"Bagaimana hasilnya?" Seokjin duduk bersebrang meja dengan Ken di depannya.
"Aku tidak yakin, tapi, boleh aku bertanya sesuatu?" Ken melirik Seokjin sekilas.
"Apa?"
"Jimin punya kekasih? Ah.. aku tidak bermaksud mengorek privasi orang lain, tapi aku…"
"Aku rasa tidak. Ada apa? Kau suka pada Jimin?" Seokjin menaik turunkan alisnya.
"Bukan! Aku sudah punya kekasih. Dan ya, aku suka Jimin. Lagunya bagus, dan dia menarik, dan sejauh yang ku tau, baru kali ini dia terlibat skandal. Apa kau yakin Jimin tidak punya kekasih? Bagaimana dengan Min Suga itu?" Tanya Ken lagi.
"Kau mengajakku bergosip tentang Jimin?"
"Ish! Bukan itu. Jimin hamil!"
.
.
KOI NO YOKAN
.
.
.
Mirae dilepaskan setelah tiga hari berturut-turut jadi boneka Luhan.
Gadis itu trauma hebat dan sering bermimpi buruk setelah lepas dari Luhan, bahkan managernya kebingungan dengan keadaan gadis itu setelah tiga hari menghilang.
Badan Mirae berukir tatto permanen dengan kata-kata kotor. Seperti 'Fu*ck, Ho*e, the real bit*ch' yang managernya lihat terukir di punggung gadis itu. Bukan Cuma dipunggung, bahkan diatas dada gadis itu terukur besar kata-kata 'FOR SALE' dengan warna merah.
Manager Mirae berbaik hati dengan mendatangkan dokter untuk memeriksa kesehatan gadis itu di apartemennya. Dari pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter, sang dokter mengatakan kalau Mirae dehidrasi, stress, dan sepertinya Mirae tidak makan beberapa hari.
Selama beberapa hari tinggal di apartemen managernya, Mirae sering kali di dapati sedang menangis dalam diam. Saat mereka akan tidur, managernya akan sering mendengar suara isakan Mirae yang ditahan.
Manager Mirae- Jiwon- sudah beberapa kali bertanya pada gadis itu tentang apa yang terjadi, tapi gadis itu hanya diam dengan pandangan kosong, bahkan kadang langsung menangis meraung-raung minta di selamatkan.
"Eonnie, kau tau dimana rumah Park Jimin?" Tanya Mirae sambil memandang Managernya penuh harap.
"Ada apa?" Jiwon mengernyitkan dahi bingung.
"Tolong berikan aku alamatnya, aku ada keperluan" Mirae tersenyum lemah.
"Apa ini soal rumor itu? Apa yang ingin kau lakukan dengannya? Bukannya semua sudah clear?"
"Aku perlu berbicara padanya…"
"Kau tau, kalau media melihatmu mendatangi Jimin, para wartawan itu akan membuat berita yang tidak-tidak lagi. Jangan cari masalah lagi. Dan, kemana kau tiga hari kemarin? Dan dari mana tattoo-tatto ditubuhmu itu?" Jiwon melipat tangannya di dada, wajahnya terlihat marah, tapi hatinya berdenyut sakit melihat keadaan gadis itu.
"Eonnie, aku akan berbicara jujur padamu, tapi biarkan aku bertemu Park Jimin dulu" Bujuk Mirae.
"Kau harus janji untuk cerita" ancam Jiwon.
"Aku berjanji"
"Jangan buat masalah"
"Tidak akan"
"Baiklah. Aku akan menulis alamatnya untukmu" Jiwon menghela nafas jengah.
"Gomawo eonnie"
.
.
Seokjin sedang berada di apartemen Jimin untuk memeriksa keadaan namja bersurai orange itu. Jimin sudah pulang dari rumah sakit dua hari yang lalu dengan di antar Seokjin dan Yoongi.
Yoongi sudah menawari Jimin agar tinggal dirumahnya, tapi Jimin menolak, begitu juga dengan Seokjin. Setelah berdebat cukup alot, akhirnya Yoongi mengalah dan membiarkan Jimin berada dibawah pengawasan Seokjin saja.
Dan disinilah Seokjin, dengan kertas hasil tes darah ditangannya.
Setelah berbicara dengan Ken waktu itu, Seokjin masih terkejut bukan main dengan hasilnya. Makin terkejut saat memasuki kamar Jimin, Seokjin mendapati Jimin dan Yoongi tengah berciuman. Dan Seokjin lupa menyampaikan kabar penting itu untuk Jimin.
Setelah beberapa hari berlalu, barulah Seokjin ingat saat mendapati kertas itu berada di tas tangannya yang digunakan selama dia menjaga Jimin dirumah sakit.
"Aku membawakanmu bubur" Seokjin meletakan bawaannya di meja dapur apartemen Jimin.
"Gomawo hyung. Apa itu?" Jimin mengarahkan dagunya kearah kertas ditangan Seokjin.
"Hasil tes darahmu. Bacalah" Seokjin berjalan kearah Jimin yang sedang menonton TV diruang tamu.
Jimin mengambil kertas hasil tes darahnya dan membuka kertas itu dengan bingung. Banyak tulisan yang dia tidak pahami.
"Jim, apa kau tidak merasa aneh dengan tubuhmu belakangan ini?" Seokjin bertanya serius, mengalihkan perhatian Jimin dari kertas itu.
"Apa aku terkena penyakit serius hyung?" bukannya menjawab, Jimin malah balik bertanya.
"Aish, jawab saja! Apa kau merasa ada yang aneh dengan tubuhmu? Maksudku, apa kau merasa mual, pusing, cepat lelah?" Seokjin bertanya tak sabar.
"Hyung, ada apa sebenarnya? Kau membuatku takut" Jimin mulai membayangkan penyakit-penyakit mematikan sedang bersarang ditubuhnya.
"Ya! Jawab saja!" Seokjin makin tak sabar.
"Tidak ada. Ada apa ini hyung? Apa yang dikatakan di kertas ini?" Jimin mengernyitkan dahi takut.
"Jim, kau hamil"
Hening…
"WHAATTT?" Jimin terlonjak dari duduknya.
"Kau hamil" ulang Seokjin.
"Tidak mungkin…" Jimin menggeleng tak percaya. Dia tidak merasakan tanda-tanda apapun pada tubuhnya. Tubuhnya sudah terasa normal, tidak ada mual, pusing, atau apapun gejala yang menjurus kesana.
"Aku juga masih tidak yakin, tapi itu yang dikatakan Ken. Mau coba test pack?" Seokjin menawarkan.
Jimin terdiam. Berita apa ini? Yang benar saja. Masalahnya bahkan belum beres sepenuhnya, kemudian Jimin dikatakan hamil. Lalu setelah ini, apalagi?.
Jimin masih bergeming, tangannya bergetar, matanya terlihat kosong. Seokjin memaklumi hal itu, karena Seokjin juga begitu saat pertama kali mendengar kabar Jimin hamil. Seokjin bahkan yakin kalau hasil tes darah Jimin tertukar, tapi Ken berhasil meyakinkannya. Karena malam itu, hanya sampel darah Jimin yang masuk kedalam laboratorium dan diperiksa.
"Jim?" Seokjin memanggil Jimin pelan dan menggenggam tangan Jimin.
"Hyung, kalau aku benar hamil… aku… aku harus apa?" Jimin gemetar. Tangannya yang digenggam Seokjin bahkan mendingin.
"Mau coba membuktikannya? Aku membawa alat test pack kalau kau tidak keberatan mencobanya" Seokjin tersenyum menguatkan.
"Tapi, test darah jelas lebih akurat daripada tes urin hyung…" Jimin berguman pelan. Ketakutan meliputinya sekarang.
"Kalau kita tidak coba, kita tidak akan tau, Jim"
"Siapa saja yang sudah tau kabar ini?" Jimin memandang Seokjin ketakutan. Belum lagi reda skandal yang terjadi diluar sana, kini Jimin harus terkena skandal lebih parah lagi.
"Hanya aku, Ken juga" Seokjin jujur. Karena dia memang lupa sama sekali dengan hasil tes Jimin waktu itu. "Jim, jangan khawatir. Aku bisa pastikan kalau Ken tidak akan buka suara sama sekali" Seokjin melanjutkan.
"Hyung, aku harus apa?" Jimin benar-benar takut sekarang.
"Kita coba pakai test pack" putus Seokjin dan berjalan kemeja dapur dimana tasnya tergeletak. Seokjin merogoh tasnya dan mengambil testpack yang sempat dibelinya sebelum ke apartemen Jimin.
Jimin hanya terdiam melihat benda yang disuguhkan Seokjin untuknya. Nyalinya menciut seketika.
"Jim, kita tidak akan tau kalau tidak kita coba. Pakai ini" Seokjin meletakkan testpack ditangan Jimin dan memaksa namja bersurai orange itu berdiri. Seokjin mendorong Jimin menuju kamar mandi di dekat dapur, menutup pintu kamar mandi, sementara Seokjin berdiri di depan pintu menunggu Jimin.
Lebih lima menit Seokjin menunggu, kesabarannya mulai menipis. Setelah mengetuk kamar mandi dan meminta izin, Seokjin menerobos kamar mandi. Didapatinya Jimin merenung dengan alat testpack ditangannya.
"Positif…" Cuma itu yang bisa Jimin ucapkan. Mendadak air matanya jatuh tanpa bisa dicegahnya.
Seokjin langsung menghambur memeluk Jimin yang masih terpaku ditempatnya. Membiarkan Jimin menangis sampai puas dibahunya.
Jimin jelas kalut sekarang. Terkena skandal affair, album yang ditunda perilisannya, masalah kontrak Jimin yang akan segera habis di agensi, dan hamil. Semua masalah seolah menyerangnya tanpa ampun.
Jimin mulai merasa tenang dipelukan Seokjin, dan berhenti menangis. Jimin melepaskan pelukan mereka dan mengajak Seokjin ke meja makan. Mereka duduk berhadapan, dengan Jimin yang mulai memakan bubur yang dibawa Seokjin.
"Jim, apa kau akan memberitahu tuan Min?"
Pertanyaann Seokjin membuat Jimin berhenti menyendokkan buburnya kemulutnya.
"Aku tidak berani hyung…" Jimin meletakkan sendok disamping buburnya.
"Bukannya kalian berhubungan? Maksudku, kau kekasihnya kan?" Seokjin mengernyit bingung.
"Aku tidak tau hyung. Dia hanya bilang aku miliknya. Dari awal hubungan kami memang tidak baik." Jimin terdiam. Tidak ingin memberitahu Seokjin bagaimana awal mereka bertemu, kemudian Jimin yang diancam dibunuh, sampai Yoongi bersikap lunak padanya seperti sekarang.
Tidak ada yang tau seperti apa Min Yoongi sebenarnya. Tidak ada yang bisa menebak sifat dan perilakunya. Sebentar Yoongi akan sangat perhatian pada Jimin dengan memberikan jas nya untuk Jimin pakai agar tidak kedinginan, kemudian Yoongi menghancurkan harapan Jimin dengan mencumbu orang lain. Berhubungan dengan Min Yoongi rasanya seperti naik roller coaster. Sedetik kau berada diatas, didetik berikutnya kau akan terhempas kebawah.
"Lalu bagaimana? Kau akan menyembunyikannya?" Seokjin bertanya lagi.
"Aku tidak tahu hyung. Aku benar-benar tidak tahu. Bahkan aku tidak yakin dengan diriku sendiri, apa aku menginginkan anak ini atau tidak" Jimin tertegun dengan ucapannya sendiri.
"Kau ingin menghilangkan anakmu?" Seokjin terkejut.
"Aku tidak bermaksud begitu hyung. Lupakan ucapanku" Jimin berucap cepat.
"Jim, jangan lakukan itu"
Jimin hanya terdiam. Tidak menyangkal, tidak juga mengiyakan ucapan Seokjin.
Seokjin pamit pergi sebentar menemui Namjoon ke kantornya, sementara Jimin termenung sendiri dikamar dengan selembar foto usang ditangannya. Di foto itu ada Jimin, orangtua Jimin, dan adik perempuan Jimin bernama Jihyun. Jimin menatap rindu pada foto usang itu, mengelus tepat diketiga orang yang dicintainya. Ibu, ayah, dan adiknya Jihyun.
Foto itu adalah foto terakhir sebelum kecelakaan yang merenggut ayah dan ibu Jimin. Foto saat Jihyun lulus dari taman kanak-kanak.
Kecelakaan itu membuat Jimin dan Jihyun harus tinggal dipanti asuhan di Busan karena tidak ada saudara yang ingin menjadi wali mereka berdua. Jimin harus berjuang banting tulang agar Jihyun bisa bahagia. Bahkan Jimin kecil mulai bekerja mengantar Koran pagi hari agar Jihyun bisa mendapatkan uang jajan lebih, dan sisanya Jimin tabung.
Jimin tersenyum bangga mengingat bagaimana perjuangannya dulu sampai sekarang. Bahkan Jihyun nya sudah menjadi seorang dokter berkat Jimin. Sebagai kakak, sudah jadi tanggung jawab Jimin untuk membahagiakan Jihyun.
Ahh.. mendadak Jimin rindu dengan Jihyun kecilnya. Jihyun yang sekarang sudah sangat sibuk semenjak sudah bekerja di desa kecil yang berjarak satu jam dari Busan. Pengabdian, kata Jihyun. Jihyun bahkan sulit sekali dihubungi karena lokasi tempat Jihyun bekerja, benar-benar di desa pinggiran. Sinyal ponsel saja susah.
Jimin mengambil ponselnya dan mencoba mendial nomor ponsel Jihyun. Sukur-sukur bisa tersambung. Dan Jimin bersyukur karena panggilannya tersambung.
"Oppa! Aaaa aku baru saja akan menghubungimu. Aku sangat rindu…" Jihyun terdengar antusias diseberang telepon.
"Jihyun! Akhirnya! Kau sedang dimana?" Jimin tak kalah antusias.
"Aku baru saja tiba di café milik oppa, di Busan. Aku Sedang Off. Oppa, kau baik-baik saja?"
Jimin tau, adiknya pasti sudah melihat berita tentangnya. Pertanyaan itu bukan sekedar basa-basi menanyakan kabar. Jimin tau, pertanyaan itu lebih dari itu.
"Kau sudah lihat berita?" Jimin terdengar murung.
"Ya! Terkena skandal sekali-sekali tidak ada masalah kan. Artis yang terkena skandal lebih parah juga banyak" Jihyun menguatkan.
"Kau tidak kecewa padaku?" Jimin menahan tangisnya sekuat yang dia bisa. Mengecewakan adiknya adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya di dunia ini. Dia hanya ingin mendengarkan ucapan bangga adiknya kepada teman-temannya yang bertanya mengenai Jimin pada Jihyun. Dan Jimin merusak kebanggaan adiknya itu.
"Aish, Oppa. Itu biasa. Aku tetap mencintaimu walau skandal apapun yang menimpamu. Entah hal apapun yang menimpamu disana, aku akan tetap mencintaimu. Aku tetap jadi fans nomor satumu, jangan khawatir chagya…" Jihyun terkekeh dengan ucapannya sendiri.
Tapi bukan tawa yang didengar Jihyun sebagai balasan candaan yang dilontarkannya. Jimin malah menangis dengan sesenggukan yang ditahan-tahan.
"Oppa? Oppa? Ada apa?" Jihyun terdengar panic diseberang telepon sedangkan Jimin tidak bisa menghentikan tangisnya.
Semua yang menimpa Jimin saat ini membuatnya benar-benar kewalahan dan berimbas pada emosinya yang berubah labil. Insomnia parah yang diderita Jimin makin memperparah kestabilan emosinya.
"Ji… Jihyun… kau akan tetap bangga padaku kan? Hiks.. a.. apapun yang terjadi, kau akan tetap menganggapku oppa mu kan?" Jimin tersendat-sendat berbicara. Tangisnya benar-benar pecah.
"Oppa, apa yang kau bicarakan? Kau akan tetap oppa ku apapun yang terjadi. Ada apa? Hiks… Jangan membuatku menangis tanpa alasan" Jihyun tidak tahu pasti apa yang terjadi pada Jimin, tapi mendengar tangis Jimin membuat Jihyun ikut menangis.
Jimin berusaha mengendalikan tangisnya sebisanya, menahan isakan yang tak berhenti dari mulutnya, yang membuat dia sesenggukan
"Jihyun, aku benar-benar membuat eomma dan appa malu. Hiks… aku.. aku benar-benar…" Jimin tidak bisa melanjutkan ucapannya karena tangisnya makin terdengar menyedihkan.
"Hiks oppa, kau kenapa?" Jihyun malah terdengar lebih menyedihkan dari Jimin.
"Jihyun, berjanjilah jangan marah atau pun malu, apalagi meninggalkan ku, hiks…" Jimin berusaha meredam tangisnya, agar adiknya bisa jelas menangkap ucapnnya.
"Aku berjanjiii…. Katakan ada apa. Aku sudah menangis seperti kehilangan suami, kau tau…" Jihyun mengiba. Dia tidak paham situasi, tapi dia bisa merasakan kesedihan kakak nya dengan jelas.
"Jihyun, hiks… aku… aku hamil…" Jimin berdebar begitu mengatakan pada adiknya tentang apa yang terjadi, terlepas dari seluruh masalah yang menimpanya, masalah ini adalah yang paling gawat darurat.
Hening… hanya terdengar suara angin pantai ditelinga Jimin.
"Apa? Coba ulangi, oppa" Jihyun menarik ingusnya sambil mempertajam telinganya.
"Akuhamil" ucap Jimin cepat.
Hening lagi, terdengar suara angin lagi.
"Huweee…. Kenapa kau hamil? Lalu aku bagaimana? Apa Aku harus bersaing dengan keponakan ku untuk mendapat perhatianmu? Kenapa kau cepat sekali hamil… jangan… hiks… eomma…." Jihyun mengencangkan suara tangisnya.
"Jihyun? Kau tidak marah?" Jimin memastikan. Tangisnya mendadak reda.
"Kenapa aku harus marah? Itu rezeki, huwee… tapi aku sedih. Aku bukan lagi satu-satunya yang oppa cintai lagi… eomma…."
"Jihyun, bagaimana sekarang? Bagaimana kalau Appa dari anakku tidak mau mengakuinya?" Jimin sesengukan lagi.
"Mwo? Appa nya tidak tau? Kekasihmu tidak tau kau hamil oppa?" Jihyun bahkan tidak menyembunyikan keterkejutannya.
"Tidak…" cicit Jimin.
"Apa dia Min Suga?"
"Ne... tolong rahasiankan ini, kumohon, Jihyun…" mohon Jimin.
"Apa oppa sudah berbicara padanya?"
"Belum. Aku takut" jawab Jimin Jujur.
"Sudah berapa bulan?" Jihyun bertanya soal kandungan Jimin.
"Seminggu, mungkin?" Jimin tak yakin.
"Oppa, kalau dia tidak mau bertanggung jawab, kau tahu kau harus kemana kan? Kembali ke Busan. Jangan berpikir membunuh anakmu ya. Kita bisa menjaganya bersama. Akan menyenangkan kalau keluarga kita bertambah satu lagi kan, oppa? Aku hanya memilikimu di dunia ini, terkadang aku sedih memikirkan kita hanya tinggal berdua di dunia ini. Tanpa saudara, tanpa keluarga" suara Jihyun terdengar lemah diakhir. Dan Jimin tau adiknya benar-benar bersedih.
"Aku tidak akan melakukannya. Kalau dia tidak ingin anak ini, aku yang akan memiliknya sendiri. Duniaku sudah cukup hanya dengan memiliki adik cerewet sepertimu, juga si kecil diperutku. Jihyun, jangan tinggalkan aku…" suara Jimin jelas-jelas terdengar memohon.
"Tidak akan, bahkan dari kecil Cuma kita berdua yang saling memiliki. Tanpa ada tangan keluarga ataupun saudara yang terulur hanya untuk sekedar mengasihani kita, bagaimana bisa aku meninggalkanmu?"
.
.
.
Jam sudah menunjukkan jam enam sore, saat Yoongi tiba-tiba masuk ke apartemennya. Password apartemen Jimin memang sudah seperti rahasia public. Sejin, Jungkook, Seokjin, Namjoon, dan sekarang Yoongi pun sudah tau password Apartemennya.
Jimin yang baru saja keluar dari kamar dengan piyama berwarna putih bermotif garis halus, terkejut dengan Yoongi yang tiba-tiba berdiri bersebrangan dengannya.
"Omo…" Jimin mundur selangkah karena terkejut.
"Kaget sekali?" Yoongi tersenyum miring.
"Kapan kau datang?" Jimin berjalan kearah Yoongi yang juga berjalan kearahnya.
"Barusan" Yoongi memeluk Jimin yang sudah sampai di depannya.
"Bau keringat…" Protes Jimin.
"Ya! Aku langsung kesini begitu pulang dari kantor" Yoongi tak terima.
"Hey, tuan pemarah, aku hanya bercanda.." Jimin memeluk Yoongi makin erat.
"Bagaimana keadaanmu? Matamu terlihat bengkak, Kau menangis?" Yoongi mencium samping kepala Jimin yang masih dalam pelukannya.
"Lebih baik…" Jimin mengabaikan pertanyaan Yoongi yang terakhir. Jimin menyembulkan kepalanya yang dipeluk Yoongi, namja bersurai orange itu mendongak kearah Yoongi dan dihadiahi ciuman di dahi. Jimin tersenyum. "Ingin kopi?" Jimin menawarkan.
"Sepertinya aku membutuhkannya" Yoongi melepas pelukannya dan berjalan ke sofa diruang TV sementara Jimin berjalan kedapur membuat kopi.
Yoongi melepaskan jas dan dasi yang terasa mencekik lehernya, melemparkannya begitu saja diatas meja.
"Ingin istirahat dikamar?" Jimin menawarkan lagi, melihat wajah kelelahan Yoongi membuat Jimin tak tega membiarkan namja pucat itu beristirahat di sofa yang pastinya kurang nyaman.
Yoongi menaikkan alisnya, menatap Jimin tajam.
"Wae?" Jimin kelabakan sendiri karena ditatap tajam seperti itu.
"Ayo ke kamar" Yoongi menarik Jimin pelan ke kamar karena ada kopi panas di tangan Jimin.
Yoongi langsung menghempaskan badannya, menelungkup diatas tempat tidur begitu saja, rasanya badannya seperti rontok berserakan diatas tempat tidur.
Jimin hanya tersenyum melihat kelakuan Yoongi, kemudian mendudukan diri bersandar dikepala tempat tidur dengan kaki bersila. Jimin meletakkan bantal diatas pangkuannya.
Yoongi yang melihat itu langsung merayap kearah bantal dipangkuan Jimin. Benar-benar merayap, badannya bahkan tetap menempel di kasur. Yoongi tidur telungkup dengan wajahnya tenggelam dibantal, dan Jimin kembali tersenyum dan mencium rambut Yoongi.
"Apa saja yang kau lakukan seharian ini, hyung?" Jimin mulai bertanya. Tangannya mengelus sayang rambut Yoongi.
Yoongi tidak langsung menjawab, namja pucat itu memutar kepalanya dan menjadikan pipi kanannya sebagai sandaran. Jauh dalam hati Yoongi, Yoongi agak terkejut mendengar pertanyaan Jimin. Tidak ada yang pernah menanyakan hal basa-basi seperti itu padanya. Sudah sejak lama pertanyaan itu tidak lagi Yoongi dengar.
"Bekerja" Jawab Yoongi akhirnya. Matanya terpejam nyaman merasakan elusan tangan Jimin ditangannya.
"Apa saja yang kau kerjakan?"
Pertanyaan basa-basi yang ternyata berhasil menghangatkan perasaan Yoongi. Sudah lama tidak ada yang memberinya perhatian kecil seperti ini padanya. Kapan terakhir kali dia ditanya seperti ini saja bahkan Yoongi tak ingat.
"Memeriksa laporan, tanda tangan, dan marah-marah jika itu juga termasuk pekerjaan" Jelas Yoongi.
"Kau akan cepat tua kalau sering marah…" Jimin terkekeh. Jimin kembali mencium kepala Yoongi beberapa kali. Dia rindu pria arogan ini. Selalu.
Keduanya kembali terdiam, Jimin kembali mengelus kepala Yoongi sampai Yoongi merasa mengantuk, padahal ini masih jam enam sore lewat.
"Hyung…" Jimin memanggil pelan.
"Hmm…"
"Aku ingin bercerita, ini soal temanku" Mulai Jimin.
"Seokjin?" Tanya Yoongi.
"Bukan. Ini temanku waktu sekolah dulu"
"Ada apa dengannya?" Yoongi bertanya tanpa minat. Dia mengantuk.
"Dia akan segera melahirkan sebentar lagi, dan aku ingin membelikan anaknya hadiah. Kira-kira apa ya?" Jimin diam-diam mulai memancing pembicaraan yang mengarah ke anak. Tidak secara langsung. Dia ingin melihat reaksi Yoongi dulu sebelum mengatakan yang sebenarnya. Dan cerita soal teman sekolahnya yang akan melahirkan Cuma kebohongan saja.
"Beri saja uang. Suruh dia beli sendiri" Seperti biasa, Yoongi dan segala ketidakpeduliannya.
"Tapi aku ingin membelikan sesuatu, bukan uang" Jimin memperhatikan wajah samping Yoongi yang terpampang jelas di depannya. Jimin memandang penuh sayang wajah yang lebih sering terlihat kesal itu dari pada tersenyum.
"Tanya saja ibunya ingin apa…" balas Yoongi.
"Ini kan kado hyung. Tidak akan menarik kalau dia tahu." Jimin memencet hidung Yoongi karena kesal namja itu seolah tak berminat dengan pembicaraan mereka.
"Aku tidak bisa nafas" Yoongi menarik tangan Jimin yang memencet hidungnya. Menggenggam telapak tangan Jimin dan mencium punggung tangan Jimin. Jimin memerah mendapatkan perlakuan manis dari Yoongi.
"Jadi aku harus memberi kado apa hyung?" Jimin bersungut-sungut. Pipinya diletakkannya diatas kepala Yoongi. Dan Yoongi kembali mencium punggung tangan Jimin yang berada digenggamannya.
"Beli apa saja yang kau lihat di toko bayi" putus Yoongi.
"Hyung, apa yang kau pikirkan soal anak?" Jantung Jimin berdebar keras. Jimin benar-benar ingin tahu jawaban Yoongi, karena inilah inti dari semua basa-basi tadi.
Jimin menunggu agak lama karena Yoongi seperti sedang berpikir. Jimin menegakkan badannya bersandar ke kepala tempat tidur. Khawatir kalau Yoongi mendengar detak jantungnya.
"Aku tidak pernah berpikir untuk memiliki anak. Itu tidak ada dalam tujuan hidupku"
Jimin tersentak. Matanya berkaca-kaca. Mati-matian Jimin menahan tangisnya. Tidak, Jimin tidak boleh menangis di depan Yoongi. Yoongi benci melihat Jimin menangis.
"Begitu ya…" Jimin mengigit bibirnya keras-keras agar tidak ada isak tangis yang keluar dari bibirnya.
Jimin sebenarnya sudah menduga hal terburuk ini, bahkan Jimin berusaha menata hatinya sebelum bertemu Yoongi. Menata hatinya yang akan pecah karena Yoongi menolak mereka. Dan saat Jimin berhadapan dengan penolakan itu, Jimin sadar dia tak sekuat itu.
Yoongi tertidur saat Jimin sudah tidak melemparkan pertanyaan-pertanyaan lagi. Sementara Jimin menangis dalam diam. Tangannya yang masih terpaut dengan jari-jari Yoongi, Jimin eratkan, berharap dengan begitu Jimin bisa sedikit lebih kuat, berharap dengan begitu Jimin bisa melepas Yoongi dengan ikhlas.
Seperti kata Jimin, jika Yoongi tak menginginkan anak ini, maka Jimin sendiri yang akan memilikinya. Jimin mengambil ponselnya yang tergeletak diatas tempat tidur, mengirim pesan pada Jihyun, saat pesan itu terkirim, Jimin meletakan ponselnya lagi dan kembali menangis dalam diam.
Ponsel Jimin bergetar lagi dan ada pesan balasan dari Jihyun yang membuat tangis Jimin makin pecah.
'Aku menunggu disini oppa. Kau tidak sendiri'
.
.
.
"Apa aku berada di surga?" Wonho memandang lurus kedepan, dan dinding putih langsung menyambutnya.
"Jangan bermimpi! Orang sepertimu tak pantas masuk surga. Bahkan neraka pun berpikir untuk menerima makhluk sepertimu" Hyungwon menyahut.
Sudah seminggu sejak kejadian Wonho dipukuli, dan tepat seminggu pula Wonho dirawat di rumah sakit, tidak sadarkan diri. Dua tulang rusuk patah, dahinya mendapat delapan jahitan, bahu bergeser, dan memar-memar yang berada di sekujur tubuh Wonho melengkapi penderitaannya.
"Hyungwon? Apa kita mati bersama?" Wonho bertanya lagi.
"Aku tidak sudi mati bersamamu. Dan kau belum mati! Kau dirumah sakit" Hyungwon berujar kesal.
Wonho terdiam, raut wajahnya tampak kecewa.
"Apa-apaan wajah kecewa mu itu? Kau ingin mati sungguhan? Apa Yoongi memukul otakmu sampai semakin bodoh?" Hyungwon berdiri dari sofa yang selama seminggu ini dipakainya untuk tidur sambil menunggu Wonho sadar.
Mendengar nama Yoongi disebut, Wonho langsung memandang horror kearah Hyungwon. Bulu kuduknya berdiri tanpa diminta.
"Apa yang terjadi?" Mata Wonho membola.
"Harusnya aku yang bertanya. Kau ini idiot atau apa? Apa yang kau lakukan sampai Yoongi memukulimu seperti itu?"
Wonho terdiam lagi. Ingatannya kembali saat rumor menghebohkan itu terbit. Dia benar-benar lupa untuk mengkonfirmasi ke media soal skandal ciuman Yoongi dan Mirae, dan inilah hadiah dari keteledorannya.
"Apa Yoongi hyung tau kalau aku masih hidup?" Wonho bertanya, mengabaikan pertanyaan Hyungwon.
"Dia berbaik hati dengan mengizinkan ku membawamu pergi, dan tadaaa…. Kau masih hidup. Kau berhutang nyawa padaku" bangga Hyungwon.
"Dia mengizinkanku tetap hidup?" Wonho bertanya takjub.
"Hu'um. Kau hutang nyawa padaku."
"Lalu, apa aku dipecat sekarang? Apa Yoongi hyung tidak mau mempekerjakanku lagi?"
"Pertama, Sedari awal kau bekerja untukku. Bukan padanya. Kedua, Appa yang membayar gajimu. Ketiga, bagaimana bisa kau sepenurut itu padanya? Kau itu bodyguardku, apa bodyguarnya?!" Kesal Hyungwon. Bahkan saat Wonho baru sadar, Cuma Yoongi yang ada di otaknya. Benar-benar!.
"Jadi aku dipecat?" Wonho bersedih, dan membuat Hyungwon naik darah.
"YA! KAU ITU HAMPIR MATI DITANGANNYA! KENAPA KAU MALAH SEPERTI INI?" Hyungwon meledak.
"Aku begini karena aku tidak mengerjakan tugasku dengan benar!" Wonho ikut meledak.
"KAU ITU BODYGUARDKU! HARUSNYA KAU TIDAK PERLU KHAWATIR KALAUPUN SI BRENGSEK ITU TIDAK LAGI MEMPEKERJAKANMU. KARENA APPA YANG MENGGAJIMU! BUKAN YOONGI!"
"Bukannya kau sudah memecatku?"
"Aku menarik ucapanku" Hyungwon membalikan badannya. Malas menatap Wonho.
"Jadi aku tidak jadi di pecat?"
"Kau pikir untuk apa aku disini selama seminggu menunggumu sadar, dan menjemputmu dari rumah Yoongi kalau aku ingin kau dipecat? Kau ini cacat otak atau bagaimana?" Hyungwon berbalik lagi. Rasanya dia ingin menjungkir balikkan ranjang rumah sakit Wonho.
"Kau menjagaku dirumah sakit?" Wonho menatap tak percaya.
"Kau meragukanku?" Hyungwon mendelik kejam. Ingin rasanya Hyungwon menutup muka Wonho dengan bantal dan membuat Wonho meninggal saat ini juga.
"Mengurus dirimu sendiri saja kau butuh tiga pelayan dan satu bodyguard" Wonho mencibir pelan. Benar-benar tidak percaya Hyungwon menjaganya selama tidak sadarkan diri.
"Kau mengatakan sesuatu?" Hyungwon mendelik lagi saat mendengar gerutuan yang tidak jelas dari mulut Wonho.
"Tidak ada"
"Wonho, apa yang membuat Yoongi semarah itu?" Hyungwon mencoba menetralkan rasa ingin melenyapkan Wonho untuk sesaat. Dia butuh penjelasan.
"Karena aku tidak melakukan konfirmasi ke public saat skandal ciuman Yoongi hyung dan Mirae beredar pertama kali, padahal Yoongi hyung sudah memerintahkan ku untuk membuat konfirmasi atas namanya. Dan kemarin, skandal muncul lagi melibatkan Yoongi hyung, Mirae dan Park Jimin. Pemberitaan itu menyudutkan Park Jimin habis-habisan, dan Yoongi hyung meledak" jelas Wonho panjang lebar.
"Apa Yoongi dan Park Jimin punya hubungan khusus?" Tanya Hyungwon penasaran.
"Aku tidak tau. Jangan cari gara-gara dengan Park Jimin. Kim Namjoon ada di belakang artis itu, kau bisa habis." Wonho memperingatkan. Wonho jelas tau kalau Jimin berada dibawah pengawasan Namjoon atas perintah Yoongi. Salahkan Jackson dan mulut embernya.
"Apa Yoongi marah karena pemberitaan itu menyudutkan Park Jimin?"
"Aku tidak tau." Wonho menarik selimut sampai kepala. Malas menanggapi anak manja di dekatnya itu dengan sejuta pertanyaannya.
Wonho tau. Wonho tau hampir semuanya. Jimin berada dalam pengawasan Yoongi. Kemarahan Yoongi juga dipicu karena pemberitaan yang membuat nama Jimin tercoreng. Jimin jelas seseorang yang Yoongi lindungi, entah namja pucat itu sadar atau tidak. Dan yang paling penting, Wonho sadar, Park Jimin itu kesayangan Min Yoongi.
TBC
*kabur sekencang-kencangnya*
*Lari Naruto*
terimakasih atas perhatian kakak-kakak atas FF abal-abal ini.
senang ada yang review, ngasih saran, ngelawak, dan mengkoreksi ff ini, :D berarti di perhatiin *Toel dadanya*
jangan cape-cape review ya kakak-kakak *Ketjup satoe satoe*
