Previous

"Bukan anak-anak yang membuatku takut, tapi kau."

"Luhan…"

Luhan kembali menangis, dia tertunduk cukup lama lalu berjinjit mengecup bibir Sehun " Aku takut tidak bisa melihatmu lagi jika tidak berhasil membuka mata kali ini, aku takut—AKU TAKUT MERINDUKANMU SEHUN! aku takut-…..Sehunna, aku takut tidak membuka mataku, aku masih ingin melihatmu lebih lama, sungguh."

.

.

.

.

.

.

A' Friends Betrayal

Main Cast : Sehun-LuhanfeatChanBaek & KaiSoo

.

.

.

.

.

Last chap

.

.

.

.

"Manager Xi?"

Yang dipanggil sedang terlihat sibuk mencari dokumen penting setelah tiga hari absen dan tidak menyelesaikan pekerjaannya di agensi tempat dirinya dan ayah dari anak-anaknya bekerja.

Ya, selama tiga hari itu pula dengan alasan kesehatannya yang begitu lemah, Sehun berhasil membuat Luhan kembali tinggal di kediaman orang tuanya. Terlepas dari bagaimana cara Sehun mencari alasan dan membujuknya untuk tetap melakukan operasi, Luhan tetap tinggal disana karena Sehun menggunakan putra mereka sebagai alasan.

Terlebih saat dia mengatakan Sehan dan Hanse akan terpukul melihat ibu mereka sakit. Jadilah Luhan terpaksa tinggal dengan ayah dari si kembar dan meladeni pria yang terkadang bersikap seperti membutuhkannya walau nyatanya Sehun tidak pernah benar-benar membutuhkan dirinya.

"Ada apa?" tanyanya, dibalas senyum asisten dari Sehun yang terlihat kikuk memberitahu "Presdir Oh memanggilmu."

"Lagi?"

Si wanita cantik yang hari ini menggunakan pakaian bernuansa gold hanya mengangguk pasrah untuk mengatakan pada Luhan "Lagi."

"Kalau begitu katakan padanya aku sudah minum obat dan vitaminku."

Luhan jengah, ini hari pertamanya bekerja setelah tiga hari absen, namun lucunya terhitung sudah enam kali Sehun terus memanggilnya untuk terus bertanya apa kau baik-baik saja? atau apa kau merasa sakit?, bagaimana dengan obatmu? Selalu seperti itu hingga akhirnya Luhan memohon pada si asisten untuk memberitahu Sehun bahwa dia baik-baik saja.

"Tapi aku rasa kali ini berbeda."

"Apa yang berbeda?"

"Presdir tidak sendiri di ruangannya. Dia bersama beberapa artis, pekerjaan mungkin."

Luhan mengambil banyak nafasnya, beberapa kertas dia tumpuk rapi di meja lalu menatap pasrah si asisten "Baiklah, aku akan kesana."

"Terimakasih Manager Xi! Segeralah datang temui Presdir!"

Rasanya wajar jika asisten Sehun memekik senang, karena jika Luhan sampai menolak untuk menemui Sehun maka wanita seusia Luhan itu yang akan jadi target kemarahan sang presdir.

Sebenarnya Luhan enggan bertemu, tapi dia juga tidak sampai hati membiarkan asisten Sehun dimarahi dan diteriaki hanya karena dia tidak datang ke ruangan, dia seperti mengalah walau rasanya enggan karena setiap kali mereka bertemu, Sehun terus mendesaknya untuk melakukan operasi dan dia membencinya. Demi Tuhan dia baik-baik saja, bahkan terlalu baik untuk dikatakan sakit.

"rrhh!"

Baru saja Luhan dikhianati rasa percaya dirinya. Karena saat dia mengatakan terlalu baik untuk dikatakan sakit, maka perutnya kram lagi. Ini kram kesepuluhnya pagi ini, biasanya Luhan selalu berdamai dengan calon bayi ketiganya, tapi sepertinya si bayi sedang tidak berada pada mood yang baik karena bayi ketiganya terus menendang kuat tanpa jeda hingga kram benar-benar dia rasakan.

"Baiklah, relax." Dia menghela banyak nafas, berulang kali, tiga nafas panjang, tiga nafas pendek, sementara tangannya mengusap perut memutar, dia ingin berkomunikasi dengan si bayi, tapi menyadari terlalu banyak mata yang akan bertanya padanya Luhan mengurungkan niat dan hanya berjalan perlahan menuju ruangan Sehun.

"Sebaiknya ayahmu benar-benar memanggil untuk hal yang penting nak." Katanya sarkas namun tetap tersenyum menyadari bahwa sebanyak apapun Sehun bertingkah menyebalkan, Luhan tidak akan pernah bisa membencinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Klik…

.

Setelah mendapat izin memasuki ruangan, Luhan membuka pintu, bertanya-tanya apalagi yang ingin dibicarakan Sehun sampai dua mata cantiknya tak berkedip menyadari bahwa kini tak hanya Sehun yang berada di ruangannya.

Dia benar-benar bersama beberapa para artist, namun lucunya semua artis yang sedang berkumpul memiliki hubungan terlalu dekat dengan Luhan, sangat dekat.

"Masuklah Lu."

Dulu si pemilik suara bariton adalah mantan kekasihnya, tapi karena banyak alasan pria dengan warna kulit tan yang tengah menatapnya kini menjadi ayah dari keponakan sekaligus suami dari adik tirinya. Lucu memang, tapi itu yang terjadi dan Luhan sudah mulai berdamai dengan masa lalunya.

"hyung / masuklah Luhan!"

Kini dua suara berbeda disuarakan oleh kedua adiknya yang kebetulan merupakan artis dari agensi OSH'ent. Satunya merupakan istri dari seorang Kai EXO, sementara yang lain adalah remaja yang baru saja mewujudkan cita-citanya menjadi seorang Idol setelah resmi bergabung dengan grup NCT sekitar tiga tahun yang lalu.

"Jae? Kau sudah pulang?"

Jaehyun menarik lengan Luhan, menutup pintu ruangan sang presdir lalu memeluk erat kakaknya "Aku sudah pulang dan aku merindukanmu."

Luhan terkekeh, dia membalas pelukan Jaehyun sementara matanya terus melihat ke seluruh ruangan Sehun lalu menyadari bahwa ketiga artis yang sedang berkumpul di ruangannya adalah benar tiga orang terdekat di hidupnya.

"Perasaanku saja atau memang ini seperti pertemuan keluarga?" tanyanya asal, namun yang mengejutkan Jaehyun terlihat salah tingkah lalu tiba-tiba Sehun dengan suara berat khas miliknya mengatakan "Mereka keluargamu, jadi ini pertemuan keluarga."

Tepat seperti tebakannya, Luhan merasa seperti orang bodoh yang sedang dikasihani, dia juga sudah menebak kemana arah pembicaraan mereka setelah ini menyadari tatapan Sehun dan seluruh keluarganya seperti memohon setiap kali mata mereka bertemu.

"Jangan katakan kau mengumpulkan mereka hanya untuk mendesakku?"

"Kami tidak mendesak Lu, kami memaksa."

"ayolah! Aku baik-baik saja."

"Apa? Kapan kau baik-baik saja? Wajahmu bahkan terlihat pucat."

Luhan kesal, dia sengaja membuang wajah sementara Sehun berjalan mendekatinya. Jadilah Jaehyun mundur ke arah samping sementara tangan Sehun sedang mengangkat dagu ibu dari kedua, tidak, ketiga anaknya, memaksa Luhan untuk menatap lalu berujar sedikit memaksa "Jadwal operasimu sudah ditentukan, kita akan melakukan operasi sebelum natal dan akan kembali-…."

"CUKUP! Oke? CUKUP SUDAH! Jangan bertingkah seolah kau peduli padaku! Omong-omong, Kemana Oh Sehun yang begitu membenciku? Aku muak melihatmu bertingkah peduli padaku dan aku-…."

"Kumohon."

Sehun menyerangnya lagi saat ini, menggunakan tatapan memohon seperti mata memelas kedua putra mereka lengkap dengan suara yang terdengar sangat putus asa. Luhan merasa lemah setiap kali Sehun menatapnya seperti ini, dan untuk menghindarinya dia segera membuang muka berharap Sehun benar-benar kembali menjadi Sehunnya yang dulu, yang tidak mempedulikan dirinya.

"Kau tahu jawabanku!" katanya mempertahankan diri dibalas tatapan sendu ayah dari ketiga anaknya "Dan aku tahu harus melakukan ini!" Sehun membalas setengah menyesal namun ada nada menantang di dalam suaranya.

"Melakukan apa?"

"Keluargamu, mereka yang akan membujukmu, bukan aku."

"Kau!..."

"Luhan…."

Kai bersuara lagi, membuat perhatian Luhan teralihkan untuk menatap bertanya pada ayah dari keponakannya "Ada apa?"

"Saat kita bersama apa kau juga menyembunyikan hal ini dariku?"

Secara tidak langsung Kai sedang mengungkit masa lalu mereka, kenyataan bahwa mereka pernah bersama dan Luhan tidak pernah mengatakan tentang kondisinya membuat raut wajah kecewa terlihat di wajah pria yang dulu mengisi hatinya.

Namun bukan hal itu yang membuat Luhan cemas, tepat di depannya saat ini Sehun terlihat sangat tegang, wajahnya menampilkan raut tak suka setiap kali Kai selalu berbicara tentang jenis hubungan yang dimiliki mereka di masa lalu.

"Kau selalu menampilkan wajah terbaikmu saat kita bertemu. Lalu Presdir Oh mengatakan bahwa ini adalah siklus lima tahun yang selalu terjadi pada dirimu. Jika seseorang mengatakan siklus, bukankah itu artinya lima tahun yang lalu kau juga mengalami hal yang sama? Saat bersamaku?"

"Kai sudahlah…"

"Kai benar Lu!" kini Kyungsoo yang berbicara, sorot mata Kyungsoo sama sekali tak menunjukkan bahwa dia merasa terganggu saat suaminya mengungkit jenis hubungan yang pernah dimiliki Kai dan Luhan. Sebaliknya, daripada merasa terganggu Kyungsoo justru terlihat sangat menyesal dengan seluruh hal yang pernah dilakukannya pada Luhan "Saat aku menyakitimu apa kau sedang berjuang untuk hidupmu?"

"Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian? Kenapa sikap kalian berubah mengasihaniku? Ayolah, aku baik-baik saja. Aku sudah terlalu sering melewati masa sulitku seorang diri, jadi jangan pedulikan aku karena aku akan selalu baik-baik saja."

"hyung…."

"Jaehyun jangan memulainya juga, aku tidak tahan."

"Kumohon."

"Jae aku bilang-…."

"Demi eomma…"

DEG!

Sosok wanita itu, sosok yang melahirkannya, sosok yang pada awalnya begitu Luhan benci karena terus berlaku tak adil padanya tiba-tiba dia rindukan. Harusnya dia tidak terpengaruh, tapi Luhan tetaplah seorang anak yang memiliki banyak penyesalan dalam hidupnya, jadi ketika Jaehyun mengatakan demi eomma membuat Luhan sesak hingga akhirnya dia memilih untuk di salah satu sofa yang tersedia di ruangan super megah milik Presdir Oh.

"Kenapa kalian bersikap seperti ini padaku? Ini sangat tidak adil untukku." Lirihnya, dibalas raut menyesal oleh empat orang yang sangat berarti di hidup Luhan "Aku sudah bilang aku baik-baik saja dan akan bertahan."

"Aku tahu Lu."

Suara berat Sehun membalas racauan Luhan, dia juga sengaja berjongkok di depan Luhan tanpa menghiraukan bahwa saat ini, ketiga artisnya sedang menatap seolah tak percaya bisa melihat sisi lain dari dirinya yang sedang merendahkan diri serendah-rendahnya hanya untuk membujuk salah satu orang yang dikabarkan begitu dia benci di Agensi ini.

"Lalu kenapa? Aku akan bertahan."

"Dulu mungkin kau akan bertahan, bersedia menjalani segala terapi dan pengobatan, tapi kali ini berbeda kau akan merasa berat menyiksa dirimu dengan pengobatan karena ada calon bayi kita didalam perutmu. Aku benar?"

"Bayi? / Apa yang dikatakan Presdir Oh?"

"Jadi ini alasan…."

Sementara Jaehyun dan Kyungsoo merasa begitu terkejut dengan ucapan Sehun, maka Kai adalah satu-satunya yang menyadari bahwa ternyata inilah alasan mengapa sang presdir yang begitu dingin tiba-tiba datang keruang latihan mereka hanya untuk memohon dan meminta ketiga dari mereka membujuk Luhan.

Luhan sedang mengandung bayinya, lagi.

Namun yang membuatnya miris adalah kenyataan bahwa sang Presdir tetap bertahan dengan keegoisannya sementara Luhan tetap bertahan dengan rasa bersalahnya dan membiarkan Sehun melakukan apapun termasuk membuatnya hamil kedua kali tanpa hubungan mereka yang mengikat dengan pasti.

Sebagai mantan kekasihnya jelas ini membuat Kai sedikit jengah, terlebih saat Luhan membenarkan "Ya," bahwa dia keberatan melakukan serangkaian pengobatan hanya karena ada calon bayinya yang sedang tumbuh di dalam sana.

Ingin rasanya Kai berteriak marah, memaki keduanya dan kebodohan mereka sampai kemudian Sehun menunjukkan sikapnya sebagai seorang ayah juga sebagai pria untuk Luhan.

"Percayalah padaku, kau dan bayi kita akan baik-baik saja."

Luhan tertarik, segera dia mengangkat wajah untuk menatap kedua mata Sehun, mencari-cari kebohongan didalam sana walau hanya kesungguhan yang dia terima dari mata pria yang akan menjadi ayah dari ketiga orang anaknya.

"Apa kau sedang berbohong padaku?"

"Apa aku terlihat memaksamu lagi?"

Luhan menggeleng lemah lalu menyuarakan jawabannya "Tidak, matamu tidak seperti hari itu saat di rumah sakit."

"Kau benar, aku tidak akan menyerah atas anakku juga. Pikirmu aku tega memintamu merelakan adik dari si kembar? Aku tidak sejahat itu Luhan!"

Luhan terkesiap, dia melihat lagi mata Sehun yang berkobar setiap kali membicarakan buah hati mereka, jadi rasanya Luhan tidak memiliki alasan untuk tidak mempercayai Sehun terlebih jika itu menyangkut janjinya mengenai bagaimana dia dan ketiga anak mereka kelak di mas depan.

"Katakan aku percaya padamu, tapi bagaimana jika aku tidak membuka mata lagi? Bagaimana jika aku tidak bisa melihat anak-anak lagi? Melihatmu? Bagaimana-…."

Satu tarikan cepat Sehun menarik Luhan ke pelukannya, sedikit terkejut menyadari degup jantung Luhan benar-benar cepat ditambah suhu tubuhnya yang begitu dingin. Entah apa yang dipikirkan Luhan, tapi rasanya sangat berlebihan jika Luhan memikirkan bahwa dia tidak akan membuka mata sementara dirinya dan kedua putranya masih membutuhkan sosok Luhan di hidup mereka

"Kenapa isi kepalamu selalu berfikiran sempit? Kenapa kau selalu mengira aku dan anak-anak akan meninggalkanmu sementara nyatanya kau yang terus berkata hal-hal mengerikan."

"Sehun…."

"Tidak peduli apapun kau akan baik-baik saja. Hanya percaya padaku, kali ini saja."

Dan ketika dua mata mereka bertemu lagi, Luhan terhipnotis. Seluruh kepercayaan dan harapan tersisa di dirinya dia berikan pada Sehun seluruhnya, berharap entah bagaimana akhirnya dia berjuang melawan penyakitnya kali ini, dia hanya akan mempercayai Sehun dan berterimakasih pada ayah dari ketiga anaknya terlepas baik atau buruk hasil yang akan dia dapatkan.

"Lakukanlah lagi kali ini, aku menemanimu." Katanya menggenggam jemari Luhan yang terasa begitu dingin, bermaksud memberi rasa hangat namun nyatanya dia sangat gugup sampai tak terasa tangannya juga berkeringat terlalu berharap pada Luhan "Kumohon…"

"Tapi kenapa harus di Tokyo? Kenapa bukan dokter Park yang menanganiku?"

Sehun bergerak cepat menciumi jemari Luhan, berharap Luhan mengerti walau kemungkinannya kecil mengingat lagi-lagi Luhan merasa semua yang dilakukan Sehun semata hanya karena keinginannya sendiri.

"Aku sudah membicarakan semuanya dengan dokter Park dan dokter yang menangani ayah di Tokyo. Keduanya sepakat bahwa setidaknya Tokyo memiliki peralatan yang jauh lebih lengkap dengan tenaga medis berpengalaman melebihi Seoul. Itulah mengapa aku berniat membawamu kesana."

"Bukankah sama saja?"

"Tentu berbeda, dan alasan utama mengapa aku membawamu kesana adalah karena dokter Park tidak bisa menjamin keselamatan bayi kita sementara dokter Fujihara yang sudah mempelajari kasusmu mengatakan dia bisa melakukan operasi pengangkatan benjolan di kepalamu tanpa menganggu dan membahayakan bayi yang ada di kandunganmu."

"Benarkah?"

"Aku tidak akan mengatakan semua ini jika hanya sebuah kebohongan."

Lagi-lagi Luhan menemukan kesungguhan dari cara Sehun menjelaskan, membuatnya terlihat sangat bingung namun tak bisa menyangkal jika dia sangat bahagia membayangkan tak perlu merasakan rasa sakit lagi.

Buru-buru dia mengangguk, memberi persetujuan tapi kemudian dia kembali ragu mengingat kedua buah hatinya akan ditinggalkan sendiri tanpa sosok ayah dan ibunya "Bagaimana dengan anak-anak?"

"Well, terimakasih padamu karena memiliki banyak saudara yang bisa kita andalkan."

"Apa maksudnya?"

"Si kembar akan baik-baik saja denganku. Lagipula aku tidak memiliki adwal hingga akhir tahun, jadi rasanya akan sangat menyenangkan bermain dengan Taeoh dan dua adik sepupunya." Saat Kyungsoo menimpali barulah Luhan mengerti maksud terimakasih Sehun ditujukan untuk kedua adik tirinya, Luhan segera menatap Kyungsoo, tersenyum kecil seraya memanggil nama pria yang memiliki ibu berbeda dengannya "Soo…"

"Mereka akan baik-baik saja denganku, lagipula Jaehyun dan Kai akan ada disana membantuku, benar?"

"Tentu saja / tidak perlu khawatir Lu." Kai dan Jaehyun menimpali bersamaan, membuat Sehun tersenyum lega sementara lagi-lagi Luhan menitikkan air mata harunya sebagai ucapan terimakasih "Gomawo." Lirihnya singkat, menghapus segera air matanya lalu kembali menatap Sehun yang masih setia berjongkok di depannya "Kau menang, kita akan berangkat ke Tokyo."

Sehun tertunduk lega, tangannya yang dingin perlahan berubah menjadi hangat karena terlalu lega, dia pun tanpa sadar mengecupi dua tangan Luhan sebagai rasa terimakasih karena akhirnya Luhan mengalah dan setuju menjalani pengobatan "Aku janji kau akan baik-baik saja."

"Jikalaupun sesuatu terjadi disana, pada operasiku, pastikan kau membesarkan Sehan dan Hanse tanpa harus membuat mereka kehilangan sosok ibunya."

"Luhan berhenti berpikir mengerikan, ini bukan operasimu yang pertama, kau akan baik-baik saja."

Luhan mengangguk pilu, air matanya terus meniti nyaris tak berhenti saat mengingat bagaimana sakitnya semua hal yang harus dia lalui dan rasakan setiap lima tahun, terlebih ucapan Dokter Park yang terus terngiang di benaknya

Kondisimu tidak sekuat lima tahun yang lalu atau lima tahun sebelumnya, kau sudah pernah mengalami operasi saat melahirkan dan intensitas rasa sakitmu berkali-kali lebih kuat, setidaknya operasi kali ini harus kita lakukan sampai pencabutan akar dari benjolan yang tak pernah-pernah bersih dari bagian cerebrum otakmu Luhan, selagi kondisimu sehat sebaiknya kita lakukan dengan cepat.

Bagaimana resikonya? Apa kemungkinannya besar operasi akan berjalan lancar?

..

Dokter Park?

Luhan, jangan tanyakan kemungkinan keberhasilan operasimu, selagi kau berjuang dan berdoa, maka semua akan baik-baik saja seperti lima tahun lalu dan lima tahun sebelumnya, kau termasuk kuat dengan seluruh terapi yang diberikan, jadi percaya pada dirimu dan kau akan baik-baik saja.

Kemungkinannya? Aku tanya bagaimana kemungkinannya? Bagaimana jika aku tidak bisa lagi membuka mata? Aku memiliki dua putra dan setidaknya mereka harus tahu apa yang akan terjadi pada ibunya

..

DOKTER PARK!

Luhan terisak kencang, setiap kali percakapannya terulang maka sebanyak itu pula dia merasa takut, terlebih saat dokter yang sudah menanganinya selama sepuluh tahun mengatakan

Keberhasilan dan kegagalannya, aku minta maaf, tapi kali ini sama besar Luhan, berjuanglah.

Disitulah tangis Luhan pecah, semua yang berada di ruangan tidak mengerti apa yang membuat Luhan terlihat sangat ketakutan, terlebih Sehun, saat dia memeluk lagi pria yang keberadaannya masih sangat dia butuhkan, maka percayalah ketakutan Luhan tidak pernah sebesar miliknya jika itu menyangkut rasa sakit dan kehilangan "Ada apa?"

"Sehun, pastikan aku membuka mataku disana, pastikan aku bisa melihat anak-anak lagi, keluargaku, melihatmu, pastikan aku membuka mataku Sehun, aku tidak pernah setakut ini sebelumnya, tapi kali ini berbeda, entahlah, aku merasa sangat takut. Berjanjilah padaku Sehun, pastikan aku membuka mataku lagi, kumohon."

Yang tidak Luhan ketahui adalah kenyataan bahwa saat ini Sehun sedang berjuang menahan isakannya sendiri, ya, Luhan tidak bisa melihatnya karena dia sangat ketakutan, berbeda dengan ketiga keluarganya yang bisa melihat dengan jelas bagaimana raut terluka Sehun saat ini.

Tangan kirinya terus mengusap punggung Luhan sementara tangannya yang lain mengusap cepat air mata dari wajahnya, sesekali Sehun terlihat menggigit kuat bibirnya, mencegah satu isakan kecil sekalipun agar tidak terdengar sampai akhirnya dia mengangguk, menyetujui untuk memastikan Luhan membuka mata seraya menjawab dengan nada serak dari bibirnya "Aku sendiri yang akan memastikan kau membuka mata, tidak, kau memang harus membuka matamu Luhan, aku tidak akan bisa menjaga anak-anak tanpamu, tidak akan pernah bisa."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bandara, 13.00 KST

.

"Jadi selama Papa dan Mama pergi kalian akan bersama Jae dan Kai Samchoon. Papa, Kakek dan Kakek Lee akan menemani Mama untuk memeriksa adik kalian di Jepang. Jangan menangis dan hanya ikuti apa yang dikatakan Kyungie serta Samchoon kalian, mengerti?"

Terlihat seorang pria tampan tengah berjongkok dan memberi pesan sepanjang rel kereta untuk kedua buah hatinya. Tampilannya casual hanya menggunakan kaos hitam dipadu mantel tebal, begitupula dengan kedua buah hatinya yang masing-masing sedang meronta marah di pelukan Jaehyun dan Kai saat mengetahui tentang kepergian ayah dan ibunya ke Jepang.

"Mamaa..."

Yang dipanggil tentu tak sampai hati berpisah jauh dengan kedua buah hatinya. Karena selama lima tahun statusnya berubah menjadi seorang ibu maka ini adalah kali pertama Luhan harus meninggalkan Sehan dan Hanse untuk waktu yang dia sendiri belum ketahui.

"Sehan, berhenti menangis! Mama dan Papa akan segera pulang." Ayahnya terlalu tegas memperingatkan, jadilah si bungsu menangis hebat di pelukan Jaehyun hingga masker yang digunakan salah satu visual NCT itu harus beberapa kali lepas jika tangannya yang lain tidak sigap menyembunyikan wajahnya.

"Ayolah Presdir Oh! Jangan membentak keponakanku seperti itu!" Ujarnya kesal seraya merapikan masker wajah yang ditarik kesal oleh Sehan.

"Hanseyaa jebal...Jangan mencakar wajah paman."

Hal serupa juga dialami Kai yang masker wajahnya ditarik kuat oleh si sulung. Dan tak berbeda dari Jaehyun, Lead dancer EXO itu menatap jengah pada Presdir sekaligus ayah dari si kembar yang sedang menyuarakan protes dan rasa tak sukanya.

"MAMA!"

Sontak Luhan bereaksi ketika Hanse memekik kencang, buru-buru dia melangkah, melewati Sehun untuk mengambil Hanse dari pelukan Kai dan memeluknya begitu erat.

"Ssshh...Mama disini nak, jangan berteriak lagi ya?"

"Hksss...jangan pelgi ma."

"Siapa yang pergi? Mama masih menggendong Hanse kan?" Katanya membujuk dibalas pelukan super erat dari Hanse yang tidak berniat melepaskan Luhan.

"Anak mama sayang."

Dan seolah menjadi kewajiban seorang ibu untuk menenangkan buah hatinya maka Luhan sedang melakukannya, dia menciumi sayang tengkuk Hanse seraya menggerakan tubuhnya ke kiri dan ke kanan seolah meninakbobokan putra sulungnya.

"Jangan pelgi maa..."

Hanse masih terisak sedih, begitupula dengan Sehan yang meronta minta di turunkan dari pelukan Jaehyun lalu memeluk kaki Luhan dengan erat.

Jadilah Luhan terlihat ragu hingga Sehun refleks mendekati kedua buah hatinya namun diberi tatapan tajam oleh Luhan yang mengatakan "Biar aku saja!" dengan tegas membuat ayah si kembar hanya bisa terkekeh seraya berdoa agar pesawat mereka setidaknya mau berbaik hati menunggu.

"Baiklah….Tapi jangan terlalu lama."

Mengabaikan peringatan Sehun, Luhan fokus mencari cara untuk membujuk si kembar untuk mengatakan "Hey sayang, bagaimana jika kita main perang salju setelah Mama dan Papa pulang nanti!"

"Huh? Pelang salju?"

Dan ya, Tepat seperti dugaan Luhan, Hanse bereaksi begitupula dengan Sehan. Keduanya menatap berbinar seolah mengingat Luhan adalah sosok ibu yang terlalu tegas yang tidak pernah mengijinkan dua putranya bermain perang salju disaat suhu mencapai minus terendahnya.

"Iya! Perang salju!" Katanya menurunkan Hanse lalu membenarkan masing-masing syal si kembar dan mencium sayang bibir keduanya "Bagaimana?" Tawarnya dibalas pertanyaan polos dari Sehan "Boleh? Pelang salju dengan Mama?"

Luhan menyadari betapa mengerikan sikapnya setiap tahun di malam natal atau saat salju mulai turun, karena tidak seperti anak-anak lain yang bebas di biarkan bermain saat cuaca dingin, maka si kembar dengan seluruh alergi mereka dengan cuaca dingin membuat Luhan harus bersikap tegas dan menjadi musuh kedua anaknya di setiap musim dingin terlebih malam natal.

"Tentu saja." Ujarnya berat hati memberikan pengecualian untuk tahun ini "Tapi kalian tidak boleh terlalu lama berada di cuaca dingin, hanya dua lemparan bola salju dan kita kembali masuk ke dalam rumah. Oke?"

"Tiga ya?" Hanse membujuk lalu Sehan ikut menaikkan tiga jarinya "Tiga ma..."

Dan rasanya bohong jika Luhan tidak terbujuk rayuan mematikan si kembar. Karena seperti ayahnya ketika membujuknya melakukan operasi, mata si kembar berkali-kali lebih menggemaskan jika itu sudah menyangkut permainan. Katakan Luhan tidak memiliki pilihan lain selain ikut mengangkat ketiga jarinya "Deal! Tiga lemparan bola salju!"

"YEY! SAMA PAPA JUGA YA?"

"Ya tentu saja, Papa akan memberikan bola salju paling besar untuk kalian."

"YEYYYYY! AKHILNYA MAIN SALJU! YEY!"

Entahlah dimana dua putranya yang merengek tidak mau ditinggalkan beberapa menit lalu, Luhan tidak melihatnya lagi, kemudian si kembar hanya terus berteriak salju hingga membuat ibunya merasa begitu cemburu karena daripada dirinya, salju lebih penting untuk si kembar.

Jadilah air matanya menetes, bukan karena iri atau cemburu pada salju, tapi tawa Sehan dan Hanse, pekikan kemenangan mereka atas izin bermain salju, Luhan takut tidak bisa melihatnya lagi jika dia pergi. Diam-diam Luhan tertunduk lalu isakannya lolos begitu saja "Hkss..."

Beruntung Sehun melihatnya dan dalam satu gerakan cepat dia bergegas mengulurkan tangan pada Luhan, segera memeluknya erat mengingat mata Hanse sudah melihat bulir air mata jatuh dari mata ibunya.

"Mama menangis?"

Yang ditanya sedang bersembunyi di pelukan Sehun, menolak untuk bertatapan langsung dengan kedua putranya mengingat gejolak dihatinya sedang begitu kacau dipenuhi rasa takut.

"Tidak nak, mama kalian tidak menangis. Jadi kita sudah membuat kesepakatan bahwa kalian tidak akan menangis dan selalu mendengarkan Jaehyun dan Kai Samchoon serta Kyungie selama mama papa pergi?"

"Pelang salju?" Sehan mengingatkan dibalas kekehan dari kedua orang tuanya "Setelah mama papa pulang kita bermain perang salju."

"Deal!"

Si bungsu memberi persetujuan lebih dulu, Sehun bisa merasakan hela nafas Luhan yang begitu lega walau dirinya masih enggan berpamitan dengan si kembar "Hyung bagaimana?" Sehun bertanya dibalas anggukan tak yakin dari Hanse. Jujur mata si sulung masih menatap cemas pada mamanya, namun saat sang papa meyakinkan maka seperti tidak memiliki pilihan lain Hanse mengangguk dan menjawab "Oke."

"Jagoan papa yang terbaik."

Sehun sedikit membungkuk, mencium masing-masing surai Sehan dan Hanse dengan Luhan yang masih berada di pelukannya "Papa pergi ya nak?" Katanya meminta izin pada kedua putranya. Dan sebagai jawaban agar tidak menangis, masing-masing dari si kembar berjalan ke pelukan Jaehyun dan Kai, merentangkan tangan dibalas kekehan gemas oleh kedua artis paling berpengaruh di OSH'ent

"Aigoo, hyung jangan menangis!"

Kai menunduk, mengambil yang paling tua sementara hal sama dilakukan Jaehyun yang kini menggendong Sehan di pelukannya "Samchoon..." lirihnya dibalas tepukan lembut di punggung si kecil "Tidak apa sayang, Mama hanya pergi sebentar."

Dan tak berbeda dari rengekan si kembar, Luhan juga masih enggan berpamitan, wajahnya masih tersembunyi di pelukan Sehun, terisak pelan sampai akhirnya suara berat Sehun kembali membujuknya "Lu sudah waktunya, kau mau berpamitan? Atau kita langsung masuk kedalam?"

"..."

"Luhan, anak-anak menunggu."

Barulah Luhan mengerti, dia mencoba tenang dan tak berulah, dihapusnya cepat air mata yang mengganggu lalu bertanya pada Sehun "Sudah terlihat lebih baik?" Tanyanya.

Sehun tersenyum kecil, tangannya ikut mengusap sisa air mata di wajah Luhan lalu mengerling ibu dari ketiga anaknya "Sempurna."

"Oke." Katanya berterimakasih seraya mengambil banyak nafasnya "haah~, sekarang mama pergi dulu. Baik-baik dengan paman dan ikuti apa yang Kyungie katakan ya sayang?"

Luhan menghampiri si bungsu lebih dulu, membujuk Sehan yang memeluk erat Jaehyun lalu menggunakan kartunya untuk membujuk "Main salju? Tiga lemparan bagaimana?"

Dan benar saja Sehan menoleh, antara rela dan tidak dia kembali memastikan "Dengan Mama?"

"Tentu saja nak, mama pergi ya?"

"Jangan lama."

"Araseo, cium mama"

Sehan memajukan tubuhnya, mencari bibir Luhan dan mengecup singkat bibir mamanya "Bye ma," Luhan tersenyum mengangguk, mengusap surai si bungsu lalu beralih pada Jaehyun "Jaga anak-anakku."

Jaehyun menarik lengan Luhan memeluk erat tubuh kakaknya yang entah mengapa terasa dingin di pelukannya "Cepat pulih, aku menjaga anak-anakmu." Katanya sendu dibalas anggukan kecil dari Luhan "Gomawo Jae-ah."

Setelahnya Luhan berjalan mendekati Hanse, si sulung yang terlalu sensitif sama seperti dirinya, yang selalu menangis jika melihat mamanya menangis dan akan selalu menjerit marah jika papanya sedang membentak sang mama

"Hanseya..."

"Ma..."

Dan tak seperti si bungsu, Hanse segera memajukan tubuhnya di pelukan Kai, meminta Luhan memeluknya dibalas pelukan kuat dari Luhan "Jadi anak baik selama mama pergi hmm? Jaga adikmu, dengarkan paman dan Kyungie ya?"

Hanse mengangguk pasrah lalu menangkup seluruh wajah Luhan, menciumi wajah ibunya lalu berujar sangat memelas "Cepat pulang ma."

Rasanya selama membesarkan Hanse, tidak pernah sekalipun putra sulungnya bersikap dewasa, karena selama masa pertumbuhan Hanse, dirinya dan Sehun cenderung memanjakan si sulung daripada si bungsu. Jadilah Hanse memiliki kepribadian sedikit lebih manja daripada adiknya, dia juga cenderung keras kepala seperti Luhan dan tidak mau mengalah seperti Sehun, tapi kemudian lihatlah si sulung hari ini.

Selain menjadi sedikit lebih tenang, putranya juga terlihat sangat dewasa, dia tidak lagi menangis dan hanya menatap Luhan seperti mendoakan ibunya, hal ini sontak membuat Luhan terharu, air matanya menetes cepat namun dia alihkan dengan memeluk putranya

"Kenapa anak mama sangat pintar." Katanya berujar bangga seraya menghapus cepat air matanya, Luhan kemudian mengecup bibir Hanse lalu beralih pada Kyungsoo dan Kai "Titip jaga anak-anakku."

Kyungsoo mengangguk seraya memeluk Luhan sementara Kai berbisik "Hyung dan Sehan akan senang bermain dengan Taeoh hyung kan?"

Hanse mengangguk, Kyungsoo berbisik "Cepat pulih dan cepat kembali. Kami menunggu." Katanya berpesan, tak lama Luhan merasakan tangan Sehun menarik lembut lengannya lalu mendekapnya lagi "Kami pergi, dah sayang."

Untuk kali terakhir Sehun mencium kedua putranya, membawa Luhan dari jangkauan kedua putranya dan melambai untuk kali terakhir pada seluruh keluarga Luhan "Bye hyung, Bye Sehan."

Dengan kompak si kembar membalas "Bye Pa."

Setelahnya Luhan membiarkan Sehun membawanya pergi, diam-diam kembali terisak sampai tangan Sehun lagi-lagi mendekapnya erat, berbisik lembut dan menghibur Luhan dengan banyak janji "Kita akan segera pulang dan kau akan segera bertemu dengan anak-anak." Janjinya, dan Luhan mengangguk pasrah, yang dia lakukan hanya meminjam dada Sehun, mendekapnya erat, tanpa berniat menoleh dan merespon si kembar yang terus berteriak,

"MAMA CEPAT PULANG!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam hari, Tokyo Hospital…

.

Klik…

Udara dingin yang dirasakan Luhan tidak jauh berbeda dengan udara dingin di Seoul, tepatnya di salah satu rumah sakit terbesar di Tokyo yang dalam waktu tiga jam akan menangani dirinya.

Semua sama, dingin dan dipenuhi salju.

Yang membedakan hanya kenyataan bahwa Luhan tidak menghabiskan malam ini bersama kedua putranya dan sedang menebak apa yang tengah dilakukan si kembar saat ini.

"Luhan."

"hmh?"

"Aku rasa kau harus segera berbaring, mereka akan segera memberimu obat penenang."

"Nanti, sebentar lagi." katanya lirih, membuat sosok pria tampan yang tak kalah pucat dan cemas sedikit bertanya-tanya untuk berjalan mendekati ibu dari ketiga anaknya yang sedang menatap kosong dan berdiri di balkon kamar rumah sakit.

"Ada apa?"

Merasa sedikit lebih hangat, Luhan menyadari bahwa saat ini Sehun sedang memakaikan mantel tebal padanya, dia pun tersenyum untuk mengatakan "Gomawo." Lalu kembali fokus pada hal yang sedang membuatnya iri saat ini.

"Untuk sekelas rumah sakit kau memberikan kamar terlalu besar dan nyaman untukku Sehun."

Sehun tersenyum, dia ikut berdiri di samping Luhan dan bersandar di balkon rumah sakit yang untuk ruangan tertentu dibuat seperti hotel lengkap dengan pemandangan indah yang bertujuan agar speed recovery dari beberapa pasien tertentu menjadi lebih cepat dan bersemangat untuk mendapatkan kesembuhan.

"Ini bukan masalah besar, aku hanya ingin membuatmu merasa nyaman."

"Disitu letak masalahnya."

Tak mengerti, Sehun menoleh untuk mendapati wajah Luhan semakin pucat seiring hari yang telah mereka habiskan di Tokyo "Apa?"

"Tempat ini terlalu banyak memberikan pemandangan, termasuk pemandangan yang membuatku sangat iri."

"Benarkah? Apa yang membuat seorang manager tangguh sepertimu merasa iri?"

Terkekeh, Luhan menjawab "Banyak hal, tapi saat ini melihat keluarga kecil itu bermain di tengah salju hanya membuatku semakin rindu pada anak-anak."

Sehun kini menyadari bahwa sedari tadi kedua mata Luhan terkunci pada aktifitas keluarga yang sedang bermain bola salju dibawah sana, matanya ikut terhipnotis sampai sosok yang sedang di kursi roda dia yakini adalah salah satu anggota keluarga yang sedang dihibur dan sedang dalam masa pemulihan.

"Kau ingin menghubungi anak-anak."

Luhan membenarkan mantel yang diberikan Sehun, memakainya asal lalu menyembunyikan dua tangannya di saku yang membuatnya hangat dalam seketika "Tidak terimakasih, aku tidak ingin menangis malam ini."

"Mungkin kau akan semakin kuat jika berbicara dengan anak-anak."

"Memang, tapi nanti saat suara mereka tidak terdengar aku hanya akan dipenuhi rasa takut, kau tahu Sehunna? Aku sedang mati-matian menenangkan diri saat ini."

"Kau takut?"

Luhan mendongak, menikmati langit malam yang entah mengapa begitu indah karena terus membuat salju turun serempak, tangannya terulur menangkap beberapa butir salju yang sedang turun, menggenggamnya erat lalu tertawa lirih "Sangat, dan parahnya rasa takut ini semakin tidak bisa kuatasi."

Sehun hanya membisu menatap Luhan, berharap bisa melakukan sesuatu sampai akhirnya dia memberanikan diri menarik lengan Luhan, keduanya kini bertatapan, yang satu menatap sendu sementara yang satu dipenuhi banyak pertanyaan.

Tak ada yang berbicara sampai akhirnya langkah Sehun maju mendekat hingga membuat nafas Luhan terkecat karena begitu gugup "Se-Sehun? Apa yang kau lakukan?"

"Mari kita akhiri semua ini!"

"huh?"

"Keegoisanku, keras kepalamu, semua kebodohan kita, mari kita akhiri semuanya."

Tanpa alasan air mata Sehun menetes begitu cepat, dia tidak berusaha menghapus atau menyembunyikan, sebaliknya, seiring semua ucapan yang sedang dia katakan maka air mata itu terus menetes hingga membuat nafas Luhan berkali-kali menjadi sangat tercekat "Lalu apa?" tanyanya lirih dibalas gerakan dari Sehun yang tiba-tiba mengulurkan tangannya pada Luhan, menawarkan.

"Kembalilah padaku, kita mulai semua dari awal. Aku, kau dan anak-anak, hidup kita."

"Sehun…."

"Aku tahu aku sangat menyedihkan, aku adalah pria paling arogan dan brengsek di hidupmu, aku mengira berkencan dengan banyak wanita akan membuatku lupa padamu, berhenti mencintaimu, tapi kemudian malam ini hanya membuktikan bahwa seorang Oh Sehun benar-benar tidak berdaya tanpa kehadiran Xi Luhan, ibu dari ketiga anakku."

"Sehunhentikan…"

Kini Luhan yang bereaksi, dia membekap kencang bibirnya, sungguh, ucapan Sehun dan seluruh pengakuannya tidak membuat Luhan merasa lebih baik, sebaliknya, ketakutan Luhan menjadi sangat berlebihan karena Sehun tanpa sadar sudah membuat Luhan tidak ingin menjalani operasi dan hanya kembali ke Seoul bersama Sehun untuk hidup bahagia bersama kedua anak mereka.

"Luhan, maukah kembali padaku? Aku janji akan memperbaiki diriku, hanya, hanya beri aku satu kesempatan lagi, kumohon, KUMOHONLUHANRRRHH~"

Malam dingin, salju, Sehun, pengakuannya dan rasa sakit yang sedang dirasakan Luhan sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Penggambarannya bahkan terlalu klise untuk mengatakan bahwa saat ini Sehun sedang memintanya kembali dan terlihat sangat menderita.

Luhan termenung beberapa saat, memperhatikan betapa Sehun terlihat putus asa hanya karena memintanya kembali, dia bertanya-tanya dalam hati, Jadi Sehun masih mencintainya juga? Lalu tiba-tiba dia menyeringai kecil sementara kakinya ikut melangkah maju, meniadakan jarak, mencium aroma khas ayah dari ketiga anaknya, lalu memberanikan diri menangkup wajah Sehun dengan tangannya yang gemetar tanpa alasan dan terasa begitu dingin.

"Aku harus menunggu lima tahun sampai akhirnya kau memintaku kembali? Tsk! Hatimu kemana Presdir Oh?" Luhan mencibir, tapi tidak terlihat marah, sebaliknya dia terisak dipenuhi air mata yang menunjukkan bahwa dia sangat bahagia, terlalu bahagia sampai tak sadar kedua tangannya kini mengusap lembut seluruh wajah Sehun.

"Asal kau tahu aku masih menunggumu, terus menunggumu, selalu menunggumu. Jadi ketika kau memintaku kembali, menurutmu apa jawabanku?"

Dengan suara seraknya Sehun menjawab "entahlah, aku masih terlalu takut kau berjalan pergi lagi seperti saat itu."

"Saat pernikahan kita?"

Sehun mengangguk lagi, memejamkan mata seolah tak tahan menahan rasa sakit, setiap kali bayangan Luhan berjalan pergi di hari pernikahan mereka, seluruh hati Sehun runtuh dipenuhi rasa sakit dan kecewa. Jadilah dia melampiaskan dengan cara yang salah hingga berujung lima tahun tanpa hubungan yang jelas dengan pria yang masih sangat dia butuhkan di hidupnya.

"mmhh….Kau meninggalkanku saat itu, kau ingat?"

"Terlalu ingat sampai rasa bersalahnya terus menghujam sampai ke tulang rusukku."

Sunyi, tak ada yang berbicara, keduanya menikmati rasa bersalah masing-masing akhirnya Luhan mengatakan "Maaf."

"Luhan, harusnya aku yang mengatakan maaf."

"Tidak Sehun, kau tidak bersalah, aku yang memilih tidak mempercayaimu, aku yang meninggalkanmu, sedari awal ini salahku dan aku sangat menyesal, aku minta maaf. Maafkan aku. Aku bersalah padamu dan pada anak-anak, aku bersalah pada kalian, sungguh aku-…."

"sssh…..Berhenti menyakiti dirimu sendiri, kau tidak bersalah, kau sudah berusaha keras Luhan, kau sudah mencoba membuktikan diri selama bertahun-tahun dan aku melihatnya dengan kedua mataku sendiri, ssshh…tenanglah Lu."

Dan untuk Luhan tidak ada malam yang paling membahagiakan selain malam ini, malam dimana akhirnya Sehun bersikap lembut padanya tanpa tatapan yang mengatakan dia sangat membenci dirinya setelah lima tahun berlalu.

Dekapan erat Sehun, bisikan hangatnya, tepukan tangan Sehun di punggungnya seolah menjadi hadiah natal terindah untuk Luhan malam ini, keduanya saling mendekap erat, berdoa kuat-kuat agar semua berjalan lancar sampai Sehun melepas pelukannya.

Matanya yang sembab kembali mengunci mata Luhan, mengusap wajah terlampau pucat didepannyau untuk sekali lagi bertanya "Jadi apa kau bersedia kembali padaku?"

Luhan tertawa kecil, dia bahkan menarik tengkuk Sehun sampai akhirnya memberi kecupan singkat penuh arti "Setelah kau mengakhiri hubunganmu dengan Coach Min Chaerin, aku bersedia kembali padamu."

"Aku hanya dekat dengannya, tidak memiliki hubungan khusus."

"Tidak memiliki hubungan khusus dan kau menciumnya di depanku! Idiot!"

Sehun tertawa getir, nyatanya hingga malam ini dia sangat menyesal memberi pelajaran pada Luhan dengan tingkat yang sangat keterlaluan, saat dimana dia mencium salah satu pelatih berbakat di agensinya adalah saat dimana dia mengutuk diri sendiri dan bersumpah akan menyalahkan dirinya jika pada akhirnya Luhan lelah dan berhenti datang padanya.

"Maaf."

"Sudahlah, aku tahu itu hanya caramu membuatku kesal, keterlaluan memang, aku akan membalasnya lain kali."

Jadilah Sehun merengek "Luhaaan…tidak boleh!" hingga membuat Luhan tertawa namun tetap melingkarkan tangannya di tengkuk Sehun "Jangan lakukan lagi, aku bisa terus mengumpat seumur hidup."

"Tidak akan lagi, aku janii. Kembali padaku ya?"

Luhan memasang wajah tidak ingin lalu tertawa melihat raut cemas di wajah Sehun "Baiklah, aku kembali padamu."

"YEAH!"

Ayah tiga anak itu memekik bahagia, dia mengangkat tubuh Luhan yang begitu ringan lalu menciumi wajah ibu dari anak-anaknya "Gomawo Luhan, jangan pernah tinggalkan aku lagi, aku mencintaimu Luhan."

"huh?"

Luhan bergumam bingung, hatinya berdebar kencang seolah ingin memastikan hal gila yang baru saja dikatakan Sehun beberapa saat lalu "Ada apa?"

"aku rasa hanya perasaanku saja."

"Apa?"

Luhan tertawa lalu meminta Sehun untuk menurunkannya sejenak "Aku mendengar kau mengatakan cinta, tapi sudahlah, kita berdua masih membutuhkan waktu bukan?"

"Tapi aku memang mengatakannya."

"Apa?"

Terlalu polos Sehun mengatakan "Aku mencintaimu."

"whoa…."

Luhan mengipas wajahnya yang terasa panas, dia juga bertolak pinggang seakan tak percaya apa yang dikatakan Sehun namun meminta Sehun mengulanginya lagi "Katakan lagi!"

"Aku mencintaimu…"

"Kau dengar nak? Kau dengar apa yang papa katakan?"

Luhan berbicara dengan perutnya yang hanya sedikit terlihat membuncit jika dia melepas pakaian, mengusap sayang si anak ketiga lalu menatap sekali lagi pada Sehun "Sekali lagi, katakan."

Kini Sehun bersandar di balkon rumah sakit, menarik lengan Luhan lalu berteriak "AKU MENCINTAIMU XI LUHAN! AKU MENCINTAI IBU DARI KETIGA ANAKKU!" Sontak hal itu membuat beberapa orang mendongak mencari asal suara lalu dibalas tarikan cepat dari Luhan

"Sehun! Tidak perlu seperti itu!"

"Tapi aku memang mencintaimu! Memangnya kau tidak mencintaiku?"

Luhan tersinggung, dia berjalan mendekati Sehun, mengalungkan lagi dua lengannya di leher sang kekasih lalu berbisik "Bodoh, aku sangat mencintaimu."

Perlahan Luhan berjinjit, mencoba untuk mencium bibir Sehun namun terlambat, Sehun lebih dulu menundukkan kepalanya, menciumnya lembut namun terkesan tidak sabar, kedua lidah mereka saling mendorong, kedua bibir mereka saling menyesap hingga hanya kehangatan yang dirasakan keduanya.

Luhan membuka bibirnya untuk Sehun, menikmati kehangatan yang diberikan lidah Sehun sampai lagi-lagi, tanpa alasan air matanya menetes dan Sehun bisa merasakan rasa asing yang berbeda dari sekedar air liur mereka.

Jadilah dia menghentikan ciumannya pada Luhan, bertanya-tanya apa yang terjadi sampai Luhan lebih dulu mengatakan "Pastikan aku membuka mata, aku ingin melihat wajahmu lagi."

Seperti menghujam jantungnya, ucapan Luhan berhasil mengoyak hati Sehun, tak heran jika Sehun menitikkan air mata, ingin rasanya dia menangis keras-keras, namun dia tahu itu hanya memperburuk keadaaan.

Sehun mengalihkannya dengan menunduk lalu berbicara pada calon bayinya "Berjuanglah bersama Mama nak, pastikan mama membuka mata agar kita bisa bertemu." katanya tercekat lalu kembali menatap Luhan, mengusap air mata ketakutan dari prianya seraya mengatakan

"Kau akan baik-baik saja Lu, kau dan bayi kita, kalian akan baik-baik saja."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Sehun, tubuhku mati rasa."

Tiga jam setelahnya pasangan yang baru saja memperbaiki hubungan mereka harus kembali melalui ujian lain untuk menunjukkan betapa mereka saling mencintai dan harus saling menguatkan di kondisi paling sulit yang harus dihadapi pasangan.

Dan disinilah Luhan, terbaring lemah di tempat tidur dengan Sehun yang terus menggenggam erat tangannya. Beberapa menit yang lalu pihak medis sudah menyuntikkan obat bius ke tubuhnya, efek normalnya tubuh Luhan akan mati rasa dan tak lama dia tertidur.

"Itu efek obat biusmu sayang, tidak apa."

Sehun yang menjelaskan, dia mencoba tegar dan memutuskan menghabiskan waktu sebanyak mungkin untuk menemani Luhan sebelum kekasihnya dibawa masuk ke dalam ruang operasi.

Luhan mengangguk mengerti, mencoba tersenyum walau rasa takutnya masih menguasai tubuhnya yang mulai mati rasa "Dimana ayah?"

"Ayah juga sedang menjalani pemeriksaan bersama Paman Lee, sebentar lagi mereka pasti datang menemanimu." Katanya menciumi tangan Luhan walau tak bisa menutupi rasa cemas menyadari tangan Luhan benar-benar tak merespon sentuhannya.

"Sehun…."

"hmmh?"

"Pandanganku gelap."

Sehun mencoba untuk tetap tenang, mengusap lembut wajah Luhan walau hatinya meronta sakit tak tega melihat bagaimana tubuh mungil yang sudah memberinya tiga anak kini sedang terbaring lemah dan terlihat sangat menyedihkan.

"Itu juga normal sayang, nanti saat kau membuka mata kau akan melihatku lagi."

Samar-samar Luhan bisa mendengar suara Sehun, tapi untuk alasan tertentu suara Sehun semakin menjauh dan terus menjauh, hal terakhir yang dia dengar adalah ucapan Sehun yang mengatakan "Kau akan baik-baik saja." Lalu perlahan Luhan bisa merasakan seluruh tubuhnya mati rasa dan tak lama, secara perlahan pula matanya terpejam sebagai reaksi terhadap obat bius yang diberikan padanya.

"Sudah saatnya Tuan Oh."

Sehun mengerti, dengan berat hati dia melepas genggaman tangan Luhan, berdiri menjauh namun sebelumnya dia mengecup sayang kening Luhan "Kau kuat dan akan segera membuka mata, kau dengar aku?" katanya lirih dibalas gerakan cepat tim medis yang kini mendorong tempat tidur Luhan menuju ruang operasi.

"Luhan….Kumohon kuatlah disana."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dan untuk Sehun, tidak ada yang lebih menyiksa selain tiga jam yang sudah dia lewati di koridor tunggu ruang operasi. Semuanya terasa menyiksa, terlebih saat beberapa kali asisten perawat berlari mengambil beberapa kantong darah seperti ingin menunjukkan pada Sehun bahwa keadaan didalam sana tidak berjalan dengan baik.

"Sial!"

Jadilah dia tertunduk di tempatnya saat ini, tangannya terkepal sangat erat, wajahnya pucat sementara hatinya memukul terlalu sakit berkali-kali. Dia sedang berdoa, berharap Tuhan tidak mengambil Luhan dengan cara yang sama dengan Tuhan mengambil ibunya.

Kepalanya bahkan terlalu sakit memikirkan banyak hal, dadanya sesak nyaris tak bisa bernafas sampai dia merasakan tangan seseorang memegang pundaknya, refleks, Sehun mendongak untuk melihat ayahnya dan paman Lee sedang tersenyum memberi kekuatan padanya. Keduanya juga kompak duduk disamping kanan dan kiri Sehun, menemani dirinya.

"Aboji…. Paman…"

"Maaf membuatmu menunggu lama nak."

Sehun tersenyum lirih seraya menggeleng sebagai jawaban "Tidak apa, bagaimana hasil pemeriksaan ayah?"

"Untuk sementara semuanya bagus."

"Untuk sementara?"

"Sudahlah nak, jangan menambah pikiranmu dengan kondisi pria tua sepertiku, hanya fokus pada Luhan, ayah baik-baik saja."

"Paman…."

Yang ditanya hanya mengangkat pundak, membenarkan "Kau tahu ayahmu kan? Dia sangat kuat." Katanya berbisik dibalas tawa renyah dari Sehun "Jangan sakit, jangan membuat kepalaku sakit aboji."

"Ayah baik-baik saja, lalu bagaimana dengan Luhan?"

Sehun tertunduk lagi, wajahnya pucat pasi sementara tangannya terkepal erat "entahlah, Ini sudah terlalu lama. Tapi mereka belum juga keluar darisana."

"Nak."

"hmh?"

"Tenanglah, semua akan baik-baik saja."

"Ayahmu benar Sehunna, semua akan baik-baik saja."

Masing-masing dari Ayah dan pamannya kini dengan kompak menepuk pundak dan mengusap punggungnya, sungguh, tak ada hal yang membuat Sehun merasa lebih baik selain kehadiran dua orang yang selalu menenangkan di kondisi terpuruknya.

Mungkin ini juga merupakan salah satu alasan mengapa Sehun turut membawa ayah dan pamannya, dia tahu menunggu seseorang yang sedang berjuang di ruang operasi begitu berat, pikiran buruk, perasaan gundah dan kesedihan yang tertahan menjadi satu seiring lampu hijau di depan ruang tunggu operasi masih menyala.

Tak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam sana, tak ada yang tahu pula bagaimana semua berakhir pada akhirnya, semua seperti judi, yang membedakan Luhan dan seluruh dokter sedang berjuang di dalam sana sementara dirinya hanya bisa menunggu, menunggu, hingga rasanya terlalu sesak untuk dijelaskan.

"Semua akan baik-baik saja."

"Kau benar nak, semua akan baik-baik saja, sekarang menangislah jika dirasa perlu."

"Apa maksudnya?"

"Kau menahan kesedihanmu saat ibumu berjuang beberapa puluh tahun yang lalu di ruang operasi. Jadi ayah rasa cukup untukmu, kau tidak perlu menahannya lagi, menangislah jika itu orang yang kau cintai yang sedang berjuang didalam sana."

"Aboji…."

"Ayah menangis sampai suara ayah habis tak tersisa, tanya pamanmu."

Sehun menoleh ke arah kanan, mencari mata sang paman lalu dibenarkan oleh pria paruh baya yang sejak lama sudah bekerja untuk keluarganya "Aku pun menangis, hanya kau yang tidak."

Sehun tertawa, hanya bibirnya yang mencoba tertawa, tapi paman dan ayahnya tahu disela tawa itu ada isakan tangis tertahan yang diam-diam dilepaskan Sehun.

Setelahnya, Sehun mencoba berdamai dengan perasaannya, dia masih tertunduk, membiarkan dirinya terlihat lemah, suara isakannya sudah menggema di ruang tunggu operasi, dia tidak menyembunyikannya lagi, hanya menjadi lemah disaat dia benar-benar tak mampu lagi berpura-pura tenang, hanya ketakutan disaat dia tak bisa lagi berfikir jernih, hanya menangis sebanyaknya disaat hatinya tak mampu lagi menahan

"Menangislah nak, keluarkan perasaanmu, semua akan baik-baik saja, Luhan akan baik-baik saja."

Selama beberapa menit ayahnya dan Paman Lee hanya duduk menemani Sehun, membiarkan putra dan sang tuan muda mengeluarkan semua yang mengganggunya untuk menyadari bahwa lampur ruang operasi berubah menjadi merah dan tak lama pintunya terbuka.

"Keluarga Tuan Xi?"

Buru-buru Sehun mendongak, menghampiri sang dokter untuk bertanya dengan suara serak "Bagaimana? Semua berjalan dengan lancar?"

Dokter yang sebelumnya juga menangani ayahnya secara langsung terlihat diam beberapa saat sebelum tersenyum kecil untuk mengatakan "Semuanya berjalan lancar, Tuan Xi sedang dalam masa pemulihan dan akan baik-baik saja dalam waktu singkat."

"haaah~Tuhan, syukurlah."

Sehun setengah berjongkok, mengatur nafasnya yang tercekat lalu berterimakasih menatap sang dokter "Terimakasih, terimakasih banyak dokter Shin."

Dokter bernama lengkap Shin Fujirama itu hanya tersenyum singkat, namun rautnya menjadi serius untuk mengatakan langsung pada Sehun "Tapi saya rasa ini adalah hal terakhir tubuh tuan Xi bisa menerima operasi besar di bagian kepalanya, kondisinya sudah terlalu lemah dan jika benjolan itu terjadi lagi, kita tidak bisa melakukan operasi melainkan terapi."

"Tapi anda bilang bisa mengatasi akar yang selalu tumbuh di benjolan kepala istriku, apa kemungkinannya tumbuh masih ada?"

"Kami tidak mencabut akarnya, itu terlalu bahaya. Yang kami lakukan hanya mematikan sel kanker tanpa mencabutnya, semua akan baik-baik saja jika Tuan Xi menjalani pemeriksaan rutin dan mengkonsumsi obat yang diperlukan, dan satu hal lagi, Tuan Xi tidak boleh mengalami depresi hebat dan mengkonsumsi obat yang tidak dianjurkan. Tubuhnya sangat lemah dan jika dia mengalami depresi atau mengkonsumsi minuman keras dan beberapa obat itu hanya akan memicu sel-sel lain untuk berpotensi menjadi sel kanker yang baru."

"Aku mengerti, aku akan terus mengawasi istriku. Terimakasih dokter Shin."

"Kalau begitu saya permisi, istri anda tidak akan sadarkan diri selama beberapa jam sebagai reaksi obat bius dan masa pemulihannya. Tapi dia akan baik-baik saja."

"Ya, tentu dokter Shin terimakasih."

Tuan Oh dan Paman Lee juga mengucapkan rasa terimakasihnya, keduanya berjabat tangan dengan dokter yang sudah mengenal keluarga Oh dengan baik sampai suara Sehun kembali terdengar dan bertanya "Dokter Shin?"

"Ya, ada apa?"

"Bagaimana dengan bayiku?"

Sang dokter terdiam lagi, menatap lama ke mata Sehun lalu tersenyum seolah memberikan selamat untuk Sehun "Ibu dan bayinya, mereka benar-benar berjuang didalam sana dan ya-….Bayimu baik-baik saja Tuan Oh."

Tak bisa menggambarkan bagaimana lega dan bersyukurnya dia atas kekuatan Luhan, Sehun hanya bisa menitikkan air mata, sekali lagi dia membungkukan badan sebagai rasa terimakasihnya yang begitu besar pada dokter yang telah menangani ibunya, ayahnya, kemudian kini Luhan dan bayinya "Terimakasih dokter Shin, aku berhutang banyak padamu, terimakasih."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Luhan….Luhan…..

Yang tidak diketahui si pemilik suara adalah kenyataan bahwa Luhan sedang menikmati waktu santainya dibawah alam sadar, tapi kemudian terdengar suara berat yang terus memanggilnya, awalnya suara itu terdengar jauh, tapi seiring waktu berlalu suaranya terus mendekat, semakin mendekat hingga akhirnya terlalu dekat seolah menariknya ke suatu tempat yang jauh lebih indah yang sedang menantinya.

LUHAN!

"Sehun bersabarlah! Luhan masih dibawah pengaruh obat bius."

Kemudian samar-samar dia bisa mendengar perdebatan dua suara yang terasa familiar untuknya, membuatnya secara perlahan membuka mata untuk mendapati Sehun dan ayahnya sedang bertengkar sementara wajah Paman Lee tersenyum menyapa padanya.

"Hay Luhan."

"Paman…"

Akhirnya Sehun menangkap suara yang begitu ingin dia dengar, sungguh, melihat dua mata cantik Luhan terbuka setelah berjam-jam menunggu membuatnya begitu bahagia, Sehun terlalu bahagia sampai lagi-lagi air matanya menetes seraya menggenggam erat tangan Luhan.

"Sehunna…"

Luhan bisa melihat bagaimana Sehun sedang menatapnya lembut saat ini, bagaimana pria yang biasa bersikap dingin padanya sedang terisak tak bersuara, dia mencoba mengangkat tangannya, tapi kemudian menyerah karena seluruh tubuhnya mati rasa dan belum bisa bergerak bebas "Kau masih dalam pengaruh obat bius Lu, jangan terlalu banyak bergerak."

Luhan mengedipkan matanya, kadang terpejam kadang dipaksa membuka, terus seperti itu seperti membiasakan diri dari rasa sakit di kepalanya yang membuat perutnya begitu mual "Jangan menangis." Pintanya dibalas kekehan kecil dari Sehun.

"Aku tidak menangis, aku sedang menatap malaikat." Katanya sedikit membungkuk lalu mencium sayang kening Luhan "Syukurlah kau sudah membuka mata." Katanya berbisik dibalas senyum cantik dari Luhan "Kau menepati janjimu untuk memastikan aku membuka mata."

"Kau benar-benar tangguh Luhan, terimakasih sayang."

Menikmati seluruh ucapan lembut dan kalimat sayang dari Sehun, tiba-tiba Luhan teringat sesuatu dan memegang perutnya seolah memastikan "Bayiku?" lirihnya ditimpali paman Lee yang bisa melihat raut cemas dari gerakan Luhan di perutnya "Kau tenang saja Luhan, cucu ketigaku sehat karena dia sekuat ibunya."

"Benarkah?" dia bertanya pada Sehun dibalas anggukan singkat oleh ayah dari bayinya "Tentu saja, bayi kita baik-baik saja."

Tubuhnya masih terlalu lemas merespon tapi tidak dengan air mata bahagia yang begitu saja membasahi wajahnya, Luhan menyuarakan rasa syukurnya dalam isakan, kemudian Sehun membungkuk lagi, menatap wajah Luhan lalu menyatukan dua kening mereka seraya berbisik "Aku mencintaimu Luhan."

Mata Luhan terpejam sebagai respon, menikmati bagaimana Sehun mengatakan cinta padanya seolah membenarkan Luhan bahwa beberapa jam sebelumnya itu bukan mimpi, adalah benar Sehun memang mengatakan cinta dan telah meminta dirinya untuk kembali padanya "Sehun, aku mencintaimu juga, aku mencintaimu."

"Aku tahu, sssh….tenanglah, berhenti menangis Luhan."

"Aku rindu anak-anak, aku ingin pulang."

"Baiklah sayang." Sehun mengecup lagi kening Luhan, lalu menyetujui keinginan Luhan untuk segera bertemu dengan anak-anak mereka "Kita pulang, kita akan pulang, aku juga merindukan anak-anak."

.

.

.

.

.

.

.

Incehon airport, a few days later….

.

Setidaknya sudah sepuluh menit mereka di bandara, menunggu kedatangan buah hati mereka sampai akhirnya Jaehyun menghubungi Sehun dan memberitahu bahwa mereka akan sedikit terlambat mengingat beberapa penggemar mengenali dirinya, Kai dan Kyungsoo sesaat setelah mereka sampai di bandara.

"Luhan, kau terlihat lelah sayang, kita tunggu anak-anak dirumah saja ya?"

Luhan mendongak, melihat Sehun yang berdiri dibelakang kursi rodanya untuk menggeleng sebagai penolakan "Aku akan tetap menunggu anak-anak." Tegasnya dibalas kekehan Tuan Oh yang juga duduk di kursi roda dengan Paman Lee yang setia berada di belakangnya.

"Ayah juga mau tetap disini, menunggu cucu kesayanganku."

"aboji, high five."

Keduanya melakukan tos ringan sementara Sehun dan Paman Lee hanya bisa mendesah kecil, mengalah pada dua orang terkasihnya yang masih dalam masa pemulihan "Haah~ baiklah."

Baik Sehun dan Paman Lee mendesah pasrah lalu memutuskan untuk mendorong masing-masing kursi roda Luhan dan ayahnya ke tempat yang jauh dari kerumunan "Aku akan menghubungi mereka." katanya mengeluarkan ponsel namun tetap sama, tak ada jawaban dari Kai, Kyungsoo bahkan Jaehyun sekalipun.

"Bagaimana?" Luhan bertanya lagi dan terpaksa Sehun mengatakan "Aku rasa mereka masih bersembunyi, sebentar lagi mungkin."

"Terus hubungi mereka, bagaimana jika sesuatu terjadi pada anak-anak."

"Nanti aku coba menghubungi mereka lagi."

"Sehun sekarang! Hubungi salah satu dari mereka atau-….."

"MAMAAAAA! / MAMAA HANSE RINDU!"

Sungguh, untuk alasan sederhana jantung Luhan berdebar sangat cepat, bukan karena ungkapan cinta Sehun bukan pula karena Sehun yang terus menggenggam tangannya sejak keluar dari rumah sakit hingga saat mereka di bandara.

"MAMAMAAA!"

Dan alasan sederhana itu adalah suara dua buah hatinya yang kini bersahutan memanggil dirinya, suara dua malaikat dalam hidupnya yang kini sedang berlari melewati kerumunan dan terlihat sangat ingin memeluk dirinya.

"Sayang..."

Luhan tertegun melihat bagaimana Sehan dan Hanse menjadikan dirinya sebagai ajang perlombaan lari, karena lihatlah si kembar, selain berteriak memanggilnya, keduanya bahkan sempat bertengkar hanya karena tali sepatu Hanse terlepas sementara Sehan sedikit lebih bebas berlari ke arah Luhan.

"Luhan kau tidak perlu-….!"

Terlambat, Sehun juga terlalu bahagia melihat kedua putranya sampai tak menyadari bahwa Luhan sedang mencoba berdiri dari kursi roda dan kini sedang berjalan gontai menyambut kedatangan buah hati mereka.

"MAMA!"

Tiga langkah kakinya Luhan kemudian berjongkok, merentangkan tangan dan si bungsu adalah yang pertama berada di pelukannya "Sehan, anak mama." Disusul Hanse yang juga berteriak "MAMAAAA!" Dan tak lama lengkap sudah kebahagiaan Luhan karena dua putranya sudah berada di pelukannya "Sayangnya mama."

Luhan memeluk keduanya terlampau erat, menciumi masing-masing surai dari Sehan dan Hanse sampai si bungsu sedikit sesak dan mulai memprotes ibunya "Ma…sesak." Sehan memberitahu Luhan dibalas kekehan Luhan yang kini menghapus cepat air matanya "Maafkan mama nak, mama hanya terlalu rindu pada kalian." Katanya menciumi masing-masing bibir kedua putranya sampai perban yang melilit di kepala Luhan menarik perhatian si kembar.

"Mama sakit?"

"huh?"

Sehan menunjuk kepala Luhan dengan bibir mengerucut siap menangis "Mama sakit? HUEEEEK MAMA…"

"Astaga nak….Mama baik-baik saja, mama tidak sakit sayang."

"tapi—hks…tapi kepala mama?"

Kini Hanse yang mengerucutkan bibir, matanya dipenuhi air membuat Luhan tertawa namun tak bisa menahan tangisnya sejenak karena tingkah menggemaskan dari Sehan dan Hanse "Ini hanya perban sayang, papa yang memasangnya, ya kan Pa?"

Sehun salah tingkah, tidak mengerti harus menjawab apa dan apa yang coba dikatakan Luhan hingga membuat raut marah terlihat di wajah si kembar.

Luhan kemudian memberi tanda khusus, Sehun masih tak mengerti sampai satu suara terdengar menolong Luhan disaat terdesak "Baekie juga pakai perban seperti mama, lihat? Tidak ada yang terluka kan?"

Sebenarnya Luhan bertanya-tanya mengapa Baekhyun ada di bandara, sahabatnya juga tanpa ragu melilitkan kain berwarna putih di kepalanya hingga membuat Sehan dan Hanse percaya dan mulai tenang di pelukan Luhan.

"Baekhyun?"

"Hay Lu, maaf terlambat. Ketiga artis Sehun yang membuatnya begitu lama."

Mata Luhan mencari ke tempat yang ditunjuk Baekhyun,tak lama dia bisa melihat Jaehyun, Kai dan Kyungsoo sedang berjalan mengendap di belakang Chanyeol hingga membuat Luhan tertawa dan sedikit mengerti keadaan tiga artis Sehun yang kini dibantu oleh Presdir Park dan Baekhyunnya untuk membawa si kembar ke bandara.

"Kau datang?"

Baekhyun menatap Luhan sejenak sebelum meminta si kembar untuk mengerti "Jadi jangan menangis di bandara, itu sangat tidak keren sayang!"

Yang membuat Luhan takjub si kembar refleks menghapus air mata mereka bersamaan, terburu-buru lalu dengan kompak bertanya "Sudah keren Ma?"

"y-Ya sayang! tentu saja keren!"

"Cucunya kakek….Peluk kakek Jagoan!"

"HARABOJI! / LEE HARABOJI!"

Keduanya kini berlari menghampiri ayah dan Paman Lee, membuat Luhan terkekeh lagi dan berusaha diri dengan bantuan Baekhyun yang kini mengulurkan tangannya "Kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja Bee, lihat aku berdiri dengan benar."

"Bukan itu maksudku, operasimu?" katanya lirih dibalas senyum kecil dari Luhan, sedikit banyak Luhan mengerti bagaimana perasaan Baekhyun saat ini. Karena setidaknya selama sepuluh tahun, satu-satunya pria yang selalu menemani Luhan menjalani operasi pertama dan kedua dalam hidupnya adalah Baekhyun, hanya Baekhyun.

Jadi wajar jika Baekhyun terlihat kecewa dan begitu sedih karena tidak bisa menemani Luhan di operasi ketiganya "Aku tahu apa maksudmu Bee, tapi aku baik-baik saja, sungguh."

"Maaf tidak bisa menemanimu Lu."

Buru-buru Luhan memeluk erat sahabat yang selamanya akan selalu menjadi tempat favoritnya untuk mengadu dan mengatakan semua hal yang tak pernah bisa dia katakan pada orang lain termasuk Sehun sekalipun, merasakan rindu yang sama seraya berbisik "Kau menjaga putraku dan aku sangat berterimakasih untuk hal itu."

"Mereka anakku juga kan?" katanya protes dibalas kekehan kecil dari Luhan "Kau benar, mereka anakmu juga."

Setelahnya Baekhyun melepas pelukan Luhan, menatapnya lagi dalam-dalam lalu melihat ke arah perut Luhan "Lalu bayimu?"

"Kau tahu aku hamil?"

"Saat kita bertemu di sekolah anak-anak kita, saat kau mengucapkan selamat untukku, aku tahu kau sedang mengandung anak ketigamu Luhan, sangat terlihat dari bentuk tubuh dan aura cantik yang menguar dari wajahmu!"

"Benarkah? Semudah itu?"

"Sebenarnya aku ragu, tapi Kyungsoo memberitahuku juga."

Luhan kini mengerling kedua adiknya, tersenyum sekilas lalu berjalan mendekati Kyungsoo dan Jaehyun "Aku pulang."

Kyungsoo yang lebih dulu memeluk Luhan, diikuti Jaehyun yang kini memeluk kedua kakaknya hingga pemandangan tiga orang pria yang dulunya saling membenci tapi saling membutuhkan di hari berikutnya tersaji secara gratis untuk beberapa orang yang menyaksikan.

Sehun yang sedang berbincang dengan Chanyeol terdiam, begitupula dengan tuan Oh dan Paman Lee yang masing-masing sedang bermain dengan si kembar, mereka juga terdiam.

Lalu ditempat yang sama Sehun bisa melihat senyum penuh arti dari Kai dan Baekhyun, dua orang terdekat Luhan di masa lalu yang paling mengerti bagaimana sulitnya hidup Luhan di masa lalu, terlebih saat dia harus menghadapi kebencian Jaehyun dan Kyungsoo yang begitu disayanginya sejak Luhan mengetahui dia memiliki saudara tiri.

Semuanya terbayar untuk Luhan, air matanya, kebencian dua adiknya, kesabarannya, rasa sakitnya, semua terbayar dengan kebahagiaan.

Kini dia memiliki keluarga, Kyungsoo dan Jaehyun

Dia memiliki dua orang anak, Hanse dan Sehan

Dan yang paling tidak terduga adalah kini Luhan memiliki cintanya sendiri, pria yang belum lama memintanya kembali dan mencintainya lagi, yang akan menjaganya, menjaga anak-anaknya, menjaga bahagianya, dia memiliki Sehun.

Dan Sehun pula yang menjadi pelengkap atas bahagia yang dirasakan Luhan dalam hidupnya, hanya Sehun.

"Sehun?"

Chanyeol sedikit bingung saat tiba-tiba Sehun berjalan meninggalkannya, langkahnya pasti mendekati Luhan, namun yang membuatnya terkejut adalah kenyataan bahwa kini dirinya memeluk Luhan dan menggendong pria yang begitu dia benci kembali duduk di atas kursi roda "Aku rasa cukup, Luhan sudah terlalu banyak menangis, dia kelelahan." Katanya tegas pada Jaehyun dan Kyungsoo yang masing-masing terkekeh seraya menghapus air mata mereka

"Baiklah Presdir Oh."

"Sehun, aku baik-baik saja."

"Kau berkeringat Luhan, kita bisa bicara dirumah setelah ini, tapi aku rasa kalian harus kembali bekerja, Benar bukan?"

Awalnya Jaehyun ingin mengatakan hari ini dia tidak memiliki jadwal, tapi Kyungsoo tiba-tiba merangkul lengannya lalu mengatakan "Baiklah Presdir Oh, kami akan datang besok dan berbicara dengan Luhan. Hari ini kau beristirahat Lu. ya kan Jae

"huh? Tapi aku tidak memiliki-….."

"JungjaekatakanYA!"

Jika Kyungsoo sudah mendesis artinya bencana buruk, jadilah dia menjawab "Ya hyung! kami akan mengunjungimu besok, beristirahatlah." Sebagai jawaban walau nyatanya dia sangat ingin berbincang lebih lama dengan Luhan.

"Baguslah, sekarang kita pulang. Paman!"

"Ya?"

"Bawa anak-anak kita pulang sekarang."

"Tapi….."

"Sekarang paman!"

"ish! Arogan seperti biasa."

Paman Lee mencibir dibalas lagi teriakan Sehun "Aku mendengarnya, cepat bawa ayah dan anak-anak sebelum urusan menjadi panjang."

Paman Lee menatap seluruh artis dan kerabat Sehun sedikit malu, dia menggaruk tengkuknya asal lalu menggendong Hanse sementara Sehan berada di pangkuan kakeknya "Baiklah tuan-tuan, kami permisi pulang lebih dulu."

"Hati-hati paman, dah Sehan, dah Hanse."

"bye Samchoon…"

Si kembar melambaikan tangan penuh semangat, berjalan mengikuti kedua orang tuanya sementara tak jauh, Kai dan Baekhyun masih menatap sosok Luhan dan Sehun yang masing-masing pernah memiliki tempat di hati mereka.

"Lucunya mereka tidak pernah benar-benar saling membenci, sebaliknya jika salah satu merasa kesepian dan menderita maka yang lain akan datang menawarkan lengan, menenangkan."

Mendengar ucapan Kai, Baekhyun terkekeh untuk menimpali "Dan bodohnya jika salah satu dari merek kesakitaan, maka yang lain akan merasakan sakit yang lebih banyak."

Keduanya kini tertawa, saling menatap dan mengakui bahwa di masa lalu mereka juga pernah saling membenci karena dua hal, pertama Kai selalu menyakiti Luhan, kedua karena Baekhyun terlalu protektif pada Luhan.

Masing-masing dari mereka memiliki masa lalu dengan Luhan, tapi penyesalan tetaplah penyesalan, karena terlepas dari status mereka yang merupakan orang terdekat Luhan, maka keduanya pula yang menjadi alasan Luhan menitikkan air mata dan menderita cukup banyak.

"haah~ Aku harap Luhan benar-benar bahagia kali ini."

"Aku juga sangat berharap Luhan bahagia bersama keluarga kecilnya. Jadi biarkan mereka mencintai dengan cara mereka sendiri, tugas kita hanya mengawasi jika salah satu dari mereka sudah bertindak terlalu jauh."

"Kau benar, aku akan terus memperhatikan Sehun, memastikan dia tidak melakukan kesalahan yang sama dengan kita." Timpal Baekhyun dibalas raut pucat dari wajah Main Dancer EXO yang kini sedang menatap sendu sosok mantan kekasihnya.

"Untukku, Luhan akan selalu menempati tempat khusus di hatiku, bukan dalam artian aku mencintainya, tapi seperti aku sangat bersyukur telah mengenal Luhan di dalam hidupku." Katanya pilu, lalu tak lama merangkul Kyungsoo yang berjalan ke arahnya "Aku mencintaimu sayang."

"Kenapa tiba-tiba?" Kyungsoo bergumam bingung, lalu Baekhyun menjahili Kai dengan mengatakan "Dia sedang merindukan mantan kekasihnya?"

"Benarkah?"

"Tidak sayang, aku hanya—Yak! PRESDIR PARK! SEBAIKNYA AWASI ISTRIMU KARENA DIA SEDANG MENGINCAR MANTAN KEKASIHNYA JUGA!"

"Sehun maksudmu?"

"Yeol…."

Baik Chanyeol dan Kyungsoo memandang kesal pada suami dan istri mereka sampai entah mengapa Kyungsoo mengubah matanya menjadi seimut panda lalu melepas pelukan Kai dan beralih pada Chanyeol

"Yeoliee….Aku juga merindukanmu." katanya menggoda Chanyeol dibalas geraman kesal Kai dan pelukan posesif Baekhyun pada suaminya "Kyungieku sayang-….aku juga sangat merindukanmu mantan kekasihku." katanya melepas pelukan Baekhyun lalu beralih memeluk Kyungsoo, keduanya sengaja beradegan mesra di depan pasangan mereka lalu dengan satu gerakan sigap Chanyeol merangkul mesra pinggang Kyungsoo, membawanya pergi dari bandara sementara raut mengerikan terlihat di wajah Kai dan Baekhyun yang masing-masing tengah mengepalkan erat tangannya saat ini.

"Kim Kyungsoo…"

"Yeol, kembali padaku."

"Soo, apa kau mau makan di tempat dulu kita berkencan?"

"aww…TENTU SAJA YEOLIE SAYANG!"

"Berhenti memanggilnya sayang Kim Kyung-…."

"y-YAK! ANAKMU SUDAH DUA DAN KAU BERFIKIR UNTUK SELINGKUH DARIKU! KAU SUDAH BOSAN HIDUP PARK DOBBY?! CEPAT KEMBALI—y-YAK!"

Dan tentu saja pemenang hari ini jatuh pada Kyungsoo dan Chanyeol. Karena disaat Kai dan Baekhyun sedang mengenang mantan kekasih masing-masing, maka tak perlu mengenang, baik Kyungsoo dan Chanyeol lebih memilih flashback dan kembali berkencan satu sama lain.

"astaga KIM KYUNGSOO!"

Jadilah Kai mengejar istrinya, begitupula Baekhyun yang sedang menarik kencang telinga suaminya di depan umum. Kedua pasangan suami istri itu bahkan tidak mempedulikan kerumunan orang dan hanya berteriak sesuka mereka.

"haah~ Sungguh pelik hidup berumah tangga sementara mantan kekasihmu masih berkeliaran di sekitar hidupmu."

Yang sedang memberikan syair adalah Jung Jaehyun, satu-satunya remaja yang berada di antara mereka dan tengah menikmati film pendek yang dia beri judul dengan "A friend's Betrayal" yang mengusut tema penghianatan. Dimana teman yang satu menghianati teman yang lain, lalu kemudian yang saling menghianati kini berusaha kembali mendapatkan hati mantan kekasihnya.

Dia pun membenarkan posisi masker di wajahnya, dan bak paparazzi, Jaehyun mengambil ponsel dan merekam kejadian langka yang akan dia tunjukkan pada Taeoh dan putra Presdir Park seraya bergumam.

"ckckckc….Benar-benar rumit, sangat memalukan."

.

.

.

.

.


.

Final chap in Next UP

.


.

Niatnya langsung end tapi banjir words ntar malah pusing sendiri, kkk~

.

One more chap or enough? *polingaja

.

Happy reading gengs :*

.

Seeyou, JTV

.

oh ya ada yang tanya jadwal UP jadi mundur atau tetep hari minggu?

tetep hari minggu, ini telat karena gue pikir bisa langsung end tapi tetep aja panjang :"

.

so JTV di minggu ya :*

.

terimakasih banyak yang udah sabar menunggu, masih ikutin Updetan gue, dan buat gue kalian readers smart kesayangan, love :"