"Aku mengatakan yang sebenarnya sayang. Dan soal Luhan yang ketahuan membunuh oleh Jimin, Yoongi hyung juga membiarkannya"
"Apa karena Jimin artis? Bisa jadi berita besar kalau Jimin mati terbunuh kan?" Seokjin menyimpulkan.
"Bisa jadi. Atau itu hanya alasan Yoongi hyung untuk mengikat Jimin di tangannya?" Namjoon berspekulasi.
"Bisa aku simpulkan kalau Tuan Min mencintai Jimin, Joon-ah?"
"Terlalu terburu-buru untuk itu sayang. Aku kenal Yoongi hyung. Dia benar-benar tidak akan mencintai seseorang. Mencintai berarti memperlemah diri. Untuk Yoongi hyung, aku rasa itu mustahil. Dia hanya… kau tahu? Control freak"
.
.
.
KOI NI YOKAN
.
.
.
Histeris.
Satu kata itu bisa menyimpulkan keadaan Jungkook yang berdiri mematung didepan pintu kamar Jimin. Niat Jungkook ingin membangunkan Jimin karena Jin akan datang berkunjung untuk menemui Jungkook dan Jimin, dan apa yang Jungkook lihat, bukanlah sesuatu yang pernah Jungkook bayangkan sebelumnya.
"HOLLLYYY SHIIITT!"
Jimin langsung terduduk dari tidurnya mendengar suara Jungkook yang tidak main-main kuatnya. Jimin mengumpat saat merasa pinggangnya nyeri luar biasa, bagian selatannya jelas tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Apa? Apa?" Jimin bertanya panic, mukanya memandang takut pada Jungkook yang masih setia berdiri dengan mata membola tak percaya di dekat pintu.
"Hyung! Apa ini?" Jungkook bertanya lebih mengarah pada keadaan kamar Jimin yang berantakan. Guling dan bantal berserakan dilantai, sprei yang sudah keluar dari tempat tidur, baju Jimin yang bertebaran di lantai dan di sofa kamar, juga bau ini, Jungkook tau bau ini. Ini bau ehem.. sperma.
"Apanya yang apa?" Jimin masih setengah sadar, menarik selimut yang menutupi tubuhnya sampai ke bahu, hingga hanya kepalanya yang terlihat.
"Kau habis diperkosa atau apa?" Jungkook berjalan masuk ke kamar Jimin, membuka tirai dan jendela kamar Jimin.
"Jungkook!"
"Segera mandi dan jelaskan tentang ke kacauan ini, sebelum aku menuduh yang bukan-bukan hyung. Aku tunggu di depan TV" Jungkook memerintah, benar-benar tidak ingin dibantah. Begitu menendang guling yang menghalangi jalannya, Jungkook menutup pintu kamar Jimin dan berlalu keluar.
Jimin telah selesai mandi dan berpakaian. Sudah berulang kali Jimin ingin membuka pintu kamarnya dan menemui Jungkook, tapi Jimin benar-benar tidak punya muka sekarang. Dia terciduk. Terciduk habis bercinta. Memalukan sekali, bukan?.
Setelah menghembuskan nafas berulang kali dan meyakinkan diri, juga tidak lupa menyusun alasan-alasan yang masuk akal, Jimin keluar kamar. Di ruang tamu, sudah ada Jungkook yang duduk dengan TIDAK santai. Tanduk dikepalanya dan cakar di jarinya seolah bisa Jimin lihat. Jimin akan benar-benar tidak bisa berkutik lagi ataupun mengelak kali ini.
"Jelaskan" Jungkook bahkan sudah mulai menyerang Jimin, saat Jimin bahkan belum duduk di sofa tunggal ruang tamunya.
"Dari mana dulu?" Jimin berusaha semampunya agar tetap tenang.
"Kau habis bercinta? Benar?" Jungkook memandang tajam Jimin, tidak ingin melewatkan ekspresi Jimin sedetik pun atas semua pertanyaan yang akan Jungkook tembakkan.
Jimin mengangguk sebagai jawaban
"What the Food!" Jungkook menepuk pahanya dan menggelengkan kepalanya dramatis. Benar-benar tidak bisa di percaya. "Dengan siapa?" Jungkook memandang tajam kearah mata Jimin yang sudah kehilangan ketenangannya.
Jimin melirik kearah balkon dengan kaca bening yang terhalang hordeng tipis. Tangannya saling meremas, tidak ingin menjawab, tapi Jungkook jelas-jelas menuntut.
"Taemin sunbae?" Tebak Jungkook.
"Mwo? Tidak mungkin!"
"Lalu siapa?" Jungkook mendesak.
Jimin tutup mulut lagi, kali ini memandang karpet di bawah kakinya.
"Ada apa ini?" Jin muncul, dan keadaan makin gawat darurat untuk Jimin.
"Hyung, Jimin hyung baru saja bercinta" adu Jungkook.
Jimin menatap horror Jungkook. Sementara Jungkook hanya berekspresi tenang. Sama sekali tidak memperdulikan Jimin yang ingin menghajarnya.
"Jimin what?"
"Oke, tolong tenang. Jin Hyung, duduklah. Tolong jangan histeris, oke? Biar aku menjelaskan dulu." Jimin menyerah.
"Kau… melakukan one night stand, Jim?" Jin membolakan matanya tak percaya.
"Hell No! hyung, jangan menuduhku dulu. Aku memang… ya seperti yang Jungkook bilang. Tapi apa yang salah? Aku sudah cukup umur untuk itu, wajar kan?" Jimin membela diri.
"Aku bahkan masih ingat kalau kau tidak ingin melakukannya jika bukan dengan orang yang kau cintai, Jim. Demi Tuhan, kau baru mengatakannya kemarin, dan hari ini? Kau ingin memberiku surprise?" Jin masih melongo tak percaya, sementara Jungkook benar-benar mengintimidasi Jimin dari caranya memandang.
"Aku mencintainya" Jimin memerah malu. Dia bahkan menyatakan perasaan cintanya di depan Seokjin dan Jungkook lebih dulu, bukan pada yang bersangkutan.
"Aku masih ingat juga kalau kau bilang, kau tidak punya kekasih Jim" Jin menyerang lagi.
"Benar! Kau tidak punya pacar hyung, aku sangat tau" Jungkook menimpali.
"Apa kau mulai menjadi liar sekarang, Jim? Aku bisa mati berdiri astaga… bagaimana bisa? Siapa yang mengajarimu?" Jin mulai histeris.
"Hyung! Aku memang tidak punya kekasih, tapi aku mencintainya. Aku sudah bilang kan kalau aku tidak ingin melakukannya kalau tidak bersama orang yang ku cintai?" Jimin mencoba menjelaskan. Tapi sepertinya sepasang hyung-dongsaeng di depannya sangat tidak puas dengan jawaban Jimin.
"Bertele-tele! Katakan, dengan siapa kau tidur semalam?" Jin benar-benar sudah tidak tahan lagi, rasa penasaran benar-benar sudah nyaris akan membunuhnya.
Jimin menelan ludahnya kasar. Kalau boleh, Jimin tidak ingin menyebut nama itu sekarang, karena, Bro… semalaman dia menyanyikan nama itu entah berapa puluh kali, dan menyebut nama itu lagi membuat Jimin nyaris mati karena malu.
"Jimin hyung?" Jungkook menaikkan satu alisnya, karena Jimin benar-benar menutup mulutnya.
"Min Yoongi?" tembak Jin. Meskipun ragu, tapi hanya nama itu yang terlintas di otak Jin sekarang.
Dan Jimin mengangguk.
"WHAT THE F*CK!" koor Jin dan Jungkook bersamaan.
.
.
.
"Yoongi, sakit…"
"Sialan!" Yoongi memaki. Pulpen yang ada digenggamannya dilempar begitu saja. Namja pucat itu bahkan mengacak-acak rambutnya dengan kasar agar ingatan tentang Jimin bisa hilang sebentar saja. Dia perlu konsentrasi!
"Wow hyung! Aku baru muncul dan sudah di hadiahi lemparan pulpen?" itu Namjoon. Berdiri sambil memegang pulpen yang dilempar Yoongi sembarangan.
"Sejak kapan kau masuk?" Yoongi mengabaikan ucapan Namjoon, kembali membaca kertas-kerta yang bertebaran di mejanya.
"Saat kau melempar pulpen kearah ku. Ada apa Hyung?" tanpa disuruh, Namjoon mendudukan diri didepan Yoongi, hanya terhalang meja kerja si pucat.
"Tidak ada. Ada apa kau kemari?"
"Ingin memberikan ini" Namjoon meletakan undanga berwarna coklat emas yang terlihat mewah diatas tumpukan kertas di meja Yoongi.
"Kau menikah?" Yoongi menaikkan alisnya sebelah. Memastikan benda yang sedang di pegangnya saat ini adalah undangan pernikahan.
"Hu'um. Kau harus datang kali ini hyung. Aku memaafkan mu waktu itu karena tidak datang ke pertunanganku, tapi kau harus datang ke pernikahanku kali ini. Dan… bawa pasanganmu!" Namjoon menaik turunkan alisnya.
"Hadiah apa yang kau mau?" Yoongi mengabaikan ucapan Namjoon lagi.
"Rumah seperti villa milikmu?"
"Kau mendapatkannya."
"Kau serius hyung?" Namjoon memajukan badannya kearah Yoongi.
"Apa kau tidak serius dengan permintaanmu?"
"Tentu saja tidak! Aku tidak perlu rumah, aku sudah punya. Aku hanya ingin kau datang ke acaraku, dengan amplop berisi uang kurasa sudah cukup" Namjoon menaik turunkan alisnya lagi.
"Kau mendapatkannya"
"Itu baru hyungku!"
"Namjoon…" Yoongi mengalihkan pandangannya dari undangan mewah yang sempat menyita perhatian Yoongi ke Namjoon.
"Ne?"
"Kenapa kau menikah?"
Namjoon mengerutkan alisnya bingung atas pertanyaan Yoongi. Benar juga, kenapa dia menikah? Namjoon mulai mempertanyakan hal ini saat dia akan menikah nyaris seminggu lagi.
"Karena aku mencintai Seokjin?" Namjoon menjawab ragu.
"Kau juga pernah jatuh cinta dengan orang lain sebelum dengan Seokjin, kenapa kau tidak menikahi mereka? Dan kenapa Seokjin?" Yoongi tidak puas dengan jawaban Namjoon, mulai cerewet dengan bertanya lagi.
Namjoon menegakkan duduknya, kepalanya miring ke kiri, matanya bahkan tidak focus. Bahkan otak jeniusnya kesulitan menjawab pertanyaan Yoongi.
"Karena Seokjin memahami ku?" Jawab Namjoon, bahkan semakin ragu.
"Omong kosong. Kenapa kau berani mengambil langkah sejauh ini, bahkan kau kebingungan menjelaskan kenapa kau menikah?" Yoongi mengerutkan alisnya kesal.
"Aku hanya tidak tahu hyung. Aku hanya tidak mau kehilangan Seokjin. Aku tidak berani membayangkan kalau Seokjin pergi dari ku, bahkan aku tidak pernah memikirkan masa depanku tanpa Seokjin disamping ku. Itu akan sangat mengerikan. Aku sangat beruntung memiliki Seokjin, dia sangat sabar dengan sifat cerobohku, bahkan dia tidak menghiraukan pekerjaan sampingan kita. Dia hanya melihatku sebagai Namjoon, bukan Rapmon si mafia bawah tanah" Jelas Namjoon panjang lebar.
"Jadi, sebelum Seokjin, kau tidak pernah membayangkan masa depanmu dengan kekasih-kekasihmu terdahulu?" Yoongi memandang undangan ditangannya lagi.
"Tidak hyung, sebelum Seokjin, aku bahkan tidak pernah berpikir untuk menikah, menikah itu seperti pembodohan untukku. Kemudian Seokjin muncul, dan menjungkirbalik semuanya. Aku bahkan membayangkan Seokjin akan mengandung anakku saat pertama kali aku melihatnya, cukup gila kan?"
"Kau ingin menidurinya bahkan saat baru bertemu dengannya?" Yoongi menaikan alisnya takjub.
"Bukan itu intinya!" geram Namjoon. " intinya adalah, Seokjin membuatku berani mengikat komitmen. Padahal sebelum bertemu Seokjin, aku berganti kekasih seperti berganti baju. Seokjin membuatku, benar-benar jatuh cinta. Intinya begitu!" Namjoon kesal.
"Apa kau tidak takut terikat dengan orang yang sama seumur hidup mu? Maksudku, kau akan bosan"
"Kau akan paham posisiku saat kau bertemu dengan orang yang bisa menggerakkan hatimu hyung. Orang yang bisa membuatmu rindu bahkan saat kau baru saja melihat wajahnya beberapa jam yang lalu, orang yang membuatmu ingin membunuh siapapun yang berani menyakiti hati orang itu, orang yang membuatmu berubah jauh lebih baik, orang yang membuatmu takut kehilangan, orang yang kau cintai"
Dan Yoongi melihat wajah Jimin di dalam angannya.
.
.
.
Jimin membereskan kekacauan di kamarnya saat Seokjin dan Jungkook sibuk memasak di dapur. Jimin mengambil bajunya yang berserakan dilantai, dan mengganti spreinya yang sudah benar-benar berantakan.
Saat selesai dengan acara beres-beres kamarnya, Jimin mendudukan tubuhnya di sofa di kamarnya, mengambil jas Yoongi yang sudah terlipat rapi di lengan sofa. Mendadak Jimin merasa sangat-sangat malu, bahkan Jimin menenggelamkan wajahnya di jas Yoongi. Ingatannya kembali saat Jimin dan Yoongi baru saja selesai bercinta.
"Yoongi hyung? Mau kemana?" Jimin berusaha duduk, walaupun ngantuk sudah menyerangnya dan selatan tubuhnya benar-benar sakit. Jimin kelelahan menghadapi Yoongi di ranjang.
Yoongi mengancing kemejanya,sekarang namja pucat itu bahkan sudah berpakaian kembali.
"Aku harus bekerja" Yoongi melirik tubuh Jimin yang tidak mengenakan apapun dibalik selimutnya, terlihat tanda-tanda yang diberikan Yoongi yang mulai bermunculan jelas di badan Jimin.
"Kau akan pergi?" Jimin berucap sedih. Tangannya bermain diatas selimut yang kini hanya menutupi pinggang sampai kakinya.
"Aku ada pekerjaan, jadi…"
"Tidak bisakah kau tinggal semalam saja?"
Ponsel Yoongi yang berada di tempat tidur bergetar, menunjukan nama Kris disana. Yoongi mengambil ponsel yang bergetar itu dan duduk berhadapan dengan Jimin.
"Aku harus pergi" Yoongi menarik Jimin yang berwajah sedih dan mengantuk itu kepelukannya, mengecup kepala Jimin cukup lama, kemudian melepaskan pelukannya.
Jimin terdiam, hanya memadangi Yoongi dengan wajah sayunya. Badannya lelah, dan dia ingin Yoongi memeluknya, tapi Yoongi harus pergi bekerja.
Jam sudah menunjukkan tengah malam, dan Yoongi adalah raja di malam hari. Banyak hal yang harus dia kerjakan, dan banyak orang yang harus dia temui.
Jauh dalam hati Yoongi, Yoongi ingin tinggal, tapi pekerjaan menunggunya. Jadi, dengan mengecup bibir Jimin sebentar, Yoongi berjalan kearah pintu, dan Jimin sudah membaringkan tubuhnya membelakangi pintu kamarnya dan Yoongi. Tepat saat suara pintu kamar terbuka dan tertutup kembali, Jimin menyamankan posisi tidurnya. Dia benar-benar lelah. Bahkan sudah tidak mempermasalahkan Yoongi yang pergi meninggalkannya.
Sementara diruang tamu, Yoongi mulai bimbang. Kemana dia harus pergi? Tinggal disini, atau pergi berbisnis. Yoongi mengambil ponselnya yang mulai bergetar lagi, memunculkan nama Namjoon di layarnya.
"Namjoon, urus semua pertemuanku malam ini. Aku ada urusan penting" tembak Yoongi. Yoongi bahkan langsung mematikan ponselnya dan membuangnya di sofa ruang tamu Jimin.
Yoongi masuk kembali ke kamar Jimin dan mendapati namja bersurai orange itu sudah terlelap. Tanpa berniat mengganggu Jimin, Yoongi ikut tidur disamping Jimin dan memeluk namja bersurai orange itu dari belakang.
Jimin yang merasakan pelukan Yoongi, membalik kearah Yoongi dan berhadapan langsung denga dada namja pucat itu yang masih dilapisi kemeja hitamnya. Jimin tersenyum, matanya bahkan setengah terpejam.
"Kau kembali?" Jimin mendongak, melihat Yoongi yang Juga menatapnya tepat dimatanya.
"Tidurlah. Jam enam pagi aku akan pergi, jadi jangan berpikir aku meninggalkanmu, aku benar-benar ada pekerjaan jam enam pagi nanti yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. So, jadilah anak penurut dan tidur sekarang." Yoongi mengelus kepala Jimin dan menghadiahi Namja bersurai orange itu kecupan di kepala.
"Peluk…" Jimin yang mengantuk benar-benar akan manja. Hal itu bahkan diluar control Jimin.
Yoongi memeluk Jimin yang sudah menyurukkan wajahnya ke dada Yoongi. Mengelus kepala Jimin sampai Yoongi ikut merasa lelah dan akhirnya tertidur.
Ini pertama kalinya Yoongi mengabulkan permintaan seseorang yang benar-benar tidak berhubungan dengan materi dan bisnis. Biasanya, Yoongi tidak akan pernah mau menginap ditempat teman kencannya. Buang waktu. Biasanya, setelah memenuhi kebutuhan biologisnya, Yoongi akan pergi begitu saja, tanpa ciuman dikening, bahkan tanpa pamit.
Tapi ini Jimin. Jimin meminta sesuatu yang bahkan orang lain sangat sulit dapatkan. Orang-orang harus membuat janji terlebih dahulu jauh-jauh hari hanya untuk bertemu namja pucat itu walau hanya setengah jam saja. Jimin mendapatkan yang ter'mahal' dari Yoongi , jauh lebih mahal dari hadiah-hadiah yang diberikan Yoongi kepada teman kencannya yang terdahulu. Jimin mendapatkan waktu Yoongi, dan Min Yoongi itu sendiri. Hanya untuknya. Semalaman. Bukan untuk berbisnis, tapi hanya untuk memeluknya saat tidur.
Jika saja teman kencan Yoongi yang dulu tau, Jimin pasti disumpahi karena mereka iri.
Jimin keluar dari kamar, mendapati Seokjin dan Jungkook yang masih sibuk di dapur. Hari ini Seokjin berencana membuat pudding cake coklat. Resep terbaru untuk café nya, dan Jin meminta Jungkook dan Jimin mencobanya terlebih dahulu, meminta pendapat apakah pudding itu layak masuk ke daftar menu atau tidak.
Jimin duduk disebelah Jungkook yang sibuk memarut coklat di meja makan, Jimin melirik kebingungan, karena tidak tau harus apa.
"Kamarmu sudah bersih? Jendela kamar sudah kau buka? Sudah diberi pengharum ruangan? Sudah ganti sprei? Sudah…."
"Hyung, sudah ku kerjakan" Jimin memutar bola matanya. Jin kalau tidak dihentikan, bisa-bisa tidak akan selesai berbicara.
"Baguslah. Jim, apa kalian melakukannya dengan menggunakan pengaman semalam?"
Wusshh… mendadak wajah Jimin merona hebat. Pertanyaan Jin benar-benar tidak ada habisnya.
"Benar, apa kalian menggunakan pengaman hyung?" Jungkook meletakan parutan coklatnya dan memandang Jimin, menunggu jawaban namja itu.
"T… tidak. Hyung! Kami benar-benar tidak berencana melakukannya. Itu terjadi begitu saja. Dan pengaman? Mana aku punya! Aku tidak menyimpan hal-hal seperti itu dirumahku!" Jimin berucap cepat bak rapper. Sementara Seokjin dan Jungkook merasa takjub dengan cepatnya Jimin berbicara.
"Aku punya kalau kau mau hyung…" Jungkook mencicit.
"Kau perlu menyimpannya, Jim. Berjaga-jaga kalau-kalau tuan Min datang dan meminta jatah. Jangan sampai kau hamil diluar nikah. Fans mu pasti sekarat" Jin memperingatkan.
"Hyung!" Jimin benar-benar malu. Tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Memang tidak ada yang bisa disembunyikan dari Jungkook dan Seokjin. Kedua Hyung dan dongsaeng ini benar-benar jeli dalam segala hal.
"Oh ya, besok kalian tidak ada jadwal kan? Temani aku fitting baju pernikahanku, oke?" Seokjin jelas tidak membutuhkan jawaban, karena Seokjin memaksa.
.
.
.
Jimin dan Jungkook duduk manis di café Seokjin setelah menemani namja cantik itu fitting baju pernikahnnya. Ketiganya masih sibuk berbicara soal pernikahan sampai Taehyung datang, dan disambut Jungkook dengan ciuman di pipinya.
Jimin langsung berpindah tempat kesebelah Jin, memberikan kursinya untuk Taehyung duduki.
"Bagaimana persiapan pernikahanmu hyung?" Taehyung memulai pembicaraan.
"Hampir 100%, hanya tinggal Namjoon yang belum fitting baju pernikahan. Dia sedang sibuk" Seokjin berucap maklum.
"Dan, bagaimana dengan album barumu Jim?" Taehyung beralih pada Jimin.
"Beberapa minggu lagi aku akan comeback, waktu ku bersantai akan menipis" Jimin menghela nafas.
Ponsel Taehyung berbunyi, ada telepon masuk dari sekertarisnya.
"Ini jam makan siang, kalau aku tidak salah ingat?" Taehyung berucap sarkas.
"Tuan, ada masalah. Model yang akan membintangi iklan yang kita tangani bulan ini, ditarik oleh agensinya"
"What? Kenapa?"
"Tuan Kim Namjoon baru saja menghubungi saya, dia bilang Tuan Min sudah tidak menjadi sponsor model itu lagi, dan sekarang sudah beralih ke Jungkook atas permintaan Tuan Kim, jika kita ingin bekerja sama dengan Tuan Min, kita harus menggunakan Jungkook untuk menjadi model iklan kita selanjutnya, Tuan" Jelas sang sekertaris panjang lebar.
Taehyung melirik Jungkook yang kebingungan.
"Baiklah, buat kontrak baru dan kirim ke kantor agensi milik tuan Bang. Pastikan dia menandatangani kontrak itu" Taehyung menutup teleponnya.
"Apa?" Jungkook kebingungan melihat senyum Taehyung yang melebar.
"Ya! Sayangku, kenapa kau tidak bilang kalau kau memiliki Yoongi hyung di belakangmu? Kalau kau memberitahu ku lebih cepat, aku kan tidak perlu repot-repot. Bantu aku ya?" Taehyung menaik turunkan alisnya.
"Kau ini bicara apa?" Jungkook tambah bingung.
"Aish… Yoongi hyung sekarang sudah jadi sponsormu. Dan kau akan menjadi bintang iklan kami selanjutnya, itu artinya kau akan berada dibawah pengawasanku sampai kontrak iklanmu habis, dan artinya juga, kemungkinan untuk Yoongi hyung mau menjalin kerja sama di perusahaan periklanaanku, bisa terjadi kan?"
"Jangan minta padaku kalau soal Yoongi hyung mu itu. Aku benar-benar tidak paham atas ucapanmu, tapi kau bisa minta tolong Jimin. Sekedar informasi, Jimin dan tuan Min SANGAT DEKAT, mereka sudah tau luar dan dalam masing-masing, benarkan Jimin hyung? " Jungkook jelas menyindir Jimin. Sementara Jimin sudah memerah tanpa bisa dicegahnya.
.
.
.
Kesabaran Yoongi benar-benar sudah habis menghadapi anak manja itu. Selama beberapa hari ini Hyungwon selalu datang ke kantor Yoongi, menunggu Yoongi sampai selesai bekerja, bahkan pernah menerobos masuk sampai kedepan pintu ruangan kerja Yoongi.
Dan puncak dari kesabaran Yoongi adalah saat Yoongi melihat mobil Hyungwon terparkir lagi di tanah lapang sebelah kantor Yoongi, memandang dengan teropong langsung ke ruangan Yoongi, membuat Namja pucat itu harus menutup tirai ruangannya.
Kesabaran Yoongi yang sangat tipis itu, di uji Hyungwon habis-habisan dengan mengganggu Yoongi saat bekerja. Yoongi makin kesal saat mendapati laporan dari salah satu anak buahnya yang bertugas mengusir Hyungwon, di ancam oleh Hyungwon akan melaporkan ke ayahnya yang merupakan orang terpandang di Korea. Jelas saja anak buah Yoongi tidak berkutik dibuatnya.
Dan disinilah Yoongi, berdiri di depan jendela ruangannya yang mengarah ketanah lapang dimana Hyungwon memarkirkan mobilnya. Dengan senjata berbentuk rudal kecil di tangannya.
Sementara Wonho yang selalu setia menemani si anak manja Hyungwon, terduduk di bawah pohon, dengan Hyungwon yang tidak berhenti mengarahkan teropongnya ke ruangan Yoongi. Karena bosan, akhirnya Wonho mendekati Hyungwon, meminta anak itu berhenti sebentar saja agar Wonho dan dia bisa pergi, sekedar membeli makanan.
"Aku lapar" adu Wonho, menarik perhatian Hyungwon.
"Kau baru saja makan!"
"Tapi aku lapar! Yoongi hyung tidak akan mau bertemu denganmu, kau melakukan hal yang sia-sia. Lagian aku sudah bilangkan, kalau Yoongi hyung dan Mirae tidak punya hubungan, lalu apalagi yang kau mau?" Wonho bersungut-sungut.
"Kalau kau tidak mau menemaniku, pergi saja sana!" usir Hyungwon.
"Ya sudah" Wonho baru saja tiga langkah berjalan menjauh, sampai Hyungwon memanggilnya dan membuatnya berbalik.
"Kalau kau berani meninggalkan aku sendirian, aku akan memberitahu ayah, dan akan ku pastikan ayah akan memecatmu. Dasar bodyguard bodoh!"
"Ya sudah, pecat saja" Wonho berucap tak perduli.
"WONHO! AKU BENAR-BENAR AKAN MEMECATMU! WONHOOOO!" Hyungwon berteriak frustasi, sementara Wonho terkekeh geli sambil berjalan meninggalkan Hyungwon.
"WONHO! BODOH! KEMBALI!" teriak Hyungwon makin kencang.
"Apalagi? Aku kan sudah di pecat, kau bukan bosku" Wonho berbalik, mimic mukanya seolah dia jengah menghadapi Hyungwon, tapi dibalik itu Wonho ingin sekali tertawa kencang. Mengganggu Hyungwon sudah jadi hobinya sejak dulu. Sejak mereka masih kecil.
"AKU BILANG KEMBALI KESINI!"
"Tidak. Aku sudah kau pecat. Kau bahkan sudah memecatku seratus kali, dan kali ini aku benar-benar akan pergi. Hiduplah yang baik. Setelah membeli makanan, aku akan menemui appa mu dan mengajukan surat resign sebagai bodyguardmu" Wonho berbalik.
"Wonho!" teriak Hyungwon lagi,tapi Wonho pergi berjalan meninggalkannya.
Baru sepuluh langkah, dan langkah Hyungwon berhenti saat ponselnya bergetar, di ponselnya tertera nama Yoongi. Dengan panic, Wonho langsung mengangkat telponnya. Tanpa sadar, keringat menetes di dahinya. Yoongi pasti sudah tau kalau dia dan Hyungwon memata-matai ruangan Yoongi.
"Boss?" sapa Wonho.
"Aku akan memusnahkan anak itu dengan tanganku, detik ini juga Wonho. Aku sudah memberimu kesempatan untuk mengembalikan anak manja itu ke Amerika dalam keadaan hidup-hidup, dan kau tidak melaksanakannya. Kata-kata terakhir?" Yoongi seperti biasa, tanpa basa-basi.
Wonho langsung melirik keatas, tepatnya kearah gedung kantor Yoongi, mencari-cari Yoongi dijendela kaca yang silau karena terkena cahaya matahari siang. Saat Wonho menemukan Yoongi dan senjata berbentuk rudal didepan jendela, Wonho langsung panic, tanpa pikir panjang langsung berlari kearah Hyungwon yang tersenyum remeh.
"Tiga…" Yoongi mulai berhitung.
"Hyungwon, menyingkir…" teriak Wonho.
"Dua…"
Tepat di hitungan kedua, Wonho mendapatkan Hyungwon. Menarik namja keras kepala itu untuk berlindung di balik pipa-pipa saluran air yang tersusun menumpuk keatas.
"Satu…"
Dan suara ledakan mobil terdengar nyaring, kobaran api bahkan terlihat tinggi mencapai pohon. Orang-orang berlari dengan panic kesana-kemari. Sementara Yoongi tertawa keras diatas sana. Sungguh, ini sama sekali bukan lelucon yang lucu.
"Pastikan anak itu tidak muncul dihadapanku lagi, atau aku akan memburunya, menembaknya tepat di kepala." Yoongi menutup telponnya saat memastikan Wonho dan Hyungwon mendengar ucapannya dengan baik. Namja pucat itu tertawa senang melihat orang-orang yang panic berlarian disekitar kantornya. Benar-benar sakit jiwa.
Wonho membuang ponselnya sembarang, benar-benar berterima kasih karena Yoongi masih berbaik hati membiarkan dia dan Hyungwon hidup. Wonho langsung memeluk Hyungwon yang sudah gemetar hebat disampingnya. Benar-benar tidak percaya kalau baru saja Yoongi ingin membunuhnya.
"Wonho… wonho…" Hyungwon panic dan memeluk Wonho dengan erat. Dia benar-benar terpukul mendengar ucapan Yoongi barusan. Yoongi benar-benar tidak pernah bermain dengan ucapannya.
"Sudah ku bilang kan! Jangan anggap remeh Yoongi hyung. Kalau dia bilang tidak, berarti tidak! Kau hanya membahayakan dirimu sendiri!" marah Wonho akhirnya.
"Wonho aku takut…" Suara Hyungwon yang bergetar membuat kekesalah Wonho terjun bebas.
Tanpa berkata apapun, Wonho hanya mengusap punggung Hyungwon dan memeluk Hyungwon erat. Sebagai pengertian kalau Hyungwon tidak akan celaka, Wonho melindunginya.
"Ayo pulang…" putus Wonho akhirnya saat melihat kerumunan orang mulai berdatangan kearah mobil mereka. Wonho dan Hyungwon berjalan memutar, tidak ingin terlibat dengan warga yang hanya penasaran tentang kejadian disana.
.
.
.
Sudah lima hari berlalu sejak terakhir kali Jimin bertemu dengan Yoongi, hari ini Jimin sedang menghadiri acara pernikahan Namjoon dan Seokjin.
Mewah.
Itu adalah kesan pertama Jimin saat memasuki Hall di hotel Namjoon. Tempat yang sama saat pertama kali dia dan Yoongi bertemu. Dekorasi dominan putih itu benar-benar sangat berbeda jauh dari pertama kali Jimin datang ke Hall ini, saat itu Hall ini berisi meja judi dan perempuan seksi, kali ini berisi meja dengan hiasan bunga-bunga putih disekelilingnya, juga para tamu yang tampil elegan.
Jimin berdiri didepan meja minuman yang berisi bermacam jenis mulai dari air mineral, jus, sampai alcohol tersedia dimeja. Jimin memandang bahagia Seokjin dan Namjoon yang sedang mendatangi meja tamu satu persatu, bersalaman, mengucapkan selamat dan terima kasih.
Disebelah Jimin berdiri Taemin yang ikut-ikutan memandang kearah tatapan Jimin dengan jus ditangannya. Namja itu tidak ingin mabuk diacara pernikahan orang lain. Itu akan buruk untuk image nya kedepan.
"Mereka sangat bahagia, ya…" Taemin memulai.
"Ne hyung. Seokjin hyung tidak berhenti tersenyum dari tadi"
"Namjoon hyung juga sama…"
Kemudian mereka terdiam lagi. Mata Jimin bertabrakan dengan Seokjin, kemudian Jimin dan Taemin melihat Seokjin pamit dari hadapan tamu, diikuti Namjoon disampingnya. Pasangan pengantin baru itu berjalan kearah Jimin dan Taemin yang berdiri di depan meja minuman.
"Kau datang?" Namjoon memeluk Taemin sebentar, kemudian memeluk Jimin.
"Selamat atas pernikahanmu hyung" Ucap Taemin pada Namjoon dan Seokjin, yang di angguki oleh pengantin baru tersebut.
"Jim, bagaimana penampilanku?" Seokjin meminta pendapat Jimin.
"Cantik?" Jawab Jimin ragu.
"Ya! Harusnya tampan!" Seokjin kesal.
"Sayang, sudahlah…" Namjoon menengahi.
"Kalian datang berdua?" Seokjin bertanya sambil mendudukan dirinya dibangku didepan meja minuman.
"Tidak, kami bertemu disini tadi. Aku datang sendiri, dan aku rasa Jimin juga begitu?"
"Ne. aku juga datang sendiri. Jungkook mengkhianati ku dengan pergi berdua dengan Taehyung. Menyebalkan!" adu Jimin.
"Ya! Makanya cari kekasih! Yakan, Taemin?"Seokjin mengejek.
"Benar! Kau harusnya cari kekasih Jim…" Taemin menimpali.
"Dan dimana kekasihmu itu hyung? Kenapa dia tega membiarkan kekasihnya datang sendiri ke acara pernikahan?" sindir Jimin pada Taemin.
"Dia akan menyusul kesini, ngomong-ngomong. Minho hyung masih ada pekerjaan, makanya tidak bisa pergi bersama" Taemin membela diri.
"Kalian menyebalkan" Jimin berbalik menghadap meja minuman. Memilih minuman mana yang akan dihabiskannya setelah air mineral ditangannya habis.
"Yoongi hyung!"
Jimin langsung menegakkan tubuhnya saat nama itu terdengar di telinganya, mendadak Jimin gugup bukan main saat Namjoon memanngil nama itu. Ini seperti dejavu .
"Selamat" ucap Yoongi sambil memberikan koper tipis seperti tas bekerja pada Namjoon.
"Apa ini?" Namjoon mengambil koper kecil itu dengan raut kebingungan.
"Hadiahmu, apalagi? Seokjin-ssi, semoga kau tidak menyesal menikahinya" Yoongi menyalam Seokjin yang hanya tersenyum canggung disamping Namjoon.
"Terimakasih, Tuan Min…" Jawab Seokjin masih kaku. Apanya yang berterima kasih? Yoongi bahkan tak mengucapkan selamat untuknya.
"Aku tau itu kau, anjing kecil…" Yoongi tersenyum miring melihat punggung tegak Jimin, berdiri bagai batu pajangan.
Jimin berbalik dengan senyum canggung, bingung harus berbuat apa. Atau lebih tepatnya Jimin sangat malu berhadpan dengan Yoongi sekarang.
"Aku undur diri dulu, Minho hyung bilang dia sudah didepan" pamit Taemin sambil mengangkat ponselnya.
"Kami juga harus bertemu tamu yang lain" Pamit Seokjin sambil menarik Namjoon yang bingung. Tidak ingin bergerak.
"Hyung, aku bilang uang se amplop, bukan uang sekoper!" Namjoon bahkan protes atas hadiah dari Yoongi.
"Sama saja, isinya sama-sama uang kan?" Yoongi memutar matanya jengah.
"Tapi…" Namjoon baru akan protes lagi saat Seokjin menariknya pergi.
"Kami permisi" pamit Seokjin buru-buru menarik Namjoon.
Yoongi memandang Jimin tajam, sementara Jimin menundukkan pandangannya. Bingung harus apa.
"Pulang bersamaku" itu bukan permintaan, tapi perintah, dan Yoongi tidak menerima bantahan atau apapun.
"Aku pulang bersama Jungkook dan Taehyung" bohong Jimin.
"Aku tau mobil Taehyung hanya muat satu penumpang, dan ada Jungkook bersamanya. Kau ingin duduk diatap?"
Jimin tersenyum tak enak, sudah ketahuan berbohong.
Jimin dan Yoongi terdiam. Yoongi sedang memandang kearah undangan, sementara Jimin memperhatikan penampilan Yoongi, yang lagi-lagi berbusana serba gelap. Rambut silver, setelan jas berwarna hitam dengan kemeja yang terbuka dua kancing, memamerkan kulit putih pucat yang entah sejak kapan jadi favorit Jimin.
Jimin menelan ludahnya kesulitan. Sial, kenapa orang ini selalu terlihat seksi bahkan saat tidak melakukan apapun. Wangi parfum Yoongi yang tercium samar-samar dihidungnya bahkan membuat Jimin kepanasan.
Jimin menundukkan pandangannya, merasa malu dengan kelakuannya sendiri yang tanpa sadar mematai Yoongi diam-diam. Jimin bahkan tanpa sadar menggigit bibirnya.
"Jangan gigit bibirmu" suara Yoongi menarik perhatian Jimin yang sedari tadi melihat lantai.
"A..apa?"
"Jangan gigit bibirmu" ulang Yoongi. Tatapan tajamnya tepat menancap mata Jimin, membuat Jimin terperangkap untuk kesekian kali. Tidak bisa lari.
"Ada apa dengan menggigit bibir…?" Jimin dengan bodohnya bertanya.
"Kau sedang menggodaku?" Yoongi menaikkan alisnya.
"A.. aku tidak." Jimin berucap cepat.
"Itu tugasku"
"Hah?"
"Mengigit bibirmu. Itu tugasku" Yoongi berucap santai, tapi berefek bagai bom untuk Jimin. Jimin merasa tubuhnya benar-benar kepanasan dan Jimin yakin wajahnya memerah hebat sekarang. Terimakasih pada penerangan yang remang disekitar mereka.
.
.
.
"Terimakasih sudah mengantarku" Jimin membungkuk sedikit. Acara pernikahan Namjoon dan Seokjin sudah selesai. Waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari saat Yoongi dan Jimin sampai didepan pintu apartemen Jimin.
"Tidak mempersilahku masuk lebih dulu?"
"Eh? Ne?"
"Aku mampir" putus Yoongi. Namja pucat itu bahkan langsung masuk tanpa diminta, pintu memang sudah terbuka baru saja.
Jimin didepan pintu benar-benar merasa jantungnya akan meledak sekarang, bagaimana kalau mereka melakukannya lagi? Apalagi malam ini Yoongi terlihat sangat panas. No! Jimin tidak sedang ingin! Jangan salah paham!.
Jimin berjalan masuk langsung kedapur, membuatkan Yoongi kopi. Sengaja Jimin memperlama dan mengulur waktu, karena Jimin benar-benar tidak siap hanya berduaan dengan Yoongi.
Yoongi duduk didepan TV dan melepas jas hitamnya. Membiarkan kepalanya bersandar pada sandaran punggung sofa. Mata namja pucat itu terpejam, tangannya bergerak memijat pangkal hidungnya pelan.
Jimin berjalan dengan segelas kopi ditangannya, memperhatikan gurat lelah yang tercetak diwajah Yoongi yang terpejam. Jimin meletakkan gelas kopi tersebut dimeja depan Yoongi, sementara Jimin berdiri bingung.
"Keberatan kalau aku menginap?" Yoongi masih menutup matanya, tidak menyadari Jimin yang terkejut.
"Kau… ingin menginap?" Jimin kembali memastikan.
Yoongi mengangguk. Kemudian namja pucat itu duduk tegak, memandang Jimin yang terlihat sangat gugup didepannya.
"Kalau kau keberatan aku akan pulang" Yoongi melanjutkan.
"A..ani.. ani… kau boleh menginap" Jimin berucap cepat.
Yoongi tersenyum miring. "Kemari…" Yoongi menepuk bantalan sofa disebelahnya.
Jimin menurut. Jimin mendudukan dirinya rapat dilengan sofa, sementara Yoongi berada disebelah kanannya. Sofa panjang hitam itu bermuatan tiga orang dan menghadap langsung kedepan TV. Jimin duduk gelisah saat Yoongi tidak berbicara apapun padanya.
Yoongi mengambil bantal sofa yang disandari Jimin dan meletakkannya disamping Jimin di sebelah lengan sofa. Namja pucat itu mengangkat kedua kaki Jimin kepahanya, kemudian membuka kaki Jimin. Sementara Jimin sudah hampir mati sakit jantung, tidak paham atas perlakuan namja pucat disampingnya.
Yoongi membuat Jimin bersandar pada lengan sofa berlapis bantal, dengan kaki terbuka diantara badan Yoongi. Jimin masih bingung, dan makin bingung saat Yoongi menelungkup dan meletakkan kepalanya didada Jimin, dengan pipi kiri Yoongi sebagai bantalannya.
"Yoongi…" Panggil Jimin bingung. Namja pucat itu sudah memeluk Jimin dan pipinya bersender malas di dada Jimin.
"Aku ingin istirahat sebentar saja" Yoongi berucap. Tidak ingin mendengar protes apapun, Yoongi kembali menutup matanya.
Jimin membiarkan Yoongi bersandar didadanya, sementara tangan Jimin mengelus kepala Yoongi. Tangan Jimin bermain-main dengan rambut silver Yoongi yang menjadi favoritnya.
Tidak banyak yang mereka lakukan. Mereka hanya seperti itu lebih dari dua puluh menit, sampai Yoongi menaikkan kepalanya, memandang Jimin tepat dimata dan memperangkap Jimin lagi dengan pesonanya.
Tangan Yoongi digunakan untuk menahan tubuh Yoongi agar tidak menimpa Jimin seperti tadi, wajah mereka bahkan sudah sejajar, dan tangan Jimin yang menangkup wajah Yoongi yang memandangnya intens.
Bohong kalau Jimin bilang dia tidak ingin Yoongi menyentuhnya. Jimin bahkan sangat menginginkan Yoongi lebih dari apapun sekarang. Lama bertatapan intens, Jimin memulai lebih dahulu dengan mengecup bibir yoongi. Hanya mengecup saja, karena Jimin tidak berani lebih dari itu.
"Bolehkah?" Yoongi bertanya seduktif tepat didepan bibir Jimin.
Jimin memandang mata Yoongi sekali lagi, memastikan bahwa bukan hanya Jimin yang membutuhkan Yoongi. Saat Jimin mendapati mata Yoongi yang seperti malam itu, malam dimana pertama kali mereka melakukannya, mata penuh pemujaan itu, Jimin mengangguk.
Dada Jimin berdebar kencang, pandangannya tak terlepas dari Yoongi, pandangannya seolah terkunci disana. Dimata Yoongi yang selalu memancarkan arogansi yang tak terbantahkan itu.
Jimin meremas bahu Yoongi saat namja pucat itu mulai menciumnya, perlahan, sampai muncullah sisi asli Yoongi yang dominan dan liar. Sisi yang selalu menuntut dan Jimin sangat menyukai sisi itu. Membuat Jimin merasa sangat diinginkan.
Desahan nafas keduanya beradu, saat tak ada lagi apapun melekat ditubuh keduanya. Jimin bahkan sudah berani memberikan reaksi atas perlakuan Yoongi ditubuhnya. Jimin bahkan tak malu lagi menyanyikan nama Yoongi.
"Kau milikku, Park Jimin…" Yoongi mengeram saat mengucapkan itu, suara berat Yoongi bagai candu ditelinga Jimin. Dan Jimin hanya melengkungkan tubuhnya sebagai reaksi atas ucapan Yoongi.
Jimin mengigit bahu Yoongi saat Yoongi mulai memasukinya. Rasa sakit dan perih terasa lagi, dan Jimin tercekat dibawah Yoongi, rasanya seperti terkoyak jadi dua.
Yoongi sadar kalau Jimin kesakitan, namja pucat itu mencium bahu Jimin berkali-kali, menenangkan pria dibawahnya itu, dan perlahan bergerak.
Saat mereka akan meledak bersama, jantung Jimin berdetak makin liar, dan Yoongi kembali mengunci Jimin dengan matanya. Nafas berantakan Jimin bahkan membuat Yoongi nyaris gila, karena diantara nafas Jimin yang kepayahan ada nama Yoongi dinyanyikan.
"A.. aku…Yoongi.." Jimin tersedak.
"Bersama…" Yoongi berbisik ditelinga Jimin.
Jimin meledak dan menjeritkan nama Yoongi dengan nyaring. Tangannya meremas rambut Yoongi sebagai pelampiasan, sementara Yoongi mengeram dan memeluk Jimin erat.
.
.
.
"Keluarkan foto itu sehari sebelum Park Jimin comeback. Ini akan jadi berita sangat besar. Aku akan menghancurkan dua orang sekaligus. Park Jimin dan si brengsek Bang itu."
..
.
.
.
TBC
Tengkyu sebanyak-banyakknya kakak-kakak yang masih setia nunggu ff ini
*terharu* bahkan ada yang nge DM juga buat nanyain FF ini. Saya terharu…
Terimakasih juga atas review nya kakak-kakak ku, terima kasih juga yang sudah follow dan love ff kacangan ini.
Ketjup satu-satu.
