"Tidak hyung, kau aman sekarang. Tenanglah. Jangan panic, oke?" Jungkook masih setia memeluk Jimin yang ketakutan setengah mati.

"Bawa aku pergi dari sini Jungkook, kumohon…." Jimin makin bergetar dipelukan Jungkook.

Jungkook kebingungan setengah mati, dia tidak tahu apa yang terjadi pada hyungnya ini sampai trauma seperti ini. Kebingungan Jungkook bertambah saat mendapati jas berwarna abu gelap tergeletak ditanah di belakang Jimin. Apa baru saja ada yang datang menemui Jimin hyung? Jungkook membatin.

"Hyung, tenanglah. Ayo kita pulang sekarang. Jangan takut, aku disini…" Jungkook mengambil jas abu itu dari tanah dan menyampirkannya di bahu Jimin, membantu namja bersurai orange itu untuk berdiri dan berjalan menuju mobil Jungkook.

Satu hal yang Jimin yakin sekarang, kehidupan Jimin tidak akan bisa kembali seperti semula. Jimin baru saja melakukan perjanjian dengan iblis. Iblis bernama Min Yoongi, dengan tali kekang kasat mata yang melilit leher Jimin, memastikan Jimin tidak membangkang, mengontrol segala hal tentang Jimin, dan memastikan Jimin menuruti perintahnya tanpa bisa membantah.

Tali kekang yang sampai mati Jimin tidak akan bisa melepasnya.

.

.

.

.

KOI NO YOKAN

Pairing : Yoonmin, Namjin, Vkook!

.

.

.

"Jimin-ssi, kenalkan, ini Mirae yang akan menjadi model di Video Clip terbarumu. Dan Mirae-ssi, ini Park Jimin" Sang sutradara – Kim Jiwoo- memperkenalkan keduanya saat rapat akan diselenggarakan.

"Mohon kerja samanya Jimin-ssi" Mirae membungkuk canggung di depan Jimin.

"Ah, Ne. Mohon kerjasamanya juga, Mirae-ssi" Jimin Ikut membungkuk.

Jimin diam-diam mematai wanita cantik berbalut kemeja putih sesiku dengan jeans biru didepannya. Jimin harus akui, wanita pilihan Yoongi ini benar-benar pujaan laki-laki. Kulitnya putih, rambut sebahu, sopan, dan sepertinya menyenangkan. Tak berbeda dengan Jimin, Mirae yang juga diam-diam menilai Jimin dari ekor matanya,

"Baiklah, silahkan duduk kembali. Produser sudah mempercayakan konsep video clip ini padaku, jadi, seperti biasa, kita akan membahas ini lebih dahulu." Kim Jiwoo memulai rapat soal konsep yang akan di tunjukan di video clip terbaru Jimin.

Jimin tidak bisa berkonsentrasi dengan hadirnya Mirae di ruangan. Siapa sangka ucapan Hoseok dua minggu lalu menjadi kenyataan, semuanya! Mulai dari Karir Mirae meroket karena scandal video ciuman panasnya bersama Min Yoongi yang tersebar kemana-mana dan tentang agensi tempat Jimin bernaung yang mengincar Mirae sebagai umpan untuk bisa dekat dan berbisnis dengan Min Yoongi. Ini gila. Jimin bahkan tidak pernah menyangka hal ini, agensi seraksasa ini masih bermain kotor dengan menggunakan umpan perempuan.

Selama rapat dilaksakan, Jimin hanya mengiyakan tanpa benar-benar menyimak apa yang ditanyakan kepadanya. Semua konsep yang diterangkan oleh sang sutradara hanya Jimin angguki tanpa tahu maknanya.

Dua jam lebih rapat itu baru usai, para kru yang akan bekerja lusa dalam proyek video clip Jimin mulai meninggalkan ruangan satu persatu, meninggalkan Jimin, Mirae, sutradara, manager Sejin, dan asisten sutradara diruangan.

"Mirae-ssi, apa tuan Min tau anda datang kesini?" Kim Jiwoo bertanya amat sangat ramah, berbeda 180 derajat dari dirinya yang baru saja memimpin rapat dengan tegas.

"Huh? Haruskah dia tahu?" Mirae merapikan penampilannya sebelum berdiri meninggalkan ruangan.

"Apa anda sedang bertengkar dengan tuan Min?" sambung Jiwoo lagi.

"Tidak, tuan Kim. Aku rasa dia tahu, mengingat bagaimana sifatnya, tentu dia tau tanpa harus ku beritahu lebih dahulu" Mirae memberi senyum bersahaja untuk pertanyaan yang mulai mengganggunya.

"Baiklah kalau begitu. Ah… dan Mirae-ssi, tolong sampaikan salam tuan Bang – CEO- pada tuan Min"

"Ya, akan kusampaikan. Dan, Jimin-ssi, sampai bertemu lusa." Mirae langsung beranjak pergi tanpa menunggu respon dari Jimin yang tersenyum jengah kearah sang sutradara.

"The power of money" desis Jimin.

"Itulah kenapa kau harus kaya Jim. Lihat bagaimana mereka memperlakukan si model itu hanya karena dia menjabat sebagai kekasih Min Yoongi" respon Sejin yang tidak sengaja mendengar ucapan Jimin yang tepat disampingnya.

"Dia bukan kekasihnya!" marah Jimin pada Sejin. Sementara yang terkena marah tanpa sebab hanya melongo memandang Jimin yang sudah berjalan keluar ruangan.

.

.

.

Jimin bukan si dungu yang tidak tahu situasi. Dia paham betul kalau selama beberapa minggu ini dia di awasi, entah dapat insting darimana tapi dia sering merasa semua tingkah laku dan ucapannya dimonitor dari jauh. Memastikan Jimin tidak membangkang, atau mencoba melepas tali kekang dilehernya.

Jimin juga sadar, pelaku penembakan mobilnya dua hari setelah kejadian dia mengetahui seseorang bernama Luhan sudah membunuh seorang jurnalis, adalah orang suruhan Min Yoongi. Dan Jimin makin waspada pada apapun yang di ucapkannya. Sedikit saja mulutnya berani terbuka mengenai kejadiaan malam itu, maka nyawa Jimin adalah taruhannya.

Seperti saat itu, Jungkook yang memaksa Jimin bercerita tentang kejadian malam itu. Jungkook Memasuki mobil Jimin dengan seenaknya dan memaksa Jimin bercerita setelah setengah jam lebih merengek pada Jimin agar Jimin buka suara. Baru saja Jimin menceritakan tentang suara pria berteriak ketakutan dibawah jembatan dan, DOR! Spion sebelah kanannya ditembak seseorang. Dan Jimin bukan si dungu yang tidak tahu menahu perihal itu. Tembakan pada spion mobil nya jelas menjadi alarm Jimin agar menutup rapat mulutnya.

Terbukti sampai saat ini Jimin masih hidup dengan tidak membuka mulut atau berusaha menceritakan apa yang terjadi, satu-satunya hal yang bisa Jimin lakukan untuk hidup tenang adalah dengan menutup rapat mulutnya, kalau bisa, dia ingin mencuci otaknya agar ingatan saat malam itu terlupakan olehnya.

Dan Jimin benar-benar sadar, dia mengikat dirinya pada iblis yang jelas-jelas bukan lawannya yang seimbang.

.

.

.

"Namjoon, apa itu kau yang melakukannya?" Seokjin bersidekap di depan meja kerja Namjoon, memandang garang tunangannya yang kebingungan atas kemarah Seokjin. Seokjin datang bak badai ke hotel milik Namjoon, hal yang sangat jarang dilakukan Seokjin selama ini, datang tanpa pemberitahuan lebih dahulu.

"Apa yang kau bicarakan, sayang?" Namjoon meletakan kertas yang daritadi di bacanya diatas meja. Berjalan kearah Seokjin dan ingin memeluk namja cantik itu, namun sayang, Seokjin menolaknya mentah-mentah.

"Jawab saja! Apa kau yang menembak mobil Jimin?" Suara Seokjin naik satu oktaf. Pertanda untuk Namjoon kalau tunangannya benar-benar marah kali ini.

"Maafkan aku…" Namjoon menyesal.

"Demi Tuhan, Namjoon! Apa kau gila? Di dalam mobil itu ada Jungkook dan Jimin!" Seokjin memandang Namjoon dengan sorot tidak percaya terlihat jelas dimatanya.

"Aku terpaksa sayang"

"Terpaksa? TERPAKSA, KIM NAMJOON?" Seokjin meledak. Bahkan Seokjin mendorong bahu Namjoon yang berusaha merengkuhnya.

"Tapi mereka tidak ada yang terluka, aku bisa pastikan itu, Jinseok." Namjoon menggunakan panggilan sayangnya untuk Seokjin, berharap hal itu bisa meredakan sedikit saja kemarah Seokjin.

"Kau gila! Mereka memang tidak terluka fisik, tapi pikirkan mental mereka Namjoon! Beruntung Jimin bisa menyetir dengan selamat sampai ke apartemen ku saat itu. Mereka ketakutan, bahkan wajah mereka pucat pasi, Namjoon. Dimana otak mu?" Seokjin memuntahkan seluruh kemarahannya tanpa bisa dicegahnya.

Fakta bahwa beberapa minggu yang lalu, orang yang hampir mencelakai adiknya adalah tunangannya sendiri membuat Seokjin meradang.

"Jinseok, tolong dengarkan aku dulu…"

"Aku kecewa padamu, Namjoon" Seokjin berjalan menuju pintu dengan amarah yang masih di ubun-ubun.

Namjoon tidak tinggal diam dan menarik Seokjin kepelukannya. Menahan Seokjin yang memberontak dalam pelukannya, memukuli, mencakar leher Namjoon yang tidak tertutup kain, bahkan kaki Seokjin menendang tulang kering Namjoon tanpa kasihan.

"Aku bersalah Seokjin, aku bersalah. Maafkan aku…." Namjoon masih setia memeluk Seokjin yang masih menyerangnya dengan brutal dalam pelukannya.

"Lepaskan aku, brengsek!"

"Tapi aku tidak punya pilihan lain. Jimin bisa saja ditembak di kepalanya saat itu kalau aku tidak buru-buru mencegahnya, Jinseok!" Namjoon berusaha menjelaskan.

"Apa maksudmu?" Seokjin berhenti memberontak, tapi matanya jelas menantang Namjoon.

"Dari mana kau tahu hal ini?" Namjoon balik bertanya.

"Itu bukan hal yang penting sekarang! Fakta bahwa kau ingin mencelakai adikku, benar-benar memuakan, Kim Namjoon! Kau bahkan pintar berakting ternyata, saat aku menceritakan hal yang terjadi pada Jimin dan Jungkook kau berlagak tidak bersalah. Wow sekali, Kim Namjoon" Ejek Seokjin.

"AKu tidak pernah ingin mencelakai Jimin dan Jungkook, Jinseok. Tolong dengarkan aku dulu, kumohon duduklah" Namjoon tau Seokjin tidak akan menurutinya kali ini, jadi Namjoon memilih menggendong Seokjin kearah sofa dan mendudukkan Seokjin dengan paksa, karena lagi-lagi namja cantik itu memberontak padanya.

Seokjin duduk dengan kedua tangannya tergenggam oleh Namjoon diatas pahanya, sementara Namjoon berlutut didepan Seokjin. Memastikan Seokjin tidak bisa lari kemana-mana.

"Jelaskan!" Seokjin memandang nyalang kearah Namjoon.

"Jimin mengetahui sesuatu…" mulai Namjoon.

"Apa yang dia ketahui sampai kau ingin melenyapkannya, tuan Kim?"

"Sayang, ini bukan tentang aku atau Jungkook. Jimin dalam situasi yang tidak menguntungkan saat itu. Jimin mengetahu tentang pembunuhan yang dilakukan oleh salah satu anggota Yoongi hyung. Dan Jimin tertangkap. Dia nyaris saja dibunuh saat itu, tapi Yoongi hyung entah atas alasan apa, melepaskan Jimin. Sebagai gantinya, Jimin menjaminkan dirinya dan harus tutup mulut soal pembunuhan itu, sedikit saja Jimin membuka suara, Jimin akan dibunuh" Jelas Namjoon.

"Dan?"

"Dua hari setelah kejadian malam itu, Saat dimobil, Jungkook memaksa Jimin bercerita tentang kejadian hari itu. Hari yang bertepatan dengan beredarnya video ciuman panas Yoongi hyung dan perempuan itu." Namjoon menunduk. Dahinya bersandar dilipatan tangan Seokjin yang digenggamnya. Setelah beberapa detik, kepalanya kembali terangkat dan memandang mata Seokjin yang mulai melunak.

"Dan darimana kau bisa mengetahui isi pembicaraan mereka di dalam mobil?"

"Kai, salah satu anggota Yoongi hyung menyadap mobil Jimin. Dan Kai juga yang nyaris menembak kaca mobil Jimin. Jika sedetik saja aku terlambat, maka Jimin bisa…. Kau tahu… Min Yoongi selalu melakukan kata-katanya" Namjoon mendongak melihat mata Seokjin yang membola terkejut.

"Jadi, mereka mengawasi Jimin?"

"Benar. Dan aku bersyukur karena hanya aku yang diminta Yoongi hyung untuk mengawasi Jimin mulai sekarang. Sebelumnya, Kai dan aku yang ditugaskan mengawasi Jimin, tapi aku lupa kalau Kai itu sangat penurut. Dia menuruti Yoongi hyung dengan sangat baik, dan itu mengerikan. Aku hampir mati sakit jantung saat melihat dia mengarahkan pistolnya tepat ke kaca mobil yang berisi Jimin di baliknya." Namjoon bercerita lagi.

"Apa yang kau lakukan saat itu?" Seokjin melunak, sedikit banyak merasakan tekanan yang Namjoon rasakan.

"Aku menarik pistol dari tangan Kai buru-buru. Kemudian menembakkannya ke kaca spion mobil Jimin. Jika aku tidak melakukannya, setelah merampas pistol Kai, bisa-bisa aku yang mati tertembak dengan pistol itu" Namjoon meletakkan kepalanya dipaha Seokjin. Bebannya sedikit berkurang setelah selama beberapa minggu menutupi hal ini dari Seokjin.

"Maafkan aku…"Cicit Seokjin. Tangannya mengelus rambut Namjoon, Seokjin menyesal.

"Bukan salahmu. Aku juga akan beraksi sama jika itu terjadi padaku" Namjoon mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar kearah Seokjin yang masih duduk manis di sofa.

"Kau pasti lelah karena hal ini. Maafkan aku" Seokjin mengelus sayang wajah Namjoon yang masih setia dengan senyum lebarnya.

"Cium aku, maka kau akan ku maafkan" Namjoon menyeringai.

.

.

.

Syuting video clip Jimin berjalan lancar, tinggal pengambilan gambar terakhir dan semuanya selesai. Jimin menghadapkan wajahnya kearah kaca meja rias di dalam ruang make up, sementara di studio sedang ada Mirae untuk pengambilan gambar terakhir. Jimin memandang wajahnya yang di make up tipis, wajahnya tampak loyo dan bahunya bahkan melorot. Benar-benar lelah.

Jimin baru menutup matanya lima detik saat suara berat itu masuk ketelinganya. Min Yoongi datang kelokasi syutingnya? Atau Jimin mulai berhalusinasi?.

"Lelah sekali, anjing kecil?"

Jimin membuka matanya kaget, langsung duduk tegak. Pantulan Min Yoongi didalam kaca didepan Jimin menjadi fakta kalau Yoongi benar-benar datang kelokasi syuting.

"A.. ada apa?" Jimin gugup seketika. Lelah yang menyerangnya mendadak hilang entah kemana, berganti dengan jantungnya yang berdegup gila.

Yoongi berjalan mendekat kearah Jimin yang masih terduduk kaku di depan kaca meja rias, senyum arogan itu terpampang makin jelas saat melihat Jimin terintimidasi. Tangan Yoongi diletakkannya di atas bahu Jimin dan membuat pria bersurai orange itu terkejut tanpa bisa di tutupi lagi.

"Kau menjadi anak penurut selama beberapa minggu ini kan, anjing kecil?" Yoongi meremas kedua bahu Jimin. Jarak yang hanya terhalang oleh sandaran punggung kursi, sedikit menyelamatkan jantung Jimin yang sudah berdegup makin gila. Jimin yakin dia bisa mati muda di dekat namja arogan ini.

"Ya, aku tidak membuka mulutku sama sekali" Jimin menelan ludah gugup.

"Benarkah?" Yoongi memajukan kepalanya kedepan, sejajar dengan kepala Jimin sebelah kanan, bahkan pipi mereka hampir bersentuhan.

Jimin menundukkan pandangannya dan mengangguk sebagai jawaban, tidak berani memandang pantulan wajahnya di cermin, sementara Yoongi sudah menyeringai jahat tanpa Jimin ketahui.

"Kau tahu, aku tidak suka anak nakal, apa sekarang kau sedang mencoba jadi pembohong?" Yoongi meletakkan dagunya diatas kepala Jimin kali ini, sementara tangannya sudah memeluk bahu Jimin yang menegang di depannya. Perlakuaanya manis, tapi jelas ini intimidasi. Jimin bisa dengan jelas merasakannya, bahkan tanpa pistol mengarah ke kepalanya. Si arogan ini sedang menunjukan pada Jimin siapa yang paling berkuasa diantara mereka berdua dengan cara yang unik.

"Maafkan aku, aku… aku bahkan tidak jadi menceritakannya" cicit Jimin. Jimin tau dia sudah ketahuan berbohong. Jangan lupakan alasan penembakan mobil nya saat itu.

"Jadi kau berencana menceritakannya?" Yoongi pura-pura terkejut di intonasi suaranya, berbanding terbalik dengan matanya yang berkilat jahil. Mungkin mengintimidasi 'anjing kecil' ini sudah menjadi hobi barunya.

"Bu… bukan, aku tidak bermaksud begitu, hanya saja…" Jimin panic, tanpa sadar memegang tangan Yoongi yang memeluknya. Bohong kalau Jimin tidak merasa aman dipelukan si arogan itu, tapi Jimin juga merasakan intimidasi yang nyata dari hal itu

"Kau tahu, jika ada orang lain yang tahu, dia akan bernasib sama denganmu, Park Jimin" Yoongi terkekeh sambil melepaskan pelukannya pada Jimin.

"J… Jungkook tidak tahu apapun, aku jamin hal itu tuan Min. Jangan libatkan dia" Jimin tanpa sadar berdiri langsung menghadap Yoongi yang memandangnya dengan sinis. Ketakutan menghantui Jimin, membayangkan Jungkook akan terkena masalah sepertinya.

"Huh? Benarkah?"

"Jungkook tidak tahu apapun, sebelum aku sempat bercerita, seseorang menembak kaca spion mobilku, dan … dan… aku tidak membahas hal itu lagi dengan Jungkook setelahnya. Aku bersumpah" Jimin menjelaskan, mulai putus asa. Benar-benar merasa bodoh karena menceritakan masalah yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh siapapun, terlebih pada Jungkook.

Yoongi membalik kursi yang tadi digunakan Jimin dan mendudukan dirinya disana, tepat didepan Jimin yang berdiri gugup.

"Apa buktinya kalau Jungkook benar-benar tidak tahu?" Yoongi mendongak menatap Jimin yang menunduk, Jimin meremas kedua tangannya, jelas-jelas ketakutan sekarang.

"A… aku tidak bisa membuktikannya, tapi aku bisa jamin kalau Jungkook tidak tahu apapun tuan Min…" Jimin putus asa sekarang, bagaimana dia bisa membuat pria arogan ini percaya padanya, dia benar-benar dalam masalah sekarang.

Jimin terkejut saat pistol diarahkan tepat di dahinya, matanya bergetar memandang Yoongi.

"Kau sedang ingin menguji kebaikan ku, Park Jimin?" Yoongi tersenyum jahat, moncong pistol bergerak ke kiri dan ke kanan di dahi Jimin, membuat Jimin otomatis mundur dan menabrak meja rias di belakangnya.

Jimin yang merasa terintimidasi mulai hilang akal. Pria bersurai orange itu memegang pistol Yoongi dan mengarahkannya tepat kedahinya, membuat pistol yang tadinya bergerak ke kiri dan ke kanan berhenti tepat di tengah dahinya. Tangan Jimin bahkan bergetar hebat, dia ingin menangis tapi dia tau Yoongi benci melihat tangis, jadi pria bersurai orange itu menutup matanya rapat-rapat. Saat pelatuk yang ditarik Yoongi terdengar di telinganya, Jimin makin mengeratkan pejaman matanya.

Jimin tersentak saat kerah bajunya ditarik dan bukannya tembakkan di dahi yang di dapatkannya, melainkan ciuman panas yang jujur saja Jimin rindukan. Jimin tetap tidak berani membuka matanya karena dinginnya moncong pistol sudah berpindah ke telinga kirinya.

Ciuman itu menuntut, dan Jimin menikmatinya. Hitung-hitung ciuman selamat tinggal, setidaknya saat Jimin mati nanti, Jimin bisa mati dengan tenang. Saat tangan Yoongi merayap di dalam bajunya, meraba perutnya sampai kedada, Jimin kehilangan kewarasannya. Bahkan Jimin tidak memperdulikan pistol yang masih setia berada di telinga kirinya. Jimin benar-benar merasa senang karena diinginkan saat ini.

Jimin meremas rambut belakang Yoongi dengan berani, entah sejak kapan tangannya merayap kebelakang kepala Yoongi, Jimin tidak mau perduli. Tepat saat Yoongi menggendongnya dan mendudukan Jimin di meja rias, Jimin makin berani, bahkan Jimin melingkarkan kakinya dipinggang Yoongi. Sentuhan Yoongi di tubuhnya benar-benar membuatnya mabuk, Jimin bahkan lupa dia masih diruang make up yang kapan saja bisa dimasuki orang lain. Yang dia inginkan sekarang adalah membuktikan perasaan gila yang mengganggunya, membuktikan apakah Jimin hanya terpesona atau sudah jatuh pada tuan arogan ini.

Baju milik Jimin sudah terlepas dari tubuhnya, kancing kemeja Yoongi juga sudah terlepas seluruhnya. Bahkan tanda kemerahan di dada dan leher Jimin sudah terlihat jelas. Kepala Jimin mendongak keatas menabrak kaca yang berada di belakangnya,nafasnya terengah-engah, pasrah atas apapun yang Yoongi lakukan atas tubuhnya. Pistol yang sedari tadi menempel di telinga Jimin sekarang tergeletak begitu saja di lantai. Kesadaran Jimin hampir hilang saat Yoongi membuka gesper celana Jimin, saat kemudian tiba-tiba ucapan Jin melintas diotaknya.

'Min Yoongi punya banyak kekasih'

Detik saat pemikiran itu terlintas, Kewarasan menampar Jimin keras. Jimin mendorong bahu Yoongi dan berdiri goyah. Wajahnya memerah menahan marah dan nafsu yang mencampur menjadi satu.

"Aku… aku bukan jalangmu…" Jimin mencicit pelan, nafasnya masih memburu.

Yoongi hanya terdiam memandang Jimin yang berdiri gemetar di depannya. Keheningan menyelimuti dan menyesakkan Jimin. Dia menunduk memungut bajunya yang tergeletak di lantai disebelah kakinya, menutup tubuhnya dengan bajunya.

"Kau bukan jalangku" Yoongi akhirnya bersuara saat menangkap mata Jimin yang terluka.

"Ya benar, aku bukan jalangmu. Tapi peliharaanmu…" Jimin tersenyum miris. Tidak berani menatap Yoongi.

"Kau bukan peliharaanku" Yoongi berujar lagi.

"Lalu aku ini apa untukmu?" Jimin bercicit makin pelan. Mengeram marah tapi tidak berani menunjukan kemarahannya.

"Kau milikku" ucapan Yoongi membuat Jimin mendongak, kebingungan jelas terpampang di wajahnya.

Yoongi menarik baju di genggaman Jimin dan memakaikannya pada Jimin, setelah memakaikan pakaian Jimin, Yoongi mengkancing kemejanya dan berjalan meninggalkan Jimin yang melogo di tempatnya.

Detik saat Yoongi meninggalkan Jimin di ruang rias, Jimin meluruh ke lantai. Menangis sesenggukan sendirian. Merasa seperti buku yang sudah terbuka tapi tidak jadi di beli. Jimin merasa konyol sekarang.

Dia menangis sedetik, kemudian menertawai dirinya sendiri. Bahkan setelah hal itu terjadi, Yoongi meninggalkannya begitu saja tanpa kejelasan. 'Miliku' apanya? Jimin benar-benar merasa di permainkkan sekarang. Apa si arogan itu tiba-tiba merasa iba melihat wajah Jimin yang menyedihkan?.

Jimin benar-benar merasa konyol sekarang.

.

.

.

Saat Jimin keluar ruang rias, hal pertama yang dilihatnya adalah Min Yoongi yang baru saja mencumbunya sedang duduk bersebelahan tanpa jarak dengan tangan Yoongi merangkul bahu Mirae. Kenyataan makin menampar Jimin keras. Jimin merasakan dadanya berdebar keras. Setelah merasa konyol, sekarang Jimin benar-benar ingin menertawai dirinya sendiri. Baru saja dia nyaris bercinta dengan lelaki yang sudah memiliki kekasih.

Jimin berjalan melewati Yoongi dan Mirae begitu saja, mendatangi Kim Jiwoo yang menjadi sutradara untuk video clip barunya. Walaupun Jimin gugup setengah mati berada di dekat Yoongi, tapi Jimin bersikap seperti tidak terjadi apapun barusan. Dentuman jantungnya yang gila menyakitinya, tapi Jimin adalah pelakon peran yang baik. Semua tertutupi dengan senyum yang terlihat ceria dan berhasil mengelabui siapapun disana.

Saat semua kru sedang berpamitan akan pulang, Jimin berjalan kembali keruang rias, tanpa Jimin ketahui Mirae mengikutinya dari belakang.

"Jimin-ssi?" Mirae memegang bahu Jimin pelan, dan Jimin berbalik kearahnya.

"Ne?"

"A… aku tidak punya banyak waktu, ini ambillah" Mirae meletakkan secarik kertas di tangan Jimin.

"Apa ini?" Jimin mengerutkan alisnya bingung.

"Itu nomer ponselku, tolong hubungi aku kapan pun kau bisa Jimin-ssi. Dan… aku melihat semuanya tadi. Ma.. maksudku bukan semuanya, aku hanya melihat sekilas lalu pergi" Mirae berucap tak enak hati.

Jantung Jimin berdetak dengan gila lagi, apa Jimin ketahuan bercumbu dengan Yoongi? Tapi kenapa gadis ini tidak menghajarnya? Bukannya berita online mengatakan dia adalah kekasih Min Yoongi? Jimin membatin.

"Jangan sepertiku Jimin-ssi. Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya saja, jangan biarkan dirimu terjatuh lebih dalam lagi. Suga… dia bukan orang baik, kau pantas mendapatkan yang lebih baik. Dan aku bukan kekasihnya, jadi jangan salah paham" Mirae berucap simpati. Setelah mengelus bahu Jimin tanda simpati, Mirae berlari kearah ruang studio. Mirae membohongi Yoongi dengan berkata ingin ke toilet sebelum pulang.

Sepeninggalan Mirae, Jimin masih terdiam memandang kertas ditangannya. Senyum lemah terpampang di wajahnya, perasaannya campur aduk. Jimin menunduk dan menggenggam kertas diitangannya, kembali tersenyum lemah.

"Aku bahkan sudah mencintainya, Mirae-ssi. Kau terlambat memperingatkanku"

.

.

.

"Tuan pulang ke Seoul hanya karena mendengar dia menjalin hubungan dengan seorang model?" Wonho berjalan sambil mendorong koper milik Hyungwon baru saja tiba di Seoul.

"Jangan mulai lagi. Kau tau, tidak ada yang boleh merebut posisiku." Hyungwon berdecak kesal.

"Tapi posisi anda sudah digantikan oleh ratusan jalang setelah anda pergi meninggalkannya"

"Kalau dia hanya bermain dengan jalan-jalang itu, aku tidak masalah. Tapi aku tidak akan membiarkan posisiku diambil oleh siapapun. Kau paham?" Hyungwon makin kesal.

"Tapi tuan…"

"Posisiku tidak sama dengan jalang-jalangnya! Aku miliknya. Dia sendiri yang mengatakannya dulu"

"Tapi itukan sudah berlalu lama" Wonho memutar bola matanya malas.

"Jangan mulai berkelahi dengan ku Wonho. Yang kau harus paham adalah, aku miliknya, dan Min Yoongi adalah milikku!"

TBC….

Sebagai penulis kacangan saya terharu dengan respon kakak-kakak sekalian.

Terimakasih sudah member semangat lewat Review –annya.

FF ini akan diusahakan update setiap minggu, entah itu hari apa, yang pasti di usahakan update.

I love you kakak-kakak

*kecup satu satu