Previous
"Aku akan menikah saat usiaku berada di usia yang sama dengan Luhan hyung. Jadi sampai saat itu tiba ibu harus hidup dengan sehat. Oke?"
Wanita berparas cantik itu hanya tersenyum lirih, tak ingin berdebat dengan si bungsu dan tetap menyembunyikan apa yang harusnya dia sembunyikan dari ketiga putranya "Baiklah, ibu akan sehat sampai kau menikah, semoga."
.
.
.
.
.
.
.
.
A' Friends Betrayal
Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo
Genre : Drama
Rate : M / NC!/
.
.
.
tok..tok..
"Jae? Kau sudah tidur?"
Merasa nama dipanggilnya remaja delapan belas tahun itu beranjak dari tempat tidur, segera dia membuka pintu, bertanya-tanya apa yang dilakukan Luhan di tengah malam seperti ini untuk mendapati kakak sulungnya tersenyum sangat dipaksakan "Ada apa hyung?"
"mmh…Boleh aku meminjam pakaian tidurmu?"
"Pakaianku? Untuk apa?" dia bertanya namun dibalas rona merah di wajah Luhan yang tampak malu-malu mengatakan "Sehun, seluruh pakaianku tidak muat di tubuhnya." Jaehyun memasang wajah sedikit mual namun malas berdebat dengan kakaknya, dia segera menyingkir dari pintu dan membiarkan Luhan masuk ke dalam kamarnya "Ambil saja."
"yey! Maaf mengganggumu. Apa besok kau kuliah?" katanya melirik Jaehyun yang kini sibuk dengan buku pelajarannya "Ujian tiga bab."
Luhan mengangguk seraya membuat tanda ouw di bibirnya, selebihnya dia membiarkan Jaehyun fokus belajar sementara mengacak-acak lemari pakaian Jaehyun adalah hal yang dia lakukan untuk mencari pakaian yang sekiranya muat dikenakan Sehun malam ini.
Yang ini saja!-..tidak, pasti tidak muat.
Dia membuang asal pakaian Jaehyun tanpa dilipat lalu mengambil lagi lipatan pakaian yang baru "Ini saja, modelnya juga bagus."
"haaah~."
Si bungsu mulai jengah melihat lemari pakaian yang dibuat berantakan oleh kakaknya. Berusaha untuk sabar dan tidak kesal sebelum suara kakaknya yang lain juga berteriak "JAEEE! HYUNG PINJAM PAKAIAN TIDURMU YA?!"
"oh tidak…"
"Wae? Tidak boleh?"
Dibanding Luhan, kakak keduanya yang terlalu sensitif dengan penolakan lebih mengerikan, jadi dia tidak bisa melakukan apapun selain mengangguk untuk mengijinkan Kyungsoo melakukan hal yang sama dengan yang Luhan lakukan "ya ya, feel free untuk menghancurkan lemari pakaianku."
Mata bulat Kyungsoo berbinar senang, walau sedikit kesusahan berjalan masuk ke dalam kamar Jaehyun dia tetap bersemangat dan tak lama bergabung dengan Luhan mencari pakaian untuk pria yang mulai hari ini telah resmi menjadi kekasihnya "Untuk Kai?" Luhan bertanya disambut anggukan antusias dari Kyungsoo "Ya, pakaianku tidak ada yang muat ditubuhnya."
Luhan terkekeh lalu mengangguk setuju "Sehun juga."
Keduanya kini sibuk mencari pakaian tidur yang cocok untuk kekasih masing-masing. Terlalu sibuk sampai lima belas menit berlalu tapi keduanya belum menemukan pakaian yang cocok untuk kekasih mereka masing-masing.
Dan daripada mencari pakaian yang cocok untuk Sehun maupun Kai, rasanya Jaehyun malah mendengar perdebatan tak penting dari dua kakaknya yang memang tidak akan bisa akur satu sama lain.
Aku yang hitam saja
Luhan! Aku lebih dulu memegangnya, berikan padaku!
No! aku lebih dulu, cari yang lain!
Kyungsoo mengangguk lalu mulai fokus mencari pakaian yang lain, berakhir merengek karena tak ada satupun pakaian Jaehyun yang menarik perhatiannya selain yang dipegang Luhan "huhu, tidak ada! Berikan aku yang hitam!"
"Ini milikku Soo!"
Dan saat ini, di dalam kamarnya, di depan kedua matanya, Jaehyun melihat acara tarik menarik kaos hitam kesukaannya, kaos yang dihadiahkan Taeyong padanya di hari ulang tahun kini harus menjadi korban tarik menarik dari dua kakaknya yang paling menggemaskan sejagat raya "oh ayolah!"
Buru-buru dia menghentikan keributan tidak penting di tengah malam seperti ini, berdiri di antara Luhan dan Kyungsoo untuk mengambil paksa kaos hitam yang sedari tadi digenggam Luhan sangat erat
"JAE!" Luhan protes dibalas tatapan kesal dari Jaehyun "Asal hyung tahu ya! Ini bukan pakaian tidur, ini pakaian perform yang aku kenakan saat balapan." Katanya tak sabar lalu meletakkan kaos hitam favoritnya untuk mengambil pakaian tidur yang masing-masing bergambar monokorobo dari lemari pakaian
"Ini untuk Sehun!" katanya mengambil monokorobo pink dan menyerahkannya pada Luhan lalu bergegas mengambil monokorobo kuning untuk diserahkan pada Kyungsoo "Dan ini untuk Kai!" katanya terlihat kesal lalu merangkul masing-masing pinggang pria cantiknya untuk mengusir halus dua pembuat onar di kamarnya.
"Jadi silakan pergi ke kamar masing-masing! Selamat malam!"
BLAM!
"Whoa!" Luhan berseru tak percaya dibalas gumaman "apa baru saja kita diusir?" Katanya bertanya dengan mata membulat sama sekali tak percaya diusir Jaehyun dari kamarnya.
"Aku rasa begitu Soo." Timpal Luhan salah tingkah untuk kemudian mengalihkan keadaan yang sangat memalukan ini "yang benar saja? Baju tidur Jaehyun bergambar babi kecil?"
Sama seperti Luhan yang sedang mengalihkan keadaan, Kyungsoo juga terkekeh untuk mengatakan "Lain kali kita harus membelikan banyak pakaian untuk Jaehyun." Katanya tertawa kecil dibalas jawaban tak ragu oleh pria yang memiliki usia lebih tua dari Kyungsoo dan Jaehyun "Setuju."
.
.
.
.
.
.
.
Klik!
"Kenapa kau lama sekali?"
Dan seperti biasa, CEO di tempatnya bekerja yang juga kekasihnya adalah tipe pria manja yang tidak bisa bersabar walau hanya satu menit. Karena selain bosan menunggu, Sehunnya cenderung tidak bisa diam hingga hanya wajah kesal yang terlihat saat Luhan masuk ke dalam kamarnya.
"Maaf Presdir Oh. Aku mencari pakaian tidur untukmu."
Luhan memberikan pakaian tidur ke tangan kekasihnya lalu dibalas tatapan tak percaya dari Sehun "Babi kecil?"
"Ya."
"Warna merah muda?"
"pfft…Ya!"
Oh, dan tak ada yang lebih menyebalkan selain sesuatu berwarna merah muda dengan gambar babi lucu dibuat untuk tidur, belum lagi wajah Luhan yang terkikik geli hingga daripada memakai pakaian tidur feminim itu, Sehun lebih memilih menggoda kekasihya "eyy! Sudah kubilang tidak perlu, lagipula kita akan berakhir tanpa pakaian malam ini." katanya mendekati Luhan dan mulai menjilati leher serta menyesap paksa tengkuk si pria cantik. "Sehun, sabar sedikit."
"Apalagi?"
"Ibuku mungkin belum tidur!"
Sehun menimbang sejenak untuk kemudian berbisik "Jika kau tidak mendesah terlalu keras, kita aman sayang."
"Sehun!"
Ya, Jangan panggil namanya Sehun jika dia bisa bersabar satu menit saja, karena daripada bersabar Sehun cenderung lebih suka mengambil satu keputusan baru tanpa harus menunggu lagi.
Lagipula dia terlalu bergairah bisa berada di dalam kamar pria cantik yang selama enam bulan ini sudah mencuri hatinya, jadi jangan salahkan ruangan kecil namun dipenuhi aroma Luhan jika gairah Sehun tiba-tiba membludak nyaris tak bisa dikendalikan.
"mmh~"
Bibirnya mengunci bibir Luhan, satu tangannya juga berhasil membawa Luhan terlentang pasrah dibawahnya. Yang perlu dia lakukan kali ini hanya mengukung Luhan di tempat tidurnya yang tidak cukup besar untuk kembali memainkan lidah di bibir, di cuping telinga, hingga menyesap kuat di bagian leher yang kini membuat Luhan bergerak cemas dibawahnya.
Pasrah, Luhan membiarkan tangan Sehun bekerja cekatan, karena jika bibirnya mengeksplor bagian sensitif tubuhnya, maka tangan Sehun dengan mudah melucuti pakaiannya, membuangnya asal ke lantai dan lagi-lagi membuat tubuh Luhan meremang karena sentuhan panas dari tangan kasar mantan kekasih sahabatnya.
"ah~"
Desahan Luhan dan decakan ciuman mereka berlomba memenuhi ruangan sempit yang selama sepuluh tahun ini ditempati oleh Luhan. Yang berparas cantik nyatanya putus asa karena tak bisa menahan sedikitpun erangan dari bibirnya, karena jika dia berniat melakukannya maka disaat yang sama Sehun memperlakukannya penuh gairah diatasnya. Luhan terbuai, nyaris tak mempedulikan dimana mereka saat ini karena terlalu menyukai bibir panas Sehun yang kini menguasai tubuhnya.
"hhhmm—ahh~"
"Desahanmu sayang, kau bisa membangunkan ibu dan kedua adikmu, ah, Mantan kekasihmu juga."
"shit!"
Luhan menggeram kesal, dijambaknya kasar rambut Sehun seolah meminta kekasihnya melanjutkan apa yang sudah dia lakukan tanpa harus mengatakan hal menyebalkan seperti mantan kekasih atau semua bisa terbangun karena desahannya.
Hell, siapapun akan mendesah nikmat jika bibir seksi kekasihnya mulai menjamah bagian sensitif tubuhnya, siapapun, dan hal itu adalah wajar untuk Luhan "wae?" disela ciumannya, Sehun berbisik sesekali menggigit gemas cuping telinga Luhan "Aku boleh mengambilmu?"
Luhan mengangguk, mengijinkan. Dan sekali lagi mereka berada dalam satu ciuman panas yang sangat menggairahkan, Sehun kembali menyesap kuat lidah Luhan, si pria cantik tentu saja mengerang tertahan, dan jangan katakan Sehun tidak berpengalaman jika tak hanya mengerjai bibir Luhan tapi kini tangannya sudah sukses masuk kedalam boxer mini Luhan yang kini tergeletak mengenaskan pula di lantai.
"Sehun!mmhh~Sehun.."
Luhan mengangkat setengah tubuhnya saat jari telunjuk Sehun masuk tanpa aba-aba ke dalam lubangnya, menyodoknya kasar lalu "rrhhh~!" Sehun menambah jari tengahnya langsung dan mulai mengoyak bagian terdalam dan paling sensitif yang bisa dirasakan Luhan sebagai seorang bottom "Tambah lagi?"
Menggeleng putus asa, Luhan berusaha menjawab "Cukuph~AH!" namun Sehun tanpa rasa bersalah menambah jari manisnya di dalam sana, mengeluar-masukkan tiga jarinya bersamaan hingga rasa penuh dirasakan Luhan yang mulai tak kuasa menahan nikmatnya "Jika kau terus seperti ini, aku akan-…mmhhh~"
"Lubangmu mengetat sayang, mau klimaks ya?"
Shit, Luhan ingin mengumpat kasar saat Sehum memberikan wajah innocent dengan pertanyaan polosnya. Membuat si pria tampan terkekeh sementara pemandangan Luhan akan segera mendapatkan klimaksnya adalah pandangan yang paling seksi mengalahkan seluruh wanita cantik tanpa busana yang pernah dilihatnya di berbagai situs dewasa
"mmhh~CIUM AKU!"
Luhan setengah berteriak dan jujur Sehun terkejut, dia bahkan melihat ke arah pintu memastikan bahwa tak ada yang mendengar apalagi masuk ke dalam kamar jika tidak ingin berbagi tubuh polos Luhannya yang sedang dalam keadaan hard on hanya dengan tiga jari yang kini bergantian menghentak kasar di dalam sana.
"sstt, Kau bisa membangunkan semua orang sayang." Katanya tertawa gemas lalu menuruti keinginan Luhan, dikecupnya panas bibir yang sedari tadi membuka seksi untuk berbagi saliva yang sama panas dan menuntut.
Kali ini Sehun tidak berniat melepaskan ciuman panasnya di bibir Luhan sampai akhirnya si pria cantik mengangkat dada seraya menggelinjang nikmat tanda bahwa dia tengah mencapai orgasme pertamanya malam ini "haaah~"
Sehun bisa merasakan kemejanya basah, berbaik hati dia sengaja mengocok lembut penis menggemaskan yang baru saja mencapai klimaksnya untuk menatap puas pada mangsa cantik dibawahnya "Nikmat?"
Membuang wajah, Luhan mengangguk seraya menggigit bibirnya "Jangan bertanya hal memalukan."
"Kau berkali-kali membuatku bergairah dengan wajah tsundere favoritku, sayang!"
Kini Sehun sibuk melucuti kemejanya, lalu membuang asal untuk kembali mengukung tubuh mungil Luhan, melebarkan paha Luhan sementara miliknya yang sudah tegang dan sepenuhnya mengeras sengaja dia geseskan di lubang kekasihnya yang terasa masih berkedut "Merasakannya?" katanya sengaja menekan penis tegangnya hingga terlihat rona merah di wajah Luhan
"Lihat aku jika aku bertanya Manager Xi!"
Sehun memaksa Luhan menatap matanya, Luhan tidak menolak dan ya, dia begitu merona karena selalu berhasil membuat gairah pria perkasa seperti Sehun meletup tak bisa dikendalikan tiap kali mereka bercinya "Cepat buka." Katanya malu-malu seraya menarik tengkuk Sehun meminta lebih pada kekasihnya.
"Kau merindukannya?" dibalas jawaban menggoda si pria tampan untuk membuat wajah Luhan semakin merah karenanya "Ya, Rindu."
Sret!
Masih dalam posisi menindih Luhan, Sehun kini membuka zipper nya tanda percintaan sesungguhnya akan dimulai, wajah Luhan sendiri sedikit tak sabar lalu membantu Sehun menurunkan celana kerjanya hingga tersisa boxer ketat dengan gundukan tegang yang masih terbalut di dalamnya.
"Kau mau?"
Luhan mengangguk dan Sehun menukar posisi mereka, on top, adalah posisi kebanggan Luhan, karena hanya dengan posisi ini dia bisa "berkuda" dengan bebas diatas tubuh kekasihnya seraya menikmati wajah Sehun yang tengah mendesah karena merasakan nikmat yang sama.
Kedua mata mereka terkunci, penuh nafsu dan cinta, detik berikutnya Luhan mengerling sang kekasih untuk mengecupi satu persatu titik sensitif kekasinya "rrhh~" erangan pertama karena si pria cantik membuat tanda kecupan di lehernya, dia menggigitnya kuat lalu menjilatnya panas.
Sehun tak berniat menghentikan tak pula ingin mengganggu, yang dia lakukan hanya terlentang pasrah sementara si mungil sibuk menggunakan lidah dan tangannya untuk membuat kejantanannya semakin nikmat seiring sentuhannya.
"Lu..rrhh~Luhan." Sehun menjambak kasar surai si mungil saat lidahnya dengan sengaja bermain di dua tonjolan kecil serta turun dan kini bermain menghisap serta menjilat pusarnya, sungguh, harga dirinya akan jatuh jika Luhan terus melakukan hal gila tersebut dan membuatnya klimaks hanya karena hisapan di bagian pusar yang dilakukan kekasihnya.
Sehun terkekeh, dia bisa melihat kalimat harga diri di wajah kekasihnya, kemudian dia mengalah untuk semakin turun hingga wajahnya bertatapan langsung dengan gundukan yang terlihat sangat penuh, sangat tegang, dan sangat menggairhkan.
"whoa.."
Dia terpana, mulutnya membuka takjub sementara kedua tangannya perlahan menurunkan boxer Sehun hingga terlihat penis yang begitu sehat, menantang dan menggairahkan sedang menyapa dua matanya
Glup!
Luhan menelan kasar ludahnya, dia selalu bisa merasakan jika ukuran penis Sehun memang luar biasa saat menghentaknya di dalam lubang, tapi untuk melihat langsung dan dari dekat seperti ini adalah hal baru baginya. Luhan bahkan refleks menutup kedua pahanya karena begitu malu dengan perbandingan ukuran mereka yang sama sekali tak bisa dibandingkan satu sama lain.
"Cepat Luu—ah~"
Tak sabar Sehun mendorong tengkuk Luhan, memaksa agar miliknya segera dikulum hingga program membuat anak yang diinginkannya bisa segera berjalan. "yeah, seperti itu." Bohong jika Sehun tidak merasakan nikmat saat lidah panas Luhan mengecup kejantanannya, rasanya terlalu nikmat hingga matanya terpejam dan hanya menikmati bagaimana Luhan mengulum miliknya.
Awalnya Luhan masih berbaik hati untuk mengecup, menghisap dan menjilat dengan cara yang lembut, tapi seiring dengan kuluman yang dia lakukan, kejantanan Sehun semakin tegang dan mengeras, jujur dia tak sabar merasakan kejantanan Sehun didalamnya sampai si pria cantik memiliki pikiran jahil untuk menghisapnya kuat hingga terdengar
"rrrh~LU!"
Lengannya tiba-tiba ditarik kasar, posisinya sudah kembali berada dibawah Sehun untuk dihadiahi tatapan khas seorang beast jika tidak bisa mengontrol diri. Tangan besar Sehun juga bergerak kebawah untuk mengocok pelan miliknya, lalu melebarkan kedua paha Luhan dan mulai menekan tepat di depan lubang kekasihnya.
"mmhh~"
Luhan bergerak cemas sementara Sehun menyeringai, si pria tampan sedikit membungkuk untuk bertanya terlalu sensual "Siap?" katanya sengaja menggesekan ujung penisnya di luar lubang Luhan hingga mengangguk adalah hal yang dilakukan Luhan karena terlalu tak sabar "Ya, Ya! Lakukan!" suaranya dipenuhi nafsu dan ingin. Sehun pun berusaha mengimbangi keinginan Luhan dengan menggerakan perlahan tubuhnya.
Sangat perlahan hingga rasanya Luhan bisa merasakan ujung kejantanan Sehun berhasil masuk kedalamnya lagi, entah sudah keberapa kali, "Sehun~" wajahnya terlihat meringis tanda kesakitan, itu artinya Sehun tidak memiliki pilihan lain selain
Sleb~
"AKH!~"
Buru-buru Luhan menutup mulutnya, cemas jika suara desahannya terdengar hingga ke kamar sang ibu untuk menatap kesal pada Sehun "Aku tidak percaya kau melakukannya lagi!"
"Wae? Jika perlahan kau kesakitan."
"tapi—ah~!"
Sehun membenarkan posisinya, memasukkannya semakin dalam hingga rona merah lagi-lagi terlihat di wajah Luhan "Enak?"
"mmhh~" Luhan bergerak resah dibawah Sehun, terlalu malu untuk mengatakan Ya, hingga menarik tengkuk Sehun adalah hal yang dia lakukan agar bibirnya tak perlu mendesah secara berlebihan lagi.
"Aku bergerak." Disela ciumannya Luhan mengangguk, dan tanpa perlu melepaskan ciuman mereka, Sehun kini tengah bergerak menggagahi kekasihnya,pujaan hatinya, calon istrinya. Dan jangan tanya tentang kebahagiaan keduanya, mengingat "Sangat Bahagia" akan menjadi jawaban yang dilontarkan keduanya tanpa ragu.
"Sehun—mmphh~ / Lu..rrrhh~"
Karena malam ini Sehun baru saja membuktikan betapa terlalu berartinya Luhan untuk hidupnya, betapa dia ingin menjadi tua bersama dengan merubah status kekasih menjadi calon isteri, ya, Sehun sudah melakukannya malam ini, melewati malam mendebarkan saat harus melamar Luhan langsung di depan ibunya, tak banyak mengucapkan bujuk rayu karena hanya sekedar kalimat bolehkah aku menikahi putra tertuamu nyatanya sudah berhasil mencuri hati ibu Luhan, ibunya juga.
"Aku ingin menjadi seperi Kai."
"huh?"
Luhan bergumam tidak mengerti walau Sehun tak henti menghentaknya, terus menyatukan tubuh mereka sampai si tampan kembali membungkuk lalu berbisik "Aku ingin menjadi seorang ayah."
Hati Luhan menghangat, dia tahu bunyi derit di tempat tidur miliknya, desahan yang bersahutan serta peluh di tubuh mereka tak semata-mata karena nafsu. Luhan tahu pria yang sedang menggagahinya ini serius dengan hubungan yang mereka jalani.
Terlihat dari tatapan matanya, caranya berbisik, serta keinginannya menjadi seorang ayah seolah membuat Luhan jatuh semakin mencintai kekasihnya, prianya, calon suaminya. Dan karena hal itu pula walau dia sedang kesulitan mengatur nafas karena terlalu banyak menerima tusukan nikmat dibawah sana tersenyum, mengangguk tanpa ragu lalu membalas bisikan kekasihnya.
"Baiklah, kau bisa memilikinya—ahh~"
Sehun melakukannya, ini kali keduanya dia membanjiri lubang Luhan dengan sperma miliknya. Dan setelah dua jam bergelut di tempat tidur kecil milik Luhan, dia masih ingin menggagahi kekasihnya lagi, lagi dan lagi. "jika bisa memasukanmu kedalam perutku, aku ingin sekali memakanmu dari ujung kepala hingga ujung kaki milikmu sayang."
Begitulah bisikan yang Luhan dengar dari kekasihnya, bisikan yang terdengar sangat egois namun dipenuhi makna tidak ingin kehilangan walau hanya satu menit "Wae? Sangat mencintaiku? Hhmmh~?"
"Sangat mencintaimu."
Luhan menatap lembut sosok yang baru dikenalnya selama enam bulan, sosok yang entah mengapa terus mencuri perhatiannya selama mereka bersama, sosok yang diam-diam dia berikan kuasa agar bisa mencuri hatinya dan membuat Luhan bergantung hanya padanya.
Kali pertama Sehun menyatukan tubuh mereka, Luhan tahu kenikmatan itu baru awalnya, karena tepat setelahnya, Luhan mendapatkan banyak kenikmatan manis yang lebih dari sekedar penyatuan dua tubuh mereka, kenikmatan manis yang bisa diberikan Sehun, sosok yang Luhan tahu kini mencintainya dengan sepenuh hati, jiwa serta raganya.
.
.
.
.
.
.
.
"Baik tuan muda, sesuai perintah dari anda."
"Ya, selamat malam."
Pip!
"Lee? Bagaimana?"
Yang bertanya sedang duduk menggenggam tongkat kesayangannya, menatap asistennya selama puluhan tahun dengan tatapan berharap akan ada kabar baik tentang putranya kali ini "Maaf Tuan."
Menyadari suara pengasuhnya terdengar sedih, sang tuan besar juga menunjukkan raut cemas dan kecewa milknya "Ada apa?"
"…"
"Lee jawab aku!"
"….."
"LEE!"
Sang asisten tersentak karena teriakan majikannya, tubuhnya ragu untuk merespon tapi tetap menjawab dengan suara lirihnya "Maaf tuan, tapi….SEBENTAR LAGI ANDA AKAN MEMILIKI SEORANG MENANTU!?"
"huh? Apa maksudmu?"
"Maksudku? Maksudku tuan muda akan menikah. LAMARANNYA DITERIMA DAN MINGGU DEPAN MEREKA AKAN SEGERA MENIKAH! OW YEAH! RUMAH INI TIDAK AKAN SEPERTI PEMAKAMAN LAGI!"
"B -Benarkah?"
"YA TUAN! BENAR! ANDA AKAN SEGERA MEMILIKI SEORANG MENANTU!"
Ayah kandung sekaligus mantan petinggi dari agensi tempat seorang Oh Sehun bekerja itu terlihat lemas, terbukti dari caranya melepas tongkat kesayangannya hingga terjatuh dan lebih memilih bersandar di sofa, bernafas sebanyaknya.
"Tuan? Anda baik-baik saja?" Pengurusnya bertanya, terdengar cemas dibalas jawaban lirih darinya "Aku sesak."
"Astaga Tuan, apa penyakit anda kambuh? Obatnya, mana obat—YAK! CEPAT AMBILKAN OBAT TUAN BESAR!"
"Lee!"
"Y-ya Tuan! Sebentar, mereka sedang mengambil obatnya."
"Rasanya aku mau mati."
"Tidak! Anda jelas tidak boleh mati! Setidaknya sampai hari pernikahan tuan muda dan Lu-…"
PLETAK!
"Sssshh…KENAPA AKU DIPUKUL?"
"KARENA MULUTMU LICIK!"
"BAGAIMANA BISA MULUTKU-..eh? Tuan? Anda baik-baik saja?"
Dengan cekatan bahkan tanpa bantuan tongkatnya, Tuan Oh berdiri sempurna, menunjukkan otot-ototnya yang sudah dimakan usia untuk mengatakan "Ow yeah! Aku sangat baik! Haa~ ISTRIKU KAU DENGAR? SEHUN KITA AKAN SEGERA MENIKAH! YEAH!"
"TUAN OBAT ANDA!"
"OBAT? Ishh! BUANG OBAT SIALAN ITU! AKU SEHAT!" Katanya bersenandung ria sebelum terdengar suara
BLAM!
Dari pintu kamar yang sengaja ditutup menggunakan tenaga super, "whoa, Sepertinya anda benar-benar sehat Tuan besar." Timpal pengasuh Sehun yang kini menjadi pengasuh ayahnya untuk tersenyum lega tak sabar menantikan keramaian rumah yang hampir dua puluh tahun ini terasa seperti pemakaman.
"Cepat datang dan menjadi bagian keluarga ini, Luhan. YEAH! PERNIKAHAN MINGGU DEPAN!"
.
.
.
.
Sementara itu…
.
Dan berbeda dengan keadaan di kediaman Sehun yang sedang merayakan berita pernikahan putra tunggalnya, maka di mansion megah milik seorang pejabat tinggi pemerintah, tepatnya di kediaman keluarga Byun, terlihat dua pria paruh baya yang masih diam dengan tatapan masing-masing.
Jika yang satu terlihat tak ingin dibantah, maka yang satu terlihat seperti anjing penjaga tatkala perintah mutlak dari salah satu pejabat pemerintah itu terasa mendesak dan memaksa dirinya. Sebenarnya bisa saja dia menolak perintah yang diberikan orang asing didepannya, tapi kemudian tawarannya sangat menggiurkan hingga sifat tamaknya kembali terlihat hanya karena selembar cek bertuliskan seratus juta won.
"Apa tugasku?"
"Mudah, buat putra sialanmu menyesali apapun yang telah dia lakukan pada Baekhyunku."
"hmmh. Aku rasa akan sulit."
"Apa yang menurutmu sulit?"
"Jika kau membicarakan Luhan disini, aku rasa dia sudah dilindungi oleh pengusaha sukses Seoul-Japan. Pria tua itu juga memberikan selembar cek padaku agar menjauhi Luhan, aku takut dia bertindak jika aku melanggar janjiku."
"Lalu apa kau menolak perintah dariku?"
"tsk! Aku ini memang pecundang tapi jangan berbicara seolah kau membiyai hidupku sialan! Aku tertarik pada uangmu dan lagipula….."
"Apa?"
Pria yang memiliki mata Kyungsoo dan rahang tajam Luhan itu tersenyum keji, dia kemudian berdiri untuk membersihkan tubuhnya lalu berkata "Aku sangat membenci putra sulungku, kau tahu kenapa? Karena seumur hidupnya dia tidak pernah sekalipun menghormatiku sebagai ayah! Jadi kurasa aku menerima perintahmu untuk membuatnya menyesal."
"Bagus!"
Ayah kandung Baekhyun terlihat menandatangani selembar cek lalu melemparkannya ke wajah ayah Luhan, menyeringai sangat puas untuk mengatakan "Cepat selesaikan tugasmu, aku sudah muak melihat putraku menderita."
"Baiklah, tapi yang perlu kau tahu aku akan melakukannya dengan caraku!"
"Terserah!"
Setelahnya ayah kandung Luhan dan Kyungsoo itu meninggalkan mansion keluarga Baekhyun, Sang pemilik pun tak bisa menyembunyikan senyum liciknya sebelum suara putra tercintanya berteriak dan terdengar sangat marah.
"AKU INGIN BERTEMU DENGAN LUHAN! LEPASKAN AKU!"
"Apa dia masih marah?"
"Ya Tuan, Tuan muda Baekhyun ingin bertemu dengan Luhan."
"sial! Apa yang harus kulakukan?"
"Sebaiknya anda mengizinkan Luhan datang tuan, jika tuan muda dihancurkan sendiri oleh sahabatnya, saya rasa itu akan lebih mudah untuk anda menyingkirkan pemuda itu."
Tertarik, Ayah Baekhyun menatap pada kaki tangannya untuk bertanya "Apa maksudmu?"
"Saya dengar mereka akan menikah."
"Siapa?"
"Tuan muda Oh Sehun dan Luhan, dalam satu minggu mereka akan melangsungkan pernikahan!"
"brengsek, Xi Luhan! Berani sekali dia-….Darimana kau tahu?"
"Beritanya sudah tersebar karena ayah dari pihak keluarga Oh adalah orang terpandang dan cukup disegani di kalangan pengusaha dan pemilik tiga perusahaan besar di Tokyo dan Seoul."
"LUHAAAN! AKU INGIN BERTEMU DENGAN LUHAN ABOJI! LEPASKAN AKU!"
"rrhh!" Tak tahan dengan teriakan satu-satunya putra yang dimilikinya, Tuan Byun menggeram marah untuk memberi perintah "BAWA LUHAN KEHADAPANKU! SEKARANG JUGA!"
.
.
.
.
.
.
.
.
A Few days later…
.
.
Dan setelahnya waktu berjalan dengan cepat, sudah empat hari berlalu semenjak lamaran yang dilakukan Sehun pada Luhan, itu artinya hanya tersisa tiga hari sebelum pernikahan yang sudah 90% siap diselelenggkaran terjadi.
Baik dari pihak Sehun maupun Luhan terlihat sama-sama gugup menantikan pernikahan putra masing-masing, semua menyiapkan hal terbaik untuk hari pernikahan. Semua, tak terkecuali Sehun bahkan Luhan sendiri. Pertemuan keduanya terbilang jarang mendekati hari pernikahan mereka. Seluruh pekerjaan yang harus diselesaikan membuat keduanya benar-benar sibuk sementara urusan pernikahan diserahkan seluruhnya pada Pengurus Lee, atas perintah Sehun tentu saja.
"haah~ Aku benar-benar tidak percaya kau akan menikah."
"Aku juga."
"sudahlah!"
Luhan harus mengambil nafas lagi kali ini, entah sudah keberapa kalinya Jin dan Minseok mengatakan hal yang sama tentang rencana pernikahan yang terbilang dadakan untuk mereka dengar. Kedua sahabatnya terus memasang wajah sendu dimana yang satu terlihat sedih sementara yang satu terlihat iri.
Ya, satu-satunya yang akan menampilkan wajah bahagia hanya Baekhyunnya tentu saja, tapi mengingat keberadaannya yang entah berada dimana, Luhan merasa begitu bersalah jika pernikahannya berlangsung tanpa kehadiran Baekhyun.
"Jinna,"
"Apa?"
"Presdir Park? Apa kau melihatnya bersama Baekhyun belakangan ini?"
"Tidak, aku rasa dia jarang ke agensi beberapa hari ini."
Sret…!
"Lu, mau kemana?"
Luhan melihat arlojinya untuk mengatakan "Kyungsoo akan mengadakan konferensi pers dalam sepuluh menit kedepan, aku tidak ingin melewatkannya."
"Kyungsoo?"
"hmmh."
"Oh astaga! Apa dia akan mengumumkan jadwal comeback miliknya?"
"Pihak Management yang melakukannya Xiu, jangan lupakan itu."
"ah, kau benar. Lalu untuk apa?"
"Dia akan mengumumkan alasan dirinya hiatus untuk beberapa waktu."
"MWO?"
"LUHAN TUNGGU!"
Baik Jin maupun Minseok terkejut, pasalnya mereka sudah lama tidak melihat Kyungsoo, jadi ketika berita Kyungsoo hiatus terdengar sama mengejutkannya dengan berita pernikahan Luhan, kedua manager berbeda agensi itu segera mengikuti kemanapun Luhan menuju saat ini.
"Bisa beri kami alasan tentang keputusanmu mundur sementara?"
Dan benar saja ucapan Luhan, tepat di ruang pertemuan OSH'ent, Kyungsoo sedang memberikan klarifikasi terkait keputusannya untuk mundur sementara dari dunia hiburan "Aku hanya ingin beristirahat sejenak, nanti jika waktunya sudah tepat, mungkin aku akan kembali, itupun jika penggemarku masih menginginkannya."
"Oppa! / Kyungsoo andwae"
Luhan tertawa melihat beberapa reaksi dari penggemar Kyungsoo yang diizinkan masuk, tak banyak memang, tapi sepertinya kedatangan mereka sukses membuat Kyungsoo memiliki kepercayaan diri yang sempat hilang semenjak kehamilannya.
"Baiklah, kumohon tunggu aku, Ya?"
Luhan bisa melihat disisi kanan Kai ditemani Kwangsoo sedang menunggu dengan setia Kyungsoo menyelesaikan acaranya, terlihat wajah Kai yang sangat bahagia diikuti tepukan bangga tiap kali Kyungsoo menyelesaikan kalimat.
Matanya sempat bertatapan dengan mata Luhan, keduanya tak lagi tersenyum canggung dan mulai membiasakan diri pada status kakak-adik ipar yang mungkin sebentar lagi akan terjalin diantara mereka.
"Aku rasa cukup sekian pemberitahuan dariku, maaf membuat kalian semua cemas dan khawatir, tapi terimakasih telah menungguku."
Luhan juga sempat memberikan tepukan bangga untuk adiknya, dia mengangkat ibu jari lalu berniat pergi sebelum matanya menangkap sosok familiar yang selalu mengganggu hidupnya dan hidup Kyungsoo.
"MINGGIR KALIAN! BIARKAN AKU MASUK!"
"tidak…"
Bukan hanya Luhan yang terkejut, senyum di wajah Kyungsoo juga digantikan cepat dengan ketakutan saat melihat sosok ayah yang begitu menakutkan sedang menyeringai kearahnya "DO KYUNGSOO! ANAKKU SAYANG!"
"hey, Bukankah ayah Do Kyungsoo sudah meninggal?
"Ya, dia mengatakan kedua orang tuanya sudah tiada semenjak pertama debut. Lalu siapa pria itu?"
Bisikan beberapa wartawan, kekacauan yang dibuat pria tua yang sialnya adalah ayahnya dan Kyungsoo serta wajah pucat Kyungsoo saat melihat ayahnya setelah sepuluh tahun berlalu membuat keringat di wajah Luhan terlihat sangat jelas.
Entah apa yang coba direncanakan oleh ayahnya, tapi bukan dia targetnya kali ini melainkan Kyungsoo yang terlihat syok dengan wajahnya yang begitu pucat tak mengerti "a-aboji." Katanya bergumam takut dibalas kemarahan oleh Jongin yang melihat kekasihnya ketakutan "Hyung lepas!"
Kwangsoo menahan Kai yang ingin menolong kekasihnya untuk berbisik tegas agar Kai tak membuat semuanya menjadi berantakan "Luhan, dia bilang kita harus tenang."
"Luhan?"
Lalu Kai melihat kemana Luhan berada untuk mendapati dua mata rusa yang pernah begitu dia kagumi itu memintanya untuk tenang, dia juga memberi isyarat calm down dengan gesture tangannya seperti memiliki rencana untuk menghentikan pria sialan yang mengacaukan Kyungsoo saat ini.
"Tuan? Siapa anda? Apa hubungan anda dengan aktor DO?"
"AKU AYAHNYA! TAPI KYUNGSOOKU TERCINTA MENOLAK KEHADIRANKU! DIA SANGAT MEMBENCIKU!"
"aboji / sial!"
Baik Kyungsoo maupun Luhan memberikan reaksi berbeda, untuk Kyungsoo dia hanya bisa mengingat sosok ayahnya saat usianya sepuluh tahun, selebihnya dia tidak pernah mengetahui apapun lagi tentang ayahnya kecuali dari Luhan.
Dia bukan seorang ayah, dia bajingan.
Itulah yang dikatakan Luhan padanya, awalnya dia tidak percaya, tapi lihat bagaimana sang ayah sengaja datang dan menghancurkan hidupnya di depan media, membuat tubuh sang aktor bergetar takut, terlalu bingung karena apa yang Luhan katakan bukanlah sebuah kebohongan.
"ANAAAKKU!"
Das saat pria bajingan itu memeluk Kyungsoo di depan media, Luhan geram. Dikepalnya erat kedua tangannya untuk berteriak "ABOJI! APA YANG KAU LAKUKAN DISANA!"
Dia menyeruak kerumunan media dan fans yang sedang mengambil gambar untuk kembali mendengar bisikan dari wartawan yang semakin dibuat bingung dengan kondisi saat ini "APA YANG KAU LAKUKAN?"
Do Hansung, ayah Luhan dan Kyungsoo, tersenyum licik saat melihat target pertamanya, dia kemudian memasang wajah memelas untuk bertanya sengaja dibuat terlihat bodoh "Siapa kau?"
Luhan tertawa sama liciknya untuk mengatakan "Aku? Ah, AKU ANAKMU ABOJI! AKU SATU-SATUNYA PUTRA YANG KAU BUANG! BUKAN KYUNGSOO!"
Kedudukan mereka kini menjadi sama, Hansung sendiri tidak ingat mewariskan sifat liciknya pada Luhan, jadi ketika Luhan membalasnya begitu berani dia hanya tersenyum untuk menantang "Benarkah? Aku ayahmu?"
"Sialnya kau ayahku!" timpalnya mendesis lalu tak lama memperhatikan Kyungsoo yang gemetar ketakutan "Luhan…"
"Serahkan padaku." Ujarnya memberitahu Kyungsoo lalu tak lama menarik kasar lengan ayahnya "KITA PERGI!"
Setelahnya Luhan membawa ayahnya pergi ketempat yang tak bisa dimasuki wartawan, meninggalkan Kyungsoo yang masih terkejut melihat kedatangan ayahnya untuk kemudian menatap cemas pada Luhan "Apa yang kau lakukan Lu?" ujarnya lirih sebelum suara Kwangsoo terdengar dan membawa dirinya pergi menjauh dari kerumunan media.
"hyung? Luhan…"
"Dia bisa mengatasinya."
.
.
.
BRAK!
Dengan tenaga tersisa, Luhan membawa ayahnya ke ruang basement karyawan, menghempasnya kasar untuk menatapnya begitu marah "APA YANG SEBENARNYA KAU LAKUKAN?"
"Lihat..lihat, Siapa yang terus mengumpat sedari tadi? Lagi ada apa denganmu? Aku tidak mengganggumu sialan!"
"TAPI KAU MENGGANGGU KYUNGSOO!"
"Wae? Kyungsooku juga putraku! Jika tidak bisa memeras putra pertamaku, tidak ada salahnya aku menggunakan si Kyungsoo untuk-….."
"DIAAAAAM—AAAARH!"
Luhan sudah mengepalkan tangannya, siap memukul mulut besar yang selalu berbicara omong kosong namun tak sampai hati dia lakukan, mau bagaimanapun bajingan tua di depannya tetaplah ayahnya, tetap alasan mengapa dia dilahirkan ke dunia, jadi selain membenci, membenci dan membenci, rasanya Luhan tak bisa menyakitinya, tidak dengan kedua tangannya sendiri!
"Ini peringatan terakhir dariku, Jauhi Kyungsoo! Oke?"
"Lalu kepada siapa aku bisa meminta uang? Kau sudah dibeli oleh pengusaha tua itu! Aku harus mendapatkan jaminan bahwa kau bisa bertanggung jawab lagi pada hidupku!"
Tertawa sinis, Luhan mengatakan "Dalam mimpimu saja, a-bo-ji!"
Penuh percaya diri Luhan meninggalkan pria tak berguna di belakangnya, berniat untuk segera bertemu Kyungsoo untuk setidaknya menenangkan ketakutan yang sama yang pernah Luhan rasakan kali pertama melihat ayah mereka setelah bertahun-bertahun.
"Ini hanya mimpi burukmu Soo, tidak akan terulang." Katanya tersenyum sebelum lagi-lagi pria yang berstatus ayahnya seolah tahu kemana dia harus menyerang tanpa harus mengotori tangannya.
"Aku dengar kau akan menikah? Benarkah?"
Tap!
Langkah Luhan terhenti, tiba-tiba tangannya berkeringat karena cemas lalu ucapan sang ayah kembali terdengar seperti mimpi buruk untuknya "Apa kau tidak membutuhkan pendamping? Ayolah! Aku masih hidup, kau bisa menjadikan aku pendamping di hari pernikahanmu!"
Perlahan, pria tua itu berjalan mendekati Luhan, langkahnya terdengar sangat mengerikan di telinga Luhan, terlalu mengerikan sampai lagi-lagi ayahnya berdiri tepat di depan wajahnya, tersenyum licik seolah mengetahui apa yang bisa membuat Luhan begitu ketakutan.
"Dan kudengar calon suamimu adalah pemilik agensi besar ini? whoa! Aku tidak menyangka bisa memiliki anak pembawa keberuntungan sepertimu! Awalnya aku mengira kau hanyalah sampah yanggg akan membawa sial di hidupku, Lu-Han!"
"….."
Luhan tak membalas seperti di awal, karena setiap kali ayahnya menyerang langsung kelemahannya, kepalanya akan terus berdenyut sakit nyaris tak bisa dia kendalikan "Aku akan datang ke pernikahanmu."
"sial!"
"Wae? Tidak boleh lagi? Baiklah, baiklah, Jangan melotot seperti itu! Tidak cocok dengan wajah cantikmu, Luhanku sayang."
Tangan Luhan semakin terkepal, tergoda untuk memberikan pukulan di wajah ayahnya sebelum dibuat lemas mendengar penuturan langsung bahwa ayahnya akan melakukan hal gila yang tak pernah dibayangkan Luhan sebelumnya.
"Aku akan menghancurkan kebahagiaanmu, entah bagaimana caranya aku bersumpah akan datang ke pernikahanmu dan menghancurkannya. Kau dengar?"
Deg!
Seluruh wajah Luhan berubah pucat, hatinya sesak menyadari bahwa sekalipun dia tidak bisa meremehkan ucapan ayahnya. Dia pernah melakukannya dan Jaehyun berakhir di rumah sakit, jadi ketika ayahnya mengatakan akan menghancurkan pernikahannya, maka selamat datang mimpi buruk karena pastilah dia akan melakukannya.
"W-wae?" katanya lirih, bertanya dan menatap langsung mata ayahnya "Kenapa kau sangat membenciku? Apa salahku?"
Ayah dua anak itu tertegun untuk beberapa saat sebelum menyadarkan diri bahwa Luhan adalah kesalahan dalam hidupnya "Karena kau bencana dalam hidupku, aku sudah mengatakan pada ibumu untuk membunuhmu saat masih dalam kandungan. Tapi kemudian dia bersikeras melahirkanmu dan tiba-tiba datang meminta uang saat kau sakit! KAU—KAU MENGHANCURKAN HIDUPKU LEBIH DULU!"
Kenyataan yang baru diterimanya adalah dia anak yang tidak diinginkan, ibunya tidak pernah mengatakan apapun tentang dirinya yang dipaksa membunuhnya sewaktu di dalam kandungan, jadi kebencian ayahnya, keinginannya untuk menghabisi dirinya semua terasa masuk akal seiring dengan penjelasannya.
"Aku tidak minta untuk dilahirkan. Kenapa kau tidak memaksa ibu saat itu? kenapa-..KENAPA KAU TIDAK MENGGUNAKAN SEGALA CARA UNTUK MEMBUNUHKU? KENAPA KAU MEMBIARKAN AKU LAHIR ATAU KENAPA KAU TIDAK MATI SAJA AGAR TIDAK PERLU MENYAKITI AKU DAN IBU! KENAPA!"
"BRENGSEK!"
Hansung menghimpit putra sulungnya ke salah satu pembatas parkir, mencekiknya erat hingga warna muka Luhan berubah menjadi merah, tanda dia kesulitan bernafas "Kau tahu kenapa aku tidak pernah sudi memberikan nama margaku padamu?"
"rrrhh!"
"ITU KARENA AKU SUDAH BERNIAT MENGHABISIMU SEJAK AWAL!"
"A-aboji!"
Luhan menepuk tangan ayahnya, berusaha memohon agar cekikannya dilepaskan tapi sepertinya percuma, karena daripada melepaskan, ayahnya semakin mencekiknya kuat saat ini "Tapi kemudian aku tahu kau berguna untuk hidupku yang hancur, kau-…KAU TERLALU BERGUNA UNTUK DIHABISI SAAT INI! AARRRRH!" katanya berteriak murka lalu menghempas kasar tubuh Luhan ke lantai basement
Uhuk!
"haaah~"
Luhan mengambil nafas sebanyak-banyaknya, mengisi udara yang diambil paksa dari parunya, untuk kemudian meringis karena sang ayah menjambak kuat rambutnya saat ini
"aarhh!"
"Kau tidak pantas bahagia sialan! Kau dengar? Jika pernikahan itu tidak batal, aku sendiri yang akan menghancurkannya! KAU DENGAR?"
"tsk! Aku tidak akan pernah membatalkannya, TIDAK AKAN PERNAH!"
Hansung nyaris memukul wajah Luhan jika tidak menyadari kehadiran orang lain di basement. Yang dia lakukan kini menyeret tubuh Luhan agar tidak terlalu terlihat mencurigakan untuk sekali lagi berbisik "Lakukan saja, kita akan lihat siapa pemenangnya di hari pernikahanmu! Aku atau kau atau mungkin Jaehyun dan ibumu?"
Mata Luhan membulat hebat, sedari tadi dia tidak peduli jika hanya namanya yang akan dihancurkan oleh pria tua sialan di depannya, sungguh dia tidak peduli, tapi ketika nama Jaehyun dan ibunya disebut oleh bajingan tua yang kini melangkah pergi, refleks, Luhan ingin mengejar namun berakhir jatuh karena terlalu lemas "y-Yak! Jangan-….AAAARGGH! JANGAN MEMBAWA JAEHYUN DAN IBU! JANGAN PERNAH MENYERET MEREKA KE DALAM MASALAH KITA! KAU DENGAR?"
.
.
.
.
.
"Wae hyung?"
"Kau dan ibu baik-baik saja kan?"
"Ya, ada apa?"
"Lalu kapan kalian datang ke Seoul?"
"Tepat di hari pernikahanmu hyung, kau tahu kan? Ibu sedang tidak sehat."
"Araseo… Jaehyunna."
"hhmmh?"
"Kau harus baik-baik saja ya."
"Tentu. Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. hyung tutup panggilannya."
"araseo, selamat malam hyung."
Pip!
Sudah tiga jam berlalu semenjak insiden mengerikan yang terjadi antara dia dan ayah kandungnya. Dan selama tiga jam itu pula Luhan hanya terus berjalan tak tentu arah, kemanapun asal tidak bertemu Sehun untuk saat ini.
Dia terlalu bingung dengan situasinya saat ini, situasi dimana seharusnya dia tidak memikirkan apapun menjelang pernikahan berbalik menjadi sangat mengerikan untuknya.
"haah~"
Luhan menendang kaleng cola yang berada di penglihatannya. Jujur dia merasa lega setelah berbicara dengan Jaehyun, tapi kemudia wajahnya sendu merasa begitu takut dan hilang arah sementara sedari tadi ponselnya bergetar dengan nama Sehun yang terus memenuhi layarnya "Nanti ya, sebentar lagi aku akan mengangkatnya." Katanya memasukkan ponsel ke dalam saku sebelum dua mobil berwarna hitam tiba-tiba berhenti tepat di depannya
BLAM!
BLAM!
Luhan tidak bergerak di tempatnya, lagipula kemana dia bisa pergi jika dua mobil itu berhenti seperti melingkari dirinya "Selamat malam Manager Xi!"
"Ya? Siapa kalian?"
Keempat pria yang memakai jas hitam itu membungkuk pada Luhan sementara salah satunya membukakan pintu mobil untuknya "Silakan ikut kami, Tuan muda Baekhyun menunggu anda."
"Ba-Baekhyun? Benarkah?"
"Ya tuan! Silakan masuk."
Tak berpikir dua kali Luhan segera masuk tanpa perlawanan, dia sangat merindukan Baekhyun, jadi wajar saat nama Baekhyun disebut dia terlihat sangat senang tanpa tahu setelah ini mungkin hatinya akan dibuat kembali ragu pada pernikahannya sendiri.
.
.
.
.
.
.
BLAM!
Dan benar saja tak lama Luhan berhenti di rumah yang pernah menjadi tempat tinggalnya juga. Rumah yang selalu terbuka lebar untuknya saat dulu mereka masih duduk di bangku kuliah.
"Silakan ikut kami."
Luhan pun mengangguk, mengikuti kemanapun dirinya dibawa pergi untuk menyadari bahwa rumah Baekhyun terlihat lebih sepi dan sangat mengerikan dari sebelumnya, dia juga tidak menemukan bibi Kwon yang selalu menyapa tiap kali datang untuk dibawa langsung tepat ke depan kamar Baekhyun.
"Setelah bertemu dengan Tuan muda kami akan mengantar anda pulang."
Jujur Luhan merasa begitu canggung dengan situasi ini. Situasi dimana seharusnya dia merasa senang bertemu Baekhyun tiba-tiba membuatnya cemas mengingat bukan Baekhyun yang menyapanya langsung dirumahnya melainkan seluruh penjaga yang diketahuinya sudah bersama Baekhyun sejak kecil
Mungkin Baekhyun masih marah padaku.
Begitu tebakan Luhan, dia pun menenangkan diri sejenak untuk perlahan membuka pintu dan begitu terkejut mendapati Baekhyun terbaring lemah di tempat tidur, jangan lupakan slang infus yang berada di tangan kirinya hingga membuat air mata Luhan menetes begitu merasa bersalah atas keadaan sahabatnya yang begitu menyedihkan.
"Baekhyunna."
"Tuan muda tidak memakan apapun hampir satu minggu ini, jadi terpaksa tim medis memberikan infus padanya. Masuklah Luhan, dia ingin bertemu denganmu."
Yang memberitahunya adalah Bibi Kwon, wanita yang kehadirannya Luhan cari di lantai bawah ternyata tengah merawat Baekhyun yang entah sejak kapan sudah terbaring lemah di tempat tidurnya.
Dia pun mengangguk, perlahan mendekati tempat tidur Baekhyun untuk duduk disampingnya, mengusap surai yang sudah kehilangan banyak berat badan dengan wajah pucatnya terlihat "Kenapa kau seperti ini? Apa aku sudah terlalu jauh menyakitimu? Maaf Bee, Maafkan aku, hkss."
Hatinya sakit mengingat pertemuan terakhirnya dengan Baekhyun dipenuhi kebencian, lalu setelahnya Baekhyun menghilang tak ada kabar dan hanya tergeletak lemah di tempat tidur "Bee, buka matamu."
Sesuai permintaan Luhan, kini dua mata Baekhyun terbuka, dan sama sepertinya yang terkejut, Baekhyun menampilkan wajah yang sama. Bedanya dia terlihat pucat sementara Luhan menyambutnya dengan senyum "Bee, ini aku."
Seperti mimpi melihat Luhan, Baekhyun mengangkat satu tangannya untuk mengusap pipi Luhan "Luhan?"
"eoh, Ini aku sayang. Ini aku—hkss.."
"Benar-benar Luhan?"
Baekhyun bertanya lagi, air matanya juga sudah terlihat tanda dia terlalu bahagia walau hatinya masih menjerit sakit menyadari bahwa setelah kejadian itu dia tidak bisa melihat Luhan sama seperti dulu, setidaknya untuk saat ini dia hanya bersyukur karena Luhan baik-baik saja.
"Aku Luhan, Aku si penghianat itu." katanya mengambil tangan Baekhyun lalu mengecupi sayang penuh penyesalan, semua terjadi begitu tiba-tiba untuk keduanya, sampai terdengar suara isakan Baekhyun yang terdengar jauh lebih baik saat bertemu dengan Luhan "Dasar penghianat cantik! Aku membencimu, tapi aku merindukanmu, Luhan, sayangku."
Keduanya kini berpelukan erat, Luhan membungkuk memeluk Baekhyunnya sementara Baekhyun mencengkram kuat punggung Luhan, entah sebenarnya apa yang mereka rasakan tapi setidaknya keduanya telah bertemu dan menjadi Luhan serta Baekhyun yang saling menyayangi jauh sebelum kehadiran Sehun di tengah-tengah mereka.
.
.
.
"Buka mulutmu."
Dua puluh menit telah berlalu, dan selama dua puluh menit itu pula Baekhyun benar-benar terlihat sehat dan sangat baik. Luhan tentu saja alasannya untuk terlihat sehat "aaa." Tanpa ragu dia membuka mulutnya, dan untuk Baekhyun, bubur buatan bibi Kwon akan terasa sangat nikmat melalui tangan Luhan, dia menyukainya hingga dua mangkuk langsung habis dalam hitungan detik.
"aigoo…Bee ku seperti babi kecil yang kelaparan."
"MWO?"
"araseo, Bukan babi….tapi anak babi."
"ishh!—rrh!"
"Apa tanganmu masih sakit?"
Baekhyun mengangguk manja untuk menunjukkan warna biru di lengannya yang sudah diinfus lebih dari satu minggu "Mereka membuat tanganku seperti monster Lu, ini bahkan terlihat bengkak."
"Setelah ini aku akan mengompresnya dan TARAA-.Tangan princess Byun akan kembali cantik seperti sediakala."
"deal!"
Keduanya kembali tertawa, terkadang Luhan akan mengusap keringat di wajah Baekhyun lalu setelahnya Baekhyun akan meminta banyak hal darinya, seperti menceritakan apapun selama mereka berpisah satu minggu dan membuatnya merasa lebih baik.
"Jadi Kyungsoo akan hiatus menjadi aktor?"
"Ya, lagipula sebentar lagi dia akan melahirkan. Kai hanya tidak ingin Kyungsoo kelelahan."
"Kai?"
Luhan tersenyum, meletakkan mangkuk buburnya untuk menatap wajah Baekhyun "Mereka akan segera menikah setelah Kyungsoo melahirkan."
"…"
Baekhyun tidak merespon, sungguh sedari tadi yang dia hindari adalah kisah cinta mereka berdua, karena jika mereka sudah membicarakan tentang Kai, maka topik Sehun sepertinya salah untuk dihindari. Lagipula dia mencoba untuk menghindari bertanya tentang Sehun sementara hatinya begitu merindukan pria yang kini mencintai sahabatnya.
"Lalu bagaimana denganmu?" katanya sendu dibalas pertanyaan lagi oleh Luhan "Apa?"
Baekhyun ragu, digigitnya kencang bibir miliknya sebelum mengambil tangan Luhan dan menggenggamnya penuh harap "Sehun? Apa kau masih bersama dengannya?"
"…"
Sama seperti Baekhyun, Luhan juga menghindari pertanyaan tentang Sehun. lagipula nama Sehun masih terlalu sensitif untuk keduanya, jadi ketika Baekhyun bertanya hubungannya dengan Sehun dia diam, tak berani menceritakan apapun termasuk pernikahannya yang akan diselenggarkan lusa nanti.
"Lu?"
"Bee, kita bicarakan Sehun nanti saja setelah kau sehat. Bagaimana?"
Baekhyun menggeleng, menolak tawaran Luhan dan mengusap sayang wajah sahabatnya "Aku ingin mendengarnya darimu."
"Aku tidak bisa mengatakan apapun."
"haah~ Kuanggap itu jawaban Ya darimu, kalian masih bersama."
"Bee.."
Baekhyun menangis lagi, hatinya ternyata belum bisa menerima kenyataan bahwa Luhan benar-benar mengambil kekasihnya –tidak- bukan Luhan yang mengambil kekasihnya, tapi Sehun yang mengambil sahabatnya. Dia sama sekali belum bisa menerima hingga berakhir terisak dan mencoba bernegoisasi dengan Luhan.
"Lu, hey sayangku." Katanya menghapus air mata untuk menatap Luhan penuh harap "Bisakah kita tinggalkan hidup kita di Seoul? Bisakah kita berdua hanya pindah ke Beijing dan memulai bisnis seperti mimpimu? Kita berdua bisa melupakan Sehun dan mencari pria seksi di Beijing. Bagaimana? Mau ya? ya?"
"Baekhyunna."
"Kau tidak perlu merasa bersalah padaku jika kita pindah dari tempat mengerikan ini. Yang perlu kita lakukan hanya pindah dan memulai hidup baru, bagaimana?"
"Baekhyunna kumohon jangan bicarakan hal ini lebih dulu, kau harus kembali sehat lebih dulu."
Mengabaikan ucapan Luhan, Baekhyun terus mengatakan hal yang sekiranya membuat dia bahagia tapi tidak dengan Luhan "Lagipula apa hebatnya Sehun? kita bisa melupakan dia Lu! Dia tidak berhak menghancurkan persahabatan kita, dia hanya pria brengsek yang mengambil keuntungan dari persahabatan kita. Harusnya kita tidak pernah mengenal Sehun dan siap lelaki sialan-….."
"Baekhyun cukup!"
"huh?" Baekhyun tertegun bingung, hatinya berdenyut sakit melihat bagaimana Luhan terlihat marah hanya karena dia berbicara buruk tentang Sehun "w-wae? Apa kau benar-benar mencintainya? Apa kau tidak bisa meninggalkannya untukku?"
Luhan tertunduk cukup lama, tangannya dikepal erat mencengkram dua pahanya untuk sejenak menenangkan diri. Entah apa ini akan menjadi perpisahannya dengan Baekhyun atau sebaliknya, karena jika Luhan diminta untuk memilih, Sehun adalah pilihan untuk hati egois miliknya.
"Tinggalkan Sehun, hiduplah bersamaku Lu! Kumohon, kita bisa-…"
"aku tidak bisa." Katanya memotong ucapan Baekhyun lalu menatap menyesal pada pria yang juga pernah mengisi hati Sehun sebelumnya "Aku tidak bisa meninggalkan Sehun."
"Apa maksudmu?"
Mengerti keadaan sudah tidak berpihak padanya, Luhan menyerah. Dia berdiri dari tempat tidur Baekhyun untuk mencium surai pria yang terluka karena kisah cinta mereka, dan bergumam sangat menyesal "Maafkan aku Baekhyunna, tapi Sehun-….Aku mencintainya dan tidak bisa hidup tanpanya."
Tak beberapa lama Luhan menghapus air matanya, menaikkan selimut Baekhyun tapi tak berani menatapnya "Luhan…"
"Selamat malam bee. Aku pergi."
"andwae, Luhan jangan pergi, Luhan—LUHAN!"
BLAM!
Luhan menikmati teriakan Baekhyun dari luar kamar sahabatnya, memejamkan erat seolah meminta maaf karena keputusannya untuk tetap bersama Sehun sementara Baekhyun bersikeras mengingankan dirinya meninggalkan Sehun.
"Mianhae Bee, maaf mencuri cintamu."
"Apa kau sudah selesai menyakiti putraku?"
DEG!
"Suara ini."
Luhan ketakutan mendengar suara dari pria paruh baya yang begitu familiar untuknya, suara yang tak pernah menyukainya semenjak kali pertama mereka bertemu namun terus memintanya untuk menjaga Baekhyun karena dia tidak bisa melakukannya seorang diri.
"Jika sudah selesai menyakiti Baekhyun, ikut ke ruanganku!"
Dan saat dia membuka matanya, Luhan bisa melihat kemarahan yang tak bisa dijelaskan dari pria yang telah membiyai seluruh kuliahnya, tangannya berkeringat karena takut, tapi dia sudah memutuskan apapun yang akan mereka bicarakan nanti, dia tidak akan pernah melepaskan Sehun, apapun alasannya.
.
.
.
"Duduk!"
Luhan mengikuti instruksi ayah Baekhyun, takut-taku dia segera menarik kuris untuk mengikuti dan mendengarkan apapun ancaman yang akan diterimanya sebentar lagi "Jadi? Apa kau bersikeras akan tetap bersama kekasihnya?"
Kedua tangannya terkepal takut di atas kedua pahanya, tapi berbeda dengan kepalan di tangannya, Luhan mengangguk tenang dan menatap langsung pada dua mata yang dulu sempat menyukainya sebagai sahabat Baekhyun namun kini dipenuhi kebencian dan kemarahan "Ya."
"tsk! Kau terlihat seperti anjing yang menggigit majikannya!"
"Maaf."
"JIKA KAU MENYESAL KEMBALIKAN KEKASIH PUTRAKU PADANYA!"
"…"
"LUHAN!"
"Baekhyun tidak mencintainya lagi, dia hanya tidak menyukai aku, sahabatnya, mencuri kekasihnya! Dia mecintai sahabat kekasihnya, aku yakin itu. Dan kami-,tak ada yang berbeda dari kami berdua. Kami berdua adalah penghianat!"
BRAK!
"BERANI SEKALI KAU BICARA BURUK TENTANG PUTRAKU!"
Luhan tertunduk, tidak menyesali satupun dari ucapannya mengingat kenyataan memang seperti itu. Kini yang dilakukannya hanya diam, tak berniat mengatakan apapun sampai akhirnya ancaman itu terdengar dari ayah sahabatnya.
"Aku dengar lusa kalian akan menikah. Benarkah?"
Luhan mengangguk sebagai jawaban "Ya, kami akan menikah dua hari lagi."
"Batalkan."
"nde?"
"Aku bilang batalkan! Apa kau tahu bagaimana reaksi putraku jika dia mengetahui pernikahan sahabatnya yang berhianat? APA KAU TEGA MEMBUAT HIDUP PUTRAKU HANCUR HANYA KARENA PERNIKAHAN SAMPAH SEPERTIMU!"
Luhan sudah biasa dihina, tapi dikatakan sampah? Selain ayahnya, ayah Baekhyun adalah orang pertama yang selalu mengatakan dirinya sampah, dan cukup sudah sabarnya, karena Luhan tak memiliki lagi sabar yang cukup untuk dihina "Apa sampah sepertiku tidak bisa bahagia? Tidak boleh memiliki hidup yang lebih baik? Apa hanya orang terpandang seperti kalian yang bisa bahagia HAH?!"
"Berani sekali kau!"
Buru-buru Luhan menggeser kursinya untuk membungkuk berpamitan "Maaf Presdir Byun, tapi sampah sepertiku sudah memutuskan untuk bahagia. Saya permisi." Katanya beranjak pergi untuk kembali mendengar ancaman yang sama dengan yang dikatakan ayahnya beberapa jam yang lalu.
"Lalu bersiaplah untuk konsekuensi kehilanganmu yang lebih besar."
Tap!
Luhan hanya mendengarkan, tidak menoleh dan tidak berani menatap wajah ayah Baekhyun yang pastilah sangat mengerikan saat ini, dia hanya terus mengatakan "Sampah sepertimu tidak akan pernah bisa bahagia jika masih dikelilingi sampah yang tidak berkuasa."
"…"
"Pikirkanlah Luhan, jangan sampai kau bertindak egois dan membiarkan orang-orang terdekatmu terluka hanya karena dirimu."
Tangan Luhan terkepal erat, tergoda untuk berteriak namun berakhir menjawabnya dengan sangat tenang "Saya tidak akan memikirkan apapun Presdir Byun, saya hanya ingin bahagia dan menikahi pria yang saya cintai. Selamat malam."
BLAM!
"hhhmpph….tidak mungkin…Luhan, kau—RRRHH!"
Sementara Luhan berlari pergi, maka seseorang yang dari awal mendengarkan percakapan Luhan dan ayahnya terlihat sangat terpukul. Dia membekap mulutnya, tak mengijinkan satu suara pun keluar dari kerongkonganya untuk menerima kenyataan menyakitkan. Kenyataan bahwa dua hari lagi Luhan dan Sehun akan menikah sementara dirinya terpuruk karena penghianatan yang dilakukan sahabatnya, Luhan.
.
.
.
.
.
DOR DOR!
DOR DOR!
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan demi Tuhan, pria yang menjabat sebagai direktur kedua dari agensi artis terbesar baru memejamkan mata sepuluh menit yang lalu. Kepalanya sakit, tapi yang membuatnya semakin sakit adalah seseorang menggedor pintu apartementnya terlalu kuat.
DOR DOR!
DOR DOR!
"Yunho hyung! Mati kau jika itu dirimu!"
Sret…!
Pria berlesung pipi itu segera menyingkap selimutnya, berjalan malas mendekati pintu sebelum
Klik!
"Siapa-….Baekhyun?"
Chanyeol, si pemilik apartement, merasa sangat terkejut dengan kedatangan Baekhyun, pria yang sudah dicarinya selama tiga hari ini, dan entah mengapa rasanya begitu bahagia melihat Baekhyun walau pria cantiknya terlihat sangat menyedihkan dengan tampilannya saat ini.
Dia hanya memakai piyama tanpa mantel di malam dingin seperti saat ini, kakinya bahkan berdarah menunjukkan entah darimanapun Baekhyun datang, dia berlari tanpa menggunakan alas kaki. Chanyeol bahkan belum sempat mengeluarkan satu kata pun untuk mendapati Baekhyun melipat tangannya, seolah memohon seraya terisak kuat.
"Aku tidak tahu harus pergi kemana lagi, maafkan aku yeol! Tapi kumohon jangan usir aku. Jangan usir aku, aku takut—hkss."
"Baekhyunna? Ada apa?"
"Kepalaku sakit, hatiku lebih sakit Yeol, aku—AKU TIDAK TAHU HARUS MELAKUKAN APA!"
Sret!
Tak membiarkan Baekhyun ketakutan lebih lama lagi, Chanyeol menarik si mungil ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seraya menciumi surai kepala Baekhyun untuk mengatakan "sstt, Aku sudah memelukmu Baek, aku sudah memelukmu."
.
.
.
.
.
.
Sampah sepertimu tidak pantas bahagia!
"Sampah? Kenapa mereka selalu mengatakan sampah? Apa aku terlihat seperti sampah?"
Sudah satu jam Luhan berjalan dari rumah Baekhyun menuju apartement Sehun, dan selama satu jam itu pula dia terus meracau tidak semua kebencian yang diterimanya hanya dalam waktu enam jam tepat dua hari sebelum pernikahannya.
Ddrtt..drrtt..
Dia merogoh ponsel, lagi-lagi nama Sehun tertera disana, bohong jika Luhan tidak ingin mengangkat panggilan kekasihnya, tapi jika dia melakukannya dia hanya akan menangis dan semua itu hanya akan membuat Sehun menjadi cemas.
"Sebentar lagi sayang, sebentar lagi aku sampai."
"SEBENTAR LAGI KEPALAMU! BERANI SEKALI KAU MENGABAIKAN PANGGILAN DARIKU!"
TAP!
Dan seperti biasa, jangan sebut namanya Sehun jika tidak bisa memberikan kejutan padanya, ya, selalu seperti ini, jika dia kesulitan atau sedang mengalami hal buruk, rasanya Sehun akan menjadi orang pertama yang mengetahuinya.
Terlepas dari dia memberitahu atau tidak, Sehun akan terus melakukannya sampai membuat Luhan terjatuh lagi dan lagi pada pria yang membuat hubungannya dan Baekhyun renggang hanya dalam hitungan hari.
"sssh! KEPALAKU SAKIT MEMIKIRKANMU! APA KAU BERNIAT LARI DARI PERNIKAHAN KITA?!"
Calon suaminya hanya menggunakan piyama tidur dan menunggunya di sebrang jalan, terlihat marah namun tak bisa menyembunyikan tatapan lega saat melihat dirinya, Luhan bisa merasakannya, karena semarah apapun Sehun padanya, matanya tidak akan pernah bisa berbohong dan selalu berakhir menatap lembut padanya.
"CEPAT PELUK AKU!"
"tsk!"
Luhan mencibir, hatinya dipenuhi kehangatan melihat bagaimana Sehun pada akhirnya meminta dipeluk, lagipula hanya wajahnya yang terlihat mengerikan, hatinya? Eyy, Sehun memiliki hati yang begitu lembut hingga jika terluka akan sulit untuknya pulih dengan cepat.
Alasan itu pula yang membuat Luhan tetap bertahan dan menjadi egois seperti yang dikatakan ayah Baekhyun, karena pada akhirnya selain Sehun dan Baekhyun, hatinya juga akan terluka jika dia merelakan Sehun dan meninggalkan pria yang hatinya begitu polos seperti malaikat kecil.
"Kau marah atau ingin memelukku?" Luhan bertanya, berjalan cepat menghampiri Sehun dibalas raut kesal dari wajah kekasihnya "Calon istriku, aku ingin memeluknya."
"aww! too cheessy Oh Sehun!" katanya menggoda Sehun lalu kemudian berlari, menyambut lengan posesif yang sudah menjadi miliknya selama enam bulan ini, hanya miliknya
Grep!
"Tapi aku menyukainya, calon suamiku." Katanya bergumam senang lalu membiarkan Sehun mendekapnya erat.
"Aku merindukanmu Lu."
Luhan hanya terus memeluk Sehun seraya membalas "Aku juga."
Tak lama Sehun menatap Luhan, menarik dagu si mungil lalu mengecupnya lembut. Terlalu lembut sampai Luhan dibuat meleleh dan tanpa sengaja meneteskan air mata. Semuanya terlalu sempurna, kebahagiannya sudah berada di depan mata dan dia tidak ingin melepaskannya.
Biarlah orang mengatakannya egois selama cinta Sehun hanya dia pemiliknya "Sehunna-hmmp~" Luhan membuka mulutnya, Sehun menyambutnya bahagia, dililitnya dua lidah mereka sampai Sehun merasakan rasa asin disela ciumannya dan cukup terkejut melihat Luhan menangis.
Dengan berat hati Sehun melepas ciuman mereka, untuk menyatukan dahi keduanya, mengusap lembut bibir Luhan "Hey. Ada apa? Aku menggigit lidahmu lagi ya?" katanya menghapus air mata Luhan, memberi peck singkat pada bibir mungil kekasihnya yang terisak.
"Kau tidak pernah menggigit lidahku sayang."
"Lalu apa?" Sehun bertanya kemudian kembali menebak apa yang ada di pikiran Luhan "Ini bukan karena kedatangan ayahmu kan? Bukan karena dia mengacaukan konferesi pers Kyungsoo?"
"Sehunna. Darimana kau tahu?"
"Tempat kalian bertengkar siang tadi adalah milikku, jadi mustahil aku tidak mengetahuinya. Lagipula beritanya sudah tersebar di media." Katanya mengigit gemas bibir Luhan lalu menarik pinggang si mungil tak memberikan jarak diantara mereka.
"oh,"
"Jadi benar karena ayahmu? Kau cemas?"
Luhan tak bisa menyembunyikan fakta bahwa ayahnya adalah hal yang membuatnya sangat ketakutan selain ayah Baekhyun, dia pun kemudian mengangguk dan memeluk Sehun sangat erat "Dia bilang aku sampah, aku tidak bisa bahagia. Kenapa ayahku kejam sekali Sehunna, kenapa aku tidak memiliki ayah seperti ayahmu!"
Bohong jika hati Sehun tidak sakit mendengar cerita Luhan, bohong jika dia tidak menangis melihat prianya begitu ketakutan, jadi saat Luhan mengadukan apa yang membuatnya begitu sakit dan terpukul, Sehun diam-diam mengepalkan erat tangannya, bersumpah akan membalas sama keji yang dilakukan semua orang pada pria mungilnya, kekasihnya, calon istrinya, Luhannya.
"Aku benci dia Sehunna, benar-benar benci."
"sstt….Siapapun yang mengatakan dirimu sampah, aku berjanji akan memberi pelajaran padanya. Lagipula sayang…." Sehun kembali menangkup wajah Luhan dan hatinya mendadak tersayat melihat betapa lelah wajah kekasihnya disaat hari pernikan mereka akan digelar kurang dari empat puluh delapan jam dari sekarang.
"hey, berhenti menangis. Hatiku sakit."
Luhan tertawa kecil dan menarik hidung Sehun karena prianya sudah hampir menangis saat ini "Lagipula apa?" katanya bertanya dibalas suara Sehun yang meringis karena hidungnya ditarik "Lagipula ayahku sudah mengurus ayahmu, dia bilang tidak ada yang bisa menyakiti Luhanku! Jadi kau tenang saja, ayahmu yang sesungguhnya sudah melindungimu lebih cepat bahkan dari suamimu sendiri."
"Benarkah?"
"hhmmm..Jadi yang perlu kita lakukan hanya menikah dan hidup bahagia bersama sampai tua. Ya?"
Tak mau mreagukan Sehun lagi, Luhan mengangguk, dia kemudian memeluk kembali tubuh kekar kekasihnya yang begitu nyaman untuk bergumam "Menikah dan bahagia bersama sampai tua." Katanya menyetujui dibalas dekapan erat dari calon suaminya.
Entah apa yang akan terjadi di hari pernikahan mereka, yang jelas mata Luhan sedang terpejam saat ini, berdoa kuat-kuat agar semua berjalan lancar dan Baekhyun, semoga kelak Baekhyun memaafkannya hingga tak ada yang terluka karena pernikahannya dan Sehun.
"Aku mencintaimu Sehunna, Sangat mencintaimu."
"Aku mencintamu Luhan, hidupku."
.
.
.
.
"ssshh…"
"Bagaimana bisa kau berlari kesini tanpa alas kaki?"
Saat ini Chanyeol sedang mengobati kaki Baekhyun, dan persis seperti dugannya Baekhyun memiliki banyak luka selain di telapak kakinya. Hal itu cukup membuatnya cemas mengingat yang dilakukan Baekhyun hanya menangis dan tak mau bicara.
"hkss.."
"Baekhyunna, ada apa denganmu? Kau membuatku cemas?"
Selesai membersihkan luka Baekhyun, Chanyeol duduk disamping pria yang begitu ia rindukan, menarik lengan Baekhyun lalu mendekapnya erat berharap Baekhyun merasa lebih baik "Darimana saja dirimu? Aku mencarimu, aku merindukanmu Bee."
"hkss…Yeol."
"hmmh?"
"apa-…Apa benar Luhan dan Sehun akan menikah lusa nanti?"
Dekapan Chanyeol terasa lebih erat memeluknya, itu seperti jawaban untuk Baekhyun sebelum suara berat pria yang dicintainya selain Sehun terdengar membenarkan pertanyaannya "Ya, mereka akan menikah lusa nanti."
"hkss…Luhan, dia tega sekali padaku."
"aniya! Luhan juga terluka, sama sepertimu."
"huh?"
"Dia juga sempat ragu akan pernikahannya, dia bahkan memintaku untuk terus menjagamu mengingat setelah pernikahannya kalian akan menjadi orang asing, itu tebakannya. Tapi Baekhyunna, tidakkah kita lebih egois dari mereka?"
"Apa maksudmu?"
"Aku, Jujur saja aku sudah merelakan Kyungsoo pada Kai. Jadi tidak bisakah kau merelakan Sehun untuk Luhan?"
Baekhyun terisak pelan, didekapnya erat tubuh Chanyeol untuk mengatakan "Tidak semudah itu Yeol."
"Aku tahu, perlahan saja, Ya? Aku berjanji akan menemanimu dimasa pemulihan hatimu, bagaimana?"
"Entahlah, hatiku masih begitu sakit, aku kesakitan yeol—hksss."
"sshh…Anggap saja kita juga membayar dosa kita pada mereka. Apa kau ingat? Kita lebih dulu menghianati mereka jauh sebelum mereka menghianati kita."
"…"
"Karma itu benar-benar nyata Baekhyunna, pada akhirnya kita ditinggalkan kekasih kita masing-masing. Aku bisa meraskaan sakit dan kehilanganmu karena aku juga merasakannya."
"yeol…"
"Jangan pergi lagi ya? Aku benar-benar merindukanmu Bee."
Tak perlu waktu lama Chanyeol mengecup bibir Baekhyun, berniat untuk menghapus air mata kehilangan Baekhyun dan bersumpah untuk mengganti kehilangan Baekhyun dengan kehadirannya. Dosa ini terlalu manis untuk mereka berdua, jadi rasanya hanya perlu sedikit waktu agar Baekhyun benar-benar menerima kenyataan pernikahan Luhan dan Sehun sampai nanti hatinya benar-benar berpaling dan menjadi miliknya.
"Aku akan menemanimu hadir di pernihakan Sehun dan Luhan, kau dengar?"
Baekhyun kembali membuka bibirnya, menyambut bibir Chanyeol yang mulai memberikan efek panas di seluruh tubuhnya untuk mengangguk sebagai jawaban "Ya, aku akan datang ke pernikahan Sehun dan Luhan."
Chanyeol tersenyum, dua lesung pipinya terlihat sangat jelas untuk mengecup sayang kening Baekhyun dan menatap ingin pada pria cantik didepannya. "Aku tahu ini bukan saat yang tepat, tapi aku membutuhkanmu Baek, sangat."
Malam itu, keduanya memutuskan untuk melepas rindu yang mereka kubur jauh di dalam hati mereka. Rindu yang pada akhirnya memenangkan situasi mengingat saat ini Baekhyun sedang dipenuhi peluh namun seluruh bibirnya memanggil nama Chanyeol sebagai pelampiasan birahinya.
Malam ini Baekhyun sudah memutuskan, dia akan merelakan Sehun untuk Luhan secara perlahan, walau sepertinya sulit tapi sepertinya dia akan baik-baik saja karena pria yang sedang bergerak diatasnya menawarkan cinta yang sama yang dulu pernah diberikan Sehun untuknya.
.
.
.
.
.
.
.
The wedding, 09.00 KST
.
.
.
"Xiu bagaimana? Jaehyun sudah datang?"
Yang ditanya menatap menyesal pada sahabatnya, sudah tiga jam sejak pukul tujuh pagi mereka berusaha menghubungi adik Luhan namun hanya nada non aktif yang diterima keduanya "Belum Lu, kita akan mencarinya setelah pernikahanmu. Bagaimana?"
Matanya berkaca-kaca, jujur Luhan sangat lemas membayangkan hal buruk pada adik dan ibunya, Sehun sudah berjanji akan menemukan Jaehyun tapi rasanya itu belum cukup karena Jaehyun sama sekali tak mengangkat ponselnya.
"hkss..Aku sangat cemas Xiu."
"Hey dengarkan aku, Kyungsoo juga sedang menghubunginya, Kai melakukan hal yang sama begitu juga dengan Paman Lee. Kita akan mencarinya setelah janji pernikahanmu diucapkan hmm? Jangan khawatir Lu."
Dia hanya mengangguk pasrah untuk mengatakan "Ya, aku akan melakukannya setelah pernikahan kami."
Semua sudah siap, Luhan sudah terlihat begitu mempesona dengan balutan blazer putih senada dengan Sehun. yang membedakan miliknya sedikit panjang sementara milik Sehun seperti blazer pada umumnya.
Wajahnya dipoles serupa dengan warna kulitnya, bibirnya yang merah terliha semakin merah cherry dan begitu cantik karena memakai lense berwarna hitam legam. Semua terlihat sempurna kecuali senyum diwajahnya. Luhan begitu takut untuk tersenyum mengingat ibu dan adiknya belum kunjung datang bahkan saat waktu menunjukkan pukul 08.50, itu artinya hanya sepuluh menit tersisa sebelum janji suci dia lakukan bersama Sehun.
"Aku akan turun kebawah dan memastikan keberadaan Jaehyun, Kau tunggu disini karena mereka akan memberitahu waktunya padamu."
"Tolong aku Xiu,"
"Tersenyumlah, ini hari pernikahanmu Lu."
Luhan tersenyum canggung untuk melihat punggung Xiumin menjauh, tangannya dikepal erat, berharap bahwa kabar baik bisa dia dapatkan sebelum acara pernikahannya dimulai.
Drrtt…drrrtt….
Buru-buru dia mengambil ponselnya dan luar biasa lega mendapati nama Jaehyun berada disana "astaga Jae."
Sret!
"JAEHYUNNA? KAU DIMANA?"
"hyung…."
"Wae? Kenapa kau menangis? Ada apa?"
"hyung mian…Sepertinya kami tidak bisa datang ke pernikahanmu."
Luhan mengacak surai rambutnya yang sudah sempurna untuk menangis tak tahan mendengar penuturan Jaehyun "Ada apa? APA YANG TERJADI?"
"eomma…"
"Eomma? Eomma kenapa?"
"Eomma…HYUNG AKU TAKUT—hkss…AKU RASA EOMMA TIDAK AKAN BERTAHAN!"
DEG!
"apa-Apa yang terjadi?"
"…"
"JUNG JAEHYUN!"
"Ayahmu datang dan menghancuran kedai, dia juga memukul ibu hingga tak sadarkan diri. Aku-….aku kemudian membawa ibu kerumah sakit, tapi mereka semua menolak ibu. Mereka bilang kondisi ibu kritis. Aku bingung hyung. Aku takut!"
Seiring dengan penjelasan Jaehyun, Luhan memejamkan erat matanya menyadari satu hal u yang tak pernah bisa dia abaikan lagi jika ayahnya, selamanya bajingan tua itu akan terus menjadi parasit mengerikan dalam hidupnya.
Dia mengambil banyak nafasnya, kemungkinan kedua seluruh rumah sakit menolak ibunya adalah karena ayah Baekhyun, hati Luhan semakin disayat sakit, sekali lagi dia menyesali menyatakan perang pada orang yang salah, orang yang terlalu berkuasa yang mengalahkannya dengan satu kali pukulan.
"Apa kau keluarganya? Ibumu harus segera dibawa kerumah sakit besar."
"Tapi dimana? Tak ada yang menerima ibuku."
Luhan menangis pilu, dia merasa bersalah karena disaat seperti ini harus membiarkan Jaehyun ketakutan seorang diri, dia terus mengacak surainya yang sempurna untuk mengambil nafas dan menenangkan dirinya "Jae? Jaehyunna tenanglah, hyung akan segera kesana. katakan, Katakan kau ada dimana?"
"Hanya lakukan sesuatu untuk ibuku, AKU AKAN SEGERA MEMBAYARNYA!"
"JAEHYUN!"
"hyungg…cepat datang, aku—aku takut hyung!"
"araseo, hyung akan datang. Katakan kau dimana?"
"Jeonju hyung. aku di Klinik Jeounju."
"Kenapa sejauh itu?"
"Aku tidak tahu lagi harus pergi kemana, paman Taeyong bekerja disini tapi tidak bisa membantu banyak"
"Baiklah kau tenang, hyung akan segera datang."
"Hyung!"
"y-Ya?"
"Datanglah setelah pernikahanmu hyung, kumohon jangan sekarang! Ibu bisa bertahan lebih lama menunggumu. Ibu-…."
Pip!
Luhan mematikan ponselnya, lima menit lagi adalah waktu untuknya dan Sehun mengucap janji, bisa saja dia tetap turun kebawah dan mengucap janji pernikahan dengan Sehun, tapi setelah itu apa? Jaehyun dan ibunya hanya akan lebih menderita karena pernikahan ini.
"Sehun, maafkan aku." Katanya bergumam putus asa lalu menyadari pintu tempatnya menunggu terbuka menampilkan Baekhyun disana, menghadiri pernikahannya.
"Bee?"
"Lu? Apa kau benar-benar akan menikah dengan Sehun? ah, Pertanyaanku bodoh, aku hanya ingin mengucapkan selamat untukmu dan Sehun. Selamat untuk-…."
Buru-buru Luhan melepas blazer pernikahannya. Dia segera mendekati Baekhyun lalu melepas jas Baekhyun dan memaikan blazer miliknya "Luhan! Apa yang kau lakukan?"
Dia mengabaikan Baekhyun, saat ini yang Luhan lakukan hanya mempersiapkan Baekhyun untuk pernikahan miliknya, dengan cekatan Luhan memakaikan dua sarung tangan putih untuk Baekhyun lalu menangkup cemas wajah Baekhyun
"Bukan aku yang akan menikah dengan Sehun, tapi kau sayang. Kau Bee! Sehun milikmu dan aku salah bermimpi untuk mendapatkannya. Jadi…"
"Luhan apa yang kau katakan?"
"Jadi katakan pada ayahmu tidak ada pernikahan antara aku dan Sehun. Katakan pada ayahmu untuk memberi maaf padaku Baek! KATAKAN PADANYA!"
"ayahku? Apa yang terjadi Lu?"
"Aku tidak memiliki waktu. Selamat tinggal, berbahagialah dengan Sehun!" Luhan mengecup kening Baekhyun lalu berlari cepat meninggalkan Baekhyun yang wajahnya memucat menyadari satu hal, dua hari yang lalu Luhan bersikeras mengatakan mencintai Sehun, ingin tetap menikahinya.
Tapi tepat di hari pernikahannya, Luhan begitu ketakutan, wajahnya pucat dan yang paling buruk dia sama sekali tidak menatap mata Baekhyun saat mengatakan tentang ayahnya.
BRAK!
Baekhyun terjatuh lemas, matanya memelas saat pengiring pengantin Luhan datang hendak menjemputnya, selebihnya dia menangis menyadari bahwa apapun yang terjadi pada Luhan hari ini, semuanya berkaitan dengan campur tangan ayahnya "Aboji. Apa yang kau lakukan pada Luhan? Apa yang kau—AAARGHH!"
.
.
.
.
.
.
"Jadi Luhan pergi?"
"Tuan muda, kami masih mencarinya."
Wajahnya dipenuhi rasa kecewa, sangat terlihat
Senyumnya tak lagi bahagia, namun memelas dipenuhi kesedihan
Detik berikutnya dia melihat arloji dan menyadari bahwa lima belas menit dia menunggu di depan altar, Luhan pastilah sudah pergi, entah kemana. Dia kemudian melihat pengasuhnya sejak kecil untuk tersenyum dipenuhi kesedihan "Tidak perlu mencarinya paman, aku tahu ini akan terjadi."
Malam tadi dia sudah bertengkar tepat enam jam sebelum pernikahan mereka. Luhan bersikeras mencari Jaehyun sementara Sehun memohon agar setidaknya mereka menikah lebih dulu untuk selanjutnya mencari Jaehyun dan ibunya bersama-sama.
"Tuan muda."
Sehun menoleh, memperhatikan para tamu dan undangan dengan permohonan maaf di matanya, matanya terus mencari Luhan namun rasanya hanya mimpi mendapati Luhan menemaninya di depan altar.
Dia kemudian melihat Baekhyun yang memakai pakaian Luhan sedang menangis di pelukan Xiumin, detik berikutnya dia menatap wajah sendu sang ayah, lalu memandangnya seolah meminta maaf "Paman."
"Ya? Ada apa tuan muda?"
"Bawa ayah pergi, aku tidak tahan melihat wajahnya saat menangis."
"Tuan muda."
"Kumohon, hatiku hancur saat ini."
Mencoba mengerti, paman Lee membungkuk, meninggalkan Sehun di depan altar lalu berbisik pada tuan besarnya "Kita pergi tuan."
"Pergi? Tapi Luhan? Pernikahannya bagaimana?"
Sehun bisa melihat ayahnya menangis karena kecewa, dan jujur hatinya hancur melihat satu-satunya keluarga yang dimilikinya begitu sedih, dia tertunduk sesaat untuk kemudian mengantar kepergian sang ayah yang terus meronta dan menangis di kursi rodanya "Anakku akan menikah Lee! LEPASKAN AKU!"
"Maaf tuan, tapi tidak ada pernikahan tuan muda."
Begitulah yang Sehun dengar dari pengasuhnya, namun paman Lee salah, pernikahan ini akan tetap berlangsung dengan atau tanpa Luhan menghadirinya. Dia tersenyum pilu, langkahnya mantap mendekati Baekhyun lalu berdiri tepat di depan mantan kekasihnya.
"Baekhyunna."
"Sehun, mianhae."
"Tidak perlu meminta maaf, bukankah Luhan menginginkan ini? Pernikahanmu?"
"Sehun apa yang kau-…."
Sret!
"SEHUN!"
Baekhyun sempat menjerit saat tangan Sehun menggenggamnya kuat, entah kemana Sehun akan membawanya, tapi langkah mereka lurus menuju altar seolah mereka berdualah yang akan menikah "Sehun apa yang kau lakukan?"
"…"
Baekhyun bisa melihat air mata membasahi wajah Sehun, jelas dia kecewa karena batalnya pernikahannya dengan Luhan? Tapi demi Tuhan, apa yang dilakukan Sehun adalah kesalahan. Bagaimana bisa dia menggantikan posisi Luhan dengan Baekhyun sementara seluruh hatinya milik Luhan?
"Sehun kumohon. Apa yang kau-…."
Sret!
Tepat sebelum sampai ke altar, Sehun berhenti melangkah. Keduanya kini berada di kursi pendamping calon mempelai pria untuk mendapati Chanyeol yang seluruh wajahnya dipenuhi air mata.
"Berdiri."
"Sehun."
"Yeol kumohon, berdiri."
Chanyeol mengikuti keinginan Sehun, dia kemudian bertatapan langsung dengan Sehun sementara Baekhyun masih terisak tepat dibelakang tubuh Sehun "Aku rasa ini hari pernikahanmu."
"huh?"
Sama yang seperti Luhan lakukan, Sehun memberikan seluruh pakainnya pada Chanyeol, memakaikan secara sempurna blazer yang harusnya menjadi saksi pernikahannya dengan Luhan untuk diberikan pada sahabatnya "Syukurlah tubuh kita memiliki ukuran yang sama." Katanya merapikan kemeja Chanyeol untuk menyerahkan Baekhyun pada Chanyeol
"Bahagialah bersama pengantinmu. Aku merestui kalian."
"Sehun."
"Cepatlah, pendeta sudah menunggu kalian."
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku? Aku sedang mengurangi rasa sakitku." Katanya terdengar sangat pilu untuk menggenggam kedua tangan sahabat dan mantan kekasihnya menuju altar, menyerahkan Chanyeol dan Baekhyun pada pendeta untuk tersenyum dan mengatakan dengan tulus
"Kalian berdua, Menikahlah."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku merelakanmu dengan caraku,
Memilih kehilangan dengan cara menyakitkan,
Dan akhirnya, jika aku membencimu,
Itu karena aku kehilangan cara melupakanmu,
Maaf
.
.
.
.
,
.
.
.
.
.
Tiga bulan kemudian..
.
.
.
BRRRMM!
Ckiiiit!
"FINISH!"
"Berapa waktunya?"
"JUNG JAEHYUN, SATU MENIT DELAPAN DETIK!"
"LEE TAEYONG, SATU MENIT LIMA PULUH DETIK!"
"WHOA DAEBAK! J! MENGALAHKAN REKORMU!"
BLAM!
Tak lama yang sedang dipuji keluar dari mobil yang dipinjamkan untuknya, sebuah mobil dengan modifikasi balap sempurna yang bisa membuat si remaja delapan belas tahun itu meliuk tanpa kesulitan sedikit pun.
"Bagaimana waktuku?"
Si remaja berlesung pipi bertanya pada pria berkulit agak gelap yang dikenalnya sebagai leader tim. Didampingi kekasihnya, Jaehyun terlihat memiliki rasa percaya diri dan mata yang begitu berharap agar bisa diterima dan bergabung dengan tim unofficial balap yang sudah diakui sponsor besar.
"not bad!"
Yang menjawab adalah pria yang Jaehyun kenal dengan nama Taecyon, statusnya leader tapi dia terus mengelak bahwa dirinya adalah leader mengingat leader pertama dari timnya tengah mengambil cuti karena kelahiran anak ketiganya beberapa waktu lalu.
"Jadi?"
"L! BAGAIMANA?"
Kali ini dia bertanya pada rekannya yang lain, Jaehyun sebenarnya bingung dengan formasi dari tim balap yang sedang dia ikuti seleksinya. Karena terkadang dia harus berhadapan dengan pria bernama Taecyeon, lalu kemudian seseorang yang dipanggil dengan sebutan L akan menjadi penentu "siapa leadernya?" itu adalah pertanyaan Jaehyun selama mengikuti seleksi ketat dari tim balap tempatnya ingin bergabung.
Rasanya terlalu banyak leader dan anggota dalam satu tim namun tidak mengurangi rasa kekeluargaan mereka sekalipun.
"Up to you Taec, you're the Leader!"
"sshh! JANGAN TERUS BERMAIN DENGAN PUTRIKU! KAU BISA JATUH CINTA PADANYA!"
"Wae? AKU MEMANG INGIN MENIKAHINYA KELAK, iya kan Baby Jul? Ingin menikah dengan paman kan?"
Jaehyun bisa melihat si pria berlesung pipi yang menggunakan topi merah dengan tulisan L erus menerus bermain dengan gadis kecil yang dia tebak usianya sekitar enam tahun. Entah mengapa ada gadis kecil di lapangan balap terlebih di tengah malam seperti ini, membuatnya tersenyum dan mau tak mau harus mengakui bahwa dia sangat merindukan Taeoh, keponakannya yang baru lahir tiga bulan lalu.
Gadis kecil yang dipanggil Baby Jul itu tanpa ragu menjawab "NDEE!" hingga merespon kemarahan sang ayah yang langsung berteriak "OK JULIA! TIDAK DENGAN UNCLE MYUNGSOO!"
"JULIE LOVE MYUNGSOO SAMCHOON!"
"astaga putriku!"
"Sayang jangan berlebihan! Calon anggota barumu menunggu jawaban."
Kali ini Jaehyun dan Taeyong bisa melihat seorang wanita canti berambut pirang curly mendekati Taecyeon, dan dilihat dari caranya memanggil sayang bisa dipastikan jika wanita cantik di depan mereka adalah istri dari Taecyeon sekaligus ibu dari gadis kecil yang bernama Julia.
"Hay, aku melihat penampilan kalian. Mengingatkanku pada seseorang." Wanita cantik itu memberi tangan itu berjabatan dengan Jaehyun lalu memperkenalkan dirinya sebagai "Ok Jiyeon." Katanya menggunakan marga yang sama dengan Julia untuk dibalas Jaehyun "Jung Jaehyun."
"Dan kau pasti kekasihnya?"
Taeyong tersenyum simpul untuk mengangkat tangannya memperkenalkan diri "Lee Taeyong."
"Jiyeon."
"Aku rasa mereka oke, dia akan suka."
Setelah berbisik di telinga suaminya, si wanita cantik kini fokus pada putri kecilnya yang masih bermesraan dengan paman tercintanya "L! BANTU SUAMIKU!"
"Aku sudah bilang itu keputusannya!"
"CEPAT! JULIE KITA BERSIAP PULANG!"
"nde eomma."
Setelahnya Jaehyun dan Taeyong bisa melihat seseorang bernama L yang sepertinya memiliki peran penting di dalam tim datang menghampiri, dijabatnya tangan sepasang kekasih remaja didepannya lalu bergumam "Melihat kalian mengingatkanku pada seseorang." Katanya tertawa kecil lalu menyebutkan siapa namanya "Kim Myungsoo, tapi kau dengar mereka memanggilku L kan?"
"hmmh / Kami dengar."
"Kalau begitu panggi L!" katanya menghela nafas lalu menyenggol pundak Taecyeon, mengingatkan leader pengganti untuk segera memberi keputusan "Aku menyukai mereka, Jaehyun terutama, dia cepat."
Taecyeon mengangguk setuju, dan setelah berdiskusi dengan leadernya yang lain dia tersenyum, kembali mendekati Jaehyun untuk menjabat kali kedua tangan remaja yang sedang menunggu jawabannya "Baiklah Jung Jaehyun, Lee Taeyong, Kalian berdua lolos." katanya tersenyum untuk sekali lagi mengucapkan selamat pada pada dua remaja tangguh di depannya
"Selamat bergabung dengan NFS."
"Juga BTR." Timpal Myungsoo dibalas kekehan Taecyeon "juga BTR." Katanya mengerling leader BTR lalu kembali fokus pada dua remaja di depannya "Pertandingan pertama kalian akan kami beritahu secepatnya."
Rasanya ini adalah mimpi indah untuk Jaehyun, karena setelah hampir tiga bulan menjadi pecundang di keluarganya, ini adalah kali pertama dia bisa memberikan uang dari hasil jerih payahnya.
Lupakan tentang menjadi dokter atau menjadi artis seperti mimpinya, karena semua itu hanya mimpi yang tidak bisa memberikan uang padanya, setidaknya Jaehyun bersyukur memoiliki hobi lain pada kecepatan. Karena pada akhirnya balapan ini yang akan memberikan memberikannya uang untuk bisa membuat ibu dan kedua kakak serta kekasihnya menjadi lebih baik mulai malam ini.
"Terimakasih Leader-ssi!"
"Jangan panggil seperti itu, kau belum bertemu dengan leader dua tim ini. saat kau bertemu dengannya, baru kau bisa memanggil leader padanya, bukan padaku."
"huh?"
Tak mengerti Jaehyun menggaruk tengkuknya dibalas kekehan dari Myungsoo maupun Taecyeon "Kalian pasti bingung."
"Sebenarnya ada berapa leader dalam tim ini." Taeyong yang bertanya dibalas Myungsoo dengan mantap "Hanya satu, tapi seperti yang Taecyeon katakan, dia sedang cuti melahirkan putra ketiga mereka mengingat suaminya adalah suami paling posesif dan menyebalkan yang merupakan sainganku seumur hidup!"
"L jangan curhat dan membuat mereka semakin bingung."
"ah-….mian! Aku hanya kesal selalu kalah dari pria arogan itu."
"Jadi teknisnya seperti ini." Taecyeon kembali menyela untuk memberi penjelasan pada Jaehyun "Kami ini satu tim hanya jika diadakan turnament besar, tapi kemudian kami menjadi dua tim saat pengumpulan point. Sampai sini kalian mengerti?"
"Ya / Ya." pasangan remaja itu menjawab kompak dibalas lagi penjelasan oleh Taecyon "Nama timku Need For Speed, kalian mengenalnya sebagai NFS, dan tim Myungsoo Beat The Road, kalian mengenalnya sebagai BTR. Dan masing-masing dari kami memiliki enam pembalap."
"Namun sayang tiga pembalap cantik NFS sedang melahirkan di waktu bersamaan, jadi secara terknis pula NFS kalah jumlah dengan BTR." Timpal Myungsoo terdengar menyindir dibalas pukulan kecil di kepalanya "sshh…"
"Tunggu sampai Luhan dengar dan kau mati karena pukulannya."
"eyy! Aku hanya bercanda."
"Luhan?" Taeyong bertanya menarik perhatian Myungsoo yang selalu berdebar mendengar nama cinta matinya disebut "Kau mengenal Luhan? Leader kami?"
"Aniya! kami tidak mengenalnya! Namanya seperti nama hyungku." Balas Jaehyun diiringi o dari bibir Myungsoo lalu kembali mendengar penjelasan Taecyeon.
"Jadi intinya kalian akan mengumpulkan point atas nama NFS. Dan kami akan memberitahukan pada kalian dalam waktu dekat. Oke?"
"Ya kami mengerti."
"Baiklah sampai bertemu-…."
BLAM!
Kali ini sebuah mobil terlihat berhenti di tengah lapangan dan lihat dari caranya menutup pintu sudah dipastikan bahwa si pengemudi terlihat sangat murka entah karena apa.
"JUNG JAEHYUN! APA YANG KAU LAKUKAN DITEMPAT SAMPAH SEPERTI INI?"
"Tempat apa dia bilang?" Myungsoo refleks kesal, dibalas gumaman Jiyeon yang sedang menggendong putrinya "Astaga siapa dia? Kenapa wajahnya seperti Luhan!"
"JUNG JAEHYUN / LEE TAEYONG!"
"Sayang bagaimana ini?"
Dua remaja itu terlihat ketakutan, sangat ketakutan saat melihat wajah murka Luhan yang entah darimana mengetahui keberadaan mereka, sama gemetarnya dengan Taeyong, Jaehyun membalas "tidak tahu sayang."
"Y-YAK! SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB DISINI!?"
Myungsoo memutar malas bola matanya, untuk menghadapi pria cantik yang terus berteriak seperti lapangan ini adalah hutan rimba "AKU YANG BERTANGGUNG—astaga!"
"Ada apa L?"
Taecyeon bingung, tidak biasanya Myungsoo mengalah jika seseorang mengajaknya bertengkar, jadi ketika sahabatnya diam seribu bahasa dia hanya mengikuti kemana arah Myungsoo memandang untuk sama terkejut melihat wajah yang begitu familiar sedang berjalan ke arah mereka "Luhan?"
BUGH!
Satu pukulan telak diterima Myungsoo, untuk ukuran pria cantik, Luhan memang terbilang kuat hingga raut kesal terlihat di wajah Myungsoo sementara Jaehyun dan Taeyong, masing-masing memeluk erat kakak mereka "Y-YAK!"
"hyung tenanglah!"
"TENANG KAU BILANG? KENAPA KAU DATANG KE TEMPAT SAMPAH SEPERTI INI?"
"eyy! Kau keterlaluan mengatakan ini tempat sampah, ini basecamp kami, leader-ssi!"
"Siapa yang kau panggil leader-ssi!"
"cih! Dia bukan Luhan!"
"Aku Luhan."
"Maksudku kau bukan Luhan, Oh Luhan, leader NFS!"
"SIAPA DIA? APA PERLU AKU MENGHAJARNYA JUGA!"
"ayolah!"
"Luluuuuuuu….!"
Luhan terkejut saat seorang anak perempuan memeluk kakinya, dia memandangnya bingung dan mengabaikan keinginan si anak perempuan yang sedang ribut minta di gendong "Jae."
"hmmh?"
"Siapa anak ini?"
"Huwaaa LULU JAHAAT! MAMA!"
"aigoo, Julia. Dia bukan Lulu kita. Ssshh, Maaf ya, wajahmu sangat mirip dengan Lulunya putriku."
Kali ini seorang wanita cantik terlihat, menggendong si anak perempuan lalu mengenalkan siapa dirinya "By the way, Jiyeon, Ok Jiyeon."
"Luhan."
"Bukan hanya wajah, namanya juga sama persis."
Myungsoo bergumam takjub dibalas tatapan benci dari Luhan "Siapa yang kalian maksud?"
"Luhan kami, bukan kau tenang saja. Dia arogan, tapi ketahuilah, kau tiga kali lebih arogan darinya."
"L cukup!"
"omo! Kenapa dia mirip Lu oppa?"
"Siapa lagi ini!"
Luhan mendesah frustasi sementara Jaehyun dan Taeyong terkikik geli di belakangnya. Terang saja dia kesal, karena setelah semua orang asing mengenalnya sebagai Luhan si "leader" kali ini dua remaja kembar yang wajahnya tak bisa dibedakan bertanya pada ibu dari si anak perempuan "Eonnie? Dia bukan Luhan oppa kan?"
"Bukan."
"daebak / whoa!"
"Kecuali cara berpakaiannya yang sangat kuno, seluruh wajahmu mirip dengan Oppa kami."
"Si Luhan ini?"
"Yap!"
"Baiklah, besok namaku menjadi Luna saja."
"eyy! Itu namaku." Yang berambut pirang tertawa dibalas oleh gadis remaja serupa yang tak kalah menyebalkan dari si pirang "Lana saja, kau akan terlihat bagus jika dipanggil Lana."
"Jadi nama kalian Lana dan Luna?"
"yap!"
"Kalian kembar?"
"obviously."
"Ya, semoga kelakuan kalian tidak sama buruknya dengan dua oppa dibelakang kalian?"
"MWO! / YAK!"
"DAN UNTUK KALIAN BERDUA! KALIAN MATI DI TANGANKU MALAM INI!"
"hyungg…"
Taeyong mengeluarkan aegyo nya dibalas tatapan tajam dari Luhan "CEPAT PULANG!"
BRRMMM!
"Maaf hyung, aku akan pergi membujuknya. Selamat malam!"
BRRMM!
Tak lama seluruh tim balap itu dibuat takjub dengan kenyataan bahwa Luhan yang mereka katakan mirip dengan Luhan mereka, nyatanya memang sangat mirip, wajah dan sikapnya.
"daebak! dia benar-benar seperti Luhan." Myungsoo bergumam gila dibalas kekehan Taecyon yang mengatakan "Kita harus mempertemukan Luhan dengan kembarannya."
Semua tertawa takjub untuk mengangguk dan mengatakan "Setuju!"
.
.
.
.
BLAM!
.
Yang lebih tua masuk lebih dulu ke rumah mereka yang baru di sekitar Gangnam, diikuti dua remaja muda yang terlihat ketakutan masuk kedalam rumah mereka saat ini,
Rumah yang cukup besar untuk ditempati mereka semua saat ini adalah milik Kai saat masih aktif menjadi anggota EXO
Saat masih aktif?
Ya, kenyatannya tak hanya Kyungsoo yang memutuskan hiatus, Kai juga. Terlebih karena Sehun sepertinya enggan mengetahui keadaan Luhan hingga rasanya sulit bekerja dengan seseorang yang membenci mantan kekasih yang kini menjadi kakak iparnya.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN? KALIAN SUDAH BERJANJI UNTUK TIDAK BALAP LIAR LAGI!"
"hyung, mereka tim yang baik."
"OMONG KOSONG!"
"Luhan? Kenapa berteriak?"
"Mian soo. Apa aku membangunkan Taeoh?"
"tidak, Hanya saja suaramu terlalu kencang."
"Tentu saja! Ini karena dua sialan ini kembali—HUWEK!"
Mulai lagi kebiasaan Luhan, jika dia terlalu marah dan kesal dia akan merasa mual, kepalanya akan sakit dan seperti biasa dia akan memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Lihatkan? Kau sudah terlalu marah! Maafkanlah mereka, mereka sudah besar Lu." Ujar Kyungsoo memijat tengkuk Luhan yang masih setia mengeluarkan isi air dari perutnya.
"Tapi berbahaya Soo—HUWEK!"
"Akhir-akhir ini kau muntah terlalu sering Lu, besok aku akan mengantarmu ke rumah sakit."
"Tidak perlu, aku akan melakukannya sendiri."
"Aku akan marah jika kau berbohong lagi!"
"Tidak akan berbohong lagi, lagipula aku sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya!"
"Baiklah, sebaiknya kau beristirahat dan-…."
Penghargaan terbanyak kembali jatuh untuk OSH'ent. Karena selain membuat gebrakan dengan mendebutkan lima Boy dan Girl band secara bersamaan, OSH'ent terbukti memiliki aris-artis dengan talenta sangat berbakat.
Berikut adalah tanggapan dari Presdir tertinggi OSH'ent, Oh Sehun.
"Ya, kami berterimakasih atas dukungan yang diberikan pada penggemar untuk seluruh artis kami. Walau nyatanya OSH'ent kehilangan dua artis yang turut membesarkan nama agensi ini, nyatanya kami sudah bertahan selama tiga bulan untuk mengantisipasi hal terburuk. Terimakasih untuk perhatian dan dukungan kalian."
Luhan tersenyum pahit, selalu seperti ini, jika Sehun muncur dilayar televisi dia akan menatap tak berkedip, seolah takut Sehun akan hilang dan sulit untuk menemuinya lagi "Sudah tiga bulan ya?"
Lalu tanggapan anda tentang issue yang melibatkan beberapa trainee dibawah umur? Bukankah OSH'ent terkenal menepati janji untuk mendebutkan artis mereka sesuai kontrak dan perjanjian.
"Semenjak perombakan besar dalam tim kami, aku menghapuskan perjanjian itu. jika dirasa cukup siap, semua artis kami, suka atau tidak, mereka harus segera debut. Itu peraturan baru dan tidak terikat pada yang lama, terimakasih."
Pip!
Buru-buru Kai mematikan Televisinya. Menatap kesal baik pada Jaehyun dan Taeyong yang tidak memikirkan perasaan Luhan untuk meminta dua remaja itu segera pergi tidur "Cepat pergi."
Keduanya pun berterimakasih pada Kai, karena selain bisa menghindari kemarahan Luhan, mereka juga bisa segera pergi beristirahat "Selamat malam hyung."
"Besok kita bicara lagi Jae."
"araseo! Saranghae hyung!"
"tsk!"
"Lu? Kau baik-baik saja?"
Luhan membersihkan sudut bibirnya untuk tersenyum canggung menatap pria yang sudah resmi menjadi suami Kyungsoo tiga bulan yang lalu, tepat di hari Luhan harusnya menikah "Aku baik-baik saja. Aku akan pergi tidur, besok giliranku menjaga ibu di rumah sakit." Katanya memeluk Kyungsoo untuk mengerling Kai sebagai ucapan selamat malam.
"Luhan, periksakan dirimu ke dokter. Kau dengar?"
"Aku dengar Kim!" katanya tertawa menggoda Kyungsoo dan tak lama
BLAM!
Luhan menutup pintu kamarnya, meninggalkan Kai dan Kyungsoo yang selalu merasa cemas pada kondisi Luhan, bukan fisiknya, tapi jiwanya, Luhan terlihat sangat berbeda semenjak hari itu, hari dimana dia meninggalkan Sehun begitu saja di hari pernikahan mereka.
"Hey sayang."
"Apa Luhan baik-baik saja."
Kyungsoo memeluk sayang suaminya lalu bergumam sangat mencemaskan Luhan "Entahlah, aku sangat mengkhawatirkannya."
"Tidak apa, Luhan akan baik-baik saja sayang. Dia Luhan yang kuat, kau mengakuinya kan?"
Hanya memeluk suaminya, Kyungsoo bergumam "Dia sangat kuat."
.
.
.
.
.
.
Keesokan pagi.
.
.
"Bagaimana dokter Park? Apa penyakitku kambuh lagi?"
Dokter yang memakai id card Park Haejin itu adalah dokter yang Luhan ketahui sebagai kakak kandung mantan direkturnya di JYC'ent, Park Chanyeol. Sementara Haejin terlihat sibuk dengan hasil tesnya , Luhan hanya bisa menatap cemas pada sang dokter yang kini terlihat serius menganalisa hasil tes Luhan seraya mempelajari hasil test yang dilakukan Luhan untuk tersenyum dan bertanya "Apa yang kau rasakan?"
"Aku rasa mualku semakin sering dan lagi kepalaku selalu terasa sakit tiap aku kelelahan."
"Ada lagi yang lain? Apa kau merasa sekitar pinggangmu juga terasa sakit dan sering merasakan kram?"
"huh? Darimana kau tahu dokter Park?"
"Karena tidak ada yang salah dengan kepalamu, tapi perutmu yang bermasalah."
Tak mengerti Luhan semakin mengerutkan dahinya lalu bertanya takut-takut "Apa tumornya berpindah ke perutku?"
"aniya, Bukan tumor."
"Lalu?"
"haah~ Luhan apa kau tidak menyadari hal ini?"
"Apa?"
"Kau terlihat semakin gemuk, apa kau menyadarinya?"
Dengan polos dia menjawab "Tidak."
Haejin tertawa lalu terlihat serius menuliskan sesuatu untuk Luhan "Baiklah tidak apa, aku akan merujukmu ke dokter kandungan."
"Kemana?"
"Sepertinya aku orang pertama yang akan mengatakan ini padamu. Tapi selamat Luhan, kau hamil dan sudah memasuki minggu keempat."
"Maaf?" Luhan memastikan sekali lagi, untuk mendapati Haejin mengatakan "Kau hamil Luhan."
DEG!
Aku ingin seperti Kai
Apa?
Dipanggil papa
Luhan, aku mau punya banyak anak, ya?
Tes!
Tak lama Luhan tertunduk, tiba-tiba ucapan Sehun yang menginginkan banyak anak masuk bertubi-tubi ke benaknya, dia terlalu bingung saat ini, sangat bingung sampai kepalanya terasa ingin pecah
Apa yang harus aku lakukan? Tidak ada Sehun lagi dihidupku.
"Luhan?"
Tangannya mencengkram kuat dua pahanya untuk terus menangis tersedu
Bagaimana bisa aku hamil? Kenapa harus saat ini? bagaimana aku memberitahu Sehun? apa yang harus aku lakukan?
"Luhan?"
Kenapa bukan penyakitku yang kambuh, itu lebih baik daripada harus mengandung darah daging Sehun, tidak, aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa?
"LUHAN-ssi!"
"huh?"
Barulah saat Haejin memanggilnya tegas, Luhan merespon. Wajahnya terlihat sangat menyedihkan ditambah air mata yang entah mengapa terlihat di wajahnya "Ada apa? Kau baik-baik saja?"
"nde! Aku hanya terlalu bingung, aku-…."
"Reaksimu seperti Baekhyun."
"Baekhyun?"
"eoh! Baekhyun juga sedang mengandung anak pertamanya dan Chanyeol, tapi daripada senang dia terus menangis. Mereka adalah pasangan suami istri yang menjengkelkan."
"suami-istri? Ah benar, Sehun membuat mereka menikah di hari pernikahan kami."
"Apa yang kau katakan?"
Tersenyum lirih, Luhan menggeleng sebagai jawaban "Tidak ada, hanya berikan rujukan untukku dokter Park."
"Baiklah. Ini."
Luhan menerima surat rujukan untuknya dan calon darah daging Sehun, membungkuk berpamitan untuk memohon satu hal pada kakak kandung suami dari sahabatnya "Dokter Park? Bolehkah aku meminta satu hal pada anda?"
"Ya, apa itu?"
"Tentang kehamilanku, bisakah kau merahasiakannya dari Presdir Park dan adik iparmu?"
"wae?"
Luhan hanya tertunduk sedih dibalas senyum mengerti dari sang dokter "Baiklah, aku akan merahasiakannya."
"Terimakasih."
Setelahnya Luhan keluar dari ruangan Haejin, terlihat sangat bingung karena berita kehamilannya "Apa yang harus aku lakukan?" dia terlalu bingung dan terus berjalan gontai.
Harusnya dia bahagia dan memberitahukan pada Sehun, pada dunia bahwa mereka akan segera memiliki keturunan, tapi keadaan berbeda, dia bahkan tak memiliki wajah lagi untuk menatap Sehun, tidak lagi, semenjak keputusan kejinya untuk meninggalkan Sehun hari itu.
"Sehun, aku harus bagaimana?"
Bersamaan dengan dia menyebut nama Sehun, Luhan dibuat takjub karena sosok Sehun tiba-tiba terlihat di matanya. Sosok tampan yang pernah mencintainya itu terlihat baik-baik saja, dia bahkan terlalu baik untuk dikatakan marah setelah hari itu.
Refleks, Luhan mendekati kemana Sehun berada, berniat untuk meminta maaf atau perlu bersujud agar Sehun bisa memaafkannya, menerimanya lagi seperti dulu.
"whoa, Presdir Oh senang bertemu denganmu! Apa yang kau lakukan di rumah sakit?"
"Ayahku, hari ini jadwalnya terapy."
"Kau sungguh anak berbakti Presdir Oh, Pasti istrimu bangga memiliki suami sepertimu."
"Istri?"
"mmh. Aku dengar kau sudah menikah?"
Tap!
Luhan tertohok mendengar pertanyaan pria yang dia ketahui adalah pimpinan KBS, wajahnya pucat, sementara suaranya tercekat saat melihat Sehun hanya tertawa sebagai jawaban. Mantan kekasihnya itu bahkan terus tertawa sampai mata mereka tak sengaja bertemu.
Luhan bisa melihat tatapan itu terkunci untuknya, tak ada lagi cinta ditatapan pria yang hingga saat ini dicintainya, yang ada hanya tatapan kosong sampai suara Sehun, entah mengapa menjadi keras untuk menjawab pertanyaan dari pria yang Luhan kenal sebagai pimpinan KBS
"Aku belum menikah Presdir Kim. Apa kau tahu? Aku dicampakan di hari pernikahanku? Jadi setelah itu aku bersumpah, akan menikah dengan seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku, bukan dengan seseorang yang keji seperti masa laluku!"
Tes!
Luhan menangis, wajahnya melihat ke arah lain sementara jawaban Sehun terdengar sangat menyindirnya. Entah dia senang atau tidak mendengar Sehun belum menikah, yang jelas dia hanya ingin menangis. Menangis karena selain bingung, dia begitu merindukan Sehun saat ini.
"Baiklah, sampai bertemu dengan girlband barumu Presdir Oh. Selamat siang."
"Siang."
Ini kesempatanku.
Luhan menghapus cepat air matanya, memberanikan diri bicara dengan Sehun sementara yang dilakukan Sehun hanya berjalan ke arah yang sama tanpa mengelak namun sengaja menabrak pundak Luhan untuk melewatinya begitu saja.
"Sehun."
Luhan tahu ini akan terjadi, karena hal itu pula dia mencengkram lengan Sehun untuk mendapati perintah "Lepas."
"Sehun, bisakah kita bicara?"
Sehun menghempas kasar tangan Luhan lalu berujar kasar mengatakan "Kita sudah berakhir, jadi tak ada yang perlu dibicarkan? Kau dengar?" katanya memberitahu Luhan untuk berjalan meninggalkan pria yang hingga hari ini masih terus datang menghantui mimpi buruknya.
Tidak, kau tidak boleh pergi, Sehun
Luhan ketakutan, dia terus melihat punggung Sehun menjauh, bibirnya bergetar hebat, matanya terpejam lalu tanpa sadar dia berteriak "AKU HAMIL DAN INI ANAKMU OH SEHUN!"
TAP!
Langkah Sehun terhenti, Luhan bisa melihat punggung yang hampir menjauh darinya kini berhenti, tak lama Sehun kembali menoleh untuk menatap Luhan. Kedua mata mereka bertemu lagi, kini tak bisa dijelaskan tatapan Sehun untuknya.
Luhan kembali menjadi Luhan yang egois, kali ini dia meminta Sehun bertanggung jawab tanpa memikirkan bagaimana hancur hati seorang Oh Sehun dari hari saat dia meninggalkannya di depan altar hingga hari ini, saat dirinya berteriak mengatakan jika dia mengandung darah daging Sehun, mantan kekasihnya.
Sehun masih tak berkedip menatap Luhan, menyadari bahwa mantan manager di agensinya itu terlihat kehilangan banyak berat badan namun memang sedikit gemuk di bagian perut, wajahnya juga terlihat pucat, pakaiannya lusuh sementara seluruh matanya terlihat kelelahan.
Namun terlepas dari semua penampilannya yang menyedihkan, Luhan tetaplah Luhan keji yang meninggalkannya begitu saja di hari pernikahan mereka, dan tiap kali mengingat hal itu, Sehun sesak. Tangannya kemudian terkepal erat, enggan untuk mempercayai ucapan pembohong pria di depannya untuk bertanya dengan suara yang menunjukkan bahwa dia juga lelah, bahwa dia juga kesakitan.
"Jika kau hamil, jika benar itu darah dagingku. Lalu apa?"
"Sehun…"
Tak tahan melihat Luhan menangis di depan umum, Sehun mendekatinya, menarik kasar lengan Luhan seraya mendesis untuk mengatakan "Jangan membuatku terlihat buruk, kau terlalu mengerikan LU-HAN!"
.
.
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
.
.
Yang kena jebakan betmen CUNG! :""" *jangan percaya ama teaser gue btw :v
Yang mau gorok gue gara2 DUA KALI CADEL GAGAL NIKAH! CUNG! :v
.
Yang engeh pas nama Taecyeon-L muncul dan bilang MFC nongol di AFB, CUNG! Kwkwkw.
Waktu nulis scene NFS and the geng, gue rindu beneran sama MFC :"
Yang baca MFC pasti tau apa itu NFS, BTR dan tetek bengek anggotanya :p sabar ya! yang nulis juga belum moveon dari MFC :*
lagi di chap ini kita jadi tau kalo Luhan punya tiga anak di MFC, maruk, as always :"
.
Tapi tenang, mereka cameo doang, L ga bakal rusuh sama Luhan yang ini, Janji.
Lagi AFB will be officialy END di chap 20 *kalo ga ada halangan ya wkwkwk.
.
Ampunin gue. kasian bapaknya sehun daripada Sehunnya hkss
.
Dan gue gatau kenapa words mbludak gini :""""""
.
.
udah ya, gue pegel,lelah, emosi waktu nulis per-scene chap ini, seeyou :"
