Previous
"Baekhyunna, maaf."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A' Friends Betrayal
Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo
Genre : Drama
Rate : M / NC!/
.
.
.
Satu jam…..
"Satu jam sudah kau menangis, dan kini tertidur sangat menggemaskan. Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu? Kau membuatku khawatir, sayang."
Surai mungil itu tertidur dengan bibir terbuka, Sehun menebak hidung kekasihnya tersumbat karena terus menangis selama satu jam, tanpa henti. Terkadang dia akan memanggil nama sahabatnya, Baekhyun. Lalu kemudian akan menjerit memanggil namanya saat mata mereka bertemu.
Sungguh, kejadian siang ini benar-benar diluar dugaan.
Nyatanya bukan seperti ini pengakuan yang ingin dia beritahukan pada Baekhyun, Sehun ingin menjelaskannya di waktu yang tepat, secara perlahan tanpa harus membuat Baekhyun merasa dikhianati Luhan, sahabatnya.
Tapi kemudian mimpi buruknya datang terlalu cepat, bukan Baekhyun yang dia khawatirkan, tapi Luhan. Kekasihnya. Sebab selama mereka berhubungan, Sehun mengetahui kekasihnya adalah sosok yang begitu mencintai dan rela melakukan apapun untuk hal dan semua orang yang telah lama menempati hatinya.
Pekerjaannya
Adiknya
Sahabatnya
Bahkan mantan kekasih yang sudah menghianatinya.
Luhannya adalah sosok yang akan melakukan segala cara agar seluruh cintanya tidak pergi dan tetap bertahan di dalam hidupnya, salah satunya mengorbankan diri, Sehun tahu Luhan akan melakukannya tanpa ragu, mengorbankan kebahagiaannya untuk kebahagian orang lain,
Hal itulah yang membuat Sehun ragu pada awalnya. Tebakan awal, dia terlalu yakin jika Luhan akan meninggalkannya demi Baekhyun, tapi diluar dugaan, kekasihnya dengan tegas mengatakan tidak akan meninggalkannya dan terus mengatakan cinta untuknya, membuat dirinya sebagai pria benar-benar bahagia karena setidaknya bukan hanya dia yang memperjuangkan cinta, Luhannya juga.
"Sayang, terimakasih."
Mata bulan sabitnya terlihat jelas, itu tandanya Sehun sedang tersenyum, tersenyum sangat bahagia walau hatinya masih menyimpan letupan takut.
Takut jika nanti, Luhan akan menyesal dan merubah keputusan untuk meninggalkannya.
"sehun…"
"hmmh?"
Sehun tertegun, bayangan akan kepergian Luhan seketika hilang saat namanya disebut dalam tidur sang kekasih. Dia kemudian menatap lama bibir yang selalu membuatnya kehilangan kendali lalu membungkuk, mengecup dalam bibir yang malam tadi mendesahkan namanya untuk berterimakasih.
"Apapun yang terjadi nanti, Jangan tinggalkan aku, Ya?"
Sehun berpesan pada mahluk mungil yang masih terlelap begitu lucunya, sekali lagi mengusap sayang surai yang entah mengapa sudah menempati seluruh hatinya untuk beranjak keluar dari mobil, menutup pintu perlahan lalu berjalan memutar dan membuka pintu mobil di samping kemudi.
"sehun…"
"Iya sayang. Aku disini," katanya membalas.
Yang terlihat sangat tampan tersenyum, membungkukan tubuhnya lalu melepas cekatan seatbelt sang kekasih sampai teredengar bunyi klik tanda tak ada lagi yang menahan tubuh mungil kekasihnya. "Aku menggendongmu sayang." Bisiknya mencari posisi menggendong bridal Luhannya sampai suara pengurus Lee terdengar dan menyapa dirinya.
"Tuan muda?"
Kesusahan, Sehun tetap fokus mengeluarkan tubuh kekasihnya, memastikan Luhan merasa nyaman di gendongannya tanpa harus membangunkan si putri tidur "Hay paman." Katanya menyapa paman Lee sementara gerakan menutup pintu mobil dilakukan begitu sempurna menggunakan kaki jenjangnya.
"Ada apa dengan Luhan? Dia sakit?"
Wajahnya menggambarkan kecemasan yang sama seperti seorang ayah, Sehun bisa melihat dari kerutan di dahi pengasuh kecilnya. Si tuan muda mau tak mau tersenyum, menatap kekasihnya penuh cinta untuk membuat pengakuan bahwa bukan hanya hati miliknya dan hati ayahnya yang berhasil Luhan rebut, tapi paman Lee juga.
Karena dalam waktu singkat, seluruh hati pria kesepian di kediaman Oh sudah dicuri oleh pria berparas cantik, bertubuh mungil yang memiliki tekad sekuat baja namun mudah menangis karena hal kecil. si mungil sudah merebutnya tanpa menyisakan sedikit harga diri untuk para pria kesepian di kediaman Oh.
"Luhan baik."
"Benarkah? Tapi wajahnya pucat tuan muda. Apa perlu aku menghubungi dokter keluarga di Jepang atau, apa yang harus kulakukan tuan muda? Aku…."
"Paman."
"y-Ya?"
Sehun sedikit mengangkat lebih tinggi tubuh kekasihnya, melingkarkan sempurna tangannya di pinggang Luhan sementara tangan yang lain berada di antara tumit kekasihnya, menyangga layaknya pengantin baru.
"Luhan tidak sakit. Jikalaupun sakit, hanya satu obatnya."
"Apa?"
"Aku obatnya."
Kedua pria berbeda generasi itu pun saling menatap, tak ada yang berbicara sampai yang lebih tua mendengus sangat kesal "ayolah tuan muda! Aku serius!"
"nghhh!"
Luhan menggeliat nyaman di pelukan kekasihnya, tangannya sudah melingkar di leher Sehun sementara wajahnya dia buat bersandar di dada bidang yang kini menjadi tempat favoritnya di malam hari
"Sangat menggemaskan."
Paman Lee terpesona lalu wajah tak suka ditunjukkan si tuan muda "Jangan katakan itu lagi paman. Aku serius!"
"wae?"
"Kau terdengar sangat vulgar saat mengatakan kalimat menggemaskan pada kekasihku!"
"Mwo?"
"Lupakan. Hanya jangan masuk ke kamar kami. Aku dan Luhan ingin beristirahat."
"Tanpa makan malam?"
Pengurus Lee terdengar keberatan sementara Sehun mengulanginya dengan santai "Tanpa makan malam."
"Hey tuan muda! Aku tidak peduli padamu! Tapi Luhan, tubuhnya sangat kecil. Kenapa kau tega membiarkan dia kelaparan? Tak peduli apapun dia harus makan malam."
"Jangan bicara seolah dia kekasihmu paman! Aku kesal mendengarnya!"
"Luhan bukan kekasihku, tapi dia calon nyonya rumah keluarga Oh, jadi tugasku memastikan orang nomor dua di kediaman Oh mendapatkan gizi seimbang serta hidup mewah berkecukupan."
Sehun membenarkan lagi posisi Luhan di dekapannya, bertanya-tanya siapa orang nomor dua yang paman Lee maksud untuk sekali lagi memastikan "Jika Luhan orang nomor dua di rumah kita. Lalu siapa orang pertamanya?"
"Tuan besar tentu saja!"
"MWO? JADI AKU MASUK URUTAN NOMOR TIGA?"
"Tepat! Setelah tuan besar dan Luhan, anda orang nomor tiga."
"ayolah!"
"Apa?"
"Kenapa bukan aku orang pertamanya?"
"Karena ayah anda masih bernafas dan seingatku beliau masih begitu sehat."
"Paman kau benar-benar….terserah! aku ingin memeluk kekasihku sepanjang malam!"
Merajuk layaknya bocah sepuluh tahun, itu adalah keahlian si tuan muda. Jadi ketika Sehun dan bibirnya mengerucut sebal, paman Lee hanya bisa terkekeh menahan sekuat tenaga agar tidak tertawa gemas. Dia pun bertanya-tanya bagaimana Sehun akan menjadi kepala keluarga jika sifatnya masih begitu kekanakan.
"Tuan muda, aku akan membangunkan kalian saat jam makan malam!"
"Hanya datang ke kamarku jika Luhan merasa lapar. oke?"
"Dimengerti, selamat malam tuan muda. Selamat malam Luhan."
Bersamaan dengan maid lain yang membukakan pintu untuk Sehun, maka sosok kekanakan tuan mudanya juga menghilang bersama sosok cantik yang masih tertidur nyaman di pelukannya, membuat si pengurus hanya bisa tersenyum dan berdoa kuat-kuat di dalam hati agar rencana pernikahan sang tuan muda bersama pilihan hatinya akan berjalan lancar sampai waktu yang telah ditentukan.
Semilir angin sore yang menyapa membuat Pengurus dua generasi –akan menjadi tiga generasi- itu tersenyum, mendongak sejenak menatap langit sore untuk menyampaikan sesuatu pada majikannya yang telah tiada, ibu Sehun.
"Semoga anda melihatnya, Nyonya. Putramu sebentar lagi akan menjadi seorang suami."
.
.
.
Dan tepat pukul sembilan malam, persis seperti tebakan Pengurus Lee, maka si pria cantik yang sudah tertidur selama beberapa jam membuka mata, mengerjapkan berulang matanya, untuk mempelajari beberapa hal.
Hal pertama yang dipelajarinya ketika membuka mata adalah aroma khas yang begitu disukainya tiap kali dia bangun dari tidur, aroma Sehun tentu saja, kekasihnya
Wangi mint bercampur citrus segar yang jika dikombinasikan akan membuat kesan lembut bercampur dengan sensasi sensual yang diam-diam menjadi favorit Luhan. Belum lagi jika Sehun menggunakan parfumnya di pagi hari, kesan seksi dan menggodanya tak akan pernah lepas sepanjang hari.
"Sehun."
Tubuhnya yang begitu lemas perlahan menemukan kembali kekuatannya, si pria cantik memutuskan bersandar di tepi ranjang, lalu menarik lagi selimut milik kekasihnya, menciumnya dalam-dalam sesekali mengingat banyak kegiatan yang sudah mereka lakukan di tempat tidur milik kekasihnya.
Entah berbincang, berdebat kecil, tertawa atau bahkan berhubungan intim, semuanya sudah begitu dihafal oleh seluruh indera perasa Luhan, mata, hidung dan rasa. Semua dari Luhan begitu menyukai interaksi dengan si pemilik tempat tidur.
Tak hanya itu, rasanya dia dibuat semakin mencintai kekasihnya seiring dengan banyaknya waktu yang mereka lalui bersama.
"Iya, aku mencintaimu, tapi….."
Sekelibat kejadian sore ini kembali menemukan ingatannya. Ingatan dimana kali terakhir Luhan merasa begitu lelah adalah karena pertengkarannya dengan Baekhyun. Dan karena alasan itu pula dia mulai tertunduk, mencium dalam-dalam aroma di selimut Sehun untuk terisak seperti beberapa jam lalu.
"Jangan katakan kau menyesal, jangan katakan setelah ini kau akan mengembalikan aku pada Baekhyun."
Refleks Luhan menoleh ke asal suara, mencari dimana kekasihnya berada untuk menemukan bahwa si pria tampan yang kini hanya memakai piyama tidur bermodel bathrobe sedang melipat dua tangannya di atas dada, menatapnya antara cemas dan penuh harap "Katakan jika aku salah dan kau tidak akan merubah pikiranmu Lu."
"Sehun,"
"Kumohon."
Buru-buru Luhan menyingkap selimutnya, baru menyadari bahwa dia juga memakai piyama yang sama dengan Sehun namun diabaikan karena fokusnya hanya pada sang kekasih yang entah mengapa sangat tertekan. Langkahnya setengah berlari, tak sabar untuk memeluk si pria besar sampai akhirnya dua tangan miliknya melingkar sempurna di pinggang Sehun sementara bibirnya sedang mengecupi leher hingga dada Sehun mengingat tingginya tak sampai jika harus mengecup wajah kekasihnya.
"Jangan memohon seperti itu, jangan sayang."
"….."
"Sehun?"
"…."
Takut, buru-buru Luhan berjinjit, menangkup wajah kekasihnya untuk mencium dua mata yang selalu menatpnya penuh cinta, hidung Sehun yang selalu menghirup aroma tubuhnya serta mengecup berulang bibir yang selalu membuatnya merasa begitu bahagia.
Ciuman terakhir Luhan sengaja menekan dalam dua bibir mereka, memaksa Sehun membuka mulutnya hingga kini dua lidah mereka bertautan, menyesap masing-masing rasa sampai akhirnya Luhan lemas, kakinya tak lagi berjinjit karena mulai terbawa suasana panas yang diciptakan dari bunyi ciuman mereka serta betapa panas lidah Sehun saat mengoyak rongga bibirnya
"nggh…"
Beruntung Sehun berbaik hati mengambil alih. Memutuskan mengangkat koala tubuh sang kekasih sementara Luhan juga memiliki insting untuk membuat jarak mereka semakin intim.
Kakinya dilingkarkan di pinggang Sehun, bibirnya yang terlepas tautan dari bibir Sehun menggigit cuping kekasihnya untuk kemudian mencari lagi bibir kekasihnya.
Penyatuan bibir mereka tak diragukan membangkitkan gairah, gairah yang sama panas dan sama mendebarkan seperti malam-malam panas yang telah dilewati keduanya.
"Aku ingin."
Nafas berat Sehun terdengar begitu "butuh", Luhan pun tersenyum lalu mengangguk memberi izin. Tapi sebelum tubuh mereka menyatu, dia kembali menangkup wajah Sehun, memperhatikan penuh cinta wajah tampan kekasihnya untuk mengatakan "Aku tidak akan merubah pikiranku."
"Benarkah?"
"Aku mencintaimu, dan aku akan egois pada perasaanku kali ini."
"Terus katakan lagi."
Bagai candu, semua kalimat egois Luhan membangunkan hasratnya sebagai pria yang begitu dicintai. Dia tak hentinya tersenyum sementara tubuh Luhan benar-benar di dekatkan sangat intim pada tubuhnya. "Aku bilang, aku tidak akan merubah pikiranku. Aku mencintaimu, selalu."
"…"
"Kau tahu kenapa?"
Jari telunjuk Luhan menyusuri wajah Sehun, mempelajari setiap bagian yang mulai direkam dan disimpan baik-baik dalam memorinya untuk mengecupnya penuh cinta. Kecupan lama di bibir seksi Sehun, tak lama dia kembali menatap si pria tampan untuk mengatakan "Karena selain hatimu, tubuhmu juga sudah mengusai seluruh kebutuhanku. Jadi jika benar aku meninggalkanmu kau harus mengetahui satu hal."
"Apa?"
"Aku mati bersamaan dengan perpisahan kita. Mungkin ragaku bernyawa, tapi hatiku? Dia akan mati jika berpisah darimu."
"Kalau begitu jangan tinggalkan aku."
Luhan mengangguk penuh keyakinan. Setidaknya kali ini dia mengerti apa yang diinginkan hatinya. Tak lagi berpura-pura kuat dan hanya mengikuti apa yang diinginkan hatinya, dia pun mengecup lagi bibir Sehun lalu mengikat janji dengan kekasihnya "Kau juga, jangan tinggalkan aku."
"tidak akan pernah!"
Jawaban Sehun adalah semua yang dibutuhkan Luhan, begitupula jawaban Luhan, jadi ketika keduanya sudah memiliki kesepakatan untuk tetap bersama, maka tak ada lagi yang membuat cemas hati mereka. Yang ada hanya gairah menggebu dengan letupan cinta yang semakin kuat setiap detiknya.
"Lu."
"hmmh?"
Sehun membaringkan perlahan si mungil, ditariknya tali piyama tidur milik kekasihnya hingga terlihat beberapa titik private milik Luhan yang selalu berhasil memporak-porandakan pertahanannya sebagai lelaki sejati "Kau tahu? Aku rasanya memiliki rencana agar Baekhyun menerima hubungan kita tanpa harus membencimu."
"Apa?—ah."
Tubuh Luhan mengejang tatkala lidah panas Sehun menyapu dua tonjolan kecilnya bergantian, tangan besar kekasihnya dengan cekatan membuang piyama yang entah sejak kapan dia gunakan untuk menjilati seluruh titik surgawi miliknya.
"Aku akan membuatmu hamil."
"h-hamil—mmhh."
"Ya, jika kau hamil. Baekhyun tidak akan membencimu."
Yang membuat Luhan tak habis pikir adalah Sehun sedang menjilati bagian private nya. Sekarang bibir panasnya sedang mengulum kuat "adik" kecilnya. Namun seolah tak memiliki kesulitan, Sehun terus meracau omong kosong dengan jari tengah yang sedang mencari pintu masuk mengoyak lubangnya. "ngh~!"
"Bagaimana? Kau mau kan kubuat hamil?"
"Aku bukan Kyungsoo sayang—sehun!"
"Well, tidak ada salahnya mencoba. Terus mencoba sampai nanti benihku benar-benar menjadi nyawa lain yang bertumbuh di dalam perutmu."
Bisikan Sehun terlalu sensual, tangannya membuat gerakan melebarkan dua paha Luhan sementara bibir seksinya terus meracau tentang membuatnya hamil, Luhan hanya tertawa meladeni ide jahil kekasihnya, dan daripada menolak dia lebih memilih pasrah berharap bahwa benar, Sehun bisa memberikannya benih yang kelak akan menjadi darah daging mereka berdua.
"Bagaimana hmmh?"
Si tampan mendongak, wajahnya berada diantara selangkangan Luhan untuk menjilat, mengulum dan menghisap daerah paling sensitif yang bisa membuat Luhannya terlihat sangat seksi, jarinya tak bosan "masuk-keluar" di dalam lubang Luhan, hingga si pria cantik dibuat mengejang karena nikmat yang tak pernah gagal diberikan kekasihnya.
"baiklah."
"Apa?"
"SEHUUN~!"
Satu hisapan kuat di penisnya berhasil membuat Luhan merasakan kupu-kupu di sekitar perutnya, tangannya mencengkram kuat selimut yang selalu menjadi saksi percintaan panas mereka sementara bibirnya membuka, mendesah seolah meminta agar tidak dipermainkan lagi oleh si pria tampan di bawah sana "Sehunna-aah~"
Sehun terkekeh, rasanya sudah cukup dia memberi pemanasan untuk si mungil, dan alih-alih memberikan jeda untuk menetralkan nafas, dia sengaja membuat Luhan semakin sesak. Dibukanya piyama serupa namun dengan ukuran lebih besar dari milik Luhan hingga memperlihatkan penis kokoh, besar serta dipenuhi banyak guratan yang bisa membuat Luhan hamil kapan saja, begitu teori konyol Oh Sehun.
Membuatnya tanpa malu mengocok asal penisnya di depan mata Luhan hingga semburat merah terlihat di wajah si mungil yang kini menggigit bibirnya, menantang seolah tak sabar ingin segera digagahi pejantan di depannya. "Sehun."
"Ya sayang?"
"cepatlah."
"Apa?"
"Satukan tubuh kita, aku tidak sabar."
Sehun menyeringai, dibungkukannya sedikit tubuh miliknya untuk mengecup bibir Luhan, kali ini lembut namun sedikit menuntut. Keduanya tetap saling berpandangan sampai Luhan bisa merasakan betapa panas tangan Sehun menuruni dan menyusuri tubuhnya. Terlalu panas sampai dia merasakan sesuatu sedang berusaha masuk melalui lubangnya.
"nghh~"
Dia menggeram, bukan karena kesakitan. Nyatanya ukuran penis Sehun selalu membuatnya takjub tiap kali mereka bercinta. Terkadang akan sangat mudah saat Sehun melakukannya dengan kasar, tapi kemudian sakitnya bisa menjadi dua kali lipat jika Sehun berhati-hati seperti saat ini "Langsung saja, jangan hanya menekan—AKH~"
Mengetahui apa yang diinginkan Luhan, Sehun menyetujuinya. Tusukan terakhir sengaja dia hentak, hingga rasa hangat langsung menyelimuti bagian private nya. Punggung Luhan masih terangkat karena penyatuan yang tiba-tiba.
Namun saat bibir Sehun mencium bibirnya, segera relax dia rasakan. perlahan tangan mulusnya melingkari leher Sehun untuk kemudian memberi instruksi agar kekasihnya segera bergerak dan membuat penyatuan mereka sempurna kali ini "move."
Masih dengan bibir yang bertautan mesra, Sehun mengangguk. Perlahan dia mulai mengeluarkan setengah penis yang berada di lubang kekasihnya untuk kembali menghentak kasar dan terdengar lagi geraman mendamba nikmat yang keluar dari bibir Luhan.
"haah~…Lagi! Lakukan-…ah ah."
Sehun merubah posisi mereka saat ini, dia sengaja menarik tubuh Luhan agar berada di posisi on top sementara cermin tepat di depan mereka dan menunjukkan wajah keduanya yang dipenuhi nafsu serta peluh yang membasahi "Sehun, apa yang—hhmmh…kenapa posisi kita?"
"Lihatlah Lu, lihat bagaimana lubangmu memakan little hun. Belum sepenuhnya, tapi kau terlihat sangat menggoda mengangkang seperti ini."
Luhan enggan melihat refleksi tubuhnya di cermin, karena selain membelakangi Sehun dia juga bisa merasakan dua pahanya di buka terlalu lebar sampai-sampai dia bisa melihat bagaimana penis Sehun tenggelam di lubangnya "Sehunn—aku, aku tidak suka posisi ini—aaah~
Masih sengaja menggoyangkan sensual tubuh Luhan, si pria tampan bertanya menggoda "Wae? Kau malu?"
Diam-diam Luhan memberanikan diri menatap cermin, memperhatikan bagaimana penis Sehun keluar dan masuk di dalam lubangnya namun harus berakhir memejamkan mata. "aku tidak bisa!"
Ini semua hal baru untuknya, biasanya dia hanya akan pasrah saat Sehun mengambilnya, membiarkan sebanyak apapun sperma yang dikeluarkan di dalam membasahi lubang dan dindingnya namun tak pernah melihat bagaimana prosesnya.
Jadi ketika Sehun memaksanya menggunakan posisi baru, maka bisa dipastikan pula dia tidak bisa menahan rasa malu, sampai terkadang membuat hatinya ingin meledak karena terlalu senang dan bersemangat "Sehun, aku tidak bisaaa." Luhan merengek kecil dibalas kekehan menggoda oleh sang kekasih.
Sekali lagi hentakan dalam, dan Sehun mengembalikan posisi mereka seperti biasa. Luhan dibawahnya dengan kaki melingkar di pinggangnya sementara Sehun terus menciumi bibir Luhan, posisi favorit si mungil "Merasa lebih baik?"
Luhan mengangguk bagai anak sepuluh tahun yang mendapatkan mainannya. Dia juga sengaja melingkarkan lagi lengannya di leher Sehun lalu menekan tengkuk si pria tampan agar memberikan ciuman panas yang bisa mengimbangi rasa panas di lubangnya "Sangat. Aku lebih menyukai posisi seperti ini."
"Tapi aku akan tetap memaksamu melakukan berbagai gaya dengan berbagai posisi Lu."
"Sehuuun…"
"Tidak merengek, itu demi kualitas bercinta kita yang lebih baik."
"pfft.."
Luhan kesal, sementara Sehun tertawa gemas. Dia pun kemudian membawa tangan Luhan melingkar di lehernya untuk menatap ke dalam sepasang mata yang begitu cantik, yang sudah mencuri hatinya saat kali mereka bertemu hingga akhirnya tanpa sadar Sehun berdoa kuat-kuat pada Tuhan,
Berdoa agar pria cantik yang kini berada di pelukannya, akan menjadi miliknya, seutuhnya, yang terus membuat hatinya berdebar gila sementara cinta mereka menjadi kuat satu sama lain "Siap menjadi seorang ibu?"
"ayolah! Kau mulai lagi."
Sehun mengecup lembut bibir Luhan, tertawa beberada detik lalu kembali menatap kekasihnya penuh keyakinan "Aku serius."
Bersamaan dengan ucapannya yang terdengar begitu serius, Sehun menggerakan pinggulnya, membuat gerakan menghentak yang luar biasa nikmat sampai suara Luhan lebih dulu parau, tanda dia berhasil mendapatkan klimasknya lebih dulu
"aakh~Sehunna…hnggh~"
Sehun menyukai sensasi hangat tiap kali Luhan datang dan membasahi perutnya, menyukai bagaimana ekspresi Luhan saat memejamkan mata karena klimasknya sampai nanti, selalu tersenyum ketika dua matanya kembali terbuka untuk mengatakan hal yang rasanya tak perlu dia ucapkan "terimakasih, aku sangat menikmatinya."
Selalu seperti ini jika Luhan tersenyum, nafsunya dibuat terbakar menjadi tiga kali lipat sementara penisnya masih berada di dalam lubang surga sang kekasih. Sehun sedang menikmati rematan-rematan kecil di penisnya tatkala Luhan menjemput nikmat, membiarkan diniding rektum kekasihnya melakukan apapun hingga akhirnya dia tak bisa lagi menahan diri.
"akh~."
Sehun kembali menghentak lubang Luhan, kali ini sangat dalam, hingga penisnya tak tersisa sedikit pun.
Luhan merasa begitu penuh, terlalu penuh. Tapi saat penis kekasihnya mulai berkedut, maka dia pun sengaja mengetatkan lubangnya agar pergerakan Sehun semakin terbatas hingga akhirnya
"Lu, aaaaah~."
Keduanya sama-sama memejamkan mata, yang membedakan Sehun sedang menikmati klimaksnya sementara Luhan sedang merasakan panasnya cairan Sehun di dalam tubuhnya, tak ada yang berbicara selama beberapa detik, yang ada hanya suara deru nafas mereka yang bersahutan dengan senyum yang masing-masing terlihat di wajah sempurna keduanya.
"Aku mencintaimu, Lu. Sangat."
Luhan kembali menekan tengkuk si pria tampan, menyatukan beberapa saat bibir mereka untuk membalas ucapan cinta kekasihnya "Aku mencintaimu Sehun."
"Bagaimana? Apa mereka berdua bertengkar? Aku bersumpah akan memukul kepala si idiot jika berani membuat Luhan menangis!"
Sementara dua pasangan yang berada di dalam kamar sedang melemparkan kalimat cinta, maka persis di depan kamar mereka terlihat dua pria paruh baya yang sedang mencuri dengar dan mencari tahu apa yang sedang dilakukan dua pemuda di kamar super mewah milik si tuan muda.
Yang mengumpat tentu saja si tuan besar. Sifatnya tak berbeda jauh dengan si tuan muda, jadi ketika pengurus Lee mengatakan sesuatu terjadi dihubungan tuan muda dan kekasihnya, maka secara sigap, ayah kandung Oh Sehun itu menuntut untuk mencari tahu akar dari semua masalah yang bisa membuatnya gagal menjadi seorang mertua.
"LEE! Beritahu aku!"
"ssshhh!"
"ssshh? Kau menyuruhku diam? Whoa… berani sekali kau!"
Pengurus Lee hanya mendelik kesal, detik berikutnya dia berhenti menguping di pintu kamar Sehun untuk berjalan ke arah belakang dan mendorong kursi roda si tuan besar "eh? Kenapa kita pergi? Bagaimana jika mereka bertengkar? Bagaimana jika Luhan tidak berniat menikahi si idiot itu. bagaimana…."
"Kau tenang saja tuan besar."
"Tenang?"
"Ya, mereka tidak bertengkar."
"Benarkah? Lalu apa yang mereka lakukan."
"Mereka sedang melakukan sesuatu yang berhubungan dengan membuat hamil agar bisa menjadi seorang ayah dan ibu."
"Apa maksudnya?"
Pengurus Lee mengambil banyak nafasnya, sedikit mendelik untuk menjawab dengan malas "Maksudnya, mereka sedang membuatkan cucu untukmu. Jadi baiknya kita tidak mengganggu kegiatan mereka."
"cucu? Apa yang-….ASTAGA! CUCU? AKU AKAN MEMILIKI CUCU? YA TUHAN! OH SEHUN SEMANGAT NAK! AYAH INGIN DIPANGGIL KAKEK! SEMANGAAT NAK!"
"tsk! Berlebihan!"
"AH—AKU TAK SABAR!"
"Ayah."
"Itu suara ayahmu?"
Sehun terkekeh, ditariknya tubuh polos Luhan ke dalam pelukannya lalu mengangguk membenarkan "Sepertinya kau sudah memiliki dua penggemar berat di rumahku."
"Benarkah? Siapa?"
"Ayah dan Paman Lee. Keduanya terlihat tak segan memukul kepalaku jika aku membuatmu menangis."
Luhan tertawa di dalam pelukan Sehun, jujur, perasaan begitu dicintai di lingkungan keluarga hampir tak pernah dia rasakan, jadi ketika Sehun mengatakan kemungkinan Presdir Oh dan Pengurus Lee sangat mempedulikannya, maka wajar jika air mata haru dia keluarkan di sela tawanya.
"Kau menangis?"
Sehun menyadarinya, dadanya terasa basah karena air mata Luhan, dia panik, namun Luhan membalasnya dengan tawa kecil walau air mata masih membasahi matanya "Aku hanya bahagia, sungguh."
"Bahagia? Sampai menangis?"
Dia mengangguk lagi, mendekap erat tubuh Sehun lalu bergumam kecil "Keluargamu, dirimu. Kalian membuatku sangat bahagia."
"Benarkah?"
"mmhh…Seandainya Baekhyun tidak mempermasalahkan hubungan kita, rasanya aku akan menjadi pria paling beruntung dan berbahagia karena cintamu."
Refleks, tangan Sehun melingkar erat di pinggang Luhan, entah mengapa dia selalu memiliki firasat buruk jika nama Baekhyun disebut diantara mereka. Selalu membuatnya bermimpi buruk dan takut jika suatu saat nanti, entah karena alasan apa Luhan akan berjalan pergi meninggalkannya "Luhan."
"Ya?"
"Untuk Baekhyun, rasanya dia akan baik-baik saja seiring berlalunya hari. Dia hanya membutuhkan sedikit waktu, jadi lebih baik jangan menemuinya dulu, hmmh?"
"Tapi aku perlu bicara dengannya."
"Bicaralah saat hatinya tidak marah dan hatimu lebih siap."
"Tapi aku…."
"Aku mengenal Baekhyun." Katanya memberitahu Luhan untuk mengecup sekilas kening yang dibanjiri peluh karena panasnya percintaan mereka "Tapi aku lebih mengenalmu, jadi yakinlah, suatu saat nanti Baekhyun akan merestui hubungan kita. Hanya beri waktu untuknya, ya?"
Syarat utama dalam menjalin hubungan adalah kau harus memiliki rasa percaya pada pasanganmu, jadi ketika Sehun mengatakan untuk memberi waktu pada Baekhyun dan bicara jika hatinya siap, rasanya Luhan tak memiliki alasan lain lagi untuk menolak. Dia pun mendekap erat tubuh kekasihnya untuk memberi jawabannya sebagai seorang kekasih "Baiklah. Aku akan memberi waktu untuk Baekhyun selagi mempersiapkan hatiku."
Rasanya lega mendengar jawaban Luhan, hal itu terlihat dari senyum wajah Sehun serta kecupan bertubi yang diberikan untuk kekasihnya. Setidaknya dia tidak perlu merasa takut dengan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi di hubungan mereka karena Baekhyun. Oleh karena itu, si pria tampan tanpa segan mengatakan "terimakasih." Lalu mendekap pria yang akan menjadi masa depannya kelak, harapnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terhitung sudah satu minggu sejak Baekhyun mengetahui hubungannya dengan Sehun. Dan selama satu minggu itu pula Luhan tak mendengar kabar tentang sahabatnya, sama sekali.
Cemas adalah hal yang selalu mengganggunya, tentu saja. Dia juga sudah melakukan segala cara untuk mengetahui keberadaan Baekhyun namun nihil, tak ada apapun yang bisa membantunya untuk bertemu dengan Baekhyun. Sahabatnya benar-benar pergi entah kemana meninggalkan perasaan bersalah tanpa bisa menjelaskan lebih dulu.
"Untuk Baekhyun, rasanya dia akan baik-baik saja seiring berlalunya hari. Dia hanya membutuhkan sedikit waktu, jadi lebih baik jangan menemuinya dulu, hmmh?"
"Tapi aku perlu bicara dengannya."
"Bicaralah saat hatinya lebih tenang dan hatimu lebih siap."
Sederet kalimat menguatkan dari Sehun adalah hal yang selalu membuatnya merasa lebih baik.
Ya, sejauh ini hanya Sehun yang bisa membuatnya tenang.
Bukan karena pria dengan rahang yang memiliki tatapan tajam itu kekasihnya, tapi karena Luhan memiliki keyakinan bahwa mau bagaimanapun juga Sehun pernah menjadi kekasih Baekhyun, jadi wajar dia memiliki keyakinan Baekhyun akan segera kembali dan melupakan hal yang membuat hubungan mereka menjadi orang asing seperti saat ini.
"Aku harap kita baik-baik saja Bee, kumohon."
Harapannya adalah bisa bersama Sehun tanpa cap penghianat di sepanjang hidupnya kelak, berharap bahwa tak perlu ada penyesalan dan kehilangan yang dirasakan dirinya dan Baekhyun atau Sehun sekalipun terkait hubungan rumit yang mereka jalani saat ini.
"Luhan..."
"..."
"Lu..."
"..."
"Xiao Lu,"
Barulah ketika nama kecilnya dipanggil, Luhan menoleh. Satu-satunya pria yang selalu memanggilnya Xiao Lu adalah sang mantan kekasih. Jadi ketika nama kecil yang tak pernah dia dengar lagi kembali diucapkan, Luhan merasa sedikit takut.
Menolak kuat-kuat bahwa itu adalah suara Jongin, mantan kekasihnya. Walau ternyata memang wajah Jongin yang terlihat dan sedang memanggil lembut namanya.
Keduanya bertatapan cukup lama, entah menatap rindu atau hanya saling membalas tatapan. Tapi yang jelas untuk Luhan, Jongin tak lagi menempati hatinya, satu-satunya yang membuat dia membalas tatapan sang idol adalah karena pria di depannya, mantan kekasihnya merupakan satu-satunya pria yang bisa membuat Kyungsoo dan calon keponakannya bahagia.
Jadi rasanya tersenyum adalah hal wajar mengingat mau bagaimanapun juga, pada akhirnya, Kai akan menjadi bagian dari keluarganya
"Kai?"
"Hay Lu."
Jongin kembali memanggil nama kecilnya, menatapnya lembut, sama seperti tatapan saat mereka menjadi sepasang kekasih beberapa waktu lalu.
"Ada apa?"
Dinginnya Luhan jelas terlihat, tak ada lagi nada ramah layaknya dulu saat mereka melepas rindu, yang ada hanya tatapan kosong diiringi senyum yang sangat terlihat dipaksakan.
Lagi-lagi Kai harus mengakui bahwa perasaan Luhan untuknya benar-benar telah mati, semua yang pernah mereka lalui kini hanya sebatas kenangan yang tak patut dibicarakan mengingat status mereka adalah dua orang asing untuk saat ini.
Pria berkulit tan itu pun menatap sendu mantan kekasihnya. Mencoba untuk tidak membuat Luhan menjauhinya lagi untuk tersenyum dan berujar penuh harap "Bisa kita bicara?"
.
.
.
.
Dulu, saat mereka ingin melepas rindu maka lantai teratas dengan balkon tertinggi di agensi adalah tempat favorit yang bisa mereka gunakan untuk saling berpelukan. Berbincang tentang banyak hal yang telah mereka lewati dalam satu hari.
Biasanya yang berparas cantik, Luhan. Akan merengek dan bercerita banyak hal pada kekasihnya, Jongin. Menceritakan tentang bagaimana seluruh bakat yang ditemukan akan memecahkan rekor dunia hiburan dan tentunya mengalahkan EXO, grup kekasihnya bernaung.
Ya, Luhan cenderung cerewet dan enggan berhenti berbicara sebelum Kai memeluknya erat. Karena saat tubuh kekasihnya memeluk erat maka rasanya Luhan rela menukarkan waktu hanya untuk bermanja di pelukan kekasihnya,
Dulu
Sekarang tidak,
Karena Luhan yang saat ini berdiri di sampingnya, hanya Luhan sang manager trainee artist, bukan kekasihnya lagi. Kai menyadarinya, terlalu sadar hingga tanpa sadar matanya berkaca-kaca. Dia begitu merindukan Luhan kekasihnya, namun sayang, semua yang dilakukannya bersama Kyungsoo sudah membuat kata cinta menguap dari hati seorang Luhan, mantan kekasihnya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
Tiba-tiba Luhan bertanya, matanya juga mencari mata Jongin, menatapnya cukup lama lalu kembali menoleh ke depan, memperhatikan ketinggian walau enggan menatap ke bawah karena phobianya terhadap tempat tinggi.
"Kai?"
"Y-ya?"
Tatkala sinar mentari menyinari wajah Luhan , Kai tersenyum. Memandangi sekali lagi wajah yang menjadikannya seorang Kim Jongin, sang idol, untuk kembali mengutarakan maksudnya "Aku ingin meminta bantuanmu Luhan."
"Apa?"
Kai kembali diam, menikmati bias cahaya yang memantul di matanya untuk bersungguh-sungguh mengatakan "Aku ingin bertemu Kyungsoo."
Bohong jika hati Luhan tidak merasa sakit tiap nama Kyungsoo disebut diantara mereka. Karena saat Kai menyebut nama adiknya, maka sekelibat ingatan tentang bagaimana dirinya dikhianati terus berulang bak kaset rusak di benaknya.
Mungkin, jika Kyungsoo yang menyebut nama Kai tak ada sedikit pun rasa sakit seperti saat ini. Tapi berbeda saat Kai yang mengatakannya, mau bagaimanapun juga Kai pernah menjadi kekasihnya, satu-satunya pria yang dia inginkan menjadi pendamping hidupnya.
Tapi kemudian Kai merusak semua impiannya dalam satu kali penghianatan yang dilakukan, tak tanggung, dia melakukannya bersama sang adik. Membuat terkadang Luhan ingin berhenti menemui mantan kekasihnya namun berakhir menyerah mengingat selamanya Kai akan hadir dalam hidupnya, sebagai kekasih Kyungsoo, adiknya.
"Kyungsoo? Untuk apa?"
Kai tersenyum lirih, Luhan bisa melihat bulir air mata berjatuhan cepat dari sepasang manik milik Kai, bertanya-tanya adalah hal yang Luhan lakukan saat ini mengingat harusnya Kai berbahagia karena comebcaknya bersama EXO sukses besar dan diterima oleh seluruh penggemar mereka.
"Kai?"
"Maaf mengatakan ini, tapi aku merindukan Kyungsoo. Aku, aku sangat menghkhawatirkan bayiku Luhan."
Kai terisak dengan dua tangan yang menutupi wajahnya, bahunya bergetar hebat diiringi air mata Luhan yang juga jatuh tanpa sebab.
Ah…
Bukan tanpa sebab,
Luhan memiliki alasannya untuk menangis.
Pertama, dia sedang menangis bahagia merayaka hubungannya dengan Kai berakhir secara baik-baik.
Kedua, dia sangat bersyukur karena pada akhirnya Kai mengatakan kalimat bayiku dari bibirnya sendiri. Luhan menghargainya, sangat. Lalu haru adalah hal wajar mengingat sebentar lagi keponakannya akan lahir lengkap dengan kedua orang tuanya.
"haah~"
Luhan lebih dulu menghapus air matanya, untuk kali pertama berjalan mendekati Kai lalu merangkul pundak sang idola. Bukan sebagai kekasih, tapi sebagai calon kakak ipar yang sebentar lagi akan merayakan kebahagiaan mereka bersama "Baiklah, aku akan membawamu pada Kyungsoo."
Kai tertegun, diliriknya wajah Luhan yang sedang tersenyum untuk memastikan bahwa telinganya tidak salah mendengar "b-Benarkah?"
"Ya, jadi berhentilah menangis. Seorang ayah tidak boleh menangis dihadapan istri dan anaknya kan?"
"Luhan…"
"Aku akan menentukan hari agar kalian bisa bertemu."
"Tidak hari ini?"
"Tentu saja tidak. Jadwal promosi album barumu baru dimulai, jadi aku tidak ingin mengambil resiko dengan absennya dirimu di kegiatan promosi grup."
Kai tersenyum pahit, sekilas dia melihat tangan Luhan yang melingkar di bahunya tanpa rasa canggung. Rasanya seperti Luhan, Luhannya. Yang membedakan hanya tak adalagi Luhan yang bersikap manja dan gemar merengek seperti dulu, Luhan yang kini sedang merangkul lengan dibahunya adalah benar-benar Luhan kakak dari kekasihnya, managernya, dan mungkin….temannya.
"Aku tidak peduli lagi pada promosi grup. Aku juga tidak peduli jika penggemar atau bahkan grup membenciku, yang aku inginkan hanya melihat Kyungsoo dan bayiku."
Rangkulan Luhan di bahu mantan kekasihnya semakin erat, dia kemudian tersenyum lalu menggeleng sebagai jawaban "Sayangnya aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Tidak padamu atau Kyungsoo."
"Apa?"
"Kalian berdua adalah artisku, jadi sebagai manager sudah menjadi tugasku untuk melindungi kalian, aku akan melakukan segala cara agar kebencian tidak kalian rasakan. Hanya tunggu waktu yang tepat agar kalian bisa benar-benar bersama, mengerti?"
Kai tertawa kecil, rasanya sudah lama sekali tidak melihat Luhan begitu bersemangat. Jadi ketika kakak dari pria yang tengah mengandung buah hatinya terlihat sangat bersungguh-sungguh, maka dia tidak memiliki pilhan lain selain mengangguk lalu berujar sama bersemangatnya "Baiklah, Kim Jongin mengerti, Manager Xi."
Baik Kai maupun Luhan kini tertawa bersama, merasa takjub rasa canggung mereka hilang dalam hitungan detik untuk membagi rasa baru. Rasa dari dua orang mantan kekasih, menjadi teman. Mungkin kelak, jika Kai benar-benar menikahi Kyungsoo, hubungan keduanya akan kembali naik tingkat menjadi keluarga.
Selebihnya, mereka hanya perlu menunggu hari itu datang agar benar-benar bisa menjadi keluarga seutuhnya, bersama Kyungsoo dan calon buah hati keduanya.
"whoaa…Apapun jenis hubungan yang mereka miliki, itu sangatlah manis. Ya kan, Tuan muda?"
Yang dipanggil tuan muda tentu memiliki pandangan yang berbeda dengan pengurusnya sejak kecil. karena jika Paman Lee mengatakan hubungan kekasih dan mantan kekasihnya "manis". Maka si pria yang statusnya adalah "Kekasih" dari si pria berparas cantik terlihat kesal dengan seluruh adegan yang menurutnya sangat berlebihan antara Luhan dan mantan kekasihnya.
Harusnya mereka menghabiskan makan siang di restaurant super mewah yang sudah sengaja dipesan oleh pengurus Lee, bukan harus menyimpan rasa dongkol karena melihat Luhan sedang berbicara dengan mantan kekasihnya beberapa menit lalu.
Dan alih-alih menolak untuk berbicara, Luhannya bahkan menyanggupi keinginan sang idol untuk bicara berdua di tempat sepi seperti atap di perusahaan, membuat kejengkelan seorang Oh Sehun bertambah menjadi berjuta-juta kali lipat tanpa bisa melakukan apapun untuk menjauhkan tangan mulus Luhan dari bahu sialan saingannya, Kai.
"Tidak, mereka seperti selingkuh di belakangku!"
"Selingkuh? Eyy..Itu berlebihan tuan muda. Luhan tidak melakukan satu kesalahan apapun. Lagipula kita mendengar apa yang mereka bicarakan, baiknya kau-…."
BLAM!
"Terserah, aku tidak peduli!"
Dia menutup kasar pintu yang menghubungkan antara atap dan lift gawat darurat. Meninggalkan Luhan, Kai serta pamannya, hingga membuat kekehan antara sebal dan SANGAT SEBAL terdengar dari pria paruh baya yang mulai jengah dengan sifat kekanakan tuan mudanya "tsk! Sikapmu seperti bocah dan masih bilang ingin menikah? Menikah saja dengan patung agar istrimu kelak tidak bisa berinteraksi dengan orang lain!"
Paman Lee mengumpat, itu jelas terdengar. Tapi tetap saja dia mengikuti kemana tuan mudanya pergi, berharap bisa sedikit membujuk si bocah agar rencana makan siang dengan tuan besar tidak berantakan dan menimbulkan masalah baru. "ayolah! Reservasi restaurant sudah seharga satu mobil. Jangan main-main dengan uang-…tuan mudaaaa."
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu,
.
Jika di Seoul, ayah dari calon bayinya sedang mengusahakan segala cara untuk bertemu dengannya, maka disinilah Kyungsoo, sedang memeriksakan kehamilannya di rumah sakit kecil di sekitar rumahnya bersama dengan Jaehyun dan ibu Luhan, ibunya.
Dan tebak?
Dia tidak perlu memeriksakan sendiri janin calon buah hatinya, karena si bungsu dengan baik hati menawarkan diri untuk mengantarnya ke rumah sakit dan memastikan bahwa tidak ada yang mengenalinya sebagai aktor Do Kyungsoo.
"Jae."
"mmh?"
"Jangan tegang seperti itu, tidak ada yang mengenaliku."
Jauh-jauh datang dari Seoul dan masih menggunakan kaos formal kuliahnya, Jaehyun terlihat tegang. Namun yang membuat Kyungsoo takjub adalah semua raut tegang di wajahnya tidak membuat sedikit pun ketampanan Jaehyun berkurang, sebaliknya si bungsu benar-benar terlihat tampan walau gerak-geriknya sangat mengundang perhatian orang sekitar.
"Apa kau yakin hyung? Kau ini aktor dan penyanyi terkenal!"
Kyungsoo tersenyum kecil untuk bergumam "Dulu,"
"huh?"
"Sekarang aku hanya seorang kakak dan calon ibu dari keponakanmu."
"Hyung, apa yang kau bicarakan…"
"Do Kyungsoo-ssi? Silakan masuk."
Sedikit kesulitan, Kyungsoo dibantu Jaehyun berdiri dari tempat duduk, menutupi perut buncitnya dengan mantel panjang yang dia kenakan untuk tersenyum menatap adiknya "Tunggu disini, hyung akan menemui dokter."
"Tidak mau aku temani?"
"Tidak perlu. Hanya sebentar."
"Aku tunggu di mobil ya?"
Kyungsoo mengangkat ibu jarinya sebagai jawaban "Oke."
Setelahnya Kyungsoo pergi menemui dokter seorang diri, berusaha untuk menjaga moment pertama seseorang yang menemaninya ke rumah sakit hanya untuk Kai, bukan dia tidak berterimakasih pada Jaehyun, hanya saja Kyungsoo memiliki sedikit harapan bahwa sebelum bayi ini lahir, ada waktu dimana Kai dan dirinya memeriksakan bersama calon bayi mereka, semoga.
.
.
.
.
.
Tidak terasa usia kandungannya sudah memasuki bulan keenam, itu artinya hanya tinggal tiga bulan lagi sebelum Kyungsoo bertemu dengan calon buah hatinya.
Kemungkinan besar anakmu lelaki. Dia sehat dan begitu lincah didalam sana
Kyungsoo tersipu malu mendengar penuturan dokter beberapa saat lalu, wajahnya bersemu merah beriringan dengan langkahnya keluar dari ruang dokter. Tak sabar, dia ingin memberitahu Jaehyun, tapi tidak menemukan keberadaan si bungsu sampai akhirnya tersenyum mengingat bahwa Jaehyun menunggunya di dalam mobil.
"baiklah, setelah mengambil vitamin, kau bisa beristirahat jagoan kecil." katanya bergumam riang sesekali mengusap sayang perutnya.
Kyungsoo berjalan menuju tempat pengambilan obat, berniat untuk segera pulang sebelum seseorang berdiri tepat di depannya, menghalangi jalan dengan tubuhnya yang sangat besar.
"Permisi, anda menghalangi jalan-…."
"Jadi dia jagoan kecil?"
Jantung Kyungsoo berdegup kencang, awal pria besar itu berdiri di depannya dia mengenali aroma familiar yang dulu begitu ia sukai, namun dia membantahnya cepat untuk mengakui bahwa pria yang sedang berdiri di depannya adalah pria yang sama yang hatinya selalu dia sakiti, pria yang mungkin sampai saat ini masih menjadi kekasihnya mengingat hubungan mereka tidak pernah benar-benar diakhiri secara baik.
Kyungsoo lemas, nyaris terjatuh jika tangan yang kini dia yakini kekasihnya tidak membantu berdiri, perlahan dia mengangkat wajah untuk bertatapan dengan pria berlesung pipi yang diam-diam dia rindukan namun tak sebesar rindunya pada ayah dari calon bayinya.
Keduanya bertemu pandang, saling melempar tatapan rindu sampai suara berat si pria berlesung pipi terdengar bertanya padanya "Bayimu? Dia lelaki?"
Kyungsoo tertegun, matanya panas karena hatinya sakit lalu tiba-tiba cairan bening membasahi wajahnya untuk dengan kelu memanggil nama pria yang mungkin masih mencintainya "y-Yeol?"
Yang dipanggil tersenyum, sangat tampan hingga lesung di pipinya terlihat. Dia kemudian menarik lengan Kyungsoo untuk mendekapnya erat, terlalu erat hingga rasanya Kyungsoo bisa mendengar patahan dari punggungnya "Ini aku, Chanyeol, Kekasihmu Soo."
.
.
.
.
"Bagaimana kabarmu? Aku benar-benar kehilangan jejakmu selama tiga bulan. Apa kau sehat? Bayimu?"
Setelah mengirim pesan pada Jaehyun untuk pulang lebih dulu, Kyungsoo membawa Chanyeol ke kafe kecil di sekitar rumah sakit. Keduanya sudah berniat memesan makanan namun tak ada satupun dari mereka yang benar-benar fokus pada menu karena terlalu canggung dengan keadaan mereka saat ini.
"Kami baik Yeol, terimakasih sudah bertanya."
Kyungsoo membalas seperlunya, dan setelah memesan makanan, Chanyeol membuang jauh-jauh menu dari meja mereka. Meniadakan jarak diantaranya dan Kyungsoo untuk menggenggam tangan yang rasanya lebih besar seiring dengan besarnya kandungan Kyungsoo saat ini "Soo, pulanglah denganku. Aku akan bertanggung jawab pada bayimu, aku akan menjadi ayahnya."
Kyungsoo diam untuk beberapa saat, memperhatikan manik Chanyeol yang berujar begitu tulus untuk tersenyum kecil, dilepasnya genggaman tangan Chanyeol lalu dia menepuk perlahan tangan pria yang daripada cinta, rasanya hanya menjadikan dirinya sebagai pelarian.
"Apa hubunganmu dengan Baekhyun baik-baik saja?"
"Baekhyun?"
Chanyeol berujar gugup, mek asa begitu jahat tak hanya pada Sehun tapi juga pada si mungil di depannya. Dia kemudian tertunduk cukup lama untuk menenangkan diri, menikmati rasa bersalahnya sampai tangan hangat Kyungsoo membelai lembut wajahnya "Chanyeolku sayang, dengarkan aku." Kyungsoo memaksa dua mata mereka bertemu, berusaha untuk menjelaskan banyak hal untuk membahas siapa Do Kyungsoo dan siapa Park Chanyeol yang kini sedang duduk berhadapan.
"Kita berdua melakukan dosa yang sama, mencintai pria lain selagi hubungan kita berjalan. Aku yang memulainya, dan aku meminta maaf karena kau harus merasakan sakit. Aku bahkan memiliki bayi dari pria lain yang aku cintai." Air mata penyesalan Kyungsoo membasahi tangan Chanyeol. Rasanya sesak, tapi kemudian dia memutuskan untuk kembali berbicara.
"Jadi, untuk menebus dosaku padamu, pada Luhan, aku tidak akan meminta siapapun menjadi ayah dari anakku. Sebaliknya, aku hanya akan membesarkannya seorang diri, tidak membencinya dan hanya memberikan hidupku pada bayiku."
Tes!
Air mata Chanyeol ikut menetes seiring ucapan Kyungsoo, sungguh dia tidak tahu rasa sakitnya masih sama walau sudah beberapa bulan berlalu, dia mengira dia sudah cukup kuat untuk bertemu dengan Kyungsoo, tapi dia salah, karena daripada dirnya, Kyungsoo jauh lebih terlihat kuat dengan keadaannya saat ini. Dia hanya seperti menjelaskan apa yang terjadi pada hubungan mereka untuk mengatakan hal yang sangat tidak ingin di dengar Chanyeol saat ini
"Jadi aku, Do Kyungsoo dan Kau, Park Chanyeol. Kita resmi tidak memiliki hubungan apapun, terhitung saat kau mengetahui hubungan gila yang aku jalani bersama Kai, dan saat Baekhyun mengatakan langsung padaku jika dia mencintaimu beberapa waktu lalu. Kita sudah berakhir, tidak ada yang mengikatmu lagi sayang."
"Soo, berikan aku kesempatan, kumohon."
Air mata Kyungsoo mengalir deras bersamaan dengan permintaan Chanyeol. Mungkin jika tidak ada bayi yang dikandungnya dia kaan mengatakan Ya, memberi kesempatan pada Chanyeol, tapi keadaan berbeda, dia memiliki benih cintanya bersama Kai, jadi tidaklah mungkin dia menerima kembali cinta Chanyeol sementara benihnya bersama Kai akan segera lahir ke dunia.
Kyungsoo terisak hebat, dia menggenggam erat jemari Chanyeol namun tetap menggeleng, memberikan jawabannya "Aku yang tidak pantas bersamamu Yeol, bahagialah bersama Baekhyun. Kau terlihat begitu hidup saat bersamanya."
"Aku mencintainya, tapi jauh di lubuk hatiku, aku masih sangat mencintaimu."
"Yeol sudahlah, cukup. Ucapanmu bukan hanya akan menyakiti berdua, tapi Kai, Baekhyun bahkan Luhan maupun Sehun. Mereka semua akan merasa sakit dengan kisah yang tak kunjung memiliki akhir."
"Soo."
Chanyeol tertunduk cukup lama, hatinya tertusuk perih saat ucapan Kyungsoo menyayat tajam hatinya. Mungkin benar dia mencari keberadaan Kyungsoo karena begitu putus asa tidak bisa menemukan Baekhyun setelah kejadian di restaurant. Tapi sungguh, niatnya untuk kembali bersama Kyungsoo sudah begitu bulat, berharap Kyungsoo membalas perasaannya walau pahit harus kembali ditelan karena penolakan yang diberikan kekasihnya.
"Kau akan baik-baik saja. Aku juga, kita semua akan baik-baik saja."
Matanya terpejam menikmati sentuhan Kyungsoo di wajahnya, sentuhan terakhir yang benar-benar membuatnya akan merasa rindu dan tak bisa lagi merasakan betapa lembut sentuhan Kyungsoo di wajahnya "Soo, tidak bisakah aku….."
"sst…Jangan diteruskan. Aku senang kau datang mencariku, tapi jujur aku lebih senang dengan status kita sekarang. Bahagialah dengan pilihanmu Yeol."
"Lalu bagaimana denganmu?"
Kyungsoo tersenyum lirih, dia berhenti mengusap wajah pria tampan di depannya untuk menatapnya terakhir kali sebagai kekasih "Aku juga akan bahagia dengan hidupku." Katanya meyakinkan walau air mata harus membasahi wajah keduanya. "Terimakasih untuk segalanya, yeol."
.
.
.
.
.
.
"Bagaimana putraku?"
Yang bertanya adalah seorang pria paruh baya, senyum di wajahnya tak pernah terlihat sejak beberapa tahun lalu, tepatnya setelah kematian sang istri senyumnya seolah berhenti saat itu juga, tak ada lagi yang tersisa dalam hidupnya kecuali dua hal, bisnis dan putra tunggalnya.
Jadi ketika dua hal yang yang menjadi alasannya bertahan hidup diusik, maka pria berusia lebih dari setengah abad itu terlihat begitu geram. Bersumpah akan memastikan siapapun yang membuat putranya terbaring lemah di rumah sakit untuk membalasnya dengan rasa sakit yang sama dengan yang dirasakan putranya, Baekhyunnya.
"Tuan muda mengalami dehidrasi berat selama tiga hari tanpa minum dan menyentuh sedikitpun makanannya tuan besar."
Matanya yang sipit menatap tajam pada pengurus rumah tanggan di kediaman Byun, menatap seolah ingin membunuh dan menyalahkan bahwa apapun yang terjadi pada putranya tak lepas dari kelalaian seluruh penjaga yang tidak bisa menjaga putranya dengan baik.
"Dan kau membiarkannya? APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP?"
"Maaf tuan besar, semua makanan yang kami bawakan untuk tuan muda dibuangnya tanpa melihat sedikitpun."
Byun Hanseol, ayah kandung Baekhyun, mulai menenangkan diri, mencoba berfikir dengan kepala dingin untuk menemukan akar dari masalah yang membuat putranya terlihat sangat menyedihkan "Apa yang terjadi?"
"Dari yang kami selidiki, sepertinya tuan muda sedang bertengkar dengan sahabatnya. Dan itu bukan sesuatu yang pernah terjadi mengingat keduanya begitu dekat satu sama lain."
"Sahabat? Siapa yang kau bicarakan?"
Pengurus kediaman Byun itu terus menundukan kepala, mencoba memberitahu dengan cara yang benar tanpa harus menimbulkan keributan besar di keluarga yang sudah dilayaninya selama hampir tiga puluh tahun "KIM! Siapa yang kau bicarakan?"
Pria paruh baya lainnya tersentak, menundukan wajah untuk beberapa waktu lalu lirih mengatakan "Luhan."
Tak percaya, ayah Baekhyun menatap pria disampingnya, mencari tahu siapa Luhan yang sedang dibicarakan lalu bertanya untuk memastikan "Luhan? Xi Luhan?"
"Ya, tuan besar."
Tanpa bertanya apa yang terjadi, Tuan Byun menggeram marah. Tangannya dikepalkan erat sementara matanya terkunci pada sosok Baekhyun yang terbaring lemah dengan alat infus berada di pergelangan tangannya, menatap iba pada putranya dengan kemarahan yang jelas terlihat di sorot mata dingin milik ayah kandung Baekhyun.
"berani sekali kau, Xi Luhan!"
.
.
.
.
Aku membawanya, kau harus membawa tiga berkas pengajuan dan persetujuan dari wali murid.
Lu, aku bingung. Temani aku.
Baiklah, kita bertemu satu jam lagi Jin, tunggu aku di tempat biasa.
"Manager Xi, Presdir Oh memanggilmu ke ruangan."
Luhan sedang mengangkat panggilan sahabatnya, mengangkat ibu jari sebagai tanda dia mengerti lalu tersenyum menyanggah ponselnya di bahu "Oke."
Pria yang dikenalnya sebagai office boy agensinya itu pun mengangguk, segera meninggalkan Luhan yang terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya "araseo. Aku akan ke tempatmu, tunggu disana."
"jangan terlambat."
"Baiklah. Aku tutup."
Pip!
Setelah kontaknya terputus dengan Seokjin, sahabatnya, Luhan bisa bernafas lega. Dengan cekatan dia mengumpulkan berkas yang akan mereka gunakan di audisi hari ini berniat untuk segera pergi sebelum mengingat bahwa belum lama tadi seseorang memberitahu bahwa Sehun ingin bertemu dengannya "astaga Sehun! Aku hampir melupakannya."
Buru-buru Luhan meletakkan seluruh berkas audisinya siang ini, berjalan lurus menuju kantor sang CEO untuk mengetuknya beberapa kali sampai terdengar suara yang mengatakan
"Masuk."
Tanda memberi untuknya agar masuk ke ruangan.
Perlahan pintu ruangan terbesar di OSH'ent dibuka perlahan oleh Luhan. Segera mencari soso sang CEO yang juga merupakan kekasihnya untuk menemukan pengurus Lee sedang tersenyum ke arahnya "Hay Luhan."
"Paman?" katanya menyapa pengurus Lee untuk beralih pada Sehun "Siang, Presdir Oh."
"….."
Bingung tak mendapat jawaban, Luhan menoleh pada pengurus Lee, bertanya-tanya mengapa Sehun bersikap dingin terlihat dari caranya menatap lalu kembali fokus pada seluruh kertas yang sedang dia tanda tangani saat ini.
"Darimana kau?"
Suara dingin Sehun memenuhi ruangan besar miliknya, sontak Luhan menoleh untuk menatap takut pada kekasihnya "Mempersiapkan berkas audisi untuk hari ini Presdir Oh."
"tsk!"
Sebenarnya Luhan bertanya-tanya dimana letak kesalahannya, mengapa sedari awal dia masuk ke dalam ruangan diberi tatapan tajam lalu tak lama diberi pertanyaan yang menyudutkan dan membuatnya terlihat seperti seorang pencuri. "Apa ada yang salah dengan ucapanku."
"Ya, kau berbohong!"
"Aku? Kenapa aku berbohong?"
"Karena kau tidak menyiapkan berkas!"
Tak habis pikir, Luhan berjalan mendekati kekasihnya, berniat untuk bertanya dan mencari dimana kesalahannya tanpa harus dikatakan sebagai pembohong. "Lalu apa yang aku lakukan jika tidak menyiapkan berkas? Bisa kau beritahu pegawaimu yang bodoh ini Presdir Oh?"
Sehun tertawa kecil, dia tahu Luhan sedang menantangnya dengan nada suara yang penuh penekanan. Hal itu pula yang membuat emosinya terpancing, dia kemudian meletakkan bolpoint yang sedari tadi dia gunakan secara asal, lalu melipat dua tangan di atas dada untuk menatap tajam kekasihnya "Yakin mau kuberitahu?"
"Aku menunggu kebaikan hati anda Presdir Oh."
"well, bagaimana jika aku katakan. Manager Xi dan mantan kekasihnya, Kim Jongin, baru saja menghabiskan waktu berdua di lantai tertinggi kantor agensi. Hanya berdua tanpa ada orang ketiga atau siapapun yang bisa mengganggu waktu K-E-N-C-A-N mereka!"
"sehun…"
Serangan Sehun terlalu telak, Luhan dibuat membeku karenanya. Dia tidak tahu niatnya yang hanya ingin menolong Kai dan Kyungsoo akan berujung berbalik menyerang untuk hubungannya. "Aku bisa menjelaskan." Sergahnya cepat namun diabalas jawaban dingin lagi dari si pria tampan "Apa?"
"Aku dan Kai, kami hanya…."
"Sudahlah, aku tidak peduli."
Rasanya Luhan ingin berteriak dan mengumpat kebiasaan Sehun saat cemburu, dia cenderung tidak mau mendengarkan dan akan melontarkan kalimat-kalimat menyakitkan sesuka hati. Ini pertama untuk Luhan menjalin hubungan dengan seseorang yang memiliki tingkat kecemburuan level tinggi, jadi saat Sehun benar-benar sangat menjengkelkan, dia hanya bisa menahan diri berharap keadaan tidak semakin buruk untuk mereka.
"Sayangnya kau harus peduli!"
Sehun sudah berdiri dari kursinya, namun Luhan tanpa segan mendorong lagi si bayi besar hingga dia kembali duduk di kursi kerajaannya "Apa yang kau lakukan? Aku harus pergi!"
"Nanti setelah aku menjelaskan kau boleh pergi!"
"Manager Xi! Aku serius!"
"Aku lebih serius, Oh Sehun!"
Mengabaikan status Sehun yang merupakan pemilik tertinggi di OSH'ent, Luhan mempertaruhkan segalanya. Dia tidak peduli jika nanti Sehun benar marah atau paling buruk memecatnya, tapi setidaknya si kepala batu harus disadarkan, jadi Luhan akan melakukan segala cara agar pria berotak dangkal di depannya mendengarkan dengan jelas tanpa memberi tatapan menyebalkan seperti saat ini.
"Dengarkan aku."
Luhan menyingkirkan beberapa dokumen milik kekasihnya, sengaja duduk di atas meja sementara dua kakinya mengunci pergerakan Sehun di sisi kanan dan kiri kursi singgasananya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Sebaiknya aku pergi meninggalkan kalian berdua. Dan tuan muda! Sekali lagi aku katakan, jangan terlalu berlebihan!"
BLAM!
Tak lama tinggalah Sehun bersama kekasihnya, keduanya masih melempar tatapan tajam dengan posisi intim yang Luhan lakukan untuk bicara dengan kekasihnya "Kau dengar? Jangan berlebihan!"
"tsk! Rasakan saja berada di posisiku! Apa kau tidak akan marah jika aku dan Baekhyun bicara berdua di tempat yang sepi?"
Luhan berfikir sejenak lalu menjawab "Tergantung apa yang kalian bicarakan!"
"Bagaimana jika kami membicarakan ingin kembali bersama?"
"Aku akan berteriak, paling buruk menangis dan mencakar wajahmu!"
"Kalau begitu sama denganku! Aku benci melihatmu bicara intim dengan mantan kekasih sialanmu itu!"
"Jongin tidak sialan!"
"Terus saja LU!"
Luhan terkekeh, dia benar-benar gemas karena sikap cemburu Sehun saat ini, karena selain menyebalkan rupanya Sehun bisa menangis karena terlalu cemburu, dilihat dari matanya yang berkaca-kaca maka bisa dipastikan kekasihnya sangat cemburu hingga tak bisa menahan diri untuk tidak berkaca-kaca "Kau menangis?"
"sial!"
Terlebih saat mengumpat dan menghapus cepat air matanya, Sehun terlihat berkali-kali lebih menggemaskan dan membuat Luhan gagal menahan diri untuk pindah dan duduk di pangkuan kekasihnya.
Pada awalnya Sehun menolak berat tubuh Luhan di pangkuannya, tapi ketika si pria cantik bersikeras duduk di antara paha Sehun dengan kaki yang melingkar sempurna di kursi sang CEO, Sehun tidak bisa menolak. Dia hanya membiarkan Luhan melakukan apapun sampai mengejeknya karena menangis "sssh…Bayi besarnya Lulu, jangan menangis lagi ya."
Lengan mungil Luhan kini mendekap erat tengkuk kekasihnya, memaksa Sehun bersandar di lehernya sementara bibirnya mengecup surai sang kekasih yang terlihat begitu sedih "Jangan marah lagi. Aku yakin kau pasti tahu tidak terjadi apa-apa antara aku dan Kai."
"Jangan terlalu yakin." Gumam si pria tampan di telinga kekasihnya lalu kembali bersandar manja di pelukan si mungil "Sayangnya aku yakin." Balas Luhan tak kalah percaya dirinya dengan Sehun.
"Kenapa?"
Tangannya mengusap lembut punggung Sehun, mencoba berdamai untuk kali pertama setelah beberapa kali bertengkar karena masalah yang sama, dia pun terus mengusap punggung si bayi besar lalu tanpa ragu mengatakan "Karena kau ada disana, melihatku berbicara dengan Kai, aku yakin kau mendengarkan seluruh percakapan kami. Dan jika terjadi sesuatu diantara kami, pastilah kau tidak akan tinggal diam dan tidak merajuk seperti ini. Aku benar kan?"
"….."
Tebakan Luhan wajah Sehun sedang merona karena malu saat ini, dan daripada menjawab pernyataan Luhan, si pria besar lebih memilih menghirup dalam-dalam aroma manis kekasihnya sementara tangannya mengambil kesempatan untuk mengusap langsung punggung mulus Luhan tanpa perantara.
"Sehun dengarkan aku."
Membiarkan tangan Sehun bermain di dalam kemejanya adalah hal yang Luhan lakukan untuk menangkup wajah si pria tampan, memaksa dua mata mereka bertemu dengan bibir yang saling memberi kecupan tanda perdamaian sudah terlihat di depan mata.
Luhan terus mengecup sayang bibir Sehun, lalu dibalas lumatan kecil dari sang kekasih, sampai akhirnya keduanya tersenyum dengan suara Luhan yang terdengar memberi penjelasan pada si bayi besar "Tidak ada apapun yang terjadi antara aku dan Kai."
"aku tahu."
"Kau tahu?"
Malu-malu Sehun menjawab "Ya, aku tahu."
Luhan menghela dalam nafasnya, mencari tahu seberapa banyak Sehun tahu lalu kembali bertanya "Apalagi yang kau tahu?"
"Hanya sebatas dia ingin bertemu dengan Kyungsoo, dan kau akan membantu mereka bertemu."
"astaga Oh Sehun!"
"w-Wae? Aku salah lagi ya?"
Matanya kembali berkaca-kaca. Demi Tuhan jika kekasihnya tidak terlihat sangat menggemaskan mungkin Luhan akan membentaknya dan berteriak JIKA SUDAH TAHU KENAPA MERAJUK, mengingat yang diucapkan Sehun adalah semua hal yang dia dan Kai bicarakan belum lama tadi.
"Kau benar-benar…."
Tapi sayang Sehun menggunakan tatapan innocent mematikan miliknya hingga Luhan dibuat lemas dan gemas dalam waktu bersamaan dan tak sampai hati membentak kekasihnya "aigoo…Tentu saja tidak, bayiku tidak pernah salah."
Sehun benar-benar mengambil kesempatan dalam kesempitan. Matanya saja yang berkaca-kaca, berbeda dengan tangannya yang kini bermain di dua nipple Luhan, menariknya sesuka hati terkadang mencubitnya kencang.
"sssh…Apa yang kau lakukan?"
Sehun menyengir kuda, memberikan sederetan gigi putihnya pada Luhan untuk meminta sesuatu dengan tatapan super innocent miliknya. "gemas! Mau susu!"
"ish!"
Luhan kesal, dia berniat bangun dari pangkuan Sehun namu gerakan Sehun lebih cepat. Si pria tampan mendekap erat tubuh kecil miliknya, lalu membuat gerakan mengunci agar Luhan sama sekali tak bisa lepas dari dekapannya. "Lu."
"Apa?" Luhan membalasnya sabar, tangannya masih bermain di tengkuk Sehun sementara dua tangan Sehun mendekapnya sangat erat "Aku ingin meminta sesuatu padamu."
"Apa yang kau inginkan?"
Kali ini Sehun yang melepas pelukan Luhan, menyusuri wajah tanpa cacat milik kekasihnya untuk mengaguminya lagi dan lagi, untuk semakin jatuh hati berulang kali. "Kau cantik."
Luhan sendiri selalu menyukai sensasi panas dan kasar dari jemari Sehun di wajahnya, membuat letupan-letupan kecil menggebu di hatinya hingga senyum tampan Sehun yang selalu melelehkan hatinya lagi dan lagi, setiap saat. Rasanya Luhan bisa gila jika tidak melihatnya. "Kau mengalihkan pembicaraan lagi tampan."
Sehun tertawa, dia menggigit gemas bibis Luhan untuk mengatakan harapan terbesarnya saat ini "Aku ingin bertemu dengan ibumu, Boleh ya?"
"i-Ibuku? Untuk apa?"
Dengan senyum kecil yang membuatnya terlihat sangat tampan, Sehun mengatakan "Aku ingin meminta izin agar bisa menikahi putra tertuanya."
"Sehun."
Jujur Luhan terkejut, terlalu terkejut sampai air mata haru menetes dari dua matanya yang sedang ditatap penuh cinta oleh Sehun. "apa yang –hks- apa yang kau bicarakan?"
Tangan kasar Sehun kini menghapus air matanya, tubuhnya sedikit condong ke depan untuk mengecup dua mata Luhan, turun mencium hidungnya, sampai akhirnya Sehun mengecup bibir Luhan, hanya mengecup tanpa melumat.
Membiarkan Luhan merasakan tulus cintanya tanpa nafsu yang biasa menguasai mereka. Dia tersenyum kecil, menatap dua mata cantik kekasihya untuk bertanya "Luhan, maukah kau menikah denganku?"
.
.
.
.
tobecontinued…
.
.
Aku sih yes, del! kkkk~
.
.
seeyousoon
