Previous

"Luhan, maukah kau menikah denganku?"

.

.

.

.

.

.

.

.

A' Friends Betrayal

Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo

Genre : Drama

Rate : M / NC!/

.

.

.

"Luhan, maukah kau menikah denganku?"

Untuk beberapa detik Luhan terpana, mencerna masak-masak apa yang dikatakan Sehun sampai kalimat menikah membawanya pada kesadaran. Kesadaran bahwa hari ini, saat ini juga Sehun secara tak langsung menyampaikan lamaran untuk menikahinya.

Matanya kemudian berkedip lucu beberapa kali, bibirnya membuka begitu menggemaskan hingga akhirnya suara kekehan yang justru keluar dari bibir si mungil yang kini memukul kesal bahu kekasihnya "Bercandamu tidak lucu!" dia marah, tapi pandangannya jelas penuh harap. Jadi ketika Sehun semakin mendekap erat pinggangnya, maka tatapannya adalah tatapan paling serius yang bisa dia berikan kepada seseorang "Tatap mataku dan katakan jika aku bercanda!" katanya menantang dibalas raut gugup oleh si mungil.

"S-Sehun? Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba mengatakan ingin menikah?"

"Ya karena aku mencintaimu, tidak, mungkin lebih tepatnya aku tergila-gila padamu. Aku hanya ingin menjadikanmu milikku seorang, milikku yang tak bisa disentuh atau menyentuh siapapun tanpa izin dariku. Dengar?"

Lagi-lagi Luhan tertawa, digigitnya gemas bangir hidung sang kekasih untuk beranjak dari pangkuan yang menyiksa gairahnya bahkan diwaktu siang hari seperti saat ini "Sehun!" Dia mengeluh lagi tatkala tangan besar kekasihnya menarik lagi tubuhnya ke dalam pangkuan, menolak keras pembicaraan ini disudahi tanpa adanya kepastian yang diberikan oleh kekasihnya.

"Kau mengelak lagi!"

"Kenapa aku harus mengelak?"

"Karena kau hanya tertawa tanpa memberi jawaban, seperti biasa."

Luhan bisa melihat bibir kecil kekasihnya digembungkan karena sedang merajuk, namun daripada mengerikan kesan imutnya jauh lebih terlihat bahkan mungkin mengalahkan dirinya yang selalu mendapatkan predikat menggemaskan dari teman terdekatnya "Tertawa bukan berarti tidak kan?"

Kali ini Sehun yang mengerjap lucu, jantungnya mulai berdebar cemas berharap Luhan memberikan jawaban. Namun alih-alih jawaban, wajah cantik kekasihnya itu lagi-lagi terlihat menahan tawa lalu bersembunyi di antara tengkuknya, bahunya bergetar bukan karena menangis tapi jelas dia sedang tertawa namun enggan menunjukkan wajahnya saat ini "tsk! Kau tertawa lagi."

"pffft… Oh Sehun wajahmu sungguh menggemaskan, aku tidak kuat kkk~."

"ya, ya, ya…Terserahmu saja. Sekarang bangun, kakiku sakit memangku bayi rusa."

Bentuk protesnya hanya sekedar tidak mau berkontak fisik, dan karena alasan itu pula dia mencoba menjauhkan tubuh kekasihnya, dibalas Luhan dengan memeluk erat tengkuk Sehun hingga posisi saling memangku dengan intim tetap terjadi dan sudah bertahan hampir tiga puluh menit "Aku tidak mau bangun."

"Kalau begitu beri jawaban."

Gemas, Luhan menjawab "Tidak mau juga."

"Sudahlah."

Sehun berniat bangun dari kursinya namun dicegah Luhan yang semakin menempel di pelukan kekasihnya seperti bayi koala, tertawa untuk kali terakhir lalu mengalah untuk mengatakan "Baiklah, baiklah. Aku kalah, aku akan memberi jawaban."

"Benarkah?"

Susah payah dia menahan tawa, mencoba untuk bersikap serius sementara tatapan wajah Sehun menunjukkan dia bosan di permainkan "Sudahlah, cepat kembali bekerja."

Kali ini Luhan mengangguk, segera berdiri dari pangkuan Sehun untuk mengambil dokumen miliknya di atas meja "Aku akan kembali bekerja."

"Ya, terserahmu saja. Nanti malam kita pulang bersama."

"Oke."

Mengabaikan raut kecewa dari kekasihnya, Luhan melenggang pergi. Berjalan perlahan meninggalkan ruangan untuk kemudian berbalik dan memanggil kekasihnya "Sayang."

Dengan malas Sehun menjawab "hmmh."

"Pastikan lusa kau tidak memiliki acara."

"Kenapa?"

"Aku berencana membawa Kai menemui Kyungsoo lusa nanti, jadi aku rasa itu waktu yang tepat agar kau dan ibuku bisa bertemu. Aku pergi dulu."

"ya, ya. Terserahmu-….siapa? Aku akan bertemu dengan siapa?"

Matanya membuka lebar, rasanya dia jelas mendengar Luhan mengatakan tentang bertemu dengan ibuku, jadi ketika dia benar-benar mendapatkan kesadarannya, dia salah tingkah. Mencoba mencari kebenaran dari ucapan kekasihnya namun terlambat karena Luhan sudah hampir menutup pintu "LUHAN!"

"Apa?"

"Aku akan bertemu dengan siapa?"

Prianya tersenyum begitu cantik, mengerling dengan satu mata untuk mengatakan "Lusa, bertemu dengan ibuku." Jawabannya secara tak langsung adalah Ya atas lamaran yang diberikan Sehun, refleks, tangan sang CEO mencengkram kuat dadanya sendiri, mencegah agar tak berdegup terlalu kencang lalu berujar dengan wajah yang dipenuhi rona bahagia "aku benar-benar akan menikah aboji." Katanya tersipu malu lalu tersenyum layaknya gadis yang baru saja dilamar kekasihnya "aaaakhhhh! Aku tak sabar!"

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku tunggu di mobil, kau bisa meninggalkan aku disini."

"Ayolah Lu, aku akan lama berada di dalam. Cepat masuk dan tunggu disana."

Dua manager pencari bakat itu kini berada di basement JYC's ent. Dan mengetahui kemungkinannya bertemu dengan Presdir Park tak bisa dielakan lagi, membuatnya rela menunggu di basement hingga sahabatnya selesai dengan urusannya di agensi untuk kembali mencari bakat baru di audisi.

"Lu?"

Luhan menghela ragu nafasnya, dia tetap menggeleng sebagai jawaban berharap temannya mengerti dan tidak memaksanya lagi "Aku tetap menunggu disini."

"Tapi kenapa?"

Jika dia bisa menceritakan tentang hubungannya dengan Presdir Park yang kian memburuk, mungkin akan lebih baik untuknya. Tapi sosok Seokjin yang dikenalnya adalah manager yang begitu menghormati baik Chanyeol maupun Yunho yang sudah mempercayakan seluruh bakat arti padanya. Tak pernah sekalipun Jin mengatakan hal buruk atau mengeluh tentang pekerjaannya. Jadi rasanya percuma bercerita jika yang kau dapatkan hanya kalimat tidak mungkin dari sahabat yang dikenalnya semenjak bangku kuliah.

"Jika kau tidak masuk, aku juga tidak. Mana tega aku meninggalkanmu disini? Bagaimana kalau kau digoda security? Atau artis-artisku? Atau manager lain? Atau paling buruk jika kau digoda penggemar yang mengira kau artis? Bagaimana?"

"Mana mungkin? Apa wajahku terlihat seperti artis?"

"YA! bahkan lebih cantik dari Belle!"

"ayolah! Kenapa tidak katakan Romeo atau aladin atau siapapun yang tampan?"

"Jadinya aku berbohong Lu."

"sshhh!"

Jin kemudian tertawa kecil, lebih dulu keluar dari mobil untuk membukakan pintu mobil sahabatnya yang cantik "Sudah selesai waktu mengeluhnya? Jadi silakan keluar nona Lu!"

Luhan menggerutu dikatakan nona, tapi tangannya tetap menyambut uluran tangan Jin, detik berikutnya mereka berjalan memasuki agensi dengan tangan yang bertautan. Dan bukan Seokjin namanya jika tidak berbuat jahil pada Luhan, disaat Luhan ingin melepas genggaman tangannya, disaat yang sama pula dia menahannya sampai beberapa trainee yang Luhan kenal sebagai anak emas Jin berbisik seperti menggosipkan mereka.

"Mau sampai kapan kau menggenggam tanganku?"

"Sampai ke pelaminan, boleh?"

Pletak!

Tangannya yang lain meluncur bebas memukul kepala udang temannya, lalu Jin meringis kesakitan hingga refleks melepas genggaman jemari Luhan di tangannya "KENAPA SUKA SEKALI MEMUKUL KAU ANGGOTA TIM GULAT?"

"Karena mulutmu besar seperti gua beracun. Telingaku sakit mendengarnya!"

"ish! Tega!"

Pria berlesung pipi itu menyuarakan sikap kesalnya, kemudian dia merajuk lalu melenggang pergi meninggalkan Luhan begitu saja "Mau kemana? Meninggalkan aku begitu saja?"

"….."

"Seokjin!"

"….."

"JIKA MERAJUK AKU TIDAK AKAN MEMBANTU SELEKSI ARTISMU HARI INI!"

Tap!

Ancaman Luhan selalu on point, Jin selalu dibuat kalah telak. Oleh karena itu dia terpaksa berhenti merajuk, segera berbalik untuk membungkuk sebungku-bungkuknya pelayan pada majikan "Aku akan segera kembali Tuan muda. Hanya tunggu sebentar dan berhenti mengancam."

Luhan terkekeh, membalas sindiran Jin dengan mengangkat dua ibu jarinya "Baiklah! Tuan muda akan menunggu di kafe. Satu jam, jangan membuatku menunggu lama!"

"ARASEO!"

Setelah menghentak kakinya, Jin pergi memasuki lift, meninggalkan Luhan yang masih tertawa sampai suara seseorang terdengar memanggil namanya "Manager Xi?"

Jelas punggungnya tersentak mengenali suara siapa yang sedang menyapanya. Suara yang paling dihindarinya beberapa hari ini karena insiden pertemuan mereka yang terakhir begitu membuat canggung status serta posisi mereka sebagai seorang atasan dan bawahan atau sebagai dua pria yang merusak hubungan dua sahabat masing-masing.

Matanya masih terpejam erat, berkali-kali menenangkan diri untuk berbalik arah dan bertatapan langsung dengan sahabat kekasih sekaligus pria yang pertama yang membuat Sehunnya merasa dikhianati sebagai seorang sahabat "Presdir Park."

Entah mengapa dibanding pertemuan awal mereka, Chanyeol tersenyum kali ini. Menampilkan sekilas lesung pipinya untuk menatapnya sendu entah mengapa "Bisa kita bicara?"

Ragu, namun tak bisa menolak Luhan menjawab "y-Ya tentu saja Presdir Park."

.

.

Dan disinilah mereka, di kafe yang sengaja disediakan Yunho dan Chanyeol untuk para artis, trainee dan staff JYC'ent. Memesan dua cup americano yang sudah disajikan untuk keduanya. Untuk Luhan, jujur dia mengutuk posisi canggung antara dirinya dan Chanyeol. Bertanya-tanya ucapan kasar apalagi yang akan dilontarkan sahabat kekasihnya hingga berharap Jin segera datang dan membawanya pergi dari tempat mengerikan ini.

Berbeda dengan Chanyeol, dia bisa menyadari bahwa Luhan terlihat ketakutan karena posisi mereka saat ini, namun rasanya salah jika dia terus membiarkan Luhan ketakutan sementara dia bukanlah orang yang tepat yang bisa disalahkan atas semua kesalahapahaman yang terjadi di antara mereka semua.

"Manager Xi?"

"Luhan saja Presdir Park."

Chanyeol tersenyum lalu membalas jawaban Luhan "Kalau begitu panggil aku Chanyeol."

"Tidak mungkin, mau bagaiamanapun anda adalah seorang atasan."

"Kau memanggil Sehun menggunakan namanya."

Luhan kembali tertunduk, ditautkan dua jemar miliknya di bawah meja sementara Chanyeol terus mengatakan hal-hal yang membuatnya begitu salah tingkah dan tidak tahu harus melakukan apa "Baiklah aku tidak akan membahasnya lagi, aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu."

"Ada apa?"

Tanpa ragu sahabat kekasihnya itu tersenyum, menyesap sekilas americano yang dipesan untuk mengatakan "Aku minta maaf atas sikapku padamu satu minggu yang lalu."

"Presdir Park?"

"Harusnya aku tidak memaksamu untuk meninggalkan Sehun, itu sangat kekanakan. Aku hanya-…." Dia terdiam sejenak lalu kembali melanjutkan ucapannya, terdengar lirih kali ini "Itu karena aku mengkhawatirkan Baekhyun."

Kali ini Luhan yang tersenyum pahit, mau bagaimanapun semua keadaan ini tak lepas dari hubungannya dengan Sehun, semua yang Chanyeol khawatirkan juga dirasakan olehnya. Yang membedakan hanya Luhan sudah memutuskan untuk menjadi egois sementara Chanyeol masih berusaha mengembalikan Baekhyun pada Sehun.

Perlahan Luhan mengangkat wajahnya, memberanikan diri untuk menatap Chanyeol lalu mengatakan hal yang begitu ingin ia katakan sejak mengetahui jenis hubungan yang dimilikinya dengan Baekhyun adalah lebih dari dua orang yang saling mengenal "Aku juga mengkhawatirkan Baekhyun, tapi daripada dengan Sehun, aku rasa Baekhyun lebih bahagia saat bersamamu."

"Benarkah?"

"Ya, aku bisa melihatnya. Bahka disaat dia tidak mengatakan apapun tentang hubungannya denganmu, aku bisa melihatnya. Dia terlalu bahagia walau saat itu Sehun adalah kekasihnya."

"Jadi kau tahu hubungan kami?" Chanyeol terkejut dibalas anggukan singkat oleh Luhan "Saat kali pertama kalian berdua kembali dari Paris, di bandara, aku bisa melihat interaksi tak lazim dari kalian berdua. Kalian terlalu intim saat itu."

Wajah Chanyeol memucat seiring dengan jawaban Luhan, membiarkan Luhan mengatakan apapun yang ingin dikatakannya sampai rasanya ucapan terakhir berhasil membuat Chanyeol terdengar dan terlihat seperti seorang penghianat.

"Di apartement Baekhyun, itu adalah kali pertama Sehun mengetahui bahwa kau, sahabatnya, memiliki hubungan dengan Baekhyun, kekasihnya. Dia menangis hebat saat itu, hatinya terluka bukan karena Baekhyun mencintai pria lain, tapi karena pria lain yang dicintai Baekhyun dan mencintai kekasihnya adalah sahabatnya, kau."

"tidak…Tidak mungkin! Jika Sehun mengetahui hubungan kami, kenapa dia hanya diam dan tidak melakukan apapun padaku?"

"Itu karena aku memohon padanya, tak lama setelah kalian menghianati pasangan kalian masing-masing. Aku dan Sehun, kami berdua terjerat dosa yang sama."

"gila, Ini semua terlalu gila!"

"Jadi katakan padaku, apakah cinta bisa disalahkan saat dia mendatangi hati yang lain? Tidak Presdir Park, hati tidak bisa disalahkan. Tidak hatimu, hatiku, hati Sehun atau Baekhyun sekalipun. Kita hanya mencintai orang yang salah sebelum menemukan orang yang tepat. Ketahuilah tidak ada yang berkhianat di antara kita. Aku mencintai Sehun dan kau mencintai Baekhyun. Tidak bisakah seperti itu saja?"

Chanyeol tertunduk beberapa saat, menikmati semua ucapan Luhan untuk bergumam sangat lirih "Aku rasa tidak bisa."

"Ada apa Presdir Park?"

"Sejak pertemuan terakhir kita di restaurant siang itu, aku tidak bisa menemukan dimana Baekhyun berada. Dan daripada mencari dimana Baekhyun, aku justru datang menemui Kyungsoo."

Sontak ketegangan sangat terlihat di wajah Luhan, bagaimana tidak dia menjadi tegang dan pucat, karena saat Kai sedang berusaha untuk kembali bersama Kyungsoo dan calon buah hati mereka, Chanyeol justru datang menemui adiknya, hal ini cukup memancing kemarahan Luhan mengingat dari semua hal yang sudah diperjuangkan Kyungsoo, rasanya tidak pantas jika Chanyeol tiba-tiba datang dan menawarkan lagi hatinya.

Sebagai seorang kakak dia jelas menunjukkan kemarahannya, ditatapnya Chanyeol tak berkedip untuk memastikan bahwa hal gila yang dilakukannya tidak menyakiti adiknya sama sekali "Apa yang anda bicarakan? Menemui Kyungsoo? Adikku?"

Chanyeol tersenyum lirih lalu mengangguk sebagai jawaban "Dua hari yang lalu, aku mengunjunginya di sekitar Gwangjin."

Mengetahui Gwangjin adalah rumah dan restaurant kecil tempat ibunya, Kyungsoo dan Jaehyun menetap membuat tangan Luhan terkepal erat, entah mengapa dia begitu kesal lalu tanpa sadar mendesis "Berani sekali kau menemui Kyungsoo di tempat ibuku."

"Aku tidak memiliki pilihan lain, aku merindukannya tapi dia menolak kedatanganku."

Kepalan tangan Luhan perlahan membuka untuk bertanya-tanya maksud dari ucapan Chanyeol "Apa maksudmu? Apa kalian bertengkar?"

"Tidak."

"Lalu?"

Luhan bisa melihat ada sebulir air mata yang jatuh cepat membasahi mata orang nomor dua di JYC'ent. Bertanya-tanya apa yang terjadi namun tak mengusik harga diri Chanyeol sebagai seorang pria yang menangis karena hatinya disakiti "Secara baik-baik, Kyungsoo mengakhiri hubungan kami."

"….."

"Dia juga mengatakan tidak ada yang perlu bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya, jika dia harus membesarkan bayinya seorang diri, dia akan melakukannya. Dia terlihat bahagia tinggal bersama ibunya."

Luhan memilih menatap ke arah jendela, melihat beberapa orang yang berjalan hilir-mudik dengan tujuannya masing-masing, dia juga sengaja tidak melihat ke arah Chanyeol dan membiarkan sahabat kekasihnya itu tertunduk cukup lama, tidak berniat mengganggunya sampai suara paraunya terdengar bertanya "Apa menurutmu aku masih bisa mengejar cinta Baekhyun? Maksudku, dia terlihat sangat menginginkan Sehun kembali padanya."

Luhan bisa melihat Jin sedang berjalan mendekati kafe, itu artinya dia bisa terbebas dari segala percakapan menyiksa dengan Chanyeol sesaat lagi. Tapi ketika pertanyaan Chanyeol terdengar begitu lirih maka rasanya salah jika Luhan tak memberi jawaban untuk mengatakan "Lakukan apa yang diinginkan hatimu Presdir Park, kejarlah cinta selain milik Kyungsoo. Katakanlah aku jahat disini, bukankah itu artinya Baekhyun kita sedang menderita? Hatinya sedang terluka? Datang dan temuilah dia, tunjukkan jika kau benar-benar peduli pada sahabatku, tidak, mungkin aku bukan sahabatnya lagi. Hanya hibur dia disaat aku tidak bisa melakukannya, saya permisi."

Tak lama Luhan berdiri dari kursinya, berjalan meninggalkan Chanyeol untuk mendapati Jin yang kini menatapnya cemas "Luhan? Ada apa? Kau menangis?"

Alih-alih menjawab Luhan hanya berjalan lurus mendekati sahabatnya, memeluknya erat dan enggan menunjukkan wajahnya untuk berbisik "Bawa aku pergi darisini."

Situasinya benar-benar membuat Jin bingung, dia bisa melihat tak jauh dari mereka Presdir Park sedang tertunduk, lalu dipelukannya entah mengapa Luhan sedang menangis. Ingin rasanya dia bertanya, tapi kemudian cengkraman Luhan di punggungnya semakin kuat dan mengharuskannya mengangguk lalu memenuhi keinginan sahabatnya "Baiklah, kita pergi." Tak lama Jin membawa Luhan menjauh dari pimpinan agensinya, membiarkan benaknya dipenuhi pertanyaan asal Luhan baik dan tidak terisak lagi seperti saat ini.

.

.

.

.

.

.

"whoa…Kenapa kisah cintamu menjadi begitu rumit? Maksudku kau benar-benar menjalin hubungan dengan Presdir Oh?"

Slurrpp….

Yang sedang dibombardir seribu pertanyaan oleh sahabatnya lebih memilih menyesap habis bubble tea coklatnya. Tak menjawab apapun setelah menjelaskan panjang lebar dan hanya fokus pada bubble nya yang masih tersisa di dasar cup yang berada di tangannya.

"Lu?"

Slurrp…

"Jika tidak menjawab, aku pergi." Jin mengancam, biasanya Luhan tidak peduli. Tapi hari ini dia tidak ingin sendiri jadi rasanya dia tidak memiliki pilihan lain selain menjawab pertanyaan sahabatnya "Ya, aku kekasih Sehun."

"Kau tahu tidak?"

"Apa?"

"Hatiku seperti disengat listrik, sakit."

"Kenapa?"

"Aku cemburu idiot!"

Luhan berhenti menyeruput bubble di cup large miliknya untuk bertanya polos pada pria tampan yang kini menatapnya dengan bibir menggembung "Sejak kapan kau menyukaiku?"

"ayolah! Aku sudah berkali-kali mengatakan menyukaimu!"

"Benarkah?"

"hahah~ jadi selama ini aku ditolak?" katanya berujar pahit untuk mendapat pertanyaan "Apa?" dari si mahluk tak berpesaaan macam sahabatnya.

"Tidak, aku hanya mengatakan percuma bicara dengan otak rusa sepertimu, bebal!"

"Yasudah."

Gemas, rasanya Jin ingin memukul kepala Luhan namun berakhir menepuk gemas surai si pria cantik yang terlihat sangat menggemaskan di depannya "ish! Jika sudah menjadi kekasih Presdir Oh, setidaknya kau harus belajar peka pada situasi."

"Memangnya aku tidak peka?"

"Kepekaanmu lebih parah dari monster yang tidak memiliki hati."

Luhan membuat tanda o dengan bibir mungilnya, kembali menyesap bubble nya lalu bertanya pada Jin "Apa mood Presdir Park belakangan ini baik?"

Slurrp..

Kini giliran Jin yang menyesap bubble nya, mengangguk sebagai jawaban lalu berujar menjawab "Aku rasa moodnya baik. Ada apa?"

"Tidak, aku hanya bertanya."

"Dan ya, hari ini aku tidak mendapatkan lagi data baru dari trainee. Aku sibuk menenangkan bayi rusa sampai lupa memiliki pekerjaan."

Jin mengeluh dan meletakkan wajahnya di atas meja, membuat gerutuan terdengar dari Luhan yang kini mengeluarkan sebuah usb untuknya "Ini untukmu."

"Apa ini?"

"Kau bilang harus mendapatkan paling tidak enam trainee untuk debut baru, aku rasa kau bisa mempertimbangkan nama-nama yang berada di usb ini. Mereka berbakat, hanya sayang tidak berniat bergabung di OSH'ent."

"Kenapa? Ah, karena mereka tahu agensimu itu hanya mementingkan grup besar. Aku benar kan?"

"hahaha…Aku simpan lagi usb milikku."

Luhan sudah memasukannya lagi ke dalam tas, tapi saat tangan Jin menggenggam tangannya maka wajah konyolnya kembali terlihat "eyy, jangan keterlaluan. Aku hanya bercanda, berikan padaku Luhan cantik, bukan, Luhan tampan."

"Kau bermasalah dengan mulutmu."

"Dan kau bermasalah dengan sikapmu."

"Jinna!"

"araseo, mianhae. Aku kalah jadi berikan padaku, ya ya ya?"

Luhan berdiri dari kursinya, mengerling Jin untuk mengatakan "Nanti setelah kau mengantarku kembali ke agensi, aku akan memberikannya padamu."

"sssh…Dia tahu akan kutinggalkan setelah aku mendapataka data miliknya. Ha ha ha. Rusa licik!"

"Aku mendengarnya Jin."

Manager pencari bakat JYC'ent itu pun hanya bisa terkekeh, lalu mengikuti Luhan berjalan ke arah mobil tanda dia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti "si nyonya" tukang ancam seperti sahabatnya "Baiklah, baiklah, kau selalu menang tidak peduli apa taruhan kita."

Sementara Luhan sudah duduk manis di dalam mobilnya, maka si pemilik mobil harus membayar beberapa makanan yang belum lama mereka pesan, menatap miris pada dompetnya untuk menyusul Luhan yang telah menunggu.

BLAM!

"Lain kali kau yang bayar, aku tidak-…..Luhan? Kau baik-baik saja?"

Terang saja wajah Jin ketakutan saat melihat Luhan meringis dengan memegang kuat kepalanya, si pria cantik disampingnya bahkan tiba-tiba berkeringat sementara dia bersumpah satu menit yang lalu Luhannya masih baik-baik saja.

"Lu? Kau baik-baik saja?"

"Obatku. tas."

"Obat?"

"CEPAT!"

Jin panik, dia mencari dimana tas Luhan, merogoh ke dalamnya untuk menemukan sejenis pain killer yang dimiliki Luhan entah sejak kapan, dia buru-buru mengambil satu pil obat untuk diberikan cepat pada sahabatnya "Ini minumlah."

Luhan mengambil dengan tangan gemetar, mengambil sebotol air mineral milik Jin untuk menenggak cepat obat penghilang rasa sakitnya "haaah~"

"Luhan? Hey kau baik-….sial! Kita ke rumah sakit!"

Saat Jin memakaikan seatbelt, Luhan pasrah. Namun ketika kalimat rumah sakit disebutkan, sang manager panik. Dia kemudian menggenggam lengan Jin untuk menatap memohon pada sahabatnya "Aku baik, sungguh."

"Tapi kau kesakitan."

"Hanya kepalaku yang sakit Jin."

Jika dipikir-pikir semenjak hubungannya dan Baekhyun menjadi renggang, Luhan sudah tidak pernah datang untuk memeriksakan diri lagi terkait bekas pengangkatan tumor kecil di kepalanya, ya, biasanya Baekhyun yang menemani, tapi saat hubungan mereka menjauh, terkadang Luhan sangat tertekan dan seluruh kepalanya tiba-tiba sakit setiap kali mengingatnya.

Beruntung dia bersama Jin, bukan bersama Sehun, karena entah apa yang akan dia lakukan jika Sehun mengetahui kondisinya. Mungkin Sehun akan meninggalkanku, terkadang Luhan memiliki masalah dengan cara berpikirnya, dia selalu merasa akan ditinggalkan jika kondisinya menyedihkan, ya, karena alasan itu pula dia hanya ingin terlihat sehat tanpa harus membuat siapapun termasuk Sehun mengasihani dirinya, tidak akan pernah.

"Aku akan tetap mengantarmu ke rumah sakit."

Buru-buru Luhan memegang kuat lengan Jin, menatapnya memohon untuk mengatakan "Aku akan melakukannya sendiri, sekarang kita kembali ke agensi. Ya?"

"Lalu kapan kau akan pergi ke rumah sakit?"

"Secepatnya."

"….."

"Jinna…"

"…."

Jin mengabaikan semua penuturan Luhan, yang dia lakukan hanya menyalakan mesin mobil lalu memasang kasar seatbelt miliknya "Jika aku melihatmu kesakitan lagi! aku bersumpah akan langsung membawamu ke rumah sakit! Dengan atau tanpa persetujuanmu, oke?"

BRRMMM…

Luhan tersenyum lega, dia melepas genggaman di lengan Jin untuk bersandar lelah di kursi samping kemudi "Oke."

"Sekarang tidurlah."

Perlahan rasa sakitnya menghilang, digantikan dengan rasa lemas namun tak Luhan tunjukkan, dia hanya mengangguk dengan mata terpejam, selebihnya bergumam "Aku akan tidur." Sebelum benar-benar tidur karena rasa lelah di tubuhnya begitu terasa.

.

.

.

.

"Bagaimana keadaan Baekhyun?"

Sementara jika Luhan sedang kesakitan karena memikirkan Baekhyun, maka ditempat yang sama sahabatnya juga terlihat sangat menyedihkan dengan kondisinya. Baekhyun sudah membuka matanya, tapi yang mengerikan dia masih enggan untuk memasukkan isi makanan ke dalam perutnya dan lebih memilih diam sesekali bertanya "Dimana Luhan? Kenapa dia tidak datang?"

"Masih sama Tuan besar, Tuan muda menolak semua makanan dan hanya ingin bertemu dengan Luhan."

"brengsek! Apa dia tidak mengerti jika kondisinya seperti ini disebabkan karena pria sialan itu?!"

"….."

"AKU MAU BERTEMU DENGAN LUHAN!"

Tangan tuan Byun terkepal saat jeritan putranya terdengar sampai ke lantai bawah. Dia sudah memikirkan segala cara untuk menyadarkan putranya, tapi sebanyak apapun dia berbicara tentang kejahatan Luhan maka sebanyak itu pula Baekhyunnya akan tetap berteriak ingin bertemu dengan pria rendahan seperti seorang Xi Luhan.

"Apa kau sudah menemukan orang itu?"

"Mereka masih dalam perjalanan ke-…"

BRAK!

"SIAPA KALIAN BERANI SEKALI MEMBAWAKU KESINI?"

Sementara pria tua berperawakan lusuh dan mabuk sedang berteriak marah, maka senyum puas terlihat di wajah Tuan Byun, dia mengerling anak buahnya yang berhasil menyelesaikan pekerjaan untuk mengenali bahwa pria sampah yang sedang berlutut di hadapannya adalah ayah kandung dari pria yang sudah membuat Baekhyunnya begitu menderita.

"Do Hansung?"

"Siapa kau? Kenapa aku ada disini?"

"Karena aku memiliki pekerjaan untukmu!"

"tsk! Berapa kau membayarku sampai anak buahmu harus menyeretku ke tempat sialan ini?"

"Seratus juta won untuk satu kali pekerjaan."

"m-Mwo? Seratus juta won?"

"Ya, kau mau?"

"TENTU SAJA! APA YANG HARUS AKU LAKUKAN!"

Tuan Byun menyeringai untuk mengatakan "Mudah, hanya buat anakmu menderita sama seperti dia membuat anakku menderita."

"Anakku?"

"Ya, bajingan kecil itu, Xi Luhan."

.

.

.

.

.

.

"Paman?"

Setibanya kembali di agensi tempatnya bekerja, orang yang pertama ditemuinya adalah Paman Lee, jadi wajar jika Luhan terus tersenyum mengingat wajahnya yang pucat dan kondisinya yang begitu lemas hari ini masih begitu mendominasi.

"eoh, Luhan? Kebetulan sekali. Paman ingin bicara denganmu."

"Denganku? Ada apa?"

"Aku dengar lusa nanti tuan muda akan menemui ibumu. Apa benar?"

"ah, Itu…"

"Aku sudah mengatakannya berkali-kali dan kau masih bertanya pada Luhan? Kau keterlaluan paman, sungguh. Hey sayang, sudah kembali."

Awalnya risih saat Sehun memeluknya dengan hanya satu tangan, terlebih saat tangannya yang lain mengangkat dagu lalu mengecup lama bibirnya, Luhan dibuat salah tingkah karena tatapan beberapa staff dan artis yang melihatnya seolah bertanya-tanya apa mereka memiliki hubungan? Dan jelas, itu adalah hal menganggu karena tidak ada satu pun dari staff agensi maupun artisnya yang mengetahui hubungan khusus yang terjalin antara dirinya dan Sehun.

"Presdir Oh. Saya harus kembali bekerja?"

"Kenapa bicaramu formal?"

Luhan tertawa canggung, melepas pelukan di pinggangnya untuk menjaga jarak dengan sang CEO yang menampilkan wajah kesalnya saat ini "Ini masih jam kerja Presdir Oh."

"Lalu?"

Mata Luhan melirik ke kanan dan ke kiri, berusaha mati-matian memberi kode pada kekasihnya walau hanya mendapatkan jawaban terlampau bodoh dari pria yang benar-benar kekanakan saat berada di sekitarnya "Banyak yang melihat kita."

"ah, Karena itu?"

"i-Iya."

"Baiklah, aku rasa aku tidak memiliki pilihan lain."

"Apa?"

Selagi Luhan bertanya, maka pengurus Lee hanya bisa mengusap dahinya karena sangat mengetahui apa yang akan dilakukan tuan mudanya setelah ini "PERHATIAN UNTUK KALIAN SEMUA!"

"Sehun?"

Sang pengasuh hanya bisa terkekeh seraya berguman "Dia mulai lagi." membuat Luhan memiliki firasat buruk dan benar saja, Sehun kini menarik kencang lengannya lalu sengaja menciumnya di depan umum untuk kembali memberi pengumuman.

"AKU DAN MANAGER XI ADALAH SEPASANG KEKASIH, KAMI JUGA SUDAH MERENCANAKAN PERNIKAHAN DALAM WAKTU DEKAT, JADI JIKA KALIAN MELIHAT AKU BERMESRAAN DENGANNYA, HARAP TIDAK BERBISIK APALAGI MENCEMOH KEKASIHKU! KALIAN DENGAR?"

"oh Sehun kau benar-benar."

Berkali-kali Luhan memukuli dada Sehun, wajahnya sudah semerah tomat karena terlalu malu. Belum lagi dia tidak sengaja melihat kehadiran Kai yang sedang membawa dua cup kopi dari kafe agensi. Membuat suasana semakin canggung sementara Sehun terus berteriak seperti bocah tujuh belas tahun yang menemukan cinta pertamanya.

"CUKUP JELAS PEMBERITAHUAN DARIKU?"

Beberapa dari mereka tertawa merona, seperti iri, lalu detik berikutnya seluruh trainee yang mengenal Luhan bertepuk ria seraya mengatakan "Selamat presdir Oh, selamat manager Xi." pada dua kekasih yang baru saja mengumumkan hubungan mereka dan rencana pernikahan yang akan segera dilangsungkan.

Luhan jelas bersembunyi di dada Sehun, memeluknya erat sementara wajahnya disembunyikan di dada kekasihnya. Sungguh, jika dia bisa memaki, dia akan melakukannya saat ini, tapi kemudian ucapan selamat terdengar dari seluruh staff, trainee, dan artis yang melihatnya, maka bohong jika Luhan tidak bahagia.

Kesalnya hilang digantikan rasa bahagia. Dia juga bersyukur karena banyak yang memberi dukungan, terlebih saat suara yang dulu menjadi favoritnya di pagi dan malam hari terdengar mengucapkan "Selamat Luhan, Selamat Presdir Oh." Untuk hubungannya dengan Sehun, maka rasanya Luhan sudah memiliki seluruh keiginan yang selalu diam-diam dia doakan.

Perlahan dia melepas pelukan Sehun untuk melihat punggung Kai menjauh, rasanya ini seperti ucapan perpisahan sesungguhnya, perpisahan yang tak bisa dielak lagi olehnya atau Kai, Sehun memperjelas bagaimana hubungan Luhan dan Kai dengan menegaskan bahwa Luhan miliknya. Dan terimakasih untuk rasa cinta Sehun yang begitu besar karena untuk kali pertamanya, Luhan merasa begitu bahagia diakui sebagai seorang kekasih, ya, biasanya dia hanya diam dan membiarkan beberapa orang mengetahui hubungannya dengan Kai.

Berbeda dengan Sehun, dia memperjelas semuanya, membuat keberadaan Luhan begitu diakui hingga tanpa sadar kini dia berjinjit mencium bibir kekasihnya untuk mengatakan "Gomawo Sehunna."

"Kau senang?"

Tanpa ragu Luhan kembali memeluk kekasihnya, namun tak dipenuhi ketakutan kali ini, dia pun mengangguk lalu dengan yakin mengatakan "Sangat, aku sangat bahagia. Terimakasih."

.

.

.

.

.

.

.

Bahagiaku disini, di dekatmu

.

.

.

.

"Haaah~ aku tidak percaya ini!"

"Apa?"

Dia menoleh ke samping kiri, melihat wajah kekasihnya untuk kemudian menoleh ke samping kanan, menatap mantan kekasihnya "aku benar-benar tidak percaya situasi ini."

Terang saja Luhan menghela dalam nafasnya, karena diluar dugaan dia bisa menghabiskan waktu tiga jam berada dalam satu mobil dengan kekasih dan mantan kekasihnya. Tak ada yang bicara selama tiga jam perjalanan menyiksa, beruntung Sehun bisa mengendalikan amarahnya sementara sang mantan kekasih sedang fokus menyiapkan kalimat untuk bicara dengan Kyungsoo.

Hingga sampailah mereka tepat di toko kecil milik ibunya, memperhatikan dari jauh sementara tak hentinya Luhan menghela nafas menebak hal gila apa yang bisa terjadi di rumahnya saat ini.

"Kalian berdua."

"Kami kenapa?"

Kai yang bertanya lalu dibalas tatapan tak suka dari Sehun. Keduanya bahkan sempat bertatapan sengit sampai Luhan lebih dulu memperingatkan Sehun agar tidak melakukan hal berlebihan hanya karena Kai bertanya padanya.

"Kalian berdua berhentilah membuatku canggung. Oke?"

"Memang kami melakukan apa?" Sehun bertanya diiringi anggukan setuju oleh Kai "Sepanjang perjalanan aku dan Presdir Oh hanya diam tak mengeluarkan satu kata pun."

"Ya, tapi aura bersama kalian berdua sungguh menyebalkan."

"Wae? Kau masih berdebar di sampingku?" Kai menggoda Luhan tepat di samping kekasihnya. Jadi wajar jika Luhan membulatkan matanya sementara Sehun langsung menarik si mungil ke pelukannya. Lagi-lagi mereka bertatapan sengit sementara wajah Luhan dibenamkan paksa oleh sang kekasih di dadanya.

"Jaga bicaramu Kim Jongin!"

"Aku hanya bertanya!"

"Kau-...!"

Luhan kembali berdiri di tengah-tengah kekasih dan mantan kekasihnya, menatap tak percaya pada dua pria yang selalu membuatnya berada pada posisi serba salah untuk memperingatkan baik kekasih maupun mantan kekasihnya dengan tatapan tegas tak bisa dibantah "Sehun cukup dan Kai jangan berulah."

"Aku tidak menyukainya Lu!"

"Oh percayalah Presdir Oh, aku jauh lebih tidak menyukaimu!"

"Teruskan saja keributan kalian, Aku akan lebih dulu masuk. Jadi terserah kalian ingin bertengkar atau bahkan saling memukul, aku tidak peduli!" katanya mengancam diiringi wajah cemas dari dua pria yang kini menempati tempat berbeda di hati Luhan.

Lagipula percuma bertengkar jika ancaman Luhan terdengar sangat mengerikan, mereka pun lebih memilih untuk menunggu dengan tenang daripada membangkitkan kemarahan si pria cantik yang kini berlari menghampiri keluarganya.

"Hey Kai!"

"Ada apa?"

Sehun tersenyum mengamati bagaimana interaksi Luhan dengan wanita berparas cantik yang ia tebak adalah ibunya. Menikmati surai cantik kekasihnya yang sedang tersenyum untuk menoleh menatap maknae dari grup yang membesarkan agensinya "Itu ibunya?"

Walau sebenarnya kesal bertanya pada mantan kekasih Luhan, Sehun tetap melakukannya. Mencoba menjadi pria dewasa sebelum bertatapan langsung dan meminta izin pada ibu Luhan untuk meminangnya sebagai istri.

"Entahlah."

Sehun mengerutkan dahinya lalu bertanya "Kau belum pernah bertemu dengan ibunya?"

"Lima tahun kami menjadi pasangan Luhan sangat tertutup mengenai keluarganya. Ditambah kesibukanku, jadi ya, aku tidak mengetahui apapun tentang latar belakang Luhanku."

"Tentang siapa?"

Malas berdebat, Kai mengoreksi ucapannya "Luhan."

"Aku terlalu sensitif mengenai status kepemilikan atas Luhan, jadi jangan menguji kesabaranku."

"Daripada sensitif kau terlihat sangat bocah untukku, Presdir Oh."

Saat mulut Sehun siap membalas ucapan mantan kekasih Luhan, maka disaat yang sama Sehun menyadari perubahan wajah Kai yang terlihat tegang, matanya membulat untuk beberapa saat, tangannya terkepal gugup hingga artis disampingnya menelan kasar air liurnya berkali-kali, tanpa alasan.

Sontak hal itu membuat Sehun penasaran, dia menoleh ke arah yang sama untuk mencari tahu apa yang membuat Kai begitu tegang sampai akhirnya wajah artisnya yang lain terlihat sama pucat, sama tegang dan sama gugup dengan si Maknae EXO.

"Ah, Kyungsoo. Lalu kenapa kau hanya diam?"

"huh?"

Sehun menunjuk ke arah Kyungsoo untuk mengatakan "Itu, masa depanmu disana. Lalu untuk apa kau hanya berdiri disini?"

Kai tertegun mendengar penuturan Sehun, lalu hatinya tiba-tiba merasa hangat saat mendengar kalimat masa depan dan wajah Kyungsoo terlihat di depannya. Sejenak dia ragu, tapi kemudian pria berkulit tan itu menyunggingkan kecil senyumnya untuk berterimakasih pada pemilik serta pemimpin tertinggi di agensi tempatnya bekerja.

"Kau benar Presdir Oh, itu masa depanku. Doakan kami."

Tak lama kakinya melangkah, berjalan lurus mendekati Kyungsoo sementara Sehun ikut tersenyum bahagia.

Ya, senyumnya hanya menunjukkan satu arti, arti yang menegaskan bahwa bersamaan dengan langkah kaki Kai yang berjalan lurus mendekati Kyungsoo, maka Luhan, sepenuhnya Luhan hanya akan menjadi miliknya, seorang.

"Ya, bahagialah. Doakan aku juga." Lirihnya tersenyum kecil lalu merentangkan tangan, menyambut kedatangan Luhan yang sedang berlari ke arahnya untuk mendekap si mungil dengan erat "Ada apa?" Katanya mengecupi lembut surai kekasihnya untuk mendapat pertanyaan singkat dari kekasihnya.

"Kau siap?"

"Untuk?"

"Ibuku, dia menunggumu."

Bohong jika jantungnya tidak berdegup kencang, nyatanya kalimat menunggu yang disampaikan Luhan jelas ditujukan untuknya, berbicara tentang masa depan dengan ibu kandung kekasihnya untuk memulai hidup baru bersama putra cantik yang telah dilahirkannya.

Ya, rasanya seperti mimpi. Tapi saat mata Luhan menatapnya penuh harap, maka segenggam keyakinan ada pada keputusannya hari ini. Keputusan dimana dia akan meminta secara resmi agar ibu kekasihnya merestui dan merelakan putra tercintanya untuk mengikat janji dengan ikatan pernikahan sebagai fondasinya.

"Tentu, aku tidak sabar bertemu dengan ibumu." Katanya mengecup bibir Luhan untuk menenangkan sejenak hatinya, lalu saat hatinya memiliki sedikit keberanian untuk mengutarakan maksudnya, Kini tanpa ragu dia menggenggam jemari kekasihnya. "Ayo kita temui ibumu."

.

.

.

.

Baik Kai dan Sehun baru saja menginjakan kaki mereka di rumah Luhan dan Kyungsoo yang terbilang kecil untuk ukuran tuan muda dan artis seperti keduanya. Namun entah mengapa rumah sekecil ini bisa memberikan kehangatan luar biasa yang membuat bibir mereka tak hentinya tersenyum.

"JAEHYUNNA TURUN NAK! KITA KEDATANGAN TAMU!"

"Mungkin Jaehyun tidur Ma."

Kyungsoo memberitahu dibalas anggukan setuju dari Luhan "Eomma, berhenti memanggil Jaehyun, dia lelah."

"Seharian dia hanya tidur Lu, lagipula dia belum bertemu denganmu."

Rasanya Sehun tidak perlu bertanya darimana Luhan mendapatkan sifat keras kepala dan kecantikan yang begitu mempesona, karena saat perdebatan kecil yang dilakukan kekasih dan ibunya terjadi, dia seperti melihat cermin dan bayangan yang sedang bertengkar. Refleks, dia tersenyum walau hatinya sedang berdebar kencang karena terlalu gugup.

"Kai, sebaiknya kau tunggu disana."

Luhan menunjuk tempat yang berada di depan kamar Kyungsoo, menatap Kai penuh arti sementara wajah Kyungsoo berubah pucat menyadari kemana Luhan meminta Kai untuk menunggu "Aku akan bicara pada Kyungsoo, tunggulah disana." Katanya meyakinkan dibalas anggukan kecil oleh ayah dari calon keponakannya. Kai kemudian berjalan menuju tempat dimana Luhan memintanya menunggu lalu menunggu Kyungsoo dengan tenang.

"Dan kau sayang, tunggu aku di ruang tamu. Kita akan bicara setelah adikku turun."

Sama seperti Kai mengikuti ucapan Luhan, mak Sehun tanpa ragu berjalan ke arah ruang tamu. Lagipula dia terlalu gugup untuk berbicara langsung dengan ibu Luhan, jadi wajar jika dia menghela lega nafasnya karena Luhan memberikan sedikit waktu tambahan untuknya mempersiapkan diri.

"Baiklah." Sehun sempat menatap lama sosok wanita cantik yang sedang memanggil putra bungsunya. Dan entah mengapa tiba-tiba dia teringat mendiang ibunya. Setipis senyum lirih pun dia sunggingkan sementara dia menikmati teriakan calon ibu mertuanya yang sedang memanggil putra bungsu di keluarga kecil kekasihnya.

"Jey! CEPAT TURUN!"

"Bertaruh padaku dia tidak akan turun."

Mengabaikan rasa gugupnya, Kyungsoo berbisik sekilas di telinga Luhan, terdengar sangat yakin namun tak lama suara teriakan ibunya terlalu mengancam dengan mengatakan "TURUN ATAU TIDAK ADA GAME SELAMA DUA BULAN!"

TAP

TAP

TAP!

Suara tangga kayu di rumah sederhana itu tiba-tiba sedikit bergoncang, terdengar seseorang turun dengan terburu-buru seolah akhir dunianya telah tiba bersamaan dengan ancaman dari sang ibu.

"EOMMA! AKU SUDAH DATANG!"

Dan tak lama sosok remaja tampan yang tingginya sudah mengalahkan dua kakaknya terlihat, dia hanya memakai kaos oblong putih dipadu celana pendek selutut untuk menatap horor pada ibunya yang kini tersenyum santai mengerling dua putranya yang lain.

"Lihat kan? Sangat mudah memanggil adik kalian."

"Ma, kau luar biasa."

"daebak!"

Sementara Luhan dan Kyungsoo terperangah maka si bungsu terlihat kesal, untuk sesaat dia menatap kesal lalu tak lama si pria berlesung pipi tersenyum melihat kakak tertuanya datang dan sedang berdiri tak jauh darinya "Hyung? Kau pulang?" katanya berjalan mendekati Luhan dan memeluk erat tubuh mungil kakaknya.

"eoh, Tidak senang melihatku?"

"yang benar saja! Aku rela menukarkan apapun agar kau tinggal bersamaku!"

"Apapun?"

"Apapun."

"Termasuk mobilku yang sudah di modif menjadi mobil balap?"

Jaehyun panik, dilepasnya segera pelukan Luhan untuk menatap innocent pada kakak tertuanya "he he he."

"Apa?"

"ssst, eomma."

"Aku harus memberitahu eomma?"

"hyungjanganbicarakanbalapmobildisini!"

"Tidak dengar."

"hyuuuung…"

Ekspresi kesukaan Luhan adalah saat melihat adiknya merajuk, jadi saat Jaehyun terlihat sangat putus asa karena ancaman yang dia lakukan, Luhan hanya tertawa kecil seraya mengusap surai tampan milik adik bungsunya untuk memberi satu peringatan mutlak pada Jaehyun "Jika kau terluka, sekali saja terluka, aku benar-benar murka. Dengar?" katanya memberi peringatan pada Jaehyun untuk mengerling Kyungsoo yang masih enggan berdekatan dengan ayah dari calon bayinya.

"Dan kau, sudah waktunya kau bicara dengan Kai. Ikut aku!"

"Luhan!"

Mengabaikan ketakutan Kyungsoo, Luhan terus berjalan lurus membawa adik tirinya ke tempat Kai menunggu, sedikit mencengkram jemari Kyungsoo lalu membawanya masuk ke tempat Kai sedang menunggunya "Luhan apa yang kau lakukan?"

Kai bertanya bingung sementara tatapan Luhan menjadi dingin karena situasi "Ini priamu, aku membawanya padamu. Jadi berhenti menyakitinya dan hanya jaga dia dengan hidupmu! Kau dengar?"

Luhan menarik kursi untuk Kyungsoo lalu memaksa adiknya untuk duduk. Sesaat keadaan menjadi canggung, tak ada yang bicara sampai Luhan berbisik pada Kyungsoo "Dia datang sebagai kekasihmu, calon ayah dari anakmu, jadi cobalah berdamai Soo, demi keponakanku."

"Aku belum siap untuk ini."

"Hanya bicara, jika kau tidak menyukai kehadirannya, Kai akan pergi darisini secepat mungkin."

Tawaran Luhan ternyata berhasil menarik minat dari Kyungsoo, karena saat matanya menatap wajah pria yang dengan jahatnya dia rebut dari Luhan, hati Kyungsoo bergetar haru, terkadang merasa bersalah namun rasa rindunya pada Kai jauh lebih besar.

Jadi wajar jika dia merasa sedikit lega karena Luhan tak mempermasalahkan masa lalu, namun yang menjadi pertanyaan apa dia siap? Apa Kai siap? Atau apa Luhan sudah benar-benar merelakan mereka. Beberapa pertanyaan itu terus menggema di pikiran Kyungsoo, membuatnya sesaat ragu namun tak menolak untuk mencoba berbicara dengan Kai, pria yang dia cintai, ayah dari dari calon buah hati mereka.

"Baiklah Lu."

Luhan tersenyum senang seraya menatap Kai dalam-dalam, seolah memohon agar tak lagi menyakiti Kyungsoo dan hanya menjaga buah hati mereka dengan cinta dan ketulusan "Kau akan bahagia Soo, aku janji."

Setelah memberitahu Kyungsoo, Luhan berjalan meninggalkan keduanya, berharap baik Kai maupun Kyungsoo sama-sama membuka hati lalu mencoba berdamai untuk kebahagiaan buah hati mereka. Luhan sekilas melirik ke belakang, memastikan keadaan Kai dan Kyungsoo seraya bergumam "Aku juga akan bahagia." Timpalnya dipenuhi kepercayaan diri untuk tak sengaja mendengar percakapan Sehun dan ibunya.

"Apa ini?"

Luhan bisa mendengar suara ibunya bertanya pada Sehun, sedikit menatap ke meja kecil yang biasa digunakan keluarganya untuk berkumpul dan melihat bagaimana wajah tegang Sehun saat memberikan kotak kecil berwarna gold kepada ibunya.

Dia juga bisa melihat adik kecilnya menatap ingin tahu apa yang berada di dalam kotak kecil. Sesaat semua terasa menegangkan, tak ada yang berbicara sampai terlihat Sehun memberanikan diri mengangkat kotak kecil tersebut untuk mengatakan "Di dalam kotak ini terdapat sebuah cincin untuk putra tertuamu. Bisakah?"

DEG!

Luhan bersumpah jantungnya akan melompat keluar saat mendengar apa yang berada di dalam kotak kecil tersebut, kakinya terasa kram untuk berjalan sementara disana, suara kekasihnya terdengar sangat lirih ketika memohon pada ibunya.

"Cincin?"

Sama seperti Sehun, Luhan bisa melihat wajah ibunya berubah menjadi sangat tegang, sepertinya raut tegang sang ibu bukan karena dia marah atau tersinggung, sebaliknya, matanya sudah berkaca-kaca dan entah mengapa tatapannya berharap pada Sehun. "Apa maksudmu nak?"

Sehun membalas tatapan lembut ibu kandung kekasihnya, dia membuka cincin berbalut kotak mewah yang berada di genggamannya untuk sekali lagi mengatakan "Aku ingin menikahi Luhan, putramu, bisakah Nyonya Xi?"

Tes!

Baik air mata Luhan maupun sang ibu jatuh bersamaan. Luhan tahu pada akhirnya Sehun akan mengatakan tujuannya datang menemui ibunya, dia tahu pada akhirnya Sehun akan benar-benar melamarnya. Tapi cara dia melamar? Luhan sama sekali tidak mengetahuinya.

Jadi ketika kekasihnya yang selalu dia katakan "bocah" terlihat begitu dewasa dan yakin saat melamarnya langsung dihadapan sang ibu, maka untuk kali pertamanya Luhan merasa begitu bersyukur karena bisa dicintai dengan begitu besar, seperti cinta yang Sehun berikan untuknya.

"Menikah? Dengan Luhanku?"

Tanpa ragu suara berat Sehun terdengar "Dengan Luhanmu, aku ingin menjadikannya Luhanku juga, Nyonya Xi."

Sesaat wajah ibunya tertunduk, lalu tak lama terdengar suara Jaehyun yang terlihat panik melihat bahu ibunya bergetar, terisak "Eomma! Kenapa menangis?"

Wanita cantik yang memiliki mata Luhan itu menggeleng disela isakannya, dia menepuk tangan si bungsu yang berada di bahunya untuk kemudian menatap lembut pada pria yang akan segera menjadi bagian keluarga kecilnya, bagian hidup dari putra sulungnya, Luhannya, kecintaannya, segalanya. Ibu Luhan kemudian tersenyum haru, menggenggam tangan Sehun lalu mengangguk sebagai jawaban "Jaga dia ya? Kumohon, anak itu hanya berpura-pura kuat diluar, tapi hatinya? Hatinya serapuh ranting pohon yang mudah dipatahkan."

Terlihat Sehun tertawa lalu mengangguk setuju dengan ucapan ibu kekasihnya "Kau benar nyonya, kepalaku sakit melihat sikap keras kepalanya."

"Kalau begitu biasakan."

"Pasti, mmh… Jadi? Apa lamaranku diterima?"

Ibu Luhan mendongak, menatap Jaehyun untuk meminta jawaban sebelum terlihat si bungsu juga mengangguk dengan air mata haru terlihat di sekitar matanya. Kedua ibu-anak itu saling tersenyum untuk menjawab pertanyaan calon suami dari putra dan kakak mereka "Tentu saja, lagipula anak itu terlihat sangat tergila-gila padamu."

"huh?"

"tsk! Dia yang tergila-gila padaku."

Awalnya Sehun bergumam bingung, lalu kemudian suara kekasihnya terdengar. Dia pun menoleh dan sedikit terkejut melihat kedatangan Luhan, entah sudah berapa banyak yang kekasihnya dengar, tapi rasanya dia begitu malu hingga rona merah terlihat diwajahnya untuk menyambut kedatangan si mungil ke pelukannya.

"Aku memang tergila-gila padamu."

Sehun membenarkan ucapan Luhan, merentangkan tangannya, lalu tak lama Luhan berlari ke pelukannya, mendekapnya erat "Sayang!" Luhan bergumam dengan suara bergetar, itu artinya dia mendengar semua percakapannya dengan sang ibu dan hal itu membuat wajah Sehun terasa seperti dibakar karena terlalu malu.

"Seberapa banyak yang kau dengar?" katanya berbisik dibalas dengan jawaban dari pria cantik yang sedang mengendus bau tubuhnya "Semuanya."

"Semuanya?"

"Yap! Aku menyadari kalau kau bukan bocah!"

"Bocah? Selama ini kau berfikir aku bocah?"

"Bocah menggemaskan untukku."

Niatnya mengejek Sehun, tapi kemudian si pria tampan membalas dengan membisikan kalimat tak senonoh di telinganya "Bagaimana bisa bocah membuat Xi Luhan mendesah tempat tidur? Meminta lebih untuk dijamah? Katakan padaku, bagaimana bi-…"

"SEHUN!"

Semerah kepiting rebus, itulah gambaran wajah Luhan saat ini. Jaehyun bahkan mencibir melihat kakaknya yang begitu agresif lalu mencibir "Kau yang seperti bocah, noo-na!"

"YAK!"

"Sudahlah, sudahlah. Sehun, sebaiknya kau bawa kekasihmu pergi. Dia sangat berisik jika bersama adiknya."

Sehun merangkul mesra pinggang Luhan untuk mengatakan "Baiklah Nyonya Xi, aku akan menikmati udara disini sebelum kembali ke Seoul, ya kan sayang?"

"Tidak perlu memanggilku nyonya, kau bisa memanggil eomma padaku."

"eo-eomma?"

Luhan bisa melihat wajah Sehun berubah menjadi pucat, kali ini benar-benar pucat seolah dirinya sedang mengalami hal buruk "Sayang?"

"huh?"

"Ada apa?"

Lidahnya kelu saat ibu kekasihnya mengatakan dia bisa memanggil eomma padanya. Panggilan yang selama dua puluh tahun hanya dia tunjukkan untuk mendiang ibunya kini akan kembali dia ucapkan pada ibu kekasihnya. Sungguh, rasanya Sehun lupa bagaimana rasanya memiliki seorang ibu, jadi ketika Luhan memberikan ibu untuknya, dia hanya bisa tersenyum haru seraya menatap mata cantik milik kekasihnya "Terimakasih sayang, untuk segalanya terimakasih?"

"Kenapa kau mengucapkan terimakasih?"

Sehun mengecup singkat bibir Luhan, dia kemudian berjalan mendekati Luhan versi wanita dan berbeda generasi untuk berdiri langsung tepat di depan calon ibu mertuanya. Matanya menatap sendu lalu bibirnya memanggil "eomoni."

"Ya?"

"eomma."

Ibu Luhan terlihat bingung, tapi dia tetap menjawab panggilan Sehun yang entah mengapa terus memanggilnya eomma berkali-kali "Ya nak?"

"eo-..eomma."

"Sehunna."

Kini Luhan mengerti, alasan mengapa Sehunnya terlihat begitu tegang adalah karena ibunya, Ya, dia sepenuhnya mengerti alasan Sehunnya terus menerus memanggil eomma tanpa henti. kekasihnya sedang merindukan mendiang ibunya, sangat rindu,

"hyung?"

Sementara matanya tak berkedip menatap punggung kekasihnya, Luhan membiarkan si bungsu merangkul pinggangnya. Kedua kakak beradik itu menikmati pemandangan dimana Sehun terlihat canggung memanggil eomma, sementara ibunya hanya terus menjawab Ya, saat Sehun memanggilnya eomma berkali-kali.

"Boleh aku memelukmu?"

Sehun bertanya kecil dibalas anggukan kecil dari ibu Luhan, wanita paruh baya itu bahkan lebih dulu merentangkan tangannya untuk kemudian membawa tubuh besar Sehun ke pelukannya "Biar eomma memelukmu nak."

Tubuh Sehun tersentak ketika tangan ibu Luhan melingkar di punggungnya, rasanya begitu hangat, terlalu nyaman, dia bahkan sengaja meletakkan dagunya di pundak ibu kekasihhnya dengan tangan melingkar erat membalas pelukan ibu kekasihnya "eomma."

"Ya nak?"

"Eomma."

"hhmm?"

"eomma…eomma..eomma."

"Jae."

Hati Luhan tak tega melihat kekasihnya terus meracau eomma dengan suara lirihnya, dia pun menyerah untuk memperhatikan lebih lama dan hanya memeluk si bungsu lalu bersembunyi di tubuh tinggi adik kecilnya "Kenapa hyung?"

"Aku tidak tega melihat Sehunku, dia begitu merindukan ibunya."

Jaehyun tertawa kecil, mengecup pucuk kepala Luhan untuk mengatakan "Pada dasarnya ibu kita adalah ibu idaman untuk seluruh anak di dunia."

"Kenapa bicaramu seperti itu?"

"Karena Taeyongku, dia juga selalu melakukan hal yang sama dengan yang kekasihmu lakukan."

Lalu tatapan Luhan beralih pada wajah cantik ibunya, memperhatikan lekat-lekat wajah yang terlihat kelelahan karena hidup mereka yang terlalu rumit, wajah yang setiap malam menangis namun akan tersenyum di pagi hari, terlebih saat dia berada di depan anak-anaknya, semua kesulitan yang ibunya lalui, Luhan mengetahuinya.

Jadi janji dalam hidupnya, apapun yang terjadi, tujuan hidupnya hanya untuk membuat ibunya bahagia, selamanya bahagia tanpa perlu ketakutan lagi, tanpa air mata lagi dan hanya ada wajah hangat seperti yang dia berikan untuk Sehunnya saat ini.

"aigoo…Putra tampanku bertambah lagi."

"Eomma, aku masih lebih tampan-..aww!"

Luhan menyikut perut adiknya saat menginterupis percakapan Sehun dan ibu mereka. Jaehyun kemudian mendengus kesal lalu melepas pelukannya pada Luhan "Mau marah? Mau berteriak? Hyung pastikan tidak ada uang jajan untuk mengencani Taeyong."

"eyy, tidak lucu hyung, sungguh."

Sehun mendengar pertengkaran di belakang punggungnya untuk menoleh dan menatap langsung pada calon adik iparnya "Kau tidak perlu khawatir. Aku yang akan memberikan uang jajan padamu."

"yeah!"

"Oh Se-hun."

Jaehyun memekik senang, lalu melompat memeluk calon kakak iparnya "HYUNG! CEPATLAH MENJADI KAKAK IPARKU! SEGERA!"

"Kurang dari satu minggu aku akan menjadi kakak iparmu!"

"huh?"

Raut bingung ditunjukkan oleh keluarga kecil Luhan, bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan ucapan Sehun sampai suara Luhan terdengar bertanya "Apa maksudmu?"

"mmhh…Paman dan ayahku sudah menyiapkan segalanya. Jadi, minggu depan kita akan menikah. Boleh ya eomoni?"

"MWO?"

Mengabaikan teriakan Luhan, Sehun memasang aegyo supernya pada sang ibu. Berkedip lucu untuk mendapatkan jawaban langsung tanpa dipikirkan lagi oleh ibunya "Ya tentu saja, kau boleh menikahi Luhan secepatnya.

Sehun mengerling Luhan untuk mengatakan "Aku menang." Dibalas tatapan kesal dari Luhan yang secara tak sengaja memekik "OH SEHUN!"

Ya, sekiranya begitulah lamaran Sehun kepada Luhan, semua berjalan lancar, kedua pihak keluarga dengan senang hati memberi restu. Semua juga terlihat bahagia.

Semua,

Tak terkecuali tatapan bahagia yang diberikan Kai pada Luhan, jujur saja melihat mantan kekasihnya akan segera menempuh hidup baru, membuatnya begitu iri, terlalu iri sampai dia melupakan fakta bahwa dia juga harus mengejar mimpinya untuk memiliki sebuah keluarga kecil lengkap dengan Kyungsoo dan calon buah hatinya yang akan sebentar lagi lahir kedunia.

"Jadi bagaimana perasaanmu?"

Kai mengalihkan pandangannya dari Sehun dan Luhan untuk menatap sosok pria cantiknya yang lain, yang terlihat sedikit lebih gemuk namun tak menghilangkan kesan menggemaskannya walau seluruh dari Kyungsoo, semuanya terlihat besar karena kehamilannya.

"Apa?"

Mata Kyungsoo kembali melihat ke arah Luhan, ikut tersenyum mendengar rencana pernikahan sang kakak untuk kemudian menatap pria yang statusnya adalah mantan kekasih dari kakaknya "Luhan, sepertinya kau benar-benar kehilangan dia kali ini."

Tersenyum pahit adalah hal yang dilakukan Kai, mau tak mau dia hanya bisa membenarkan ucapan Kyungsoo walau rasanya sakit karena sepertinya Kyungsoo juga merelakannya dengan Luhan tanpa memberinya kesempatan bicara lebih dulu "Ya, seperti itulah." Katanya pasrah, lalu memberanikan diri menggenggam jemari Kyungsoo.

Awalnya Kyungsoo menolak, tapi Kai terus menahan tangannya, terlihat memohon. Kyungsoo pun mengerti, dia tidak merespon, tidak pula menolak, yang dia lakukan hanya diam sejenak, sampai suara berat Kai terdengar begitu tulus "Tapi aku tidak akan kehilangan ibu dari anakku."

Kyungsoo merutuki hatinya yang berdegup kencang karena ucapan ayah dari calon bayinya, dia terus menenangkan diri untuk memastikan bahwa Kai tak lagi menolak kehadiran calon buah hati mereka "Apa maksudmu?"

Kai tersenyum, dikecupnya berulang tangan Kyungsoo untuk mengatakan penyesalan terdalamnya sebagai pria dan sebagai seorang ayah "Aku mungkin kehilangan Luhan, tapi aku sudah bersumpah untuk tidak kehilanganmu dan bayi kita. Bisakah?"

"Kai?"

"Hey, Do Kyungsoo, ibu dari anakku. Aku ingin kau tahu bahwa aku sangat menyesal karena pernah mengatakan hal buruk tentang anakku, buah hati kita. Aku menyesal berteriak padamu dan meminta kau menyakiti anak kita, sungguh aku sangat menyesal. Jadi kumohon, berikan aku satu lagi kesempatan. Aku ingin membahagikanmu dan anak kita."

"hah~."

Kyungsoo tertawa sinis, dilepasnya paksa genggaman tangan Kai untuk melipat kedua tangannya di atas dada "Anak kita? Aku akan melahirkannya kurang dari tiga bulan lagi dan kau bilang anak kita? Kau tidak ada saat aku membutuhkan, kau bahkan tidak pernah mengajaknya berbicara, bayi ini bukan anakmu, dia anakku Kai!"

"Soo."

"Pergilah! Aku tidak butuh dikasihani, lagipula aku yakin alasan kau datang kesini hanya karena kau tahu tidak akan bisa mendapatkan Luhan lagi. Benar?"

Kai tahu Kyungsoo tidak akan memaafkannya begitu saja, tapi dia tidak tahu jika kemarahan Kyungsoo akan selalu dikaitkan dengan Luhan, membuatnya benar-benar berada di posisi sulit sementara Kyungsoo terlihat begitu murka.

"Aku tidak mengasihanimu Soo, Aku-…."

"BOHONG!"

"Sayangnya Kai tidak berbohong."

Kyungsoo diam saat suara Luhan terdengar, awalnya dia enggan menoleh tapi kemudian Luhan berhasil menarik perhatiannya dengan mengatakan "Jauh sebelum rencana Sehun melamarku hari ini. Kai sudah lebih dulu memohon agar aku membawanya bertemu denganmu, dengan buah hati kalian."

Kyungsoo sempat melirik Kai sekilas lalu beralih menatap Luhan yang masih setia tersenyum dengan Sehun yang memeluknya dari belakang "Awalnya aku menolak, tapi saat dia mengatakan ingin bertemu dengan anaknya, aku tahu Kai bersungguh-sungguh, dia hanya ingin membahagikanmu dan buah hati kalian Soo, percayalah."

"Luhan benar, aku bahkan memergoki priamu menangis dan memohon agar dipertemukan denganmu Do Kyungsoo."

Adalah hal wajar jika Luhan terus membela Kai didepannya, tapi saat Sehun yang mengatakan bagaimana Kai sangat ingin bertemu dengan buah hati mereka, Kyungsoo sedikit luluh.

Alasannya sederhana, Sehun adalah calon suami Luhan, mantan kekasih Kai. Jadi rasanya tidak mungkin Sehun berbohong hanya untuk membela pria yang pernah menyakiti calon istrinya, Kyungsoo yakin hal itu.

Matanya kemudian kembali menatap mata dari ayah calon bayinya, mencari kesungguhan disana untuk mendapatkan kerinduan yang sama yang selama ini Kyungsoo rasakan untuk Kai. Sesaat dia tertunduk, lalu tak lama suara lirihnya bertanya.

"Lalu apa setelah ini?"

"huh?'

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan mengumumkan berita pernikahan kita secepatnya."

"tsk!"

"Ada apa?"

"Kau pikir siapa dirimu Kai? Demi Tuhan kau seorang idola, bagaimana bisa kau bicara seolah kau tidak memiliki banyak penggemar?"

"Lalu kenapa? Apa seorang idola tidak bisa bahagia?" Kai bertanya polos diikuti dengusan kecil dari Kyungsoo "Tidak, jika itu denganku!"

"Tapi aku ingin-…"

"Sudahlah, aku mungkin mengerti tujuan baikmu, tapi pernikahan yang kau rencanakan? Ayolah Kai, kita bukan Presdir Oh dan Luhan, tidak semudah itu membicarkan pernikahan!"

"Apa yang salah dengan pernikahan?"

"Salah karena kita terikat pada banyak orang! Hidup kita bukan hanya milik kita tapi milik seluruh penggemar yang mendukung karir kita. Pikirmu hati mereka tidak akan terluka dengan pernikahan? Pikirmu Presdir Oh tidak akan mengalami kerugian?"

"Untukku tidak masalah."

Rencana awalnya Sehun hanya akan menemani Luhan membujuk Kyungsoo agar memaafkan Kai, selebihnya dia hanya akan diam sambil memeluk tubuh mungil kekasihnya. Tapi nyatanya Kyungsoo mengatakan hal diluar dugaannya sebagai seorang pimpinan tertinggi sebuah agensi.

Selama ini Kyungsoo dikenal sangat tertutup, mudah marah dan sedikit arogan, terkadang sikapnya juga sangat dingin saat fanmeeting. Tapi diluar dugaan, semua yang dia tampilkan di publik benar-benar tidak sesuai dengan isi hatinya. Sang aktor benar benar-benar memikirkan perasaan penggemarnya, bagaimana kemungkinan penggemar mereka terluka karena berita pernikahan idola yang begitu mereka puja.

Sehun tertegun sesaat, sampai namanya disebut barulah dia memberikan respon, nyatanya dia tidak keberatan jika harus mengalami kerugian. Karena seperti yang selalu dikatakan ayahnya, artismu juga manusia, mereka berhak merasakan cinta dan dicintai, jadi jangan sekalipun kau mengusik hubungan pribadi mereka. Sehun kini mengerti, sepenuhnya mengerti bahwa dia dan seluruh artisnya berhak merasakan bahagia.

"Presdir Oh?" Kyungsoo bergumam bingung sementara Luhan menoleh lalu mencari mata kekasihnya "sayang."

"Ya, menurutku kau berhak bahagia. Sudah lima tahun kalian berdua memberikan dedikasi tertinggi untuk agensi, jadi aku rasa bahagia adalah harga setimpal untuk membayar kerja keras kalian. Menikahlah jika kalian ingin menikah, aku sebagai pimpinan memberikan izin untuk kalian."

Jujur Kai terkejut, dia bahkan menangis haru tak menyangka Sehun akan sama bijak dengan ayahnya. Dia tersenyum sangat berterimakasih, berdiri dari kursinya untuk membungkuk pada orang pertama yang memberikan restu untuk rencana pernikahannya dengan Kyungsoo "Terimakasih banyak Presdir Oh,…Soo?"

Kyungsoo diam seribu bahasa, sungguh dia sangat bingung dengan keadaan, sedetik matanya mencari mata Luhan, mencari jawaban dari keraguannya untuk mendapatkan senyum lembut dari kakak berbeda ibu didepannya "Bahagialah Soo, demi anakmu."

Ucapan Luhan berhasil menampar kesadarannya. Kesadaran bahwa mau bagaimanapun juga anaknya harus mengenal siapa ayahnya, anaknya harus hidup di keluarga utuh dan bahagia, tidak seperti dirinya.

Oleh karena itu, dia kemudian menggenggam tangan Kai, membawa jemari kasar itu ke arah perutnya yang membuncit untuk mengatakan "Hay nak, katakan halo pada Papa." Ujarnya mengenalkan secara langsung Kai pada buah hati mereka. Membawa tangan Kai dengan gerakan memutar sebagai respon dari tendangan yang dilakukan buah hati mereka. "Dia menyapamu."

Kai terdiam, selain takjub merasakan tendangan dari perut Kyungsoo, dia juga terpesona melihat wajah cantik kekasihnya. Memperhatikan bagaimana aura seorang ibu benar-benar terlihat di wajah Kyungsoo diiringi dengan senyum yang tak hentinya ditunjukkan oleh sang aktor "Kau tidak menyapanya?" mata Kyungsoo bertanya penuh harap, dibalas tawa kecil oleh Kai yang entah mengapa justru terisak dan berlutut di depan Kyungsoo

"Anakku." Ujarnya lirih, tak lama Kai mengecupi perut buncit Kyungsoo sebelum beralih memeluk sayang kekasihnya "Aku janji tidak akan membuatmu melewati semua ini sendiri lagi Soo, aku janji. Maafkan aku sayang. Aku mencintaimu."

Kyungsoo luluh, dia ikut menangis di pelukan Kai seraya mengucapkan hal yang sudah ditahannya selama enam bulan, hal yang begitu ingin dia katakan bahwa dia sangat mencintai ayah dari calon buah hatinya "Aku mencintaimu Kai."

Adegan mengharukan milik Kai dan Kyungsoo tentu saja membuat beberapa air mata menetes, jadi rasanya wajar jika Luhan terisak haru ikut merasakan kebahagiaan adik dan mantan kekasihnya.

Tangannya terus memeluk lengan kekasihnya yang melingkar di pinggangnya, mengecupi jemari Sehun bergantian untuk menoleh dan mengecup dalam bibir kekasihnya "Terimakasih banyak sayang."

Sehun mengangguk, dagunya bersandar di pundak Luhan sesekali mengecupi tengkuk kekasihnya "Aku keren, kan?" katanya berbisik dibalas kekehan air mata oleh si pria cantik "Kau sangat keren Presdir Oh."

"Kalau begitu aku mau hadiah."

"Apa? katakan padaku."

Tanpa ragu Sehun menunjuk ke arah Kyungsoo dan mengatakan keinginannya "Aku juga ingin dipanggil Papa."

"Lalu?"

"Ayo kita buat yang banyak, aku tidak mau kesepian lagi dirumah. Benci!"

"Baiklah, setelah menikah kita buat yang banyak. Bagaimana?"

Daripada menawarkan membuat anak, Luhan terdengar seperti menawarkan permen pada bocah sepuluh tahun, membuat lagi-lagi Sehun merajuk lalu dengan kesal mengatakan "Malam ini, aku ingin membuatnya malam ini."

"ish! Kau pikir membuat anak seperti membuat adonan kue? Jangan kekanakan Oh Sehun! Kyungsoo dan Kai akan menjadi adik iparmu, jadi anak mereka kelak juga anakmu."

"Berbeda Lu, tidak sama! Aku mau membuatnya sendiri, dengan kegagahanku sebagai seorang pria, Ya?'

"Buat saja sendiri!"

"Luu…."

Luhan jengah, sebenarnya dia gemas karena tingkah Sehun benar-benar seperti bayi besar untuknya. Ah, jangan lupakan aegyo menggelikan yang Sehun berikan dengan menggembungkan pipinya, membuat kemarahan Luhan sekejap pergi digantikan tawa untuk mengatakan "Baiklah, malam ini."

"OWYEAH!"

Sontak persetujuan dari Luhan membuatnya memekik bahagia. Dan tak mau kalah dari Kai yang sedang mencium Kyungsoo, Sehun melakukan hal yang sama. Dia mencium rakus bibir Luhan, tidak membiarkan jarak diantara mereka hingga bunyi khas penyatuan bibir terdengar di rumah kecil yang dalam sekejap dipenuhi kebahagiaan dua penghuninya.

Semua bahagia, tapi nyatanya ibu Luhan, Kyungsoo dan Jaehyun yang paling bahagia. Wanita paruh baya itu kini menangis haru di pelukan si bungsu, memeluknya erat seraya bergumam "Selama bertahun-tahun ini kali pertama ibu melihat Lu hyung terlihat sangat bahagia."

Jaehyun mengecup surai ibunya lalu menjawab penuh keyakinan "Mulai sekarang ibu hanya akan melihat Luhan tersenyum. Itu janjiku."

"Kenapa berjanji seperti itu nak?"

"Ya, karena dengan atau tanpa calon suaminya. Aku juga akan membuat Lu hyung bahagia."

Sang ibu menatap bangga pada si bungsu, yang dia tahu dulu Jaehyun sangat membenci Luhan, tak pernah mau menyebutnya hyung apalagi menyebut namanya. Jadi ketika Jaehyun mengatakan ingin membuat Lu hyung bahagia maka rasanya dia bisa meninggalkan ketiga putranya dalam damai tanpa harus mengkhawatirkan hubungan ketiganya.

"hkss.."

Wanita cantik itu pun terisak pilu, antara bahagia dan menyayangkan bahwa waktunya untuk bahagia sudah ditentukan hanya akan bertahan selama enam bulan. Kebahagiaan singkatnya sudah direnggut oleh penyakit yang sama yang dimiliki Luhan, bedanya Luhan bertahan dan dinyatakan sembuh, sementara dirinya harus pasrah ketika dokter mengatakan waktumu hanya enam bulan untuk bisa bertahan hidup.

Jadi terimakasih karena Sehun tiba-tiba datang dan membawa kabar bahagia, terimakasih karena Kai juga datang pada Kyungsoo dan menjanjikan kebahagiaan untuk putra sahabatnya yang malang. Setidaknya semua kebahagiaan itu bisa dirasakan disaat dia sedang berjuang dengan sakitnya.

Tidak, melihat ketiga putranya bahagia adalah obat yang bisa membuatnya bertahan hidup sedikit lebih lama. "Kau juga harus segera menikah."

"shirheo! Aku akan menikah saat usiaku berada di usia yang sama dengan Luhan hyung. Jadi sampai saat itu tiba ibu harus hidup dengan sehat. Oke?"

Wanita berparas cantik itu hanya tersenyum lirih, tak ingin berdebat dengan si bungsu dan tetap menyembunyikan apa yang harusnya dia sembunyikan dari ketiga putranya "Baiklah, ibu akan sehat sampai kau menikah, semoga."

.

.

.


.

tobecontinued

.


.

.