktu kalian tuan putri."

"Tentu budak sahaya."

"dasar nenek sihir!"

Jin sedikit mengerling Luhan, meminta sahabatnya yang polos untuk tetap tenang disambut anggukan pelan dari si pria cantik yang untuk kali pertama sangat gugup harus berdua dengan sahabat kecilnya.

"Hey sayangku. Sudah dua hari aku disini, tapi baru bisa bertemu denganmu sekarang. Aigoo..apa manager Xi benar-benar sibuk? Kau baik-baik saja kan?"

Luhan mengerjap sekilas, dia hanya diam dan sama sekali tak bisa merespon ucapan Baekhyun. Kenyataan bahwa dirinya memiliki hubungan dengan Sehun adalah hal yang membuat kepala Luhan benar-benar sakit hingga rasanya seperti akan pecah karena terlalu sakit.

"Lu….LUHAN!"

"huh?"

"Wajahmu pucat. Apa obatmu habis?"

"y-ya. Aku baik-baik saja dan ya-…Obatku habis."

"Kau ini! Setelah sarapan aku akan mengantar ke klinik. Kita belum bertemu lagi dengan dokter Park."

Baekhyun melepas jaketnya untuk dipakaikan pada Luhan, memastikan Luhan tidak kedinginan karena memilih area restaurant yang dekat dengan pantai "Apa kepalamu sakit?"

"Tidak Baek-….hatiku yang sakit."

Luhan bergumam sangat pelan di kalimat terakhir, merutuk kejahatan dan penghianatan yang dilakukannya pada Baekhyun.

Sungguh-…Baekhyun terlalu baik untuk pria keji seperti dirinya, membuat Luhan terus tertunduk tak berani menatap Baekhyun sampai sahabatnya mengeluarkan sesuatu yang membuat nafas Luhan tersengal karena sangat takut.

"Lu-…Aku menemukan dompetmu di kamar Sehun, ini ambillah. Kau pasti mencari dompetmu."

Deg!

Rasanya Luhan ingin mati saja saat ini.

Bagaimana jika Baekhyun tahu alasan dompetnya tertinggal.

Bagaiamana jika Baekhyun menyadari bahwa alasan dompet itu berada di kamar Sehun adalah karena mereka terus bercinta layaknya tak ada hari esok.

Bagaimana jika Baekhyun tahu dan berbalik sangat membencinya.

Dan saat tangan Baekhyun menggenggam tangannya, Luhan sempat menolak namun ditahan oleh jemari Baekhyun "Kau benar-benar pucat Xiao Lu. Apa perlu kita ke rumah sakit?"

"aniya-…Aku baik-baik saja Bee. Sungguh."

"Katakan jika kepalamu sakit lagi hmm. Jangan menyembunyikan apapun dariku. Aku sangat menyayangimu."

Kau akan sangat membenciku jika tahu hal gila apa yang aku lakukan bersama kekasihmu!

Setidaknya itu jerit tertahan dari hati Luhan, membuat tangannya secara refleks membalas genggaman tangan Baekhyun seolah meminta maaf karena telah menjadi sahabat yang begitu buruk untuk malaikat pelindungnya.

"Aku juga sangat menyayangimu Baek. Maafkan aku."

"huh? Kenapa kau minta maaf sayang?"

"Hanya ingin, Aku hanya-…"

"BYUN BAEKHYUN!"

Baik Luhan maupun Baekhyun menoleh ke asal suara.

Bertanya-tanya siapa yang berteriak begitu murka memanggil Baekhyun hingga sosok mungil Kyungsoo terlihat begitu marah dan seperti akan menyakiti Baekhyun.

"MATI KAU SIALAN!"

Gerakan Kyungsoo sangat cepat, dan saat Luhan ingin mencegah maka dia kalah cepat dengan tangan Kyungsoo yang sudah memegang gelas berisi air mineral miliknya yang digunakan Kyungsoo untuk

BYUR!

"Soo!"

Dia menyiram air itu ke wajah Baekhyun, membuat ketenangan seorang Byun Baekhyun diusik hingga rasanya dia bisa membunuh Kyungsoo kapan saja

"BRENGSEK! APA YANG KAU LAKUKAN!"

"Baek!"

Kali ini Luhan berdiri di tengah-tengah Baekhyun dan Kyungsoo. Berusaha untuk melerai pertengkaran Baekhyun-Kyungsoo namun sulit mengingat tatapan adik dan sahabatnya sudah sangat ingin membunuh satu sama lain.

"JALANG SIALAN! APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN KEKASIHKU?"

"SIAPA YANG KAU PANGGIL JALANG!"

Grep!

Buru-buru Luhan memeluk Baekhyun, dia tidak memiliki pilihan lain selain menjadikan dirinya tameng antara Kyungsoo dan Baekhyun.

Dia tidak tahu apa yang terjadi-….Tapi mendengar kemarahan Kyungsoo maka rasanya Luhan bisa menebak dengan mudah bahwa Baekhyun dan Chanyeol lagi-lagi melakukan hal gila tanpa melihat situasi dan tempat.

"KAU JALANG SIALAN! KAU MENGGODA CHANYEOL DAN MENGAJAKNYA TIDUR!"

"MATI KAU DO KYUNGSOO!"

"baek tenanglah sayang. Aku mohon hiraukan Kyungsoo."

Luhan sudah menangis saat memeluk Baekhyun, dia tahu percuma meminta Baekhyun untuk tenang saat amarahnya sudah sangat meluap. Yang dia lakukan hanya terus mengusap punggung Baekhyun berharap Baekhyun berhenti membuat gerakan memukul Kyungsoo yang sedang hamil.

"KUBUNUH KAU SIALAN!"

"Hey dengarkan aku-….BYUN BAEKHYUN!"

Luhan berteriak dan Baekhyun mendapatkan kesadarannya. Kedua mata mereka bertemu dan sama-sama terisak karena alasan berbeda.

Jika Baekhyun menangis karena marahnya pada Kyungsoo

Maka Luhan menangis karena takut baik Baekhyun maupun Kyungsoo tak bisa menahan diri dan menyakiti diri mereka masing-masing "Kita pergi! Abaikan ucapan Kyungsoo, kau dengar aku?"

"LEPAS LU! AKU AKAN MEMBERI PELAJARAN PADA ADIK TIRIMU!"

"Baek aku mohon jangan, Kyungsoo-…..KEPALAKU SAKIT DAN AKU HARUS KE KLINIK! Jadi bisakah kita pergi darisini Baek. Aku mohon."

Tangannya yang terkepal seketika rileks untuk sesaat. Dia masih tergoda untuk memukul Kyungsoo jika wajah pucat Luhan tidak mengganggunya. Dan saat teman kecilnya mengatakan sakit maka rasanya Baekhyun bisa mengubur dalam-dalam kemarahannya untuk dia lampiaskan di lain waktu.

"Baiklah kita pergi."

"gomawo…Gomawo Baek, sayangku."

Buru-buru Luhan merangkul lengan Baekhyun, membawanya melewati Kyungsoo yang masih terlihat sangat marah untuk segera pergi ke klinik.

"Soo aku mohon jangan diteruskan."

Begitulah permintaan Luhan pada adik tirinya.

Dia berharap Kyungsoo mendengarkan namun sial-….Kyungsoo sama sekali tidak menahan diri untuk menyerang Baekhyun, sahabatnya.

"AKU AKAN MENGATAKAN PADA DUNIA BAHWA DESIGNER TERNAMA BYUN BAEKHYUN MENGGODA KEKASIHKU UNTUK TIDUR BERSAMANYA! AKU BERSUMPAH UNTUK MENGHANCURKAN KARIRMU BYUN BAEKHYUN!"

"sial!"

Baekhyun menghempas kasar tangan Luhan, dia kemudian berjalan mendekati Kyungsoo dan

PLAK….!

Satu-satu kedudukan mereka.

Jika belum lama Kyungsoo menyiram air ke wajah Baekhyun

Maka kali ini Baekhyun memberi serangan balik dengan tamparan keras di wajah Kyungsoo.

Dia kemudian dua kali lebih keji menyerang balik ucapan Kyungsoo.

"Apa kau bilang? Kau akan menghancurkan aku? Bagaimana jika aku yang menghancurkan karirmu lebih dulu. Bagaimana jika-…..BAGAIMANA JIKA AKU MENGATAKAN SELAMA INI KAU BERMAIN BELAKANG DENGAN SALAH SATU ANGGOTA EXO DAN KINI MENGANDUNG DARAH DAGING DARI PRIA ITU-….DARI KIM JONGIN?"

Klik…

"Whoa daebak. dia hamil? Dan itu anak Kai? Astaga dia sudah gila!"

Tak hanya Kyungsoo-…Luhan dibuat lemas ketika Baekhyun mengatakan hal yang seharusnya dia simpan untuknya sendiri. Luhan tak sanggup berdiri dan hanya bertumpu pada salah satu meja.

Hatinya begitu sesak mendapati wajah pucat Kyungsoo saat ini, adik tirinya itu terjatuh di lantai sementara kamera dan bisikan pengunjung menggunjing serta mencela dirinya.

"KALIAN DENGAR? DIA ADALAH AKTOR DO KYUNGSOO! YA DIA AKTOR KESAYANGAN KALIAN YANG BEGITU KEJI! DIA MENGAMBIL KEKASIH KAKAK TIRINYA UNTUK DIJADIKAN PEMUAS NAFSU, DIA JUGA MENGGODA JONGIN DAN MENGHIANATI KEKASIHNYA HINGGA DINYATAKAN HAMIL DAN KINI MENGANDUNG ANAK SEORANG KIM JONGIN!"

"tidak…cukup…"

Klik…klik…

Seluruh kamera memotret dan mereka pengakuan Baekhyun, membuat nafas Luhan begitu tercekat tak menyangka sahabatnya akan membeberkan semua hal gila yang telah dilakukan Kyungsoo pada media amatir.

"tidak…cukup…janganlagi! Aku takut…eomma!"

Luhan bisa melihat Kyungsoo menangis ketakutan disana, dia bisa melihat Kyungsoo kembali memukuli perutnya. Dan saat Baekhyun terus meracau pada media amatir, maka disinilah Luhan-….Berjalan gontai menghampiri Kyungsoo dan berniat menghentikan omong kosong yang diucapkan Baekhyun, sahabatnya.

"DIA MEREBUT KEKASIH KAKAKNYA SENDIRI, DIA BERCINTA DENGAN KEKASIH KAKAKNYA-…."

PLAK!

Sama seperti yang Baekhyun lakukan pada Kyungsoo, maka Luhan membalas tamparan itu pada Baekhyun.

Demi Tuhan-….Untuk kali pertama dalam lima belas tahun-….Ini adalah kemarahan pertamanya pada Baekhyun. Dia tidak tahu bagaimana cara menghentikan omong kosong Baekhyun.

Pikirannya kosong

Hatinya sakit melihat Kyungsoo ketakutan persis saat kematian ibunya beberapa tahun lalu.

Dia terlalu bingung namun terlalu marah untuk membiarkan hal gila ini terjadi, dia hanya ingin kekacauan ini berakhir dan tak memiliki cara selain menampar Baekhyun agar emosi temannya terkendali.

"Luhan?"

"Cukup Bee…Kau keterlaluan-…KAU-….AKU MENCERITAKAN SEMUANYA PADAMU BUKAN UNTUK KAU BERITAHU PADA MEDIA! DIA ADIKKU DAN KAU TAK BERHAK MENGHUKUMNYA SEPERTI INI!"

"Lu?"

Klik…!

"BERHENTI MENGAMBIL GAMBAR!"

Luhan mendekati salah satu warga terdekat yang mengambil gambar dirinya, merebut paksa ponsel itu dari tangannya sebelum

BRAK!

Luhan membantingnya, menginjaknya hingga hancur lalu berteriak pada siapapun yang merekam "JAUHI KYUNGSOO ATAU KALIAN BERHADAPAN DENGANKU!"

Buru-buru Luhan melepas jaket yang diberikan Baekhyun. Segera menghampiri Kyungsoo yang sangat ketakutan sebelum

Sret…!

Dia menutupi kepala adiknya dengan jaket milik Baekhyun. Melindunginya sementara tangan Kyungsoo sudah mendekapnya begitu erat "aku takut—mereka akan membunuhku—mereka akan—hkss."

"Tenanglah Soo. Aku sudah menjagamu."

Perlahan Luhan membantu Kyungsoo berdiri, dia kemudian sengaja menabrak kencang bahu Baekhyun untuk membawa Kyungsoo pergi dari tempat mengerikannya saat ini.

"aku takut—aku takut—eommahhha—arrh—eomma."

Luhan hanya diam menikmati tangisan Kyungsoo. Yang dia lakukan hanya mendekap erat adik tirinya dan membawanya ke tempat aman.

Sungguh tak ada yang ingin dia lakukan selain membuat Kyungsoo tenang, membiarkan Kyungsoo terisak sampai dia mengatakan hal yang sempat membuat Luhan tercekat nafasnya sendiri.

"aku takut—aku takut Lu—hks..Aku takut Luhan hyung."

Ini pertama kalinya Kyungsoo memanggilnya hyung, sebelumnya dia hanya memanggil bajingan, sialan dan seluruh umpatan untuknya.

Tapi saat untuk kali pertama keberadaannya diakui Kyungsoo, maka tak ada yang sia-sia dengan sabarnya selama ini, membuat mata Luhan terpejam erat. Berharap ada kesempatan lebih baik untuk mereka saling melengkapi tanpa ada air mata yang mengiringi.

"hyung-….hyung menjagamu Soo. Aku menjaga adik kecilku yang malang."

Luhan mengecup sekilas kepala Kyungsoo, membawanya pergi dan hanya akan melindungi Kyungsoo tak peduli apapun yang terjadi.

.

.

"tidak-…tidak mungkin! Bagaimana bisa Kyungsoo mengandung anakku." –Kai-

.

.

"Kyungsoo tega sekali kau padaku sayang! Tega sekali kau mengandung anak dari pria lain. Kyungsoo—AAARRGHHHH!" –Chanyeol-

.

.

"Apa yang kau lakukan Lu? Kau melibatkan dirimu dalam masalah baru." –Sehun-

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


.

tobecontinued

.


.

*tarik nafas…buang*

Paling ngga semua udah ketawan busuknya pelan2.

.

Paling ngga semua tau sekarang klo dedek uco lagi hamidun.

ni gue curig bau2nya Kai ga mau tanggung jawab T_T

.

Wislah, ditunggu nextnya yak.

Pengennya TaeOh cepet lahir biar segera nyusul yang lain *eyaaa

.

seeyousoon...:*

dan doain biar gue ketagihan fangirlingan biar apdet ga ngaret :""