KOI NO YOKAN
Pairing : Yoonmin, Namjin, Vkook!
.
.
.
"Min Yoongi brengsek!" Jimin berteriak di depan jendela kamar apartemennya yang memapngkan dengan indah kota Seoul dibawahnya.
"Ini sudah ke seribu kali, Hyung. Kau tidak lelah? Aku saja yang mendengarnya mulai lelah" Jimin meletakkan ponselnya di sofa kamar Jimin yang mengarah ke jendela tempat Jimin berteriak.
"Aku masih kesal, oke?"
"Ini sudah dua minggu, demi Tuhan. Sebenarnya kau ini kenapa?" Jungkook mulai hilang akal.
"Hanya kesal" Jimin melipat tangan didepan dada.
"Sebenarnya kau mau apa? Kau berharap Min Yoongi membawa mu? Sebenarnya siapa si Min Yoongi itu?" Jungkook ikut-ikutan melipat tangan di depan dada.
"Aku sudah bilang aku kesal kan? Dan aku sudah bilang Min Yoongi itu si brengsek!"
Sudah dua minggu sejak kejadian di hotel Namjoon dimana Yoongi dengan seenaknya menjatuhkan Jimin dari gendongannya begitu saja.
"Hyung, kau mau bawa Jimin kemana?" Namjoon sibuk mengekori Yoongi dari belakang.
"Kerumahku" Yoongi dengan santai berujar masih menggendong Jimin yang masih syok. Wajahnya masih pucat pasi, kesadarannya belum kembali seutuhnya.
"Tapi, kau tidak akan suka hal kedepannya hyung…" Namjoon masih setia mengekori Yoongi dibelakangnya dengan jarak aman.
"Apa maksudmu?" Yoongi berhenti mendadak. Melihat Namjoon dengan kernyitan tak suka di dahinya.
"Jimin… dia, sama seperti Jungkook" jelas Namjoon.
"Jangan bertele-tele" Yoongi yang tidak mengerti arah ucapan Namjoon makin mengernyitkan dahinya tidak suka.
"Jimin… dia, artis hyung"
Detik saat ucapan Namjoon masuk ketelinga Yoongi, detik itu juga Yoongi dengan tega melepaskan kedua tangannya yang sedari tadi menahan Jimin di gendongannya. Jimin yang masih mengumpulkan nyawanya yang bertebaran kemana-mana karena suara tembakan barusan, mendadak mendapatakan seluruh kesadarannya saat tubuhnya terhempas kelantai begitu saja.
"Brengsek!" Jimin memaki. Wajahnya mendongak menatap Yoongi yang memandang dingin kearahnya. "APA MAU MU ?" Jimin masih setia dengan wajah kesalnya.
"Pergilah selagi aku masih berbaik hati" Yoongi berucap dingin. Matanya menusuk tepat kearah Jimin. Aura tidak bisa ditentang itu lagi. Jimin merinding dan memilih bungkam, berdiri dengan mata berkaca-kaca. Rasa kesal yang tidak bisa tersalurkan dengan makian, berakhir dengan lolosnya air mata dari pemuda bersurai orange itu.
"Mati saja kau!" mulutnya menyumpah, tapi air mata mengalir deras di pipi Jimin tanpa bisa ditahannya. Berlalu begitu saja dari hadapan Yoongi yang masih mematai Jimin yang berjalan terseok.
"Kita harus bersiap hyung, acaranya di mulai jam delapan malam" Jungkook mengingatkan.
Jungkook dan Jimin memang tinggal bersebrangan. Apartemen Jungkook tepat berada di depan Apartemen Jimin. Tidak heran kalau melihat mereka berdua sering bersama. Entah itu ke acara TV, atau acara off air lain jika mereka berdua yang di undang menjadi bintang tamu acara itu. Seperti ke acara Namjoon contohnya.
"Kau akan pulang?" Jimin melirik Jungkook yang sudah berdiri, bersiap kembali ke apartemennya.
"Ne. Taehyung akan menjemputku jam enam, hyung"
"Jadi, kau akan pergi dengan Taehyung dan membiarkan aku pergi ke acara Award itu sendiri? Kau tega pada ku Kookie?" Jimin mulai memandang sedih Jungkook.
"Kau bisa ikut kalau mau"
"Dan melihat kalian bermesraaan di depan hidungku? Tidak, terima kasih."
"Kalau begitu, mulailah mencari pacar hyung" Jungkook berlalu dengan santai, meninggalkan Jimin yang nyaris menyumpahi Jungkook saat pintu kamar Jimin menutup. Jungkook pergi meninggalkannya sendiri di kamar.
Acara award yang biasa diselenggarakan oleh pihak televise seperti ini bukan pertama kali Jimin datangi seorang diri, berjalan di karpet merah seorang diri pun bukan hal pertama dalam hidup Jimin. Sudah ratusan karpet merah dijalani Jimin tanpa pasangan disebelahnya, semuanya terasa baik-baik saja. Tapi tidak kali ini. Ucapan Jungkook sore tadi membuat Jimin berpikir ratusan kali selama perjalanan menuju acara yang di selenggaran di salah satu Hall terbesar di Seoul. Rasa percaya dirinya berkurang saat melewati karpet merah tanpa ada pasangan disampingnya. Puluhan lensa kamera yang mengarah padanya saat di Red Carpet pun tidak bisa Jimin nikmati lagi, sesuatu terasa kurang.
Saat para pemburu berita dan para fansite sibuk mengambil gambar Jimin yang masih berpose di Red Carpet, mendadak semua arah kamera beralih meninggalkan Jimin. Focus kamera sudah beralih kearah sosok pucat bersama salah satu model papan atas Korea dengan baju gaun berwarna merah super seksi, memperlihatkan punggung mulus dan belahan dadanya.
Jimin terkesiap, matanyanya masih berkunang-kunang akibat dibanjiri blitz kamera, pandangannya masih kabur, tapi Jimin sangat hapal aura namja yang sedang menuju kearahnya sekarang. Namja dengan aura arogan dan dominasi yang kental. Min Yoongi, si brengsek yang membuangnya begitu saja. Dan Jimin benci mengakui ini, Min Yoongi semakin terlihat panas dengan balutan kemeja hitam, celana bahan dan coat yang menggantung malas di bahunya.
Yoongi yang baru menyadari keberadaan Jimin, tersenyum miring kearah Jimin. Senyuman yang seolah mengejek Jimin karena datang tanpa pasangan keacara ini. Dengan sengaja Yoongi meletakkan telapak tangannya di pinggul sang model yang terbuka lebar. Perlakuan yang membuat Jimin memelototkan matanya tanpa bisa dicegah. Jimin yang tidak tahan, berjalan masuk kedalam Hall. Rasa kesal dan tidak percaya diri begitu tinggi dirasakan Jimin. Kehadiran si brengsek Min Yoongi benar-benar merusak malamnya. Lebih dari itu semua, Jimin rasanya ingin meninju wajah datar seksi itu sekarang juga.
Jimin baru tahu kalau acara ini ternyata juga mengundang para pengusaha kelas kakap, mulai dari pemilik hotel, pemilik rumah sakit, pemilik agensi artis, dan masih banyak lagi pengusaha bertebaran malam ini. Tempat duduk sudah diatur sedemikian rupa, para pengusaha duduk paling depan, memenuhi tiga baris bangku dengan sofa yang nyaman. Sementara para artis yang hadir, duduk berbaris di belakang para pengusaha.
Jimin mendudukan dirinya saat salah satu kursi yang terdapat namanya dipunggung kursi, kru acaranya menunjukkan tempat duduknya yang tepat berada disamping jalur orang yang berlalu lalang, pemisah antara sayap kanan dan sayap kiri. Disebelahnya sudah duduk lebih dulu Jungkook yang sibuk memainkan ponselnya.
"Dimana Taehyung?" Jimin bertanya saat baru saja menghempaskan diri di bangku.
"Paling depan bersama Namjoon hyung" Jungkook menjawab tanpa melepaskan pandangannya dari layan ponselnya.
"Huh? Ada Namjoon hyung juga?"
"Dia salah satu yang sangat diperhitungkan, ingat? Acara ini mengundang para pengusaha bukan Cuma untuk menyuguhkan hiburan hyung, kita sama-sama tau" Jungkook menyimpan ponselnya kedalam saku jas bagian dalam, memandang Jimin dengan wajah kebingungannya.
"Apa maksudmu?"
"Astaga… kau lebih tua tapi pengetahuanmu benar-benar minim ya, hyung?" Jungkook memutar bola matanya. "Sponsor! Tidak paham juga?" Jungkook bersabar menjelaskan.
"Huh?"
"Astaga! Sini mendekat" Jungkook menarik lengan Jimin paksa kearahnya.
"Apa? Kenapa berbisik?" Jimin bingung.
"Mau tau info tidak?"
"Apa?"
"Para pengusaha disini sengaja di undang bukan tanpa alasan. Mereka ada disini untuk ditarik perhatiaannya oleh agensi-agensi artis yang butuh pasokan dana untuk artisnya. Kau tau Mirae? Model yang sedang naik daun itu? Dia di sponsori oleh Min Suga, sebagai imbalannya, dia harus… kau tau, ini agak kasar, bagaimana memperhalus bahasanya…." Jungkook Nampak berpikir sejenak.
"Jadi budak seks Min Suga? Begitu?" Jimin berujar polos.
"Aku sedang mencari padanan kata yang pantas, dan kau berbicara seenak jidat mu saja hyung" Kesal Jungkook.
"Bilang saja kalau dia menjual diri, apa susahnya" Jimin memutar bola matanya.
"Ya, begitulah. Dan, oh! Min Suga juga datang saat acara dihotel dua minggu lalu hyung" Jungkook berucap heboh.
"Oh ya? Yang mana orangnya?" Jimin penasaran juga akhirnya. Jimin memang tidak tau siapa gadis bernama Mirae itu, Jimin juga tidak peduli. Tapi yang namanya gossip selalu menarik untuk dikulik, kan? Apalagi in gossip yang sensitive.
"Yang…." Baru saja Jungkook akan menjelaskan detail fisik Min Suga. Seseorang meletakan coat hitam di pangkuan Jimin, membuat Jimin dan Jungkook serentak menoleh kearah seseorang yang berdiri tepat disamping bangku Jimin.
"Ah, annyeong Min Suga-shi…" Jungkook dengan refleks berdiri dan membungkuk kearah lelaki pucat yang memusatkan pandangannya kearah Jimin yang juga membalas tatapannya.
"Mana Taehyung?" Yoongi bertanya pada Jungkook tapi matanya masih berfokus pada Jimin yang sudah membuang pandangannya. Kemana saja, asal jangan kearah si pucat brengsek yang membuat jantung Jimin nyaris berhenti berdetak.
"Di barisan paling depan, bersama Namjoon hyung" Jungkook berujar ramah.
"Oh"
"Anda datang bersama Mirae-shi?" Jungkook berbasa-basi, jelas-jelas Jungkook melihat tangan si pucat masih bertengger manis di pinggul Mirae. Kakinya menyenggol Jimin yang masih terdiam dengan coat milik si pucat berada di pangkuannya. Sinyal untuk Jimin memberi salam pada lelaki pucat yang memtai Jimin seperti ingin menelanjangi Jimin.
"Seperti yang kau lihat"
Jimin tidak berani menatap mata si pucat lagi, dia bahkan mengabaikan senggolan kaki Jungkook pada kakinya. Dia sudah tidak penasaran dengan sosok Mirae si model yang sedang naik daun itu. Perjumpaan di Red Carpet tadi sudah cukup jelas di memori Jimin seperti apa seksinya wanita yang menjadi pasangan si pucat malam ini. Dan mendadak darah Jimin mendidih.
"Aku tidak butuh ini" Jimin tiba-tiba berdiri dan mengangkat tangannya yang memegang coat milik si pucat. Matanya memandang tajam tepat kearah sipucat. Rasa takut dan terintimidasi yang semula sangat kental dirasakannya, terganti dengan amarah yang tidak bisa Jimin tutupi.
"Pakai" Yoongi dengan segala dominasinya. Hanya satu kata yang di ucapkan dan tatapan tajam membuat Jimin yang sudah sekeras batu, kini melemah seperti jeli. Keberaniaanya menguap tiba-tiba.
"Dari pada aku, wanita mu lebih butuh" Jimin masih mempertahankan harga dirinya. Dia tidak boleh kalah kali ini. Sudah terlanjur melawan. Tanggung.
"Ku bilang, pakai" Yoongi berucap datar, wajahnya jelas-jelas mengatakan agar Jimin menurut pada ucapannya.
"Pa.. pakai saja hyung. Lagian… lagian disini dingin. Be.. benar kata Suga-shi, pakai saja" Jungkook mulai merasakan ada hawa-hawa membunuh dari Yoongi, membujuk Jimin agar menurut. Jungkook masih ingin hidup, dan Jungkook juga tidak ingin melihat Jimin mati muda.
"Mirae-shi, kenakan ini. Pakaianmu terlalu terbuka, udara sedang dingin, pakailah." Jimin menetang perintah Yoongi, lagi. Jimin menyerahkan coat milik Yoongi kearah wanit itu, belum sempat tangan Mirae menyentuh coat itu, coat milik Yoongi sudah disambar oleh Jungkook dan memasangkannya dengan paksa pada Jimin.
"Dia sudah memakainya, Suga-shi. Bahkan sampai tidur pun, aku akan memastikan dia memakainya, jagan khawatir" Jungkook panic. Matanya melotot kearah Jimin seolah berkata 'Kau tidak ingin melihat matahari besok?'.
Jimin berhenti memberontak saat Jungkook mencubit pinggangnya keras-keras, matanya melontarkan protes atas rasa sakit di pinggangnya, tapi Jungkook memilih tidak peduli kali ini.
"Jangan menentangku, Park Jimin. Kau tidak akan suka akan tindakan ku selanjutnya." Yoongi menarik paksa dagu Jimin sampai mendongak kearahnya.
Jungkook ketakutan sekarang, acara bahkan belum mulai dan harus melihat Jimin meninggal sebagai acara pembuka, bukanlah hal yang menarik menurut Jungkook.
"Suga, hentikan" itu Mirae. Wanita seksi itu mencicit pelan. Menarik turun tangan Yoongi yang mencengkram dagu Jimin dengan hati-hati. "Kau menyakitinya" tepat saat perkataan Mirae masuk ketelinganya, si pucat melepaskan cengkraman tangannya di dagu Jimin yang sudah pucat pasi.
Tanpa berkata apapun, Mirae dan si pucat berlalu begitu saja. Jimin sudah berkaca-kaca, takut, terintimidasi, juga kesal karena tidak bisa membela diri membuat Jimin kalut. Kakinya lemas, bahkan Jungkook membantunya agar duduk dengan benar. Tatapan-tatapan penasaran tidak bisa dihindari lagi, Jungkook bahkan menolak bertatap mata dengan orang-orang yang melihat mereka tanpa segan.
"Hyung, kau kenal Suga?" Jungkook mengelus bahu Jimin yang bergetar menahan tangis yang hampir pecah. Coat milik Yoongi masih digenggamnya dengan erat, seolah dengan meremas coat milik Yoongi, pemiliknya akan ikut merasakan remasan bak cekikan itu dileher Yoongi.
"Dia… dia si brengsek itu Kookie! Dia Min Yoongi!" Jimin mengeram pelan, wajahnya tertunduk dalam. Bahkan untuk tampil sebagai pengisi acara, Jimin kehilangan mukanya.
"Tapi namanya Suga, hyung."
"Persetan! Aku membencinya Kook, sangat membencinya"
Jimin sudah selesai tampil satu jam yang lalu dan ingin langsung pulang. Rasa terintimidasi dengan hadirnya Yoongi bisa diatasi Jimin. Dia tampil sempurna seperti biasa. Jimin baru saja jatuh tertidur sambil menunggu sang manager dan kru Jimin membereskan semua peralatannya di belakang panggung, saat lagi-lagi Yoongi muncul diruangan yang di khususkan untuk Jimin di belakang panggung.
"Maaf, anda ada keperluan apa?" Manager Jimin- Sejin- yang lebih dahulu menyadari kedatangan Yoongi.
"Mana Jimin?" Yoongi mengedarkan pandangannya mencari-cari Jimin di dalam ruangan.
"Maaf, tapi anda ada keperluan apa?"
"Sejin hyung, dia tuan Min Suga, pemilik saham di stasiun TV K, dia datang ingin bertemu Jimin, apa bisa?" itu Taehyung. Lelaki bersurai coklat itu adalah salah satu pengikut setia Yoongi.
"Ah, anda Min Suga? Maafkan kelancangan saya tuan, silahkan masuk" Sejin membungkuk sambil mempersilahkan Yoongi masuk bersama Taehyung dan beberapa pengawal milik Taehyung.
Min Suga, nama lain dari seorang Min Yoongi. Yoongi biasa memakai nama Suga untuk pekerjaanya sebagai seorang CEO multicompany. Pebisnis bersih yang tidak terlibat dalam urusan 'bawah tanah' lebih akrab dengan nama Suga dibandingkan dengan Yoongi.
"Tinggalkan kami" dari pada permintaan, ucapan Yoongi itu jelas terdengar seperti perintah.
"Kosongkan ruangan ini" Perintah Taehyung pada pengawalnya yang berdiri setia di belakangnya sejak tadi. Mendegar perintah dari tuannya, pengawal Taehyung langsung memeriksa semua ruangan dan memastikan semua orang keluar.
Tidak sampai lima menit, semua kru dan juga Sejin sudah keluar dari ruangan, termasuk taehyung yang memilih berjaga agak jauh dari pintu dengan para pengawalnya berjaga di lorong. Memastikan tidak ada yang mencuri dengar kedalam ruangan.
Yoongi berjalan kearah kiri dimana terdapat sebuah kaca dan sofa panjang berwarna putih , disana Jimin sedang tertidur pulas, dengan coat milik Yoongi sebagai selimutnya. Yoongi tersenyum miring, mendudukan tubuhnya di karpet menghadap Jimin yang tertidur bak orang mati.
Tidak ada yang dilakukan Yoongi, lelaki pucat itu hanya terdiam memandangi wajah Jimin yang tertidur pulas, dengan jemari Jimin menggenggam erat coat milik Yoongi seolah takut coat itu akan diambil darinya diam-diam. Lebih dari lima menit Yoongi memandangi Jimin tertidur sampai dia sadar masih banyak hal yang harus dia kerjakan.
Yoongi berdiri nyaris meninggalkan Jimin sampai suara isakan terdengar, Yoongi kembali terduduk di depan Jimin sambil mengelus kepala si surai orange yang terisak kecil dengan air mata mengalir.
"Mimpi buruk?" Yoongi terkekeh, tangannya masih setia mengelus kepala Jimin, mencoba menenangkan tangis Jimin.
"Aku membencimu hiks… aku tidak takut padamu… hiks, awas saja kau pucat… hiks, aku membencimu…" Jimin menangis dalam tidurnya. Yoongi nyaris tertawa keras saat menyadari Jimin bahkan menantangnya dalam tidurnya.
"Anak pintar. Kau memang harus mengingatku bahkan dalam mimpi buruk mu sekalipun" Yoongi terkekeh pelan dan mendekatkan diri pada Jimin. Yoongi memberikan kecupan di bibir Jimin cukup lama sebelum meninggalkan Jimin yang mulai tenang dalam tidurnya.
"Taetae hyung! Astaga! Apa yang terjadi? Apa Jimin hyung di hajar oleh Suga? Apa Jimin hyung sekarat sekarang?" Jungkook bertanya heboh, bahkan Taehyung belum duduk dengan benar didalam mobil.
"Jimin baik-baik saja sayang…" Taehyung memasangkan seatbelt untuk Jungkook sebelum menyalakan mesin mobilnya.
"Lalu? Apa yang dilakukan Suga? Kenapa kalian lama? Aku khawatir pada Jimin Hyung" Jungkook masih sibuk di kursinya, menarik-narik jas Taehyung, menuntut penjelasan,
Cup…
Taehyung menarik lengan Jungkook dan memberikan kecupan di bibir Jungkook agar bocah itu bisa diam ditempat. Cara yang selalu berhasil agar Jungkook bisa lebih tenang.
"Suga Hyung tidak melakukan apapun pada Jimin , Love. Aku tidak tau pastinya, tapi saat aku masuk keruangan Jimin saat Suga hyung sudah pergi, Jimin sedang tertidur pulas. Apa itu sudah cukup menjelaskan kalau Jimin baik-baik saja, Love?"
"Tapi, kau sudah memastikan kalau badan Jimin masih utuh kan, hyung?" Jungkook bertanya, kali ini lebih tenang karena sudah dicium Taehyung.
"Dia masih bernafas, dan aku yakin tidak ada lebam apapun di badannya"
"Kau yakin hyung?"
"Love, Suga hyung tidak pernah memukul lawannya. Itu buang tenaga, kalau dia tidak suka, dia langsung membunuhnya dengan pistol" Taehyung menjalankan mobilnya pelan tanpa menyadari Jungkook yang berubah pucat.
"Ja… jangan-jangan… Jimin hyung…" Jungkook mulai berpikiran negative. Isi kepalanya seolah membenarkan ketakutannya. Jimin bukan tidur pulas, tapi mati.
"Tidak, sayang. Jangan berpikir yang bukan-bukan. Kita tunggu Jimin di apartemennya, oke? Dan aku yakin Jimin tertidur, bukan mati. Jadi jangan mulai mendramatisir keadaan." Final. Taehyung mengakhiri perdebatan dengan kelinci kesayangannya yang masih setia dengan mata terbuka selebar-lebarnya.
"Taetae hyung, apa Suga dan Yoongi itu orang yang sama?"
"Yup. Perbedaannya Cuma Suga adalah putih, dan Yoongi adalah hitam."
Jimin terbangun saat merasakan tubuhnya diguncang pelan, pemandangan pertama yang dilihat Jimin saat terbangun adalah wajah managernya yang mengernyit. Wajah super penasaran yang ditahan-tahan. Ingin melontarkan jutaan pertanyaan tapi segan.
"Apa sudah selesai?" Jimin mendudukan diri, mengabaikan wajah sang manager yang penasaran entah untuk hal apa.
"Acaranya bahkan sudah selesai setengah jam yang lalu, Hall juga sudah mulai kosong. Ayo pulang" Ajak Sejin sambil membantu Jimin berdiri.
"Benarkah? Kenapa kau tidak membangunkan ku, hyung? Astaga…."
"Kau tidur nyenyak sekali. Sepertinya selimut barumu sangat nyaman" Sindir Sejin.
Jimin melihat coat yang sudah melorot dipangkuannya, coat milik Yoongi yang membuat Jimin tenang hanya dengan mencium wangi maskulin yang tertinggal di coat. Bahkan dia tertidur dengan sangat nyenyak.
"Hyung! Jangan menyindirku, oke? Kalau ada yang ingin kau tanyakan, tanyakan saja." Kesal Jimin.
"Tidak ada yang ingin ku tanyakan, Jim. Ayo pulang. Oh, jangan sampai selimut barumu tertinggal" Ejek Sejin.
"Aku tidak membutuhkan ini!" Jimin makin kesal melihat wajah Sejin yang mengejeknya. Jimin membuang coat hitam itu begitu saja kelantai dan pergi meninggalkan Sejin yang tertawa dibelakangnya.
"Hey! Jim! Selimut kesayanganmu tertinggal!"
"Aku membencimu, hyung!"
Sejin masih tertawa sambil mengambil coat yang terjatuh kelantai, melipatnya dengan rapi dan menyampirkannya di siku tangannya.
"Dasar konyol. Sok tidak perlu, padahal selama tidur dia memeluk coat ini erat-erat" Sejin geleng-geleng kepala dan berjalan menyusul Jimin keluar ruangan.
Jimin berjalan mondar-mandir di studio milik Hoseok sambil membaca headline majalah hari ini, disana terdapat berita yang menghebohkan soal Min Suga dan Mirae. Juga foto keduanya yang tengah berciuman yang sengaja di blur pihak majalah.
"Jim, aku capek melihatmu berjalan mondar-mandir" Hoseok mengeluh. Sudah hampir lima belas menit Jimin mondar-mandir, dan mengganggu konsentrasi Hoseok dalam membuat lagu.
"Jangan lihat kalau begitu!" Jimin marah. Entah apa salah Hoseok. Yang seharusnya berhak marah seharusnya malah Hoseok, hey! Itu studio Hoseok!.
"Kau ini kenapa? Sebelum melihat majalah itu kau masih baik-baik saja" Hoseok menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan Jimin yang sudah menggigit kuku-kukunya.
"Kau lihat ini hyung! Headline majalah ini!" Jimin histeris. Kenapa Hoseok bisa sesantai ini. Ini berita heboh! Ayolah!.
"Itu Min Suga yang sedang berciuman dengan Mirae si model itu, lalu?"
"Hyung! Ini berita heboh!"
"Dan?"
"Aish! Mereka berkencan? Yang benar saja? Si Mirae itu kan baru saja berada di puncak karirnya. Kenapa dia berani sekali! Bisa-bisa karirnya hancur hyung!" Jimin histeris lagi.
"Karirnya akan hancur kalau dia diberitakan berkencan dengan namja sembarangan. Dia berkencan dengan Min Suga ngomong-ngomong. Aku yakin karirnya makin melejit. Pengusaha dibidang industry hiburan pasti mengincar Mirae untuk dijadikan model, dengan begitu mereka bisa selangkah lebih dekat dengan si Milyarder itu kan?"
"Huh?" Jimin memadang Hoseok kebingungan.
"Kau tau, koneksi. Mereka membutuhkan Mirae untuk dijadikan alat mereka bisa berhubungan dengan Suga."
"Sepicik itu?" Jimin takjup.
"Bahkan yang kudengar, perusahan kita akan memakai Mirae untuk jadi model di Video Klip mu selanjutnya"
"WHAT?"
"Jimin hyuuunggg….." Jungkook berlari mengejar Jimin yang baru saja keluar dari studio Hoseok. Selain bertetangga, Jimin dan Jungkook juga merupakan artis yang bernaung di agensi yang sama.
"Jungkook! Kemari, ada berita heboh!" Jimin menarik Jungkook paksa kearah lorong yang jarang dilewati orang, mereka berdua berdiri berhadapan dengan wajah penuh antusiasme, seolah tak sabar ingin menyampaikan sesuatu yang mereka punya.
"Aku duluan!" Jungkook berbinar-binar penuh antusiasme.
"Baiklah, jadi, apa yang kau punya?"
"Coba tebak!"
"Tidak sekarang Kook, aku sedang malas bermain tebak-tebakan. Apa kau mengetahui sesuatu?" Jimin memutar bola matanya jengah.
"Tentu! Ini bahkan lebih heboh dari seluruh Headline berita hari ini hyung! Lihat ini." Jungkook menyerahkan ponselnya pada Jimin.
Jimin tidak banyak bertanya, namja bersurai orange itu langsung memutar video di ponsel Jungkook. Jantung Jimin seolah tertumbuk melihat video kedua orang yang tertangkap kamera sedang berciuman panas di belakang mobil, video yang kualitasnya buruk karena pencahayaan yang kurang. Tapi Jimin akin seratus persen tidak akan salah orang, itu video Mirea dan Yoongi.
Jimin mengembalikan ponsel Jungkook saat sudah tidak tahan melihat video itu yang makin lama makin panas, tangan Jimin bergetar saat video itu menampilkan Yoongi sedang mengeluskan tangannya kebelahan dada Mirae yang terekspos, berputar ulang dikepalanya. Jimin tidak berniat melihat lebih lanjut lagi.
"Hyung, ini belum selesai…" Jungkook menyodorkan lagi ponselnya, dan Jimin menolak dengan halus.
Focus mata Jimin bergetar, entah perasaan apa ini. Tapi Jantung Jimin berdenyut hebat dan membuat dadanya nyeri. Tangan Jimin yang bergetar di sembunyikannya di balik punggung agar tidak terlihat oleh Jungkook.
"Darimana kau mendapatkannya, Kook?" Jimin mencoba mengontrol suaranya yang bergetar.
"Dari chat grup ku bersama teman-teman ku hyung. Ini sedang heboh di bicarakan! Kau tak apa, hyung?" Jungkook baru menyadari perubahan wajah Jimin. Wajah sedih yang entah sejak kapan terpampang begitu saja di wajahnya.
"Hyung? Hey! Kenapa menangis?" Jungkook bertambah panic saat wajah datar sarat kesedihan dihapannya itu meneteskan air matanya.
"Jungkook, kau tau aku membencinya kan? Tapi kenapa aku menangis karena hal ini?" Jimin tidak menangis sesunggukan, air matanya mengalir begitu saja. Dia benci seperti ini, tapi dia tidak bisa menahan air matanya agar tidak turun sembarangan.
"Hyung, kau kenapa?" Jungkook lagi-lagi menjadi saksi Jimin menangis karena namja brengsek bernama Min Yoongi.
"Air matanya tidak mau berhenti, bagaimana ini?" Jimin panic sendiri.
Jimin sudah kalut sejak mendapati headline majalah yang tidak sengaja terlihat oleh matanya di meja Hoseok. Mati-matian Jimin meyakinkan diri kalau hal itu bukan apa-apa, hal itu tidak akann berefek apapun padanya, hal itu tidak akan mempengaruhi Jimin karena memang Jimin tidak pantas menangisi hal seperti ini.
Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Jika mengingat pertemuan pertama dengan Yoongi, hal itu bukanlah hal yang berjalan baik. Yoongi bahkan menembakan pistol kepintu agar Jimin berhenti dan menurut. Hal selanjutnya yang membuat Jimin nyaris melayang adalah kata-kata Yoongi yang mengatakan Jimin miliknya, kemudian Jimin terhempaskan begitu saja bagai sampah.
Dan semalam, Jimin kembali di buat melayang karena Yoongi menyerahkan coat nya untuk Jimin gunakan, padahal jelas-jelas Mirae yang lebih membutuhkan coat itu dari pada dirinya. Jimin berpakaian formal, segalanya tertutup, berbeda dengan wanita yang datang bersama Yoongi yang berpakaian terbuka. Dilihat dari segi mana pun, jelas Mirae yang harusnya menggunakan coat milik Yoongi. Bahkan Jimin bermimpi dicium Yoongi, dan membuat tidurnya semakin nyenyak.
Kemudia pagi harinya, Jimin terhempas lagi. Kali ini lebih keras daripada saat Yoongi dengan sengaja melepaskan gendongannya dan membuat Jimin mencium lantai.
"Hyung, ayo pulang" Jungkook menarik Jimin dan menarik topi hoodie Jimin untuk menutupi wajah Jimin yang memerah karena menangis.
"Bagaimana video itu bisa tersebar?" Yoongi bertanya dengan tenang kepada Jackson- informan Yoongi- yang berdiri dengan santai sambil memainkan pulpen ditangannya.
"Lain kali berhati-hatilah, boss" Jackson menasehati.
"Aku bertanya, bukannya meminta nasehat" Yoongi memandang tajam kearah Jackson.
"Well, jangan marah dulu, oke?. Aku sudah dapat info, kalau video itu tersebar lewat situs berita online yang tampaknya memang sengaja melakukannya. Video itu dihapus setelah lima detik di upload. Oh, jangan remehkan kekuatan netizen boss, mereka gila!"
"Apa tujuannya?"
"Uang? Kerja sama?"
"Dari pada kerja sama, aku lebih suka menghancurkannya" Yoongi menggosokkan kedua tangannya, pertanda buruk kalau Yoongi benar-benar akan bertindak.
"Aku siap membantu boss. Selalu "
"Info soal Park Jimin? Kau sudah mendapatkannya?" Yoongi bertanya dengan mimic dingin tapi matanya penuh antusias.
"Update terbaru, Park Jimin terlihat bersama Jeon Jungkook baru saja keluar dari gedung agensi mereka. Yang menarik adalah…" Jackson sengaja menggantung kalimatnya untuk menarik perhatian Yoongi lebih lagi.
"Apa?"
"Dia terlihat sangat manis boss. Wajahnya dan hidungnya memerah, sepertinya habis menangis. Aku jadi ingin melindunginya" Jackson bermimik sedih, seolah empati terhadap Jimin yang kedapatan habis menangis.
"Katakan itu lagi, kau akan mati di tanganku" Yoongi berujar sambil membaca kertas yang diserahkan Jackson saat datang keruangannya.
"Wah, Posesif sekali…." Ejek Jackson.
"Mau kepala, perut, atau dada?" Yoongi sudah bersiap menarik pelatuk pistol yang mengarah ke Jackson.
Pemuda keturunan cina itu berubah panic.
"Boss, kau tau aku bercanda kan? Ayolah. Turunkan itu. Kau menyeramkan" bujuk Jackson.
"Ya, aku juga bercanda" Yoongi menurunkan pistolnya dan kembali sibuk membaca. Terkadang Jackson tidak paham atas selera humor boss arogannya ini.
Jimin merenung didalam mobil bersama Jungkook yang setia menyetir tak tentu arah. Jimin tidak ingin pulang, setidaknya jangan sekarang. Dia masih kebingungan sendiri dengan perasannya yang berubah labil jika menyangkut pria pucat brengsek itu.
"Hyung, aku lapar" akhirnya Jungkook bersuara, memecah keheningan yang terjadi sejak tadi.
"Ayo cari makan. Tapi kita makan di mobil saja ya? Aku sedang tidak ingin berada di luaran, Kook."
Jungkook akhirnya memarkirkan mobilnya dekat jembatan yang mengarah ke sungai Han. Didekat sana ada penjual ayam goreng enak yang menjadi langganan Jungkook. Kedai yang buka sampai tengah malam.
Jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam, Jungkook meninggalkan Jimin yang sedang duduk disamping badan mobil yang mengarah ke sungai Han. Namja bersurai orange itu terduduk sambil merenung lagi, berkhayal yang bukan-bukan, memutar kembali seluruh kenangan selama hidupnya. Hening yang menenangkan dengan udara segar, dan suara air mengalir tampaknya merupak hal yang sangat Jimin butuhkan saat ini.
Ketenangannya tidak bertahan lama karena mendadak Jimin mendengar suara ribut-ribut dibawah jembatan, dan suara seorang pria yang seperti memohon ampun. Jimin berdiri dan memanjangkan lehernya kearah bawah jembatan yang minim cahaya. Detik berikutnya suara pria yang memohon itu tidak terdengar lagi bersamaan dengan suara tembakan dari arah bawah jembatan.
Jimin membulatkan matanya, jantungnya berdetak kencang. Kenangan soal Jimin yang nyaris terkena tembakan berputar lagi di kepalanya. Kakinya luruh ketanah, tidak sanggup membopong tubuhnya lagi.
"A… apa itu?" tangan Jimin bergetar, bola matanya bergerak liar.
Jimin baru saja akan berlari saat bau anyir darah tercium disekitarnya. Jimin membeku. Jimin melihat bayangan seseorang tepat di belakangnya.
"Wah, aku ketahuan…" suara lembut pria yang berdiri di belakang Jimin terdengar ceria, berbanding terbalik dengan Jimin yang sudah pucat pasi. Bahkan membalikkan kepalanya untuk melihat siapa dibelakangnya, Jimin tidak sanggup.
"Bagaimana ini?" lanjut suara itu lagi, suara yang jelas-jelas berpura-pura ketakutan.
"A… aku tidak melihat apapun, aku bersumpah!" Jimin panic saat merasakan benda dingin dan keras berada di kepalanya.
"Tapi kau mendengar sesuatu. Bagaimana ini? Aku sudah ketahuan…" suara itu berintonasi sedih. Jimin makin merinding dan matanya mulai berkaca-laca. Dalam hatti dia berdoa agar Jungkook jangan kembali. Setidaknya jangan sekarang.
"Aku bersumpah, aku tidak akan berbicara soal apapun…" Jimin nyaris terisak. Jimin yakin yang berada di kepalanya saat ini adalah pistol.
"Maafkan aku, kepala orange. Tapi bosku tidak akan suka kalau aku bekerja tidak bersih" ucap pria dibelakang Jimin itu lagi. Pria itu makin menekan kepala Jimin dengan pistolnya sampai Jimin menunduk dalam dengan kedua tangan terangkat.
Suara pelatuk pistol yang ditarik membuat Jimin makin memejamkan matanya erat, menunggu saat Jimin akan kehilangan nyawanya sedetik lagi. Jimin sudah terisak hebat menunggu saat-saat kematiannya.
"Biar aku yang membunuhnya, Luhan"
Suara itu. Jimin hapal suara berat itu. Wangi parfum bercampur bau darah menyerang indra penciuman Jimin membuat detakan jantungnya makin menggila. Lebih gila dibandingkan dengan Jimin yang akan kehilangan nyawanya.
"Boss, maafkan keteledoranku hari ini, ini akan segera berakhir saat peluruku bersarang dikepalanya." Luhan berucap penuh hormat.
"Biarkan aku yang membereskannya. Kembalilah ke mobil, dan buang mayat jurnalis brengsek itu sejauh-jauhnya." Yoongi berjalan kearah Jimin yang masih setia menunduk dengan tangan terangkat keatas. Isak tangisnya makin hebat bahkan setelah Jimin menahan tangis dengan menggigit bibir bawahnya.
"Tidak menyangka bisa bertemu dengan mu dengan cara seperti ini, Park Jimin" Yoongi makin mendekat dan mengelus kepala Jimin sambil berjalan kedepan pria bersurai orange yang masih menunduk itu.
"Ja… hiks.. jangan membunuhku… hiks… aku… aku" Jimin gemetaran hebat, bahkan untuk mengangkaat kepalanya dia tidak berani.
"Ssshhh… aku tidak suka anak yang cengeng" Yoongi mencengkram leher Jimin kuat, memaksa pria bersurai orange itu mendongak kearahnya.
Mata Jimin bergetar, air mata tidak berhenti menetes dari matanya, dan lehernya tercekik. Di depannya tengah berdiri sosok yang begitu mengintimidasi, menakutkan, dan yang membuat Jimin kebingungan setengah mati.
"Sa…sakit…" Jimin memegang pergelangan tangan Yoongi yang makin erat mencengkram lehernya, benar-benar sudah tercekik dan sulit bernafas.
"Bicara yang jelas, anjing kecil…" Yoongi menyeringai jahat.
"Lepaskan, hiks.. kumohon…" Jimin memohon, karena makin lama cengkraman tangan Yoongi makin kuat dilehernya.
"Kau sudah tau kalau aku tidak suka anak yang cengeng, bukan? Hentikan tangis mu itu"
Jimin menahan tangisnya sekuat tenaga. Bukan saatnya menantang Yoongi jika masih ingin hidup besok hari.
"Anak pintar…" Yoongi tersenyum cerah, cengkramannya terlepas dan Jimin terjatuh ketanah sambil terbatuk dan memegangi lehernya yang Jiminy akin akan membiru.
Belum sempat Jimin mengambil nafas sebanyak-banyaknya, Yoongi sudah menarik lengan atasnya dan memaksa Jimin berdiri. Berhadapan sangat dekat, dan dada yang saling menempel tanpa jarak.
"Karena kau sudah mengetahui hal yang baru saja terjadi, dengan terpaksa aku harus melenyapkanmu, Park Jimin. Korea pasti akan sedih kehilangan seorang media darling seperti mu…" Yoongi berucap miris. Tangannya menarik dagu Jimin agar menatapnya, sementara Jimin sudah tidak punya tenaga untuk melawan semua dominasi Yoongi.
"Tidak, kumohon… jangan… aku berjanji akan tutup mulut" Jimin memohon belas kasihan Yoongi.
"Apa jaminannya kau akan tetap menutup mulutmu, sayang? Tidak ada!"
"Aku… aku menjaminkan diriku sendiri. Kau bisa membunuhku kapan saja kalau sampai aku membocorkan informasi soal ini" Jimin menangis lagi. Ketakutan benar-benar melahap semua kekuatan dan harga dirinya di depan pria pucat itu.
"Kalau begitu, jadilah peliharaan ku yang penurut. Kau tau, majikan akan melindungi peliharaannya dengan baik jika peliharaannya itu jadi anak penurut kan?" ucapan Yoongi dingin tanpa perasaan, bahkan Jimin bisa merasakan ancaman nyata dari ucapan itu.
"Aku berjanji akan menurut, aku berjanji" Jimin menganggukan kepalanya berkali-kali.
Yoongi terdiam, matanya memperhatikan mata Jimin yang mulai berhenti mengalirkan air mata. Mencari tau perasaan Jimin yang sebenar-benarnya. Dan Yoongi sedikit mencelos saat mendapati tatapan Jimin yang terluka di balik tatapan panic dan ketakutan yang tunjukan Jimin dengan jelas padanya.
Pria pucat itu mendekat dan memagut bibir Jimin pelan. Jimin yang mendapatkan ciuman mendadak dari namja pucat itu membolakan matanya, tangannya terkulai lemas di sampirng tubuhnya.
Jimin benar-benar merasa bingung sekarang, bagaimana bisa pria yang sedang menciumnya ini memberikan Jimin perasaan aman dan terlindungi, sementara baru sedetik lalu Jimin akan dilenyapkan oleh orang yang sama.
Ciuman itu berubah menjadi semakin menuntut, Jimin bahkan dengan suka rela membuka mulutnya untuk dijelajahi pria yang baru saja mengancam akan membunuhnya. Bahkan lebih gilanya, Jimin menikmati perlakuan pria itu. Tangan Jimin yang tadi terkulai lemas bahkan sudah mengalung dileher pria pucat itu tanpa ragu.
Ciuman itu terlepas saat Jimin mulai berontak dalam pelukan Yoongi karena kehabisan nafas, dengan malas, Yoongi melepaskan tautan bibirnya dan Jimin. Jimin terengah-engah, meraup oksigen dengan rakus, sementara Yoongi memandangi wajah Jimin tanpa ekspresi. Tangan pria pucat itu bergerak mengusap bibir bawah Jimin yang merah membengkak akibat ciuman mereka barusan. Jimin tersentak dan memandang Yoongi takut-takut.
"Kau milik ku, dan jangan coba-coba lari, Park Jimin. Karena aku akan mencarimu bahkan ke kerak neraka sekalipun. Jadilah peliharaan yang penurut. Mengerti?" Yoongi bernada memerintah, alisnya tertarik satu keatas.
Jimin hanya menangguk kepala sebagai jawaban. Kesadaran Jimin masih berada entah dimana.
"Pakai ini, disini dingin" Yoongi melepas Jas yang di pakainya, menyampirkan di bahu Jimin dan berjalan meninggalkan Jimin yang membatu di tempatnya.
Saat Yoongi tidak terlihat lagi, Jimin luruh ketanah lagi, kakinya lemas, perasaanya campur aduk. Perasaan gila yang Jimin tidak tau seperti apa mendeskripsikannya, takut, senang, dilindungi dan dicintai bercampur menjadi satu.
Lima menit Jimin masih berlutut di tanah dengan pikiran kosong. Terlihat Jungkook berlari tergopoh kearah Jimin dengan bungkusan makanan ditangannya. Bahkan makanan dalam bungkusan itu sudah keluar dari kemasannya, hancur lebur didalam bungkusan.
"Hyunng, astaga… ada apa? Apa yang terjadi?" Jungkook panic bukan main mendapati keadaan Jimin yang jauh lebih mengenaskan dari terakhir kali Jungkook tinggalkan. Jungkook mengguncang bahu Jimin kencang untuk mengembalikan kesadaran Jimin, dan berhasil. Jimin berkedip sekali, dan wajah lega Jimin tidak bisa disembunyikan lagi, Jimin memeluk Jungkook erat, ketakutan.
"Hyung, tidak apa, aku disini. Tenanglah…" Jungkook mengelus punggung Jimin yang bergetar hebat.
"Jungkook, jangan tinggalkan aku…" Jimin bercicit ketakutan.
"Tidak hyung, kau aman sekarang. Tenanglah. Jangan panic, oke?" Jungkook masih setia memeluk Jimin yang ketakutan setengah mati.
"Bawa aku pergi dari sini Jungkook, kumohon…." Jimin makin bergetar dipelukan Jungkook.
Jungkook kebingungan setengah mati, dia tidak tahu apa yang terjadi pada hyungnya ini sampai trauma seperti ini. Kebingungan Jungkook bertambah saat mendapati jas berwarna abu gelap tergeletak ditanah di belakang Jimin. Apa baru saja ada yang datang menemui Jimin hyung? Jungkook membatin.
"Hyung, tenanglah. Ayo kita pulang sekarang. Jangan takut, aku disini…" Jungkook mengambil jas abu itu dari tanah dan menyampirkannya di bahu Jimin, membantu namja bersurai orange itu untuk berdiri dan berjalan menuju mobil Jungkook.
Satu hal yang Jimin yakin sekarang, kehidupan Jimin tidak akan bisa kembali seperti semula. Jimin baru saja melakukan perjanjian dengan iblis. Iblis bernama Min Yoongi, dengan tali kekang kasat mata yang melilit leher Jimin, memastikan Jimin tidak membangkang, mengontrol segala hal tentang Jimin, dan memastikan Jimin menuruti perintahnya tanpa bisa membantah.
Tali kekang yang sampai mati Jimin tidak akan bisa melepasnya.
TBC
Astagaaaa….. terimakasih kakak-kakak yang sudah menyempatkan diri membaca dan me-review ff abal-abal ini.
Review kalian sangat berarti untuk semangatku menulis ff ini.
Sekali lagi terimakasih banyak…
I Love You…
