.
"Keluarkan foto itu sehari sebelum Park Jimin comeback. Ini akan jadi berita sangat besar. Aku akan menghancurkan dua orang sekaligus. Park Jimin dan si brengsek Bang itu."
.
.
.
KOI NO YOKAN
.
.
.
Mirae menatap kosong ke dinding saat mendengar semua jadwalnya dibatalkan sepihak oleh pihak client. Rasanya langit runtuh benar-benar menimpa kepalanya saat ini. Dan dia yakin 100%, Hyungwonlah dalang dari semua ini, dan Mirae sadar dia tidak memiliki kekuatan apapun melawan Hyungwon. Jadi gadis itu hanya menangis sesenggukan, sendirian.
Karir yang menjadi mimpinya kandas dalam sehari hanya karena kehadiran Hyungwon, dengan segala kecemburuan yang menutup matanya.
Mirae mengambil ponselnya, setelah menemukan kontak yang ditujunya, Mirae memencet tombol berlogo telepon dilayar ponselnya.
"Mirae?"
"Oppa! Kenapa kau tidak mengeluarkan foto itu juga? Apa yang kau tunggu?" Geram Mirae pada orang diseberang telepon.
"Hey, santai. Foto itu sudah punya jadwal untuk dirilis. Santai saja"
"Kapan?" Mirae mengeram.
"Ada apa ini Mirae? Apa kau punya masalah dengan Park Jimin? Yang kudengar kau adalah modelnya di video clip selanjutnya? Apa dia melakukan hal brengsek padamu? Bisa kau ceritakan?" Pancingnya.
"Aku tidak ada masalah dengan penyanyi itu, tapi aku harus menggunakannya untuk membungkam seseorang."
"Huh? Siapa?"
"Bukan urusanmu, aku perlu foto itu untuk dirilis secepatnya"
"Judul apa yang harus kutulis di foto itu nanti?"
"Yang pasti jangan membawa namaku dalam foto itu! Jadi, kapan kau akan merilis foto itu?"
"Sehari sebelum Park Jimin comeback. Menarik bukan? Ini akan jadi hal tergila dalam sejarah karir Park Jimin yang membosankan." Orang itu tertawa.
"Pastikan tidak ada namaku terlibat disana"
"Baiklah…" ucap orang itu santai.
Mirae meremas ponselnya geram. Rasanya dia ingin menghajar Hyungwon, benar-benar ingin menghajarnya. Mendadak terlintas wajah Jimin dikepalanya, Mirae menunduk dalam, dia tidak tega tapi dia harus melakukannya, demi perasaan egois bernama dendam.
"Jimin-ssi, maafkan aku, tapi aku harus memberi si brengsek Hyungwon itu lawan yang seimbang. Maaf melibatkanmu" sesal Mirae.
.
.
.
Jimin sedang berada di kantor agensi, besok adalah hari MV nya di luncurkan. Seperti kebiasaan yang sudah-sudah, para kru, produser, sutradara, dan CEO pemilik agensi berkumpul untuk rapat mengenai jadwal promosi dan konser setelah MV diluncurkan.
Mereka optimis kali ini pun hasilnya akan sama seperti dua album sebelumnya, album Jimin akan meledak dipasaran, jika melihat antusiasme para fans yang sudah tidak sabar menunggu, juga jumlah PO album Jimin yang tidak main-main jumlahnya.
Keadaan ruangan itu sangat kondusif sampai seseorang mengetuk ruang rapat tersebut. Disana berdiri Jungkook dengan wajah segan, panic, dan takut bercampur. Dia membungkuk segan dan setelah dipersilahkan masuk oleh sang CEO, barulah Jungkook berani masuk kedalam ruangan.
"Ada apa, Jungkook-ssi?" Bang CEO mengernyitkan dahi melihat Jungkook.
"Maaf mengganggu rapat anda, Sajangnim. Tapi, ini…" Jungkook meletakkan ponselnya dimeja Bang CEO. Kemudian Jungkook berjalan kearah Jimin.
"Apa-apaan ini!" Bang Ceo mendesis, kemarahan jelas ditahan sang CEO.
Diponsel Jungkook terbuka sebuah portal berita online ternama, yang sering memberitkan hal-hal kontroversi seputar artis. Dan kali ini, berita soal Jimin yang menjadi Headline berita online tersebut.
'(BREAKING NEWS: )PARK JIMIN TERLIBAT AFFAIR DENGAN MIN SUGA, KEKASIH MIRAE SI MODEL YANG SEDANG NAIK DAUN'
Dalam Headline berita yang ditulis cetak tebal tersebut, terdapat juga sebuah foto dimana Jimin sedang berciuman dengan namja berambut silver, dan semua orang yakin kalau itu Min Suga. Si milyarder muda. Kekasih Mirae si model.
Jimin melirik Jungkook, karena dia benar-benar butuh penjelasan. Di depan Jimin, sang CEO seperti menahan ledakan marahnya dengan menunduk dalam. Keadaan berubah mengintimidasi, karena mereka semua yang berada di dalam ruangan jelas merasakan tensi yang berubah disekitar mereka.
"Jelaskan ini, Park Jimin-ssi" Bang CEO sepertinya sudah menemukan kembali ketenangannya. Pria berkacamata itu menyerahkan ponsel Jungkook pada Jimin.
Jimin yang membaca headline berita dan foto yang terdapat didalamnya menganga tak percaya. Itu jelas dia dan Yoongi, di lokasi syuting waktu itu.
"Aku…" Jimin ingin berbicara, tapi dia tidak tau harus menjelaskan ini.
"Park Jimin, apa benar yang ada diberita ini?" Bang CEO mulai menyudutkan Jimin.
"Sajangnim… aku… aku benar-benar tidak tau soal ini…" cicit Jimin. Tangannya yang memegang ponsel Jungkook bergetar hebat. Dia tidak pernah akan terjadi seperti ini.
"Sajangnim, ada baiknya kita mengundur jadwal rilis MV Jimin. Aku rasa kita harus mengatur ulang segalanya" Hoseok, yang bertindak sebagai produser untuk album Jimin bersuara.
"Hoseok hyung benar, kita perlu memikirkan ulang peluncuran MV Jimin. Dan aku rasa, kita perlu konfirmasi ke public soal ini" Jiwoo, sang sutradara menyetujui.
Bang CEO menghembuskan nafas, dia tidak tau harus mengkonfirmasi apa ke public, karena berita ini jelas-jelas merugikan Jimin.
"Park Jimin, apa benar yang ada di berita itu?" Bang CEO melunak saat melihat Jimin sudah menangis sambil menunduk, terlihat jelas dari bahunya yang bergetar.
"Maafkan… maafkan aku… sajangnim…" Jimin makin terisak dalam tangisnya. Semuanya berantakan sekarang.
"Dia Min Suga kan, Jim?" Hoseok duduk menyamping agar menghadap Jimin yang masih ditenangkan oleh Jungkook.
Jimin mengangguk.
"Bukannya Min Suga itu sponsor Jungkook? Kita bisa minta tolong padanya untuk konfirmasi soal ini kan, Sajangnim?" Hoseok tersenyum.
"Kau benar! Kita telepon Kim Namjoon sekarang" Bang CEO seperti dapat pencerahan dari ucapan Hoseok.
"Kim Namjoon kakak iparmu kan, Jungkook-ssi?" Jiwoo teringat.
Jungkook mengerjabkan matanya, baru menyadari hal ini. Karena terlalu panic, Jungkook jadi lupa akan segalanya.
Seperti yang diperkirakan, menghubungi Namjoon sama sulitnya seperti menghubungi Min Suga. Amat sangat sulit. Menghubungi Yoongi langsung pun akan sama saja. Yang ada mereka akan masuk waiting list, bisa sampai berhari-hari menunggu hanya untuk bisa berbicara pada namja pucat itu.
Jalan paling gampang adalah menghubungi Namjoon, tangan kanan Yoongi. Setidaknya mereka hanya perlu menelpon kantor Namjoon ratusan kali agar bisa berbicara dengan Namjoon.
Jungkook menghubungi nomor ponsel pribadi Namjoon dan hasilnya sama, tidak di angkat. Sementara sang CEO sudah menyuruh sekertarisnya menghubungi kantor Namjoon sampai mereka bisa bicara langsung dengan Namjoon.
Saat keadaan kantor agensi Jimin sibuk menghubungi Namjoon, ditempat lain ada Mirae yang terkejut bukan main dengan berita yang keluar hari ini. Mirae kembali terlibat dengan Min Suga yang sudah membuangnya. Orang yang tidak ingin Mirae hadapi lagi seumur hidupnya. Namanya jelas-jelas terseret diberita itu. Dia dipermainkan, lagi. Harusnya dia belajar, di industry hiburan tidak ada satupun yang bisa kau percaya.
Dan Hyungwon yang berada di kamarnya, meledak marah melihat berita yang menghebohkan itu. Berita itu seolah mengkonfirmasi kalau benar ada hubungan khusus antara Yoongi dan Mirae. Hyungwon merasa ditipu oleh Mirae dan Wonho juga.
.
.
.
Jimin terpaksa dipulangkan dengan sembunyi-sembunyi dari kantor agensi, dan menggunakan mobil salah satu karyawan agensi tersebut. Diluar kantor agensi sudah berkumpul wartawan dengan jumlah yang tidak sedikit, menunggu Park Jimin muncul untuk menyerang namja itu dengan pertanyaan-pertanyaan.
Jimin bahkan masuk ke gedung apartemennya melalui jalur khusus yang hanya diketahui pemilik apartemen. Didepan gedung apartemen Jimin pun tidak ada bedanya, wartawan berkerumun, dan terlihat terlibat cekcok dengan security karena beberapa wartawan berkeras ingin masuk gedung.
Segalanya berantakan. Itu yang Jimin sadari sekarang.
Saat sampai di apartemen, Jimin langsung masuk ke kamar, ada Jungkook yang selalu berada disampingnya, menemani namja bersurai orange itu yang tak kunjung berhenti menangis.
"Hyung, akan ku buatkan susu hangat. Jin hyung sedang dalam perjalanan ke sini" Jungkook menepuk punggung Jimin, kemudian keluar dari kamar Jimin.
Jungkook masuk kembali ke kamar Jimin dengan segelas susu di tangannya. Jungkook mendudukan dirinya di sofa kamar Jimin dan memandang sedih namja bersurai orange itu.
Rasanya baru kemarin Jungkook melihat Jimin sangat ceria, dan sekarang, namja itu benar-benar sangat terbebani dengan pemberitaan yang meliar diluar sana.
Bahkan saat Jungkook memeriksa akun media social milik Jimin, tak sedikit komentar kebencian yang diterima Jimin. Jungkook hanya bisa pasrah, berharap Min Yoongi berbaik hati muncul di media dan membela Jimin. Karena berita yang muncul benar-benar menyudutkan Jimin.
.
.
.
Hyungwon benar-benar tidak bisa dikendalikan lagi. Anak manja itu bahkan meninju siapapun yang menghalangi jalannya, tujuannya Cuma satu. Mirae.
Gadis yang bekerja menjadi model itu sedang berada di gedung agensi, dipanggil sehubungan dengan pemberitaan diluar sana. Hyungwon menerobos ruang kerja Appa-nya, dan dia tersenyum berang melihat Mirae yang duduk manis dihadapan Appanya.
Hyungwon nyaris menarik rambut Mirae, saat Wonho berhasil menangkap tangan Hyungwon dan menguncinya dibelakang punggung si anak manja.
"Hyungwon, tenanglah…" Wonho menarik mundur tubuh Hyungwon yang memberontak.
"Pelacur! Ku bunuh kau!" Hyungwon berteriak, tidak perduli keadaan bahwa sang Appa ada disana. Melihat kemarahannya.
"Hyungwon!" Bentak Wonho. Kali ini Wonho merasa Hyungwon sudah mulai keterlaluan.
"Ada apa , Nak?" Sang appa berdiri, bingung dengan kemarahan anaknya.
"Dia! Aku membencinya appa!" Hyungwon masih memberontak karena tangannya ditahan Wonho.
"Ada apa ini, Wonho?" Sang Appa beralih pada bodyguard pribadi sang anak.
"Tuan, ini tentang berita yang berhubungan dengan tuan Min Yoongi…" Jelas Wonho.
Wonho jelas orang yang paling panic sekarang. Dia sudah diberikan perintah oleh Yoongi untuk mengkonfirmasi ke media kalau antara Yoongi dan Mirae tidak ada hubungan khusus, dan dengan hebatnya Wonho lupa mengkonfirmasi ke media. Dan inilah yang terjadi sekarang. Kekacauan ini secara tidak langsung juga salahnya.
Sang Appa tertawa, pria setengah abad lebih itu duduk kembali dan masih tertawa, membuat ketiga orang yang ada dihadapannya kebingungan.
"Ya! Chae Hyungwon, kau ini masih saja overprotective pada hyung mu" sang Appa kembali tertawa. "Duduklah, nak. Apa kau merasa Mirae tidak cukup cantik untuk Yoongi?"
Mirae bingung dengan keadaan yang menimpanya sekarang. Apa ini? Jadi Yoongi adalah anak pemilik agensinya juga? Sama seperti Hyungwon? Mirae merasa bodoh sekarang, dan sangat menyesal atas apa yang menimpa Jimin, kalau benar Hyungwon dan Yoongi bersaudara.
Ya. Yoongi dan Hyungwon adalah kakak-adik tiri.
Setelah ayah Yoongi meninggal, ibunya menikah lagi dengan duda beranak satu. Dan duda yang dinikahi ibu Yoongi adalah tuan Chae, pemilik agensi artis.
Hyungwon masih kecil saat pertama kali bertemu Yoongi. Kira-kira umurnya sepuluh tahun saat itu dan Yoongi sudah tujuh belas tahun. Saat ibunya menikah lagi, Yoongi memilih meninggalkan ibunya dan kuliah ke luar negeri dan memulai karir bawah tanahnya dari sana.
Yoongi bukanlah tipe orang yang mudah akrab dengan orang lain, tingkat kepercayaan namja pucat itu pada orang lain sangat tipis. Bahkan nyaris tak ada. Dan hal itu berlaku juga pada appa barunya.
Saat umur 24 tahun, Yoongi kembali ke Seoul dan menetap disana. Yoongi bahkan memilih tinggal diapartemen daripada tinggal bersama appa tiri dan ibu nya. Menetap tujuh tahun diluar negeri dan nyaris tanpa kabar, membuat Hyungwon melupakan fakta kalau dia memiliki hyung tiri. Karena umma dan appa nya tidak pernah membahas Yoongi di depannya.
Dan saat Yoongi muncul lagi setelah tujuh tahun berlalu, Hyungwon tau ada yang salah dengan perasaannya. Setiap dia melihat Yoongi, dia berdebar dan bersikap malu-malu tak wajar.
Rasa penasarannya muncul karena Yoongi benar-benar mengacuhkan keberadaan Hyungwon, bahkan seperti Hyungwon tidak pernah ada. Dan Hyungwon adalah anak yang selalu mendapatkan perhatian berlebih dari semua orang, teman-temannya bahkan menuruti semua ucapannya. Dan Yoongi harus memperlakukannya seperti itu juga.
Hyungwon mulai mencari perhatian, nyaris setahun dia menganggu Yoongi dikantor, di apartemen, bahkan saat Yoongi diundang makan malam kerumah mereka, Hyungwon tak berhenti mencari perhatian Hyung tirinya itu.
Keberadaan Hyungwon yang nyaris setiap hari mengemis perhatian itu benar-benar mengganggu Yoongi. Dia ingin menghajar anak manja itu, tapi dia ingat ibunya berada di rumah mereka. Jika Yoongi berlaku kasar, bisa jadi ibunya juga di perlakukan sama. Kesabaran Yoongi benar-benar di uji, sampai Yoongi menyerah dan menuruti kemauan Hyungwon.
Hyungwon yang masih remaja mulai merengek setiap hari, mulai memaksa Yoongi makan bersama, menonton bioskop, membelikan Hyungwon hal-hal tidak penting seperti mainan, karikatur dan lain-lain.
Yoongi juga buka patung yang tidak tahu kalau ada yang salah dengan adik tirinya itu. Jadi, pada saat itu Yoongi menanyakan maksud perlakuan Hyungwon padanya tanpa basa-basi.
"Apa maumu sebenarnya?" Yoongi mulai jengah dengan tingkah manja adik tirinya itu.
"Huh? Apa? Aku hanya ingin dekat dengan Hyung ku"
"Aku bukan hyung mu. Hanya karena orang tua kita menikah, bukan berarti kau jadi adikku"
"Ya, kau benar. Aku memang tidak memandangmu sebagai hyungku. Syukurlah kalau kau juga berpikiran sama denganku, hyung" Hyungwon tersenyum.
"Apa maumu?" ulang Yoongi.
"Apa kau tidak bisa memandangku sebagai kekasihmu hyung? Kita tidak punya ikatan darah kan?"
"Kau gila" hanya itu yang Yoongi ucapkan. Namja pucat itu sudah siap berdiri meninggalkan meja yang mereka pesan direstoran, kemudian Hyungwon menarik paksa Yoongi untuk duduk kembali.
"HYUNG! APA YANG SALAH? KAU BILANG AKU BUKAN ADIKMU KAN?" Hyungwon meradang.
"Dengar ya bocah, sekalipun kau bukan adikku, kau itu tetap saja bukan tipeku. Jangan katakan hal konyol. Kau membuatku kesal."
"Lalu seperti apa tipemu? Jalang-jalang yang selalu berada di sekitarmu? Sebenarnya aku ini apa untukmu? Kenapa kau menuruti semua ke inginanku kalau kau tidak memandangku sebagai adik, juga bukan sebagai pasangan?" Hyungwon mulai melemah. Dia ditolak.
"Kau milikku…" Yoongi berujar sambil berdiri, terdengar derit kursi bergesekan dengan lantai, kemudian Yoongi melanjutkan "Karena kau anak dari suami ibu ku".
Dan begitu saja , Yoongi berlalu meninggalkan Hyungwon yang menangis dalam diam. Hari itu juga adalah hari terakhir mereka bertemu. Hyungwon memilih kuliah diluar negeri agar tidak bertemu dengan Yoongi lagi. Setidaknya itu bisa membuatnya lebih baik.
.
.
.
Tepat pukul tiga pagi Yoongi baru mengangkat telepon Namjoon. Rasanya Namjoon sudah berjuta kali menelepon Yoongi, bahkan Namjoon sampai memaki ponselnya karena teleponnya tidak di angkat.
"Hyung! Kau kemana saja?" ada nada kesal dari cara Namjoon berbicara.
Bukan tanpa alasan, sudah sejak sore Namjoon diteror habis-habisan oleh Seokjin, meminta Namjoon untuk menelepon Yoongi agar membantu Jimin yang seperti kehilangan nyawanya.
"Apa?"
"Kau sudah baca berita terbaru hyung?"
"Soal?" Yoongi menanggapi tanpa minat.
"Kau dan Park Jimin."
"Huh? Ada apa?"
"Astaga hyung! Demi Tuhan. Aku sedang berada di apartemen Jimin, kau sudah tau kabar soal Jimin yang diberitakan terlibat affair denganmu?" Namjoon geram karena Yoongi sangat santai menanggapinya.
"Wait, WHAT? Affair apanya?"diseberang telepon, Yoongi mengernyit dahi.
"Hyung, tolong baca berita tentangmu sekarang, kau akan paham kalau situasi…."
"HYUNG! JIMIN HYUNG!... JIMIN HYUNG!" teriakan Jungkook melengking, bahkan Yoongi bisa mendengar dengan jelas teriakan Jungkook dari sambungan telepon.
Tanpa permisi dan mengabaikan panggilan Yoongi, Namjoon dan Seokjin yang berada di ruang tamu berhambur berlari kekamar Jimin. Di depan mereka tergeletak Jimin tak berdaya dengan botol obat pecah berserakan disekitar Jimin. Saat Namjoon mengambil pecahan botol setelah mengangkat Jimin ketempat tidur, Namjoon mengumpat. Dia tau kalau Jimin overdosis obat penenang.
.
.
.
Jimin berhasil dibawa kerumah sakit tanpa diketahui siapapun, terima kasih pada Namjoon dan seluruh relasinya, sehingga tidak ada yang melihat Jimin dibawa kerumah sakit. Jimin telah masuk ke UGD, tidak ada lagi yang bisa Namjoon, Seokjin dan Jungkook lakukan selain menunggu.
Jam sudah menunjukan hampir jam empat pagi, saat Namjoon merasa ponselnya bergetar didalam kantong. Namjoon memeriksa ponselnya dan sudah ada empat puluh tiga panggilan tidak terjawab yang berasal dari Yoongi.
Namjoon berinisiatif ingin menelepon Yoongi, tapi Yoongi lebih cepat.
"Kau dimana, brengsek?" Yoongi seperti biasa, tanpa basa-basi.
"Hyung, aku di RS XX"
"Apa yang terjadi?"
"Jimin, overdosis obat penenang, dia…"
"Aku akan kesana sekarang" Yoongi menutup telepon dan buru-buru turun pergi dari apartemen Jimin yang langsung ditujunya tanpa pikir panjang setelah mendengar teriakan Jungkook.
Yoongi tidak pernah ketakutan atau khawatir, dalam hal apapun. Tidak pernah ada orang yang membuat Yoongi langsung pergi menemuinya saat mendengar seseorang terluka bahkan nyaris mati. Ini pertama kalinya Yoongi takut dan khawatir tentang keadaan seseorang, dan Yoongi sadar, dia benci perasaan seperti ini.
Yoongi berusaha konsentrasi menyetir, bahkan Yoongi tanpa sadar pergi hanya dengan setelan piyama. Tidak terpikir apapun saat mendengar teriakan Jungkook saat itu, yang Yoongi tau, dia sudah merampas kunci mobil dan pergi begitu saja.
Yoongi langsung berlari ke UGD dan mendapati Namjoon, Seokjin dan Jungkook duduk berbarik di kursi yang ada dikoridor Rumah Sakit dekat ruang UGD, ketiganya menundukkan kepala dengan Seokjin bersandar di bahu Namjoon.
"Apa yang terjadi?" Yoongi menetralkan nafasnya.
"Hyung? Jimin meminum obat penenang berlebihan, tapi sudah di muntahkan, sekarang Jimin sedang diperiksa ulang. Aku meminta mereka memeriksa kesehatan Jimin melalu uji tes darah." Namjoon menjelaskan saat Yoongi berdiri didepannya.
Yoongi bersandar ditembok sebelah Namjoon duduk, nafasnya naik turun tidak stabil, jantungnya bahkan masih berdetak tak karuan.
"Apa dia baik-baik saja?" pertanyaan Yoongi ditujukan pada Jungkook yang berdiri begitu melihat Yoongi berlari dari parkiran.
"Aku rasa dia tertekan, hyung. Pemberitaan diluar benar-benar memojokan Jimin hyung, bahkan tidak sedikit yang menyerang social medianya dengan komentar jahat. Tolong bantu Jimin hyung, kumohon…" Jungkook mengiba di depan Yoongi.
"Aku harus apa?" Tanya Yoongi, karena dia benar-benar tidak paham keadaan. Bahkan berita yang sedang heboh diluaran tidak sempat dibacanya.
"Tolong konfirmasi ini, tuan Min" Seokjin menyerahkan ponselnya yang menunjukan perihal berita affair antara Yoongi- Mirae- dan Jimin. "Tolong bantu Jimin…" Seokjin berucap lemah.
Rahang Yoongi mengeras melihat berita di ponsel Seokjin, bahkan Yoongi sempat membaca komentar-komentar yang ada dalam berita online tersebut yang kebanyakan menyerang Jimin. Yoongi memejamkan matanya erat, menahan emosi yang sudah berada diubun-ubun dan akan meledak sedetik lagi. Ada hal yang lebih penting dari itu sekarang.
"Seokjin…" itu Ken, teman Seokjin yang bekerja di RS XX sebagai dokter.
"Bagaimana Jimin?" Seokjin langsung berjalan cepat kearah Ken yang berdiri di depan pintu UGD.
"Sudah kami pindahkan ke ruang rawat. Kami juga sudah mengambil sampel darahnya untuk memastikan keadaan Jimin, besok akan keluar. Temui aku besok jam sepuluh pagi sebelum shift ku habis. Aku akan menyerahkan hasil tes darah Jimin padamu." Ken menjelaskan.
"Apa Jimin hyung baik-baik saja?" Jungkook bersuara. Dibelakang Jungkook sudah berdiri Namjoon dan Yoongi.
"Wow, ada artis muda lain yang muncul ternyata. Jimin sudah baik-baik saja. Dia sedang tertidur. Mari ku antar ke kamarnya" Ken berjalan diikuti Namjoon, Yoongi, Seokjin dan Jungkook dibelakang.
Jimin terlihat pucat diatas ranjang rumah sakit, Seokjin langsung duduk disamping ranjang Jimin dan mengelus rambut Jimin dengan sayang. Jungkook duduk disofa sambil memandangi Jimin yang tertidur, sementara Yoongi dan Namjoon berdiri didepan pintu.
"Hyung, apa yang akan kulakukan sekarang?" Tanya Namjoon pada Yoongi yang mematung didepan pintu.
"Bawa Wonho kerumahku dan juga Mirae. Aku akan mengurus semuanya" Yoongi berjalan kearah ranjang rumah sakit, tangan pucatnya mengelus kepala Jimin, dan Seokjin langsung mundur dari dekat ranjang. Terperangah dengan sorot mata Yoongi yang berbeda dari biasanya. Mata namja pucat itu lebih dingin dari sebelum-sebelumnya, terlihat seribu kali lebih kejam dari sebelumnya.
"Seokjin-ssi, bisa tolong jaga Jimin sebentar? Aku harus menyelesaikan masalah ini. Telepon aku kalau terjadi sesuatu. Berikan ponselmu" Yoongi mengulurkan tangannya.
"Aku pasti menjaganya, tolong selesaikan masalah ini Yoongi-ssi." Seokjin memberikan ponselnya pada Yoongi.
Yoongi hanya mengangguk. Setelah memasukkan nomor ponselnya di ponsel Seokjin, Yoongi pergi dan Namjoon mengikuti di belakangnya setelah pamit pada Seokjin dan Jungkook.
.
.
.
Pukul enam pagi dan Wonho sudah berada di ruang kerja Yoongi, berlutut didepan namja pucat itu, menunduk dalam tanpa berani menatap. Yoongi duduk di sofa tunggal ruang kerjanya, memandang tenang kearah Wonho tanpa bicara.
"Boss…" Wonho mulai berbicara, keheningan dingin itu benar-benar menakutkan untuknya.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" Yoongi berucap dingin.
"Maaf atas keteledoranku boss, aku pantas diberi pelajaran"
Begitu saja, kaki Yoongi langsung menendang kepala Wonho dengan keras sampai namja itu terjungkal dari tempatnya. Kepala Wonho terasa berputar karena Yoongi benar-benar menendangnya tanpa ditahan-tahan.
"Apa kesalahanmu?" Yoongi berdiri, sementara Wonho mencoba berlutut dengan benar kembali.
"Aku… aku seharusnya memberi konfirmasi atas….aghh…" Wonho mengerang lagi karena Yoongi kembali menendangnya, kali ini di bahu Wonho.
"Bicara yang jelas, brengsek…" Geram Yoongi.
"Yoongi hyung, kumohon maafkan aku…" Wonho mengiba dihadapan Yoongi yang menjulang dihadapannya.
"Kau sangat tau kalau aku tidak suka jika ada yang bekerja dengan tidak benar. Kau sedang mencoba mencari tahu batas toleransi ku?" Yoongi mengambil tongkat baseball dari gantungan dan memukulkannya kebadan Wonho.
Wonho terkapar saat tongkat baseball itu mengenai badannya tanpa arah, Yoongi benar-benar akan membunuhnya kali ini dengan perlahan, darah sudah keluar dari badan Wonho, lelaki itu sudah memar seluruh tubuh tapi tidak membuat Yoongi berhenti memukulinya.
Pintu ruang kerja Yoongi terbuka, menunjukan Namjoon dan Mirae disampingnya, gadis itu terkejut bukan main melihat keadaan Wonho yang terkapar dibawah kaki Yoongi. Kedatangan mereka membuat Yoongi berhenti dan meletakkan tongkat baseball di meja kerjanya.
"Buat konfirmasi di media sosialmu kalau kita tidak punya hubungan apa-apa" Yoongi berucap tenang. Tanpa basa-basi bahkan tidak juga mempersilahkan gadis itu masuk.
Namjoon yang melihat keadaan Wonho hanya tersenyum miring. Katakan Namjoon punya kelainan, tapi dia benar-benar suka melihat darah yang berkeluaran dari tubuh Wonho, hidungnya bahkan mengendus rakus bau anyir darah yang menguar.
Mirae yang masih terperangah tidak memberikan reaksi atas ucapan Yoongi,gadis itu masih terlalu syok untuk merespon apapun disekelilingnya. Tepat saat Namjoon menyenggol bahunya dan menarik lengan atas Mirae untuk masuk ruangan, Mirae mengerjabkan mata dan tiba-tiba meraskan panic luar biasa.
"Aku tidak suka mengulang ucapanku" Yoongi memandang dingin kearah Mirae. Dan Mirae sangat tau Yoongi sedang dalam kondisi benar-benar akan membunuhnya jika dia menentang.
Seperti permintaan Yoongi, Mirae mengambil ponselnya dan membuat konfirmasi soal berita di luaran. Tidak banyak, hanya langsung ke intinya kalau dia dan Yoongi tidak memiliki hubungan, dan pemberitaan diluar sana tidak benar. Setelah memposting di social medianya, Mirae langsung ingin pergi tapi kakinya seolah dipaku diruangan itu.
Yoongi tersenyum miring saat melihat Luhan dan Jackson masuk kedalam ruangan, keduanya menyeret seseorang lagi ditangan mereka.
"Ini dia si biang onarnya boss…" Jackson berucap ceria, menyeret pria yang tak berhenti berontak sedari tadi.
"Wah… Wonho si bodoh…" guman Luhan melihat Wonho terkapar dengan takjub.
"Lepaskan aku!" pria yang datang bersama Luhan dan Jackson itu dihempas begitu saja disamping Wonho.
"Ini dia si pemilik berita online itu boss. Silahkan.." Jackson mundur, sementara Luhan menendang-nendang Wonho, memastikan namja itu masih hidup atau sudah lewat.
Yoongi menarik tongkat baseball berlumur darah itu dari meja, namja pucat itu benar-benar terlihat seperti pembunuh berdarah dingin sekarang. Namjoon mengunci pintu ruangan Yoongi dan duduk manis disofa sambil menonton pertunjukan yang akan di mulai. Sementara Mirae sudah melebarkan matanya, terkejut dengan Namja yang kini tersungkur di depan Yoongi.
"Apa membuat rumor sampah adalah favorite mu?" Yoongi tersenyum tapi matanya memandang tajam.
"Aku tidak ada urusan denganmu!" tentang pria bernama Jiri itu.
"Ya, tadinya kita tidak ada urusan. Tapi sekarang kau akan tau dengan siapa kau berurusan" Yoongi mengayunkan tongkat baseball tanpa ampun kebadan Jiri, tanpa rasa iba sama sekali mendengar kata ampun yang keluar dari mulut pria itu. Bisa terdengar beberap tulangnya patah disana sini, sementara Luhan, Jackson, dan Namjoon memandang bahagia.
Sudah sangat lama saat terakhir kali mereka melihat Yoongi mengeluarkan tenaga lebih untuk membunuh orang lain. Semua orang tau kalau Yoongi lebih suka langsung menembak kepala musuhnya dari pada menyiksa sampai mati. Lebih manusiawi, katanya Yoongi waktu itu. Tapi lihat ini? Monster itu bangun lagi.
Jiri mencoba lari dari Yoongi dan saat matanya menangkap satu-satunya perempuan diruangan itu, Jiri berteriak menunjuk-nunjuk kearah Mirae yang sudah mematung ditempat.
"DIA! DIA YANG MEMBERIKAN FOTO ITU! WANITA ITU YANG MEMBERINYA PADAKU DAN AKU MEMBERINYA UANG!" teriak Jiri panic.
"Wow, menarik…" Luhan menarik Jiri ke pinggir untuk mempersilahkan Yoongi berjalan menuju wanita itu.
"Periksa ponsel pria itu, Jackson" Namjoon memberi komando.
Tanpa diperintah dua kali, Jackson menggeledah kantong pria itu dan mengambil ponselnya dari dalam kantong celana. Dan Jackson mendapatkan apa yang mereka cari, seseorang bernama Mirae mengirim foto itu pada Jiri.
"Aku mendapatkannya, boss. Seseorang bernama Mirae mengirim foto itu" ucap Jackson.
"Telepon" perintah Yoongi.
Saat Jackson mendial nomer bernama Mirae, ponsel Mirae berbunyi. Mirae tidak bisa lari lagi sekarang.
"Kau benar-benar banyak tingkah sekarang…" Yoongi tersenyum miring dan menarik rambut Mirae dengan kasar.
"Suga… maafkan aku, ini bukan seperti yang…"
"Kau bermain dengan orang yang salah" Yoongi berdesis didepan wajah Mirae yang kesakitan karena rambutnya ditarik Yoongi.
"Suga… aku…"
"Kau dapat mainan baru, Luhan…" Yoongi melempar Mirae di depan Luhan sampai tersungkur. Gadis itu sudah menangis ketakutan, tapi Luhan bukanlah orang yang baik. Luhan menjambak rambut Mirae senang.
"Boleh ku jadikan boneka-bonekaan?" Luhan mengerjab antusias. Boneka-bonekaan yang dimaksud Luhan tentu bukanlah sesuatu yang manis, kau tidak akan mau membayangkannya. Luhan itu psikopat, jangan terkecoh dengan wajah cantiknya.
"Terserahmu. Pastikan dia tidak mati dengan cepat" Yoongi berjalan lagi kearah Jiri yang menyudut ke dinding. "Dan kau, sudah bersiap untuk permainan selanjutnya? Kursi listrik? Atau cambuk?"
"Ku.. kumohon.. kumohon hentikan. Apa mau mu?" Jiri mencoba bernego. Seluruh tubuh Jiri bahkan sudah dibanjiri darah. Dia benar-benar akan mati jika terus-terusan disiksa.
"Ah… kau mengajakku berbisnis ternyata…" Yoongi berjongkok dan menepuk-nepuk kepala Jiri yang terselimuti darah.
"Ku mohon, aku akan melakukan apapun, tapi lepaskan aku…" Jiri bergetar hebat.
"Terlambat. Kau sudah tidak bisa bernego lagi. Jadi, Kursi listrik atau cambuk?" Yoongi tersenyum jahat.
"Aku bersumpah tidak bermaksud merugikanmu dalam hal ini. Aku… aku hanya ingin menghancurkan pemilik agensi dan Park Jimin, hal ini tidak ada sangkut pautnya denganmu"
Mendengar nama Park Jimin disebut, kemarah Yoongi naik drastic. Namja pucat itu mencengkram leher Jiri kuat sampai namja itu kesulitan bernafas.
"Kau berurusan dengan orang yang salah. Kau dengan lancang menyentuh milikku. Milik Min Yoongi. Tidak ada yang bisa menyakiti milikku tanpa izin. Kau harus ku beri pelajaran. Seumur hidup kau tidak pernah bertemu psikopat sungguhan, kan? Hari ini aku akan jadi psikopat untukmu. Kau harusnya terharu. Aku begini hanya untukmu" Yoongi tersenyum lagi.
"Le.. lepas.. ku.. kumohon.." Jiri memegang pergelangan tangan Yoongi yang mencengkram lehernya. "Aku akan membuat pernyataan, kalau uhuk… Park Jimin tidak… tidak bersalah. Uhuk… uhuk…" Jiri terbatuk hebat saat Yoongi melepas cengkraman dilehernya.
"Lakukan sekarang" Desis Yoongi tajam.
"Be… berikan ponselku" Jiri memohon.
Jackson berjalan kehadapan Jiri, tapi tidak membiarkan namja itu memegang ponselnya
"Siapa yang akan kau hubungi?" Jackson duduk santai disamping Jiri.
"Sekertaris Kang…" ucap Jiri kepayahan. Nafasnya putus-putus.
Jackson mendial kontak bernama Sekertaris Kang, dan membuat mode loudspeaker agar Yoongi bisa mendengar langsung. Pada deringan ketiga, telepon akhirnya di angkat.
"Ya! Tuan! Ini sudah hampir jam delapan, kenapa anda belum muncul di kantor?" suara perempuan diseberang sana menyahut tanpa sapaan biasa lebih dulu.
"Se.. sekertaris Kang, to.. tolong hapus pemberitaan soal Park Jimin semalam" Jiri terbatuk hebat lagi.
"Tuan? Anda baik-baik saja?" terdengar suara khawatir diseberang telepon.
"Lakukan se.. sekarang!" bentak Jiri tak sabar.
"Lama sekali! Aku saja yang bicara!" Jackson menarik ponsel yang tadi diarahkannya ke Jiri, kehadapannya. "Ya! Noona! Hapus pemberitaan soal Park Jimin. Dan buat konfirmasi soal berita itu kalau tuan Min tidak punya hubungan dengan Mirae-ssi. Dan juga buat berita soal tuan Min yang mengejar-ngejar Park Jimin. Lakukan sekarang!" Jackson menutup telepon dan mendongak kearah Yoongi. "AKu benar kan, Boss?" Jackson menaik turunkan alisnya.
"Kau memang pintar" Yoongi tertawa, sambil berjalan duduk kembali ke sofa.
"Aku sudah melakukan perintah kalian. Tolong lepaskan aku…" pinta Jiri.
"Enak saja! Pastikan berita itu beredar baru kau boleh pulang!" Jackson memukul kepala Jiri kesal.
"Rantai dia" perintah Yoongi.
"Bisa aku bermain-main sebentar , hyung? Gara-gara pemberitaan yang di buat si brengsek ini aku jadi kerepotan." Namjoon tersenyum penuh harap.
"Terserahmu saja"
Namjoon merenggangkan ototnya, tangannya menarik tongkat baseball, senyum dingin terpatri di wajah Namjoon. Dingin, tanpa rasa kasihan.
Saat Namjoon sedang melampiaskan kemarahannya, pintu ruang kerja Yoongi di ketuk tak sabar. Terdengar teriakan Hyungwon dibalik pintu dan suara penjaga yang beradu mulut dengan Hyungwon.
"Aku saja yang buka" Luhan turun dari meja yang dia duduki sedari tadi, tangannya memegang rantai anjing yang terhubung keleher Mirae sejak tadi.
Pintu terbuka dan Hyungwon langsung masuk begitu saja. Matanya terbelalak saat melihat Wonho bersimbah darah dibawah kaki Yoongi yang duduk santai di sofa.
"Wonhoo… Wonho…" Hyungwon mengguncang badan Wonho kencang, tapi Wonho tidak memberikan reaksi apapun.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADA WONHO!" teriak Hyungwon didepan Yoongi.
"Bukan urusamu. Bawa anak ini keluar…" perintah Yoongi pada Jackson.
"Tidak mau! Kenapa kau melakukan ini?APA SALAH WONHO SAMPAI KAU MEMUKULINYA?" teriak Hyungwon. Suaranya bergetar menahan tangis.
"Bukan urusanmu" Yoongi berucap jengah.
"Aku membencimu! Kau iblis! Sakit jiwa!" maki Hyungwon. "Wonho, bangun! Ayo pulang…" isak Hyungwon makin deras.
"Kenapa kau sepanik ini? Bukannya kau membenci Wonho? Aku hanya membantumu melenyapkannya, bukannya aku hyung yang baik?" sindir Yoongi.
Hyungwon terdiam. Dia tahu Yoongi menyindirnya telak. Bukan sekali- dua kali Hyungwon bersikap kasar pada Wonho di depan Yoongi, Hyungwon bahkan sering memukul, memaki, bahkan mengadu yang bukan-bukan pada Appa-nya agar Wonho di pecat. Tapi kenapa dia seperti ini sekarang? Kenapa dia ketakutan melihat Wonho bersimbah darah? Kenapa dia takut Wonho meninggalkannya?
"Sadar atas kebodohanmu?" Sindir yoongi lagi.
Hyungwon mengepalkan tangannya, namja pucat itu tersenyum mengejek kearahnya.
"Kau boleh membawanya. Dia tidak mati, hanya pingsan, mungkin? Kau harus berterimakasih karena aku sedang berbaik hati" Yoongi menendang kepala Wonho dengan santai.
"Jangan tendang kepalanya!" kesal Hyungwon, membuat Yoongi makin melebarkan senyum penuh ejekkan.
"Jackson, bantu anak ini membawa kekasihnya…" Sindir Yoongi lagi.
Hyungwon hanya terdiam lagi saat Yoongi menyindirnya. Dan Jackson dengan santai menyeret Wonho keluar dari ruangan.
.
.
.
Jimin mengerjabkan matanya beberapa kali untuk membiasakan matanya dengan cahaya. Bau rumah sakit langsung menyerang hidungnya dan Jimin mengernyit. Matanya bergerak kesana-sini dan tidak menemukan siapapun diruangan itu.
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Jimin, disana berdiri Yoongi yang seperti biasa berbusana serba hitam. Dasar mafia, Jimin terkekeh dengan pemikirannya sendiri.
"Kau sudah bangun?" Yoongi berjalan kesamping ranjang Jimin dan Cuma berdiri menatap Jimin dengan wajah datarnya. Sejujurnya Yoongi ingin memeluk Jimin, tapi rasa kesal atas tindakan bodoh Jimin menahannya.
"Kenapa aku disini?" Jimin bertanya. Suaranya terdengar lemah dan pelan. Jimin sedikit banyak kecewa karena Yoongi hanya berdiri saja tanpa menyentuhnya.
"Kenapa kau meminum obat penenang sebanyak itu, Park Jimin?" Bukannya menjawab, Yoongi malah balik bertanya.
"Aku butuh tidur…" cicit Jimin.
"Dengan minum obat penenang sebanyak itu? Kau ingin tidur di rumah Tuhan?" Sindir Yoongi.
Jimin hanya cemberut. Baru sadar dari pingsan dan sudah dimarahi.
"Maafkan aku…" cicit Jimin akhirnya.
Yoongi mendengus. Namja pucat itu bertambah kesal dengan sikapnya sendiri yang bisa-bisanya luluh dengan permintaan maaf Jimin. Mata tajamnya menatap kesal, tapi hatinya tidak bisa berbohong kalau namja pucat itu khawatir.
"Aku hanya panic waktu itu, semua berantakan karena aku" Jimin muram. Ingatan tentang skandal yang menimpanya masuk begitu saja keingatannya. "Kau pasti terkena masalah karena berita itu" sambung Jimin.
"Pikirkan dirimu sendiri!" bentak Yoongi.
"Kau marah?"
"Apa aku terlihat sedang bahagia, Park Jimin?"
Jimin menundukkan pandangannya. Sedih karena dia dimarahi Yoongi.
"Kau membuatku mati ketakutan, bodoh" Yoongi akhirnya melunturkan egonya dan memeluk Jimin yang terbaring.
"Maafkan aku" Jimin balas memeluk Yoongi. Jimin menghirup wangi parfum Yoongi sebanyak-banyaknya. Dia rindu.
Betapa hebatnya kehadiran Yoongi untuk Jimin, hanya dengan muncul didepannya saja, Jimin merasa bebannya berkurang, dan sekarang Yoongi memeluknya, rasanya Jimin sedang berbagi beban dengan namja arogan dipelukannya itu. Sangat nyaman.
"Semuanya sudah baik-baik saja…" Ucap Yoongi. Namja pucat itu melepas pelukannya dan mengecup kening Jimin.
"Benarkah? Berapa hari aku tidak sadarkan diri?"
"Sebulan" ucap Yoongi asal.
Jimin terkejut.
"Aku tertidur lama sekali…" Jimin tak percaya.
"Bodoh. Kau hanya pingsan beberapa jam" Yoongi menyentil dahi Jimin.
Jimin hanya menatap Yoongi kesal dan mendengus.
"Bagian mana yang sakit?" Yoongi mengelus rambut Jimin. Namja pucat itu sudah mendudukan dirinya di ranjang Jimin.
"Kepalaku. Rasanya pusing…" adu Jimin.
Yoongi tidak menyahut dan hanya memandang Jimin. Mengunci namja bersurai orange itu lagi dalam pesonanya untuk kesekian kali. Yoongi tidak tahu ada apa, tapi dia merasa dadanya selalu berdebar melihat Jimin.
Jimin menutup matanya, elusan tangan Yoongi di kepalanya benar-benar membuatnya nyaman.
Jimin tersentak saat merasakan Yoongi menciumnya, hanya menempel saja, seolah Yoongi takut Jimin akan hancur. Jimin meremas lengan Yoongi yang menaunginya sebagai pelampiasan. Jimin yang berinisiatif, meraup bibir atas Yoongi, barulah Yoongi berani mencium Jimin lebih dalam.
Bukan Yoongi namanya kalau tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan, tangan nakalnya sudah berada didalam baju Jimin dan meraba perut Jimin. Jimin tersentak dan mengigit bibir Yoongi agak keras, tapi tidak sakit.
Yoongi melepaskan ciumannya dan menaikkan alisnya tidak suka. Acaranya terganggu!.
"Kita dirumah sakit, kalau kau lupa tuan…" Jimin memperingati.
"Lalu?"
"Aku bahkan baru bangun, dan kau…"
"Memangnya aku akan melakukan apa?" tantang Yoongi. Matanya berkilat nakal melihat Jimin yang memerah.
Yoongi mencium dahi Jimin yang terdiam, tak bisa menjawab pertanyaan Yoongi.
"Yoongi hyung…" panggil Jimin, tangannya memegang pergelangan tangan Yoongi yang sudah duduk tegak di ranjangnya.
"Ne?"
"Soal pemberitaan itu, apa benar?" Jimin memandang mata Yoongi sedih.
Yoongi menaikkan alisnya tidak paham.
"Apa benar aku orang ketiga di hubungan mu dan Mirae?" Jimin melepas genggaman tangannya. Salah satu komentar di media socialnya mengganggu pikirannya. Komentar yang mengatakan kalau Jimin adalah orang ketiga.
"Omong kosong macam apa ini?" Yoongi memandang datar Jimin.
"Seseorang berkata begitu di social media ku…"
"Aku tidak punya hubungan apapun dengannya, dia hanya orang yang bekerja untuk salah satu relasi bisnis ku yang membutuhkan dana lebih. Jadi mereka menyodorkan gadis itu padaku untuk ku pakai" Yoongi berujar jujur. Dia memang brengsek. Terlanjur brengsek. Dia bahkan mengikat Jimin disampingnya dengan ancaman.
Jimin merasa sesuatu menyubit hatinya. Rasanya sedih mendengar kenyataan.
"Lalu? Apa aku hanya peliharaan mu hyung?" Jimin memandang mata Yoongi yang juga menatap tajam kearahnya.
"Apa kau berpikir aku adalah majikanmu?" Tanya Yoongi balik.
Jimin terdiam.
"Apa yang kau pikirkan tentang ku?" Yoongi kembali bertanya. Membalikkan keadaan.
"Kau milikku…" cicit Jimin nyaris tak terdengar.
"Ne. Aku milikmu" Yoongi menunduk dan mencium Jimin lagi. Bukan ciuman menuntut, hanya ingin membut Jimin mengerti posisinya untuk Yoongi.
.
.
.
"Bagaimana hasilnya?" Seokjin duduk bersebrang meja dengan Ken di depannya.
"Aku tidak yakin, tapi, boleh aku bertanya sesuatu?" Ken melirik Seokjin sekilas.
"Apa?"
"Jimin punya kekasih? Ah.. aku tidak bermaksud mengorek privasi orang lain, tapi aku…"
"Aku rasa tidak. Ada apa? Kau suka pada Jimin?" Seokjin menaik turunkan alisnya.
"Bukan! Aku sudah punya kekasih. Dan ya, aku suka Jimin. Lagunya bagus, dan dia menarik, dan sejauh yang ku tau, baru kali ini dia terlibat skandal. Apa kau yakin Jimin tidak punya kekasih? Bagaimana dengan Min Suga itu?" Tanya Ken lagi.
"Kau mengajakku bergosip tentang Jimin?"
"Ish! Bukan itu. Jimin hamil!"
.
.
.
TBC
*Terharu episode 6*
Makasi kakak-kakak, review kalian lucu-lucu.
Chap ini agak panjang dan membosankan, aku tau.
Semoga kalian ga bosan ngereview ya kakak-kakak karena uda kecapekan baca duluan.
Review kalian sangat-sangat berpengaruh untuk semangat nulis. hahahaha
