Previous

.

Aku bisa menjelaskan apa yang terjadi denganku dan Kai direktur Oh. Aku bisa-….."

"Pikirmu aku peduli?"

"huh?"

"Kenapa kau harus menjelaskan hal tidak pantas yang kalian lakukan dikantor padaku?"

"Aku hanya-…."

"Apa kita memiliki hubungan?"

Deg…!

Jika seorang Oh Sehun sedang murka karena miliknya disentuh, maka ucapannya sama sekali tak bisa dia kendalikan-….Sehun sendiri mengetahuinya.

"Jika ingin memadu kasih dengan pria pujaan hatimu, lakukan di tempat tertutup manager Xi. Jangan sampai seseorang melihat lalu membuatnya geram hingga rasanya ingin membunuh pria yang menyentuh MILIKNYA! Aku pergi!"

Sehun sengaja menabrak bahu mungil Luhan, membuat Luhan sedikit terhuyung bahunya terasa sakit namun tidak sesakit hatinya.

Entahlah…

Dibanding ciuman Kai-….Pertanyaan Sehun mengenai "apakah kita memiliki hubungan"-…. jauh lebih membuat Luhan sakit.

Dan daripada Kai pula-….Rasanya Luhan ingin menampar Sehun dan mulut sialan yang selalu berujar sesukanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

A' Friends Betrayal

Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo

Genre : Drama

Rate : M / NC!/

.

.

.

.

.

.

"tapi kau salah paham."

"Siapkan mobil!"

Tangan Luhan terkepal erat, nyatanya pertanyaan Sehun cukup membuat hatinya terbakar sakit. Mereka sudah melakukan banyak hal, Luhan bahkan sudah menyerahkan sebagian besar hatinya pada Sehun. Lalu apakah pantas pertanyaan memiliki hubungan ditanyakan dalam kesalahpahaman konyol ini?

Tidak-….Itu sangat tidak pantas.

Lagipula Luhan enggan disakiti atau dicampakan lagi hatinya. Dia enggan menangis seorang diri lagi, jikalaupun Sehun benar-benar marah dan tak mau mendengarkan, atau jika Sehun benar-benar menganggap mereka tidak memiliki hubungan maka rasanya dia tidak akan menyesal untuk melakukan "pertahanan diri" yang tidak pernah dia lakukan pada Kai sebelumnya.

Cklek…

BLAM…!

Saat supirnya membukakan pintu belakang mobil, maka disaat yang sama pula seseorang kembali menutup kasar pintu mobilnya. Membuat suasana benar-benar menjadi tegang ditambah panas hati kedua pemeran utama yang semakin membakar suasana.

"Apa yang kau lakukan?"

Yang lebih tampan mendesis, dan di setiap tatapan yang dia berikan hanya ada pandangan meremehkan tanpa mau mendengarkan, berbeda dengan yang terlihat lebih cantik. Dia terlihat sangat kelelahan hingga rasanya muak selalu disakiti hanya karena diamnya. "Jangan pergi sebelum aku selesai menjelaskan."

"Menjelaskan apa? Bukankah sudah aku katakan aku tidak peduli? Kita pergi Paman Kim."

Kriet….

Luhan sangat marah, digenggamnya kuat knop mobil Sehun hingga si pemilik mobil melihat warna merah di jemari pria yang sudah hampir enam bulan ini benar-benar mencuri hatinya "Apa yang kau lakukan? Tanganmu bisa-…."

"KALAU BEGITU DENGARKAN AKU!"

Sehun cemas, kini tak hanya tangan Luhan namun wajahnya juga berwarna merah, dia bahkan terus berteriak menyakiti kerongkongannya hingga urat di sekitar lehernya begitu terlihat.

"Bagaimana bisa kau pergi meninggalkanku seperti ini? Pagi tadi kau masih membuatku tertawa, lalu apa hakmu membuatku menangis di penghujung hari?"

"Berhenti bicara omong kosong, tanganmu bisa terluka Manager Xi!"

"Aku tidak peduli! Sekalipun tanganku patah atau berdarah aku tidak peduli! Yang aku pedulikan hanya dirimu! Dengarkan aku sejenak sebelum menyesal!"

"Menyesal? Kenapa aku harus-..."

"KARENA KAU SALAH PAHAM! Sungguh-...Tidak ada yang terjadi antara aku dan Kai. Kau hanya salah mengerti dan aku lelah menjelaskan."

Sehun menghela nafasnya, pandangan meremehkan yang ditujukannya sedari tadi perlahan berganti menjadi tatapan sendu dan sangat menyesal.

Tangannya yang sedari terkepal karena cemburu mulai perlahan terbuka. Sehun juga sudah mengangkat tangannya tanda ingin memeluk pria mungil yang mencuri hatinya.

Kakinya sudah selangkah lebih dekat namun sial-...Tubuh Luhan ditarik kencang oleh seseorang.

Sehun terkesiap, detik berikutnya matanya bertemu pandang dengan mantan kekasih Luhan. Keduanya bertatapan sengit dengan cara masing-masing.

Jika tatapan Sehun seolah mengatakan lepaskan Luhan

Maka Kai membalas tatapan sang CEO dengan mengatakan dia bukan milikmu.

"Maaf mengganggu waktumu Presdir Oh. Tapi Luhan bersamaku."

Deg!

Jika Sehun dan Kai saling bertatapan sengit, maka yang paling mungil terlihat sangat gugup. Dia sangat mengetahui dan hafal akan lengan yang melingkar di pinggangnya.

Aroma tubuh yang memaksa hidungnya untuk mencium secara berlebihan.

Kai-...Ini Kai!

Sontak tubuh Luhan merespon dengan cepat. Dia menolak seluruh kontak fisik dengan mantan kekasihnya. Dia bahkan meronta dipelukan Kai namun apadaya semua keterkejutannya adalah awal bencana dari ketidakberdayannya akan kekuatan Kai.

"tidak-...Jangan lagi Kai!"

Sesaat keadaan benar-benar kacau.

Kaki Sehun juga sudah melangkah murka ingin merebut si mungil dari pria sialan yang mendekap Luhan seolah Luhan miliknya.

"Anda bisa pergi direktur. Aku akan membawa Luhan bersamaku!"

"Kailepasss!"

"Ssstt tenang Lu. Kau bersamaku! Aku disini sayang."

"tsk! Kau memanggilnya sayang setelah menghamili adiknya? Dimana wajahmu HAH?"

"brengsek!"

"KAI CUKUP! Kumohon jangan-...KITA PERGI!"

Sehun atau Kai-…..Entah siapa yang terlihat sangat mengerikan jika marah. Tapi untuk Luhan, dia mengenal Kai lebih lama, dia juga tahu hal gila apa yang akan dilakukan mantan kekasihnya jika terlalu cemburu atau seseorang mengusik hidupnya.

Demi Tuhan jika bukan karena statusnya seorang idol, Luhan tidak akan pernah mempedulikannya lagi! Tapi kemudian apa? Kai hanya akan membuat keributan tanpa menghiraukan statusnya sebagai idol atau status Sehun sebagai atasannya.

"KAU TIDAK MENGETAHUI APAPUN TENTANGKU WAHAI DIREKTUR OH YANG AGUNG!"

"Kai aku bilang cukup!"

"PIKIRMU AKU SETEGA ITU PADA LUHAN? AKU MENCINTAINYA! KAU DENGAR? AKU MENCINTAI LUHAN DAN LUHAN HANYA MILIKKU!"

Sehun tergoda-...Sangat tergoda untuk membunuh artis sialan yang tumbuh besar dibawah naungan ayahnya. Hatinya sepanas neraka yang bisa mendidih dan membunuh siapapun yang mendekat.

Terlebih ketika keadaan berbalik untuk sepasang kekasih sialan di depannya, Luhan kini sibuk menenangkan mantan kekasihnya dan hanya memberinya punggung yang terlihat ketakutan.

"Kami akan segera pergi Presdir Oh. Aku akan membawanya pergi!"

Buru-buru Luhan mencari mata Sehun, memohon agar pertengkaran mereka disudahi untuk berbicara di lain waktu.

Namun alih-alih mendengarkan, Sehun justru membuang muka. Dia juga mengatakan kalimat keji seraya masuk ke dalam mobilnya.

"Aku muak melihat kalian!"

"Ya sebaiknya kau muak Presdir Oh. Baiknya kau muak dan jangan pernah dekati Luhan lagi, jangan pernah mencobanya walau hanya-..."

"KIM JONGIN!"

Setidaknya racauan gila yang terus Kai ucapkan seketika terhenti. Nyatanya pula Luhan tidak melihat harapan di tatapan Sehun, hanya ada kebencian di tatapan pria yang selalu ada ketika dia membutuhkan.

"Sehun bisakah kita bicara lain waktu. Bisakah-..."

"Jalan!"

Tanpa menatap Luhan, Sehun menutup kasar pintu mobilnya. Memberi perintah pada pelayannya untuk segera menjalankan mobil sementara Luhan masih terus berusaha.

"Sehun!"

Brrrmmmm...

Berbanding terbalik dengan suara lirihnya, maka mobil Sehun melaju pesat bersamaan dengan air mata Luhan.

"Jangan pergi!"

Tak ada lagi malam hangat bersama Sehun, karena setela ini pastilah hanya sepi yang menggerogoti hatinya.

"Lu, sayangku. Aku akan-..."

PLAK!

Maka disinilah Luhan, melepas amarahnya yang sedarin tertahan di ujung nafas, dia tidak pernah begitu sakit seperti malam ini. Biasanya dia hanya cenderung diam tanpa mau membagi perasaan gundahnya.

Berbeda dengan malam ini, dia merasa Kai mengambil keseluruhan harapannya untuk berbahagia. Kai merenggutnya –lagi- dan itu cukup membuat Luhan murka dan tak bisa lagi berbaik hati.

"Kenapa kau terus mengganggu hidupku?"

"Luhan…"

"Apa salahku sampai kau setega ini padaku Kai! Kau mencampakan aku, lalu kini kau menghancurkan satu-satunya harapanku untuk bahagia!"

"Lu sadarlah! Dia kekasih Baekhyun, sahabatmu. Kau tidak bisa-….."

"AKU CUKUP SADAR MENYUKAI SEHUN! AKU CUKUP SADAR MENCINTAI KEKASIH SAHABATKU SENDIRI! AKU SADAR MERASAKAN CINTA YANG HARUSNYA TIDAK AKU RASAKAN, SAMA SEPERTI KAU DAN KYUNGSOO!"

"Sayang.."

"CUKUP KAI! JANGAN MEMBUATKU SEMAKIN MUAK!"

"Aku tahu kau masih mencintaiku Lu, beri aku satu kesempatan lagi dan aku akan memperbaiki semuanya-…..kumohon…"

"Lalu apa?"

"huh?"

"Setelah aku memberimu kesempatan lalu apa? Pikirmu aku akan membuat keponakanku lahir tanpa seorang ayah? Atau buruknya-….Saat dia dewasa nanti dia akan mengetahui bahwa ayahnya adalah kekasih pamannya sendiri. Apa yang kau pikirkan Kai? Sadarlah!"

"Dia bukan anakku. Sungguh-…."

"DIA DARAH DAGINGMU!"

Hening…..

Air mata Luhan

Kemarahannya

Kesedihannya

Kehancurannya

Semua mewakili ketegangan yang terjadi saat ini, Dia kelelahan karena dua pria yang sama-sama memiliki tempat di hatinya. Tapi ketika yang satu mengakhiri hubungan mereka sementara yang satu kembali menariknya ke jerat menyesakan, maka sungguh, dia menyerah.

Mimpinya untuk berbahagia bersama dengan pria lain yang dia cintai sepertinya pupus. Tak ada lagi Sehun untuk hari esok, yang ada hanya kebencian dan entah bagaimana bertemu dengannya setelah malam ini.

"Setelah ini jangan pernah temui aku lagi."

"Lu…."

"Aku serius Kai. Dan satu lagi-…Kau bilang aku masih mencintaimu? Kau salah Kai, terlalu salah. Disini-….!" Luhan memukul kencang dadanya sementara matanya menatap Kai penuh rasa kecewa "Di hatiku, kau sudah tiada." Ujarnya sengit lalu tak lama pergi meninggalkan sang mantan kekasih yang direndung kesedihan.

Air mata Kai terus menetes mengingat tak hanya karir, namun kisah cintanya juga hancur bersamaan dengan pernyataan terlampau tegas dari pria yang hingga kini masih sangat ia cintai.

"Luhan, sayangku…"

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan pagi, 09.00 KST

.

.

TAP!

TAP!

Tak ada yang paling menakutkan dari seorang manager selain kenyataan bahwa atasan mereka meminta data terbaru mengenai pemasukan, pengeluaran, serta profit yang dihasilkan para artis secara mendadak.

Tak ada persiapan.

Mereka juga bertanya-tanya mengapa CEO muda mereka yang biasa dikenal ramah dan selalu tersenyum dari awal kedatangannya menjadi sangat mengerikan pagi ini.

"Kumpulkan seluruh pemegang saham, staff direksi, serta seluruh manager ke ruang rapat! Aku ingin melihat laporan pemasukan dan pengeluaran dalam setahun!"

Begitulah perintah sang CEO satu jam lalu.

Dan terhitung satu jam yang semakin menipis, maka beberapa manager yang berhubungan langsung dengan angka untung-rugi perusahaan adalah yang paling panik dan ketakutan saat ini.

"Malam tadi moodnya masih sangat bagus. Tapi kenapa pagi ini dia sangat mengerikan."

Luhan –Manager sumber daya artis- mendengar gerutuan panik dari seniornya, Lee Hyunwoo –Wakil manager keuangan- yang terlihat sangat kewalahan karena rapat dadakan seluruh anggota direksi pagi ini.

"Sunbae, aku bisa membantumu."

Luhan menawarkan diri untuk membantu. Dia bahkan tersenyum pahit menyadari semua Mad mood sang CEO adalah karena kesalahpahaman dengannya malam tadi.

"Tidak perlu Lu, aku rasa kau juga harus menyiapkan diri. Sepertinya dia akan menyerang seluruh manager pagi ini!"

"ya aku rasa begitu."

"Kalau begitu kita harus segera ke ruang rapat, jangan sampai dia lebih dulu berada disana. Aku pergi lebih dulu, sampai bertemu disana Lu."

Luhan membungkukan tubuhnya sekilas, membiarkan seniornya pergi sementara dia masih terlalu takut menebak apa yang akan dibahas dari rapat dadakan seniornya.

"Lu kau sudah mempersiapkan seluruh dokumen yang dibutuhkan?"

Kali ini giliran sahabatnya yang bertanya, Luhan hanya menoleh sekilas lalu menggeleng sebagai jawaban "Aku hanya perlu membawa diriku kesana, Xiu."

"huh?"

Luhan tertawa kecil, dia kemudian merangkul pasrah pundak Xiumin untuk mengatakan "Didalam sana, dia hanya akan menyerang diriku."

"Apa maksudmu?"

"Kau akan melihatnya sendiri."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BLAM….!

"APA SEMUA SUDAH BERKUMPUL?"

Bersamaan dengan pintu ruang rapat yang dibanting.

Suara yang berteriak seperti memaki

Dan tatapan mengerikan sang CEO, maka seluruh peserta rapat berani menebak bahwa apapun yang akan terjadi pagi ini, adalah sebuah kesialan.

Luhan terutama….

Ketika matanya mencoba menatap pria yang sudah dia rindukan kurang dari dua puluh empat jam, maka hanya tatapan sengit yang didapatkan sebagai balasan ketika mata mereka tak sengaja bertemu pandang.

"Ya Presdir Oh."

"Bagus." Katanya menyeringai lalu menarik kursi singgasananya. Menatap marah pada satu orang namun melampiaskan pada seluruh manager dan dewan direksi hanya bisa bergerak resah menanti agenda rapat pagi ini.

"Wakil Manager keuangan Lee Hyunwoo!"

"Ya Presdir Oh!"

"Berapa kerugian pasar saham karena kasus yang sangat ramai di media?"

Yang ditanya terlihat gugup di depan laptop, mencari angka yang diminta Sehun untuk menjawab kerugian yang dialami OSH'ent "Saham kita menurun sampai ke angka 20% Presdir Oh."

"Laba bersih yang didapatkan?"

"Tidak sampai setengah dari pendapatan bulan lalu."

"ha ha ha…."

CEO muda itu tertawa –namun seluruh tatapannya membunuh penuh kemurkaan- dia terkadang hanya fokus pada satu orang –Luhan- namun terus mengalihkannya hingga

BRAK!

"LALU KENAPA KALIAN HANYA DIAM!"

Sontak seluruh manager –tak terkecuali Luhan- berjengit di tempat mereka masing-masing. tak ada yang berani menatap kemarahan sang pemilik agensi walau sejujurnya mereka menyimpan tanda tanya besar atas kemarahan yang ditunjukkan Sehun pagi ini.

Kenapa?"

Terhitung sudah hampir delapan bulan Sehun memimpin agensi ayahnya. Dan selama delapan bulan itu sang CEO terkenal ramah serta tidak pernah memaksa para artisnya untuk mendapatkan profit lebih dari kesanggupan mereka sebagai manusia.

Sehun juga terkenal tidak pernah membahas angka keuntungan dan kerugian yang dihasilkan, berbeda dengan pagi ini ketika dia memiliki alasan untuk menjatuhkan seseorang maka dia menggunakan kekuasaanya sebagai "pemimpin."

"Lalu bagaimana rencana kalian?"

"…."

"Kenapa tidak ada yang menjawab?"

"Presdir Oh."

Sehun tersenyum mengerikan, dilihatnya Direktur sumber daya artis yang bekerja langsung membawahi Luhan dan seluruh staff sumber daya artis "Ya Direktur Jang."

"Saya rasa ini kerugian yang ditimbulkan karena masalah dua artis papan atas kita yang baru saja terkuak."

"Lalu?"

"Lalu saya rasa ini adalah saatnya untuk menarik perhatian dengan sesuatu yang baru."

"Apa idemu Direktur Jang."

"Kita bisa mendebutkan delapan artis yang ditemukan oleh Manager Xi. Saya rasa mereka sudah lebih dari siap untuk dikenalkan pada publik."

Luhan secara refleks merespon, dia menatap marah pada atasan sialannya untuk buru-buru mengangkat tangan, menyuarakan protesnya

"tidak! SAYA KEBERATAN PRESDIR OH!"

Kini mereka tak memiliki alasan lagi untuk tidak saling melihat, karena saat Luhan menyuarakan keberatannya maka rasanya ini adalah hal yang ditunggu Sehun untuk bisa melihat langsung dua mata rusa yang membuatnya terus gila malam tadi, dia bahkan tak perlu mencuri lihat karena saat ini matanya dan mata Luhan sedang bertemu pandang.

"Keberatan? Apa alasanmu Manager Xi?"

Luhan menghela dalam nafasnya, dia jelas sangat benci pada pria tua yang selalu berusaha mencuri artisnya, jadi ketika si pria tua mencoba mengambil kesempatan maka Luhan bersumpah akan melindungi seluruh artisnya sesuai dengan kontrak yang mereka tanda tangani.

"Karena itu melanggar kontrak management dengan para artis. Mereka akan siap debut sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani. Lagipula mereka belum memiliki konsep untuk debut."

"Kita bisa memberikan konsep EXO dan Kyungsoo untuk para artis baru."

"KEBERATAN / ITU TIDAK BISA TERJADI PRESDIR OH!"

Kini manager EXO –Lee Seunghwan- dan manager Kyungsoo –Lee Kwangsoo- ikut menyuarakan protes mereka. Bagaimana bisa kesuksesan artis mereka ditukar dengan para trainee baru yang bahkan belum diketahui publik?

Membuat dua manager artis papan atas OSH'ent menyuarakan keberatan mereka sebagai wakil dari Management masing-masing artis.

"Apa alasan kalian?"

"Comeback EXO sudah di depan mata. Mereka juga sudah menyiapkan konsep dan sudah menetapkan tanggal. Jadi saya kira mustahil untuk memberikannya pada trainee baru." Ujar Seunghwan ditimpali Kwangsoo dengan serentetan kalimat yang sama "Begitupula dengan Kyungsoo, Presdir Oh. Comeback Solonya cukup dinanti mengingat kesuksesan film hyung yang dia bintangi bersama Jo Jungsuk sangat diminati penggemar."

"Lalu kenapa kalian tidak menjaga artis kalian dengan baik? Kenapa mereka harus memiliki skandal yang sangat memalukan."

"Kami minta maaf atas kelalaian kami, tapi tidaklah bijak jika anda menukar konsep milik artis senior dengan trainee baru yang belum dikenalkan pada publik."

"Kalian—!"

Hal ini cukup memicu kemarahan Sehun, tiga managernya sekaligus menyuarakan keberatan mereka tanpa memberi solusi. Membuat dua tangannya kembali terkepal dan tak lama

BRAK!

"BERANI SEKALI KALIAN MENYUARAKAN KEBERATAN SEMENTARA ARTIS KALIAN ADALAH PENYEBAB DARI SEMUA KERUGIAN OSH ENT!"

Kedua manager itu sama-sama terdiam di tempat mereka, berbeda dengan Luhan-….Dia masih mengangkat wajah tanda bahwa semua keberatan yang disuarakan adalah benar sesuatu yang harus diperjuangkan "Kami akan mencari jalan keluarnya Presdir Oh!"

Matanya kembali menatap manik Luhan. Mempelajari bahwa ada kesungguhan disana sampai dia merasa muak karena Luhan memang tidak pernah mendengarkannya dari awal "Menarik. Apa rencanamu untuk mengembalikan 20% saham yang terbuang?"

"Saya belum mengetahuinya. Tapi saya berjanji untuk melakukan segala cara untuk mengembalikan kerugian yang ditimbulkan Kai dan Kyungsoo. Hanya beri aku sedikit waktu Presdir Oh!"

"Berapa waktu yang kau butuhkan? "

Luhan diam-…..Jujur ini hanya emosinya semata.

Dia tidak memiliki rencana, tidak pula memiliki keyakinan.

Tapi ketika Sehun terus mendesaknya maka berapa waktu yang dibutuhkan terdengar sangat mengerikan untuk Luhan "Manager Xi…."

"…."

"Lihat! Kau bahkan tidak memiliki rencana tapi berniat mengembalikan kerugian."

"….."

"Satu bulan."

Luhan kembali menatap Sehun, bertanya-tanya maksud dari Satu bulan yang diucapkan Sehun, sampai sang CEO berbaik hati menjelaskan –walau sedikit keji-

"Aku akan memberikan waktu satu bulan. Jika kau sama sekali tidak bisa mengembalikan bahkan satu persen dari kerugian yang kita dapatkan, maka dengan terpaksa aku akan membatalkan comeback EXO dan Kyungsoo sebagai kompensasi atas pandangan buruk masyarakat."

"Presdir Oh! / tidak mungkin."

Berbeda dengan Kwangsoo dan Seunghwan terlihat cemas karena keputusan Sehun, maka diam-diam tangan Luhan terkepal erat. Matanya menatap tak gentar mata Sehun yang begitu picik menggunakan kekuasannya, dia terus melihat sang CEO dengan batin bergemuruh menyatakan bahwa

Inilah perang sesungguhnya.

Perang yang entah sejak kapan mereka mulai, tapi Sehun melakukannya.

Satu bulan seolah menjadi penentu apakah dia bisa menyelamatkan karir mantan kekasih dan adik tirinya atau justru sebaliknya, dia akan menghancurkan karir dua orang yang sangat dicintainya.

Entahlah….

Luhan tidak tahu bagaiamana satu bulan ini dia akan mengembalikan kerugian perusahaan sebesar OSH ent'. Yang dia lakukan hanya menatap tanpa ekspresi pria yang dua hari lalu masih menghangatkan hati dan tubuhnya untuk berbalik memberikan seluruh rasa dingin padanya.

"Satu bulan-….Saya menerima waktu yang anda berikan."

Sehun tergelak, dia sama sekali tak menyangka Luhan akan menyanggupi tantagannya.

Ini gila….

Profit 5% saja baru bisa memakan waktu sampai delapan bulan. Itu pun terjadi ketika dua boyband/girlband yang cukup memiliki nama melakukan comeback bersamaan. Lalu apa yang akan Luhan lakukan dengan 20% dan satu bulan yang dia berikan?

Membuat Sehun benar-benar merasa diremehkan namun tak bisa menutupi rasa cemas dengan seluruh rencana yang ada di kepala kecil pria mungilnya "Lalu apa harga yang akan kau bayar jika gagal mendapatkan profit?"

"Saya akan mengundurkan diri."

Suaranya berat,

Ini pekerjaan yang sangat dicintainya.

Tapi ketika tak adalagi kenyamanan dan hanya tekakana yang diterimanya, maka rasanya keputusan berhenti adalah yang paling tepat saat ini.

"Baiklah. Selalu ada harga yang harus dibayar. Baiknya kau berhasil Manager Xi, karena jika kau gagal, maka tak hanya dirimu yang kehilangan pekerjaan, tapi Kyungsoo atau Kai atau mungkin seluruh trainee yang kau rekrut akan kehilangan mimpi dan pekerjaan mereka! CAMKAN ITU!"

Bersamaan dengan caci maki Sehun, Luhan memejamkan mata

Setelah dua jam menyiksa barulah dia merasa lelah. Dan ketika Sehun berjalan angkuh meninggalkan ruangan, maka rasanya Luhan baru bisa bernafas karena sedari tadi dia hanya bernafas seperlunya.

"haaah-…."

"Lu! Kau baik-baik saja kan?"

Dia mengelak saat Xiumin menepuk pundaknya, yang dia lakukan hanya meletakkan kening dia atas meja sementara tangannya memukul dadanya yang terus berdenyut sakit. Luhan terus memukul kencang kuat dadanya, sesekali air mata ikut terjatuh diiringi kalimat yang menyatakan dia sangat kesakitan.

"Rasanya hatiku ingin meledak, ini terlalu sesak."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"OH SEHUN!"

Berita rapat di OSH'ent pagi ini, sudah terdengar sampai ke telinga direktur kedua JYC'ent. Dan seperti disambar petir, keputusan Sehun yang akan membatalkan comeback kekasihnya adalah yang paling fatal. Dia sangat marah, terlalu marah sampai rasanya dia bisa mencekik sang CEO, sahabatnya, saat ini juga!

BRAK…!

"OH SEHUN!"

Yang dimaki sedang asyik bermain game di ponselnya. Dia kemudian bertemu pandang dengan sahabat –yang sialnya- berstatus sebagai kekasih baru dari mantan kekasihnya –Baekhyun."

"Apa?"

"bajingan—KAU BERTANYA APA SEMENTARA KARIR KYUNGSOO SEDANG KAU HANCURKAN?"

Ponselnya terjatuh saat Chanyeol mencengkram kemeja kerjanya, deru nafas mereka juga menjadi satu dengan hembusan yang berbeda.

Jika Chanyeol terlihat sangat murka, maka Sehun hanya membalas dengan tatapan meremehkan "Kau marah?"

"OH SEHUN!"

"Lepas!"

Buru-buru Sehun mendorong tubuh Chanyeol, dipungutnya ponsel keluaran Apple terbaru yang terjatuh untuk kembali duduk dan memainkan game layaknya raja yang sedang bersantai.

"Kau tidak perlu marah. Tanpa campur tanganku mungkin karir kekasihmu akan hancur."

"KAU—!"

"Atau aku harus menyebutnya, mantan kekasih Park Chanyeol?"

Chanyeol terdiam, dia bertanya-tanya nada sialan yang dikeluarkan Sehun mengenai statusnya dengan Kyungsoo "Apa maksudmu?"

"Aku dengar kau sudah mengakhiri hubungan dengan Kyungsoo. Ah-…..Aku juga mendengar kau sudah memiliki kekasih baru."

"Apa yang kau bicarakan Oh Se-….."

"BAEKHYUN!"

"huh?'

"Adalah kekasihmu yang baru. Aku benar?"

Dia tak lagi fokus pada layar ponsel, kini sorot menghina dia tunjukkan pada sahabat kecilnya. Tak ada lagi tawa diantara mereka, yang ada hanya ketegangan mengingat ada pria yang sama yang mengisi hati mereka.

"Sehunna…"

Untuk Chanyeol, ini seperti kau menusukkan jarum ke permukaan kulitmu, tidak terasa sakit tapi ketika kau menariknya keluar maka rasanya perlahan akan membuatmu sadar bahwa sedari tadi kau melakukan kesalahan dnegan membiarkan jarum itu tertancap di kulitmu.

Begitulah yang Chanyeol rasakan, dia tahu dia salah menjalin hubungan dengan Baekhyun, tapi dia membiarkannya, dia bahkan dibuat terkejut saat Baekhyun mengakhiri hubungannya dengan Sehun hanya untuk bersamanya.

Ini salah dari awal

Tapi dia membiarkannya.

Jadi ketika Sehun menatapnya penuh benci, maka rasanya Sehun berhak melakukan lebih dari sekedar menatap benci dan marah.

"Aku bisa menjelaskannya."

"Menjelaskan apa? Menjelaskan bahwa kau nyaman menikmati kekasihku?"

"Sehun!"

"Pilihlah satu untuk menyelamatkan satu, kau terlalu serakah jika menginginkan keduanya."

"Apa maksudmu?"

"Jika ingin menyelamatkan Kyungsoo, baiknya kau tinggalkan Baekhyun. Tapi jika Baekhyun sudah membuatmu benar-benar menjadi gila dan mabuk akan cinta, maka jangan pedulikan Kyungsoo karena dia adalah bagian dari perusahaan."

"Sehun aku mohon jangan seperti ini. Kita bisa bicara tentang-…"

"Kau tahu? Rasanya aku ingin mengambil pisau dan menyayat tubuhmu. Rasanya aku ingin mencekik sahabatku sendiri saat kali pertama melihatmu bercinta dengan kekasihku sendiri. Aku ingin membunuhmu—sangat. Tapi aku sadar Baekhyun juga mencintaimu. Jadi cepat pergi dan temui dia, jaga dia, bahagiakan dia karena aku tidak bisa melakukan hal itu lagi."

"Sehun…."

"PERGI!"

"Aku tahu kau emosi saat ini. Tapi aku akan kembali lagi untuk membicarakan Kyungsoo dan Baekhyun, jadi tenangkan dirimu hmm? Aku pergi."

Perlahan langkah kaki Chanyeol berjalan pergi meninggalkan ruang megah milik sahabatnya. Rasa bersalah kini bercampur dengan rasa cemasnya seiring kakinya melangkah menjauhi ruangan sahabatnya. Dan ketika tangannya memegang knop pintu, maka disaat yang sama pula Sehun kembali berujar.

"Mulai saat ini kita hanya sebatas rekan kerja. Jadi jangan mencoba datang sebagai sahabatku."

Chanyeol memejamkan erat matanya, ingin rasanya dia membela diri, tapi saat Sehun terdengar serius dengan ucapannya maka dia lebih memilih untuk diam lalu beranjak pergi dengan beban serta rasa bersalah pada teman kecilnya "Mianhae Sehunna."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam hari,…

.

.

.

.

Cklek….!

"Baek?"

"Chanyeol? Kau sudah pulang? Bagaimana Sehun?"

Entah status apa yang mengikat mereka saat ini,

Mereka teman –tapi tindakan mereka lebih dari teman-

Mereka kekasih –tapi status mereka hanyalah seorang teman-

Karena tepat lima hari yang lalu, hari dimana Baekhyun mengakhiri hubungannya dengan Sehun, maka Chanyeol masih menggantungkan hubungannya dengan Kyungsoo. Dan karena alasan itu pula dua pria yang sepertinya masih ragu dengan keputusan mereka hanya terjebak pada hubungan tanpa status yang mereka jalani hampir satu minggu lamanya.

"Yeol? Kenapa kau hanya diam? Bagaimana Sehun?"

Chanyeol menarik lengan Baekhyun, didekapnya erat kekasih sahabatnya untuk sejenak mencari ketenangan. Tak ada yang berbicara saat Chanyeol terlihat lirih dan sedih, hanya ada sunyi sampai yang memiliki tubuh lebih besar mengakhiri dekapannya.

Kali ini dia menatap mata kecil pria lain yang dia cintai, untuk mengecup sayang kening Baekhyun, cukup lama, lalu menatap si pria cantik untuk mengatakan kebenaran bahwa

"Sehun terlihat sangat menyedihkan."

"huh?"

Rasanya sesak mencekik hingga ke tulang rusuk Baekhyun, air matanya tiba-tiba menetes karena menafsirkan kalimat menyedihkan Sehun akibat perbuatannya satu minggu yang lalu "Baek."

Kali ini lengan kekar Chanyeol melingkari pinggang Baekhyun, rasanya sangat tidak tega melihat pujaan hatinya yang lain menangis. Karena diam-diam selain Kyungsoo, Baekhyun juga menempati tempat penting dihatinya, tempat dimana dia tidak bisa melihat orang terkasihnya menangis untuk alasan apapun.

"Kau baik-baik saja?"

"Sehun –hks- Aku merasa sangat bersalah padanya."

"Aku juga."

Kini Chanyeol meletakkan dagunya di kepala Baekhyun, mendekap si pria bertubuh kecil di pelukannya untuk mengakui bahwa dia juga merasa bersalah.

"yeol…."

"Dia bahkan mengetahui hubungan kita."

"a-apa maksudmu?"

Masih enggan melihat Baekhyun, Chanyeol terus meletakkan dagunya di kepala kekasih sahabatnya. Sedikit memejamkan mata untuk mengatakan bahwa "Sehun melihat kita bercinta hari itu."

"tidak mungkin!"

Buru-buru Chanyeol menyangga tubuh Baekhyun yang hampir terjatuh, membantu pujaan hatinya untuk berdiri sementara dia menceritakan kebenaran yang terjadi "Dia mengetahuinya Baek. Dia bahkan ingin membunuhku tapi tidak dia lakukan karena kau mencitaiku."

"Sehun….-hkss- SEHUNNAA—AARGGH!"

Baekhyun meraung, dia menangis sejadinya dengan Chanyeol yang mendekapnya.

Tak banyak bicara, hanya rasa bersalah yang kini menggerogoti keduanya. Baekhyun sangat menyesal, begitupula Chanyeol.

Keduanya menyadari bahwa hubungan terlarang mereka adalah sesuatu yang tak bisa dipertahankan, terlalu banyak yang terluka dan mereka tidak sampai hati menghancurkan hubungan baik yang sudah terjalin bertahun-tahun.

"Baek…"

"hmmh? Hkss-….sehunn.."

"Aku rasa kau harus kembali pada Sehun."

"AARGHHHH!"

Baekhyun menjerit kuat, dia bahkan memukul kencang dada Chanyeol, Demi Tuhan mereka bahkan baru saja bersama, tapi kemudian Chanyeol memintanya kembali pada Sehun, memintanya memungut cinta yang sudah dia buang.

Bagaimana bisa Chanyeol memintanya melakukan hal gila itu?

Bagaimana bisa dia kembali pada Sehun sementara malam itu dia menghancurkan hati kekasihnya?

"KAU JAHAT YEOL! BAGAIMANA BISA AKU—hmpphh…"

Baekhyun terus menjerit, menyampaikan rasa marahnya yang kemudian dipadamkan oleh ciuman lembut Chanyeol.

Chanyeol memaksanya untuk berhenti menjerit.

Dia mencium lembut bibir Baekhyun dengan air mata yang membasahi.

Baekhyun menolak, dia terus memukul dada Chanyeol sampai akhirnya tangannya lemas, dia menyerah untuk meronta, dan membiarkan ciuman lembut Chanyeol menenangkan hatinya.

Rasanya ini adalah ciuman perpisahan.

Begitulah batin Baekhyun, sampai akhirnya Chanyeol melepas tautan mereka untuk memberi tatapan teramat menyesal padanya "Baek…"

"akutidakmauyeol…aku tidak mau berpisah denganmu!"

"Hey! Dengarkan aku."

Tangan besar Chanyeol menangkup wajah kecil Baekhyun, sedetik terasa sengatan hangat karena pertemuan mata mereka. Keduanya juga menatap cukup lama sampai Chanyeol melontarkan pertanyaan yang Baekhyun sendiri tidak tahu jawabannya.

"Apa kau masih mencintai Sehun?"

"…"

"Baek?"

Baekhyun terpejam, dia kemudian mengangguk membenarkan bahwa dia masih mencintai Sehun "Aku masih mencintainya, tapi aku juga mencintaimu."

"Aku tahu. Sama sepertiku-…..Aku mungkin masih mencintai Kyungsoo, tapi kau harus tahu rasanya hatiku dipenuhi olehmu sejak pertemuan pertama kita."

"ck! Pembohong!"

"Aku tidak berbohong sayangku. Aku benar-benar –hks.."

Chanyeol tertunduk sesaat lalu mengungkapkan rasa sesak dihatinya "Mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu. Tapi kita egois jika bersama saat ini. Disana-…."

"Kyungsoo sedang mengalami hal yang sulit seorang diri, dan ditempat yang sama pula Sehun hancur karena hubungan kita. Jadi maukah kita menyudahi hubungan ini?"

"yeol—hksss—akutidakmau."

"Demi Tuhan sayang-…Jika waktunya tepat, jika sampai waktu itu kau masih mencintaiku, aku janji-….Aku berjanji akan menjemputmu, meletakannmu di hatiku yang paling dalam. Jadi bisakah kita mengakhiri kekejian kita? Sehun dan Kyungsoo membutuhkan kita. Hhmmh?"

"…..-….hkss…"

"Baek."

"…."

"Maafkan aku. Maaf membuat hatimu sakit."

Baekhyun menggeleng, dia juga menghapus air matanya, terdiam cukup lama sampai akhirnya Baekhyun mengangkat wajah, memuja –untuk terakhir kali- rupa yang membuatnya tergila-gila, menyusuri paras Chanyeol yang selalu ia sukai "hksss…"

Baekhyun akan merindukannya, tapi dia sadar jauh di dalam hatinya Sehun juga masih memiliki tempat yang besar di dalam sana, di hatinya,

Dia tidak bisa membiarkan Sehun terluka, tidak pula membiarkan Chanyeol hidup dengan rasa bersalahnya.

Dia mengerti, detik berikutnya dia mengangguk seraya memejamkan mata untuk mengatakan

"Baiklah, kita berpisah."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

A week later…

.

.

.

Suasana di agensi pagi ini terbilang tidak pernah sesantai pagi-pagi sebelumnya.

Tak ada lagi tawa dari pegawai

Tak ada lagi bisikan menggoda antara trainee dan senior-….semua hilang.

Yang ada hanya ketegangan mengingat tempo waktu yang diberikan sang CEO untuk manager rendahan sekelas Luhan telah menghabiskan waktu tujuh hari.

Dan selama tujuh hari itu, Luhan bekerja layaknya tak memiliki waktu.

Dia melakukan segala cara seperti meminta senior-senior OSH'ent –SJ, RV, TVXQ, bahkan BOA dan semua artist OSH'ent- untuk membantunya mengisi berbagai macam variety show.

Tujuannya hanya satu, untuk mengalihkan berita Kai-Kyungsoo dan membuat mereka mempercayaia bahwa OSH'ent masih meruapakan salah satu agensi terbesar yang menghasilkan artis yang tak hanya memiliki rupa yang menawan namun juga bakat yang membanggakan.

Ya-….Luhan sudah melakukan semua itu.

Tapi nyatanya tak ada progress yang berarti. Angka persen keuntungan tidak naik bahkan untuk 0,01% hal itu pula yang membuat Luhan sangat tertekan. Ditambah berita bahwa keadaan Kyungsoo tidak semakin membaik karena kurang istirahat dan terlalu banyak menerima serta mendengar caci dan hina yang diberikan penggemarnya maupun penggemar Kai.

"Lu…"

Yang dipanggil sedang menyembunyikan wajahnya di atas meja, jujur kepalanya sedari tadi berdenyut sakit. Dan saat dia merogoh ke dalam tasnya, maka hanya botol kosong tanda bahwa obat rutinnya habis karena dia belum kontrol untuk menebus obat rutinnya.

"Lu…"

"hmmh?"

Dia merespon, tapi wajahnya tetap disembunyikan di atas meja. Dan saat yang memanggil menyentuh bahunya maka sudah dipastikan itu adalah Jin –sahabat sekaligus manager pencari bakat di JYC'ent- "Kau sakit?"

"Kepalaku sakit Jinna."

"Ayo kuantar pulang. Tubuhmu berkeringat."

Luhan menggeleng, dia kemudian mengangkat wajah untuk menatap memelas sahabat yang satu minggu ini juga memberikan berbagai ide untuk mengganti rugi persen kerugian di agensi tempatnya bekerja "Aku harus ke rumah sakit."

"wae? Apa sangat sakit?"

"hmmh…Tapi akan hilang jika aku minum obatku."

"Mau kuantar kesana?"

"Dokterku praktek di sore hari, aku hanya akan berada disini sampai sore nanti."

"Lebih baik berbaring di apartementku, ayo cepat! Kau harus tidur, wajahmu pucat sekali."

"Aku harus menyiapkan proposal pengajuan bisnis untuk sub unit. Jadi tidak mungkin untukku beristirahat."

"Lakukan besok pagi, aku akan menemanimu kemanapun. Cepat bangun!"

"Malam nanti aku akan terbang ke Beijing."

"MWO? Sshh—apa kau gila? Berjalan saja tidak mampu apalagi harus naik pesawat?"

"Pikirmu aku suka? Aku juga kelelahan."

Bersamaan dengan gumaman Luhan, maka tak sengaja matanya melihat Sehun sedang keluar dari ruangan, dan dilihat dari penampilannya-….Maka Luhan bisa menebak bahwa keadaan Sehun juga jauh dari kata baik.

Selain karena pertengkaran mereka, Luhan berani bertaruh bahwa disaat seperti ini, Sehun pasti sedang merindukan Baekhyun, mantan kekasihnya.

"Kau tidak terlihat baik Sehunna, jangan sampai sakit."

"Kau bicara apa?"

"Tidak-….Aku tidak berbicara apapun. Ayo pergi Jin, aku harus kembali ke apartementku sebentar."

"Apartementmu? Aku pikir kau sudah menjualnya."

"Aku keluar malam ini, unitku dibeli seorang pengusaha dua kali dari harga normal."

"Lalu kau tinggal dimana?"

Luhan memasukkan barang miliknya ke dalam tas, sedikit terburu-buru mengingat denyutan di kepalanya semakin terasa tiap kali dia berdiri terlalu lama "Dimana saja. Aku tunggu di basement." Katanya lebih dulu beranjak pergi dan meninggalkan mejanya untuk melewati Sehun yang sedang berbincang dengan dua direktur perencanaan di OSH'ent

"Selamat siang Presdir Oh, Direktur Lee-Direktur Han."

"Siang Manager Xi."

Setidaknya salah satu dari mereka membalas, membuat Luhan memiliki alasan untuk segera pergi mengingat kondisinya sedang sangat tidak baik saat ini. "Saya permisi pergi lebih dulu."

"Kenapa kau terburu-buru?"

"Banyak yang harus saya kerjakan. Saya permisi."

Mengabaikan tatapan Sehun, Luhan segera membungkuk. Dia kemuidan bergegas segera pergi untuk menikmati rasa sakitnya dimanapun tapi tidak di tempat dimana Sehun berada disana.

"Siang Presdir Oh."

Kini giliran Jin yang menyapa, dirasa jalan Luhan sangat cepat membuatnya sedikit terburu-buru. Dia juga berniat pergi sampai suara Sehun terdengar bertanya "Apa yang kalian lakukan bersama?"

"Kami? Ah-….Kami tidak melakukan apapun Presdir Oh. Aku hanya menemani Luhan karena priaku terlihat sangat sibuk belakangan ini."

"Priamu?"

"Ya priaku. Ada yang salah?"

Dilihat dari cara Jin bertanya, jelas dia sedang menantang Sehun, Sehun juga mengetahuinya. Tapi ketika alasan tak ia miliki untuk menunjukkan bahwa dia marah, maka Sehun mengalah-…Dia hanya memberikan senyum terbaiknya untuk mengatakan "Kau membuat Luhan terlihat sangat murahan."

"MWO?"

"Sehari dia akan bersamamu, lalu dia akan bersama pria lain, dan dimalam hari dia akan bersama mantan kekasihnya. Bagaiamana pikirmu?"

"Presdir Oh! Anda benar-benar—….."

"Manager Kim! Jaga sikapmu!"

Jika tak ada dua direktur lain yang mencegahnya, mungkin dia sudah memukul pria yang menjadi alasan Luhan begitu kelelahan, dan bagaimana bisa Luhan menghkwatirkan pria bajingan di depannya jika yang bisa dilakukan Tuan besar ini hanya menghinanya.

Jin bahkan muak mendengar Luhan memanggil namanya saat tidur, apa yang patut diperjuangkan dari pria sialan yang merendahkanmu. Itu adalah serangkaian kalimat yang akan dia tanyakan pada Luhan nanti.

Untuk saat ini, dia hanya akan menghadapi bajingan keji yang bicaranya benar-benar tidak menunjukkan bahwa dia seorang atasan "Setidaknya Luhan tidak mengemis cinta pada bajingan seperti anda!"

"KAU!"

"ah ya-…Satu hal yang perlu anda tahu, aku mengenal Luhan untuk jangka waktu yang lama, dan selama aku mengenalnya-….Luhan akan menjadi satu-satunya orang yang tidak pernah menyesal jika ditinggalkan, anda tahu kenapa? Karena bukan Luhan yang akan menderita, tapi penderitaan itu akan berbalik pada kalian yang meninggalkan teman baikku! Saya permisi!"

Entah berapa banyak pria yang bisa membakar hatinya karena terlalu dekat Luhan, Sehun sama sekali tidak bisa memakluminya.

"sial!"

Dia hanya bisa mengumpat layaknya pengecut.

Tidak melakukan apapun dan hanya meletakkan gengsinya di tempat tertinggi kerajaannya.

Hatinya mengatakan kejar Luhan, Tapi egonya mengatakan diam di tempatmu.

Jadi ketika Luhan dirangkul oleh pria lain, dia hanya bisa menatap penuh kemarahan dan membakar dirinya dengan api cemburu karena terlalu rindu tapi enggan mengatakan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ting tong….

Ting tong…

Jam di arlojinya menunjukkan pukul tujuh malam, itu artinya dia hanya memiliki satu jam untuk konsultasi ke dokter sementara tepat pukul sepuluh malam nanti dia harus berada di Bandara untuk keberangkatan ke Beijing.

Jujur saja kepalanya sudah sangat sakit.

Luhan bahkan tidak bisa mendengar suara bising walau hanya itu adalah bel apartementnya. Membuatnya sesekali memegang kepala untuk berteriak "MASUK JIN! TIDAK PERLU MENEKAN BEL!"

"….."

Ting tong…

Ting tong…

Demi Tuhan Jin hanya keluar membeli beberapa makanan kecil untuknya, tapi kenapa dia kembali dengan menekan bel. Membuat sang manager benar-benar geram mengingat kepalanya dan nafasnya yang mulai sesak tak beraturan karena sudah tidak mengkonsumsi obat selama tiga hari.

Ting tong…

Ting tong…

"sial!"

Buru-buru Luhan membuang pakaiannya, dia kemudian berjalan cepat menuju pintu apartement dan bersumpah akan memaki Jin jika hal itu perlu di lakukan.

Ting tong…

Ting tong…

Cklek…!

"APA YANG KAU-…..Bee?"

Luhan luar biasa terkejut mendapati Baekhyun di depan apartementnya.

Dia merindukan Baekhyun, tentu saja.

Ini adalah kali pertama mereka bertemu setelah kepulangan mereka dari Denpasar.

Baekhyun seolah menghilang hari itu.

Dia tak menghubunginya, tidak pula mencoba untuk datang ke agensi

Dan mengingat sebelumnya Luhan menampar pria cantiknya, maka rasanya wajar jika Baekhyun berteriak benci bukan menangis tersedu dengan kepala tertunduk sementara bahunya berguncang karena menangis.

"Kenapa menekan bel? Kenapa tidak langsung masuk?"

Luhan berusaha terlihat tegas, namun yang terjadi Baekhyun sedikit mundur dan beringsut takut mengira Luhan masih marah karena dia menyebabkan Kyungsoo dalam masalah "hksss…"

"Jawab aku Baek!"

"Kaumenggantipasswordapartement!"

"Aku apa?"

Baekhyun menunjuk kode password di depan pintu Luhan, berusaha membela diri dengan mengatakan "Kau menggantinya."

"ah-….Kau benar! Sejak apartementku disusupi fans gila Kai. Aku mengganti passwordnya." Katanya sanksi sedikit merasa bersalah pada Baekhyun "Ada apa? Kenapa menangis?"

"…"

"Bee? Apa perlu aku bertanya berkali-kali?"

"Lu...akumerindukanmuhksss.."

"huh?"

Baekhyun mengangkat wajahnya, menatap wajah Luhan cukup lama sebelum terisak seperti bocah lima tahun "aku merindukanmu Lu, hksss…huwaaaa—aku benar-benar minta maaf karena membuat kekacauan. Aku-…."

Grep…!

Tak perlu waktu lama, Luhan menarik lengan Baekhyun. Membawa Baekhyun ke pelukannya untuk segera didekap erat, tanda dia juga merindukan sahabat kecilnya.

"Lu…."

"Kemana saja kau anak nakal? Kenapa baru menemui hyungmu, hmmh?"

"hksss….akutakutkaumenamparkulagi!—hkss hyung.."

Luhan memejamkan matanya, mengingat hari itu dia kehilangan akal sehat dan menampar satu-satunya pria yang bisa dia sebut keluarga. Bahkan tiga hari setelah kejadian itu, Luhan selalu dilanda mimpi buruk, takut jika pada akhirnya Baekhyun pergi dan sangat membencinya,

"Mianhae….Aku tidak akan menyakitimu lagi, aku tidak akan membuatmu takut lagi Bee, Maafkan aku."

"Kau membuatku takut Lu."

Luhan bisa merasakan tangan Baekhyun mencengkram kuat punggungnya, Luhan hanya membiarkan Baekhyun melampiaskan rasa takutnya, karena ketika rasa sakitnya bertambah maka Luhan hanya mengusap punggung sahabatnya seraya meminta maaf atas kejadian yang membuat hubungan mereka sempat merenggang.

"Maafkan aku Baek...Maaf."

.

.

.

.

.

"Jadi kau menjual apartmentmu?"

Yang ditanya sedang berada di dapur, sedang membuat cokelat hangat untuk sahabatnya sementara bergumam adalah jawaban yang dia berikan "hmmm… Lusa aku sudah tidak tinggal disini."

"Kau bisa tinggal denganku. Tapi kenapa kau menjualnya."

"Aku memiliki kebutuhan mendesak Baek."

"Apa aku bisa membantu?"

Selesai mengaduk cokelat panas untuk Baekhyun, Luhan menggeleng. Dia kemudian mendekati sahabatnya untuk menyerahkan minuman favorit sang designer. "Ini minumlah."

"Tidak mau."

"Baek…"

Bukan kebiasaan Baekhyun menolak cokelat panas kesukannya. Karena serumit dan sesulit apapun keadaan yang dia hadapi, hanya secangkir cokelat panas yang membuatnya tenang.

Dan saat tangan Luhan terus menyodorkan kelemahannya, maka tak mungkin Baekhyun tahan dengan godaan yang begitu harum dari minuman favoritnya "Aku akan meminumnya."

Luhan tersenyum saat tegukan demi tegukan disesap oleh Baekhyun, membuatnya tersenyum sangat senang lalu mengambil tempat di samping Baekhyun "Aku bisa mengatasinya sendiri. Lagipula ini masalah kecil."

"Baiklah. Tapi jangan menyembunyikan apapun dariku."

"ara…" katanya mengusak kepala Baekhyun untuk kembali memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper kecilnya.

"Kau akan pergi?"

"hmmh…Beijing, aku pergi malam ini."

"Kenapa mendadak?"

"Tidak mendadak, kau yang datang secara tiba-tiba."

"Berapa lama?"

"Hanya satu hari."

"Tapi kenapa kau membawa banyak perlengkapan?"

"Besok setelah pulang dari Beijing, aku akan langsung terbang ke Tokyo."

"y-YAK! kenapa kau bertingkah seperti seorang artis? Kau bahkan benci terbang tapi terus berpergian!"

Sret…!

Satu tarikan terakhir, Luhan berhasil menyiapkan barangnya. Lalu dia tertawa gemas untuk kembali duduk disamping sahabatnya "Itu karena pekerjaan, bukan kemauanku."

"Tapi kau sakit."

"Dulu! Sekarang tidak!"

Setiap kali kondisinya dibahas, jujur Luhan tersinggung.

Dia benci dikasihani,

Dia benci terlihat lemah

Dan dia benci jika dia sakit.

Oleh karena itu, sebisa mungkin dan dan sebanyak mungkin dia akan selalu sehat. Dia akan melakukan apapun untuk tidak kembali ke dalam ruang operasi, tidak lagi.

"Maaf."

Luhan tersenyum, salahnya terlalu sensitif. Baekhyun hanya mengkhawatirkannya tanpa berniat mengasihani. Membuat tangannya terangkat dan mulai mengusap sayang surai sahabatnya "Tidak apa. ah ya-…..Kenapa tiba-tiba ingin bertemu denganku? Apa terjadi sesuatu?"

"….."

Baekhyun diam.

Dan dilihat dari tingkahnya, Luhan bisa menebak jika ini akan berkaitan dengan Sehun, segera.

"Aku mengakhiri hubunganku dengan Sehun."

"…"

"Lu?"

"Pantas saja mood kekasihmu terlihat sangat mengerikan."

Dia berpura-pura terkejut walau nyatanya senyum yang dia tunjukkan terlihat sangat pahit.

Dia tidak bisa menjadi teman curhat Baekhyun untuk masalah Sehun.

Tentu saja tidak, bagaimana bisa dia menjadi teman bicara Baekhyun jika permasalahan mereka ada pad pria yang sama?

Rasanya sangat tidak mungkin

Lagipula sulit untuk bersikap baik sementara hatinya juga terbakar rasa cemburu tiap mendengar nama Sehun keluar dari bibir sahabatnya.

"tapi aku menyesal."

"huh?"

Baekhyun membenarkan posisi duduknya, kini dia duduk bersila untuk menatap Luhan sementara rasanya Luhan sudah akan menangis tak tahan mendengar apa yang akan dikatakan Baekhyun selanjutnya.

"Aku ingin kembali pada Sehun."

DEG!

Benar saja,

Kini tak hanya kepalanya yang sakit namun juga hatinya.

Karena saat Baekhyun mengatakan ingin kembali pada Sehun, maka Luhan sangat mengetahui siapa sahabat kecilnya, Baekhyunnya akan melakukan apapun untuk benar-benar kembali pada Sehun, pria yang juga dicintainya.

"LU!"

"huh?"

Luhan sangat bingung, pandangannya mulai kabur.

Wajah Baekhyun tak fokus di matanya. Tapi ketika Baekhyun mengguncang kuat pundaknya, maka Luhan bisa sedikit kembali normal walau hatinya, didalam sana, sedang memukul tak terima dengan rasa sakit.

"Apa kau bisa membantuku?"

"Membantu? Apa?"

"Aku mencoba menghubungi Sehun, tapi dia sama sekali tak mengangkat panggilanku, jadi bisakah kau membantuku mendapatkan alamat apartement atau alamat rumahnya?"

Rasanya Luhan ingin terus mengelak, dia tidak ingin memberikan semua alamat Sehun –baik rumah atau apartement- pada Baekhyun, dia hanya ingin menyimpannya seorang diri.

Tapi ini Baekhyun yang meminta, sahabatku.

Lalu apa yang harus aku lakukan?

Haruskah aku egois

Atau haruskah aku membiarkan Sehun sedikit terhibur jika Baekhyun kembali?

Lalu bagaimana denganku nantinya?

Bagaimana dengan hatiku? Nanti dia hancur lagi,

Cukup tubuhku yang sakit, aku tidak mau hatiku sakit pula.

"LU?"

"y-Ya?"

"Bisakah kau mendapatkan alamat Sehun untukku? Gila memang, tapi Sehun tidak pernah mengajakku ke tempat pribadinya. Aku selalu kesulitan tiap ingin bertemu dengannya."

"Bagaimana bisa aku mendapatkannya?"

"Kau bisa mendapatkannya karena kau pegawai Sehun, kumohon Lu. Dapatkan alamat Sehun untukku."

"Lalu setelah itu apa?"

"huh?"

"Setelah kau mendapatkannya? Apa kau akan menyakiti Sehun lagi?"

"Tentu saka tidak! Aku tidak tahan menyakitinya lagi, aku akan meminta maaf, menjaganya setulus hati kali ini."

"….."

"Luhan…"

"entahlah Baek."

"Hey Lu, percayalah padaku! Aku berjanji tidak akan bermain lagi. Aku masih mencintai Sehun, aku hanya ingin bahagia bersamanya. Bisakah kau membantuku?"

Tidak-….Aku tidak bisa membantumu

Harusnya Luhan menolak tegas seperti itu-….tapi dia tak sampai hati melakukannya.

Membuatnya –sekali lagi- menyanggupi hal bodoh yang menghancurkan hatinya sendiri.

Baekhyun bilang dia masih mencintai Sehun, lalu jika memiliki kesempatan Luhan ingin berteriak AKU LEBIH MENCINTAI SEHUN

Tapi entah kapan kesempatan itu datang, sejauh hatinya bisa merasakan dia hanya bisa melihat kemungkinan kehilangan Sehun, bukan mendapatkannya.

Luhan sadar diri, dia bukan siapa-siapa. Dan karena hal itu pula, maka rasanya tak salah jika menyatukan dua insan yang mungkin masih saling mencintai, yang berjanji akan saling menjaga, yang mengatakan untuk tak lagi saling menghianati hingga dia pun rela mengangguk, -merelakan kebahagiannya pergi- untuk mengatakan

"Baiklah, aku membantumu."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seoul hospital, 20.00 KST

.

.

.

"Aku akan mengijinkan ayah kembali ke Jepang setelah melakukan check up. Aku tidak mau kejadian pagi tadi terulang!"

"aigoo-…Anak ini benar-benar cerewet seperti ibunya."

"Aku begini karena masih ingin melihat wajah jelekmu cukup lama!"

"Kau harus segera cepat menikah agar ayah tidak memiliki hutang pada ibumu nanti."

"hutang?"

"Yeobo, pastikan kau melihat Sehun kita di pelaminan. Kau harus bertahan karena aku tidak bisa melihat putra kita bahagia. Bagaimana menurutmu? Hutang ayah sangat berat pada ibumu, jadi cepatlah menikah! Ayah bahkan mersetui kau dengan Manager Xi!"

Sret…!

Sehun berhenti mendorong kursi rodanya, telinganya sakit tiap nama Luhan entah secara sengaja atau tidak disebutkan.

Bukan karena dia tidak suka, tapi mengingat Luhan terlalu banyak dikelilingi pria membuatnya sangat jengah. Dia kemudian mendengus hebat, memberikan kursi roda pada asisten rumah tangganya untuk lebih dulu melenggang masuk ke dalam rumah sakit.

"Paman, jaga ayah."

"Baik tuan muda."

"Hey anak nakal! Kau mau kemana?"

"….."

"y-YAK OH SEHUN!"

.

.

Sementara itu…

.

Ckit…!

Di tempat yang sama, Seoul hospital. Terlihat mobil sedan hitam berhenti di lobi utama rumah sakit. Dilihat dari kondisi pengemudi yang berkeringat hebat maka bisa dipastikan bahwa keadaannya sangat gawat mengingat wajah pucatnya terus tersembunyi di balik kemudi mobil.

Aku masih mencintai Sehun,

Aku hanya ingin bahagia bersamanya.

Bisakah kau membantuku?"

Sepanjang perjalanan, kalimat Baekhyunlah yang mendominasi. Entah apa yang dipikirkannya, tapi saat Baekhyun terus mengatakan ingin kembali pada Sehun, maka semua keinginan Baekhyun seperti mempengaruhi kondisi dan kemauannya untuk bertahan dari rasa sakit.

Aku masih mencintai Sehun,

"Aku juga mencintai Sehun, Baek."

Aku hanya ingin bahagia bersamanya.

"Aku juga ingin bahagia bersama Sehun, Baek."

Luhan terus meracau dengan rasa sakit yang menggerogoti kepalanya, tangannya mencengkram kuat kemudi mobil sementara kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri tanda dia begitu kesakitan.

Bisakah kau membantuku?

"Haruskah aku membantumu?"

Drrtt…drrttt…

Disaat matanya masih terpejam erat, sekujur tubuhnya menggigil kedinginan dan hati yang terus memukul sakit –terkadang sesak-. Maka getaran ponsel di sakunya seolah mengalihkan sesaat pikiran Luhan.

Dia pun segera merogoh saku celananya, mengambil cepat ponsel di saku untuk melihat siapa yang menghubunginya saat ini.

"aboji," katanya sarkas penuh kebencian.

Alasan mengapa Luhan menjual apartementnya adalah karena tua bangka yang baru saja bebas dari penjara.

Katakanlah Luhan bukan anak berbakti

Karena daripada merasa senang, dia justru sangat benci saat ayahnya dan Kyungsoo di bebaskan. Dia bahkan bersumpah agar tua bangka itu tidak akan pernah berhasil menemui Kyungsoo dan merusak image Kyungsoo tentang ayah yang begitu sempurna, yang selama ini menjadi pujaan Kyungsoo kecil

Kyungsoo selalu mengira ayahnya adalah seorang yang sukses yang sangat membanggakan, bukan seorang penjudi dan pemabuk berat seperti kenyataan yang harus diterimanya kelak.

Membuat Luhan bersumpah untuk menjauhkan sang ayah dari ibunya, dirinya maupun Kyungsoo sekalipun karena hanya akan ada kesulitan jika mereka bertemu.

Drrt…drttt…

Kali ini pesan yang masuk,

Luhan pun menggeser pesan dari sang ayah, dengan seksama dia membaca untuk mendapatkan ancaman yang memicu kemarahannya.

Mana uang yang kau janjikan? Apakah aku harus menemui ibumu dan mengganggu dua adik sialanmu? Atau haruskah aku mengganggu hidupmu saja anakku?

"BRENGSEK! BRENGSEK—AARGHH!"

Luhan membuang kesal ponselnya ke dashboard mobil,

Detik berikutnya dia mencengkram kuat kepalanya, rasa sakitnya kian dirasakan, kali ini seperti akan memecahkan pembuluh darah di pelipis matanya.

"tolong….tolong aku."

Dia berusaha membuka pintu mobil, namun

DEG!

Kali ini jantungnya enggan berdetak, membuatnya dalam sekejap kehilangan kesadaran dengan kepala terjatuh di atas kemudi mobil

TIIIIINNNNNNNNNNN….!

Beberapa security rumah sakit berlari menghampiri mobil Luhan, mencari tahu kenapa Luhan menekan klakson yang memekakan telinga hingga

"ASTAGA! TUAN APA YANG TERJADI?"

Mereka cukup terkejut melihat darah keluar dari hidung Luhan sementara si pengemudi tak sadarkan diri di dalamnya. Membuat petugas keamanan segera memanggil tim gawat darurat untuk segera menangani Luhan yang terkulai tak sadarkan diri.

"DISINI! TUAN INI TAK SADARKAN DIRI!"

Dan saat beberapa dokter jaga dan perawat datang dengan tempat tidur dorong, maka mereka bersama-sama mengeluarkan Luhan. Meletakkanya di tempat tidur sementara darah tak kunjung berhenti dari hidungnya.

Mereka membersihkan darah dari hidung Luhan seperlunya, menghapusnya cepat untuk memasangkan slang oksigen mengingat wajah Luhan sudah mulai biru tanda bahwa dia kekurangan suplai oksigen. Dan sedetik setelah slang oksigen terpasang maka dokter yang berjaga segera memerintahkan timnya untuk segera membawa Luhan ke ruang emergency

"Bawa pasien ke ruang emergency, SEKARANG!"

"Baik!"

Dua perawat yang bertugas segera membawa Luhan ke ruang gawat darurat, sementara yang satu menjaga agar tekanan darah Luhan stabil, maka yang satu segera memastikan bahwa slang oksigen berhasil dihirup Luhan untuk sesaat.

.

.

"Apa dokter ayahku sudah datang?"

"Sudah Tuan Oh. Anda bisa membawa ayah anda ke bagian internist!"

Setelah menyelesaikan pendaftaran untuk sang ayah, Sehun tersenyum. Buru-buru dia menuju lobi untuk menjemput ayahnya sebelum

BRAK….!

"HEY! PAKAI MATA JIKA-…."

Sesaat dia mengumpat, tapi kemudian dia diam menyadari bahwa sepertinya seluruh dokter dan perawat yang menabraknya harus segera menangani pasien.

Dan daripada mengumpat, Sehun menyingkir.

Berniat memberikan jalan untuk seluruh tim dokter sampai

DEG!

Tak sengaja matanya melihat siapa yang terkulai lemas di tempat tidur.

Dia terus berkedip, berharap salah melihat.

Itu bukan pria cantik yang dia kenal, tidak mungkin karena wajahnya terlalu pucat

Biasanya dia hanya tertawa, bukan terbaring mengenaskan dengan darah yang mengotori wajah serta pakainnya.

"tidak mungkin, itu bukan-…."

Tapi semakin dia mengelak, maka semakin jelas pula bahwa pria yang sedang ditangani di ruang emergency adalah pria yang sama yang hingga kini mengganggu pikirannya, yang begitu ia rindukan, yang kemarin malam hatinya baru dia sakiti, yang dia buat menangis karena tak mendengarkan. Pria mungil itu terlihat sangat kesakitan bahkan ketika dua matanya terpejam kaku.

Membuat sesuatu dari diri Sehun enggan mengakui, namun terpaksa menyebut nama

"Luhan?"

Dengan air mata yang membasahi.

Tubuhnya lemas,

Dia ketakutan.

Dia pernah melihat seseorang dibawa keruang gawat darurat, ibunya.

Semenjak itu dia tidak pernah melihatnya lagi, bersumpah untuk tidak membiarkan siapapun orang-orang yang dicintainya masuk ke dalam ruangan sialan yang bisa merenggut nyawa orang terkasih yang dia miliki kapan saja.

"Luhan? Ada apa denganmu?"

Sejenak pandangannya kosong.

Tawa Luhan bahkan menghantui untuk beberapa saat

Kemudian digantikan dengan tangisan Luhan hingga rasanya Sehun sedang dikuliti seluruh hatinya-….Sakit, tapi tidak berdarah.

Tanpa sadar dia mendekati ruangan yang sangat dia benci di rumah sakit, jalannya terseok rasa bersalah lalu tak sengaja mendengar

"KEJUT JANTUNG!"

DEG!

Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri tubuh mungil Luhan terangkat ke udara dengan alat kejut di tangan sang dokter.

Wajah cemas mereka bahkan terlihat karena Luhan tak kunjung merespon.

"terlalu lemah dok."

"SEKALI LAGI!"

"Kau harus merespon, sadarlah! LUHAN!"

DEG…!

"no response!"

"SEKALI LAGI!"

"Luhan jebal…."

Sehun sama sekali tak bisa bernafas, Dia panik, sangat ketakutan. Tangannya bahkan tanpa sadar terus memukul pintu kaca yang memisahkannya dengan Luhan.

DEG….!

Hening….

Sekali lagi tubuh Luhan terangkat ke udara, pasti sakit rasanya

Tapi lebih sakit saat tanda di monitor tak kunjung menujukkan bahwa Luhan merespon.

"Kita kehilangan pasien."

"tidak….siang tadi dia bahkan masih menatapku. Dia baik-baik saja! Dia-….LUHAAAN!"

Tit…tit….tit…

"Dokter!"

Buru-buru Sehun membuka mata, melihat apa yang terjadi sampai

BRAK…!

Dia terduduk lemas karena terlalu takut. Takut jika monitor sialan itu tidak memberikan respon.

Tapi setidaknya Tuhan masih berbaik hati membuat Luhan bertahan, tidak seperti ibunya saat itu.

Setidaknya Luhan merespon, sementara ibunya tidak

"eommaa. Eomma…eommaaa…"

Melihat Luhan hari ini, seperti membuka memori buruknya lima belas tahun yang lalu. Kenangan dimana sang ibu juga harus dinyatakan meninggal karena tak merespon pada alat kejut jantung.

Kala itu dia juga sedang bertengkar dengan sang ibu, sama seperti hubungan buruknya dan Luhan saat ini.

Membuat Sehun benar-benar terluka dan sangat ketakutan jika kejadian yang sama terulang dua kali untuknya, terulang pada dua orang yang dicintainya.

"syukurlah….kau membuatku takut Lu, Kau membuatku—argh!"

Entah apa yang terjadi pada Luhan malam ini, Sehun bertanya-tanya.

Pria yang sampai siang tadi masih memandangnya kini tengah meringkuk tak berdaya di ruang gawat darurat-…..seorang diri.

.

.

.

.


.

tobencontinued

.


.

.

.

.

Jujur sepanjang gue updet cerita baru kali ini gue ngedumel muluk!

Bikin konflik sendiri, geregetan sendiri, kan ogeb!

.

Udah gitu aja,

.

Keysel sendiri gatau napa wkwkwkw

.

mudah2an yang namanya Luhan diudahin begonya ama triplet794 di AFB. amin :""""D

.

.

.

Seeya!