Previous

"Pulang?"

"Ya pulang!"

"Ke apartementmu?"

"Tidak."

"Lalu kemana?"

Dengan santai Sehun menyalakan mesin mobil, mengabaikan pertanyaan Luhan lalu dengan licik mengatakan "Ke rumahku."

"MWO?"

.

.

Baekhyun menyadari perubahan Luhan beberapa waktu lalu, kenyataan bahwa Luhan menghindarinya adalah yang paling menohok yang pernah mereka lalui selama sepuluh tahun saling mengenal. Dia tidak ingin berpikiran buruk, tapi saat Sehunnya terlihat bahagia dan seperti memiliki cinta yang lain, maka entah mengapa bayangan Luhan adalah hal pertama yang Baekhyun tebak berhasil menggeser posisinya di hati Sehun.

"Baekhyunna?"

"huh?"

"Aku bisa memberikan alamat tempat tinggal Sehun padamu."

Baekhyun menarik simpul di bibirnya, tersenyum lirih seraya menenggak cepat kaleng birnya "Tidak perlu yeol, aku hanya akan menunggu seseorang untuk memberitahuku dimana alamat tempat tinggal Sehun."

"Siapa yang kau tunggu?"

Glup…

Selesai menenggak kaleng birnya, Baekhyun berujar sangat berharap "Luhan."

"Luhan? Manager Xi?"

"ya dia….. dia, Luhanku."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

A' Friends Betrayal

Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo

Genre : Drama

Rate : M / NC!/

.

.

.

"Sehun?"

"…"

"Sehun?"

"….."

"SEHUN!"

"huh?"

Akhirnya si pria tampan merespon, walau dia terlihat bingung setidaknya dia merespon panggilan kekasihnya kali ini. Membuat pria cantik disampingnya memutar malas bola mata untuk diberi pertanyaan konyol dari sang kekasih "Kenapa kau berteriak?"

"Dan kenapa kau melamun?"

"Aku? Mana mungkin aku melamun."

Luhan, kekasihnya. Mulai merasa kesal. Lagi-lagi si cantik memutar malas bola matanya untuk sedikit beralih ke samping, memanjat tubuh kekasihnya dan membukakan seatbelt yang masih dikenakan pria tampannya "Tiga menit kau tidak meresponku." Katanya sibuk mencari kunci otomatis seatbelt kekasihnya. Membuat Sang CEO terpaksa menahan nafas karena saat ini lengan siku si pria cantik sedang menekan bagian paling sensitifnya sebagai seorang pria sejati.

"rrhh…"

Dia meringis pelan, diabaikan Luhan yang masih sibuk mencari kunci otomatis seatbelt sampai terdengar bunyi

Klik!

Barulah dia kembali pada posisi semula di tempat duduknya. Sedikit merapikan diri untuk menoleh dan menatap kekasihnya "Ayo."

"Apa?"

"Kita turun. Mau sampai kapan kita berada di dalam mobil."

Sehun terkekeh gemas, detik berikutnya dia menarik lengan Luhan untuk melumat lembut bibir si pria cantik. Seperti biasa, Luhan menolak pada awalnya, tapi ketika nikmat sudah perlahan menjalar ke bagian-bagian sensitifnya maka Luhan dengan senang hati menyambut lidah kekasihnya untuk membagi cinta yang sama besar dirasakan.

Tok tok

Tok tok

Keduanya semakin panas memagut, melumat semakin dalam hingga hingga tak mendengar seseorang mengetuk pintu mobil mewah mercedes benz berwarna hitam legam milik sang CEO.

Tok…tok

Tok..tok

Dan daripada menyadari kehadiran seseorang, keduanya lebih memilih untuk berjarak intim, meniadakan jarak yang mengganggu dengan lengan Luhan melingkar di leher kekasihnya sementara lengan kekar sang kekasih mendekap erat pinggang mungilnya.

Keduanya seolah sudah begitu familiar dengan rasa masing-masing, tak lagi merasa canggung dan justru merasa kehilangan jika tak saling mengecup untuk beberapa menit.

"hmhh~."

Barulah saat lidah panjang kekasihnya menyusuri leher, Luhan mendongak. Memberikan akses agar Sehunnya bisa semakin mengeksplor semakin jauh hingga nanti hanya nikmat yang bisa menguasai mereka.

"Sehun~hhmhh."

Tok..tok

Mata Luhan yang terpejam, perlahan membuka. Mencari asal suara ketukan sampai matanya membulat terkejut melihat wajah seorang pria paruh baya sedang mengintip seolah mencari tanda kehidupan di dalam mobil kekasihnya.

"omo!"

Refleks Luhan mendorong tubuh Sehun, membuat kepala sang kekasih yang sedang sibuk "menyusu" harus bebenturan dengan dashboard mobil lalu meringis untuk menatap kesal pada si mungil yang kini sedang merapikan pakaiannya "Wae?" katanya tak terima dibalas lirikan mata oleh Luhan.

"Apa?"

Tok..tok…

Sehun pun melihat ke arah samping untuk memekik terkejut saat melihat wajah jelek pengasuhnya sedang menempel di kaca mobil "Astaga!"

Buru-buru dia membuka jendela mobil sementara Luhan tetap merapikan pakaiannya "ish! Mengganggu saja! Ada apa paman?"

Pria paruh baya yang merupakan pengasuhnya sejak kecil itu memberi tatapan kesal pada Sehun, diliriknya Luhan yang sedang memalingkan wajah karena malu untuk menatap tak percaya pada tuan mudanya "Jika ingin mengambil seseorang, lakukan di tempat yang lebih layak tuan muda. Anda bukan pria sejati jika mengambil kesempatan dalam kesempitan."

"AKU APA?"

"Pengasuhnya tak lagi membungkuk, dia kembali berdiri tegap sempurna untuk merapikan pakaian dan menatap tak bisa dibantah pada pria yang dulunya hanya bocah dengan dua gigi kelinci yang kini menjadi pria tampan –setengah mesum- yang hampir "mengambil" kekasihnya di dalam mobil.

"Segera masuk tuan muda. Tuan besar tidak sabar melihat dia."

Dia yang dimaksud tentu saja Luhan. Namun karena tak ada penjelasan apapun dari Sehun, Luhan hanya diam dan bingung, tak mengerti "dia" yang dimaksud si pengasuh namun tetap diam karena terlalu gugup dan malu.

"Permisi Tuan Xi. Sampai bertemu di dalam."

Luhan memandang takut pada pengasuh Sehun untuk mengangguk dan menjawab sangat gugup "y-ya Paman."

Barulah saat pengasuh kekasihnya pergi, Luhan berani untuk bergerak. Dia juga tak segan merengek pada Sehun sesekali menarik kencang lengan kekasihnya "Sehun pamanmu benar-benar menakutkan. Dia telihat ingin memakan diriku."

"yang benar saja!"

"Apa?"

"Bagaimana mungkin paman memakan dirimu?"

"huh?"

Sehun menutup cepat jendela mobil, detik berikutnya dia lebih dulu keluar darisana, memutari mobil dan membukakan pintu untuk kekasihnya "Karena yang bisa memakan Luhannie hanya Sehunnie." Katanya mengecup bibir Luhan disambut desisan tak percaya dari si pria cantik.

"Apa seluruh kepalamu hanya berisi seks?"

Luhan menerima uluran tangan kekasihnya, setelahnya Sehun menutup pintu mobil untuk terkekeh dan melingkari lengannya di pinggang si mungil "Tergantung siapa kekasihku."

"ish!"

"Arh!"

Terlalu kesal, Luhan mencubit kencang perut kekasihnya. Membuat Sehun tertawa dan tak membiarkan Luhan melepas pelukannya "Aku hanya asal bicara."

"Tapi itu mewakili kenyataan yang ada."

"Tentang apa?"

"Tentang kau dan seluruh kekasihmu yang sudah berhubungan tanpa batas dan tak mengenal waktu."

"eyy…Jangan diteruskan nanti kau cemburu."

Luhan berhenti melangkah. Tatapannya sudah seperti perang dunia ketiga jika Sehun tak buru-buru memeluk dan mengatakan hal yang sebenarnya "Baiklah baiklah. Jangan tertawa, aku jujur mengatakan ini."

"Apa?"

"Dari semua kekasihku, hanya kau yang benar-benar bisa mengusik pertahananku sebagai pria. Biasanya aku akan berlaku sopan pada kekasihku, aku tidak akan menyentuh mereka jika dirasa tidak perlu atau jika itu di tempat umum. Berbeda saat bersamamu, aku cenderung tidak bisa menahan diri saat kau disampingku, ingin terus menyentuhmu, dan yang paling parah biasanya aku selalu menggunakan pengaman, tapi aku benci pengaman dan ingin selalu mengeluarkan di "dalam" jika sudah bersamamu."

"Oh Sehun, pikiranmu benar-benar kotor!"

"Tapi itu yang sebenarnya!"

"Aku hanya terdengar seperti pemuas nafsu daripada seorang kekasih." Katanya kesal dibalas tatapan serius oleh Sehun. "Lu,"

"Apa?"

"Kau tahu apa yang membedakan dirimu dan seluruh kekasihku yang lain? Kali ini aku benar-benar bertanya?"

"Selain ranjang dan urusan nafsu rasanya kami semua sama!"

"Bukan."

"Lalu apa?!"

"Ini tempat aku dan ibuku menghabiskan banyak waktu."

Menyadari nada kekasihnya terdengar sedih membuat Luhan sedikit merasa bersalah. Mata Sehun menatap tak berkedip bangunan rumahnya, dan ya, walaupun dia tersenyum Luhan bisa melihat sepenuhnya rasa rindu dari tatapan pria yang sudah resmi menjadi kekasihnya satu minggu yang lalu "Sehunna."

"Aku menyimpan banyak kenangan indah di rumah ini. Terlalu banyak hingga setelah kepergian ibuku aku selalu merasa sesak karena tidak bisa mengendalikannya. Aku akan menangis jika berada di rumah ini seorang diri. Terlebih saat ayahku juga merasakan yang sama, dia cenderung bekerja, bekerja, bekerja untuk mengalihkan rasa rindunya pada ibu. Dan tidak perlu kau tanya siapa korban dari kesibukan ayahku." Katanya mengenang semua rasa pahit bersamaan dengan masa sulit yang harus dia lalui selama bertahun-tahun.

Tangannya menggenggam erat jemari Luhan, tidak berharap banyak hanya ingin bersandar. Tapi diluar dugaan, bahkan hanya dengan menggenggam tangan kekasihnya Sehun bisa merasakan ketenangan yang tak pernah ia dapatkan dari siapapun saat bercerita tentang ibunya. "Dan karena alasan itu aku meninggalkan rumah. Menetap di Jepang untuk waktu yang lama sampai akhirnya ayah memintaku kembali."

"Kau terdengar keren untukku."

Luhan mencoba menguatkan, dibalas senyum tipis kekasihnya "Tapi aku masih takut pulang ke rumah ini. Terlalu banyak yang menganggu, sampai beberapa minggu lalu aku membawamu ke sini, barulah aku memiliki sedikit keberanian."

"Aku?"

Yang paling tampan menautkan erat jemarinya dengan jemari Luhan. Mengecupnya sekilas lalu tanpa ragu mengatakan "Rumah besar ini terlalu sepi jika hanya untuk dua orang. Jadi saat kau datang, aku rasa aku bisa menghidupkan lagi rumah kedua orang tuaku, bersamamu."

"Apa yang kau bicarakan?"

Sehun mencium kening Luhan, mengerling kekasihnya setengah menggoda lalu tanpa ragu menjawab "Aku sedang bicara tentang masa depan bersamamu, disini, di rumahku."

"Sehun."

"Dan itu keistimewaan darimu yang tidak dimiliki oleh kekasihku sebelumnya, jadi jangan merasa sama dengan mereka. Kau berbeda dan hanya satu-satunya untukku, milikku."

"tsk!"

Terdengar seperti menggerutu, tapi jauh di dalam hatinya Luhan sedang bersorak begitu bahagia. Baru Sehunlah yang memperlakukan dirinya seperti seseorang yang begitu istimewa, tidak menganggapnya pengganggu apalagi hanya sebagai penghangat di tempat tidur.

Kekasih yang sedang menautkan erat jemari mereka ini terlihat begitu tulus dan tak menyembuyikan apapun, membuat Luhan begitu bahagia hingga warna merah di pipinya seolah menunjukkan bahwa dia memang bahagia.

"Selamat malam tuan muda."

Sehun terus membawanya berjalan masuk dan melewati beberapa pelayan yang sedang menyambut kedatangannya untuk bertanya dimana ayahnya berada dimana "Ayahku?"

"Sudah menunggu anda di meja makan tuan muda."

"Baiklah."

Wajahnya yang sedang merona karena ucapan Sehun tiba-tiba dibuat tegang menyadari akan segera bertemu dengan CEOnya sebelum Sehun, membuat lagi-lagi tangan si Manager berkeringat diiringi kekehan gemas sang kekasih "Jangan gugup. Itu hanya ayahku."

"Hanya ayahmu kau bilang? Mau bagaimanapun juga aku pernah bekerja untuknya jadi wajar aku gugup." Katanya menggerutu namun diabaikan Sehun. yang dilakukan si pria tampan hanya tertawa kecil sementara dia terus membawa Luhan ke meja makan hingga akhirnya sosok sang ayah terlihat menatap tak sabar dan begitu kesal karena dibuat menunggu terlalu lama.

"Kenapa lama sekali?"

"Ayahku yang tampan, jangan marah. Kau sudah tua."

"Bocah tengik. Cepat duduk."

"Ayo sayang."

Sementara Sehun berniat untuk segera bergabung maka Luhan tetap bersikeras bersembunyi di belakang tubuh kekasihnya, enggan untuk bertatapan lagi dengan direktur sebelumnya mengingat mau bagaimanapun track record hubungannya dengan Presdir Oh sebelum Sehun terbilang buruk dan banyak membuat masalah.

"Ada apa?"

Luhan bergerak cemas di belakang Sehun, enggan untuk mengeluarkan suara sampai suara CEO pertamanya terdengar memberi perintah "Manager Xi!"

"n-nde?"

Luhan mengeluarkan lucu kepalanya dari belakang tubuh Sehun. Mencari dimana Presdir pertamanya untuk melihat senyum terlihat jelas dari wajah pria yang dulu sering memarahinya. "Cepat duduk, ini perintah."

Buru-buru dia melepas pegangan tangan Sehun, berjalan lurus menuju meja makan sementara pengasuh Sehun sudah berdiri tepat di kursi Luhan, mempersilakannya duduk.

"Silakan Tuan Xi."

"Terimakasih paman."

"tsk!"

Kini giliran si pria tampan yang mendesis tak percaya, kesal melihat tingkah Luhan yang menuruti ucapan ayahnya sementara sedari tadi, sepanjang perjalanan, seluruh ucapan yang dia perintahkan mental tak tersisa dan tak pernah sama sekali dikerjakan "Kekasihnya aku atau ayah?"

"Tuan muda silakan duduk."

Saat paman Lee memintanya duduk, si tuan muda langsung bergegas bergabung. Bertanya-tanya mengapa paman tidak menarik kursi untuknya sementara dia melakukannya untuk Luhan "Kursiku?" kesalnya dibalas tatapan tajam dari si pengasuh.

"Tepat di sebelah ayah anda tuan muda."

"Maksudku kau tidak menarik kursi untukku?"

"Jika kiranya kau yang akan menyandang status nyonya rumah, aku bersedia melakukannya."

"ish! Lupakan!"

Tak lama Sehun menarik kasar kursinya. Duduk persis didepan sang ayah lalu harus menemukan tawa tertahan dari kekasihnya yang sepertinya terhibur dengan pertengakarannya dan paman Lee. "Apa?"

"pfftt…Dasar bayi."

"Bilang lagi dan kubalas di ranjang."

Sementara Luhan menjulurkan lidahnya maka si bayi sedang mengunci mangsanya saat ini, memberikan tatapan tak bisa dibantah sampai suara ayahnya terdengar bertanya "Sudah ayah duga Manager Xi orangnya."

"Aku orangnya?"

Luhan bertanya lebih dulu, lalu Sehun mengangguk dan tanpa ragu mengatakan "Ya. Si rusa ini orangnya."

"eyy..Jangan bilang rusa di depan Presdir Oh. Itu tidak keren direktur Oh."

"ayolah! Kenapa dia masih Presdir sementara aku hanya direktur? Lagipula harusnya kau memanggilku sayang."

Luhan membulatkan mata dan kali ini Sehun yang menjulurkan lidah, skor satu-satu saat ini. Begitu pikir Sehun hingga tak beberapa lama kemudian sang ayah membantu Luhan dan membuat skor menjad satu-dua untuk Luhan "Abaikan bayi di depanmu Manager Xi. Lee siapkan makanan."

"ckck. Benar-benar tidak bisa dipercaya."

"Kau harus menghabiskan semua makanan ini nak." Tuan Oh memberitahu dibalas tatapan bingung dari Luhan "Ada apa? Kenapa kau terlihat bingung?"

Ayah Sehun yang bertanya, membuat Luhan benar-benar salah tingkah menyadari bahwa baru saja hatinya terasa dipenuhi kupu-kupu saat seorang ayah memanggilnya dengan sebutan nak. Sungguh Luhan terlalu senang hingga terlihat bingung seperti saat ini.

"tidak…Tidak apa Presdir Oh. Aku hanya….baiklah! Aku akan menghabiskan makanannya."

Baik Sehun maupun ayahnya merasa takjub dengan kehadiran Luhan. Sungguh, jumlah Luhan hanya satu, tapi rasanya rumah mereka hidup lagi. Tak ada lagi suasana tegang dimeja makan seperti tahun-tahun sebelumnya. Yang ada hanya perasaan begitu bahagia karena pada akhirnya ada seseorang yang benar-benar menghabiskan seluruh makanan yang telah disediakan.

"Aku akan lebih giat memasak jika seperti ini."

Kini Paman Lee yang tersenyum, dia dan seluruh maid yang bekerja tak pernah menemukan lagi sosok yang bisa menghabiskan seluruh makanan di meja selain mendiang nyonya Oh. Jadi ketika Luhan melakukannya, menggantikan posisi mendiang nyonya rumahnya, maka si pengasuh sekaligus pengurus rumah tanggan Keluarga Oh selama bertahun-tahun akan dengan senang hati mencoba seluruh menu makanan terbaru untuk menyenangkan calon istri dari tuan mudanya.

"Jadi kapan tanggal pernikahan kalian?"

Uhuk!

Luhan tersedak, diambilkan cepat minum oleh pengurus Lee untuk dia tenggak sebelum menatap pimpinannya terdahulu "Tanggal apa?"

Kini Tuan Oh melipat tangan di atas dadanya. Meminta penjelasan pada satu-satunya putra yang dia miliki menyadari bahwa calon pengantinnya benar-benar tidak mengetahui apapun tentang rencana pernikahan mereka "Kau belum memberitahunya."

Dengan santai, dengan mulut yang penuh berisikan makanan, si tuan muda menjawab "Belum sempat, kami baru menjadi sepasang kekasih minggu lalu."

"Ayah tidak mau tahu! Janji tetap janji!" hardiknya kesal, lalu memanggil asisten pribadinya "Lee, bawakan tongkatku!"

"Presdir Oh ada apa?"

Ayah Sehun menatapnya penuh harap lalu memberitahu Luhan bahwa putrnya menjanjikan sesuatu yang sepertinya belum Luhan ketahui "Bocah tengik ini berjanji membawakan aku calon menantu bukan kekasih. Jadi saat dia membawamu ke rumahku, harusnya kau calon menantuku."

"a-Aku apa?" Luhan gugup dibalas tatapan kecewa dari Presdir Oh "Lupakan. Lee antar aku kekamar."

"Baik tuan besar."

Menggunakan tongkatnya sebagai alat bantu jalan, maka Luhan bisa melihat betapa rapuhnya pria paruh baya yang dulu pernah menjadi atasannya yang tegas. Jalannya tertatih menggunakan tongkat sementara tangannya yang lain harus menggenggam lengan pengurus Lee agar bisa berjalan sempurna.

"Sehun ada apa ini? Ayahmu marah."

Sehun hanya diam dan menghabiskan makanannya, tak mengabaikan pertanyaan Luhan sampai kekasihnya terdengar kesal dan juga marah "Oh Sehun!"

"Kau sudah selesai makan?"

Luhan mengangguk lucu lalu menjawab "Sudah."

Kini giliran Sehun yang mengangguk tanda mengerti. Diletakannya sendok dan garpu di sisi piringnya lalu menggeser kursi untuk berjalan memutari meja makan, berjongkok tepat di samping kursi kekasihnya "Kalau begitu ayo kita ke kamar. Aku butuh di-charge."

"charge? Apa maksudnya-…omo!"

Tatkala Sehun menggendongnya bridal, maka Luhan memekik karena terkejut. Dia juga tidak mengerti charge apa yang dimaksud kekasihnya sampai terdengar suara pintu kamar dibuka oleh Sehun lalu tak lama ditutup dan dikuncinya rapat "Maksudnya, aku butuh menyatu dengan tubuhmu." Katanya membaringkan Luhan di atas tempat tidur lalu berdiri tepat diatasnya "Boleh ya?"

"Apa?"

Sehun sengaja menekan penis mereka bersamaan, membuat Luhan terpaksa mendesah lalu melingkarkan kakinya di pinggang Luhan "Asal kau menceritakan apa yang terjadi dengan ayahmu, kau boleh mengambilku." Katanya kesusahan mengingat lidah Sehun sudah menjilati cuping dan menyesap pundaknya.

"Sehun!"

Tangannya sudah melucuti kemeja kekasihnya, membuangnya tak sabar lalu menatap sangat menggoda dua tonjolan merah yang akan segera menjadi sumber nikmatnya sesaat lagi "Kau sangat menggoda."

Susah payah Luhan menutupi dadanya, memaksa Sehun untuk menjawabnya sebelum keduanya melakukan hal lebih jauh, lebih memabukkan dan membuat rasa nikmat tak terhingga untuk tubuh keduanya "Jangan ganggu aku Lu!"

"Astaga! Jawab aku dulu!"

Sehun menyeringai, ditempelkannya dua dahi mereka lalu tak lama dia bergumam "deal! Aku akan menceritakan segalanya setelah kita selesai bercinta."

Luhan membalas senyum mengerikan kekasihnya, dia kemudian mendorong tengkuk prianya lalu membalas sama bernafsunya "then take me."

.

.

.

.

.

.

.

"Lalu ceritakan padaku. Apa yang terjadi?"

Usai melakukan kegiatan panas mereka, Luhan menagih janji kekasihnya. Janji Sehun untuk menceritakan apa yang terjadi pada ayahnya setelah dua jam penuh saling menghentak dan mendesahkan nama masing-masing "Baiklah."

Yang menjawab terlihat sedang mengeringkan rambut, berbeda dengan yang bertanya. Karena jika Sehun terlihat sedang membersihkan diri maka si pria mungil lebih memilih berbaring di tepat tidur. Enggan melakukan apapun apalagi membersihkan tubuh karena seluruh tubuhnya remuk redam mengingat percintaannya dengan Sehun akan selalu menguras tenaga dan membuat seluruh tubuhnya sakit walau pada akhirnya nikmat akan mendominasi dari serangkaian percintaan mereka.

"Biar aku keringkan rambutmu."

Sehun mengangguk, didekatinya sang kekasih. Lalu tak lama dia duduk di tepi ranjang, membiarkan tangan lembut Luhan yang mengambil alih handuk kecilnya "Kau bisa sambil bercerita sayangku."

"Apa kau sangat ingin tahu?"

"mmh..Tentu saja. Wajah ayahmu terlihat sangat kecewa pada kita."

"Baiklah."

Dengan satu tangan Sehun menarik lengan Luhan, memindahkan bokong seksi Luhan untuk duduk di pangkuannya. "Kau tahu posisi ini bisa membuat adikmu kembali bangun."

Sehun menciumi lagi dua nipple Luhan, menghisapnya cukup lama lalu berpindah mengecup rakus pundak seksi kekasihnya "Kau hanya perlu menidurkannya lagi."

Luhan terkekeh, jika tidak ingat Sehun memiliki hutang cerita mungkin dia akan membiarkannya, tapi saat wajah kecewa Presdir Oh terus terngiang di ingatannya membuat Luhan tak memiliki pilihan lain selain menangkup sayang wajah kekasihnya "Kita bahkan bisa melakukannya lagi sebanyak yang kau mau. Tapi untuk saat ini ceritakan padaku. Ada apa? kenapa ayahmu terlihat kecewa?"

Sama seperti ayahnya, Sehun juga memasang wajah kecewa, membuat Luhan benar-benar penasaran sampai akhirnya suara Sehun menjawab semua rasa penasarannya "Itu karena aku berjanji akan segera menikah."

"Menikah?"

Yang paling tampan menatap sendu kekasihnya, mencoba untuk menjelaskan walau perasaan tak enak hati pada Luhan sangat terasa mengingat permintaannya untuk menikah sangat berlebihan dan mungkin egois "Ya. Denganmu."

"Denganku?"

"Aku mingin menikah denganmu. Maukah?"

Wajah Luhan tampak mengeras, sungguh dia tidak menyangka Sehun akan mengajaknya menikah seperti ini. Tanpa persiapan dan terkesan buru-buru. "Sehun apa yang kau bicarakan? Kita baru saja menjadi sepasang kekasih."

"Aku tahu. Tapi ayahku selalu mengatakan hal mengerikan tentang usianya. Dia bilang mungkin akan segera mati jika tidak melihatku segera menikah."

"Kau harus memberi pengertian pada ayahmu. Lagipula kau belum terlalu mengenalku. Aku tidak mau kau menyesal di kemudian hari."

"Aku memang belum mengenalmu. Tapi satu yang aku yakini, aku tidak akan pernah menyesal membuatmu menjadi pasangan hidup."

"Itu yang Kai katakan padaku sebelumnya. Tapi apa? Tak hanya menghianati dia bahkan mencintai adikku sendiri."

Keduanya diam untuk sesaat. Menikmati dua rasa yang berbeda, jika Sehun sedang menikmati rasa panas dihati karena nama Kai disebutkan maka kekasihnya begitu cemas dan berdoa kuat-kuat di dalam hati jika Sehun tak lagi marah karena kesalahan yang baru saja dia ucapkan.

"Kau mulai lagi."

Saat bibir Sehun kembali mengecupnya, Luhan semakin cemas, tidak seharusnya nama Kai disebut disaat seperti ini. Membuatnya buru-buru menangkup wajah Sehun memastikan jika kekasihnya tidak merasa marah atau tersinggung karena ucapannya "Apa?"

Sehun yang bertanya lebih dulu, menikmati sentuhan kekasihnya sementara Luhan menatap cemas padanya "Maaf aku tidak bermaksud menyebut nama dia."

"Dia? Kai maksudmu?"

"Sehun." Lirihnya begitu cemas dibalas senyum kecil kekasihnya "Aku mulai terbiasa mendengar kau menyebut namanya."

"Aku benar-benar tidak bermaksud menyebut namanya."

"ara..."

Sehun kemudian menarik selimut disamping Luhan, membawa si mungil ke dekapannya lalu bergumam sangat pelan "Jangan samakan aku dengan mantan kekasihmu. Aku bukan dia dan kami tidak memiliki persamaan apapun."

"Maaf."

"Sudahlah. Kita bicara besok, aku tahu kau lelah."

Tak banyak berucap lagi, Sehun memejamkan mata. Berusaha meredakan rasa panas dihatinya dengan tangan Luhan mengusap lembut dadanya. "Maafkan aku."

Tak menjawab, Sehun hanya diam. Perlahan rasa kantuk karena lelahnya pun menguasai. Detik berikutnya Luhan bisa mendengar suara dengkuran halus kekasihnya. Tersenyum, lalu sedikit merangkak mengecup hidung Sehun dengan rasa bersalahnya "Aku benar-benar minta maaf sayang."

Menatap lama wajah kekasihnya adalah hal yang Luhan lakukan, dia juga mengusap sayang wajah Sehun sampai rasa haus menggerogoti kerongkongannya. Dia pun segera memindahkan tangan Sehun dari pinggangnya. Bergegas memakai asal hoodie kebesaran Sehun beserta celana pendek selutut milik kekasihnya.

"Aku segera kembali." Ujarnya pelan seraya bergegas keluar dari pintu kamar Sehun. Tidak melihat sekelilingnya sampai tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.

"Astaga! Paman?"

Luhan tersentak melihat pengasuh kekasihnya sedang berdiri tepat di depan pintu kamar Sehun. Bertanya-tanya apa yang dilakukan pengasuh Sehun sampai senyum yang dia dapatkan "Apa saya menganggu anda?"

"Tidak. Tentu saja tidak paman, tapi apa yang paman lakukan disini?"

"Tuan besar ingin bicara dengan anda."

"Presdir Oh?"

"Jika anda menyebutnya demikian, maka Presdir Oh ingin bicara dengan calon menantunya."

"Ah-...Soal itu..."

"Bisakah anda langsung berbicara dengannya?"

Luhan mengangguk pelan seraya tersenyum gugup "Ya, tentu saja."

Terlalu gugup, Luhan pun mengikuti pengasuh kekasihnya. Perlahan menuruni tangga lalu menyusuri lorong besar di rumah Sehun. Luhan hanya berjalan tertunduk. Bertanya-tanya apa yang akan dibicarakan ayah kekasihnya sampai tak lama langkahnya terhenti untuk berhadapan dengan sosok paruh baya yang sedang menyesap secangkir teh seorang diri.

"Tuan besar."

Ayah Sehun melirik asistennya sekilas untuk menemukan keberadaan Luhan disamping pengasuh putranya "Ah Luhan...Kau belum tidur? Maaf mengganggumu."

"Anda tidak menggangguku Presdir Oh. "

"Kalau begitu silakan duduk."

Buru-buru Luhan mengangguk, ditariknya kursi di depan ayah kekasihnya untuk bergerak cemas mengingat penampilannya sangat tidak layak untuk berbicara dengan orang tua kekasihnya.

"Sepertinya bocah tengik itu benar-benar manja ya?" Katanya menebak apa yang baru putranya lakukan di dalam kamar melihat penampilan Luhan yang terlihat sangat kelelahan ditambah pakaian yang digunakan adalah pakaian putranya.

"Tidak, Sehun-...Maksudku Direktur Oh tidak manja."

"Kau kekasihnya jangan panggil dia direktur. Kau dengar?"

Mengangguk gugup Luhan menjawab "Y-ya Presdir Oh."

"Dan kau tak lagi bekerja padaku. Jangan panggil aku Presdir Oh. Panggil aku ayah."

"huh?"

"Lagipula aku ayah kekasihmu. Akan terdengar janggal jika kau memanggilku Presdir."

Luhan mencengkram erat kedua pahanya. Sungguh, ucapan Presdir Oh mengenai siapa dirinya di keluarga ini membuat Luhan resah. Terkadang dia merasa asing namun terkadang rasanya hangat. Terlalu hangat sampai rasanya dia tak rela jika harus kehilangan keluarga kecil kekasihnya.

"Luhan? Kau dengar?"

"Y-ya Presdir-...Aboji."

"Begitu lebih baik. Ah ya-... Apa kau bisa mengemudi mobil?"

"Nde?"

"Aku dengar kau bisa menyetir. Benarkah?"

Luhan mengangguk canggung seraya menjawab "Ya aku bisa."

"Kalau begitu apa kau bersedia mengantarku ke swalayan terdekat?"

"Tuan besar ini sudah malam."

Tuan Oh mengabaikan peringatan dari asistennya. Sedikit mendelik kesal lalu kembali menatap Luhan penuh harap "Maukah kau mengantarku?"

Luhan bimbang awalnya, tapi saat tatapan mata ayah Sehun terlihat sangat memohon. Maka rasanya salah jika dia tidak menjawab "Ya tentu saja aboji."

.

.

.

Berlebihan memang...

Tapi tak lama terlihat dua mobil mewah berwarna hitam dan silver terparkir di sebuah swalayan besar dekat rumah Sehun. Dan jika mobil berwarna hitam berisikan Luhan dan ayah kekasihnya. Maka di mobil berwarna silver terlihat supir pribadi Presdir Oh dan pengurus Lee yang mengikuti.

"Ini swalayan yang anda maksud?"

"Kau formal lagi Luhan."

Dikoreksi, Luhan kembali menampilkan senyum canggung untuk memperbaiki caranya bertanya "Ini swalayan yang ayah maksud?"

Tuan Oh begitu senang mendengar Luhan memanggilnya ayah. Membuatnya terlalu bersemangat dan menceritakan betapa menyenangkannya swalayan ini untuk Sehun.

"Eoh! Sehun sangat menyukai tempat ini, ibunya juga. Mereka sering berkencan disini sewaktu Sehun kecil."

"Benarkah?"

"Tentu saja! Sehun sangat menyukai Jelly. Tapi hanya Jelly yang dijual di swalayan ini yang dia sukai. Dia akan menangis jika Jelly nya tidak berasal dari swalayan ini."

"Kenapa terdengar sangat bocah untukku." Luhan terkekeh kecil, dibalas tawa renyah dari ayah kekasihnya "Dia memang bocah asal kau tahu. Bahkan hingga saat ini."

Cklek...!

Bersamaan dengan jawaban Tuan Oh, pintu disisi sebelah kirinya terbuka. Menampilkan pengurus Lee beserta supir pribadi Tuan Oh yang sudah bersiap dengan kursi roda.

"Aku bisa menggunakan tongkatku saja."

"Naik kursi roda atau kembali pulang tanpa membeli apapun."

"Kau megancamku?"

"Dengan senang hati kujawab Ya."

Luhan selalu merasa lucu dengan interaksi Pengurus Lee dan ayah kekasihnya, karena daripada sebatas asisten-majikan, keduanya lebih terlihat seperti suami-istri yang akan selalu bertengkar karena hal-hal kecil.

Seperti ini contohnya, Jika Tuan Oh bersikeras untuk menggunakan tongkat berjalan, si asisten jauh lebih keras kepala menggunakan ancaman dan memaksa majikannya untuk duduk manis di kursi roda "Aku tidak mau."

"Baik. Kita pulang."

"y-YAK!"

"Aku akan mendorong kursi rodamu. Bagaimana?" bisik Luhan memberi tawaran. Dibalas tatapan gengsi oleh Tuan Oh namun tetap mengangguk menyetujui "Baiklah. Hanya kau yang boleh menuntunku di dalam. Jauhkan parasit ini dari jangkauan mataku."

"Maaf tuan besar. Siapa yang kau sebut parasit?"

"Pria lima puluh tahun dengan kepala botak klimis yang sedang mengancam majikannya!"

"Aku?" Pengurus Lee menunjuk dirinya dibalas jawaban konyol dari sang majikan "Bukan, ubur-ubur."

"Mwo?"

"Aboji, biar aku bantu."

Buru-buru Luhan menengahi pertengkaran tak penting antara pengurus Lee dan ayah kekasihnya. Sedikit membungkuk untuk membantu Tuan Oh keluar dari mobil lalu menuntunnya duduk di kursi roda "Kajja! Kita beli Jelly untuk Sehun." katanya bersemangat meninggalkan si asisten yang tampak jengah.

Ketiganya memasuki swalayan tanpa menyadari ada sepasang mata yang sedang menatap ke arah mereka, ke arah Luhan lebih tepatnya. Menyeringai dengan sepasang kartu sialan yang digunakan untuk berjudi sedang berada di tangannya.

"aigoo…Mangsaku datang tepat waktu."

"HEY! CEPAT PASANG UANGMU!"

"Sebentar! Aku akan mengambil uang di putraku! Aku pasang lima ratu ribu won."

"Kau yakin tidak kalah lagi?"

"Tenang saja. Ada bank berjalanku."

Berbeda dengan penampilan ayah Sehun yang begitu elegan meskipun berada di kursi roda, maka penampilan pria yang sedang memasuki swalayan dan mencari bank "berjalan" nya terlihat sangat kumal. Jalannya gontai karena mabuk sementara tatapan matanya terus mencari sosok yang selama ini menghidupi kebutuhan judi dan minuman kerasnya secara Cuma-Cuma.

"Anakku, Luhannie. Kau dimana sayang."

Memalukan menyebutnya sebagai seorang ayah, tapi takdir tetaplah takdir, karena mau seberapa besar Luhan menolak keadaan, pria mabuk yang sedang mencarinya saat ini tetaplah ayahnya, pria yang sialnya harus menjadi parasit dalam hidupnya.

"Luhannie dimana-….binggo! Disana kau rupanya."

Ayah kandung Luhan dan Kyungsoo itu begitu berbinar melihat si putra sulung sedang sibuk memilah minuman ringan. Langkahnya tak lagi gontai, lebih bersemangat dan yang paling membuatnya bahagia adalah sebentar lagi, dia akan mendapatkan uang dari si sulung. "daddy comes to you baby." Katanya bersenandung menjijikan. Meyakini bahwa itu punggung putranya yang terlihat begitu familiar.

Tap!

Dia memegang pundak kanan Luhan, membuat si pemilik punggung menoleh seraya berkata senang "Iya paman. Aku sudah sele-…."

DEG!

"KAU?!"

Betapa terkejutnya Luhan saat ini. Disaat dia mengira yang menepuk punggungnya adalah Paman Lee, maka kebahagiannya seolah direnggut paksa dengan kehadiran pria yang sedang dia doakan tak pernah lagi menampakan wajah di depannya atau Kyungsoo serta ibunya.

"KAU? APA KAU BILANG? KAU MEMANGGIL AYAHMU DENGAN KAU?"

Luhan panik, bukan karena pria mabuk yang sialnya adalah sang ayah berteriak. Demi Tuhan, dia tidak peduli jika harus bertengkar dengan ayahnya di depan umum. Karena satu-satunya hal yang ditakuti Luhan adalah Tuan Oh melihat ayahnya dan akan mulai berfikiran buruk tentangnya.

"Ikut aku!"

Buru-buru Luhan menarik pergelangan tangan sang ayah. Membawanya ke section yang sepi akan pengunjung untuk bicara empat mata dengan sang ayah "Apa yang ayah lakukan disini?"

Yang ditanya menyeringai, nafasnya benar-benar bau alkohol dan itu sangat menjijikan untuk Luhan "Judi, apalagi."

"Lalu kenapa kau datang padaku?"

"Aku butuh uang. Berikan aku satu juta won."

"MWO? APA KAU GILA-…Sial! Belum sepuluh hari aku mengirimkan uang ke rekeningmu! Aku bahkan memberi lima juta won bulan ini."

"Habis."

"Kalau begitu aku tidak peduli! Urus hidupmu sendiri aboji—arhhh!"

Luhan meringis tatkala jemarinya dicengkram kuat oleh sang ayah. Tubuhnya bahkan dihimpit diantara etalase sementara dia mulai mati rasa karena ayahnya menekan terlalu kuat jemari tangannya "Apa yang ayah lakukan—arh!"

Kali ini dia mencekik Luhan, menatap marah pada si sulung lalu mengatakan dengan jelas bahwa dia butuh uang "Berikan aku uang."

"tidak—rrh—tidak akan."

"Kalau begitu aku akan mencekikmu sampai kau mati."

Disela cekikan tangan sang ayah, Luhan menyeringai. Meskipun wajahnya sudah berwarna merah karena kehabisan oksigen atau tangannya yang sudah kram karena dicengkram sangat kuat, Luhan tidak peduli. Dia hanya terus menyeringai lalu menantang sang ayah "Bunuh aku dan kau akan kehilangan uang—rhh!"

"Berani sekali kau! mati kau…mati kau…MATI KAU!"

Uhuk!

Seperti dugaan Luhan, ayahnya tidak akan pernah sampai hati membunuh dirinya, bukan karena dia memiliki hati seorang ayah, tapi lebih karena pria tua bangka di depannya ini takut kehilangan uang untuk judi dan minuman keras.

Dan alih-alih mencekiknya sampai mati, ayah kandungnya dan Kyungsoo ini justru menghempas tubuhnya ke lantai swalayan hingga beberapa barang dari etalase berjatuhan karena benturan dengan tubuhnya. "Wae? Takut tidak bisa minum? Pengecut!"

"brengsek! Kau benar-benar sialan Do Lu-….."

"ADA APA INI?"

Sementara posisi tangan ayah Luhan sudah akan memukul wajahnya maka Luhan sedang menyembunyikan wajahnya diantara dua tangan. Berharap ada yang menghentikan pria gila di depannya sampai suara asing namun begitu hangat di hatinya terdengar begitu murka.

"tidaktidak…Jangan anda aboji."

"Tuan muda. Anda baik-baik saja?"

Betapa hancur hati Luhan saat ini, karena siapapun boleh menolongnya. Siapapun, kecuali ayah Sehun yang sialnya justru menjadi penolongnya malam ini "Paman."

Dengan bantuan Pengurus Lee, Luhan berdiri. Bertumpu pada satu etalase melihat bagaimana ayah Sehun menggunakan tongkatnya berjalan mendekati ayah kandungnya. Keduanya saling melempar tatapan sengit dengan kondisi sama murka dan sama tak suka jika seseorang mengganggu apa yang menjadi milik mereka.

"Siapa kau?"

Ayah Luhan menyeringai untuk membalas tatapan sengit ayah Sehun "Harusnya aku yang bertanya! Siapa kau!?"

"Aku ayahnya."

Yang sedang mabuk semakin menyeringai untuk tertawa begitu keji "Ayahnya? Hey nak. Anakku sayang, katakan padanya siapa ayahmu."

Pengurus Lee bahkan bisa merasakan tangan Luhan mencengkram kuat lengannya. Dia juga melihat mata Luhan dipenuhi air namun tak sampai menetes karena dia menahannya kuat-kuat "Tuan muda."

Luhan menggeleng pasrah, matanya kemudian melihat mata ayah Sehun yang mencari tahu sebuah jawaban untuk mengatakan "Dia ayahku." Ujarnya begitu ketakutan hingga rasanya tuan Oh bisa melihat ada sebulir air mata yang jatuh dari pelipis mata kekasih putranya.

"Kau dengar? Aku ayahnya? Kau hanya orang tua cacat menyedihkan."

"appa."

Pengurus Lee menahan Luhan agar tetap di tempatnya, membiarkan tuan besarnya yang mengurus segala masalah yang sedang terjadi saat ini "Aku memang cacat, tapi aku tidak pernah menyakiti darah dagingku sendiri. AKU TIDAK PERNAH MEMUKUL DARAH DAGINGKU!"

"Wajar jika aku memukulnya, anak pembangkang itu tidak mau memberikan uang sepeser pun padaku!"

"Uang?"

"YA! AKU HANYA INGIN UANG DARINYA! SETELAHNYA AKU TIDAK PEDULI PADA HIDUPNYA!"

"Bagaimana bisa kau menyebut dirimu sebagai seorang ayah?"

"Persetan denganmu! LUHAN CEPAT BERIKAN AKU UANG!"

"Berapa yang Luhan berikan padamu?"

"huh?"

"Sebut nominalnya."

Tak tahu malu, Ayah Luhan menjawab "Lima juta won setiap bulannya."

Nada suara Tuan Oh sama persis seperti Sehun saat murka, Luhan menyadarinya. Keduanya juga cenderung akan melakukan apapun agar yang mereka cintai tidak disakiti oleh siapapun termasuk keluarganya sendiri, Sehun juga melakukannya.

Jadi ketika ayah Sehun sedang berhadapan dengan ayahnya, maka Luhan merasa begitu aman dan merasa semua akan baik-baik saja. Entah apa yang akan dilakukan Tuan Oh untuk melindunginya, Luhan pasrah. Dia butuh perlindungan dan ayah kekasihnya sedang berdiri disana untuk melindunginya, dengan segala cara.

"Jika aku menaikkan harga menjadi sepuluh kali lipat –tidak- aku akan menaikkan harga dua kali lipat. Apa kau bersedia untuk tidak pernah mengganggu Luhan lagi?"

"Sebut nominalnya."

"Seratus juta won."

Luhan jelas melihat keserkahan di mata ayahnya. Terlalu jelas hingga hatinya menciut sakit karena terlalu kecewa. Luhan sedang berdoa kuat-kuat agar ayahnya menolak, berharap ada sedikit belas kasih dari sang ayah agar tidak menjualnya dan tergoda dengan seratus juta won.

"deal!"

Namun sayang, ketika persetujuan diserukan, sebagai seorang anak, hatinya hancur berkeping-keping. Air mata yang sedari tadi dia tahan kuat-kuat akhirnya menetes. Luhan hanya tertunduk begitu kecewa karena pada akhirnya uang bisa membuat seorang ayah tega menjual darah dagingnya sendiri.

"LEE AMBILKAN SURAT PERJANJIAN DAN SELEMBAR CEK MILIKKU!"

Nada ayah kekasihnya masih terdengar murka, dibalas anggukan cepat oleh asistennya yang kini sedag mengeluarkan surat perjanjian hitam di atas putih serta selembar Cek seperti yang diperintahkan Tuan Oh.

"Tanda tangani ini!"

Dua orang ayah di depannya sama-sama sedang menandatangani sesuatu. Yang membedakan jika ayah Sehun sedang menandatangani selembar cek, maka ayahnya sedang menandatangani surat perjanjian kosong yang nantinya akan dijadikan barang bukti kuat agar sang ayah tak lagi mengannggunya.

"Ini milikmu! Dan ingat satu hal, kau bukan lagi ayahnya. Mulai malam ini aku adalah ayahnya!"

Sret,,,!

Tanpa penyesalan sedikitpun, ayah Luhan mengambil paksa cek yang ada di tangan ayah Sehun. Menyeringai keji untuk mengatakan "Aku tidak membutuhkan anak sialan itu lagi! Selamat tinggal Luhannie." Katanya sengaja melewati Luhan untuk memberi ucapan perpisahan terlampau keji yang bisa dilakukan oleh ayah untuk anaknya.

"Luhan? Apa kau baik-baik saja?"

Luhan menggeleng, kembali tertunduk lalu tak lama bahunya bergetar hebat. Hatinya sakit, benar-benar sakit menyadari nasibnya begitu buruk karena memiliki pria tua sialan itu sebagai ayahnya, ayah Kyungsoo juga "Aku tidak…aku tidak baik."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BLAM!

Tak lama mereka sampai lagi di kediaman Sehun. Dan tak seperti saat mereka berangkat ke swalayan, maka pulangnya mereka darisana dipenuhi diam dan kesedihan, untuk Luhan terutama.

Dia hanya diam dan cenderung tertunduk tanpa mengatakan satu patah kata pun. Membuat ayah Sehun begitu cemas namun berusaha memberi waktu agar Luhan membiasakan diri karena hal yang pastilah mengejutkan untuknya.

"Silakan tuan besar."

Ayah Sehun lebih dulu keluar dari mobil, diikuti Luhan yang berjalan di belakangnya masih terpukul dan begitu malu karena keadaan keluarganya. Tak ada yang berbicara, sesekali Tuan Oh hanya melirik ke belakang, memastikan kekasih putranya baik-baik saja sampai suara Sehun terdengar di pintu masuk.

"Ayah! Apa yang kau lakukan? Kenapa membawa Luhan pergi di tengah malam…..Ada apa?"

Tak perlu waktu lama untuk Sehun menyadari ada sesuatu yang tidak beres, karena hanya dengan melihat tatapan sendu ayahnya maka tebakan selanjutnya pasti telah terjadi sesuatu pada kekasihnya. "Sayang?"

Buru-buru Sehun menghampiri kekasihnya. Berdiri tepat di depan Luhan untuk memegang pundak mungil yang entah mengapa terlihat sangat menyedihkan "Ada apa? Kau baik-baik saja?"

"….."

"Lu?"

Yang berparas cantik mengangkat wajahnya, mencari dimana mata Sehun untuk menggeleng tanda dia tak baik-baik saja "hks….Sehun." selebihnya, dia menangis di pelukan sang kekasih. Membuat baik hati Sehun sebagai kekasih maupun hati ayahnya sebagai seorang ayah, sama-sama tergores melihat betapa menyedihkan seseorang hanya karena mengeluarkan air mata.

"Ada apa hmm? Ada apa Lu?"

"Sehun."

Tangannya sedang mengusap punggung Luhan, bibirnya sedang mengecupi pucuk kepala kekasihnya. Dan saat suara ayahnya memanggil, Sehun menoleh. Berharap mendapat jawaban namun sayang ayahnya hanya memberikan tatapan dingin entah karena apa.

"Ada apa?"

"Jaga Luhan dengan baik."

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku dan Sehun sedang makan siang bersama, datanglah agar kalian bisa bertemu.

Yang sedang membaca pesan terlihat bersemangat, dia pun buru-buru meletakkan pensil dan kertas yang sedang digunakan untuk design terbarunya untuk bergegas pergi dan menuju tempat yang diberitahukan Chanyeol padanya.

"Akhirnya kita bertemu Sehunna…." Katanya mengambil kunci mobil lalu berjalan keluar dari butiknya "Aku benar-benar tidak sabar."

"Kita akan melakukan fitting baju untukmu dan si bocah. Kalian harus segera menikah!"

"Tapi kami belum menentukan tanggal."

"huh?"

Rasanya bohong jika Baekhyun tidak mengenali suara sahabatnya. Karena saat seorang pria paruh baya serta seorang melewati dirinya. Maka Baekhyun bisa mendengar suara ribut dari pria paruh baya yang terus mengatakan fitting baju dan pernikahan sementara yang mengatakan belum menentukan tanggal adalah suara yang begitu familiar untuk Baekhyun.

Buru-buru Baekhyun menoleh, mencari asal suara dari pria yang baru melewatinya untuk menemukan punggung yang benar-benar terlihat seperti….

"Luhan?"

Tapi untuk apa dia pergi ke toko design sainganku?

Lalu siapa orang tua yang berada di kursi roda? Ayahnya?

"tidak…tidak! Itu pasti bukan Luhan. Rasanya aku salah orang."

Tak mau ambil pusing Baekhyun segera mengangkat bahunya. Meyakinkan diri jika itu bukan sahabat kesayangannya hanya untuk bergegas menemui Sehun dan bicara pada pria yang hingga saat ini masih begitu dicintainya.

.

.

.

.

.

.

Dilain tempat, terlihat tiga pria tampan sedang melingkari kafe ternama di sekitar agensi mereka. Memutuskan untuk makan siang bersama setelah sebelumnya hubungan mereka menjadi renggang karena kesalahpahaman dua petinggi utama dari dua agensi yang berbeda.

Drrtt….drrtt…

Yang usianya lebih muda dari dua rekannya segera mengambil ponsel. Bertanya-tanya siapa yang mengiriminya pesan hingga nama Lu Baby terlihat di layar ponselnya, terdengar marah.

"Sehun! Kenapa ayah melarangku bekerja?"

Dengan senyum bodoh tergambar jelas di wajahnya, Sehun –si pria yang sedang membaca pesan- segera membalas pesan kekasihnya "Mengingat malam tadi ayahmu datang mengacau, jadi aku rasa wajar jika ayahku sedikit protektif padamu." Katanya tersenyum jahil lalu

Sent!

Drrt…drrt.

Tak perlu waktu lama kekasihnya membalas pesan dan terdengar semakin marah, tebakan Sehun. Membuatnya terkikik geli sementara tatapan Chanyeol menyelidik mencari tahu penyebab tawa di wajah sahabatnya adalah karena Baekhyun atau karena pria lain.

"Demi Tuhan Oh Sehun! Ayahmu membawaku ke butik milik teman dekatknya dan kau tahu apa yang lebih mengerikan? Ayahmu memaksaku melakukan fitting baju pernikahan!"

Sehun benar-benar terkikik geli membaca pesan kekasihnya, buru-buru dia membalasnya untuk menggoda kekasihnya "Kalau begitu ayo kita menikah! Kau pasti terlihat sangat cantik." Balasnya lalu tak lama menekan tombol send yang dikirim langsung untuk Luhan

Ddrrtt…drrtt…

Sepertinya Sehun harus memuji kecepatan tangan Luhan dalam membalas pesan, karena belum sepuluh detik berlalu, pria mungilnya sudah kembali membalas pesan dan sukses membuatnya terkikik terlalu senang "ish! Tidak lucu Oh Sehun. Cepat datang dan selamatkan aku!" balas Luhan di pesannya. Membuat si pria tampan berniat untuk mengetik pesan balasan jika suara Yunho tidak terdengar menyindirnya.

"Makananmu bisa menangis jika didiamkan lebih lama."

Tak enak hati, Sehun meletakkan ponselnya di meja. Dia kemudian tertawa renyah lalu memakan steak yang sudah dipesan Yunho untuknya "he he he…Maaf hyung. Ini darurat."

"Sudahlah! Perasaanku saja atau kau memang terlihat bahagia satu minggu ini?"

"Benarkah? Kau melihatnya juga?"

"Ya! Terlihat di seluruh wajahmu jika kau sedang bahagia."

Tertawa malu, Sehun tak ragu mengatakan "Mungkin karena kekasihku."

"Baekhyun?"

"Bukan." Katanya menjawab tegas untuk menemukan tatapan bertanya dari Yunho sementara Chanyeol menatap dingin padanya "Lalu siapa?"

"Luhan."

Uhuk!

Sementara Yunho tersedak minumannya, maka suara berat Chanyeol bertanya, seolah memastikan "Luhan? Apa Luhan yang kita bicarakan adalah Manager Xi?"

Sontak batin Sehun menggeram marah menyadari nada tak suka dari cara Chanyeol menyebut nama Luhan. Luhan kekasihnya, dan Sehun bersumpah tak ada satupun yang bisa menyakiti Luhan atau berbicara kasar padanya, siapapun.

Sehun mengambil dalam nafasnya, detik berikutnya dia melipat tangan di atas dada untuk mengatakan dengan tegas siapa Luhan untuknya "Hanya satu Luhan yang kita kenal, kau tahu itu. Dan Luhan yang kau panggil Manager Xi, dia kekasihku."

Keduanya bertatapan tajam. Terlalu tajam hingga keduanya tak sadar bahwa ada seseorang yang juga mendengarkan suara pertengkaran mereka tentang Luhan. Sosok pria cantik itu terlihat sedang menggenggam satu vas kecil berisi permintaan maaf. Berniat untuk berdamai dengan kekasihnya sampai tak sengaja vas kecil itu meluncur bebas dari tangannya.

PRANG!

Sementara Chanyeol dan Sehun tak terusik dengan bunyi pecahany yang terdengar, maka Yunho yang menoleh, mencari tahu siapa yang memecahkan benda pecah belah sampai sosok Baekhyun terlihat tak jauh dari mereka "Baekhyun?"

Refleks, Chanyeol menoleh.

Hatinya begitu sakit mendapati wajah pucat Baekhyun disana, menebak bahwa Baekhyun mendengar seluruh percakapan mereka hingga rasanya dia ingin memukul Sehun saat ini "brengsek!"

Tak tega, Chanyeol bergegas pergi. Mengambil jas hitam serta kunci mobil untuk berpapasan dengan Baekhyun yang seluruh tatapannya kosong menatap Sehun saat ini "Baek—!"

Ingin rasanya Chanyeol membawa Baekhyun pergi, tapi saat tubuh mungilnya bergetar tak mau disentuh, maka bisa dipastikan hanya Sehun yang memiliki kuasa atas tubuh pria yang juga dicintainya selain Kyungsoo. "ARGH!"

"Hey Bee.."

Kini giliran Sehun yang harus menghadapi kenyataan, berjalan mendekati Baekhyun dan berusaha menjelaskan hubungannya dengan Luhan. Sungguh, bukan seperti ini cara yang dia inginkan. Luhan juga tidak akan suka jika Baekhyun tahu dengan cara ini, membuat satu-satunya ketakutan yang dimilikinya adalah karena Luhan. Dia takut Luhan marah dan pada akhirnya menghindar karena kesalahannya berbicara.

"Luhan? Bohong kan?"

Buru-buru Baekhyun mencari jawaban di mata Sehun. Berharap Sehun mengatakan tidak namun sial! Seluruh wajah Sehun mengatakan sebaliknya "Baiknya kita bicara di tempat lain."

"jawab aku….JAWAB AKU OH SEHUN! KATAKAN BAHWA KAU TIDAK MENGATAKAN LUHANKU ADALAH KEKASIHMU!"

"….."

"OH SEHUN!"

"dia kekasihku."

"huh?"

Sehun mengangkat wajahnya, menatap Baekhyun sedikit menyesal namun tanpa ragu mengatakan "Luhan, Dia kekasihku saat ini."

PLAK!

"TEGA SEKALI KAU!"

Tamparan keras menjalar panas di seluruh wajah Sehun, jika bukan karena keadaannya yang terdesak mungkin dia akan menyerang balik Baekhyun dengan mengatakan Kau yang lebih dulu mengambil sahabatku! Tapi dia tidak sampai hati melakukannya. Dan daripada menyerang dia lebih memilih untuk diam agar tak ada lagi yang perlu disembunyikan lagi mulai hari ini. Agar setidaknya, mulai hari ini, Luhan dan dirinya akan bisa bersikap layaknya pasangan kekasih.

"Katakan padaku bahwa itu tidak benar, Katakan bahwa kekasihmu bukan Luhan? Luhanku."

Menyesal, Sehun mengatakan "Sayangnya itu Luhan, Luhanmu."

Hati Baekhyun tergores dalam, tangannya terkepal penuh kemarahan, sementara bibirnya tak kuasa untuk menahan isak tangis "Kenapa harus Luhan?"

"…"

"Sehun, hey Sehun! Dengarkan aku! Kau bisa memiliki kekasih lain, siapapun itu. Siapapun boleh menjadi kekasihmu. Tapi jangan Luhan ya? kumohon, hmm? –hks- Jangan Lu-….JANGAN LUHAN! KUMOHON—hkss…"

"Sayangnya hanya Luhan yang bisa membuatku begitu mencintai dan merasa sangat dicintai, hanya Luhan."

"ARRGGHHHHH!"

"Baek bisakah kita bicara. Bisakah kita-…."

"Kenapa harus Luhan?"

"Baek…"

"Dari seluruh wanita dan pria yang ada dunia ini, kau bisa memilih siapapun. Tapi kenapa harus Luhan? Aku tidak mau membencinya-aku tidak mau…JANGAN LUHAN KUMOHON!"

"Hey dengarkan aku!"

Buru-buru Sehun berjongkok, menangkup wajah mantan kekasihnya untuk meminta satu hal pada Baekhyun "Jangan membenci Luhan, kau tak perlu melakukannya Baek. Maafkan aku, tapi kita berdua sama-sama tidak bisa kehilangan Luhan."

"Aku kekasihmu Oh Sehun."

"ITU DULU!" Sehun menaikkan nadanya untuk kembali berbicara lembut pada Baekhyun "Maafkan aku Baek, tapi kita berdua tahu. Kita berdua tahu tak ada lagi rasa tersisa diantara kita. Jadi kumohon berhenti bersikap seperti ini hmmh? Luhan tidak pantas dibenci. Dia akan sedih jika kau marah, dia akan mati jika aku pergi. Kumohon jangan seperti ini Bee."

"hksss…brengsek kau Oh Sehun! kenapa harus Luhan."

Lelah, Baekhyun menangis di pelukan Sehun. Membiarkan lengan kekasihnya mendekap sementara hati pria yang sedang mendekapnya sudah menjadi milik sahabatnya

"Maaf. Aku juga tidak bisa kehilangan Luhan. Maaf Baekhyunna."

Baekhyun terus memukul kencang dada Sehun, sesekali menggigit lengan Sehun hingga darah mengalir dari lengan yang dulu sering memeluknya erat "Aku masih mencintaimu Sehun."

"ani! Kau tidak mencintaiku lagi! kau mencintai Chanyeol sayangku."

"AKU MENCINTAIMU OH SEHUN!"

Suara teriakan Baekhyun, raut putus asa Sehun. Semua terlihat jelas di mata seorang pria cantik lainnya. Pria yang entah sejak kapan sudah berada disana dengan tangan Chanyeol yang terus mencengkram erat lengan kiri, seolah memaksanya untuk melihat adegan yang tak pernah ingin ia lihat dalam hidupnya.

"hks…"

Isakan pertamanya disuarakan saat jerit hati pilu sahabatnya terdengar, membuat hanya rasa bersalah yang dia rasakan sementara hatinya tak rela jika harus berpisah dari Sehun, kekasihnya.

"Kau lihat apa yang telah kau perbuat? Kau menghancurkan Sehun dan Baekhyun dalam genggamanmu. Tinggalkan Sehun dan biarkan mereka bahagia!"

Chanyeol sepenuhnya marah berbisik di telinganya, dia juga terus mencengkram kuat lengan Luhan hingga rasanya Luhan bisa merasakan kram di lengan kirinya.

Ya, sakit di fisiknya masih bisa ditahan. Tapi saat Chanyeol memaksanya untuk pergi meninggalkan Sehun, maka Luhan sepenuhnya sadar menggeleng, menyuarakan penolakannya untuk mengatakan dengan tegas bahwa sama seperti Baekhyun, dia juga tidak bisa hidup tanpa Sehun "tidak…akutidak-..!" katanya menghempas tangan Chanyeol untuk berteriak menyuarakan apa yang diinginkan hatinya.

"AKU TIDAK AKAN MENINGGALKAN SEHUN!"

"Luhan."

Mengenali suara kekasihnya, Sehun refleks mencari dimana prianya berada. Bertanya-tanya bagaimana Luhan bisa berada disini, sampai matanya membulat hebat, tak sengaja melihat posisi kekasihnya tersudut dengan Chanyeol sedang melayangkan tinjunya, bersiap untuk memukul Luhan, kekasihnya

"tidak."

Sehun melepas cepat pelukan Baekhyun, berlari cepat ke arah Luhan sementara tangannya terkepal erat, murka, dan tak membiarkan pria yang disebutnya sebagai sahabat memukul prianya, kekasihnya, Luhan.

"PARK CHANYEOL!"

BUGH!

Alih-alih memukul Luhan, kini Chanyeol yang tersungkur di lantai. Sudut bibirnya mengeluarkan darah dengan tatapan membunuh yang ditujukan Sehun untuknya "apa yang kau-… APA YANG KAU LAKUKAN BAJINGAN!"

Grep!

"SEHUN AKU BAIK! AKU TIDAK APA-APA SAYANG! AKU BAIK!"

Luhan berteriak ketakutan, setelah persahabatannya dengan Baekhyun dipastikan hancur hari ini, maka dia tak ingin menambah dosa lagi dengan menghancurkan persahabatan yang lain. Membuatnya benar-benar terisak pilu, memohon agar Sehun berhenti berkelahi dengan Chanyeol.

"Aku ingin pulang, ayo kita pulang."

"brengsek!"

Tatapan Sehun masih dipenuhi kemarahan. Berniat memukul Chanyeol, namun sayang tangisan Luhan lebih menyakiti hatinya "OH SEHUN!"

"sstt…Baiklah, baiklah kita pulang."

Sehun membuka kepalan tangannya. Berusaha menekan marahnya sementara Luhan sudah mendekap erat tubuhnya saat ini "Jangan menangis lagi. kita pulang." Setelah mengecup bibir Luhan di depan mata Baekhyun, Sehun membawa Luhan pergi.

Meninggalkan Baekhyun yang kini menatap dua sosok yang pernah begitu dicintainya pergi bersama khianat yang telah mereka lakukan.

"Bee.."

Sekilas Luhan bertatapan dengan Baekhyun. Namun tak seperti tatapan Baekhyun yang selalu dipenuhi cinta dan kasih untuknya, maka hanya ada rasa benci dan kecewa yang menyelimuti. Baekhyun memalingkan wajahnya sementara Luhan lebih memilih dibawa pergi dari situasi ini.

Situasi dimana untuk kali pertama dalam hidupnya, dia berubah menjadi egois, tak lagi mengalah untuk Baekhyunnya. Dan yang paling buruk Luhan sudah berubah menjadi monster mengerikan dan tak mempedulikan perasaan Baekhyun, sahabat yang begitu dicintai dalam hidupnya.

"Baekhyunna, maaf."

.

.


.

tobecontinued

.


.

.

.

Sorry for latepost ")

.

Seeyou