"Kalau dia hanya bermain dengan jalan-jalang itu, aku tidak masalah. Tapi aku tidak akan membiarkan posisiku diambil oleh siapapun. Kau paham?" Hyungwon makin kesal.

"Tapi tuan…"

"Posisiku tidak sama dengan jalang-jalangnya! Aku miliknya. Dia sendiri yang mengatakannya dulu"

"Tapi itukan sudah berlalu lama" Wonho memutar bola matanya malas.

"Jangan mulai berkelahi dengan ku Wonho. Yang kau harus paham adalah, aku miliknya, dan Min Yoongi adalah milikku!"

.

.

.

KOI NO YOKAN

.

.

.

YOONMIN, NAMJIN, VKOOK

.

.

.

"Gunakan baju yang lebih tertutup dan jangan tembus pandang seperti ini kalau kau baru habis bercinta, Jim"

"Uhuukkk… WHAT?" Jimin tersedak minumannya mendengar ucapan Seokjin yang tiba-tiba.

Jimin dan Seokjin sedang berada di café milik Seokjin yang berada dikawasan Gangnam, terletak disalah satu gedung perkantoran elit, yang bagian basement nya diisi oleh bermacam ragam café, mulai dari minuman kopi asal Amerika yang terkenal, toko kue kenamaan, sampai makanan mulai dari makanan lokal sampai mancanegara, ada dilantai dasar gedung perkantoran elit ini.

"Apa?" Seokjin berujar santai menanggapi reaksi Jimin yang dinilainya berlebihan.

"Aku tidak!" Jimin mengerut kesal.

"Ya… ya… katakan itu pada kissmark yang mulai membiru di sebelah nipple mu" Seokjin memutar bolo matanya.

Jimin refleks menyilangkan kedua tangannya didepan dada, menutupi apapun yang terlihat dipandangan Seokjin.

"Kau memandangi dadaku, Hyung?" protes Jimin, berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Kissmark di dadamu itu menggangguku, Jim. Salah mu sendiri pakai kemeja putih tipis begitu" Seokjin menopangkan kaki kirinya ke kaki kanan, tangannya terlipat didada, matanya menelisik tajam kearah Jimin yang salah tingkah berada tepat didepannya yang hanya terhalang meja. Membuat Jimin seperti pesakitan yang sudah sekarat, malah dituding kejam.

"Ini bukan kissmark, oke?!" Jimin balas menantang tatapan Seokjin yang seolah mengejeknya.

"Aku sering mendapatkannya dari Namjoon, ngomong-ngomong. Jelas aku kenal tanda di dadamu itu. Jadi, dengan siapa kau menyerahkan dirimu, eoh?" Seokjin mulai menyerang Jimin yang makin kelabakan didepannya. Benar-benar seperti kena sidang pengadilan dengan Jimin sebagai tersangka. Jimin terpojok.

"HYUNG!" Jimin ingin marah karena merasa terpojok, tapi reaksi tubuhnya berkhianat. Wajahnya memerah, dan Jimin salah tingkah. Sekelebat ingatan tentang dirinya dan Yoongi yang nyaris bercinta di ruang rias menyerangnya tanpa bisa dicegah.

"Tinggal di jawab apa susahnya?" Seokjin mulai jengkel. Walaupun gerak tubuhnya masih santai, tapi dalam hati Seokjin benar-benar penasaran. Ini bisa jadi gossip, oke?.

"Hentikan pembicaraan ini. Aku kesini ingin membeli kopi dan cake, Hyung. Bukan untuk disidang. Dan aku benar-benar tidak habis bercinta Hyung. Aku berani bersumpah"

"Kau mulai pintar menyembunyikan sesuatu, eoh?" Seokjin terkekeh akhirnya, menyudahi peran ibu tiri yang sedari tadi diperankannya.

"Aku tidak menyembunyikan apapun hyung. Bagaimana bisa aku… kau tau… melakukan itu, pacar saja tidak punya" Jimin mengiba belas kasihan Seokjin kali ini, berharap namja cantik itu sedikit kasihan padanya dan percaya atas kebohongan kecilnya kali ini.

"Kau tidak harus punya pacar untuk bisa melakukannya, Jim. Jangan terlalu naïf. Kau tidak perlu punya hubungan khusus dengan seseorang supaya bisa melakukannya"

"Ya… ya… dan aku cukup cerdas untuk tidak tidur dengan sembarangn orang. Aku hanya akan melakukannya dengan orang yang aku cintai, Hyung"

"Aku pegang ucapanmu, anak muda. Jangan tidur dengan sembarang orang. Aku tidak bisa membayangkan kau yang anak baik-baik ini berubah jadi binal. Aku bisa gila"

"Tentu. Kau bisa pegang ucapanku. Btw, Namjoon hyung apa kabar?" Jimin berujar ceria, tapi Seokjin merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari yang sewajarnya. Memiliki rahasia benar-benar menyiksa Seokjin.

Ingin rasanya Seokjin meminta maaf pada Jimin atas apa yang menimpanya beberapa minggu yang lalu. Walaupun bukan dia pelakunya, tetap saja Seokjin merasa tertekan. Seokjin jadi paham perasaan Namjoon yang merasa bersalah kepada anak naïf dan bodoh di depannya ini.

"Dia baik. Aku dengar dari Jungkook, kau akan segera comeback, Jim?" Seokjin mengalihkan pembicaraan. Membahas soal Namjoon bersama Jimin sudah tidak akan pernah sama lagi bagi Seokjin semenjak Seokjin tau kebenarannya.

"Hum, aku sudah selesai syuting video clipnya. Beberapa minggu lagi aku akan comeback, hyung" Jimin tersenyum cerah.

"Sukses untuk lagumu. Jim, boleh aku bertanya sesuatu?" Seokjin menegakkan tubuhnya, mencondongkan diri kea rah Jimin.

"Apa hyung?"

"Kau masih bertemu dengan Min Yoongi?"

Detik saat pertanyaan Seokjin masuk ketelinga Jimin, Jimin mematung ditempatnya, jantungnya berdebar keras hanya karena mendengar nama si brengsek itu.

.

.

.

"Kenapa anak manja itu kembali?" Yoongi bertanya pada Wonho yang berdiri tegak di depan meja kerjanya, tidak ingin duduk walaupun sudah di persilahkan.

"Dia kembali karena mendengar gossip tentang anda yang sedang ramai dibicarakan, Boss" Wonho menjelaskan.

"Lalu?"

"Dia langsung ingin menemui anda saat tiba di Seoul, tapi saya menolak permintaannya."

"Pastikan anak itu tidak muncul dihadapanku. Atau aku akan membolongi kepala anak itu… dan juga kepalamu" Yoongi memijit pangkal hidungnya. Kepalanya nyaris pecah berurusan dengan wartawan yang seperti vampire haus darah.

Video ciuman panas antara Yoongi dan Mirae memang masih menjadi topic hangat, keadaan bukannya semakin tenang malah semakin liar. Membunuh jurnalis penyebar video tersebut pun tidak ada gunanya. Para wartawan itu sepertinya belum puas kalau belum mendengar pernyataan langsung dari Yoongi. Dan kini, sakit kepala Yoongi bertambah dengan kembalinya anak manja itu- Hyungwon-

"Siap bos."

"Dan buat konfirmasi atas namaku di media kalau aku dan Mirae tidak punya hubungan apa-apa. Pastikan pernyataanku sudah terbit di media satu jam lagi."

"Siap bos"

"Pergilah. Urus anak manja itu, dan segera katakan pada ayahnya untuk memulangkannya ke Amerika"

"Tapi, dia bersikeras ingin bertemu dengan anda boss"

"Bawa dia kehadapanku, dan kalian akan mati berdua. Romantis kan?" Yoongi tersenyum miring, dan itu adalah alarm untuk Wonho agar jangan membantah.

"Maafkan saya boss, tapi Hyungwon berencana menemui Mirae jika anda tidak mau menemuinya, anda tau benar sifat anak itu…" Wonho menyuarakan kegelisahannya lagi.

"Apa aku harus perduli, Wonho?" Yoongi dan aura dominasinya. Siapapun tidak akan bisa berkutik di depannya.

"Maafkan saya, tuan" Wonho membungkuk dan undur diri dari hadapan Yoongi. Berlalu secepat mungkin, menghindari kemarahan monster ini demi keselamatan nyawanya. Terdengar bijak sekali, Wonho.

.

.

.

Dan disinilah Hyungwon berada, duduk berhadapan dengan Mirae yang kebingungan setelah dipaksa, ditarik, dan diancam oleh Hyungwon. Mereka berada di café yang berada dalam salah satu gedung agensi yang menaungi Mirae sebagai salah satu artisnya, dan sialnya adalah milik ayah Hyungwon. Salahkan Yoongi yang tidak mau bertemu dengan Hyungwon, terpaksa Hyungwon menyeret wanita itu langsung.

"Apa kau punya hubungan khusus dengan Yoongi?" Hyungwon bertanya tanpa basa-basi. Dibelakangnya sudah berdiri pengawal setianya –Wonho-.

"Maaf?" Mirae mengerutkan alisnya kebingungan.

"Sudah tidak cantik, telinganya bermasalah, apa yang dilihatnya darimu?" Hyungwon mulai menyerang. Kecemburuannya melahap habis isi tubuhnya.

"Maaf, tapi anda ini siapa?"

"Wow, artis macam apa yang tidak tahu anak pemilik agensi yang menaunginya?" Hyungwon terkejut dibuat-buat.

"A… anda Hyungwon?" Mirae membulatkan matanya tak percaya. Mirae sering mendengar tentang anak pemilik agensi yang tinggal diluar negeri, tidak hanya itu saja, banyak kru mengeluh soal sifat Hyungwon anak kesayangan CEO agensinya, yang katanya bossy, menyebalkan, seenaknya, dan kurang sopan santun.

"Baru sadar kau sedang berhadapan dengan siapa? Jadi, kau, siapanya Min Yoongi?" Hyungwon bak berada di atas angin melihat wajah pucat Mirae.

"A… aku tidak punya hubungan seperti yang sedang diberitakan itu, Hyungwon-ssi"

"Lalu?" Hyungwon menaikan alisnya. Tidak puas dengan jawaban Mirae

"Aku bukan siapa-siapanya…"

"Kau tau, jika kau berbohong, aku bisa pastikan kau akan ditendang dari perusahaan ini. Jangan bermain dengan api, sayang…" Hyungwon menyerang lagi, sementara Mirae sudah membulatkan matanya.

Jangan bercanda, demi bisa debut sebagai model, Mirae bahkan harus membuka pahanya, menyampingkan harga diri demi debut dan saat Mirae berada dipuncak karir, dia harus tersingkir karena video sialan yang mengundang macan tidur dari Amerika ini muncul dihadapannya, ini benar-benar tidak adil untuknya.

"Aku tidak berbohong!" Mirae menaikan suaranya satu oktaf karena takut dan kesal. Mirae sadar dia sedang berhadapan dengan siapa. Hyungwon jelas bukan orang yang tepat untuk dilawan kalau dia ingin karirnya masih bertahan.

"Jaga suaramu, brengsek! Kau pikir kau berbicara dengan siapa?!" Hyungwon mulai terpancing emosinya, sementara Wonho hanya tersenyum miring menyaksikan dua macan betina yang sebentar lagi akan saling cakar.

Wonho bukannya tidak mau menyampaikan pesan Yoongi yang ditujukan pada wartawan ke Hyungwon, pesan yang menyatakan bahwa Yoongi dan Mirae tidak ada hubungan apa-apa. Tapi, sayangkan melewatkan tontonan gratis seperti ini? Jadi Wonho memutuskan menyimpan pesan itu untuknya dulu saat ini.

"Ma… maafkan aku. Tapi aku benar-benar tidak ada hubungan apa-apa dengan Yoongi-ssi"

"Kau pikir aku bisa percaya begitu saja? Kau pikir mataku buta? Jelas-jelas di video itu kau dan Yoongi berciuman!" Tuding Hyungwon.

"Tapi aku tidak ada hubungan apa-apa dengan nya. Dia hanya sponsor" Jelas Mirae.

"Katakan itu di depan media! Katakan kalau kau hanya jalangnya!"

"Mwo?"

"Katakan pada media kalau kau hanya hiasan ranjangnya!" Hyungwon memukul meja di depannya.

"Hyungwon, sudahlah…" Wonho melerai. Kasihan juga melihat Mirae yang hampir menangis.

"Diam, brengsek!" Hyungwon memukul tangan Wonho yang memegang pundaknya, berniat menenangkannya yang sebentar lagi siap menerkam Mirae.

"Mana mungkin aku berbicara di media seperti itu! Itu sama saja bunuh diri! Aku membangun karir ku susah payah, hanya karena hal ini kau ingin menyingkirkanku dari dunia hiburan. Ini tidak adil!" Mirae meledak.

"Susah payah? Kau hanya membuka pahamu demi sponsor! Apanya yang susah payah!" Hyungwon mencibir, tidak merasa kasihan sedikit pun melihat Mirae yang sudah menangis didepannya.

Mirae terdiam mendengar ucapan Hyungwon yang jelas-jelas menampar harga dirinya telak. Mirae bahkan tidak sanggup membuka suara lagi, karena apa yang di ucapkan Hyungwon adalah fakta yang sesungguhnya.

"Kenapa diam?" Hyungwon menantang.

"Aku bersumpah Hyungwon-ssi, aku tidak ada hubungan apapun dengan Yoongi-ssi. Kau benar, aku hanya jalangnya. Aku tidak tau hubungan apa yang kau jalin dengan Yoongi-ssi, tapi sekali lagi, hubunganku dengannya hanya sebatas sponsor, tidak lebih. Dan video itu, aku tidak tau darimana asalnya" Mirae sudah menangis hebat di depan Hyungwon, ucapannya bahkan tersendat-sendat karena tangis, tapi Hyungwon benar-benar tidak ada hati untuk sedikit mengasihani Mirae.

"Kau, dan karirmu, tamat hari ini Mirae. Kau sudah salah berurusan denganku." Hyungwon berdiri, bersiap meninggalkan Mirae yang sudah panic.

Mirae bingung, bahkan tidak tau apa yang tengah menimpanya saat ini. Tiba-tiba anak pemilik agensinya muncul, menuduh dan menghinannya tanpa kasihan, kemudian mengancam akan menghancurkan karir yang dibangunnya dengan harga dirinya sebagai bahan pertukaran. Ini benar-benar terburuk dalam hidupnya.

Dia tahu Hyungwon benar-benar akan menghancurkan karirnya, sampai Mirae ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Hyungwon jelas-jelas punya power di dunia industry hiburan korea, menghancurkan karir Mirae bukan hal sulit untuknya. Hanya sedikit permainan media, maka hancurlah Mirae di tangannya.

Tanpa menghiraukan harga dirinya lagi, Mirae bahkan berlari mengejar Hyungwon yang sudah berjalan menuju pintu keluar café, menghalangi jalannya, dan bahkan berlutut didepan Hyungwon dan Wonho.

"Apa?" Hyungwon mendongak angkuh, sementara Mirae sudah berlutut dihadapannya.

"Ku.. kumohon Hyungwon-ssi. Aku hiks… benar-benar hanya jalangnya, aku… aku tidak ada hubungan khusus dengannya. Tolong percaya. To… tolong jangan hancurkan aku, kumohon…" Mirae benar-benar kehilangan harga dirinya untuk yang kedua kali. Setelah dilakukan seperti pelacur oleh Yoongi, sekarang diperlakukan bak sampah oleh Hyungwon.

"Ck, sudahlah Hyungwon. Sebenarnya tadi tuan Min sudah mengatakan padaku kalau mereka tidak punya hubungan apapun. Bahkan tuan Min memintaku untuk memberikan konfirmasi ke public" Wonho akhirnya buka suara. Rasanya benar-benar kasihan melihat Mirae yang diperlakukan bak sampah oleh Hyungwon.

"Kau! Berani sekali…."

"Kau menyuruhku diam" Wonho menaikan bahunya tak peduli.

"Brengsek!" Hyungwon meninju perut Wonho sekuat tenaga. Merasa kesal karena dipermainkan dan untuk waktunya yang terbuang hanya untuk berurusan dengan jalang berkedok artis.

Hyungwon melewati Mirae dengan sengaja menyenggol bahu gadis itu dengan kakinya. Sementara Wonho tengah terduduk menahan sakit diperutnya akibat pukulan Hyungwon.

"Terimakasih…" Ucap Mirae sambil menolong Wonho berdiri.

"Bukan masalah. Tolong Maafkan dia…" Wonho tersenyum manis. Pantang untuk Wonho meminta maaf atas namanya sendiri. Wonho tidak akan minta maaf atas hal yang menimpa Mirae, yang secara tidak langsung terjadi karena Wonho tidak mengatakan hal itu pada Hyungwon sampai gadis di hadapannya ini di labrak habis-habisan.

"Bukan salahnya…" Mirae balas tersenyum, masih memegang tangan Wonho agar tidak limbung saat berdiri.

"WONHOOO! KU HITUNG SAMPAI TIGA JIKA KAU TIDAK KESINI, KAU MATI DI TANGANKU, BRENGSEK!" Hyungwon berteriak kencang. Terganggu dengan pemandangan didepannya.

"Huh, anak manja itu…" Wonho berjalan memegangi perutnya, meninggalkan Mirae tanpa salam perpisahan basa-basi.

Sepeninggalan Hyungwon dan Wonho, Mirae melirik kesekitarnya. Bersyukur karena keadaan café yang sepi tanpa pengunjung. Mirae kembali berjalan kemeja yang di dudukinya bersama Hyungwon, mendudukan dirinya sampai dia merasa tenang dan tangisnya mereda. Saat keadaannya mulai tenang, Mirae mengambil ponselnya, membuka galeri foto dan melihat foto yang berhasil diambilnya beberapa hari yang lalu. Foto Jimin dan Yoongi yang sedang berciuman, dengan Yoongi membelakangi kamera.

Mirae menelpon seseorang dengan ponselnya, terjadi tawar menawar harga yang lumayan sengit ditelepon. Saat harga yang diinginkan Mirae disetujui, dan sejumlah uang masuk kerekening Mirae dengan jumlah yang tidak sedikit, Mirae menatap ponselnya sekali lagi. Menimbang ulang akan keputusannya, dan gadis itu bukannya goyah malah makin yakin akan keputusannya saat melihat pesan M-Banking diponselnya. Tanpa berpikir dua kali dan akibat dari perbuatannya, Mirae mengirim foto Jimin dan Yoongi ke salah satu berita online.

"Setidaknya, jika aku hancur, kau harus hancur bersamaku, Park Jimin" Mata gadis itu menggelap.

Yang Mirae lupa adalah, industry hiburan lebih 'ramah' pada laki-laki daripada perempuan.

.

.

.

Kebiasaan Jimin jika sedang dalam masa libur adalah pergi kuliner seorang diri. Jimin akan berpergian tanpa arah yang jelas dari satu café ke café yang lain, dari satu kedai ke kedai yang lain untuk makan, sampai perutnya nyaris pecah.

Seperti hari ini, setelah mampir ketempat Seokjin, Jimin melanjutkan acara membeli makanan nya ke sebuah restoran yang cukup terlihat sepi dari luar di daerah Gangnam, karena waktu sudah menunjukan pukul tiga sore, sudah lewat jam makan siang, keadaan restoran tersebut benar-benar sepi.

Jimin melepas topi hoodie nya dan masker yang menutupi hidung serta mulutnya, mendudukan diri disebuah meja disudut disebelah dinding, sendirian. Jimin terbiasa menikmati waktunya sendiri, sebelum jadwal promosi album terbarunya mencekik lehernya. Menghabiskan waktu dengan dirimu sendiri itu perlu.

Setelah memesan makanan yang diinginkannya, Jimin melihat-lihat interior restoran yang baru pertama kali di kunjunginya ini. Di depannya terdapat pintu berukiran klasik khas restoran china dengan tulisan VIP menggantung di daun pintunya.

Jimin masih sibuk melihat-lihat interior restoran tersebut sampai pintu di depannya terbuka, mengalihkan perhatiannya. Jimin melirik sekilas dan beberapa pria berjas rapi keluar dari sana, atensi Jimin masih tertuju pada interior bangunan sampai orang terakhir keluar dari ruangan VIP tersebut bersama seorang pelayan yang menutup pintu ruangan untuknya setelah pria terakhir itu keluar.

Jimin terkesiap. Didepannya berdiri Min Yoongi dengan wajah datar brengseknya, bercengkrama dengan beberapa pria tua di depan pintu, pria-pria yang Jimin duga adalah rekan bisnisnya. Yoongi yang selalu terlihat 'mahal' dimata Jimin, hari ini mengenakan setelan jas berwarna biru gelap nyaris menuju hitam, rambut silvernya tertata rapi, aura arogannya masih kental disekitar namja pucat itu, bahkan dari jarak yang agak jauh, Jimin bisa mencium wangi parfum Yoongi. Benar-benar penciuman yang tajam, Park Jimin.

Jimin buru-buru menundukkan kepalanya memencet ponselnya asal-asalan, berpura-pura sibuk, berharap Yoongi tidak menyadari kehadirannya. Beberapa pria tua sudah berjalan melewati meja Jimin yang berada tepat berhadapan dengan pintu, sementara Yoongi masih berbicara kepada wanita yang memegang buku dan laptop di tangannya.

Wanita itu berlalu, meninggalkan Yoongi sendiri. Dari ekor mata Jimin, Jimin bisa melihat Yoongi merapikan Jas nya dan memasukkan kedua tangannya dalam saku celana, berjalan kearahnya. Mendadak Jimin merinding, berdoa agar Yoongi juga mengabaikan keberadaannya seperti rekan-rekan bisnisnya barusan.

Yoongi berhenti tepat di depan Jimin yang masih menunduk, matanya tertutup rapat, Jimin mulai berdoa agar Yoongi cepat-cepat berlalu, tapi Jimin masih bisa merasakan keberadaan Yoongi didepannya dari wangi parfum yang menyerang penciuman Jimin. Damn it, Min Yoongi!

"Apa yang anjing kecil ku lakukan sendirian disini?" Yoongi tersenyum miring melihat reaksi Jimin yang terkejut mendengar suaranya.

Jimin mengangkat kepalanya, tersenyum terpaksa.

"Aku… aku lapar…" Jimin merutuki jawaban dan nada suaranya. Jawaban yang terdengar seperti Jimin sedang bermanja pada namja yang masih berdiri di depannya.

Yoongi menaikkan alisnya sebelah, agak merinding mendengar nada suara Jimin yang terdengar agak manja. Yoongi menarik kursi didepannya dan mendudukan dirinya di depan Jimin yang menundukan pandangannya.

"Pesanlah sesuatu"

"Aku sudah…" jawab Jimin cepat. Jimin meruntuki dirinya lagi, kali ini karena detak jantungnya mulai bertingkah dengan berdetak makin kencang. Jimin bahkan tanpa sadar duduk dengan tegak dan kaku, berjaga-jaga atas sesuatu yang akan menimpanya nanti. Jimin banyak belajar, setiap pria ini muncul di depannya, pasti Jimin terkena masalah, atau minimal… Jimin dibuat menangis.

"Pesanan anda tuan…" salah satu pelayan muncul, membawa beberapa pesanan Jimin, menyusun rapi di atas meja. Didepan Jimin dan Yoongi sudah tersaji tiga jenis makanan berbeda dengan satu gelas Jus dan satu botol air mineral.

"Terima kasih" jawab Jimin sambil tersenyum. Pelayan itu berlalu.

"Kenapa tidak dimakan?" Tanya Yoongi yang sedari tadi duduk tenang di depan Jimin saat melihat namja bersurai orange itu tidak menyentuh makanannya sama sekali.

"Ne? oh… iya, makan…" jawab Jimin gugup. Bahkan ucapannya berantakan.

Yoongi tersenyum miring lagi melihat Jimin benar-benar memakan makanannya dengan cepat, bahkan tidak menawarinya sama sekali.

"Kau lapar sekali?" Yoongi melipat tangannya diatas meja, badannya maju beberapa senti kedepan.

"Uhuuukk…. Uhuukk.." Jimin tersedak mendengar ucapan Yoongi. Tangannya dengan cepat menyambar sedotan dari gelas jus, meminumnya dengan rakus, sementara Yoongi masih diam saja memandangi Jimin dan segala tingkah bodohnya.

"Ma… maafkan aku" cicit Jimin. Matanya melirik lirik takut Yoongi yang masih setia memandangi.

"Jangan hiraukan aku. Makan saja. Kau ingin tambahan makanan lagi?"

"Ani… ani, tidak usah" Jimin mengibaskan tangannya saat melihat tangan Yoongi terangkat seperti ingin memanggil pelayan.

"Ya sudah, habiskan makananmu" Yoongi memajukan tangannya, membuat Jimin otomatis mundur kebelakang.

"Ah, ma… maafkan aku tuan" Jimin menunduk beberapa kali, mengutuk reaksi tubuhnya yang panic karena tangan Yoongi yang terulur.

"Makan lagi" perintah Yoongi. Yoongi dengan santai menarik gelas jus milik Jimin, meminum tanpa permisi.

Jimin bahkan tidak bisa mengontrol mimic wajahnya yang terkejut. Yoongi meminum jus miliknya, dari sedotan yang sama! itu artinya mereka berciuman secara tidak langsung kan? Iya kan? Menyadari hal itu, mendadak wajah Jimin merona merah.

Jimin menggeleng-gelengkan kepalanya, menyadari pikiran bodohnya yang tidak penting itu.

Jimin mengambil sumpit dan sendoknya lagi, memulai makannya yang tertunda. Mendadak Jimin menyadari sesuatu. Jimin tidak menawari Yoongi makan sama sekali, bahkan berbasa-basi pun tidak. Jimin duduk tegak lagi, matanya menatap waspada kearah Yoongi yang juga sedang menatapnya, tepat di mata Jimin. Jimin merasa tungkai kakinya melemas di bawah meja.

"Apa?" Yoongi menaikkan sebelah alisnya.

"A… apa kau mau makananku tuan?"

"Suapi aku kalau begitu"

Dan Jimin merasakan wajahnya benar-benar menghangat.

Jimin benar-benar berakhir menyuapi Yoongi yang tidak melepas pandangannya dari Jimin. Bahkan Jimin kehilangan selera makanannya. Jimin benar-benar ingin sekali sesuatu dari bawah lantai menelannya sekarang juga. Dia akan benar-benar mati sakit jantung karena namja arogan ini.

Makanan di depan mereka sudah habis, dengan Yoongi sendiri yang memakannya dengan disuapi Jimin. Yoongi memanggil pelayan, meminta bill. Jimin sudah bersiap mengeluarkan dompetnya, tapi Yoongi meliriknya tajam, membuat namja bersurai orange itu memasukkan kembali dompetnya.

Jimin sudah benar-benar akan berlari meninggalkan Yoongi di depan restoran, tapi niat yang masih dalam otaknya itu langsung gagal saat Yoongi menggenggam tangan Jimin dan memaksa Jimin masuk kedalam sebuah mobil sedan mewah yang terparkir manis di depan restoran.

"Ki… kita mau kemana?" Jimin panic. Kepalanya melirik ke kiri ke kanan, seperti bocah ketakutan akan diculik.

"Kerumahku"

"MWO?" kali ini, Jimin benar-benar panic.

.

.

.

Jimin berakhir didepan pintu apartemennya, ada Yoongi dibelakangnya mengekori. Yoongi hanya bercanda soal membawa Jimin kerumahnya, karena pada akhirnya Yoongi mengantarkan Jimin ke apartemennya. Awalnya Jimin berkeras ingin pulang sendiri, tapi karena ucapan Yoongi yang mengatakan kalau Yoongi ingin mengambil coat dan jas nya yang pernah di pinjamkan kepada Jimin, Jimin tidak punya alasan lagi untuk melawan. Dan disinilah mereka berdua berakhir, diapartemen Jimin.

Jimin meninggalkan Yoongi di ruang tamu, sementara Jimin masuk ke kamar, mengunci pintu kamarnya dari dalam. Jimin menyenderkan badannya yang lemas di dinding, merosot kelantai.

Jimin bahkan merangkak kearah sofa di dekat jendela, disana ada coat dan jas Yoongi tersampir disandaran sofa. Jimin memandang coat dan jas itu dengan sedih.

Ini rahasia, oke? Jimin sebenarnya punya masalah dengan jam tidurnya. Insomnia kalau istilah kesehatannya. Sering kali Jimin bahkan harus memakan obat tidur agar bisa terlelap. Namun beberapa minggu ini, Jimin benar-benar bisa tidur nyenyak, tanpa bantuan obat tidur sama sekali. Terima kasih pada coat dan jas Yoongi yang menyisakan wangi namja pucat itu disana.

Sementara diluar, Yoongi berkeliling memperhatikan isi apartemen Jimin. Terdapat banyak foto di apartemen namja bersurai orange itu. Yoongi masih sibuk memperhatikan foto-foto yang kebanyakan adalah foto Jimin.

Mata Yoongi tertarik pada foto dalam bingkai kecil berwana putih diatas meja. Disana ada foto seorang anak kecil yang sedang berjongkok dipasir dengan sweater kebesaran berwana hitam sedang tersenyum kearah kamera. Yoongi mengambil bingkai putih itu, tertawa kecil.

"Dari kecil bahkan pipinya sudah lebar…" Yoongi mengomentari foto di tangannya.

Yoongi masih sibuk memperhatikan foto-foto yang tertempel di dinding saat pintu kamar Jimin terbuka, menampilkan Jimin yang berjalan kearahnya dengan coat dan jas milik Yoongi di siku tangannya.

"Ini…" Jimin menyerahkan jas milik Yoongi, sementara coat Yoongi masih bertengger di siku nya.

Yoongi mengambil jas dari tangan Jimin tanpa berbicara.

"Dan ini coat milikmu, tuan…"

Yoongi mengambil coat dari tangan Jimin, tapi Jimin seperti tidak rela melepaskan coat itu. Yoongi menarik pelan coat itu, dan Jimin kembali menarik coat itu kearahnya.

"Anjing kecil?" Yoongi mengerutkan alisnya bingung.

Jimin langsung tersadar akan perbuatannya, dengan sedikit tidak rela, Jimin melepaskan genggamannya dari coat milik Yoongi.

"Kau tinggal sendiri?" Yoongi meletakkan coat dan jas miliknya diatas sofa ruang tamu, kemudian mendudukan dirinya disebelah coat dan jas nya.

"Ya…" jawab Jimin asal. Bahkan dia tidak mendengar pertanyaan Yoongi. Mata Jimin masih sibuk mengawasi coat dan jas Yoongi yang tergeletak tak berdaya disamping pemiliknya.

Yoongi menyadari mata Jimin yang tidak focus, terarah kearah coat dan jasnya, bahkan saat Yoongi mulai berjalan kearah Jimin, Jimin tidak meyadarinya, sampai Yoongi berdiri menjulang di depannya.

"A… ada apa?" Jimin mengerjabkan matanya beberapa kali. Terkaget seperti orang bodoh begitu melihat Yoongi yang sudah berdiri di depannya.

"Kau menginginkannya?" Yoongi menarik dagu Jimin, agar namja bersurai orange itu mengarahkan pandangannya kepadanya.

"A… apa?"

"Coat dan jasnya. Kau menginginkannya?" Yoongi bertanya seduktif. Matanya sibuk memperhatikan bibir Jimin yang sedikit terbuka.

Jimin menelan ludahnya susah payah. Mendadak Jimin merasa kepanasan. Jimin bukannya tidak tau ada api nafsu berkobar di mata Yoongi, dan hal itu membuat Jimin panas dingin. Bahkan mata Yoongi mulai mengelam.

Tidak ada jawaban yang bisa Jimin ucapkan. Karena, seingin apapun Jimin memiliki coat dan jas itu, harga diri melarangnya keras untuk berkata iya.

Jimin ingin melepaskan diri dari Yoongi, tapi Yoongi lebih cepat. Yoongi mencium bibir Jimin lembut setelah mati-matian menahan diri sedari tadi.

Jimin mengerjabkan matanya berkali-kali, masih mencoba mengerti keadaan yang sedang terjadi. Tangan Yoongi yang posesif melingkar di pinggul Jimin, memaksa namja bersurai orange itu merapat ketubuhnya. Tangan Jimin berpegangan pada jas Yoongi, Jimin meremas Jas Yoongi kuat saat tangan namja pucat itu sudah berada di balik bajunya.

Entah bagaimana akhirnya mereka bisa sampai di atas tempat tidur Jimin. Nafas Jimin berantakan, tidak jauh berbeda dengan keadaan Jimin yang bajunya sudah hilang entah kemana. Sementara jas Yoongi juga sudah terlempar sembarangan.

Yoongi mengurung Jimin yang berada dibawahnya dengan kedua siku tangannya sebagai penahan tubuhnya. Yoongi membiarkan Jimin mengambil nafas sebanyak yang Jimin mau, sementara Yoongi memperhatikan Jimin yang sudah memerah hebat dibawahnya.

"Kau miliku, Park Jimin…" Bisikan ditelinga Jimin membuat Jimin tanpa sengaja mendesah dibawah Yoongi.

Desahan Jimin adalah racun untuk Yoongi. Yoongi benar-benar lepas kendali. Jimin yang tidak melakukan perlawanan sama sekali kali ini, benar-benar membangunkan sisi liar dan dominan Yoongi. Namja pucat itu benar-benar tidak akan berhenti lagi kali ini. Persetan dengan gossip diluaran, persetan dengan Hyungwon, persetan dengan status Jimin yang seorang artis, yang Yoongi inginkan saat ini adalah, Jimin menyanyikan namanya di bawahnya.

"Aku milikmu…" cicit Jimin pelan, mata sayunya malu-malu menatap Yoongi. Jimin Menarik kepala Yoongi kearahnya, mengecup bibir namja pucat itu. "Miliki aku, Yoongi…"

Dan Yoongi benar-benar hilang kendali diri. Juga Tidak ada jalan untuk Jimin kembali.

.

.

.

"Namjoon, aku benar-benar merasa bersalah pada Jimin…" Seokjin memeluk bahu Namjoon dari belakang. Menyenderkan kepalanya di bahu Namjoon yang sedang sibuk dengan remote TV di tangannya.

Namjoon duduk dilantai beralaskan karpet, sementar Seokjin duduk diatas sofa apartemen Namjoon.

"Kau membuatku dua kali lipat merasa bersalah, sayang…" Namjoon mengelus puncak kepala Seokjin.

"Tadi Jimin datang ke café."

"Oh ya?"

"Ne. Joon-ah, apa tuan Min Yoongi itu benar-benar tidak punya belas kasihan? Maksudku, aku melihat Jimin bertambah kurus, tapi dia banyak makan. Aku rasa Jimin benar-benar stress" adu Seokjin.

"Maafkan aku, Jinseok. Aku tidak bisa berbuat apa-apa soal itu. Kau tau kan, aku masih ingin hidup lama, menikahi mu, hidup berbahagia bersamamu." Namjoon makin menyesal. Jika ada yang bisa Namjoon lakukan untuk menyelamatkan Jimin, tentu Namjoon sudah lakukan dari awal. Tapi apa yang harus Namjoon lakukan? Menyembunyikan Jimin? Bisa-bisa Jimin dikira di culik dan menjadi berita besar di Negara mereka.

Seokjin mencium pipi Namjoon sekali, dan kembali meletakkan kepalanya di bahu Namjoon.

"Tapi, Jinseok… aku merasa Yoongi hyung agak melunak pada Jimin. Kau ingat saat Jimin datang ke hotel di acara perjudian bersama Jungkook?"

Seokjin menganggukan kepalanya.

"Yoongi hyung berjumpa pertama kali dengan Jimin disana. ada sesuatu terjadi, dan Jimin memaki Yoongi hyung. Dan kau tau? Yoongi hyung membiarkannya"

"Benarkah?" Seokjin menegakkan tubuhnya, terkejut dengan informasi baru dari Namjoon.

"Aku mengatakan yang sebenarnya sayang. Dan soal Luhan yang ketahuan membunuh oleh Jimin, Yoongi hyung juga membiarkannya"

"Apa karena Jimin artis? Bisa jadi berita besar kalau Jimin mati terbunuh kan?" Seokjin menyimpulkan.

"Bisa jadi. Atau itu hanya alasan Yoongi hyung untuk mengikat Jimin di tangannya?" Namjoon berspekulasi.

"Bisa aku simpulkan kalau Tuan Min mencintai Jimin, Joon-ah?"

"Terlalu terburu-buru untuk itu sayang. Aku kenal Yoongi hyung. Dia benar-benar tidak akan mencintai seseorang. Mencintai berarti memperlemah diri. Untuk Yoongi hyung, aku rasa itu mustahil. Dia hanya… kau tahu? Control freak"

TBC

Kakak-kakak ku tercintah, terkasih dan tersayang…

Terimaksih atas support kalian. Review kalian lucu-lucu. Jadi makin semangat. Hahahha

I love you, kakak-kakak…..

*Ketjup satu-satu"