Previous

"apa yang harus aku lakukan?"

Drtt,,,drttt..

"Apa aku harus mati agar kau melihatku?"

Drrt…..drrttt

Nama Kris kembali terlihat di layar ponselnya, Luhan tergoda untuk mengabaikan namun berakhir menggeser slide ponselnya, matanya setengah terpajam antara sadar atau tidak lalu tanpa sengaja mengatakan

"Kris, tolong aku."

.

.

.

.

.

.

A' Friends Betrayal

Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo

Genre : Drama

Rate : M / NC!/

.

.

.

.

.

Semenjak Luhan memutuskan angkat kaki dari rumah Sehun, biasanya dia akan mengunjungi kediaman Oh setiap satu bulan sekali, tapi karena satu dan lain hal intensitas berkunjungnya menjadi semakin berkurang menjadi tiga bulan sekali dan terakhir hampir enam bulan Luhan belum mengunjungi Tuan Oh dan Paman Lee di kediaman Sehun secara langsung.

Sontak hal ini membuat sang tuan besar menjadi geram, tersangka utamanya pastilah Sehun, putra tunggalnya, keparat sialan yang sering membawa wanita baru kerumah dan sialnya tak ada satupun yang benar-benar dia inginkan karena tujuannya memang hanya membuat Luhan, ibu dari kedua cucunya, merasa cemburu dan menarik perhatian si pria cantik yang kehadirannya begitu dia inginkan di rumah mewah miliknya.

Hubungi Luhan sekarang! Katakan padanya jika dia tidak datang aku tidak akan melakukan therapy atau bahkan meminum obat rutin milikku!

Kira-kira seperti itulah kronologi yang terjadi, ancaman kakek dari dua putra kembarnya sukses membuat Luhan datang kerumahnya dalam hitungan menit.

Setidaknya dia sampai pukul lima pagi dan lihatlah si pria cantik kini sedang menyiapkan sarapan dengan cekatan dan terlihat memilih makanan untuk dua putranya sementara kakek dari si kembar hanya tersenyum bak pria yang sedang mengagumi malaikat cantik kiriman Tuhan di rumahnya.

"aboji, jika kau terus menatapku makananmu nanti bisa hilang!"

"Biar saja, bukan makanannya yang penting, tapi kau."

"tsk! Ingat usia anda tuan besar! Kau tidak bisa menggoda ibu dari dua cucumu!"

"Kau benar, jika Luhan seusiaku pastilah aku sudah akan menikahinya."

"gila!"

Paman Lee mencibir sementara Luhan terkekeh untuk menggoda kakek dari dua putranya "Benarkah? Setahuku sifat ayah dan Sehun tidak jauh berbeda. Jadi bagaimana bisa ayah menikahi aku jika yang dilakukan Sehun justru mencari ibu baru untuk anak-anakku!"

"ssshh…Bocah itu memang idiot! Bagaimana dia bisa mengabaikan malaikat sepertimu? Maksudku, kau sangat sempurna bahkan terlalu sempurna untuk putraku."

"a hundred percent agree with you, Mr Oh, Your son is just a piece of trash." Timpal paman Lee menggunakan aksen inggris dibalas cibiran dari ayah kandung Oh Sehun "Diam Lee!"

Satu hal yang pasti, alasan yang membuat Luhan bertahan dari sifat dan sikap dingin Sehun mungkin bukan kedua putranya, tapi karena dua pria paruh baya di depannya yang selalu bersikap konyol, terkadang kekonyolan mereka hanya untuk menghiburnya, keduanya bahkan selalu berhasil membuatnya merasa lebih tenang dan terkadang selalu menjadi tempatnya bersandar disaat Sehun benar-benar keterlaluan dengan sikapnya.

"Luhan!"

"hmmh?"

"Apa kau setuju dengan ucapan si tua bangka di depanmu?"

Luhan melirik paman Lee lalu menahan tawa saat matanya kembali menatap sang ayah "Mengenai apa?"

"Putraku adalah sampah?"

"Sehun?"

"Ya Sehun! Siapa lagi!"

"kkk~" Luhan terkikik kecil seraya bergegas menyajikan hidangan berbeda untuk tiga piring berikutnya, dua diantaranya berisi sandwich lezat dengan piring ironman yang masing-masing berwarna merah dan biru, sementara piring yang besar pastilah untuk ayah dari kedua putranya yang hanya berisikan sepotong sosis lengkap dengan keju dan secangkir kopi.

"Bukan tentu saja."

"huh?"

"Bagaimana mungkin ayah dari putraku adalah seorang sampah? Dia bahkan terlalu seksi untuk dikatakan sampah." Katanya percaya diri dibalas desahan kesal dari paman Lee

"oh ayolah Luhan!" katanya kesal sementara sang kakek bersorak senang "yeah! Menantuku memang yang terbaik!"

Luhan terkekeh lagi lalu membenarkan ucapan sang ayah seraya melepas apron yang digunakannya sejak satu jam yang lalu "Sayangnya aku bukan menantu ayah." Katanya sendu lalu meletakkan asal apron yang dia gunakan untukberseru penuh semangat "Baiklah! Aku akan membangunkan Sehun dan anak-anak." Katanya menolak untuk berbicara lebih lanjut dan lebih memilih berjalan mendekati kamar Sehun dan kedua putranya.

Klik….!

Hal pertama yang tak berubah dari kamar Sehun hanya satu, selalu gelap dan terasa dingin. Setidaknya rasa dingin itu bertahan hanya sampai lima tahun yang lalu.

Mengapa?

Karena lima tahun kemudian, tepatnya saat kedua putra mereka lahir, Sehun sedikit merubah suasana kamarnya menjadi lebih hidup. Warna hitam memang masih mendominasi, tapi saat kaki melangkah mendekati tempat tidur maka sederet mainan yang sengaja diletakkan di dalam kamar seperti mobilan, seluncur dan ayunan terlihat di sisi dekat tempat tidur yang tujuannya hanya untuk membuat buah hati mereka merasa senang dan segera tidur jika merasa lelah.

Kriet….

Dan suara decit tempat tidur menandakan sang ibu sedang merangkak ke tempat tidur utama. Tempat dimana tiga tahun lalu dirinya masih bergabung bersama ketiga prianya menjadi tempat yang begitu dia rindukan hampir dua tahun ini.

Setidaknya Luhan bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga kecil sampai si kembar berusia tiga tahun. Setelahnya, dia memutuskan angkat kaki dirumah karena dirasa dua putranya sudah tumbuh besar dan mengenal siapa ibu mereka.

Ya, terlepas Luhan tinggal atau tidak tinggal bersama dua buah hatinya, Sehan dan Hanse hanya akan mempunyai satu ibu dan hanya Luhan yang akan dikenal si kembar sebagai ibu mereka..

"Jagoan mama…."

Si bungsu adalah buah cintanya yang dicium pertama pagi ini, Luhan mencari bibir Sehan, menciumnya gemas sampai terlihat Sehan menggeliat tanda dia terganggu dengan ciuman yang diberikan Luhan.

Mata tajam khas seperti milik Sehun terbuka, mungkin dia akan berteriak pada awalnya, tapi saat melihat siapa yang sedang tersenyum ke arahnya, si bungsu langsung melompat ke pelukan Luhan dan berteriak "MAMA!"

Sontak hal itu membuat dua prianya yang lain merasa terganggu, adalah Hanse, putra sulungnya yang kemudian membuka mata, mungkin dia bertanya-tanya mengapa adiknya berteriak. Penasaran, dia melepas pelukan posesif sang ayah lalu mencari tahu apa yang membuat adiknya memekik bahagia.

"Mama?"

"Halo sayang, selamat pagi."

Buru-buru Hanse merangkak dikasur, mendekati ibunya. Dan seperti tidak mau kalah dengan adiknya, Hanse juga melompat dan membuat Luhan refleks menangkap si sulung hingga posisinya berpindah tempat dan membelakangi Sehun yang masih tertidur saat ini.

"sstt….Ayahmu bisa bangun nak."

Luhan mengisyaratkan agar dua putranya tidak terlalu berisik mengingat ayah mereka selalu marah jika tidurnya terganggu.

"Mama disini?"

Sehan ikut berbisik, bertanya pada ibunya sementara Luhan tidak bisa menahan rasa gemasnya pada copy cat dari pria yang paling dicintainya saat ini "Waeyo? Sehan tidak suka?" balasnya berbisik diiringi gelengan mantap dari si bungsu.

"Sehan suka."

"Hanse bagaimana?" katanya beralih mencium Hanse dibalas lonjakan dari putra sulungnya "Hanse suka, suka sekali." Katanya memeluk leher Luhan membuat gerakan di tempat tidur sang ayah semakin terasa sampai Luhan merasakan tangannya yang lebih besar dan hangat kini melingkar sempurna di pinggangnya.

"Papa juga suka."

"huh?"

Luhan menoleh, yang membuatnya terkekeh adalah terkadang Sehun bersikap seperti suaminya, lalu berubah menjadi kekanakan dan yang paling buruk dia akan bersikap seperti musuh.

Apapun itu, terlepas dari bagaimana sikapnya, sikap manja Sehun yang paling disukai Luhan, karena jika Sehun sudah bersikap manja padanya dia bisa sedikit lebih banyak menghabiskan waktu bersama ayah dari si kembar.

"Kau sudah bangun?" katanya bertanya dibalas gerakan Sehun yang kini berbaring di paha Luhan. Si bayi besar juga melingkarkan tangannya di pinggang Luhan membuat posisi Hanse tergantikan dengan badan besar ayahnya.

"PAPA!"

Tentu saja Hanse protes, selalu seperti ini jika mamanya masuk ke dalam kamar, selalu seperti ini jika mamanya sedang berada di tempat tidur mereka. tebakan si kecil papanya akan mengatakan "Nak, cepat keluar. Mama dan papa ingin membuat adik untuk kalian." Dan ya, Sehun benar-benar mengatakannya dibalas protes keras oleh si kembar.

"No! Hanse tidak mau punya adik lagi!"

Tidak menyerah, ayah dari si kembar kini membujuk si bungsu "Sehan bagaiamana?" katanya menatap si bungsu sementara tangannya sudah mulai masuk ke dalam kemeja Luhan, mengusap dua tonjolan kecil favoritnya tanpa protes berarti dari si pemilik.

"Sehun tanganmu! Anak-anak melihat!"

Diabaikan, Luhan hanya bisa mendengus dan membiarkan perkara tentang membuat adik ditangani langsung oleh ayah si kembar, menikmati bagaimana tangan kasar Sehun mengusap perut hingga dua nipple yang sialnya selalu membuat Luhan begitu terangsang hingga berakhir membiarkan Sehun "mengambilnya" selama lima tahun tanpa mau mengikat status mereka lebih serius

Alasannya?

Aku tidak mau sakit dan kau tinggalkan lagi

Tentu saja Sehun terus mengatakan omong kosong yang pastilah tidak akan dilakukan Luhan lagi dalam hidupnya. Dan sisanya Luhan hanya membiarkan Sehun melakukan hal yang diinginkannya terlepas itu menyakitkan atau bahkan merugikan untuknya.

"rrhhSehun…"

Luhan membekap erat bibirnya, mencegah satu desahan kecil lolos dari bibirnya mengingat dua putranya sedang menatap intens ke wajahnya saat ini.

"Mama kenapa?"

Sehan bertanya dibalas oleh Sehun yang kini mengerling si bungsu "Mama ingin membuat adik untuk kalian. Sehan mau membantu papa kan?"

"Apa?"

"Bawa hyung keluar, hyung sangat cerewet."

"ANDWAE….! MAMA!"

Hanse refleks melompat ke pelukan Luhan setiap kali papanya mengusir mereka dari kamar, membuat Luhan terkejut dan mau tak mau menahan dua beban tubuh yang kini bersandar sesuka mereka di tubuhnya "Hanse sayang, kenapa berteriak?"

"PAPA JAHAT!"

"Sehun jangan buat anakmu menangis." Luhan memperingatkan, tapi yang sudah menjadi ayah selama lima tahun terkadang masih memiliki sifat kekanakan yang sialnya melebihi si kembar atau bayi manja manapun di dunia ini.

"MAMA!"

Hanse terus berteriak marah, terlebih saat Sehun menjauhkan paksa tubuhnya dari tubuh Luhan dan menggendongnya di lengan sementara tangannya menggendong si bungsu yang selalu pengertian akan kebutuhan "urgent" kedua orang tuanya.

"Hannie jangan menangis, nanti Sehan belikan esklim."

Dan rasanya tiap kali Sehan memanggil Hannie pada hyungnya, hanya mengingatkan Luhan akan panggilan Sehun setiap kali satu-satunya pria yang menggagahinya mencapai klimaks tiap kali mengambilnya.

"sshh….pikiranku kotor sekali." Katanya terkekeh dan tak lama suara pintu kembali terbuka, menampilkan si pria yang begitu kekar dan seksi tengah berjalan seraya membuka singlet hingga abs sempurna nan seksi itu tersaji gratis di depan Luhan namun masih bisa dikuasai si pria cantik.

"Bagaimana anak-anak?" katanya mengalihkan perhatian dibalas jawaban simngkat dari Sehun "Hanse menangis seperti biasa, tapi paman Lee sudah mengurus mereka"

Pria dua anak itu kini terlihat melepas celana tidurnya dan sengaja hanya menyisakan boxer ketat yang selalu dipakainya setiap malam.

Krieet…

"Se-Sehun!"

Tiba-tiba wajah Sehun sudah di depannya dan Luhan kehilangan konsentrasi bahkan terlalu gugup untuk berfikir "Kenapa terkejut? Kau sudah tahu aku akan mengambilmu lagi kan?"

Rasanya Luhan terdengar seperti pria murahan yang selalu menghangatkan Sehun di tempat tidurnya. Karena tiap kali Sehun berniat mengambilnya maka yang bisa dilakukan Luhan hanya pasrah dan membuka lebar-lebar pahanya agar bisa memuaskan pria dari kedua putranya.

"tsk! Malam tadi kau menolakku dan pagi ini kau ingin aku melayanimu?"

Namun pagi ini Luhan sengaja bermaian play get hard mengingat malam tadi Sehun sudah menolaknya entah untuk ke berapa kali. Dia sengaja tidak mencium bibir menggoda si pria tampan dan berusaha mengingatkan sikap kasar Sehun padanya malam tadi.

"ayolah Lu! Kau yakin ingin membahasnya? Membuat moodku hilang?"

Dan sialnya lagi, setiap kali Sehun ingin bercinta, Luhan seperti anak anjing yang takut jika dibuang majikannya, dia bahkan lebih rela dikatakan pria murahan daripada harus membuat mood Sehun hilang dan membiarkan kesempatan bercinta mereka hilang begitu saja.

"tidak, Aku tidak akan membiarkan moodmu hilang begitu saja."

Jadilah Luhan melingkarkan dua lengannya di leher Sehun, menatap intens pada pria yang begitu dia cintai sementara kepalanya perlahan dimiringkan hingga sengatan panas menggairahkan dia rasakan ketika bibir mereka menyatu sempurna.

"haah~"

Desahan pertama dikeluarkan Luhan saat Sehun menggigit bibir bawahnya, dia juga sengaja mendorong lidahnya masuk ke dalam rongga mulut Luhan hingga hanya pelukan erat yang Luhan berikan.

"Sehun…."

Sementara tangan Sehun melucuti seluruh pakaiannya, Luhan pasrah dengan ciuman panas yang kini membakar tubuhnya, sesekali Sehun membelitkan lidah mereka, menyesapnya kuat lalu sengaja dia menurunkan tempo ciuman dengan hanya menjilat permukaan bibir Luhan.

Itu membuat Luhan gila dan kehilangan akal sehat.

Tak sabar, kali ini Luhan sedikit menjambak rambut Sehun, gilirannya menggigit bibir bawah Sehun dan mulai mendorong lidahnya masuk kedalam rongga mulut Sehun "rrhh…"Keduanya saling mengerang sebagai tanda membutuhkan sentuhan yang lebih jauh.

Dan saat Sehun membaringkan tubuh polos Luhan, saat dua tangannya melebarkan paha Luhan, saat jarinya melakukan foreplay di hole Luhan yang berkedut, maka disaat itu pula dua mata mereka saling memberikan isyarat yang terkesan penuh cinta namun nyatanya itu hanya rasa sakit yang mereka rasakan setelah usai bercinta.

"Kapan terakhir kali aku mengambilmu?"

Mata Luhan kadang terpejam kadang terbuka, bagaimana bisa dia menahan serangan Sehun dibagian private miliknya hanya dengan tiga jari yang kini bergantian membuatnya terbuai. Tapi saat suara berat Sehun bertanya dia secara refleks menjawab seraya memejamkan mata

"Minggu lalu….ssshh"

Bersamaan dengan jawaban Luhan, Sehun mengeluarkan ketiga jarinya, membuat Luhan merasa kosong lalu menindih Luhan sementara kedua pahanya melebarkan paha Luhan agar membuka lebar untuknya.

"Kalau begitu aku rasa kau sudah siap."

Sehun berbisik, bibirnya mengecup lembut bibir Luhan, dia berusaha mengalihkan perhatian Luhan sementara dibawah sana, kejantanan miliknya sedang menerobos masuk hingga nanti tubuhnya dan tubuh Luhan menyatu seperti biasa.

"rrrhhhh!"

Luhan mengerang, jemari kukunya menancap sempurna di punggung Luhan, dia tak bisa lagi fokus pada ciuman Sehun dan hanya mendongak sementara tubuh bagian bawah Sehun terus menerobos masuk dan bibir panas ayah dari kedua putranya mengecupi leher dan seluruh bagian sensitifnya.

"SEHUN—ssshhh~"

Jeritan Luhan yang disertai erangan kecil menandakan bahwa kali ini tubuhnya dan tubuh Sehun sudah menyatu sempurna. Terlebih saat Sehun menatap intens matanya lalu perlahan menggerakan pinggulnya hingga erangan demi erangan tak bisa lagi dikuasai pria dibawahnya "hmmh~" membuat Luhan bisa merasakan betapa besar dan penuh tiap kali penis Sehun mengoyak tubuh bagian bawahnya. Terlalu intens, terlalu dalam dan terlalu nikmat untuk dia rasakan

"ah~"

Tak lama gerakan Sehun semakin intens, Luhan dibuat gila karenanya, karena setiap Sehun bergerak maka semakin dalam pula ayah dia bisa merasakan penis Sehun mencapai titik sensitifnya.

"Sehunna….rrhh~"

Setelahnya bunyi decit tempat tidur bersaing dengan suara khas tiap kali Sehun mengeluar-masukkan penisnya kedalam lubang Luhan. Ditambah dengan desahan serta erangan yang dikeluarkan Sehun dan Luhan, maka lengkap sudah pagi yang disulap menjadi panas oleh dua pria dewasa tanpa status yang selalu rutin bercinta dan memuaskan nafsu mereka masing-masing.

"haaah—Sehun—ah~"

Luhan pertama kali klimaks, cairannya dalam sekejap mengotori perut Sehun disusul si pria tampan yang terdengar mengerang "Luhan—sssh~" dan tak lama Luhan juga merasakan cairan hangat yang memenuhi lubangnya.

Keduanya masih dalam posisi saling menindih, nafas mereka juga bersahutan sampai Sehun lebih dulu membuat gerakan dan mengeluarkan penisnya perlahan dari lubang mantan kekasihnya.

"sssh~"

Luhan mengerang kehilangan sementara Sehun buru-buru merubah sikapnya menjadi dingin "Bersihkan dirimu selagi aku mandi." Katanya singkat hingga membuat Luhan terkekeh dan terkadang ingin memukul wajah tampan yang selalu bersikap dingin usai mereka bercinta.

"Jika terus seperti ini, aku benar-benar seperti pria murahan."

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah memakan waktu hampir setengah jam, keduanya kini bersamaan keluar dari kamar, Sehun lebih dulu diikuti Luhan yang juga sudah mengenakan pakaian lengkapnya untuk bekerja.

"Oh akhirnya!"

Terdengar paman Lee bergumam lega dibalas kerutan tak mengerti di dahi si pemilik rumah yang kini menarik kursi meja makan sementara si pria cantik dengan cekatan menyiapkan sarapan untuk ayah dari anak-anaknya.

"Ada apa? Paman terdengar seperti menggerutu! Dimana anak-anak?"

"Kau benar! Aku bahkan ingi memakimu jika diizinkan."

Luhan terkekeh lalu menyadari satu hal, rumah mereka sudah sangat sepi dan itu artinya si kembar sudah berangkat ke sekolah "Anak-anakku sudah pergi ke sekolah?"

"oh yeah! Setelah drama karena Papa dan Mamanya sibuk bercinta mereka akhirnya mau mengasihaniku dan pergi dengan tenang ke sekolah."

Luhan salah tingkah, dia juga nyaris mengenai tangannya dengan pisau selai roti jika Sehun tidak buru-buru mengambil pisaunya dan menjauhkan dari jangkauannya "Hati-hati!" Sehun memperingatkan Luhan dibalas anggukan canggung dari si pria cantik.

"ya, tentu saja! Ini makanlah!"

Kini Luhan duduk di samping Sehun, berniat menghabiskan sarapannya seraya menatap menyesal pada sang paman "Paman maaf, harusnya ini giliranku mengantar mereka ke sekolah."

"Aku tidak mempermasalahkanmu, tapi pria disampingmu! Sepertinya dia benar-benar menjengkelkan."

"Memang." Timpalnya setuju dibalas delikan mematikan dari Sehun "Siang nanti biar aku yang menjemput anak-anak."

"Memangnya kau tidak sibuk?"

"Tidak tentu saja. Jadi paman bisa berada di rumah siang ini."

"Syukurlah! Ayah kalian benar-benar cerewet akhir-akhir ini!"

"ah ya, Dimana ayah?"

Paman Lee terlihat membawa beberapa obat di atas nampan, berniat untuk memberikannya pada sang tuan besar seraya memberitahu Luhan "Tuan dikamarnya, setelah sarapan dia cenderung ingin tidur di pagi hari."

"Apa itu wajar?"

Paman Lee mengerling Luhan lalu mengatakan "Serahkan si tua bangka padaku, kau urus saja idiot di sampingmu."

"Paman…."

Luhan merasa risih, dia kemudian merasakan pergerakan Sehun dan berakhir diberi tatapan dingin lagi oleh mantan kekasihnya "Aku pergi lebih dulu. Pastikan kau tidak terlambat menjemput anak-anak!"

Setelahnya Sehun benar-benar pergi meninggalkan Luhan seperti orang bodoh yang berharap mendapat tumpangan dari sang Presdir "ya, ya….Lalukan sesukamu Presdir Oh!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Osh'ent—12.00 KST

.

.

"Suka atau tidak kau akan ikut ke Hongkong denganku! Kita memiliki banyak mangsa disana."

"No, rejected. Aku tidak akan berangkat!"

"Tapi kenapa? Kau bahkan terlihat bersemangat sebelumnya!"

Saat ini terdengar perdebatan kecil nyaris tidak penting dari dua manager pencari bakat yang masing-masing bekerja dibawah dua agensi terbesar di Korea.

Jika Luhan, sang manager OSH'ent, terlihat bersikeras berangkat menuju Hongkong maka berbeda dengan Seokjin, Manager JYC'ent yang terlihat enggan berangkat menuju Hongkong setelah mengetahui itu adalah tugas yang diperintahkan langsung oleh pimpinan tertinggi dari OSH'ent, Oh Sehun.

"Demi Tuhan! Kau pasti tahu alasan mengapa aku enggan berangkat!"

Luhan terkekeh, nyatanya Jin baik-baik saja saat mendapatkan surat tugas menuju Hongkong untuk menghadiri audisi, setidaknya dua jam yang lalu dia masih baik-baik saja sampai dia tahu bahwa surat tugas itu dikeluarkan langsung oleh Sehun, pimpinan yang dengan keji memecatnya dan membuatnya kehilangan wajah tiap kali memasuki gedung OSH'ent.

"Karena Presdir Oh yang memberi perintah."

Tak mengelak, Jin membalas "Karena dia."

"Oh ayolah! Dia tidak berangkat ke Hongkong, hanya ada beberapa staff dari agensi kita dan artis-artis besar yang datang ke acara penghargaan."

"…."

"Jika kau tidak ikut aku tidak akan mengembalikan majalah porno yang kau pesan langsung dari Jepang!"

"eyy….Itu kejam."

"….."

Kini giliran Luhan yang diam, membuat Jin salah tingkah sampai akhirnya menghela dalam nafas tanda dia kalah dari perdebatan tak penting ini "Baiklah…baiklah…Aku berangkat!"

"Yeah! Kau memang Jin kesayanganku!"

Luhan merespon terlalu senang, dia juga refleks memeluk lengan Jin sampai tak menyadari kedatangan seseorang yang sepertinya sedang menatap tajam ke arahnya "perasaan apa ini." Luhan bertanya-tanya, merasa seseorang menatap punggungnya dengan tatapan membunuh sampai Jin menyenggol lengannya.

"Lu, dia datang."

Dia?

Refleks, Luhan menoleh, mencari tahu dia siapa yang dimaksud sahabatnya sampai tak sengaja matanya bertatapan langsung dengan mata tajam Sehun yang sedang menatap mengerikan ke arahnya.

"Sehun…"

Dia berniat menyapa, namun suara yang lebih kencang terdengar berteriak memanggil "SEHUN!" hingga terlihat seorang wanita berambut pirang yang menggunakan dress merah tengah melompat ke pelukan Sehun.

Tak tanggung-tanggung dan tanpa tahu malu, wanita itu bahkan mencium bibir Sehun yang sialnya dibalas lumatan tak kalah panas dari Sehun.

"brengsek!" Luhan menggeram marah, tidak, dia tidak marah karena ciuman murahan itu.

Yang membuatnya kesal adalah kenyataan bahwa Sehun diam-diam menyeringai ke arahnya sementara wanita jalang yang dia kenal sebagai coach vocal dari Red Velvet tengah melumat rakus bibir yang pagi tadi baru saja membuai gairahnya.

"Ayo sayang kita pergi."

Setelah mengumbar kemesraan murahan yang membuat Luhan muak, Sehun dan wanita sialan itu pergi meniggalkan kafe. Sekali lagi, Luhan bersumpah melihat Sehun tersenyum licik ke arahnya sementara tangannya merangkul mesra pinggang si gadis berambut pirang.

"Luhan kau baik-baik saja?"

Buru-buru Jin bertanya dibalas tatapan sengit dari Luhan, sahabatnya bahkan tidak berkedip sekalipun hanya untuk menggenggam cup bubble tea nya hingga tumpah mengotori meja.

"Luhan…"

"cih! Aku kira aku sudah baik-baik saja melihatnya bersama wanita lain, aku salah, hatiku masih terasa sakit tiap kali melihatnya bersama wanita manapun…sial!"

"Lu, tenanglah!"

"kenapa?...Kenapa duniaku terus berputar pada poros yang sama Jin? Kenapa—Kenapa harus Sehun….Sehun….dan Sehun! AAARHHH!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BLAM!

Hatinya sudah lebih tenang setelah beberapa menit mencoba untuk tidak menenangkan diri, setidaknya Luhan sudah bisa mengendalikan emosinya mengingat hari ini dia harus menjemput dua buah hatinya di sekolah.

"MAMA!"

Dan disinilah dia, sedang berjongkok menyambut teriakan si sulung sementara si bungsu mengikuti kakaknya dengan setia di belakang. Oh ayolah! Pastilah Sehan sangat menyayangi kakaknya mengingat botol minum dan tas Hanse dengan setia dibawa olehnya karena sang kakak terus mengeluh berat.

"aigoo…anak mama sudah pulang?"

Tak ragu, Hanse melompat ke pelukan Luhan dan berteriak "YA! HANNIE SUDAH PULANG DAN MAU MAIN SAMA MAMA!"

"hannie?"

Seingat Luhan, Hanse sangat benci jika dipanggil Hannie, terlebih jika ayahnya sudah menggoda, tapi lihat si sulung, bahkan tanpa dipaksa dirinya sudah mengatakan namanya Hannie dan Luhan dibuat terkekeh karenanya.

"Bukannya hyung benci dipanggil Hannie?"

"Itu karena Sehan bilang Hannie adalah panggilan cute untuknya, jadilah Hanse terima dan mulai saat ini dia tidak akan marah jika dipanggil Hannie."

Yang berusia dua tahun di atas si kembar terlihat menjelaskan. Dan ayolah, siapapun akan tahu siapa bocah tertua diantara mereka mengingat wajah khas nya benar-benar perpaduan dari kedua orang tuanya.

Matanya bulat, seperti Kyungsoo

Wajahnya tampan, seperti Kai

Jadilah seorang Kim Taeoh, sepupu dari si kembar tengah bertolak pinggan dan menjelaskan panjang lebar pada Lulunya.

"aigoo, Taeoh Hyung juga sudah pulang?"

Buru-buru Luhan menggendong Hanse, mengecup si bungsu lalu mendekati Taeoh yang sepertinya mulai jengah karena menunggu seseorang menjemputnya "Harusnya Jae Samchoon. Tapi sepertinya dia lupa!"

"Jae samchoon? Jaehyun?"

"Iya! Siapa lagi."

"Jungjae kau benar-benar pembual!"

Lihatlah kini, Luhan tahu benar jadwal NCT 127 yang begitu padat, lalu sang paman berjanji pada keponakannya untuk menjemput sekolah sementara adik bungsunya itu sedang berada d Tokyo untuk acara fansign album terbaru NCT.

"mhh…Taeoya, pulang dengan Lulu saja ya?"

"Kenapa memang?"

"Samchon tidak akan datang?"

"Waeee?"

"mmhh….Jadi sepertinya pamanmu—dia…"

"Jika pulang dengan Lulu kau juga akan pulang bersama Jiwon? Bagaimana Taeoya?"

Siapapun yang sedang menolongnya, Luhan akan berterimakasih, ya, pastilah dia akan berterimakasih karena seketika wajah kesal keponakannya berubah menjadi sangat berseri, terlebih saat seseorang memannggilnya "Taeoh hyung!"

Lalu terlihat seorang anak lelaki berparas cantik tengah berlari dan memeluk keponakannya "astaga! Jangan bilang kau menyukainya Kim Taeoh!"

Luhan terkekeh dibalas tatapan sengit dari Taeoh, jadilah dia mengangkat tangan, tanda tidak akan mengganggu, lalu berbalik menyapa pada suara yang entah mengapa terdengar familiar untuk berterimakasih.

"Terimakasih sudah membuat keponakanku sedikit mengerti dan-….."

Baru saja Luhan membalikan tubuhnya, berniat mencari tahu siapa orang tua dari anak menggemaskan seusia putranya untuk berterimakasih. Tapi lihat, siapa yang dibuat diam tak bisa berucap tatkala wajah yang begitu dia rindukan terlihat sedang tersenyum dan menitikkan air mata saat mata mereka bertemu pandang.

"Hay Lu, sudah lama sekali rasanya."

Luhan tidak bisa mengontrol dirinya, air matanya juga menetes tanpa bisa dikendalikan saat melihat pria yang selalu menjadi penolongnya di masa sulit, pria yang pernah menjadi segalanya untuknya dan pria yang entah mengapa dia hindari tanpa alasan.

Luhan tersenyum, menghapus cepat air matanya lalu menyapa sosok yang begitu dia rindukan senyum serta tingkah konyolnya.

"Baekhyunna…"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi bagaimana keadaanmu?"

Bohong jika keadaan tidak menjadi canggung untuk sahabat yang pernah begitu saling menjaga dan mencintainya, bohong jika mereka tidak muak dengan rasa canggung ini dan hanya berharap bisa memutar waktu agar tidak saling menghindari.

Beruntung mereka memiliki anak-anak yang bisa dijadikan alasan, karena tanpa kehadiran malaikat kecil mereka rasanya pula Luhan tidak akan bertahan dan tidak memiliki alasan untuk bicara lebih banyak dengan Baekhyunnya.

"Kau bisa lihat, aku masih seperti aku."

Luhan yang menjawab, keduanya kini duduk di sebuah kursi di taman bermain sementara anak-anak mereka sedang tertawa bahagia dan entah mengapa menjadi dekat seperti dulu mereka bersama.

"Tidak banyak yang berubah darimu Lu, kau masih terlihat sangat mengagumkan untukmu."

Luhan tertawa, membuat kontak mata pertama dengan Baekhyun lalu menyadari bahwa perut sahabatnya sedikit besar hingga tanpa sadar dia bertanya "Kau hamil?"

Tanpa ragu Baekhyun menyentuh perutnya, mengusapnya lembut lalu menjawab pertanyaan Luhan "mmhh…Anak keduaku dengan Chanyeol." Katanya bahagia dibalas senyum sangat cantik dari Luhan.

"Kau pasti sangat bahagia hidup bersama dengan Presdir Park."

"Sangat bahagia Luhan." timpalnya yakin lalu membuat suasana hening diantara mereka, keduanya bahkan harus menikmati semilir angin sampai Baekhyun terdengar bertanya.

"Lalu bagaimana denganmu?"

"Apa?"

"Kau dan Sehun?"

"ah-…..Selain menjadi kedua orang tua untuk si kembar, kami nyaris tidak memiliki hubungan apapun."

"Luhan…."

"Aku rasa kecil kemungkinan untukku bersama dengan Sehun."

Setelahnya, tak ada yang berbicara, mereka seolah sibuk memperhatikan buah hati mereka bermain, mengabaikan perasaan gundah di hati mereka sampai kalimat "Maafkan aku." Terdengar keluar dari bibir Baekhyun.

Sontak Luhan menoleh, memperhatikan Baekhyun yang terus meracau sementara dirinya diam mendengarkan "Jika bukan karena aku, jika bukan karena ayahku, Sehan dan Hanse pasti memiliki orang tua utuh, maafkan aku Luhan, maafkan aku—aku bersalah padamu dan tidak berani meminta maaf secara langsung, aku-….."

Luhan menarik lengan Baekhyun, memeluknya erat lalu mengusap sayang punggung sahabatnya. Jujur Baekhyun sangat merindukan pelukan Luhan, jadi saat Luhan memeluknya erat maka daripada tenang, dia justru semakin terisak dan memeluk Luhan begitu erat.

"Maaf Luhan, MAAFKAN AKU!—hkss…"

"Ssstt….Bee tenanglah, anak-anak memperhatikan kita." Katanya berbisik dibalas isakan tersedu dari Baekhyun "Maafkan aku."

Luhan hanya memeluk Baekhyun semakin erat, terlalu erat sementara diam-diam air mata rindunya juga menetes, dia bahkan bertindak sebagai "Luhan si kekasih Baekhyun" persis seperti dulu mereka berada di bangku kuliah untuk menenangkan kekasih hatinya agar berhenti menangis.

"aigoo…kekasihku terlihat sangat jelek."

Luhan melepas pelukannya, menghapus air mata Baekhyun sementara Baekhyun dibuat terkejut saat melihat air mata Luhan yang kemudian dialihkan Luhan dengan kembali memeluknya erat.

"astaga Bee! Aku merindukanmu, sangat merindukanmu, Baekhyunna."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Three days later…

.

.

"Presdir Oh?"

Yang dipanggil menoleh sejenak, bertanya-tanya mengapa sekertarisnya terus menggangu dan terus memberikan dokumen yang membuat kepalanya sakit tanpa henti. Sebenarnya dia malas menanggapi, tapi mengingat event akhir tahun yang begitu padat untuk seluruh staff dan artis, membuatnya tak memiliki pilihan lain selain merespon apapun yang diberikan sekertaris untuknya.

"Ada apa lagi?"

"Ini nama artis dan beberapa staff yang akan berangkat ke ajang penghargaan di Hongkong."

"Lalu untuk apa aku melihatnya? Artis yang namanya terdaftar dalam nominasi dipastikan berangkat bukan?"

"Anda benar Presdir Oh. Tapi acara penghargaan tersebut bersamaan dengan acara amal yang diselenggarakan ayah anda di Gangnam, saya hanya ingin memastikan bahwa nama-nama artis yang berangkat sudah disetujui dan mendapatkan izin dari anda."

"Baiklah, berikan padaku."

Sehun menerima dokumen yang dimaksud, mempelajari nama-nama yang akan berangkat ke Hongkon dan tak menemukan hal yang membuatnya keberatan.

Sebaliknya, daripada keberatan Sehun lebih senang jika EXO segera pergi mengingat kemungkinan leader EXO-M yang belakangan digosipkan dekat dengan ibu dari dua putranya tidak akan terlihat dan itu membuatnya sangat bahagia

"Baiklah, tidak ada masalah." Katanya mengembalikan dokumen tersebut dengan wajah yang begitu senang.

Tak ada hal yang mengusiknya, semua bahkan berjalan sesuai rencana sampai nafasnya tercekat saat matanya tak sengaja melihat list staff yang berangkat dan menemukan nama Luhan disana.

"Baik Presdir Oh, saya permisi-…"

"Tunggu!"

"nde?"

"Berikan lagi dokumennya!"

Sekertaris bernama Jung Hyemi itu memberikan dokumennya lagi pada Sehun. Namun berbeda dengan sebelumnya, sang Presdir terburu-buru, terlihat cemas dan membuka kasar halaman per halaman sampai tangannya berhenti di list staff dan melingkari nama Manager Xi disana.

"Panggil Manager Xi ke ruanganku."

"huh?"

"SEKARANG!"

Tergagap, sang sekertaris mengangguk lalu segera meninggalkan ruangan yang entah mengapa berubah menjadi horor dan mengerikan "Baik Presdir Oh!" katanya segera memanggil Luhan dan meninggalkan Sehun yang terlihat kesal tanpa alasan.

.

.

Klik…

Dan tak lama pria yang begitu ingin ditemui Sehun terlihat membuka pintu, awalnya Luhan tidak mengerti kenapa sekertaris Sehun terlihat ketakutan, mengatakan bahwa Sehun ingin segera bertemu dengannya hingga terpaksa dia membatalkan rapat dengan beberapa staff pencari bakat yang akan ikut terbang dengannya ke Hongkong.

"Presider Oh? Anda memanggil saya?"

Terlepas dari kenyataan bahwa pria dingin yang enggan menjawab sapaan darinya adalah ayah dari dua putranya, Luhan tetap menyapa sopan pada Sehun. Dia hanya tidak ingin menjadi bahan perbincangan dari seluruh staff dan artis jika hanya memanggil nama kecil dari ayah dua putranya.

Lagipula Luhan cukup menyadari perbedaan status mereka di agensi walau nyatanya, tubuh Luhan selalu merespon tegang saat bayangan-bayangan panas teringat di setiap sudut ruangan Sehun megingat keduanya juga sering bercinta di ruangan besar milik mantan kekasihnya.

"Presdir Oh?"

Jadilah dia tetap memanggil Sehun sebagai pimpinan tertinggi OSH'ent walau hanya mereka berdua yang berada di ruangan sang Presdir.

"haah…"

Tetap tak menjawab, Luhan hanya bisa menghela dalam nafasnya, detik kemudian dia menutup pintu ruangan terbesar yang berada di agensi hingga saat ini dia benar-benar hanya berdua bersama ayah dari kedua putranya.

"Baiklah, saya sudah didepan anda. Ada apa memanggilku?"

Merasa puas, Sehun tetap tidak merespon, yang dia lakukan hanya menggesekan pena mahal miliknya ke berbagai kertas sementara matanya mengerling sebuah dokumen yang dibawa sekertarisnya beberapa waktu lalu.

"Aku mencoret namamu dari daftar staff yang berangkat ke Hongkong."

"nde?"

Sehun tersenyum licik lagi, dia mengambil dokumen sah yang baru saja dibuat ulang lalu melemparnya ke depan Luhan "Namamu, aku mencoretnya dari list!"

Luhan terkejut, buru-buru dia membaca dokumen yang diberikan Sehun hingga tak sadara merematnya terlalu kencang saat namanya dicoret menggunakan tinta merah oleh sang presdir.

"Kenapa anda mencoret namaku?"

Sehun masih fokus menandatangani dokumen, tidak berniat meladeni kemarahan Luhan dan hanya menjawab dengan santai, seperti biasa.

"Aku tidak perlu memiliki alasan untuk mencoret nama pegawaiku! Intinya kau akan tetap berada di Seoul dan tidak akan pergi kemanapun termasuk Hongkong sekalipun."

Merasa tersinggung Luhan meninggikan nadanya dan sedikit berteriak "Tapi kenapa?" katanya kesal hingga membuat gerakan Sehun terhenti dan tergoda untuk menatap langsung dua mata cantik yang sedang menatapnya kecewa saat ini.

"Karena aku tahu tujuanmu ke Hongkong bukan untuk mencari bakat."

"Apa maksudmu?"

Dengan tenang Sehun mengambil dokumen miliknya dari tangan Luhan, membuka halaman pertama lalu menggunakan tinta merah dia juga melingkari nama Yifan "Aku tidak mau mengambil resiko dengan menghadapi kenyataan bahwa kau akan memberikan ayah baru untuk kedua putraku!"

"Mwo?"

Luhan tertawa sengit, sungguh, dia tidak menyangka bahwa pikiran Sehun akan sedangkal ini, beberapa detik dia kehabisan kata, lalu detik berikutnya dia menggaruk tengkuk lalu memijat kasar kepalanya yang berdenyut sakit "Astaga Oh Sehun! Kau benar-benar sangat licik!"

"Jaga bicaramu Manager Xi!"

"Kau bahkan terus menuduhku tanpa melihat dan menyadari apa yang telah kau lakukan padaku? Whoa….Kau benar, ya! Tebakanmu benar sepenuhnya!"

"Mengenai apa?"

Tak sabar Luhan kembali merebut dokumen yang digenggam Sehun, mencari nama Yifan lalu menunjuk nama tersebut penuh rasa percaya diri "Dengan atau tanpa persetujuanmu aku akan tetap berangkat ke Hongkong! aku—Aku bahkan berencana untuk menjadikan Yifan ayah kedua dari Sehan dan Hanse! Kau dengar? Aku muak berbicara denganmu! Selamat siang Presdir Oh!"

Luhan melempar kasar dokumen sialan ke meja Sehun, dia tahu ucapannya sudah sangat keterlaluan, tapi demi Tuhan, pikiran Sehun lebih keterlaluan dan Luhan sangat membencinya.

"aku benar-benar muak!" katanya membuka pintu, berniat meninggalkan ruangan Sehun sampai tangan yang lebih besar lebih dulu bergerak cepat dan kembali menutup pintu.

"Apa kau yakin?"

Luhan tahu aroma mint yang begitu kuat yang selalu digunakan ayah dari si kembar sebagai parfume favoritnya "Se-Sehun?"

"Apa kau yakin Lu?"

Tatkala deru nafas Sehun berhembus berat di tengkuknya, tubuh Luhan merespon tegang. Tangannya yang masih setia menggenggam kuat gagang pintu terpaksa harus terlepas mengingat bahwa tak hanya deru nafas Sehun yang membuatnya lemas tapi juga tangannya yang kekar dan begitu hangat tengah melingkar sempurna di pinggangnya.

"Apa yang kau bicarakan?" katanya gugup dibalas jilatan kecil di tengkuknya sementara tangan ayah dari Hanse dan Sehan ini mulai membuka satu-persatu kancing kemeja berwarna pink yang digunakan Luhan pagi ini.

"Aku hanya ingin memastikan jika kau benar-benar muak padaku!"

"Sehun, jika kau melakukan ini aku akan-….akh~"

Sehun sedikit menjambak rambut Luhan, memaksa tubuhnya berbalik lalu menangkup kasar wajah ibu dari putranya untuk segera menyatukan bibir mereka, melumatnya kasar dibalas pukulan-pukulan kecil di dadanya.

"Sehunlepas—hmmh~"

Jelas Luhan kesulitan berbicara, saat ini lidah Sehun tengah membelit dalam lidahnya, bibirnya semakin melumat kasar hingga suara-suara khas bibir saat melumat terdengar di dalam ruangan yang bisa memantulkan jenis suara apapun termasuk desahan.

"Apa kau yakin kau muak denganku?"

Dengan cekatan Sehun membuka kancing kemeja Luhan, beberapa diantaranya dilepas paksa, sementara tangan kasarnya mulai menjamah bagian sensitif Luhan sampai bibirnya menyeringai puas melihat tanda keunguan di sekitar leher Luhan yang belum sepenuhnya hilang dari percintaan panas mereka dua hari yang lalu.

"Katakan padaku. Apa kau benar-benar muak padaku Xi Lu-…"

"SEHUN CUKUP!"

Sekuat tenaga Luhan mendorong Sehun, tangannya juga secara refleks menutupi dadanya agar tidak memancing nafsu Sehun semakin jauh "APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?"

"Aku?"

Terlambat, seluruh tatapan Sehun sudah dipenuhi nafsu, tapi berbeda dengan tatapan saat mereka bercinta tiga hari yang lalu maka kali ini yang diberikan Sehun hanya seringai kecil sementara mata elangnya mulai melihat seluruh tubuh Luhan dari atas sampai ke bawah.

"Sehun! Kumohonjangan berbuat gila. Kita bisa bicara dan aku janji akan-….."

Grep!

Ya, selalu seperti ini jika nafsu Sehun bercampur dengan rasa marah atau cemburu. Ayah dari anak-anaknya cenderung berbuat kasar dan Luhan sangat benci jika Sehun "mengambilnya" dalam keadaan emosi atau tidak sadar karena pengaruh alkohol.

"Sehun jangan! Kau tahu aku paling benci jika-…."

Ayah dari dua orang putra itu sepenuhnya dipenuhi nafsu dan rasa cemburu. Dia membalikan kasar tubuh Luhan ke arah dinding, mengunci tangan Luhan dengan tangan kiri sementara tangan kanannya tanpa kesulitan membuka zipper celana Luhan, menurunkannya selutut, lalu membuka paksa boxer Luhan dan memaksa Luhan untuk menungging agar dia bisa segera "mengambil" Luhan tanpa melakukan foreplay lebih dulu.

"Ssshh…Sehun!"

Tubuh Luhan lemas, bukan hanya karena cengkraman Sehun di tangan dan pinggangnya yang begitu kuat, tapi juga karena sentuhan kasar yang dilakukan Sehun di bagian-bagian sensitif tubuhnya terlebih saat ayah dari Sehan dan Hanse sedang menggesek-gesekan penis ke bokong miliknya dengan dua jari yang sudah keluar-masuk secara kasar melakukan penetrasi untuknya.

"Jika kau masukkan aku akan sangat membencimu! Kau dengar? Aku akan—AAARKH!"

Pinggangnya sengaja diturunkan kasar oleh Sehun dan tak lama sang presdir dengan kasar menggantikan dua jarinya dengan penis besar yang sialnya sudah berhasil masuk tanpa pemanasan yang cukup.

"Sehunsakit—hentikan!"

Mengabaikan rintihan Luhan, yang dilakukan sang Presdir hanya bergerak menunggangi ibu dari dua putranya, gerakannya kasar dan tidak stabil hingga membuat Luhan terus meringis dan terpaksa membuat dua tangannya bertumpu pada dinding yang mungkin sedang menertawakannya saat ini.

"ssshh~"

Setelah membuat Luhan nyaris mati rasa karena rasa perih, Sehun mencapai klimaksnya, dia mengeluarkan seluruh spermanya di lubang Luhan lalu mencabutnya kasar dan melepas lingkaran tangannya di pinggang Luhan.

Jadilah Luhan terjatuh sementara pakaiannya berantakan dengan beberapa kancing kemeja terlepas karena perbuatan kasar Sehun.

"Bersihkan dirimu dan jangan pernah berfikir untuk pergi meninggalkan anak-anak."

Dan setelah menaikkan zipper celananya, setelah mengancingkan dua kancing kemejanya yang terbuka, sang Presdir memberi peringatan lalu pergi meninggalkan Luhan yang terlihat sangat kotor mengingat cairan sperm Sehun terus mengalir keluar dari lubangnya yang terasa dikoyak hancur sementara punggungnya begitu sakit karena gerakan Sehun sangatlah kasar.

"brengsek…."

Luhan mencoba berdiri namun gagal, kakinya lemas, pinggulnya dipenuhi rasa sakit sementara hatinya merasa begitu dilecehkan "Oh Sehun kau-…."

Yang bisa dilakukan Luhan hanya terisak pilu, tubuhnya sakit terlebih hatinya, lalu tak lama tangannya mengepal erat seolah mewakili rasa sakit atas pelecehan yang dilakukan Sehun padanya, dia marah, namun salahnya tak pernah benar-benar bisa marah.

"kau sialan, benar-benar sialan, aku—OH SEHUN AAARRRRHHHH!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan pagi,

.

.

"Sial! Jadi Manager Xi tetap berangkat menuju Hongkong?"

"Ya Presdir Oh, malam tadi Manager Xi dan seluruh rombongan artis beserta staff berangkat menuju Hongkong."

Jelas saja wajahnya tegang dan terlihat sangat mengerikan, tebakannya meleset mengira bisa membuat Luhan tinggal dengan caranya yang kasar tidak berbuah hasil. Semuanya gagal dan Luhan lebih memilih berangkat ke tempat yang dia larang hingga membuat suasana terasa mengerikan di agensi meskipun waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi.

"Mereka sudah sampai di Hongkong?"

"Menurut kabar semua sudah tiba di Hongkong dan sedang beristirahat untuk acara malam nanti."

"oh ayolah! Mereka pasti sedang bersama saat ini."

Pikiran dimana Kris bisa mendekati Luhan secara bebas di Hongkong begitu menyiksanya, sedari tadi yang dilakukan sang Presdir adalah menggeram marah, sesekali dia menghubungi seseorang namun berakhir membanting ponsel tatkala orang yang dihubungi tidak menjawab panggilannya.

"brengsek….Aku benar-benar kesal." Katanya marah dan tak lama menatap sang asisten yang masih betah berdiri di depannya "Carikan aku tiket Hongkong."

"nde?"

"Kau dengar apa yang aku katakan. Carikan aku tiket ke Hongkong, Sekarang!"

"Tapi Presdir Oh banyak undangan yang harus anda hadiri, anda tidak bisa membatalkannya begitu saja dan-…."

"SEKARANG!"

Tak memiliki pilihan lain sang asisten terlihat gugup, dia kemudian mengangguk pasrah lalu membungkuk berpamitan "Baiklah, saya akan mencarikan tiket untuk anda Presdir Oh."

"Bagus! Secepatnya."

Yang diperintah mengangguk mengerti, meninggalkan pimpinan tertinggi di agensi untuk segera mencarikan tiket walau nantinya seluruh schedule sang Presdir akan berantakan dan menimbulkan masalah.

"haah~Angkat ponselmu Xi Luhan—angkat!"

Klik!

Bersamaan dengan geraman marahnya, pintu ruangan kembali terbuka, menampilkan sosok paruh baya yang hampir seumur hidupnya bekerja untuk sang ayah hingga membuat Sehun bertanya-tanya kenapa Paman Lee sampai datang ke agensi miliknya.

"Paman?"

Yang disapa terlihat pucat, dia juga menutup pintu perlahan sementara Sehun terlihat sibuk mengemasi barangnya untuk berangkat menuju Hongkong.

"Kebetulan paman datang, aku dan Luhan ada urusan bisnis di Hongkong. Jadi selama kami pergi, aku ingin menitipkan anak-anak pada paman dan-…."

"tuan muda…."

Rasanya jarang sekali mendengar suara pengasuhnya sejak kecil terdengar lirih, tidak, paman Lee bahkan tidak pernah mengeluarkan suara lirihnya lagi terhitung dua puluh tahun lalu saat kali terakhir dia memberitahukan tentang kematian mendiang ibunya.

Jadi jujur saja, saat paman memanggilnya lirih, gerakan Sehun terhenti dan entah mengapa dia gemetar seolah mengalami dejavu menakutkan yang pernah dialaminya sebelum ini.

"Ada apa?"

"Sebaiknya anda segera ke rumah sakit."

"huh? Ada apa?"

"Tuan besar, ayah anda, beliau…."

Sehun berusaha fokus, kemarahannya karena Luhan kini berada di Hongkong bersama Yifan digantikan dengan kecemasan yang entah mengapa menohoknya dalam tatkala air mata pamannya jatuh menetes. Terlebih saat pamannya tidak bisa berkata dan hanya mengatakan sepotong demi sepotong kalimat mengerikan tentang kenapa dia harus ke rumah sakit dan kemungkinan hal buruk telah terjadi pada ayahnya.

"Paman ada apa? Ayah kenapa?"

"tuan muda, anda harus segera ke rumah sakit."

Sehun geram, dibantingnya seluruh perlengkapan yang akan dia bawa ke Hongkong lalu berjalan mendekati paman Lee yang entah mengapa terlihat sangat menyedihkan.

"Paman tenanglah, ada apa? Apa yang terjadi?" tangannya mengguncang kasar pundak Paman Lee, membuat sang pengasuh sedikit menerima kesadarannya sebelum menatap lirih wajah dari pria yang sudah dianggapnya seperti darah dagingnya sendiri

"andaharussegerapergi—tuan muda kumohon." Katanya memohon dibalas tatapan putus asa Sehun yang kini mengguncang kasar tubuh paman Lee seraya berteriak

"PAMAN!"

.

.

.

.

.

.

Sementara itu…

.

"Menyenangkan sekali kau bisa bergabung dengan kami, aku mendengar kabar bahwa keberangkatanmu tidak disetujui Presdir Oh."

Berpindah tempat, kini terlihat dua pria yang memiliki paras berbeda tengah menikmati sarapan bersama di sebuah Hotel mewah tak jauh dari tempat acara akan diselenggarakan.

Yang sedang bertanya merupakan seorang idol yang ketenarannya sudah hampir dikenal seluruh dunia sementara yang ditanya adalah seorang manager sekaligus ibu dari dua putra kembarnya yang kini berusia lima tahun.

"yeah, begitulah Kris. Tidak mudah untukku bisa sampai disini."

Luhan, sang manager, terlihat enggan menikmati sarapannya. Jujur saja pikirannya terbagi antara pekerjaan dan kehidupan pribadinya di Seoul, dia juga bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan si kembar atau bagaimana reaksi Sehun saat mengetahui kepergiannya. Memikirkan semua itu membuatnya mual dan entah mengapa perasaannya buruk tentang kepergiannya kali ini.

"Sudahlah, nikmati saja perjalananmu kali ini. Lagipula, kehadiranmu disini merupakan keuntungan tersendiri untukku."

"Apa maksudnya?"

"Kau tanpa kehadiran Sehun di sekelilingmu, entah mengapa itu membuatku sangat bahagia."

"Kris…"

"Hey sudahlah, jangan memasang wajah seperti itu. Aku baik-baik saja."

Luhan mengaduk asal teh hangat miliknya, matanya tak berani menatap sang leader dari EXO-M hanya untuk mengakui kesalahannya "Harusnya aku tidak memanggilmu malam itu."

"Kau tahu? Aku sangat berharap kau bisa bergantung padaku."

Luhan tertawa kecil seraya menatap sekilas pria yang entah sejak kapan terlihat sangat mempedulikannya "Kau tahu itu sebuah kesalahan, aku mencintai Sehun dan maaf terus mencarimu disaat yang tidak tepat."

"Luhan, sudahlah. Kau bahkan memintaku untuk tidak datang disaat kau menangis sendirian malam itu. Aku sangat bahagia saat kau meminta tolong padaku, tapi lima detik kemudian kau membatalkannya dan aku sangat sedih tidak bisa datang menolongmu."

"Tidak apa, itu salahku. Aku tidak akan mengulanginya lagi."

"hey…."

Tangan besar Kris kini menggenggam tangannya erat. Luhan bahkan sempat terhipnotis dengan tatapan sang idola terlebih saat Kris memohon "Pertimbangkan aku untuk hidupmu, aku juga ingin menjadi pria yang begitu dicintai oleh orang sepertimu, kumohon."

"Kris…."

Drrtt…drtt..

Demi Tuhan jika ponselnya tidak bergetar mungkin Luhan akan segera mengangguk dan menyetujui untuk mempertimbangkan Kris dalam hidupnya, tapi Tuhan seolah mempunyai cara lain untuk menunda kebahagiaan Luhan terlebih saat si pemilik ponsel menyadari bukan lagi Sehun yang menghubunginya tapi Paman Lee, pengasuh Sehun sewaktu kecil yang kini juga mengasuh dua putranya.

"Maaf Kris aku harus mengangkat panggilan dari pamanku."

Buru-buru Luhan melepas genggaman tangan Kris di tangannya, bergegas mengambil ponsel lalu beranjak pergi mencari jarak dari pria lain yang nyaris mengambil akal sehatnya untuk mengatakan Ya dan mengisi kekosongan hatinya selama bertahun-tahun.

Sret…

"Luhan?"

"Ya paman? Ada apa?"

Luhan sedikit melirik Kris di belakangnya, tersenyum sekilas lalu fokus pada suara paman Lee yang entah mengapa terdengar sangat cemas

"Paman?"

"Luhan, bisakah kau pulang?"

"Ada apa?"

"Sehun membutuhkanmu."

"Sehun? Ada apa?"

"Luhan…"

"Paman demi Tuhan! Ada apa?"

Kris bisa melihat raut perubahan wajah Luhan yang begitu tegang, pria yang sudah dikenalnya selama hampir lima tahun itu bahkan terlihat pucat. Entah siapa dan apa yang sedang dibicarakannya melalui ponsel tapi yang jelas Luhan bereaksi terlalu cepat saat menutup ponsel lalu menatap cemas padanya.

"Aku harus kembali ke Seoul!"

.

.

.

.

.

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, setidaknya pula sudah hampir sepuluh jam Luhan menempuh perjalanan hanya untuk kembali ke Seoul. Dan terimakasih pada Kris karena bantuannya Luhan bisa menemukan penerbangan tercepat untuk sampai kembali ke Seoul.

Tap

Tap

Tap

Tujuan pertamanya bukan rumah, bukan pula anak-anak. Jujur dia begitu cemas sementara kakinya terus berlari memasuki gedung yang selalu memiliki bau khas yang begitu familiar untuknya.

Dan jangan katakan tempat itu sebagai rumah sakit jika kita tidak melihat tangisan keluarga, darah dari pasien atau bahkan raut menyesal dari dokter yang telah gagal menyelamatkan pasiennya.

Huweek~

Luhan mual, membayangkannya saja dia begitu mual. Terlebih saat ucapan paman Lee yang terus terngiang hingga tubuhnya gemetar tak terkendali

Tuan besar tiba-tiba tidak sadarkan diri dan kini berada di ICU, Sehun sudah berada disana tapi dia terlihat sangat kacau.

"Sehunna…"

Dan jujur, sepanjang perjalanan hanya Sehun yang dia pikirkan, tujuannya segera kembali ke Seoul juga hanya karena Sehun. Karena saat paman Lee memberikan kabar yang begitu mengejutkan, Luhan seolah dipaksa merasakan sakitnya Sehun hingga seluruh tubuhnya gemetar dan terkadang mual karena terlalu cemas.

Dia terus berlari menyusuri lorong yang menjadi tempat dimana ayah Sehun berada, terlihat sangat cemas namun tak ada yang lebih membuatnya cemas selain membayangkan wajah terpukul Sehun yang selalu menyalahkan dirinya jika terjadi sesuatu pada ayahnya.

"Sehun!"

Dan benar saja, saat ini Luhan berhenti berlari, nafasnya tersengal sementara matanya terkunci pada sosok yang sedang duduk sendiri di ruang tunggu. Sosok yang dia tebak akan sangat menderita benar adanya.

Karena saat ini Sehun, ayah dari dua putranya, selalu terlihat menyedihkan setiap kali Tuan Oh berada pada kondisinya yang drop. Dia cenderung menyalahkan diri sendiri dan enggan untuk membagi perasaan lukanya pada siapapun, termasuk Luhan.

"Sehun."

Luhan memberanikan diri untuk memanggil nama pria yang selalu dicintainya, hidupnya, tidak mempedulikan bagaimana reaksi Sehun saat melihatnya dan hanya berjalan mendekat sementara sosok yang begitu angkuh, arogan dan terkadang sangat keji kini sedang menatapnya bak anak lima tahun yang ditinggalkan ayahnya seorang diri.

Luhan bahkan bisa melihat tatapan kosong dan ketakutan yang dipancarkan mata Sehun, itu seperti milik Hanse saat dirinya atau Sehun memarahi si sulung, kini ayah si kembar melakukan hal yang sama dan itu menggores hati Luhan, sangat.

"Hey, kau baik-baik saja?"

Buru-buru Luhan berjongkok di depan Sehun, mengambil erat dua tangan yang biasa memperlakukannya kasar dan entah mengapa terasa sangat dingin dan terus gemetar begitu hebat "Sehun?"

Seolah tak menyangka Luhan datang ke hadapannya, Sehun menitikkan air mata seraya mengusap lembut wajah ibu dari kedua putranya "Lu? Kau datang?"

Luhan mengangguk, membawa tangan Sehun ke genggamannya dan mengusap lembut tangan besar dari pria yang begitu dicintainya "eoh! Aku pulang, maafkan aku tidak tinggal, maaf."

Sehun mengerjap berulang kali, detik berikutnya pandangannya cemas dan si pria tampan mulai meracau terlihat sangat ketakutan "Apa yang harus aku lakukan?"

"huh?"

"Mereka bilang kemungkinannya besar ayah-….ayah tidak akan membuka matanya lagi Lu. bagaimana ini Luhan? Bagaimana? Aku belum siap kehilangan ayah—aku-…"

Kini Luhan berdiri, membawa wajah Sehun bersandar di perutnya sementara mantan kekasihnya mulai melingkarkan erat tangannya di pinggang Luhan, memeluknya sangat erat "sshh…..Tenanglah Sehun, ayah akan baik-baik saja."

"Aku belum siap kehilangan ayah, aku sama sekali tidak siap, Luhan—ayahku…"

Sehun yang menangis tapi hati Luhan yang tergores, selalu seperti ini jika keadaan ayah Sehun sedang dalam kondisi yang buruk, selalu seperti ini jika Sehun menangis, Luhan bisa saja kehilangan akal sehatnya dan ikut menangis.

Tapi bukan itu yang dibutuhkan Sehun, Sehun butuh ditenangkan. Dan tujuannya datang malam ini adalah untuk menenangkan prianya, pujaan hatinya, bukan untuk membuat keadaan semakin buruk.

Dan apapun yang akan terjadi nantinya, Luhan bertekad untuk menukar apapun dalam hidupnya hanya untuk membuat ayah dari kedua putranya terlihat bahagia dan tidak menitikkan air mata lagi dalam hidupnya.

"Sehun kumohon tenanglah, hmmh?"

Luhan mengecupi pucuk kepala Sehun, mengusap punggungnya dan membiarkan Sehun menangis di pelukannya, bergantung padanya.

"Semua akan baik-baik saja Sehunna, percayalah padaku."

Dan setelahnya, di ruang sunyi tepat di depan ICU, hanya terdengar isakan Sehun dengan ibu dari anak-anaknya yang mendekap erat.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dan terimakasih pada Tuhan karena setelah dua belas hari lamanya, sang ayah akhirnya membuka mata, keadaannya masih lemah tapi yang Sehun tahu, selama dia masih bisa meracau marah dan kesal, ayahnya baik, terlalu baik bahkan saat bermain dengan kedua putranya.

"Kakek mau esklim."

"Nanti kakek belikan untuk Hannie, bagaimana?"

"yey! Papa! Esklim ya? Boleh?"

Yang ditanya sedang melihat ke arah pintu, matanya sedang berharap pintu ruang perawatan sang ayah terbuka lalu melihat sosok yang entah kemana sudah menghilang selama tiga hari tanpa kabar dan tanpa memberitahunya.

"PA!"

"Ya? Ya sayangnya Papa ada apa?"

"Esklim dari kakek, boleh?"

Mata Sehun sempat bertatapan dengan mata ayahnya, bertanya-tanya mengapa ayahnya menatap iba sementara dirinya harus terus tersenyum jika tidak ingin si kembar melihat raut wajahnya yang terlihat bingung "Ya tentu saja sayang, Hannie boleh makan eskrim." Katanya mengijinkan lalu mengerling si bungsu "Sehan juga boleh."

"yey!" Hanse berteriak, berbeda dengan Sehan yang daripada senang mendapat es krim dia lebih memilih berjalan mendekati ayahnya untuk bertanya "Papa…"

"hmhh? Ada apa nak?"

Buru-buru Sehun menggendong Sehan ke pangkuannya, mengecupi wajah si bungsu sampai pertanyaan putranya entah mengapa membuatnya terlihat sangat buruk "Mama dimana? Sehan rindu, hksss…"

Dan tanpa alasan, melihat putra bungsunya menangis adalah hal yang nyaris tak pernah terjadi. Jadi ketika Sehan menangis, pastilah membuat hatinya hancur terlebih saat dia mengatakan rindu pada Luhan yang selama tiga hari ini entah berada dimana.

"sssh….Jagoannya papa jangan menangis hmh, Papa akan mencari Mama, bagaimana?"

"Mama kemana Pa? Apa Mama sakit?"

Sakit?

Pertanyaan Sehan membuat dirinya berfikir, kemungkinan terburuk memang Luhan jatuh sakit. Ya, terang saja Luhan bisa saja sakit mengingat selama dua belas hari penuh dia menggunakan seluruh tenaganya untuk datang ke rumah sakit dan mengurus buah hati mereka secara bersamaan.

"Tidak nak, Mamamu baik baik-baik saja sayang. Mama-…."

Klik!

Dan disaat yang sama pintu ruang perawatan ayahnya terbuka, Sehun berharap itu Luhan walau nyatanya sosok paman Lee yang terlihat "Paman?"

"Selamat siang tuan muda."

Dan setelah diingat lebih jelas, paman Lee juga sudah tidak datang selama tiga hari. Sehun juga melihat wajah lesu dan lelah sang paman hingga membuatnya bertanya "Darimana saja Paman? Dimana Luhan?"

Yang ditanya terlihat gugup, Sehun bisa melihat tangan paman Lee gemetar dan itu bukanlah pertanda baik.

"Nak, main dengan kakek sebentar."

Sehun menurunkan Sehan dari pangkuannya, fokusnya terus berada pada si kembar sebelum akhirnya seluruh wajah lelah Paman Lee seolah menyita perhatiannya dan menebak bahwa pamannya mengetahui sesuatu tentang Luhan.

"Paman.."

"Ya?"

Mata Paman Lee berkedip secara berlebihan, detik berikutnya Sehun bisa melihat setetes air mata jatuh dari matanya yang terlihat lelah hingga membuat Sehun merasa mual entah karena alasan apa.

"Kau tahu dimana Luhan?"

"…"

Tangan paman bergetar lagi, jelas sesuatu terjadi dan Sehun tidak memiliki kesabaran untuk menunggu lebih lama. Dia pun memegang pundak sang pengasuh lalu berteriak "PAMAN! APA YANG TERJADI!"

.

.

.

.

.

.

.

.

TAP..

TAP..

TAP..

Dua belas hari yang lalu adalah langkah Luhan yang terdengar berlari menyusuri lorong rumah sakit. Kini keadaan berbalik, giliran Sehun yang berlari menuruni tangga hanya untuk mencapai lantai dasar mengingat lift terlalu lama.

"Lu—haah~LUHAN!"

Dia terus berteriak, terlebih saat penjelasan paman Lee tanpa sadar mengoyak hatinya ketika mengatakan apa yang terjadi pada Luhan.

Alasan mengapa kau tidak bisa melihat Luhan selama tiga hari ini karena kondisi Luhan menurun secara drastis dan terpaksa harus menjalani perawatan

huh? Menjalani perawatan? Apa maksud paman?

Awalnya aku mengira Luhan kelelahan mengurus dirimu, Tuan besar dan anak-anak. Tapi aku salah,

Apa yang terjadi?

Langkah kaki Sehun terus berlari menuruni tangga. Lantai ayah dirawatnya adalah lantai tiga puluh lima. Lalu saat ini dia masih berada di lantai sepuluh dan artinya masih ada sekitar sepuluh tangga lagi yang memisahkannya dengan Luhan.

Dokter mengatakan benjolan di kepalanya terlihat lagi, Luhan sendiri mengetahuinya dan menyebut benjolan itu sebagai siklus lima tahun.

Mwo?

Mereka bisa saja melakukan operasi lagi untuk pengangkatan tumor di kepalanya, tapi kali ini kemungkinannya kecil untuk Luhan membuka mata mengingat daya tahan tubuhnya semakin memburuk seiring dengan usianya yang terus bertambah.

"ARGH!"

Sehun terjatuh, kakinya mungkin terkilir hingga menyebabkan rasa sakit yang tak bisa dia tangani, dia menangis, lalu menyadari bahwa air matanya bukan untuk kaki sialannya yang hanya terkilir kecil, dia menangis menyadari kondisi Luhan jauh dari kata baik dan dia masih begitu jahat pada pria yang sejujurnya selalu memenuhi hatinya.

"Luhan…."

Dan Luhan menolak untuk melakukan operasi, dia mengatakan tidak ingin mengambil resiko dengan mati dan kehilangan kesempatannya untuk melihat si kembar tumbuh.

"Bodoh, kau tidak akan mati….kau tidak akan mati XI LUHAN! KAU DENGAR! RRHHH!"

Sehun kembali berlari, kali ini lebih cepat walau terlihat memar di sekitar pergelangan kakinya

Dimana—DIMANA LUHAN SAAT INI?

Dia juga dirawat di rumah sakit yang sama dengan ayahmu, hari ini dia diperbolehkan pulang oleh dokter Park. Tapi kemungkinan Luhan menunjukkan wajahnya adalah dua hari setelah dia beristirahat total dirumah, dia kesakitan tuan muda. Luhan-….

BRAK!

"LUHAN!"

Beruntung Sehun tepat waktu, beruntung pula dokter yang menangani Luhan adalah kakak dari sahabatnya, beruntung dia masih bisa melihat wajah cantik Luhan yang entah mengapa terlihat sangat pucat hari ini.

Kedua pasien dan dokter yang sedang berbicara itu tampak terkejut dengan kedatangan Sehun, Luhan terutama, dia sangat terkejut sampai senyumnya hilang digantikan raut cemas yang ditujukannya untuk Sehun.

"Sehun?"

Sehun berjalan mendekati Luhan, mengabaikan panggilan kakak kandung Chanyeol dan hanya menarik Luhan ke pelukannya.

Sial! Apa yang terjadi padanya? Tubuhnya kehilangan banyak berat badan hanya dalam tiga hari?

"Se-Sehun."

Sehun tidak berkata apa-apa, dia hanya terus memeluk Luhan sampai pelukannya terlepas dan kini matanya mengunci mata Luhan untuk mengatakan "Tunggulah diluar, aku harus bicara dengan Haejin hyung."

Luhan cemas, buru-buru dia menggeleng lalu berusaha membujuk Sehun "Kenapa kau harus bicara dengan dokter Park? Kita harus segera ke ruangan ayah, anak-anak menunggu kita."

Kini Sehun mengabaikan Luhan, fokusnya hanya pada dokter spesialis bedah yang lima tahun lalu dia ketahui bertanggung jawab atas kondisi Luhan. Matanya terlalu mengerikan untuk ditatap sementara Luhan terus memohon.

"Sehun, kumohon, kita harus pulang. Kita-….."

"DIAM DAN TUNGGU AKU DILUAR!"

Luhan tersentak, tangannya yang memegang lengan Sehun terlepas digantikan isakan kecil yang entah mengapa membuatnya sangat takut.

Sehun menyadarinya, sedikit mengutuk temperamen nya yang begitu kasar untuk menatap lembut pada Luhan "Kumohon, tunggu aku diluar."

Luhan pasrah, dia tidak memiliki pilihan lain selain mengangguk. Salahnya menutupi kondisi dirinya pada Sehun, jadi jangan salahkan Sehun jika dia tidak bertanya padanya melainkan pada Dokter Park yang sudah menganggap Sehun seperti dia menganggap Presdir Park yang merupakan adik kandungnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sekiranya sudah dua puluh menit Sehun berbicara dengan dokter Park. Dan selama sepuluh menit itu pula Luhan terus menunggu diluar dengan cemas. Terkadang dia merasakan mual lalu kepalanya kembali sakit tapi yang lebih menyiksa adalah bagaimana reaksi Sehun saat mengetahui hal yang sedang mati-matian dia perjuangkan untuk mereka.

Klik….

Ada perasaan lega saat pintu terbuka, Luhan ingin berdiri tapi perutnya terasa kram hingga berakhir tetap duduk dan menyambut kedatangan Sehun yang entah mengapa menatap sendu padanya.

"Sehun? Ada apa? Apa yang dikatakan Dokter Park?"

Sehun tersenyum kecil, antara bahagia dan terluka melebur menjadi satu. Luhan tidak pernah lagi melihat senyum itu di raut wajah ayah si kembar, membuatnya semakin gugup terlebih saat Sehun berjongkok di depannya dengan tangan yang menggenggam kuat jemarinya.

"Kenapa kau menyembunyikannya dariku?"

"Sehun aku tidak bermaksud menyembunyikan penyakitku darimu. Aku hanya sudah terbiasa dengan penyakit ini dan akan baik-baik saja selama aku menjaga keehatan dan-…."

"Bukan itu…."

"huh?"

Luhan gugup, dia berusaha melepaskan tangan Sehun yang menggenggamnya namun dibalas air mata yang entah mengapa menetes di mata paling dingin yang pernah Luhan kenal seumur hidupnya "Sehun…"

"Alasan mengapa kau tidak ingin melakukan operasi, aku sudah mengetahuinya."

Luhan lemas, seluruh tubuhnya lemas. Tangannya menjadi sangat dingin di genggaman Sehun sementara tangan kanan Sehun mulai beralih ke perutnya, mengusapnya lembut seolah membenarkan bahwa dia memang mengetahui apa yang sedang diperjuangkan Luhan saat ini.

"Hay nak, ini papa."

Luhan menangis, entah mengapa pemandangan Sehun yang selalu memperlakukan buah hati mereka begitu lembut selalu membuatnya iri. Ini anak ketiga mereka dan Sehun sama sekali tidak merubah caranya berkomunikasi dengan calon adik dari si kembar.

Tangannya terus mengusap lembut kehamilan yang sudah berjalan selama lima belas minggu namun seperti biasa tidak terlihat karena mengikuti kondisi tubuh Luhan yang kecil

"Tega sekali kau menyembunyikan calon anak ketigaku Luhan."

Luhan tak tahan, dipeluknya Sehun begitu erat lalu berbagi tangis yang entah mengapa terasa menikam hati mereka masing-masing. Kenyataannya Sehun selalu tidak mengetahui apapun tentang kehamilan Luhan dan kehadiran calon buah hatinya, jadi saat lagi-lagi Luhan mencoba untuk menyembunyikan kehamilan keduanya, Sehun merasa begitu dibodohi namun tak bisa menyembunyikan bahwa dia bahagia akan menjadi ayah dari tiga orang anak.

"Maafkan aku Sehun, aku ingin memberitahu saat kondisiku jauh lebih kuat. Tapi semuanya tidak berjalan baik, aku sakit dan dokter Park mengatakan—hks….Dia mengatakan aku tidak bisa memiliki bayiku karena kondisiku. Aku tidak mau membunuh anakku Sehun, kumohon."

Keadaan berbalik, Luhan kini menyuarakan rasa takutnya sementara Sehun menenangkan ibu dari anak-anaknya. Jujur dia bahagia akan berita kehamilan Luhan, sangat bahagia. Tapi disisi lain dia harus merelakan bayinya kali ini mengingat kondisi Luhan adalah hal terpenting untuknya saat ini.

Sehun terus menciumi kepala Luhan, memeluknya erat lalu mengucapkan kalimat yang menjatuhkan Luhan hingga ke dasar jurang "Tapi maaf Luhan, kita harus merelakan bayi kita kali ini."

DEG!

Tebakannya Sehun akan memperjuangkan bayi mereka, tidak mengikuti saran lima dokter yang mengatakan Luhan harus menggugurkan kandungannya agar bisa menjalani pengobatan dan semua therapy berbahaya yang bisa membuat bayinya cacat.

Tebakannya, Sehun akan lebih memilih bayi mereka daripada dirinya, mencintai ketiga buah hati mereka tanpa membedakan.

Namun sial, Luhan salah mengira.

Sehun bukanlah ayah yang mencintai buah hatinya, Sehun bukanlah ayah yang rela melakukan apapun untuk bayi mereka, Sehun egois sialan dan akan selalu seperti itu, pikiran bahwa mereka bisa bersama suatu saat nanti tiba-tiba hilang digantikan keinginan yang kuat untuk melindungi buah hati ketiganya, bagaimanapun caranya.

"tidak…..Aku tidak akan membunuh bayiku."

Luhan menjawab tegas, mendorong tubuh Sehun menjauh dibalas tatapan lirih dari Sehun "Tapi kau harus Lu….kita harus."

"TIDAK! JIKA KAU BERNIAT MEMBUNUH BAYIKU LEBIH BAIK KAU BUNUH AKU LEBIH DULU! DEMI TUHAN SEHUN! DIA SUDAH MENENDANG DIDALAM PERUTKU! Jadi katakan—JADI KATAKAN BAGAIMANA MUNGKIN AKU TEGA MEMBUNUH BAYIKU? ANAK KITA!"

Luhan berteriak membabi buta, menyerang Sehun dan terus memukul dada serta wajah ayah dari anak-anaknya. Hatinya sakit menyadari tatapan Sehun tegas tak tergoyah, dia menyadari bahwa tatapan itu adalah tatapan paling mengerikan yang bisa diberikan seseorang untuk membunuh sekalipun.

"Sehun, hey Sehun! Dengarkan aku! Kau bilang akan membesarkan si kembar, jadi rawatlah mereka dengan baik, aku mempercayaimu. Kau mendapatkan dua putra kita dan aku mendapatkan calon bayi kita. Bagaimana? Bukankah itu cukup adil? Aku akan pergi bersama bayiku, ya? Aku akan-….."

"Hentikan Luhan! Cukup!"

"Aku akan baik-baik saja dan kau-…kau akan bahagia dengan dua putra kita. Kau akan-…"

"AKU BILANG CUKUP!"

hksss…

Luhan lemas, dia terisak sangat ketakutan, tangannya terus memegang perutnya sementara Sehun lagi-lagi berjongkok di depannya "Aku tidak mau membunuh bayiku, demi Tuhan ini anak kita!"

"Aku tahu, aku tahu Luhan. Tapi Sehan dan Hanse membutuhkan ibu mereka, kumohon, relakan bayi kita kali ini."

"tidak….."

Sehun tidak menyerah juga, digenggamnya kuat jemari Luhan lalu dia membuat pengakuan "Baiklah, aku yang membutuhkanmu."

Luhan sedikit bereaksi, dia mengangkat wajahnya seolah mencari kebenaran di mata Sehun "Apa yang kau katakan?"

"Luhan, Oh Luhan, Ibu dari anak-anakku, separuh jiwaku. Maaf selalu membuatmu bingung sayang, tapi aku-….Aku Oh Sehun sangat mencintaimu, aku mohon hiduplah denganku dan dua buah hati kita, relakan anak ketiga kita demi kondisimu sayang, ya? kumohon Luhan, kumohon."

Sehun menangis seraya meletakkan dahinya bertumpu di tumit Luhan, berharap Luhan akan mengatakan ya untuk merelakan bayi mereka walau harus jawaban "Tidak…." Yang lagi-lagi dia dengar.

"Aku tidak akan membunuh bayiku." Katanya tegas dibalas diam yang cukup lama dari Sehun. Yang Sehun lakukan hanya bersandar di tumit Luhan seraya menikmati dan mengakui bahwa selamanya, mantan kekasihnya, ibu dari anak-anaknya, memiliki sifat keras kepala tak tersentuh yang membuatnya terkadang kehabisan cara untuk menghadapinya.

"Baiklah…."

Sehun mengangkat wajahnya, menatap sendu dua mata Luhan lalu berujar sangat lirih "Kau bisa memiliki bayi ketiga kita kali ini."

"syukurlah….Gomawo Sehunna. Astaga, aku sangat bahagia—aku…."

Yang tidak Luhan mengerti tatapan Sehun berubah menjadi dingin, detik berikutnya dia bisa melihat Sehun berdiri menjaga jarak namun matanya tegas mengunci dua mata Luhan.

"Hanya tunggu kabar kematianku dan anak-anak. Kami bersumpah akan pergi meninggalkanmu lebih dulu sebelum kau meninggalkan kami!" katanya terpaksa keji lalu berjalan meninggalkan Luhan. Memberikan waktu agar Luhan bisa berfikir jernih walau nyatanya dia terus bertindak emosi hingga seluruh kepalanya sakit dan terasa akan pecah karena ancaman Sehun

"OH SEHUUUUN!"

Sehun berhenti melangkah, dia juga bisa mendengar langkah kaki Luhan mendekat dan tak lama

PLAK!

Tamparan Luhan mutlak mengenai wajah Sehun, tatapan marahnya bahkan sangat terlihat lal kembali berteriak "JAGA BICARAMU OH SEHUN! TEGA SEKALI KAU MENGATAKAN HAL MENGERIKAN ITU PADAKU! SIAPA KAU DENGAN TEGANYA MENINGGALKAN AKU! AKU MEMBENCIMU—aku membencimu….AAARHHG!"

Sehun kembali menarik lengan Luhan, membawa tubuh gemetar Luhan ke pelukannya. Dia tidak menyangka ucapan kejinya bisa memberi efek seburuk ini pada Luhan, wajahnya pucat dan seluruh tubuhnya dingin karena terlalu marah.

"Luhan maafkan aku, astaga—kenapa tubuhmu dingin sekali, Luhan apa kau baik-…."

"Sehun…"

"Ya, ya ada apa Lu?"

Luhan enggan melihat mata Sehun, yang dia inginkan hanya bersandar di pelukan paling nyaman yang pernah dia rasakan seumur hidup. Yang dia inginkan hanya bersandar di pelukan Sehun selama mungkin yang dia bisa sementara hatinya menjerit sakit lalu mengatakan ketakutan terbesarnya.

"Aku sudah melakukan banyak operasi dalam hidupku, ini aka menjadi operasi kelima yang aku jalani jika kau terus memaksa. Tapi apa kau tahu yang dikatakan dokter?"

Sehun tidak tega menjawab pertanyaan Luhan dan hanya memeluknya tubuh mungil Luhan yang terasa semakin dingin "Mereka bilang kemungkinan aku membuka mata sangat kecil di operasiku kali ini. Sebelumnya aku tidak pernah peduli pada hidupku, tapi kali ini berbeda Sehunna, walau kau membenciku aku masih bisa merasakan cinta darimu, aku memiliki anak-anak dan aku tidak ingin mati secepat itu. aku takut."

"ssshhh….Luhan, kau akan baik-baik saja. Aku janji kau akan-…." Sehun menghapus air matanya, menciumi tengkuk Luhan seraya menikmati hasil dari semua kejahatan yang telah dilakukannya pada Luhan selama lima tahun "Kau akan baik-baik saja."

Luhan membalas pelukan Sehun, memeluknya erat lalu tersenyum membenarkan "Aku tahu. Tapi apa kau tahu hal yang membuatku sangat takut?"

Dengan berat hati Sehun mencoba merespon Luhan dengan mengatakan "Kau takut tidak bisa melihat anak-anak tumbuh besar."

"Kau salah."

"huh?"

Kini Luhan yang melepas pelukan Sehun, menatap wajah tampan yang sudah begitu dia cintai lalu mengusapnya lembut, dia mengusap perlahan dua mata Sehun, turun ke hidung dan terakhir berlama-lama mengusap bibir Sehun untuk mengatakan

"Bukan anak-anak yang membuatku takut, tapi kau."

"Luhan…"

Luhan kembali menangis, dia tertunduk cukup lama lalu berjinjit mengecup bibir Sehun " Aku takut tidak bisa melihatmu lagi jika tidak berhasil membuka mata kali ini, aku takut—AKU TAKUT MERINDUKANMU SEHUN! aku takut-…..Sehunna, aku takut tidak membuka mataku, aku masih ingin melihatmu lebih lama, sungguh."

Luhan lemas, tiba-tiba wajah Sehun samar terlihat, hal terakhir yang dia tangkap adalah tatapan lembut Sehun sebelum warna hitam mengusai pandangannya, perlahan titik hitam itu berkumpul menjadi satu dan teriakan Sehun adalah hal terakhir yang di dengar sebelum jatuh tak sadarkan diri

"LUHAAAAAN!"

.

.

.


.

.

tobecontinued..

.


.

.

.

Kalo gasalah dulu Last hope juga bgini ya mau deket2 end nya? Kkk~ #cumananya :v

.

Gue ini tipikal yang suka ngerubah end di menit terakhir, gue udah punya END buat AFB, semoga tetep sesuai jalur, fyi, ini rate ending aman kok, doain biar guenya ga tengil yak :""

.

Terakhir, jangan baper sama wordsnya, udah gue ingetin ga ada pilih kasih di JTV-AFB.

.

Dua-duanya gue cinta, tapi karena satu dan lain hal dan sesuai kebutuhan juga, belakangan ini AFB selalu lebih banyak wordsnya.

.

Lagi jujur, nulis JTV tuh beda sama yang lain, gue kudu pelan-pelan jabarin apa yang mau gue sampein sama kalian, gimana cintanya Sehun sama Luhan, gimana obsesinya Doojoon, gimana kompleksnya itu masa lalu dan lain-lainya.

.

Jadi daripada terkesan maksa gue lebih hati-hati aja.

.

Udahlah ya, sama2 ngertiin yaa :*

.

See you di JTV

.

Much love :***

.

maap ngalong, udah biasa yekaan :*