Previous

.

Sungguh rasanya dia peru dibangunkan dari mimpi. Ah tidak-…Luhan tidak ingin bangun jika ini mimpi. "ouch!"

Tapi ketika nyeri dia rasakan saat Sehun mencubit pipinya, maka Luhan sadar ini bukan mimpi. Ini benar-benar dunianya. "Cepat jawab! Kau kekasihku kan?"

Dunia dengan roda yang terus berputar.

Dia yakin kemarin masih menangisi satu pria –mantan kekasihnya- tapi malam ini dia sudah bahagia karena pria lain, kekasihnya.

Jadi ketika Sehun terus mendesaknya untuk mengakui status mereka, Luhan tertawa.

Dia kemudian melompat ke pelukan pria –terlalu- tampan yang diam-diam sudah mengambil seluruh hatinya, menangis bahagia dan mendekapnya begitu erat untuk berbisik "aku kekasihmu." Pada Sehun, yang kini menjadi kekasihnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

A' Friends Betrayal

Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo

Genre : Drama

Rate : M / NC!/

.

.

.

10.00 KST, OSH'ent

.

"Whoa daebak."

Seruan itu terdengar dari Manager merangkap coach vocal para trainee baru, Kim Minseok. Terlihat pria berparas cantik itu sedang terkagum-kagum dengan bibir kecilnya membuka lebar , dia bahkan terus mengatakan daebak tanpa mempedulikan bahwa dirinya sedang mengganggu oang-orang berlalu lalang saat ini.

"daebak…daebak."

"Apa yang daebak?"

Kali ini pria berparas "lebih" cantik yang bertanya. Membuat Minseok memekik heboh tatkala melihat sahabat kesayangannya dengan julukan all clean manager karena prestasinya dalam menemukan bakat seseorang dinilai terlalu outstanding.

"LUHAN!"

"astaga! Kenapa berteriak?"

Tap…tap…

Minseok berlari cepat mendekati si manager pencari bakat. Menatapnya terlalu rindu sebelum memeluk paksa si mungil yang kecantikannya bisa disandingkan dengan miss universe seluruh negara di dunia "Rinduuu…."

"Minnie!"

Luhan panik.

Ya, Jelas si manager pencari bakat panik.

Matanya bahkan terus menatap ke seluruh ruang agensi untuk berdoa segenap hati agar sang CEO yang sudah satu minggu ini resmi menjadi kekasihnya tidak melihat adegan dimana Minseok memeluknya terlalu erat mengingat kadar keposesifan seorang Presdir Oh sangatlah di atas rata-rata, menurut Luhan

"Wae? Kenapa kau tidak mau dipeluk?"

"Bukan tidak mau, hanya saja—.."

EKHEM!

"y-YAK!"

Dua pria cantik itu terlonjak di tempatnya masing-masing. Minseok yang paling terkejut, "Berani sekali kau!" Dia bahkan berniat untuk memaki siapapun yang tiba-tiba mengganggu moment nya bersama Luhan sebelum

Glup

Dia menelan kasar air liurnya, langkah kakinya mundur sementara tangannya keringat dingin melihat siapa yang kini sedang menatap terlampau tajam ke arahnya "Presdir Oh?"

"huh?"

Luhan juga menoleh secara refleks, memastikan siapa yang disapa Minseok sampai tak sengaja dia terkekeh melihat si CEO tampan dengan kemeja hitam digulung sampai lengan dipadu kancing kemeja paling atas terbuka, entah sengaja atau tidak, Luhan tidak menyukai dada seksi itu terlihat untuk umum.

"Lu-Luhaaan…."

Minseok menggeram kecil, menarik cukup kencang lengan sahabatnya hingga membuat Luhan bertanya "Ada apa?"

Minseok menaikkan bola matanya, seolah memberi isyarat agar Luhan ikut membungkuk dan menyapa atasan tertinggi sekaligus pemilik OSH'ent "Kau belum menyapa Presdir Oh."

"ah….Kau benar." Katanya salah tingkah lalu buru-buru memperbaiki posisinya untuk menyapa sang CEO sekaligus pria yang sudah satu minggu ini resmi menjadi kekasihnya "Selamat pagi Presdir Oh."

Dan ketika dua manager terbaiknya sedang menyapa, maka pria "terlalu" tampan di depan Luhan dan Minseok hanya menatap tak berkedip pada satu orang, pada Luhan, kekasihnya. Membuat Luhan sedikit salah tingkah mengingat Minseok sedang menegaskan bahwa tatapan Sehun tak hanya untuk Luhan tapi untuknya juga "Kenapa dia hanya menatapmu Lu?"

"ha ha ha….tidakmungkin."

"Tapi memang matanya hanya melihatmu saja."

Sementara dua manager cantik itu berbisik heboh maka Sehun menyadari posisinya. Dia pun mengutuk feromon Luhan yang menyerangnya bahkan di waktu sepagi ini untuk kemudian menahan diri walau rasanya sulit mengingat bibir Luhan terlalu seksi hingga mmebuatnya ingin mencium bibir si mungil yang entah mengapa terlihat sangat merah pagi ini dan mungkin akan terasa manis jika dihisap "pikiranku kotor sekali." Ujarnya terkekeh sebelum fokus memberi perintah, sebagai modusnya tentu saja.

"Manager Xi!"

Luhan tersentak, lagi-lagi nadanya tinggi. Batin Luhan.

Dia pun segera menatap Sehun untuk menemukan seringaian aneh sedikit licik saat dua mata mereka bertemu "Ya Presdir Oh."

"Ke ruanganku."

"nde?"

"Sekarang!"

Menggunakan kekuasannya, Sehun dengan santai memberi perintah. Setidaknya dia bisa mencuri sedikit waktu untuk bermesraan dengan kekasihnya. Ya, walau itu harus menggunakan kekuasaanya, Sehun tidak peduli. Yang dia pedulikan hanya menghisap sebanyak mungkin bibir ranum Luhan agar dirinya bersemangat menjalani hari yang melelahkan ini.

"Lu, apa kau membuat masalah lagi?"

Minseok terdengar cemas diiringi kekehan kecil dari Luhan "Tentu saja tidak."

"Lalu kenapa selama satu minggu ini Presdir Oh terus memanggilmu ke ruangannya?"

Panik, Luhan sedikit salah tingkah. Dia bahkan salah mengambil bolpoint dengan spidol merah yang akan dia gunakan untuk menandatangani dokumen penting "LUHAN!"

"Apa?"

"Kenapa menggunakan spidol merah?"

"huh?"

Buru-buru Luhan melihat apa yang ada di tangannya, memejamkan mata karena malu untuk menukar spidol dengan bolpoint yang benar "haah-….Aku masih mengantuk." Katanya mencari alibi untuk tersenyum melihat beberapa management tengah sibuk menyiapkan comeback EXO yang akan dilakukan minggu depan.

Dia pun tersenyum lembut seraya bergumam sangat pelan "gomawo Sehunna."

Ucapan terimakasih Luhan bukan tanpa alasan saat ini. Karena rasanya baru kemarin sang Presdir mengultimatum akan membatalkan semua comeback dua artis senior di OSH'ent –EXO dan Kyungsoo- tapi kemudian, tepat satu bulan setelahnya Sehun mengubah keputusannya.

Dia bahkan tak lagi mendesak angka profit yang akan diterima –entah mengalami kenaikan atau semakin turun-, Sehun tak peduli lagi. Dia hanya membiarkan EXO melakukan comeback sesuai jadwal meskipun skandal Kai, sang maknae, sampai hari ini belum diselesaikan.

"Tapi Lu, hingga hari ini aku masih bertanya-tanya. Aku masih penasaran akan satu hal."

"Apa?"

"Kenapa mood Presdir Oh tiba-tiba sangat baik? Selain terus tersenyum, aku dengar dia juga memberi instruksi agar comeback EXO dan Kyungsoo tetap pada jadwal yang telah ditetapkan. Apa yang menurutmu terjadi?"

Luhan terkekeh, dia menyiapkan beberapa dokumen yang harus ditandatangani Sehun untuk mengatakan "entahlah, mungkin Presdir Oh sedang bahagia."

"Kau benar! Dan aku akan berterimakasih pada siapapun yang membuat mood Presdir sangat baik."

"Benarkah?"

"Ya. Aku akan mencarinya dan memberikan sepuluh cup americano ukuran besar selama sepuluh hari berturut-turut."

"Sepuluh cup?"

"yap!"

"Kalau begitu aku tunggu satu cup di mejaku besok pagi."

"huh?"

Sementara Minseok bergumam bingung, maka Luhan hanya tertawa karena begitu lucu dengan reaksi satu-satunya sahabat yang dia miliki di agensi "Aku pergi dulu." Katanya tertawa kecil dan meninggalkan Minseok untuk bergegas pergi ke ruangan Sehun.

"Luhan apa maksudnya? Kenapa aku harus menyediakan satu cup americano di meja—tidaktidak…Jangan bilang kau dan Presdir…..y-YAK XI LUHAN! CERITAKAN PADAKU SESUATU! Jangan bilang kau, oh astaga….."

Rasanya kini semua masuk akal untuk Minseok.

Alasan satu minggu lalu Sehun mengumumkan EXO dan Kyungsoo akan tetap comeback dengan jadwal yang telah ditetapkan adalah karena Luhan juga berada disana saat itu –tidak- tepat satu minggu yang lalu Minseok memergoki Luhan dan Sehun berada di kantor di waktu yang bersamaan.

Ya…Bukan hal yang aneh jika seorang atasan dan pegawainya sampai di waktu bersamaan untuk tiba di kantor. Tapi bukankah aneh jika mereka sampai bersamaan dan kebetulan yang bertubuh mungil, sahabatnya, memakai kemeja yang anehnya kebesaran hari itu?

Aku membeli ukuran yang salah.

Begitulah alibi Luhan saat itu, membuat Minseok dengan mudahnya percaya tanpa menyadari bahwa selama dia mengenal Luhan, sahabatnya tidak akan pernah memakai kemeja warna hitam, tidak pernah sekali.

"Sial, aku dibodohi hari itu." katanya terkekeh, matanya yang terus memperhatikan si mungil, seraya berdoa penuh harap "semoga memang terjadi sesuatu di antara kalian." Katanya begitu ingin melihat Luhannya kembali berbahagia. Dan jika memang Sehun yang bisa menghibur hati Luhan, maka sebagai sahabat Minseok akan mendukung sepenuhnya hubungan Luhan dan Sehun. Lagipula akan terdengar sangat keren jika dunia tahu kalau dirinya bersahabat dengan kekasih dari pemilik agensi hiburan raksasa di Korea "yeah…akan sangat menguntungkan juga bagiku."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

tok tok….

"Masuk."

Mendengar jawaban sang CEO, Luhan tersenyum. Dia pun perlahan membuka pintu dan tak lama

Sret…!

"Astaga!"

Pria yang terlihat sangat cantik memekik terkejut, dia sama sekali tidak menyangka akan disambut dengan pelukan hangat namun mendesak sementara tangan lain direkturnya mengunci pintu dengan tak sabar.

"Presdir Oh apa yang anda-….mmhhpph~"

Kini Luhan merasakan panas tangan Sehun ketika mencengkram kedua sisi wajahnya. Si lelaki jantan bahkan tanpa ragu menelusupkan lidahnya dan memaksa lidah Luhan untuk membuka dan menyambut ciumannya.

"aaah~"

Bunyi debuman kecil pun terdengar, Luhan tak lagi peduli dengan dokumen sialan yang harus ditandatangani Sehun. Yang dia pedulikan saat ini adalah membalas ciuman sang kekasih dengan sama panas, sama kasar dan sama bernafsu "Sehunn—mmhh~"

Sementara Sehun mengangkat tubuh Luhan dengan satu tangan menuju meja kerjanya, maka Luhan diam-diam tersenyum di sela lidah panas Sehun yang sedang membelit lidahnya. Menebak-nebak apa yang akan terjadi di waktu sepagi ini hingga secara refleks kakinya melingkar di pinggang Sehun sementara tangannya terus menekan tengkuk Sehun agar bibir mereka menyatu semakin dalam "hhmppp~"

Dan saat Sehun membuang asal beberapa dokumennya di meja kerja, saat tangan kekarnya membawa Luhan duduk di atas meja kerjanya maka disaat yang sama pula yang berparas cantik mendongakan wajahnya, sengaja memberi akses agar Sehun bisa mengecupi seluruh titik sensitifnya.

Sehun pun menyeringai penuh semangat, dikecupnya sensual leher mulus si mungil hingga membuat cengkraman di tengkuknya semakin terasa kuat, Sehun juga menjulurkan lidahnya, menjilat leher Luhan dengan gerakan sensual dari atas turun ke bawah. Semakin ke bawah dan tanpa membuang waktu segera melepas satu persatu kancing kemeja maroon Luhan tanpa kesulitan.

"tunggu-…"

Luhan terengah, dia menghentikan sang kekasih dengan menjambak sedikit terburu anak rambut Sehun. Menatapnya memburu namun terlihat sangat mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal gila di tempat kerja "Kau mengganguku Lu."

"Sehun…"

Ketika si pejantan berusaha menerkam lagi mangsanya. Maka si mangsa kemudian mencari cara agar tidak ada seks pagi hari dikantor, itu semacam kesialan untuk sebuah tempat kerja jika melakukan hubungan intim disaat mereka harusnya mencari keuntungan.

"Apalagi?"

Dengan lembut si mungil tersenyum, Demi Tuhan bibirnya semakin terlihat merah dan menggoda saat sederetan gigi dia tunjukkan sebagai permintaan maaf, membuat geraman terdengar dari bibir si tampan namun tak bisa melakukan apapun karena tangan kekasihnya sedang memberi tanda bahwa mereka tdak bisa bercinta di tempat kerja.

"Kau lupa? Kita memiliki perjanjian."

"Apa?"

Masih tersenyum, Luhan kini mengancingkan kemeja Sehun yang bagian dadanya terekspos "Jangan membuka kancing atas kemejamu, terlalu seksi." Katanya kesal lalu menarik tengkuk Sehun untuk mengalihkan perhatian Sehun "Jangan mengalihkan pembicaraan. Janji apa?"

Luhan terkekeh, usahanya mengalihkan perhatian nyatanya gagal total. Dia menatap lama sang kekasih lalu sedikit menunduk, menggigit hidung Sehun untuk mengatakan "no sex in office."

"yangbenarsaja! Ini kantorku."

"well…promise is a promise."

Bersamaan dengan usaha Luhan turun dari meja, maka terdengar geraman kesal dari Sehun. Demi Tuhan bagaimana bisa dia mengakhiri permainan jika keadaan dirinya sudah setengah on seperti ini.

"Lu."

Sehun menahan lagi tangan Luhan, membuat yang lebih cantik terkekeh namun tetap pada perjanjian mereka untuk tidak melakukan hubungan intim di jam kerja "tidak." Katanya tegas dan bergegas turun dari meja kerja Sehun.

"haaah~"

Terdengar sekali helaan nafas tak terima dari sang Presdir. Membuat diam-diam Luhan melirik lalu kembali terkekeh saat dua tangan kekasihnya dilipat di atas dada sedang matanya menatap kesal ke arah Luhan "w-Wae?" katanya ingin menahan tawa tapi tak bisa karena Sehun benar-benar bayi besar jika seperti ini.

"ckckckc. Baru kali ini aku ditolak, kau sungguh menyakiti harga diriku, Manager Xi."

Luhan sengaja membuat suara yang berlebihan dengan tumpukan kertas yang Sehun jatuhkan dari mejanya, merapikannya asal lalu meletakkannya kasar di meja Sang presdir, terlihat sangat kesal "Aku tidak pernah menolak jika itu diluar jam kerja. Kau baru aku layani malam tadi. Jadi katakan aku menolak agar kupukul kepalamu!"

"Tapi kau tidak pernah menetap, aku bahkan tidak tahu kau tidur dimana setiap malam! Kau selalu pergi jika aku terlelap."

"Aku menyewa hotel setiap malam."

"Itu pemborosan!"

"Aku tahu."

"Jika tahu kenapa pergi?"

"Aku sudah menyewa hotel selama tujuh hari"

"Lalu?"

"Lalu malam tadi hari terakhirku, sayang jika tidak aku habiskan."

"Kau benar-benar sulit diatur."

"Tidak juga."

"Jika tidak kenapa terus menghindar? Malam nanti dengan siapa kau tidur? Dimana kau tidur? Kepalaku sakit jika kau terus pergi saat aku tertidur lelap."

"Kau tidak perlu khawatir, aku sudah besar."

"Bagaimana bisa aku tidak khawatir? Kau kekasihku dan aku tidak suka jika kau berkeliaran tengah malam."

"Tenang saja, aku sudah membuat keputusan."

"Keputusan apalagi?"

"Mulai malam ini aku berencana meminta tempat tinggal padamu. Mmh…semacam menggantungkan hidupku pada direkturku yang tampan."

Sehun terkesiap, matanya mengerjap lucu, beberapa kali. Matanya juga terus menatap mata cantik Luhan seolah memastikan bahwa tak ada lagi lelucon karena mata Luhan benar-benar ingin tertawa saat ini "Apa kau bilang?"

Luhan tersenyum, diletakkannya semua berkas dokumen Sehun lalu berjalan mendekati kekasihnya. Melingkarkan tangannya dileher sang kekasih, lalu menundukkan tubuhnya untuk berbisik "Mulai malam ini bolehkah aku tinggal denganmu?"

"ohsial."

Buru-buru Sehun berdiri dari kursinya, meniadakan jarak diantara mereka dengan menghimpit sang kekasih ke jendela di ruang kantornya "Jangan menggodaku."

Luhan terkekeh, jemarinya menyusuri perlahan dada bidang Sehun, mengagumi setiap kesempurnaan yang ada pada diri sang kekasih dan menelan bulat-bulat rasa irinya karena perbedaannya dan Sehun sebagai sesama pria sangat jauh. Terlalu jauh hingga rasanya Sehun benar-benar tidak bisa disamakan dengan manusia melainkan dengan dewa.

"Aku tidak menggoda, aku sedang bertanya."

"Dan kau tahu jawabannya."

"Apa?" katanya berpra-pura polos sementara Sehun sudah menggigiti gemas bibir Luhan sesekali menyesapnya kuat hingga lenguhan-lenguhan kecil dikeluarkan Luhan secara sukarela "mmhh..Apa jawabanmu Presdir Oh?"

Sehun menatap –terlalu- memuja sosok bak dewi kecantikan di depannya. Menatapnya seolah tak ingin ditolak lagi untuk menempelkan bibir kasarnya ke bibir lembut yang diam-diam sudah menjadi candu untuknya "Mulai malam ini, kau hanya akan tinggal bersamaku –tidak- dimanapun aku tinggal, maka disitu kau akan menemaniku, ingat itu." katanya tegas disela ciuman mereka. Memberikan sengatan yang begitu mengairahkan untuk Luhan yang nyaris membirkan Sehun "mengambilnya" jika suara ketukan pintu di ruangan Sehun tidak mengganggu.

Tok…tok…

Luhan membuka mulutnya ingin memberitahu, tapi alih-alih bersuara, lidah Sehun sudah lebih dulu menelusup masuk kedalam rongga bibirnya, menyesap terlalu dalam hingga Luhan dibuat lemas karena lidah Sehun terlalu membuai gairahnya.

"haah~"

Tok…tok….

"mmphh~"

Tok…tok…

Menyadari ketukan pintu di ruangan Sehun semakin menuntut, membuat baik konsentrasi Luhan maupun Sehun sangat terganggu. Keduanya bahkan terus melirik ke arah pintu, berharap tak adalagi ketukan namun sial, suara ketukannya semakin terdengar.

"AKU SIBUK! DATANGLAH SIANG NANTI!"

Luhan mengambil kesempatan, saat Sehun berteriak maka disaat yang sama dia menghindar agar tak berada dalam kungkungan memabukkan sang kekasih "Lu…"

"Mungkin itu penting, sebaiknya kita bukakan pintu."

Luhan berlari menuju pintu, mengambil dokumen miliknya yang terjatuh untuk memperingatkan sang kekasih "Rapikan kemejamu."

Jujur dia masih sangat terengah dan kewalahan karena ciuman Sehun, tapi Demi Tuhan dia masih mencintai pekerjannya, dia hanya tidak ingin ada gosip buruk yang menyebar hingga membuatnya dan Sehun harus mengalami masalah baru di saat masalah-masalah yang akan segera mereka hadapi terus bermunculan.

"Jangan berani kau membuka pintunya."

"Maaf Presdir Oh, ini demi keselamatanku."

"Demi apa?"

Klik…

Luhan membuka pintu ruangan Sehun, bertanya-tanya siapa yang terdengar sangat terburu-buru hingga teriakan Sehun dia abaikan.

"Kebetulan kau juga ada disini."

Luhan mengenali suara sialan yang selalu membentaknya hampir sepuluh tahun ini. Suara pria dengan id card Jang Miro terpasang di bagian kiri bahunya. Mmembuat Luhan secara refleks tersenyum dan dengan lantang membalas tatapan sengit direkturnya langsung dari manager sumber daya artis untuk membalas "Kenapa? Ada masalah baru yang kau buat?"

"ani, bukan aku. Tapi kau! Tamat riwayatmu kali ini!"

"Selamat pagi Presdir Oh, maaf mengganggu waktu anda."

"Sudah kubilang temui aku siang nanti. Apa kau tidak mendengarnya?"

"Saya mendengarnya Presdir Oh. Tapi masalah ini terlalu mendesak dan sangat merugikan perusahaan."

Sehun bisa melihat kekasihnya berdiri tepat di belakang Direktur yang selalu membawa masalah untuknya, dia juga bertanya-tanya mengapa Luhannya terlihat cemas lalu beralih bertanya tak suka pada direktur tua yang selalu mencari masalah dengan sang kekasih "Ada apa?"

Buru-buru Direktur Jang mendekati Sehun, menyerahkan dokumen yang berada di tangannya untuk menjelaskan bahwa "Ada seseorang yang dengan lancang menjual beberapa trainee kita ke TOP'ent –tidak- bukan beberapa, tapi lima belas trainee berkualitas telah dijualnya sebagai cara untuk memenuhi tantangan anda mengenai kenaikan profit."

"Apa yang kau katakan? Siapa yang melakukannya?"

Sehun juga membaca cepat laporang dari direktur sumber daya artisnya. Mencari nama yang bertanggung jawab hingga tanda tangan dengan nama sang kekasih tercantum di pojok kanan kertas sebagai perjanjian untuk menukar trainee mereka dengan harga yang sangat rendah "tidakmungkin." Sehun tertawa pahit, matanya kemudian mencari mata Luhan dan berharap kekasihnya memberi pengelakan "Apa benar kau melakukannya?"

Luhan memejamkan erat matanya. Dia tahu tindakan yang dia lakukan adalah ilegal menurut perjanjian hukum. Tapi ketika lima belas trainee nya memohon agar mereka dipindahkan maka rasanya Luhan bisa melihat sedikit keuntungan dengan menerima bayaran kecil demi kesuksesan lima belas remaja yang dilepasnya. Luhan tidak berusaha menghindari kesalahan yang dilakukan, sebaliknya dia membalasa tatapan sang Presdir dan mengakui kesalahannya dengan mengatakan "Ya, saya melakukannya Presdir Oh."

"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membuat keputusan gila seperti ini?"

"Saya rasa sudah saatnya mengeluarkan Manager Xi dari tim Presdir Oh."

Luhan terkejut, sementara Sehun lagi-lagi menangkap raut wajah cemas sang kekasih. Jujur, jika mengikuti aturan yang berlaku harusnya Luhan dikeluarkan saat ini juga, tapi mengingat bagaimana sang ayah selalu membicarakan si mungil di depannya maka rasanya salah jika Sehun mengikutsertakan emosi tanpa mengetahui alasan lebih dulu.

"Apa sekarang kau yang memimpin perusahaan?"

Direktur Jang salah tingkah saat Sehun menyindirnya, dia kemudian meminta maaf untuk mendengarkan apa hukuman yang akan dia berikan pada Luhan.

"Aku ingin mendengar alasan Manager Xi."

Luhan tertunduk cukup lama, tapi saat suara kekasihnya terdengar lebih lembut maka perlahan dia mengangkat wajah, mencari mata Sehun yang saat ini seolah mengatakan kau akan baik-baik saja hingga membuatnya memiliki keberanian untuk menjawab "Lima belas trainee yang saya jual ke TOP'ent tidak memiliki konsep yang sesuai dengan perusahaan kita. Mereka lebih menyukai hard hip hop atau akustik tanpa musik yang berlebihan seperti yang biasa kita berikan pada trainee-trainee sebelumnya."

"Lantas itu alasanmu menjual mereka?"

"Aku tidak akan melakukannya jika mereka tidak memohon untuk dipindahkan."

"Memohon?"

"Di hari penandatanganan kontrak, mereka memohon padaku untuk dikembalikan ke tempat dimana mereka melakukan latihan untuk mengikuti audisi TOP'ent. Jadi rasanya salah jika kita memperbudak mereka dengan kontrak, memaksa debut dengan konsep yang tidak mereka sukai. Mereka bukan trainee yang pada umumnya. Mereka memiliki mimpi dan terlalu muda untuk dihancurkan, itu alasan saya."

"Kau tidak bisa menjadikannya alasan jika keuntungan yang kau dapatkan sangat kecil! Ini sangat merugikan! Beberapa dari mereka sudah terlibat cf atas nama OSH'ent. Kau membatalkannya tanpa pemberitahuan lebih dulu! Ada penjelasan kali ini?"

Luhan tertunduk lagi, dia merasa ucapan direktur Jang benar kali ini. Harusnya dia tidak menjual beberapa trainee yang sedang memiliki kegiatan, tapi apa dayadirinya hanya seorang manager biasa yang ingin melihat artisnya sukses tanpa penyesalan nantinya "Tidak."

"Kau benar-benar tidak bertanggung jawab Manager Xi!" katanya membentak Luhan diiringi suara Sehun yang benar-benar jengah melihat kekasihnya diremehkan seperti ini "Sayangnya hanya aku yang bisa memutuskan seseorang bertanggung jawab atau tidak saat bekerja untukku. Jadi tutup mulut anda Direktur Jang dan kau Manager Xi-…" katanya beralih pada Luhan. Menggunakan nada sedikit tegas agar Luhan mengangkat wajahnya dan tak terus menunduk karena merasa bersalah.

"Y-ya Presdir Oh?"

"Rasanya kau harus segera bekerja."

"nde?"

"Carikan aku lima belas trainee baru sebagai pengganti dari lima belas trainee yang kau jual. Dan pastikan kali ini mereka memiliki selera musik yang sama dengan konsep kita. Mengerti?"

Wajah Luhan tersenyum lebar, jika tidak ada pria tua bangka di depannya mungkin dia akan berlari dan memeluk kekasihnya sebagai ucapan terimakasih. Namun alih-alih melakukan hal gila dia hanya tersenyum lalu membungkuk sebagai ucapan terimakasihnya "Saya menegerti dan akan bekerja keras Presdir Oh, terimakasih." Katanya bersemangat lalu tak lama meninggalkan Sehun dan direktur langsungnya berdua di ruangan.

"Presdir Oh anda sama sekali tidak memberi sanksi untuk Manager Xi?"

"Dia tidak melakukan kesalahan."

"Tapi bagaimana bisa dia menjual lima belas trainee tanpa persetujuan Management?"

"Karena jika kita mempertahankan mereka, kita hanya akan membuang-buang biaya pengeluaran tanpa memberikan hasil."

"Tapi Presdir Oh…."

"Aku rasa pembicaraan kita selesai Direktur Jang. Kau boleh pergi." Katanya memberi perintah diiringi suara ponselnya yang bergetar dengan nama Yunho tertera.

"Ya hyung?"

"Besok malam aku ingin kau dan Chanyeol makan bersama denganku."

"Kenapa tiba-tiba?"

"Karena aku muak melihat kalian terus bertengkar. Mengerti?"

Sehun terkekeh, dia kemudian mengangguk dan mengatakan "Tentu saja." Katanya menjawab lalu tak lama menutup ponselnya.

"Anda masih disini?"

Pria paruh baya itu jelas menatap marah pada Sehun, tapi dia menyembunyikannya dengan senyum palsu dan membungkuk sangat terpaksa menjawab pertanyaan atasan yang menurutnya sangat bodoh dan arogan "Saya permisi Presdir Oh."

"Oke."

Sehun menjawab sekilas. Membiarkan pria tua itu pergi lalu memanggilnya lagi karena melupakan satu hal "Direktur Jang?!"

"Ya?"

Sehun menatap intens pria paruh baya di depannya, menimbang apakah keputusannya benar kali ini atau hanya terus menahannya namun dia rasa dia tidak bisa lagi menahan diri untuk mengatakan "Aku rasa aku akan memindahkanmu kebagaian produksi. Kau akan mengawasi seluruh penghasilan album fisik maupun online."

"a-Apa maksud anda Presdir Oh? Lalu bagaimana dengan Management sumber daya artis?"

Sehun diam sejenak, memikirkan masak-masak rencananya lalu tersenyum, penuh keyakinan "Manager Xi yang akan mengambil alih posisimu."

.

.

.

.

.

.

.

.

Selesai berdebat pelik dengan Direktur Kang dan Presiden direkturnya, Luhan berencana untuk segera menemukan pengganti dari beberapa traine yang diam-diam dia jual untuk menutupi pendapatan kotor OSH'ent.

Sejujurnya dia tidak merasa sedikitpun menyesal menjual beberapa trainee yang diincar oleh TOP'ent, sebaliknya dia sangat bahagia karena selain itu keinginan trainee yang merasa tidak nyaman disini dia juga bisa mendapatkan apa yang harusnya dia dapatkan untuk sedikit menaikkan profit perusahaan, ya, walau harus bertengkar seperti ini setidaknya dia dapat apa yang sudah menjadi tujuannya.

"MANAGER XI!"

Merasa seseorang memanggil namanya refleks membuat si manager menoleh. Matanya kemudian mencari siapa yang memanggilnya hingga terlihat Yoseob, salah satu anggota tim pencari bakat yang terlihat kelelehan karena mengejar dirinya.

"Yoseob? Ada apa?"

"Haaah~ syukurlah kau belum jauh Manager Xi."

"Luhan saja." Katanya memperingatkan diringi dua ibu jari Yoseob yag terangkat tanda mengerti "Baiklah Luhan...Luhan!"

"Iya ada apa? Kenapa kau terus berteriak?"

"Seseorang mencarimu!"

"Siapa?" Katanya berfikir lalu bertanya "Jin?"

"Bukan bukan. Jika manager Kim aku kenal, dia orang asing."

Mendengar kata orang asing tentu merujuk pada satu hal yang baru dan belum diketahui. Dan karena hal itu pula pikiran Luhan langsung tertuju pada satu orang, ayahnya dan Kyungsoo.

Pria paruh baya yang belum lama ini bebas dari penjara dan secara menggila melakukan segala seperti menggertak, mengancam untuk mendapatkan uang agar bisa mabuk dan berjudi, seperti biasa.

"Katakan padanya aku dan Kyungsoo tidak ada."

"Kyungsoo?"

"Ya! Siapapun yang mencari kami berdua, katakan kami tidak lagi bekerja disini!"

"Tapi..."

"Aku akan segera pergi. Sampai nanti."

Luhan sudah kembali berjalan cepat. Berniat untuk pergi sebelum suara Yoseob terdengar bingung dan berteriak "Tapi dia seorang remaja."

Tap!

Bersamaan dengan ucapan Yoseob, maka langkah cepat Luhan terhenti, menebak siapa yang dimaksud anggota timnya untuk bertanya "Remaja?"

"Ya usianya mungkin sekitar enam belas atau tujuh belas tahun."

"Siapa namanya?"

"Jaehyun."

"Jaehyun?"

"Ya. Dia bilang dia adikmu."

"Kau benar, dia adikku." Katanya membenarkan hingga begitu tak sabar bertemu dengan adiknya "Lalu dimana dia?"

Yoseob melihat arloji di tangannya. Menghitung waktu yang dia habiskan untuk mencari Luhan sebelum menatap ketua timnya sedikit tidak yakin "Entahlah Lu. Dia bilang hanya memiliki waktu setengah jam menunggumu. Dan aku rasa aku sudah menghabiskan dua puluh menit untuk mencarimu."

"Dimana dia?"

"Kafetaria di lantai bawah. Tapi aku rasa dia sudah pergi."

"Ohtidak..."

Buru-buru Luhan berlari menuruni tangga. Berdoa kuat-kuat agar Jaehyunnya masih berada di kafe mengingat kali terakhir mereka bertemu dia bertindak sangat bodoh dan sangat memalukan.

"Janganpergijanganpergi, jangan-...JAEHYUN."

Dia membuka cepat pintu kafetaria, bibirnya berteriak memanggil nama Jaehyun sementara matanya mencari ke seluruh sudut kafetaria.

Berharap bisa melihat sosok adiknya dan ya-...Luhan tersenyum saat melihat punggung yang begitu familiar untuknya. Hatinya mencelos lega menyadari Jaehyun masih berada disana, di meja yang berada di pojok kafe sesekali menyesap minuman yang Luhan adalah milkshake strawberry, favoritnya juga.

Slurrpp...

"Jae-ah."

Yang dipanggil sedang menyesap sedotan terakhir milkshake nya. Buru-buru membersihkan sudut mulut yang kotor untuk menatap canggung pria dewasa yang selama ini tidak dia hormati dan selalu dia bentak "h-hay. Kau sudah datang?"

Luhan tersenyum, ditariknya kursi di depan Jaehyun untuk segera bertatapan dengan si bungsu yang terlihat tampan dengan potongan rambutnya yang baru "Maaf membuatmu menunggu. Apa kau ingin tambah milkshake? Hyung akan-…."

"Tidak perlu."

Jaehyun memotong lagi ucapan Luhan, membuat dua kakak-adik itu saling menatap semakin canggung jika Jaehyun tidak merogoh saku dan mengeluarkan dan menyerahkan sesuatu seperti kunci mobil pada Luhan "Aku hanya datang untuk mengembalikan mobilmu. Kyungsoo hyung yang memintanya padaku."

"ah-….."

Seberapa sering Jaehyun memanggil Kyungsoo dengan sebutan hyung. Maka sesering itu pula Luhan merasa iri, dia bahkan terlalu iri hingga rasanya ingin berada di posisi Kyungsoo untuk memenangkan hati si remaja "Kau jauh-jauh datang kesini hanya untuk mengembalikan kunci mobil?" katanya sedih namun seperti biasa ditutupi dengan senyum.

"Bukan hanya itu."

"huh?"

Dengan seragam sekolahnya Jaehyun terlihat sangat tampan. Dan tiap kali dia tersenyum, maka rasanya Luhan dibuat semakin menyayangi adiknya yang lain selain Kyungsoo. Karena tidak bisa dipungkiri, walau Kyungsoo dan Jaehyun tidak memiliki hubungan darah, rasanya Luhan seperti melihat banyak kemiripan dari wajah mereka, membuatnya lagi-lagi merasa iri karena sebenarnya dialah yang harusnya memiliki kemiripan dari salah satu Kyungsoo maupun Jaehyun.

"Ini."

Kali ini Jaehyun membuka tas, menyerahkan kotak makanan yang entah mengapa juga diberikan Jaehyun untuknya "Apa ini?"

"Pangsit basah kesukaanmu."

"Pangsit basah?"

"Ibu membuatnya dalam jumlah banyak."

"ah…"

Lagi-lagi Luhan tercengang, dia kemudian membuka kotak makan yang diberikan Jaehyun untuk menatap rindu pada sederetan makanan favorit yang sengaja dijadikan satu oleh ibunya. "Katakan terimakasih pada ibu, aku akan segera memakannya."

"Ibu dan Kyungsoo hyung bilang pulanglah jika kau merasa lelah."

"huh?"

"Mereka menunggu dirumah. Kyungsoo hyung sangat suka tinggal disana, jadi jika kau tidak keberatan atau merasa lelah, pulanglah."

"….."

"Aku juga menunggumu dirumah, hyung."

"hyung?"

Luhan mengangkat wajah, matanya mengikuti kemana Jaehyun bergerak untuk memastikan bahwa dia tidak salah mendengar "Maaf bersikap kurang ajar padamu selama ini, aku tidak akan mengulanginya lagi hyung. Teruslah bahagia dan jangan menyimpan masalah seorang diri. Aku pergi."

"JUNG JAEHYUN!"

"hmmh?"

Air matanya yang hampir menetes dia hapus dengan cepat. Dia juga menghentikan gerakan Jaehyun yang segera ingin pergi dengan mengatakan "Aku tidak akan melarangmu lagi."

"Apa?"

"Jika kau ingin sekali menjadi seorang idol, lakukanlah. Hyung tidak akan melarangmu lagi. Kau bisa berada dimanapun agensi yang kau mau, kau juga bisa mendapatkan posisi apapun yang kau inginkan, hanya lakukan yang ingin kau lakukan Jaehyunna, aku tidak akan melarang lagi."

Yang memiliki lesung di pipinya tersenyum sangat tampan, dia kemudian kembali duduk untuk menggenggam jemari sang kakak yang terasa sangat dingin genggamannya "Jika bukan kau, aku tidak mau."

"huh?"

"Aku hanya akan menjadi seorang idol, jika kakakku yang datang dan mengatakan kau berbakat padaku. Hanya kau yang aku inginkan merekrutku sebagai seorang idol. Jika bukan kau, aku hanya akan menjalani pendidikan seperti yang kau inginkan." Katanya lagi-lagi membuka tas. Kali ini dia mengeluarkan selembar kertas dan menyerahkannya pada Luhan.

"Apa ini?"

"Bacalah hyung."

Buru-buru Luhan membaca kertas yang diberikan Jaehyun. Menyusuri apa yang ada di dalam surat tersebut sampai matanya menangkap kalimat selamat, beasiswa dan…Yonghei University. "JAE!"

Refleks, dia memekik bangga. Luhan bahkan ingin sekali memeluk Jaehyun namun diurungkan mengingat hubungan mereka baru sedikit membaik bukan sudah menjadi lebih baik "Kau benar-benar mengagumkan." Katanya jujur diiringi senyum tampan oleh sang adik "Sejauh ini kau motivasi terbesarku, terimakasih juga untukmu."

"ani, aku tidak melakukan apapun. Yang aku lakukan hanya melarang, melarang dan menghalangi apapun yang kau inginkan."

"Tidak juga, karenamu aku jadi memiliki cita-cita lain selain menjadi seorang idol."

"Benarkah?"

"mhh…Aku menjadi dokter. Tapi jika kau memintaku untuk menjadi idol, aku tidak menolak." Katanya tertawa dibalas senyum cantik oleh kakaknya "Aku akan memikirkannya."

"Apa?"

"Menjadikanmu idol."

"Benarkah?"

"Jika kau ingin debut melalui tanganku. Aku harus memastikan tidak akan ada yang menyakiti adikku. Setelah Kyungsoo, aku sedikit trauma membuat kalian dikenal banyak orang."

"Kalau begitu lakukan yang ingin kau lakukan. Jika kau datang padaku sebagai seorang manager, aku akan sangat senang. Tapi jika kau datang kepadaku sebagai seorang kakak, aku sangat bahagia. Sungguh, lakukan apapun yang kau inginkan hyung."

"jae-ah~"

"Aku pergi dulu hyung."

"Jaehyunna."

"Ada lagi yang ingin kau bicarakan?"

Luhan tertawa, dia kemudian berdiri dari kursinya untuk menghampiri sang adik "Boleh aku memelukmu?"

Dengan senang hati Jaehyun merentangkan tangannya, bersiap menerima pelukan Luhan lalu tak lama merasakan tubuh mungil kakaknya berada dipelukannya, untuk pertama kali "Terakhir aku memelukmu kau masih sangat kecil, kenapa sekarang sudah sangat besar."

"Itu karena hanya aku yang bertumbuh besar, hyung tidak." Katanya mengejek Luhan diiringi tawa pahit dari Luhan "Kalau begitu hyung rasa kau sudah cukup besar untuk memiliki kendaraan."

"Apa maksudnya?."

Luhan mengambil jemari Jaehyun, meletakkan kunci mobil miliknya lalu berkata "Ini hadiah dari hyung untuk adikku yang sangat berbakat. Tidak baru memang, tapi aku baru membelinya enam bulan lalu."

"tidak mungkin. Ini untukku?"

"Untukmu."

Bohong jika Jaehyun tidak senang, dia bahkan akan berteriak jika tidak ingat reaksi ibunya yang akan sangat berlebihan "Tidak perlu, nanti ibu marah."

"Katakan pada eomma, ini hadiah dariku untuk jagoan kecil yang sudah beranjak dewasa dan menjadi pelindung eomma serta Kyungsoo hyungnya, bagaimana?"

Tertarik, Jaehyun mengambil dengan senang hati kunci mobil Luhan. Dia berpamitan lalu menambahkan satu kalimat yang sukses membuat hati Luhan sangat meleleh "Aku juga penjagamu hyung. Sampai nanti."

"Sampai nanti Jae."

Luhan terlalu bahagia, dia bahkan terus tersenyum dan menyadari bahwa saat ini Jaehyun sedang berpapasan dengan sahabatnya yang lain yang juga mengincar adiknya untuk debut di agensi tempatnya bekerja. "Kau melepaskannya lagi?"

Luhan membalas pelukan si pria besar berhati sangat lembut yang kini memeluknya erat. Tertawa karena terkadang Jin sangat menyebalkan namun nyatanya baru seminggu tidak bertemu dia sangat merindukan sahabat bermulut besarnya "Kau tidak akan pernah bisa mendapatkan adikku."

"ara. Kalau begitu ayo kita cari mangsa baru."

"Kau meminta bantuanku? Sudah putus asa?"

"Lu…." Katanya setengah merengek diiringi tawa jijik dari Luhan "Baiklah…baiklah. Kita pergi sekarang."

"kajja."

Jin memekik bersemangat, dia kemudian merangkul pundak kecil Luhan untuk membawanya berkeliling seharian "Malam nanti bermalam di tempatku ya? Aku rindu kita mandi bersama dan tidur—ouch! Kenapa aku dipukul?"

"Jaga bicaramu nanti jika dia dengar kau akan berada dalam masalah."

"Dia?"

Luhan tersenyum kecil. Dia kemudian melepas rangkulan Jin untuk mengerling sahabatnya "Kekasihku."

"Siapa?"

"Ayo Jin nanti kita terlambat."

"Kau tidak mengatakan kekasihku kan Lu? Siapa kekasih—YAK XI LUHAN! AKU TIDAK MAU JADI SINGLE SEORANG DIRI!"

.

.

.

.

.

.

.

Seoul, 20.00 KST

.

"Jadi belum mau memberitahu aku siapa kekasihmu?"

"Ayolah Jin! Delapan jam kita bersama dan kau terus menanyakan siapa kekasihku?"

Habis sudah kesabaran Luhan, sepanjang harinya bersama Jin dia hanya terus mendengar siapa kekasihmu, siapa pria itu atau apa kau sudah tidur dengannya? Demi Tuhan daripada teman, Luhan merasa Jin seperti babysitter yang tidak akan membiarkan satupun pria atau wanita mendekatinya "Ayo keluar. Aku harus segera pulang." Katanya melepas seatbelt dan tak lama

BLAM…!

"Lu jawab aku dulu."

BLAM…!

Dua manager itu kini berada di lobi utama OSH'ent. Dan seperti yang terus Jin lakukan selama delapan jam maka tugasnya hari ini hanya mengekori Luhan dan membiarkan tak satupun calon trainee yang mereka dapatkan karena rengekan serta suara Jin benar-benar membuat kepala Luhan sakit.

"Kau akan terkejut jika aku beritahu."

"Benarkah? Kalau begitu katakan siapa yang-…"

Tap!

Luhan berhenti melangkah, dia buru-buru menghadap ke arah Jin hingga tubuh besar Jin menabrak Luhan karena terkejut "Rusa bodoh, kenapa tiba-tiba berbalik?"

"Kau bilang ingin tahu siapa kekasihku kan?"

"Iya!"

"Aku akan beritahu."

"Benarkah? Siapa?"

"mmhh….Dia sangat tampan dan juga…seksi."

"Jangan membuatku kesal, cepat katakan siapa kekasihmu."

"Christiano ronaldo."

"Siapa?"

"Kekasihku, CR7!"

"yangbenarsaja!"

Bukan Jin yang menjawab, suara itu berasal dari belakang Luhan, dan didengar dari nada kesalnya yang begitu familiar, maka seluruh tubuh Luhan meremang menyadari bahwa yang sedang menjawabnya adalah….

"Presdir Oh."

"mati aku."

Ketika Jin menyapa atasan tertinggi di OSH'ent, maka disaat yang sama pula Luhan berjengit takut untuk mendengar kekasihnya kembali bersuara

"Kau kenapa?" Jin bertanya sementara suara Sehun benar-benar terdengar bertanya "Manager Kim."

"Ya?"

"Kau mau tahu siapa kekasih rusa licik di depanmu?"

"Apa anda tahu?"

"Aku."

"Apa?"

Sementara langkah kesalnya mendekati dimana si mungil berada maka matanya tak berkedip menatap manager terlalu banyak tingkah yang selalu menempel pada kekasihnya. Detik berikutnya dia menggenggam jemari Luhan lalu dengan sombong mengatakan "Aku kekasihnya."

"Anda siapa?"

"Sehun!"

Belum sempat Jin mendapatkan jawaban yang tegas, Sehun sudah membawa Luhan pergi. Dan dari cara Sehun yang begitu intim menggenggam jemari Luhan maka bisa dipastikan jawaban aku kekasihnya memang ditunjukkan untuk Sehun sendiri "tidak mungkin kalian bersama kan? Oh astaga, ini benar-benar menjengkelkan." katanya terkekeh namun tak bisa berhenti tersenyum menyadari bahwa pada akhirnya Luhan mendapatkan kebahagiannya yang lain "sainganku berat kali ini."

.

.

.

.

.

.

.

"Sehun sakit."

Saat ini Sehun sedang membawa kekasihnya menuju basement. Dia berusaha tenang, sungguh. Tapi mengingat bagaimana Luhan terus menghindar dan tak pernah mengakuinya sebagai kekasih, Sehun sedikit kesal. Dia pun terus membawa Luhan pergi hingga tanpa sadar cengkramannya di pergelangan tangan Luhan terlalu kuat "Sehunn…"

"Apa sulit untukmu mengatakan kekasihku OH Sehun? Apa sangat memalukan jika kekasihmu adalah aku dan bukan idol seperti Kai atau seseorang yang tampan?"

"Tapi kau tampan."

"Mwo? Luhan kau sangat-….sudahlah!"

Sehun kesal, dia melepas pegangannya di jemari Luhan untuk berjalan lebih dulu dan meninggalkan Luhan dibelakang, membuat Luhan sedikit terkekeh lalu berlari mendului Sehun dan berdiri tepat di depannya "Apa? Aku sedang tidak bercanda."

"Aku tahu. Aku minta maaf."

"Aku tidak marah, aku hanya sedih kau tidak pernah mengakuiku."

"Aku butuh waktu Sehunna."

Sehun memalingkan wajahnya sesaat, bersabar karena Luhan benar-benar tidak akan mengakui hubungan mereka dengan mudah dan hanya menahan rasa gundahnya karena untuk pertama kali sangat sulit menjalin hubungan dengan seseorang "Terserahmu saja. Oke?"

"Sehun!"

"Apalagi?"

Luhan mengigit bibirnya dan itu terlihat sangat menggemaskan untuk Sehun. Dia juga mengerjapkan matanya beberapa kali seolah meminta waktu agar tidak dimarahi "Aku takut jika mengatakan kau kekasihku mereka semua akan membenciku?"

"Mereka? Siapa lagi mereka? Aku kira hanya Baekhyun yang mengganggu pikiranmu."

Luhan menggeleng cepat lalu mengatakan lagi maksudnya "Baekhyun juga."

"Lalu?"

"Lalu teman-temanku, seluruh trainee, serta semua staff dan pemegang saham di agensimu. Aku takut ada yang membicarakan hal buruk tentangmu, tidaktidak…Sebenarnya aku takut kehilangan pekerjaanku jika mereka tidak menyukai kau berhubungan denganku."

Sehun menatap Luhan cukup lama, mempelajari raut wajah kekasihnya yang terlihat benar-benar pucat saat membicarakan kemungkinan dia kehilangan pekerjaan karena menjalin hubungan dengannya.

Sehun bahkan harus dibuat jengah karena rasanya sulit sekali membuat Luhan percaya, bahwa selama dia kekasihnya, selama si mungil berada di jangkaunnya, maka tak peduli apapun yang dikatakan banyak orang atau apapun yang akan dilakukan semua orang, Sehun akan melindunginya "Kau mencintaiku atau pekerjaanmu?"

"huh?"

Luhan mengerjap bingung, dia menatap Sehun lalu menemukan bahwa jauh didalam suara dan tatapan kekasihnya tersirat rasa kecewa karena dia begitu egois untuk segala hal "Aku atau pekerjaanmu?"

"Apa harus jujur?"

"Tentu saja harus jujur." Katanya tegas membuat Luhan bimbang sekali lagi "Nanti kau marah jika aku jujur."

"Aku akan lebih marah jika kau bohong. Jadi katakan, aku atau pekerjaanmu?"

Dengan lirih Luhan menjawab "Pekerjaanku."

Sehun tertawa pahit, sungguh ini kali pertama dia bertemu dengan seseorang sepolos Luhan, bertemu dengan seseorang yang bahkan tidak memanfaatkan posisinya saat memiliki kekasih yang bisa memberikan segalanya bahkan satu planet jika dia meminta "Idiot! Jika kau memilihku aku bisa memberikan segalanya padaku. Lalu kenapa harus memilih pekerjaanmu?"

"…"

"Sudahlah, setidaknya kau jujur. Ayo pulang."

Jujur hatinya sakit, tapi rasanya Sehun hanya perlu membiasakan diri dengan sikap serta sifat Luhan. Selebihnya dia tidak akan marah lagi jika sudah terbiasa dengan Luhan dan semua pikiran bodohnya.

"Aku belum selesai bicara."

Kali ini Luhan menahan lengannya, meminta Sehun untuk tidak pergi sebelum dia selesai berbicara "Apalagi?"

Matanya sudah berkaca-kaca tanda dia ketakutan. Tapi kemudian tangannya menggenggam jemari Sehun yang begitu besar dan kasar untuk mengatakan "Dulu saat Kai bertanya aku mencintainya atau pekerjaanku, aku menjawab mencintai Kai tanpa ragu."

"sial! Apa yang sedang kau bicarakan?"

Luhan mengabaikan geraman Sehun, dia juga menahan jemari Sehun yang ingin terlepas dari genggamannya sekuat tenaga. Sungguh, dia tidak bermaksud menyamakan Sehun dan Kai, tapi semua perumpamaan ini memang tidak pernah terlepas dari Kai mengingat dia satu-satunya kekasih yang mengencani Luhan selama lima tahun.

"Kenapa membicarakan bajingan itu didepanku?"

"Lalu jawaban berbeda aku berikan padamu malam ini, aku lebih memilih pekerjaanku. Kau tahu kenapa?"

"Sudah jelas aku sama sekali tidak berarti untukku. Sekarang lepas atau aku benar-benar akan marah."

Luhan menggeleng kuat, dia bahkan membawa jemari Sehun ke dalam saku mantelnya lalu menahannya kuat-kuat dengan dua tangan "Sebaliknya, aku memilih pekerjaanku karena terlalu menyukaimu Presdir Oh." Katanya putus asa namun bahagia karena Sehun akhirnya berhenti memberontak untuk melepas genggaman di tangannya.

"Apa maksudmu?"

"Kalau aku kehilanganmu aku masih bisa bertahan karena pekerjaanku akan membuatku memiliki alasan untuk selalu melihat wajahmu."

"…"

"Tapi jika aku kehilangan pekerjaanku, aku tidak memiliki alasan untuk bisa melihatmu lagi Presdir Oh. Aku tidak bisa dan memikirkan tidak melihatmu sehari saja membuat hatiku sedih. Jadi jangan marah padaku."

Sehun tercengang,

Benar-benar tercengang….

Entah mahluk apa yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.

Entah mahluk apa yang Tuhan ciptakan hingga bisa sepolos dan begitu menggemaskan seperti ini.

Dia tidak menangis, tapi kemudian suaranya berubah menjadi begitu sedih. Dan saat tangannya terus berusaha keluar dari saku yang begitu sempit di mantelnya. Maka dengan segenap kekuatan yang dimiliki, Luhan menahan tangan Sehun agar kedua jemari mereka tetap bertautan.

"Jadi itu alasanmu memilih pekerjaanmu daripada aku?"

Luhan mengangguk lucu sementara dua tangannya tetap menahan tangan Sehun di saku mantelnya "Kalau begitu lepaskan tanganku sekarang."

"Tidak mau nanti aku ditinggalkan. Aku tidak memiliki rumah, jangan lupakan itu."

"Aku tidak lupa."

"Ya sudah bagus, jangan minta aku lepas tanganmu kalau begitu."

"Lalu bagaimana aku bisa memelukmu klau kau terus menahan tanganku yang besar di saku mantelmu yang kecil."

"Peluk?"

"Iya aku ingin –tidak- aku sangat ingin memelukmu saat ini."

"Bukan ingin meninggalkan aku?"

"Tak pernah terpikir untukku meninggalkanmu bodoh, sekarang lepas dan biarkan aku memelukmu!"

Luhan tersenyum malu-malu layaknya gadis remaja yang akan dicium kekasihnya. Dia juga segera melepas jemari Sehun dari jemarinya untuk merentangkan lebar-lebar kedua tangannya "Peluk aku."

"Tadi memilih pekerjaan dan sekarang minta dipeluk."

"Cepaat."

"tsk! Rasanya aku akan menikahi bocah sepuluh tahun." Sehun menggerutu, tapi nyatanya dia tetap berjalan mendekati Luhan untuk sedikit menunduk dan mengangkat tubuh si mungil di pelukannya "Haruuum…" Luhan memuji saat tengkuk Sehun berada tepat di hidungnya. Dia menyesap kuat-kuat aroma Sehun sementara kekasihnya terus mendekap sesekali mencium lembut tengkuknya.

"Jikalaupun kau kehilangan pekerjaanmu, kau akan selalu melihatku sayang."

"Bagaimana caranya?"

"Ya karena kau akan melihatku dirumah, bersama anak-anak kita kelak."

"SEHUN!"

"aww..Kenapa berteriak?"

"Jantungku hampir melompat keluar karena ucapanmu."

"Apa?"

Saat ini Sehun menggendong tubuh Luhan, menghimpitnya di jendela mobil sementara kaki Luhan refleks melingkar di pinggang Sehun "Saat kau bilang aku bisa melihatmu dirumah bersama anak-anak kita, bukankah itu berarti aku istrimu?"

Sehun menggeleng menggoda dengan bibir yang terus menghisap bibir Luhan di area basement perusahannya "Bukan."

"Bukan? Lalu aku apa?"

Sehun terkekeh disela lumatannya di bibir Luhan, membiarkan sang kekasih menggerutu sementara dengan asal Sehun mengatakan "Kau pengasuhku anak-anakku."

"MWO?"

"….."

Sehun terus menyesap tengkuk Luhan, membuat Luhan yang sedang digoda habis-habisan berniat membalas dengan mengatakan "Kalau begitu untukku, selamanya, Christian Ronaldo akan menjadi yang paling tampan bahkan melebihi dirimu."

"ha ha ha lucu!"

"Aku serius."

Jika sedari tadi Sehun mengatakan Luhan adalah bocah, maka kenyataan tak jauh berbeda juga ditunjukkan oleh pria terlalu matang sepertinya. Karena daripada mengabaikan celotehan gila Luhan, dia lebih memilih memakannya dan mengkonsumsi hingga kesal dan cemburu yang dirasakan saat ini.

"Kau benar-benar membuatku kesal."

Tak mau kalah Luhan menjawab "Kau juga."

Sementara Sehun membuka pintu mobil dan mendudukan Luhan di bangku samping kemudi, maka si pria cantik terus terkikik merasa memenangkan situasi saat ini.

BLAM…!

"Aku tidak percaya ini! Siapa si Christiano Ronaldo?"

Yang sedang dimarahi melunjak tidak tahu diri, dan alih-alih menjelaskan Luhan bahkan lebih memilih protes karena Sehun tidak mengenali siapa idolanya "Kau tidak mengenalnya?"

"Tidak! Apa dia sejenis kotoran kambing?"

"eyy! Kau keterlaluan Presdir Oh! Dia tampan asal kau tahu." Saat Sehun mendelik buru-buru Luhan menambahkan "Tapi Sehunnie lebih tampan."

Merona, Sehun pun sedikit reda. Walau bibirnya terus mengerucut tapi tidak bisa dibohongi jika dia senang dipanggil tampan oleh Luhan "Terserahmu saja! Kita pulang!"

"Pulang?"

"Ya pulang!"

"Ke apartementmu?"

"Tidak."

"Lalu kemana?"

Dengan santai Sehun menyalakan mesin mobil, mengabaikan pertanyaan Luhan lalu dengan licik mengatakan "Ke rumahku."

"MWO?"

Brrrmmm!

Kali ini Luhan benar-benar cemas, sungguh kali pertama Sehun membawa kerumahnya sudah sangat mendebarkan untuknya. Dan malam ini adalah kedua kalinya Sehun membawanya ke ruamah sang ayah maka lagi-lagi pula ini jauh lebih mendebarkan. Luhan panik, benar-benar panik tapi sang kekasih sama sekali tidak menolong dengan terus menyunggingkan senyum licik di bibirnya "Oh Sehun kau seribu kali lebih licik dariku!"

Menaikkan dua bahunya, Sehun dengan bangga membalas "Memang."

Entah apa yang terjadi jika dua orang dengan kejahilan tingkat tinggi layaknya bocah ini tetap bersama, terkadang yang satu terus menggoda lalu seolah tak mau kalah yang satu membalas menggoda lagi.

Terus seperti itu selama satu minggu, dan jika keduanya sama-sama tidak mau mengalah, maka tempat tidur adalah satu-satunya hal yang bisa membuat otak jahil mereka berhenti menggoda digantikan gairah yang begitu menggebu hingga tak bisa mereka hindari.

Ya, seperti itulah Luhan dan kekasih barunya, Sehun.

.

.

.

.

.

.

"Lalu kapan kau berencana menemui Kyungsoo?"

"Aku tidak tahu dimana dia saat ini, tapi segera setelah kau berbicara dengan Sehun, aku juga akan segera mencaritahu keberadaan Kyungsoo."

"Baiklah."

Kedua pria yang masih saling membutuhkan itu kembali bertemu. Dan dilihat dari tubuh putih Baekhyun yang dipenuhi tanda kemerahan di leher, pakaian yang berserakan serta bau khas sperm yang menguar di seluruh sudut ruangan jelas menandakan bahwa keduanya baru menyelesaikan kegiatan –yang lagi-lagi- bersifat adiktif dan terus membuat mereka menghianati, menyakiti pasangan mereka masing-masing.

Baekhyun lebih dulu bangun dari tempat tidur, memakai asal kemeja Chanyeol lalu mengambil bir dari lemari pendingin "Temani aku minum yeol."

Chanyeol mengangguk, dengan cepat dia mengambil boxer yang tergeletak lalu menemani Baekhyun yang terlihat memikirkan sesuatu yang membuatnya terlihat sedih "Ada apa?" katanya mengambil paksa kaleng bir Baekhyun lalu membaginya dari mulut ke mulut "ah-~…"

"Ada apa? katakan padaku apa yang mengganggumu?"

Baekhyun menelan bir yang Chanyeol berikan dari bibirnya, merasa begitu tersiksa lalu tak lama memeluk tubuh Chanyeol dan bergumam "Sehun, aku merindukannya."

Chanyeol tertawa pahit, dia kemudian melepas pelukan Baekhyun untuk bertanya "Apa Luhan belum menghubungimu juga?"

"Entahlah dia seperti menghindariku." Katanya tersenyum pahit, menenggak lagi bir nya dan menikmati perubahan Luhan yang seolah menghindarinya ditemani Chanyeol, pria yang juga dicintainya walau tak sebesar rasa cintanya untuk Sehun.

"Aku bisa memberikan alamat tempat tinggal Sehun padamu, seluruhnya aku tahu."

Baekhyun tersenyum kecil, hati kecilnya tetap bersikeras untuk menunggu Luhan yang mengatakan dimana alamat tempat tinggal Sehun. Hati kecilnya juga sedang berdoa kuat-kuat agar Luhan, sahabat yang begitu dicintainya tidak sedang menusuknya diam-diam.

Baekhyun menyadari perubahan Luhan beberapa waktu lalu, kenyataan bahwa Luhan menghindarinya adalah yang paling menohok yang pernah mereka lalui selama sepuluh tahun saling mengenal. Dia tidak ingin berpikiran buruk, tapi saat Sehunnya terlihat bahagia dan seperti memiliki cinta yang lain, maka entah mengapa bayangan Luhan adalah hal pertama yang Baekhyun tebak berhasil menggeser posisinya di hati Sehun.

"Baekhyunna?"

"huh?"

"Aku bisa memberikan alamat tempat tinggal Sehun padamu."

Baekhyun menarik simpul di bibirnya, tersenyum lirih seraya menenggak cepat kaleng birnya "Tidak perlu yeol, aku hanya akan menunggu seseorang untuk memberitahuku dimana alamat tempat tinggal Sehun."

"Siapa yang kau tunggu?"

Glup…

Selesai menenggak kaleng birnya, Baekhyun berujar sangat berharap "Luhan."

"Luhan? Manager Xi?"

"ya dia….. dia, Luhanku."

.

.

.


.

tobecontinued

.


.

Fix dibagi dua bagian.

Tadinya mau di skip aja, tapi semua yang ada di chap 13 berkaitan sama chap2 selanjutnya jadi gabisa main skap skip ajaaa terus kalo diterusin sampe teaser gue yg di IG, fix gabisa UP malam ini, terus takutnya banyak yg nungguin sampe bela2in ngalong kaya gue kkwkwkw *vedee

.

Beteway, kemaren KS sempet gue bikin munapikun, sekarang CB, biar adil HH nyusul yaa munapikun najisunnya, :v *sesungguhnya ga ada yang dianakemaskan disini kecuali jomblo sejati cem Jin contohnya *eyaaa

.

Enn… up laginya abis JTV ya, mdh2an bisa kekejar dua kali UP lagi, walau ga yakin soale words JTV juga membludak chap depan, Pegel nulisnya bukanapa2 wkwkwk:""

.

Doakeun biar ketemu soon :*

.