Previous
.
"tidak-…tidak mungkin! Bagaimana bisa Kyungsoo mengandung anakku." –Kai-
.
.
"Kyungsoo tega sekali kau padaku sayang! Tega sekali kau mengandung anak dari pria lain. Kyungsoo—AAARRGHHHH!" –Chanyeol-
.
.
"Apa yang kau lakukan Lu? Kau melibatkan dirimu dalam masalah baru." –Sehun-
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A' Friends Betrayal
Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo
Genre : Drama
Rate : M / NC!/
.
.
.
.
.
"SEOKJIN CEPAT BUKA PINTU"
DOR…DOR!
"KIM SEOK-…"
"Astaga Luhan! Kenapa-….."
Cklek….
"Kyungsoo?"
"BERI JALAN!"
"Luhan ada apa?"
"Hubungi Kwangsoo hyung."
"Tapi kenapa?"
"CEPAT!"
Sontak tubuh Jin terdorong pelan saat bahu Luhan menabrak lengannya. Sedikit bertanya mengapa wajah sahabatnya terlihat pucat dengan Kyungsoo berada di pelukannya.
"Ada apa ini?"
Buru-buru sang manager menutup pintu kamarnya. Bergegas mendekati Luhan untuk bertanya pada sahabatnya "Lu."
"TENANGLAH SOO!"
Tap!
Kakinya berhenti melangkah tatkala suara teriakan Luhan memenuhi ruangan. Dan saat matanya mencari tahu apa yang terjadi, maka Jin secara refleks membulatkan mata melihat bagaimana Kyungsoo memegang pisau kecil untuk menekan kuat nadi tangannya.
"Astaga..."
"TENANG KAU BILANG? RASAKAN JADI AKU DAN KATAKAN TENANG SETELAH KAU TAHU BAGAIMANA HANCUR HIDUPMU SETELAH INI! AKU-...SEMUANYA HANCUR KARENA PRIA SIALAN ITU!"
"Baekhyun tidak sialan!"
"DIA SIALAN SAMA SEPERTI DIRIMU! DIA BAJINGAN SIALAN YANG MEREBUT KEKASIHKU! DIA-..."
"KAU JUGA MEREBUT KEKASIHKU!"
"huh?"
Teriakan Kyungsoo terhenti.
Sesaat dia bahkan bisa merasakan kepedihan Luhan saat ini.
Bagaimana hancurnya saat kekasihmu direbut di depan kedua matamu sendiri.
Bagaimana kekasihmu tertawa karena orang lain
Bagaimana kekasihmu lebih mencintai orang lain daripada dirimu sendiri.
Kyungsoo merasakan semuanya hanya dari tatapan sendu kakak tirinya. Tatapan yang menggambarkan bahwa kehancuranmu adalah nyata sebab hatimu dikoyak begitu hancur.
"Kau bahkan mengandung benihnya."
traang!
Dan saat suara Luhan berubah semakin serak, saat matanya terpejam menahan sakit, saat tangannya mengarah pada benih yang berada di perutnya. Maka saat itu pula pula Kyungsoo menjatuhkan pisau yang berada tangannya.
Kakinya secara refleks mundur lalu tak lama tubuhnya lemas hingga terjatuh tak bisa menahan rasa bersalah karena mengandung benih dari pria yang paling dicintai Luhan beberapa waktu lalu.
"Sejak-....Sejak kapan kau tahu?" Tanyanya lirih.
Kyungsoo begitu ketakutan -entah karena alasan apa-
Harusnya dia senang ketika dua mata rusa yang selalu tersenyum padanya kini menatap sendu ke arahnya -tanda bahwa dia hancur-
Tapi tidak kali ini, karena saat Luhan terus menatapnya lirih maka hanya ada perasaan sesak yang dia rasakan dan Kyungsoo tidak suka.
Dia pun berusaha mencari jawaban namun hanya diam yang diberikan Luhan untuknya "Jawab aku sialan!"
"..."
"LUHAN!"
"Alasan mengapa aku mengakhiri hubungan dengan Kai adalah karena bayi yang kau kandung. Alasan mengapa aku harus membenci Kai saat aku masih sangat mencintainya adalah karena malaikat kecil yang sengaja kau bawa di tengah hubunganku dan Kai. Aku-..."
"DEMI TUHAN AKU MURKA-...TAPI KEMUDIAN AKU SADAR DIA HANYA BAYI TAK BERDOSA YANG AKAN LAHIR DARI DOSA KEDUA ORANG TUANYA! DIA HANYA MALAIKAT KECIL YANG TIDAK MINTA DIHADIRKAN DALAM KONDISI SEPERTI INI!"
"Luhan..."
"JADI BERHENTI MENYAKITI CALON BAYIMU, DARAH DAGING PRIA YANG PERNAH SANGAT AKU CINTAI, JANGAN SAKITI KEPONAKANKU DO KYUNGSOO!"
Deg!
Entahlah, Kyungsoo tidak merasakan apapun
Awalnya dia sudah mencoba berdamai dengan sang bayi. Menginjinkan benih itu tumbuh di dalam perutnya sementara dia berusaha keras untuk menutupinya dengan segala cara.
Dia juga berniat untuk tidak memberitahu siapapun, kecuali managernya -Lee Kwangsoo- dia hanya akan menyembunyikan bayi tak berdosa miliknya lalu kembali menjadi Do Kyungsoo sang aktor.
Ya dia akan melakukan segala cara untuk hidup dengan bayinya seorang diri, untuk membesarkan darah dagingnya secara diam-diam.
Tapi apa yang terjadi hari ini?
Bukan hanya Luhan yang mengetahui hal gila yang coba dia sembunyikan. Tapi mungkin Kai, Chanyeol atau bahkan seluruh penggemarnya juga sudah mendegar apa yang terjadi di hidupnya.
Lalu apa yang harus dia lakukan?
Menatap Luhan saja dia tidak sanggup apalagi harus berhadapan dengan kekasihnya atau Kai sekalipun?
Membuat kepalanya benar-benar sakit hingga rasanya dia begitu marah pada bayi yang ada di tubuhnya.
"Tidak...Aku harus melakukan sesuatu. Aku akan-..."
Diikuti langkah kali Luhan, Kyungsoo mulai meracau tak jelas. Kedua kakak-beradik itu jelas tenggelam dalam kesedihan masing-masing.
Dan saat kalimat
"Aku akan membunuh bayiku."
Keluar dari bibir Kyungsoo
Maka langkah kaki Luhan berhenti beriringan rasa murka yang nyaris mendidihkan seluruh isi kepalanya. "Apa yang kau katakan?"
Kyungsoo panik, dia berdiri di tempatnya saat ini. Pikirannya kosong sesaat, tapi ketika sesuatu mulai menendang di dalam sana. Maka tanpa ragu dia menatap Luhan untuk mengatakan
"Aku akan membunuhnya. Kau tenang saja aku bisa mengembalikan Kai padamu. Aku akan membunuh bayi ini dan membiarkan kau bahagia dengan Kai. Aku hanya akan mengembalikan semua padamu, aku janji tidak akan mengganggu hidupmu dan Kai. Aku-..."
tap
tap
Luhan berjalan sangat cepat mendekati Kyungsoo. Tangannya sudah terkepal begitu erat -tanda dia sangat marah-
"Kau tenang saja aku akan segera membunuh bayi ini dan menjadikan semuanya kembali normal. Kau akan mendapatkan Kai dan aku akan bahagia dengan Chan-…"
PLAK!
Dan saat Kyungsoo masih terus meracau dan terus mengatakan akan membunuh bayinya. Maka disaat itu pula tangan Luhan terangkat dan telak menampar wajah adik tirinya.
Hening….
Sesaat semua hening, Kyungsoo terdiam begitupula Luhan.
Dan saat kedua mata mereka bertemu maka hanya kemarahan yang ditunjukkan Kyungsoo untuk Luhan "APA YANG KAU LAKUKAN?"
"Aku sedang memberimu peringatan!"
"MWO?"
"Kau akan berhadapan denganku jika kau berani melukai bayi malang yang sedang tumbuh di dalam perutmu."
"LUHAN"
"KAU AKAN BERHADAPAN DENGANKU JIKA KAU MENYAKITI DARAH DAGING KAI, KEPONAKANKU!"
"XI LUHAN"
"SEUMUR HIDUPMU KAU AKAN BERHADAPAN DENGANKU JIKA MENYAKITI BAYIMU!"
"DIAAAAM!"
"Kyungsoo!"
Saat tangan Kyungsoo terangkat untuk membalas Luhan, maka Kwangsoo –sang manager artist- datang tepat pada waktunya. Dia kemudian mendekap erat Kyungsoo yang terus meronta ingin memukul Luhan "APA PEDULIMU JIKA AKU MEMBUNUH BAYI SIALAN INI!"
"Coba lakukan dan aku akan membalasmu berkali-kali lebih keji."
"KYUNGSOO BERHENTI! KITA PERGI!"
"LEPAS HYUNG! BIAR AKU BICARA DENGAN LUHAN!"
"Aku akan menghubungimu Lu."
Luhan mengangguk perlahan saat Kwangsoo berbisik padanya, dia kemudian membiarkan sang manager membawa artisnya pergi dengan kemarahan yang dirasakan Kyungsoo padanya "LEPAS HYUNG!—ARRGHH—LUHAAAN!"
BLAM….
"Luhan…"
Buru-buru Jin mendekati Luhan saat pintu kamar hotel mereka ditutup paksa, membantu sahabatnya untuk tetap berdiri sementara wajah pucatnya semakin terlihat.
"Jin-aa.."
"hmmh?"
"Tanganku sudah melakukan hal buruk."
"huh?"
Luhan hanya terus melihat tangan kanannya, menatapnya penuh benci sementara bibirnya terus meracau.
"Dengan tangan ini aku sudah melukai dua orang terdekat di hidupku."
"Apa yang kau bicarakan Lu?"
"DENGAN TANGAN INI AKU MENAMPAR BAEKHYUN DAN KYUNGSOO, AKU MELAKUKAN HAL BURUK PADA MEREKA. AKU MELUKAI-…."
"ssst…..Tenang Lu. Kau hanya terkejut hmm…"
Jin mengambil tubuh Luhan, di dekapnya erat tubuh gemetar Luhan sementara si pria cantik terus menangis hebat "tenanglah Lu."
"aku harus bagaimana Jin?"
"Kau tidak harus melakukan apa-apa-….yang perlu kau lakukan hanya tenang Lu."
"aaarrghhh!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Breaking news.
.
Belum lama tersebar video dengan aktor terkenal yang diduga adalah Do Kyungsoo, dalam video tersebut seseorang mengungkapkan fakta bahwa Kyungsoo menggoda kekasih kakak tirinya? Sang aktor juga disebutkan tengah mengandung benih dari perselingkuhannya? Bagaimana bisa? Sampai berita ini tersebar kami masih mencari tahu kabar terbaru
.
"Sial! Sebenarnya apa yang aku lakukan."
Dan benar saja, berita tentang hal gila yang belum lama ia teriakkan di depan publik kini menjadi trend topic dunia. Membuat designer muda itu sedikit merasa bersalah namun sama sekali tak menyesal mengingat sikap artis arogan seperti Kyungsoo.
Satu-satunya hal yang membuatnya cemas adalah Luhan-….Jujur saja dia bahkan masih begitu marah karena Luhan menamparnya di depan publik. Tapi mengingat dia sudah sedikit keterlaluan maka wajar jika Luhan menghentikannya.
"Tapi apa harus kau menamparku? Kenapa kau begitu bodoh Lu!"
Dia terus berjalan menuju kamar hotel miliknya. Bertanya-tanya dimana Sehun namun sial-….Justru Chanyeol yang terlihat di depan kamar hotelnya dan Sehun.
"Chanyeol?"
Baekhyun panik,
Buru-buru dia menghampiri Chanyeol yang sedang berjongkok di depan kamarnya. Memaksanya untuk berdiri namun sepertinya Chanyeol enggan dan tetap berada di depan kamarnya dan Sehun.
"Chanyeol berdiri! Apa kau sudah gila? Bagaimana jika Sehun datang?"
Sementara Baekhyun terus mengguncang bahunya, maka Chanyeol perlahan mengangkat wajahnya. Mencari dimana mata Baekhyun dengan wajah luar biasa kesakitan saat ini "Apa benar yang kau katakan?"
"astaga yeol! Ada apa denganmu?"
Buru-buru Baekhyun menangkup wajah pria lain yang dia cintai, menghapus air mata Chanyeol dan entah mengapa hatinya sakit melihat Chanyeol menangis. "Baek-….Apa benar yang kau katakan? Apa benar Kyungsoo dan Kai memiliki hubungan di belakangku? Apa benar jika saat ini ada benih Kai yang sedang tumbuh di dalam tubuh Kyungsoo? Apa benar-…..hkss.."
Grep…!
Satu gerakan cepat Baekhyun memeluk Chanyeol, mendekapnya erat dan menikmati seluruh rasa bersalahnya tak hanya pada Luhan tapi juga pada Chanyeol. Dia baru menyadari bahwa seluruh emosinya berdampak untuk semua orang yang begitu disayanginya. Membuat dadanya begitu sesak tak menyangka bahwa akan ada banyak orang terluka karena hal gila yang dia ucapkan beberapa saat lalu.
"Harusnya aku memberitahumu dengan cara yang benar, maaf membuatmu mendengar apa yang harusnya tak kau ketahui Yeol, mianhae."
"Jadi benar Kyungsoo bermain di belakangku."
"Yeol…."
"Aku kesakitan."
"Ini semua salahku, aku membuatmu dan Luhan sedih. Maafkan aku membuat keadaan ini semakin rumit Yeol. Maafkan aku."
"Kenapa kau tega sekali, Soo?"
"Dan kenapa kalian tega padaku?"
Disana, tak jauh dari tempat Baekhyun dan Chanyeol saling mendekap erat, maka Sehun –sekali lagi- melihat dengan kedua matanya sendiri bahwa sesuatu yang kuat kini mengikat kekasih dan sahabatnya.
Dan mengingat kemarahan Kyungsoo beberapa jam lalu, maka bisa dipastikan jika keduanya memang bertemu dan Kyungsoo melihatnya.
Sehun marah,
Ingin rasanya dia memukul wajah Chanyeol saat ini juga.
Tapi kemudian dia kembali menahan diri, sekuat tenaga dia menahan diri untuk tidak melakukan hal yang membuat keadaan semakin kacau.
Sejujurnya dia merasa iba menyadari fakta bahwa Kyungsoo mengandung anak dari pria lain –mantan kekasih Luhan- membuat pikirannya bercabang dan fokus pada pria lain yang diam-diam sangat dia ingin lihat saat ini.
Memastikan bahwa Luhan baik-baik saja dengan mendatangi kamar hotelnya.
Tapi baru beberapa langkah dia berjalan menuju kamar sang manager, maka ponselnya bergetar dengan nama Luhan tertera disana. Sehun membukanya cepat, berharap Luhan memintanya datang namun itu hanya harapannya.
Karena saat dia membuka ponsel, saat dia mengira Luhan akan memintanya datang. Maka saat itu pula Luhan mengatakan "untuk sementara jangan temui aku, temanilah Baekhyun dan pastikan dia tidak sedih karena aku baru saja menamparnya. Hibur dia Sehunna. Aku mohon."
Rasanya Sehun ingin menghibur Luhan saja, nyatanya sahabat Luhan baik-baik saja. Dia bahkan bisa memeluk pria lain setelah kekacauan yang dia buat. Tapi Sehun sadar dia bertindak egois jika terus memaksa apa yang diinginkannya.
Disana Luhan sedang mengatasi rasa bersalahnya dengan memintanya untuk tidak datang
Tapi disini, tepat di depan kedua matanya. Baekhyun sedang mengatasi rasa bersalahnya dengan memeluk sahabatnya sendiri. Membuatnya tertawa geram namun tetap bisa menguasai diri.
Dia pun segera memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Berniat untuk memberi waktu pada dua orang yang sedang menghianatinya sementara dia hanya menikmati dari jauh, menahan diri karena Luhan yang meminta dengan senyum pahit terlihat ketika menyadari bahwa sesuatu yang kuat benar telah mengikat Baekhyun dan Chanyeol.
"Setidaknya masing-masing dari kalian masih memiliki kekasih, tidak bisakah kalian bermain aman?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seoul, a week later
.
.
.
"Sebaiknya kau istirahat Lu. Terimakasih sudah datang menjenguk."
"mmh...Aku akan melakukannya hyung."
Yang dipanggil hyung oleh sang manager tersenyum canggung. Nyatanya dia tak tahu lagi harus menghubungi siapa dikala karir artis yang menjadi tanggung jawabnya kini diambang kehancuran.
Tak ada lagi sorotan baik untuk sang aktor.
Yang ada hanya kebencian, caci hina, dan semua hal yang membuat kontrak pekerjaanya dibatalkan oleh seluruh sponsor, jadwal kegiatannya bahkan terpaksa dibatalkan karena kemarahan penggemar.
"Jaga Kyungsoo dan beritahu aku jika sesuatu terjadi."
Kwangsoo –sang manager artist- tersenyum. Dia pun menepuk bahu Luhan untuk menenangkan satu-satunya keluarga yang dimiliki artisnya "Aku akan segera menghubungimu."
"Gomawo."
Saat tangan hangat Kwangsoo menepuk pundaknya, maka entah darimana kenyamanan itu Luhan rasakan.
Jujur dia sangat lelah,
Bukan karena sakit yang dimilikinya.
Tapi karena semua hal gila yang coba dilakukan Kyungsoo semenjak kepulangan mereka dari Denpasar.
Terhitung sudah empat puluh jam Luhan berada di rumah sakit untuk menemani sang aktor yang karirnya benar-benar hancur akibat isu yang dialaminya satu minggu lalu.
Dan jangan katakan ini adalah empat puluh jam pertama Luhan menjenguk Kyungsoo di rumah sakit.
Nyatanya ini adalah kali ketiga dalam seminggu dia harus menemui Kyungsoo terbaring lemah dengan jarum infus terpasang di tubuhnya. Entah apa yang sedang Kyungsoo lakukan, tapi kalimat aku akan membunuh bayi ini yang dia katakan satu minggu lalu tepat sebelum kepulangan mereka ke Seoul benar sedang dilakukan Kyungsoo.
Dehidrasi adalah penyebab Kyungsoo harus terus dirawat, karena sepertinya dia sengaja tidak memberi asupan untuk tubuhnya, tidak makan tidak pula minum. Yang Kyungsoo lakukan hanya terus menyakiti dirinya agar janin yang dikandungnya terluka dan akhirnya tidak bertahan.
"Aku mohon jaga Kyungsoo. Jangan biarkan dia melakukan hal mengerikan lagi."
"Aku akan mengawasinya. Tenang dan pergilah tidur Lu."
Beruntung Kyungsoo memiliki Kwangsoo, karena saat pikirannya sudah sangat pendek untuk mengakhiri segalanya maka disana Kwangsoo selalu ada untuk menyadarkan sang aktor. Terkadang dia harus berteriak agar Kyungsoo sadar akan hal bodoh yang dilakukannya atau bahkan mencekik sang artis agar berhenti melakukan hal gila. Semua Kwangsoo lakukan untuk menjaga pria yang sudah dia anggap seperti adik.
Setidaknya Luhan bisa mempercayai manager adik tirinya. Dan saat Kwangsoo terus menenangkannya maka tanpa ragu dia berpamitan pada pria yang memiliki usia jauh diatasnya dan Kyungsoo. "Aku pergi."
"Kau berhati-hatilah."
"okay."
Setelahnya Luhan meyusuri lorong rumah sakit, segera menaiki lift sampai
Ting
Jadi apakah benar anak itu milik Kai EXO?
Entahlah tidak ada klarifikasi dari dua artis tersebut.
Aku bahkan mendengar Kyungsoo akan membunuh bayinya
Jahat sekali jika dia sampai melakukannya! Aku benar-benar akan membuat petisi agar wajahnya tak bisa lagi berada di layar kaca.
Ingin rasanya Luhan menampar dua mulut wanita yang terus menjelek-jelekkan Kyungsoo. Tapi mengingat apa yang dilakukan Kyungsoo, maka wajar jika dua wanita yang sedang membicarakan artis mereka terus berbicara buruk tentang Kyungsoo.
"Tahan dirimu Lu, jangan buat keributan lagi."
Dia kembali membawa kakinya berjalan menuju basement. Tidak berniat untuk mencuri dengar apa yang dikatakan Breaking news media TV atau apapun yang terus membicarakan Kyungsoo dan mantan kekasihnya.
Yang Luhan lakukan hanya terus berjalan menuju parkiran mobil. Dan saat tangannya merogoh saku untuk mencari kunci mobil maka suara yang satu minggu ini begitu ia rindukan terdengar sedang berbicara padanya.
"Tidak perlu mencari kunci. Kau akan pulang bersamaku."
Deg…!
Jantungnya dibuat berdegup kencang.
Wajahnya merona saat membayangkan akan bertatapan dengan kekasih sahabatnya
Dan saat suara berat itu memanggil namanya, maka Luhan merasa suara yang sangat ia rindukan itu adalah obat dari semua kecemasan yang dia rasakan satu minggu ini.
Berlebihan memang.
Tapi saat suara pria yang dia yakini adalah Sehun terdengar, maka tak ada hal lain yang Luhan lakukan selain mencari asal suara lalu tersenyum saat mendapati cintanya yang lain kini berdiri tak jauh dari tempatnya berada.
"Sehun?"
Yang disapa sedang melipat tangan di atas dada. Pria tampan itu hanya tersenyum kecil saat menatap pria mungil yang sangat ia rindukan.
Dan tak perlu waktu lama untuk Luhan membalas tatapan rindu kekasih sahabatnya.
Keduanya tersenyum dengan cara masing-masing. Menatap sama rindu sampai pria yang lebih besar lebih dulu merentangkan tangannya, meminta si pria cantik datang ke pelukannya hingga hanya senyum yang dilontarkan si mungil.
"Aku kira kau sudah melupakan aku."
"Butuh waktu lama untuk melakukannya -tidak- aku rasa aku tidak bisa melupakanmu. Kemari biar aku memelukmu."
Luhan mengangguk, dia bahkan setengah berlari untuk datang ke pelukan Sehun. Dan saat tubuh kecilnya melompat ke dekapan pria tampan di depannya maka Sehun dengan mudah menangkapnya dengan satu tangan.
"Aku merindukanmu."
Sehun lega mendengarnya. Setidaknya Luhan tidak memohon lagi untuk berhenti menemuinya. Setidaknya kalimat rindu itu keluar dari bibir mungil pria cantiknya.
Membuat sang direktur menyunggingkan senyum paling sempurna yang dia miliki untuk membalas ucapan rindu pria cantik yang sudah mengambil setengah dari hatinya.
"Aku lebih merindukanmu."
.
.
.
.
.
.
"Jadi bagaimana Baekhyun? Apa dia sudah lebih baik?"
Keduanya sudah berada di rumah Sehun saat ini. Dan dilihat dari pakaian yang berserakan di lantai, selimut yang setengah terjatuh dan peluh ditubuh polos mereka. Maka bisa dipastikan keduanya telah menghabiskan waktu panas berdua.
Nafas Luhan masih tersengal sementara Sehun tersenyum puas.
Dan dilihat dari perbedaan kontras mereka, maka bisa dipastikan bahwa Sehun merasa puas setelah menggagahi Luhan sementara Luhan harus tersengal karena melayani stamina Sehun yang begitu luar biasa.
Keduanya bahkan tidak memutus kontak fisik dibagian selatan tubuh mereka. Posisi mereka masih menyatu namun tidak mengurangi gairah mereka untuk saling berciuman sesekali mengotori lagi selimut Sehun yang berubah warna menjadi sedikit kuning.
"Bisakah kita tidak membicarakan Baekhyun saat ini?"
Nada suara Sehun terdengar lirih, dia lebih memilih untuk mencium lembut bibir Luhan agar perhatian si pria cantik teralihkan, tapi jangan sebut namanya Luhan jika rasa penasarannya selalu lebih mendominasi dari rasa nikmatnya.
"Wae—hmmh..."
"Karena aku hanya ingin mendengar suaramu saat mendesah bukan ketika bertanya."
"Ah-..."
Tubuhnya menggelinjang saat tangan panas Sehun membelai kasar bagian privatenya. Tangan kasarnya juga sesekali mengusap paha dalam Luhan dan menekan kasar bagian private si mungil yang mulai memberikan respon
"Nah aku lebih suka mendengar suara seksimu saat aku sentuh. Itu sangat mennggairahkan."
"Sehun—hhnnghh.."
Luhan menggigit kuat bibirnya, berniat untuk tidak mendesah namun gagal-...Sehun dan sentuhan tangannya selalu berhasil membuatnya terbaring pasrah dibawah ketangguhannya sebagai pria jantan.
"Aku memujamu."
Dan ketika Sehun kembali mengukung tubuhnya, maka buru-buru Luhan mendorong bahu Sehun hingga kini posisinya adalah on top sementara Sehun terlihat seperti mangsanya saat ini.
"Kau bisa melakukan apapun padaku. Hanya beritahu aku apa yang terjadi padamu dan Baekhyun lebih dulu."
"Aku sudah bilang tidak ingin membicarakan Baekhyun."
"Tapi aku ingin!"
Dan ketika Luhan bersikeras ingin membicarakan Baekhyun, maka Sehun hanya bisa menghela dalam nafasnya. "Apa benar-benar ingin membicarakan Baekhyun?"
"mmh...Ingin membicarakan Baekhyun?"
"Haruskah?"
"Harus."
Sehun mengalah, dia pun sedikit bersandar di tempat tidur dengan Luhan yang duduk di pangkuannya.
Tangannya terus mengusap wajah Luhan sementara tatapannya kosong dengan mata sendu yang menandakan bahwa sebenarnya dia tidak ingin membicarakan tentang Baekhyun saat ini.
"Sehun ada apa?"
"..."
"Hey sayang."
Barulah saat tangan mungil Luhan menangkup wajahnya Sehun memberikan respon. Diangkatnya tubuh Luhan dari atas tubuhnya lalu dia bangun untuk sedikit menjernihkan pikiran.
"Sehun..."
Firasat Luhan buruk saat Sehun hanya diam sebagai jawaban. Yang dilakukan Sehun hanya terus menatap kosong sementara tangannya mulai memakai asal boxer yang tergeletak di lantai untuk berjalan mendekat ke arah jendela kamar.
"Aku dan Baekhyun sudah berakhir."
"huh?"
"Sebelum datang menemuimu aku dan Baekhyun sudah berakhir."
"Sehun..."
Buru-buru Luhan mencari kemeja Sehun, dipakainya asal kemeja kebesaran ditubuhnya sebelum berlari mendekati pria yang diam-diam sangat ia cintai. "Dia yang mengakhiri hubungan kami."
"tidak mungkin."
Sehun bahkan tersenyum miris mendengar suara di belakang punggungnya. Ketidakmungkinan yang Luhan suarakan adalah hal yang begitu ia inginkan. Tapi ketika hari itu datang-...Hari dimana Baekhyun berdiri di depan apartementnya adalah hari dimana hubungan mereka berakhir.
Dia menangis tersedu saat mengutarakan maksudnya, tapi ketika Sehun bertanya kenapa maka jawaban Baekhyun masih terekam jelas di ingatannya.
Aku mencintai pria lain.
Sehun memejamkan mata mengingat bahwa lima hari yang lalu, Baekhyun tanpa ragu mengatakan mencintai pria lain. Kekasihnya bahkan memohon untuk tidak dibenci karena keputusannya.
Aku mohon maafkan aku Sehun. Aku mencintaimu tapi aku sadar aku lebih mencintainya
Semua ucapan Baekhyun masih terekam jelas di ingatannya, bagaimana Baekhyun menangis, bagaimana kedua tangannya terkepal memohon bahkan ketika dia mengatakan lebih mencintai pria lain daripada dirinya adalah hal yang paling menyakitkan untuk diingat Sehun.
"Dia memilih Chanyeol."
Walau Baekhyun enggan mengatakan siapa pria lain yang dia cintai, tapi Sehun tahu bahwa pria itu adalah Chanyeol, sahabatnya.
"Dia bahkan menangis memohon agar aku tidak membencinya atau kekasihnya kelak."
"Sehun..."
"Harusnya aku marah dan mengatakan semuanya. Tapi aku benci terlihat menyedihkan. Aku benci Luhan."
"Sudah cukup Sehunna. Maafkan aku."
Buru-buru Luhan memeluk erat punggung Sehun, menyandarkan kepalanya di punggung tegap pria yang hatinya baru disakiti sementara tangannya terus mengusap lembut dada Sehun
"Maaf memaksamu sayang. Aku minta maaf."
Entah bagaimana rasanya menjadi Sehun saat ini.
Dia tahu semua yang dilakukan Baekhyun di belakangnya tapi hanya bisa diam tak mengatakan apapun.
Dia tahu Baekhyun mencintai sahabatnya sendiri tapi hanya bisa menerima dengan lapang ketika Baekhyun menyudahi hubungan mereka.
Membuat hati Luhan meringis pilu saat tangannya memeluk Sehun, namun hanya debaran jantung yang beredegup cepat –tanda bahwa dia marah- tapi hanya bisa diam tak mengatakan apapun tentang kemarahannya.
"Aku tidak menyangka Baekhyun akan benar-benar mengakhiri hubungan kami dengan cara yang dia inginkan. Aku hanya-..."
"sst...Tenanglah Sehun, aku disini, aku menjagamu saat ini."
Luhan pernah berada di posisi Sehun,
Yang membedakan hanya bagaimana cara hubungan cinta mereka berakhir.
Jika dengan Kai, Luhan yang mengakhiri segalanya.
Tapi berbeda dengan Sehun, pria yang kini berada di pelukannya tengah menahan rasa sakit karena hubungannya dengan Baekhyun.
Jauh sebelum Baekhyun mengakhiri hubungan mereka Sehun sudah mengetahui hubungan yang dia jalin bersama Chanyeol.
Tapi apa Sehun mengatakannya pada Baekhyun?
Tidak-….Sehun tidak pernah mengatakan apapun. Dia cenderung diam dan membiarkan Baekhyun melakukan hal gila dibelakang punggungnya.
"Aku mengagumimu Sehunna."
"Kenapa?"
"Karena jika benar hubunganmu dan Baekhyun berakhir, itu hanya menunjukkan bahwa kau-kau benar seorang pria."
Sehun terkekeh, didekapnya dua tangan Luhan yang melingkar di pinggangnya lalu mengecup sayang pada jemari mungil yang berhasil meredakan sedikit kekosongan di hatinya "Memang selama ini aku wanita?"
"Bukan seperti itu maksudku."
"Lalu?"
"Maksudku-….mhh….Wajahmu saja yang terlihat dingin, tapi sikap dan hatimu benar-benar lembut dan sangat baik."
"Kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu?"
"Karena jika benar hubunganmu dan Baekhyun berakhir, maka sesungguhnya kau adalah pria sejati yang tidak pernah menyakit kekasihmu walau dia menghianati dan menyakiti dirimu."
Pundak Sehun terangkat. Dikecupnya lagi jemari Luhan sebelum mendekapnya erat. Dia berfikir sejenak lalu memberikan jawaban yang dia sendiri tidak yakin bahwa dirinya seperti ini karena dia rela –umhh- rasanya lebih menuju pada fakta bahwa perasannya benar-benar berkurang nyaris hambar untuk Baekhyun. Jadi wajar jika dia tidak membalas marah atau menunjukkan respon berlebihan saat Baekhyun mengakhiri hubungan mereka.
"Aku rasa itu tergantung bagaimana hatiku."
"huh?"
"Jika itu kau yang bersama pria lain, rasanya aku bisa berkali-kali lipat gelap mata dan marah. Aku rasa itu alasanku hanya diam."
"eyy…Kau terlalu jujur direktur Oh. Setidaknya carilah jawaban yang lebih masuk akal."
"Memanganya aku sedang mengatakan apa?"
"Kau sedang membual menurutku. tapi aku suka"
"Kau sedang memuji atau menyindirku?"
"Keduanya! Tapi saat ini aku sedang memujimu sayang."
Luhan mengecupi punggung Sehun. Sedikit menyembunyikan wajahnya disana untuk bergumam "Aku rasa aku semakin menyukaimu."
Sehun mendengarnya-….Dia pun memutar tubuh Luhan agar mata mereka bertatapan. Dan saat Luhan mengerjap lucu karena terkejut maka sepertinya pikiran Sehun sudah memutuskan untuk melabuhkan hatinya pada sosok cantik menggemaskan terkadang sangat keras kepala yang kini tersenyum cantik menatapnya.
"Kenapa?"
"Wajahmu merona."
Luhan cemas, dia kemudian berusaha menutup wajahnya namun terlambat, Sementara tangan kiri Sehun membawa dua tangan Luhan melingkar di tengkuknya maka tangan kananya yang bebas mulai mendekap pinggang Luhan.
Keduanya bertatapan sangat dekat sampai yang memiliki tubuh lebih besar menundukkan kepala. Dia mendekati bibir mungil yang menjadi targetnya lalu tak lama keduanya sudah menggeliat mesra tanda menikmati ciuman lembut mereka kali ini.
Sejujurnya Luhan sangat menikmati ciuman menggairahkan yang Sehun berikan untuknya, tubuhnya juga sudah merespon tanda bahwa dirinya pasrah jika harus berakhir di tempat tidur –lagi-
Namun saat Sehun melepas ciumannya, saat bibir seksinya justru tertawa nakal maka hanya kesal yang bisa Luhan rasakan karena dia masih ingin dikecup mesra oleh pria jantan di depannya. "Wae?!"
"Pakai bajumu. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
Sementara Sehun berjalan menuju lemari pakaiannya maka Luhan sedang menghentakan kaki tanda dia begitu kesal karena mengira akan menghabiskan malam ini bersama Sehun "Kemana? Lagipula kau merobek kemejaku! Aku tidak memiliki pakaian saat ini."
"Tapi aku punya."
Dengan membawa hoodie dan celana training panjang miliknya, Sehun berjalan mendekati Luhan. "Biar aku bantu." Katanya melepas kemeja kebesaran miliknya lalu mengganti dengan hoodie merah yang membuat tubuh mungil Luhan tenggelam karena terlalu besar.
"Sehun ini kebesaran. Lihat tanganku hilang!"
"Aku akan melipatnya. Angkat kakimu."
Beruntung celana training Sehun terbuat dari karet. Karena jika tidak bisa dipastikan celananya hanya akan menimbulkan masalah jika dipakai "Sebenarnya kita mau kemana?"
"Nanti kau tahu." Katanya melipat hoodie Luhan sampai pergelangan tangan lalu berjongkok untuk melipat ujung celana training yang menyapu lantai karena terlalu besar di kaki Luhan "Sebenarnya berapa tinggi badanmu?"
"Sekitar 178 cm. Kenapa?"
"Kau yakin bukan 150 cm?"
"Ish! Aku tidak sependek itu!"
"Tapi semua pakaianku tenggelam di tubuhmu."
"Itu wajar karena kau adalah raksasa."
Sehun tertawa gemas melihat bagaimana Luhan kesal karena tinggi tubuhnya disinnggung. Membuat si raksasa tampan –versi Luhan- mengusap kepala Luhan lalu berjalan ke lemari baju untuk mengganti pakaiannya sendiri.
"Nah selesai. Ayo ikut aku."
"Sehun kita mau kemana?"
"Nanti kau tahu sayang."
Tanpa ragu Sehun menggenggam tangan Luhan, menautkan erat jemari mereka hingga jemari mungil Luhan tenggelam di genggaman Sehun. "Sudah kubilang kau seperti liliput." Katanya menunjukkan jemari Luhan yang tenggelam hingga terdengar desisan kesal dari si pemilik jemari.
"terserahmu saja giant!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ckit….!
"Kita sampai."
"whoa…"
Terang saja bibir mungil Luhan membuka takjub seolah tak percaya dengan apa yang dilihat kedua matanya.
Matanya juga terus memandang kagum melihat bagaiaman sederetan mobil mewah ditambah dengan tanaman rumah yang disusun sedemikian indahnya tertata di tempat yang Luhan sebut dengan-…..istana.
"Sehun!"
"hhmh?"
"Kita dimana? Apa ini rumah perdana menteri Korea selatan?"
"Bukan."
"Lalu kita dimana?"
"Di rumahku."
"MWO?"
"Cepat kita turun. Aku sudah sangat mengantuk." Katanya melepas seatbelt Luhan sebelum
BLAM…!
"omo! Sehun tunggu sebentar!—whoa…"
Luhan benar-benar takjub melihat lampu taman yang dimiliki tempat ini, cahanya berpadu dengan cahaya bulan lalu diiringi suara gemericik dari kolam ikan yang disediakan di pekarangan rumah.
"ini istana! Dia pasti salah alamat."
"SEHUN!"
Yang dipanggil menghentikan langkahnya. Dia juga sedikit malas menanggapi racauan Luhan namun terpaksa berhenti karena tak mau melihat pria cantiknya kecewa atau paling buruk kesal padanya. "Apa?"
Buru-buru Luhan berlari ke arah Sehun, digenggamnya jemari si pria tampan lalu dengan panik dia mengatakan "Ayo kita pergi sebelum terlambat."
"Pergi?"
"mmhh…Pergi! Aku rasa kau salah alamat."
"Tapi ini memang rumahku."
"Ini bukan rumahmu, ayo kita pulang."
Dan bersamaan dengan tarikan tangan Luhan di jemarinya, maka terdengar pula suara seseorang yang menginterupsi hingga membuat Luhan mematung di tempatnya
"Tuan muda? Anda datang?"
"tuan muda?—Ahjussi! Siapa yang kau panggil tuan muda?"
Luhan bertanya tanpa tahu malu diiringi tawa kecil Sehun dan raut bingung pelayan rumah berusia sekitar lima puluh tahun di depannya "Pria yang tangannya sedang kau genggam adalah tuan mudaku, nona cantik."
"Siapa yang kau bilang nona cantik-…MWO? Apa kau bilang? Tangan yang sedang kugenggam?—astaga."
Secara refleks Luhan melepas genggaman tangan Sehun, dia kemudian bergerak salah tingkah dengan wajah bodohnya namun dihentikan Sehun yang sedang berbaik hati memeluknya agar si mungil tidak merasa malu.
"Halo paman. Senang melihatmu lagi."
"Sudah lama sekali tuan muda. Apa anda ingin bertemu dengan Tuan besar?"
"Ya tentu saja."
"Baiklah, silakan masuk dan saya akan menyampaikan perihal kedatangan anda di tengah malam seperti ini."
"he he he….Maaf mengganggu istirahatmu paman."
"Bukan masalah tuan muda. Saya permisi."
"Sehun…"
"hmmh?"
Dan benar saja-…Saat Sehun mencari mata si mungil maka warna merah di wajah Luhan bahkan sangat terlihat di gelapnya malam. Membuat Sehun terkekeh gemas lalu mengecup dalam bibir Luhan yang terus membuka sejak awal kedatangan mereka ke rumah keduanya.
"Sebenarnya berapa banyak rumah yang kau miliki?"
"Mau jujur atau hanya seingatku saja?"
"Jujur tentu saja."
"Aku memiliki enam rumah. Tiga di Jepang dan Tiga di Seoul. Dan tempat kakimu berpijak saat ini adalah rumah keduaku, rumah tempat aku dilahirkandan rumah tempat aku dibesarkan-…..ini rumah orang tuaku."
"Ah-…rumah orang tuamu-….RUMAH SIAPA?"
Dan wajar jika Luhan kembali berteriak, karena jika ini rumah orang tua Sehun maka itu artinya, di dalam sana, tepatnya di dalam rumah bak istana yang sedang dia kunjungi ada pria bermarga Oh lain yang dulunya adalah-…..CEO di tempatnya bekerja.
"Rumah ayahku. Ayahku baru kembali dari Jepang, ayo masuk dan temui ayahku."
"rasanyaakumaumati."
"Apa yang kau katakan?"
"Pulang-….Aku mengatakan ingin pulang."
"Tapi kita sudah dirumah."
"Sehun ini bukan rumah-….jangan bawa aku-…."
"Ada apa ini? Aku menunggumu masuk tapi kau tak kunjung datang. Kenapa ribut di luar?"
Dan ketika suara yang dulu sering memarahinya terdengar maka secara refleks pula Luhan bersembunyi di pelukan Sehun. Membuat pria paruh baya yang dulunya adalah pemilik OSH'ent sedikit mengernyit bingung dibalas kekehan oleh satu-satunya putra yang dia miliki.
"Kenapa tertawa? Dan siapa yang memelukmu?"
"Ayah pasti tahu kalau dia sangat menggemaskan."
"Siapa?"
"Kau sering memarahinya saat masih bekerja."
"Aku banyak memarahi pegawaiku."
"benar..anda benar-benar hobi marah."
Luhan menggerutu di pelukan Sehun, membuat si pria tampan lagi-lagi terkekeh lalu tak lama membalas pelukan Luhan "Kau tidak boleh memarahinya lagi, dia milikku."
"Jangan berbicara omong kosong nak. Siapa yang sedang kita bicarakan?"
"Kau harus menyapa ayahku."
"Sehun jangan-…."
Sret…!
Dan ketika tangan Sehun memutar cepat dua bahunya, maka tak perlu waktu lama untuknya dan mantan direktur OSH'ent saling bertatapan. Tak ada yang berbicara untuk sesaat.
Karena jika Luhan sangat mengenali sosok yang begitu ia kagumi, maka pria paruh baya yang kini menggunakan tongkat sebagai alat bantu berjalan sedikit bertanya-tanya siapa pria cantik yang terus dipeluk oleh putra tunggalnya.
"Dan kau adalah-…..?"
"annyeonghaseyo Presdir Oh. Saya adalah-…."
"Manager Xi?"
"huh?"
"Tepat sekali aboji!"
"ha ha ha….jadi benar kau si manager yang gemar menangis jika aku bentak? Aigoo-….Lihat bagaimana dirimu tumbuh, dari awal kau sudah sangat menggemaskan dan semakin dewasa kau terlihat semakin…."
"cantik!" timpal Sehun tertawa geli diiringi tawa ayahnya yang tak kalah bersemangat "Benar nak! Manager Xi semakin cantik!"
"ayolah!"
"Sudah…sudah…ayo kita masuk. Ayah kedinginan di luar."
"Ayo masuk."
Harusnya Luhan tetap menolak untuk dibawa masuk, tapi melihat bagaimana hangat hubungan Sehun dan ayahnya maka rasanya sayang melewatkan bagaimana dua anak-ayah itu memiliki hubungan sangat dekat layaknya teman dekat. Membuat rasa iri sedikit dia rasakan dan berakhir menggenggam jemari tangan Sehun yang begitu hangat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Astaga! Aku benar-benar bangga padamu Manager Xi! Kau sama sekali tidak pernah mengecewakan."
"biasa saja Presdir Oh. Aku memang hebat."
"aigoo…Sudah berani memuji diri sendiri huh?" timpal Sehun mengusap gemas kepala Luhan membuat satu-satunya pria cantik yang berada di tengah-tengah mereka terkekeh lalu dengan sombong mengatakan "Aku memang hebat kok."
"ya ya…Manager Xi yang terbaik. Ya kan aboji?"
"Benar. Lagipula dia sudah bekerja untuk dua generasi, jadi rasanya dia bisa diberi penghargaan karena telah bekerja untuk kita nak."
"Baiklah. Aku akan memberikannya rumah dan-….."
"Dan?"
"Cinta!"
"ish!"
"ha ha ha….cinta macam apa yang bisa diberikan bocah ingusan sepertimu nak."
"Aboji!"
"araseo—araseo…Kau dengar Manager Xi? Putraku akan memberikan cinta padamu."
Wajah Luhan sudah tak bisa lebih merah lagi dari saat ini, karena saat Sehun mengatakan omong kosong yang membuat jantungnya berdebar maka mantan direkturnya lebih mengejutkan karena terus mengiyakan apa yang diinginkan putranya.
"Aboji aku berencana akan membangun sub unit perusahaan di Jepang. Kau tidak keberatan kan?"
"aigoo Anakku, ayah sudah bilang perusahaan itu milikmu. Jadi lakukan apa yang kau inginkan karena ayah tak mau memikirkan hidup dunia lagi."
"Lalu apa yang ayah inginkan?"
"mmhh…Menimang cucu darimu."
Buru-buru Sehun menatap Luhan dan menyenggol kencang lengan si pria cantik "Apa?"
"Kau dengar?"
"Apa?"
"Ayahku ingin cucu."
"Lalu?"
"Baiknya kita giat membuat cucu untuk ayahku."
"y-YAK!"
"astaga telingaku!"
Luhan kemudian membungkuk menyesal karena berteriak. Dia bahkan terus menggumamkan "Maaf Presdir Oh." Pada ayah Sehun dibalas tawa kecil dari mantan direkturnya "Aku bukan Presdir Oh lagi, dia Presdir Oh."
"Ya benar! Aku presdir Oh." Timpal Sehun memeluk Luhan disambut tatapan penuh arti oleh sang ayah "Bahagianya melihat Sehunnie tertawa."
"Sehunnie?"
"eoh! Dulu aku dan mendiang ibunya hanya memanggil Sehunnie pada direkturmu!"
"ppfftt…."
"Jangan tertawa Lu!"
"Dan kau tahu kenapa kami memanggilnya Sehunnie?"
"Kenapa Presdir Oh?"
"Karena dia sangat manja pada mendiang ibunya. Dia bahkan tidak berani ke toilet seorang diri. Ah-….Anak ayamku adalah yang terbaik pada masanya."
"Anak ayam?"
"Iya….Sehunnie itu ibarat anak ayam menggemaskan untukku."
"ppffftttt…"
"Manager Xi jangan tertawa!"
"HA HA HA…..Badanmu saja yang besar direktur, tapi pikiran dan kelakuanmu benar-benar seperti bocah ha ha ha…"
"Kau benar Manager Xi! Anak ini memang badannya saja yang besar ha ha ha…."
"tertawa saja sepuas kalian!"
Ketika Luhan dan ayahnya tertawa, maka Sehuna dalah satu-satunya pria yang menggerutu. Dia terimakasih kepada pengurus Kim karena dia datang tepat waktu untuk menanyakan
"Tuan muda apa anda bermalam disini?"
"Ya. Aku dan Luhan bermalam."
Luhan berhenti tertawa, dia sedikit panik karena Sehun benar-benar memintanya bermalam sementara sang ayah tersenyum menebak apapun hubungan yang dimiliki Sehun dan Luhan, pastilah Luhan sangat berharga untuk putranya.
"Apa anda yakin tuan muda?"
"Tentu saja."
Setidaknya kerutan di dahi Tuan Oh dan pengurus Kim sama-sama terlihat jelas saat ini, nyatanya Sehun tidak pernah sama sekali mengijinkan seseorang bermalam apalagi sampai menetap di rumah impian mendiang sang ibu. Dan jika Luhan adalah pengeculian, maka bisa dipastikan bahwa pria cantik di depannya adalah orang asing pertama yang Sehun bawa untuk menetap di rumah impian mendiang ibunya.
"Baiklah tuan muda, saya akan menyiapkan dua kamar untuk anda bersistirahat."
"PAMAN!"
"ya?"
"Siapkan satu kamar saja. Aku tidur dengan Luhan."
"huh?"
Dan saat tangan Sehun melingkar di pinggang Luhan, maka kerlingan diberikan Sehun untuk pengurus rumah tangga yang sudah bekerja puluhan tahun di keluarga besarnya "Kau dengar paman, aku tidur dengan pria cantik ini!"
"Sehun…."
"Wae? Kau memang cantik."
"Tapi tidak seperti ini. Aku sangat-…"
"EKHEM! Tuan Kim cepat sediakan SATU KAMAR untuk putraku dan cintanya. Aku rasa mereka ingin segera menghabiskan malam panas berdua."
"Kami tidak Presdir Oh / Ayah memang yang terbaik."
"MWO?"
"eyy..Berhenti berteriak. Kau membuat telinga ayahku sakit."
Luhan tersenyum kikuk, detik berikutnya dia hanya tertunduk sementara mantan direkturnya mulai berjalan mendekati dua pemuda penuh gairah di depannya "Ayah senang kau pulang nak. Cepat pergi tidur dan beristirahat."
"Aku juga senang ayah pulang. Selamat malam aboji."
Tanpa memikirkan berapa usia Sehun, Tuan Oh tetap mencium pucuk kepala putranya, dia tersenyum kecil lalu membalas ucapan selamat malam putranya "Selamat malam nak." Katanya menepuk pundak Sehun dan tersenyum melihat ke arah Luhan. "Dan selamat datang di rumah kami Manager Xi."
"y-Ya terimakasih Presdir Oh."
Dan ketika sosok paruh baya itu berjalan menuju kamar, maka rasanya Luhan terhipnotis untuk terus menatap ayah Sehun.
Dia mengenal ayah Sehun untuk waktu yang cukup lama. Terlalu lama hingga rasanya asing melihat sosok pemimpin tegas yang gemar berteriak dan menggertak kelalaian pegawainya ternyata adalah sosok yang begitu lembut dan sangat menyayangi putranya. Membuat rasa kagumnya pada ayah Sehun semakin bertambah seiring dengan kenyataan yang baru dia lihat sendiri malam ini.
"Anda benar-benar luar biasa Presdir Oh."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa semua yang aku pakai kebesaran?"
Waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi di dinding super megah milik pemilik agensi terbesar di Seoul.
Dan jika yang terlihat tampan sedang asyik membaca surat kabar di tempat tidurnya, maka yang terlihat sangat cantik sibuk menggerutu tentang segala hal yang berhubungan dengan size mereka yang sangat berbeda.
"Aku sudah bilang tubuhmu itu seperti liliput."
"Tapi ini terlalu besar, maksudku tinggi kita tidak berbeda jauh!"
Mendengarnya saja sudah membuat kepala Sehun sakit. Apalagi jika harus meladeni kalimat tinggi mereka yang tidak berbeda jauh. Membuat sang direktur hanya menghela nafas dengan tangan yang terus membuka halaman surat kabar.
"Terserah yang cantik saja." Katanya malas disambut delikan tajam dari mata Luhan "dasar tuan muda." Luhan membalas cibiran Sehun. Berniat untuk mengganti piyama lain sebelum
Drrt…drrtt…
Dua pria dewasa itu sama-sama melihat ke arah ponsel Sehun yang bergetar, membuat si pemilik ponsel bertanya-tanya sementara yang terus menggerutu diam-diam ingin mencuri dengar dengan siapa Sehun berbicara.
"Manager Kang?"
"Bicara pelan-pelan."
"Apa kau yakin?"
Luhan menutup lemari pakaian Sehun, perlahan dia berjalan menuju tempat tidur dengan Sehun yang tersenyum melihatnya "Baiklah. Kau boleh melakukannya."
"Oke. Selamat malam."
"Siapa?"
Sehun meletakkan ponselnya di atas meja. Dan setelahnya dia tersenyum dengan tangan yang memukul pelan sisi kanan tempat tidurnya yang kosong "Berbaring disini. Aku akan memberitahumu."
Buru-buru Luhan menarik selimut disamping Sehun, segera berbaring di sisi kanan tempat tidur Sehun yang kosong untuk mencari tahu apa yang terjadi "Kenapa Manager Kang menghubungimu? Bukankah dia petinggi dari Management EXO?"
"Ya."
Sehun menarik tubuh Luhan. Diciumnya pucuk kepala sang manager dengan tangan yang melingkar sempurna di pinggang ramping Luhan "Kau harus bersiap besok malam."
"Ada apa?"
"Kai akan menggelar konferensi pers terkait skandal yang melibatkan dia dan Kyungsoo."
"Sehun! Apa tidak terlalu terburu-buru, maksudku keadaan masih sangat kacau di masing-masing kubu penggemar. Tidak bisakah Kai menunggu sedikit lebih lama? Itu sangat berbahaya untuk mereka."
Rasanya dia kehilangan akal sehat tiap kali nama Kai keluar dari bibir mungil Luhan. Ingin dia menghapus ingatan Luhan tentan Kai, agar tak lagi ada nama Kai yang keluar dari bibirnya.
Dia marah
Dia tidak suka
Dia benci mendengarnya.
Karena tiap kali nama Kai keluar dari bibir Luhan, maka rasanya pula Sehun ingin berteriak murka tak tahan membayangkan Luhan bersama pria lain. Membuatnya sedikit resah dan tak lama bertanya marah pada Luhan "Siapa yang kau khawatirkan? Mantan kekasihmu atau adik tirimu?"
"Sehun…"
"Jawab aku."
Luhan bergerak resah, dia mendongak untuk menatap Sehun namun hanya kemarahan yang bisa dilihatnya. "Hey dengarkan aku. Jangan salah paham Sehunna."
Buru-buru Luhan mengganti posisi, kali ini dia bersandar di ranjang tempat tidur lalu membawa Sehun ke dekapannya. Dia juga mengusap lembut punggung Sehun, Berharap pria posesif di dekapannya tenang agar mereka bisa berbicara dengan kepala dingin.
"Mau bagaimanapun mereka berdua adalah artisku, artis kita. Sudah kewajiban kita sebagai Manager dan direktur melindungi mereka. Sungguh-….Tak ada perasaan pribadiku untuk mereka, tidak Kai tidak pula Kyungsoo. Aku mengkhawatirkan mereka karena mereka artisku. Hanya itu."
"…"
"Sehun…sehun…"
Luhan menangkup wajah Sehun, dikecupnya lembut bibir yang terus diam karena kesalahannya berbicara.
Luhan terus melumat lembut bibir Sehun, nyaris putus asa karena Sehun tak kunjung membalas ciumannya. "Sehun…"
Dan ketika Luhan memutuskan berhenti, maka disaat yang sama dia merasakan tangan kasar Sehun menahan tengkuknya. Luhan tearsenyum
Sementara Sehun kini mulai mengeksplor bibirnya. Dan sebagai permintaan maafnya maka Luhan dengan senang hati memberikan akses agar lidah mereka bertemu sampai akhirnya posisi Sehun sudah setengah menindihnya.
"hhmm—aah."
Tangan Sehun sudah menelusup kasar di piyama Luhan. Menarik kencang dua tonjolan tak berdosa miliknya hingga bagian paling selatan milik mereka berdua merespon dengan cara masing-masing.
"Sehunaah…"
Luhan sengaja meredakan marah Sehun dengan mendesah, dia memberikan lehernya agar bisa dinikmati Sehun sementara tangan kasarnya sudah bermain di balik celana kebesaran yang digunakannya malam ini.
"Aku tidak suka kau menyebut nama Kai."
Sehun memberi ultimatum dengan tangan yang mengocok kasar penis Luhan, membuat si pria cantik menggelinjang resah namun tak bisa memungkiri bahwa tangan kasar Sehun adalah hal yang sangat dia inginkan saat ini. "Aku—aku tidak—aah…Aku tidak akan menyebut nama Kai lagi—aaah."
"anak pintar."
Dan sebagai reward, Sehun melepas paksa celana piyama milik Luhan. Tersenyum puas karena tangannya dipenuhi precum Luhan sementara bibirnya mencium, menggigit dan memberi tanda di seluruh leher Luhan "aah-…Sehunnn."
Sehun tak tahan, suara desahan Luhan selalu membuatnya bergairah secara berlebihan.
Rasanya tiap kali Luhan mendesah dia ingin berbuat kasar dan membawa nikmat untuk mereka berdua "Lebarkan pahamu."
Luhan mengangguk, rasanya pecuma walau tubuh bagian atasnya masih menggunakan piyama, karena yang dibutuhkan hanya bagian bawah mereka yang polos agar bisa menjemput nikmat bersama.
Dan saat Sehun memintanya melebarkan paha, maka Luhan melakukannya dengan senang hati. Dia juga bisa merasakan benda tumpul besar berusaha menerobos masuk dinding pertahanannya.
Semakin ditekan,
Semakin ditekan,
Lalu
Sleb!
"rrrgh!"
Luhan merespon kuat saat setengah dari bagian Sehun menerobos masuk ke dalam lubangnya. Karena saat dirinya ingin mendesah maka Sehun masih terus mendorong hingga
Sleb!
"Sehuuunn—aargggh!"
Dorongan kedua Sehun memasukkan seluruh kejantanannya di lubang Luhan. Rasanya penuh dan sempit. Karena saat dia mencoba untuk menggerakan pinggul maka Luhan sengaja mengetatkan dindingnya di awal permainan hingga mereka berdua sama gila karena sensasi gairah mereka.
"Jangan ketatkan."
"Kalau begitu gerakan perlahan."
"Kau tahu aku tidak suka lembut."
"Kau lembut saat pertama kali menggagahiku."
Keduanya terdiam, saling menatap sengit sampai
Ha ha ha ha ha
Bahkan disaat kritis dan bergairah mereka masih bisa tertawa. Membuat tanpa sadar Luhan kehilangan pertahanan dirinya hingga Sehun mengambil kesempatan untuk
Sleb…
"Argh!"
Tubuh Luhan membusung ke depan. Rasanya hentakan Sehun terlalu kuat hingga membuatnya gila. Terlalu gila namun dia terus meminta lebih "lagi…Sehun—lagi—ARRGH—angghmmphh.."
Sekejap tak ada lagi perdebatan
Tak ada lagi rasa sakit
Tak ada lagi teriakan
Yang ada hanya suara khas saat dua tubuh menyatu yang diiringi desahan seksi Luhan serta geraman tertahan Sehun.
Dua insan itu terus memadu cinta hingga peluh mulai terlihat.
Dan saat tembakan pertama sudah Sehun lakukan, maka rasanya salah jika melewatkan bagian kedua. Ah ya-…Point utama mereka melakukannya di tempat yang sangat nyaman.
Jadi mustahil Luhan membiarkan Sehun memasuki dirinya sekali karena dia sangat menyukai sensasi lubangnya di penuhi sperma Sehun ketika mereka menjemput nikmat bersama
"aahhh~/ Luhan—mmmpphhh."
"Lelah?"
Sehun masih memastikan seluruh spermanya menembak langsung ke lubang Luhan, dan saat tak ada lagi yang keluar, maka dia mulai berujar lembut dan mengusap peluh si pria cantik "Sangat lelah."
"Baiklah kau boleh tidur. Kita lanjutkan besok malam."
"baiklah."
Sehun merubah posisi lagi, dia berbaring di samping Luhan lalu setengah mengangkat tubuh si mungil untuk berbaring diatas tubuhnya. "Selamat malam." Katanya menarik selimut dibalas ucapan lirih dari si pria cantik yang tenaganya benar-benar habis setelah melayani pria yang luar biasa dengan gairahnya.
"Selamat malam Sehunna."
"Jangan membuat kontak apapun dengan mantan kekasihmu esok hari. Kau dengar?"
"…."
"Luhan?"
"….."
Dan saat wajah malaikat itu tertidur, maka rasanya hati Sehun meleleh melihat bagaimana cantiknya Luhan bahkan saat matanya terpejam. Membuatnya sekali lagi jatuh ke dalam pesona Luhan hingga rasanya tak bisa melihat Luhan bersama pria atau wanita lain bahkan kedua orang tuanya sekalipun.
Ya Sehun inginkan hanya bersama Luhan dan dia akan benar-benar mewujudkan keinginannya dalam waktu dekat "Aku benci ditinggalkan, Tetap tinggal bersamaku, Lu."
.
.
.
.
.
.
Keesokan malam, 20.00 KST
.
.
Sesuai dengan ucapan Sehun, maka benar saja para wartawan hadir di gedung agensi mereka malam ini. Semua terlihat sibuk mempersiapkan konferensi pers yang diadakan Management EXO dengan persetujuan sang CEO –Sehun-.
Dan merasa ini adalah satu-satunya cara membuat benar keadaan, maka Luhan berharap setelah konferensi pers ini berakhir maka sudut pandang yang memojokkan Kyungsoo akan berakhir pula.
Ya setidaknya dengan Konferensi hari ini semua akan jelas untuk hubungannya dan Kai, tak akan ada lagi harapan di hubungan mereka mengingat malam ini, Kai akan mengatakan pada dunia bahwa dirinya dan Kyungsoo memiliki hubungan lebih dari sekedar teman artist dan memngatakan pada dunia bahwa benar calon bayi yang dikandung Kyungsoo adalah darah dagingnya.
"haah-….."
Membayangkannya saja sudah membuat hati Luhan menangis pilu, dia pasti sedih tapi saat tawa keponakan kecilnya terngiang di benaknya maka tak ada alasan untuknya merasa sedih. Karena sebaliknya-...Luhan berharap hubungannya dengan Kai maupun Kyungsoo sedikit menjadi lebih baik setelah kelahiran anak pertama mereka.
"Luhan!"
Yang dipanggil segera menoleh. Mencari tahu siapa yang memanggilnya sampai sosok Minseok yang menggemaskan tengah melambai dan berlari ke arahnya "Hay cutie."
"ish! Jika kau yang memanggilku cute terdengar sangat aneh!"
"Wae?"
Minseok terkekeh, ditariknya kencang pipi Luhan lalu berbisik sangat menyinggung gender Luhan sebagai pria "Karena kau jauh lebih menggemaskan."
"Minseok lepas..."
"Tidak mau. Lulu sayang pasti malu karena para trainee yang mengenalnya sebagai Luhan si Manly kini sedang tertawa menyadari bahwa Manager mereka sangat menggemaskan."
"tidak lucu. Ce-pat le-pas."
Minseok masih terus menarik kencang pipi Luhan, barulah saat sahabatnya mendesis dia tertawa kecil, mengira Luhan hanya menggertak namun tebakannya salah, Luhan mulai menghitung tanda bahwa setelah sampai pada hitungan ketiga dia akan sangat marah dan mulai pada aksi merajuknya
"satu..."
"aigoo. Menggemaskan sekali."
"dua..."
"Aku tidak akan berhenti."
"ti..."
"Sudah kulepas."
"y-YAK!"
Minseok tertawa kencang seraya mengangkat dua tangannya –tanda dia menyerah- dan saat Luhan mulai mendelik kesal menatapnya maka tanpa ragu Minseok merangkul pundak Luhan untuk bersiap melihat konferensi pers yang akan diadakan Management EXO.
"Bagaimana menurutmu?"
"Apa?"
"eyy..Berhenti merajuk kau terlihat semakin menggemaskan."
"Aku tidak merajuk!"
"Bailah baiklah...tuan putri tidak merajuk."
"Apa kau baru saja mengatakan tuan putri."
"Kau salah dengar Lu. Berhentilah bersikap sensitif. Jadi bagaimana menurutmu?"
"Apa?"
"Hatimu."
"huh?"
"Kemungkinan besar Kai akan mengakui bahwa dia memiliki hubungan dengan Kyungsoo. Apa kau siap merelakannya."
Luhan tersenyum pahit, rasanya Minseok tak perlu bertanya bagaimana hatinya atau bagaiamana dia merelakan hubungan Kai-Kyungsoo. Karena nyatanya Luhan sudah mati rasa saat berhadapan dengan mantan kekasihnya.
Tak ada lagi perasaan menggebu atau ingin memiliki seperti dulu kala.
Tak ada gairah atau debaran jantung saat matanya dan mata Kai saling menatap.
Semuanya terasa hambar hari itu-...Hari dimana dia mengetahui Kyungsoo mengandung darah daging dari mantan kekasihnya. Tak ada lagi rasa cinta, yang ada hanya sakit di hati karena nyatanya dikhianati oleh orang yang paling kau cintai adalah hal yang begitu menyakitkan hingga rasanya kau tidak ingin jatuh cinta lagi.
"Kau tenang saja. Hatiku baik."
"ITU KAI!"
Bersamaan dengan jawaban Luhan, maka beberapa wartawa berteriak heboh saat Kai memasuki ruang konferensi.
Luhan memperhatikannya-...Dia melihat bagaimana Kai memasuki ruangan dengan wajah tertunduk.
Sang artis hanya mengikuti petunjuk kemana dia harus duduk dan saat dia mengangkat wajah, maka tak ada kebahagiaan terlihat dari raut wajah mantan kekasihnya. Hanya ada raut wajah yang terlihat lelah, dan sepertinya Luhan bisa melihat bekas lebas di sekitar matanya yang menandakan bahwa Kai benar-benar kelelahan dengan skandal yang tiba-tiba menyeret namanya dan Kyungsoo.
"katakan semuanya dan kau akan merasa lebih baik Kai."
Setidaknya itu yang Luhan katakan ketika matanya dan mata Kai bertemu secara tak sengaja. Membuat keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing hingga terdengar suara dari salah satu staff Management tertinggi EXO yang kini meminta Kai untuk berdiri untuk berhadapan langsung dengan kamera, memberi pernyataan.
"Tentu kalian tahu alasan mengapa aku berdiri disini."
Klik..
Klik..
Sementara beberapa wartawan bertugas mengambil gambar dari sang artis, maka wartawan yang lain sibuk mereka atau menulis pernyataan yang dilontarkan sang artis.
Entahlah...
Sepertinya mereka juga sangat tidak sabar mendengar pengakuan langsung dari Maknae boyband ternama di Seoul dan Asia.
"Aku akan memberi klarifikasi bahwa semua yang kalian dengar dalam satu minggu ini, semua pernyataan yang mengatakan bahwa aku memiliki hubungan dengan salah satu aktor di agensi yang sama denganku, atau bahkan rumor yang mengatakan aku adalah ayah dari calon bayi yang dikandung salah satu teman artisku, itu semua-..."
Luhan bergerak resah di tempatnya, bukan satu atau dua tahun dia mengenal Jongin. Dia sudah mengenal Kai untuk waktu yang lama, jadi ketika mata Kai terlihat tidak fokus, tangannya terus bergerak di mikrofon serta bibir yang terus menggigit kencang maka Luhan tahu bahwa itu adalah kebiasaan mantan kekasihnya jika dia sedang-...berbohong.
"Tidak benar-...Aku tidak pernah memiliki hubungan dengan aktor yang berada satu agensiku denganku. Jadi kabar apapun yang kalian dengar, aku bisa menjamin bahwa itu hanya omong kosong belaka. Terimakasih."
"Jongin-ssi lalu bisa anda jelaskan tentang video viral yang beredar? Video yang mengatakan kau adalah ayah dari calon bayi yang dikandung aktor DO."
"Beri jalan."
"Jongin-ssi harap jawab pertanyaan kami. Jongin-…"
"Beri jalan!"
Dan saat empat pria berbadan besar melindungi mantan kekasihnya, maka klarifikasi malam ini hanya menambah beban untuk semua yang terlibat.
Jongin tidak membuat keadaan menjadi lebih baik, sebaliknya-…Dia kembali menjadi pengecut yang mulai merengek bersembunyi di semua tempat yang bisa melindunginya.
"Luhan.."
Dan saat mereka bertemu jalan, maka Kai memandangnya dengan sangat menyesal sementara Luhan membalasnya penuh benci. Membuat hubungan dua orang yang pernah saling mencintai itu kian renggang seolah tak ada lagi benang yang bisa menyatukan dua hati mereka.
"Brengsek!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BRAK…!
"KAAAI!"
Seluruh yang berada di ruang private EXO cukup terkejut mendengar suara jeritan. Ketiga personel EXO –Kris, Jongdae, Jongin- yang kebetulan berada disana mencari suara siapa yang terdengar marah. Mereka bertanya-tanya siapa yang berteriak sampai sosok Luhan terlihat dengan seluruh amarah yang sangat terlihat di wajahnya.
"Luhan?"
"MINGGIR! AKU PERLU BICARA DENGAN ADIK KALIAN!"
"Lu tenanglah. Kau tidak membuat keadaan menjadi lebih baik, Kai sedang tertekan!"
"Tertekan kau bilang? Jika pengecut itu tertekan lalu bagaimana dengan adikku? KAI!"
"Lu beri Kai waktu, dia akan bicara denganmu secepatnya."
"LEPAS KRIS! AKU HARUS BICARA DENGAN SIALAN ITU! KAI LIHAT MATAKU! LIHAT AKU KIM JONGIN!"
Yang sedang menundukkan kepala perlahan mengangkat wajahnya, mencari dimana mata cantik yang dulu selalu menatap lembut kini menatap sangat marah melihatnya.
Kali ini Kai tidak mengelak, dinikmatinya tatapan benci Luhan yang diam-diam sangat ia rindukan. Dia bahkan sedikit tersenyum sampai tak sengaja bibirnya mengeluarkan suara lirih seraya memohon
"Tinggalkan kami berdua hyung. Aku akan bicara dengan Luhan."
"Kai!"
"Kumohon hyung. Hanya tinggalkan aku dan Luhan."
Kris dan Jongdae saling menatap untuk beberapa saat. Sedikit ragu untuk meninggalkan Kai bersama Luhan sampai yang lebih tinggi akhirnya melepas tangan dari pundak Luhan tanda dia tidak akan lagi melarang dua pria yang pernah menjalin kasih untuk saling bicara satu sama lain.
"Baiklah, kau bisa bicara dengannya."
"Minggir!"
Buru-buru Luhan menghempas tangan Kris, didekatinya Kai yang masih tertunduk sementara dua anggota EXO lainnya kini bergegas memberi ruang untuk Kai dan mantan kekasihnya.
"Kai lihat aku!"
Luhan berjongkok tepat di depan mantan kekasihnya, meminta Kai untuk menjelaskan dan tak hanya diam seperti ini "KAI!"
"Lu."
Suaranya terdengar lirih.
Detik berikutnya Kai memberanikan diri menatap ke dalam mata Luhan. Melampiaskan segala rindu pada kekasih terindah yang pernah dia miliki namun dia sakiti dengan keji.
Air matanya bahkan menetes seiring tangan hangatnya menyusuri wajah Luhan. Menyadari bahwa selama enam bulan mereka berpisah-….Luhan tetap mempesona, seperti biasa.
"Mianhae…"
"Simpan ucapana maafmu! Aku hanya ingin mendengar alasan kau mengelak di depan media? Pikirmu itu tidak akan mempengaruhi Kyungsoo dan calon bayi-…."
"CUKUP!"
"Kai?"
"Jangan bicarakan lagi tentang Kyungsoo atau tentang bayi yang entah milik siapa. Aku tidak bisa mendengarnya Lu, kepalaku sakit. Aku benar-benar sakit."
"Kai…hey hey…Kim Jongin lihat aku!"
Dalam satu gerakan Luhan menangkup wajah mantan kekasihnya, untuk beberapa detik dia seperti tersihir karena kerinduannya pada sang mantan kekasih. Hanya sedetik
Karena saat mata mereka bertemu, maka Luhan dibuat sadar bahwa pada akhirnya, sejauh apapun dia mempertahankan Kai di masa lalu, dia hanya akan terus kehilangan dan merasa sakit.
Membuat pria yang lebih cantik segera menguasai diri sebelum fokus pada hal yang dia tanyakan "Apa yang kau bicarakan? Bukankah kau mencintai Kyungsoo? Lalu apa alasanmu mengelak perihal buah hati kalian? Apa yang membuatmu-….."
"AKU MERASA BERSALAH PADAMU!"
"huh?"
Kai membalas menangkup wajah Luhan, sedikit memaksa agar mata mereka bertemu lalu memberi tatapan begitu menyesal pada pria yang pernah mengisi hidupnya selama lima tahun "Sekarang aku tahu alasannya Lu."
"Alasan?"
"Ya! Alasan kau mengakhiri hubungan kita, alasan kau menolak menatapku lagi, alasan mengapa kita berjauhan. Aku tahu semuanya sayang. Aku tahu kau melakukan ini karena kebohongan yang Kyungsoo lakukan. Dia tidak mengandung anakku, bisa saja itu anak pria lain atau anak direktur Park-…Entahlah aku akan membuktikan kalau itu bukan anakku. Kau dengar? Setelah aku membuktikannya aku janji akan kembali padamu. Kita bisa bahagia seperti dulu sayang –tidak- aku akan segera menikahimu Lu."
Hal pertama yang Luhan tunjukkan sebagai respon adalah tertawa sengit, lalu tak lama tawanya berubah menjadi geraman hingga dari bibirnya terucap kata yang sangat mendeskripiskan Kai saat ini.
"Gila."
"Tidak sayang-….Aku benar-benar sadar mengatakan hal ini. Aku akan kembali padamu setelah membuktikan jika aku tidak terlibat, aku akan-…."
"cukup."
"Aku akan mengenalkan dirimu pada dunia, mengenalkan Xi Luhan adalah kekasih Kim Jongin. Aku akan-…."
"cukup."
"Aku akan membawamu pergi dari pria mengerikan seperti adik tirimu, Do Kyungsoo!"
"KAI!"
Keduanya saling menatap saat ini, untuk Luhan rasanya dia tidak menyangka pernah menjalin hubungan dengan pria yang begitu pengecut dan tidak bertanggung jawab seperti Kim Jongin.
Dia bahkan harus dibuat menelan pahitnya rasa kecewa karena sama seperti Kyungsoo, maka Kai juga tidak menginginkan calon buah hatinya. Hal ini kerap memicu kemarahan Luhan yang lain, digenggamnya kasar tangan Kai untuk menyadarkan pria pengecut di depannya bahwa janin yang berada di perut Kyungsoo adalah benar darah dagingnya.
"Dia anakmu."
Kai menggeleng sebagai respon, dia terus menangkup wajah Luhan tapi Luhan mengelak. Dan saat tangannya berhasil menahan tengkuk Luhan maka terpaksa Luhan harus mendengarkan omong kosong milik mantan kekasihnya.
"Dia bukan anakku, percayalah."
"Aku mengenal Kyungsoo lebih baik darimu, dia hanya menangis karena dua hal, pertama karena merindukan ibunya dan kedua karena dia tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Jadi ketika dia menangis saat mengatakan itu adalah anakmu, maka yang harus kau ketahui bahwa bayi kecil itu benar adalah darah dagingmu Kai."
Sret…!
Luhan menghempas kasar tangan mantan kekasihnya, menatap sengit pada pria tampan yang terus mengelak pada kenyataan pahit yang telah terjadi dan dia lakukan
"Belajarlah menjadi pria dewasa, berhenti bersembunyi karena aku muak melihatnya."
"Lu…"
"Dan satu lagi-….Kau juga harus belajar menerima Kyungsoo dan calon buah hati kalian, karena suka atau tidak-….Dia adalah anakmu, darah dagingmu, dosa yang kau hasilkan karena menghianati cinta kita Kai, jadi bersikaplah selayaknya ayah dan kekasih yang layak untuk Kyungsoo dan-…."
Sret…!
Sesaat pikiran Luhan menjadi kosong
Pandangannya gelap
Dia juga menggeram lirih saat Kai menarik kasar pergelangan tangannya.
Dan detik berikutnya Luhan merasa bibirnya basah, sesekali dia merasa perih karena pergerakan di bibirnya hingga dia sadar bahwa saat ini Kai sedang
Menciumnya…
"Sial!"
Luhan menggeram murka, dipukulnya dada Kai agar menjauh namun percuma. Dia juga sudah menggerakan kepalanya ke segala arah namun Kai menahan kuat tengkuknya.
Tak ada rasa apapun selain perih saat bibir Kai bergerak kasar di permukaan bibirnya. Luhan bahkan dibuat merintih kesakitan tatkala bibir Kai menggigit kencang bibir bawahnya hingga
Akh…
Rasanya begitu perih hingga mulut Luhan terbuka, barulah saat bibir Luhan merintih sakit Kai semakin kasar bergerak di rongga mulut Luhan. Terlalu kasar hingga rasanya kepala Luhan sakit karena terlalu marah.
BLAM!
Dalam ciumannya Luhan terkesiap mendengar suara seseorang membanting pintu, dia pun menoleh. Berusaha meminta tolong pada siapapun yang datang sampai
"tidak…"
Pikirannya kosong mengenali punggung tegap yang kini meninggalkan ruangan.
Luhan panik. Terlalu panik
Kepalanya semakin sakit menyadari bahwa pria yang belum lama membanting pintu adalah pria yang sama yang diam-diam begitu ia puja dan selalu menjaganya selama tiga bulan terakhir.
"Sehun…"
"argh—Kai—LEPAS!"
Baru kali ini dia merasa sangat dilecehkan, dan ketika Kai berusaha membelit lidah mereka maka Luhan –dengan seluruh tenaga- yang dimilikinya mencakar lengan mantan kekasihnya, gerakan berikut dia gunakan untuk mendorong kasar tubuh Jongin lalu tak lama
PLAK!
"BAJINGAN KAU KIM JONGIN!"
Nafas Luhan tersengal, bibirnya masih begitu perih karena gerakan bibir Kai yang sangat kasar.
Luhan ketakutan, dia sangat bingung tak tahu harus melakukan apa. Kakinya lemas dan pikirannya kosong. Dan ketika dia berusaha mengingat maka dalam satu kedipan mata dia menyadari bahwa belum lama tadi Sehun melihatnya berciuman dengan Kai.
"Sehun!"
Buru-buru Luhan menghapus air matanya. Dia juga memberikan tatapan sengit pada Kai lalu berlari mengejar Sehun untuk menjelaskan kesalahpahaman yang dilihatnya beberapa saat lalu.
"dimana kau-…dimana-….Sehun!"
Sang CEO sedang berjalan lurus menuju lobi utama, membuat manager berparas cantik itu begitu panik lalu memutuskan untuk berlari menuruni tangga.
Dia terus berlari hingga tangannya berhasil menggapai lengan direktur tertinggi dari perusahaan tempatnya bekerja
"SE—hah—hah—Sehun dengarkan aku. Kau salah paham."
Yang diajak bicara hanya menaikkan satu alisnya –tanda dia murka- namun menyembunyikan dengan sikap dingin khas seorang Oh Sehun, membuat keberanian Luhan untuk bicara tiba-tiba menghilang digantikan suara sinis dari direktur pemilik OSH'ent
"Apa yang harus kau jelaskan Manager Xi?"
"Manager Xi?"
Jika Sehun sudah memanggil jabatannya di agensi, maka rasanya mustahil untuk bisa bicara secara baik dengan Sang direktur, membuat Luhan sedikit mengerti namun tak menghalangi niatnya untuk menegaskan pada Sehun bahwa dia hanya salah paham.
"Aku bisa menjelaskan apa yang terjadi denganku dan Kai direktur Oh. Aku bisa-….."
"Pikirmu aku peduli?"
"huh?"
"Kenapa kau harus menjelaskan hal tidak pantas yang kalian lakukan dikantor padaku?"
"Aku hanya-…."
"Apa kita memiliki hubungan?"
Deg…!
Jika seorang Oh Sehun sedang murka karena miliknya disentuh, maka ucapannya sama sekali tak bisa dia kendalikan-….Sehun sendiri mengetahuinya.
Jadi ketika hatinya panas melihat Luhan berciuman dengan bajingan yang merupakan penghasil terbanyak untuk agensinya maka rasanya Sehun ingin membunuh pria itu dengan cekikan tangannya. Ingin sekali-…..Sampai bajingan itu benar-benar kehabisan nafas lalu mati dan tak bisa menyentuh Luhan "nya" lagi.
"Jika ingin memadu kasih dengan pria pujaan hatimu, lakukan di tempat tertutup manager Xi. Jangan sampai seseorang melihat lalu membuatnya geram hingga rasanya ingin membunuh pria yang menyentuh MILIKNYA! Aku pergi!"
Sehun sengaja menabrak bahu mungil Luhan, membuat Luhan sedikit terhuyung bahunya terasa sakit namun tidak sesakit hatinya.
Entahlah…
Dibanding ciuman Kai-….Pertanyaan Sehun mengenai "apakah kita memiliki hubungan"-…. jauh lebih membuat Luhan sakit.
Dan daripada Kai pula-….Rasanya Luhan ingin menampar Sehun dan mulut sialan yang selalu berujar sesukanya.
Dia tahu Sehun marah karena Kai menciumnya, tapi tidak bisakah mereka bicara baik-baik?
Tidak bisakah kedudukan dikesampingkan jika dia benar-benar cinta?
Beberapa pertanyaan itu bahkan terus mengganggu Luhan. Terlalu mengganggu sampai rasanya dia ingin menyerah dan tidak mempedulikan marahnya seorang Oh Sehun.
Tapi apa bisa Luhan tidak peduli?
Jawabannya tidak.
Karena semakin dia mencoba untuk tidak peduli, maka pria arogan dengan sifat cemburu yang luar biasa menjengkelkan itu akan semakin menjauh. Semakin menjauh dan Luhan-…..dia tidak menyukai jika Sehun berada jauh darinya.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
.
.
.
Akhirnya….
Pasti rata2 bilang gitu yak kwkwkwk *pede…
,
Hamdalah gue udah sehat, kemaren emg lagi atit. Kebanyakan saur kayanya :p
.
Gue ga ilang apalagi hiatus tenang. Gue Cuma tidur sampe bosen dan akhirnya gatel pen up!
Sehat2 ya kalian juga….
.
Makasih yang udah mencoba mengerti, setengah mengerti dan yang ga ngerti juga ada wkkwwk.
,
karena Sometimes. KalianlebihgemesindariLuhan *tapi boong :*
.
Seeyounext :*
