Previous
"Apa kau baik-baik saja?"
"…"
"Luhan?"
Sehun bertanya, namun tak ada jawaban dari Luhan, tentu saja Luhan tidak menjawab karena saat ini ibu dari dua anaknya sudah tertidur setelah mengalami hari yang begitu berat.
Diam-diam Sehun membalikan tubuhnya, menatap tak berkedip wajah sempurna Luhan bahkan saat dia memejamkan mata hanya untuk membuat gerakan mengusap tanpa menyentuh wajah mantan kekasihnya.
"Seandainya kau tidak pergi di hari pernikahan kita….." katanya parau diiringi setetes air mata yang jatuh membasahi wajahnya "Mungkin aku sedang memelukmu erat saat ini." Katanya tersenyum pahit sebelum ikut memejamkan matan untuk mengatakan "Aku turut berduka untukmu Luhan." Katanya memejamkan mata dan dengan berat hati mengucapkan salam perpisahannya untuk ibu Luhan.
"Beristirahatlah dengan tenang, eomoni. Entah aku bisa menjaga putramu atau tidak, tapi yang jelas aku akan menjaga cucumu dengan baik, aku janji."
.
.
.
.
.
.
A' Friends Betrayal
Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo
Genre : Drama
Rate : M / NC!/
.
.
.
.
.
"Paman..."
"Ya tuan muda?"
"Bagaimana keadannya?"
"Siapa?"
Mata Sehun melihat ke dalam kamarnya, mencari sosok yang sudah tiga hari ini terbaring lemah di tempat tidurnya untuk bertanya dengan lirih "Luhan."
"Ah, Luhan masih demam Tuan muda. Rasanya wajar karena dia masih dalam kondisi syok hebat karena ayahnya."
"Apa dia baik-baik saja? Umhh, bayiku maksudku."
Paman Lee perlahan menutup pintu kamar Sehun lalu menghela dalam nafasnya "Jika kau cemas kau bisa melihatnya, bukan justru meninggalkannya dan tidur di kamar tamu."
"Aku tidak bisa."
"Wae?"
Lagi-lagi Sehun mencuri pandang pintu kamarnya, berharap pintu itu terbuka dan menampilkan Luhan yang selalu menyapanya lembut setiap kali mereka bertemu pandang.
"Aku tidak tega."
"huh?"
"Aku tidak bisa melihatnya sakit paman. Aku merasa tidak berguna karena tidak bisa melakukan apapun!"
Yang lebih tua tersenyum untuk menepuk pria yang sudah diasuhnya sejak bayi. Sang paman bahkan tersenyum lembut untuk mengatakan "Anda tidak perlu melakukan apapun tuan muda. Hanya temani Luhan dan dia akan merasa lebih baik."
"Begitukah?"
"Hmmh, itu seperti saat kau kecil dan mengalami demam tinggi, siapa orang pertama yang ingin sekali kau lihat saat kau membuka mata?"
Tanpa ragu Sehun menjawab "Eomma."
"Alasannya?"
"Karena aku mencintai eomma!"
"Tepat! Seperti itulah keinginan Luhan."
"huh?"
"Rasanya akan jauh lebih baik jika kau adalah orang pertama yang dilihatnya saat membuka mata."
"Wae?"
Paman Lee tersenyum lagi untuk memberitahu Sehun "Karena Luhan mencintaimu."
Sehun tertegun lagi, sudah hampir satu tahun telinganya tidak pernah mendengar kata cinta atau bibirnya mengatakan cinta, jadi saat paman Lee mengatakan Luhan mencintainya, rasanya semua itu hanya lelucon untuknya.
"Cinta? Kenapa paman sangat yakin Luhan mencintaiku?"
Tak ingin berdebat lagi sang paman hanya membalas "Tanya hatimu, paman bertaruh jika hatimu juga bisa merasakan jika Luhan mencintaimu." Katanya singkat, namun berhasil membuat tangan Sehun terkepal. Antara marah dan ragu menjadi satu hingga suara pamannya kembali terdengar "Satu jam lagi adalah jam makan siang Luhan, jika kau ingin membantu masuklah ke kamar dan bantu Luhan meminum obatnya, bukan hanya vitamin untuk bayi kalian."
Setelahnya Sehun kembali tertegun, diam-diam matanya melihat ke pintu kamar, bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Luhan sampai tak sengaja bibirnya mengatakan "Aku akan melakukannya." sebagai jawaban dari tawaran yang dilontarkan paman Lee.
.
.
.
.
.
.
.
Klik…
Rasanya dalam satu jam ini sudah beberapa kali Luhan mendengar suara pintu terbuka. Dan rasanya pula, selama satu jam ini hanya satu suara yang akan dia dengar, milik Paman Lee yang terus membujuknya untuk makan sesuatu walau nantinya akan tetap dia keluarkan karena rasa mual hebat yang tak kunjung hilang dia rasakan selama tiga hari ini,
"Paman, berikan vitaminku saja, selebihnya aku tidak bisa makan apapun."
Dan untuk mencegah raut kecewa Paman Lee, Luhan segera meminta vitamin dan menjelaskan kondisinya. Bukan karena dia tidak mau makan tapi karena rasa mualnya memang semakin terasa ditambah demam tinggi yang membuat tubuhnya lemas nyaris mati rasa.
"Apa kau masih mual?"
"mmhh.. Aku mual." Katanya meracau dengan mata terpejam "Kepalaku sakit."
Jujur rasanya berat untuk membuka mata, tapi kemudian sedikit kesadarannya membuat Luhan menyadari satu hal, sesuatu yang membuat deru nafasnya berlomba semakin panas dengan suhu tubuhnya saat menyadari bukan suara paman Lee yang baru saja bertanya padanya tapi suara ayah dari dua bayinya.
Perlahan walau rasanya menyakitkan Luhan membuka mata, dan benar saja dia melihat Sehun sedang mengaduk makanan yang dia tebak bubur lalu berjalan mendekati tempat tidur mereka dan duduk tepat disampingnya.
"Se-Sehun?"
"hmmh, Ini aku." Katanya membalas asal lalu meletakkan bubur Luhan di atas meja. Matanya kini memperhatikan wajah Luhan yang terlihat sangat lesu lengkap dengan warna merah hampir di seluruh wajahnya tanda demamnya masih tinggi dan belum kunjung reda.
"Kau benar-benar demam ya?"
Luhan ingin mengatakan tidak, tapi menggeleng saja dia tidak bisa, jadilah si pria cantik hanya tersenyum lesu dan berat hati mengatakan "Seluruh tubuhku sakit."
Luhan bisa melihat Sehun tertawa kecil lalu tak lama suara bertanya mengatakan "Tidak heran jika wajahmu memerah."
Buru-buru Luhan menarik selimutnya sampai ke dagu, menyembunyikan wajahnya yang terlihat berantakan untuk berkedip lucu dengan mata yang masih terasa berat membuka sempurna "yeah, begitulah."
"Kalau begitu kau harus makan sesuatu."
"Aku mual."
"Aku tahu, tapi jika kau terus membiarkan perutmu kosong itu akan berbahaya dan menjadi lebih buruk."
Untuk sesaat Luhan terdiam, dia bahkan tersenyum dengan mata terpejam seraya menikmati perdebatan kecilnya dengan Sehun, dia bahkan tidak sengaja tertawa hingga membuat Sehun mengerutkan dahi dan bertanya "Ada apa?"
Luhan menggeleng lagi lalu mengatakan "Aku hanya senang bisa berbicara seperti dulu denganmu."
Salah tingkah, Sehun buru-buru mengambil mangkuk bubur Luhan lalu bertanya canggung "ah, Begitukah?"
"hmhh…"
"Baiklah, kita akan bicara lebih banyak setelah kondisimu membaik, bagaimana?"
"Benarkah?" katanya parau dibalas anggukan Sehun tanpa ragu "Ya tentu saja, jadi bisakah kau bersandar sebentar? Aku akan menyuapi bubur untukmu."
Hal yang membuat Luhan tergoda untuk menjadi lebih kuat adalah karena Sehun berjanji akan berbicara lebih banyak padanya setelah kondisinya pulih. Jadi rasanya Luhan akan melakukan apa saja termasuk bersandar di tempat tidur walau tubuhnya luar biasa lemas dan tak bisa bergerak jika Sehun tidak memegang pinggangnya dan membantu dirinya bersandar.
"aaa…."
Tak membuang waktu Luhan langsung membuka mulut, meminta satu suap bubur ke mulutnya hingga lagi-lagi Sehun menahan tawa kecilnya "Sebentar." Katanya memberitahu Luhan seraya meniup kecil bubur panas yang sengaja dibuatkan Paman Lee untuk Luhan "Ini, kunyah perlahan"
Luhan membuka selebar mungkin mulutnya, mencoba membiasakan diri dengan rasa bubur di mulutnya sampai akhirnya dia menyerah karena hanya mual yang dirasakan
Huweek~
Dia menutup mulut, mencegah bubur yang sudah susah payah ditelannya agar tidak keluar walau rasa mualnya kini berkali lipat lebih parah dari sebelumnya "Sehun maaf, aku tidak tahan lagi."
Sehun membantu memijat tengkuk Luhan lalu membujuk lagi mantan kekasihnya "Mencobalah, setidaknya lima suap." Katanya masih memijat tengkuk Luhan dengan wajah cemas karena kondisi Luhan nyatanya lebih serius dari dugaannya "Ya?"
"Tidak bisa, aku bisa memuntahkan seluruh isi perutku jika dipaksa."
"Setidaknya mencobalah untuk bayi kita."
Barulah saat Sehun mengatakan bayi kita untuk kali pertama dengan suara lembutnya, Luhan tertegun. Hatinya sedikit menghangat dan perlahan rasa mualnya berangsur hilang bersamaan dengan ucapan dan tatapan lembut Sehun untuknya "Mereka pasti kelaparan karena ibunya tidak memakan apapun selama tiga hari, hmh?"
"…"
Sehun sedikit frustasi karena Luhan tak kunjung menjawab, dia juga memikirkan cara lain sampai tak sengaja matanya menatap beberapa perlengkapan bayi yang mulai dibeli Luhan satu-persatu untuk kedua putranya kelak.
"Jika kau sembuh aku akan menemanimu mencari perlengkapan yang kurang untuk bayi kita. Bagaimana?"
"huh?"
"Paman bilang kau belum menemukan tempat tidur yang cocok untuk si kembar. Aku akan membantumu mencari dan memilih warna untuk mereka."
Diam-diam Luhan melihat ke sisi lemari kecil yang sudah dipenuhi dua pasang baju kembar yang masing-masing memiliki dua warna, biru dan merah. Semua sudah hampir lengkap kecuali tempat tidur bayi yang tak kunjung ditemukan Luhan karena menurutnya semua tidak aman dan bisa membuat celaka kedua putranya.
"Aku tahu toko yang menjual lengkap perlengkapan bayi, kau pasti menyukainya."
"Benarkah?"
"Ya tentu saja. Lima suap dan aku akan membawamu kesana."
Luhan terbujuk, dia juga mengangguk bersemangat lalu memaksakan diri kembali membuka mulutnya "aaa…"
"Perlahan saja, oke?"
"hmmh…"
Dan setelahnya Sehun benar-benar menyuapi Luhan dengan sabar. Terkadang Luhan akan memuntahkan buburnya, dia juga mengunyah sangat lama lalu meminum air sampai tiga gelas tanpa menyentuh buburnya "Sekali lagi." ujarnya membujuk Luhan dibalas tatapan lelah dari mantan kekasihnya "Sudah lima suap."
"Aku tahu, sekali lagi dan kau bisa tidur."
Tak seperti suapan kedua, Luhan benar-benar terlihat malas membuka mulut, dia pun hanya mengangguk perlahan lalu membuka mulutnya untuk terakhir kali sebelum dia benar-benar memuntahkan seluruh isi perutnya "aaaa…"
"Selesai."
Sehun meletakkan mangkuknya, kini dia mengambil gelas terakhir yang bisa diminum Luhan lalu membantunya meminum obat "Minum ini."
"Tidak, jangan obat. Berikan aku vitamin untuk bayi kita saja."
Sehun menghela dalam nafasnya lalu mulai jengah karena sedari tadi yang Luhan pikirkan hanya bayi mereka lalu mengabaikan dirinya sendiri "Luhan…."
Luhan tahu nada dingin itu, Sehun sedang menahan kesal karena mungkin tingkahnya menyebalkan. Tapi demi Tuhan dia sudah terlalu banyak meminum obat termasuk obat rutinnya, jadi rasanya dia tidak tega jika harus berbagi zat kimia itu lebih banyak dengan kedua bayinya.
"Tapi bayiku terlalu banyak terkena zat kimia pagi ini."
"Mereka bayiku juga, itu artinya mereka kuat dan berhenti menahan diri, kau membutuhkan obat untuk sembuh."
"…"
"Berhentilah keras kepala."
Tak mau Sehun kembali marah padanya, buru-buru Luhan mengambil obat dari tangan Sehun dan meminumnya perlahan. Dia benar-benar meminumnya lalu menyerahkan gelasnya pada Sehun "Sudah." Katanya memberitahu dibalas senyum lega dari ayah dua bayinya yang kini mengusap lembut surai kepala miliknya "Bagus. Kau bisa tidur setelah ini."
Sehun beranjak pergi namun buru-buru Luhan menahan lengan mantan kekasihnya hingga membuat Sehun bertanya "Ada apa?" dibalas gerakan refleks Luhan yang melepaskan genggaman tangannya "Bisa temani aku sebentar? Sampai aku benar-benar tidur."
Mata Sehun memicing tajam, memperhatikan bagaimana raut pucat wajah Luhan mendominasi hingga tanpa sadar menyeretnya kedalam tatapan sendu itu dan mulai kembali duduk tepat di samping pria cantik yang sampai saat ini selalu berhasil membuat hati dan pikirannya kacau.
"Tidurlah, aku menemanimu."
"Sehun."
"hmh?"
"Ayahku, apa dia tidak akan menggangguku lagi?"
Sehun menyadari ketakutan Luhan selalu berasal dari bajingan tua itu, dia kemudian menepuk lembut pundak Luhan lalu bersumpah dengan hidupnya tidak akan pernah membiarkan bajingan tua itu menyentuh Luhan lagi, tidak selama dirinya masih hidup dan menjaga Luhan seperti saat ini.
"Kau tenang saja, dia tidak akan menyentuhmu lagi."
Semua ketakutan dan kecemasan yang Luhan rasakan seolah dibawa pergi bersamaan dengan suara lembut dari sosok yang begitu dicintainya hingga saat ini. Sehun bahkan mengusap lembut pundaknya seolah meninakbobokan dirinya yang benar-benar sedang jatuh sakit.
"Gomawo Sehunna."
"Tidak perlu, tidurlah." Katanya kini mengusap lembut tengkuk Luhan lalu tanpa sadar mengatakan "Harusnya aku yang meminta maaf, jika saja aku langsung mengejarmu dan tidak membiarkanmu pergi, bajingan itu tidak akan pernah bisa menyentuhmu."
"huh? Apa yang kau bicarakan? Aku tidak dengar."
Luhan bertanya dengan mata terpejam, rasa kantuknya luar biasa karena efek obat yang dia minum. Setelahnya, dia benar-benar tidur meninggalkan Sehun yang hanya bisa menatap sendu sosok cantik yang hampir celaka karena keegoisan hatinya.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi, setidaknya sampai bayi kita lahir. Kau aman dipelukanku." Katanya menyingkap selimut Luhan lalu mengusap lagi perut buncit mantan kekasihnya "Maafkan Papa." Katanya menunduk lalu tanpa suara mencium lama perut Luhan sebagai rasa penyesalan terdalamnya yang tidak bisa menjaga Luhan dan kedua buah hatinya dengan baik.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku pilih yang merah."
"Baiklah. Lalu bagaimana dengan piyama tidurnya? Apa anda akan mengambil warna merah juga?"
"mmhh….Merah saja!"
"Baik tuan."
"Tapi yang biru juga lucu."
"huh? Jadi merah atau biru?"
Saat ini Luhan sedang dalam masalah besar, karena sudah hampir dua jam dia berada di toko perlengkapan bayi yang dijanjikan Sehun, belum ada satupun barang atau pakaian yang benar-benar dipilihnya untuk dibawa pulang.
"Entahlah, Semuanya bagus." Katanya meringis dibalas kekehan dari si pegawai toko yang kini mengerling Sehun untuk Luhan "Kenapa anda tidak bertanya pada suami anda?"
"Suami?"
Si pegawai melihat ke arah Sehun yang sedang duduk santai dan membaca surat kabar sementara Luhan sedang kebingungan memilih perlengkapan bayi mereka "Tampaknya suami anda akan membantu pilihan anda."
"ah, Kau benar, suamiku." Katanya tersipu malu lalu dengan susah payah berjalan mendekati Sehun yang masih fokus dengan surat kabarnya, bibirnya tak berhenti tersenyum walau hatinya sedikit ragu untuk meminta pendapat ayah dari dua bayinya "mmhh..Sehun."
Yang dipanggil segera meletakkan surat kabarnya, dia terlalu fokus hingga tidak menyadari kedatangan Luhan yang kini berdiri tepat di depannya "Ada apa? Sudah selesai?"
Luhan menggeleng lalu menunjuk piyama tidur bergambar iron man yang sedang dipegang oleh karyawan yang menemaninya "Aku bingung."
"Apa?"
"Merah atau biru?"
Sehun mengerutkan dahinya, melihat sekeliling lalu tertohok menyadari bahwa sedari tadi Luhan belum memilih satupun barang atau pakaian yang memiliki dua warna, merah dan biru.
"Apapun yang kau suka."
"mmhh…Tapi aku bingung."
Sehun kini tertunduk lalu tertawa kecil dan menyuarakan pilhannya "Keduanya."
"huh?"
"Putra kita kembar, jadi kau bisa memakaikan masing-masing merah dan biru pada mereka."
"Kau benar! Keduanya!"
Saat ucapan Sehun terdengar masuk akal, barulah Luhan bereaksi nyaris menjerit, dia bahkan tergesa-gesa mencari Pegawai toko untuk mengatakan "Aku ambil keduanya, merah dan—rrh!"
Sehun melihat kejanggalan dari cara Luhan meringis, buru-buru dia berdiri di belakang Luhan, tangannya memeluk pinggang Luhan lalu bertanya "Ada apa? Kau sakit?" katanya cemas dibalas senyum menahan sakit dari Luhan "Belakangan ini kontraksinya menjadi sering, aku tidak bisa menduganya."
"Apa itu normal?"
"Normal, kau tenang saja, aku akan baik lagi setelah sepuluh menit."
Sehun cemas, persetan dengan kontraksi atau apapun yang tidak dia mengerti, yang jelas Luhan sangat kesakitan dan saat tangannya menyentuh perut buncit Luhan hanya tegang dan kencang yang dia rasakan, tidak seperti biasanya.
"Kita pulang! Kau harus segera berbaring."
"Tapi aku belum selesai memilih."
"Kita lakukan nanti."
"Dua bulan lagi aku melahirkan, semakin kita menunda, kontraksi yang aku alami akan semakin sering."
Beginilah Sehun, selalu menyerah pada keras kepala mantan kekasihnya. Bahkan saat status mereka hanya mantan kekasih untuk dua orang putra Sehun tetap tidak mengatasi Luhan dan sifat keras kepalanya.
Kini dia berfikir seraya mengambil berat nafasnya, mencari apa yang bisa dia lakukan sampai seluruh tumpukan barang dan pakaian berwarna merah dan biru terlihat di kedua matanya "Nona." Katanya memanggil si pegawai dibalas bungkukan hormat dari pegawai toko "Ya tuan."
"Aku ambil seluruh barang yang dipilih istriku, merah dan biru, semuanya."
Setelah memberi perintah, Sehun tanpa ragu membawa Luhan pergi meninggalkan toko. Berniat membawa Luhan untuk berbaring dan hanya memastikan bahwa Luhan dan dua bayinya baik-baik saja.
"Sehun…"
Sehun bahkan tak sadar menyebut Luhan istriku hingga si pemilik nama benar-benar dibuat berdebar gila seolah melihat Sehun yang dulu, yang masih menjadi kekasihnya dan terus menggenggam erat tangannya terlampau erat dan hangat "Bagaimana ini? Rasanya aku semakin mencintaimu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Klik…
.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, terlihat wajah lelah sang pemilik kamar yang kini menyalakan lampu ruang kamarnya, dia meletakkan asal tas dan kemejanya seraya tersenyum lega karena setidaknya Luhan tidak menunggu dirinya dan hanya tidur bersama kedua bayi mereka.
"haah~"
Sehun benar-benar kelelahan, dia sudah menghabiskan waktu untuk bekerja dan kini hanya ingin beristirahat di tempat tidurnya bersama Luhan yang kehadirannya sudah membuatnya mulai terbiasa.
Dia pun perlahan berjalan mendekati tempat tidur untuk mendapati entah apa yang sedang Luhan lakukan di depan cermin "What the…."
Keinginannya sederhana, dia ingin melihat Luhan tidur disaat dirinya selesai bekerja, bukan melihat Luhan sedang berdiri menatap cermin dan sedang mengusap perutnya seolah membuat percakapan serius dengan kedua putra mereka
"Sehun."
Dan kemarahan Sehun sepertinya kalah cepat dengan sapaan lembut Luhan yang kini menatapnya dari cermin. Dia lagi-lagi mengalah dan berakhir membuka kancing kemeja untuk mendekati Luhan di depan cermin "Apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku hanya sedang berbicara dengan bayi kita. Rasanya sangat menyenangkan mengingat dua bulan lagi kita akan bertemu dengan mereka."
"Tapi ini sudah malam, harusnya kau sudah tidur."
Luhan kini berbalik menghadap Sehun, membantu ayah dari dua putranya untuk melepas kancing kemeja lalu bergumam "Aku tidak bisa tidur sebelum kau datang."
"Lalu jika aku lembur sampai pagi kau tidak akan tidur?"
"Entahlah, Kau belum pernah lembur sampai pagi." Katanya polos lalu sedikit merona melihat bagaimana sempurna dan tegap dada bidang mantan kekasihnya "Tapi rasanya aku akan tetap menunggumu sampai kau datang."
"haah~ Terserahlah."
Sehun kini topless, memaksa Luhan untuk kembali menghadap cermin sementara dirinya memeluk Luhan tepat dibelakangnya "Beritahu aku apa yang kalian bicarakan?"
Perlahan jemari Sehun melepas satu persatu kancing piyama Luhan yang sengaja dia pesan khusus menyesuaikan bentuk tubuh mantan kekasihnya. Dan terimakasih pada si pemilik toko karena sudah membuat design yang simple namun terlihat seksi mengingat piyama Luhan berada di atas lutut hingga membuat tubuh sempurna mantan kekasihnya terlihat jelas di kedua matanya setiap malam.
"Banyak hal."
"Beritahu aku seluruhnya."
Setelah berhasil melucuti kancing piyama yang mengganggu, tangan kasarnya kini bergesekan dengan perut buncit Luhan, mengusapnya dengan gerakan melingkar sementara matanya tak sengaja melihat mata Luhan terpejam tanda dia menikmati sentuhan yang sedang dia lakukan di perutnya yang terlihat besar.
"Luhan."
"hmmh."
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
Luhan merona seraya menatap Sehun dari balik cermin, tangannya ikut bertumpu di atas tangan Sehun lalu keduanya sama-sama mengusap perut mereka hingga tendangan-tendangan kecil dirasakan keduanya sebagai respon dari bayi mereka.
"Mereka belum tidur?" Sehun bertanya dibalas senyum kecil dari Luhan "Mereka selalu menendang jika aku tidur, seperti ingin mengajak bermain."
"Jika tahu mereka akan bermain denganku."
Kepala Luhan kini bersandar nyaman di tengkuk Sehun, beruntung Sehun tidak mengelak dan justru menghujaninya dengan beberapa kecupan singkat di surai kepalanya "Putra kita pasti beruntung memiliki ayah sepertimu."
Sehun tersenyum seolah berterimakasih, dia juga terus menciumi surai Luhan sementara tangannya tak henti mengusap dua malaikat kecilnya di dalam perut pria cantik yang pernah menjadi kekasihnya "Well, Jadi apa saja yang kau bicarakan dengan mereka?"
"Kau masih ingin tahu?"
"Ya."
Luhan membawa tangan Sehun yang lain ke wajahnya, menciumnya lembut lalu menggenggamnya erat "Aku bertanya pada mereka apa kau sudah memiliki nama untuk bayi kita?"
"Tentu saja sudah."
Luhan menoleh, menatap Sehun seperti tidak terima karena tidak dilibatkan dalam pemberian nama "Sudah? Kapan? Lalu siapa nama mereka?"
Sehun tertawa gemas, lalu membawa Luhan menatap cermin lagi untuk berbisik "Rahasia, kau akan tahu setelah mereka lahir."
"Tapi aku ibunya."
"Dan aku ayahnya."
Luhan kesal pada awalnya, tapi melihat bagaimana Sehun terlihat bahagia menggodanya dia tidak memiliki pilihan lain selain tertawa "Baiklah, aku akan bersabar sampai mereka lahir."
"Bagus, lalu apalagi yang kalian bicarakan?"
Wajah Luhan sendu pada pertanyaan Sehun selanjutnya, dia hanya tersenyum kecil lalu berkata jujur "Aku meminta mereka untuk menjagamu, mendengarkan apa yang kau katakan dan tidak pernah membuatmu marah atau sedih."
Sehun menyadari semua ucapan Luhan seolah tertuju pada hal menyedihkan yang sudah mereka lalui, tapi yang membuatnya bertanya-tanya semua yang dikatakan Luhan pada bayi mereka hanya tertuju untuknya.
"Hanya aku?"
"mmh…"
"Dan kau tidak?"
"Aku mungkin tidak akan sering bersama mereka."
Baiklah, Sehun sudah tahu kemana arah pembicaraan ini, gerakan di perut Luhan terhenti dan matanya kini fokus menatap wajah bodoh Luhan yang terus tersenyum tapi terlihat air mata disudut dua mata cantiknya "Apa kau akan pergi?"
"Aku ingin tinggal."
Sehun memutar perlahan kepala Luhan, memaksa kedua mata mereka bertatapan untuk mengatakan permintaan yang terdengar seperti perintah untuk Luhan "Kalau begitu tinggal!"
Setelahnya Sehun mendorong perlahan tengkuknya, menempelkan bibir keduanya sesaat hingga membuat Luhan secara refleks membuka bibir, mengundang pria yang masih begitu ia cintai untuk mengambilnya lebih jauh dari sekedar menggenggam tangan dan menempelkan bibir mereka.
"hmmh~"
Luhan bahkan sengaja mendesah, menempelkan dua tubuh mereka agar setidaknya Sehun bisa melakukan hal lebih yang begitu dia dambakan. Dan ya, katakan Luhan berhasil karena saat ini, perlahan namun penuh gairah yang besar.
Sehun mulai memeluk erat pinggangnya sementara bibirnya tengah membelit lidah Luhan. Mengecap, menyesap dan mengigit lidah mantan kekasihnya hingga menimbulkan decakan khas yang kemudian membangkitkan gairah keduanya.
"haah~ Aku rasa cukup Luhan."
Luhan mengerutkan dahinya lalu bertanya "Kenapa? Apa kau benar-benar membenciku?"
Sehun bisa melihat raut kekecewaan dari wajah Luhan, mempelajari betapa inginnya Luhan disentuh sampai melupakan fakta bahwa kini dia sedang mengandung dan segera melahirkan kurang dari dua bulan. Sontak pertanyaan Luhan membuat Sehun terkekeh dan menggigit gemas bibir mantan kekasihnya "Bodoh, aku tidak ingin menyakitimu. Kau akan mengalami kontraksi hebat jika aku menghentak kuat tubuhmu!"
Dan katakanlah Luhan sangat rindu disentuh Sehun, dia tidak mau ambil pusing memikirkan sehebat apa kontraksi yang akan dia rasakan nanti. Yang dia inginkan hanya disentuh Sehun, menyatu dengan Sehun, jadi saat ini dia akan melakukan segala cara agar Sehun terbujuk godaan gairahnya yang begitu besar dan sudah lama tak dia rasakan.
"Kumohon, sebentar saja." Katanya melingkarkan tangan di tengkuk Sehun lalu mendorong tengkuk ayah dua putranya. Bibir mereka bertemu lagi, tapi kali ini Luhan harus bersusah payah karena Sehun tampaknya benar-benar tidak ingin "bermain" dengan tubuhnya.
"Sehun, kumohon."
Luhan berjinjit, ciumannya semakin dalam walau Sehun tak merespon. Dia tidak berniat menyerah dan memperdalam ciumannya, semakin dalam, terlalu dalam sampai akhirnya Sehun merespon dengan mengangkat bridal tubuhnya.
"heunggh~"
Luhan menyuarakan lagi protesnya, jujur kakinya keram karena terlalu lama berjinjit dengan beban dua bayi yang harus dia bawa di dalam perut. Tapi saat Sehun tersenyum menatap dua matanya, Luhan memiliki firasat bahwa hal yang begitu dia dambakan selama beberapa bulan akan terjadi malam ini.
"Baiklah, katakan padaku jika kau merasa sakit."
Tanpa ragu Luhan mengangguk, dia memeluk erat leher Sehun sementara ayah dua bayinya kini perlahan membaringkan tubuhnya ke tempat tidur. Keduanya saling bertatapan lagi, kali ini Sehun berniat membuang piyama tidur Luhan sampai tangan Luhan menahan tangannya.
"Ada apa?"
"Aku akan terlihat sangat gemuk, bisakah kita melakukannya tanpa harus membuka pakaian."
Sehun terkekeh lagi, dia mencium Luhan membawa kecemasan Luhan pergi dan hanya membuatnya fokus pada ciuman. Dan setelah berhasil membuat Luhan terkecoh dengan satu gerakan cepat Sehun membuang piyama Luhan hingga terlihat tubuh polos sempurna Luhan tanpa cacat seperti saat pertama kali dia mengambil tubuh mantan kekasihnya.
"Kau cantik."
Refleks, paha Luhan tertekuk, menutupi bagian private nya dibalas tatapan tak percaya dari Luhan "Serius Lu? Kau ingin bercinta tapi kau menutupi bagian yang akan kubuat nikmat? Lalu bagaimana cara kita bercinta jika kau terus bersikap malu seperti itu?"
"Beri aku waktu, aku belum terbiasa."
Sehun tak sabar, tangannya merentangkan kaki Luhan, perlahan melebarkan pahanya sampai terlihat satu lubang kecil yang membuatnya berhasil menjadi seorang ayah dari pria cantik yang pernah begitu dipujanya.
"Sudah berapa lama dia tidak terjamah?"
Sudah pasti "dia" disini yang ditanyakan Sehun adalah hole sempit miliknya. Luhan dibuat semakin salah tingkah hingga berniat menekuk lagi dua pahanya sampai satu tangan Sehun berhasil menahan dirinya sementara tangannya yang lain kini berada tepat di bibir Luhan
"Kulum jariku."
Luhan tahu akan dibuat apa jemari Sehun yang basah, tapi seolah tak peduli dia mulai membuka mulut, menyambut jari telunjuk Sehun lalu mengulumnya tak sabar. Sehun juga tak sabar, dia menambahkan jari tengah dan jari manisnya di bibir Luhan, membuat bibir pria cantik itu penuh lalu dia lepas begitu saja.
"Tahan sedikit, ini akan sakit." Katanya memperingatkan Luhan diiringi erangan luar biasa menyakitkan dari bibir Luhan yang kini mencakar pundak Sehun "Sehun—AAKH!"
Jari Sehun belum sepenuhnya masuk, dia pun berhenti, membiarkan Luhan terbiasa dengan rasa sakitnya sampai dua mata cantik itu terbuka seolah memberinya izin untuk bergerak lagi "Lakukan."
Sehun menusuk semakin dalam dengan jari telunjuknya, perlahan, hingga suara "hmmh~" lolos dari bibir Luhan seolah memberitahunya bahwa dia sudah mulai nyaman dan terbiasa "Aku bergerak."
Luhan mengangguk, dan setelahnya Sehun setengah menindih Luhan sementara jarinya bermain cantik di lubang yang akan segera dimasukinya. Niatnya membuat Luhan terbiasa, tapi salahkan Luhan yang terlihat sangat menggairahkan hingga membuatnya tanpa sadar bermain sedikit kasar dan melampiaskannya dengan ciuman menuntut yang kini sedang dia lakukan dibibir mungil mantan kekasihnya.
"hmmhh~"
Luhan sedikit kewalahan, Sehun menciumnya ganas, tempo keluar-masuk jarinya juga bertambah cepat dan kini tak hanya satu, Sehun sudah memasukkan dua jarinya, menusuknya bergantian sampai Luhan bisa merasakan jari ketiga ikut bergabung dan mengoyak tubuhnya didalam sana.
"Sehun, per-lahan—aah."
Tubuhnya membusung keatas, tak lama Sehun menyeringai saat perutnya dipenuhi dengan cairan Luhan yang baru saja mendapatkan klimaks pertamanya "Kau bahkan sudah terbiasa dengan tiga jari." Katanya berbisik menggoda, masih belum mengeluarkan jari tengahnya ciuman Sehun sengaja turun semakin ke bawah.
Mengecup leher Luhan, turun menggigit dua tonjolan kecil Luhan yang begitu sensitif seiring kehamilannya, dia bahkan sengaja menyesapnya kuat sebelum turun ke pusar Luhan, menjulurkan lidahnya dan bermain disana cukup lama sampai bibirnya menyeringai menyadari bahwa Luhan sudah kembali tegang terlihat dari penis mungilnya yang kini mengenai wajah Sehun yang sedang bermain di pusarnya.
"Sehun apa yang kau lakukan?—rrhhh!"
Tatkala rasa hangat melingkupi bagian private dan seluruh tubuhnya, refleks, tangan Luhan mencengkram kuat sprai tempat tidurnya dan Sehun. Entah apa yang dilakukan Sehun dengan mengulum penisnya, dia nyaris gila ditambah tempo kuluman Sehun di penisnya sama kuat dengan hentakan jari Sehun di dalam lubangnya.
"akh, akhh…Sehun, aku tidak tahan..Sehuunnaaahhh~"
Dan katakanlah Luhan sedang berada di pusat sensitifnya. Bukan karena kehamilannya, tapi sentuhan Sehun sangatlah berbeda dari beberapa waktu lalu saat mereka masih menjadi sepasang kekasih.
Sehun yang akan menjadi ayah sesungguhnya kurang dari dua bulan ini, lebih terlihat tak bisa mengontrol nafsunya, dia cenderung kehilangan kendali entah karena alasan apa. Dan lihat bagaimana hasilnya? Karena kurang dari sepuluh menit saat dia mencapai klimask pertamanya, Luhan sudah merasakan klimaks kedua hasil dari kuluman Sehun yang begitu panas dan tusukan ketiga jarinya yang secara terus menerus menekan sweet spot miliknya.
"haaah~"
Setidaknya bibir Sehun berhenti mengulumnya, Luhan bisa bernafas lega sesaat sebelum tubuh Sehun merangkak menindihnya dan tersenyum seperti dewa karena demi Tuhan, ayah dari kedua putranya benar-benar terlihat begitu tampan dengan seluruh aura mematikan namun begitu menggairahkan miliknya "Aku akan mengambilmu."
Ucapannya singkat, tapi efeknya untuk Luhan benar-benar membuat tubuhnya merinding dibuat gugup. Kurang dari sepuluh menit dia sudah dua kali mencapai nikmat sementara Sehun? Mantan kekasihnya itu kini sibuk melepas celana kerja dan boxer miliknya lalu terlihat kejantanan Sehun yang berhasil membuatnya hamil delapan bulan yang lalu.
"Bangun sebentar."
Saat mata Luhan masih terhipnotis dengan kegagahan penis Sehun, tangan besar mantan kekasihnya itu justru menarik lengannya, meminta dirinya untuk bangun sementara Sehun bersandar di tempat tidur mereka.
"Kau ingin mengulumnya?"
Sehun menawarkan dibalas rona merah di wajah Luhan, membuat si pria tampan terkekeh untuk membantu Luhan duduk di atas perutnya "Nanti saja, aku rasa kita harus melakukannya perlahan kan. Aku ingin langsung masuk sebelum kau mengalami kontraksinya." Katanya membantu Luhan memposisikan diri hingga tanpa sengaja Luhan bisa merasaskan tusukan-tusukan yang begitu keras dari penis mantan kekasihnya.
"Kita melakukan on top?"
Sehun masih sibuk memegang pinggangnya, dia kemudian mengangguk lalu sekilas mencium bibir Luhan "Ini posisi paling aman untukmu." Katanya tertawa lalu mulai mendekatkan penisnya mencari dimana lubang Luhan berada "Kau bisa melebarkan sedikit pahamu?"
Luhan mengangguk, walau rasanya perih dia sedikit berjongkok di atas perut Sehun dan mulai melebarkan pahanya. Dan tak butuh waktu lama sampai Sehun bisa menemukan dimana lubang yang sudah melakukan foreplay dengan tiga jarinya.
"Luhan tatap aku."
"huh?"
"Aku akan langsung mengentaknya, jadi jika kau sakit kau harus-…."
Sepertinya ucapan Sehun hanya pengalihan, karena disaat dia berbicara, disaat yang sama pula dia menurunkan pinggang Luhan lalu memajukan tubuhnya hingga
Sleb
"AKHHHH~"
Luhan berteriak histeris, tubuhnya mengalami kontraksi ringan yang diredakan Sehun dengan mengecupi bibir dan mengocok penisnya perlahan. Air mata tak terhindar, dia mencakar, menggigit dan menangis di pundak Sehun sementara si calon ayah mulai merasa bersalah karena tidak memberi peringatan dengan benar.
"Apa sangat sakit?"
"ngghh~"
Luhan mengangguk, dia masih menggigit pundak Sehun hingga rasa anyir dirasakannya, sekilas dia bisa melihat pundak Sehun berdarah dan itu karena ulahnya yang begitu kesakitan "Penuh, sesak, aku tidak bisa bernafas."
"ssh…Tenanglah Lu, setelah kita bergerak kau akan baik-baik saja, hmmh?"
Luhan masih menangis, dibawah sana dia seperti dirobek menjadi berkeping tak tersisa, rasanya begitu menyakitkan tapi menyadari bahwa ini yang dia inginkan, Luhan pun mengangguk tanda dia mempercayai Sehun.
"Aku bisa bergerak?"
"Jangan bergerak sepihak, lakukan bersama." Katanya menggerutu dibalas kekehan dari Sehun "Baiklah, dalam hitunganku."
Luhan setuju, dia mulai berhenti mencakar pundak Sehun dan hanya melingkarkan lehernya, dia juga setengah berdiri walau lagi-lagi kakinya kram mengingat beban perutnya begitu besar "Satu…"
Sehun mulai menghitung, dia mengecup dua nipple Luhan dengan tangan kanan mengocok penis Luhan sementara tangan kirinya melingkar di pinggang Luhan, menjaga ibu dari anak-anaknya agar tidak terjatuh dan tetap fokus pada permainan mereka.
"Dua…"
Luhan cemas, dia lebih memilih menyerahkan semuanya pada Sehun karena jujur, dia terlalu bersemangat hanya untuk merasakan hentakan Sehun di dalam tubuhnya.
"Tiga…"
Bersamaan dengan hitungan ketiga, Sehun menurunkan pinggang Luhan dibalas dengan pinggulnya yang maju mendekat. Tubuh mereka berhasil menyatu sempurna dan kali ini masing-masing desahan keluar dari bibir keduanya
"aah~ / Luhanngggh~"
Luhan menggigit lagi pundak Sehun, dia belum berani bergerak sendiri karena masih begitu perih. Sehun mengerti, dan dia masih melakukannya seorang diri sementara yang dilakukan Luhan hanya pasrah saat pinggangnya dinaikturunkan oleh Sehun yang mulai menyerang titik sensitifnya lagi.
"Ah~Sehun, disana—hhmh.."
"Benarkah? Kau mau mencoba bergerak sendiri?"
Luhan berhenti menggigit pundak Sehun dan mengangguk, dua tangannya tetap bertumpu pada leher Sehun sementara perlahan pinggulnya mengangkat dan
"ngghhhAAKH~"
Luhan merasakan sensasi luar biasa saat dia bergerak sendiri, ditambah penis Sehun terus menerus tepat menekan prostatnya hingga tanpa sadar dia terus bergerak sendiri dengan lihai.
Luhan seolah menari di pangkuan Sehun, wajahnya mendongak ke atas menikmati setiap tusukan di lubangnya sementara Sehun tak membuang kesempatan untuk mengecup leher Luhan, menggigit dua nipplenya bergantian hingga tempo kocokan tangan Sehun di penis Luhan semakin cepat seiring dengan gerakan Luhan di pangkuannya.
"haah~ / More…MoreeSehun…"
Luhan kehilangan kendalinya, dia terus bergerak tanpa henti sampai Sehun merasakan pergerakan Luhan melambat, jepitan dinding rektum Luhan di penisnya menguat tanda bahwa Luhan sudah dalam batasnya untuk bergerak mengingat dia akan mencapai klimaks ketiganya malam ini.
"Biar aku-…"
Sehun mengambil alih permainan, Luhan kemudian jatuh lemas di pelukan Sehun walau pinggulnya terus digerakkan. Dia membantu Sehun dengan sengaja menjepit penis Sehun tiap kali menekan prostatnya. Terus dia lakukan seperti itu hingga tanpa sadar dia menggigit cuping telinga Sehun dan berbisik "Sehun, aku datang—rrhhh-AAAAHH~"
Luhan mencapai klimaksnya, lagi. Kali ini Sehun yang dibuat kewalahan karena jepitan dinding rektum Luhan di penisnya begitu kuat, dia seperti disedot kuat hingga matanya terpejam dan menikmati sensasi bagaimana Luhan mengeluarkan semua cairan nikmat yang membasahi perut Sehun "haah~ Sehun aku begitu…ini begitu nikmat."
Luhan mengoreksi ucapannya dibalas senyum kecil dari Sehun, si pria tampan yang belum merasakan klimaksnya sekalipun kini mulai mengangkat dua bongkahan bokong Luhan lalu membuatnya bergerak lagi.
Dia menusukkan tepat di daerah sensitif Luhan sampai rasanya dia bisa merasakan klimaks susulan Luhan mengingat jepitan di penisnya semakin kuat sementara perutnya terus basah karena cairan mantan kekasihnya.
Tak peduli, Sehun hanya terus bergerak stabil, mencium bibir Luhan dan tak lama dia merasakan jepitan lagi hingga kali ini dia menyerah bersamaan dengan erangan Luhan yang mendesahkan "Aku klimaks, lagi—haah~"
Luhan mencapai klimaksnya lagi bersamaan dengan Sehun yang kini sudah memenuhi Luhan dengan cairan sperma miliknya. Penis keduanya masih berkedut seolah ingin mengeluarkan seluruhnya sampai Sehun lebih dulu bergerak mengangkat Luhan dan memisahkan tubuh mereka yang dikotori sperma masing-masing.
"Seperti biasa, kau selalu membuatku puas." Katanya berbisik di telinga Luhan dibalas senyum kecil yang begitu membuat Luhan terlihat sangat cantik "Apa sakit?" Sehun bertanya lagi dibalas erangan nafas Luhan yang masih belum teratur.
"Punggungku sakit."
Sehun tertawa, setelahnya dia menyelimuti tubuh Luhan sementara dia memakai boxer. Jujur dia masih bermain sekitar empat jam lagi, tapi mengingat Luhan begitu lemas dan kelelahan, Sehun tidak memiliki pilihan lain selain memakai pakaian untuk mencegah kejantanan miliknya kembali mengoyak tubuh Luhan.
"Tidurlah, cukup untuk malam ini."
Luhan mengangguk, dia memindahkan kepalanya ke dada bidang Sehun, mencari posisi nyaman dengan tangan yang melingkar di pinggang Sehun lalu bergumam "Terimakasih Sehun, ini seperti mimpi."
Setelahnya dia tertidur pulas bersamaan dengan tepukan lembut tangan Sehun di punggungnya, Sehun mencium lagi surai kepala Luhan lalu membalas ucapan terimakasih mantan kekasihnya "Sayangnya ini bukan mimpi, kita benar-benar bercinta."
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan pagi,
.
Luhan sengaja bangun lebih dulu dari Sehun, dia juga sempat membersihkan beberapa noda dan pakaian kotor Sehun yang terkena cairannya malam tadi. Selebihnya, dia bergabung dengan ayah Sehun dan paman Lee untuk mendapatkan sarapan nikmatnya mengingat malam tadi dia mengeluarkan tenaga yang begitu besar untuk melayani Sehun.
"Nak, perlahan."
Luhan mengangguk, dia terus melahap nasi goreng dan ayam bakar buatan koki terbaik mereka secara rakus, tak lupa dua gelas susu sudah habis ditenggaknya sementara roti keju bakar sudah menunggu tepat disamping kanannya.
"Lee!"
"Ya?"
"Apa kau tidak memberi Luhan makan malam tadi?"
"Aku masih ingin hidup asal anda tahu!"
"Lalu kenapa anakku terlihat sangat kelaparan?"
Si pengurus rumah tangga menaikkan dua bahunya, kini dia sibuk menyiapkan puding cokelat sebagai dessert untuk Luhan lalu berdiri tepat di samping si pria cantik yang terlihat sangat menggemaskan jika sedang memasukkan seluruh makanan ke mulutnya.
"Mungkin dia memang lapar." Katanya menjawab diiringi suara pintu kamar Sehun yang terbuka dan menampilkan si tuan muda yang tampan seperti biasa dengan mengenakan kemeja hitam lengkap dengan jas kerja yang berada di lengannya.
"Pagi tuan muda,"
"Pagi."
Seperti biasa, Paman Lee menyapa Sehun di pagi hari, seperti biasa pula dia akan mengambil alih tas dan jas kerja si tuan muda sementara Sehun akan berjalan menuju meja makan "Ini, letakkan di meja."
Namun yang menarik perhatiannya adalah fakta bahwa bibir Sehun dan Luhan sama-sama bengkak dan terdapat luka di kecil di sudutnya, terlebih saat tuan mudanya melonggarkan dasi dan membuka dua kancing teratas kemejanya, Paman Lee bisa melihat tanda merah di leher persis seperti milik Luhan yang terlihat begitu jelas.
"ah, Sepertinya anda memiliki malam yang panas tuan muda." katanya bergumam pelan dibalas pertanyaan oleh Sehun "Paman berbicara sesuatu?"
"Tidak, aku tidak mengatakan apapun."
Malas menanggapi pamannya, Sehun hanya mendengus kecil lalu menarik kursi tepat disamping Luhan yang sedang lahap memakan makanannya "Kau sudah bangun?"
"hhmmm~"
"Makanlah nak, jangan ganggu Luhan, sepertinya dia sangat kelaparan."
Sehun terkekeh, nyatanya baru dua jam mereka bercinta efeknya sudah membuat Luhan kehilangan kontrol atas makanan, dia pun setuju membiarkan Luhan untuk makan sementara diam-diam pamannya berbisik pada ayahnya "Sepertinya aku tahu apa yang membuat Luhan kelaparan."
"Apa?"
"Malam tadi dia baru saja dimakan oleh tuan muda."
Uhuk~
Luhan mendengarnya, dia tersedak air yang sedang diminum hingga tatapan kesal diberikan Sehun dan Tuan Oh pada satu-satunya pengurus di rumah mereka "Pelan-pelan." Katanya menepuk punggung Luhan dibalas senyum canggung dari mantan kekasihnya "Aku baik."
"Jaga bicaramu sialan! Lagipula kenapa Sehun memakan Luhan? Apa artinya itu?"
"ish! Bodoh sekali, itu artinya-….."
"Apa punggungmu masih sakit?"
Tuan Oh fokus pada pertanyaan Sehun lalu melihat Luhan dengan intens "Punggungmu sakit? Kenapa?"
"Ayah sudahlah."
"Apa? jika Luhan sakit itu sudah tanggung jawab ayah memastikan Luhan dan cucu ayah baik-baik saja."
"Mereka baik tuan besar."
"Darimana kau tahu?" katanya marah pada pengurus Lee sementara wajah Luhan benar-benar merah padam karena percakapan pagi ini bertema malam tadi, saat dia dan Sehun bercinta.
Sehun menyadari kecanggungan dari sikap Luhan, buru-buru dia menarik lengan Luhan lalu membawanya pergi dari meja makan "Kau membawa Luhan kemana?"
"Dia akan mengantarku sampai ke depan pintu!" katanya asal lalu tak lama bertanya lagi pada paman Lee "Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Anda benar-benar menyedihkan tuan besar!"
"Kenapa?"
"Dua pemuda itu bercinta malam tadi dan kau tidak menyadarinya?"
"Mereka apa-….." katanya masih tak mengerti lalu berbinar menatap pengurusnya "Benarkah?"
"Tentu saja, aku yakin itu."
"Apa artinya mereka kembali bersama?"
Paman Lee bisa melihat dua pemuda yang sepertinya sedang kembali merasakan cinta tengah berbisik, tangannya pun memegang pundak sang tuan besar lalu bergumam "Semoga mereka sudah kembali bersama."
.
.
Sementara itu,
.
"Jangan dengarkan dua pria tua itu, setelah aku pergi bermainlah dengan Vivi atau tidur dikamar."
Luhan masih tertunduk, jujur dia sangat malu dan tak memiliki wajah untuk menatap Sehun, tapi saat tangan Sehun mengangkat dagunya, mau tak mau mata mereka bertemu diiringi suara berat mantan kekasihnya yang mengatakan "Tenanglah, ini hanya aku." Katanya mengecup singkat bibir Luhan lalu beranjak pergi meninggalkan Luhan dengan ayah dan pamannya.
"Sehun!"
Dan sebelum pintu tertutup Luhan setengah berlari untuk mendekati Sehun dan meminta izin "Siang ini apa aku boleh pergi menemui adikku?"
Sehun mengerutkan dahinya lalu bertanya "Jaehyun?"
"hmmh, Aku ingin bertemu dengannya."
"Untuk apa?"
"Aku merindukannya."
Seperti tak memiliki pilihan, Sehun mengangguk sebagai persetujuan "Paman akan mengantarmu."
"Tapi hari ini jadwal ayah melakukan terapi di rumah sakit. Aku bisa sendiri, bolehkah?"
"Aku khawatir,"
"Aku akan segera pulang setelah bertemu dengan Jaehyun, Ya?"
Sial adalah saat mata Luhan berkedip lucu ketika memohon, karena jika dia sudah melakukannya maka Sehun tidak memiliki ucapan selain "Baiklah, jaga dirimu." Untuk setidaknya membuat Luhan memekik senang.
"Ya! Aku akan menjaga diriku dan bayi kita! Terimakasih Sehunna."
"Hubungi aku jika terjadi sesuatu."
"Pasti."
Setelahnya, pintu rumah Sehun tertutup, membuat sosok yang malam tadi memeluknya erat menghilang hingga rasanya Luhan sudah merindukan Sehun begitu banyak "tsk! Papa kalian benar-benar sempurna." Katanya terkekeh dan bergegas kembali ke kamar untuk segera menemui Jaehyun.
"Ayo pergi dan temui paman kalian!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sekiranya sudah dua puluh menit Luhan berdiri di depan universitas Jaehyun. Dan selama dua puluh menit itu pula harusnya dia sudah melihat Jaehyun keluar dari kampusnya mengingat jadwal yang diberikan Taeyong dan Kyungsoo mengatakan bahwa setelah jam sepuluh, Jaehyun tidak memiliki jadwal pelajaran.
"hmmh, Apa dia tidak masuk? Atau dia tahu aku datang?"
Luhan cemas, dia mulai berjalan mondar mandir di depan kampus adiknya, membiarkan seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang keluar menabraknya sampai suara ponselnya bergertar dan menarik perhatiannya.
Ddrrtt…drrtt…
"Siapa disaat seperti ini?" katanya merogoh ponsel miliknya lalu mendapati naman Seokjin, terlihat di layar ponselnya.
Buru-buru Luhan menggeser slide nya lalu menjawab panggilan sang manager dua perusahaan yang menggantikan posisinya di OSH'ent "Jinna?"
"Lu, mereka berkumpul di kafe agensi siang ini. Bisakah kau membujuk mereka?"
"Mereka?"
"Kesepuluh artis yang aku katakan akan menuntut. Mereka tertarik untuk bertemu denganmu."
"Ah, benarkah? Tapi bagaimana jika aku bertemu dengan Sehun?"
"Kau tenang saja, Presdir Oh memiliki janji makan siang dengan Presdir Park dan istrinya."
"Istri Presdir Park? Baekhyun maksudmu?"
"Ya, Baekhyun, dia istri Presdir Park jika kau tidak lupa. Lagipula mustahil kau lupa jika yang membuat mereka menikah adalah dirimu."
Luhan tertawa pilu, entah mengapa setiap mendengar Sehun bertemu Baekhyun ada perasaan gusar yang menganggunya. Dia kemudian bersandar di pagar universitas Jaehyun lalu bergumam "Baiklah, aku akan bicara dengan mereka."
"Katakan dimana posisimu, aku akan segera menjemputmu."
"Tidak perlu, aku bisa kesana sendiri. Posisiku sudah dekat."
"Baiklah, sampai nanti Lu."
"hmmh."
Tak lama Luhan mematikan ponselnya, memasukkannya ke dalam saku mantel yang dia gunakan lalu menatap kosong ke depan. Entah sampai kapan dia akan menghindari Baekhyun, tapi untuk bertemu dengan sahabat sekaligus mantan kekasih dari pria yang kini membuatnya hamil, itu masih begitu sulit dan terus membuat hatinya kacau.
"Hyung?"
Barulah saat dia mendengar suara si bungsu memanggil perlahan rasa cemas dan kacaunya hilang entah kemana. Ditambah saat si remaja berlesung pipi menatapnya cemas lalu berlari ke arahnya, Luhan merasa daripada membencinya, Jaehyun terlihat sangat menyayanginya.
"Ada apa? Kenapa berdiri disini? Sudah berapa lama?"
Buru-buru Luhan berjalan mendekat, merentangkan tangannya lalu memeluk si bungsu yang terlihat canggung dengan pelukan Luhan "hyung? Kau baik-baik saja? Bajingan tua itu tidak mengganggumu lagi kan?"
"Syukurlah."
"huh?"
"Syukurlah kau tidak membenciku, aku mau mati setiap kali mengingat kau berteriak akan membenciku lagi."
Jaehyun tersenyum pahit, kini dia tahu alasan mengapa Luhan berdiri menunggunya adalah untuk memastikan bahwa dia tidak membencinya seperti apa yang dia teriakan tepat di hari kematian ibu mereka "sssh, Maafkan aku berteriak mengerikan seperti itu. Aku tidak membencimu hyung." katanya memeluk Luhan dibalas pertanyaan "Benarkah?" dari pria yang lahir dari ibu yang sama dengannya.
Jaehyun tersenyum kecil lalu melepas pelukannya pada Luhan "Aku sudah terlanjur menyukaimu, jadi aku tidak bisa membenci apa yang aku suka, apa yang ingin aku lindungi."
"Jae…"
"aigoo…Jangan menangis hyung, aku terlihat seperti mencapakanmu. Ini tidak baik untuk image ku."
"tsk!"
Kedua kakak adik itu kembali berpelukan, tertawa bersama seolah sudah merelakan kematian ibu mereka yang masih begitu membuat sesak masing-masing dari mereka "Kau baik-baik saja?" Luhan bertanya dibalas anggukan dari Jaehyun yang sedang memeluknya "Tidak terlalu, tapi aku bisa bertahan karena Taeyong, Kau, Kyungsoo dan ketiga keponakanku."
"gomawo, anak nakal!"
"jja! Lalu apa yang membuatmu datang?"
"Aku hanya memastikan anak nakal ini tidak membenciku!"
"Hanya itu?"
"Hanya itu."
"Baiklah, kalau begitu aku akan mentraktir makan siang untukmu, bagaimana?"
Luhan tertawa lalu tiba-tiba memasang wajah masam "Aku ingin, tapi aku memiliki janji lain."
"eyy, Itu menyakiti hatiku."
"Maaf, tapi lain kali. Bagaiamana?"
"Sebelum dua jagoanku lahir kita harus kencan. Deal?"
Luhan tersenyum senang lalu menerima tos ringan milik Jaehyun "deal!"
Setelahnya Jaehyun memberhentikan taksi untuk Luhan, membukakan pintu lalu berbicara pada supirnya "Bawa perlahan mobilmu, istriku sedang hamil besar."
"sshh, bocah gila."
Jaehyun tertawa lalu mengusap surai kakaknya "Hubungi aku saat dirumah."
"Oke."
"Hati-hati dijalan." Katanya menutup pintu Luhan dan memperhatikan taksi yang membawa kakaknya pergi dan menghilang dari penglihatannya. Entah mengapa air mata Jaehyun menetes, dia kemudian mendongak menikmati semilir angin dan awan cantik yang sedang menyapa dirinya.
Tak lama Jaehyun menghapus air matanya lalu berujar lirih "haah, Eomma. Aku tidak membenci hyung, seperti keinginanmu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Benarkah? Mereka membatalkan tuntutan?"
"Ya, sepertinya mereka batal untuk menghianati agensi yang sudah membuat mereka terkenal dan dicintai banyak orang Presdir Oh."
Yang sedang mendapat laporan menyeringai penuh kemenangan, dia kemudian mengembalikan dokumen yang sedari awal menurutnya sampah untuk mengatakan "Mereka hanya remaja menyedihkan yang terus bergantung hidup pada kita, lupakan dan segera buat cara agar setidaknya EXO kembali mendapatkan daesang tahun ini." katanya terus berjalan memasuki agensi sampai tak sengaja melihat hal yang entah mengapa sangat membakar hatinya.
"Apa yang sedang dia lakukan disini?"
Asisten yang sedang menemani Sehun terpaksa berhenti melangkah, mencari tahu apa yang dimaksud sang presdir sampai matanya juga melihat ke arah kafe agensi untuk mendapati mantan manager paling tangguh yang pernah dimiliki OSH'ent sedang berbicara santai sesekali tertawa dengan Manager Kim dan salah satu Leader EXO, Wu Yifan.
"Ah, Saya dengar salah satu alasan mengapa kesepuluh artis kita membatalkan tuntutannya adalah karena campur tangan Manager Xi-…maksudku Luhan."
"Apa yang kau katakan? Kenapa Mantan Manager OSH'ent membantu masalahku? Ini sangat memalukan!"
Sebenarnya bukan kenyataan Luhan membantunya yang membuat Sehun marah, tidak, justru harusnya dia berterimakasih karena Luhan menyelamatkannya. Tapi seperti yang sudah dirasakan sejak awal, dia terbakar, hatinya membara penuh amarah melihat bagaimana salah satu artisnya kini sedang menggenggam tangan Luhan seraya mengusap perut buncit Luhan yang tengah mengandung darah dagingnya, kedua putranya.
Dan sialnya, dia mengetahui rumor yang mengatakan bahwa Leader EXO-M itu memang menyukai Luhan sejak dulu, keduanya pernah dikabarkan dekat dan hilang dari peredaran saat Luhan menjadi kekasihnya.
"sial…."
Berbeda dengan saat ini, dia dan Luhan tidak memiliki status selain dua pria yang akan segera memiliki malaikat kecil hasil percintaan mereka, selebihnya Luhan berhak memiliki pendamping lain dan Sehun-…..dia hanya bisa membakar dirinya dengan kecemburuan.
"Maaf Presdir Oh, tapi sepertinya Manager Kim lebih tahu apa yang harus dilakukan, dia terpaksa melibatkan Manager Xi agar-….."
"ALASAN! PANGGIL MANAGER KIM KERUANGANKU! SEKARANG!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Rasanya bohong saat kembali kerumah Luhan tidak terkejut mendengar cerita Jin yang mengatakan Sehun memecatnya, dia terkejut, sungguh. Bertanya-tanya apa yang terjadi dan mengapa Sehun sampai hati memecat sosok yang sudah menggantikan posisinya sukarela.
Jin tidak mengatakan detail dan alasan mengapa Sehun memecatnya. Oleh karena itu, saat waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Luhan hanya bisa menunggu Sehun dengan cemas berharap pintu kamarnya segera terbuka
Klik…
Dan betapa leganya Luhan saat mendengar pintu terbuka. Buru-buru dia menghampiri Sehun untuk mendapati tatapan dingin yang rasanya sudah tak pernah ditunjukkan Sehun selama dua bulan terakhir untuknya.
"Sehun…."
"JANGAN!" Luhan berhenti di langkahnya, sekilas dia bisa mencium aroma alkohol yang begitu kuat dan menebak bahwa Sehun baru selesai pergi minum dan kembali dalam keadaan sedikit mabuk "Jangan mendekat! Aku tidak berbicara dengan pria murah sepertimu!"
"Sehun apa yang kau katakan? Apa kau mabuk, duduklah sebentar. Aku akan menjelaskan alasan mengapa aku membantu Manager Kim, aku akan-…."
"DIAM SIALAN! HARUSNYA AKU TIDAK MEMBUKA HATIKU LAGI PADAMU! HARUSNYA AKU BENAR-BENAR MEMBUANGMU SEPERTI SAMPAH! AKU MEMBENCIMU! DARI LUBUK HATIKU YANG TERDALAM AKU SANGAT MEMBENCIMU!"
Luhan lemas, dia perlu menyesuaikan diri dengan perubahan sikap Sehun yang sangat berbeda dari pagi tadi, dia bahkan perlu bersandari di tempat tidur agar tidak terjatuh dan tidak menyakiti bayi mereka,
"apa salahku?"
Luhan bertanya-tanya diiringi air mata, kemudian Sehun melempar semua jas dan tas miliknya untuk berjongkok di depan Luhan "Pergilah."
"huh?"
"Setelah bayiku lahir, segera pergi dari rumahku. Kau dengar?"
BLAM!
Dan malam itu, entah Sehun berada dalam kondisi sadar atau setengah mabuk, merubah lagi keseluruhan hubungan mereka. Tak ada lagi senyum seperti malam tadi saat dia mengambilnya, yang ada hanya tatapan dingin sesekali kalimat benci yang terus Sehun bisikan di telinga Luhan sebanyak yang dia bisa, untuk menyakitinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ada kedaaan dimana aku boleh bersikap tidak baik-baik saja,
Karena memang aku tidak baik-baik saja
Ah,
.
Bagaimana bisa aku baik-baik saja jika kenyataannya,
waktu terus berlalu seolah berlari, meninggalkan aku
.
Membuatku bertanya,
Apakah sejak awal, memang bukan aku orangnya?
.
.
.
.
.
.
.
Five years later…
.
.
.
.
.
.
.
.
"MAMAMAMAMAAMA!"
Dor Dor!
"MAMAAMAMAMAMA!"
Sekilas waktu di arlojinya menunjukkan pukul dua belas malam, itu artinya hari sudah berganti walau malam masih panjang untuk dilalui.
Harusnya dia masih tertidur, mungkin menjemput mimpi jika suara gedoran di pintu flat kecilnya tidak digedor keras oleh beberapa orang di luar sana.
"MAMAMAMAMAMAA!"
Sret!
"Iya sebentar." Katanya menyingkap selimut, berjalan perlahan mendekati pintu flat kecilnya lalu bertanya "Siapa?"
"MAAMAMAMAMAMA!"
Barulah saat dia keluar dari kamar, saat kesadarannya mulai sepenuhnya kembali Luhan –si pemlik flat- menyadari bahwa dua suara yang sedari berteriak bergantian adalah suara dua putra kembarnya
"Sehan...Hanse..."
Yang dalam sekejap membuatnya berlari ke depan pintu lalu membukanya cepat untuk menemukan dua putranya sedang menangis sementara pengasuh mantan kekasihnya tetap berdiri tepat di belakang si kembar
"Paman?" Katanya menyapa paman Lee lalu terkejut saat dua putra kembarnya melompat dan memeluk kakinya erat.
"MAMAMAMAAA!"
"Astaga nak, kenapa kalian terus menjerit?"
Luhan berjongkok, menyambut dua putranya ke pelukan sementara Paman Lee hanya menatap tak enak hati pada Luhan "Ada apa? Beritahu Mama apa yang membuat kalian marah?"
Yang memiliki wajah Sehun sekaligus si bungsu dari si kembar, Oh Sehan, kini menghentak kesal kakinya, bicaranya memang belum lancar tapi dia sudah paham dan bisa menyalahkan
"PAPA JAHAT!"
Luhan mengerutkan dahinya lalu bertanya "Dan kenapa papa jahat?"
"hksss…."
"Astaga nak, ada apa, hmmh?"
Luhan cemas tiap kali si sulung, Oh Hanse, menangis tanpa suara. Biasanya putra pertamanya yang lahir akan selalu menjerit tiap kali tidak menyukai hal yang mengganggunya, bukan menangis terisak hingga seperti terlihat drama untuknya.
"Ayo sayang masuk."
Luhan mengulurkan tangan pada si bungsu sementara Hanse berada di pelukannya "Paman masuklah."
Dan tak perlu memakan waktu lama, Luhan dalam sekejap bisa menidurkan dua putranya bersamaan. Dan setelah memastikan keduanya tidak lagi menangis dia mencium masing-masing kening Hanse dan Sehan lalu menarik selimut keduanya "Ada apa hmmh? Kalian membuat Mama cemas." Katanya meninggalkan si kembar lalu berjalan menemui paman Lee.
"Paman maaf menunggu lama."
"Harusnya aku yang meminta maaf padamu. Tiap kali si kembar marah dia hanya ingin bersama ibunya."
Luhan terkekeh, dia membuatkan coklat hangat untuk paman Lee lalu duduk tepat di depan sang paman "Jadi kenapa lagi kali ini?"
Tak enak hati paman Lee menyesap coklat hangat buatan Luhan lalu mengatakan "Seperti biasa, mereka marah pada ayah mereka."
"Kenapa? Ah, apa Sehun membawa wanita baru lagi yang dikenalkan pada si kembar."
Paman Lee mengangguk pasrah lalu mengatakan "Ya,"
Luhan terdiam sesaat, pikirannya tidak fokus tiap kali mengetahui Sehun membawa wanita ke rumahnya untuk dikenalkan sebagai ibu baru bagi si kembar. Kadang dia ingin menangis, bertanya mengapa Sehun sangat keji padanya bahkan setelah lima tahun berlalu.
Tapi kemudian dia mulai terbiasa, karena setelah menetap bersama setelah hampir tiga tahun lamanya, Luhan memutuskan angkat kaki di tahun keempat mengingat Sehun tak hentinya mengenalkan beberapa wanita cantik yang akan menggantikan posisinya dirumah.
"Namanya Min Chaerin, aku benar?"
Lagi, sang paman tersenyum kecil lalu membenarkan "Min Chaerin. Darimana kau tahu nak?"
"Dia singer coach untuk Red Velvet. Aku melihat kemesraan mereka di agensi."
Berita mengejutkannya Luhan kembali mendapatkan posisinya sebagai Manager Xi di tahun ketiga saat putranya berulang tahun, aku rasa ayahku benar, selamanya hanya Manager Xi yang bisa memberikan artis terbaik untuk OSH'ent, begitu alasan Sehun hingga tanpa sadar sudah hampir dua tahun Luhan kembali bertugas menjadi Manager pencari bakat dan bernaung di atap agensi yang sama dengan Sehun, ayah dua putranya.
"Aku tidak tahu jika pria itu benar-benar keji padamu!"
Luhan tertawa lalu ikut menyesap coklat manis hangat yang terasa pahit untuknya "Dia tidak keji, aku pernah menjadi buruk untuknya dan aku menyesalinya hingga saat ini. Sehun hanya ingin mencari bahagia di hidupnya, paman."
"Sampai kapan kau akan membela idiot itu?"
Kali ini Luhan mengaduk cokelat panasnya lagi lalu bergumam "Sampai nanti akhirnya aku mati karena sesak."
"Luhan…"
Luhan tersenyum, mengangkat wajahnya dan bertanya "Jadi kapan Sehun akan datang menjemput si kembar?"
"Mungkin beberapa jam lagi, dia sedang mengantar kekasihnya."
"hah~ Baiklah, aku akan menunggu beberapa jam lagi."
"Aku bisa memberitahu si idiot itu agar datang besok pagi."
"Aku bertaruh Sehun akan tetap datang walau kau larang. Lagipula ini bukan jadwal si kembar menetap denganku, aku masih harus menunggu selama dua minggu."
"Aku tidak tahu terbuat dari apa hati dan pikiranmu Luhan." katanya mengusap sayang surai Luhan lalu menggeser kursi, berpamitan "kalau begitu paman permisi, kau tahu Sehun tidak akan lolos dari kemarahan ayahnya, aku hanya tidak ingin dia mati konyol karena tongkat ayahnya."
Luhan tertawa dan mengantar kepergian sang paman "Paman harus menyelamatkan Sehun, aku tidak mau kedua anakku kehilangan ayah mereka hanya karena tongkat ajaib kakek." Katanya dibalas kekehan dari Paman Lee "Tenang saja, aku akan menyelamatkan si idiot."
Luhan setelah lima tahun berlalu terlihat sangat dewasa dan elegan, dia jarang menangis karena terus disembunyikan oleh senyumnya yang cantik dan menawan. Banyak orang yang tidak tahu jika hatinya hancur berkeping mengingat sang Manager adalah si piawai yang selalu berhasil memisahkan mana urusan pribadi dan mana urusan yang bisa kau bagi.
Paman Lee saksinya, entah sudah berapa kali Sehun terus berkata kasar padanya, terkadang bersikap lembut lalu berkata kasar lagi tapi Luhan tetap disini, berharap Sehun membuka hatinya dan hanya hidup sebagai keluarga kecil yang lengkap dengan dua putra mereka.
Aku tidak bisa hidup bersamamu.
Itu adalah penolakan keseribu yang dilakukan Sehun pada Luhan, dan selama seribu penolakan itu pula Luhan tetap enggan membuka hatinya walau banyak pria bahkan wanita yang mencoba mengetuk dasar dari hatinya, tentu itu tidak berguna, karena untuk Luhan, cintanya hanya Sehun, selebihnya dia bersedia terlihat menyedihkan hidup tanpa cinta yang lain.
"Omong-omong Luhan, comeback NCT 127 kali ini terbilang sukses, selamat untuk adikmu."
Luhan tersenyum bangga, matanya melihat foto kecil saat Jaehyun dan Taeyong pada akhirnya debut menjadi seorang publik figur lewat tangannya. Walau kenyataannya rumah menjadi sepi karena Jaehyun, Kai dan Kyungsoo kini sibuk dengan pekerjaan mereka, Luhan tetap tersenyum untuk mengatakan "Terimakasih paman."
"I'm the biggest hit on this stage…ye ye ye…."
Sontak Luhan tertawa saat sang paman menarikan bagian Cherry bomb yang merupakan bagian Jaehyun. Dan terimakasih pada Paman Lee, karena rasanya Luhan benar-benar bahagia karena bisa dihibur dengan cara konyol andalannya, seperti biasa.
"Aku akan mendebutkan paman menjadi boyband. Bagaimana?"
"eyy, Itu menyakitiku. Kau tahu aku akan memiliki seribu wanita yang memujaku kan?"
"Lebih dari seribu, seribu satu mungkin?"
Keduanya tertawa sampai paman Lee kembali berkata serius "Datanglah ke rumah, Tuan besar merindukanmu."
"mhh…Aku akan segera mengunjungi ayah. Sampaikan salamku pada ayah."
"Baiklah, sampai nanti Luhan."
"Dah paman, sampai nanti."
Setelahnya Luhan menutup pintu, bersandar di pintunya sejenak untuk menenangkan hati "Rasanya aku tidak pernah terbiasa." Luhan tertawa pilu sampai suara ketukan lain terdengar.
Dan jangan tanya siapa yang akan repot-repot datang tengah malam seperti ini jika bukan Sehun jawabannya. Sebelumnya Luhan menarik nafas lalu berbalik membukakan pintu untuk pria yang dia tebak adalah ayah dari dua putranya
Klik…
"Dimana anak-anak?"
Suara dingin Sehun langsung menyeruak, tak berbasa-basi, pria yang menjelma semakin tampan seiring berlalunya hari kini memiliki aura ayah yang kuat jika itu menyangkut tentang kedua anaknya.
Luhan tersenyum kecil untuk mengatakan "Masuklah lebih dulu, aku tidak menculik anak-anakmu."
Seperti disindir, Sehun tertawa sarkas, dia kemudian masuk ke dalam flat yang beberapa tahun ini juga menjadi rumah dua putranya untuk duduk di meja makan setelah melepas mantel dan meletakkan kunci mobilnya.
"Ada yang datang selain aku?" katanya melihat dua gelas coklat panas yang masih mengepul panas tanda seseorang baru datang mengunjungi Luhan "Paman Lee. Sepuluh menit sebelum kau datang, paman mengantar anak-anak." Katanya menyediakan secangkir coklat panas baru untuk Sehun dan duduk di tempat yang sama saat berbicara dengan Paman Lee.
"Minumlah, kau kedinginan."
"tsk! Sampai kapan kau akan peduli padaku."
"Sampai nanti kau benar-benar akan menikah dan ada yang memperhatikanmu selain aku."
"Terserahmu saja."
Sebanyak apapun Luhan disakiti, dia akan tersenyum lega jika Sehun tetap melakukan hal yang dia inginkan, seperti menyesap coklat panas ini contohnya. Dia tetap menyesapnya, walau harus menyindir lebih dulu.
"Jadi bagaimana dengan Min Chaerin?"
Sehun menyesap coklat panasnya seraya mengatakan "Berantakan, seperti biasa."
"Anak-anak akan menerima wanitamu jika kau mengenalkan mereka tanpa mengancam bahwa mereka akan kehilangan aku."
"Aku tidak pernah mengancam."
Luhan tertawa lalu memperagakan bagaimana Sehan mencontohkan kalimat konyol yang digunakan Sehun untuk mengenalkan wanitanya "Bagaimana kalimat mulai sekarang dia mama kalian, bukan Mama Luhan, tidak terdengar mengancam jika kau terus mengatakannya seperti itu?"
"Entahlah, Aku kira itu kalimat paling benar."
"Kau terdengar ingin menyingkirkan aku."
Sehun tak terima lalu menatap Luhan sedikit kesal "Aku tidak pernah menyingkirkanmu."
"Aku tahu, maaf asal bicara. Apa kau mau ramen?"
Sehun tergoda, jujur saja setelah acara makan malamnya berantakan dan si kembar menangis hebat dia tidak bisa memakan apapun. Jadi saat Luhan menawarkan ramen dia hanya refleks mengangguk seraya mengatakan "Dua telur."
"Baiklah, tunggu sebentar."
"Aku akan melihat anak-anak."
"Jangan membuat mereka menangis."
Sementara Luhan menyalakan kompor untuk memasak ramen, Sehun bergegas masuk ke dalam kamar Luhan, menyalakan lampu dan menatap menyesal karena sudah membuat anak-anaknya marah dan kecewa. Dia pun kemudian mendekati sosok malaikat kecilnya berada lalu menatapnya bersyukur karena Sehan dan Hanse, keduanya tumbuh dengan baik walau dia dan Luhan tak bisa selalu berada di sampingnya.
"Maafkan papa nak, tidurlah sayang." ujarnya mengecup paksa bibir Sehan lalu beralih pada Hanse yang sedikit merengek "Mama…" membuatnya tertawa gemas lalu memaksa mencium lagi bibir si sulung "Mama kalian ada diluar, berhenti menangis jagoan."
Setelahnya Sehun kembali menaikkan selimut kedua putranya, berjalan meninggalkan kamar untuk mendapati Luhan sedang menerima panggilan dan berbicara serius dengan seseorang disana.
Baiklah, aku akan menemuimu besok, sampai nanti.
Pip!
Setelahnya dia kembali memasak disertai kehadiran Sehun yang tanpa basa-basi bertanya "Siapa yang menghubungimu?"
Luhan menoleh lalu tersenyum kecil "Bukan siapa-siapa." Katanya menjawab dibalas ucapan sarkas dari Sehun "Bukan siapa-siapa yang kau maksud adalah Kris?"
Luhan mengambil berat nafasnya, selamanya Sehun akan salah paham padanya, salahnya juga membiarkan Leader EXO-M itu mengetuk dasar hatinya hingga tanpa sadar dia membuat perang baru dengan Sehun "Ya, Kris."
"Kenapa? Dia menyatakan cintanya lagi? Apa kau menerimanya?"
"Jika kau terus menekanku, aku rasa suatu saat nanti aku akan mengatakan Ya padanya."
"Lakukan, dan kau kehilangan anak kita."
"Tidak lucu Sehunna."
"Apa?"
Tangan Luhan mengepal erat di bungkusan ramen yang sedang digenggamnya. Sehun selalu seperti ini, mengancam akan menjauhkannya dari si kembar jika dia berani membuka hati untuk pria lain sementara dia dengan bebas mencari ibu lain untuk si kembar.
Rasanya Luhan terlalu marah hingga tanpa sadar air matanya menetes namun dia hapus dengan cepat "Sudahlah, aku tidak ingin bertengkar." Katanya menyajikan ramen favorit Sehun lalu duduk menemani mantan kekasihnya.
"Kau tahu aku benci dengan fakta jika putraku akan memiliki ayah lain selain diriku."
"Pikirmu aku tidak?"
Luhan bersuara membuat gerakan Sehun mengunyah ramen terganggu "Apa?"
"Aku juga benci dengan fakta jika putraku akan memanggil wanita lain Mama sementara aku adalah satu-satunya Mama mereka."
"Jangan salahkan aku, kau yang memintaku untuk membuka hati bagi orang lain."
"Baiklah aku mengakuinya dan aku menyesal!"
Slurrpp…
Sehun menghabiskan ramennya tiga sumpit besar yang hanya memakan waktu satu menit "Sayangnya aku mulai membuka hatiku pada orang lain."
"Ya terserahmu saja."
Luhan kesal, dia kemudian berjalan ke wastafel lalu mencuci panci kecil dan sumpit yang baru digunakan Sehun "Lalu bagaimana setelah Min Chaerin? Kau akan membuka hatimu lagi?"
"Entahlah, setiap kali aku membuka hati hanya berakhir seperti ini, berantakan dan kacau."
"Carilah wanita yang sedikit lebih baik, mungkin anak-anak menyukainya."
Inilah yang dimaksud Sehun dengan kalimat Jangan salahkan aku, kau yang memintaku untuk membuka hati bagi orang lain. Karena tiap kali dia gagal menjalin hubungan, Luhan akan mendukungnya dan memintanya mencari yang lain.
Fakta ini membuat Sehun kesal, sangat. Tangannya terkepal lalu memilih cara lain untuk menyerang Luhan "Mungkin aku akan mencari pria cantik sepertimu, aku yakin anak-anak tidak keberatan."
Dan persis seperti dugaan Sehun, Luhan mulai bereaksi. Dia bisa melihat tangan Luhan mencengkram kuat sumpit yang dia gunakan hingga warna merah terlihat di jemari tangannya.
"Salahku adalah fokus mencari wanita lain, aku melupakan fakta jika ibu dari anak-anakku adalah seorang pria, jadi rasanya aku akan mengencani pria dan menikahinya saja. Bagaimana?"
"Jangan…."
Sehun tertarik, dia semakin menikmati ekspresi Luhan lalu bertanya "Apa?"
"Aku tidak keberatan selama itu wanita, tapi jika pria-….jika itu pria,"
Gilanya, Luhan tidak pernah fokus jika sedang ketakutan, dia bahkan tidak sadar akan menyiram air panas yang baru mendidih ke tangannya jika Sehun tidak buru-buru berlari dan menarik lengannya
"APA KAU GILA? AIRNYA PANAS!"
Luhan tidak fokus, yang dia lakukan hanya mencengkram kemeja Sehun lalu berujar sangat lirih "Jika itu pria, anak-anak akan melupakan aku, aku tidak bisa. Setelah dirimu, aku tidak bisa dilupakan lagi Sehunna, jangan cari pria sebagai penggantiku. Jangan….hksss."
"Sial! Aku hanya menggodamu, berhenti memikirkan hal gila."
"tidak lucu…..TIDAK LUCU SEHUNNA! BUNUH AKUJIKA KAU MENCARI PRIA LAIN! BUNUH AKU JIKA-…."
Grep!
Satu gerakan cepat Sehun memeluk Luhan, ya, Luhan benar ini tidak lucu karena nyatanya seluruh tubuh mantan kekasihnya bergetar hebat. Dia pun segera memeluk Luhan untuk meminta maaf karena ucapannya.
"Ssshh….Anak-anak akan semakin marah padaku jika membuat ibunya menangis, tenanglah."
"Jangan pria….jangan cintai pria selain aku."
"araseo….araseo…Kau pria terakhir di hidupku, aku tidak akan mencari pria lain. Jika aku tidak bisa menemukan wanita yang baik untuk anak-anak kita aku akan hidup sendiri, sama sepertimu. Jadi tenanglah, jangan menangis."
Luhan semakin mencengkram kuat dada Sehun, ucapan yang sedari tadi tertahan di kerongkongannya akhirnya terlepas begitu saja untuk menanyakan "Kenapa bukan aku? Apa kau tidak bisa mencintaiku lagi?"
Sehun tertegun, ini sudah terlalu jauh dari perkiraannya. Dia sudah memberi banyak harapan pada Luhan lalu terpaksa harus menjatuhkannya lagi. Bukan karena dia tidak bisa mencintai Luhan, tapi entah mengapa, bersama Luhan bukanlah hal paling baik untuknya dan Luhan sendiri.
"Sampai kapan kau terus bertanya? Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri!"
"Tidak bisa?" Luhan memelas, dia terisak pilu seraya memohon agar Sehun, setidaknya setelah lima tahun berlalu bisa membuka lagi hati yang tertutup rapat itu untuknya "Kumohon."
Sehun menatapnya ragu, jika berada di dekat Luhan terlalu lama hanya bisa membuat pertahanannya goyah, Sehun pun mundur, melepas pelukan Luhan lalu tersenyum memberi jarak pada keduanya "Kau lihat? Selalu ada jarak diantara kita. Entah kau akan meninggalkan aku lagi atau aku akan menyakitimu lagi. Jawabannya-…..Aku tidak bisa denganmu, Maaf."
Setelahnya Sehun kembali ke kamar Luhan, menggendong si kembar di masing-masing lengannya untuk berpamitan pada Luhan "Aku akan membawa anak-anak pulang. Sebaiknya kau tidur dan dinginkan kepalamu." Katanya berjalan lalu berhenti lagi untuk mengatakan "Dan Luhan, kita hanya cocok membesarkan anak bersama, bukan menjadi pasangan. Jadi berhentilah meminta karena jawabannya akan selalu sama, kita tidak akan bisa bersama."
Blam…!
Selalu seperti ini, Sehun akan selalu menghindar dari pertanyaan apakah mereka bisa bersama. Sehun akan meninggalkannya dalam tangis seorang diri, Sehun hanya akan memberikan punggung dingin dan tak pernah berjalan kembali padanya.
"tsk! Bodoh, sampai kapan kau mengemis cinta padanya? Sampai kau mati? Kau hanya membuatnya semakin membencimu Xi Luhan….Kau hanya akan terlihat menyedihkan, HA HA HAA….AAARGHH!"
Luhan menyembunyikan wajahnya dia atas meja, matanya berlinang dengan air mata rindu sementara hatinya memukul sakit karena cintanya untuk Sehun, entah mengapa tak pernah padam dan lucunya semakin bertambah untuk pria yang tak pernah menoleh lagi padanya.
Luhan tenggelam dalam sedihnya, jujur sedari tadi dia sangat lelah, kepalanya sakit dan terimakasih pada Sehun karena sudah menambah rasa sakit di hatinya, dia hanya tergeletak pasrah menikmati rasa sakit di kepala dan hatinya yang terus memukul bergantian untuk berujar sangat lirih, bertanya entah pada siapa
"apa yang harus aku lakukan?"
Drtt,,,drttt..
"Apa aku harus mati agar kau melihatku?"
Drrt…..drrttt
Nama Kris kembali terlihat di layar ponselnya, Luhan tergoda untuk mengabaikan namun berakhir menggeser slide ponselnya, matanya setengah terpejam antara sadar atau tidak lalu tanpa sengaja mengatakan
"Kris, tolong aku."
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
.
Pedih tjoy, ndak tega aku juga :"
.
Nah, yang ngikutin AFB dari awal, yang nanya Kris kemana, nah tuh fungsinya Kris emang di Injury time. Kkkk~
.
Last, Don't kata-katain Sehun, ini serius, ntar klo chap depan yang gue siksa dia kan ga lucu jadi ngatain Luhan, katain gue aja, rela gue, wkwkwk
.
Happy readings!
.
.
Next up, karena udah banyak yang nagih, From Idol To Lover last chap will UP soon
.
Doakan
.
C.U
