Previous
"Jika kau hamil, jika benar itu darah dagingku. Lalu apa?"
"Sehun…"
Tak tahan melihat Luhan menangis di depan umum, Sehun mendekatinya, menarik kasar lengan Luhan seraya mengatakan "Jangan membuatku terlihat buruk, kau terlalu mengerikan LU-HAN!"
.
.
.
.
.
.
.
.
A' Friends Betrayal
Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo
Genre : Drama
Rate : M / NC!/
.
.
"Jadi bagaimana?"
Saat ini Sehun sedang membawa Luhan menemui dokter kandungan yang ditunjuk Haejin saat memberi rujukan, kasarnya dia ingin memastikan bahwa Luhan tidak berbohong tentang kehamilannya. Tapi sejujurnya, Sehun tidak bisa mengelak ada sedikit rasa bahagia jika Luhan benar tengah mengandung darah dagingnya saat ini, ya, terlepas dari rasa kecewanya untuk Luhan, sepertinya Sehun masih memiliki sedikit hati nurani untuk bertanggung jawab sebagai seorang ayah, hal yang harusnya membawa kebahagiaan, bukan kemarahan seperti ini.
"mmhh…Sepertinya dokter Park salah mengira."
"Apa maksud anda dokter Kim?" Sehun bertanya cepat, terdengar panik, namun segera disambut senyum dokter cantik dengan id card Kim Hyesun di depannya, seolah menenangkan Sehun karena ucapannya bukan untuk menampik kenyataan Luhan memang sedang mengandung, tapi lebih karena usia kandungan Luhan yang sudah memasuki bulan keempat tapi terlihat kecil seolah mengikuti bentuk tubuh sang calon ibu.
"Dokter Park benar mengenai kehamilan Tuan Xi, tapi dia salah menebak usia kandungan calon bayi anda. Harusnya ini sudah memasuki minggu ke lima belas tepatnya awal bulan keempat mengingat hasil usg menunjukkan pertumbuhan calon bayi yang begitu sempurna."
Terakhir mereka berhubungan tepat tiga bulan lalu, sebelum hari pernikahan, jadi jika usia kandungan Luhan menginjak awal bulan keempat rasanya tidak perlu bertanya anak siapa yang sedang dikandung Luhan, hal itu sdedikit banyak membuat hati Sehun hangat memikirkan bahwa Luhan sedang mengandung darah dagingnya, anaknya.
"Jadi dia sehat? Bayinya, jadi bayinya sehat?"
"Ya, pertumbuhannya sangat sempurna. Tapi Tuan Oh, rasanya anda harus meminta Tuan Xi untuk mengkonsumsi banyak vitamin dan sayuran. Tekanan darahnya rendah dan nutrisi yang dimiliki tuan Xi dimakan seluruhnya oleh calon bayi kalian. Jadi pastikan sang ibu juga mendapatkan nutrisi yang cukup agar tidak mengalami defisiensi zat besi dan dehidrasi."
Yang Luhan lakukan hanya diam sepanjang dokter cantik itu berbicara, dia juga tak banyak merespon atau terlihat antusias seperti Sehun, karena daripada memikirkan kondisi dirinya, Luhan sudah memikirkan hal terlalu jauh seperti apakah bayinya akan sehat? Akan bahagia jika hidup bersamanya atau apakah dia mampu bertahan seorang diri.
Pikiran-pikiran kecil seperti itu yang membuatnya termenung tak merespon, menyadarinya pun cukup membuat Sehun kesal hingga tak sengaja suaranya menjadi tinggi untuk mengatakan "UNTUKKU, SELAMA BAYINYA SEHAT AKU TIDAK MEMPEDULIKAN HAL LAIN, TERMASUK KONDISI IBUNYA."
"Tuan oh!"
Sang dokter cukup terkejut dengan penuturan Sehun sementara tingginya nada suara Sehun cukup menyadarkan Luhan dari kegelisahannya, dia tersenyum, bukan karena rasa benci Sehun untuknya, tapi cinta Sehun, cinta Sehun untuk darah daging mereka sangat tulus, membuatnya bisa sedikit bernafas lega menyadari bahwa sepertinya dia tidak perlu khawatir karena kelak bayinya akan tinggal bersama ayahnya, bahagia bersama Sehun dan keluarganya yang hangat.
"Saya permisi Dokter Kim!"
Luhan refleks ikut berdiri saat Sehun menutup pintu ruangan dokter Kim, membungkuk sebagai rasa terimakasih lalu tersenyum tak sabar untuk mengutarakan apa yang diinginkannya pada Sehun "Saya juga permisi dokter Kim."
"Pastikan anda minum vitamin dan makanan yang bergizi Tuan Xi!"
"ya, Saya akan melakukannya. Terimakasih."
Setelahnya Luhan mengejar Sehun, langkahnya kalah cepat dari Sehun, tapi saat punggung dan bahu lebar mantan kekasihnya masih bisa terlihat dia memberanikan diri untuk berteriak "SEHUNNA!"
Tap!
Sang pemilik nama berhenti, enggan menoleh hingga memerlukan usaha lebih untuk Luhan agar bisa bertatapan langsung dengan mantan kekasihnya, dia berlari kecil lalu tak lama berdiri tepat dihadapan Sehun "Se-Sehunna." Yang berparas cantik terengah untuk mendapati jawaban dingin dari pria yang tiga bulan dia tinggalkan di hari pernikahan mereka.
"Ada apa?"
Wajar jika Sehun merespon dingin, dia akan melakukan hal sama jika ditinggalkan di hari pernikahannya, tidak, cara Sehun bersikap dingin masih jauh lebih baik dan lebih lembut dari pria-pria yang mungkin enggan berhubungan lagi dengan mantan kekasihnya.
Luhan tersenyum, namun seluruh matanya sendu, Sehun bisa melihatnya tapi dia enggan untuk peduli, pikirannya juga menolak bahwa tiga bulan tak bertemu Luhan terlihat semakin mempesona walau hatinya menjerit sakit karena rindu, keduanya mungkin sama-sama terluka, tapi ketahuilah luka di hati Sehun jauh lebih besar dari milik Luhan.
"Jika tidak ingin berbicara kenapa kau memanggilku?" katanya sarkas dan berniat pergi sebelum tangan Luhan yang terasa hangat di lengannya menahan kepergiannya, kedua mata itu kembali bertemu lagi. Yang satu menatap penuh harap sementara yang satu terlihat muak dengan semua pertemuan setelah perpisahan menyakitkan yang harus dialaminya tiga bulan lalu.
"Aku ingin bicara denganmu, sebentar saja."
.
.
.
.
.
.
.
.
"Ada apa?"
Saat ini Sehun membawa Luhan ke kafetaria di sekitar rumah sakit, keduanya dalam posisi yang begitu canggung, sama ketika kali pertama Baekhyun memperkenalkan mereka satu sama lain. Bedanya saat itu mereka benar-benar tidak mengenal satu sama lain, tapi saat ini, yang duduk di hadapan Sehun adalah pria yang meninggalkannya di hari pernikahan mereka, yang dia pikir akan menjadi pelabuhan terakhir hatinya, bukan seorang manager polos yang hanya tersenyum saat keduanya pertama bertemu.
"Permisi ini pesanan anda."
Setidaknya Luhan bisa diberi sedikit nafas saat waiter dari kafe tersebut mengantarkan pesanan Sehun, menyiapkan diri sejenak untuk mengatakan apa yang ingin dikatakan sebelum terdengar "Selamat menikmati pesanan anda."
Habis sudah waktunya untuk menenangkan diri, kini Sehun menatapnya tak sabar, bisa saja dia pergi meninggalkan Luhan begitu saja sama seperti yang dilakukan mantan kekasihnya, tapi sial! Sehun tidak memiliki hati untuk berbuat sekeji itu mengingat mau bagaimanapun juga kondisi fisik dan psikis Luhan harus diutamakan karena calon bayi yang sedang tumbuh di dalam perutnya.
"Masih belum mau berbicara?" katanya sabar, namun terdengar menekan. Buru-buru Luhan mengangkat wajahnya, menatap dalam dua mata Sehun untuk mengatakan "Terkait calon malaikat kecil kita, aku memiliki permintaan padamu."
Sehun tergoda, terhipnotis dengan dua mata cantik Luhan yang kini tersenyum hangat, matanya bahkan tak berkedip menatap sosok yang akan membuatnya menjadi seorang ayah, tapi kemudian permintaan Luhan terdengar mengerikan hingga datar adalah jawaban yang bisa kembali dia berikan.
"Apa?"
Tanpa ragu Luhan mengatakan "Saat dia lahir nanti, bawa dia bersamamu, kumohon."
Tanpa sadar Sehun mengepalkan erat tangannya, warna mukanya berubah menjadi lebih dingin dengan tatapan tajam yang seolah bisa membunuh siapa saja ketika melihatnya "Apa maksudmu? Apa kau tidak ingin membesarkan anak kita?"
"Bukan seperti itu. Aku hanya-…"
"Apa kau berpikir jika anak itu hidup denganku, ayahnya. Dia akan bahagia karena aku bisa membelikan apapun yang dia inginkan? Apa hanya uang dan materi yang ada di kepalamu? Bagaimana bisa kau melarikan diri dari tanggung jawabmu sebagai seorang ibu? Bagaimana bisa kau mengatakan hal ini begitu mudah Luhan!"
"Sehun…"
"Bagaimana jika dia bertanya dimana ibunya? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan? Brengsek! Ini bahkan lebih membuatku marah daripada hari dimana kau melarikan diri dari pernikahan kita!"
Tak tahan dengan segala penuturan Sehun, Luhan tertunduk tak berani menatap, tiba0tiba saja semua terasa berat untuknya, nafasnya sulit, kepalanya sakit dan yang paling tak bisa dihindari adalah kenyataan bahwa hatinya sedang menangis saat merelakan bayinya untuk Sehun.
Hal yang dia pikir bisa menyelesaikan masalah, yang bisa membuat Sehun bahagia tanpa harus bertengkar menjadi berbalik menyerangnya. Sehun terlihat sangat marah, dan yang tidak pernah Luhan sadari selama tiga bulan ini ada sesuatu yang bergerak di dalam perutnya, menendang kencang seolah mendukung ayahnya karena keputusan bodoh yang hampir dia buat untuk kedua kalinya.
"Tapi dia tidak akan bahagia jika hidup bersamaku!"
"Kau benar, anakku akan menderita memiliki ibu egois sepertimu!"
"….."
Sehun bisa melihat air Luhan menetes, namun alih-alih menyesal dia justru tersenyum karena hatinya lega bisa mencegah Luhan dan pikiran bodohnya untuk meninggalkan anak mereka, mereka memang tidak akan bisa bersama sebagai pasangan, tapi bukan berarti mereka tidak bisa membesarkan bersama darah daging mereka sebagai orang tua. itu yang ada di pikiran Sehun. Berbeda dengan Luhan yang memiliki pikiran keji untuk meninggalkan anak mereka tanpa berfikir panjang, seperti biasa.
"Kau tenang saja, anakku tidak akan kekurangan satu apapun. Materi dan kasih sayang dua orang tuanya, dia akan bisa merasakannya selama masa pertumbuhannya. Dia akan bahagia walau orang tuanya hidup terpisah, jadi kau tenang saja Luhan, aku akan mengambil tanggung jawab penuh atas darah dagingku, yang perlu kau lakukan hanya merawatnya dan pastikan dia tidak terluka selama berada dalam kandunganmu. Mengerti?"
Luhan hanya diam sebagai jawaban, membiarkan Sehun membicarakan masa depan yang tak berani dia jalani hanya untuk mengira semua akan baik-baik saja "Aku akan menghubungimu setiap bulan."
"huh?"
"ayolah! Jangan berikan wajah polos itu! Aku hanya ingin memastikan bahwa anakku tumbuh dengan sehat. Kita akan pergi ke dokter bersama-sama!"
Luhan mengangguk menyetujui, hatinya tiba-tiba hangat melihat Sehun begitu peduli pada darah daging mereka, dan jika benar setiap bulan Sehun akan datang menemuinya, setidaknya dia memiliki alasan untuk melihat wajah ayah dari calon bayi yang dikandungnya, walau hanya satu bulan sekali, sungguh, Luhan merasa bahagia karena masih memiliki alasan bertemu dengan Sehun, ayah dari bayinya.
"Aku pergi!"
"Ayahmu? Bagaimana dengan terapinya?"
"tsk! Jangan bertanya seolah kau peduli padanya!"
"Sehun…"
"Urusan kita hanya sebatas tentang calon anakku, bukan mengenai ayahku, hidupku atau apapun yang tidak seharusnya kau ketahui! Jadi jangan ikut campur!"
Kenyataannya Sehun memang tidak membenci Luhan, tiga bulan ini dia habiskan hanya untuk mengkonsumsi rasa kecewanya menjadi emosi. Tapi untuk membenci Luhan? Dia belum sampai pada tahap itu, mungkin suatu saat nanti dia bisa membenci Luhan, melupakannya. Tapi kemudian calon malaikat kecilnya datang, membuat kemungkinan rasa benci itu tidak akan pernah ada digantikan dengan rasa peduli yang tidak seharusnya dimiliki lagi oleh Sehun untuk Luhan, selamanya.
"rrrhh…"
Satu lagi tendangan kecil mulai terus dirasakan Luhan, beberapa minggu ini dia memang merasakan tendangan di perutnya, tapi karena tidak mengetahui ada darah daging Sehun yang sedang tumbuh dia mengabaikannya, hanya berfikir tendangan kecil itu sebagai respon tubuhnya karena lelah bukan karena kehadiran calon bayinya.
"Maaf, tapi ayahmu sudah pergi."
Luhan seolah mengerti tendangan yang dirasakannya saat ini, calon bayinya marah karena ayahnya terus menerus disakiti, membuat sang calon ibu tersenyum kecil menyadari jika nantinya bayinya dan Sehun lahir, pastilah anak mereka akan lebih dekat pada ayahnya daripada dengannya "Tumbuhlah dengan sehat, anakku."
Kali pertama Luhan menyebut anakku hatinya hangat dipenuhi kebahagiaan, dia juga mulai belajar megusap lembut perutnya, masih canggung memang, tapi rasanya sebentar lagi Luhan akan terbiasa dengan kehadiran calon bayinya, terbiasa dengan kebersamaan mereka hingga hanya cinta yang bisa dia berikan untuk darah dagingnya dan Sehun.
"Cepat lahir dan hibur ayahmu, buat ayahmu bahagia nak." Katanya terus mencoba berkomunikasi dengan bayinya, mengusapnya sayang hingga tanpa sadar seseorang berjalan mendekatinya.
Mata pria paruh baya itu terkunci pada Luhan, tatapannya tajam seolah berniat untuk tidak kehilangan Luhan walau hanya satu menit setelah kejadian mengerikan yang dia lakukan tiga bulan lalu, tepat di hari pernikahan tuan mudanya.
"Tuan Xi?"
Luhan berhenti mengusap perutnya, kini wajah cemas jelas terlihat di warna mukanya, dia mengenali suara ini, terlalu mengenali hingga rasanya sulit untuk mendongak jika pria paruh baya yang sudah dianggap Sehun seperti pamannya sendiri duduk tepat di hadapannya, menggantikan posisi Sehun.
"Pa-Paman Lee?"
Mau tak mau mata mereka bertemu, Luhan terlihat ketakutan tapi dibalas senyum lembut dari paman yang sudah membesarkan Sehun dan menjaga ayahnya selama puluhan tahun "Senang mengetahui kau baik-baik saja." Katanya tulus dibalas diam dipenuhi rasa bersalah oleh Luhan.
"Ada apa?" Luhan bertanya, matanya memberanikan diri untuk menatap paman Lee dan menolak seluruh kelembutan yang tak pantas diterimanya saat ini "Kenapa paman bertemu denganku? Bersikap baik padaku seolah tidak ada apapun yang terjadi? Kenapa paman ingin berbicara denganku?"
"Bukan aku."
"huh?"
"Tapi tuan besar."
Luhan mengikuti kemana arah paman Lee melihat sampai sosok yang terlihat tua dan lelah kini sedang menatapnya lembut dari kursi rodanya, Luhan terkejut, refleks, dia mendorong kursi untuk membungkuk sebagai tanda hormatnya pada seorang ayah yang luar biasa seperti ayah Sehun, calon kakek dari malaikat kecilnya.
"Presdir Oh."
Penuh rasa bersalah Luhan membungkuk terlalu dalam, dia enggan membusungkan dada jika hanya kesedihan yang dilihatnya dari mantan pemilik tertinggi agensi tempatnya bekerja. Dan disela dia menyapa, Luhan menitikkan air mata, terus membungkuk sampai lagi-lagi tangan Paman Lee memegang pundaknya, memaksa Luhan untuk menatapnya dan tersenyum lembut menyapanya.
"Bisakah Tuan besar bicara denganmu dan calon cucunya?"
"apa-Apa yang anda katakan?"
Respon Luhan lagi-lagi dibalas senyum lembut yang mengatakan "Kami mengetahuinya, kehamilanmu dan alasan kau pergi tiga bulan lalu, kami mengetahuinya. Jadi bisakah Tuan besar bicara denganmu?"
Luhan tidak menjawab, dia hanya mengangguk sebagai jawaban. Hatinya sakit menyadari bahwa bukan hanya Sehun yang dia sakiti, tapi paman Lee, ayah Sehun terutama, mereka semua adalah yang paling menderita dari keputusannya hari itu.
Sungguh, Luhan tidak memiliki wajah untuk berbicara dengan ayah Sehun, tapi senyum lembut Tuan Oh, tatapannya yang hangat serta wajah yang begitu Luhan rindukan seolah menjadi alasan dirinya menyetujui untuk berbicara dengan ayah dari mantan kekasihnya.
"Jika Presdir Oh berkenan, aku akan meminta maaf dengan benar padanya."
"Kau bisa melakukannya saat kita bicara. Ayo kita pergi."
Luhan sempat diam di tempatnya beberapa saat, ragu kembali menguasai, tapi dua orang berbeda usia jauh dengannya terus menunjukkan arti menjadi orang dewasa adalah bukan membenci yang lebih muda, tapi menuntunnya lagi ke jalan yang benar tanpa harus menyakiti perasaan mereka.
"Luhan."
Dan yang lebih muda mengangguk, menerima senyum hangat dan tatapan lembut dari dua pria yang sangat berarti di hidup mantan kekasihnya untuk berbicara, entah apa yang akan dibicarakannya nanti, Luhan tidak peduli, yang dia pedulikan hanya kenyataan bahwa apapun yang akan terjadi padanya, selama dia berada di sekitar keluarga Oh, dia akan merasa aman dan selalu dilindungi, selalu.
.
.
.
.
.
.
Sekiranya sudah dua puluh menit Luhan berada di restaurant mewah yang sengaja di pesan oleh ayah Sehun. Menikmati dalam gugup setiap makanan yang disajikan tanpa mengeluarkan satu kata apapun. Pertama karena terlalu gugup, kedua karena instruksi dari ayah mantan kekasihnya adalah habiskan makananmu lebih dulu, membuat Luhan tak memiliki pilihan lagi selain memotong steak daging yang begitu lembut dan mengunyahnya perlahan di dalam mulut.
"Apa kau suka makanannya?"
"nde?"
Luhan terkejut, diletakannya dua pisau dan garpu di masing-masing sisi meja untuk tersenyum canggung dan mengatakan "Terimakasih untuk makanannya Presdir Oh."
Pria paruh baya yang memiliki rahang tegas dan tatapan tajam seperti Sehun hanya membalas senyum seperlunya, tatapannya kini menjadi sendu seolah ingin mengatakan banyak hal tapi kemudian hanya satu ucapan yang berhasil lolos dari suara paraunya yang terdengar kelelahan.
"Lalu apa rencana yang kau miliki bersama Sehun?"
"rencana? Rencana apa yang anda maksud Presdir Oh?"
Yang berusia lebih tua terpaksa menyunggingkan senyum pahit, tatapannya terluka karena pertanyaan Luhan namun dia sembunyikan serapih mungkin hingga Luhan tidak melihat cacat dalam dirinya "Kalian dan calon bayi kalian, cucuku."
Tak heran jika ucapan ayah Sehun membuat Luhan bergerak salah tingkah, dia tak mengerti harus menjawab apa sampai ayah mantan kekasihnya tersenyum seolah menguatkan "Aku tidak akan mencampuri urusan pribadi kalian, hanya saja untuk cucuku, bisakah kalian berbagi denganku?" katanya terdengar memohon dibalas raut putus asa dari Luhan
"Darimana anda mengetahui tentang kehamilanku Presdir Oh?"
"Mudah, aku melihat kalian berdua keluar dari ruang dokter. Penasaran, aku meminta Lee mencari tahu apa yang kalian bicarakan. Awalnya aku ragu tapi diluar dugaan hal yang disampaikan Lee membuatku menjerit bahagia. Terlalu bahagia, saat mendengar kau hamil dan itu anak dari putraku, darah dagingku. darah daging Sehun!"
"…"
Luhan kehabisan kata-kata, jujur reaksi dari ayah Sehun membuatnya jauh lebih bahagia daripada reaksi Sehun sendiri, karena awalnya Sehun menolak bayi mereka, berbeda dengan ayah Sehun yang terlihat sangat bahagia dan begitu mendambakan calon cucunya.
"Yang artinya, bayi yang kau kandung memiliki darah keluarga Oh, generasi ketiga dalam keluarga kecilku Luhan!"
"….."
Sebersit raut bersalah ditunjukkan Luhan, terlebih saat ayah Sehun bertanya "Apa kalian memutuskan untuk kembali bersama?" semua terasa hitam untuk Luhan, dia kehabisan kata-kata untuk menjawab, yang dia lakukan hanya tertunduk sementara ayah mantan kekasihnya terus membicarakan hal yang tidak akan pernah terjadi pada dirinya dan Sehun, seperti kembali bersama, hidup bersama atau mungkin saling mencintai lagi seperti dulu. Semua rasa itu sirna dalam kurun waktu tiga bulan, jadi rasanya sangat berlebihan jika Luhan mengharapkan cinta Sehun akan kembali lagi untuknya, tidak mungkin tentu saja.
"Luhan?"
"Ya?"
"Kenapa kau hanya diam? Aku bertanya apa kalian memutuskan kembali untuk bersama?"
Diamnya Luhan mewakili semua jawaban yang ada, namun seperti mengelak Tuan Oh terus mendesak Luhan hingga mantan kekasih putranya terpaksa menjawab dengan nada lirih seraya menggeleng sebagai jawaban "Maaf, tapi tidak ada keputusan seperti itu diantara kami."
Sama seperti Luhan yang menyesal, warna muka Tuan Oh juga berubah menjadi kecewa, dia tersenyum, tapi senyumnya menunjukkan luka dan kekecewaan yang begitu kentara di penglihatan Luhan.
"Saya menyesal Presdir Oh, maafkan sayaatas semua kebencian Sehun, maaf."
Tak ada percakapan berarti lagi untuk beberapa menit, dua pria berbeda generasi itu seolah larut dan tenggelam dalam pikiran masing-masing, berfikir bagaimana cara menyudahi kecanggungan ini sampai yang berusia lebih tua tersenyum tulus dan menggenggam jemari pria cantik yang sedang mengandung calon cucunya.
"Luhan."
"y-Ya Presdir oh."
"Apa kau benar menyesal? Apa kau benar-benar merasa bersalah padaku?"
"Dengan seluruh hidupku, aku sangat menyesal Presdir Oh." Ujarnya lirih dibalas senyum puas dari ayah mantan kekasihnya "Kalau kau benar menyesal, maukah kau melakukan satu hal untukku?"
Tanpa ragu Luhan menjawab "Apapun."
"Benarkah?"
Secercah senyum bahagia sangat terlihat di wajah ayah Sehun, dan saat raut wajahnya terlihat dipenuhi kebahagiaan maka yang ingin dilakukan Luhan hanya menebus kesalahanya melalui permintaan yang akan diajukan mantan Presdir sekaligus ayah kandung dari pria yang masih begitu dicintai Luhan "Ya Presdir Oh, apapun. Apa yang harus saya lakukan?"
"Mudah." Katanya semakin erat menggenggam tangan Luhan lalu tanpa ragu mengatakan "Tinggalah dirumahku, bersama kami, bersamaku, bersama Lee dan bersama Sehun."
Mata Luhan membulat hebat, tangannya berkeringat hebat seolah tak mempercayai apa yang baru saja dia dengar dari ayah mantan kekasihnya "a-Apa maksud anda Presdir Oh?"
Sejenak Tuan Oh bisa merasakan tangan Luhan menjadi dingin, wajahnya juga mulai berubah menjadi pucat namun secara egois dia mengatakan dengan gamblang apa yang diinginkannya sebelum kelahiran cucu pertamanya.
"Tinggalah bersama kami Luhan, dirumahku, seperti dulu. "
"tidak mungkin."
"Kenapa? Apa yang tidak mungkin?"
"Sehun pasti tidak akan menyetujuinya Presdir Oh." Ujarnya cemas lalu melepas genggaman tangan Tuan Oh di jemarinya. Luhan bahkan berniat pergi sebelum suara berat Tuan Oh kembali terdengar sangat memohon padanya.
"Kumohon."
Kali ini Luhan yang mengambil dalam nafasnya, memberanikan diri menggenggam jemari yang sudah terasa rapuh di pegangannya untuk memohon "Apapun, selain menetap bersama anda dan Sehun, kumohon."
"Hanya itu yang kuinginkan, setidaknya aku ingin menjadi kakek yang baik setelah gagal menjadi ayah dan suami yang baik untuk putra dan mendiang istriku, Luhan. Ya?"
Luhan terlalu putus asa untuk kembali menjawab "Aku akan menyakiti Sehun jika kembali kerumahnya, kerumah ibunya."
"Itu rumahku, dan sejujurnya Sehun menetap dirumah hanya karena mengasihaniku, dia bisa pergi jika dia marah akan kehadiranmu."
"Presdir Oh."
"Lagipula aku tidak ingin dikasihani, dialah yang harusnya dikasihani! Semenjak pernikahan kalian batal dia cenderung menjadi arogan dan egois, seperti sifatnya dulu saat remaja, aku hampir tidak mengenalinya sebagai Sehunku tiga bulan yang lalu. Jadi biarkan perlahan aku mengenali putraku yang suka tertawa, sama seperti tiga bulan lalu."
"…"
"Mungkin ini akan menjadi tahun terakhirku hidup di dunia, jadi bisakah kau mengabulkan permintaan kakek dari calon bayimu Luhan?"
"Apa yang anda katakan Presdir Oh?"
"Kondisiku memburuk. Mungkin sebentar lagi aku tergeletak tak berdaya di ruang ICU, aku hanya tidak ingin menyesali apapun sebelum kematianku."
"Aku mohon jangan bicara seperti itu Presdir Oh."
"Kalau begitu, maukah kau mengabulkan permintaan terakhirku?"
"Presdir Oh."
"Kumohon."
Beberapa detik Luhan terus menggigit kuat bibirnya, sungguh, dia tidak tahu harus mengatakan apa, harus melakukan apa atau harus menjawab apa, semuanya terlalu cepat terjadi, dia baru mengetahui tentang kehamilannya pagi ini, lalu di hari yang sama Sehun juga mengetahuinya dan selang beberapa menit kemudian, ayah Sehun adalah orang ketiga yang mengetahui tentang kehamilannya.
Jujur dia senang karena setidaknya, baik Sehun maupun ayahnya tidak menaruh benci berlebihan padanya, tapi untuk tinggal di istana keluarga Oh? Luhan rasa itu adalah tindakan egois yang mencerminkan siapa dirinya.
Luhan bahagia, tentu saja. Tapi Sehun? tidak, pasti dia akan sangat marah saat mereka bertemu nanti, aku tidak bisa, harusnya dia mengatakan itu dengan tegas. Tapi saat ini, tatapan sendu ayah Sehun, genggaman dijemarinya yang begitu hangat, senyum tulus seorang ayah untuknya serta tatapan menguatkan dari paman Lee seolah menghilangkan akal sehat Luhan karena nyatanya daripada tidak, Luhan mengangguk untuk menjawab
"Baiklah."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Daebak! Jadi keponkanku akan segera menjadi dua? Benar hyung?"
"Jae…"
"Whoa…Kehamilan Luhan hyung seperti de-ja-vu, Aku benar kan?"
"Jaehyun…"
"tidak, tidak. Aku sepertinya tahu ekspresi itu hyung! Itu adalah ekspresi Kyungsoo hyung saat ingin menyingkirkan Taeoh dan-….'
"JUNG JAEHYUN!"
Kali ini ibu kandung Taeoh yang bereaksi, ya wajar saja, Jaehyun sudah keterlaluan saat mengingatkan siapa Kyungsoo untuk Taeoh, putranya. Karena hari ini, tepat sembilan bulan yang lalu Kyungsoo adalah aktor terkenal yang dinyatakan hamil tanpa status dengan calon ayah Taeoh saat itu, jadi wajar jika sang aktor nekat beberapa kali akan membunuh Taeoh karena terlalu putus asa.
Dan setiap kali dia mengingat hal itu, Kyungsoo akan selalu menangis, meminta maaf tersedu seraya menciumi wajah putranya tanda dia begitu menyesal karena berniat untuk menghabisi malaikat kecilnya bersama Kai.
"Jae kau dan mulut besarmu luar biasa busuk!"
Luhan kini harus repot-repot memeluk Kyungsoo, menenangkan si ibu Taeoh sementara si bungsu kini mendekati keponakannya dan menggendong Taeoh dengan satu tangan, sangat mudah, seperti Kai yang selalu melakukannya saat dia berada dirumah.
"Wae? Aku hanya sedang memberi peringatan padamu hyung! Awas jika kau berani berfikir untuk menghabisi calon bayimu! Aku tidak akan diam saja!"
"y-YAK! Siapa yang akan menghabisi darah dagingku?"
"Kau tentu saja, wajahmu terlihat ingin melakukannya, iya kan sayang?" dia bertanya pada Taeoh, dan yang menyebalkan bayi lima bulan itu tertawa geli seolah mengetahui yang dikatakan pamannya "he he he.."
"aigooo. Taeoya imut sekali." Jaehyun membanjiri wajah Taeoh dengan ciuman sebelum mendelik menatap Luhan dan Kyungsoo yang masih memainkan drama di depannya saat ini.
"Sudahlah hyung jangan menangis! Aku juga tidak akan memberitahu Taeoh ibunya yang dulu!"
"DIAM!"
"ssst…."
Jaehyun terkekeh, dia kembali mencium bibir Taeoh lalu mengambil tempat di depan dua kakaknya, kali ini fokusnya berada pada Luhan untuk bertanya "Lalu apa rencanamu hyung? Apa kau akan menetap di rumah Sehun?"
Kyungsoo tertarik pada pertanyaan Jaehyun, dihapusnya air mata penyesalan karena niat jahatnya sembilan bulan yang lalu untuk fokus menatap Luhan dan mencari tahu jawaban dari kakaknya "Jaehyun benar, bagaimana?"
Berbeda dengan keadaan Luhan, saat ini mereka bertiga sedang berada di apartement kecil Luhan di daerah Myeongdong, apartement yang sengaja dia tinggali semenjak tiga bulan dengan tiga alasan.
Pertama jaraknya nya tidak terlalu jauh dari Seoul hospital, ibunya dalam kondisi kritis di rumah sakit, jadi wajar jika Luhan memilih tinggal seorang diri daripada harus menetap bersama Kai dan Kyungsoo.
Kedua apartement kecilnya memiliki jarak yang begitu dekat dengan apartement Sehun, dia hanya berharap mereka bisa berpapas jalan hanya untuk saling menatap, Luhan tidak ingin percakapan, yang dia inginkan hanya melihat wajah Sehun disaat dia rindu.
"Kalau kau pindah ke tempat Sehun, apartement ini milikku, akhirnya!"
Dan ketiga? Alasan ketiga tentu saja Jaehyun, si bungsu cenderung lebih mengkhawatirkan Luhan daripada Kyungsoo, karena selama Luhan tinggal di apartement kecilnya, Jaehyun sering datang ke tempatnya daripada tempat Kyungsoo.
Alasannya?
Kamar di rumah Kyungsoo hyung terlalu besar, aku tidak betah.
Tentu saja itu hanya alasan Jaehyun, karena nyatanya Jaehyun sering mengunjunginya karena si bungsu cemas pada keadaan psikis dirinya, Luhan akan cenderung diam seharian tidak melakukan apapun termasuk makan dan minum jika rasa bersalahnya sedang kembali menghantui.
Beberapa kali Jaehyun memergoki Luhan tidak mematikan kran air hingga kamar mandi banjir sampai masuk kedalam kamar, atau dia memasak air untuk ramen, tapi kemudian api berkobar hampir membakar apartement karena dibiarkan menyala untuk waktu lama dengan air yang sudah mengering di panci.
Selalu seperti itu, Jaehyun selalu mengkhawatirkan kakak sulungnya. Jadi ketika Luhan mengatakan akan pindah lagi ke rumah Sehun, rasanya dia memiliki firasat bagus tentang hal ini.
Fakta pertama Sehun bersedia bertanggung jawab,
Fakta kedua, ayah mantan kekasih kakaknya juga begitu mendambakan cucu,
Jadi kemungkinan fakta ketiga analisa dari bungsu tiga bersaudara itu adalah….Luhan akan lebih baik bersama Sehun daripada tinggal di apartementnya seorang diri!
Yap!
Jaehyun juga sudah membuat keputusan untuk mendesak kakaknya tinggal di rumah Sehun dengan catatan, mantan kekasih kakaknya itu tidak "bermain" tangan apalagi sampai menyakiti calon keponakannya.
Karena jika itu sampai terjadi, Jaehyun bersumpah akan membalas Sehun dengan kedua tangannya sendiri, itu pasti.
"Hyung! Kau melamun lagi!"
Luhan tertawa kecil seraya mengusap kasar wajahnya, dia tidak tahu harus mengatakan apa pada kedua adiknya selain "Entahlah."
"Entahlah?"
"Kenapa entahlah?"
"Jungjae!"
Saat Kyungsoo mengambil paksa Taeoh, Jaehyun mencibir lalu berjongkok di depan Luhan, memastikan kakaknya telah membuat keputusan yang tepat "Apa yang kau pikirkan?"
"Kau."
"Aku? Kenapa?"
"Kau selalu membuat kepalaku sakit!"
"Baiklah baiklah, aku tidak akan ikut balap liar lagi!"
"omong kosong!"
Lesung di pipi Jaehyun terlihat, itu artinya dia sedang tertawa dan ya, dia memang sedang tertawa untuk menghibur Luhan, dia tahu apa yang mengganggu pikiran kakaknya jadi wajar jika sebagai satu-satunya pria yang akan menjadi tulang punggung keluarga kecilnya Jaehyun menenangkan Luhan, menghapus seluruh hal yang menjadi beban pikiran kakaknya.
"Jika ini tentang ibu, jika kau mengkhawatirkan ibu, maka jangan lakukan lagi!"
"Apa maksudmu?"
"Ibu masih bertahan dengan kondisinya saat ini dan selama kita mempertahankan kondisi ibu dengan alat bantu kita masih memiliki harapan, ibu akan kembali sadar, ibu harus sadar."
"Jae…"
Satu-satunya hal yang membuat Luhan cemas adalah kenyataan hidup ibunya yang bergantung pada alat bantu selama tiga bulan ini. kasarnya, dokter sudah menyerah akan kondisi ibunya, mereka selalu mengatakan ini hanya tinggal menunggu waktu. Dan ya, Kyungsoo maupun Luhan sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.
Berbeda dengan Jaehyun, adik bungsunya sama sekali tidak bisa menerima kenyataan tentang kondisi ibunya. Dan satu-satunya alasan mereka masih mempertahankan kondisi ibu mereka adalah karena Jaehyun memiliki keyakinan bahwa suatu saat nanti, entah kapan, Ibunya akan kembali membuka mata dan kembali di tengah-tengah mereka, seperti dulu.
"Serahkan ibu padaku, aku akan menjaganya."
"Kami juga akan menjaga ibu."
"Aku tahu." Katanya tersenyum, dia menggenggam tangan Luhan lalu tangannya yang lain juga meraih satu tangan Kyungsoo, kini si bungsu benar-benar terlihat seperti kepala keluarga yang sedang menenangkan kedua anaknya "Maksudku apapun yang mengganggu pikiran kalian berdua, lupakanlah."
"yang benar saja! / Apa kau gila? Bagaimana bisa kami melupakannya?"
Seperti dugaan, kedua kakaknya akan tersinggung jika tidak segera diberi alasan yang tepat, dan Jaehyun bukan hanya seorang remaja, lingkungan dimana dia tumbuh membuat dirinya menjadi seorang pria dewasa lebih cepat, berbeda dengan kedua kakaknya yang selalu terlihat ingin dilindungi tanpa bisa mengubah image childish dari wajah mereka yang kini sudah memiliki satu anak dan akan segera memiliki satu anak.
"Kalian berdua, ibu selalu mencemaskan kalian. Ibu hanya ingin kalian bahagia, jadi saat kebahagiaan Kyungsoo hyung sudah lengkap, maka rasanya salah jika Luhan hyung terus menderita, bahagialah. Kejar cintamu, hyung." katanya menatap Luhan penuh arti dibalas tatapan sendu dari si sulung yang memiliki darah ayah dan ibu berbeda dari kedua adiknya.
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku? Aku memiliki Taeyong, aku memiliki ibu, aku memiliki Taeoh dan yang paling penting, aku memiliki kalian. Kalian adalah dua kakak dengan dua karakter yang sangat berbeda, yang sangat menyebalkan namun begitu aku cintai. Lagipula hyung! aku masih delapan belas tahun, aku masih terlalu bahagia untuk merasa sedih. Mengerti?"
Air mata Luhan menetes haru, begitupula dengan Kyungsoo. Jaehyun memang mengatakan usianya masih delapan belas tahun, tapi demi Tuhan, Jaehyun dan seluruh kasih sayangnya adalah yang terbaik yang pernah bisa diberikan keluarga ini pada anggota keluarganya yang lain.
Luhan menyayangi sewajarnya,
Kyungsoo menyayangi seadanya,
Tapi Jaehyun?
Jaehyun memberikan segalanya tanpa batas untuk keluarga kecil mereka.
Jadi wajar jika rasa bangga tiba-tiba menyelimuti hati Luhan dan Kyungsoo yang kini memeluk erat si bungsu. Terlalu erat sampai akhirnya Jaehyun menyerah karena nafasnya nyaris berhenti berhembus.
"oke hentikan."
"ish! Berhenti mengusak rambutku!"
Belum ada sepuluh menit Jaehyun memberi pengakuan tentang keluarganya, Luhan dan Kyungsoo mulai berulah dengan mencubit gemas dan mengusak kasar rambutnya, hal yang begitu dibenci Jaehyun karena sangat kekanakan.
Ketiganya pun masih berbagi kehangatan yang sama sampai Jaehyun bertanya serius lagi pada kakak sulungnya "Jadi bagaimana?"
"Apa?"
"Kau akan menetap di rumah Sehun? iya kan?"
"Apa kau sangat menginginkan aku pergi?"
"eyy! Bukan seperti itu hyung! akan lebih baik jika kalian mengawasi baby bersama."
"Kau benar?"
"Jadi?"
Luhan menghela dalam nafasnya untuk mengatakan "Ya, aku akan menetap di rumah Sehun."
"Mulai kapan?"
"Malam ini, sebentar lagi paman Lee datang menjemputku!"
"whoa daebak! Aku tidak menyangka akan memilki apartement sendiri di usia delapan belas tahun. Daebak!"
"Tapi jika Sehun mengusirku malam ini aku akan segera kembali ke apartementku. Jadi jangan terlalu berharap kau bisa memiliki tempatku Jae!"
"Jika dia mengusirmu aku akan memukulnya hingga babak belur? Bagaimana?"
"Tidak lucu!"
"Dia yang tidak lucu! Bagaimana bisa seorang calon ayah mengusir ibu dari calon bayinya?"
"Bisa, jika ibu dari si calon bayi berbuat jahat dan meninggalkannya tepat di hari pernikahan mereka."
"hyuung…Berapa kali harus aku katakan? Itu bukan salahmu!"
"Itu salahku."
"ish! Jika kau sedih bayimu akan sedih! Tersenyumlah."
"Benarkah?"
"Jaehyun benar Lu! Tiga bulan pertama kehamilan sangat rentan, dulu aku juga mengalaminya!"
Wajah Luhan menjadi kaku untuk tersenyum canggung "Seperti ini?"
"Ya seperti itu lebih baik, walau sangat terpaksa." Jaehyun mengusap perut Luhan dan sedikit takjub karena memang perut Luhan begitu keras seperti memiliki kehidupan disana "Bagaimana bisa baby memiliki baby?" katanya terkekeh dibalas raut wajah tak percaya dari Luhan.
"Kau bilang apa?"
"Apa?"
"Baby memiliki Baby?"
"ah-….."
"Jungjae…."
"MIAN HYUNG! JANGAN PUKUL AKU-…."
Tok..tok…
"Itu pasti paman yang menjemputmu, hyung!—SEBENTAR!"
Menghindari pukulan Luhan, Jaehyun bergegas membuka pintu diikuti Luhan yang sudah bersiap dengan satu tas kecilnya yang akan dibawa menginap dirumah Sehun.
Klik…
"Selamat malam."
Dan benar saja tak lama sosok paman Lee terlihat dan menyapa lebih dulu pada Jaehyun, si bungsu pun refleks membungkuk sekilas untuk membawa Luhan ke pelukannya "Apa kau yang akan membawa Lu hyungku ke rumah Sehun?"
"Ya, saya akan membawa Luhan ke kediaman keluarga Oh."
"baiklah…." Si remaja delapan belas tahun terlihat berpikir untuk merangkul Luhan semakin ke dekapannya "Jadi biar aku beritahu satu hal, Paman? Paman Lee ya?"
"Ya, Luhan memanggilku seperti itu!"
"Jaehyun apa yang kau lakukan?"
Jaehyun mengabaikan cengkraman Luhan di punggungnya untuk meneruskan petuah yang ingin dia katakan pada pria paruh baya di depannya "Namaku Jung Jaehyun, aku adik si cantik Luhan."
"Jae…"
"Si Manly Luhan." Katanya mengoreksi dengan wajah meringis karena Luhan mencengkram kencang punggungnya "Aku sensitif jika hyungku menangis. Jadi bisa kau berjanji satu hal padaku?"
Sedikit menahan tawa dan tanpa keraguan di wajahnya, Paman Lee menjawab "Apapun."
"Jaga Luhan untukku, pastikan dia dan bayinya bahagia tinggal bersama keluarga ayahnya! Anda mengerti paman?"
Mengangguk penuh wibawa, Paman Lee kembali menjawab "Tentu saja, keluarga ayah dari si calon bayi akan sangat menyayangi Luhan dan calon bayinya."
"Pastikan itu terjadi!"
"Selalu."
Barulah saat paman Lee menjawab mantap semua pertanyaan Jaehyun, si bungsu melepas pelukan Luhan, mencium cukup lama kening kakaknya lalu berbisik "Bahagia disana, janji padaku."
"Aku usahakan."
Tak lama Luhan berpamitan pada Kyungsoo, memeluk ibu Taeoh dengan erat seolah meminta kekuatan karena mau bagaimanapun kondisi kehamilan mereka begitu mirip, di awal kehamilan tanpa ayah dari si calon bayi tapi berakhir manis saat bayi mereka lahir, itu yang sedang begitu diharapkan Luhan saat ini.
"Kau pasti kuat Luhan, aku mengenalmu lebih dari kau mengenal dirimu sendiri!"
"gomawo Soo, aku akan datang menjenguk Taeoh."
"mmhh…"
Dan tak lama Luhan menggendong Taeoh sejenak, mengecup sayang wajah keponakannya untuk berbisik "Doakan adik sepupumu bisa tumbuh sehat sepertimu sayang." Katanya mencium bibir Taeoh lalu menyerahkannya lagi pada Kyungsoo.
"Sampaikan salamku untuk Kai."
"Aku akan melakukannya."
"Taeyong juga."
Jaehyun memberi ibu jari sebagai tanda mengerti "Taeyong pasti sedih."
"Bertaruh denganku, kau yang akan menangis."
"sshh!"
Paman Lee memegang tas kecil yang dibawa Luhan, sejumput pertanyaan terlihat di wajahnya lalu memberanikan diri untuk bertanya pada Luhan "Hanya ini?"
"Aku tidak berniat tinggal selamanya kan?"
"Firasatku berkata sebaliknya."
Luhan hanya tertawa, membiarkan paman Lee membukakan pintu mobil dengan dua adiknya yang mengantar sampai di luar apartement "Sampai nanti hyung."
"Aku akan sering berkunjung melihatmu."
"Oke!"
"Kau siap Luhan?"
"entahlah paman."
Paman Lee melihat keraguan Luhan dari kaca spion, sedikit tersenyum lalu kembali membuka pintu mobil "Paman?"
"Sebentar aku akan memberikan sesuatu pada adikmu."
Luhan bisa melihat paman Lee menyerahkan sebuah kartu pada Jaehyun dengan mengatakan "Ini alamat rumah kami, datanglah berkunjung dan hibur kakak kalian jika sempat."
Baik Kyungsoo maupun Jaehyun tersenyum puas lalu melambai memberikan semangat pada Luhan "Kami menyanyangimu Luhan."
"Dah hyung!"
Sejenak Luhan membuka kaca jendela mobil lalu melambai tak rela berpisah pada dua adiknya "Sampaikan salamku untuk ibu."
"Jika ibu membuka mata aku akan mengatakan kau hamil dan ibu tidak memiliki alasan untuk menyerah dari penyakitnya!"
"Dan jika dokter menganjurkan untuk melepas alat bantu dari tubuh ibu-…."
"Aku pastikan akan mengacau disana, bye hyung. Jangan menangis!"
"tsk! Siapa yang menangis!"
Dan bersamaan dengan gerutuan kecilnya, paman Lee menjalankan mobil, tertawa kecil kaena Luhan menggerutu tidak akan menangis, tapi yang dilihat paman Lee air mata tak hentinya turun dari mata Luhan, dia pun bisa merasakan ketakutan dan kehilangan yang Luhan rasakan untuk membuat hidup calon bayinya lebih baik.
Tapi jauh dari semua itu, pria paruh baya itu memiliki keyakinan bahwa setelah malam ini, baik hidup Luhan, hidup Sehun maupun hidup tuan besarnya, mereka bertiga akan memiliki hidup yang bahagia tanpa air mata karena kecewa dan kehilangan lagi.
"Adikmu posesif ya?"
Luhan tertegun, dihapusnya cepat air mata yang membasahi wajah untuk tertawa meremehkan "Sangat, aku merasa seperti memiliki kekasih yang protektif!"
"Tapi tuan mudaku jauh lebih protektif, benar?"
"huh?"
"Lupakan. Kau bisa tidur selama perjalanan Luhan. Aku tahu kau lelah, semua terlalu cepat untuk dilewati dalam satu hari."
"mmhh… Kau benar paman."
Luhan menyandarkan nyaman kepalanya, mencoba memejamkan mata walau rasa takut tak kunjung hilang dia rasakan "Paman."
"Ya?"
"Apa Sehun sudah berada di rumah?"
"Kau tenang saja Luhan, sudah tiga bulan ini jam pulang tuan muda tidak menentu. Terkadang aku tidak tahu kapan dia pulang, tapi tiba-tiba dia sudah berada di ruang kerjanya lalu berangkat sebelum fajar menyapa. Selalu seperti itu."
"Benarkah? Apa dia baik-baik saja?"
Paman Lee tersenyum lirih, memperhatikan Luhan yang sedang memejamkan mata untuk mengatakan "Tuan mudaku sangat menderita dengan hidupnya."
Luhan kembali menitikkan air mata disela matanya yang terpejam, merasa kalimat sangat menderita yang dirasakan Sehun juga mewakili penderitaan yang sama dengan yang dia rasakan. Sebuah lubang besar dihati keduanya seolah terkoneksi melalui penderitaan, jadi saat paman Lee menggambarkan betapa menderitanya Sehun, maka Luhan tak bisa memungkiri bahwa Sehun benar-benar menderita, sama sepertinya, begitu menderita.
"Luhan? Kau baik-baik saja?"
Sesaat Luhan hanya diam, tersenyum dalam tangisnya untuk bergumam "aku juga menderita paman."
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan pagi,
.
.
Terhitung sudah delapan jam Luhan menetap di kediaman keluarga Oh, dan selama delapan jam itu pula dia belum menemukan tanda kepulangan Sehun dari agensi. Saat ini dia berada di meja makan, menikmati sarapan bersama Tuan Oh sementara matanya diam-diam mencari berharap bisa melihat sosok ayah dari calon bayinya.
"Monster kecil itu belum pulang."
"huh? Monster?"
"Iya Monster, kau mencari Sehun kan? Sepertinya dia tidak pulang ke rumah malam tadi."
"ah-….Aku hanya merasa tidak nyaman."
"wae? Apa kamar yang kami siapkan tidak senyaman kamar Sehun? apa perlu aku memaksa bocah itu untuk berbagi kamar denganmu?"
"tidaktidak….Bukan seperti itu Presdir Oh, aku hanya, Bagaimana mengatakannya, aku sangat gugup."
"Gugup? Karena apa?"
"Karena kamarku berada tepat di samping kamarnya."
"Lalu?"
"Aku hanya belum terbiasa."
"Kau benar, selama ini kau tidur dikamar Sehun, maaf Luhan."
"Bukan seperti itu Direktur Oh, sungguh, aku hanya takut jika Sehun marah mengetahui kamar kami berdampingan, lagipula firasatku buruk mengenai hal ini."
"Luhan."
"Ya?"
Tuan Oh tersenyum kecil, digenggamnya jemari Luhan yang begitu gugup untuk menepuknya perlahan seraya menenangkan "Tenanglah, jika kau cemas bayimu juga akan cemas, lagipula Sehun tidak memiliki hak untuk marah, ini rumahku."
"Tapi Presdir Oh…"
"Dan bisakah kau berhenti memanggilku Presdir Oh?"
"nde?"
"Aku bukan atasanmu lagi, kau juga bukan karyawan di OSH'ent. Jadi kita tidak memiliki hubungan sebagai Presdir dan pegawai. Oke?"
"Tapi…."
"Luhan, tolong, ya?"
Cara Tuan Oh saat memaksa terlihat sangat mirip dengan Sehun, jadi ketika nadanya sudah tinggi, nafasnya sudah tersengal, itu artinya Luhan harus mengalah jika tidak ingin terjadi pertengkaran tidak penting di hari pertamanya menetap di rumah mantan kekasihnya.
"Lalu aku harus memanggil apa pada anda?"
"Ayah! Apalagi?"
"a-Ayah?"
"Ya, apa kau mau memanggilku Presdir Oh seumur hidupmu? Sampai cucuku lahir?"
"tidak, terimakasih."
"Bagus, kalau begitu panggil ayah padaku, seperti dulu."
Luhan ragu, roti yang sedang berada di mulutnya bahkan enggan tertelan saat ayah Sehun memaksa memanggil ayah padanya, matanya mencuri pandang pada ayah mantan kekasihnya, terlalu gugup sampai rasanya dia tidak bisa membuka suara.
"Baiklah, jika sulit lakukan nanti saat kau siap, tapi berjanjilah untuk tidak memanggilku Presdir Oh. Kau mengerti?"
"Ya, aboji."
"Bagus…eh? Kau bilang apa?"
"….."
Luhan tertunduk, tak mau menatap wajah ayah Sehun karena jantungnya terlalu berdebar saat ini
"Luhan?"
"…"
"Tuan."
"Ya?"
"Luhan memanggilmu aboji."
"Whoa. Aku tidak salah dengar?"
"Tidak. Jadi jangan berlebihan dan habiskan makanan anda. Segera!"
Mencibir adalah hal yang dilakukan Tuan Oh saat pengurusnya benar-benar cerewet, dan ketika matanya menangkap sosok Luhan yang begitu tenang, Tuan Oh buru-buru mengambil tangan Luhan, menepuknya lembut untuk berbisik "gomawo, Luhan-ah."
Luhan kemudian mengangguk sebagai jawaban, diam-diam tersenyum lalu membalas ucapan terimakasih ayah dari mantan kekasihnya "Aku yang harusnya berterimakasih padamu, aboji."
Dua pria berbeda generasi itu terlihat sangat bahagia, keduanya bahkan mulai menghilangkan rasa canggung dan berniat membangun hubungan yang sempat kandas beberapa bulan lalu untuk memulai semuanya dari awal.
Ya, dari awal. Sampai tak lama tawa mereka terhenti saat pintu kerja yang Luhan ketahui milik Sehun terbuka, matanya kemudian mencuri lihat untuk terpaku dan menyadari bahwa sedari tadi dua mata tajam Sehun sedang memperhatikannya, seolah menyimpan kemarahan yang begitu banyak untuknya.
"Se-Sehun?"
Luhan tergelak, begitupula Tuan Oh, pandangan mereka semua terkunci pada Sehun sementara Sehun hanya memandang satu orang, satu pria, Luhan.
"apa-….APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?"
Ayah Sehun bisa melihat tubuh Luhan gemetar karena takut, dua tangannya juga terkepal cemas sementara kepalanya tertunduk tak berani menatap putranya yang entah kapan sudah berada diruang kerjanya.
"Sehun, jaga bicaramu!"
Mengabaikan teguran sang ayah, dua mata elang Sehun memangsa Luhan secara utuh, dia bahkan tak berkedip sedikit pun untuk berjalan mendekati Luhan, nyaris menyakitinya jika Paman Lee tidak berdiri tepat di depan sang tuan muda, menghalangi.
"Minggir."
"Satu-satunya yang bisa anda salahkan adalah Presdir Oh, bukan Luhan."
"Minggir."
"Tuan muda sadarlah, Luhan sedang mengandung-….."
"AKU BILANG MINGGIR!"
Sehun menabrak paksa tubuh Paman Lee, membuat pria paruh baya yang dianggapnya paman sedikit terhuyung untuk mendekati Luhan yang kini dilindungi oleh ayahnya.
"aboji."
Rautnya putus asa, Sehun tahu ayahnya kelelahan dan kesulitan berdiri, tapi entah mengapa hanya untuk melindungi Luhan sang ayah justru rela menyiksa diri dengan berdiri di atas dua kakinya yang sudah lemah tak bisa menopang berat tubuhnya lagi.
"Bicara denganku!"
"Tapi dia, apa yang-….APA YANG DILAKUKAN SIALAN INI DIRUMAHKU?"
"SEHUN!"
"KENAPA KAU HANYA DIAM? LIHAT AKU!"
Bahu Luhan bergetar hebat, dia ketakutan, sangat. Terlebih perutnya kram karena terlalu tegang, apapun bisa terjadi saat ini, entah Sehun akan memukulnya, mengusirnya atau paling buruk menyeretnya keluar, Luhan tidak peduli. Yang diinginkan hanya suara teriakan Sehun segera berhenti karena bayinya, bayi mereka merespon dengan cara yang berbeda.
"rrhh…"
"LUHAN! LIHAT AKU! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI? DIMANA WAJAHMU SETELAH HAL BURUK YANG KAU LAKUKAN PADAKU? MENJIJIKAN!"
Luhan meringis kecil, tak ada yang menyadari sampai suara ayah Sehun mengusai keadaan dengan berteriak "OH SEHUN!"
Sehun terdiam, wajahnya menunjukkan bahwa dia benar-benar kecewa dan terluka, dia juga harus mencermati setiap teriakan yang dikeluarkan ayahnya hanya untuk menyadari satu hal bahwa saat ini, ayahnya sedang membela pria yang menyakitinya tepat di hari bahagia mereka, pria yang berlari pergi meninggalkannya seorang diri tepat di hari pernikahannya, yang menghianatinya
"aboji."
"Ke ruanganku—SEKARANG!"
.
.
.
.
.
BLAM!
Luar biasa kesal, Sehun sengaja membanting ruang kerja ayahnya, beberapa kali mengusap kasar wajahnya sementara ayahnya terlihat begitu tenang seolah tak terjadi apapun saat ini
"Jelaskan padaku, se-ka-rang!"
"Tenang lebih dulu atau kau tidak akan pernah mendapatkan pen-jela-san"
"APPA!"
"Tenang."
Seberapa keras Sehun, seberapa parah emosinya, dia akan selalu mengalah pada satu-satunya keluarga yang dia miliki, lagipula cintanya terlalu besar untuk sang ayah jadi rasanya mustahil jika Sehun terus membentaknya tanpa memikirkan hal buruk apa yang bisa terjadi dalam waktu dekat.
"ARGGHH!"
Setelah berteriak, satu-satunya putra di keluarga Oh itu mulai mengambil kursi di sofa kerja ayahnya, duduk gelisah sementara matanya cemas menatap ke segala arah untuk menenangkan diri, beberapa kali dia membuang kasar nafasnya untuk memberi pernyataan "Aku sudah tenang."
"Benarkah?"
"aboji, kumohon cukup."
"Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan?"
"tsk! Kau masih bertanya padaku?"
"Tuan muda, jaga bicara anda."
Sesaat mata Sehun dan mata paman Lee bertemu, Sehun menatapnya sengit karena bukan hanya ayahnya, tapi paman Lee juga melakukan hal yang sama dengan membantu Luhan masuk kedalam rumahnya, seperti dulu.
"RRHHHH!"
Dan jika Sehun tidak memandang ayah dan pamannya, mungkin dia dan kemarahannya sudah tidak terkendali sejak sepuluh menit yang lalu. Tapi Sehun masih menghormati dua orang yang selalu bersamanya disaat sulit, membuatnya hanya bisa berakhir menggeram sementara ayahnya sama sekali bungkam tak memberikan penjelasan.
"Katakan sesuatu padaku!"
"Baiklah, sebelum ayah mengatakan sesuatu padamu, boleh ayah bertanya?"
"Apa?"
"Jika hatimu terus dipenuhi rasa marah dan benci, jika kau terus menjauhi Luhan, kapan kau akan memberitahuku tentang kehamilan Luhan? Tentang kehadiran calon cucuku? Kapan?"
"aboji."
Seluruh wajah Sehun menjelaskan semua rasa terkejutnya, dia bertanya-tanya darimana sang ayah tahu tentang kehamilan Luhan sampai senyum liciknya kembali terlihat, Sehun kini menatap marah ke arah pintu menebak Luhan pastilah mengemis dan mengatakan semua tentang kehamilannya agar bisa kembali diakui oleh ayahnya.
"Dia licik sekali, sungguh."
"Siapa yang kau bicarakan?"
"LUHAN! Dia pasti datang mengemis padamu! Menceritakan tentang kehamilannya agar bisa merawat bayinya di rumah mewah kita! Dia pasti-…."
PLAK!
Sehun terdiam saat tangan panas ayahnya mendarat sempurna di wajahnya yang pucat, warna mera karena tamparan sang ayah bahkan sangat terlihat karena rasanya begitu sakit, baik wajah maupun hatinya.
"aboji, kau-…"
Wajah Sehun dipenuhi rasa kecewa sementara raut menyesal sangat terlihat di warna muka ayahnya, keduanya masih bertatapan cukup lama sampai Tuan Oh mengatakan hal yang seharusnya dia katakan pada Sehun tiga bulan yang lalu.
"Ayah tidak pernah mengajarkan untuk menghina seseorang, ayah tidak pernah mengajarkan untuk menyakiti seseorang yang kau cintai! jadi berhenti….Berhenti mengatakan hal buruk tentang pria yang sedang mengandung calon bayimu, Luhan sama menderitanya denganmu nak!"
"terserah!"
Sehun berdiri dari sofa, berjalan gontai meninggalkan sofa sementara Tuan Oh panik melihat kemarahan di wajah putranya.
"Sehun?"
"….."
"SEHUN! MAU PERGI KEMANA KAU?"
Langkah Sehun terhenti, sekali lagi dia menatap ayahnya, memaksa sang pemilik rumah memilih darah dagingnya atau pria asing yang kini menetap bersama mereka "Jika dia tinggal disini, aku pergi. Ini, Ini menyakitiku, kehadirannya menyiksaku, hatiku sakit aboji."
"Nak."
Kecemasan terlihat di wajah Tuan Oh, dia tidak pernah melihat wajah terluka Sehun sebelumnya, setidaknya sampai tiga bulan yang lalu, ini adalah kedua kalinya dia melihat wajah Sehunnya begitu menderita, putranya bahkan terlihat berkali-kali lebih menderita daripada tiga bulan lalu, hari dimana pernikahannya digantikan dengan duka karena keputusan Luhan untuk pergi saat itu.
"Jadi aku atau dia?"
"Sehun."
"Jika Luhan disini aku akan pergi secepat mungkin."
"Luhan akan pergi setelah bayimu lahir nak, kami sudah memiliki perjanjian tentang-…."
"AKU JUGA MEMILIKI PERJANJIAN DENGANNYA! AKU TIDAK MELARIKAN DIRI DARI TANGGUNG JAWABKU SEBAGAI SEORANG AYAH! AKU HANYA LELAH MERASA SAKIT SAAT MELIHATNYA! HANYA ITU ABOJI! JADI KATAKAN SIAPA YANG KAU PILIH? AKU ATAU PRIA ASING ITU?!"
Suasana kembali menjadi begitu tegang saat ini, tak ada satupun yang bersuara lagi saat Sehun mengungkapkan rasa sakit hatinya yang terdalam, semua diam, bahkan diluar sana, Luhan bisa mendengar betapa keji dirinya karena membuat Sehun begitu menderita, harusnya dia tidak pernah mengambil Sehun dari Baekhyun, harusnya dia tidak pernah menjadi penghianat diantara Sehun dan Baekhyun jika akhirnya seperti ini, Sehun begitu terluka.
"m-maaf,maafSehunna…mmmh…"
Luhan menggigit kuat lengannya, mencegah satu suara pun keluar dari bibirnya hanya untuk berdoa di sela tangisannya. Berdoa agar ayah Sehun mengatakan "Tentu saja ayah memilihmu nak." Agar hubungan ayah dan anak itu tidak hancur hanya karena pria asing seperti dirinya.
"Kumohon pilih Sehun Presdir Oh, KU-rrhh-MOHON!"
"Maaf, tapi ayah tetap memilih Luhan."
"tidaktidak…janganaku,,hksss…"
Luhan terduduk lemas di depan pintu, tangannya membekap kuat bibirnya sementara rasa sakit di hati Sehun kini juga menyakitinya, Luhan terisak diluar ruang kerja Tuan Oh, sementara perdebatan sengit Sehun dan ayahnya masih terus berlanjut, terdengar saling menyakiti mengingat keduanya memiliki emosi yang sama.
"Kenapa? Kenapa ayah memilih orang asing?"
Luhan bisa mendengar nada putus asa Sehun yang dibalas tanpa ragu oleh ayahnya "Luhan bukan orang asing, dan ayah-…Ayah tidak akan membiarkan cucu ayah merasa dibuang oleh kakek dan ayahnya!"
"Tapi aku juga memiliki perjanjian dengannya. Aku juga akan merawat bayiku!"
"Bagaimana caranya? Dengan mengunjunginya setiap bulan? Lalu bagaimana jika hari ini atau malam ini atau detik ini juga Luhan kesakitan? Bagaimana jika dia dan bayinya membutuhkan sesuatu? Siapa yang akan memenuhinya? Siapa yang akan merawatnya?! Siapa yang akan-…."
"CUKUP! Oke?, Ayah kumohon, cukup!"
Sehun menampik tegas lalu memasang wajah dinginnya untuk mengatakan hal yang telah menjadi keputusannya "Baiklah. Jika kau memilih orang asing itu, aku angkat kaki dari rumah ini."
"Sehun."
"Jaga diri ayah, selamat pagi."
Sehun melangkah penuh kepastian, tekadnya bulat untuk tidak bertemu dengan Luhan apapun alasannya, hingga saat ini lubang hitam di hatinya semakin besar seiring berlalunya hari sejak tiga bulan lalu. Jadi rasanya dia tidak akan bertahan lebih lama jika harus melihat Luhan di setiap sudut rumah yang memberikan kenangan bersama kedua orang tuanya, ibunya.
"PERGILAH! PERGI DAN JANGAN PERNAH KEMBALI!"
Sehun mengabaikan teriakan ayahnya, hatinya sudah cukup sakit pagi ini, belum lagi masalah di agensi, dia hanya tidak ingin membuat dirinya menggila karena masalah yang tak memiliki akhir di hidupnya.
"JIKA KAU PERGI AKU TIDAK AKAN MENJALANI PENGOBATAN ATAU TERAPI ATAU OBAT SIALAN YANG BEGITU AKU BENCI! JADI HANYA PERGI DAN TUNGGU KABAR KEMATIANKU OH SEHUN!"
Tap!
Jadi jangankan untuk menanggapi teriakan ayahnya, Sehun bahkan tidak berniat menoleh sedikitpun sampai teriakan berikutnya terdengar sangat mengerikan di telinganya. Dia dibuat semakin marah tatkala ayahnya mengancam dengan kematian.
Tangannya terkepal, bahunya terlihat sangat lelah karena masalah yang datang tanpa henti, lalu saat ayahnya mengancam tidak akan menjalani pengobatan jika dia angkat kaki dari rumah, nafas Sehun tersengal hebat.
"rrhh—AAAARGGHHH!"
BLAM!
Yang bisa dia lakukan hanya berteriak marah tanpa memberi jawaban pergi atau tidak, Sehun kemudian berjalan ke depan pintu, membantingnya kasar untuk menemukan Luhan sedang menatapnya, terlihat sangat memohon
"Se—Sehun, maaf. Aku-….akuakanpergi."
Jika tidak menyadari perut Luhan yang terlihat membuncit, mungkin Sehun akan menarik kasar tangan Luhan, menyeretnya keluar dari rumah dan hanya hidup bahagia dengan ayahnya, seperti biasa.
Namun sial, beberapa kali Luhan terlihat kesakitan, bisa dilihat dari caranya memegang pinggul dan mengusap perut seolah sedang menenangkan bayi mereka yang sedang ketakutan di dalam sana.
Baiklah, Sehun kalah.
Dia tidak akan bisa mengusir Luhan, tidak pula bisa angkat kaki dari rumah. Jadi satu-satunya cara yang bisa dia lakukan hanya memberi peringatan pada pria yang hingga saat ini masih mengacaukan hatinya, masih memenuhi pikirannya.
"Se-Sehun—rrhh!"
Luhan meringis tatkala tangan kasar Sehun mencengkram kuat lengannya, ayah dari calon bayinya itu juga meniadakan jarak diantara mereka untuk mendesis penuh kebencian disertai raut lelah dan terluka yang sangat terlihat di wajahnya.
"Pastikan aku tidak melihat wajahmu saat berada di rumah, pastikan-…PASTIKAN KAU LENYAP DARI PANDANGANKU SAAT AKU BERADA DIRUMAH! KAU DENGAR?"
.
.
.
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
Seeyou soon!
.
