Wonho tau. Wonho tau hampir semuanya. Jimin berada dalam pengawasan Yoongi. Kemarahan Yoongi juga dipicu karena pemberitaan yang membuat nama Jimin tercoreng. Jimin jelas seseorang yang Yoongi lindungi, entah namja pucat itu sadar atau tidak. Dan yang paling penting, Wonho sadar, Park Jimin itu kesayangan Min Yoongi.
.
.
.
KOI NO YOKAN
.
.
.
"Park Jimin, ayo tinggal bersama"
Jimin tersedak makanannya.
Yoongi baru bangun dari 'istirahat' sorenya. Istirahat yang berarti, Yoongi tidur telungkup dengan kepalanya bersandar didada Jimin. Jimin mulai menerka-nerka jika hal itu merupakan kebiasaan Yoongi jika sedang lelah atau hanya ingin bermanja.
Saat ini, Jimin dan Yoongi sedang duduk berhadapan dengan makanan yang masih menyembul asap panas didepan mereka. Makan malam.
"Mwoya?" Jimin bertanya. Memastikan telinganya tidak salah dengar.
"Ayo tinggal bersama. Aku tidak bisa terus-terusan datang setiap sore ke apartemenmu, karena terkadang pekerjaan kantor membuatku harus lembur, dan aku juga tidak ingin datang tengah malam seperti pencuri. Jadi, kau tinggal bersamaku, dirumahku" Putus Yoongi.
"Kau tidak bisa memutuskannya begitu saja, tuan arogan. Aku perlu berpikir" Jimin memutar bola matanya.
"Berapa menit?" Yoongi mengernyitkan dahinya tak suka. Sudah dua kali Jimin menolak tinggal dirumahnya.
"Astaga, makan dulu makananmu…" Jimin memutar bola matanya kedua kali.
"Berapa menit?" Tuntut Yoongi.
Jimin menarik tangan Yoongi dan kemudian mengelus punggung tangan pucat itu dengan sayang. Sementara Yoongi masih setia dengan wajah tak sukanya.
"Beri aku waktu berpikir, oke?"
Yoongi memandang tajam kearah Jimin yang sudah menolak dua kali ajakannya. Matanya jelas-jelas mengintimidasi, tapi namja pucat itu seketika luluh saat Jimin meletakkan pipinya dipunggung tangan Yoongi yang menyebrangi meja makan yang memang tidak besar. Jimin mengelus-eluskan pipinya ditangan Yoongi seperti anak anjing mencari perhatian tuannya.
"Aku tidak pernah sesabar ini menghadapi orang" Yoongi mendengus tak suka. "Beri aku keputusan secepatnya" Yoongi menarik tangannya dari Jimin. Kesal.
"Ne" Jimin berucap ceria.
Jauh dalam hati, Jimin merasa hatinya pecah lagi. Dia ingin menangis meraung-raung, tapi tidak di depan Yoongi. Dia senang sekaligus hancur saat ini. Ingin Jimin mengatakan yang sebenarnya, tapi ucapan Yoongi dikamar beberapa jam yang lalu masih dengan jelas terekam diingatannya.
Jimin tidak bisa membayangkan kalau tiba-tiba Yoongi langsung meninggalkannya begitu tau kalau Jimin hamil. Jimin tidak bisa lebih kuat dari itu. Penolakan secara tidak langsung saja sangat sulit Jimin tangani, apalagi mendengar penolakan Yoongi didepan wajahnya secara langsung, Jimin bisa-bisa gila.
Yoongi melanjutkan kembali makannya dengan tenang, sementara Jimin sedang memandangi wajah Yoongi sambil mengingat-ingat setiap detail dari namja pucat itu. Dia tidak ingin pergi, tapi cepat atau lambat, Yoongilah yang akan mengusirnya pergi dari kehidupan Yoongi.
Jimin masih memandangi namja pucat didepannya itu, selalu sama. Wajahnya dingin, sorot matanya tajam, rahangnya menggoda dan yang paling terasa adalah, namja pucat ini punya aura yang menjeritkan kata bahaya disekitarnya.
"Hyung…"
"Hmm?" Yoongi menyahut tanpa melihat kearah Jimin.
Jimin meremas kedua tangannya, gugup menyerangnya tanpa bisa Jimin cegah. Dia ingin Yoongi tau perasaannya. Jimin tidak menuntut balasan apapun atas apa yang akan Jimin ucapkan selanjutnya, Jimin hanya ingin Yoongi tau. Itu saja.
"Aku mencintaimu"
Yoongi merasa badannya mendingin sekarang. Seluruh saraf ditubuhnya seolah beku, tidak bisa berfungsi normal. Yoongi menghentikan acara makannya dan memandang Jimin tepat dimata. Yoongi mengira, saat dia menegakkan kepalanya, dia akan mendapati wajah Jimin yang merona malu, tapi dia salah besar. Jimin menangis di depannya.
"Apa yang kau sembunyikan?" Yoongi mulai curiga.
.
.
.
Jimin tidak melawan saat Yoongi mencengkram lengan atasnya dan mendorong Jimin kedinding kamarnya disebelah pintu. Jimin membiarkan namja pucat itu berbuat semaunya lagi atas Jimin. Jimin bahkan sengaja memprovokasi Yoongi untuk berbuat lebih padanya. Membuat namja pucat itu lupa atas kecurigaannya.
Ciuman Yoongi menuntut, tangan namja pucat itu bahkan sangat lihai melepas kancing piyama Jimin satu persatu, sementara Jimin dengan sengaja melengkungkan badan agar tubuhnya makin merapat ketubuh Yoongi.
Nafas Jimin berantakan saat Yoongi melepas ciumannya, perlahan tangannya mengelus rahang Yoongi dengan cara yang sensual. Jimin bahkan tak melepaskan pandangan matanya dari Yoongi saat jari telunjuknya bermain-main digaris rahang Yoongi yang tegas, lagi-lagi memprovokasi namja pucat itu agar hilang kendali.
Jimin menyentuhkan lagi jari telunjuknya mulai dari hidung sampai kebibir Yoongi, mengusap bibir tipis itu dengan lembut dan bahkan nyaris tidak menyentuh bibir Yoongi. Yoongi mengeram, sesuatu membakar tubuhnya saat ini, benar-benar nyaris kehilangan kendali karena perbuatan Jimin.
Tangan kiri namja pucat itu masih berada disamping kepala Jimin yang bersentuhan langsung dengan dinding, sementara tangan kanannya mengambil jari Jimin yang bermain-main di wajahnya. Mengecup jari telunjuk itu, kemudian menjilatnya perlahan.
"Yoongi…" Jimin mulai menyanyikan nama itu dengan gemetar dan pelan, teramat pelan, hingga hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya.
Yoongi menarik Jimin dan menghempaskan namja bersurai orange itu ke tempat tidur, mengukung Jimin diantara tangannya dan memandang dengan wajah yang tidak bisa Jimin jelaskan ekspresinya. Percampurann antara rasa curiga, ingin dan arogansi yang mengintimidasi.
Merasa Yoongi masih menyimpan perasaan curiga, Jimin menarik kepala Yoongi dan mencium namja pucat itu lebih dulu. Jimin meremas rambut belakang Yoongi saat Jimin sudah mulai kewalahan menghadapi namja pucat diatasnya. Selalu begitu. Yoongi selalu mendominasi Jimin dalam hal apapun, seolah ingin memperjelas siapa yang berkuasa diantara mereka, dan Jimin sama sekali tidak keberatan soal itu. Dia senang karena itu artinya Yoongi menginginkannya.
Debaran dada Jimin makin kencang saat tak ada lagi benang yang menempel ditubuhnya maupun Yoongi. Jimin bahkan tak bisa mengalihkan pandangannya dari Yoongi. Terkunci dimata penuh arogansi itu, Sementara Yoongi sedang mencari entah apa dimata Jimin. Namja pucat itu masih curiga, tapi Jimin yang berada dibawahnya saat ini sudah tidak lagi mencurigakan seperti saat di meja makan. Jimin yang berada dibawahnya saat ini berubah dari mencurigakan menjadi menggairahkan.
Yoongi hampir kehilangan kewarasannya saat Jimin memohon. Memohon agar Yoongi menyentuhnya lebih banyak lagi, Jimin bahkan merengek padanya agar Yoongi menyentuhnya, dan Yoongi merasa takjub bagaimana Jimin bisa membuat Yoongi kepanasan hanya dengan mendengar suaranya, juga matanya yang sayu memandang Yoongi penuh harap.
Yoongi biasa senang membuat partnernya melakukan hal-hal yang 'nakal' untuk menaikkan libidonya, striptease contohnya, karena Yoongi tidak gampang tertarik dengan tubuh seseorang. Terdapat cacat sedikit saja, Yoongi akan mengusir 'teman kencan' nya tanpa peduli perasaan mereka. Tidak jarang Yoongi memperlakukan partnernya tanpa rasa hormat sedikitpun. Selayakanya Yoongi memperlakukan pelacur, mereka memberikan kebutuhan Yoongi, dan Yoongi akan memandikan mereka dengan barang-barang mahal seusai tidur bersama. Kemudian mencampakkan mereka keesokan harinya.
Tapi ini Jimin. Yoongi tidak tau apa hebatnya Jimin sampai membuat kebiasaan Yoongi seperti jungkir balik dengan kehadirannya. Untuk pertama kalinya Yoongi bersikap lembut, hormat dan penuh kehati-hatiaan saat bercinta, dan pertama kalinya juga Yoongi betah berlama-lama dengan seseorang hanya untuk membicarakan hal yang dulunya Yoongi anggap basa-basi. Jimin bahkan membuat sisi posesif Yoongi bangun tanpa Yoongi sendiri sadari.
Lama bertatapan, Jimin mengelus bahu Yoongi sampai kepergelangan tangannya, membuat namja pucat itu sedikit meremang karena perbuatannya.
"Yoongi, aku menginginkanmu…" cicit Jimin pelan.
Dan Yoongi tidak ingin buang-buang waktu lebih lagi, dia ingin Jiminnya menyanyikan namanya dan mendesah memohon padanya, sekarang.
.
.
.
Namjoon sedang duduk bersila dikarpet bersama laptop dan kertas-kertas yang bertebaran di meja ruang tamunya, sementara Seokjin sedang memasak di daerah kekuasaannya, dapur.
Namjoon sedang sibuk memeriksa kertas-kertas saat ponsel yang berada ditas Seokjin bergetar. Namjoon memanjangkan lehernya untuk melihat Seokjin yang sepertinya sedang tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Sayang, ponselmu bunyi…" Namjoon memanggil agak keras agar Jin bisa mendengar suaranya.
"Angkat saja" balas Seokjin dari dapur.
Namjoon merogoh tas Seokjin yang berada diatas sofa, dibelakangnya. Saat ponsel itu berhasil diraihnya, suara telepon pada ponsel itu berhenti. Namjoon ingin membuka ponsel Seokjin tapi dia tidak tau passwordnya, jadi Namjoon meletakkan ponsel itu disofa.
Saat menarik ponsel itu keluar, sebuah amplop ikut keluar dari dalam tas itu. Merasa penasaran, Namjoon menarik amplop dengan nama Rumah Sakit didepannya, rumah sakit saat Jimin dirawat.
Namjoon membuka kertas dihadapannya, tidak ingin mencari tau apa-apa, hanya iseng. Tapi belum sempat Namjoon membaca isi kertas itu, Seokjin merampas kertas itu dari Namjoon.
"Jinseok?" Namjoon menaikkan alisnya, merasa terkejut dan bingung dengan tindakan Seokjin.
"Siapa yang menelepon?" Seokjin mengambil ponselnya yang berada disofa, dan menyembunyikan kertas hasil tes darah milik Jimin yang dibawanya kembali kebelakang punggungnya.
"Jinseok, apa yang aku tidak tau?" Namjoon melirik tajam kearah Seokjin yang berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Ah… Jungkook ternyata." Seokjin sengaja mengabaikan Namjoon dan berjalan kembali kearah dapur.
"Kim Seokjin, suami mu sedang bicara" Namjoon memanggil nama lengkap Seokjin, pertanda kalau Namjoon sedang serius.
Seokjin terkejut mendengar nada bicara Namjoon, nada tegas yang selalu Namjoon gunakan untuk mendisiplinkan Seokjin.
"Ne?" Seokjin berjalan pelan-pelan.
"Apa yang tidak aku ketahui soal kertas itu?"
"Huh? Apa maksudmu, Joon-ah?" Seokjin jelas panic. Dia tidak ingin Namjoon tau, tidak sekarang. Seokjin tau bagaimana setianya Namjoon pada Yoongi dalam hal apapun, jika Namjoon tau soal hasil tes ini, Yoongi bisa dipastikan sejuta milyar persen akan tau juga. Dan Seokjin belum bisa membiarkan Yoongi tau hal ini lebih dulu, setidaknya kalaupun tau, bukan Namjoon yang memberitahunya, tapi Jimin.
"Kertasnya" Namjoon membuka telapak tangan kanannya, gesture untuk meminta.
Seokjin masih bergeming ditempatnya berdiri, tidak ingin menyerahkan kertas itu, tapi tidak ingin juga membuat Namjoon marah karena dia tidak memberikan kertasnya.
"Jinseok, aku bilang kertasnya" ulang Namjoon. Tangannya bahkan belum turun.
"I.. ini bukan apa-apa" Seokjin menggeleng gugup.
"Kalau bukan apa-apa, beritahu aku apa isi kertas itu"
"Hasil tes darah Jimin…"
"Dan?"
Seokjin menelan ludah susah payah karena Namjoon seperti sedang menyudutkannya.
"I.. ini bukan apa-apa, sungguh. Tidak ada masalah…" Seokjin berusaha meyakinkan Namjoon.
"Kau menyembunyikan sesuatu yang penting soal Jimin" tembak Namjoon.
Namjoon berdiri berhadapan dengan Seokjin yang menunduk resah. Takut memandang Namjoon yang sepertinya akan marah padanya.
"Jinseok, katakan…" Namjoon menuntut. Tangannya membelai pipi Seokjin, memberi kepastian pada Seokjin kalau Namjoon tidak marah padanya.
"Berjanjilah tidak akan memberitahu tuan Min…" cicit Seokjin.
"Tidak. Jika itu hal penting, aku tidak bisa" Namjoon menolak terang-terangan.
"Namjoon…" Rengek Seokjin.
"Tidak, sayang" tegas Namjoon. "Katakan, Apa yang aku tidak tahu?"
Seokjin memeluk pinggang Namjoon dan menyembunyikan wajahnya didada suaminya itu, dia tidak ingin memberitahukan hal ini, tapi dia tidak punya pilihan lagi.
"Jimin hamil" Suara Seokjin yang teredam didada Namjoon masih bisa Namjoon dengar dengan jelas.
"Berita bagus, kan?" Namjoon benar-benar ahli dalam menyembunyikan keterkejutannya. Suaranya tenang, normal.
"Ya, kalau saja Jimin sudah menikah, tentu itu hal yang bagus" Seokjin masih menyembunyikan wajahnya didada Namjoon yang berlapis kaos polos berwarna putih polos.
"Bagaimana dengan ayah bayinya? Siapa dia?" Namjoon penasaran. Dibenaknya sudah ada satu nama, tapi dia butuh kepastian. Bukan hanya sekedar tebak-tebakan tidak pasti. Kalau Jimin hamil dari pria selain yang ada di otak Namjoon sekarang, Jimin benar-benar akan masuk peti.
"Min Yoongi" Seokjin memanjat tubuh Namjoon dan mengaitkan kedua kakinya disekeliling pinggang suaminya itu. Wajahnya sudah berpindah dari wajah ke bahu Namjoon.
Ada kelegaan yang Namjoon rasakan saat nama itu disebut, nama yang sudah Namjoon pikirkan sedari tadi saat mendengar Jimin hamil.
"Kapan Jimin akan memberitahu Yoongi hyung?" Namjoon mendudukan tubuhnya disofa bersama bayi besar dipangkuannya.
Seokjin langsung menegakkan kembali badannya yang berada di pangkuan Namjoon, memegang kedua pipi namja itu dan menatapnya tajam.
"Joon-ah, itu bukan urusan kita. Bukan hak kita untuk membuka suara soal ini. Biarkan Jimin sendiri yang melakukannya. Mengerti?" Seokjin menekan pipi Namjoon sampai bibir Namjoon maju beberapa senti karena pipinya ditekan.
"Memangnya kenava?" Namjoon kesulitan bicara dengan jelas karena Seokjin tidak juga berhenti menekan pipinya.
"Biarkan mereka berbicara berdua dulu!" Kesal Seokjin. Tangkupan tangannya dikedua pipi Namjoon terlepas.
"Aku tidak janji"
"Namjoon-ah!" tangan Seokjin bersidekap didepan dada. Kesal karena Namjoon tidak juga menuruti ucapannya.
"Jangan marah…" Namjoon membujuk Seokjin yang sudah akan berdiri dari pangkuan Namjoon.
"Berjanji dulu!"
"Tidak sayang" Namjoon terkekeh saat melihat wajah kesal Seokjin.
"Kau tidak boleh memelukku saat tidur nanti!" Ancam Seokjin.
"Aku tidak butuh izinmu, kita sudah menikah" Namjoon berdiri dengan Seokjin yang memeluk bahunya agar tidak terjatuh.
"Tidak ada sentuh-sentuh malam ini, Kim Namjoon" tegas Seokjin.
"Sudah ku bilang, aku tidak butuh izinmu…" Namjoon berjalan menuju pintu kamar yang terbuka, dan menendang pintu kamar itu dengan kakinya agar tertutup.
"Namjoon!"
"Aku tidak mau kalah dari Yoongi hyung. Aku juga mau punya anak"
.
.
.
Jimin terbangun hampir jam sebelas siang. Badannya lelah luar biasa, akibat semalaman melayani Yoongi yang sepertinya tidak kenal kata lelah. Jimin mengerjapkan matanya membiasakan dengan cahaya matahari yang sudah sangat terang yang menyusup dari kaca jendela kamarnya.
Yoongi sudah pergi saat jam menunjukan pukul tujuh pagi. Selesai bercinta, seperti kebiasaan, Yoongi akan memeluk Jimin dalam tidurnya. Hal yang tidak pernah dilakukannya untuk orang lain seumur hidupnya.
Jimin susah payah mendudukkan tubuhnya, hanya untuk mengambil ponselnya yang bergetar di meja nakas sebelah tempat tidurnya. Saat melihat nama Yoongi di ponselnya, Jimin mengernyit heran, sejak kapan dia menyimpan nomor ponsel Yoongi?.
Beberapa detik Jimin memandangi ponselnya, sampai getar yang terasa ditangannya karena ponselnya menyadarkan Jimin, agar Jimin menekan tombol hijau dilayar ponselnya.
"Sudah bangun?"
Jimin tersentak, dadanya berdebar mendegar suara berat diseberang telepon. Suara Yoongi.
"Baru saja" suara serak khas bangun tidur. Yoongi menyukainya.
"Mencariku?"
Ada nada menggoda yang Jimin tangkap dari suara Yoongi. Dadanya berdebar kembali.
"Kenapa hyung tidak membangunkanku?" Jimin balik bertanya.
"Kau tertidur sangat nyenyak" Jawab Yoongi.
"Setidaknya beritahu aku kalau hyung akan pergi"
"Sedang ku lakukan…"
"Aish! Kalau memberitahu sekarang, itu tidak pamit namanya" Jimin pura-pura kesal.
"Tapi kau baik-baik saja saat ku tinggalkan bersama kemejaku."
Jimin melirik kemeja hitam diatas pangkuannya, kemeja milik Yoongi. Jimin memerah tanpa bisa dicegah. Dia selalu suka wangi namja pucat itu, membuatnya nyaman dan seperti dipeluk oleh pemiliknya. Apa sekarang Jimin sudah ketahuan suka mencium wangi Yoongi?
"Ingin makan sesuatu?" Yoongi disebrang sana tersenyum miring, senang karena berhasil membuat Jimin tidak sanggup berkata-kata.
"Ne?"
"Aku akan pesankan makanan dari sini. Kau tidak mungkin kuat berjalan sekarang, untuk kekamar mandi saja aku tidak yakin"
Jimin memerah seluruh badan mendengar ucapan Yoongi. Ingin Jimin berteriak protes ditelepon, tapi terlalu malu untuk melakukannya.
"Ya… ya… ulah siapa ini sampai aku sulit berjalan, tuan arogan?" batin Jimin.
"Anjing kecil" Panggil Yoongi saat tak ada jawaban dari Jimin.
"Ne?"
"Ingin makan apa?" ulang Yoongi.
"Ayam goreng dan es krim?" Jimin menjawab ragu-ragu.
"Segera dikirim"
"Gomawo"
"Oh ya, mungkin nanti sore aku tidak bisa datang istirahat ke apartemen mu. Ada rekan bisnis yang harus kutemui, tidak apa kan?"
"Ne, hyung" Jimin merona sendiri. Dia merasa Yoongi membuatnya merasa special untuk namja pucat itu, Yoongi bahkan repot-repot memberitahu Jimin kalau dia tidak bisa datang menemuinya. Seperti sepasang kekasih saja. Jimin tersenyum merona karena pemikirannya sendiri.
"Ya sudah, segera mandi dan istirahat kembali. Aku harus bekerja lagi"
"Ne hyung, semangat"
Yoongi tidak menjawab kata semangat yang dilontarkan Jimin. Terlalu kaku, dan Yoongi merasa aneh untuk menjawabnya. Sebagai balasannya, Yoongi hanya menjawab 'Ne' dan menutup sambungan teleponnya.
Yoongi sadar mulai banyak yang berubah dari dirinya. Bagaimana bisa kepalanya yang nyaris meledak menghadapi masalah kantornya mendadak mendingin hanya mendengar suara Jimin. Konyol. Batin Yoongi.
.
.
.
Jimin sedang memakan ayam goreng yang dikirim Yoongi sambil menonton drama di televise. Sebenarnya Jimin masih takut untuk menonton Tv, takut ada berita-berita lain tentangnya yang membuat keadaan emosinya memburuk. Saat sedang asik dengan kegiatannya, bel apartemennya berbunyi. Jimin berpikir panjang untuk membuka pintu apartemennya, karena bisa saja itu wartawan atau siapapun yang berniat tak baik padanya, karena seingat Jimin, dia tidak ada janji bertemu dengan siapapun. Seokjin sedang sakit, Jungkook sedang syuting diluar kota, Sejin sedang mengurus kontrak Jimin di agensi, dan Yoongi tidak pernah datang siang hari. Jadi siapa?
Jimin berjalan kearah pintu, mengintip dari lobang kaca pintu yang transparan, saat melihat seorang wanita dengan masker yang menutupi mulut dan hidungnya, Jimin mengernyit heran. Jimin kembali memfokuskan matanya dilobang pintu kaca, setelah berpikir beberapa detik, baru Jimin menyadari kalau Mirae-lah yang berada di depan apartemennya.
Jimin membuka pintu perlahan, dadanya berdebar karena terkejut akan kehadiran Mirae yang tidak pernah diduganya.
"Maaf menunggu lama, Mirae-ssi" Jimin membuka pintu apartemen dan mempersilahkan gadis itu masuk.
"Tidak apa, apa aku mengganggu?" Mirae masuk mengikuti Jimin didepannya.
"Tidak, aku sedang bersantai. Maaf berantakan" ucap Jimin sambil membereskan kekacauan ruang tamu.
"Bukan masalah, maaf merepotkanmu, Jimin-ssi. Dan maaf sudah tiba-tiba muncul di apartemenmu" Mirae terlihat canggung dan sangat tidak nyaman.
"Tidak apa, duduklah. Ingin minum apa?" Jimin menawarkan. Rasa canggung sangat terlihat jelas diantara keduanya.
"Gomawo. Tidak perlu. Aku hanya sebentar" Mirae mendudukan diri di sofa tunggal milik Jimin, sementara Jimin duduk di sofa bermuatan tiga orang disebelah Mirae.
"Ada apa?" Jimin bertanya hati-hati karena gadis itu seperti akan menangis sebentar lagi.
"Maafkan aku…" Mulai Mirae.
"Untuk hal apa?" Jimin bingung dan menyerahkan kotak tisu pada Mirae yang sudah menangis.
"Semua kekacauan yang terjadi padamu. Tolong maafkan aku" Mirae menunduk dalam, tangisnya bahkan sudah terdengar menyedihkan ditelinga Jimin.
"Mirae-ssi, aku tidak paham arah pembicaraan ini" aku Jimin.
"Foto itu… foto kau dan Min Suga, itu ulahku" Mirae mengaku.
Jimin tak pernah percaya hal ini terjadi padanya. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Mirae melakukan hal itu dan kemudian menangis memohon maaf padanya. Jimin ingin marah tapi Jimin menahan amarahnya setengah mati. Tak habis pikir dengan tindakan gadis di depannya ini. Bahkan Jimin tidak sanggup berkata-kata lagi.
"Jimin-ssi, aku tau aku sudah mengacaukan semuanya. Aku tidak berpiki dewasa saat itu, tidak seharusnya aku melibatkanmu dalam masalah pribadiku, tolong maaf kan aku" Mirae berlutut di hadapan Jimin.
"Kenapa kau lakukan ini padaku, Mirae –ssi? Apa karena Suga?"
"Maafkan aku…" isak Mirae lagi.
Jimin membantu gadis itu agar berdiri dan kembali duduk di sofa. Jimin merasa tak nyaman berdekatan dengan wanita ini. Jimin mendadak merasa muak.
"Kenapa aku?" Tanya Jimin lagi.
"Aku.. aku diancam, karirku bahkan sudah hancur sekarang. Hyungwon mencabut sponsor ku dan membuat pihak client membatalkan kontrakku sepihak. Aku kalut saat itu Jimin-ssi, aku ingin membalasnya, tapi aku sadar aku bukan lawan seimbang untuknya. Maka.. aku… Jimin-ssi, tolong maafkan aku"
"Dan siapa Hyungwon? Kenapa kau ingin menggunakanku untuk melawannya? Mirae-ssi, aku tak paham" Jimin merasa udara terasa menyesakkan disekitarnya. Gadis didepannya ini benar-benar ingin Jimin enyahkan, setelah mengaku soal foto, sekarang gadis ini bahkan mengaku ingin mengadu domba Jimin dengan orang yang tidak Jimin kenal. Gadis ini sakit jiwa.
"Dia, anak dari pemilik agensi ku, adik tiri Min Suga"
Jimin membelalakkan matanya tak percaya, satu fakta baru soal Yoongi yang tidak pernah Jimin ketahui telah terbuka.
"Dan apa hubungannya dengan foto yang kau sebar itu, Mirae-ssi?"
"Aku.. aku salah mengira. Sehari setelah video itu tersebar, Hyungwon mendatangi ku. Dia mengamuk dan menghina ku ditempat umum, berteriak marah seperti orang yang sedang cemburu. Aku pikir dia salah satu kekasih Min Suga, tapi aku salah besar. Awalnya aku berpikir untuk memberi anak itu pelajaran dengan memunculkan foto itu, tapi ternyata semua diluar kendaliku…" isakan itu pecah dan Jimin makin muak mendengarnya. Jiminlah yang jadi korban keegoisan gadis ini, kenapa dia yang menangis?.
Jimin hanya diam, rasanya ingin meledak saat itu juga, tapi Jimin tidak akan pernah berbuat kasar pada wanita. Jadi Jimin hanya diam sambil menetralkan emosinya.
"Jimin-ssi, tolong maafkan aku. Aku sudah mendapatkan ganjarannya, tapi kalau kau ingin memukulku atau apapun itu, aku siap menerimanya" lanjut Mirae saat tidak mendengar suara Jimin lagi.
"Apa maksudmu menerima ganjarannya?"
"Suga… dia sudah memberiku pelajaran, dan aku bersumpah tidak ingin berurusan lagi dengannya"
"Apa yang kau bicarakan?" Jimin berujar tak paham, nada suaranya bahkan meninggi. Mendengar nama Yoongi membuat Jimin merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Dari nada bicara Mirae, Jimin seperti menangkap sinyal ketakutan dari gadis itu, seolah Yoongi telah melakukan sesuatu padanya, dan Jimin akui dia tidak suka itu.
Mirae tidak menjawab tapi melepas baju atasannya dan menyisakan sebuah tanktop hitam dibadannya.
"Apa yang kau lakukan?" Jimin panic, mengambil baju gadis itu dan berusaha menutupi badan Mirae dengan kaos yang dilepaskan gadis itu.
"Kau lihat diatas dadaku, Jimin-ssi? Bisa kau bacakan untukku?"
Jimin tidak mau membuka suaranya. Dia hanya membaca dalam hati dan merasa ngeri menyelimuti perasaannya. Kata-kata itu sangat kasar jika kau sandingkan dengan seorang perempuan ataupun laki-laki. Kata yang merndahkan harga diri seseorang.
"For sale…" Mirae tersenyum tapi air matanya menetes deras. "Ini tattoo permanen…"
Demi meyakinkan Jimin kalau tattoo itu asli, Mirae bahkan menggosokkan kaosnya ke tulisan itu sampai kulitnya yang putih memerah. Terlihat sedikit tergores karena Kuku yang tidak sengaja bersenggolan dengan kulit mulusnya.
"Hentikan!" Jimin berusaha menangkap pergelangan tangan Mirae agar berhenti menyakiti dirinya sendiri. Tangis putus asa Mirae membuat hati Jimin ikut merasa iba untuknya.
"Ini masih satu, masih ada yang lain Jimin-ssi." Senyum itu masih tersampir menyedihkan dibibir Mirae. Gadis itu berbalik dan memamerkan punggungnnya yang bertato dengan kata-kata yang sama kasarnya. "Bacakan untukku, Jimin-ssi" Suaranya bahkan bergetar, sangat berusaha menahan tangisnya agar tidak semakin pecah.
Jimin menutup mulutnya tak percaya, tulisan dipunggung itu bahkan lebih mengerikan lagi. Jimin tidak akan tega menyuarakn tulisan di punggung Mirae itu pada siapapun, entah pada gadis ini, atau gadis yang lain diluar sana. Tidak akan pernah.
"Tolong hentikan" suara Jimin melemah. Kemarahnnya lenyap tergantikan rasa iba untuk gadis ini. Dia punya adik perempuan, dan Jimin tidak bisa membayangkan kalau adik perempuannya diperlakukan secara tidak hormat seperti ini.
"Maaf membuatmu tidak nyaman" Mirae berbalik dan memeluk bajunya di dada. Menutupi tulisan kasar yang berada ditubuhnya.
"Tolong pakai pakaianmu" pinta Jimin. "Apa Yoongi yang melakukan semua itu?" Jimin memandang sedih, telinganya berharap mendengar kata bukan dari mulut gadis itu.
"Bukan. Tapi ini terjadi atas persetujuan Suga" jelas Mirae. Bajunya sudah terpasang meski sudah tidak rapi lagi.
"Siapa yang melakukannya kalau bukan dia?"
"Salah satu pekerja Yoongi. Dia cantik, tapi sakit jiwa" Mirae mengingat wajah Luhan dibenaknya.
"Siapa yang kau maksud?"
"Namanya Luhan, kau tidak akan percaya kalau dia sakit jiwa jika melihat wajahnya yang cantik dan terkesan polos. Dia salah satu pembunuh bayaran yang bekerja untuk Suga" Jelas Mirae.
Jimin merasa nafasnya mendingin, paru-parunya terasa bolong. Dia tahu Yoongi bukan orang baik, dia tahu Yoongi bekerja di 'bawah tanah', tapi Jimin tidak pernah menyangka kalau Yoongi mempekerjakan pembunuh bayaran. Fakta yang seharusnya Jimin sudah sadari sejak awal.
"Jimin-ssi, kau orang baik. Jangan biarkan Suga menyakitimu. Bebaskan dirimu darinya, secepat mungkin. Kau berhak mendapatkan yang terbaik. Jangan jadikan dirimu mainannya, Jimin-ssi. Jangan sepertiku…" Mirae terisak lagi. Kedua tangannya menggenggam tangan Jimin. Gadis itu bahkan kembali berlutut dihadapan Jimin.
Rasa bersalah benar-benar mencekik Mirae sampai sulit bernafas. Dia tidak ingin hal yang terjadi padanya menimpa Jimin. Biarkan dia sendiri yang mengalami hal buruk itu. Mirae tau Jimin orang baik, tidak selayaknya berada dekat dengan orang seperti Suga.
Jimin terasa tertampar mendengar ucapan Mirae. Sesuatu mulai menggerogoti pemikiran Jimin. Sesuatu yang mendadak terasa salah untuknya.
Mirae benar, seharusnya sejak awal Jimin tidak boleh berurusan dengan Yoongi. Bahkan sampai sekarang Jimin tidak pernah mendapatkan kepastian dari Yoongi atas status dirinya. Setelah semua yang terjadi antara Yoongi dan dirinya, Jimin merasa ucapan Mirae ada benarnya.
"Pulanglah" Ucap Jimin sambil membantu gadis itu berdiri.
"Tidak Jimin-ssi, aku tidak keberatan berlutut berhari-hari didepanmu agar kau memaafkanku" Mirae bersikeras tidak ingin beranjak.
"Kau sudah mengalami yang terburuk dari yang paling buruk. Aku sudah memaafkanmu, pulanglah. Akan kuantar kedepan pintu"
.
.
.
Jimin sudah berada dimobil yang akan mengantarkannya menuju Busan. Jimin sengaja pergi tengah malam karena takut untuk muncul dihadapan public setelah apa yang menimpanya. Jimin membawa tiga koper besar bersamanya, sementara sisa barangnya Jimin serahkan pada jasa pengangkut barang yang sudah Jimin wanti-wanti agar tidak buka suara.
Apartemen Jimin terlihat lengang. Jimin berencana menjual apartemennya, tapi menjual apartemen tidak bisa semudah itu. Banyak hal yang harus diurus, dan Jimin sedang tidak ingin berada di ruang public. Jadilah apartemen itu hanya ditinggal begitu saja.
Jimin mengeratkan jaket kulit yang membungkus tubuhnya, udara sejuk dari pendingin di mobil membuatnya sedikit tenang. Jimin mengambil ponselnya yang sudah dia matikan sejak sore hari, namja bersurai orange itu mengambil sim card dari dalam ponsel dan mematahkannya begitu saja. Tidak ingin ada yang tau kemana dia pergi, dan tidak ingin ada yang mencarinya.
Keputusan berat. Jimin sadar akan hal itu. Dia mencintai Yoongi tapi sesuatu dalam tubuhnya membuatnya jauh seribu kali lipat jatuh cinta. Dia ingin anaknya, tapi tidak dengan Yoongi. Anak, tidak ada dalam tujuan hidup namja pucat itu. Fakta itu membuat Jimin menangis dalam diam selama dalam perjalanannya.
"Kita bisa kembali kalau kau mau, Jim" Sejin bersuara.
Iya, hanya Sejin yang Jimin beritahu tentang hal ini. Jimin beralasan ingin introspeksi diri dengan menenangkan diri di Busan. Bersyukur Sejin memahami kondisi Jimin.
"Tidak apa hyung. Aku akan tinggal dengan adikku mulai sekarang" Jawab Jimin.
"Kapan kau akan kembali?"
"Aku tidak tau. Aku akan vakum lama dari industry hiburan"
"Ayolah Jim, orang-orang sudah mulai lupa dengan skandal itu. Aku harap minggu depan kau sudah kembali ke Seoul. Kau bisa meneleponku, aku bisa menjemputmu, sekalian liburan" Sejin tersenyum kearah Jimin sebentar dan kembali menyetir.
"Sepertinya aku butuh waktu yang lebih dari seminggu"
"Hey, jangan lama-lama. Nanti tuan Min bisa diambil orang kalau meninggalkannya terlalu lama" Sejin berucap main-main.
Mendengar nama Yoongi, hati Jimin pecah lagi. Dia merindukan namja arogan itu disekitarnya tapi tidak bisa merengkuhnya. Jimin hanya mendiamkan candaan Sejin dan mulai menangis dalam diamnya. Wajahnya mengarah ke kaca jendela mobil, menikmati lampu-lampu jalan sambil mengingat tentang Yoongi. Semuanya, tanpa terkecuali.
.
.
.
Paginya Yoongi sudah disibukkan dengan laporan-laporan yang harus dia periksa. Semalaman dia tidak tidur karena ada pekerjaan 'bawah tanah' yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Mood yoongi benar-benar berada dititik terendah saat ini, bahkan sekertarisnya tidak berani mengganggunya sama sekali.
Pekerjaan itu memakan waktu sampai siang hari, Yoongi bahkan melewatkan jam makan siang hanya untuk memeriksa ulang semua laporan. Rasanya hampir gila.
"Hyung" Namjoon memunculkan kepalanya dipintu ruang kerja Yoongi.
"Apa yang kau lakukan disana? masuk"
"Ya! Kau bisa membuat anak-anak menangis ketakutan melihat wajahmu hyung" Namjoon mendudukan pantatnya disofa, berhadapan dengan Yoongi.
"Ada apa kau kemari? Aku banyak pekerjaan, jadi langsung saja"
"Baca ini hyung" Namjoon langsung meletakkan kertas yang terlihat sedikit kusut di depan Yoongi.
"Sudah ku bilang aku sibuk, kau tidak paham bahasaku?" Yoongi berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer dan kertas ditangannya.
"Baca dulu!" desak Namjoon.
"Namjoon, kau jelas tau aku bukan orang yang penyabar. Jika ada yang ingin kau sampaikan, langsung beritahu. Aku tidak ada waktu membaca kertas kusut itu" Kesal Yoongi.
"Ya sudah, kalau tidak mau membacanya" Namjoon menarik kertas itu lagi ketangannya. Beberapa detik Namjoon menunggu Yoongi hanya untuk melihat wajah Yoongi yang penasaran. Tapi mungkin Namjoon lupa sedang berurusan dengan siapa. Yoongi sama sekali tak tertarik, namja pucat itu bahkan sudah sibuk lagi dengan pekerjaannya yang menumpuk. Namjoon mendengus sebal.
"Hyung, ini soal Jimin" Namjoon melirik Yoongi lagi dan ucapannya kali ini berhasil menarik perhatian namja pucat itu walau hanya sedetik.
"Ada apa dengannya?" Tanya Yoongi dan kembali melanjutkan pekerjaan.
"Hyung, tolong dengarkan aku baik-baik. Aku tidak akan mengulang perkataanku. Jadi, pasang telingamu setajam-tajamnya!" mulai Namjoon menggebu-gebu.
"Hmm" dan Yoongi lagi-lagi menjawab tanpa minat, bahkan perhatiannya tidak teralihkan dari pekerjaan.
"Park Jimin hamil anakmu, hyung" Namjoon sengaja mengecilkan suaranya agar Yoongi kesulitan menangkap ucapannya.
Suara Namjoon memang pelan dan terkesan seperti berbisik, tapi ucapan yang keluar dari mulut Namjoon berhasil membuat Yoongi seolah menjadi batu. Tangannya yang sibuk memencet keyboard di atas meja menggantung begitu saja, kertas ditangannya bahkan sudah jatuh kelantai. Sesuatu seperti menumbuk hati Yoongi, tapi hanya perasaan hangat yang Yoongi rasakan saat ini.
"Hyung, aku tidak akan mengulangi ucapanku. Kalau kau tidak mendengarkan ucapanku tadi dengan baik, maka kau harus membaca kertas ini untuk…"
"Diamlah, aku sedang memikirkan nama anakku"
.
.
.
TBC
*Terharu mengharu biru*
Kakak-kakak yang ngereview abis baca, KALIAN LUAR BIYASAAA….
*Ketjup satoe-satoe*
Makasi yang uda baca dan review ya kakak-kakak, hayo jangan bosan-bosan ngereview dan ngasih semangat ya.
Review dari kakak-kakak sungguhlah sangat amat membakar semangat untuk update secepat-cepatnya, soalnya kalian lucu-lucu.
I LOVE YOU KAKAK-KAKAK SEKALIAN!
*Lari Naruto*
