Saat ini sepasang mantan kekasih itu menaiki mobil. Hujan masih deras diluar sana. Mereka tidak terlibat pembicaraan sama sekali.

"Kenapa harus di taman kota huh? Tidak bisa disini saja?" tanya Chanyeol dengam kesal.

"Tidak, banyak kenangan kita di sana"

"Jadi kau benar-benar jatuh cinta dengan bule Eropa huh?" Tanya Chanyeol sambil tertawa hambar.

"Tidak" Chanyeol mengernyit mendengar jawaban Baekhyun yang terkesan singkat. Ia menoleh dan mendapati Baekhyun yang terlihat kedinginan. Tidak tega ia menurunkan volume Ac dan menyampikan jaket miliknya agar si kecil merasakan hangat.

"Sudah kubilangkan kau itu membenci hujan karena dingin"

"Aku senang kau mengingatnya, aku harap kau juga mengingat percakapan sebelumnya" ucap Baekhyun sambil mencoba menyamankan dirinya dengan jaket pemberian Chanyeol. Hangat.

"Percakapan? Percakapan apa? Aku tidak ingat!" jawab Chanyeol yang terdengar gugup. Baekhyun yang mendengarnya tertawa.

"Jadi kau lupa jika kau berkata kau akan mencintaiku bahkan jika aku per-"

"Aku tidak pernah mengatakannya" sahut Chanyeol cepat.

Baekhyun tersenyum lemah, menoleh ke jendela mobil dan menutup matanya.

"Kau tahu Yeol? Mungkin kau tak lagi mencintaiku, tapi aku sungguh-sungguh mencimtaimu. Aku tak berselingkuh dan sebenarnya aku juga berharap kau juga begitu. Namun aku senang mengetahui hidupmu berjalan baik-baik saja tanapaku, seperti sebelum kau mengenalku. Kau benar-benar melupakan percakapan kita ya? Baiklah, sepertinya hanya aku sendiri yang mengingatnya. Aku berjanji akan mengingatnya sampai mati.

"Aku merindukanmu Yeol sungguh. Tidakkah kau juga begitu? Aku ingin bercerita banyak padamu saat kita sampai di taman, tapi sepertinya aku tidak bisa.

"Aku ingin minta maaf karena aku meninggalkanmu dalam waktu yang cukup lama. Aku tahu aku salah, jadi maafkan aku.

"Aku ingin kita dapat bermain musik bersama lagi, aku ingin kita menikmati waktu kita dengan menghabiskan kopi pahitmu dan susu strawberryku. Aku ingin kita menyaksikan hujan turun bersama lagi.

"Tapi aku tidak bisa.

"Aku mencintaimu".

Chanyeol masih terdiam. Ia menyetir dengan perlahan, sambil berharap hujan turun lebih lama. Jujur ia juga merindukan sumua itu. Kegiatan sederhana namun sangat membekas, dimana yang ia ingat hanya tawa manis dan aroma strawberry kekasihnya yang sudah seperti candu.

Ia begitu memikirkannya sampai akhirnya mobilnya menginjak tanah taman dimana mereka sering tampil di konser malam minggu. Ia menghela nafas pelan, hujan masih turun dengan derasnya. Ia berharap ia akan terus berada dalam suasana ini. Suasana yang membuatnya betah tidak melakukan apa-apa, hanya berdiam diri dan kehangatan akan melingkupinya.

"Kita sampai Baek" waktu berjalan dan tidak ada sahutan. Chanyeol menoleh dan mendapati Baekhyun yang tertidur. Ia terkekeh, mendapati kebiasaan mantan kekasihnya. Tertidur diberbagai tempat.

"Apa jaketku terlalu nyaman? Bangun Baek!" ia menepuk pipinya namun menggelinjang ketika merasa kulit Baekhyun yang begitu dingin.

Chanyeol segera melepas sabuk pengamannya dan memeriksa keadaan Baekhyun,tidak ada nafas.

Oksigen berhenti memasuki hidung kecil itu. Tak ada lagi eritrosit yang mengikatnya karena jantung itu sudah tak lagi memompa aliran darahnya. Membuat Chanyeol lagi-lagi mengecek nadinya, yang mana sia-sia, tidak ditemukan apa-apa di sana. Ia segera berteriak dan memeluk sosok beku itu. Berharap dengan pelukannya namja kesayangannya akan bangun dan balik memeluknya.

"Bahkan hujan belum berhenti. Tapi kenapa kau meninggalkanku?. Apakah aku seburuk itu?. Jika waktu boleh kembali, kau tak perluh lagi meminta satu hujan dariku. Aku akan memberikan seluruh hidupku untukmu"

*

Chanyeol masih dijatuhi hujan, memori itu jelas masih berputar di otaknya. Gagal jantung,penyakit sejak ia kecil. Apakah ia pantas disebut kekasih jika ia sendiri tak mengetahui apa yang terjadi pada kekasihnya?.

Jadi ia pergi selama satu tahun untuk menyembuhkan penyakitnya,bukannya berselingkuh dengan bule Eropa. Bahkan setiap hari namja itu berjuang mati-matian dengan berbagai pengobatan yang tidak berhasil.

Dari yang ia dengar, setiap hari namja itu akan bermain musik sambil membawa fotonya, mengecup pigura itu sambil menangis, berharap tuhan memberinya kehidupan lebih lama.

Namun Tuhan berkehendak lain, nampaknya hujan terlalu menyayanginya sehingga membiarkan namja itu kembali ke Tuhan sembari mendengarkan nadanya yang menjatuhi tanah.

"Dasar Baekhyun bodoh, jika saja dia memberitahuku, kita akan punya waktu satu tahun, bukannya satu hujan" ucapnya sambil tersenyum.

Tidak ada jalan-jalan ke Eropa bahkan kakeknya sudah meninggal sejak Baekhyun berumur tujuh tahun. Nampaknya kakek dan cucu itu akan segera membuat liburannya sendiri.

Chanyeol sangat membenci hujan, baginya hujan hanya mengingatkannya pada kepergian kekasih tercintanya. Namun lagi-lagi, kenangan mereka lebih besar tersembunyi dibalik hujan. Menutupi kepedihan dan kesedihan.

Setiap hujan turun ia akan membiarkan hujan itu menjatuhi tubuhnya, mengulang kembali setiap perkataan yang diucapkan kekasihnya tentang nada hujan. Mencoba mendengarkan nada hujan.

Ia menutup matanya, lagi-lagi yang ada adalah senyum manis namja kecilnya. Lalu, sayup-sayup ia mendengar nada.

"Aku mendengarnya Baek, tidakkah kau bangga memiliki kekasih sepertiku?"