Pair: AkaKuro, MuraHimu, etc

Warn: OC, OOC, yaoi, typos, language, etc...

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi

.

Do you think the universe fights for souls to be together?

Some things are too strange and strong to be coincidences.

-Emery Allen-

.

Serendipity : Part 1

.

"Kalau sampai kau tidak datang hari ini, bersiaplah untuk upacara pemakamanmu besok."

Seijuurou hanya terkekeh kecil saat mendengar ancaman kosong milik Masaomi. Ponsel sedikit dijauhkan agar omelan panjang sang Ayah tidak sampai menyakiti telinga kiri.

"Haruskah?"

Napas berat dihela, Masaomi kembali bicara. "Memang seharusnya begitu, dasar anak durhaka..." mata sewarna batu delima menatap keluar lewat jendela Bentley yang melaju pelan membelah jalur arteri kota. "Kami akan makan siang di salah satu private room Mizuki, semua sudah beres kureservasi. Lagipula, jarak apartemenmu dari Ritz tidak seberapa, tinggalkan sejenak peliharaanmu, aku tahu kau sedang bersamanya sekarang."

Seijuurou terbiasa mendengar kalimat bernada vulgar milik Masaomi yang ditujukan untuk partner-partnernya. Ia segera bangkit dari ranjang, menyeka helai-helai rambut merah ke belakang, seraya berjalan santai menuju jendela besar berdaun kaca ganda. "Ini hari liburku." Seijuurou menatap redup pada lanskap hijau pegunungan Higashiyama, juga pada hiruk pikuk kehidupan kota di akhir pekan dari balik tirai yang menjuntai. Matahari benar-benar sudah tinggi di atas kepala, dan perut laparnya mendadak bermain orkestra. "Biasanya ayah memberitahuku sejak hari-hari kemarin, kenapa sekarang tidak?" Ekor mata Seijuurou menangkap pergerakan kecil dari sosok terbalut selimut di atas ranjang besar, sejumput rambut biru mengintip dari sana. Semalam mereka begitu terbawa suasana, dan baru terlelap hingga mendekati pagi buta. Ia sudah berniat akan tidur layaknya mumi, jika saja nyaring panggilan ponsel tidak menariknya keluar dari tanah mimpi.

Masaomi mendengus. "Bukan aku peduli. Toh, kuberitahu atau tidak-pun, kau pasti bakal menolak pilihanku lagi..." ucapannya dibarengi denyutan nyeri pada pembuluh nadi. Masaomi memperingatkan diri agar tidak mengikuti egoisme sesaat yang dapat mengakibatkan ia mengalami sakit kepala sepanjang hari. "Jadi, memberitahumu atau tidak, itu sama sekali tak berbeda." Ia hanya berharap kalau kali ini pilihannya tepat, dan sang Anak tidak banyak membantah seperti kejadian-kejadian tempo lalu.

Alis Seijuurou terangkat sebelah begitu mendengar kalimat ayahnya. Apa Masaomi kini terjangkiti sikap 'menyangkal' Shintarou akibat terlalu sering menghabiskan akhir pekan dengan adu shogi di kediaman keluarga besar Midorima? Apa benar kalau tsundere dapat menular? Kalau iya, berarti ini cukup gawat juga. "Siapa kali ini? Apa dia artis terkenal, anak pejabat, atau keturunan keluarga kekaisaran?" Ia berkata begitu sembari berpikir akan menyantap sepotong croissant berkulit renyah dan secangkir esspresso untuk sarapan—atau ini sudah masuk jam makan siang?

"Kujamin saat pertama melihat, kau akan langsung suka." Masaomi berkata dengan nada pongah.

Seijuurou buru-buru menyela penuh sarkas. "Ayah memang benar-benar mengerti seleraku, ya?"

Masaomi tidak menggubris ujaran itu dan kembali melanjutkan. "Aku sudah bertemu dengannya. Dia pemuda dengan keturunan terbaik—keluarganya adalah kolega dekatku yang tinggal di Tokyo. Anak itu sangat good looking, penurut, dan santun. Bahkan kurasa pikirannya belum sempat terkontaminasi oleh hal-hal absurd di dunia..."

Tirai disibak semakin lebar, sinar matahari merambat masuk membentuk garis-garis cahaya pada karpet persia di bawah kaki. "Virgin, i see..." Seijuurou berkomentar tidak tertarik. "Mereka membosankan."

"Lihat dulu, baru kau menilai!" Nada suara meninggi, Masaomi terpaksa melanggar janji yang baru saja ia buat dalam hati. Bisa dipastikan daftar temu pasien milik Midorima Shintarou bakal terisi oleh namanya sendiri esok hari. "Keluarga besar mereka sudah mau meluangkan waktu untuk bertemu denganmu di sela kunjungan mereka ke Kyoto. Tidak bisakah kau memenuhi keinginanku sekali ini?"

Seijuurou mendengus. "Apakah sekali saja aku pernah tidak memenuhi keinginan ayah?" Biar saja jika Masaomi berniat mencoret nama Seijuurou dari daftar ahli waris utama. Membuat murka Masaomi adalah keahlian nomor satu miliknya.

Hela napas diembus putus asa. "Terserah." Itu adalah kata final Masaomi jika otaknya sudah buntu menghadapi tingkah Seijuurou. "Kau datang atau tidak, terserah."

Sambungan telepon langsung diputus sepihak dan Seijuurou hanya tersenyum maklum. Ia menggenggam ponsel dan kembali menatap pemandangan di luar jendela.

Benar 'kan? Tsundere...

"Siapa?"

Pertanyaan dengan suara setengah mengantuk itu membuyarkan fokus Seijuurou.

"Kau tahu siapa."

"Oh, tentu." Pemuda manis di atas ranjang menguap malas. Ia bangun dengan susah payah, meregangkan kedua tangan ke udara, dan sibuk berkeluh kesah tentang bokongnya yang seperti mati rasa. "Kau tahu, kurasa ini adalah saatnya bagimu untuk menyerah. Turuti saja keinginan ayahmu agar segala terornya berhenti." Pemuda berwajah molek itu bicara sambil meraih ponsel dari saku celana yang berserak di dekat kaki ranjang. "Lagipula, aku tidak bisa mengimbangimu..." Shimizu Nagisa bergumam ngeri saat membayangkan kembali 'keganasan' Seijuurou tadi malam. "Aku akan minta rujuk pada Asano-san, dan menjelaskan kalau semua hanyalah salah paham..." dengan cekatan, ia menggeser layar ponsel untuk menemukan nomor kontak sang 'mantan' pacar. Teriakan girang bergaung ketika chat penuh emotikon dibalas sebaris kalimat dingin yang menyuruhnya untuk lekas pulang.

Seijuurou hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Nagisa. "Kau berpikir kalau aku mesti menuruti keinginan ayahku?"

"Tuan muda Akashi," katanya sambil bergurau. "Orangtua hanya ingin yang terbaik bagi anak mereka. Walau terlihat binal, tapi aku tetap menghormati ayah ibuku..." Nagisa mendongak dengan senyum tulus di wajah. "Kalaupun terus ikut campur, setidaknya itu tanda jika mereka masih peduli pada kita. Uhm, anggap saja itu sebagai sebuah karunia."

"Sebuah karunia?" Seijuurou berjalan mendekati ranjang, ponsel diletakkan asal di atas meja. Tubuh bak adonis itu hanya terbalut boxer brief hitam yang mencetak jelas aset besar di baliknya. "Pandai sekali kau bicara..." Setelah mengacak gemas rambut kusut Nagisa (yang dibalas rajuk manja dan bibir mengerucut), langkah-langkah santai ia tempuh menuju toilet. "Ah ya. Nanti jangan lupa sampaikan salamku untuk Asano."

Wajah Nagisa keruh, awan-awan hitam seakan membayangi di atas kepala. "Tidak mau! Asano-san malah akan membunuhku jika namamu sampai kusebut!"

Kekeh pelan mengudara, Seijuurou berhenti hanya untuk menawarkan sebuah ide sebelum 'teman satu ranjangnya' itu angkat kaki dari sini. Karena ia tahu, tidak akan pernah ada kata lain kali bagi mereka. Nagisa akan kembali pada kehidupannya semula, begitupun Seijuurou; ia bakal menjalani rutinitas di bawah langit Kyoto seperti biasa. "Bagaimana kalau sepiring pancake madu dengan tumpukan es krim matcha, kau tentu mau 'kan?"

Melihat sosok Seijuurou yang terlalu sempurna, nyaris membuat Nagisa gelap mata. Tidak seorangpun dapat menolak pesona si Akashi muda—dan baru saja ia mengiyakan tawaran itu dengan wajah bersemu, juga seruan kelewat gembira. Tapi tentu saja Nagisa mengerti batasan di antara mereka.

Seijuurou tidak suka terikat.

Baginya, hidup terlalu singkat jika mesti dihabiskan bersama pasangan jiwa yang entah harus ia cari di mana. Soulmate, juga segala macam omong kosong di balik kisah mengenainya.

Ia suka seperti ini, bebas dan tidak terkekang oleh tradisi.

"Huh, Seijuurou-san memang jenius. Kau tahu kalau aku tidak akan bisa menolak tawaran yang satu itu..." meski bersungut-sungut, namun Nagisa tidak sanggup membuang kesempatan emas tadi.

Lagipula, ini adalah kebersamaan terakhir mereka. Jadi, lebih baik dimanfaatkan karena tidak akan pernah terulang lagi untuk kedua kali.

.

Seorang waitress Mizuki menyambut Seijuurou dengan senyum santun—ia mengenali Seijuurou, karena tanpa diminta, wanita itu bergegas mengantarkannya menuju ruangan tempat dimana sang Ayah berada.

"Silakan lewat sini."

Mereka melewati sebatang bonsai elegan di dekat entrance restoran. Suasana lumayan ramai oleh para tamu hotel yang tengah menikmati makan siang seraya berbincang. Harum samar sakura dan leci di udara yang menjadi signature Ritz, sudah ia hapal di luar kepala. Beberapa kali Seijuurou pernah membawa partnernya kemari. Menghabiskan waktu sehari jika tengah dipenuhi nafsu untuk menuntaskan birahi, tanpa harus membuat 'kotor' area pribadi.

Semakin Seijuurou mendekat, semakin jelas percakapan dari balik pintu geser ruang privat Mizuki. Ia juga mendengar suara khas Masaomi mengucap kata 'menikah' secara repetitif, lalu tawa ringan para hadirin di sana langsung menyambut kelakarnya.

"Akashi-sama, tamu anda sudah hadir."

Segera setelah Seijuurou berdiri di ambang pintu, suasana mendadak senyap. Sigap, ia menyapu pandangan pada tiga sosok asing selain sang Ayah. Ada seorang pria berkacamata seumuran Masaomi yang berpenampilan bak bangsawan. Di sebelah pria itu, duduk wanita cantik penuh aura keibuan dengan rambut abu-abu yang tergelung anggun. Tatapnya kemudian bergulir pada sosok paling mungil di antara mereka.

Dan detik itu juga, Seijuurou merasa bahwa takdir begitu senang mempermainkan dirinya.

Mereka seperti kembali mengulangi waktu.

Aroma manis yang begitu familiar, jantung mereka yang berdetak riuh seirama, juga bising pembuluh darah menghentak-hentak bagai derap kaki ratusan kuda. Atau desir aneh di perutnya, ketika mata mereka bertatap tanpa sedikitpun mengerjap.

Terkejut, jelas-jelas terbias pada bola mata biru milik si Pemuda, dan mungkin hal serupa ikut tercermin pada mata milik Seijuurou.

Kita bertemu—lagi.

Kelebatan memori tentang tubuh mulus tanpa cela dan rajukan manis berlumur lelehan gula langsung memenuhi kepala Seijuurou. Kedua tangannya masih hapal benar dengan lekuk tubuh dan kelembutan helai-helai rambut bak beludru biru itu. Bagaimana mereka bergerak frustasi begitu Seijuurou mendorong pinggulnya dalam tempo lambat—bermaksud untuk menjahili gairah lawan. Ia masih mengingat jelas lenguh manja, juga jemari yang membuat gurat putus asa di punggung dan tengkuknya. Atau saat bibir serupa belahan persik ranum itu merah membengkak akibat tidak bosan ia cumbu.

Baru sekali itu Seijuurou merasakan kepuasan infinit saat ia berakhir klimaks—benar-benar mencapai puncak. Hal yang jarang sekali ia dapatkan saat berada di atas ranjang bersama lawan main lainnya.

Deham pelan Masaomi menginterupsi segala imajinasi dalam otak Seijuurou. Ia berhenti mengumpulkan ingatan lampau, dan segera fokus pada realita.

"Oh, kau Seijuurou..." Masaomi lumayan terkejut atas kehadiran sang anak—namun ia pintar menyembunyikan emosi—sewaktu mendapati fakta bahwa Seijuurou ternyata benar-benar datang untuk menemui mereka. Hah, ia bersyukur bisa menghemat energi tanpa harus repot mendamprat bocah itu keesokan hari.

"Selamat siang." Seijuurou menunduk sopan seraya mencuri tatap pada satu sosok pendiam yang sekarang jadi tidak berani mengangkat wajah. "Maaf atas keterlambatanku."

Kuroko Tatsuhisa tersenyum penuh wibawa. "Selamat siang juga, Seijuurou-kun. Kemari, duduklah..." jabat tangan bertukar, bahkan usapan sayang ala seorang ibu ia dapatkan di bahu sewaktu Kuroko Keiko membalas sapanya.

"Kau tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan gagah ya, Seijuurou-kun." Senyum tulus itu sungguh membuat Seijuurou ingat lagi pada sosok mendiang Shiori. Ia merindukan masa-masa bahagia dimana keluarga mereka masih utuh tanpa cela. Suara lembut yang selalu menyambut kedatangannya sepulang sekolah, seakan kembali terngiang di telinga. "Hm, kurasa saat itu Seijuurou-kun masih sangat kecil untuk dapat mengingat kami..." kerutan tipis menghiasi sudut-sudut mata Keiko, ketika ia tersenyum maklum mendapati wajah bingung Seijuurou.

"Ah, maaf karena aku tidak bisa mengingat semua."

Tubuh pemuda berambut biru berjengit kaget saat Seijuurou ambil duduk di hadapan. Ketidaknyamanan begitu kentara dari setiap gestur yang dia buat. Rencana melarikan diri seolah telah disiapkan demi menghindari pertemuan keluarga mereka. Mau sampai kapan dia menyembunyikan wajah, sedangkan identitasnya sudah jelas terbongkar di depan mata.

"Tetsuya-kun, ayo..." Keiko menyentuh lembut tangan si bungsu, mencoba memberi dorongan agar ia mau memperkenalkan diri.

Dan dia melakukannya. Kuroko Tetsuya mengucapkan nama dan kalimat perkenalan dengan suara sehalus gemerincing bel musim panas terhalau angin. Kedua pipi mulus tersapu warna serupa sakura, sementara bibir ranum itu gemetaran merangkai kata. Belum pernah Seijuurou setertarik ini pada gelagat seseorang, hingga ujung-ujung bibirnya nyaris terangkat ke atas tanpa bisa ia cegah.

Tangan mereka berjabat hangat, keduanya bagai kepingan puzzle saling melengkapi. Dan Seijuurou tidak kuasa menahan luapan rasa yang memenuhi rongga dada.

Ia menemukannya lagi—tanpa harus repot mencari.

Katakan, apakah suatu kebetulan dapat Seijuurou percaya?

Kalau benar, pasangan jiwa itu nyata, apakah ia boleh berharap kalau mereka adalah salah satu dari konspirasi semesta?

"Senang bertemu denganmu, Tetsuya."

.

TBC~

.

.

Hola! Saya kembali dengan fic lain (di sela wb ngerjain Serpent*tolong* dan berbagai hal yang terjadi di rl, hiks...). Ini fic roman biasa tanpa konflik ekstrim, cuma 3 part kok, nggak banyak—en semoga lancar jaya. Tadinya mau dibikin jadi ABO dynamics AU, tapi saya rombak lagi, karena kurang referensi, hahaha. Okee, sampai ketemu di part selanjutnya ya, ciao!