Pair: AkaKuro, MuraHimu, etc

Warn: OC, OOC, yaoi, typos, language, overdose-romance, possibly m-preg, etc...

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi

.

In that moment the whole universe existed just to bring us together.

.

Serendipity: Part 2

.

.

Beberapa bulan sebelumnya...

Dering samar ponsel terdengar bersamaan dengan curah air hangat terakhir dari kepala shower. Nama Aomine Daiki tertera pada terang layar ponsel pintar di atas meja dekat mesin cuci. Benda itu terus bergetar, seolah orang di seberang sana sudah tidak sabar meminta agar panggilannya segera diangkat.

Seijuurou tergoda untuk menggeser ikon berwarna merah demi membuat ponselnya bungkam, namun niat itu segera diurungkan. Malas juga jika nanti, ia mesti mendengarkan celoteh tidak penting Daiki, yang protes panjang karena telah menolak panggilannya.

"Oi, Akashi! Jangan bilang kalau kau tidak jadi datang, karena sibuk menindih orang lain di atas ranjang!"

Suara Daiki ketus memukul gendang telinga, langsung saja main tuduh tanpa peduli makna salam pembuka.

"Aku baru selesai mandi," ujar Seijuurou singkat seraya mengeringkan rambut dari sisa-sisa tetesan air. "... sebentar lagi aku berangkat." Langkah kaki berhenti tepat di depan cermin seukuran tubuh dalam walk in closet yang terhubung dengan kamar mandi.

"Yeah, akupun baru mau berangkat. Si brengsek Imayoshi dan Nijimura akan telat sepertinya..."

Terdengar bunyi pintu mobil ditutup cepat, disusul deru halus mesin dihidupkan.

"Heh, tidak biasanya kau datang tepat waktu..." barisan blazer monokrom dipilah, satu yang hitam diraih dari gantungan. Seijuurou memutuskan untuk memakai kaus tanpa lengan berwarna sama di balik blazernya.

"Haa, entahlah... aku hanya ingin segera melepas stress. Kau tahu teman-teman Himuro? Aku dapat kabar dari si Raksasa, mereka sepertinya bakal datang juga. Damn! Ini berita yang sungguh bagus!"

Dahi Seijuurou berkerut. Teman-teman Himuro?

"Hei... bukankah kau sedang kosong? Coba saja tiduri satu yang menarik hati, kalau bisa sekalian kau kencani. Yaah, itupun kalau mereka mau. Kau tahu sendiri reputasi yang menyelubungi kelompok main mereka..."

Seijuurou sadar betul apa maksud kalimat Daiki barusan.

"Teman-teman Himuro memiliki latar belakang cemerlang, sudah pasti paman bakal setuju. Dan lagi, tampilan mereka setara escort kualitas nomor satu. Wajah manis dengan tubuh berlekuk sempurna, benar-benar molek bagai porselain cina! Bedanya hanya satu, mereka tidak menjual diri, tentu saja..."

Bicara Daiki memang seenak hati. Tapi dia adalah satu dari para sahabat loyal, yang meski suka asal bicara, mereka bukanlah manusia penjilat yang gemar bertumpuk untuk menyembah di bawah kaki.

"Lihat saja nanti."

Seijuurou lumayan setuju akan ucapan Daiki mengenai lingkar pertemanan milik Himuro Tatsuya. Tunangan Atsushi itu memang memiliki kelompok 'hang-out' yang sungguh luar biasa. Ia pernah bertemu dengan Shun Izuki, Takao Kazunari, Moriyama Yoshitaka, atau Miyaji Kiyoshi pada beberapa kesempatan. Dan apa yang Daiki katakan benar adanya.

Birds of a feather flock together.(1)

Mereka satu tipe. Para manusia dengan anugrah kemolekan fisik bagai anak-anak keturunan Aphrodite. Seijuurou memang tidak pernah berurusan pribadi secara langsung dengan mereka, tapi rumor mengenai lingkaran pertemanan itu selalu saja mampir di telinga.

Anehnya, walau berada dalam lingkungan yang sama—bahkan dua dari anggota berbeda sampai bertunangan segala, kelompok main mereka jarang sekali menghabiskan waktu bersama. Para sosialita muda itu lebih suka berada dalam dunianya sendiri.

Naa, pesta ulang tahun Himuro sepertinya akan jauh dari kata membosankan.

"Kay, see ya there... Aku tidak mau mobilku ringsek menabrak pembantas jalan karena sok sibuk berbincang denganmu."

Seijuurou mendengus. "Pergi saja kau ke neraka sana..." dan kalimat itu mengakhiri percakapan mereka.

.

Himuro Tatsuya dipastikan akan mengganti nama keluarganya begitu musim semi tahun depan tiba. Lingkaran platina Tiffanny berhias berlian sudah terpasang di jari manis tangan kiri, sementara restu dua keluarga telah sukses dikantungi.

Pesta sederhana untuk menyambut pertambahan tahun sudah disiapkan Atsushi—tunangannya sekaligus si bungsu kesayangan dalam keluarga pengusaha kuliner Murasakibara. Semua persiapan pernikahan bahkan sudah dibicarakan oleh kedua keluarga, jauh sebelum hari ini tiba. Siapa yang menyangka jika pertemanannya dengan Atsushi bakal berlanjut sampai ke rencana membuat ikatan sakral segala.

Satu villa musim panas milik keluarga yang cukup jauh dari pusat keramaian dijadikan lokasi untuk menggelar pesta. Hanya teman dekat yang mendapat invitasi—tanpa satupun orang tua. Ini berarti tidak akan ada larangan selama pesta berlangsung. Karena hingga matahari terbit di timur keesokan pagi, semua aturan ada dalam genggaman mereka.

Audii hitam Seijuurou terparkir mulus pada halaman luas villa. Ia mengenali Lexxus milik Daiki di antara barisan kendaraan di sana. Dan begitu memasuki bangunan utama, Seijuurou langsung disambut suasana temaram penuh warna-warni kilatan neon, juga bising seruan para undangan pesta. Wajah-wajah asing menginvasi penglihatan—sebagian menatap kagum, sisanya bertingkah bagai kucing liar disuguhi ikan segar.

(Memangnya apalagi yang dapat mereka lakukan, ketika bachelor paling diminati tiba-tiba muncul di arena pesta? Tentu saja menikmati pemandangan ini, selama tidak ada halangan menginterupsi...)

Seijuurou berjalan melewati tubuh-tubuh yang berdansa intim mengikuti lantunan mash-up lagu-lagu populer hasil racikan seorang dj tamu. Gelas-gelas berisi sangria atau punch berwarna cerah terus saja didistribusikan bersama tumpukan canape dan pastry. Mungkin setelah menyampaikan ucapan selamat sebagai basa-basi formal kepada Himuro, Seijuurou bakal meminta bartender agar membuatkannya segelas mojito dengan banyak potongan lime. Dan kalau tidak ada satupun yang menarik perhatian, ia akan angkat kaki dari sini lalu mencari kesenangan di tempat lain.

"Oi, lihat siapa ini? Tuan muda Akashi rupanya?! Konbanwa!"

Kalimat pura-pura terkejut tadi dilontarkan oleh Hayama Kotarou saat mereka berpapasan di depan counter bartender. Seijuurou kenal pemuda ceria berambut oranye ini lewat Mibuchi Reo—salah satu kawan dekatnya yang lain—pada satu waktu di masa lalu. Siapa sangka jika Kotarou ternyata masuk juga dalam daftar tamu pesta milik Atsushi dan Himuro. Yaah, Kyoto memang sekecil yang ia duga.

"Kau lihat Daiki?" Tidak ia hiraukan tatap 'memuja' yang tampak di mata gadis cantik dalam dekap Kotarou. Adalah kali pertama bagi sang gadis mendapati seorang Akashi Seijuurou dari jarak sedekat ini, dan mendadak hormon remajanya mengalir deras bak air bah tak terkendali.

Ringis maklum diberi, Kotarou tidak terlalu peduli juga jika pasangan dansanya malah sibuk mengagumi sosok Seijuurou. Karena..., hei, peristiwa semacam ini sudah sangat biasa terjadi. "Kalau Aomine, aku tadi melihatnya di teras samping bersama tuan rumah pesta. Mungkin dia masih ada di sana... kalau tidak ada, umhh... bisa jadi dia di lantai atas, kau tahu sendiri untuk apa, hehehe..."

Malam masih sangatlah dini, dan Daiki sudah membawa teman pestanya masuk kamar? Bisa jadi. Ini Aomine 'pervert' Daiki yang sedang mereka bicarakan by the way...

"Oke." Ia melambaikan tangan sekali sebagai bentuk rasa terima kasih, dan berniat meninggalkan Kotarou menuju teras samping villa. Sebuah pintu geser besar dari kaca dibiarkan separuh terbuka sebagai penghubung teras dengan ruang tengah..

Ibu jari teracung jadi balasan, Koutarou sempat berseru lantang di antara hentak musik dan riuh kerumunan. "Hey, Akashi-sama! Sebelum pulang, paling tidak kau harus minum segelas punch nanas atau mencicipi muffin mini mereka yang super duper yummy! Itu pasti dapat mencegahmu dari rasa bosan!"

Huh, apa katanya? Bosan?

Asal Koutarou tahu saja, bahwa malam ini bakal ada sesuatu yang dapat menghilangkan rasa bosan Seijuurou...

.

Suasana teras tidak sekacau keadaan di dalam. Musik masih terdengar—walau hanya samar, dan ternyata mereka asyik mengadakan pesta barbekyu di salah satu sudut dekat rimbunan perdu terawat. Jacuzzi besar penuh berisi air hangat menjadi pusat utama teras dengan pemandangan langit malam tanpa batas.

Tidak sulit untuk menemukan Atsushi, sekalipun pemuda bongsor itu hilang ditelan lautan manusia. Postur tubuh mirip raksasanya tak dapat mengelabui mata, dan kini dia duduk santai sembari memangku sang tunangan pada satu dari barisan kursi malas yang disusun mengelilingi jacuzzi.

Daiki bersama selusinan tamu begitu nikmat berendam—dan sepertinya dia sedang sibuk membual untuk menarik perhatian seorang pemuda pirang. Tubuh-tubuh nyaris telanjang berhimpitan dalam satu wadah, sementara celoteh tanpa makna terus saja mengalir ke udara.

Kaki-kaki Seijuurou hendak membawanya melangkah ke hadapan si tuan rumah pesta, namun kehadiran sepasang mata sanggup membuat ia berhenti sejenak.

Tatap itu terlalu sayang untuk diabaikan.

Bukan jenis yang selalu ia dapati ketika berhadapan langsung dengan orang lain di masa lampau. Tidak ada puja berlebih, atau dengki tersembunyi di sana. Mungkin pemilik tatap itu penasaran akan sosok Seijuurou, dan siapa sangka jika ia-pun berakhir sama.

Seijuurou berkedip sekali untuk menghilangkan trance sesaat yang barusan menyerangnya secara tiba-tiba. Ia melempar pandang penuh minat pada kulit mulus berbalut riak air hangat dalam kolam. Sepasang mata biru balik menatap tanpa gentar, jemari bergerak untuk meraih gelas bekaki tinggi dari dek kayu yang melingkari jacuzzi. Pemuda itu mengangkat gelas berisi mocktail berwarna merah terang miliknya seraya menelengkan kepala sebagai tanda salute pada Seijuurou. Terang-terangan memukul genderang perang dengan memancing perhatiannya walau ini adalah pertemuan pertama mereka.

Heh. Nyali kelinci mungil ini ternyata besar juga. Apa dia pura-pura tidak peduli pada berpasang mata lapar milik para serigala mesum pesta? Atau dia memang sengaja memasang sikap acuh tak acuh, agar dirinya terkesan diselubungi misteri?

"Oe, Aka-chin? Kau jadi datang..."

"Konbanwa, Akashi-kun..." senyum ramah ala anak-anak bangsawan terulas, Himuro berdiri dari duduknya untuk menyambut Seijuurou. Menyuruh Atsushi berdiri dan menyambut setiap tamu yang datang, sama saja seperti memerintah patung Moai agar mau berjalan. Pemuda bermarga Murasakibara itu sejak tadi tidak bisa berhenti mengunyah, dan dia jadi tambah malas kalau perutnya sudah terisi penuh oleh makanan.

Tas karton milik satu rumah mode populer yang sejak tadi dibawa, segera terulur tanpa aba-aba. "Selamat ulangtahun, ngomong-ngomong, pesta yang meriah..."

Himuro terkekeh geli. "Terima kasih banyak. Dan tanpa basa-basi, silakan nikmati pestanya..." ia balas menyodorkan sebotol bir dingin dalam genggaman tangan—yang sebelumnya diraih dari ice-box di sebelah Atsushi—ke arah Seijuurou.

"Kuharap aku bisa."

Himuro mengajak Seijuurou untuk duduk pada salah satu kursi malas di sekitar jacuzzi, dan sempat menyapa Fukui Kensuke yang larut mencumbu seorang pemuda tinggi dengan wajah mirip penerus keluarga besar triad Cina. Siapa tadi namanya? Wei Liu?

Atsushi kembali memangku Himuro, lalu mengecup sebelah bahu yang lolos dari lindungan kaus. "Kau datang sendiri?" Dia bertanya karena merasa heran dengan nihilnya sosok lain di sebelah Seijuurou. Biasanya sang Emperor datang dengan menggandeng seorang pemuda cute jika menghadiri pesta semacam ini.

Bukan, tentu bukan pacar apalagi tunangan. Hubungan yang Seijuurou bangun tidak lebih dari sekedar menuntaskan birahi. Kalau merasa klik akan dilanjutkan sampai ia merasa bosan, kalau tidak, maka semua harus diakhiri tanpa belas kasihan.

(Hal inilah yang jadi biang konflik antara ayah dan anak selama bertahun-tahun. Apalagi setelah usia matang menghantam, juga kewajiban untuk menghasilkan generasi penerus keluarga dibebankan pada kedua pundaknya—yang sama sekali belum siap menopang.)

"Ada yang salah kalau aku datang sendiri?" Dingin mulut botol mengenai bibir bawah Seijuurou, sebelum ia meneguk santai isinya.

"Hanya heran saja. Memang tidak boleh, Aka-chin?"

Gumam kekanakkan Atsushi hampir membuat ia terbahak. Sebegitu ajaibkah kalau ia hadir tanpa seseorang di sisi? Yang pasti setelah kabar mengenai geng sepermainan Himuro mampir ke telinga, Seijuurou malah jadi ingin mencoba peruntungannya.

Dan satu target sudah ia kunci, tinggal menunggu saja untuk dieksekusi.

Perlahan, Seijuurou mulai mengorek informasi. "Siapa yang sedang Daiki ajak bicara? Dia anak baru?" Wajah pemuda pirang itu tidak pernah ia lihat—begitupun dengan si kelinci manis di sebelahnya.

Himuro menoleh ke arah jacuzzi. "Maksudmu Kise-kun?" Tanyanya untuk lebih memastikan. Setelah yakin kalau sosok yang dimaksud Seijuurou adalah pemuda bernama Kise, Himuro kembali bicara. "Dia datang dari Tokyo. Kami mulai bersahabat setelah dikenalkan oleh Moriyama-kun beberapa tahun silam. Ah, Kuroko-kun juga, dia yang berambut biru muda..."

"Kuroko?" Entah kenapa, lidah Seijuurou serasa familiar begitu melafalkan nama tadi.

"Yap, Kise Ryouta dan Kuroko Tetsuya."

"Kuroko~Tetsuya." Nama tersebut diucap ulang tanpa sadar. Seijuurou bersandar pada punggung kursi, postur tubuh merileks sewaktu ia menatap lagi pada objek paling menarik hati di pesta yang baru ia datangi. Berbagai pemikiran langsung saja menyerbu kepala. Apakah pemuda itu tipe yang mudah untuk didekati? Apa tipe musik favoritnya? Bisakah seiris cake stroberi menerbitkan senyum di wajah Tetsuya? Atau, bagaimana jika ternyata dia lebih suka menerima sebuket besar rangkaian bunga?

Dan ada satu pemikiran paling penting yang terus saja mengganggu Seijuurou.

Apakah mereka akan kembali berjumpa begitu malam ini usai dan pagi hari tiba? Karena... kota tempat tinggal mereka cukup jauh berjarak, ditambah lagi Seijuurou sama sekali tidak mengenal siapa Tetsuya. Ini bisa jadi kendala, sebelum ia bisa mengobati rasa penasaran yang keburu melanda.

Herannya, dari berjuta gagasan yang melintas, tidak muncul satupun ide untuk lekas-lekas meniduri Tetsuya. Jangan tanya, ia sendiri merasa kebingungan dengan fenomena tak biasa ini. Apa satu teguk bir barusan telah menciptakan kabut di otaknya?

Senyum tipis mendadak terulas. Haah, Kuroko Tetsuya, kau memang benar-benar berbeda ya? Baru bertemu sekali tanpa sapa, dan kapal Seijuurou terpaksa terombang-ambing menghadapi badai dan lautan murka.

"Lihat itu, Aka-chin tengah merencanakan sesuatu." Sudut mata Atsushi menangkap senyum samar di bibir Seijuurou. Belasan tahun saling mengenal, dan dia semakin pintar membaca setiap ekspresi di wajah para sahabatnya. Hanya saja kali ini, tidak terpancar sedikitpun niatan buruk dari gestur sederhana barusan.

Alis Himuro naik sebelah, dia menoleh sebentar sebelum berbisik lambat. "Biarkan saja. Akashi-kun pasti tahu apa yang mesti dilakukannya..." seraya berkata begitu, jemari Himuro membelai lembut rambut Atsushi yang dibiarkan tumbuh memanjang. "Untuk malam ini, kau cukup fokuskan perhatianmu padaku saja, ya?" Ringis kecil keburu dibungkam oleh lumat gemas, dan satu derai tawa, lolos dari sesi ciuman penuh sayang mereka.

.

"Ayolah... kau hanya tinggal bilang setuju, dan kita berdua bisa segera merasakan surga!"

"Tidak, terima kasih." Ada jeda di sela kalimat tadi. "Bisa tinggalkan tempat ini sekarang? Aku ingin ganti pakaian."

"Kau tahu, sejak tadi aku sudah tidak sabar ingin mencumbumu..."

"Hentikan..."

Seijuurou baru selesai menggunakan toilet lantai atas ketika mendengar adu argumen yang bergaung di sepanjang koridor. Bukan urusannya jika mereka mau bersetubuh sampai besok pagi atau bagaimana, tapi kalau salah satu pihak berkeras menolak, itu jelas-jelas masuk dalam tindak pemerkosaan. Dan dia tidak bisa diam saja mendapati kriminalitas terjadi di depan mata.

Apalagi saat tahu bahwa Kuroko Tetsuya adalah korbannya.

"Cih, tingkah malu-malumu malah membuatku semakin bernafsu..."

Ia memutuskan bahwa ini adalah saat paling tepat untuk masuk dalam percakapan kedua orang di hadapannya. "Hey, he said no, so back off..."

"A-Akashi?!" Pemuda itu lekas menghentikan 'serangannya' pada Tetsuya, saat sadar siapa orang yang kini datang menghampiri mereka. "A-ada se-sesuatu yang kau, err, kau butuhkan?" Dia sangat terkejut mendapati seorang Akashi Seijuurou, mendadak hadir ketika dia tengah sibuk melancarkan goda pada incarannya. Dan, hei... kenapa Seijuurou jadi terlihat mirip karakter antagonis utama dalam film-film psikopat-gore? Sikap boleh saja serupa air tenang, namun tatap mata itu tidak dapat membohongi.

"Dia bersamaku, jadi cepatlah menyingkir."

Kalimat Seijuurou jelas sekali penuh intimidasi. Tanpa protes dan banyak bicara, pemuda berambut hitam tadi angkat tangan menyerah. Keringat dingin masih menuruni tengkuk sewaktu ia ambil langkah seribu meninggalkan lokasi. Lebih baik mengalah daripada lehernya patah. Lagipula masih banyak kucing binal-manis pesta yang bisa dia rayu dengan mudah.

Untuk beberapa waktu, tidak terjadi apapun selain hening dan samar musik up-beat dari lantai bawah. Mereka berdiri berhadapan di koridor lengang dengan deretan pintu besar berukir ornamen rumit.

"Kau juga menguntitku sampai kemari?" Meski kalimatnya berkesan sinis, tapi tak ada nada menghakimi di sana.

Dahi Seijuurou berkerut, satu dengus pelan hampir keluar disertai tatap tidak percaya. Menguntit? Yang benar saja! "Aku terlebih dahulu ada di sini. Jadi tuduhanmu tadi sama sekali tidak terbukti. Invalid." Tegasnya cepat.

Bibir Tetsuya mengerucut. "Well, maafkan aku, insting manusia kadang muncul terlebih dulu ketimbang akal sehat." Jubah mandi semakin dirapatkan saat tatap penuh minat jatuh pada lekuk tulang selangka tak tertutupi. "Aku hanya membela diri."

Kepala Seijuurou mengangguk tanda setuju. "Memang benar, tapi tidak semua orang dapat langsung kau cap sebagai kriminal." Kedua tangan segera bersedekap, lalu sebuah ide untuk menggoda Tetsuya mendadak lewat tanpa diminta. "Hei, bagaimana jika kukatakan, kalau aku sudah merencanakan ini semua dan memang benar-benar menguntitmu sampai kemari?" Tawa pelan meluncur ketika wajah pemuda di hadapannya berubah kesal.

Manusia mesum di mana-mana sama, tidak sia-sia Tetsuya curiga!

"Hei, tenanglah. Aku hanya bercanda, jangan berpikiran aneh."

"Justru setelah kau berkata begitu, aku malah jadi berpikir yang macam-macam."

"Berpikirlah yang positif kalau begitu," katanya seraya berbalik untuk meninggalkan tempat mereka berdiri. "Karena kalau boleh jujur, aku tertarik padamu."

Kau juga merasakan hal yang sama, bukan?

Dua pipi Tetsuya memanas dan tiba-tiba saja dipenuhi goresan merah muda. Mulutnya hendak terbuka demi melancarkan protes dan rasa tidak suka, namun ia urungkan. Bagaimanapun, pemuda asing ini telah menyelamatkannya dari keadaan kurang menyenangkan.

Sebelum Seijuurou benar-benar berlalu, ia mendengar ucapan sayup lepas ke udara. Walau tak diucapkan secara langsung kepadanya, Seijuurou dapat merasakan ketulusan tergambar di sana.

"Terima kasih."

.

Mereka dikenalkan secara formal saat semua berkumpul di ruang tengah. Di antara riuh tamu pesta dan hentak musik menggema, tangan keduanya saling berjabat untuk kali pertama. Setelah mengucap nama, Tetsuya bergegas duduk merapat di sebelah Ryouta, bak anak ayam mencari perlindungan induknya.

"Asal tahu saja, kalian tidak akan pernah mau terlibat masalah dengan Akashi Seijuurou-sama." Daiki berseru di depan kenalan baru. Walau sudah tahu konsekuensi dari ucapannya, tapi dia tidak ambil peduli. Para sahabat dekat hanya tertawa puas mendengar gurauan Daiki, jarang-jarang mereka dapat kesempatan untuk ikut menggoda si Akashi muda seperti ini.

Seijuurou hanya menimpali sekali. "Kaupun tidak lebih baik dariku Daiki, bercerminlah."

"Huh, suatu kehormatan kalau dapat bersanding dengan nama besarmu, aku benar-benar tersanjung..."

Tidak mau berkomentar lebih lanjut, Seijuurou membiarkan tubuhnya melesak pada empuk sofa dan menikmati siraman mojito membasahi kerongkongan. Posisi Tetsuya tepat di hadapan—terpisah oleh meja kopi besar dengan berjenis camilan terserak: ada berstoples kacang madu, mangkuk berisi butir-butir stroberi ranum, salmon canape, sampai tumpukkan pastry gurih-manis berkulit renyah mengilap. Hal ini jadi memudahkan Seijuurou untuk melakukan observasi.

Di depannya, Tetsuya duduk santai sambil bersilang kaki. Gelas yang menampung jungle juice penuh potongan buah ada dalam pegangan tangan. Sejak tadi ia hanya minum minuman berkadar alkohol rendah, karena teman seperjalanannya terus mengawasi dan tak bosan memberi peringatan tentang hal ini. Tetsuya tidak boleh meminum apapun yang mengandung alkohol berlebih, karena dia menjadi tanggung jawab Ryouta selama mereka ada di Kyoto. Kalau pemuda mungil ini kembali dalam keadaan kacau, bisa-bisa Ryouta kehilangan kepala di tangan keluarga besar Kuroko—terutama sang kakak laki-laki.

"Kudengar kalau Kazu-chan sedang dekat dengan seseorang, siapakah gerangan 'dia' yang sangat beruntung ini?" Izuki melanjutkan percakapan mereka, menargetkan Kazunari yang duduk di sebelahnya sebagai bahan gunjingan. "Apa dia Shintarou-kun, si sulung dari Keluarga Midorima?" Kekeh setengah mabuk dibalas gertak gusar dari yang bersangkutan.

"Ah, sayang sekali Midorima sedang ikut seminar di Fukuoka..." tambah Imayoshi tanpa dosa.

"Urusee! Mana mungkin aku dekat dengannya! Lebih baik gantung diri!" Gelas sangria berguncang hebat sewaktu Kazunari berteriak heboh demi menyangkal kalimat Izuki. Cipratan sari blackcurrant nyaris mengenai para hadirin yang menertawakan sikap malu-malu kucingnya tadi.

Himuro tertawa kecil melihat para sahabatnya bisa akrab dengan kelompok main Atsushi. Mereka belum pernah berkumpul dan berbincang santai semacam ini. Paling hanya berjumpa secara tidak sengaja atau sekedar berkenalan saling tukar nama. Pun saat Himuro menemani Atsushi untuk mengobrol bersama mereka di akhir pekan. Tidak ada percakapan mendalam. Cukup ramah-tamah formal, dan tiba-tiba saja waktu untuk berpisah sudah di depan mata.

Coba mengganti topik, Daiki bertanya pada kedua pendatang dari luar kota. "Sampai kapan kalian berada di Kyoto?"

Ryouta buru-buru menelan kunyahan snack dalam mulut, lalu menjawab. "Kami akan kembali pada Minggu pagi."

Wajah Daiki berubah sedikit kecewa. "Wha? Cepat sekali..."

Shuuzou yang baru saja sampai villa, lekas mendengus dari balik gelas berisi punch. Bisakah Daiki menunjukkan rasa tertariknya tanpa terlihat mencurigakan? Yang membuat heran, Ryouta seolah tak menanggapi berbagai umpan yang dilemparkan Daiki sejak awal perkenalan mereka. Padahal kentara sekali kalau si playboy ini tengah berusaha keras untuk membawa Ryouta masuk kamar lalu menindihnya di atas ranjang.

"Ah, kita bisa bertukar nomor ponsel dan akun sosial media."

Daiki menggaruk tengkuk pasrah. "Well, yeah... tentu saja."

Kecanggungan barusan terhenti oleh kemunculan Atsushi dan sebuah tart cantik penuh lilin menyala. Lagu berhenti, ritual tiup lilin seraya berharap adalah kegiatan berikutnya dari rangkaian acara pesta.

Lilin ditiup padam oleh Himuro, musik kembali menggema memenuhi ruangan dalam villa. Semua tamu bersorak gembira dan pesta kembali berlanjut—mungkin sampai fajar tiba.

"Ah, menyenangkan sekali... aku jadi ingin cepat menikah..."

Tetsuya mendengar Moriyama bergumam—kebetulan mereka bersebelahan. Meski tak bermaksud, namun ia dapat menangkap sedikit rasa iri dari kalimat tadi. Dipandanginya Atsushi dan Himuro yang tidak malu lagi memperlihatkan afeksi mereka di depan publik.

Kazunari terkikik geli. "Tapi Yoshi-chan 'kan tidak punya calon suami! Hahaha!"

Moriyama berniat memberi kepala Kazunari satu jitak penuh sayang, tapi ia punya balasan yang lebih baik dari itu. "Oh, ya. Aku lupa kalau kau sudah punya Midorima Shintarou-kun. Jadi... kapan kalian akan menyusul?"

"Ugh, kau bicara begitu lagi!"

Tetsuya hanya maklum mendengar kelakar mereka. Ia berteman dengan Ryouta, jadi... hal semacam ini sudah biasa baginya.

"Ayo melepas penat."

Kata penolakan nyaris keluar dari celah bibir, kalau saja ia tidak menyadari siapa orang yang telah berani melayangkan kalimat ajakan tadi. Bukan terdengar seperti ajakan—kalimat perintah, itu baru tepat.

Sepasang mata sejernih rubi berkilat pada keremangan tempat mereka berada. Pandangannya mengarah pada lantai dansa, dan mungkin inilah yang ia maksud dengan sesuatu untuk melepas penat. Wewangian woods yang maskulin segera saja menerpa saraf penciuman, dan jemari Tetsuya mendadak gatal ingin merasakan berada di antara helai-helai merah mahkota kepalanya.

(Tidak ada yang bisa menghentikan fantasi paling liar Tetsuya, sekalipun julukan malaikat diberikan oleh orang-orang di sekitar. Ia memang terlihat bagai sosok tanpa dosa bagi mereka. Tapi tak seorangpun tahu jika isi hati Tetsuya serupa gunung es yang bersembunyi di bawah permukaan air tenang.)

Ia tidak segera berdiri dari duduk nyamannya di sofa. Tetsuya memilih untuk mendongak, lalu menatap Seijuurou tepat di mata. "Aku tidak bisa." Ia bertingkah bagai nerd yang baru pertama kali masuk klub malam ternama. Sewaktu Tetsuya berkata begitu, Ryouta ternyata sudah diseret Daiki menuju kerumunan dansa, begitupun dengan temannya yang lain. "Kau tahu... kemungkinan besar aku hanya akan mempermalukanmu, dan diriku sendiri..."

Seijuurou masih memaku tatap, tak mau menyerah. "Kau bisa mengandalkanku." Ia berkata kemudian, "atau, kita bisa saling mengandalkan..." bahunya terangkat ringan sebagai tambahan. "Riwayatku juga cukup buruk di lantai dansa."

Dengus tidak percaya Tetsuya memutus jeda yang muncul sementara. Gelak pelan menjadi penanda kalau ia menyukai percakapan absurd mereka. Dan ia sadar kalau rasa penasaran yang sejak tadi menghantui, perlahan-lahan mulai terobati.

"Allright, let's we hit the dance floor..."

.

Mereka tidak pernah tahu bagaimana awalnya, hingga bisa berakhir seperti ini.

Kelebat neon masih mengiringi dentum bass house-music dan seruan nyaring orang-orang di sekitar. Namun yang tertangkap oleh retinanya hanyalah sosok malaikat dalam dekap, tanpa sayap atau halo bersinar di atas kepala.

Warna biru itu seindah pancaran nebula di gelap angkasa. Tatapnya seakan mampu mencari celah untuk menyelinap masuk dalam lengah pertahanan Seijuurou. Ia sangat menikmati setiap detik ketika lentik bulu mata menyentuh pipi semulus sutra. Atau ketika helai-helai rambutnya bergerak seirama gestur tubuh yang entah disengaja atau tidak, terlihat begitu menggoda.

Apa beberapa teguk alkohol tadi berhasil membuat kepalanya diselimuti kabut? Yang benar saja? Ia bukanlah seorang lightweight—Seijuurou sangat toleran pada alkohol, meski hanya minum-minum pada kesempatan tertentu. Secangkir kopi atau teh hitam lebih jadi pilihan utama untuk menemaninya menghabiskan hari.

Seijuurou yakin kalau pikirannya mencoba membelot dari keteraturan sistem, dan ia tahu persis siapakah orang yang mesti disalahkan atas fenomena langka ini.

Satu cengkram putus asa ia rasakan di tengkuk, sementara tubuh ramping di hadapannya semakin intim merapat. Jemari Seijuurou tanpa sadar ikut mengerat pada pinggul Tetsuya, membiarkan insting terliar mereka menguasai semua.

Musik penuh gairah terus memenuhi udara, lantai dansa seolah berubah wujud menjadi tempat paling berdosa di dunia. Tidak ada aturan di sini, mereka bebas mengekspresikan afeksi. Saling sentuh, rangkul, dekap, cium, remas... tidak peduli akan ramah-tamah formal, padahal mereka baru saja mengenal satu sama lain pada hari ini.

"Mau berhenti?" Seijuurou bertanya saat hidungnya membaui harum semanis vanilla bercampur peluh. Leher berhias choker hitam itu basah—mengilap akibat hasil ekskresi, sementara beberapa helai rambut Tetsuya menempel pada dahi dan sisi-sisi wajah.

Ralat, dia lebih mirip persilangan antara malaikat dengan inkubus—yaah... kalau keturunan dari jenis tersebut ada.

Kepala berambut biru mendongak lambat dengan senyum seduktif mengulas manis di bibir seranum persik. "Kenapa? Baru begini saja kau sudah kalah?" Tetsuya berbisik, deru napas meninggalkan aroma soda stroberi, dan tubuhnya semakin agresif menginvasi personal space milik Seijuurou.

Kekeh pelan jadi jawaban. Apa? Kalah katanya?

"Kau mabuk." Seijuurou mengucapkan kalimat barusan sejelas bunyi genta gereja di Minggu pagi. Mengabaikan pergantian lagu dan gerak dinamis kerumunan di sekeliling mereka, sebelah tangan Seijuurou terangkat untuk menelusuri rahang bawah Tetsuya sampai ke cuping telinga.

"Tidak," katanya terburu. "Aku tidak mabuk, dasar sok tahu..." tatap goyah segera beralih pada apapun kecuali mata Seijuurou.

Sikap menyangkal tadi membuat pertahanan terakhir Seijuurou kandas. Tubuh mereka tanpa jarak saat kedua tangan Seijuurou dengan ganas merengkuhnya. Gelombang panas menghempas, keinginan untuk saling menyentuh sudah tak bisa lagi mereka hindari. Seijuurou benar-benar ada di luar kendali. "Katakan, apa yang kau mau?" Bisik serak gantian ia ucapkan begitu dahi dan dahi menyatu, bibir hanya berjarak satuan mili dengan sorot mata yang berusaha menelanjangi.

Musik seolah memudar dari pendengaran Seijuurou, sewaktu kalimat berlapis ragu terlontar dari mulut Tetsuya kemudian.

"Ayo cari tempat untuk bersembunyi..."

.

Blazer Seijuurou berhasil dilucuti saat pintu di belakang mereka tertutup. Kaus hitam tanpa lengan menyusul sedetik kemudian, teronggok di atas parket kayu. "Kau sadar dengan apa yang akan terjadi setelah ini?" Seijuurou tidak mengindahkan tatap kagum Tetsuya pada tubuhnya. "Masih ada waktu untuk mundur sebelum terlambat." Langkah mereka berhenti dekat kaki ranjang besar berkanopi pada salah satu kamar di lantai atas villa.

Tetsuya mendesis tidak suka. "Jangan mengguruiku seolah aku bocah kecil yang tak mengerti masalah orang dewasa..."

"Dengan penampilanmu, kau terlihat seperti salah satunya."

"Kuharap yang tadi itu pujian."

Seijuurou tertawa pelan melihat kelebatan rasa gugup di balik kepercayaan diri yang sengaja dibesar-besarkan. Ia bisa menilai mana orang yang belum, atau sudah berpengalaman. Dan menilik dari bahasa tubuh Tetsuya, jelas sekali kalau dia ini murni masih perawan. Mungkin dia sering bermain solo, tapi tetap saja tidak pernah terlibat kegiatan seksual secara langsung dengan orang lain.

Seijuurou never did it with a virgin.

Ia selalu menganggap kalau mereka membosankan, tidak bisa diajak bermain-main karena kurang pengalaman. Tapi mungkin asumsinya akan terpatahkan pada hari ini, karena ia keburu tertarik pada sosok Tetsuya, jauh sebelum niat menidurinya terlintas di kepala.

Lagipula ini bakal terjadi hanya sekali. Setelah one night stand berlalu, mereka akan menjadi orang asing keesokan hari. Kecuali jika Seijuurou meyakinkan hati untuk mengenal lebih dekat seorang Kuroko Tetsuya, dan begitupun sebaliknya.

"Aku pakai toiletnya dulu..." gumam pelan Tetsuya membuyarkan perhatian Seijuurou dari keranjang fancy berisi kotak-kotak alat kontrasepsi dan lubrikan di atas meja sebelah ranjang. Baik sekali Himuro dan Atsushi masih mau mengingatkan orang lain untuk melakukan safe-sex.

Satu yang bertuliskan vanilla flavor dengan ukuran terpanjang dan diameter paling besar diraih. Ia cuma berharap Tetsuya tidak kabur begitu bertemu dengan his so not little brother-nya nanti.

Ketika Tetsuya selesai dengan urusan kamar mandi, Seijuurou—yang bertelanjang dada—tengah fokus pada ponsel dalam genggaman. Lelaki tampan itu menatap tajam. "Kutanya sekali lagi, kita masih bisa berhenti sebelum kau menyesali ini..."

Memilih untuk tidak banyak bicara, tindakan pemuda mungil di hadapannya cukup menjadi jawaban. Pakaian yang melekat satu persatu dilepas. Kulit mulus serta kemolekan tubuh Tetsuya sempat membuat tenggorokan Seijuurou kesulitan menelan saliva. Puting dan areola-nya benar-benar merah muda, dengan pubis tipis yang tumbuh rapi di antara kedua belah paha. Seijuurou seperti menyaksikan langsung penampakan bidadari hendak membasuh diri di telaga berair sebening kaca.

"Suka dengan apa yang kau lihat?"

Delusi untuk melakukan hal-hal berating dewasa dengan tubuh itu mendadak buyar oleh pertanyaan retoris barusan. Bak singa menuruti kemauan pawangnya, kepala Seijuurou mengangguk secepat kilat.

Hell yeah, tentu saja ia bakal berkata iya...

Badan ranjang berderit di bawah tekanan beban. Senyum Seijuurou terus saja mengembang saat sang lawan melakukan serangan pertama. Ciuman Tetsuya tidak berteknik, mereka sepolos sapuan mahkota bunga atau gula-gula kapas di bibirnya. Tapi entah bagaimana, hal itu sanggup membuat gairah Seijuurou meradang sampai ke ubun-ubun kepala.

Jagat raya serasa bergerak lambat menuju mereka. Kilasan empat musim membentuk pusaran tanpa henti di sekitar; rimbun batang-batang sakura, silau mentari merajai pesisir pantai, lembaran momiji terhalau angin, sampai butiran bunga salju yang perlahan jatuh ke bumi.

Tanpa meminta persetujuan Tetsuya, ia memperdalam ciuman mereka.

Semoga... yaah, semoga ini bukan akhir dari persimpangan takdir keduanya.

.

Seijuurou merasa kalau ia baru saja mengalami resureksi.

Setelah orgasme pertama, tubuhnya mendadak malfungsi akibat gelombang ekstasi yang terus-terusan menyerang. Entah sumpah serapah macam apa yang keluar dari mulutnya, Seijuurou tidak peduli. Yang pasti, akibat kepuasan luar biasa tadi, ia seolah-olah mengalami kematian lalu dilahirkan kembali ke bumi.

"Ngghh..."

Terengah, ia segera menyadari keadaan mereka. "Ah, sorry, aku akan keluar sekarang..."

Meski tenaganya nyaris terkuras habis, Seijuurou tetap berusaha untuk tidak menyakiti Tetsuya yang masih terhubung dengannya di bawah sana. Beruntung karet pengaman super tipis ini tidak sampai tergesek robek karena menghadapi lubang super ketat milik Tetsuya.

"Auhh, ahh, ahh..."

Pemuda manis itu mengaduh dengan dahi berkerut dan bibir bawah tergigit. Penampilannya sangat kacau: tubuh mengilat akibat keringat, rambut kusut masai, bibir bengkak, ditambah luberan semen yang mengenai perut bawah sampai ke dada.

Berdeham untuk mengembalikan suara, ia takut-takut bertanya. "Ti-tidak berdarah 'kan?" Wajah Tetsuya pias oleh ngeri berlebihan mengingat rasa sakit di bokongnya yang ternyata cukup lumayan juga.

Seijuurou hampir terbahak mendengar gumam lemah itu, tapi ia bergegas menuruti keinginan Tetsuya yang menyuruhnya untuk melakukan pengecekan. Dirinya bertahan sekuat tenaga untuk tidak melakukan ronde kedua, ketika mendapati otot-otot anal di depan mata melakukan manuver membuka-menutup didiringi decakan basah akibat sisa lubrikan.

"Tidak. Kau baik-baik saja..."

"Huuffh, yokatta..."

Butir air hangat menggenang di sudut-sudut mata, bisa jadi karena lega—atau bisa jadi karena penyesalan, saat sadar kalau ia dengan sukarela telah memberikan virginitas-nya pada seseorang yang baru saja dikenal.

"Maaf kalau aku agak kasar tadi..." tangan Seijuurou terjulur untuk mengusap rambut biru muda. "Biar kubantu kau membersihkan diri."

Tetsuya menggeleng, wajah disembunyikan pada permukaan halus bantal. "Aku bisa sendiri." Posisi lalu berubah menyamping—fetal position, demi menghindari tatap Seijuurou pada tubuh telanjangnya.

Nah, kenapa Tetsuya malah terlihat seperti anak kecil yang berakhir ngambek karena keinginannya tidak dituruti?

"Atau kau mau ke kamar mandi?"

Tetsuya kembali menggeleng, helai-helai rambut yang terserak begitu kontras dengan warna putih kain pembungkus bantal. Gumam pelan inkoheren terus diberikan sebagai bentuk rajukan.

Seijuurou menyerah. Belum pernah ia menaruh rasa khawatir berlebih pada partner-nya usai mereka bersetubuh. Melihat Tetsuya bersikap begini, malah membuat ia diselimuti perasaan bersalah.

"Oke." Ia berkata seraya bangkit dari ranjang. "Aku ke toilet dulu. Katakan padaku kalau kau butuh sesuatu nanti..."

Seijuurou masih sempat memberi Tetsuya satu tatap sangsi, sebelum benar-benar berlalu dari hadapannya.

.

TBC~

.

.

1. Birds of a feather flock together: orang-orang yang memiliki kemiripan, cenderung berkumpul bersama atau membentuk kelompok sendiri.

.

A/N: Hola! Part 2 sudah muncul! (tebar konfeti) Maafkeun karena update-nya sungguh lama... *susut ingus. Buat chapter ini sambil puter lagu-lagu macam Into you-nya Ariana, atau Pillowtalk punya Zayn, cocok lah, hehe... Dan entah kenapa, saya suka banget bikin Sei jadi the knight in shining armor-nya Tetsu (terus malah jadi bertanya-tanya pada diri sendiri.)

Chapter depan adalah bagian akhir, semoga bisa segera diselesaikan! Terima kasih buat yang sudah membaca dan meninggalkan review, saya sangat bahagiaaa~ hahaha... Hasta la vista en ciao!