Previous
"Apa kau baik-baik saja?"
"…"
"Luhan?"
Sehun bertanya, namun tak ada jawaban dari Luhan, tentu saja Luhan tidak menjawab karena saat ini ibu dari dua anaknya sudah tertidur setelah mengalami hari yang begitu berat.
Diam-diam Sehun membalikan tubuhnya, menatap tak berkedip wajah sempurna Luhan bahkan saat dia memejamkan mata hanya untuk membuat gerakan mengusap tanpa menyentuh wajah mantan kekasihnya.
"Seandainya kau tidak pergi di hari pernikahan kita….." katanya parau diiringi setetes air mata yang jatuh membasahi wajahnya "Mungkin aku sedang memelukmu erat saat ini." Katanya tersenyum pahit sebelum ikut memejamkan matan untuk mengatakan "Aku turut berduka untukmu Luhan." Katanya memejamkan mata dan dengan berat hati mengucapkan salam perpisahannya untuk ibu Luhan.
"Beristirahatlah dengan tenang, eomoni. Entah aku bisa menjaga putramu atau tidak, tapi yang jelas aku akan menjaga cucumu dengan baik, aku janji."
.
.
.
.
.
.
A' Friends Betrayal
Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo
Genre : Drama
Rate : M / NC!/
.
.
Be patient and though,
Someday this pain will be useful to you
.
.
.
.
Klik…!
"Luhan, sarapan sudah menunggu. Cepat bangun dan bersiap-….."
Yang berbicara memiliki warna kulit sedikit tan namun tak terlalu gelap. Tingginya hampir menyamai satu-satunya putra di keluarga Oh namun dengan taraf ketampanan yang jauh dibawah si tuan muda, tentu saja.
Dia selalu memakai kemeja putih lengkap dengan dasi kupu-kupu hitam yang dipadu sempurna menggunakan jas hitam, terlihat sangat elegan, setidaknya itu yang dikatakan Luhan saat kali pertama mereka bertemu.
"oh tidak….Luhan? Kau dimana?"
Hampir seumur hidupnya dia bekerja untuk melayani dua generasi berbeda dari keluarga Oh. Si tuan besar dan si tuan muda. Namun sesuatu terjadi tiga bulan yang lalu hingga tugasnya berubah dari melindungi dua bayi besar menjadi melindungi bayi sesungguhnya dengan ibu seperti malaikat yang merupakan mantan kekasih si tuan muda, begitulah.
"Luhan?"
Tugasnya sederhana, penuhi kebutuhan Luhan dan si calon bayi selama berada di kandungan, pastikan Luhan memakan makanan bergizi, melakukan aktifitas yang bisa membantu persalinan serta jadwal kontrol kunjungan bayi yang tersusun rapi dan sempurna. Begitulah perintah mutlak yang diberikan si tuan besar padanya.
Semua sudah di lakukan pria berusia sekitar lima puluh tahun yang kerap di panggil Lee, ya, selama tiga bulan ini tugasnya menjadi mudah. Dia akan pergi membangunkan Luhan, mengajaknya sarapan sebelum si tuan muda berhati monster keluar dari kamar untuk mendapatkan sarapannya, buru-buru dia akan membawa Luhan lagi kekamar, karena pastilah si monster akan berteriak marah jika melihat ibu dari calon bayinya berada di meja makan yang sama dengannya.
Gila memang, tapi semua itu sudah berjalan dengan baik selama tiga bulan. Kecuali pagi ini, sesuatu jelas terjadi. Biasanya Luhan akan menunggunya di tempat tidur, entah itu membaca, membuat rajutan atau bermain ponsel, Luhan hanya akan menunggunya dengan tenang.
Berbeda dengan pagi ini, dia menemukan tempat tidur Luhan sangat rapi, tidak, ini terlalu rapi seperti menunjukkan bahwa malam tadi Luhan tidak tidur di kamarnya.
"Tunggu, Luhan tidak tidur dikamarnya? Lalu dimana dia-…."
Buru-buru si kepala pengurus rumah tangga mendekati kamar mandi, mengetuk pada awalnya, lalu tak lama membuka kasar untuk dibuat lemas karena kamar mandi juga terlalu rapih seperti tidak berpenghuni.
"astaga…Luhan kau dimana? Luhan….. TUAN BESAR LUHAN MENGHILANG!"
Dia pun berteriak heboh, berlari menuruni tangga untuk segera menghadap kepada pimpinan tertinggi di rumah tempatnya tinggal selama puluhan tahuN "TUAN!"
"Ada apa? Kenapa kau terus berteriak? Dimana Luhan?"
"anu, Luhan dia-….dia…"
"Bicara yang jelas."
Sang pengurus segera mengambil banyak nafasnya, sesaat dia memejamkan mata lalu berteriak terlalu kencang, mengatakan bahwa "LUHAN MENGHILANG ENTAH KEMANA!"
"ah, Jadi Luhan….." sekejap setelah dia menyesap teh hangat favoritnya sang pemilik rumah tertohok, menyadari ada kalimat janggal yang tak pernah didengarnya selama tiga bulan untuk membulat dan menatap marah pada sang pengurus rumah tangga "MWO? APA KAU BILANG?"
"Akumasukedalamkamar-…."
"BICARA YANG JELAS!"
"haah~"
Rasanya inilah akhir dirinya mengabdi pada keluarga besar Oh. Rasanya pula, untuk kali pertama setelah hampir tiga puluh tahun berlalu. Ini adalah pertama kali sang tuan besar menggeram dan berteriak sangat murka padanya.
Apapun, Apapun masalah sebelumnya yang terjadi di kediaman Oh, tak pernah sekalipun dia dibentak. Berbeda dengan pagi ini, saat dimana dia mengatakan Luhan menghilang, maka rasanya akhir dari pekerjaan yang sudah digelutinya selama puluhan tahun sedang menyapa dan melambaikan tangan untuk disambut.
"Luhan menghilang….HUWAAA LUHAN KAU DIMANA?"
Tatkala tongkat sang tuan besar sudah mengayun siap memukul, dia harus dibuat terkejut karena reaksi berlebihan dari asistennya, ya, terang saja dia terkejut. Karena saat ini, didepan kedua mata Tuan Oh, Pengurus Lee sedang duduk di lantai dan meraung layaknya bayi yang ditinggalkan sang ibu.
Sontak pemadangan itu memancing rasa sedih di sudut hati si tuan rumah. Dia pun turut duduk disamping sang asisten lalu ikut meraung, merengek bahkan saling memeluk erat, seraya berteriak "LUHAAANN DIMANA KAU…" selama beberapa menit, dengan air mata yang tak kunjung menetes karena mereka memang tidak ingin menangis, hanya ingin merengek seperti bocah.
"BAGAIAMANA JIKA AKU KEHILANGAN CUCUKU DAN IBUNYA, LEE? HUWAAA….LUHAN!"
"AKU TIDAK AKAN MEMAAFKAN DIRIKU JIKA SAMPAI HAL BURUK TERJADI PADA LUHAN!"
"KAU BENAR! AKU AKAN MEMAKSAMU MENENGGAK SIANIDA."
"Ya, aku akan menenggak—MWO?"
Klik
Beruntung salah satu kamar utama di kediaman Oh terbuka, menampilkan si tuan muda yang terlihat luar biasa tampan dengan kemeja hitam tengah mengancingkan lengan kemejanya dengan santai.
Ya, beruntung Sehun keluar dari kamarnya, jika tidak mungkin perdebatan nyaris terjadi lagi diantara majikan dan sang asisten yang sudah siap bertengkar seharian penuh.
"SEHUNNAAA."
"Ada apa? Kalian bertengkar?"
Entah apa yang dilakukan paman dan ayahnya di lantai, keduanya saling berpelukan erat dengan berbagai wajah yang bisa ditangkap kedua matanya, jika sang paman terlihat ketakutan namun sedih, ayahnya akan terlihat sedih walau wajahnya terlihat marah.
"LUHAAAN—HUWAAA…!"
"Luhan?"
"LUHAN MENGHILANG DAN SI TUA BODOH LEE BARU MENYADARINYA PAGI INI."
"Aku tidak tua, kau yang tua tuan besar!"
"ISH! DIAM KAU!" katanya mendelik pada Lee, lalu beralih lagi pada Sehun "SEHUN BAGAIMANA INI? LUHAN MENGHILANG DAN TIDAK BERADA DI KAMARNYA."
Sehun diam untuk sesaat, matanya menatap mata sang ayah sampai respon "Oh." Keluar dari bibir tajamnya, memancing kemarahan dua pria paruh baya yang masing-masing kini berdiri dari lantai.
"Apa maksudmu dengan Oh?"
"Apa? aku hanya memberikan respon."
"APA KAU IDIOT? BAYIMU DAN IBUNYA MENGHILANG? APA TIDAK ADA RASA KHAWATIR SEDIKITPUN YANG KAU RASAKAN?"
Sehun mengancingkan lengan kemeja yang lain, mengangkat asal bahunya lalu menjawab lagi terlampau santai "Apa yang harus aku khawatirkan? Dia baik-…"
"KAU KETERLALUAN OH SEHUN!"
Biasanya Sehun akan terbiasa dengan teriakan murka ayahnya, namun pagi ini berbeda, bukan ayahnya yang berteriak, melainkan paman Lee. Dan tak hanya berteriak, sang paman bahkan berjalan menghampirinya, mencengkram kemeja hitamnya dengan posisi tangan terkepal siap menghantam wajahnya.
"Lee."
"Wae? Paman ingin memukulku? Lakukan!"
"Kau….!"
Cengkraman paman Lee menguat di kemeja Sehun, sesaat dia menoleh ke belakang, menatap si tuan besar seolah meminta izin untuk memberi pelajaran pada satu-satunya darah daging yang dimilikinya di dunia ini.
"Apa? Aku kenapa? Apa yang aku lakukan?"
"AYAHMU DAN MENDIANG IBUMU TIDAK PERNAH BEGITU JAHAT PADA HIDUP SESEORANG! Tapi kenapa kau-…..KENAPA KAU SANGAT MENGERIKAN?"
"YA! AKU SANGAT MENGERIKAN DAN AKU MENYUKAINYA! PAMAN PUAS?"
"OH SEHUN-…."
Tatkala pukulan tangan paman Lee nyaris mengenai wajah Sehun, disaat yang sama pula pintu kamar Sehun kembali terbuka. Dua pasang mata milik paman Lee dan Tuan Oh refleks melihat ke arah kamar Sehun, bertanya-tanya siapa yang membuka kamar Sehun sampai sosok yang satu jam ini berhasil membuat tiga penghuninya bertengkar hebat tengah berdiri menatap ketiganya seolah memohon untuk tidak bertengkar dan terlihat pucat karena dia pasti sangat ketakutan.
"Lu-Luhan?"
Buru-buru Luhan mendekati paman Lee dan Sehun, memberi jarak pada keduanya lalu membungkuk menyapa dua pria tertua di kediaman Oh "Selamat pagi paman, selamat pagi aboji. Maaf membuat kalian cemas, tapi aku baik-baik saja."
Kini ayah Sehun yang berjalan tertatih menggunakan tongkatnya, mendekati Luhan lalu menarik kasar lengan ibu dari calon cucunya "Syukurlah nak! Syukurlah kau masih berada di rumah. Ayah cemas sekali."
"Maaf, membuat ayah khawatir."
"Sudahlah, yang terpenting kau ada di rumah. Ayo kita sarapan. Kau harus makan sesuatu Luhan."
"n-nde…"
"Lee, siapkan makanan untuk Luhan. Dan Sehun! Baiknya kau minta maaf pada pamanmu. Bicaramu terlalu kasar!"
Setelahnya Tuan Oh meninggalkan Paman Lee berdua dengan putranya, dan selama hampir tiga puluh tahun hidupnya, ini adalah kali pertama Sehun dan paman Lee benar-benar pada situasi bertengkar karena emosi, keduanya bahkan terlihat canggung sampai paman Lee lebih dulu membuka suara.
"Tuan muda, ummh…"
"Wae? Menyesal membentakku?"
"Bukan seperti itu, kenapa kau tidak mengatakan jika Luhan berada di kamarmu?"
"Untuk apa? Sudahlah, kembalikan milkku."
"Apa?"
Paman Lee bertanya-tanya mengapa Sehun meminta sesuatu darinya, berfikir keras apa yang telah Sehun berikan padanya sampai tak lama dua mata si pria paruh baya membulat menyadari apa yang baru saja dipinjamkan sang tuan muda padanya "eyy…Kau baru memberikan credit cardmu kemarin sore, aku bahkan belum memakainya."
"Cepat kembalikan, aku tidak memberikan credit card pada seseorang yang hampir memukul wajah tampanku."
"Tuan muda, maafkan aku ya? ya? Ya?"
"Cepaaat….."
Dengan berat hati, sang paman mengeluarkan dompetnya, mengembalikan credit card milik sang tuan muda untuk merutuki dirinya sendiri karena nyaris melakukan hal gila "Maafkan aku ya…" katanya masih mempertahankan credit card Sehun sampai si tuan muda tak sabar dan merebut paksa kartu miliknya.
"astaga!"
Paman Lee terkejut sementara Sehun memasukkan tanpa rasa bersalah kartu yang telah diberikan pada paman Lee sebagai hadiah karena telah menjaga bayinya dengan baik. Seelahnya, dia menatap kesal pada sang paman untuk mengatakan "Aku lapar, cepat siapkan sarapan." Ujarnya ketus lalu menyusul ayahnya dan Luhan yang kini sudah berada di meja makan.
"Ish monster gila! Aku dengan senang hati mencekikmu jika ada kesempatan."
"AKU DENGAR APA YANG KAU KATAKAN PAMAN! CEPAT SARAPAN KAMI!"
Tubuh paman Lee berdiri tegap setengah gugup untuk menjawab dengan lantang "YA TUAN MUDA! SEGERA DATANG!"
Setidaknya paman Lee tidak merasa bersalah, itu tujuan Sehun mengambil credit card nya. Dia hanya tidak ingin hubungannya dengan sang paman berakhir buruk hanya karena orang asing yang sialnya sedang mengandung calon darah dagingnya dan tengah dibombardir seribu pertanyaan "Bagaimana bisa kau berakhir tidur di kamar Sehun?" oleh ayahnya.
"mmhh….Malam tadi aku merasa lapar dan mencari yoghurt, tak lama Sehun menyusul dan menjemputku pulang. Aku sudah akan kembali ke kamar sampai Sehun memintaku tidur di kamarnya."
"Kau yakin bocah itu memintamu dengan baik? Apa dia tidak memaksamu? Apa dia menyakitimu?"
"Tidak tentu saja. Sehun tidak menyakitiku. Dia benar-benar melakukannya dengan lembut."
Tuan Oh mulai berfikir keras, rasanya tidak akan semudah ini putranya berubah sikap. Tapi mengingat Luhan sedang dalam keadaan berduka rasanya masuk akal jika putranya berniat untuk menghibur "Mungkinkah Sehun sudah mulai membuka hatinya lagi padamu?"
"huh?"
"Anak itu tidak mudah memaafkan seseorang yang menyakiti hatinya. Jadi, ayah berfikir mungkin Sehun-….."
"Pikiran ayah tidak masuk akal dan sangat berlebihan. Hanya itu!"
Percakapan Luhan dan Tuan Oh terhenti tepat setelah suara Sehun terdengar menyela. Di dengar dari suaranya dia jelas kesal, lalu sikap dinginnya kembali terlihat maka bisa dipastikan dia benar-benar kesal.
"Kenapa pikiran ayah tidak masuk akal?"
"Ya, untuk apa aku membuka hatiku pada seseorang yang telah menyakitinya terlalu dalam? Apa aku terlihat sudah gila? Atau mungkin ayah ingin melihatku mati."
"Sehun…."
Luhan bergerak resah sementara mata Sehun dan ayahnya bertatapan tajam, keduanya tak ada yang mengalah sampai paman Lee datang menginterupsi dengan meletakkan piring di masing-masing meja tempat ketiganya duduk
"Bisakah kalian bertengkar di lain waktu? Luhan pasti sedih melihat kalian bertengkar!"
"Paman bahkan nyaris memukul wajahku sepuluh menit yang lalu. Lalu kenapa kami harus bertengkar karena nyatanya kehadiran Luhan memang membuat hubungan kita menjadi sangat buruk!"
"Whoa daebak….Mulut anda benar-benar jahat tuan muda!"
"Ya terserah kalian ingin mengatakan apa padaku."
"Anak sialan! Apa ayah pernah mengajarkanmu berbicara kasar dan menyakiti hati seseorang? Kau memang mengerikan nak."
"Ya, katakan apa yang ingin ayah katakan aku tidak peduli!"
"KAU-….."
"Ayah, sudahlah. Kita sarapan ya? Jangan bertengkar lagi, kumohon."
Perlahan tangan yang sudah terlihat rapuh itu berhenti mengepal. Luhan mengusapnya lembut, memastikan bahwa dia baik-baik saja walau seluruh hatinya hancur mendengar ucapan Sehun yang terdengar keji dan kasar untuknya.
"Kau baik-baik saja?"
"ya, YA! Aku baik-baik saja! Aku akan makan lebih dulu."
Luhan sengaja memotong steak dalam potongan besar, melahapnya rakus hingga memenuhi mulutnya agar Tuan Oh percaya jika dia baik-baik saja "mmhh…Ini enak sekali, aku menyukainya."
"Pelan-pelan nak, kau bisa tersedak."
Luhan menghiraukan nasihat ayah Sehun untuk terus melahap daging dalam potongan besar "Ini sangat enak aboji, Paman kau yang ter-mmhh-baik." Katanya dengan mulut penuh daging dibalas sindiran oleh Sehun "tsk! kau benar-benar menyedihkan Luhan!"
Luhan mengabaikan apapun yang dikatakan Sehun, yang dia lakukan hanya menghabiskan makanan lalu bersembunyi di kamarnya, seperti biasa.
"Paman Lee."
Malas menanggapi sang tuan muda, paman Lee hanya menjawab "Ada apa?"
"Bereskan barang-barang Luhan."
Luhan berhenti mengunyah, kini dia mengambil segelas air di sisi kanan mejanya seolah bersiap untuk kemungkinan terburuk Sehun memintanya pergi dari rumah.
"Apa yang anda katakan tuan muda? Kenapa aku harus membereskan barang-barang Luhan."
Seraya mengunyah daging miliknya, Sehun menjawab terlalu santai "Mulai hari ini Luhan akan tidur dikamarku, bersamaku."
Uhuk…!
"Sehun.."
Luhan tersedak, wajah Tuan Oh dan paman Lee bertanya-tanya sementara si tuan muda hanya fokus pada daging lezatnya saat ini "Apa yang kau katakan nak?"
"Ayah mendengarnya, mulai hari ini Luhan tidur di kamarku?"
"Tapi kenapa? Kau bilang-…."
"ayolah! Jangan salah paham padaku."
"Apa?"
"Alasan mengapa aku memintanya tidur denganku malam tadi adalah karena aku ingin memastikan Luhan tidak melarikan diri."
"Sehun…" Tuan Oh memperingatkan namun Sehun terus mengatakan hal gila bahkan disaat Luhan dalam keadaan berduka atas kematian ibunya
"Well, ayah pasti tahu keahliannya adalah melarikan diri disaat dia terdesak atau merasa sedih."
"OH SEHUN!"
"sial! Kenapa ayah terus berteriak?"
Sehun kesal, diletakkanya kasar pisau dan garpu secara bersamaan untuk mengambil tas dan jas kerjanya di ruang santai "Aku hanya memastikan dia tidak melarikan diri dan membawa cucumu pergi selamanya, hanya itu!"
"OH SEHUN JAGA BICARAMU ATAU-…."
BLAM!
Suara pintu dibanting adalah hal yang terakhir Luhan lihat sebelum tersenyum lirih menikmati kemarahan Sehun. "haah~" Tak lama dia juga mendorong kursi meja makannya lalu bergegas mengambil mantel dan tas kecilnya "Aku juga ingin pergi melihat adikku aboji, paman Lee."
"Biar aku antar Lu-…"
"TIDAK-….maksudku, aku ingin sendiri. Aku butuh waktuku sendiri."
Ragu, Paman Lee menatap meminta izin pada majikannya. Setelah Tuan Oh mengangguk dia pun memegang pundak Luhan seolah menguatkan ibu dari calon bayi yang akan dia anggap seperti cucunya sendiri "Sehun memang keji, maafkan dia ya?"
"Tidak paman, Sehun terus berbicara kasar hanya untuk melindungi hatinya yang terluka. Aku mengerti, sangat mengerti jadi aku rasa aku akan menetap di flat rumahku malam ini. Aku ingin menemani adikku. Bolehkah? Aboji?"
Awalnya Tuan Oh merasa ragu, tapi saat mata Luhan menatapnya sangat berharap, sang tuan rumah tak memiliki alasan untuk menolak mengingat hati Luhan dalam keadaan berduka dan ditambah luka dari ucapan putranya "Baiklah, hanya malam ini kau bisa menetap di flat mu."
Luhan mengangguk, wajahnya juga tersenyum senang seraya membungkuk mengucapkan terimakasih "Gomawo aboji, aku akan kembali besok. Selamat malam." Katanya berpamitan dan tak lama menghilang dari pandangan dua pria paruh baya yang sudah benar-benar jatuh cinta padanya.
"Tuan, Luhan akan baik-baik saja kan?"
Baru tiga detik Luhan meninggalkan rumah, rasanya si pemilik sudah kesepian. Terlebih saat pengurusnya bertanya apakah Luhan baik-baik saja sontak hatinya memberontak, ingin mengatakan tidak tapi kemudian tangan Tuan Oh terkepal, seolah meyakinkan dirinya sendiri "Tentu, Luhan akan baik-baik saja, dia harus baik-baik saja."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi bagaimana Jaehyun? Apa kau mendapatkan kabar darinya?"
"eoh! Jaehyun bersama dengan keluarga pembalapnya Lu, Taeyong bilang dia sudah lebih baik walau masih sangat terpukul."
"Benarkah? Apa aku bisa datang menemuinya?"
"Jangan hari ini, beri dia sedikit waktu, hmmh?"
Saat ini Luhan berada di kafe yang biasa dia datangi disaat dirinya penat dengan segala tugasnya sebagai seorang Manager pencari bakat. Menyesap strawberry milkshake yang sengaja dia pesan sementara ponselnya sedang terhubung dengan mantan kekasih yang kini menjadi adik iparnya "Baiklah Kai, tapi apa kau yakin Jaehyun baik-baik saja?"
"Tentu Lu, kita semua hanya butuh waktu."
"Bagaimana dengan Kyungsoo?"
"Istriku juga masih terpukul, tapi dia akan baik-baik saja."
"Baiklah."
"Kau sendiri bagaimana?"
"Apa?"
"Kau baik-baik saja?"
Seandainya dia memiliki Sehun disampingnya, Luhan pasti akan baik-baik saja. Namun sayang, Sehun mengasihaninya selama tiga jam malam tadi, selebihnya dia kembali bersikap dingin bahkan bertambah dingin beberapa jam yang lalu "Tentu Kai, aku baik." Ujarnya menghapus air mata namun tetap memberikan nada yang menyatakan dia memang baik-baik saja.
"Kalau begitu segera beristirahat. Aku rasa kau kelelahan Lu."
"mmhh…Malam nanti aku akan bermalam di flat ku."
"Wae? Apa Sehun-…."
"Aku hanya ingin waktuku sendiri Kai. Besok malam aku kembali ke rumah Sehun."
"Benarkah?"
"Ya, benar."
"Baiklah, Jika Kyungsoo sudah merasa lebih baik kami akan datang ke flat rumahmu."
"Oke, sampai nanti Kai. Aku tutup ponselnya."
"Baiklah, sampai nanti Luhan."
Pip!
"haaah~"
Luhan menghela lagi nafasnya, berusaha tenang sementara tangannya tak berhenti mengusap perut buncit yang sudah menemaninya hampir tujuh bulan ini. Terkadang dia berdebar tak sabar bertemu dengan dua malaikatnya, lalu tak lama dia akan menangis karena akan merindukan masa-masa kehamilannya seperti ini.
Tidak,
Sebenarnya Luhan menangis karena dia menyadari bahwa nanti, setelah kedua putranya lahir dia juga harus segera meninggalkan kediaman Oh. Itu artinya, dia tidak akan bertemu Sehun lagi, dia akan merindukan Sehun lagi, dan Luhan tidak menyukainya "Hey nak, apa yang harus aku lakukan?" Luhan bertanya, menghapus lagi air matanya, lalu tersenyum.
"Sudahlah, Mama tidak ingin membuat kalian cemas. Tenang saja, kita akan tetap sering bertemu." Ujarnya senang seraya mengusap sayang perutnya "Sekarang biar Mama tunjukkan sesuatu, kalian lihat gedung besar yang ada disana."
Luhan mengerling perut buncitnya lalu dengan bangga mengatakan "Dulu mama bekerja disana, bersama Papa kalian. Kami bertemu disana, jatuh cinta disana. Aah, indah sekali bukan—rrhh~"
Luhan mengerang kecil saat dua bayinya menendang bersamaan, ucapannya terhenti dalam satu tendangan lalu dia tertawa menyadari bahwa dua bayinya sedang tidak dalam mood mendengarkan cerita cinta miliknya "awh, Kalian benar-benar seperti ayah kalian—rrhh."
Dia mengerang lagi, lalu mengalah mengetahui yang diinginkan bayinya saat ini hanya berbaring di tempat tidur seraya mengusap mereka di dalam perut "araseo araseo…Kita pulang nak, Mama juga lelah." katanya menyesap strawberry milkshake untuk kali terakhir sebelum bergegas meninggalkan kafe.
Tring~
Tak lama Luhan membuka pintu seseorang juga mendorong pintu kafe. Keduanya bertemu mata untuk sama-sama menampilkan eskpresi terkejut seolah sudah tak bertemu untuk seratus tahun lamanya.
"Lu-Luhan?"
Luhan tergelak, terakhir kali dia melihat pria berlesung pipi yang sikapnya sangat cerewet dan menyebalkan adalah tujuh bulan lalu saat pernikahannya dan Sehun batal dilaksanakan. Setelahnya Luhan tak pernah datang lagi.
Jadi hari ini, Saat mereka bertemu lagi, rasanya wajar jika Luhan menitikkan air mata rindu mengingat mereka sudah mengenal untuk waktu yang sangat lama. Keduanya selalu bersaing dalam mencari bakat untuk agensi masing-masing.
Terkadang mereka juga bertengkar tentang banyak hal, dan ya, terimakasih untuk sahabatnya karena saat ini Luhan benar-benar merindukan pekerjannya.
"Ya, Kau melihat Luhan bukan melihat hantu, Manager Kim."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"SIAL! APA MEREKA AKAN TERUS BERSIKAP SEPERTI INI? AKU MEMBUAT MEREKA TERKENAL TAPI MEREKA TERUS MELAWAN PADAKU!"
"Rasanya wajar mengingat kita menyalahi kontrak kerja dengan beberapa artis pendatang baru Presdir Oh. Mereka hanya ingin debut diwaktu tepat sesuai dengan perjanjian bersama Manager Xi."
BRAK!
"Berhenti menyebut Manager Xi! Hanya pastikan berita ini tidak keluar ke publik dan membuat agensi dalam masalah! KAU DENGAR?"
Jika Luhan sedang merindukan pekerjaannya sebagai Manager pencari bakat, Sang Presdir justru sedang berada di titik jenuhnya bekerja di dunia hiburan. Karena daripada mendapatkan ucapan terimakasih dari artisnya, dia mendapat kabar menjijikan bahwa sepuluh artis yang menandantangani kontrak bersama Luhan memutuskan untuk menggugatnya perihal kontrak dan jam kerja yang tidak sesuai.
Sontak hal ini membuat amarahnya meluap, dan jangan ditanya siapa yang menjadi imbas kemarahannya jika bukan para staff dan pimpinan tertinggi dari masing-masing divisi.
"Baik Presdir Oh, kami akan memanggil Manager Kim selaku pengganti dari Manager Xi. kiranya dia bisa membujuk para trainee yang menandatangani kontrak bersama Manager Xi."
"Terserah! Lakukan apa yang-…."
BRAK!
Habis sudah kesabaran Sehun siang ini. Dia sudah mencoba bersabar untuk waktu yang lama, pagi hari dia sudah bertengkar dengan paman dan ayahnya, siang hari dia mendapat kabar akan tuntutan yang diterima agensi lalu saat ini seseorang menabrak pundaknya hingga dokumen yang sedang dipelajarinya terjatuh begitu saja.
"Ah Maaf, aku terburu-buru dan tidak melihat jalan dengan benar."
Tapi saat mendengar suara yang sedang meminta maaf padanya, bibir Sehun kelu. Semua umpatan kasar yang sudah berada di ujung bibirnya tertelan begitu saja saat menyadari bahwa pria mungil yang menabraknya adalah pria yang pernah mengisi hatinya satu tahun lalu.
"Sekali lagi maafkan aku, ini milik anda"
"Baekhyun?"
Sama seperti reaksi yang diberikan Sehun, pria cantik yang kesulitan bergerak karena sedang hamil besar itu terlihat pucat namun tak bisa menyembunyikan rasa senangnya bisa bertemu dengan pria yang dulu pernah sangat mencintainya namun dia sakiti dengan penghianatan.
Pria cantik yang kini memakai marga Park di depan namanya pun tersenyum kecil untuk menyapa mantan kekasihnya "Sehunna."
.
.
.
.
.
.
"Kau dan Chanyeol kembali? Apa kalian memutuskan untuk kembali menetap di Seoul?"
"hmmh, Begitulah. Aku tidak menyukai Paris, aku merindukan Seoul."
Saat ini Sehun membawa Baekhyun untuk beristirahat sejenak di kafe yang disediakan agensi untuk artis dan staff mereka. Dan sama seperti kebiasaan mereka saat menjadi sepasang kekasih, maka balkon di luar kafe akan menjadi pilihan utama mereka untuk berbincang dan berbicara banyak hal.
"Syukurlah, setidaknya anak kalian akan lahir disini."
Baekhyun tersenyum kikuk seraya mengusap lembut perutnya "Kau benar, anakku akan lahir disini."
"Minumlah Bee, Baekhyun maksudku."
Sehun merubah caranya memanggil nama kecil Baekhyun seperti saat mereka menjadi kekasih beberapa waktu lalu. Dan untuk menghilangkan rasa canggungnya, Sehun menyerahkan segelas milkshake pada Baekhyun lalu mengalihkan pembicaraan.
"Lalu dimana Chanyeol?"
"Dia ada di agensi miliknya."
"Begitukah? Aku akan menemuinya setelah ini. Lalu apa yang kau lakukan disini?"
Baekhyun ragu pada awalnya. Tapi jujur, sudah tiga hari semenjak dia kembali ke Seoul, namun selama tiga hari itu pula dia tidak bisa menemukan keberadaan Luhan dan itu membuatnya cemas. Dia ingin bertanya, tapi takut itu akan menyinggung perasaan Sehun mengingat kali terakhir mereka bertemu Luhan meninggalkannya begitu saja.
"Baekhyun? Kau baik-baik saja?"
"hmmh, Sehun, sebenarnya aku mencari Luhan."
"ah,"
Dan saat nama Luhan disebut, terkadang hati Sehun begitu benci namun disaat yang sama dia akan menjerit rindu. Beruntung dia memiliki wajah yang begitu datar hingga tak satupun orang termasuk Baekhyun bisa membaca isi hatinya "Kau mencari dia?"
"Ya, aku mencari Luhan. Aku ingin bertemu dengannya. Aku dengar dia sedang mengandung anakmu? Apa kalian sudah kembali bersama?"
"Aku tidak kembali pada seseorang yang meninggalkan aku Baek, tidak pernah. Kau contohnya."
"Sehun…."
Sehun tersenyum, menyadari ucapannya keterlaluan untuk menggenggam dua tangan Baekhyun "Maafkan aku, terkadang jika menyangkut Luhan aku tidak bisa menahan diri. Entahlah, aku merasa sangat marah padanya."
"Sehun apa kau masih begitu marah pada Luhan?"
"Ya, terkadang. Tapi saat dia mengandung anakku, aku rasa aku tidak peduli pada apa yang dia lakukan di masa lalu. Aku hanya fokus pada bayiku, bukan dia."
Baekhyun resah, dia membalas genggaman tangan Sehun untuk meyakinkan mantan kekasihnya "Sehun, tidak bisakah kau memaafkan Luhan. Apa kau tahu alasan mengapa Luhan pergi dari pernikahan kalian? Apa kau tahu alasan-….."
"Aku tahu."
"huh?"
"Ayahmu dan ayahnya. Mereka mengancam akan menyakiti Jaehyun dan ibu Luhan. Aku benar?"
"Sehun, aku sangat menyesal atas apa yang dilakukan ayahku, maafkan aku."
"Sudahlah Baek, itu semua sudah terjadi."
"Tapi jika kau tahu itu perbuatan ayahku dan ayah Luhan mengapa kau masih sangat marah pada Luhan?"
Sehun sangat tertekan, matanya juga terlihat berkaca-kaca namun ditutupinya lagi dengan nada marah yang terdengar begitu kecewa pada Luhan "Alasan mengapa sikapku begitu jahat pada Luhan bukan karena aku membencinya, tapi aku kecewa padanya, terlalu kecewa."
"Tapi kenapa?"
"Aku tidak marah karena dia pergi tepat di hari pernikahan kami, tapi aku kecewa karena dia tidak bisa mempercayaiku."
"Apa maksudmu?"
"Hari itu aku berjanji akan membantu Luhan menemukan ibu dan adiknya tepat setelah kami mengikat janji. Aku sudah memohon padanya dan dia setuju untuk mempercayakan ibunya padaku. Tapi kau tahu apa yang dia lakukan, dia lebih memilih melepas tanganku dan menangani masalahnya seorang diri."
"Sehun…"
Sehun menghapus cepat air matanya, tersenyum kecil lalu menatap Baekhyun dengan tatapan terluka sama seperti di hari pernikahannya saat itu "Dan jujur aku tidak bisa hidup dengan pria seperti Luhan, itu membuat kepala dan hatiku sakit karena aku mencemaskannya, aku mengkhawatirkannya tapi tidak bisa melakukan apapun karena dia tidak mempercayaiku sebagai kekasihnya, pelindungnya."
"Tapi Luhan membutuhkanmu. Aku dengar ibunya baru saja-…."
"Well, aku rasa dia baik-baik saja. Karena seperti kataku, dia bukan pria yang ingin terlihat lemah di hadapan siapapun, termasuk aku. Jadi aku rasa aku bukan seseorang yang spesial untuknya. Aku seperti adiknya, seperti mantan kekasihnya, seperti kau Baek."
"Tidak benar, Luhan akan menunjukkan sisi terpuruknya jika kau lebih-…."
"Baek sudahlah, kita baru bertemu setelah sekian lama, jadi bisakah kita tidak membicarakan Luhan?"
"Tapi aku ingin bertemu dengannya."
"Dia tinggal bersamaku, ayahku yang memintanya. Jadi aku rasa aku bisa membuatmu bertemu dengan Luhan."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Tapi tidak hari ini."
"Wae?"
"Dia masih berduka dan aku rasa dia hanya akan menangis saat melihatmu."
Baekhyun tertunduk sedih lalu mengangguk setuju dengan ucapan Sehun "Kau benar, aku akan menemuinya minggu depan."
"mmh… Temuilah dia minggu depan." Katanya menyetujui lalu mengganti cepat topik pembicaraan mereka sebelum nama Luhan kembali disebut "Omong-omong sudah berapa minggu usia kandunganmu? Terlihat sama besar dengan Luhan."
"Ini sudah minggu ke tiga puluh, aku akan melahirkan kurang dari satu bulan."
"daebak. Apa jenis kelamin bayimu?"
"Lelaki Sehunna, bagaimana dengan calon bayimu?"
Tersenyum bangga, Sehun mengatakan "Aku akan memiliki dua jagoan kecil sekaligus."
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu….
"ASTAGA XI LUHAN! AKHIRNYA AKU MENEMUKANMU! AAAAKKKHH SENANG SEKALI!"
"Jinna….Sesak—bayiku…"
"ah, adik bayi! ASTAGA PERUTMU SUDAH SANGAT BESAR LUHAN!"
Sekiranya sudah lima menit pria lesung pipi yang kerap dipanggil Manager Kim itu berteriak layaknya perempuan gila. Dan selama lima menit itu pula Luhan harus banyak mengatur nafas jika tidak ingin dua bayinya lahir di kafe dengan beberapa pasang mata yang menatap mereka saat ini.
"AKU MERINDUKANMU SAYANGKU! KAU MENYELAMATKAN AKU!"
"Jinna…"
"AAAKKHH SENANG SEKALI BERTEMU DENGANMU LAGI!"
"Jin—arh!"
Barulah saat Luhan mengerang pria bernama lengkap Kim Seokjin itu berhenti memeluk Luhan dengan erat, wajahnya terlihat sangat panik hingga Luhan dibuat tertawa melihatnya "Aku baik-baik saja."
"Tapi kau kesakitan."
"Itu karena kau terus memelukku idiot!"
"ah, masih mengumpat berarti kau baik-baik saja. Ikut aku!" Katanya terkekeh lalu sengaja menarik lengan Luhan dan memaksa Luhan kembali masuk ke dalam kafe "Hey, aku ingin pulang."
"Aku akan mengantarmu, sekarang duduk lebih dulu, ada banyak hal yang ingin kuceritakan."
Melihat raut wajah konyol Jin berubah menjadi serius adalah sesuatu yang jarang terjadi, biasanya wajah serius itu terlihat jika dia sedang dalam keadaan terdesak atau jika beberapa artisnya melakukan kesalahan. Selebihnya, Jin adalah seorang yang selalu ceria nyaris tak pernah menunjukkan bahwa dia sedang dalam kesulitan.
"Ada apa?"
"Apa kau sudah mendengar rumornya?"
"Apa?"
Jin memukulkan beberapa kali kepalanya ke meja, terlihat putus asa lalu melihat Luhan penuh harap "Aku butuh bantuanmu Lu."
"Jin kau membuatku bingung."
"Baiklah, jadi begini. Semenjak kau pergi, aku mengambil alih pekerjaanmu sampai OSH'ent menemukan manager baru."
"Jadi kau bekerja untuk dua perusahaan?"
Jin tertawa sarkas seraya menyerahkan tangannya pada Luhan, memperkenalkan diri "nde, anyeonghaseyo, Kim Seokijin Imnida. Manager and resource artis for OSH ent and JYC'ent. END"
"pffftt…hahaha~ nde! Manager Kim, Xi Luhan imnida. Pengangguran."
Mata Jin memicing tajam lalu membuang tangan Luhan yang membalas jabatannya "tsk! Lupakan! Kau ingat Jisoo, Taeil, dan beberapa trainee yang menandatangani kontrak dibawah kuasamu?"
Masih sibuk tertawa, Luhan perlahan menenangkan diri, dia mencoba fokus karena sepertinya Jin sedang fokus dan tak ingin bermain "Ya, tentu saja aku mengingat mereka, ada apa? bukankah mereka sudah debut menjadi girl dan boy band?"
"Ya. Dan sukses."
"Lalu kenapa?"
"HUWAAAAA…RASANYA AKU MAU GILA LUHAN!"
Lagi-lagi Jin meraung gila seperti bayi besar, dia mengusap kasar wajahnya lalu mengeluarkan selembar kertas dari dokumen yang dibawanya sejak awal "Ini, bacalah."
Buru-buru Luhan mengambil selembar kertas yang diberikan Jin, membacanya seksama, mempelajari isi dari selembar kertas tersebut sampai matanya membulat menyadari ada sepuluh tanda tangan penggugat dengan masing-masing nama yang begitu familiar untuk Luhan "Bukankah mereka…."
"Ya, semua trainee yang menandatangani kontrak perjanjian denganmu resmi menggugat OSH'ent. Mereka merasa dibohongi dan parahnya mereka menolak melakukan serangkaian promosi sementara debut pertama mereka dikatakan sukses besar."
"Tapi apa yang terjadi? Kenapa mereka menggugat agensi?"
"Karena di perjanjian kontrak, tertulis tahun debut mereka sekitar tahun depan setelah mereka lulus dan menyelesaikan sekolah. Kau tahu kan? Seluruh artismu bukan dari kalangan biasa, mereka termasuk siswa dan siswi berprestasi yang tidak ingin mengorbankan pendidikan mereka. Itu resiko street audition Lu, kau tahu itu."
"Lalu langkah apa yang sudah diambil Presdir Oh?"
"tsk! Presdir kebangganmu itu terus bertindak gegabah, egois dan tak berfikir! Dia selalu melimpahkan semuanya pada kami tanpa tahu bahwa semua kekacauan ini berasal darinya yang memaksakan melanggar kontrak perjanjian dengan trainee street audition. Aku sudah memohon padanya untuk berfikir ulang dan dia menolak. Lalu saat surat gugatan ini sampai di tangannya, dia hanya berteriak dan memintaku untuk membereskannya…ARGH! KEPALAKU MAU PECAH RASANYA!"
Buru-buru Luhan mengambil tangan sahabatnya, menggenggamnya erat seraya mengusap kecil sebagai tanda penyesalan. Ini semua tidak akan terjadi jika Sehun tidak dalam keadaan marah, dan jangan tanya apa penyebab kemarahan Sehun, karena pastilah dia penyebabnya.
"Jinna, Mianhae. Aku akan membantumu. Katakan apa yang harus aku lakukan."
"Kau benar-benar akan membantuku?"
"Ya tentu saja! Katakan apa yang harus aku lakukan?"
Membalas genggaman tangan Luhan, Jin mengatakan "Bicaralah pada artismu, mereka pasti akan mendengarkan Manager Xi."
Wajah Luhan memucat, tangannya berkeringat di genggaman Jin untuk bergumam "tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin Lu? Aku mohon bantu aku."
"Selain bicara dengan mereka aku bisa membantumu Jin."
"Tapi kenapa? Kau sangat dekat dengan mereka! Berbeda denganku yang tidak mengetahui apapun tentang mereka."
Luhan menggigit kecil bibirnya, bohong jika dia tidak merindukan calon artisnya, bohong jika dia tidak ingin berbicara sebagai Manager Xi. Tapi semua tidak seperti dulu, semua berbeda dan rasanya salah jika dia yang berbicara sementara dirinya tak lagi menjabar sebagai seorang Manager pencari bakat
"Aku sudah tidak bekerja sebagai Manager lagi Jin, aku bukan Manager Xi."
"oh ayolah! Sampai detik ini aku bahkan tidak menerima surat pengunduran diri atau surat pemecatan dirimu sebagai Manager OSH'ent! Dan selagi semua surat sialan itu tidak ada di arsip pegawai, kau tetaplah Manager OSH'ent."
"Tapi Jin…."
"Jebal Luhan, Jebal."
"…"
"Lu, aku mohon bicara dengan mereka, jika surat ini sampai ke pengadilan tinggi, OSH'ent akan mendapat masalah besar, artis seperti EXO dan yang lainnya tidak akan diperbolehkan mengeluarkan album atau melakukan promosi atas nama perusahaan. Ya?"
"entahlah Jin, aku takut."
"Lu, hanya bicara dengan mereka, aku yakin mereka akan mendengarkanmu."
Luhan cemas lagi, matanya mulai melihat ke segala arah dengan bibir yang menggigit rapat "Bagaimana jika Sehun tersinggung?"
"Aku tahu itu yang mengganggumu. Baiklah, bagaimana jika kita bicara di tempat tertutup tanpa satu orang pun tahu. Hanya kau, aku dan sepuluh artismu, bagaimana?"
Barulah wajah Luhan terlihat cerah dan lebih baik, yang dia butuhkan agar Sehun tidak mengetahui apa yang sedang dia lakukan pada sepuluh artisnya. Jadi ketika Jin mengatakan akan melakukannya di tempat tertutup dia pun tersenyum lega seraya mengatakan "Janji padaku kau tidak akan mengatakan apapun pada Sehun?"
Jin membuat tanda swear dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Tersenyum begitu lebar lalu bersumpah dengan mengatakan "Hanya aku, kau dan sepuluh artis keras kepalamu. Bagaimana?"
"Oke, deal!"
"YAS!"
Sementara Jin bersorak senang, Luhan lebih memilih menikmati milkshake keduanya hari ini, menyesapnya senang sementara matanya menatap rindu gedung yang dulu pernah membawa banyak cerita untuknya.
Disana dia bertemu dengan banyak orang yang memiliki berbagai macam bakat dan kemampuan di atas rata-rata. Dari mulai menari, menyanyi, akting atau menjadi produser lagu, composer sampai menjadi pelatih terjadi di satu agensi tempat dia bekerja.
Semuanya terlalu menghipnotis Luhan, dia tak mau berkedip sementara pria di depannya terus bertanya banyak hal.
"Jadi kapan bayimu lahir?"
"Sekitar dua bulan lagi." ujarnya menjawab tanpa melepas pandangannya dari gedung tempat ayah dari dua putranya bekerja.
"Baiklah adik bayi Samchoon akan memberikan satu hadiah spesial untukmu." Katanya mengusap perut Luhan dibalas kekehan dari sang ibu "Kau harus memberikan dua hadiah spesial Jin."
"Wae? Kenapa harus dua? Kenapa-…astaga, Jangan katakan jika anakmu kembar?"
Luhan tersenyum kecil, mengusap bayinya sayang lalu membenarkan lagi tebakan sahabatnya "Mereka kembar, lelaki"
"ASTAGA XI LUHAN! SATU SAJA SUDAH PASTI MENGGEMASKAN BAGAIMANA JIKA DUA? OMO OMO! PASTI DOUBLE MENGGEMASKAN."
Dan seperti biasa, Jin akan menjerit heboh, memaksa memeluk Luhan erat sementara calon ibu dari putra kembarnya kembali sesak karena pelukan sahabatnya "Jin, sesak…"
"Iya sebentar lagi, aku merindukan ibunya anak-anakku."
"tsk! Jika Sehun mendengarmu kau akan mati di tangannya."
"Siapa peduli pada monster mengerikan itu! Demi Tuhan jika dia tidak menjagamu aku akan mengambil alih dua putramu."
Entah mengapa mendengar ucapan Jin kali ini membuat Luhan merasa tenang. Setidaknya selain Tuan Oh, Kai serta Kyungsoo, dia masih memiliki sahabat yang bisa diandalkan, yang bisa membantunya menjaga dua putranya jika nanti Sehun memutuskan akan memiliki hidup baru entah dengan siapa.
Refleks, kedua tangan Luhan terangkat, melingkar membalas pelukan Jin untuk mengatakan "Gomawo Jinna." Sebagai ungkapan rasa terimakasih terdalam yang bisa dia berikan pada sahabatnya.
"Aigoo…Sepertinya Luhanku benar-benar menderita."
Kali ini Luhan terkekeh, sedikit mencibir sebelum mendorong paksa tubuh si pria yang gemar sekali makan dalam jumlah banyak "Lepas!" katanya kesal dibalas kekehan pula oleh Jin "araseo….Duduklah, habiskan milkshake milikmu, aku akan mengantarmu pulang."
Jin menarik kursi untuk Luhan, membuat Luhan tergoda untuk kembali duduk dan mengabiskan milkshake sampai
DEG!
Matanya menangkap sesuatu yang entah mengapa terasa familiar namun sangat mengganggu dirinya "Luhan, cepat duduk."
"ah, nde."
Dia gugup. Matanya tak lepas pada sosok seperti suami istri yang memang sedari tadi terlihat di kafe sebrang, awalnya dia hanya menatap iri, berharap suatu saat nanti bisa berbicara santai dengan Sehun, di tempat umum seraya mengusap perut buncitnya, persis seperti yang dilakukan pasangan yang ada di kafe sebrang milik OSH'ent.
Namun semakin Luhan melihat, rasanya dua sosok untuk sangat familiar untuknya. Dan benar saja, ketika mereka berdua tertawa maka dua sosok yang pernah saling mencintai sebelum kehadirannya memang berada disana, terlihat sangat bahagia.
"Bee…Sehunna"
Luhan menghapus cepat air matanya, dia bisa melihat terlalu jelas bagaimana Sehun dan mantan kekasihnya tertawa bersama, bagaimana Sehun tersenyum saat mereka berbicara.
Tes!
Dan yang paling menyakiti hatinya, adalah saat tangan Sehun mengusap sayang perut Baekhyun yang terlihat membuncit, hatinya sesak, dia marah.
Demi Tuhan, Sehun memiliki darah dagingnya sendiri, tapi selama tujuh bulan Luhan membawa kedua bayi mereka dalam tubuhnya, tak pernah sekalipun Sehun mengusap perutnya, berbicara pada dua putra mereka, tidak pernah sekalipun dan Luhan membencinya.
"Sehun aku marah"
Luhan menjerit dalam hati, semua kemarahannya tertelan kembali dalam kerongkongannya. Ingin rasanya dia mendatangi meja dimana Sehun dan Baekhyun sedang membagi moment mereka bersama, mengatakan betapa sakit hatinya melihat pemandangan dimana keduanya terlihat sangat bahagia, sementara disini hatinya nyaris meledak karena sesak namun harus tersenyum seperti seorang idiot.
"Jinna…"
Jin sedang fokus pada ponselnya menjawab "hmhh?" lalu menatap Luhan sekilas "Ada apa?"
"Rasanya sudah lama aku tidak melihat dia tersenyum."
"Siapa?"
Kali ini Jin meletakkan ponselnya, sedikit terkejut melihat pipi Luhan basah karena air mata namun tetap mendengarkan apa yang ingin dikatakan sahabatnya "Disana, Sehun dan Baekhyun terlihat sangat manis."
"huh?"
Buru-buru Manager pencari bakat itu pun mengikuti kemana seniornya di dunia keartisan melihat, mencari dua sosok yang begitu dikenalnya sampai terlihat Sehun sedang membantu Baekhyun berdiri siap meninggalkan kafe dengan wajah keduanya terlihat bahagia.
"Luhan,"
Jin cemas, dia kembali memegang tangan Luhan namun kali ini ditampik sahabatnya "Jangan!" Luhan memperingatkan, tangannya entah mengapa terkepal melihat bagaimana Sehun membantu Baekhyun meninggalkan kafe "Haruskah aku mengembalikan Baekhyun pada Sehun."
"Luhan jangan dilihat."
Air matanya menetes lagi, namun kali ini Luhan menutupinya dengan dua tangan seraya bergumam "ah, Bagaimana ini? Aku tidak bisa melakukannya, aku tidak bisa mengembalikan Sehun pada Baekhyun, aku menginginkan Sehun, Seperti dulu."
"Sehun milikmu Luhan, sudahlah jangan banyak berfikir. Kau bisa menyakiti bayimu."
"Kau benar, bayiku terluka melihat ayahnya lebih peduli pada orang lain dibanding dengan mereka, putranya."
"Luhan….."
"DIA TIDAK MENYAYANGI DARAH DAGINGNYA SENDIRI!"
Luhan kehilangan akal sehatnya, dia berteriak marah, detik berikutnya dia menggebrak meja lalu berlari pergi meninggalkan kafe
"LUHAN!"
Jin mengejarnya, namun yang membuat sang manager cemas adalah kemampuan Luhan berlari masih sangat menakjubkan bahkan disaat perutnya membuncit besar, jarak mereka tidak terlalu jauh tapi Luhan terus berlari, terkadang berjalan cepat untuk memanggil taksi
"TAKSI!"
Jeritan Luhan sontak membuat beberapa pasang mata melihat ke arahnya. Semua melihat, tak terkecuali Baekhyun dan Sehun yang juga sedang menunggu taksi untuk mengantar Baekhyun pulang.
"Luhan?'
Luhan menoleh, tatapannya hancur melihat bagaimana tangan Sehun masih melingkar sempurna di pinggang Baekhyun. Air matanya terus menetes tak mau berhenti dengan tangan yang terkepal begitu erat "rrrhh…."
Refleks dia memegang perut saat dua bayinya menendang kuat di dalam sana, selalu seperti itu ketika dia marah hingga terkadang Luhan muak karena harus terus menahan perasaannya sementara hatinya terus dibuat hancur berkeping.
Sehun sendiri bertanya-tanya mengapa Luhan bisa berada di sekitar agensinya, kenapa wajahnya sembab, kenapa tangannya terkepal dan yang paling membuat hatinya gusar adalah tatapan benci yang ditujukan Luhan padanya. Ingin rasanya dia berjalan ke arah Luhan dan dua putranya. Tapi kemudian Baekhyun memegang lengannya erat seolah meminta bantuan untuk berdiri karena pertemuan tak terduga dengan sahabatnya.
"Luhan? Kau baik-baik saja?"
Luhan menghapus air matanya, menatap marah pada Sehun dan Baekhyun lalu masuk ke dalam taksi "Jangan hiraukan aku, Baekhyun-ssi!"
BLAM!
Dia membantingnya kuat, tak lama taksi yang dinaiki Luhan pergi entah kemana diiringi teriakan Jin yang terdengar sangat cemas
"LUHAN!—SIAL!"
Jin mengumpat, matanya menatap marah pada atasan tertinggi di OSH'ent sementara dia terus mencoba menghubungi Luhan "Kau kemana Lu, sshh!"
"Sehun, kita harus mengejar Luhan. Kita harus-….."
"Tidak perlu."
"Sehun dia pasti salah paham."
"Aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang kau harus pulang Baek." Katanya membukakan pintu taksi untuk Baekhyun lalu memberikan beberapa lembar uang pada supir taksi "Antarkan temanku sampai ke rumahnya."
"Baik tuan."
"Terimakasih." Katanya berbicara dengan supir taksi lalu beralih pada Baekhyun "Aku akan menjelaskannya pada Luhan, kau tenang saja."
"Tapi dia terlihat marah padaku. Aku-…hkss…"
"Baekhyunna."
"hmmh?"
"Luhan menyayangimu, selalu. Hanya berikan dia sedikit waktu, karena seperti yang aku katakan dia tidak pernah membiarkan orang lain tahu jika dia sedang marah, sedih, atau terluka. Dia selalu seperti itu, jadi berikan dia waktu, hmmh?"
Baekhyun mengangguk, dihapusnya cepat air mata yang menetes untuk menatap mantan kekasihnya berharap "Aku ingin bertemu dengan Luhan."
"Kau akan segera bertemu dengannya."
"Gomawo Sehunna."
"mhhh…Sekarang pergilah."
Setelahnya, Sehun berdiri tegap. Melambai pada taksi Baekhyun untuk menatap tempat dimana Luhan berdiri beberapa menit yang lalu "haah~ Terkadang aku kehabisan kata-kata untuk bicara padamu Lu."
Entah mengapa kini perasaannya diliputi rasa bersalah yang begitu kuat, tidak seharusnya dia hanya diam disaat Luhan menangis karena melihatnya dan Baekhyun. Tidak seharusnya dia diam saat Luhan memegang perutnya tanda bahwa dua putranya sedang berontak di dalam sana. Dan bodohnya, semua ketidakharusan itu dilakukan Sehun hingga tanpa sadar membuat Luhan terluka, lagi dan lagi.
Kini dua tangan Sehun terkepal erat, dia terus mengambil banyak nafasnya. Ragu, ingin menghubungi Luhan atau hanya berbicara padanya nanti dirumah. Berkali-kali dia melihat ponsel namun berakhir kembali memasukkan ke dalam saku seraya bergumam menyesal telah membuat dua putranya marah padanya dan pada Luhan.
"Maafkan papa nak."
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam hari, 21.00 KST
.
Klik!
Pintu rumah yang terlihat seperti istana itu dibukakan khusus oleh dua maid untuk menyambut kedatangan si pemilik kedua setelah Tuan Oh. Keduanya juga membungkuk untuk menyapa Sehun sampai sosok paruh baya yang memiliki peran penting di rumah ini juga terlihat menyapa kedatangan sang tuan muda.
"Tuan muda kau sudah pulang?"
Yang disapa menyeringai, menyerahkan tasnya pada sang paman untuk menyindiri "Tidak biasanya paman datang menyapaku, Wae? Merasa bersalah padaku?"
"eyy. Aku tidak tahu kau begitu pendendam tuan muda."
"ha ha…Lucu!" katanya sarkas seraya melonggarkan dasi dan berjalan ke ruang utama "Kenapa rumah sepi? Dimana ayah?"
"Tuan besar sudah tidur."
"Tidak biasanya,"
Kebiasaan baru ayahnya adalah selalu menikmati teh dan berbincang dengan Luhan di ruang utama. Keduanya bahkan tidak pernah melewatkan waktu santai mereka selagi dia bekerja. Jadi ketika ayahnya sudah tidur bahkan disaat waktu baru menunjukkan pukul sembilan malam, Sehun sedikit bertanya-tanya hingga tanpa sadar matanya menatap ke seluruh sudut ruangan, mencari Luhan namun tidak menemukannya.
"Paman sudah memindahkan seluruh barang Luhan ke kamarku?"
"Sudah, mulai besok malam Luhan akan tidur bersama anda."
Tap!
Langkah kaki Sehun terhenti, dia segera menoleh untuk memberikan tatapan tak mengerti pada pamannya "Besok? Kenapa besok? Malam ini dia harus tidur denganku!"
"Jika Luhan ada di rumah pastilah dia tidur di kamar anda. Sayangnya malam ini Luhan tidak berada di rumah tuan muda."
"Apa maksud paman?" katanya kesal, dan tanpa sadar tangan Sehun berkeringat bersamaan dengan kalimat Luhan tidak berada di rumah membuat hatinya gusar dan cemas di waktu bersamaan.
"Karena kemarahan anda pagi tadi, Luhan meminta izin agar diberi waktu sendiri. Dia hanya tidak ingin membuatmu semakin kesal dan meminta waktu sendiri, hanya malam ini."
"Dimana dia mengatakan akan menetap? Di rumah adik iparnya?"
"Bukan, di flat rumah miliknya tuan muda."
"Mwo? Sendiri? Dia akan disana sendiri?"
"Luhan mengatakan adik bungsunya juga berada disana dan-…."
"DIA BOHONG!—rrhhh!"
Sehun kesal, dia melempar asal mantel dan jaket kerjanya hingga hanya menyisakan kemeja hitam yang sudah di lipat sampai siku lengannya "Paman siapkan mobil!"
"Kita akan pergi kemana?"
Tatapannya kesal, matanya begitu cemas seraya mengatakan "Aku akan membawa Luhan pulang!"
"Tapi Luhan meminta waktu untuk-…."
"SEKARANG!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu….
.
"Ayolah anak-anak! Berhenti menendang, Mama sudah tidak lagi marah—rrhh!"
Entah sudah berapa lama Luhan duduk di lantai di kelilingi tiga cup ice cream super besar yang semuanya nyaris tak tersisa. Entah sudah berapa lama pula dia terus memukul pelan perutnya yang terus menendang seolah kesal karena terus menerus diberikan es krim hingga tubuh Luhan dingin tanda dia juga sudah tidak kuat menghabiskan ice cream namun tetap dia paksakan karena hatinya panas.
"Sekali lagi ya, mmpphh~" katanya meminta izin pada kedua putranya dibalas tendangan kuat lagi di dalam sana "rrh~ AYOLAH BERHENTI MENENDANG!"
Luhan kesal, dia melempar kasar seluruh cup ice cream miliknya lalu menangis karena hati dan perutnya benar-benar tidak sejalan dengan akal sehatnya "hkss—Kenapa aku tidak boleh marah? Kenapa kalian terus menendang marah? Apa aku tidak boleh menangis? Apa aku harus terlihat baik-baik saja? Mama bukan malaikat nak, mama kesal melihat ayah kalian begitu mempedulikan mantan kekasihnya—hks…"
Luhan menangis kecil dengan tangan yang mengusap lembut perutnya, dia sadar, semarah apapun dia pada kedua putranya yang terus menendang, dia hanya berakhir semakin mencintai dan semakin bergantung pada kehadiran malaikat kecilnya "Maaf, maaf. Sekarang tidurlah, mama juga ingin tidur, hari ini sangat melelahkan." Katanya memejamkan mata seraya bersandar di dinding lantai.
Luhan terus mengusap matanya sampai terdengar suara ketukan pintu yang begitu kencang dan cukup membuat Luhan terkejut.
"Astaga! Siapa yang-….Jaehyun?" Mata Luhan berbinar menebak itu adik bungsunya. Dengan susah payang dia mencoba berdiri lalu berjalan perlahan mendekati pintu flat yang ketukannya terdengar semakin menuntut.
"Siapa?"
TOK! TOK!
"Jaehyun? Sebentar hyung akan segera-….."
Klik!
Luhan membeku, kakinya lemas dan dia ketakutan melihat siapa yang datang dan sedang menyeringai menatapnya. Kedua mata mereka bertatapan cukup lama sampai gerakan refleks Luhan menutup pintu dibalas dorongan kuat hingga Luhan tersungkur terjatuh ke lantai.
"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?"
Luhan berteriak ketakutan, matanya mencari apapun benda yang bisa dibuat untuk melindungi diri. Tangannya gemetar, nafasnya sesak melihat bukan Jaehyun, atau Kai atau Kyungsoo yang datang melainkan pria keji yang menjadi alasan hidupnya hancur tak bersisa, pria keji yang selalu mengganggu hidupnya dan sialnya harus dia panggil "ayah" selama bertahun-tahun.
"ckckc! Beruntung sekali kau yang ada disini. Aku ingin bertemu dengan Jaehyun dan meminta uangku padanya."
"Mwo? Apa maksudmu?"
Luhan berusaha tenang, perlahan dia berdiri lalu menatap benci pada pria sialan yang entah mengapa terus berada di hidupnya "Apa yang kau lakukan pada Jaehyun?"
"Adik bungsumu tidak pernah bercerita? Dia memberikanku uang setiap bulan dan sebagai gantinya aku tidak perlu mengganggumu! Hanya itu!"
"KAU BENAR-BENAR MENJIJIKAN!"
"Ya, ya terserahmu saja. Aku sudah tidak peduli padamu!"
"KALAU BEGITU PERGI!"
Mengabaikan teriakan Luhan, ayah kandung Kyungsoo dan Luhan itu lebih tertarik pada kenyataan bahwa perut Luhan terlihat besar dan berat badan putranya naik cukup drastis "Kau hamil?"
Luhan panik, buru-buru dia mengambil mantel miliknya lalu segera dipakai untuk menyembunyikan keberadaan dua putranya "tsk! menjijikan! Tapi rasanya aku senang karena kau dan Kyungsoo sudah menjadikan aku seorang kakek!"
"DIAAAM!"
"sst….Jika kau terus berteriak kau akan membuatku kesal Luhan." katanya berjalan mendekati pintu lalu menutup pintu flat rumahnya. "Dan kau tahu jika aku kesal aku bisa menyakitimu dan mungkin—bayimu."
Luhan ketakutan, matanya terus mencari benda yang bisa melindunginya sementara sang ayah terus meracau gila dan mengerikan "Haah~ Awalnya aku mengira Jaehyun yang berada dirumah, tapi beruntung kau yang ada disini! Polisi sedang mengejarku karena aku baru saja mencuri! Jadi diam dan biarkan aku bersembunyi disini, oke?"
"Polisi?"
Tiba-tiba Luhan tergoda untuk berlari ke luar rumah, berteriak sekuatnya untuk meminta tolong pada siapapun. Dia masih memperhatikan gelagat ayahnya. Dan saat si tua bangka itu membuka lemari es, mata Luhan berbinar menyadari ini adalah kesempatannya untuk berteriak meminta tolong.
"Kau tidak memiliki bir atau-…..SIAL!"
Bersamaan dengan langkah Luhan yang berjalan menuju pintu, pria bernama Do Hansung itu segera berlari menyamai langkah Luhan
"SIAPAPUN TOLONG AKU! TOLONG-…."
Dan sedetik setelah Luhan berhasil keluar rumah, dia menarik kasar lengan Luhan dan membawanya kembali masuk ke dalam rumah.
BLAM!
"APA YANG KAU LAKUKAN?"
Luhan berjalan mundur, dia ketakutan, sangat ketakutan. Nyatanya dia telah melakukan kesalahan dengan memancing kemarahan sang ayah. Dan semakin dia berjalan mundur maka pria yang terlihat ingin membunuhnya semakin datang menghampiri.
Sret!
"JANGAN MENDEKAT ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU!"
Sang ayah menyeringai melihat putra sulungnya mengancam menggunakan pisau. Dan alih-alih merasa takut justru dia semakin bersemangat menyadari setidaknya Luhan memiliki sifat bengis yang mengalir dalam darahnya.
"Cepat bunuh ayah nak, cepat bunuh ayah—CEPAT ATAU AKU YANG MEMBUNUHMU!"
Trang…~
Luhan terdesak, dia tak bisa lagi mundur sementara tangannya terlalu gugup memegang pisau, dia bahkan menjatuhkannya membuat tatapan ayahnya semakin gila sementara Luhan melempar gelas kaca tepat ke wajahnya.
"MATI KAU!"
"ssh…Brengsek."
Luhan mengambil kesempatan saat wajah ayahnya lebam terkena gelas kaca. Dia pun berteriak, berusaha berlari ke arah pintu sebelum
"KAU YANG MATI DO LUHAN!"
Habis sudah kesempatan Luhan untuk melarikan diri, tidak, jangankan melarikan diri. Saat ini untuk menggerakan dua tangannya saja Luhan tidak mampu, tubuhnya kejang saat ayahnya mencekik kuat lehernya.
Sekuat tenaga Luhan terus memukul, berusaha mengatur nafas agar perbuatan keji ayahnya tidak mengganggu kedua anaknya didalam sana "Lepas—Lepas…sshh.." Luhan mencakar wajah ayahnya, melakukan segala cara untuk melepaskan diri namun sia-sia karena saat ini tubuhnya mulai lemas tanda dia kehilangan banyak oksigen untuk dihirup.
"Lepas…."
"Entah mengapa dibanding Kyungsoo aku sangat membencimu dan ibumu Luhan, ah-…Aku dengar ibumu sudah mati Luhan. Tidakkah kau ingin menemani ibumu?"
"Lepas…"
Sang ayah terus menyeringai lalu berbisik mengerikan tepat di telinga Luhan "Baiklah, ayah akan membuatmu bertemu dengan ibu. Kau senang?"
"Jangan bunuh anakku, je-bal…"
Tangan Luhan sudah terkulai lemas, dia tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawan. Kini yang dilakukannya hanya memeluk dua putranya hingga tanpa sadar terus menyebut nama Sehun dalam hatinya "Sehun, tolong aku." Ujarnya berharap namun rasanya dia tidak memiliki kemampuan untuk bertahan lebih lama karena nafasnya sudah begitu berat dan sesak "Siapapun, tolong aku."
"bajingan….APA YANG KAU LAKUKAN?"
Samar, Luhan bisa mendengar langkah seseorang mendekat. Detik berikutnya di dihempas ke lantai hingga beberapa udara mulai masuk memenuhi kerongkongan dan seluruh organ tubuhnya.
Uhuk!
"haaah~"
Penglihatan Luhan masih buram, dia tidak bisa melihat apapun dan siapa yang berteriak, yang dia lakukan hanya terus mengatur nafas seraya mengusap kedua bayinya yang terlihat tegang karena dia terlalu panik.
"haah~"
"hyungkaubaikbaiksaja?"
"huh?"
"HYUNG!"
Luhan berusaha membuka mata, samar dia bisa melihat wajah Jaehyun lalu bergumam lega karena adiknya datang tepat waktu untuknya "Jaehyun."
"Brengsek!"
Jaehyun mengumpat marah, dia kembali menghampiri bajingan yang terus mengganggu ibu dan kakaknya untuk memukul tanpa henti "MATI KAU! MATIII KAAAU!"
Baku hantam itu tak terelakan, kadang Jaehyun memukul namun dibalas oleh ayahnya, semua terasa menakutkan untuk Luhan. Dia ingin menghentikan Jaehyun, dia harus menghentikan adiknya. Oleh karena itu, saat nafasnya berangsur normal, perlahan Luhan berdiri lalu berjalan gontai mendekati adiknya, memeluknya erat sementara dia terus memukuli ayahnya.
"JAE CUKUP KAU BISA MEMBUNUHNYA!"
"AKU AKAN MEMBUNUHNYA HYUNG!"
"Jae, jebal….hksss.."
Pukulan Jaehyun terhenti, mau bagaimanapun Luhan pastilah masih merasa bersalah karena kematian ibu mereka, keduanya belum berbicara bahkan setelah ibu mereka dimakamkan. Jadi ketika Luhan menangis di punggungnya, Jaehyun tidak sampai hati kembali mengabaikan Luhan dan hanya berbalik untuk memeluk kakaknya.
"Mianhae hyung….Maaf aku tidak ada dirumah saat kau pulang, maaf." Katanya memeluk erat tubuh kakaknya yang gemetar karena takut. Kedua bersaudara itu kini membagi rasa duka mereka tanpa menyadari bahwa diam-diam ayah Luhan mengambil pisau yang dijatuhkan Luhan untuk menikam Jaehyun yang lengah.
"MATI KAU SIALAN!"
Luhan terkejut, dipelukan Jaehyun dia bisa melihat ayahnya berlari dengan pisau yang siap menikam. Refleks, dia mendorong tubuh Jaehyun dan
Sret!
Pisau tajam itu menggores wajah Luhan cukup dalam. Darah Luhan bercucuran deras sementara tubuhnya semakin gemetar karena takut
"LUHAAAN!"
Kini suara berbeda terdengar, Luhan masih memegang wajahnya yang tergores pisau, dia kesakitan tapi entah mengapa melihat Kyungsoo dan Kai datang seolah membuatnya tenang karena keluarganya sudah disini, mereka semua berkumpul datang menolongnya.
"LUHAN!"
"Soo.."
Luhan bersandar di pelukan Kyungsoo sementara Kai dan Jaehyun memukuli ayah mereka bergantian, terkadang Kai akan berteriak dan menyudutkan ayahnya lalu Jaehyun datang menimpali dan mencekik pria sialan yang entah mengapa selalu menjadi parasit dalam hidupnya dan Kyungsoo.
"hkss…"
"Soo, kau baik-baik saja."
"ani-…Kau terluka Luhan, hkss…Luhan."
Sementara Kyungsoo memeluknya erat, Luhan lebih memilih untuk tidak mengatakan dirinya baik-baik saja. Dia lelah terlihat baik dan hanya ingin bergantung pada keluarganya, setidaknya hari ini dia ingin dilindungi "Aku sakit Soo."
"Aku tahu…Kita akan kerumah sakit setelah pria sialan itu dihentikan, hmh?" katanya mencium surai Luhan lalu mendekapnya erat, melindungi kakaknya "Kau akan baik-baik saja Luhan."
BUGH!
Pukulan terakhir yang diberikan Kai dan Jaehyun berhasil membuat ayahnya tersungkur sampai ke depan pintu, keduanya berniat untuk melempar bajingan itu keluar rumah sampai langkah terlihat dua pria yang kini berdiri tepat di depan flat rumah Luhan.
Bertanya-tanya apa yang terjadi, lalu tak lama terdengar "ASTAGA LUHAN! APA YANG TERJADI PADAMU" suara pria paruh baya yang selalu membangunkannya di pagi hari terdengar, Luhan kemudian mengangkat wajah, seolah memastikan lalu tak lama wajah paman Lee terlihat tepat di depan kedua matanya.
"Paman?"
"Luhan siapa yang melakukan ini padamu? Siapa yang melukai-…."
"Apa yang terjadi?"
Suara Paman Lee kalah dengan suara berat yang terdengar dingin mengintimidasi, getarannya bahkan terdengar ingin membunuh sampai tak sengaja mata Luhan dan mata ayah dari dua putranya bertemu. Keduanya bertatapan cukup lama sampai rasanya Luhan bisa melihat tangan Sehun terkepal tanda dia begitu murka.
"APA YANG TERJADI? KENAPA DIA TERLUKA!"
"sial!" Buru-buru Kai menghampiri Sehun, melewati tubuh tak berdaya pria yang nyaris membunuh Luhan untuk mencengkram kemeja sialan yang berstatus sebagai atasannya di agensi "APA KAU TIDAK BISA MENJAGA LUHAN? KAU YANG MEMBUATNYA TERLUKA! KAU OH SEHUN!"
"Apa maksudmu?"
"PRIA INI NYARIS MEMBUNUH LUHAN! DIA MENCEKIK DAN HAMPIR MENIKAM PISAU PADA LUHAN! SEMUA INI TIDAK AKAN TERJADI JIKA KAU MENJAGANYA DENGAN BAIK!"
Sehun terkejut, awalnya dia hanya fokus pada goresan di wajah Luhan, lalu saat artisnya mengatakan pria sialan ini mencekik Luhan dia fokus pada leher mantan kekasihnya untuk menemukan ruam biru tanda bahwa benar Luhan dicekik hingga seluruh kulitnya lebam dan terluka.
"Lepas."
Dia memperingatkan Kai, mendorong kasar mantan kekasih Luhan untuk berjalan seperti malaikat pembunuh mendekati pria sialan yang menjadi alasan Luhan meninggalkannya di hari pernikahan mereka.
"Kau tahu siapa yang baru saja kau sakiti?" katanya terdengar tenang namun setiap penekanan di katanya bisa membunuh lawan bicaranya "JAWAB AKU!"
Sehun menarik kasar wajah ayah Luhan, memaksanya menatap Luhan lalu berbisik sangat mengerikan "Kau baru saja menyakiti anakmu yang sedang mengandung anakku."
"rrhhh…"
Hansung mengerang saat jambakan Sehun di rambutnya begitu kuat, dia bahkan memukulkan wajahnya ke lantai lalu memaksanya lagi menatap Luhan "Dan kau tahu? Aku tidak mengerti kenapa kau sangat membenci anakmu, tapi jangan samakan aku denganmu. Aku mencintai anakku, sangat mencintai darah dagingku. Jadi jika kau menyakiti mereka walau hanya satu helai rambut, aku bisa membunuhmu dengan keji! KAU DENGAR?"
"Sehun…"
Luhan terperangah, nyatanya dia salah besar menduga Sehun tidak mencintai darah daging mereka. Sehun mencintai kedua putra mereka, sangat mencintainya. Dan Luhan bisa melihat dari seluruh kemarahan Sehun pada ayahnya.
Caranya memperingatkan, caranya melindungi sudah menunjukkan bahwa dia seorang ayah yang akan melakukan apapun agar kedua buah hatinya tidak disakiti.
Luhan terlalu bahagia hingga tanpa sadar dia mengusap perutnya dan berbisik "Kalian dengar? Papa mencintai kalian, sangat."
"Paman."
"Ya, Tuan muda!"
"Pastikan bajingan ini membusuk di dalam penjara!"
Sama geramnya dengan Sehun, Paman Lee menjawab tanpa ragu "Aku sendiri yang akan memastikan dia membusuk dalam penjara."
"Bagus."
Sehun menyeringai, dia merapikan sedikit kemejanya lalu menginjak wajah ayahnya, suara injakan kakinya terdengar memilukan hingga Luhan bisa melihat wajah ayahnya dipenuhi darah karena Sehun menginjaknya terlalu kuat.
Selebihnya, mata Sehun terkunci pada mata Luhan. Dibagian tertentu, hatinya terkoyak melihat tubuh Luhan memar sementara tangannya terus mengusap kedua putra mereka, seolah menenangkan malaikat kecil mereka.
Dan untuk Sehun, pemandangan dimana Luhan terus mengusap bayi mereka jauh lebih menyakiti Sehun karena nyatanya, hingga malam ini, Sehun terus menolak untuk menyentuh bayi mereka karena tak ingin bersentuhan dengan Luhan.
Dia kemudian berjongkok di depan Luhan, memperhatikan darah yang terus mengalir di wajah Luhan lalu menyentuhnya lembut "Kau baik-baik saja?" katanya parau nyaris menangis tak tega melihat Luhan terluka di depan pengawasannya.
"Katakan sesuatu padaku."
Luhan terisak, dia sudah bilang dia lelah berpura-pura baik. Jadi ini kesempatannya agar Sehun datang memeluknya, dia menggeleng dengan cepat lalu menangis menjawab pertanyaan Sehun "Tolong aku Sehunna, aku takut."
Mau tak mau air mata Sehun menetes dengan cepat lalu dihapusnya cepat. Bahkan selama mereka menjalin hubungan, Sehun tidak pernah melihat Luhan begitu menyedihkan dan tak berdaya seperti malam ini, jadi ketika Luhan seperti menyerahkan diri padanya, Sehun dengan senang hati membuka dua lengannya untuk datang mendekap Luhan, seperti dulu.
"Kau akan baik-baik saja, aku janji."
Setelahnya, Sehun mengambil tubuh Luhan dari Kyungsoo. Menggendongnya bridal sementara Luhan melingkarkan dua tangannya erat di leher Sehun "Aku akan membawa Luhan pergi."
Kyungsoo mengangguk sementara Jaehyun dan Kai hanya mengantar kepergian Luhan dalam diam. Keduanya tidak rela menyerahkan Luhan pada Sehun, tapi kemudian tangan Luhan memeluk Sehun erat seolah memberitahu mereka bahwa hanya pada Sehunlah dia akan menyerahkan hidupnya, selamanya.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi bagaimana keadaannya?"
Saat ini Sehun sengaja memanggil dokter ke rumahnya, memperhatikan bagaimana sang dokter mengobati luka Luhan sementara ibu dari dua putranya tertidur karena efek obat bius yang diberikan "Luhan baik-baik saja."
"Anakku?"
"Keduanya sehat Tuan Oh. Mungkin Luhan akan merasakan nyeri dibagian wajahnya, jadi sebaiknya dia beristirahat dan tidak memakan makanan berat seperti daging dan makanan yang sulit dikunyah, aku merekomedasikan bubur selama lima hari."
"Bubur? Hanya bubur? Tapi kenapa?"
"Aku takut lukanya kembali membuka jika Luhan memakan makanan berat."
Dengan berat hati Sehun mau tak mau menyetujui ucapan dokter "Baiklah." Katanya asal dengan mata tak berkedip menatap sosok mungil Luhan yang kini berbaring tak berdaya.
Dia menghela dalam nafasnya, mengasihani bahwa setiap hari Luhan sudah memakan banyak daging tidak menambah banyak berat badannya lalu sekarang dia hanya diperbolehkan memakan bubur selama lima harii.
Entahlah, rasanya mulai besok paman dan Luhan akan banyak bertengkar karena pastilah Luhan protes karena hanya bubur yang diberikan padanya selama lima hari.
"Ini obat pereda nyeri, berikan pada Luhan jika dia merasakan sakit."
"Baiklah, terimakasih dokter Kim."
"Tidak perlu Tuan Oh, saya permisi."
Setelahnya, Sehun mengantar dokter Kim ke depan pintu kamarnya, setelah berpamitan, Sehun kembali menutup pintu kamarnya, menguncinya lalu perlahan mendekati Luhan.
Dia duduk di sisi ranjang tempat Luhan berbaring, menaikkan selimut lalu menatap Luhan agak lama. Bertanya-tanya sudah berapa lama dia tidak memuja kecantikan ibu dari bayinya lalu terkekeh menyadari bahwa selama ini hatinya sibuk menolak kehadiran Luhan, bahkan hingga malam ini.
"haah~ Cepat sembuh dan berhenti membuatku terlihat buruk, hmm?" katanya mengusap surai Luhan lalu buru-buru menjauhkan tangannya.
Sehun tidak ingin Luhan membuka mata hanya karena sentuhan di dahinya, dia pun bergegas berbaring disamping Luhan lalu menaikkan lagi selimutnya "Selamat malam." Katanya mematikan lampu, bersiap untuk tidur lalu menyalakan lagi lampu tidurnya.
"Aku tidak yakin melakukan ini, tapi kau terus mengusap perutmu, apa kau merasakan bayi kita?" katanya bertanya ragu seraya menyingkap selimut Luhan perlahan.
Sehun bahkan mengangkat piyama tidur Luhan sampai matanya dibuat takjub melihat sebesar apapun perut Luhan membuncit, dia tetap terlihat cantik dan bahkan berkali-kali sangat cantik dengan kehamilannya "apa yang aku pikirkan." Katanya terkekeh lalu memberanikan diri memegang perut buncit Luhan.
Awalnya dia tidak merasakan apapun, tapi saat tendangan kecil dirasakan kedua tangannya, Sehun gugup. Dia terlalu gugup hingga tanpa sadar menekankan telinganya di perut buncit Luhan "Hey jagoan kecil, ini papa."
Sehun merasakan lagi tendangan dua bayinya sebagai respon. Keduanya bahkan menendang bergantian seolah bertanya dari pada Sehun "Kemana saja Papa selama ini?" Sehun pun tertawa, menyalahkan pikiran gilanya namun tetap menjawab "Maaf baru menyapa kalian. Mama dan Papa sibuk bertengkar, Maaf ya?"
Sehun tak lagi merasakan tendangan dan itu membuatnya kecewa "Apa kalian marah?" katanya takut lalu melihat lagi perut buncit Luhan "Atau kalian sudah tidur?"
Tak ada gerakan lagi, Sehun menekuk sedih wajahnya lalu memberanikan diri mengusap perut buncit Luhan, perlahan agar tidak membangunkan Luhan "Maafkan papa, papa bersalah pada kalian. Tidak seharusnya papa meninggalkan kalian dan membiarkan kalian terluka. Maafkan papa, hmhh?" Sehun masih membujuk, mengusap perut Luhan dengan gerakan memutar lalu berbisik "Papa sangat mencintai kalian, jadi jangan pernah berfikir papa mencintai orang lain selain kalian, oke?"
Dan rasanya penjelasan terakhir ditunjukkan untuk siang ini, keadaan dimana Luhan melihat dia merangkul pinggang Baekhyun seolah membuat Sehun memiliki kewajiban untuk menjelaskan pada dua putranya agar kesalahpahaman ini tidak berlanjut "Jadi jangan marah lagi pada Papa. Papa mencintai kalian. Sangat mencintai kalian jagoan kecil. Selamat malam sayang."
Dan kali ini tak hanya mengusap, Sehun menundukkan wajahnya untuk mencium sayang perut Luhan. Menghujami sejuta ciuman disertakan kalimat cinta untuk kedua putranya hingga dirasa cukup karena gerakannya terlalu berlebihan dan khawatir Luhan akan bangun "Terakhir, Papa memiliki permohonan untuk kalian. Kalian mau mendengarnya?"
Sehun menekankan lagi telinganya di perut Luhan, menciumnya lembut lalu bergumam "Selama Papa tidak bisa menjaga Mama kalian. Kalian harus menjaga Mama untuk Papa, hmh?"
Sehun mengecup lagi perut buncit Luhan, menurunkan piyama Luhan lalu menarik selimut keduanya untuk berbaring memunggungi Luhan.
Deru nafasnya perlahan menjadi berat tanda dia sudah terlelap. Dan tanpa sadar, semua hal manis yang dilakukan Sehun pada Luhan membuat air mata Luhan meniti di sela matanya yang terpejam.
Perlahan dua mata cantik itu terbuka untuk menatap punggung kokoh kekasihnya. Dia juga membekap mulut agar isakannya tidak terdengar mengingat setiap ucapan yang dikatakan Sehun, setiap hal manis yang dilakukan Sehun pada bayinya adalah hal terindah yang dirasakan Luhan selama tujuh bulan dirinya mengandung si kecil.
Diam-diam dia berbalik ke samping, memperhatikan punggung Sehun dan membuat gerakan mengusap di udara. Matanya terus menitikkan air mata haru sementara bibirnya, bibirnya kelu untuk mengatakan "Terimakasih sudah sangat mencintai putra kita, Sehunna."
.
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
.
.
Kkk~ Gue bilangnya End ya di Chap 20?
Namanya juga triplet, kalo ditargetin pasti ambyar, yaudalaya let it flow aja, perkiraan si 2 chap lagi, tapi takut meleset egen ;v
.
Enjoyed! maap ngalong, kebiasaan ;p
.
C.U
