Previous
.
Entah apa yang terjadi pada Luhan malam ini, Sehun bertanya-tanya.
Pria yang sampai siang tadi masih memandangnya kini tengah meringkuk tak berdaya di ruang gawat darurat-…..seorang diri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A' Friends Betrayal
Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo
Genre : Drama
Rate : M / NC!/
.
.
.
"Dokter Park, apa kita harus memasang slang oksigen pada pasien?"
Dokter tampan berparas dingin itu terlihat membuka masker dan hands gloves yang dia gunakan. Sedikit melirik kondisi Luhan lalu menggeleng sebagai jawaban
"Tidak perlu, nafasnya berangsur normal tanpa alat bantu."
"Baiklah. Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan. Tapi dokter Park, tidak ada keluarga yang menemani. Apa kami harus mencari tahu?"
Pria yang kini sedang mengenakan id card bertuliskan Park Haejin itu menggeleng sesekali menatap wajah Luhan yang masih terlihat sangat pucat "Tidak perlu, dia pasienku dan aku tahu siapa yang harus dihubungi."
"Baik dokter Park. Terimakasih sudah menggantikan dokter yang bertugas dan selamat beristirahat."
"Oke."
Bersamaan dengan jawaban Haejin, Luhan dibawa ke ruang perawatan. Membuat sang dokter yang jam prakteknya sudah berakhir dua jam lalu ikut meninggalkan ruangan dan berniat kembali ke rumah sebelum suara yang terdengar sangat berat memanggilnya dengan
"Hyung.."
Langkah kaki Haejin terhenti, dia segera menoleh untuk mencari suara yang memanggilnya lalu mendapati sahabat adiknya sedang menatap sendu dengan wajah pucat dan terlihat sangat kesakitan.
"Sehun?"
.
.
.
"Minumlah lebih dulu."
Yang lebih muda mengangguk, dia memang membutuhkan minum, dan ketika kakak sahabatnya memberikan sekaleng bir yang sangat menggoda, maka tanpa ragu direktur muda pemilik OSH'ent itu menenggaknya dalam sekali teguk.
"sshh…."
"Sehunna pelan-pelan sedikit."
"hyung!"
"Ada apa? Kenapa kau bertingkah mengerikan seperti ini?"
"Apa yang terjadi padanya?"
"Terjadi pada siapa? Siapa yang kau bicarakan?"
Sehun memejamkan sejenak matanya, mengingat seluruh kemungkinan dia akan kehilagan Luhan jika bukan karena pria di depannya selalu membuat tubuhnya gemetar ketakutan. Dia pun berusaha mengontrol dirinya sebelum menatap kakak kandung Chanyeol untuk mengatakan "Luhan."
"Luhan?"
"Luhan."
"Luhan siapa? Apa kita membicarakan Luhan yang sama?"
"Pria mungil yang belum lama kau selamatkan hidupnya. Apa yang terjadi padanya? Apa dia sakit?"
"ah-…..Jadi kau mengenal Luhan?"
Sehun mengangguk, dia kembali menenggak birnya lalu menatap Haejin dengan seluruh rasa bersalah terlihat di matanya "Aku mengenalnya, sangat mengenalnya." Ujarnya lirih namun berusaha fokus dan kembali bertanya pada sang dokter "Apa yang terjadi padanya hyung? Apa dia sakit?"
Haejin ikut tersenyum kecil, jika dipikir-pikir ini adalah tahun kelimanya mengenal Luhan. Kali pertama mereka bertemu adalah saat operasi pengangkatan tumor di sekitar batang otak kecil Luhan, saat itu kondisinya benar-benar nyaris tak tertolong. Luhan kritis, semua dokter yang menanganinya mengatakan tak ada harapan.
Tapi suatu malam saat Haejin melakukan visit ke kamar Luhan, dia tak sengaja melihat Luhan membuka matanya. Interaksi pertama kali mereka sebagai dokter dan pasien adalah malam itu, malam dimana Luhan seolah meminta untuk diselamatkan. Dia bahkan mencoba untuk menggapai tangannya seraya berujar sangat lirih dan mengatakan "aku akan bertahan, pasti bertahan."
Serangkaian kalimat Luhan itu pula yang membuat Haejin mengambil alih kasusnya. Karena tiga hari setelah Luhan mengatakan akan bertahan, tim dokter dengan dia sebagai penanggung jawab melakukan operasi besar pada Luhan.
Hasilnya?
Luhan bertekad untuk bertahan, jadi selama operasi berlangsung dia benar-benar bertahan hingga operasi dengan perkiraan 30% Luhan bisa bertahan bisa dilewatinya. Luhan benar-benar berjuang hingga akhirnya dia bisa melewati masa kritis dan menjalani hidup normalnya sampai saat ini.
"hyung?"
"Apa?"
"Kau tidak menjawab pertanyaanku. Apa Luhan sakit?"
"Ya dia sakit."
Sehun bergerak cemas, dia melihat ke segala arah untuk kembali fokus walau nyatanya sama sekali tak bisa karena hatinya terlalu sakit "Sakit? Apa yang terjadi padanya?"
Haejin menunjuk sekitar kepalanya, memberitahu apa yang terjadi pada Luhan lalu dengan sangat menyesal mengatakan "Tumor. Dia memiliki benjolan kecil di sekitar otaknya."
"a-Apa kau bilang? Tumor?"
"Ya. Tapi kali terakhir benjolan di sekitar batang otaknya terlihat adalah lima tahun lalu. Kami sudah mengangkatnya dan Luhan bisa dinyatakan hampir sembuh total jika kondisinya terus baik dan dapat bertahan tanpa obat yang dikonsumsinya."
"Apa kau ingin mengatakan jika kondisinya sudah lebih baik?"
"Terakhir kali dia datang menemuiku, kondisinya sangat baik. Tapi kau tahu Sehunna? Semua yang terjadi di pusat hidup manusia, disini, di kepala. Entah itu hanya benturan, cidera atau yang paling buruk terdapat benjolan, semuanya berbahaya. Jadi ketika kami pihak medis mengatakan semuanya sudah baik-baik saja, maka sebaiknya kalian tidak terlalu mempercayai apa yang kami katakan dan terus menjalani pemeriksaan rutin."
"Apa Luhan melakukannya?"
"Sampai enam bulan yang lalu dia selalu datang rutin untuk melakukan check up. Tapi sudah hampir tiga bulan terakhir dia sama sekali tidak datang dan hanya mengandalkan obatnya."
"sial! Ini pasti karena dia terlalu sibuk di tempat kerja. Ini pasti karena aku terlalu membebaninya dengan seluruh artisku."
Mendengar racauan Sehun, Haejin bisa menangkap dengan cepat bahwa kemungkinan Sehun mengenal Luhan adalah karena Luhan merupakan pria yang bekerja untuknya
"Apa dia pegawaimu?"
Sehun mengusak kasar wajahnya, terlalu marah lalu mengakan dengan penuh penyesalan "Ya. Dia bekerja untukku hyung."
"Kalau begitu rasanya aku tidak perlu khawatir mengenai kondisi Luhan."
"Kenapa?"
"Dilihat dari caramu mengkhwatirkannya, kau pasti akan membiarkan dia melakukan pemeriksaan, perawatan dan pengobatan lebih lanjut kan?"
"Apa dengan melakukan serangkaian hal yang kau katakan akan membuat Luhan lebih baik?"
"Tentu saja. Kami akan melakukan serangkaian tes pada Luhan, dan setelah malam ini aku rasa mengkonsumsi obat rutin bukanlah pilihan terbaik. Pembuluh darah arterinya menyempit seiring penggunaan obat yang dilakukannya, itu semacam kontradiksi dan tubuh Luhan mulai menolak. Aku akan mencari cara lain agar pengobatan Luhan tidak berpengaruh buruk pada organ vital lain di dalam tubuhnya."
Rona wajah Sehun terlihat lebih baik saat mendengar penjelasan Haejin. Rasanya dia juga bertekad untuk melakukan apapun agar Luhan merasa lebih baik. Dia bahkan bertekad untuk menyembuhkan Luhan agar pria cantik yang kini terbaring lemah di tempat tidurnya tak perlu lagi mengalami malam mengerikan seperti yang baru dia alami beberapa jam yang lalu
"Baiklah. Aku juga akan melakukan segala cara untuk membuatnya lebih baik. Aku akan mengikuti semua saran darimu hyung."
"Akan lebih baik untuk Luhan jika banyak yang memberinya semangat untuk kembali sehat."
"Tapi dia akan sembuh total kan hyung? Akan benar-benar sembuh?"
"haah~—Masalah itu, semua tergantung pada kondisi dan kemauan Luhan untuk bertahan hidup. Jika dia mengabaikan dirinya lagi, maka hal seperti hari ini akan sering terjadi dan akibatnya akan sangat fatal jika dibiarkan."
"tidak….dia akan baik-baik saja. Aku sendiri yang akan memastikan Luhan melakukan serangkaian tes dan pengobatan, aku akan melakukan segala cara agar keadaannya menjadi jauh lebih baik. Aku akan melakukannya."
Nyatanya Haejin mengenal Sehun sama baiknya seperti dia mengenal adik kandungnya, Chanyeol. Jadi ketika Sehun terlihat akan melakukan segala hal untuk Luhan, maka bisa dipastikan bahwa sahabat adiknya ini memiliki perasaan lebih dari sekedar hubungan direktur dan pegawainya.
"Apa kau memiliki hubungan khusus dengan Luhan? Setahuku dia kekasih dari Kim Jong-…."
"MEREKA SUDAH BERPISAH!"
"huh?"
"Mereka sudah berpisah! Jadi jangan bawa nama sialan itu lagi didepan Luhan."
"jadi benar…"
Haejin terkekeh, dia kemudian menenggak bir miliknya untuk mengatakan "Tapi dia artismu."
"Dia hanya artisku, bukan seseorang yang bisa mengambil pria yang aku cintai, mereka hanya masa lalu. Dan seperti kata Luhan, tak ada lagi yang terjadi di antara mereka. "
"ah-…Jadi kau mencintai Luhan?"
"Begitulah, Aku rasa aku mencintainya hyung."
"Kalian anak muda sebaiknya cepat akhir masa lajang kalian dan menikah dengan siapapun yang kalian cintai."
"Kenapa bicaramu seperti itu hyung?"
"Karena tidak dirimu, tidak Chanyeol-….Kalian berdua sangat plin plan dengan urusan hati."
"Adikmu yang membuat semua ini menjadi rumit."
"Salahkan Chanyeol lagi dan kupukul kepalamu!"
"wae? Apa karena dia adikmu?"
"Karena kalian berdua idiot. Jelas?"
Seraya tersenyum mengejek, Haejin bangun dari kursinya. Berjalan meninggalkan Sehun untuk kemudian diikuti dan terus didesak menjawab seluruh pertanyaannya "Aku ingin Luhan dipindahakan ke ruang perawatan VIP hyung."
"Dia lebih suka berada di ruang perawatan kelas satu."
"TIDAK! Dia harus dipindahkan ke tempat yang lebih baik."
"Terserahmu saja. Kau bisa mengurusnya di bagian administrasi."
"Baiklah. Lalu kemana kau akan pergi? Apa Luhan akan baik-baik saja jika kau pergi?"
"Jangan berlebihan Oh Sehun! Kondisinya sudah jauh lebih baik lagipula banyak yang menjaganya di rumah sakit. Aku pergi dulu."
BLAM…!
"Hyung!"
"Temui aku besok pagi."
"Baiklah. Sampai besok hyung."
Haejin mengangguk, ditutupnya jendela mobil untuk segera melaju pergi meninggalkan area kafe tempatnya dan Sehun membicarkan tentang Luhan.
.
.
.
.
.
.
.
.
BLAM…!
Tak lama Sehun juga sudah kembali ke rumah sakit, langkahnya cepat menuju bagian administrasi untuk mengurus kepindahan Luhan ke ruang perawatan VIP segera mungkin "Selamat malam."
"Selamat malam Tuan. Ada yang bisa kami bantu."
"Pasien Xi Luhan, aku ingin dia dipindahkan ke ruang VIP malam ini juga."
Petugas wanita itu cukup mengerti dengan keinginan Sehun, dicarinya nama yang dimaksud oleh Sehun untuk mengangguk dan mengatakan "Pasien akan segera dipindahkan ke ruang VIP. Anda bisa mengisi form nya lebih dulu."
Buru-buru Sehun mengambil form yang dimaksud. Mengisi hubungannya dengan pasien adalah sebagai suami sebelum menyerahkan kembali form nya pada petugas "Anda suami pasien Xi?"
"Ada masalah?"
"tidak tentu saja….Maaf terlalu banyak bertanya." Si pegawai salah tingkah sementara Sehun diam-diam menyeringai. Setidaknya satu orang tahu siapa Luhan untuknya jadi ketika pemindahan Luhan ke ruang VIP sudah dilakukan, dia akan segera pergi kesana dan menemani Luhan setelah ini.
"Pemindahan pasien akan dilakukan dalam sepuluh menit ke kamar VIP 2002. Silahkan menunggu Tuan Oh."
"Baiklah. Terimakasih." Katanya memasukkan dompet ke saku, bergegas untuk menemui Luhan sebelum langkahnya terhenti karena melihat sang ayah yang kini melipat dada tanda bahwa dia sangat kesal telah diabaikan oleh satu-satunya putra yang dia miliki.
"Apa begini caramu memperlakukan pria tua yang akan segera mati?"
"aboji…"
Buru-buru Sehun berlari mendekati sang ayah, berjongkok di depan kursi roda lalu menggenggam tangan ayahnya yang terasa begitu rapuh di genggamannya. "Maafkan aku meninggalkanmu begitu saja. Tapi aku sedang melakukan sesuatu."
"Melakukan apa hingga kau melupakan orang tua yang tampan ini?"
"ayolah!" Katanya tertawa mencibir lalu tak lama meletakkan kepalanya di pangkuan sang ayah "Aku sedang mengejar calon menantumu."
"Mengejar siapa?"
Sehun tersenyum di pangkuan sang ayah. Digenggamnya tangan ayahnya yang terasa hangat untuk mengulang ucapannya "Calon menantumu aboji,dia sedang sakit."
Sama seperti lima belas tahun lalu, maka ini adalah kali pertama putranya terdengar sangat sedih dan begitu menyesal. Sehunnya tak pernah lagi menunjukkan betapa rapuh dan kesepian dirinya dengan cara apapun pada sang ayah, yang dia lakukan hanya terus tersenyum bodoh sesekali menggoda satu-satunya keluarga yang kebahagiannya selalu Sehun utamakan.
Berbeda dengan malam ini, putra kesayangannya terlihat sedih entah karena apa. Namun saat dia mengatakan calon menantu pada dirinya, maka sang ayah memutuskan untuk tidak serta-merta percaya pada anak bodoh yang selalu menggodanya.
"Apa kau sedang membohongi ayah? Dua jam yang lalu kau bahkan menolak membicarakan pernikahan. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba mengatakan calon menantu ayah?"
"Aku serius aboji."
"Benarkah?"
Sehun kembali mengangkat wajahnya, dia mengangguk penuh keyakinan dan mengatakan "Aku akan segera membawanya pada ayah. Jadi tunggu dirumah sebentar lagi. Mau kan?" katanya menggengam tangan rapuh ayahnya dengan penuh harapan.
Harapan bahwa esok atau secepat mungkin, dia benar-benar bisa membawa seseorang yang akan membuat rumahnya sepi menjadi ramai dan penuh cinta, Sehun sudah membuat keputusan bahwa Luhan akan menjadi satu-satunya pria yang akan dia bawa dan dia kenalkan sebagai kekasih pada sang ayah.
Jadi ketika ayahnya tersenyum dan menatapnya sangat bahagia maka Sehun bersumpah akan memperbaiki sikapnya dan meminta Luhan agar benar-benar menjadi kekasihnya kali ini.
"Baiklah Lee, kita pulang. Kita harus menunggu Sehun dan calon istrinya di rumah. Ayo lekas pulang! Minggir kau!"
Sehun terkekeh saat ayahnya tiba-tiba sangat bersemangat. Dia kemudian segera berdiri untuk menatap pria tua lainnya yang selalu setia pada sang ayah "Jaga ayah untukku."
"Saya sudah melakukannya selama bertahun-tahun, jadi anda tidak perlu mengkhawatirkan si tua bangka cerewet ini tuan muda. Yang perlu anda lakukan hanya membawa calon istri anda kerumah agar tugas saya bisa sedikit berkurang."
"y-YAK! AKU MASIH MEMILIKI TELINGA DISINI!"
"ha ha ha…araseo! Araseo! Aku akan segera membawanya pulang kerumah. Sampai nanti aboji."
"Saya permisi tuan muda."
"Hati-hati dijalan paman, dah ayah~"
"Jangan lupa untuk segera membawa menantuku pulang."
"araseo…" katanya melambaikan tangan pada sang ayah. Membiarkan sosok tua kesayangannya pulang kerumah dengan tangan yang tiba-tiba menghapus cepat air matanya "Hanya tunggu sebentar lagi aboji, aku benar-benar akan menikah dan membuatmu bahagia kali ini."
Nyatanya pula Sehun hanya seorang putra yang begitu mencintai ayahnya, yang begitu ingin membuat ayahnya hanya merasakan bahagia.
Dia berhutang banyak pada sosok yang selalu menjadi kuat di hidupnya, yang terus membesarkannya seorang diri tanpa mengeluh dan penuh cinta.
Jadi ketika ayahnya hanya ingin dibuat bahagia dengan pernikahan, maka Sehun sudah bertekad untuk tak lagi bermain-main dalam satu hubungan.
Sehun sudah memutuskan bahwa Luhan adalah jawaban atas rasa cinta dan keseriusannya sebagai seorang pria. Karena ketika mereka tak berbicara satu minggu ini, maka hanya ada rasa cemas dan rindu yang terus menohok jantungnya.
Luhan dan seluruh hal yang ada pada dirinya seolah menunjukkan pada Sehun bahwa cinta itu nyata, bahwa seseorang yang ingin kau jaga seumur hidup benar adanya. Membuat seorang Oh Sehun memiliki keyakinan yang begitu kuat untuk memilih Luhan sebagai cinta terakhirnya, untuk mencintai lelaki terakhirnya yang dia jatuhkan pada Luhan, hanya Luhan.
.
.
.
.
.
.
Ting!~
Uang adalah segalana. Karena setelah sepuluh menit Sehun membayar pemindahan Luhan ke ruang perawatan VIP maka pihak rumah sakit melakukannya dengan segera.
"Permisi."
Luhan memang belum sadarkan diri, tapi pasien lain yang kini sedang berada di kursi roda merasa cukup terganggu dengan beberapa petugas rumah sakit yang membawa Luhan pergi ke kamar perawatan.
"Kau baik-baik saja?"
"mmh…Aku hanya tidak suka keramaian disaat seperti ini."
Adalah Do Kyungsoo –sang aktor- yang kini sedang menjalani perawatan karena kondisinya yang tak kunjung dinyatakan pulih dari pihak dokter kandungan.
Akibatnya?
Dia ditemani sang manager hanya bisa berjalan-jalan di sekitar area VIP mengingat dibawah sana masih banyak wartawan yang akan terus bertanya mengenai siapa ayah dari bayi yang tengah dikandungnya.
Sial!
Jika bukan karena Luhan, mungkin dia sudah berhasil menyingkirkan darah dagingnya dan Kai. Jadi salahkan Luhan jika hingga detik ini dia tidak memiliki wajah untuk bertemu siapapun. Ditambah kabar bahwa comeback nya akan terancam gagal membuat kondisinya berkali-kali menjadi lebih buruk saat ini.
"Permisi."
Lagi-lagi dia harus bertabrakan dengan kerumunan yang entah sedang membawa siapa. Sepertinya orang penting. Pikir Kyungsoo, membuatnya sedikit jengah dan memutuskan berjalan dengan kaki hingga tak ada lagi yang bisa menabrak kursi rodanya.
"Sudahlah hyung! Aku ingin berjalan!" katanya tiba-tiba berdiri dan tak lama
BRAK…!
Bahunya tak sengaja menabrak salah satu perawat yang sedang mendorong tempat tidur pasien. Membuat kesabaran Kyungsoo berada pada batasnya untuk berteriak memaki siapapun yang berani menabraknya tanpa meminta maaf.
"BERANI SEKALI KAU TERUS MENABRAK—…"
DEG!
Jantungnya tiba-tiba berdegup sakit, dia juga terus berkedip, berdoa agar matanya salah melihat dan tak pernah melihat sosok yang begitu familiar untuknya.
"tidak mungkin itu kau…"
Namun percuma, Karena semakin dia mengelak, maka sosok lemah yang sedang memejamkan matanya itu akan benar-benar terlihat seperti
"Luhan?"
Demi Tuhan seluruh teriakannya kini tercekat di kerongkongan. Karena disaat bibirnya sedang memaki petugas rumah sakit maka disaat yang sama pula sosok tak berdaya yang sedang dibawa ke ruang perawatan terlihat oleh kedua matanya.
Jujur saja dia lemas,
Bukan karena kondisinya, tapi karena untuk kali pertama dia melihat Luhan begitu tak berdaya dengan seluruh wajah terlihat pucat.
Ini kali pertamanya dia melihat Luhan yang biasa dia benci tak berdaya seolah kehilangan harapan untuk hidup.
Dan alih-alih merasa bahagia, Kyungsoo sangat ketakutan.
Pikirannya sudah terus mengganggu dengan hati yang entah mengapa terus berdenyut sakit tak tega melihat satu-satunya keluarga yang tersisa untuknya berada dalam kondisi yang sangat mencemaskan.
"apa yang terjadi padamu?"
Ting…!
Tak lama pintu lift kembali terbuka. Kali ini Kyungsoo kembali tertohok, matanya juga membulat lebar ketika harus berhadapan dengan atasan tertinggi sekaligus pemilik dari agensi tempatnya bekerja.
Kedua mata mereka menatap sama terkejut dan sama bertanya-tanya dengan keberadaan masing-masing
"pre-Presdir Oh?"
"Semua yang kalian lihat malam ini, pastikan hanya kita yang tahu. Aku tidak ingin orang-orang terdekat Luhan tahu akan kondisinya. Kalian mengerti?"
"Ya Presdir Oh."
Sementara Kyungsoo terus melihat Sehun dengan bertanya-tanya, maka Kwangsoo mewakili artisnya segera menjawab. Membuat Sehun merasa sedikit lebih tenang dan bergegas meninggalkan Kyungsoo sebelum sang artis berteriak
"APA YANG TERJADI PADA LUHAN?"
Tap!
Langkah kaki Sehun terhenti, jika ditelusuk lebih dalam maka pria di belakangnya adalah salah satu dari banyak hal yang terus membuat Luhan menderita. Dia sangat mengingat bagaimana kejinya Kyungsoo ketika menyebarkan berita dating Kai dan Luhan, membuat si pria mungil harus mengalami malam-malan mengerikan yang dipenuhi teror dari penggemar mantan kekasihnya.
Tangannya pun terkepal erat, berniat untuk mengabaikan namun rasanya sayang jika tidak membalas apa yang telah dilakukan Kyungsoo pada pria mungil yang sudah memiliki seluruh hatinya "Kenapa? Apa kau senang melihat Luhan dengan kondisinya saat ini?"
"tidak…Aku peduli padanya. Apa yang terjadi?"
"Benarkah? Kalau begitu temui wartawan dibawah sana dan katakan pada mereka siapa ayah dari bayimu, katakan pada mereka kalau Jongin yang bertanggung jawab. KATAKAN YANG SEBENANRNYA JIKA KAU PEDULI LUHAN!" katanya berteiak murka lalu tak lama benar-benar pergi meninggalkan Kyungsoo yang kini terdiam di tempatnya.
"apa yang sebenarnya terjadi?"
"Kyungsoo!"
Buru-buru Kwangsoo menangkap tubuh Kyungsoo yang nyaris terjatuh, membantu sang aktor untuk kembali duduk di kursi roda dengan Kyungsoo yang terus terisak "Hyung apa Luhan baik-baik saja. Bagaimana jika dia mati? Siapa yang akan aku benci? Siapa yang akan peduli padaku? Siapa yang akan-…."
"Dia akan baik-baik saja Soo. Dia berjanji untuk menolongmu. Dan kita mengenal siapa Luhan, jika dia berjanji maka dia akan melakukan segala cara untuk menepatinya. Jadi dia akan baik-baik saja!"
"Benarkah?"
"Tentu saja. Sekarang kau juga harus istirahat. Kondisimu belum sepenuhnya pulih."
Dan ketika Kwangsoo mendorongnya menuju kamar, maka sang aktor terus melihat kamar bertuliskan nomor 2002, berharap pasien yang sedang berbaring disana lekas membuka mata agar bisa menepati janji untuk menolongnya.
Tidak….
Sebenarnya itu hanya alasan Kyungsoo agar Luhan bisa menolongnya, karena jauh di dalam hatinya dia hanya ingin melihat Luhan baik-baik saja. Dia ingin Luhan terlihat sangat baik agar dia bisa terus membencinya bukan terlihat menyedihkan karena terbaring lemah disana.
Dia pun segera menghapus cepat air matanya sebelum mengalihkan perhatiannya untuk berguman "kau harus baik-baik saja,….hyung."
.
.
.
.
.
.
Cklek..
.
"ish! Kenapa aku harus bertemu dengan adikmu? Kenapa dia harus melihat kau dirawat disini?"
Yang dia lakukan sesampainya di kamar Luhan adalah menggerutu. Dia cemas jika Kyungsoo akan mengatakan pada Jin atau Xiumin atau siapapun teman Luhan mengenai keadaan Luhan, dia cemas jika salah satu dari pria yang tak begitu dia sukai datang dan melihat keadaan Luhan, membuatnya benar-benar kesal mengingat dia selalu kalah dari semua sahabat Luhan yang bebas memeluknya di depan umum.
"Kau akan baik-baik saja walau hanya denganku, jadi kau tidak membutuhkan teman-temanmu. Kau dengar?" katanya sarkas dan penuh kebencian.
Entah mengapa keposesifan Sehun pada Luhan bertambah menjadi berjuta-juta kali lebih parah. Kini tak hanya menyukai Luhan dipeluk oleh pria lain namun sangat tak menyukai jika Luhan berbicara intim dengan pria manapun selain dirinya.
"haah-….."
Sehun menghela nafasnya, tiba-tiba tatapannya sendu. Sedari tadi dia belum bisa melihat jelas wajah Luhan, tapi ketika kakinya berjalan mendekati tempat tidur maka wajah pucat Luhan kembali terlihat dengan slang infus yang dipasang di tangan kirinya "Apa sudah lebih baik?" katanya mengusap lembut dahi dan wajah Luhan berharap pria cantiknya akan segera membuka mata "Cepat buka matamu, kita harus bicara. Ini serius." Ujarnya lirih lalu tak lama menunduk untuk mencium lama kening Luhan.
Rasanya dingin, seluruh tubuh Luhan terasa dingin.
Jadi ketika dia mencoba menghangatkan tuubuh Luhan maka hanya ada penyesalan tersisa mengingat hal gila dan sikap dingin yang dia berikan pada pria cantiknya selama satu minggu ini "Maafkan aku. Cemburuku membuatmu sakit Lu, Maaf."
Sekali lagi penyesalan Sehun benar-benar terasa menyedihkan. Air matanya juga sedikit menetes jika ponsel Luhan tak bergetar dan membuat perhatiannya teralihkan.
Drrt…drtt…
Refleks Sehun mengambil benda mewah berwarna merah milik manager terbaiknya. Dia juga menarik kursi disamping Luhan sebelum tersentak kaget menyadari bahwa benda kecil digenggamannya menunjukkan 210 missed calls, dengan 300 message tak terbaca. Membuatnya begitu penasaran hingga
Sret…!
Sehun tersenyum pahit melihat nama Jongin yang memenuhi missed calls di kontak ponsel Luhan, disusul nama My ByunBee, lalu Seokjin, Xiumin dan sisanya nomor tak dikenal yang entah milik siapa. "Kau benar-benar terkenal Manager Xi." katanya entah bangga, entah tak suka. Menyadari banyak yang begitu menginginkan Luhan adalah hal yang membuat Sehun gusar, dan dia tidak menyukainya
Sret…!
Kali ini Sehun dengan beraninya membuka serangkaian pesan di kotak masuk. Lagi-lagi nama Jongin yang tertera di awal pesan. Dia kemudia membacanya untuk mendapati pesan "angkat panggilanku Lu. Aku minta maaf, dan kita harus bicara. Kumohon."
"tsk! Setelah semua yang kau lakukan kenapa kau masih bisa meminta Luhan menemuimu." Katanya marah dan tak lama mengambil tangan Luhan untuk digenggamnya kuat, berjaga-jaga agar tidak melakukan hal gila dan mengingat bahwa keberadaannya disini untuk menjaga Luhan, bukan terbakar cemburu seperti satu minggu lalu.
"Ingatkan aku untuk tenang hmm.."
Dia mengecup lembut tangan Luhan lalu tak lama membaca pesan berikutnya dari satu-satunya Manager gila yang berani menyebut Luhan sebagai "priaku!"
"Kenapa selalu harus Seokjin, Lu? Aku tidak suka." Katanya gusar dan tak lama
Klik.
Dia menekan pesan Seokjin lalu membaca hal yang tidak dia ketahui tentang rencana Luhan selama ini.
"Lu babyku. Tinggalah di tempatku untuk sementara. Mereka sudah mengosongkan apartementmu malam ini. Hubungi aku besok malam jika sudah kembali dari Beijing dan Tokyo. Aku akan menjemputmu di Bandara. Jaga kesehatanmu cantik. Jangan sedih karena aku menyayangimu."
"ck! Menyayangi kepalamu! Kau menyukainya sialan!"
Tangannya bahkan terkepal erat membaca pesan dari Jin, rasanya selain Kai dia bisa dibakar oleh semua pria yang menaruh perhatian pada Luhan. Berlebihan memang, dia juga tidak mengerti sejak kapan dia begitu posesif pada seseorang.
Demi Tuhan, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, berbeda saat dia bertemu dengan Luhan. Rasanya dia hanya ingin memiliki Luhan seorang diri namun sulit. Dia pun hanya bisa menggeram lalu tak lama menangkap arti pesan Jin yang lain.
"Kau akan ke Beijing dan Tokyo hanya dalam satu malam? Apa yang akan kau lakukan?" katanya bertanya namun berani menebak bahwa apapun yang coba Luhan lakukan disana semata-mata hanya untuk menjawab tantangannya mengenai kenaikan persen dari kerugian yang mereka dapatkan. "Kau benar-benar menganggap serius tantanganku?"
Sehun mencium lagi tangan Luhan, mengusapnya lembut lalu berkata tak terbantah pada dirinya sendiri "Kau akan tinggal denganku, tidak tinggal dengan Jin, Xiumin atau Baekhyun sekalipun, hanya denganku." Katanya tegas lalu melihat pesan selanjutnya yang dikirim sang mantan kekasih untuk Luhan.
Klik…
Sehun menekannya lagi lalu membaca pesan Baekhyun yang mengatakan "Bagaimana Lu? Apa kau sudah mendapatkan alamat Sehun? aku harus menemuinya. Beritahu aku segera hmm."
"Alamatku? Untuk apa?"
Sehun bertanya namun tak lagi peduli. Yang dia tahu hubungannya dan Baekhyun sudah berakhir. Jadi ketika Baekhyun mencoba bertemu dengannya atau entah akan mengatakan apa, dia hanya akan menganggapnya seperti orang asing mulai saat ini "Apapun yang coba kau lakukan jangan pernah membantunya mendekatiku. Aku tidak suka Lu, itu menyakiti kita berdua." Ujarnya tegas lalu beralih pada pesan tanpa nama yang cukup banyak mengirim pesan pada Luhan.
Penasaran, Sehun kembali membaca pesan Luhan berikutnya. Segera menekan pesan tanpa nama tersebut untuk menemukan kalimat yang menurutnya sedikit mengancam
"kau benar-benar menantangku? Kenapa belum kau kirim uangku sialan! Cepat kirim atau aku bersumpah akan berulah dan mengganggu hidupmu, hidup kalian semua."
"Siapa bajingan ini?"
Sehun menggeram marah, dia berniat untuk menghubungi siapapun yang terdengar mengancam Luhan sebelum suara parau terdengar memanggil namanya.
"Sehun?"
Buru-buru Sehun mencari asal suara. Dia tak lagi fokus pada ponsel Luhan untuk bertatapan langsung dengan pemilik ponsel yang tangannya sedang dia genggam begitu kuat "Luhan? Astaga Lu, kau sudah membuka mata?"
Sementara Sehun terlihat menghubungi perawat maka Luhan menatap bingung pada keadaannya saat ini. Terakhir kali dia yakin ada di dalam mobilnya, sedang kesakitan dan membutuhkan obatnya.
Tapi entah apa yang terjadi, kini justru Sehun yang terlihat. Pria yang sudah menghindarinya selama satu minggu ini juga menatapnya lembut tak lagi penuh kebencian seperti pagi tadi saat mereka bertatapan di agensi "Kenapa kau ada disini? Apa aku sedang bermimpi? Lagipula kamar ini terlalu bagus untuk disebut rumah sakit, ah ya—mungkin aku bermimpi." Katanya lirih dan tak lama memejamkan mata, berharap setelah ini dia benar-benar bangun dan tak bermimpi indah lagi seperti saat ini.
"Kenapa kau masih disini?"
Sesaat setelah Luhan kembali membuka matanya, Sehun tertegun.
Separah inikah dia sudah menyakiti Luhan?
Setega inikah dia sudah membuat pria cantik di depannya bertingkah seperti dia sedang bermimpi?
Luhan bahkan berulang kali menutup dan membuka matanya. Dan tiap kali dia membuka mata lalu mendapati Sehun terus berada disana, maka hanya ada air matanya yang menetes tanda dia kesal karena tak mendapat jawaban apakah dia sedang bermimpi atau tidak.
"Kenapa kau terus terlihat? Kenapa tidak pergi seperti yang kau lakukan padaku sebelumnya? Kenapa kau—"
Ketika dia merasakan bibir Sedang bergerak lembut di bibirnya, maka Luhan tahu ini bukanlah mimpi. Dan saat tangan Sehun menggenggam kuat jemarinya, maka Luhan mengerti bahwa sedari tadi yang berdiri di depan kedua matanya memang benar adalah Sehun, pria yang selama satu minggu ini membuat Luhan enggan melanjutkan hidup karena dibenci olehnya. Dia adalah Sehun "se-Sehun?"
Saat bibirnya memiliki celah untuk berucap, maka sekali lagi Luhan memanggil nama Sehun membuat pria yang masih melumat bibirnya tersenyum –Luhan bisa merasakan di bibirnya- Sehun menyudahi ciuman lembutnya dengan hisapan kecil untuk kemudian menatap Luhan yang masih tak berkedip saat ini.
"Ini aku, Sehun."
Hks…
Tiba-tiba saja hati Luhan penuh sesak saat melihat Sehun tersenyum setelah satu minggu bersikap dingin padanya, sungguh rasanya seluruh kesulitan Luhan dibawa pergi dengan senyum lembut yang Sehun berikan untuknya. "Tapi bagaimana bisa? Bukankah kau sedang membenciku?"
Nyatanya hati Sehun sama sesaknya dengan Luhan. Melihat bagaimana Luhan terisak hanya karena dia tersenyum membuatnya terlihat seperti orang jahat yang dengan tega mengambil kebahagiaan seseorang.
"Aku sedang menyesali perbuatanku karena membencimu –tidak- aku tidak pernah membencimu. Aku hanya seorang pria kekanakan yang cemburu melihatmu dicium pria lain. Harusnya aku mendengarkanmu saat kau bilang tidak memiliki hubungan lagi dengannya, bukan menyiksamu dengan sikap dinginku. Maafkan aku Lu, aku hampir kehilanganmu dan aku sangat menyesal. Maafkan aku."
Luhan menggeleng cepat, akhirnya hari yang dia tunggu datang padanya. Hari dimana dia mengira Sehun tidak akan pernah menyapanya lagi berbalik menjadi hari yang begitu membahagiakan untuknya.
Buru-buru dia menggenggam tangan Sehun, menciumnya penuh cinta untuk mengatakan "Jangan cemburu lagi, hatiku tidak ada untuk pria lain. Sudah untukmu Sehunna."
Jika malam ini dia tidak mengantar sang ayah untuk melakukan check up maka kemungkinan Sehun dan seluruh pikiran bodohnya akan memakan waktu lebih lama untuk bersikap dingin pada Luhan, pada pria yang benar-benar seperti malaikat, pada pria yang harusnya balik membenci tapi nyatanya masih meyakinkan bahwa hati Luhan hanya miliknya seorang.
"Bagaimana kau bisa sangat baik padaku Lu? Bagaimana bisa kau tidak membenciku walau hanya satu menit."
Tangan Sehun yang berada di jemarinya kembali Luhan kecup, jika ditanya apakah dia marah jawabnya dia pernah marah, jika ditanya apa dia kecewa, jawabnya dia pernah, tapi jika dia ditanya apakah dia membenci Sehun maka Luhan dengan tegas akan menjawab tidak…..Dia tidak bisa membenci Sehun, entah karena apa.
Rasanya Sehun adalah satu-satunya pria yang bisa membuatnya bahagia. Jadi tidaklah wajar jika dia membenci apa yang bisa membuat hatinya bahagia "Aku sudah membencimu juga selama satu minggu. Jadi malam ini aku tidak ingin membencimu lagi, hatiku sakit." Ujarnya terlalu polos hingga membuat air mata Sehun terjatuh dengan cepat.
"Jangan menangis, aku sudah bilang tidak akan membecimu Sehunna."
Sehun tertawa, dia mengusap cepat air matanya untuk kembali menunduk dan mencium bibir Luhan yang masih terasa dingin "Aku tidak menangis, aku hanya tidak habis pikir malaikat seperti apa yang Tuhan kirimkan untukku. Kenapa kau sangat manis sayang?"
"Kau juga manis jika tidak bersikap menyeramkan."
"Maafkan aku Lu."
Jelas Luhan menyindir, tapi ketika sindirannya diiringi tawa kecil maka bisa dipastikan itu hanya salah satu cara yang dilakukannya untuk meminta Sehun agar tak bersikap dingin lagi padanya "Sudahlah, setidaknya kau sudah disini bersamaku. Kau juga sudah-…..tunggu! kenapa kau bisa ada disini? Apa kau sakit?"
"Bagaimana bisa seseorang yang sakit bertanya sakit pada seseorang yang sehat? Aku baik-baik saja sayang."
"Lalu kenapa kau berada di rumah sakit?"
"Ayahku melakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum kembali ke Jepang. Aku sedang menemaninya dan tak sengaja melihatmu dibawa ke ruang gawat darurat, aku takut melihatnya."
Entah mengapa Luhan tak menyukai satu kalimat terakhir Sehun saat ini, karena saat dia mengatakan takut melihatnya bukankah itu memiliki arti lain seperti mengasihani. Membuatnya tiba-tiba membuang wajah dan menolak untuk melihat pria tampan yang kini terlihat bingung karena sikap Luhan.
"Apa aku melakukan kesalahan? Apa aku menyinggungmu?"
"Tidak…Aku hanya tidak suka dikasihani."
"Siapa yang mengasihani siapa?" tanyanya bingung dibalas jawaban ketus dari Luhan "Kau mengasihaniku!"
"Aku tidak."
"Bohong!"
"Sama seperti Baekhyun atau Kai sekalipun, kalian hanya terus memandangku iba. Pikirmu aku suka dikasihani."
"Lu kau salah paham. Aku sama sekali tidak mengasihanimu."
"Terserahmu saja. Baiknya kau pergi sekarang, jangan temani aku jika kau tidak mengasihaniku."
"Tapi Lu…."
"Sungguh, aku sangat menghargai kedatanganmu. Tapi bisakah kita bicara setelah aku merasa lebih baik? Jangan membuatku terlihat buruk."
Luhan terdengar memohon, dia bahkan membalikan tubuhnya ke arah berlawanan, memberi punggung pada Sehun dan benar-benar tidak ingin membahas apapun karena nyatanya sikap Sehun berubah lebih baik setelah mengetahui bahwa dia sakit.
"Luhan…"
"….."
"Apa kau akan terus memunggungiku?"
"….."
Diam-diam Sehun mendekati Luhan, memegang pundak yang kini menolak menatapnya untuk membujuk namun percuma karena Luhan benar-benar tak ingin menatapnya "Kau ingin aku pergi?"
"….."
"Baiklah aku akan pergi. Tapi suka atau tidak, aku akan datang lagi besok pagi. Aku harus mendengar sendiri keadaanmu dari Haejin hyung."
Sehun mengenal dokter Park?
Ingin rasanya dia bertanya, tapi jika dia bertanya itu hanya akan mengulur waktu dan Sehun akan tetap menemaninya "Aku pergi hmm… Jika terjadi sesuatu kau harus segera memanggil perawat yang berjaga. Aku akan meminta mereka menjagamu. Dengar?"
Kali ini Luhan mengangguk, ya….Setidaknya dia merespon, karena sungguh diamnya Luhan adalah hal terburuk yang bisa membuat Sehun kehilangan akal sehatnya "Sampai besok."
Terakhir Sehun mencium pundak Luhan, menaikkan selimut yang Luhan gunakan lalu berjalan menjauh dari ruangan "Kau bisa kembali tidur sekarang, Selamat malam dan mimpi indah Lu."
Cklek..!
Dan ketika suara pintu terdengar dibuka lalu ditutup perlahan, barulah Luhan membuka mata. Memastikan bahwa Sehun benar-benar pergi sebelum diam-diam tersenyum untuk membalas ucapan selamat malam dari Sehun "Kau juga Sehun, Selamat malam."
.
.
.
.
.
.
.
.
Seoul hospital. 09.00 KST
.
.
"Jadi bagaimana hasilnya dokter Park?"
Pagi ini Luhan sudah melakukan serangkaian kegiatan untuk memastikan ulang kondisi terbarunya. Sejak pagi buta dia melakukan CT-Scan beserta MRI, lalu pengecekan denyut jantung hingga pengambilan darah untuk bertemu langsung dengan dokter yang menanganinya hampir lima tahun terhitung hari ini.
"Kita baru bisa mendapatkan hasilnya minggu depan Lu."
"Tidak bisa hari ini?"
"Sayangnya tidak."
"Aku tidak yakin bisa datang minggu depan."
"Kau harus datang. Lagipula aku rasa percuma menolak, kau akan tetap datang mengingat Sehun terus menerorku dan bertanya tentangmu melalu ponsel." Katanya mengangkat ponsel dan menunjukkan pada Luhan bahwa sedari awal dia melakukan pemeriksaan Sehun terus bertanya dan mengganggunya.
"Sehun?"
"Sehun"
"Dokter Park anda mengenal Sehun? Maksudku Presdir Oh."
"Tentu saja. Aku mengenalnya sejak kecil hingga dia menjadi seorang pria."
"huh?"
"Dia sahabat Chanyeol."
"Chanyeol?"
"Ya Chanyeol. Jika kau mengenal Sehun, maka aku rasa kau juga mengenal adikku."
"Adik? Apa kita membicarakan Direktur Park Chanyeol pemilik JYC'ent."
"Jika kau memanggilnya Direktur Park, maka benar kita membicarakan adikku."
"whoa…. Dunia benar-benar sempit."
"Kau benar, aku dibuat terkejut karena malam tadi melihat Sehun begitu menghkhawatirkanmu. Dia juga banyak bertanya tentang kondisimu."
Luhan tersenyum pahit dan tak lama bergumam "jadi benar dia mengasihaniku."
"Dia tidak mengasihanmu Luhan, begitupula dengan semua yang mengetahui kondisimu. Tak ada satupun yang mengasihani kondisimu."
"Benarkah?"
"mmhh…Tak ada alasan untuk mengasihani seseorang yang kau cintai, lagipula itu tidak mask akal. Sehun mencintaimu jadi wajar jika dia khawatir, lagipula aku melihat dia benar-benar mencemaskanmu."
"Dokter Park bagaimana anda bisa mengatakannya seperti itu?"
"Mengatakan apa? Mengatakan si idiot itu menyukaimu?"
"Whoa…."
"ha ha ha….Santai saja Lu, ah ya-….Sehun menitip pesan untukmu."
"Apa?"
"Dia minta maaf tidak bisa datang hari ini. Dia harus mengadakan rapat ulang dengan seluruh manager dan seluruh pemegang saham agensi, itu pesan yang harus aku sampaikan."
"Semoga tak ada lagi hasil rapat yang membuat kepalaku sakit."
"Kau tenang saja. Dia tidak akan berani membuat kepalamu sakit."
Luhan tertawa lagi namun terlihat kesal. Dia pun sengaja mencibir lalu beranjak dari tempat duduknya untuk beralih ke kursi roda yang membawanya pagi tadi "Kalau begitu apa aku sudah diperbolehkan pulang?"
"Tentu saja. Kau sudah boleh pulang hari ini."
"Obatku?"
"Tak ada lagi obat untukmu. Kami akan memberikannya secara rutin melalui injeksi. Jadi kau harus datang agar kejadian malam tadi tak terulang."
"ayolah dokter Park! Aku sibuk."
"Aku juga. Jadi untuk memastikan kondisimu, aku harus melihatmu paling tidak sebulan sekali."
Luhan putus asa, nyatanya setelah dia tahu dokter yang menanganinya memiliki hubungan darah dengan mantan kekasih Kyungsoo, di kalah dan mengetahui bahwa selamanya dia tidak akan pernah bisa menolak yang sudah menjadi keputusan dua bersaudara yang memiliki sifat yang tak jauh berbeda. "Baiklah aku mengerti. Aku permisi kembali ke kamar."
"Perawat Kim, segera antar pasien ke ruangannya."
"Baik dokter Park."
Dan tak lama perawat wanita dengan ID Card Kim Haneul itu mendorong kursi roda Luhan, membawanya segera pergi meninggalkan ruang pemeriksaan intensif untuk membawa Luhan kembali ke kamarnya.
"Apa anda ingin ke suatu tempat Tuan Xi?"
"Panggil Luhan saja perawat Kim."
"Baiklah Luhan, apa anda ingin pergi ke suatu tempat."
"Tidak perlu, aku hanya ingin kembali ke kamar lalu pulang pada siang hari."
"Baiklah. Aku akan membawa anda kembali ke kamar."
"Terimakasih."
Perawat cantik itu mengangguk sebagai balasan, dia kemudian membawa Luhan menuju lift terdekat dengan kerumunan yang entah mengapa berada di sekitar lobi dan lift yang menuju ruang VIP.
"huh? Kenapa banyak sekali wartawan? Apa yang terjadi?"
Perawat cantik yang sedang mendorong kursi rodanya tersenyum kecil, dia pun segera menekan tombol lift khusus pasien VIP lalu menjawab pertanyaan Luhan "Mereka menunggu aktor Do Kyungsoo turun dari kamarnya."
Sontak Luhan terkejut, dia kemudian menoleh untuk memastikan apa yang baru saja dia dengar "Menunggu siapa?"
Ting!
Bersamaan dengan pertanyaannya, pintu lift terbuka. Luhan merasa tak mendapat jawaban sementara perawat yang sedang membantunya hanya tersenyum dan menekan lantai kamarnya "Menunggu Do Kyungsoo. Mereka semua berusaha dan terus menunggu jawaban langsung dari Tuan Do, namun sayang pihak agensi maupun sang aktor belum memberikan pernyataan terkait skandalnya dengan Kim Jongin."
"tidak…."
Bukan jawaban sang perawat yang membuat tubuh Luhan tegang saat ini.
Nyatanya ada hal lain yang lebih gawat dari sekedar kumpulan wartawan yang berada dibawah menunggu adik tirinya.
Karena saat pintu lift tertutup perlahan maka disaat yang sama Luhan melihat dengan kedua matanya sendiri bahwa disana, tepat di depan kedua matanya, dia bisa melihat sosok yang kehadirannya begitu tidak ingin Luhan lihat.
Sosok yang membuat hubungannya dan Kyungsoo menjadi begitu mengerikan.
Sosok yang menyebut dirinya sebagai seorang ayah untuk Luhan dan Kyungsoo
"tidaktidak…"
Luhan panik, beberapa kali dia mencoba mengelak namun sial!-…Ketika matanya dan mata pria tua itu bertemu maka bisa dipastikan jika itu benar adalah ayahnya dan Kyungsoo "A-Apa yang dia lakukan disini?"
Perutnya terasa sangat mual, detik berikutnya Luhan mencoba berfikir dan bertanya-tanya "Apa aku belum mengirimkan uang padanya?"
"Tuan Xi? Anda baik-baik saja?"
"sial! Aku harus melakukan sesuatu. Dia pasti mencari Kyungsoo."
"Tuan Xi?"
"huh?"
Luhan bergumam bingung, kepalanya penuh dengan berbagai tebakan tapi tidak mengerti harus mulai darimana. Dia kemudian mendongak untuk menatap sang perawat lalu mengangguk sebagai jawaban "Aku baik-baik saja." Ujarnya merasa begitu mual untuk mendapati hal gila lainnya yang kali ini terjadi didalam lift.
Saat ini dia tak berada sendiri di dalam lift, ada sekitar empat orang yang memakai sneli layaknya seorang dokter. Awalnya Luhan mengira dia benar-benar dokter, tapi ketika ID Card yang disembunyikan dokter disampingnya bertuliskan KBS maka bisa dipastikan dokter yang berada satu lift dengannya adalah wartawan sialan yang mengincar Kyungsoo dan kini menyamar menjadi dokter.
"bajingan! Kalian terlalu licik." Katanya mengumpat marah sebelum
Ting!
Suara pintu lift terbuka. Luhan dan perawat yang membawanya berjalan ke sisi sebelah kanan sementara wartawan sialan itu berjalan ke sisi sebelah kiri "Perawat Kim?"
"Ya."
"Dimana letak kamar aktor Do Kyungsoo?"
"Tepat di sebelah kamar anda Tuan Xi."
"haah—syukurlah."
Setidaknya Luhan bisa bernafas sedikit lega, dia masih memiliki waktu untuk menyelamatkan adiknya. Jadi ketika perawat Kim sampai membawanya ke dalam kamar maka Luhan hanya berpura-pura tidur untuk mengatakan "Terimakasih perawat Kim. Aku ingin tidur saat ini."
"Baiklah saya permisi Tuan Xi. Jika anda membutuhkan sesuatu, tolong tekan tombol di atasmu, kami akan segera datang."
"Baiklah."
Tak lama terdengar bunyi klik. Itu artinya pintu sudah ditutup dan Luhan berada seorang diri dikamar. Buru-buru Luhan bangun dari tempat tidur, mengganti pakaian rumah sakit dengan pakaian miliknya untuk mengambil seluruh barangnya seperti tas, ponsel dan kunci mobil miliknya "cepat cepat cepat…" katanya begitu ketakutan sebelum
BLAM…!
Dia memastikan kondisi kamarnya sepi, segera berlari menuju kamar Kyungsoo dan tak lama
BRAK…!
"Luhan?"
Kwangsoo yang menyadari sosok familiar yang kini menerobos masuk ke dalam kamar artisnya. Bertanya-tanya apa yang dilakukan Luhan hingga terlihat begitu ketakutan "Hyung!"
Mata Kyungsoo yang baru saja terpejam kini terbuka. Buru-buru dia menoleh untuk mencari suara yang diam-diam sangat ingin ia dengar untuk bertatapan langsung dengan pria yang sangat ingin dia lihat saat ini "Luhan?"
"Ada apa? kenapa kau berteriak?"
"Kita harus membawa Kyungsoo pergi. Kita harus—SEKARANG!"
"Mwo? Tapi kenapa?"
"Luhan ada apa?"
Luhan menatap cemas adik tirinya, menyadari bahwa kondisi Kyungsoo masih terlihat lemah adalah hal yang membuat kecemasannya berkali-kali menjadi lebih banyak. Dia kemudian menghampiri lemari kosong di samping Kyungsoo untuk membawa semua barang yang diperlukan.
"Kita pergi." Katanya melirik Kyungsoo dengan tangan yang masih bekerja memasukkan beberapa pakaian adik tirinya "Pergi? Kenapa?"
"Aku akan menjelaskannya nanti—Hyung! Ganti pakaian Kyungsoo, Sekarang!"
"sial! Apa yang sebenarnya terjadi."
"Aku tidak punya waktu." Katanya kesal diiringi suara geraman Kwangsoo yang tak kalah kesal. Manager yang telah bekerja untuk Kyungsoo selama lima tahun itu pun melipar kasar majalahnya untuk berjalan kesal mendekati Luhan.
Sret…!
"rrhhh…"
Saat Kwangsoo mencengkramnya erat maka gerakan Luhan memilah pakaian Kyungsoo pun terhenti, dia juga meringis kesakitan untuk bertatapan langsung dengan sang manager "Apa yang kau lakukan hyung?"
"Harusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan? Kenapa tiba-tiba datang dan memaksa Kyungsoo pergi? Kau sendiri yang mengatakan agar Kyungsoo tetap berada di rumah sakit sampai kondisinya pulih!"
"Lepas…"
"Tidak sampai kau menjelaskan."
"Aku bilang lepas!"
Luhan menghempas kasar tangan Kwangsoo. Sedikit mendelik marah untuk mengatakan "Wartawan akan segera menemukan Kyungsoo."
"Wartawan? Bagaimana bisa? Lantai ini dijaga dengan ketat."
"Seseorang pasti mereka bayar dengan harga mahal."
"Apa maksudmu?"
"Mereka menyamar menjadi dokter visit ke ruang VIP!"
"brengsek."
Ketika Kwangsoo menggeram, maka wajah sang artis terlihat sangat pucat. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika sekerumunan wartawan itu mengganggunya dengan berbagai pernyataan.
Nyatanya hingga saat ini dia tidak mendengar kabar tentang Kai, Kyungsoo bertaruh Kai sangat kecewa hingga tak sudi menemuinya. Meskipun nyatanya ini adalah perbuatan mereka, tapi rasanya wajar jika Kai bersikap tak peduli seperti yang dilakukannya saat ini.
Lain Kai maka lain pula Chanyeol.
Mau bagaimanapun statusnya masih kekasih direktur muda yang hatinya pasti sudah dia hancurkan. Beberapa kali Chanyeol menghubunginya namun dia abaikan, yang Kyungsoo lakukan hanya bersembunyi selama mungkin dia bisa untuk menghindari masalah yang lebih buruk untuk karir Kai dan tak ingin menyakiti hati Chanyeol lebih dalam.
"KYUNGSOO!"
"huh?"
Dia terkejut saat mendapati wajah Luhan berada tepat di depan wajahnya. Rasanya begitu menyenangkan melihat wajah yang memiliki beberapa bagian serupa dengan wajahmu kini sedang menatap cemas namun penuh cinta ke arahmu.
Selama dua puluh lima tahun hidupnya ini kali pertama Kyungsoo merasa begitu senang menatap seseorang begitu dekat. Tatapan Luhan begitu lembut dan jika dilihat lebih jauh rasanya mereka memiliki tekstur rahang yang tak jauh berbeda, Kyungsoo diam-diam tersenyum lalu bertanya "Ada apa?"
"Kita pergi."
Dan ketika tangan Luhan menggenggam tangannya maka rasa hangatnya langsung menjalar ke seluruh bagian tubuh Kyungsoo, rasanya hangat.
"brengsek! Aku rasa itu mereka! Jumlah mereka terlalu banyak untuk dokter visit."
Luhan ikut memastikan, dia pun melihat dari celah jendela kamar Kyungsoo untuk membenarkan "Itu mereka."
"Kalau begitu cepat kalian pergi. Aku akan mengecoh mereka."
"Baiklah!"
"Aku titip Kyungsoo padamu."
Luhan mengangguk dan bersiap keluar dengan tangan yang menggenggam erat tangan Kyungsoo "Aku akan menghubungimu setelah membawa Kyungsoo ke tempat yang lebih aman."
"Aku mengandalkanmu Lu. Sampai nanti."
Kyungsoo menggeleng saat sang manager menitipkannya pada Luhan "Kau akan baik-baik saja bersama Luhan."
"tapi hyung…"
Ketidakberdayaannya saat inilah yang membuat Kyungsoo terlihat lemah. Dia ingin menilak bantuan pria yang selalu ia sakiti, tapi ketika tangan Luhan benar-benar menggenggam kuat tangannya, dia pasrah.
Sisanya dia hanya membiarkan Luhan membawanya pergi entah kemana.
BLAM!
"Masuk ke dalam mobil."
Sesampainya di basement Luhan membukakan pintu mobil untuk Kyungsoo. Matanya memastikan ke sekeliling basement seolah memastikan tak ada satu orang pun yang akan mengenali Kyungsoo saat ini.
"Cepat masuk!"
Kyungsoo diam, dia ingin masuk ke dalam mobil. Tapi melihat bagaimana wajah Luhan masih terlihat pucat maka rasanya sulit untuk berpura-pura tidak tahu jika Luhan memang tidak dalam kondisi yang baik.
"Soo! Cepat masuk ke dalam mobil. Sekarang!"
"Apa kau baik-baik saja?"
"huh?"
"Aku melihatmu tak sadarkan diri malam tadi. Apa kau baik-baik saja?"
Lagi-lagi dikasihani. Pikir Luhan.
Dia benci tatapan Kyungsoo saat ini.
Demi Tuhan, dia bahkan lebih memilih Kyungsoo yang biasa menatapnya benci daripada harus menerima belas kasih seseorang yang jelas lebih muda darinya. Membuat entah mengapa hatinya menggeram kesal untuk berkata sangat dingin "Aku rasa kau memiliki mata untuk melihat. Aku baik-baik saja, jadi cepat masuk kedalam mobil!"
"kau pucat."
"DO KYUNGSOO!"
Sementara Kyungsoo tersentak maka Luhan tengah mengusak kasar wajahnya saat ini, dia benar-benar marah. Terlalu marah karena disaat terdesak seperti ini Kyungsoo bertingkah seolah peduli padanya "Bisakah kau masuk ke dalam mobil? Jika tidak cepat orang itu akan menemukan kita!"
"Orang itu?"
"CEPAT!"
Kali ini Kyungsoo mengalah, diapun segera mendekati mobil namun enggan masuk kedalam mobil sebelum memastikan satu hal "Kenapa kau membantuku?"
"Karena kau artisku! Aku hanya tidak ingin mereka mengganggumu!"
"Kau terlalu naif Lu, aku butuh alasan lain."
"Kau butuh alasan lain?"
"Ya."
Luhan tertawa pahit untuk membalas sangat tegas "Karena kau adikku." Katanya memaksa Kyungsoo masuk ke dalam mobil sebelum
BLAM!
Dia menutup kencang pintu mobil, berlari memutar arah untuk ikut masuk ke dalam mobil dan
BRRMM!
Tak ada yang berbicara selama dalam perjalanan.
Untuk Luhan dia hanya sedang melakukan segala cara menjauhkan Kyungsoo dari ayah mereka, dia tidak ingin Kyungsoo bertemu pria tua yang kelak hanya akan menjadi benalu di hidup Kyungsoo.
Sementara untuk Kyungsoo, dia hanya diam. Sesekali matanya menatap Luhan yang terlihat tegang lalu mengalihkannya ke pemandangan pagi hari.
"jadi begini rasanya."
Dia tersenyum sangat kecil, namun dibalik senyumnya yang begitu enggan dibagikan terdapat hati yang berdebar karena bahagia. Terlalu bahagia karena untuk kali pertama setelah lima belas tahun setelah kepergian ibunya, Kyungsoo bisa berada di satu tempat dengan jarak sedekat ini bersama satu-satunya pria yang bisa dia sebut sebagai…., keluarga
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ckit…!
Entah kemana Luhan membawanya pergi, yang jelas Kyungsoo mengetahui tempat mereka kini berada adalah di sekitar Gwangjin. Tempat yang membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk sampai ke Seoul ini terlihat semakin indah dengan pantai sebagai tawaran utama yang bisa memikat wisatawan asing.
"Kita dimana?"
Rasanya mual berada dalam mobil untuk waktu yang lama, jadi ketika Luhan berhenti di depan kedai sup iga yang kelihatannya ramai, maka yang sedang mengandung bayi di perutnya terlihat bahagia dengan tatapan mata yang tak bisa berbohong dan seolah mengatakan aku mau sup iga itu.
"Kau akan tinggal disini untuk sementara."
"Tinggal dimana?"
Luhan menunjuk kedai makanan bertuliskan "happy tummy" yang secara konyol di pasang disana. Sedikit tersenyum pahit untuk mengatakan bahwa Kyungsoo akan tinggal disana "Disana, di dalam kedai happy tummy."
Awalnya Kyungsoo tidak ingin berdebat, toh dia bisa menyalurkan bakat memasak yang dia miliki jika tinggal dirumah kerabat Luhan. Dia benar-benar hanya akan menjadi Do Kyungsoo yang sangat suka memakan segala macam makanan tanpa harus takut jika kamera tersembunyi sedang mengambil gambarnya.
"Tidak masalah. Apa ini kedai temanmu?"
"Bukan."
"Lalu siapa?"
Luhan diam sejenak. Diam-diam matanya juga mencuri pandang dan mencari sosok yang begitu dirindukannya didalam kedai. Berharap wanita paruh baya yang selama ini dia abaikan terus bahagia tanpa harus tahu mengingat bahwa dia memiliki putra yang tak pernah mengunjunginya untuk waktu yang lama. "Ibuku."
"huh"
Luhan menangkap perubahan di mata Kyungsoo, dia yakin Kyungsoo mendengar kalimat ibuku. Jadi seolah mengelak, adik tirinya hanya berpura-pura tidak mendengar dan berharap bahwa Luhan tak akan mengulang kalimat "Ibuku—Kedai ini milik ibuku."
Deg!
Menyadari ditempat siapa dia berada—Kyungsoo mual.
Tubuhnya juga lemas tak menyangka Luhan akan begitu berani membawanya untuk bertemu dengan wanita yang begitu dia benci seumur hidupnya.
"Berani sekali kau!"
Buru-buru Kyungsoo melepas seatbeltnya. Menatap Luhan dengan tatapan seribu caci dan kebencian untuk membanting pintu mobil
BLAM!
Dia berjalan gontai dengan bayangan-bayangan yang selalu menghantuinya. Bayangan saat wanita sialan itu datang ke pesta ulang tahunnya dan merenggut seluruh kebahagiannya.
Tak hanya pesta ulang tahun tapi nyawa ibunya juga wanita itu renggut dalam satu hari. Hari dimana harusnya Kyungsoo bahagia menjadi hari yang paling dibencinya hingga saat ini.
"brengsek! Berani sekali kau membawaku untuk bertemu dengan-…."
Sret…!
Seketika tangannya kaku saat Luhan mencengkram kuat lengannya. Ingin rasanya dia ingin menampar Luhan jika tidak melihat bahwa air mata juga sudah membasahi wajah cantik kakak sekaligus pria yang dia begitu benci.
"Lepas."
"Kau harus masuk dan memberi hormat pada ibuku."
"cih! Kenapa aku harus memberi hormat pada pembunuh?"
"Jaga bicaramu sialan!"
"Jaga bicaraku? Jika tidak ingin disakiti kenapa kau membawaku pada pembunuh-….."
"DO KYUNGSOO!"
Luhan menangis penuh rasa sakit dihatinya. Dan untuk melampiaskan seluruhnya dia mencengkram kuat lengan Kyungsoo. Terlalu kuat hingga warna merah terlihat pada lengan mulus tanpa cela yang dimiliki aktor berbakat Do Kyungsoo. "Kau harus—kau harus memberi hormat pada ibuku!"
Kyungsoo menghempas kasar tangan Luhan untuk kembali menyerang pria yang sudah beberapa kali menolongnya namun kini menjebaknya dalam situasi sulit "Apa kau gila? Pikirmu aku akan memberi hormat pada wanita yang telah membuatku ibuku meninggal? Pikirmu aku akan sudi bertatapan wajah dengan wanita yang membuat ibuku-…."
"IBUKU JUGA MATI!"
"Gila!"
Kyungsoo tak lagi ingin berdebat dengan Luhan, entah mengapa semua perbincangan gila ini membuat kepalanya sakit. Kenapa pula Luhan terus memaksanya memberi hormat pada wanita yang harusnya dia hina. Membuat bibirnya tersenyum kelu dengan kaki tertatih berusaha untuk pergi sejauh mungkin.
"Aku juga kehilangan ibuku di malam yang sama saat kau kehilangan ibumu, Soo."
Tap!
Kyungsoo tahu nada itu, dia pernah menggunakannya setahun setelah kepergian sang ibu –hancur dan begitu rindu- nada dimana seseorang ketika sedang merindukan ibunya. Nada rendah dipenuhi luka dengan rasa rindu yang begitu hebat.
Tapi kenapa Luhan juga mengeluarkan nada yang sama? Katanya bertanya, Dan entah karena alasan apa dia kembali menatap Luhan untuk bertanya "Apa maksudmu?"
Luhan mengangkat wajahnya, mencoba tegar walau rasanya pedih untuk mengatakan "Ibuku tidak bisa melihat wajahku lagi setelah malam itu."
"…"
"Selama lima belas tahun aku seperti menatap orang asing, bukan ibuku."
"….."
"Dia merasa sangat bersalah padamu hingga tak bisa melihat wajahku lagi,"
"kau tahu kenapa?" lirihnya bertanya disambut bungkam oleh Kyungsoo "Karena tiap kali dia melihat wajahku dia akan menangis mengingatmu. Dia ketakutan tak tahan membayangkan bahwa anak lelaki sepuluh tahun hidup seorang diri dengan kebencian yang begitu hebat. Ibuku begitu ketakutan hingga tak bisa melihat wajahku. Dia bisa gila jika melihat wajahku."
"Apa yang kau bicarakan?"
"Karena sepertimu, ibuku secara tak langsung juga menganggapku sebagai pembunuh. Dia juga berfikir akulah pembunuh ibumu!"
"….."
"Jika saja hari itu kondisiku tidak kritis mungkin kau akan tetap bahagia bersama ibumu, tapi cerita berbeda terjadi saat ibumu berfikir akan ditinggalkan. Semuanya terjadi terlalu cepat untuk kita, jadi bisakah—Bisakah kau melupakan semuanya dan memberi hormat pada ibuku? Kumohon kurangi rasa bersalahnya. Kumohon Soo."
Harusnya dia mengatakan tidak dengan tegas. Tapi ketika Luhan menceritakan bagaimana dia mengalami masa yang sulit sama dengannya, Kyungsoo diam.
Kyungsoo juga sengaja membiarkan telinga lain mendengar percakapan mereka. Karena ketika Luhan mengatakan bagaiamana hubungan yang dia jalani selama lima belas tahun dengan sang ibu, maka wanita cantik yang merupakan ibu kandung Luhan sedang membekap erat mulutnya saat ini.
Bibirnya terisak dalam diam sementara hatinya hancur berkeping-keping mendengar betapa keji dia telah menghancurkan hidup putranya selama lima belas tahun.
Sikap Luhan yang selalu dingin semata-mata hanya pertahanan dirinya agar dia tak lagi terluka.
Putra kecilnya memiliki fisik yang sempurna tanpa cacat, rupanya juga menawan tanpa satu helai goresan, semua terlihat indah.
Tapi ketika kau melihat semakin dalam maka hanya akan ada banyak luka yang harus dirasakan tubuh mungil putranya, yang harus dipikulnya seorang diri.
Benjolan yang tak pernah benar-benar hilang dari kepalanya.
Hati yang tergores tanpa mau berhenti terluka
Dengan perasaan yang hancur berkeping
Luhannya begitu mungil namun harus menerima semua kesulitan ini seorang diri. Hatinya terkoyak menyadari bahwa untuk waktu yang lama dia telah menghancurkan hati putra kecilnya, hati yang nyatanya masih dipenuhi cinta untuknya.
"Maafkan ibu nak. Maaf—hks.."
Sontak Luhan terkejut, matanya terpejam cukup lama berharap itu bukan ibunya, berharap dia tidak mendengar suara sang ibu. Tapi ketika matanya dan mata Kyungsoo bertatapan maka tatapan Kyungsoo seolah mengatakan itu ibumu.
Luhan lemas, perlahan dia menoleh, matanya enggan menatap sang ibu. Tapi ketika tak ada alasan lagi untuk menghindar maka rasanya begitu hancur melihat wanita yang begitu ia cintai menangis dengan tangan yang menyatu seolah memohon ampun padanya "Luhan, anakku, maafkan eomma nak."
"eomma.."
.
.
.
.
.
.
.
.
Seoul, delapan jam kemudian.
.
.
Drrt..drrtt
"Lu, apa kau sudah kembali dari Tokyo? Aku menunggu janjimu sayang."
Drrt…drrtt..
"SEBENARNYA KAU DIMANA?"
Dua pesan berbeda itu terus bermunculan di ponselnya. Jika sahabatnya –Baekhyun- terus menagih janji agar memberikan alamat mantan kekasihnya. Maka si mantan kekasih justru terlihat menjauh dan enggan membahas masa lalu bersama sahabatnya.
"aku harus bagaimana?"
Drrtt…drrtt
Entah sudah berapa puluh kali nama Oh Sehun tertera di ponselnya, pria tampan yang diam-diam begitu dia cintai terus menghubunginya tanpa henti. Ingin rasanya Luhan mengangkat panggilan Sehun.
Tapi setelah itu apa?
Dia terlalu gugup hingga dengan sengaja membiarkan panggilan Sehun berakhir begitu saja.
"Lu, aku menunggumu. Benar-benar menunggu kabar darimu."
Bibirnya tersenyum pahit ketika membaca pesan dari Baekhyun yang sepertinya terus mendesak, seolah memaksa Luhan untuk menepati janjinya.
Janji yang dia sendiri tidak yakin bisa menepatinya.
"haaah…."
Hari sudah berganti lagi menjadi malam
Dan sialnya….
Hujan…
Butuh waktu berjam-jam untuk kembali ke Seoul.
Dan saat bis mengantarnya ke halte terdekat dengan apartement lama miliknya, maka Luhan hanya bisa duduk dan menunggu.
Menunggu bahwa sekiranya Tuhan akan berbaik hati membuat hujan reda dan membiarkannya segera pergi untuk tidur.
ya…Luhan sangat kelelahan.
"haaah…."
Terlalu lelah jika mengingat apa yang terjadi hari ini.
Hari dimana dia berhasil membuat Kyungsoo menemui ibunya.
Pelik pada awalnya namun hangat pada akhirnya
Begitulah yang terjadi.
Karena ketika Luhan bertaruh seumur hidupnya bahwa Kyungsoo tidak akan pernah memaafkan sang ibu maka diluar dugaan dia benar-benar memberi hormat pada ibunya.
Canggung memang,
Tapi setidaknya Kyungsoo tetap bersedia tinggal disana tanpa harus mengungkit apa yang terjadi lima belas tahun lalu.
Jika Kyungsoo bahagia maka hal yang sama juga dirasakan olehnya. Karena ketika hubungan Kyungsoo dan ibunya mengalami progress yang luar biasa maka hubungannya dengan sang ibu juga berangsur lebih baik.
Belum terlalu dekat memang, tapi setidaknya Luhan mulai menikmati panggilan anakku dari ibunya. Karena tiap kali dia mengingat bagaimana ibunya memanggil anakku maka jantungnya akan berdebar hebat, bibirnya tak berhenti tersenyum sementara seluruh wajahnya terasa terbakar namun menyenangkan.
"rasanya seperti jatuh cinta."
Ddrrt…drrttt
Ketika bibir Luhan sedang tersenyum sangat cantik maka tak lama ponselnya kembali bergetar, dia meliriknya, sedikit takut jika itu Baekhyun atau Sehun namun mendesah "akhirnya" saat nama Jin yang tertera.
Dan tak seperti panggilan Baekhyun yang dia alihkan
Atau panggilan Sehun yang dia abaikan. Luhan tersenyum
Dia butuh tumpangan, dan pria bernama Kim Seokjin ini selalu tahu waktu yang tepat untuk menghubunginya.
Sret…
"Jinna~"
"Lu? Haah—Akhirnya kau menjawab panggilanku. Dimana kau?"
"Halte."
"halte?"
"mmhh…"
"Terserahmu saja! Katakan dimana posisimu aku akan segera kesana."
"Aku ada di sekitar-…."
Sret!
Seseorang dengan sangat tidak sopan mengambil paksa ponsel Luhan, membuatnya secara refleks mendongak dan bersumpah untuk mengumpat jika matanya tak langsung menangkap siapa pria yang baru saja merebut ponsel dari tangannya.
"Aku akan mengantarnya pulang."
Pip!
Tak lama mata mereka bertemu pandang.
Jika yang satu menatap sangat ketakutan, maka yang satu terlihat sangat marah namun menahan sekuat jiwanya agar tidak berbuat gila.
Keduanya berpandangan cukup lama sampai bibir mungil Luhan yang lebih dulu bersuara dan bergumam "Sehun?"
Sehun mengusap kasar wajahnya.
Ingin rasanya dia membentak, tapi ketika wajah pucat Luhan begitu mendominasi, ketika bibir mungilnya bergetar kedinginan maka semua marahnya digantikan rasa cemas yang begitu hebat.
"Apa yang kau lakukan disini? Malam ini hujan, kenapa hanya duduk disini? Dimana mobilmu? Kenapa kau harus naik bis tengah malam? Apa yang sebenarnya kau lakukan HAH?"
Gagal sudah dia menahan diri, pikirannya benar-benar kacau bersamaan dengan cemasnya sepanjang hari. Pagi tadi dia kehilangan Luhan, dia mencarinya seperti akan mati. Namun malam harinya dia harus dibuat murka saat menemukan si pria mungil duduk di halte seorang diri di tengah hujan dengan tubuh yang sudah setengah menggigil karena kedinginan.
"Sehunna."
"APA?"
Luhan tersenyum pahit, dia juga mengangkat tangan tanda bahwa dia tidak memiliki pilihan lain selain diam dan tak berbuat apa-apa "Apa hakmu berteriak padaku?"
"huh?"
Kini Luhan bergerak resah di tempat duduknya, bertanya-tanya mengapa daripada senang dia merasa begitu marah.
Marah, karena semakin lama Sehun semakin menjajah hatinya tanpa dia tahu kapan akan ditinggalkan lagi "Bagaimana bisa kau disini? Dan kenapa kau terlihat marah? Apa yang mengganggumu?"
"Kau yang menggangguku!"
"Aku? Jika aku mengganggumu kenapa kau datang? Kenapa kau tidak pergi dan kembali pada Baekhyun!"
"Baekhyun?"
"YA BAEKHYUN!"
"Apa hubungannya dengan Baekhyun?"
"KARENA BAEKHYUN-…."Ucapannya terhenti tepat bersamaan ketika matanya dan mata Sehun bertemu. Detik berikutnya Luhan tertawa lirih untuk mengatakan "Sudahlah" katanya kini tertunduk dengan dua tangan yang mencengkram kuat pahanya.
"Aku rasa aku sudah gila."
Luhan tertawa, tapi Sehun bersumpah bisa melihat air matanya menetes dan membasahi dua tangannya yang terkepal erat.
Refleks dia pun berjongkok di depan Luhan. Menebak apa yang sedang terjadi sampai matanya menyadari dua tangan Luhan yang terkepal erat dengan nafas memburu hebat tanda dia marah namun tak mengerti harus melampiaskan dengan cara apa "Lu.."
Luhan menolak saat tangan Sehun memegang bahunya, dia enggan bersentuhan dengan pria yang diam-diam sangat dia cintai untuk menghindari degupan jantungnya yang semakin liar tiap kali bertatapan dengan kekasih sahabatnya. "Sehun pergilah."
"Kemana?"
"Kemanapun asal tidak didepanku."
"Kenapa?"
"…"
"Luhan"
"….."
Dan ketika Sehun mengangkat dagunya,
Ketika tatapan mata mereka dipaksa bertemu,
Ketika lagi-lagi tangan Sehun menggenggam lembut jemarinya.
Maka untuk kesekian kali pula Luhan jatuh, jatuh semakin dalam ke pelukan pria yang berada tepat di depan kedua matanya namun entah mengapa sulit dia genggam "hks.."
"Kenapa menangis?"
"entahlah…aku hanya bingung."
"Apa karena Baekhyun?"
Mata Luhan berkaca-kaca menatap Sehun, sungguh rasanya tidak sama lagi saat kali pertama Sehun memanggil Baekhyun dengan malam ini saat nama mantan kekasihnya dia sebut.
Dulu rasanya Luhan berniat menjadi fanboy nomor satu Sehun-Baekhyun, berbeda dengan malam ini, karena saat Sehun menyebutkan nama Baekhyun maka rasanya pula Luhan bisa menjadi haters nomor satu dari pasangan yang sedari awal selalu membuatnya iri.
"Kenapa karena Baekhyun? Apa kau akan kembali padanya? Apa kau akan-…."
"Hey Lu tenanglah."
"tenang?"
"Ya manis. Kau terlalu cemas."
"Benarkah?"
"Kau bahkan menangis."
"AKU TIDAK MENANGIS!"
Sehun tertawa kecil, dihapusnya air mata Luhan seraya menggenggam dua jemari Luhan yang kini berkerut tanda dia sangat kedinginan. "Baiklah kau tidak menangis, sekarang kita pulang." Katanya mengajak Luhan untuk beranjak namun tangan yang terasa mungil di genggamannya menolak dan enggan untuk beranjak pergi.
"Ada apa?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Baekhyun?"
"Apa kau akan kembali padanya? Apa kau akan—hks meninggalkan aku lagi?"
Bahu mungilnya bergetar hebat, semua katanya begitu menohok jantungnya sendiri, Luhan kelelahan karena hubungannya dan Sehun.
Terkadang dia ingin menyerah, tapi ketika Sehun datang menyambutnya, dia kalah. Yang dia inginkan hanya menjadi bagian dari hidup Sehun tanpa harus takut akan ditinggalkan lagi. Ingin sekali, sampai rasanya dia rela membangunkan sisi jahat dalam dirinya hanya untuk merasakan sejumput bahagia di seluruh kelam hatinya.
"tidak."
"huh?"
Namun saat Sehun menjawab tidak untuk pertanyaannya, maka disaat yang sama rasanya Luhan bisa merasakan letupan kecil yang begitu menghangatkan sekujur tubuhnya.
"Aku tidak akan kembali lagi pada Baekhyun. Apapun alasannya, apapun ceritanya, aku tidak akan pernah kembali lagi padanya."
"Tapi Baekhyun mengingankanmu kembali padanya."
"Lalu aku rasa aku akan membawamu keluar kehadapannya."
Dahinya mengernyit bingung, tanda dia bertanya, namun lagi-lagi Sehun hanya tersenyum dan menjawab terlalu tenang "Aku sudah mencintai pria lain, dan sialnya dia sahabat mantan kekasihku. Lalu apa yang akan mereka katakan tentangku? Aku tidak peduli selama pria yang aku cintai terus berada dipelukanku."
"Sehun."
Yang dipanggil lirih namanya sedikit tertawa, dia mengecup sayang dua tangan Luhan lalu mengusapnya sangat lembut "Entah apa yang kau janjikan pada Baekhyun, aku tidak peduli. Tapi satu yang akan aku katakan padamu. Dengar baik-baik."
"Apa?"
"Sebelumnya maafkan aku karena mengatakan kita tidak memiliki hubungan apapun malam itu, sungguh aku hanya terlalu emosi hingga mengatakan hal gila yang hingga malam ini saat aku sesali." Katanya begitu menyesal lalu beralih untuk menatap Luhan, sungguh-sungguh.
"Jadi untuk mencegah bibirku mengatakan hal gila lainnya, agar aku tidak perlu merasa cemburu pada semua pria yang mendekatimu, agar aku bisa bebas memeluk di depan umum, Xi Luhan, maukah kau…."
Sehun memberi jeda pada ucapannya. Detik berikutnya dia mengecup jemari Luhan lalu dengan mantap mengatakan "Maukah kau menjadi kekasihku?"
"Sehunna.."
Bersamaan dengan permintaan Sehun, maka rasanya bahagia Luhan sudah berada di depan mata. Ingin rasanya dia menjawab YA dengan seluruh tenaga dan suara yang dimilikinya. Tapi ketika bayang-bayang Baekhyun masih membuatnya ragu maka permintaan Sehun hanya dibalas senyum teramat lirih olehnya.
"Lalu bagaimana dengan Baekhyun?"
Buru-buru Sehun mendekap Luhan, mengecup sayang keningnya lalu bertanya "Apa kau ingin aku kembali pada Baekhyun? Apa kau tidak mencitaiku?"
Refleks, Luhan menggeleng. Dia bahkan membalas genggaman tangan Sehun untuk mengatakan "Aku mencintaimu."
"Lalu?"
"Lalu aku tidak ingin kau kembali pada Baekhyun."
"Kalau begitu maukah kau menjadi kekasihku?"
Diam….
Luhan tertunduk lagi, kalimat YA sudah berada di ujung bibirnya. Tapi ketika Sehun belum memberi kejelasan untuk Baekhyun maka kalimat YA itu seolah tertelan lagi di kerongkongannya "Baekhyun?"
"Aku yang akan berbicara padanya, mengatakan semuanya."
"Bagaimana jika dia membenci kita? Membenciku?"
"Pada awalnya aku juga membenci Chanyeol. Tapi seiring berlalunya hari, aku sudah melupakannya."
"Tapi ini -…."
"Begitupula dengan Baekhyun, wajar jika dia membenci kita, membencimu. Tapi nanti, pada akhirnya Baekhyun akan menerima kita sama seperti aku menerima dia dan Chanyeol."
"Benarkah?"
"Hanya percaya padaku, kekasihmu."
"tsk! Kau bukan kekasihku."
"Akan menjadi kekasihmu. Benar kan?"
"ck…"
Sebenarnya dia tertawa, tapi karena Sehun dan percaya dirinya mulai di atas rata-rata dia memalingkan wajah. Enggan menatap Sehun dengan seluruh wajahnya terasa terbakar saat ini
"Lu….Aku kekasihmu kan?"
"….."
"Baiklah jika tidak menjawab! Aku akan menemui Baekhyun dan-…."
"KAU KEKASIHKU? DENGAR? AKU KEKASIHMU DAN KAU KEKASIHKU!"
Sehun tertawa,
Ya tentu saja dia tertawa.
Bagaimana bisa dia tidak tertawa jika nyatanya Luhan sangat menggemaskan.
Karena ketika dia mencoba menakuti dan berdiri untuk beranjak pergi maka tangan mungil Luhan menarik kuat lengannya agar tetap berjongkok di hadapannya. Dan ketika mata mereka bertemu maka Luhan dengan sengaja kembali memalingkan wajahnya namun jemari tangannya tetap mencengkram erat lengannya hingga kuku jarinya berwarna merah.
"KAU KEKASIHKU!"
"Lalu?"
"Lalu jangan pergi!"
"astaga…"
"KENAPA? TIDAK MAU?"
"Bukan."
"Lalu kenapa?"s
"hatiku meleleh seperti ice cream."
"Kekanakan!"
"Tapi cinta?"
"…"
"Lu?"
"Iya cinta."
"Manisnya."
Sehun mengusap gemas kepala Luhan untuk sekali lagi bertanya, memastikan sendiri bahwa kini Luhan adalah benar-benar miliknya "Kau kekasihku kan? Benar-benar milikku?"
Luhan menggigit kuat bibirnya, dia hanya tidak percaya status sebelumnya dia dan Sehun hanyalah direktur-pegawai, lalu berubah menjadi teman yang saling mengerti sampai akhirnya berubah lagi menjadi sepasang kekasih.
Sungguh rasanya dia peru dibangunkan dari mimpi. Ah tidak-…Luhan tidak ingin bangun jika ini mimpi. "ouch!"
Tapi ketika nyeri dia rasakan saat Sehun mencubit pipinya, maka Luhan sadar ini bukan mimpi. Ini benar-benar dunianya. "Cepat jawab! Kau kekasihku kan?"
Dunia dengan roda yang terus berputar.
Dia yakin kemarin masih menangisi satu pria –mantan kekasihnya- tapi malam ini dia sudah bahagia karena pria lain, kekasihnya.
Jadi ketika Sehun terus mendesaknya untuk mengakui status mereka, Luhan tertawa.
Dia kemudian melompat ke pelukan pria –terlalu- tampan yang diam-diam sudah mengambil seluruh hatinya, menangis bahagia dan mendekapnya begitu erat untuk berbisik "aku kekasihmu." Pada Sehun, yang kini menjadi kekasihnya.
.
.
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
.
Nah gitu syihh!
Yang resmi lebih gereget del :""
finally RESMI *ingetbelomSahCumaresmiwwkw
.
Bau2nya mau end?
.
Dunnow akutuh.
.
Seeyousoonajadeh :*
