Pair: AkaKuro, MuraHimu, etc
Warn: OC, OOC, yaoi, typos, language, overdose-romance, possibly m-preg, etc...
Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi
.
When love feels like magic, you call it destiny.
When destiny has a sense of humor, you call it serendipity.
.
.
Entah dosa besar apa yang pernah Tetsuya buat di masa lalu, sehingga Tuhan tega sekali menghukumnya dengan menempatkan ia pada situasi sulit semacam ini.
Tidak, Tetsuya tidak tengah terjebak dalam pulau penuh dinosaurus karnivor yang bebas berkeliaran akibat listrik padam. Ia bukan salah satu peserta dari serangkaian permainan gila milik seorang psikopat demi kunci menuju jalan keluar. Oh, satu lagi, ia juga tidak sedang mengalami hipotermia karena kapal pesiar mewah yang ia tumpangi hampir karam akibat menabrak gunung es.
Ini bahkan lebih buruk daripada skenario film thriller atau tragedi!
Berawal dari perkataan sang ibu yang tiba-tiba saja mengajak Tetsuya ke Kyoto demi menemani perjalanan bisnis ayahnya, ia sama sekali tidak menaruh curiga. Ah, sebenarnya sedikit curiga, kenapa juga mesti Tetsuya yang diminta untuk turut serta? Bukankah biasanya Chihiro yang selalu setia di sisi setiap kali beliau ada pertemuan di luar kota?
(Dan kenapa harus Kyoto? Asal tahu saja kalau Tetsuya punya satu pengalaman yang 'lumayan absurd' di sana...)
Firasat tidak enak terus saja menghantui ketika langkah kakinya kembali menapaki tanah Kyoto, berbulan-bulan sejak peristiwa memalukan itu terjadi. Berbagai pemikiran negatif terus saja membayangi, seperti... bagaimana kalau ia ternyata mesti berselisih jalan dengan orang itu lagi di antara banyaknya warga penghuni kota?
Mungkinkah? Bisa saja. Karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini...
Tetsuya terus berpikir begitu pada hari kesatu ia menemani Keiko menjelajahi distrik Gion dan menyaksikan atraksi geiko di depan mata. Atau saat mereka menikmati hidangan omakase dalam sebuah restoran michelin berbintang tiga di pusat kota. Pikirannya terus saja berkhianat dengan memutar kembali memori tentang laki-laki pertama yang tidur bersama dengannya. Yeah, tidur bersama dan melakukan hal-hal dewasa semisal menyerahkan 'keperawanan' tanpa pikir panjang secara sukarela...
Ck, bodoh sekali dia...
Wajah Tetsuya panas memerah, dan Keiko mengira jika putra bungsunya mendadak terkena demam setelah seharian lelah berkeliling kota. Tidak ada satupun yang tahu tentang kejadian tersebut, kecuali Tuhan, Tetsuya dan dia. Tetsuya menyimpan rapat-rapat aib itu dari mata dunia, bahkan Ryouta—yang jelas-jelas ada bersamanya di tempat kejadian perkara.
Momen dimana teman tidurnya menggunakan toilet guna membersihkan tubuh, Tetsuya secepat kilat memanfaatkan oportunitas tersebut untuk melarikan diri. Ya, Tuhan! Jangan biarkan dia keluar toilet sebelum Tetsuya kabur dari sini! Pakaian dikenakan asal sewaktu ia tertatih menuruni anak-anak tangga akibat deraan rasa nyeri.
Sakit perut dijadikan sembarang alasan sewaktu Ryouta bertanya mengapa Tetsuya bersikeras kembali ke hotel mereka secepat mungkin, padahal pesta belum usai. Seraya menahan sakit di bokong dan pinggang, ia melakukan transaksi lewat ponsel untuk memesan jasa taksi. Ryouta mengekor di belakangnya, juga pemuda bertubuh besar dengan rambut biru tua—yang tidak berhenti membujuk Ryouta untuk tetap tinggal bersama mereka. Ketika isak Tetsuya jadi jawaban atas pertanyaan lain, tanpa banyak bicara, si pirang yang panik segera ikut pulang ke hotel bersamanya. Ryouta dengan polos mengira jika Tetsuya kebanyakan mengonsumsi alkohol hingga berakhir seperti ini.
Sampai di penginapan, Tetsuya disuruh berendam air hangat. Ryouta bahkan mau repot-repot membelikan bubur dan obat, diiringi gumam khawatir mengenai keselamatan dirinya dari petuah—ancaman Chihiro sebelum mereka berangkat ke Kyoto.
Tersenyum tipis, Tetsuya hanya berkata kalau ia baik-baik saja, besok pasti sembuh seperti sedia kala. Ryouta terus menyuarakan kekhawatirannya, sebelum akhirnya pulas tertidur pada salah satu ranjang dalam kamar twin bed mereka.
Sebaliknya, mata Tetsuya tidak mau terpejam sekeras apapun ia berusaha. Otaknya macet. Ingin menangisi nasib, tapi tidak bisa. Yang membuat heran adalah tidak ada penyesalan atau tangis pilu atas kejadian tadi. Kalau pakai pengaman, dijamin ia tidak bakal hamil 'kan? Hati Tetsuya malah berdebar liar oleh deras adrenalin, begitu kelebatan tubuh adonis menyerang ingatan. Bagaimana kecup manis dan bisik serupa lelehan madu membuat ia nyaris lumpuh bagai terkena bisa ular.
Pengalaman seks pertama membuat Tetsuya giddy. Ia penasaran, oke? Bagaimana rasanya disentuh secara intim oleh orang lain—yang menarik perhatiannya sejak awal mereka berjumpa. Dan apa yang ia baca dan lihat sungguh sangat jauh berbeda dari realita. Sakit di awal, nikmat kemudian, dan berakhir jauh lebih sakit lagi. Tapi Tetsuya suka. Duh, ia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikirannya sendiri. Mereka jelas-jelas berkhianat dan mengubah Tetsuya jadi idiot dalam waktu sekejap.
Harapan agar peristiwa tadi terlupa sungguh tidak semudah membalik telapak tangan. Ia malah terus kepikiran, bahkan saat mimpi mulai merayu Tetsuya untuk terlelap dengan segera.
.
Akashi Seijuurou.
Tetsuya tahu nama itu dari Kazunari. Dia putra tunggal seorang pengusaha bisnis pariwisata yang jaringannya tersebar hampir di seluruh negara. Sedari kecil sudah brilian, apalagi didukung wajah menarik dan penampilan yang memanjakan mata para pengamat di sekitar. Sering dijadikan bahan gosip oleh kaum sosialita dan pebisnis tanpa pandang gender atau usia. Mungkin karena status relationship-nya yang selalu saja menarik perhatian. Rumor mengatakan bahwa dia memiliki satu hobi aneh yang tak lazim untuk orang kebanyakan: berganti pasangan baginya sudah seperti berganti pakaian.
Kazunari berkata kalau dia percaya-percaya saja jika Seijuurou berbuat demikian. Kebanyakan anggota kelompok main tunangan Himuro punya catatan sejarah panjang dalam hal membina hubungan. Dengan kata lain, mereka adalah para kasanova cinta. Mungkin mereka brengsek, tapi dimaafkan karena tampan dan kaya.
Huh, yang benar saja!? Alasan macam apa itu?
Tapi hal tersebut tidak mengurangi performa Seijuurou sebagai pewaris utama dari bisnis sang ayah. Pemuda itu adalah pekerja keras dan seseorang yang kompeten di bidangnya. Well, yeah... kecuali untuk urusan asmara. Dan para mantan pasangan Seijuurou tidak pernah mengeluh atau sampai menuntut ini-itu akibat putus hubungan dengannya. Tidak ada satupun yang dapat menerka apa alasan di balik tindakan Seijuurou, tapi Kazunari berpendapat kalau dia bertingkah begitu demi menghindari stress di usia muda.
Yep. Cara menghindari stress yang sangat ajaib memang.
Salahkan rasa penasaran dan tindakan impulsif Tetsuya ketika mata mereka bertatap pada pertemuan pertama. Ada sesuatu yang mengganggunya untuk mencari tahu tentang pemuda berambut merah itu. Dan saat takdir memberi ia peluang, Tetsuya tahu kalau ini adalah sekarang atau tidak sama sekali... istilahnya yolo—you only live once—man...
Begitulah, semua terjadi dalam sekedipan mata.
Beruntung Seijuurou tidak memburu keberadaannya untuk meminta responsibilitas atas malam penuh dosa mereka. Ha, Tetsuya kelewat percaya diri sekali... Mana mungkin Seijuurou memikirkan masalah sepele macam begini, dia akan dengan mudah mencari orang lain untuk menghangatkan ranjangnya keesokan hari.
Dan di saat ia ingin melupakan pengalaman penuh nikmat—err, dosa itu—sekembalinya ia pada kehidupan semula, kejadian tidak terduga malah membuat Tetsuya serasa ditampar oleh kilas balik tepat di muka.
.
"Memang, kita akan bertemu dengan siapa?" Tetsuya bertanya saat mereka bertiga menyusuri lobi hotel menuju restoran tempat diadakannya pertemuan. Ayahnya berjalan di depan, sementara sang ibu menggamit lengan Tetsuya sebagai pegangan.
Keiko menoleh heran. "Ibu belum bilang padamu, ya?" Gelengan Tetsuya dibalas satu senyum maklum. "Seorang teman lama ayah, kau mungkin tidak ingat sudah pernah bertemu dengan beliau sebelumnya..."
"Entahlah, siapa memang?"
"Paman Akashi, Akashi Masaomi..."
Setelah mendengar kalimat Keiko barusan, perut Tetsuya tiba-tiba saja mulas tak terkira. Akashi?! Dari sekian banyak manusia, kenapa harus nama itu yang keluar dari mulut ibunya?! Tenang dulu, mungkin itu adalah Akashi yang lain, ada banyak marga semacam itu 'kan di Kyoto? Selagi menenangkan diri, Tetsuya merutuk dalam hati.
Seharusnya lebih dulu ia bertanya dengan siapa mereka akan bersua. Kalau sudah begini, kepalang tanggung sekali kalau harus mencari-cari alasan kosong demi menghindari pertemuan. Lagipula, kalaupun Paman Akashi adalah benar ayah dari Seijuurou—ini kemungkinan terburuknya—beliau tidak akan mengenali Tetsuya 'kan? Semoga saja ia ada di bawah naungan Dewi Fortuna, paling tidak sampai selesainya temu kangen para orang tua.
.
Nyatanya harapan hanyalah harapan.
Benang tipis yang dijadikan tambatan terpaksa putus, sewaktu ia melihat sosok Seijuurou melangkah masuk melewati pintu geser private room Mizuki. Sangat tampan, begitu regal, dikelilingi pikapika, dan berhasil membuat Tetsuya terpana untuk kali kedua. Mulutnya mungkin membuka dan menutup cepat bagai ikan diangkat dari air akibat terkejut setengah mati.
Buru-buru ia tundukkan kepala untuk menghindari kontak mata di antara mereka. Demi Tuhan! Dari sekian banyak peluang, dan apa yang paling tidak Tetsuya harapkan malah terjadi?! Sungguh ironi!
Jantungnya memompa darah terlalu cepat, dan ia serasa mendengar dentuman meriam di kedua telinga. Telapak tangan Tetsuya mulai basah oleh keringat, sementara ujung-ujung jemari kakinya mendingin bak sosis beku dalam freezer. Gejala demam tiba-tiba saja Tetsuya alami dalam waktu singkat, begitu sadar siapa Akashi lain yang mesti ia hadapi.
"Tetsuya-kun, ayo..." dirasakannya sentuhan lembut Keiko, isyarat agar Tetsuya jangan diam saja dan segera memperkenalkan diri.
Saat wajahnya terangkat, detik itu juga ia sangat ingin menggali lubang, kemudian mengubur diri di sana. Tolong katakan kalau ini hanya mimpi buruk di siang hari, karena Tetsuya ingin bangun secepatnya dan mengakhiri ini!
Seringai itu masih sama, dia seolah mengejek Tetsuya sewaktu tangan mereka berjabat erat. Tubuhnya kembali tergelitik oleh sengatan listrik imajiner akibat kontak fisik sederhana barusan.
Duh, ia ingin pingsan.
"Tetsuya-kun agak pemalu, maklumi saja ya..." Keiko tertawa kecil melihat interaksi kedua pemuda, wanita itu benar-benar clueless dengan apa yang sudah terjadi di antara mereka.
Seijuurou tersenyum hangat—pura-pura mengerti. "Ah, tentu, tidak apa-apa."
"Mereka berkomunikasi ala anak muda, para orangtua cukup jadi audiens dari jauh saja..." kalimat Masaomi disambut tawa, namun hanya Tetsuya yang pasang wajah bagai tengah menderita konstipasi. "Kalau begitu, mari kita mulai saja makan siangnya." Mood Masaomi benar-benar terangkat setelah kehadiran tidak terduga Seijuurou, juga setelah melihat sendiri bagaimana reaksi tertarik sang anak terhadap calon pilihannya.
Laki-laki tua itu tersenyum puas. Masaomi sejujurnya merasa bersalah karena selama ini dia selalu mencampuri urusan pribadi Seijuurou. Sekali saja, ia berharap kalau usahanya kali ini tidak berakhir sia-sia.
.
Makan siang berhasil dilewati dengan canggung oleh Tetsuya. Lidahnya bak kehilangan kemampuan untuk mengecap rasa. Berbagai hidangan mulai dari appetizer sampai dessert terasa hambar di mulut. Ia hanya mengangguk-angguk memberi atensi ketika Keiko memuji sup scallop dan taro dalam salah satu menu yang tersaji.
Tetsuya lebih banyak diam atau tersenyum simpul sebagai bentuk apresiasi, malah Seijuurou yang berulang kali aktif menanggapi ucapan orang tua mereka. Sang Akashi muda terkesan senang melihatnya menderita tekanan batin seperti ini. Ekspresi puas Seijuurou seakan-akan mencemooh, dan membuat ia gatal ingin melemparkan wadah berisi potongan cantaloupe segar tepat ke wajahnya.
Saat alasan ke kamar mandi sudah matang direncanakan demi menghindar sementara, suara bersemangat Keiko memutuskan untuk menyela pikiran Tetsuya.
"Oh, ya... bukankah ada butik kue Pierre Herme di sini?"
Kalimat Seijuurou menjawab tanya Keiko, bahkan sebelum Tetsuya sempat berkomentar. "Ya, posisi mereka ada di dekat lobby lounge. Mereka juga menyediakan bakery untuk sarapan..." Ia pernah mengunjungi butik kue tersebut setelah menghabiskan satu malam di Ritz, dan teman tidurnya merajuk ingin makan macaron keesokan pagi.
"Tetsuya-kun suka sekali macaron mereka 'kan?" Seraya mengusap sudut mulutnya dengan serbet, Keiko menatap penuh arti pada kedua pemuda. "Nah, coba lihat-lihat ke sana bersama Seijuurou-kun, sekaligus tolong ibu memesan satu lusin untuk take away..."
Tetsuya hampir menyemburkan protes atas kalimat sang ibu, tapi keburu dipotong lagi.
"Jangan lupa yang matcha dan wijen hitam, ibu suka sekali filling-nya..."
Apa baru saja Tetsuya diberi kedip jenaka oleh ibunya sendiri? Dan apa-apaan itu senyum puas dari Seijuurou? Buyar sudah rencana 'permisi ke toilet' milik Tetsuya!
.
"Aku tidak menyangka jika kita bertemu lagi dalam keadaan seperti ini. Kebetulan yang sangat aneh sekali, huh?" Seijuurou buka suara sewaktu mereka sampai di lokasi. Bermacam pastry cantik aneka bentuk dan warna terpajang dalam etalase kaca. Aroma manis di sekitar mereka membuat Tetsuya lupa akan realita, buru-buru ia menatap sengit pada pemuda di sebelahnya.
"Kalau tahu akan begini, aku seharusnya menolak ajakan ibu sejak awal..."
Bukannya tersinggung, Seijuurou malah tertawa kecil. "Awalnya-pun begitu, kukira ayah kembali mengadakan permainan kecil mengenai perjodohan untuk membuatku jera. Di luar perkiraan, kolega ayah ternyata adalah orangtuamu." Mata mereka sekilas bertemu. "Aku lega."
Bibir Tetsuya mengerucut, jantungnya membuat lompatan-lompatan aneh lagi dalam kurungan rusuk. Kenapa Seijuurou berkata begitu? Dia bertingkah seolah malam penuh dosa mereka adalah hal biasa. Apa mungkin karena dia punya segudang pengalaman, sedangkan Tetsuya masih awam? Apa hanya ia yang terus kepikiran sampai-sampai membuatnya tidak nafsu makan?
"Setelah kepergian mendadak Tetsuya malam itu, aku mengira jika kau tidak menyukai apa yang telah terjadi di antara kita." Seijuurou berucap pelan, matanya meneliti barisan kue dengan seksama. "Padahal aku masih ingin berbincang akan banyak hal denganmu."
Telinga dan pipi Tetsuya memanas. "Kau pa-pasti bohong 'kan...?"
"Setelah kau cap sebagai kriminal, ternyata aku juga pendusta, begitu menurutmu? Katakan, apa saja yang sudah mereka ceritakan kepadamu mengenai diriku, hmm?"
Tetsuya segera mengalihkan wajah, seraya mengucapkan kata 'sabar' berulang kali bagaikan mantra. Kemudian ia mendengar Seijuurou membuat pesanan dua kotak berisi masing-masing selusin macaron dengan ketentuan pilihan kustomer sendiri.
"Pilih mana yang kau dan ibumu sukai, lalu kita minum teh sebentar di lounge. Aku tidak menerima kata 'tidak', by the way. "
Kening Tetsuya mengerut dalam. Coba saja kalau pemuda seusianya masih boleh merajuk di depan publik, kaki-kakinya pasti sudah menghentak kesal dan menyebabkan keributan.
"Tapi nanti ibu mencari~"
Seijuurou membungkukkan tubuh ke arah Tetsuya, lalu berbisik. "Tidakkah kau melihat bahagia tergambar di mata mereka atas pertemuan ini? Atau kau lebih suka kalau aku membeberkan peristiwa yang terjadi di antara kita saat pesta Himuro tempo lalu?" Sebenarnya Seijuurou merasa agak bersalah karena harus memakai gertak untuk membuat Tetsuya menurut, walaupun ia niatnya hanya bercanda. "Memoriku menghapal dengan baik setiap detilnya, bagaimana kau menggeliat dan mendesa~"
"O-oke mister, berhenti sampai situ!" Tanpa sadar, kedua tangan Tetsuya terjulur untuk menutupi mulut Seijuurou. Tiga pengunjung di sekitar mereka menoleh atas kejadian barusan, namun tidak terlalu ambil pusing dan kembali pada urusan semula. "Kita ada di ruang publik, demi Tuhan! Jaga ucapanmu, tolong..."
Terkekeh, pemuda yang lebih tinggi menggenggam sebelah pergelangan tangan Tetsuya. "Kalau begitu kita setuju untuk bicara."
"Meanie, pakai ancaman agar aku setuju, ck..."
"Kutambah pakai tarte vanille dan eclair cokelat, bagaimana?"
"Ba-baiklah, setuju."
.
Setelah satu teko teh dan berpiring pastry cantik tersaji, pembicaraan canggung mereka kembali terjadi. Ah, mungkin hanya Tetsuya saja yang merasa begitu, karena Seijuurou terlihat santai sewaktu menyesap teh dari cangkir porselennya.
"Aku akan bertanya perihal kasual dulu. Jadi, bagaimana kabarmu, Tetsuya?"
"Baik." Fokusnya terbagi dua saat menjawab tanya tadi, dan liur Tetsuya keburu terbit karena memandangi aneka pastry dan irisan tart di atas meja. Begitu mendapat angguk mempersilakan dari Seijuurou, ia segera meraih satu macaron dengan cangkang merah muda dan isian rasa ispahan. Gumam penuh ekstasi lepas secara spontan, sewaktu paduan krim mawar, butir-butir raspberi, dan potongan leci lumer di dalam mulutnya. Mereka baru saja selesai makan siang dan perut Tetsuya ternyata masih punya sisa ruang untuk menampung kue-kue manis ini. Ha, sungguh luar biasa.
Selagi mata Seijuurou asyik mengamati wajah 'orgasme oleh kelezatan kue' milik Tetsuya, ia kembali bertanya. "Kedua, apa alasanmu pergi setelah kita selesai bercinta? Kau tidak suka, atau kau ternyata sudah punya kekasih, dan merasa bersalah atas perbuatanmu? Atau jangan-jangan kau hamil lalu aborsi?"
Tetsuya sukses tersedak. Ia menggapai cangkir teh, lalu meneguk secara terburu untuk melegakan kerongkongan. Didengarnya Seijuurou terkekeh geli.
"Jadi benar, kau sudah punya kekasih?"
"Tentu saja tidak!" Dahinya berkerut dalam. "Aku juga tidak hamil, apalagi sampai melakukan aborsi!" Balas Tetsuya secepat kereta peluru. "Dan tolong jangan bicara mengenai hal tabu seringan membicarakan cuaca..." jemarinya kini sedikit lengket oleh remah manis macaron yang tersisa.
"Oke. Jadi alasanmu adalah..."
Ada jeda panjang sebelum Tetsuya meneruskan kalimat Seijuurou. "Aku panik, oke?" Ia berbisik seraya menoleh ke kanan dan ke kiri. "Akashi-kun dan aku~"
"Panggil aku Seijuurou. Akashi-kun terlalu formal karena kita sudah mengenal terlalu dalam."
Bola matanya berputar malas begitu mendengar alasan murah keluar dari mulut Seijuurou. "Yaah, karena Seijuurou-kun dan aku baru pertama kali bertemu! Kita tidak seharusnya berbuat begitu 'kan? Aku yakin kalau alkohol menjadi penyebab utama tindakan impulsifku malam itu..." padahal Tetsuya tahu kalau hal tersebut bukanlah alasan yang tepat. Ia sangat sadar saat rasa tertarik mulai menguasai diri, dan saat bibirnya mengucap kata setuju untuk tidur bersama Seijuurou. Kedua mata Tetsuya lalu menatap nanar pada motif kain linen penutup meja. "Maafkan aku."
"Kau menyesal?"
Kali ini Tetsuya tidak menjawab. Ia hanya diam, lalu membersihkan tangannya dengan serbet. Benak Tetsuya berkata kalau tidak ada penyesalan atas peristiwa intim yang melibatkan mereka malam itu di pesta Himuro. Jujur, walaupun merasa berdosa, tapi ia tidak menyesalinya.
Telinga cangkir diusap pelan oleh ibujari Seijuurou. "Kalau begitu jangan minta maaf." Mata mereka dibiarkan bertatap. "Kalau kau membenci kejadian tersebut, katakan padaku sekarang, dan aku akan menjelaskan pada ayah kalau usahanya gagal lagi kali ini..."
Seijuurou bilang apa? Siapa yang bilang kalau Tetsuya benci kejadian malam itu? Kenapa dia selalu saja menyimpulkan sesuatu dengan seenak hati? Tatap Tetsuya goyah, matanya hampir berkaca-kaca sewaktu mendengar kalimat tadi. Kalau Seijuurou mengatakan pada ayahnya bahwa ia tidak menyukai Tetsuya, berarti hari ini harus menjadi pertemuan terakhir mereka?
Kenapa ia mendadak tidak rela?
"Huh? Tapi a-aku tidak..."
Satu piring kecil berisi tart vanilla berhias taburan cokelat halus, disodorkan ke hadapan Tetsuya. "Maaf." Seijuurou menghela napas. "Tapi Tetsuya harus tahu kalau ayah tengah dalam misi untuk membuatku menikah dan membentuk keluarga." Tak tega, ia menggunakan serbet bersih untuk mengusap sudut-sudut mata sang lawan bicara. "Kalau misalkan aku setuju untuk menikah tapi dirimu tidak, ini akan jadi masalah besar ke depannya."
Mata Tetsuya mengerjap lucu. "Ha? Seijuurou-kun pasti bercanda..." Rumor yang diceritakan Kazunari kembali bergaung di kepala. "Bukankah kau tidak mau, maksudku, bukankah Seijuurou-kun tidak suka terikat?" Ia hanya tidak mengerti dengan maksud 'setuju untuk menikah' dari kalimat Seijuurou barusan.
"Kau dengar rumor itu dari siapa?" Tubuh Seijuurou bersandar pada punggung kursi. "Kalau mereka mengatakan aku playboy brengsek, itu semua salah. Kalau mereka mengatakan aku tidak mau terkekang oleh kewajiban untuk menghasilkan generasi penerus bagi keluarga Akashi, mereka baru benar." Kedua tangannya lalu bersedekap di depan dada.
Tetsuya kembali mengerjapkan mata, ia seakan jadi kesulitan mencerna kata-kata.
"Mereka tidak tahu masalah internal dalam keluarga kami." Ada segaris luka pada tatap Seijuurou. "Pribadiku dan ayah sama. Kami tidak mau mengalah, dan selalu memegang teguh prinsip masing-masing." Di balik penampilan yang superior, entah bagaimana, ia kini terlihat bagai bocah kecil yang tersesat di antara rak-rak tinggi dalam supermarket. "Membentuk keluarga adalah hal serius dan harus dipertimbangkan secara matang, tapi beliau ingin menghancurkan prinsip yang selama ini kupegang."
Sebenarnya Tetsuya tidak mengerti mengapa Seijuurou mau menceritakan hal pribadi semacam ini kepadanya, tapi ia akan berusaha menjadi pendengar yang baik, meskipun tidak sampai memberikan solusi.
"Aku selalu mengatakan, 'tolong jangan campuri urusanku, sampai kutemukan orang yang tepat,' berulang kali, agar beliau mengerti... tapi sepertinya percuma."
Ketika Seijuurou hendak meraih cangkir teh, ia merasakan satu usap lembut di punggung tangannya. Tetsuya diam saja, bahkan saat tatap Seijuurou seolah mempertanyakan apa makna di balik gestur barusan.
Tangannya buru-buru ditarik kembali. "Ehm, menilik dari cerita Seijuurou-kun, aku rasa paman sebenarnya memiliki niat bersih atas perbuatan beliau..." Tersuya salah tingkah oleh tindakan tanpa pikir panjang tadi, sementara dalam hati ia merutuk diri sendiri. "Terkadang, komunikasi diperlukan agar tidak ada salah paham... Um, kalau api memang tidak bisa dilawan dengan api, kenapa tidak coba jadi extinguisher saja untuk memadamkan kobar yang sudah keburu menyebar?"
Wajah bingung Seijuurou tidak banyak membantu Tetsuya untuk menjelaskan filosofi asal melintas miliknya.
"Aku dan kakak laki-lakiku memiliki sifat hampir serupa. Saat aku dan nii-san berselisih, salah satu di antara kami pasti ada yang berkepala dingin untuk mengajak bicara empat mata. Ayah dan ibu selalu mengajari kami untuk menyelesaikan salah paham agar tidak jadi masalah yang berkepanjangan." Senyum Tetsuya mengulas semanis tart di atas piring porselen. "Jadi, walaupun masih kesal setengah mati pada Chihiro-nii, aku menguatkan hati untuk membicarakan masalah kami sampai tuntas. Yaah, begitupun sebaliknya..." kalimat panjang itu ditutup oleh garukan ragu di tengkuk.
Seijuurou coba menahan diri agar tidak menyemburkan tawa. "Hee, Tetsuya sedang berusaha menasehatiku, ya?" Ia tidak menyangka jika mereka akhirnya malah jadi bertukar pikiran mengenai kehidupan masing-masing. Rasa canggung di antara mereka sirna. Tanpa diminta, mulut Seijuurou lancar bercerita, seakan keduanya adalah kawan sedari lama yang baru bertemu dan bertukar kisah penuh nostalgia.
Kening Tetsuya mengerut, gigitan terakhir macaron mengiringi bicaranya. "Aku hanya menceritakan pengalamanku, kalau Seijuurou-kun menafsirkannya seperti itu, yaah... terserah saja." Kali ini tart menggiurkan diiris menggunakan garpu. Satu suapan kembali membuat wajah Tetsuya bagai terbang ke surga.
Mata Seijuurou fokus mengamati earl grey dalam cangkir yang isinya tertinggal setengah. Sudah banyak orang yang silih berganti memberi ia nasehat ini dan itu, namun mendengar cara Tetsuya menyampaikan mereka, hati Seijuurou mendadak tergerak dengan sendirinya.
Lagi-lagi ada suatu perasaan yang tak dapat digambarkan, terlalu berlebihan, dan membuat ia tak tahan untuk terus mengulas senyum. Tuhan mungkin sedang berbaik hati pada Seijuurou, hingga mereka dipertemukan kembali dalam berbagai kebetulan tak terduga. Atau mungkin saja Tetsuya adalah ganjaran final atas segala tindakan masa lampaunya—well, siapa juga yang bakal menolak jika diberi akhir kisah yang bahagia...
Seijuurou tentu saja tidak akan melepaskannya.
"Sudah tak canggung lagi padaku 'kan?"
Aksi melahap sisa pastry Tetsuya terhenti, saat sadar kalau kini ia tengah serius dipandangi. "Menurut Seijuurou-kun?"
"Kita sepertinya sudah oke."
Tetsuya mengangguk tanda setuju. "Oke."
"Jadi Tetsuya setuju dengan tawaranku tadi?"
"Tawaran yang mana?"
Seijuurou mencondongkan tubuhnya ke arah si pemuda berambut biru. Ia lalu berbisik dengan wajah serius. "Tawaran untuk menikah denganku."
"Hee?"
Doakan saja Tetsuya selamat dari acara tersedak untuk kali keduanya hari ini.
.
.
"Ini buket bungamu, Tetsuya-cchi!" Ryouta muncul di ambang pintu ruang rias pada satu hari di awal musim semi. Satu buket mawar putih dan baby's breath, diserahkan untuk Tetsuya. "Dan ini..." dengan cekatan, pemuda pirang itu menyematkan boutonniere dari jenis bunga yang sama, di saku atas jasnya.
"Sudah siap semua? Ayo, acara akan segera dimulai..." Moriyama menyusul kemudian, dan memerintahkan keduanya untuk turun ke bawah.
Para undangan sudah hadir di kebun belakang. Kursi-kursi kayu berhias pita satin, rapi bersusun di kanan-kiri jalan setapak menuju altar berkanopi dengan dekorasi penuh bunga.
Lagu pengiring pernikahan mengalun, kelopak bunga ditabur, dan jantung Tetsuya segera saja membuat letupan bagai riuh mesin popcorn. Seijuurou berdiri gagah di altar bersama para sahabatnya dan seorang pendeta. Ketika ia menoleh ke belakang, tatap mereka langsung saja berjumpa. Akashi muda itu terlihat sangat tampan—seperti biasa—dalam balutan tuxedo dan rambut yang tertata sleek.
Prosesi mengucap sumpah di hadapan pendeta berjalan lancar, dan ketika keduanya resmi disahkan, Atsushi tidak segan lagi untuk mengecup Himuro di hadapan para hadirin. Tepuk tangan dan siulan heboh mengiringi, saat tubuh Himuro dibopong berputar-putar oleh Atsushi, sementara senyum bahagia terus terpulas di wajah mereka.
"Kalian tahu?" Izuki berujar sewaktu para pendamping mempelai berkumpul menikmati hidangan pesta dan sampanye bernaung rimbun pepohonan di kebun belakang. "Awalnya Murasakibara ingin buket bunga mereka menggunakan donat dan cokelat. Kalian bisa bayangkan itu?"
"Che, ciri khas Murasakibara sekali." Daiki mendengus geli. "Kita mungkin bakal menggunakan kostum makanan kalau itu benar-benar terjadi, hahaha..." dia tertawa ketika bayangan teman-temannya berkostum ala karakter makanan melintas di kepala. Seijuurou jadi jalapeno, Shintarou cocok jadi wortel, dan Ryouta pakai kostum paha ayam—well, karena dia memang terlihat menggiurkan...
Tetsuya ikut tertawa mendengar kalimat barusan. Selagi Shintarou memprotes khayalan absurd dalam otak Daiki—namun dia dan Kazunari malah berakhir dijadikan bulan-bulanan massa—pandangan Tetsuya jatuh pada Seijuurou. Mereka duduk bersebelahan dan tengah menghabiskan menu penutup dari perjamuan makan.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" Sampanye diteguk elegan, sementara Seijuurou bertanya pada pemuda yang sejak tadi tidak berhenti memperhatikannya.
Sendok puding segera diletakkan, Tetsuya hanya menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa." Bibir maju beberapa mili, sementara jantungnya lagi-lagi berulah di luar perintah. Makhluk macam Akashi Seijuurou memang seharusnya tidak boleh dibiarkan bebas berkeliaran. Dia bisa membuat manusia berhati lemah macam Tetsuya terkena serangan jantung di usia muda.
Alis Seijuurou terangkat. Baginya, mudah sekali untuk membaca bahasa tubuh Tetsuya. Ia menunduk, kemudian berbisik serak. "Tetsuya yakin?" Satu senyum puas mengembang ketika mendapati rona merah muda segar memenuhi kedua pipi.
Walau mereka terpisah oleh jarak kota tempat tinggal masing-masing, namun kemajuan teknologi sangat membantu membangun hubungan di antara keduanya. Aplikasi chat dan video call hampir setiap saat digunakan hanya untuk sekadar menanyakan kabar atau kegiatan harian. Jika ada waktu luang, mereka akan bergantian mengunjungi kediaman masing-masing dan menghabiskan hari bersama.
"Ah..." mendadak Seijuurou teringat akan sesuatu. Jemarinya meraih sejumput rambut biru muda, lalu menyelipkannya di belakang telinga. Ia segera berbisik lagi, kali ini penuh arti. "Menyaksikan mereka pasti membuat galau Tetsuya. Tapi... bersabarlah sebentar, tunggu sampai margamu berganti bulan depan, ya?" Pelipis si pemuda kemudian dikecup penuh sayang olehnya.
Kalimat tadi sempat dicerna lambat. Saat sadar kalau ia sebenarnya tengah digoda, Tetsuya menjawab dengan sedikit tergeragap. "A-apa? Dasar Seijuurou-kun menyebalkan...!"
Kilau lingkaran platinum berhias sebutir berlian di jari manis Tetsuya adalah pengikat di antara mereka. Petualangan Seijuurou mencari pendamping hidup ternyata berakhir pada sosok yang tidak pernah ia duga. Semuanya berjalan mulus seakan sudah matang terencana.
"Hei, hei! Aku tahu kalau bulan depan kalian akan menyusul pasangan Murasakibara! Tapi jangan PDA sembarangan begitu!" Seruan ketus Daiki membuat seluruh perhatian terfokus pada mereka. "Ck, membuat iri saja!" Gumam pelan terakhir tadi, cukup hanya dia dan Tuhan yang tahu.
Bukannya menjaga jarak, Seijuurou malah dengan berani mendaratkan satu kecup basah di bibir Tetsuya, kemudian disusul dengan ciuman lain yang lebih panas. Untung saja meja para orangtua lumayan jauh dari posisi mereka, kalau tidak, ceramah panjang pasti bakalan bergema dengan segera.
Sebagian hadirin pasang sikap maklum, sebagian lagi menahan hasrat untuk tidak mengamuk dan membalikkan meja secara bar-bar.
Protes Tetsuya perlahan pudar, tubuh dan jiwanya melumer bak keju terkena panas akibat aksi Seijuurou barusan. Tidak ada yang dapat menghalangi jika mereka sudah bersama. Dunia hanya milik berdua, manusia lain silakan jadi pengontrak saja...
"Malu, Seijuurou-kun..."
"Tidak perlu. Kan mereka sudah tahu, kalau Tetsuya adalah milikku."
Dan selanjutnya, sudah bisa dipastikan kalau kehebohan kedua kembali melanda meja tempat dimana mereka berada.
.
.
FIN
.
.
Hola, ketemu lagi di bagian akhir dari fic satu ini—tamat yaa... Terima kasih banyak buat yang sudah memberi apresiasi pada cerita saya yang sederhana en kadang plot-nya seringan gula-gula kapas, hahaha... Happy ending pokoknya mah!
Ps: omake ada di bawah.
Oh ya, maaf atas keterlambatannya karena sebulan kemarin saya harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjaga ibu (jadi curhat). Tapi setelah perjuangan keras beliau selama hampir sebulan, ibu saya akhirnya berpulang. *huks T.T*
Sempet sih ada rasa sakit dan penyesalan. Tapi setelah badai reda, saya berpikir... mungkin Tuhan lebih sayang sama beliau dan tidak mau membuatnya lebih lama menderita.
And i'm glad that i knew her—i knew you as a mother and as a good friend... RIP my beloved mom, sleep tight, until we meet again...
Sekali lagi maaf ya, en sampai bertemu lagi di fic lain, ciao!
.
.
Omake
.
Tetsuya kecil tidak punya banyak teman. Mereka mungkin dapat dihitung dengan jari, itupun termasuk Ryouta dan Ogiwara yang merupakan teman terdekatnya di lingkungan sekolah. Di rumah, paling-paling ia hanya bermain dengan Chihiro dan Maron—anjing pom jantan berbulu coklat lembut peliharaan Keiko.
Jadi, berada di tengah kerumunan orang asing, di tempat yang juga sama-sama asing, membuat dirinya merasa canggung luar biasa. Rumah kenalan sang ayah ada di luar kota, dan mereka diundang kemari untuk menghadiri acara makan malam 'masih' dalam rangka perayaan Natal bersama. Chihiro tidak ikut—beruntung sekali kakaknya itu—karena dia ada di rumah nenek mereka di Nagano selama libur musim dingin berlangsung. Alhasil, Tetsuya mesti rela ikut serta, walau dengan konsekuensi bakal kesepian selama berada di sana...
Berulang kali Keiko membuat Tetsuya agar mau berinteraksi dengan anak lain dalam ruangan, namun malah berakhir sia-sia. Sewaktu ibunya lengah karena berbincang dengan istri para rekanan bisnis sang suami, Tetsuya akan hilang dari pengawasan, lalu memilih untuk menyendiri di balik sofa besar dekat pohon terang penuh ornamen natal. Di sana ia menemukan satu set puzzle sederhana, setumpuk buku cerita bergambar, dan dua teddy bear besar yang melebihi tingginya. Jemari Tetsuya baru meraih kepingan puzzle terakhir, saat sesuatu yang berbulu tiba-tiba saja menggelitik geli di wajah.
"Woof!"
"Eh?"
Seekor shiba inu dengan hiasan kepala berupa headband berwujud tanduk rusa muncul di sebelah Tetsuya. Tanpa peringatan, sang anjing besar menggigit puzzle dalam genggamannya, kemudian kabur secepat kilat sebelum ia sempat berkata apa-apa. Bocah enam tahun itu baru menyadari kalau kepingan puzzle terakhirnya telah dicuri. Ia buru-buru bangkit dan mulai mengikuti kemana langkah shiba inu itu menuju.
"Tu-tunggu dulu, inu-san...!"
"Momo, berhenti!"
Langkah Tetsuya ikut berhenti begitu mendengar seruan tadi. Ia melihat keping puzzle yang dicuri tergeletak begitu saja, karena sang anjing mendadak sibuk melahap segenggam biskuit berbentuk tulang yang disodorkan oleh seorang anak laki-laki di hadapan.
"Jangan lakukan hal seperti tadi lagi, mengerti?!"
Hanya salakan nyaring jadi jawaban, sementara Tetsuya meraih kepingan puzzle-nya dari lantai.
"Uhmm, terima kasih..."
Anak laki-laki berambut merah berusia sebaya itu mendongak. Ia diam sejenak ketika mendapati Tetsuya berdiri dengan wajah memelas di depannya. Sebuah dasi kupu-kupu putih tersemat pada kerah setelan kemeja yang dikenakan, membuat ia menjelma bak pangeran cilik dari keluarga kekaisaran.
"Sama-sama." Tengkuk anjing bernama Momo diusap halus. "Hari ini dia memang lumayan nakal... benar 'kan Momo-chan? Ayo minta maaf karena sudah berbuat salah..." kedua pipi gembul berbulu lalu diuleni setengah gemas.
Tetsuya hampir mengulurkan tangan untuk bergabung melakukan hal serupa, namun ia menahan keinginannya. "Dia anjingmu? Maksudku, apa dia tinggal di rumah ini?"
Mata mirip bongkahan rubi miliknya berbinar. "Ya, tentu saja dia tinggal bersama kami. Bahkan dia sudah ada sebelum aku lahir, itu yang ibuku katakan..."
Tetsuya mengerjap bingung, memangnya usia anjing bisa lebih tua dari manusia? Kalau benar, jangan-jangan usia Maron sudah melampaui Chihiro ataupun Tetsuya!
"Mau menyentuh Momo-chan? Kalau sudah kenal, dia akan bersikap baik padamu."
Ragu, tangan Tetsuya terjulur. Ia kemudian menyentuh kepala Momo dengan napas tertahan di tenggorokan. "Dia baik ya, seperti Maron-kun, anjing milik ibu..." satu senyum polos terbit di wajah manis, dan Tetsuya tidak tahu kalau anak yang baru ia temui itu kini tengah menatap penuh rasa tertarik padanya.
"Ehm, ah iya... mereka akan bersikap baik jika kita bersikap sama."
Keduanya berdiri bersisian pada ambang pintu pembatas ruang perjamuan dengan koridor panjang yang tersiram cahaya barisan lampu. Percakapan para orang dewasa masih ramai terdengar. Beberapa anak asyik bercengkrama pada satu sudut penuh mainan, sisanya sibuk berkejaran dengan wajah coreng moreng karena krim kue.
Tetapi saat ini, seperti tidak ada apapun di sekitar kecuali presensi mereka. Semua seolah larut menjadi kerlip hangat lilin dan senandung lagu rohani penyejuk hati.
"Oh, aku baru ingat." Anak lelaki tersebut berhenti memandangi Tetsuya. "Miho-san baru saja selesai memanggang kue kering di dapur. Kau tahu? Mereka paling enak kalau dimakan dengan olesan selai atau secangkir susu madu. Ayo~" pergelangan tangan diraih penuh semangat, si anak laki-laki berniat menyeretnya pergi dari situ dengan segera.
Kepala Tetsuya meneleng tidak mengerti. Ia baru mengenal bocah ini dan sama sekali belum mengetahui namanya. Tapi kenapa dia bersikap santai bahkan berani mengajaknya makan kue segala? Tetsuya benar-benar bingung, namun tidak sanggup untuk menolak.
"Tetsuya-kun, akhirnya ketemu!"
"Lho, Seijuurou-kun, Momo-chan ada bersamamu?"
Mendengar nama mereka disebut bersamaan, sontak membuat keduanya menengadah karena terkejut.
"He-eh, Shiori-san?!"
"Ah, Kuroko Keiko-san?"
Para ibu malah saling menyapa, setelah sadar kalau mereka ternyata melakukan hal yang serupa terhadap putra masing-masing.
"Syukurlah, kau sudah mendapat teman..., ibu kira Tetsuya tersasar dan lupa jalan pulang..."
"Bukankah Seijuurou-kun bilang tidak mau bermain dengan yang lain, karena itu merepotkan, huum?"
Tangan Tetsuya digenggam semakin erat. "Aku hanya menolongnya dari kenakalan Momo!"
Shiori meringis senang, ia kembali ingin mengomentari tingkah putra semata wayangnya, namun diurungkan setelah menyadari sesuatu. "Hei, coba lihat, kau tahu apa artinya itu Seijuurou-kun?"
Perhatian mereka beralih pada bagian atas ambang pintu yang ditunjuk Shiori. Sebentuk hiasan daun yang terikat pita merah bergantung tanpa dosa di sana.
"O-oh, itu 'kan..." Keiko menutupi mulutnya dengan kedua tangan, namun senyum geli mau tak mau terukir juga.
Untuk sesaat, mereka melihat kepanikan tergambar di mata Seijuurou kecil. Dan Shiori sudah memprediksi kalau dia bakalan menolak mentah-mentah ucapan sang ibu mengenai mitos seputar mistletoe.
Tetsuya yang sejak tadi hanya jadi pengamat, mendadak kaget oleh aksi Seijuurou berikutnya. Tubuh lebih mungil direngkuh, lalu sebuah kecup clumsy mendarat laksana serangan listrik pikachu di bibirnya.
"Lihat, sudah 'kan?!" Setelah berkata begitu, Seijuurou segera berlari meninggalkan mereka, dengan Momo yang mengekor patuh di belakangnya. Huh, bukankah tadi dia mau mengajak Tetsuya makan kue? Kenapa sekarang malah ditinggal sendiri?
Kedua ibu yang sempat menahan napas karena menyaksikan aksi spontan Seijuurou, kini gantian coba menenangkan Tetsuya. Si bocah berambut biru sedikit kecewa karena kepergian Seijuurou yang membatalkan janjinya untuk makan kue bersama.
"Maafkan tingkah anakku, Keiko-san..." Shiori mengusap pipi Tetsuya penuh rasa bersalah.
"Nah, tidak perlu." Keiko tersenyum ramah. Tubuh terbalut sweater kebesaran milik Tetsuya digendong, sementara pipinya dikecup sayang. "Seijuurou-kun adalah anak yang manis, benar Tetsuya?"
Si bocah masih terlalu shock untuk memberi respon. Wajah dilesakkan malu pada bahu ibunya.
Shiori balas tersenyum. "Aha! Di dapur ada kue-kue kering yang baru matang terpanggang, bagaimana kalau kita ke sana untuk makan kue ditemani secangkir susu madu? Tetsuya-kun mau?"
Mata Tetsuya langsung berbinar cerah begitu mendengar ajakan Shiori. "Ma-mau!" Angguk bersemangat jadi jawaban atas tanya sang pemilik rumah. Setidaknya ada pelipur hati setelah kejadian tidak terduga di antara dia dan anak berambut merah tadi.
.
.
