Previous

"Se-Sehun—rrhh!"

Luhan meringis tatkala tangan kasar Sehun mencengkram kuat lengannya, ayah dari calon bayinya itu juga meniadakan jarak diantara mereka untuk mendesis penuh kebencian disertai raut lelah dan terluka yang sangat terlihat di wajahnya.

"Pastikan aku tidak melihat wajahmu saat berada di rumah, pastikan-…PASTIKAN KAU LENYAP DARI PANDANGANKU SAAT AKU BERADA DIRUMAH! KAU DENGAR?"

.

.

.

.

.

.

.

.

A' Friends Betrayal

Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo

Genre : Drama

Rate : M / NC!/

.

.

Dan tak terasa dua bulan berikutnya sudah berhasil dilewati Luhan dengan segala syarat dan perjanjian yang dibuatnya bersama Sehun. Luhan tidak pernah menunjukkan wajahnya disaat Sehun berada di rumah. Ya, terlebih saat akhir pekan, yang dilakukan Luhan hanya berdiam seharian di kamar seorang diri, terkadang hanya tidur, terkadang meminta izin pergi menjenguk ibunya di rumah sakit atau hanya menonton televisi sampai matanya berubah seperti zombie.

Tapi berbeda dari akhir pekan sebelumnya, pagi ini Luhan dibuat sedikit cemas karena panggilan dari Kyungsoo, dan apapun yang dia katakan tentang cepatlah datang ke rumah sakit, pastilah sesuatu yang buruk telah terjadi pada ibunya.

Lagipula nada suara Kyungsoo terlalu serak hanya untuk mengabarkan kondisi ibunya, membuat Luhan sedikit terburu-buru dan bergegas pergi mengenakan mantel panjang selutut yang bisa digunakan untuk menutupi perutnya yang terlihat membuncit.

"Luhan?"

Salahnya adalah dia terlalu terburu-buru, jadi dia tidak sempat berpamitan pada paman Lee atau ayah Sehun, lagipula dia terlalu takut bertemu dengan Sehun mengingat hari ini adalah hari minggu, kemungkinan terbesarnya Sehun berada di taman dan sedang bermain dengan Vivi, anjing kesayangannya, seharian penuh.

"ah, Paman?"

"Ada apa? Kau terlihat cemas? Ada sesuatu yang terjadi?"

"tidak, aku baik-baik saja paman. Aku hanya ingin pergi ke rumah sakit."

"Rumah sakit? Apa kau sakit? Atau…."

"Aku dan bayiku baik-baik saja paman, ibuku."

"Ibumu?"

"mmmhh..Adikku bilang sesuatu terjadi, aku hanya ingin memastikan sendiri. Kalau begitu aku pergi dulu, sampaikan pada Presdir Oh-…."

"Ada apa?"

Belum selesai menjelaskan pada paman Lee, kini Presdir Oh terlihat keluar dari ruang kerjanya. Dan sama seperti eskpresi paman Lee, wajah cemas juga sangat terlihat di wajah ayah mantan kekasihnya.

"Aboji."

Luhan membungkuk, menyapa ayah Sehun untuk tersenyum seraya mengatakan "Anda datang?"

"Kau ingin pergi ke suatu tempat?"

"Ke rumah sakit."

Belum sempat Luhan menjawab, paman Lee lebih dulu bersuara, membuat raut cemas terlihat dari ayah Sehun sampai Luhan menggeleng menyatakan bahwa dia baik-baik saja "Bukan aku atau bayiku, tapi…."

"Ibunya."

Luhan mendengus kesal seraya tertawa kecil, rasanya jika seperti ini terus dia seperti memiliki juru bicara dan tidak perlu repot-repot menjelaskan ketika Paman Lee terus mengatakan yang ingin dikatakan.

"Paman." Katanya menegur dibalas dengan dua pundak paman Lee yang terangkat sebagai jawabannya "Kau tahu kan? Tugasku memastikan semua tentangmu baik-baik saja."

"Iya, tapi ini berlebihan."

Paman Lee kemudian mendekati Luhan, membungkukan badannya untuk berbisik "Salahkan dia, jangan aku."

Dan rasanya Luhan selalu kehabisan kata-kata jika sudah seperti ini, dia kalah, dan akan selalu seperti itu selama otoritas Presider Oh masih begitu berkuasa di rumahnya "Baiklah."

"Kalau begitu pergilah bersama Lee."

"Tidak perlu aboji. Aku bisa sendiri."

"Maaf, tapi Lee akan tetap ikut denganmu." Katanya tegas pada Luhan untuk beralih pada satu-satunya pengurus yang bertahan di kediamannya "Pastikan dia baik-baik saja atau…."

"atau aku akan mendapatkan potongan gaji sepuluh bulan! Baiklah, mengerti!"

"Bagus! Sekarang kau boleh pergi."

"Paman…."

Luhan menatap tak enak hati sampai tangan hangat paman Lee melingkar di pundaknya "Kau tenang saja, aku lebih menyukai bersamamu daripada bersama dengan dua arogan paling menyebalkan di rumah ini, gomawo Luhan-ah."

Dan tak perlu ditanya siapa dua arogan yang dimaksud Paman Lee, karena pasti jawabannya adalah Sehun dan ayahnya, jadi ketika paman Lee sudah mengatakan terlalu jelas maka Luhan hanya bisa tertawa seraya membungkuk berpamitan pada ayah Sehun "Aku pergi dulu aboji."

"Sampai nanti Luhan, cepat kembali!"

Tak memiliki pilihan lain, Luhan hanya tersenyum kecil seraya membungkuk sebagai tanda perpisahan "Aku akan segera kembali." Ujarnya terlihat pucat dan tak menyadari jika ada dua pasang mata yang diam-diam memperhatikan.

Si pemilik mata elang kini tak berkedip memperhatikan saat mangsanya keluar dari rumah. Karena jujur saja, selama satu bulan ini tidak pernah sekalipun dia melihat Luhan berkeliaran di rumahnya.

Mantan kekasih dan calon ibu dari anaknya itu cenderung mengurung diri di kamar atau berlari saat mereka berpapasan di sekitar rumah. Jadi rasanya Sehun –si pemilik rumah- hampir tidak menyadari jika Luhan juga menetap di atap yang sama dengannya jika hari ini dia tidak keluar dari kamarnya.

"Jika ingin tahu baiknya kau bertanya."

"huh?"

Si putra tunggal sekaligus tuan muda di keluarga Oh itu tampak terkejut. Dan sialnya, sang ayah memergoki telak dirinya yang tengah memperhatikan kepergian Luhan "Apa yang ayah bicarakan?"

"Luhan."

Sehun salah tingkah, makanan Vivi –anjing kecilnya- tak sengaja terjatuh lalu dia berteriak "BODOH!" serta membentak Vivi tanpa alasan. Si anjing kecil terlihat kesal untuk tanpa ragu menggigit jari telunjuk majikannya.

Guk~

"rrrhh~ Anjing bodoh!"

"Kau yang bodoh!"

"Aboji jangan mulai."

Sehun mulai menuju wastafel terdekat di halaman belakang, mencuci jari telunjuk yang baru saja digigit Vivi untuk menghapusnya cepat lalu mengambil segelas air mineral dari lemari es

Haah~

"Luhan ke rumah sakit."

Sehun hampir tersedak minumannya, ingin dia bertanya apa yang terjadi, tapi lagi-lagi gengsinya bermain hingga hanya diam dan terlihat dingin yang dia tunjukkan "Lalu."

"Hanya memberitahu."

Oh sial!

Pikirnya sang ayah akan melanjutkan ceritanya mengenai alasan Luhan pergi ke rumah sakit , tapi yang terjadi pria tua menyebalkan yang sialnya adalah ayahnya yang tercinta justru terlihat pergi meninggalkannya begitu saja hingga terpaksa Sehun mengumpat sebelum tanpa sadar bertanya "Apa yang terjadi?"

Sang ayah diam-diam tersenyum licik, dia berpura-pura tidak mengerti lalu menoleh dan memasang wajah innocent hanya untuk menggoda satu-satunya putra menyebalkan yang dia miliki dalam hidupnya "Apa?"

"ayolah Aboji! Kau tahu apa yang kumaksud!"

"Tidak tahu, memangnya apa?"

"Lupakan."

"Baiklah, jangan lupa besok kau dan Luhan harus pergi menemui dokter, sudah waktunya melakukan cek rutin pada pertumbuhan bayi kalian."

"Ya, sudah berapa kali kubilang aku tidak lari dari tanggung jawabku sebagai seorang ayah."

"Baguslah, ayah pergi."

Ingin rasanya Sehun berteriak pada sang ayah, tapi kemudian dia harus banyak bersabar menghadapi pria tua yang gemar menggoda kesabarannya lalu dengan berat hati terpaksa bertanya "Luhan!"

"Luhan?"

"YA LUHAN! Kenapa dia pergi kerumah sakit? Apa dia sakit?"

"aigoo, Putraku peduli pada mantan kekasihnya?"

"tsk! Kau benar-benar menjengkelkan pria tua!"

"Apa kau bilang?"

Sehun benar-benar kesal, awalnya dia ingin peduli, tapi jika ayahnya terus berbicara omong kosong itu artinya Luhan baik-baik saja dan dia menyesal harus bertanya pada pria tua yang sialnya begitu dia cintai di hidupnya.

"Lupakan! Aku ingin kembali ke kamar!" katanya meletakkan asal gelas yang baru dia gunakan untuk berjalan pergi meninggalkan ayahnya. Langkahnya lurus menuju kamar sampai mau tak mau dia berhenti saat ayahnya mengatakan "Ibunya."

"Apa?"

Tuan Oh tersenyum sendu, didekatinya sang putra tunggal untuk mengatakan langsung dan menatap dua mata tajam milik Sehun yang terkadang membuatnya rindu pada mendiang sang istri "Luhan pergi ke rumah sakit karena ibunya."

"Ibunya? Apa yang terjadi?"

"Sepertinya sesuatu terjadi."

"Apa?"

"entahlah nak. Ayah hanya tahu jika sudah tiga bulan ini ibu Luhan bertahan hidup dengan alat bantu. Luhan tidak pernah menceritakan secara detail, dia hanya mengatakan kondisi ibunya bukan bagian dari perjanjian kita, jadi kita tidak perlu cemas selama dirinya dan calon anakmu dalam keadaan sehat."

"Dia mengatakan itu?"

"Ya, Luhan selalu membatasi hubungan kita demi menghormatimu."

"omong kosong!"

"Mungkin untukmu omong kosong, tapi untuk Luhan? Keberadaannya dirumah ini hanya sebatas karena dia mengandung calon cucuku, calon anakmu. Setelahnya, dia memutuskan untuk menjadi orang asing lagi di keluarga kita."

Sehun diam, ucapan terakhir sang ayah cukup memancing kemarahan baru di hatinya. Sudah berapa kali dia mengatakan pada Luhan untuk menghilangkan jarak seperti orang asing jika sudah berkaitan dengan calon anak mereka. Tapi apa yang terus dilakukan Luhan? Rasanya dia benar-benar akan melepas tanggung jawabnya sebagai ibu dan hanya pergi meninggalkan malaikat kecil mereka saat darah dagingnya lahir ke dunia.

"Dia begitu keras kepala."

"Dan hatimu begitu keras nak."

Sehun tersinggung, tatapannya tajam pada sang ayah untuk bertanya "Aku lagi yang disalahkan?"

"Tidak, ayah tidak pernah menyalahkan putra ayah. Ayah hanya ingin mengatakan hanya kau yang bisa merubah sikap dan keputusan Luhan, hanya kau nak."

"Apa maksud ayah?"

Dengan singkat, Tuan Oh menjawab "Kau tahu maksud ayah." Setelahnya dia pergi meninggalkan Sehun seorang diri, membiarkan putranya berfikir dengan hati yang tidak dipenuhi kemarahan dan pikiran yang tidak mengulang kenangan buruk.

Diam-diam pria paruh baya yang sebentar lagi akan menjadi seorang kakek itu menatap lembut pada putranya, berharap setidaknya Sehun membuat keputusan tepat untuknya, untuk Luhan, untuk malaikat kecil mereka.

"Ayah tahu apa yang kau inginkan nak."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Luhan! Jalanmu terlalu cepat!"

Entah sudah berapa kali Paman Lee memperingatkannya, Luhan tidak mengindahkan, hatinya sedang dipenuhi rasa takut karena Kyungsoo terus menangis dan menghubunginya. Dan jujur, keadaannya juga sedang tidak baik karena sakit di kepalanya mulai terasa begitu sering beberapa hari ini.

"Luhan!"

Luhan menoleh, dia tersenyum sekilas lalu mengangguk "Aku baik-baik saja paman."

Dia mengatakan panik tapi wajahnya begitu pucat, entah karena dia cemas atau karena kondisinya memang sedang tidak baik, paman Lee tidak mengerti. Dia hanya terus mengikuti Luhan, memastikan tidak ada yang terjadi pada satu-satunya pria yang akan membawa kebahagiaan di keluarga Oh bersama bayi kecilnya.

Ting!

Mereka masuk kedalam lift, Luhan segera menekan lantai dua puluh tiga sementara keheningan terjadi di antara mereka. Luhan tidak banyak berbicara, yang dia lakukan hanya menggigit bibir sesekali mengepalkan erat tangannya, berkeringat.

"Luhan? Kau baik-baik saja?"

"hmm.."

Luhan bergumam kecil dan tak lama pintu lift terbuka. Keduanya bergegas keluar dari lift sampai Luhan melihat Kyungsoo sedang berdiri di depan ruangan ibu mereka, berjongkok, terlihat sangat ketakutan.

"Soo?"

Yang memiliki mata bulat sempurna itu menoleh, wajahnya sudah membengkak karena terlalu lama menangis sementara suaminya, mantan kekasih Luhan, terlihat setia memeluk istrinya yang masih terisak entah karena apa.

"Ada apa?"

Kini matanya menatap Kai, mencoba mencari tahu karena yang dilakukan Kyungsoo hanya menangis tanpa mau melihatnya.

"Lu."

"sial! ADA APA?"

Kedua orang tua Taeoh tak ada yang menjawab, jujur hal itu membuat emosi Luhan tersulut, dia kemudian memilih untuk berjalan masuk ke dalam ruangan ibunya untuk menemukan Jaehyun yang sedang berlutut seraya menangis terisak memegang tangan ibunya.

"Jaehyunna."

Jaehyun menoleh, matanya melihat sendu mata Luhan untuk menyatukan dua tangannya, seolah memohon

"h-Hyung…"

"Ada apa?"

"Jangan lepas alat bantu ibu, kumohon."

"Ada apa sebenarnya?"

"jangan….JANGAN LEPAS ALAT BANTU IBU UNTUK TETAP BERTAHAN HIDUP! JANGAN HYUNG!"

Luhan kalut, tak satupun dari saudaranya bisa menjawab, beruntung ada dokter ibunya yang sedang berkunjung untuk setidaknya memberitahu apa yang terjadi pada ibunya.

"Dokter Han?"

Pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan name tag Han Jaebum itu sedari tadi memang menatap Luhan, tapi sekiranya dia tidak bisa memberikan satu kata apapun mengingat kondisi dua keluarga sudah jauh dari baik dan dipenuhi emosi.

Barulah saat Luhan mencoba tenang sang dokter merespon. Mencoba untuk memberitahu Luhan mengingat semua prosedur pengobatan dan penanganan Nyonya Xi adalah tanggung jawab dari putra sulungnya, Luhan.

"Maaf mengatakan hal ini Tuan Xi. Tapi akan lebih bijaksana jika anda menyetujui surat pencabutan alat bantu dari tubuh ibu anda."

"ANDWAE!"

Jaehyun berteriak sementara lutut kaki Luhan dibuat lemas dengan ucapan sang dokter, dan jika bukan karena paman Lee sigap menopang tubuhnya mungkin Luhan sudah terjatuh dan menyakiti drinya sendiri "m-Mwo? Apa maksud anda dokter Han?"

"Sebaiknya anda ikut ke ruangan saya. Saya akan menjelaskan segalanya disana."

Tak lama dokter Han dan sang perawat meninggalkan ruang ibu Luhan, membuat si putra sulung merasa sangat kesulitan mengingat posisinya seperti tersudut. Di satu sisi dia bisa melihat dengan jelas raut kesakitan ibunya karena dipaksa bertahan dengan seluruh alat bantu menyakitkan yang dipasang di tubuhnya, tapi di sisi lain, Luhan tahu kepribadian Jaehyun akan sangat berbeda jika dia menyetujui surat pencabutan alat bantu yang sudah disarankan dokter satu bulan yang lalu.

Matanya terus memandang bergantian antara Jaehyun dan ibunya, dia tak mengerti harus melakukan apa sampai suara Paman Lee terdengar "Sebaiknya kita berbicara dengan dokter Lu." bisiknya lembut dibalas anggukan pasrah oleh Luhan "Paman."

"hmmh?"

"Temani aku, aku takut."

Paman Lee memegang pundak Luhan yang bergetar, dan secara ajaib ketakutan Luhan dibawa pergi karena tangan hangat paman Lee yang memegang pundaknya. Diam-diam dia mengagumi sosok paman Lee yang belum lama dia ketahui hingga detik ini paman Lee tidak pernah menikah, tidak pula pernah memiliki anak, tapi nalurinya sebagai seorang ayah sangat bekerja mengingat seumur hidupnya dia sudah membesarkan Sehun seperti darah dagingnya sendiri.

"Pasti, aku akan menemanimu."

"hyung jebal…"

Jaehyun masih memohon, kali ini Luhan tidak menatap mata sendu adiknya dan hanya mengikuti kemana paman Lee membawanya pergi "Tenangkan dirimu Lu."

Di luar ruangan Luhan kembali berpapasan dengan Kai dan Kyungsoo, tak ada yang berbicara dan menyapa saat mata mereka bertemu. Karena sama seperti dia menatap Jaehyun, Luhan benar-benar tidak siap untuk membuat keputusan mendadak seperti pagi ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sekitar dua puluh menit percakapan pelik yang dia lakukan dengan dokter Han akhirnya berakhir. Dan pagi ini, Luhan kembali memenangkan situasi walau rasanya ini adalah "kemurahan hati" terakhir yang bisa diberikan rumah sakit kepada ibunya.

Biarkan ibu saya bertahan dokter Han

Tapi anda tahu kondisinya kritis dan sangat memprihatinkan, kita hanya menyiksa pasien dengan alat bantu yang terpasang.

Anda bilang ibu saya masih memiliki peluang untuk hidup

Ya, tapi jika ibu anda tidak ingin bertahan, rasanya itu sulit

Apa maksud anda?

Respon kerja dari tubuh dan sistem motorik ibu anda berlawanan, beberapa kali nyonya Xi membuka mata hanya untuk mengatakan beliau kesakitan, setelahnya dia membiarkan dirinya tertidur karena tidak tahan dengan rasa sakit yang selalu dirasakan pasien setiap kali pasien membuka mata.

Tidak mungkin ibuku seperti itu

Kenyataannya seperti itu Tuan Xi, ibu anda tidak ingin bertahan dengan sakit yang dideritanya selama enam tahun ini, saran saya relakan ibu anda, biarkan ibu anda beristirahat.

Tap!

Tiba-tiba Luhan berhenti melangkah, kakinya kram, bibirnya kelu dan hatinya pedih mendapati kenyataan bahwa sejauh dirinya, Jaehyun dan Kyungsoo bertahan selama empat bulan ini ternyata berbanding terbalik dengan keinginan ibunya yang memohon untuk direlakan.

"Luhan? Kau baik-baik saja?"

Untuk paman Lee, rasanya dia mengalami dejavu saat menemani Luhan berbicara dengan dokter beberapa saat yang lalu. Karena hari ini, tepat dua puluh tahun yang lalu, Tuan Oh juga pernah membuat keputusan besar yang disesalinya hingga saat ini.

Keputusan dimana dia harus merelakan Nyonya Oh, istrinya, karena ibu kandung Sehun tak tahan dengan penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya saat itu.

Paman Lee bisa merasakan sakit yang sama yang dirasakan Luhan dengan Tuannya hari itu, keduanya sangat terpukul terlebih saat sang dokter mengatakan tak lagi ada harapan bahkan hanya sekedar untuk membuka mata.

Tapi kemudian dia menyadari bahwa daripada Tuannya, Luhan terlihat lebih tegar dengan meminta setidaknya tambahan waktu agar kebersamaan adik bungsunya dan sang ibu tidak berakhir hari ini

Setidaknya berikan kami tambahan waktu, berikan kami waktu agar bisa bersama dengan ibu kami untuk terakhir kali.

Semua ini hanya akan memperburuk kondisi Nyonya Xi,

Aku akan mengambil resikonya, hanya jangan lepas alat bantu ibuku hari ini, adikku akan sangat terluka jika pihak rumah sakit melakukannya, kumohon.

Tatkala wajah pucat Luhan dipenuhi air mata, paman Lee bisa merasakan kesedihannya dalam membuat keputusan, terlebih saat sang dokter mengatakan mengingat tak ada respon yang diberikan ibu anda, kemungkinannya untuk bertahan hidup kurang dari satu minggu, apa anda siap?

Dengan berat hati paman Lee sedikit tidak tega saat mendengar Luhan mengatakan Aku siap, aku tahu ini semua yang terbaik untuk ibuku.

Baiklah, kami hanya akan memantau terus kondisi ibu anda, berdoalah agar keajaiban terjadi untuk ibumu.

"Paman."

"Ya?"

Luhan tersenyum pedih untuk melepas pegangan tangan Paman Lee di pundaknya lalu mengatakan "Aku tidak percaya keajaiban." Dengan nada yang begitu terluka untuk kembali melangkah memasuki ruangan yang begitu menyiksa untuknya saat ini.

"hyung / Luhan?"

Baik Kyungsoo maupun Jaehyun bergegas menghampiri Luhan saat kakak tertua mereka masuk ke dalam ruangan, terlihat bahwa keduanya sangat cemas hingga Luhan tak sampai hati memberitahukan apa yang dikatakan dokter padanya. Dan sebagai kakak tertua dari kedua adiknya, Luhan sudah memutuskan untuk berbohong dengan menyembunyikan kenyataan pahit yang diberitahukan dokter padanya.

"Kalian tenang saja, ibu akan terus bertahan, sampai nanti saatnya tiba."

"HYUNG!"

Buru-buru Jaehyun memeluk Luhan menyampaikan rasa terimakasihnya dengan Kyungsoo yang tersenyum lega. Jujur, Kyungsoo mengira semua sudah baik-baik saja, tapi saat Luhan terlihat sangat kesakitan maka disaat yang sama Kyungsoo menebak bahwa terjadi sesuatu yang buruk mengenai kondisi ibunya.

"Ada apa?" Kyungsoo bertanya, berbisik. Dibalas Luhan dengan isakan tanpa suara mengingat Jaehyun sedang memeluknya erat saat ini "Ibu baik-baik saja?" Kyungsoo bertanya lagi, berharap Luhan mengangguk namun nyatanya Luhan menggeleng seraya terisak pilu "Mianhae. Ibu tidak akan bertahan." Katanya berbisik dibalas reaksi Kyungsoo yang kini membekap erat mulutnya.

"Soo!"

Kai yang melihat istrinya nyaris terjatuh segera bergegas menopang tubuh si mungil, mendekapnya erat dan membiarkan Kyungsoo terisak dalam diam di pelukannya sementara Luhan juga terisak tanpa suara dan terlihat begitu terpukul dengan seluruh beban yang dipikulnya seorang diri "Luhan…Kau akan baik-baik saja, aku janji."

.

.

.

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, itu artinya sudah delapan jam Luhan dan Paman Lee pergi meninggalkan kediaman Oh untuk berada di rumah sakit. Tak ada satupun dari Luhan maupun paman Lee yang memberikan kabar, jadi wajar jika sang pemilik rumah yang tahun ini akan berusia enam puluh terlihat cemas, sama sekali tak menyentuh makan siangnya dan hanya berharap sesuatu yang buruk tidak terjadi pada Luhan dan calon cucunya.

"Kau masih belum menyentuh makananmu?"

Suara berat satu-satunya putra yang dia miliki terdengar menyindir, sang tuan besar pun menoleh untuk mengatakan dengan tegas "Setidaknya aku sudah meminum obatku."

"Lalu kapan ayah akan makan?"

"Nanti jika ibu dari calon cucuku sudah berada di rumah."

"Bagaimana kalau dia tidak berniat kembali? Bagaimana jika dia hanya mencari alasan agar bisa keluar rumah?"

"Oh Sehun kau benar-benar-….."

Klik!

Terdengar suara pintu utama di kediaman Oh terbuka, sang tuan besar berharap cemas sampai suara asisten setianya terdengar sampai ke ruang kerjanya "Kami pulang."

"akhirnya!"

Dengan menggunakan tongkatnya, Tuan Oh bersusah payah berjalan keluar ruang kerja, tak sabar untuk melihat Luhan sementara Sehun hanya mengekori malas sang ayah dan berniat untuk segera masuk ke dalam kamarnya.

"Luhan."

Sayangnya tebakan Luhan akan baik-baik saja, melesat jauh dari bayangan Tuan Oh, karena daripada terlihat baik, calon ibu dari cucunya itu terlihat sangat pucat, matanya sembab dan yang paling membuatnya khawatir adalah kenyataan bahwa Luhan menunjukkan tatapan yang begitu lelah namun tetap dia tutupi dengan senyum yang begitu dia paksakan.

"Selamat malam aboji…..Sehun."

Suaranya samar saat menyapa Sehun, lagipula dia tidak berani membuat kontak mata dengan calon ayah dari anaknya dan lebih memilih untuk menunduk, berjaga agar air matanya tidak jatuh membasahi.

"Kau baik-baik saja?"

Luhan menggangguk asal, pikirannya tidak fokus dan dia kelelahan. Jadi setelah dia mengangguk sebagai jawaban, segera dia memohon izin agar bisa langsung beristirahat "Aku hanya sedikit lelah, bisakah aku kembali ke kamarku saat ini?"

"y-Ya tentu saja Luhan, kau bisa beristirahat. Lee antar Luhan ke kamar-…."

"Aku bisa sendiri aboji." Katanya menolak untuk menatap sejenak paman Lee yang setia menemaninya hari ini "Gomawo paman, Kau juga harus segera beristirahat." Katanya membungkuk untuk berjalan gontai menuju kamarnya.

Dia sempat berpapasan dengan Sehun, namun alih-alih menatap dirinya, Sehun juga membuang wajahnya, keduanya hanya menikmati perasaan asing di hati mereka sampai mau tak mau Sehun memperhatikan Luhan yang kesulitan menaiki tangga menuju kamarnya.

Ya, Sejak hari dimana dia tahu Luhan menetap di rumahnya, Sehun sengaja meminta Luhan untuk pindah ke kamar atas, bukan disamping kamarnya. Tujuannya hanya satu, dia tidak ingin terluka dan satu-satunya cara hanyalah membuat Luhan "tidak terlihat" selama mantan kekasihnya menetap di rumah sang ayah, bersamanya.

"Lee ada apa?"

Sehun bisa mendengar ayahnya bertanya, tapi daripada menjawab paman Lee juga terlihat sendu menatap Luhan, dia hanya terus memperhatikan Luhan yang menaiki tangga berpegangan erat dengan kayu pinggiran tangga agar tidak terjatuh. Selebihnya dia menitikkan air mata untuk mengatakan "Ibunya sekarat tuan besar."

Sehun tertohok, raut pucat di wajahnya seketika terlihat bersamaan dengan ucapan paman Lee. Refleks, matanya menatap sang paman lalu menyadari bahwa apapun yang telah keduanya alami di rumah sakit, pastilah itu sesuatu yang sangat menyakitkan dan begitu melelahkan untuk Luhan.

"Apa maksud paman?"

Sang paman tersenyum lirih, dia berjalan mendekati Sehun lalu menepuk sekilas pundak dari pria yang sudah dianggap seperti putranya sendiri "Dokter mengatakan hidup ibunya tidak akan bertahan lebih dari satu minggu. Itu yang perlu kau ketahui tuan muda, selebihnya biarkan Luhan beristirahat, dia lelah."

Sungguh, untuk Sehun dan ayahnya, Paman Lee tidak terlihat seperti paman Lee seperti biasa, paman yang tidak pernah menunjukkan emosinya sekalipun bahkan ketika mendiang nyonya Oh dibawa masuk ke dalam rumah.

Paman Lee cenderung tenang dan menjadi penenang baik untuk Sehun maupun ayahnya, berbeda dengan saat ini, saat dimana Sehun untuk kali pertama melihat air mata pamannya menetes hanya karena membicarakan tentang Luhan.

Dan entah apa yang dilakukan Luhan pada pamannya, pastilah saat ini paman Lee sangat mengkhawatirkan Luhan dan sudah menyayangi Luhan sama seperti dia menyayangi Sehun dan ayahnya, tulus dan sepenuh jiwa.

"Paman…"

"Aku baik-baik saja." Katanya mengelak lalu tak lama berjalan meninggalkan ayah-anak yang masing-masing merasa tidak berguna karena tidak bisa menghibur dua hatinya yang sepertinya sedang terluka malam ini.

"Sehunna."

"hmmh?"

"Apa yang harus kita lakukan?"

Menatap sendu sang ayah adalah hal yang Sehun lakukan untuk mengangkat bahu tanda dia juga tidak mengerti harus melakukan apa untuk Luhan dan paman Lee "entahlah."

.

.

.

.

.

.

.

"rrhh…silau."

Kali pertama dia membuka mata adalah bias cahaya menusuk penglihatannya terlalu dalam, Luhan bahkan harus menarik selimut agar matanya terlindung dari sinar matahari yang entah mengapa begitu mengganggu pagi ini,

"Paman?"

Tebakannya adalah paman Lee yang masuk dan membuka jendela kamarnya, tapi kemudian Luhan bertanya-tanya di sela matanya yang masih setengah terpejam sejak kapan paman Lee begitu diam saat membangunkan dirinya? Dan tak lama terdengar suara berat yang mematahkan tebakan Luhan bahwa memang bukan paman Lee yang sedang berada di kamarnya.

"Cepat bangun, aku sibuk dan kita harus pergi ke rumah sakit."

Buru-buru dua mata Luhan yang terpejam membulat sempurna, hatinya berdebar cemas menyadari bukan suara lembut paman Lee yang membangunkannya melainkan suara berat khas milik ayah dari calon bayinya.

Perlahan dia menurunkan selimut, berharap tebakannya salah namun disanalah Sehun, sedang menatapnya, berdiri di dekat jendela dengan tampilan khas CEO dari agensi terkenal yang begitu tampan, berwibawa namun begitu dingin di waktu bersamaan "Se-Sehun?"

Dengan tangan terlipat, si pria tampan nan angkuh itu menjawab "Ya ini aku, jadi cepat turun, waktumu sepuluh menit untuk bersiap karena aku sangat sibuk."

"Bersiap? Apa kita akan pergi ke suatu tempat?"

"Tidak, dan Luhan, apa aku harus terus mengingatkanmu?"

"Apa?"

"Jika perhitunganku tidak salah, usia kandunganmu sudah memasuki usia enam bulan, itu artinya kita harus memeriksakan rutin calon bayi kita. Ingat?"

"ah…"

"Sudah ingat?"

"y-Ya."

"Kalau begitu aku menunggu dibawah."

"Baiklah."

Sehun bergegas meninggalkan kamar Luhan, lalu tak sengaja matanya melihat banyak tisue berserakan lalu menyadari bahwa mata Luhan masih begitu sembab diiringi suara seraknya yang masih sangat terdengar "Kau baik-baik saja?"

"huh?"

Luhan sedikit bingung saat Sehun berhenti melangkah, dua mata mereka kembali bertemu dan sesaat Luhan bisa melihat Sehun menatapnya lembut, seperti dulu. Tapi kemudian si pria tampan kembali membuang wajah lalu dalam sekejap sikap dinginnya kembali terlihat

"Lupakan, waktumu sepuluh menit."

.

.

.

.

.

.

.

Sepanjang perjalanan ke rumah sakit hanya diam yang menemani Sehun dan Luhan di dalam mobil, tak ada satupun yang berniat mengeluarkan suara mengingat kondisi yang tidak begitu baik sedang dirasakan keduanya.

Untuk Sehun, dia memang hanya bicara dengan Luhan seperlunya, tapi untuk Luhan, jujur dia ingin membuka percakapan, tapi kemudian dia sadar bahwa membuka percakapan dengan Sehun tidak akan semudah seperti sebelumnya, pertama karena status mereka yang begitu canggung, kedua dia enggan menangis jikalau bersuara dan Sehun kembali bertanya apa kau baik-baik saja?

Ingin rasanya dia meminta izin pada Sehun untuk menemani sang ibu setelah memeriksakan bayi mereka, tapi urung dia lakukan melihat wajah Sehun benar-benar sangat mengerikan, terlalu diam dan terlalu dingin, itulah yang menggambarkan Sehun saat ini, dia berniat kembali melihat ke arah jendela sebelum tanpa sengaja matanya menangkap sebuket bunga yang diletakkan Sehun di kursi belakang.

Mungkinkah Sehun?

Semakin dia bertanya-tanya, sakit di kepalanya akan semakin terasa, jadi Luhan memutuskan untuk tidak peduli daripada harus mengakui bahwa Sehun sedang berkencan dengan seseorang saat ini.

Klik

Tak lama Sehun memarkirkan mobilnya, dengan cepat membuka seatbelt miliknya untuk memberitahu Luhan "Cepat keluar."

Luhan mengangguk dalam diam, pikirannya masih bertanya-tanya dengan siapa Sehun berkencan, tapi kemudian hanya tersenyum lirih yang bisa dia lakukan sebelum akhirnya keluar dari mobil dan mengikuti Sehun memasuki lobi rumah sakit.

Keduanya berjalan beriringan sampai tak sengaja Luhan melihat Kai sedang terburu-buru berjalan meninggalkan rumah sakit "Kai?"

Yang dipanggil segera berhenti melangkah, dia menoleh, mencari asal suara untuk mendapati kakak tiri dari istrinya sedang memanggil namanya "Luhan."

Buru-buru Kai menghampiri Luhan sampai sosok lain yang merupakan atasan tertingginya di agensi juga terlihat dan berdiri persis di samping Luhan "Presdir Oh." Dia menyapa canggung pria yang masih menjadi atasannya namun hanya dibalas senyum sarkas dari sang Presdir.

"Kai ada apa? Ibu baik-baik saja?"

Perhatian Kai yang sedang kesal karena respon Sehun teralihkan dengan suara cemas Luhan, keduanya kembali bertatapan lalu Kai tanpa ragu menepuk lembut pundak Luhan "Kau tenang saja, ibu baik. Aku hanya terburu-buru karena ibuku akan pergi dan belum ada yang menjemput Taeoh di rumahku."

"Kyungsoo?"

"Dia sedang pergi keluar, Jaehyun pergi ke sekolah. Aku hanya meninggalkan ibu sebentar lalu kembali lagi ke rumah sakit."

"Tidak perlu, aku yang akan menjaga ibu setelah memeriksakan bayiku."

"Tapi Lu…"

"Bawa Taeoh kerumah, tidak baik untuknya berada di rumah sakit."

Kai sedikit cemas namun tetap mengusap lembut pundak Luhan "Kau yakin?"

"hmmh…Sampai Jaehyun kembali aku akan tetap disini. Sekarang pergilah dan jemput Taeoh." Katanya tersenyum lalu mendorong Kai pergi menjauh "Baiklah, gomawo Lu."

"Sampai nanti Kai." Katanya melambaikan tangan pada Kai, terus tersenyum sampai sosok Kai benar-benar menghilang dari pandangannya "haah~…"

"Ada apa?"

Luhan bertanya karena Sehun terdengar menghela nafas. Namun alih-alih menjawab, ayah dari calon anaknya itu justru menyindir dengan mengatakan "Untuk hubungan sepasang mantan kekasih, kau terlalu dekat dengan adik iparmu."

"huh?"

"Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat, lagipula jelas terlihat di matamu, kau masih mencintai pria itu."

Setiap kata yang diucapkan Sehun dipenuhi penekanan, sejujurnya Luhan tidak peduli jika Sehun merasa terusik entah karena interaksinya dengan Kai, atau apapun yang mengganggunya. Tapi saat Sehun mengatakan dirinya masih mencintai Kai? Oh ayolah, itu sama sekali tidak benar dan Luhan tidak menyukai cara Sehun menyindirnya.

Dengan cepat Luhan memegang tangan Sehun saat pria itu begitu saja akan meninggalkannya, kedua mata mereka bertemu lagi, namun kali ini Luhan tidak menolaknya, dia membalas tatapan mata Sehun sama dinginnya untuk mengatakan

"Kau tahu Sehunna, aku ingin bicara banyak hal padamu, tapi akan kuberitahu beberapa hal. Pertama aku tidak lagi mencintai Kai, dia memang mantan kekasihku tapi kini dia suami dari adikku dan ayah dari keponakanku, jadi jangan berfikir aku masih mencintainya, itu kekanakan, sungguh." katanya tegas sementara tangannya semakin mencengkram kuat lengan Sehun.

"Kedua, aku tidak peduli dengan siapa kau berkencan, hanya lakukan yang ingin kau lakukan tanpa perlu mengusik pada siapa hatiku masih mencintai karena kau tahu jawabannya!"

"huh?"

"Aku mencintaimu, hanya kau!"

Bagian Luhan mengatakan kalimat berkencan adalah hal yang mengganggu untuk Sehun, lalu Luhan mengatakan cinta padanya disaat bersamaan. Sungguh, rasanya Sehun ingin berteriak karena tidak tahan dengan jenis permainan yang sedang dimainkan Luhan pada hatinya,

Namun sialnya dia harus menahan diri saat ini, entah karena alasan apa, Luhan terlihat lebih terluka daripada dirinya, dia terus berbicara lalu membuat kesimpulannya tanpa memikirkan benar atau salah kalimat yang dia ucapkan saat ini.

"Singkatnya seperti ini, kau harus bahagia meskipun bukan denganku. Namun kau harus tahu aku benci kalimat itu. Kau tahu kenapa?"

Luhan terus berbicara sementara Sehun hanya diam mendengarkan, memberikan tatapan dingin khas miliknya untuk mendengar Luhan mengatakan "Karena untukku, sekuat apapun aku berusaha yang pergi akan pergi. Dan untuk-…" ujarnya terlihat menitikkan air mata tanda dia begitu kesal namun tak bisa melakukan apapun untuk meredakan rasa kesalnya.

"Dan untukmu, sekuat apapun kau menolak, yang datang akan tetap datang! Lucu bukan? Ha ha ha, tertawalah. Karena itu cara semesta menertawakan kita Sehunna!"

Luhan mengepalkan erat tangannya. Hal terakhir yang dia lihat adalah Sehun masih menatapnya dingin, ah, dia tidak peduli, dia hanya ingin menunjukkan pada Sehun bahwa dia tidak sekuat dan setegar yang terlihat, dia hanya seorang pria yang memiliki keyakinan pada pria yang dia cintai, pada Sehun. Tapi Sehun terus menampiknya dan itu adalah harga yang harus dibayar Luhan karena meninggalkan kekasihnya, pria yang pernah begitu mencintainya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi bagaimana keadaannya?"

Seperti biasa, saat mereka memeriksakan bayi mereka Luhan hanya diam, Sehunlah yang lebih banyak berbicara dan bertanya, bahkan saat alat usg sedang digerakkan di perut buncitnya, Luhan hanya diam seraya menatap tak berkedip layar monitor yang menunjukkan banyak gerak, entah gerak siapa, Luhan tidak mengerti namun kuat-kuat dia berdoa agar bayinya selalu sehat dan dilindungi oleh Tuhan.

"Didalam perut ibunya, mereka sehat."

"Mereka?"

Dokter cantik bernama Kim Hyesun itu meletakkan alat usg di samping Luhan, memberi instruksi pada perawat untuk membantu Luhan berdiri agar Luhan bisa kembali bergabung ke mejanya lalu mendengarkan beberapa hal mengenai dirinya dan calon buah hatinya.

"Silakan duduk Luhan."

Luhan mengangguk, setelah membenahi pakaiannya yang sedikit berantakan dia menarik kursi disamping Sehun siap mendengarkan penjelasan dari dokter yang menangani calon malaikat kecilnya.

"Sebelumnya aku mengucapkan selamat, aku ingin mengatakan progress kehamilan Luhan sungguh mengejutkan. Masih teringat di benakku, kehamilanmu begitu mungil dua bulan lalu, berbeda dengan sekarang, perutmu sangat terlihat besar tapi kau tetap terlihat mungil, menakjubkan."

"Apa itu sebuah kelainan?"

"Tidak, tentu saja. Dan daripada kelainan aku justru ingi mengucapkan selamat pada kalian."

"Selamat untuk apa?" Sehun bertanya dibalas senyum tulus dari sang dokter "Jenis kelamin bayi kalian adalah lelaki dan mereka kembar."

Baik Luhan maupun Sehun menunjukkan wajah tidak percaya, keduanya diam beberapa saat sampai suara berat Sehun lebih dulu terdengar "ke-Kembar? Anda yakin dokter Kim?"

Sang dokter tersenyum, dia menunjukkan hasil foto usg Luhan dan menunjukkannya pada Sehun "Anda lihat ini Tuan Oh?"

Sedikit gugup, Sehun menjawab "y-Ya."

"Ini adalah wajah jagoan kecil anda, awalnya kupikir hanya satu, tapi kemudian terlihat wajah lain yang bersembunyi tepat di belakang sang kakak. Kau lihat ini?" tangan dokter Kim menunjuk lagi ke bagian lain, hingga tatapan takjub benar-benar ditunjukkan Sehun karena bisa melihat dua wajah dalam satu foto usg yang baru saja dilakukan Luhan "Apa itu adiknya?" katanya bertanya dibalas senyum bahagia dari sang dokter "Tepat, itu adiknya. Jenis kelamin mereka juga terlihat, keduanya lelaki dan mereka sehat."

"syukurlah."

Diam-diam Luhan mengucapkan syukur karena dua bayinya dinyatakan sehat, Luhan tidak peduli dengan rasa sakit yang harus dia pikul selama masa kehamilannya, untuknya, asal kedua bayinya sehat, maka nyawanya bukanlah hal penting yang bisa membuatnya cemas.

"gomawo, nak."

Sehun bisa melihat bagaimana Luhan menitikkan air mata harunya, bagaimana dia mengucapkan terimakasih tulus pada dua jagoan mereka serta bagaimana Luhan harus menahan rasa sakit selama masa kehamilannya.

Ya, Sehun memperhatikan segalanya, bisa saja dia memeluk Luhan sebagai ucapan terimakasih, tapi lagi-lagi dia harus menahan diri jika tidak ingin berakhir saling menyakiti lagi dengan mantan kekasihnya.

"Jadi dokter Kim? Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?"

"mmhh…Mengingat usia kandungan Luhan sudah memasuki bulan keenam, aku rasa kalian bisa melakukan kegiatan seks secara rutin."

"huh? / nde?"

Kedua wajah itu terlihat risih dengan ucapan sang dokter, untuk Sehun rasanya tidak masuk akal berhubungan dengan Luhan sementara hatinya terus mengatakan benci sementara Luhan, dia tidak memiliki wajah untuk kembali berhubungan intim dengan pria yang dia tinggalkan di hari pernikahan mereka.

"Wae? Bukankah wajar jika sepasang kekasih melakukan hubungan intim? Lagipula tujuannya bukan untuk memuaskan nafsu, hubungan seks di masa kehamilan, dilakukan semata-mata untuk membantu sang ibu dalam mempersiapkan kelahiran, hanya itu."

"Tapi adakah cara lain selain berhubungan intim? Maksudku-…."

"Kami bukan sepasang kekasih, jadi rasanya tidak mungkin berhubungan intim."

Luhan tersenyum pahit mendengar jawaban Sehun, dan seperti biasa dia lebih memilih menunduk sementara Sehun membereskan kesalahpahaman yang terjadi di ruangan dokter Kim "ah, begitukah?"

"Ya, anak ini ada jauh sebelum hubungan kami berubah menjadi mengerikan. Jadi aku rasa kami tidak akan berhubungan."

Kini dokter Kim yang terlihat canggung menghadapi Sehun dan Luhan, dia pun berusaha mengerti lalu menyampaikan rasa maafnya pada Sehun maupun Luhan "Maafkan aku bertanya terlalu jauh."

"Tidak apa dokter Kim, jadi selain berhubungan apa yang harus kami lakukan?"

"Well," sang dokter mengeluarkan selembar resep obat lalu mulai menuliskan beberapa vitamin untuk Luhan "Kalau begitu Luhan harus rutin meminun vitamin dan melakukan aktifitas seperti berenang dan lari kecil di pagi hari, itu sangat membantu. Kau bisa melakukannya Luhan?"

"y-Ya, tentu saja dokter Kim."

"Baguslah, aku akan menuliskan vitamin yang biasa kau minum. Sebelumnya kau memiliki keluhan?"

Luhan ragu karena Sehun berada disampingnya, tapi jika dia tidak berbicara, entah kapan dia memiliki kesempatan untuk bertemu lagi dengan dokter Kim "mmh…Sebenarnya aku memiliki satu keluhan dokter Kim."

"Benarkah? Apa itu?"

Diam-diam Sehun menoleh, bertanya-tanya keluhan apa yang dimiliki Luhan sementara selama dua bulan ini dia meyakini paman Lee sudah merawatnya dengan baik "Kepalaku."

"Kepala?"

"hmmh…Dua minggu terakhir kepalaku sangat sakit. Kadang terjadi setiap malam secara rutin, aku hanya ingin bertanya apa itu reaksi wajar?"

Tangan Sehun terkepal erat, jelas dirinya dan paman Lee tidak mengetahui keluhan Luhan. Karena rasa sakit Luhan sepertinya terjadi di malam hari, disaat semua tertidur dan tak ada lagi yang bisa menjaganya selain dirinya sendiri.

"Apa kau meminum penghilang rasa sakit?"

"Tidak, aku takut itu mempengaruhi pertumbuhan bayiku."

Sang dokter tersenyum kecil untuk menuliskan obat penghilang rasa sakit dalam dosis aman dalam masa kehamilan "Untuk mengurangi rasa sakitnya kau bisa meminum penghilang rasa sakit Tuan Xi."

"Apa itu aman?"

"Ya tentu saja. Lagipula menurut catatan kesehatan milikmu yang aku terima dari dokter Park, sebelumnya kau memang mengkonsumsi pain killer karena riwayat tumor di kepalamu."

"Apa itu membahayakan dirinya?"

Luhan sudah membuka mulutnya untuk bertanya, tapi kemudian Sehun membuka mulut dan mengambil alih seluruh pertanyaannya "Tidak tuan Oh, justru yang berbahaya adalah saat Luhan merasakan sakit dan dia hanya menahannya sepanjang malam. Luhan bisa mengalami kejang otak dan yang paling parah kontraksi otot perutmu akan mengganggu calon bayimu. Jadi sebaiknya anda lebih memperhatikan ibu dari calon bayimu Tuan Oh."

Sehun tersenyum sarkas untuk mengatakan "yeah, tentu saja." Katanya kesal dibalas senyum pahit Luhan yang kini terlihat diam mendengarkan "Baiklah, ini obatmu Luhan, untuk penghilang rasa sakitnya minumlah disaat kau merasa sakit, dosisnya aman untukmu dan calon bayimu."

Luhan segera menerima lembar resep dari dokter untuk membungkuk berterimakasih "Terimakasih dokter Kim."

"Tidak perlu, semoga semuanya lancar sampai proses kelahiran bayimu nanti, Luhan." Katanya menjabat tangan Sehun dan Luhan seraya tersenyum berharap dua pasangan unik di depannya benar-benar bisa bersikap layaknya pasangan yang akan memiliki buah hati bersama.

"Sampai bertemu bulan depan."

"Sampai bertemu dokter Kim."

Sehun membukakan pintu untuk Luhan, tak lama keduanya keluar dari ruangan dokter Kim dengan Sehun yang mengeluarkan ponsel dan terlihat menghubungi seseorang.

"Paman, kami sudah selesai, jemput Luhan sekitar pukul lima sore, aku rasa dia ingin menemani ibunya sebentar."

"eoh, aku pergi bekerja setelah ini."

"Oke."

Pip!

Tak lama Sehun mematikan ponselnya lalu menatap mantan kekasihnya "Paman akan menjemputmu pukul lima sore. Kau bisa menemani ibumu setelah mengambil obat."

Luhan tersenyum senang lalu mengangguk tanpa ragu "Gomawo Sehunna."

"Tidak perlu, tapi maaf, sepertinya aku tidak bisa menemanimu mengambil obat. Aku akan memberikan credit card agar kau bisa-…"

"Tidak perlu Sehunna, ayah sudah memberikan satu untukku, aku rasa ini lebih dari cukup hanya untuk sekedar menebus obat."

Sehun sedikit menatap kecewa karena ayahnya selalu lebih dulu memenuhi kebutuhan Luhan dan bayinya, namun karena tak ingin berlama-lama bersama mantan kekasih yang terlihat semakin cantik seiring kehamilannya, Sehun lebih memilih memasukkan dompet ke dalam sakunya untuk mengatakan "Baiklah, aku pergi."

"mmh..Hati-hati Sehunna."

Tak menjawab, Sehun pergi begitu saja. Langkahnya pasti meninggalkan rumah sakit sementara Luhan terus melambai seperti orang bodoh diiringi wajah sendu yang begitu terlihat, hatinya sakit membayangkan bahwa setelah pergi mengantarnya ke rumah sakit, Sehun akan pergi berkencan mengingat sebuket bunga yang berada di dalam mobilnya "haah~ Ayah kalian mungkin akan memberikan ibu baru pada kalian." Luhan mengusap sayang perutnya, berharap Sehun tidak memberikan ibu baru pada dua putra mereka secepat ini sebelum menarik dalam nafasnya lalu memutuskan untuk menebus obat dan segera pergi menemani ibunya di ruang perawatan.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ting!

Luhan bergegas menuju lantai di mana ibunya dirawat setelah selesai menebus obat miliknya. Wajahnya cerah mengingat hari ini dia mengetahui akan memiliki dua jagoan kecil dan dokter mengatakan tak ada yang salah dengan kondisinya.

"Halo Luhan."

"Halo perawat Kim."

Dan jangan katakan dia tidak terkenal di lantai dua puluh tiga karena nyatanya seluruh perawat jaga sudah mengenalnya dan memberi julukan flower man pada dirinya dalam waktu kurang tiga bulan.

Ya, setidaknya flower man adalah julukan yang diberikan seluruh perawat lantai dua puluh tiga padanya dan Kyungsoo. Sementara Kai dan Jaehyun? Tentu mereka mendapatkan julukan handsome and sexy guy, mengingat ketampanan dua kakak dan adik ipar itu berada di atas rata-rata pengunjung lainnya.

Luhan tidak mau repot-repot mengelak karena tujuannya datang ke rumah sakit ini adalah merawat sang ibu, bukan menjadi terkenal di kalangan perawat lantai dua puluh tiga Seoul Hospital.

Klik!

"Ah, Luhan? Kau sudah datang?"

Luhan tersenyum sekilas untuk membungkuk berterimakasih pada perawat Yoon yang selalu menjaga ibunya jika tak ada satupun dari dirinya, Kai, Jaehyun maupun Kyungsoo yang datang menjaga "Gomawo sudah menjaga ibuku Perawat Yoon."

"aigoo, tidak masalah untukku. Lagipula merawat ibumu sama dengan mencuci mata."

Luhan terkekeh, berpura-pura tidak tahu lalu bertanya "Mencuci mata untuk apa?"

"Ya, kalian sekeluarga terutama adik bungsumu, dia sangat tampan dan aku sangat menyukai suaranya."

"Benarkah? Suara Kai dan Kyungsoo jauh lebih sexy dan merdu."

"Kai dan Kyungsoo mereka penyanyi sungguhan, jadi tidak perlu diragukan lagi! Tapi Jaehyun? Setiap malam Jaehyun akan bernyanyi untuk ibu kalian dan Oh Tuhan, suaranya begitu merdu."

Luhan tertawa lagi, rasanya jika dia kembali mendapatkan pekerjaannya sebagai Manager pencari bakat, orang pertama yang akan dia rekomendasikan adalah Jaehyun, terlepas dari rasa takutnya karena tak ingin Jaehyun menderita menjadi seorang Idol, Luhan akan tetap menjadikan adiknya sebagai seorang idol daripada menjadi seorang pembalap liar.

"Baiklah, lain waktu aku akan membuat adikku melakukan debut sebagai penyanyi."

"Benarkah?"

"Tentu saja." Katanya tertawa lalu berjalan memasuki ruangan. Luhan meletakkan tasnya di meja yang tersedia untuk menyadari bahwa ada sebuket bunga yang terletak tepat di meja yang diletakkan di samping ibunya.

"huh? Bunga dari siapa ini?"

"ah benar! Aku lupa bertanya padamu!"

"Apa?"

"Apa kau memiliki kekasih? Tampan dan rrhh…Sexy?"

"Kekasih? Siapa? Aku?"

"Iya, Kau!"

"Tidak, aku tidak memiliki kekasih. Lagipula siapa yang….bunga ini?"

Rasanya Luhan begitu familiar melihat sebuket bunga yang diletakkan di dekat tempat tidur ibunya, dia pernah melihatnya, tapi dimana? Batinnya bertanya-tanya sampai perawat Yoon mengatakan "Aneh sekali, pria tampan itu datang menyapa ibumu. Begitu aku bertanya dia keluarga atau bukan, dia hanya menjawab, aku ayah dari calon bayi yang Luhan kandung. Begitu yang pria tampan itu katakan."

Deg!

Buru-buru Luhan membenarkan posisinya berdiri, menatap canggung pada perawat Yoon seraya memastikan "a-Ayah dari calon bayiku?"

"mmhh…Itu yang dikatakan si pria tampan. Yang membuatku bertanya-tanya, jika dia ayah dari calon bayimu, bukankah harusnya dia kekasihmu? Omo! Atau jangan-jangan kalian sudah menikah? Apa dia suamimu?"

"Bukan, dia hidupku."

Luhan tersenyum kecil, hatinya begitu hangat saat menyadari bahwa bunga yang diletakkan di samping ibunya adalah bunga yang sama yang dia lihat pagi ini di mobil Sehun. Dia bahkan mendekati bunga tersebut, mencium aromanya sekilas lalu menyadari bahwa bukan hanya indah, bunga ini juga merupakan bunga kesukaan ibunya.

"Gomawo Sehunna."

"Luhan? Kau baik-baik saja?"

Luhan menghapus cepat air matanya, dia kemudian mengangguk lalu meminta waktu berdua dengan sang ibu "Aku baik perawat Yoon, sekarang pergilah, banyak yang ingin aku bicarakan dengan ibuku."

"Baiklah, panggil aku jika sesuatu terjadi."

"Pasti, terimakasih perawat Yoon."

"Tidak perlu." Katanya mengerling Luhan lalu menutup pintu ruang perawatan nyonya Xi, meninggalkan Luhan berdua dengan sang ibu yang masih memilih untuk tidak sadarkan diri.

"eomma…"

Suara berat Luhan terdengar lirih, antara haru dan cemas menjadi satu saat menatap wajah pucat ibunya yang tak lagi tersenyum setelah enam bulan berlalu. Luhan menggenggam kuat jemari ibunya, berusaha untuk tidak menitikkan air mata walau nyatanya dua jemari mereka sedikit basah karena tetesan air mata Luhan.

"Mianhae eomma. Aku tidak bisa menahan diri jika hanya berdua denganmu." Katanya tertawa seraya menghapus cepat air matanya "Jadi bagaimana? Apa eomma sudah mengetahuinya? Apa Sehun memberitahu kabar baiknya? Cucumu?"

Luhan tertunduk lagi, hatinya penuh sesak berharap setidaknya sang ibu bisa melihat tiga cucunya kelak tumbuh besar, Taeoh dan si kembar, mereka pasti akan membuat nenek mereka memiliki alasan untuk bertahan hidup, tapi sayang, sejauh apapun Luhan berusaha memberitahu, Luhan memohon, Luhan mengiba pada Tuhan, ibunya terus memilih bertahan dalam tidurnya tanpa sedikitpun ingin membuka dua matanya yang begitu indah.

"Eomma, Jebal…Buka matamu."

"eomma…"

Luhan terbawa emosi, harapannya untuk memberi kabar baik kembali menyerang dirinya sendiri, karena daripada bahagia Luhan merasa hatinya sesak nyaris tak bisa bernafas saat merasakan tangan ibunya begitu dingin. Tangan yang dulu selalu mengusap air matanya dan menggenggam erat jemarinya kini berbalik tak melakukan apapun, terasa begitu lemah dan dingin di genggaman Luhan.

"Baiklah, aku tidak akan memaksa lagi. Aku hanya ingin memberikan kabar baik untukmu." Katanya membawa tangan lemah sang ibu untuk mengusap perut buncitnya dengan gerakan memutar "Disini, ada anakku yang akan segera lahir ke dunia, sepupu Taeoh, cucumu."

Luhan lagi-lagi menghapus air matanya, berniat untuk tidak mendramatisir keadaan walau gagal karena tiap kali melihat wajah ibunya yang tak berdaya, Luhan hanya ingin menjerit, memohon pada Tuhan agar memberikan kekuatan pada ibunya sama seperti ketika dia berjuang melawan penyakit yang kini menggerogoti tubuh sang ibu.

"Jadi kumohon, buka mata eomma, katakan kau menyayangi ketiga cucumu, aku mohon…."

Luhan tertegun, dilihatnya air mata menetes dari mata sang ibu tanda bahwa wanita cantik di depannya mendengarkan seluruh ucapannya. Hatinya bergemuruh rindu, sangat bersyukur namun tak ingin membuat ibunya merasa tersiksa lebih lama "Eomma." Katanya memanggil, sedikit membungkuk untuk mencium sayang kening ibunya tercinta "Jangan menangis." Ujarnya berbisik seraya menghapus air mata ibunya.

Luhan kemudian tersenyum menggenggam erat tangan ibunya untuk mengatakan "Aku tidak akan bicara lagi, jadi tidak perlu menangis, kau terlihat buruk saat menangis." Dia tertawa, tapi tak ada rasa bahagia, air matanya juga terus menetes seiring dengan suara tawa yang begitu dipaksakan "Eomma, apa kau tahu? –tidak-, aku rasa kau pasti tahu. Aku mencintaimu, selalu mencintaimu. Dan terlepas dari kondisimu dan keinginanmu untuk pergi, aku tidak akan memaksa selama kau bahagia, jadi bahagialah eomma, hmhh? Aku akan menjaga Jaehyun untukmu, aku janji."

Bersamaan dengan janji yang diucapkan Luhan, tubuh ibunya bereaksi, namun bukanlah reaksi yang wajar mengingat tubuh ibunya mengalami kejang hebat "eomma…" dan tak lama terdengar

tiiiiittttt….

Monitor detak jantung ibunya tiba-tiba menjadi lurus, Luhan panik, dia terus menggenggam tangan ibunya sementara tangannya yang lain menekan tombol agar tim medis segera menghampiri ibunya.

"eo-Eomma? Eomoni, tolong, SIAPAPUN TOLONG IBUKU!"

tiitttt~

Dan tiba-tiba Luhan merasa tangan ibunya dingin, sepenuhnya dingin. Dia pernah mengalami kejadian seperti ini lima bulan lalu, jadi saat tak ada respon kehidupan lagi yang diberikan ibunya, Luhan hanya berdoa agar ibunya bertahan, seperti dulu

"rrhhh…."

Kejang kedua dirasakan ibunya bersamaan dengan beberapa tim medis yang datang dan terlihat mengambil alih tubuh ibunya.

"Tuan Xi tunggu diluar!"

"tidaktidak, tidak lagi, EOMMA!"

Tak lama Luhan hanya berdiri tepat di depan kamar ibunya, kakinya lemas, air matanya terus turun tanpa mau berhenti "TEKANAN DARAH?"

"80/40, oksigen menurun hingga 40, denyut nadi 40."

"eomma…"

Luhan bisa mendengar seluruh teriakan baik dari dokter maupun perawat yang berada di kamar ibunya. Semua wajah menunjukkan keputusasaan, tak ada satupun dari mereka yang memberikan kekuatan agar setidaknya Luhan bisa mempercayai ibunya bisa bertahan, seperti dulu.

tiiiitt…

"PASIEN KEMBALI! DETAK JANTUNG?"

"TERLALU LEMAH DOKTER HAN! SAMAR, HILANG DAN KEMBALI!"

"SIAPKAN DEFIBRILATOR!"

Setiap kali alat kejut jantung dikeluarkan, Luhan selalu mengalami trauma yang hebat. Dia pernah berada di posisi ibunya, dia tahu bagaimana menyiksa alat mengejutkan yang selalu berusaha menarik kesadarannya. Dan ketika dokter mengatakan "Pasang, seratus joule." Kaki Luhan begitu lemas hanya untuk bergumam "tidak lagi."

DEG!

Tubuh ibunya terangkat, memberikan respon denyut jantung lemah namun kemudian samar sampai dokter memberi perintah "LAGI!"

Luhan membekap erat mulutnya, sungguh dia tak sampai hati melihat alat pengejut jantung itu menyakiti ibunya, ditambah dengan serangkaian jarum suntik yang terus disuntikkan entah untuk apa, Luhan benar-benar tak bisa melihatnya.

DEG!

"SAMAR!"

"Naikkan, dua ratus Joule!"

"eomma…"

"HYUNG! ADA APA?"

Luhan menoleh, dia mendapati senyum Jaehyun samar digantikan dengan raut wajah pucatnya, dan ketika dua mata kakak beradik itu bertemu, Luhan hanya tersenyum sendu seraya mengatakan "Jaehyunna, Mianhae."

Dan setelahnya Luhan lebih dulu masuk ke dalam ruangan ibunya, mencegah alat kejut jantung dengan kekuatan dua ratus joule mengoyak tubuh ibunya dengan memegang lengan dokter yang sudah menangani ibunya dengan baik selama enam bulan terakhir "Dokter Han."

Sang dokter yang tengah bersiap menempelkan alat kejut jantung itu merasa terganggu dengan kehadiran Luhan, awalnya dia ingin menginstruksikan pada perawat agar membawa Luhan keluar namun dibuat terkejut saat tangan Luhan mencengkram lengannya kuat seraya mengatakan.

"Cukup."

"Tuan Xi?"

"Jangan sakiti ibuku lagi, cukup, aku merelakannya."

"Apa kau yakin?"

Luhan menghapus cepat air matanya, mengangguk sebagai persetujuan sementara Jaehyun berteriak "APA YANG KAU LAKUKAN HYUNG!" Luhan kini harus berhadapan dengan Jaehyun, adik kecilnya itu berlari mendekati sang ibu namun segera dicegah Luhan yang memeluk Jaehyun begitu erat "Jaehyun kumohon, eomma kesakitan."

"ANDWAE! LEPAS HYUNG! DOKTER HAN LAKUKAN SESUATU, KUMOHON! AKU AKAN MEMBAYAR SEMUANYA, HANYA LAKUKAN SESUATU UNTUK IBUKU!"

Kini dokter spesialis penyakit dalam itu berurusan dengan dua suara, dimana kakak tertua mengatakan cukup, sementara si bungsu terus mengatakan lanjutkan. Namun kembali pada siapa yang bertanggung jawab atas kondisi Nyonya Xi, dokter Han cenderung mendengarkan Luhan yang terus mengatakan "Hentikan."

tiiiiit….

Luhan memejamkan erat matanya bersamaan dengan keputusan yang dia buat, menikmati suara mengerikan dari monitor detak jantung ibunya yang menandakan tak ada lagi kehidupan yang sedang diperjuangkan "eomma!"

Dia bisa merasakan nafas Jaehyun bersahutan dengan isakannya, detak jantung adiknya juga bergemuruh cepat sementara cengkraman tangan Jaehyun dengan lengannya seolah bisa mematahkan tangannya kapan saja "Jaehyun, mianhae." Dia menggumamkan maaf karena merelakan ibu mereka. Lalu terdengar suara dokter yang kemudian mengumumkan

"Waktu kematian Nyonya Xi…"

"tidak, eomma…"

Luhan tak lagi bisa menahan tubuh Jaehyun, adiknya setengah menghempas kasar dirinya hingga dia terjatuh sementara dokter Han terus mengumumkan kematian ibunya "Selasa, pukul empat sore waktu setempat."

"hksss…"

"EOMMA IREONA!"

Luhan terisak kuat, sementara suara teriakan Jaehyun seolah mengingatkan Luhan bahwa sore ini, hubungannya dan Jaehyun akan kembali seperti Jaehyun dan Luhan seperti semula, Jaehyun yang begitu membencinya sementara Luhan hanya terus melindungi dari jauh, seperti dulu.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam hari, 22.00 KST

.

Secara mengejutkan, NFS dikenakan pengurangan point hingga 10 angka mengingat salah satu pembalapnya melanggar aturan bermain dengan melakukan pelanggaran hampir di setiap putaran.

Tak ada konfirmasi sebelumnya NFS akan turun pada malam ini namun ternyata salah satu pembalap barunya mendaftarkan diri dan langsung bermain sepuluh putaran tanpa melakukan kualifikasi lebih dulu.

BLAM!

"BRENGSEK! SIAPA YANG BERANI TURUN TANPA PERSETUJUANKU DAN TAECYEON?"

BLAM!

"Sial! POINTNYA TERUS BERKURANG!"

Adalah Ok Taecyeon dan Kim Myungsoo, dua leader NFS yang terlihat begitu murka karena kabar pelanggaran yang dilakukan NFS. Keduanya bahkan tidak berniat menurunkan satu pembalap pada malam ini karena point mereka sudah lebih dari cukup untuk masuk ke putaran selanjutnya.

"MARK! BERITAHU IDENTITAS BAJINGAN KECIL INI!"

Yang diteriaki mendengus kesal, dia focus pada komputernya untuk mengatakan "Jung Jaehyun."

"Jung siapa?"

"Jaehyun, kau ingat? Remaja seusiaku yang mengikuti kualifikasi sekitar tiga minggu lalu."

"What the…."

Myungsoo menggeram marah diikuti Taecyeon yang masih fokus melihat dari layar besar lalu mengambil kesimpulan "Bocah itu tidak berniat melakukan putaran, dia terlalu cepat dan tidak terkendali." Katanya memberitahu Myungsoo yang terlihat bingung dengan ucapan Taecyeon "Apa maksudmu?"

"Kau lihat, gerakannya stabil pada kecepatan 120 km/h. Dia tidak menurunkan sedikitpun kecepatannya bahkan di tikungan." Katanya menganalisa ditimpali geraman Myungsoo yang tanpa sengaja melihat remaja lain yang dia yakini sebagai kekasih Jaehyun tengah berdiri di pinggir lapangan.

"brengsek…" katanya menggeram marah, lalu berteriak "y-YAK!" dia mencengkram kuat lengan remaja yang dia ketahui bernama Taeyong, berniat untuk memaki namun berakhir menatap bingung saat remaja seusia Mark itu menangis tersedu dengan tubuh yang terus gemetar tanpa henti.

"Ada apa?"

"tolong, Tolong Jaehyun. Dia—hks—Tolong kekasihku, Kumohon."

"Ada apa? APA YANG TERJADI?"

Taeyong menunjuk arah mobil Jaehyun dengan tangannya yang gemetar hebat, dia terus terisak lalu berguman "Dia ingin mati, Jaehyun berniat mati malam ini."

"Mwo?"

"Ibunya baru saja meninggal sore ini, dia kehilangan akal sehat dan berniat menyusul ibunya, aku mohon, Tolong selamatkan Jaehyun."

"brengsek! TAEC!"

Myungsoo berteriak memanggil Taecyeon direspon cepat oleh leader ketiga setelah dirinya "Ada apa?"

"BOCAH ITU BERNIAT MATI! CEPAT!"

"Dia berniat apa?"

"HENTIKAN DIA! SEKARANG!"

"sial!"

BRRRMM….

"Mark! Beritahu posisinya pada kami!"

"Oke."

Tak lama Taecyeon menyusul dan suara mobilnya bersahutan dengan mobil Myungsoo yang mengganggu jalannya perlombaan malam ini

Whoa…whoa…dua leader NFS kini memasuki arena balap. Ada apa sebenarnya? Jika terus seperti ini, NFS akan mengalami pengurangan point hingga minus nol dan itu artinya mustahil mereka bisa mengikuti event track on road minggu depan!

"Persetan dengan event itu, L! tunjukkan pada bocah itu siapa NFS!"

"got it! Mark Posisi?"

"Dia di berada di tikungan delapan."

"Jarak kami?"

"Sekitar enam ratus meter darinya, menjadi delapan ratus karena dia sengaja menabrakan mobil ke tikungan tajam."

"Apa bocah itu sudah gila?"

"Kekasihnya bilang dia ingin mati karena ibunya baru meninggal sore ini."

"oh ayolah! MATILAH DI TEMPAT LAIN JANGAN MEMBAWA NAMA NFS!"

"wae hyung?"

Baik Taecyeon maupun Myungsoo terkekeh bersamaan, keduanya fokus mengejar Jaehyun namun tetap menjawab pertanyaan dari anggota termuda NFS "Karena Luhan akan membunuh kita."

"Ah, Lu hyung."

Setelahnya, dua mobil leader NFS itu melaju sama cepat dengan pembalap lain, yang membedakan mereka tidak mengikuti aturan hingga secara otomatis point NFS terus berkurang, semakin berkurang dan itu membuat Myungsoo begitu geram.

"Baiklah bocah! Kita sudahi permainan gilamu."

Myungsoo menyeringai melihat mobil Jaehyun di depannya, namun alih-alih menghentikan dia lebih memilih mendului mobil Jaehyun sementara Taecyeon berada persis tepat di belakang mobil Jaehyun.

"Bocah ini hanya tahu kecepatan tapi tidak memiliki strategi apapun, baiklah, Jika dia ingin mati. Kita akan membuatnya mati."

"Terserahmu saja L!" timpal Taecyeon dibalas kekehan oleh teman satu tim nya "Kau siap Taec?"

"Jangan buat aku terluka. Julie menungguku di rumah."

"Kau tenang saja, suka atau tidak aku yang akan menikahi putrimu."

"y-YAK!"

"Hyungdeul, seriously? Kalian bertengkar sekarang?"

"Baiklah, baiklah. Kita akhiri ini sekarang. Taec! Hitungan ketiga."

"Baiklah."

"Satu….TIGA!"

"Kim Myungsoo kau benar-benar…!"

Ckit….!

Tak lama Myungsoo terlihat men-drift mobilnya, berputar Sembilan puluh derajat lalu berhenti tepat di depan mobil Jaehyun, posisi mereka siap bertabrakan, Jaehyun sendiri terpaksa menghentikan mobilnya sementara Taecyeon sudah setia menunggu tepat di belakangnya.

"Mark? Dia berhenti?"

"Sepertinya begitu, ah…Sepertinya tidak."

"Mwo?"

"Dia mulai menjalankan mobilnya."

"whoa, bocah sialan! Dia begitu keras kepala!"

BRRRMM!

Dan benar saja, Jaehyun kembali menjalankan mobilnya, refleks, Myungsoo ikut menekan kuat gas mobilnya diikuti Taecyeon dengan full gass yang membuat kecepatan mereka berdekatan namun di atas rata-rata

"L!"

Mobil Jaehyun dan Myungsoo siap bertabrakan sementara mobil Taecyeon siap menabrak dari belakang. Anggap ini satu-satunya cara menghentikan Jaehyun, karena jika dia berniat mati maka menyadarkannya dengan cara yang sedikit bengis adalah hal yang paling benar saat ini.

"SEKARANG!"

BRAAAK!

Terdengar suara tabrakan kencang dari arah depan, ditambah milik Taecyeon, maka hancur sudah mobil Jaehyun yang dihimpit di tengah dua mobil leader NFS. Ketiganya tampak tidak sadarkan diri sampai Myungsoo lebih dulu sadar dan mulai membuka pintu mobilnya

Uhuk!

"TAEC!"

"Aku baik."

Myungsoo mendesah lega, kini fokusnya berada pada Jaehyun dan ya, dia benar-benar ingin membunuh remaja sialan yang hampir membuatnya meregang nyawa malam ini.

Klik!

Myungsoo membuka kasar pintu mobil lalu tak lama berteriak "KELUAR!"

Dahi dan hidung Jaehyun mengeluarkan darah namun daripada iba, baik Myungsoo maupun Taecyeon lebih memilih memberi pelajaran pada remaja yang mulai malam ini dikeluarkan dari NFS "Bawa dia keluar."

Myungsoo mengangguk, mengabaikan fakta bahwa Jaehyun terlihat sangat menyedihkan , dia melepas seatbelt yang dikenakan Jaehyun. Mencengkram kuat kemeja yang digunakan Jaehyun lalu memberikan satu pukulan telak tepat di wajah anggota barunya.

BUGH!

Jaehyun terhuyung, dia tak berniat membalas lalu tak lama dia berpindah tangan, kini Taecyeon yang mencengkram kemejanya seraya bergumam mengerikan "Kau ingin mati? Biar kami ajarkan apa itu mati!"

BUGH!

Tubuhnya terhuyung lagi ke arah Myungsoo, dan sama seperti sebelumnya dia mendapatkan pukulan telak dari Myungsoo lalu Taecyeon, lalu Myungsoo lagi, kembali lagi ke Taecyeon. Terus seperti itu sampai akhirnya dia tergeletak tak berdaya di arena balap.

Tubuhnya lebam, wajahnya memar dan hatinya sakit. Semua sudah terlihat begitu samar sampai kali ini Myungsoo dan Taecyeon mengulurkan masing-masing tangannya, menawarkan bantuan.

"huh?" Samar, Jaehyun melihat dan bertanya-tanya. Dia hampir kehilangan kesadaran jika Taecyeon tidak mengingatkan kenyataan pahit padanya "Untuk kali terakhir, kau harus mengantar kepergian ibumu."

"eomma.."

"Cepat bangun, kami akan mengantarmu!"

Kini dia menatap Myungsoo untuk terisak menyembunyikan betapa hancur hatinya "hkss. eomma, jangan pergi." Baik Taecyeon dan Myungsoo mencoba mengerti kesedihan Jaehyun, masing-masing dari mereka berbaring persis disamping Jaehyun, membiarkan si remaja menangis pilu dan menunjukkan betapa hancur seorang pria jika ditinggalkan oleh ibu mereka, selamanya.

"EOMMA!"

.

.

.

.

.

.

.

.

"EOMMA!"

Dan seperti inilah keadaan pemakaman Nyonya Xi pagi ini, dipenuhi teriakan histeris Jaehyun, isakan memilukan Kyungsoo serta kesedihan yang begitu menyiksa namun tak bisa diungkapkan oleh putra tertua Nyonya Xi, Luhan.

Luhan cenderung diam tak berekspresi, matanya tak berkedip saat tubuh ibunya dimasukkan ke dalam peti dan segera menyatu dengan tanah. Dia memang tidak terisak, tapi air matanya terus menetes sementara tangannya terus memegang perutnya yang membuncit seolah memberitahu dua putranya bahwa saat ini, mereka sedang menghadiri pemakaman satu-satunya nenek yang mereka miliki.

"eomma…"

Sehun juga berada disana, tepat dibelakang kursi roda ayahnya sementara paman Lee berdiri tepat di belakang Luhan, tatapan mereka tak pernah sekalipun berkedip seolah takut bahwa Luhan akan menunjukkan reaksi yang wajar untuk seorang putra saat ditinggalkan ibunya, seperti menjerit atau terisak sekalipun.

Ya, mereka lebih memilih Luhan memberikan reaksi seperti itu daripada diam seperti ini, Luhan berusaha menutupi kesedihannya dengan air mata, namun sial semakin dia menahan sesak di dadanya, perutnya akan mengalami sedikit kontraksi dengan kepala yang terus berdenyut sakit.

"Paman."

"Ya?"

Sehun bisa melihat Luhan berbisik pada paman Lee, tak lama dia mengatakan "Aku ingin pulang." Seraya mengerling Kai yang kini sedang menenangkan Jaehyun dan Kyungsoo namun tetap mengangguk mengizinkan Luhan pergi.

"Baiklah Luhan, kita pulang."

Paman Lee segera memegang pundak Luhan, membantunya berjalan dengan Sehun dan Tuan Oh yang mengikuti di belakang. Tak ada satupun yang berbicara terlebih saat suara Jaehyun berteriak "AKU MEMBENCIMU HYUNG!" hingga membuat langkah Luhan sedikit berhenti sementara tubuhnya gemetar di pelukan paman Lee.

"Kau baik-baik saja Lu?"

Luhan terus memejamkan erat matanya, air matanya semakin banyak seiring dengan teriakan Jaehyun dan kenyataan bahwa saat ini, tubuh ibunya sudah menyatu sempurna dengan tanah "Rasanya seperti akan mati." Lirihnya tertawa namun tetap melangkah gontai mencari tempat persembunyian yang bisa melindunginya dari kebencian Jaehyun.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tak jauh berbeda dengan keadaan Luhan yang dipenuhi duka, keluarga Oh dan seluruh staff di rumahnya juga ikut merasakan kehilangan yang Luhan rasakan. Mereka tidak membuat suara berlebihan untuk menghormati duka yang dirasakan Luhan.

"Luhan sudah makan?"

Tuan Oh bertanya, saat ini dia dan Sehun sedang menyantap makan malam sementara paman Lee menjawab lirih seraya menunjukkan makanan yang utuh yang sama sekali tidak disentuh Luhan "Dia hanya meminum vitamin dari dokter."

Dan berbeda dengan dua pria paruh baya di meja makan, ayah dari calon bayi yang dikandung Luhan hanya diam menikmati makan malamnya, seolah tuli dan tak berniat mengatakan apapun terkait kondisi Luhan yang sedang diliputi duka.

BRAK!

Tuan Oh geram, ini memancing perhatian Sehun yang bertanya mengapa ayahnya memukul meja makan dan menatap marah padanya "Ada apa?"

"ADA APA KAU BILANG? APA KAU TULI? LUHAN TIDAK MENYENTUH MAKANANNYA!"

Sehun mengangkat malas dua pundaknya untuk memberikan pembelaan atas dirinya "Itu hal wajar, ibunya baru meninggal, jadi tidak ada satupun seorang anak yang memiliki nafsu makan saat ibunya meninggal!"

"OH SEHUN KAU-…..!"

"Aku selesai, selamat malam."

Tak mau berdebat dengan ayahnya, Sehun lebih memilih berjalan menuju kamar, diam-diam mendongak ke lantai atas berharap pintu kamar Luhan terbuka agar setidaknya Luhan tidak membuat dua orang keluarganya menatap kesal padanya dan berhenti mencemaskan dirinya.

"Ayolah! Berhenti membuatku terlihat buruk."

.

.

.

.

.

.

.

Klik…

Setelah memastikan seluruh keluarga Oh sudah tertidur, perlahan Luhan keluar dari kamarnya. Dia mengenakan mantel tebal lengkap dengan topinya, dan jika dilihat dari penampilannya yang terlihat rapi, sepertinya Luhan akan pergi ke suatu tempat sementara waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

Dia terlihat bersusah payah menuruni tangga dengan tangan yang mencengkram kuat sisi kayu di tangga yang tersedia. Menapaki satu persatu anak tangga hingga tak lama Luhan berhasil sampai ke anak tangga terakhir, lantai dasar.

Guk…Guk~

Namun sial, suara gonggongan Vivi terdengar seperti memaki dirinya, membuat Luhan terkekeh lalu dengan susah payah berjongkok seraya menahan perutnya yang terasa semakin membuncit setiap hari.

"Wae? Kau belum tidur?" katanya mengusak kepala Vivi dibalas gonggonngan kecil si anjing peliharaan "Tidak bisa tidur? Mmhh…aku juga." Lirihnya kecil seraya menghapus air matanya lagi.

Selama delapan jam Luhan berusaha menghilangkan ingatan menyedihkan tentang kematian ibunya, dia terus berpikiran positif, menyangkalnya, namun setiap kali dia menyangkal, hatinya akan bergemuruh marah karena ingin menangis namun tak diizinkan Luhan sebagai pemilik hati.

Guk..Guk…

"Ssstt…Aku baik-baik saja Vivi sayang." Katanya mengecup kepala Vivi lalu mengerling si anjing kecil "Apa kau mau menemaniku?"

Guk…

Luhan menimbang sekilas, melirik ke arah kamar Sehun untuk mencium gemas anjing kesayangan mantan kekasihnya "Baiklah, kita akan keluar menghirup udara malam, kepalaku bisa pecah jika terus berada dalam kamar. Temani aku ya."

Tak lama Luhan bertumpu di kaki kursi yang tersedia, terlihat kesulitan berdiri namun akhirnya berhasil dengan Vivi yang mengekorinya di belakang "Setelah adik bayi merasa lebih baik, kita harus segera pulang. Oke?"

Guk…!

"Anak pintar." Katanya tersenyum gemas lalu tak lama membuka pintu utama, sedikit membenarkan mantelnya lalu tak lama menggendong Vivi di pelukannya "Begini lebih baik, kita sama-sama merasa hangat."

Guk…!

"Vivi mau yoghurt? Adik bayi juga."

Dan terimakasih pada Vivi karena setidaknya Luhan memiliki teman untuk berbagi rasa sepi, dia tak tahan berada di kamarnya lebih lama. Karena selain tidak bisa menghubungi Jaehyun, dia selalu teringat wajah terakhir ibunya sebelum meninggal.

Terkadang air matanya akan terus menetes, lalu dia tertawa lirih, tak lama dia hanya diam dengan pikiran kosong, terus berulang selama delapan jam hingga sepertinya Luhan akan benar-benar mati jika membiarkan dirinya larut dalam kesedihan.

"Totalnya dua ribu won."

Luhan mengeluarkan selembar uang lalu membayar empat yoghurt untuknya dan Vivi "Ini." Ujarnya memberikan uang sementara nona penjaga swalayan memberikan empat yoghurt miliknya,

"jja. Vivi ayo kita pergi."

Setelah menggonggon kecil, Vivi mengikuti kemana Luhan pergi. Dan alih-alih memilih tempat duduk yang disediakan, Luhan lebih memilih duduk di pinggir trotoar jalan seraya menikmati pemandangan malam yang terasa semakin sepi dan dingin,

Slurrrp

"aaah~Kalian pasti senang" katanya berbicara pada dua putranya sebelum beralih pada Vivi "Kau juga terlihat senang." Timpalnya mengusap kepala Vivi lalu membiarkan si anjing kecil menyesap yoghurt yang sengaja Luhan letakkan di mangkuk kecil.

"Sepertinya semua orang bahagia."

Luhan menatap iri pada sepasang suami istri yang sedang bercengkrama di jalan, keduanya tertawa begitu bahagia dengan calon bayi yang sedang dikandung wanita tersebut. Suaminya juga terlihat beberapa kali mencium perut buncit istrinya, hal yang tak pernah dilakukan Sehun bahkan saat usia kandungannya hampir menginjak bulan ketujuh.

Haah~ Jangankan mencium, Sehun juga tidak pernah mengusap dua putranya yang sedang berada di dalam perutnya. Bukan karena dia tidak mau, tapi Sehun benar-benar menghindari kontak fisik sekecil apapun dengan dirinya "Mianhae, nak. Ayah kalian sangat mencintai kalian, hanya itu yang perlu kalian tahu." Ujarnya mengingatkan dibalas gonggongan kecil dari Vivi

"ya, ya, Sehun juga menyayangimu anjing kecil. Jangan iri pada dua adikmu nanti," katanya terkekeh lalu tak lama Luhan melihat lagi adegan yang menyayat hatinya saat ini.

Adegan dimana seorang ibu sedang membagikan yoghurt pada ketiga putranya. Yang satu terlihat tidak peduli sementara dua yang lain terus memperebutkan satu jatah yoghurt yang tersisa.

"HYUNG ITU MILIKKU!"

"ANIYA! Ini milikku! Bweekk.."

"EOMMA!"

"aigoo, Putra sulung dan bungsuku kenapa begitu kekanakan? Sini berikan pada eomma!"

"EOMMA / EOMMA!"

Dan sepertinya si sulung serta si bungsu harus merelakan Yoghurt terakhir mereka karena sang ibu lebih memilih memberikan pada si anak nomor dua. "Kenapa terasa familiar."

Luhan tertawa dengan air mata menetes, dia membiarkannya menetes kali ini. Namun saat sang ibu memeluk ketiga putranya penuh cinta, saat ini pertahanan Luhan sebagai seorang anak, sebagai seorang kakak, hilang bersama rasa iri yang begitu ingin dirasakannya juga sama seperti ketiga anak kecil di depannya. "Eomma mencintai kalian semua, tumbuhlah dengan baik, hmm?"

"NDE EOMMAA…"

"eomma."

Luhan ikut memanggil ibunya, yang membedakan tak ada lagi yang akan menjawab "Apa Lulu sayang?" karena semua itu hanya tinggal kenangan untuk Luhan "hkss…"

Akhirnya, setelah hampir sepuluh jam berlalu, ini adalah kali pertama Luhan membiarkan dirinya terisak. Di pinggir trotoar dengan kepala tersembunyi di antara dua lutut dan Vivi yang menatapnya bingung Luhan sedang menangis tersedu.

Sekelebat ingatan tentang pertengkarannya dengan sang ibu adalah yang paling menyiksa, lalu kemudian ibunya bertemu Jaehyun dan mulai banyak tersenyum seperti yang Luhan kenal. Semua itu adalah kenangan yang paling indah sekaligus menyayat hatinya.

Kenyataan bahwa terkadang ibunya hanya mencintai Jaehyun membuat Luhan marah, namun kemudian ibunya datang dan mengatakan "cinta ibu untuk kalian sama besar, jadi jangan menyiksa dirimu dengan pikiran ibu membuangmu nak, ibu tidak akan bisa hidup tanpamu, tanpa kalian."

"rrrhhh…"

Luhan meremat kencang dadanya, masih dengan wajah tersembunyi dia menangis bebas. Rasanya sesak sekaligus melelahkan, terlalu lelah hingga rasanya dia tidak bernafas.

"eommarrrhh.."

"Aku juga hancur sepertimu saat ibuku meninggal. Jadi menangislah, itu adalah hal wajar."

Namun saat suara berat yang selalu membuatnya tenang terdengar, Luhan bisa bernafas dengan baik untuk sesaat.

Perlahan Luhan mengangkat wajahnya, pandangannya buram untuk sesaat, sampai sosok ayah dari dua putranya terlihat sedang berjongkok di depannya, tidak tersenyum, tapi menatapnya cukup hangat dan Luhan menyukainya.

"Se-Sehun?"

"eoh."

"kenapa….Kenapa kau disini?"

"Tidak boleh?"

"ani, Hanya saja…."

"Aku mencari Vivi."

"ah…." Luhan terlihat kecewa sampai Sehun kembali mengatakan "Dengan mengikutimu."

"huh?"

"Aku disana saat kau menyusup keluar secara diam-diam."

"Lalu kau membiarkan Vivi mendekatiku?"

Sehun terkekeh sementara Luhan menghapus air matanya. Yang terlihat sangat tampan hanya mengusap gemas anjung kecilnya untuk mengatakan "Vivi itu keras kepala. Jadi saat dia ingin pergi, tidak ada yang bisa mencegahnya."

"…"

Daripada mendeskripsikan Vivi, Sehun lebih terdengar menyindirnya hingga membuat Luhan diam tak mau mengeluarkan satu kalimat yang bisa memancing kemarahan Sehun. Keduanya kini hanya berjongkok saling berhadapan sampai akhirnya Sehun berdiri dengan Vivi yang berada di pelukannya.

"Jadi sudah selesai?"

Luhan mendongak, menatap Sehun lalu bertanya "Apa?"

"Apa kau sudah selesai menangis?"

"entahlah. Setiap aku sendiri aku pasti akan menangis walau tidak ingin."

"well, Aku sudah bilang itu hal wajar."

Luhan tertawa kecil sebagai ucapan terimakasih untuk pengertian Sehun "Gomawo."

"Hanya saja waktunya tidak tepat."

"huh?"

Luhan mendongak lagi, kali ini dia mendapati tangan Sehun terulur, seolah memberikan bantuan untuknya. Dan Luhan…..Luhan sangat tergoda untuk menyambut uluran tangan dari ayah calon bayinya yang terasa begitu hangat dan bisa melindunginya dari segala hal yang membuatnya takut.

"Waktumu menangis tidak tepat. Ini sudah sangat malam dan kau berada di pinggir jalan. Jadi rasanya aku harus segera membawamu pulang."

"Wae?"

"Karena dua putraku, anjing kecilku. Mereka kedinginan jika kau terus menangis disini."

"ah…."

Luhan tersenyum pahit, selamanya dia tidak akan pernah menjadi alasan Sehun untuk merasa cemas, jadi saat namanya tidak menjadi alasan Sehun, dia hanya tersenyum kecil namun tetap membalas uluran tangan ayah dari calon bayinya.

"Baiklah, kita pulang."

Tak lama jari mereka bertautan erat, dan seperti saat mereka bersama, Sehun memberikan kenyamanan dan kehangatan luar biasa walau hanya dengan jemarinya.

"Sehunna."

"hmh?"

Luhan bisa merasakan bagaimana jari-jari mereka saling bertautan erat seolah tak ingin dipisahkan. Membuat hatinya yang sedari tadi resah tiba-tiba menjadi tenang hanya karena Sehun menuntunnya kembali kerumah, ke tempat yang bisa membuatnya merasa lebih baik.

"Gomawo."

Sehun tertawa kecil, lebih seperti tawa sarkas untuk Luhan, tapi kemudian perbedaan jemari mereka membuat Sehun harus repot-repot menautkan lebih erat jika tak ingin jemari mereka terlepas.

"Tidak perlu, aku melakukannya untuk kedua putraku, bukan untukmu."

Luhan menatap ke arah berlawanan, diam-diam mengusap air mata penolakan yang diberikan Sehun untuk mengangguk seraya mengatakan "Aku tahu."

.

.

.

.

.

Klik…

Dan setelah Sehun membawanya masuk ke dalam rumah, disaat yang sama pula Luhan harus merelakan jemari yang membuatnya merasa aman terlepas dari tangannya.

Dia tersenyum kecil sementara Sehun sibuk meletakkan Vivi ke dalam kandangnya, tak ada yang berbicara sampai Luhan lebih dulu memecah kecanggungan "Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku."

"mmhh…Selamat malam."

"Selamat malam Sehun."

Setelahnya dia berjalan menuju anak tangga, berniat melangkah sampai lagi-lagi tangan Sehun terasa memegang kuat lengannya, tidak mencengkram, hanya seperti mencegah agar dirinya tidak berjalan pergi.

"Ada apa?"

"…"

"Sehun?"

"…"

"Apa aku melakukan kesalahan?"

"Tidak."

"Lalu apa?"

Sehun hanya diam menatap Luhan, terlalu dalam sampai akhirnya dia mengatakan hal yang tidak semestinya dia katakan pada Luhan, mantan kekasihnya.

"Malam ini tidurlah di kamarku."

"huh?"

"Aku harus memastikan kau tidak berkeliaran lagi di tengah malam."

"Aku tidak akan pergi lagi."

"Aku tidak bisa mempercayaimu, bisa saja kau pergi tanpa persetujuanku lagi, bisa saja kau pergi meninggalkan aku sama seperti kau meninggalkan aku di hari pernikahan kita."

"Sehun…."

"Jangan buat aku membentakmu! Tidurlah di kamarku malam ini." Katanya menggengam tangan Luhan, membawa Luhan ke dalam kamarnya lalu tak lama memberi perintah "Kau bisa berbaring disana."

"Lalu bagaimana denganmu?"

"Aku akan tidur di sofa."

Luhan tertawa kesal lalu mengatakan dengan tegas "Ini kamarmu, kenapa bukan aku yang tidur di sofa?"

"Itu karena kau mengandung anakku!"

"Kalau begitu biarkan aku tidur di kamarku sendiri! Jadi kau tidak perlu menyiksa dirimu dengan-…."

"FINE! Aku juga akan tidur di tempat tidur ini, jadi cepat berbaring agar kita bisa mengakhiri malam mengerikan ini!"

Luhan ragu, awalnya dia tidak ingin berbaring, tapi saat Sehun lebih dulu berbaring maka dia tidak memiliki alasan lain untuk menolak diberi perlindungan dan kenyamanan dengan berbaring disamping pria yang begitu dicintainya mala mini.

"Maaf mengganggumu."

Sehun berbaring dengan memberikan punggung pada Luhan, dia hanya melirik sekilas lalu tersenyum puas saat Luhan mulai menarik selimut. Tak ada yang berbicara, kecanggungan dan rasa panas juga mulai menyelimuti kamar yang dilengkapi dengan dua alat pendingin yang tersedia.

"Sehunna."

Dan untuk melepas rasa canggungnya, Luhan mencoba berbicara dengan Sehun. Menatap punggung sempurna yang kini disajikan secara gratis untuknya seraya membuat gerakan mengusap berharap suatu saat nanti Sehun akan menatapnya bukan memberikan punggungnya yang terasa dingin.

"Sekali lagi, terimakasih."

"Aku bilang tidak perlu."

"ara, Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih."

"Terserahmu saja. Selamat malam."

Luhan tersenyum, mencoba memejamkan matanya lalu membalas ucapan selamat malam dari Sehun "Selamat malam Sehun."

Setelahnya dia benar-benar mencoba tertidur, melupakan hari yang begitu berat untuk dilalui namun terimakasih pada Sehun, karena membuatnya menjadi sedikit lebih mudah di beberapa jam terakhir.

"Apa kau baik-baik saja?"

"…"

"Luhan?"

Sehun bertanya, namun tak ada jawaban dari Luhan, tentu saja Luhan tidak menjawab karena saat ini ibu dari dua anaknya sudah tertidur setelah mengalami hari yang begitu berat.

Diam-diam Sehun membalikan tubuhnya, menatap tak berkedip wajah sempurna Luhan bahkan saat dia memejamkan mata hanya untuk membuat gerakan mengusap tanpa menyentuh wajah mantan kekasihnya.

"Seandainya kau tidak pergi di hari pernikahan kita….." katanya parau diiringi setetes air mata yang jatuh membasahi wajahnya "Mungkin aku sedang memelukmu erat saat ini." Katanya tersenyum pahit sebelum ikut memejamkan matan untuk mengatakan "Aku turut berduka untukmu Luhan." Katanya memejamkan mata dan dengan berat hati mengucapkan salam perpisahannya untuk ibu Luhan.

"Beristirahatlah dengan tenang, eomoni. Entah aku bisa menjaga putramu atau tidak, tapi yang jelas aku akan menjaga cucumu dengan baik, aku janji."

.

.

.

.


.

tobecontinued…

.


.

Much love, Inget, no galau2 berlebihan, jaga hati biar ga nyir2 mulu kkk~

.

.

maap yang nunggu sampe malem2 gini, yunowlah gue kalong, inspirasi numpuk diatas jam 8 :"" gue juga gatau kenapa begitu terus ..pfft/

.

yowish,...

See you, di From Idol to Lover Part II yosh!

.