"Yeol, kau sungguh mencintaiku?" Chanyeol yang tadinya menyesap kopi mengalihkan perhatiannya pada namja kecil di depannya. Ia terlihat lucu ketika sebuah topi rajutan berbentuk sapi mengiasi kepalanya.

"Tentu saja, kau tidak perluh meragukanku. Park Chanyeol sangat mencintai Byun Baekhyun" jawabnya sambil melebih-lebihkan ekpresinya. Baekhyun yang melihatnya mau tak mau tersenyum atas tingkah kekasihnya.

Ya, mereka telah resmi berkencan sekarang. Sudah berjalan dua bulan.

Masa yang sulit ketika Chanyeol melakukan pendekatan, hingga butuh waktu tiga bulan ia mencoba meyakinkan Baekhyun kalau ia sungguh mencintainya. Dan semua itu tidak sia-sia, sekarang secara resmi ia dapat berteriak pada dunia kalau Baekhyun adalah kekasihnya. Dan juga mereka tengah melanjutkan studinya di sebuah kampus elit di kota. Sama-sama mengambil musik.Tak perluh diragukan lagi, itulah bakat mereka.

"Ketika aku pergi, apa kau tetap mencintaiku?" Chanyeol sedikit mengernyit mendengarnya.

"Iya, tentu saja" Jawabnya yakin.

"Ah, syukurlah" kernyitan Chanyeol semakin dalam.

"Tapi ingat, walaupun kau sangat mencintaiku, kau tidak boleh terlalu larut dalam kepergianku. Jalani hidupmu seperti sebelum kau bertemu denganku".

"Kenapa kau berkata seperti itu sayang?" akhirnya Chanyeol mempertanyakan keganjalannya.

"Aku akan pergi" nyatanya ekspresi Baekhyun yang tenang tidak membuatnya menghentikan deguban jantungnya.

"Kemana?" tanyanya lirih.

"Jepang, kakakku akan segera menikah di sana. Mungkin aku pergi sekitar dua bulan, kakek ingin semua cucunya berkumpul dan mengadakan liburan keluarga. Beliau ingin berjalan-jalan keliling Eropa ditemani anak dan cucunya. Pasti seru sekali, aku akan bertemu dengan sepupuku yang jauh-jauh. Sebenarnya aku ingin mengajakmu.Tapi kata kakek 'tidak ada pacar'" omel Baekhyun sambil menirukan perkatakan kakeknya di akhir kalimat.

"Mmm.. Yeol, tidak apa-apa kan aku tidak mengajakmu?" cicit Baekhyun yang tak kunjung mendengar jawaban Chanyeol. Chanyeol pun tersenyum.

"Tentu saja sayang, aku fikir kau akan pergi kemana, aku takut kau meninggalkanku. Tapi tidak apa jika itu untuk kakekmu. Mungkin kakekmu butuh prime time dengan anak cucunya. Oh, haruskah aku sebut dia 'kakekku'? Bukankah kalau kita menikah ia akan jadi kakekku?" Baekhyun refleks mencubit perut Chanyeol yang dibalas gelitikan oleh laki-laki tinggi itu. Sehingga acara gelitik itu terus berlanjut membuat decak kagum pengunjung kafe lain melihat romantisnya pasangan sekarang.

Diluar, hujan terus turun dengan derasnya. Baekhyun yang kecapekan menyeruput susu strawberrynya dan menghadap ke Jendela.

"Kau tahu Yeol? Aku benci hujan" gumamnya.

"Aku tahu, kau tidak suka dingin?" jawabnya ragu. Baekhyun terkekeh.

"Sebebarnya, aku membenci hujan karena membuatku terus mencintainya" jawabnya sambil terus melihat jendela.

"Apa maksud dari semua itu?"

"Dengarkan Yeol, dengarkan suara hujan" Baekhyun mulai menutup matanya.

"Yang kudengar hanya suara orang berlarian karena kehujanan" lagi-lagi Baekhyun terkekeh mendengar jawaban polos kekasihnya, 'tidak romantis sekali' pikirnya.

"Dengarkan suaranya yang jatuh ketika menyentuh tanah. Yang kau dengar selanjutnya adalah nada. Nada yang indah sekali Yeol, nada buatan alam, seolah langit begitu merindukan bumi, dan sedang merayakan pertemuan kembali mereka melalui hujan, melalui nada hujan itu" serunya.

Chanyeol mencoba menutup matanya,

"Aku tak bisa mendengarnya" Baekhyun membuka matanya dan tak tahan mencubit pipi kekasihnya.

"Baiklah mari hentikan pembahasan soal hujan ini, aku harus berbicara banyak padamu. Kau akan meninggalkanku selama sebulan, darimana aku akan mendapatkan energi kalau kau pergi?. Kau tidak kasihan padaku Baek? Kenapa kakekmu kejam sekali?" Lalu pembicaraan hujan itu benar-benar pergi, bersamaan hujan yang juga mulai reda, meninggalakan langit dan bumi yang masih belum cukup menyampaikan rindunya.

*

Sudah dua bulan,tak ada kabar dari Baekhyun. Nomor telfonnya mati,rumahnya kosong, e-mailnya tidak dibalas. Berkali-kali Chanyeol bertanya pada sahabat Baekhyun, namun mereka juga tidak tahu. Kyungsoo pun mengaku tidak tahu dimana sahabatnya berada.

Chanyeol khawatir, ia berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada kekasihnya. Semoga memang kakek Baekhyun mencoba mengundur perjalanan keliling Eropa itu. Dan Baekhyun terlalu senang bertemu sepupunya sampai membuatnya lupa jika ia masih memiliki kekasih yang harus dikabari. Setidaknya itu lebih baik daripada memikirkan yang tidak-tidak tentang kekasihnya.

*

Empat bulan dan Chanyeol mencoba menunggu. Ia bahkan tak pantas disebut Chanyeol lagi, ia seperti mayat hidup sekarang. Tubunya mengurus dan terkesan acak-acakan. Tidak ada lagi beangkat ke kampus. Yang ada hanya Chanyeol yang mengurung diri di apartemennya.

Tentu saja hal itu membuat Kai khawatir , bahkan ia memutuskan pindah ke apartemen sahabatnya untuk membantu Chanyeol. Padahal jarak apartemen Chanyeol dengan kampusnya lumayan jauh. Harus berganti empat bus kota yang membuatnya terbangun lebih awal dipagi hari jika tidak ingin telat. Melelahakan, tapi bagaimana lagi?. Demi sahabat popoknya.

*

"Berhentilah berharap Chan, sudah sembilan bulan dan kau masih mengharapkannya?" Kai merengek lagi. Sudah sejak dulu ia seperti ini, tapi Chanyeol yang menyebalkan itu hanya diam. Dan bahkan ia mencuti kuliahnya.

"Jangan bodoh, mungikin ia tidak mencintaimu dan sudah menemukan bule tampan Eropa" Chanyeol menggeram dan menutup matanya. Tangannya terkepal kuat dan urat mulai terlihat di lehernya.

"A-Aku Be-Berangka-kat" Kai yang ketakutan berlari menuju pintu, sedikit tersandung karena aura gelap sahabat popo- lupakan, Chanyeol yang sekarang menakutkan baginya.

Setelah pintu tertutup, Chanyeol mulai rileks, ia membuka matanya dan menatap pigura yang berisi fotonya dengan seorang namja manis yang terlihat lucu. Bibirnya dipout kan dan kedua jarinya membentuk huruf V.Chanyeol mengambilnya,dan membuangnya ke lantai.

"Aku memang bodoh"

*

Chanyeol memainkan gitarnya, jarinya ibarat masterpiece memetik senar yang ada. Senarnya bertahutan dan mengalunkan nada indah yang rumit. Membuat beberapa orang berdecak kagum. Disampingnya seorang namja cantik bermata rusa bernyanyi dengan suara merdunya.

Alunan nada itu terhenti, tepuk tangan bentuk penghormatan diterimanya. Keduanya menekuk tubuhnya hingga sembilan puluh derajat. Setelahnya keduanya menuruni panggung. Tangan namja cantik itu mengait lengan namja yang lebih tinggi.

"Chan, ini luar biasa, aku tidak pernah tampil di depan panggung besar seperti ini. Terimakasih"

"Untuk apa berterimakasih sayang? Sudah seharusnya, kau itu pacarku" ucapnya sambil menelus surai pirang kekasihnya.

"Apakah aku mengganggu keromantisan kalian?" Chanyeol mencium bau yang sangat familiar, bau strawberry, hangat, manis dan nyaman. Bau yang sudah satu tahun ini hilang dari penciumannya.

"Permisi,perkenalkan aku Byun Baekhyun" ucapnya sambil menjabat namja berambut pirang itu.

"Aku Xi Luhan"jawabnya ramah.

"Jadi kau pacar Chanyeol?" Chanyeol entah kenapa hanya diam, tertegun atas kehadiran sosok yang lama ditunggunya.

"Iya, aku pacar Chanyeol, kalau boleh tahu, anda siapa?" tanya Luhan sambil tersipu, bangga jika pacarnya adalah Chanyeol si berbakat.

"Aku..." Baekhyun melirik Chanyeol "Teman lama" jawabnya akhirnya. Sementara Chanyeol hanya diam.

"Yeol, aku fikir kita butuh bicara" kini Baekhyun menatap Chanyeol.

"Tidak, aku sibuk" Chanyeol menggenggam tangan Luhan dan menyeretnya pergi, sedangkan Luhan menurut saja sambil kebingungan.

"Kumohon" langkahnya terhenti. Suara itu terdengar lemah, lirih dan putus asa. Entah kenapa rasa sakit menghampiri dadanya. Seolah tak membiarkan jika namja manis itu mengatakannya.

*

"Berikan aku kesempatan untuk menjelaskannya"

"Cepat jelaskan"

"Aku butuh satu harimu,hanya 24 jam milikmu"

"Itu diluar perjanjian tuan,hanya jelaskan alasanmu meninggalkanku"

"Kumohon,tidak lebih,aku butuh satu harimu"

"Tidak,Aku masih memiliki janji dengan pacarku untuk kencan"

Tiba-tiba hujan turun,sepertinya langit sedang merindukan bumi lagi.

"Kalau begitu,aku minta satu hujan darimu"

"Apa-apaan itu?"

"Kumohon,jika hujan berhenti kau boleh pergi"

"Baiklah"

"Berjanjilah kau akan menurutiku"

"Tidak"

"Hanya sampai hujan berakhir"

"Baiklah"

*